Yearly Archives: 2010

Eksekusi Tanah Di Bojonegoro Diwarnai Oleh Aksi Telanjang Bugil


Aksi bugil empat orang wanita berhasil menggagalkan upaya Panitera Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro bersama ratusan petugas kepolisian untuk melakukan eksekusi terhadap lahan seluas 4.020 meter persegi di Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, Rabu (29/12).

Dalam aksi tersebut, puluhan warga Desa Kepoh berusaha menolak rencana eksekusi terhadap lahan yang di atasnya berdiri tiga rumah yang selama ini ditinggali Sunoto (50) bersama sejumlah keluarganya. Eksekusi ini dilakukan setelah PN Bojonegoro menerima salinan putusan Kasasi dari MA (Mahkamah Agung) menguatkan Putusan PN dan PT (Pengadilan Tinggi) yang memenangkan Djarkasi (56), juga warga Kepoh, selaku penggugat.

Sekitar pukul 10.00 WIB, Eko Julis selaku Panitera dari PN Bojonegoro dengan pengamanan ratusan petugas kepolisian yang dipimpin langsung Kapolres Bojonegoro AKBP Widodo tiba di lokasi. Sedangkan Djarkasi hanya diwakili oleh pengacaranya, Hasnomo, untuk mengikuti jalannya eksekusi. Namun, belum sampai ke tanah yang dituju, puluhan warga sudah menghadang mereka di jalan.

Petugas pun berusaha mengamankan puluhan warga yang berkerumun di tengah jalan itu supaya eksekusi tetap bisa dilakukan. Namun, ratusan orang yang hadir dalam eksekusi itu langsung tercengang ketika melihat sejumlah perempuan berdaster tiba-tiba membuka pakaian mereka.

Beberapa hanya membuka dasternya ke atas dan membiarkan bagian kemaluannya tanpa celana dalam, terlihat jelas. Namun, ada pula yang sampai nekat melepas daster dan celana dalamnya, kemudian mengacungkan celana dalam itu ke atas seraya menghadang proses eksekusi.

Melihat itu, sejumlah polisi wanita (polwan) yang ikut dalam aksi pengamanan berusaha menutupi beberapa wanita tersebut dengan selendang. Tapi, para wanita itu menolak. Mereka memilih menghindar dari tutupan selendang batik yang dibawa oleh para polisi sambil terus berteriak meminta supaya eksekusi dibatalkan. Sebagian besar polisi laki-laki terlihat memalingkan wajah mereka melihat pemandangan itu. Sementara sejumlah polwan terus berusaha membujuk empat wanita yang sudah telanjang bulat itu agar menutupi tubuh mereka.

“Kami sudah lebih dari 50 tahun tinggal di sini, kenapa tiba-tiba disuruh pindah begitu saja,” kata Sunoto menolak proses eksekusi. Terkait sertifikat tanah milik Djarkasi, menurutnya, tidak sah karena sertifikat tersebut tidak sesuai dengan buku desa. “Pokoknya, kami menolak eksekusi ini,” teriak Sunoto saat didatangi Panitera dan sejumlah petugas keamanan.

Sedangkan Hasnowo selaku pengacara dari Djarkasi tetap ngotot bahwa tanah tersebut harus segera dikosongkan. “Sertifikat ini jelas-jelas asli, dan kasus ini sudah berkekuatan hukum tetap (incracht). Karena itu, kami tetap meminta supaya tanah milik klien kami segera dikosongkan,” katanya.

Beberapa saat kemudian, Panitera dari PN Bojonegoro, Pengacara dan Sunoto bersama beberapa keluarganya terlihat melakukan perundingan di depan rumah. Sampai beberapa jam, negosiasi tersebut belum juga membuahkan hasil. Akhirnya, semua pihak sepakat negosiasi dilanjutkan di Kantor Polsek Sukosewu dengan perantara Kepala Desa (Kades) setempat, Khoirul Anam. Sementara sejumlah wanita yang sempat melakukan aksi bugil tersebut telah berhasil dibujuk oleh petugas kepolisian. Mereka telah bersedia mengenakan bajunya kembali sambil menunggu hasil negosiasi itu.

Sekitar pukul 14.00 WIB, berhasil ditemukan jalan tengah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Yakni, eksekusi dibatalkan dan Sunoto bersedia mengemasi barang-barangnya dari tanah yang didiaminya tersebut. Dalam perjanjian, paling lambat 5 Maret 2011 Sunoto dan keluarga sudah mengosongkan lahan dengan mengemasi sendiri barang-barang mereka. Oleh pihak desa, keluarga petani ini diperbolehkan menempati salah satu lahan milik desa untuk digunakan mendirikan bangunan.

“Eksekusi dibatalkan. Dan kedua belah pihak telah membuat kesepakatan bahwa pengguna lahan akan mengosongkan sendiri lahan tersebut,” terang Eko Julis.

Peristiwa menghebohkan ini berawal dari kasus sengketa lahan seluas 4.020 meter persegi tersebut yang sudah terjadi sejak tahun 2006 silam. Kala itu, Djarkasi yang memegang sertifikat atas lahan tersebut berusaha mendapatkan haknya dengan melayangkan gugatan. Akhirnya, dalam sidang di PN Bojonegoro Djarkasi berhasil menang dan tanah tersebut dinyatakan sebagai haknya. Tak cukup sampai di sini, pihak Sunoto pun melakukan banding atas kasus tersebut ke Pengadilan Tinggi. Namun, lagi-lagi Djarkasi dimenangkan oleh hakim.

Dalam upaya terakhirnya, Sunoto melayangkan Kasasi ke Mahkamah Agung (MA) guna tetap mempertahankan lahan yang selama berpuluh tahun telah ditempatinya bersama keluarga besarnya. Tapi, upaya itu kandas. Keputusan MA menguatkan putusan-putusan sebelumnya, yakni memenangkan Djarkasi. Salinan putusan Kasasi tersebut diterima oleh PN Bojonegoro pada Januari 2010 lalu. “Kasus ini sudah incracht, dan berdasar salinan putusan Kasasi tersebut, kita melakukan eksekusi ini,” kata Eko Julis.

Kendati demikian, Sunoto dan keluarga tetap ngotot bahwa lahan tersebut sebenarnya adalah hak mereka. “Tanah ini adalah milik Tasmiyah, budhe dari ayah saya yang dulu juga tinggal serumah dengan ayah saya. Terhitung sudah lebih dari 50 tahun kami tinggal di sini,” terang Nur Aini, anak pertama Sunoto di sela proses eksekusi kemarin.

Menurutnya, yang tinggal di tiga rumah tersebut antara lain, Sonoto, Muktiasih, Heni, Agus S, Dina, Agus H, Sinarsih dan dirinya sendiri. “Sedangkan Djarkasi itu hanya anak angkat dari Tasimyah. Mestinya kan yang lebih berhak atas tanah ini adalah ayah saya, yang keponakannya langsung,” sambungnya.nufi

Polisi Berhasil Menangkap Buronan Kasus Mutilasi Tol Karawang Di Cordova Spanyol


Kepolisian Daerah Metro Jaya segera membawa pelaku mutilasi Victor Rizki Wibowo dari Cordova, Spanyol, ke Indonesia. “Kami sedang mengirim petugas ke sana,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Metro Jaya Komisaris Besar Herry Rudolf Nahak kepada wartawan, Kamis (23/12).

Imran Firasat Sulaeman, 32 tahun, diburu polisi setelah dipastikan menjadi otak pelaku pembunuhan mutilasi Victor, 27 tahun yang laporkan hilang oleh istrinya Selvi Magdalena, pada 16 Juni lalu. Warga negara Pakistan ini masuk dalam daftar merah Interpol diketahui melarikan diri ke Spanyol, pada 18 Juli lalu.

Herry menjelaskan Imran berhasil ditangkap oleh polisi Spanyol, beberapa waktu lalu. “Sudah agak lama,” ujarnya. Kabar penangkapan ini, disebutkan Herry, disampaikan oleh Interpol. Sesampainya di Jakarta, Imran dijadwalkan akan menjalani penyidikan di Satuan Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya.

Menurut Kepala Satuan Jatanras Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nico Afinta yang menangani kasus ini, Imran sulit ditemukan. “Dia sering berpindah kota,” katanya. Selain kabur ke Cordova, Imran juga pernah singgah ke Madrid dan Barcelona.

Nico menceritakan ia pernah mengejar Imran ke Barcelona, namun akhirnya kehilangan jejak. Ia kemudian menghubungi Interpol dan Kepolisian Spanyol untuk bekerja sama menemukan Imran.

Pada 24 Juni lalu, Victor ditemukan tewas dengan kaki terpotong di pangkal lutut di tol Kerawang, Jawa Barat. Setelah diselidiki, rekan bisnisnya, Imran, merupakan otak pembunuhan mutilasi tersebut.

Tim Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya juga telah menangkap istri Imran, Linna Serachman dan kekasih Imran, Triana, 20 tahun. Keduanya adalah warga negara Indonesia yang diduga kuat membantu pembunuhan berencana tersebut.

Dalam penyidikan, Linna mengaku tidak mengetahui mengenai pembunuhan tersebut sehingga hanya dikenai pasal penggelapan dokumen dan identitas. Sementara, semua yang terlibat pembunuhan ini akan dijerat dengan Pasal 338 Juncto 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pembunuhan berencana dengan hukuman maksimal mati.

Pantai Pangandaran Akan Dipadati 200 Ribu Pengunjung Pada Liburan Akhir Tahun 2010


Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat memperkirakan 1 juta wisatawan baik asing maupun domestik akan memadati berbagai tempat wisata saat perayaan tahun baru dan long week and tahun ini.

“Puncak dan Pangandaran tetap menjadi tujuan utama,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Herdiwan Iing Suranta, saat peresmian rumah sejarah Inggit Ganarsih, Kamis (23/12).

Herdiwan memperkirakan sampai akhir tahun ini, paling tidak Jabar dikunjungi sekitar 700 ribu sampai 1 juta orang wisatawan, dan diperkirakan ada uang Rp 1 triliun yang masuk. Untuk Tahun Baru nanti, kata dia, sekitar 200 ribu orang akan memadati pantai Pangandaran. “Hampir semua hotel di kawasan tersebut sudah full booking,” katanya.

Herdiwan menambahkan, pada tahun 2010 iniDinas Kebudayaan dan Pariwisata hanya mendapatkan dana Rp 3,4 miliar untuk promosi dan Rp 6 miliar untuk memberikan stimulus pada pemerintah kabupaten/kota untuk perbaikan fasilitas umum di tempat wisata. Padahal, kata dia, untuk mengembangkan wisata di Jabar membutuhkan dana Rp. 500 miliar.

Anak Gunung Krakatau Mengeluarkan 34 Kali Letusan dan Dentuman


Gunung Anak Krakatau mengeluarkan dentuman dan getaran 34 kali sepanjang Rabu (22/12), seiring makin meningkatnya aktivitas vulkanik gunung yang terletak di Selat Sunda itu.

“Dentuman yang keluar dari GAK 22 kali, dan getaran yang ditimbulkan 12 kali,” kata Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau Anton S Pambudi di Serang, Kamis.

Dentuman yang keluar dari gunung itu, jelas didengar warga yang berada di pesisir Pantai Anyer, dan getarannya juga bisa dirasakan masyarakat setempat.

Suminta, warga Desa Cikoneng Kecamatan Anyer menjelaskan suara dentuman dan letusan Gunung Anak Krakatau terdengar sangat jelas di tengah malam.

“Saya mendengar jelas dentuman itu, dan merasakan getaran yang keluar dari GAK,” katanya menjelaskan.

Warsito, nelayan yang tinggal di pesisir Anyer itu mengaku, mendenga dentuman yang terjadi berkisar satu-dua jam sekali.

“Dentuman dari Gunung Anak Krakatau, waktu saya dengar malam-malam suaranya selisih satu jam, kemudian terdengar lagi,” katanya.

Suara dentuman dan getaran karena aktivitas dalam gunung yang menggetarkan kaca jendela rumah warga itu, kerap membuat warga ketakutan dan keluar dari rumah.

“Masyarakat sepertinya masih takut dan khawatir terjadi hal buruk, karena itu mereka acap kali keluar, ketika mendenger dentuman dan merasakan getaran,” katanya.

Data yang diperoleh dari Pos Pemantau GAK, jumlah kegempaan sepanjang Rabu (22/12) sebanyak 467 kali, dengan rincian vulkanik dalam (VA) satu kali, vulkanik dangkal (VB) 75 kali, letusan 116 kali, tremor letusan 57 kali, tremor harmonik tidak ada, dan hembusan 218 kali.

Gunung Raung Meletus Terus Semburkan Abu Vulkanik


Meski masih berstatus normal aktif, Gunung Raung di Banyuwangi, Jawa Timur, sejak Rabu (15/12) mengeluarkan beberapa kali semburan abu.

Hal itu dikemukakan Balok Suryadi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Raung di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Selasa (21/12). Penduduk Desa Manggar, Kecamatan Songgon, mengeluh karena semburan debu. Empat kecamatan lain juga terkena abu, yaitu Kecamatan Sempu, Singojuruh, Licin, dan Glenmore.

Jika angin dari selatan, semburan abu sampai ke Situbondo. Jika angin bertiup dari timur, semburan abu sampai ke beberapa desa di Kabupaten Jember dan Bondowoso. ”Sebaliknya, jika angin dari barat, abu mengarah ke Banyuwangi,” kata Balok.

Dari Probolinggo dilaporkan, kendati Gunung Bromo masih mengeluarkan asap, pelaku pariwisata kembali optimistis. ”Pariwisata di Bromo kembali menggeliat dengan pemberitaan yang ada. Wisatawan, terutama dari mancanegara, ingin melihat asap dari kawah Bromo,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Probolinggo Digdoyo Djamaludin Putra.

Sejauh ini sektor pertanian di Jawa Timur belum terimbas erupsi Gunung Bromo. Abu vulkanik memang menyebabkan kerusakan sebagian lahan pertanian dan perkebunan, tetapi belum berdampak signifikan terhadap angka produksi pertanian. Demikian dikatakan Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur Achmad Nur Falakhi, Selasa.

Di Bandung, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sukhyar menyatakan, standar pemantauan gunung api aktif di Indonesia membutuhkan banyak pembenahan.

Felik Setiawan Membunuh Pacarnya Yang Berusia 18 Tahun Setelah Puas Menyetubuhinya


Eka Septiana ,18, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dibunuh pacarnya sendiri Felik Setiawan ,21, warga Dusun Sentonayan RT 06 RW 05 Kelurahan Kapencar , Kecamatan Kertek , Kabupaten Wonosobo , Jateng setelah berhubungan intim.

Kasus itu berhasil diungkap jajaran Direskrim Polda Jateng . Pelakunya diringkus di Sermarang, Senin (20/12) setelah dibburu sejak kejadian Selasa (9/11) Menurut Kombes Pol. Didit Widjanardi , antara korban dan tersangka awalnya kenal via jejaring sosial facebook . Keduanya kemudian berpacaran sejak Juni 2010 lalu .

Awalnya korban mendatangi rumah tersangka dan meminta agar diantarkan pulang ke tempat indekosnya di sekitar kampus UMY. Ketika berada di rumah tersangka ,keduanya sempat berhubungan intim layaknya suami isteri ,ungkap Direskrim didampingi Kabid Humas Polda Jateng AKBP Djihartono. Selesai berhubungan intim, tersangka mengatakan kepada korban kalau jalinan kasih keduanya seperti tidak cocok . Perkataan tersangka itu membuat korban marah dan sempat menampar pipi tersangka sebanyak dua kali.

Mendapat tamparan dari korban, tersangka menjadi emosional dan mencekik leher korban hingga pingsan . Tetapi beberapa saat kemudian korban sadar dan berteriak minta tolong hingga didengar salah satu tetangga tersangka .Tetangga yang mendengar teriakan korban berusaha menolong dengan mendatangi rumah tapi oleh tersangka diberitahu kalau teriakan tersebut hanya bercanda sehingga tetangga tersebut kembali lagi ke rumahnya tanpa curiga.

Tersangka yang masih kalap kemudian mengambil pipa besi dengan panjang 30 centimeter yang berada di atas meja dan langsung dipukulkan ke n wajah dan belakang kepala korban. Tersangka kembali mencekik leher korban hingga tewas .

Takut aksinya ketahuan , tersangka kemudian mengubur mayat korban di bagian dapur rumahnya dengan ukuran panjang lubang sekitar 1 meter dan lebar serta kedalaman setengah meter. Sebelum membersihkan lantai yang terdapat ceceran darah , tersangka yang sempat menangis, lalu mengambil sebagian barang-barang pribadi milik korban antara lain dompet, telepon seluler, pakaian, sandal, dan tas yang kemudian dibakar di tungku dapur.

Selanjutnya tersangka menyerahkan sepeda motor miliknya ke adiknya yang bernama Adi Kurnia sebelum melarikan diri ke Sampit, Kalimantan Tengah, dengan menggunakan uang korban dan hasil penjualan komputer jinjing korban yang diambil tersangka.

Polisi baru menemukan mayat korban Senin (6/12) setelah menerima laporan dari masyarakat di sekitar rumah tersangka yang mencium bau busuk cukup menyengat . Saat ditemukan, korban yang beralamat di Dusun Kemukus Timur RT 02 RW 02 Kecamatan Kaliworo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dalam posisi miring dengan kaki sedikit ditekuk.

Dalam pelariannya, tersangka selalu berpindah-pindah tempat hingga ditangkap tim gabungan dari Polres Wonosobo dan Polda Jateng, Sabtu (18/12), di Masjid Agung Demak, Jawa Tengah Dihadapan polisi tersangka mengaku menyesal telah membunuh perempuan yang menjadi kekasihnya sejak awal Juni 2010 itu.

Jaringan Pelacuran ABG, Mahasiwsi dan Perawan Bertarif 500 Ribu Per Jam Dibongkar Polda Jatim


Anggota Reserse Mobile (Resmob) Satpidum Ditreskrim Polda Jatim berhasil mengungkap perdagangan anak di bawah umur (trafficking). Seorang tersangka berhasil ditangkap yakni Yayuk Setyowati,35 warga Dusun Jambu, Desa Jabon, Kecamatan Perak, Jombang.

“Tersangka ini terbukti menjual ABG ke lelaki hidung belang. Tak hanya itu, tersangka juga menjual perawan ke lelaki hidung belang,” ujar Kasat Pidum Ditreskrim Polda Jatim AKBP Awang Joko Rumitro,Selasa (21/12).

Awang mengungkapkan tersangka Yayuk ditangkap di hotel Borobudur, Jombang. Keberhasilan petugas menangkap tersangka ini berkat informasi yang menyebutkan bahwa tersangka bisa menyediakan ABG untuk melayani lelaki.
“Informasi yang kita dapatkan tersangka ini bisa menyediakan pelajar SMA untuk melayani lelaki. Selain itu juga bisa menyediakan mahasiswi dan perawan,” ungkap Awang.

Dalam menjalankan usahanya, tersangka mematok tarif berkisar Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu. Besar kecilnya tarif bergantung kecantikan ABG yang dijual. Untuk siswi SMA yang berwajah biasa saja dipatok tarif Rp 350 ribu per short time.
“Sedangkan bila yang diminta pelajar SMA berwajah cantik dipatok tarif Rp 500 ribu. Dari tarif tersebut, tersangka mendapatkan komisi Rp 100 ribu dari anak buahnya itu,” terang Awang.

Tarif berbeda dikenakan untuk mahasiswi yang berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Sementara untuk tarif perawan, tersangka mematok tarif lebih mahal yakni berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 8 juta.
“Saat kita periksa tersangka mengaku baru menjual 6-8 perawan. Sebagian besar pembelinya adalah warga Surabaya. Sementara total anak buahnya mencapai 18 orang,” kata Awang.

Dalam mempromosikan anak buahnya, tersangka Yayuk cangkruk di tempat perbelanjaan dan hotel berbintang. Di tempat itulah, tersangka memperlihatkan anak buahnya yang bisa melayani seks.

“Tak hanya itu, tersangka juga mengandalkan gethok tular dari mulut ke mulut pelanggannya. Bahkan ada pelanggannya yang datang sendiri ke rumah tersangka,” ujar Kanit Resmob Ditreskrim Polda Jatim Kompol Eko Siswoyo.
Tapi setelah 2 tahun berpetualang di dunia bisnis esek-esek, perbuatan Yayuk tercium anggota Resmob Polda Jatim. Ibu 4 anak ini akhirnya ditangkap dan langsung digelandang ke Mapolda Jatim guna menjalani pemeriksaan.

Dari penangkapan tersangka Yayuk ini, petugas menyita barang bukti uang tunai Rp 1,2 juta. Atas perbuatannya, tersangka Yayuk dijerat pasal 23 UU Perlindungan Anak No.22 Tahun 2003 dan UU Perdagangan manusia dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Seorang Nelayan Tewas AKibat Terseret Ikan Hiu


Malang nian nasib Sudin (55). Warga Dusun Keperan, Desa Tanjung Pecinan, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo ini tewas saat mencari ikan di laut, Senin (20/12).

Nelayan tradisional ini tewas setelah kedua kakinya terlilit tali pancing dan terseret ikan hiu ke dalam air laut selama sekitar satu jam. Korban berhasil diangkat dari air laut dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Busyairi (35), menantu korban menuturkan, setiap hari dirinya memancing ikan hiu bersama mertuanya itu dengan perahu motor miliknya. Hanya saja, hari itu nasib baik rupanya tidak berpihak kepada mereka.

Pagi itu, Sudin berangkat bersama Busyairi dan dua nelayan lain, yakni Moyo (70), serta Toto (50) . Setibanya di tengah laut, ia dan mertuanya sama-sama melepaskan tali pancing yang sudah diberi umpan ke laut.

Setelah menunggu beberapa menit, tiba-tiba umpan pancing mertuanya disambar ikan hiu berukuran cukup besar. “Saya sudah melarang, agar bapak tidak berdiri di atas tali pancing,” tutur Busyairi saat ditemui di rumahnya.

Sesaat sebelum terseret, ikan hiu yang diperkirakan berbobot sekitar satu kwintal itu sebenarnya hampir berhasil dinaikkan ke atas perahu. Namun, hiu itu terus meronta, berusaha melepaskan diri dari mata kail pancing yang tersangkut di mulutnya.

Lantaran khawatir hasil pancingan mertuanya lepas, Busyairi berinisiatif melompat ke laut untuk mengikat ekor hiu yang berusaha lepas. Namun, ikan ganas itu justru berontak dan memaksa lari.

Saat itulah petaka datang. Senar pancing ternyata melilit kaki Sudin. Ikan lepas dan menyeret Sudin ke dalam air.

Nelayan lain yang berusaha menarik sisa gulungan senar yang masih berada di atas perahu tidak bisa berbuat banyak. Mereka panik. “Ada sekitar satu jam beliau terseret dan tenggelam di laut,” jelas Busyairi.

Dalam kondisi masih terlilit tali senar, Sudin akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Bersama dua nelayan lainnya, Busyairi kemudian membawa tubuh Sudin ke daratan.

Memancing ikan hiu memang menjadi pekerjaan kedua nelayan ini setiap hari. Maklum, harga daging hiu cukup mahal. “Harga daging hiu saat ini mencapai Rp 4.500 perkilogram,” tutur Supriyanto (35), tetangga korban.

Dari fisiknya, hiu yang menyeret Sudin diperkirakan jenis tutul (Rhincodon typus). Ikan ini memang kerap muncul di beberapa negara, termasuk perairan Jawa Timur.

Hiu tutul adalah satwa langka yang belum banyak diteliti sehingga pengetahuan tentang satwa itu masih minim. Makanan pokok hiu tutul adalah plankton.

Keberadaan hiu tutul menjadi penting karena bisa menjadi indikator kualitas ekosistem laut. Dalam laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN), hiu tutul masuk dalam daftar merah. Satwa yang umurnya bisa mencapai 70 tahun itu rawan punah.

Kapolsek Mangaran AKP Ketut Redana menyatakan, kematian nelayan itu murni karena kecelakaan saat melaut. Dari hasil identifikasi terhadap korban, tidak ditemukan adanya bekas penganiayaan atau pemukulan.“Beberapa saksi sudah kami mintai keterangan dan korban murni tewas akibat terseret ikan hiu hasil pancingannya,” kata AKP Ketut Redana.

Bosan Menunggu Wapres Budiono Yang Suka Telat, Ibu Ibu PKK Tinggalkan Arena Begitu Wapres Mau Pidato


Ibu-ibu PKK ini mungkin tidak ’setia kawan’ lagi untuk menunggu. Gara-gara kepanasan dan terlalu lama duduk menanti di tribun, saat Wakil Presiden Boediono tiba, mereka justru meninggalkannya.

M enunggu memang pekerjaan paling membosankan. Mungkin inilah kalimat yang pas untuk mengungkapkan gambaran kekesalan ibu-ibu PKK Kabupaten Bogor terhadap kunjungan Wakil Presiden Boediono dalam puncak peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional 2010, di Sirkuit Sentul Internasional Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/12) pagi.

Karena sudah letih harus berkumpul sejak pagi hari, wajah ibu-ibu yang datang dari berbagai kecamatan setempat dengan bus itu terlihat tidak sumringah lagi. Saat Boediono tiba sekitar pukul 10.00, ibu-ibu ini justru pulang meninggalkannya.

Lantas, bagaimana respons Wapres? Ia tersenyum. Boediono pun mengucapkan terima kasih kepada sejumlah peserta HKSN yang masih bertahan untuk mengikuti acara hingga akhir.

“Terima kasih kepada ibu-ibu PKK yang masih bertahan. Terima kasih juga kepada karang taruna yang masih bertahan,” ujar Wapres Boediono mengawali pidatonya.

Apa yang dilakukan para ibu PKK ini bisa dimaklumi, karena sebagian besar sudah duduk di tribun sirkuit sejak pukul 06.00 WIB. Lamanya menanti membuat mereka tampaknya tidak tahan lagi meski sebelumnya pembawa acara, Tiya Maryadi, meminta kedisiplinan mereka untuk tetap bertahan.

“Tolong ibu-ibu menjaga kedisiplinan dan kesetiakawanan di puncak acara HKSN ini,” kata Tiya, berkali-kali.

Suasana yang sudah panas, tak bisa membuat para ibu yang menggunakan baju dan kerudung berwarna biru tersebut bersabar untuk tidak pulang. Setengah jam sebelum acara dimulai, mereka sudah terlihat gerah, tidak sabar.

Dalam panas terik, mereka justru menyanyikan “Mari Pulang” berkali-kali sambil bertepuk tangan. Kepulangan para peserta HKSN juga sudah tampak saat Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dan Menteri Sosial, Salim Segaf Al’Jufrie memulai pidato.

Panitia sebelumnya juga sudah merayu para peserta ini agar sedikit bersabar dan tidak menunjukkan muka masam. “Ayo, jangan tunjukkan muka masam dan cemberut seperti itu. Dari panggung utama ini, muka ibu-ibu PKK nanti terlihat loh di layar televisi besar itu. Jangan sampai Pak Wapres diberi wajah cemberut ya,” rayu Soni Manalu, Kepala Subdirektorat Karang Taruna Kementerian Sosial.

Menurut Soni, daripada cemberut, lebih baik bernyanyi agar lebih bersemangat. Lalu, Soni pun mengajak bernyanyi dan bertepuk tangan. Bukan hanya barisan ibu-ibu PKK di tribune Sirkuit Sentul, yang terletak di hadapan panggung utama, melainkan juga barisan peserta lain yang diminta untuk bersemangat selama acara tersebut.

Mereka di antaranya UMKM, anak jalanan, penyuluh, petugas posyandu, bidan desa, pelajar, dan anggota Pramuka.

Tapi, apa yang terjadi? Setelah pertunjukan tari selamat datang, sebagian besar tribun sirkuit kosong, termasuk tribun di depan podium VVIP tempat Wapres dan rombongan menyaksikan seluruh rangkaian peringatan puncak HKSN 2010 tersebut.

Budaya Menolong

Dalam pidatonya, Boediono mengingatkan pentingnya melestarikan budaya tolong menolong tanpa berharap imbalan atau peduli risiko apa pun.

“Saya berharap budaya tolong menolong tanpa terlintas mendapatkan imbalan atau terpikir adanya risiko, terus dipertahankan dan dilestarikan,” kata Wapres.

Budaya tolong menolong tanpa berpikir mendapatkan imbalan merupakan karakter sesungguhnya bangsa Indonesia. Menurut Wapres, saat terjadi sejumlah bencana nasional di Wasior, Papua, Mentawai, serta letusan Gunung Merapi di Jogjakarta, tampak terlihat budaya tolong menolong yang ditunjukkan bangsa Indonesia

Oleh karena itu, pada momentum peringatan HKSN 2010, Wapres Boediono mengajak agar masyarakat terus mengembangkan dan melestarikan budaya menolong tanpa pamrih.

“Konstitusi kita mengatur agar kita selalu memiliki kesetiakawanan sosial setiap saat,” ungkapnya.

Pada puncak peringatan HKSN 2010 kemarin, Wapres Boediono menyerahkan bantuan dan sarana penanggulangan bencana untuk 33 provinsi yang diserahkan secara simbolis kepada Bupati Bogor

Ratusan Pesilat Madiun Merusak Rumah Warga


Ratusan pesilat diduga anggota dari Persaudaraan Setia Hati (PSH) Tunas Muda Winongo, Madiun, melakukan aksi brutal, merusak rumah sejumlah warga di Kelurahan Sukosari, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Jatim, Minggu.

Aksi ini dilakukan setelah ratusan pesilat ini berkonvoi usai menghadiri acara “Suran Agung” di Padepokan PSH Tunas Muda Winongo, di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.

“Tidak ada alasan apa-apa, tahu-tahu rombongan anak muda yang berpakaian hitam langsung melempari rumah dengan batu. Saya kaget dan langsung keluar, akibat suara genting dan kaca rumah yang pecah akibat lemparan tersebut,” ujar seorang warga yang juga Ketua RT 17/ RW VI, Kelurahan Sukosari, Muhamad Mahmud.

Menurutnya, sedikitnya 14 rumah warga rusak akibat aksi vandal anggota pesilat tersebut. Rata-rata kerusakan terjadi pada genting, kaca, dan pagar.

Warga yang mengetahui peristiwa ini langsung keluar rumah untuk mengejar pelaku. Namun, rombongan cepat meninggalkan lokasi kejadian dengan mengendarai sepeda motor.

Kapolsek Kartoharjo, Polres Madiun Kota Kompol Eko Suweknyo, di lokasi kejadian mengatakan, pihaknya masih mendalami kasus ini, dengan menyelidiki lebih lanjut.

“Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Petugas juga telah melakukan identifikasi di lokasi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” katanya kepada wartawan.

Usai Suran Agung, massa anggota Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo dari berbagai daerah berkonvoi di jalan-jalan protokol Kota Madiun dengan kawalan ketat polisi dibantu anggota TNI-AD dan TNI-AU.

“Suran Agung” adalah ritual wajib bagi perguruan silat PSH Tunas Muda Winongo, terutama pada bulan Muharam atau bulan Suro.