Demikian salah satu persoalan yang diungkapkan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof Dr Timbul Haryono, pada seminar ”Globalisasi dan Kebudayaan” yang digelar Komunitas Budaya Indonesia, Rabu (6/8) di Jakarta.
Mengambil contoh pertunjukan wayang kulit, Timbul menjelaskan, di masa lalu, pertunjukan wayang kulit mengandung aspek tuntunan. Dengan durasi pertunjukan delapan jam, penonton dapat menikmati isi pendidikan moral. Namun, sekarang terjadi perubahan secara fungsional menjadi tontonan semata-mata. Sebagian pertunjukan wayang kulit telah kehilangan ”rohnya” karena aspek hiburan lebih dominan.
Direktur PT Kharisma Starvision Plus Edison Nainggolan, yang mempresentasikan persoalan industri film, mengatakan bahwa industri perfilman sekarang dihantui pembajakan. Apabila film kalah cepat main, akan sulit memperoleh hasil untuk mendorong roda produksi berikutnya.
Adapun Sapto Raharjo, salah seorang tim inti Komunitas Budaya Indonesia, mengatakan, industri budaya bisa menjadi bahaya besar karena orang muda dibuat untuk menjadi berpikiran pendek. Mereka hanya dipandang sebagai konsumen, bukan partner kehidupan.