Kemacetan Lalu Lintas Di Jakarta Bertambah Parah Kian Hari

Kemacetan di Jakarta seperti masalah tanpa solusi. Aliran lalu lintas yang mampet tidak hanya muncul di sekitar proyek pengerjaan jalan baru atau di dekat jalur bus transjakarta, tetapi nyaris di seluruh ruas di Ibu Kota. Kemacetan sering terjadi tanpa sebab jelas.

Sepanjang Kamis (13/1), antrean kendaraan yang hanya mampu bergerak dengan kecepatan 0-5 kilometer per jam terjadi di Jalan Latumenten dan Jalan S Parman, Jakarta Barat. Di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, kepadatan juga terpantau pada Kamis sore kemarin.

Traffic Management Center Polda Metro Jaya mencatat kemacetan panjang terjadi di seluruh ruas TB Simatupang mulai dari perbatasan dengan Tangerang melintasi Jakarta Selatan hingga ke Jakarta Timur.

Di Jakarta Timur, kemacetan terjadi mulai dari kawasan Citra Grand Kota Wisata, Cimanggis, Depok, hingga depan pintu tol Cibubur. Kemacetan terjadi sejak pagi hingga pukul 10.00. Hal ini terjadi karena perubahan pelayanan di pintu tol, dari gerbang tol lurus menjadi gerbang tol miring. Jika sebelumnya di pintu tol membutuhkan waktu 3 detik untuk berhenti mengambil kartu, sejak kemarin para pengemudi antre membayar tarif tol yang butuh waktu 15 detik.

Tak ada alternatif

Selain ruas-ruas utama tersebut dan di kawasan Sudirman – MH Thamrin, arak -arakan pelan kendaraan terlihat hingga ke jalan-jalan kecil, seperti di Radio Dalam, Jalan Wijaya, Kebun Jeruk, dan lainnya.

Setelah keluar Tol Grogol, misalnya, kemacetan terjadi pula di jalan arteri S Parman, Slipi, hingga Permata Hijau. Jalur kecil dari Slipi menuju Palmerah pun sesak. Akibatnya, perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno- Hatta ke Permata Hijau, yang pada situasi normal bisa ditempuh dalam 30 menit hingga 45 menit, molor hingga dua jam.

Ahmad (40), sopir taksi, mengatakan, sebagian besar sopir kini sulit mencari rute-rute alternatif yang bebas kemacetan. ”Karena macet, pengeluaran untuk bahan bakar membengkak hingga lima kali lipat,” ucapnya.

Suku cadang kendaraan, khususnya kampas rem dan kopling, juga cepat aus. Penumpang pun merugi. Ongkos taksi dari Bandara Internasional Soekarno Hatta ke Palmerah Selatan naik 60 persen menjadi Rp 130.000

Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Ery Basworo mengatakan, tambahan kemacetan akibat pembangunan jalan layang Antasari dan Casablanca diperkirakan akan terus berlanjut sampai sembilan bulan ke depan. Waktu selama itu diperlukan untuk membangun semua fondasi tiang jalan layang.

”Jalan layang dibangun untuk mengatasi kemacetan di kedua kawasan itu. Beban lalu lintas memang sedikit bertambah, tetapi kami sudah menekannya seminimal mungkin,” kata Ery.

Untuk mengatasi kemacetan yang makin parah, pemerintah berencana melarang kendaraan kategori besar seperti truk dan kontainer menggunakan jalan tol pada jam-jam sibuk. Kendaraan berat dilarang menggunakan jalan tol pada pukul 05.00-10.00 dan 15.00-22.00.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s