Category Archives: Banjir Di Indonesia

500 Rumah Di Kabupaten Nganjuk Terendam Banjir

Banjir bandang kembali menerjang permukiman penduduk di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Lebih dari 500 rumah terendam air setinggi lutut orang dewasa.

Banjir kali ini terjadi di Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk. Tingginya curah hujan yang mengguyur seharian membuat debit air Sungai Sumengko meningkat. Menjelang petang, air mulai memasuki rumah warga dan menenggelamkan semua perabotan. “Sejak tadi malam kami berjaga-jaga kalau air membesar,” kata Sugeng, salah satu warga, Minggu, 15 Januari 2012.

Banjir seperti ini, menurut dia, terjadi setiap musim hujan tiba. Berbagai upaya dilakukan warga untuk mencegah meluapnya sungai. Namun tingginya curah hujan yang membawa air dari gunung membuat Sungai Sumengko tak mampu menampungnya.

Hingga pagi ini warga masih belum mengembalikan perabotan rumah ke tempat semula. Mereka khawatir banjir susulan akan kembali menerjang desa itu.

Jasmani, perangkat Desa Sumengko, mengatakan sekitar 550 rumah di lima rukun warga terendam air. Petugas Tanggap Bencana dan TNI sejak tadi malam berjaga-jaga di desa itu untuk membantu evakuasi. “Mereka disiagakan karena khawatir banjir susulan,” kata Jasmani.

Informasi yang diterima Tempo menyebutkan banjir ini disebabkan penebangan liar yang terjadi di Gunung Wilis. Gundulnya kawasan hutan menjadi ancaman bencana bagi warga Nganjuk setiap musim hujan tiba.

Ancaman serupa juga dialami warga di lereng Wilis lainnya. Ribuan warga di Kecamatan Mojo dan Banyakan, Kabupaten Kediri, mewaspadai longsor yang terjadi tiap musim hujan. Meski sudah dibangun plengsengan penahan material tanah di lereng, longsor tetap terjadi dan memutuskan akses jalan. “Kami meminta warga di sana berhati-hati,” kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri Edhi Purwanto.

Pulau Jawa Waspada Banjir Hingga Bulan Februari

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan, bencana banjir dan tanah longsor masih akan menjadi ancaman bagi hampir seluruh wilayah di Indonesia hingga Februari 2012. Hal itu disebabkan curah hujan yang masih tinggi hingga bulan depan.

Dalam kunjungannya ke Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/1/2012), Agung meninjau wilayah rawan banjir di bantaran Sungai Bengawan Solo sekaligus meninjau mobil Kiat Esemka. Agung menjelaskan, berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), diketahui bahwa curah hujan di hampir seluruh wilayah di Indonesia akan tinggi hingga bulan Februari.

“Bahkan curah hujan diperkirakan lebih tinggi mencapai tiga kali lipat dibanding biasanya dan hal tersebut bisa mengakibatkan banjir dan tanah longsor,” kata Agung.

Untuk mengantisipasi adanya kemungkinan terburuk akibat kondisi cuaca ekstrem tersebut, Agung mengatakan, pemerintah pusat telah meminta daerah untuk tetap waspada. Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri juga telah memberikan imbauan kepada seluruh pemerintah daerah di Indonesia.

“Kami juga telah meminta BMKG untuk menyosialisasikan mengenai kondisi cuaca ke seluruh pemerintah daerah agar nantinya bisa diteruskan ke pihak pelabuhan, bandar udara, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pemerintah akan memerhatikan seluruh wilayah di Indonesia terkait waspada bencana banjir. Hal ini dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa akibat bencana alam dalam cuaca ekstrem. Agung mengatakan, Pulau Jawa termasuk wilayah dengan penduduk terbanyak dan memiliki peluang cuaca buruk hingga Februari mendatang.

Daftar Wilayah Kota Denpasar Yang Dilanda Banjir Besar Karena Hujan Dari Sabtu

Hujan yang turun sejak pagi membuat sebagian ruas jalan di kota Denpasar tergenang air, Rabu (28/12). Got atau saluran drainase yang ada tak mampu menampung curah hujan yang deras sehingga air meluap ke badan jalan. Banjir terjadi di sebagian jalan Gajah Mada depan pasar tradisional Badung dan Pasar Kumbasari, Jalan Sulawesi, dan juga di jalan Pulau Roon, sebagian kawasan perumnas Monang Maning Denpasar serta beberapa ruas jalan lainnya.

Bahkan dari pantauan di jalan Pulau Kawe ada jalan berlubang yang tertutup oleh genangan air sehingga rawan menimbulkan kecelakaan lalulintas. “Saya nyaris terperosok, untungnya saya cepat tahu setelah ban mobil yang di depan melintas tepi lubang itu,” aku Widi, seorang pengendara sepeda motor.

Pihak BMKG Denpasar mengatakan pada bulan-bulan ini Bali sudah memasuki musim hujan dengan curah hujan cukup tinggi. Untuk itu diingatkan agar mewasdapai terjadinya banjir. Seluruh ruas jalan dan beberapa rumah warga Kota Denpasar, Bali, dilanda banjir, Selasa (8/11) malam. Ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.

Bali yang kini memasuki musim penghujan harus diwaspadai warga Kota Denpasar. Sejak pagi, hujan turun di Kota Denpasar dan sekitarnya. Curah hujan yang turun tidak begitu besar. Gerimis lebih tepat. Namun sejak sekitar pukul 20.00 WITA, hujan mulai turun dengan sangat deras. Akibatnya, seluruh ruas jalan Kota Denpasar, banjir.

Wakil Pelaksana Pusdalops Provinsi Bali Made sukadana membenarkan kondisi Kota Denpasar yang dilanda banjir. “Tim kami saat ini terus memantau di seluruh Kota Denpasar,” ujarnya. Hujan deras yang melanda Kota Denpasar dan sekitarnya tak ayal menyebabkan banjir. Banjir dengan tinggi sekitar paha orang dewasa itu terjadi di Jalan Jalan Bukit Indah, Kebo Iwa, Gatot Subroto Barat.

Kota Denpasar sudah diguyur hujan deras sejak Sabtu malam, 7 Januari 2011. Intensitas hujan semakin deras sejak pagi tadi.Menurut Sekretaris Kesbangpolinmas Provinsi Bali yang membawahi Pusat Pengendalian Operasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB), Made Sukadana, banjir diakibatkan tertutupnya saluran air di sepanjang jalan itu. “Got tersumbat,” katanya saat dihubungi Minggu 8 Januari 2012.

Selain itu, menurut Sukadana, banjir juga terjadi akibat alih fungsi lahan yang terjadi di sekitar kawasan tersebut. “Perubahan lahan yang terjadi di kawasan ini ikut menjadi penyebab terjadinya banjir,” ucapnya.Air setinggi paha orang dewasa itu merendam puluhan rumah. Kendati begitu, belum diketahui pasti berapa jumlah rumah yang terendam banjir tersebut.

“Belum diketahui pasti berapa rumah yang terendam. Saya bersama BPBD masih dilokasi untuk evakuasi dan indentifikasi,” imbuh Sukadana. Banjir kini bukan hanya milik metropolitan. Banjir kini diakrabi warga Kota Denpasar. Buktinya, pada Selasa (8/11) malam, seluruh ruas jalan dan beberapa rumah warga Kota Denpasar dilanda banjir.

Ketiggian air mencapai pinggang orang dewasa. Bali yang kini memasuki musim penghujan harus diwaspadai warga Kota Denpasar. Di Kota Denpasar dan sekitarnya, hujan turun sejak pagi hari.

Curah hujan yang turun tidak begitu besar, masih masuk dalam kategori gerimis. Namun sejak sekitar pukul 20.00 Wita hujan mulai turun dengan sangat deras. Akibatnya, seluruh ruas jalan Kota Denpasar banjir.

Wakil Pelaksana Pusdalops Provinsi Bali Made sukadana membenarkan kondisi Kota Denpasar yang dilanda banjir. “Tim kami saat ini terus memantau di seluruh Kota Denpasar,” ujarnya

2.000 Rumah di MajalayaTergenang Banjir Setinggi 2 Meter

Luapan Sungai Citarum yang naik secara mendadak, Sabtu (30/4) petang, menggenangi setidaknya 2.000 rumah di wilayah Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Peristiwa itu terjadi karena Sungai Citarum yang mengalir di kawasan tersebut tidak mampu menampung volume air dari daerah hulu.

Menurut keterangan yang dihimpun Kompas, air mulai menggenangi permukiman warga di Majalaya sejak pukul 18.00. Sekitar 30 menit kemudian, ketinggian air yang menggenangi jalan dan permukiman mencapai 1,5 meter. Namun, pukul 19.00, air menyusut. Tidak lama berselang, banjir besar tersebut datang lagi dengan ketinggian lebih kurang dua meter.

Administrator Garda Caah Riki Waskito mengungkapkan, luapan air Sungai Citarum di wilayah Majalaya diduga berasal dari daerah Kamojang di Ibun. Adapun luapan berikutnya datang dari daerah Kertasari, lereng Gunung Wayang, yang merupakan hulu Sungai Citarum, sekitar dua jam perjalanan dari lokasi bencana. Sekitar pukul 17.00 terjadi hujan lebat di kawasan Kertasari dan sekitarnya.

Hingga Sabtu malam, belum diketahui secara pasti kondisi warga Majalaya yang terjebak banjir. Namun, relawan Garda Caah terus berupaya mengevakuasi para korban ke daerah yang lebih tinggi dan aman. ”Sebagian relawan juga menghalau pengguna jalan yang terjebak di jembatan untuk tidak nekat menerobos. Pasalnya, sangat berbahaya untuk menembus banjir yang deras arusnya,” kata Riki.

Riki mengkhawatirkan beberapa konstruksi tanggul yang dibuat dari karung pasir di beberapa titik di Majalaya bakal jebol akibat banjir bandang tersebut. Bila hal tersebut terjadi, genangan akan meluas dan bisa membahayakan warga.

Informasi dari Pos Pemantau Sungai Citarum, ketinggian air sungai itu pada pukul 19.30 tercatat mencapai 4,75 meter. Padahal, ketinggian air pada banjir besar tahun sebelumnya hanya 4,65 meter. Menurut petugas pos pemantau, Adang Suhendar, pihaknya akan terus melaporkan ketinggian air setiap 15 menit kepada relawan tanggap darurat melalui radio panggil untuk dilakukan penanganan terhadap warga.

Warga Majalaya lainnya, Deni Riswandani, mengatakan, banjir juga menggenangi dua kecamatan tetangganya, yakni Ibun dan Solokanjeruk. Luapan air sempat menggenangi akses jalan menuju Kecamatan Ciparay, tetapi tidak parah sehingga masih bisa dilalui kendaraan.

Kecamatan Majalaya berada di tepi kelokan Sungai Citarum dan berjarak sekitar 20 kilometer dari hulu sungai. Bila meluap, air melimpas ke permukiman warga di pinggir sungai. Kawasan ini juga merupakan sentra industri tekstil nasional. Di sana beroperasi sekitar 600 unit industri tekstil yang mempekerjakan lebih kurang 500.000 tenaga kerja.

2.179 Rumah Di Subang Terendam Akibat Luapan Sungai Ciasem

Ribuan rumah dan ratusan hektar sawah di Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis kemarin, terendam banjir gara-gara luapan Sungai Ciasem. Hujan deras sejak Rabu (8/12) sore membuat Sungai Ciasem dan sejumlah sungai di wilayah utara Subang meluap.

Aparat Kantor Kecamatan Ciasem mencatat, banjir menggenangi 2.179 rumah dan 279 hektar tanaman padi di enam desa, yakni Desa Ciasem Hilir, Ciasem Tengah, Ciasem Baru, Dukuh, Jatibaru, dan Pinangsari. Tinggi genangan di beberapa lokasi permukiman mencapai 120 sentimeter pada Kamis pagi dan berangsur surut menjelang siang.

Selain Ciasem, sejumlah sungai di wilayah utara Subang juga meluap, seperti Sungai Batang Leutik di Kecamatan Sukasari, Cigadung di Kecamatan Pamanukan, dan Cilamaya di Kecamatan Blanakan. Luapan air menggenangi sawah-sawah di kanan-kiri aliran sungai yang umumnya ditanami padi dengan usia 1-15 hari.

Tidak ada korban jiwa akibat banjir itu. Namun, menurut Camat Ciasem Suwarna Samsudin, sedikitnya delapan rumah di Desa Pinangsari rusak berat akibat genangan dan arus deras air. Banjir juga menghambat aktivitas warga, terutama di dua desa terparah, yakni Ciasem Hilir dan Ciasem Tengah.

Menurut Kasih (45), petani di Desa Jatibaru, tanggul Sungai Ciasem jebol sepanjang 4 meter di Kampung Pasirsenang, Kamis dini hari. Akibatnya, persawahan yang sebelumnya aman dari banjir kini tergenang dengan ketinggian air 30-50 sentimeter.

”Jika banjir tidak surut dalam 4-5 hari, tanaman padi kemungkinan besar akan rusak dan mati. Petani sudah mengeluarkan ongkos sekitar Rp 1 juta per hektar untuk penyemaian benih, pengolahan tanah, dan penanaman,” kata Kasih.

Kepala Perum Jasa Tirta II Seksi Sukamandi Karyaman menambahkan, tingginya curah hujan membuat debit sungai meningkat drastis pada Rabu malam hingga Kamis pagi. Di Bendung Cijengkol, misalnya, debit meningkat dari 31 meter kubik (m3) per detik pada Rabu pagi menjadi 264 m3 per detik Kamis pagi.

Genangi pantura

Tinggi muka air Sungai Ciasem di titik pantau Jembatan Ciasem mencapai 7,5 meter di atas permukaan laut (mdpl), lebih tinggi daripada titik normal 4 mdpl. Air bahkan sempat menggenangi sebagian bahu jalan di jalur utama pantai utara (pantura) di sekitar Pasar Ciasem.

”Debit Sungai Ciasem yang bertemu Sungai Cijengkol di daerah Ciasem tak tertampung oleh saluran yang ada sehingga meluap. Apalagi, selain di daerah hulu di wilayah Subang selatan, hujan deras juga terjadi di hilir,” kata Karyaman.

Pemerintah daerah masih mendata kerugian akibat banjir tersebut. Korban mengaku belum berpikir untuk mengungsi.

Sementara di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, angin kencang dan gelombang setinggi 2 meter merobohkan 24 rumah di Desa Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya. Sedikitnya 180 warga mengungsi akibat musibah itu. Angin kencang dan gelombang besar menghantam permukiman di wilayah Sungai Kakap, Rabu sore

Banjir Di Padeglang Sebabkan Kerugian Puluhan Juta Rupiah

Banjir pada awal Desember di wilayah Patia, Pandeglang, merendam lima desa, yaitu Desa Idaman, Cimoyan, Ciawi, Suriangeuen, dan Rahayu. Tidak ada rumah yang rusak walau ketinggian air 0,5-1,0 meter. Namun, 170 hektar sawah tergenang dan kerugian diperkirakan puluhan juta rupiah.

”Kerugian tidak sampai ratusan juta rupiah karena banjir merendam selama sehari. Kerusakan tanaman tidak terlalu parah,” kata Camat Patia Maman, Minggu (5/12).

Banjir di wilayah Patia berasal dari luapan Sungai Cilember, yakni sungai besar di Pandeglang yang menampung Sungai Goyang Lidah, Cisata, dan Cikadeuen.

Wilayah itu termasuk rawan banjir di Provinsi Banten. Hampir setiap kali musim hujan selalu terjadi bencana banjir, terutama jika hujan deras selama tiga hari berturut-turut. Untuk itu, pemerintah setempat berencana membangun tanggul.

”Rencananya, minggu ini berlangsung musyawarah pembebasan tanah seluas 5 hektar di Desa Suriangeuen di lokasi pembuatan tanggul,” kata Maman.

Sementara itu, di wilayah lain, banjir mulai surut di sejumlah desa di Kecamatan Pagelaran, Pandeglang. Daerah yang berupa cekungan itu kebanjiran sejak Jumat lalu.

”Banjir yang menggenangi jalan sampai ketinggian 1 meter mulai surut sejak semalam sehingga jalan dapat dilewati lagi,” kata Kaer, petani setempat.

Sebelumnya, selama dua hari, warga dari Desa Bojong Kondang yang hendak ke Desa Bulagor atau sebaliknya harus naik perahu karena jalan terendam air sehingga tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Banjir berasal dari luapan Sungai Cisata.

Warga pun terpaksa membayar Rp 1.000-Rp 5.000 per orang untuk naik perahu. Jika warga membawa sepeda motor, ongkos naik perahu Rp 5.000-Rp 10.000 per orang tergantung jauh dekatnya perjalanan.

”Terendam dua hari, jadi masih ada harapan panen, tidak sampai gagal total,” kata Kaer.

Namun, banjir selama dua hari bakal menurunkan hasil panen karena ada rumpun yang rusak. Dia memprediksi hasil panennya sekitar 7 kuintal gabah. Jika tidak banjir, sawah Kaer menghasilkan 1 ton gabah.

Menurut pengamat Stasiun Meteorologi Serang, Abdul Mutholib, wilayah sisi selatan Banten, yakni Kabupaten Lebak dan Pandeglang, memasuki musim hujan sejak pertengahan November. Wilayah Banten sisi utara memasuki musim hujan awal Desember ini.

Surabaya Dilanda Banjir 50 Pasien Tergolek Diatas Air dan Seorang Tewas Kesetrum Sengatan Listrik

Sebagian besar wilayah Kota Surabaya, tergenang banjir setelah di guyur hujan deras, Kamis (2/12) malam hingga Jumat (3/12) dini hari. Pantauan, Jumat, hampir semua perkampungan di kawasan Surabaya Utara digenangi air, begitu pula sebagian wilayah Surabaya Barat dan Surabaya Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta warga waspada karena banjir berpeluang terjadi lagi akibat fenomena iklim La Nina.

Banjir di Surabaya melumpuhkan sejumlah layanan publik, termasuk rumah sakit, dan menyebabkan seorang pelajar tewas tersengat listrik.

Fachrur Rosi (19), siswa SMA Pondok Pesantren (Ponpes) Yannabiul Ulum Walhakim, Sidoresmo, tewas tersengat aliran listrik setelah menghindari banjir di Jl Asem Mulya, Jumat (3/12) pagi.

Insiden yang terjadi pukul 08.00 WIB itu tidak segera diketahui warga atau pengguna jalan di kawasan tersebut. Banjir setinggi lutut pria dewasa, membuat pengguna jalan was-was untuk melintas. Korban yang mengendarai motor Honda Supra X seorang diri, nekat menerjang banjir. Akibatnya, motor korban mogok.

“Dia lalu menuntun motor itu ke pinggir jalan agar tidak terus diterjang air banjir,” ujar Kapolsek Asemrowo, AKP Dolly Primanto. Saat menuntun motor itulah, kaki Rosi terperosok lubang yang memang tidak terlihat lantaran genangan air yang keruh. “Spontan, tangan korban menyentuh sebuah gardu listrik yang berada tepat di sampingnya. Korban meninggal di lokasi,” imbuh Dolly.

Gardu tersebut rupanya mengalirkan listrik. Diduga ada kerusakan di salah satu kabel atau perangkat gardu sehingga listrik bertegangan tinggi bisa merambat ke genangan air banjir dan langsung mengalir ke tubuh Rosi. Sebelum menemui ajalnya, Rosi sempat memekikkan suara takbir. “Allahu Akbar!,” kata Muhamad Rois, ayah Rosi menirukan perkataan anaknya sebelum meninggal.

Teriakan itulah yang akhirnya membuat salah satu warga setempat, H Khusnul melihat ada sosok tubuh terlentang mengambang di permukaan air. Wajah korban tidak terlihat karena berada di dalam air. Sedangkan sebagian tubuh dan kakinya terlihat jelas. Namun saksi dan beberapa warga takut mendekati tubuh korban karena khawatir masih ada aliran listrik.

Bahkan polisi yang datang ke lokasi juga tidak serta merta bisa mendekat. Polisi kemudian meminta bantuan dari teknisi PLN untuk memadamkan aliran listrik. Tubuh pemuda pendiam itu akhirnya dievakuasi setelah mengambang lebih dari satu jam.

Banjir yang melanda Kota Surabaya mengakibatkan sejumlah fasilitas layanan publik terganggu, di antaranya RSI Wonokromo. Rumah sakit ini tergenang banjir sampai setinggi betis orang dewasa, masuk ke ruang rawat inap, kamar operasi, kamar bersalin, dan kantor administrasi. Sedangkan di halaman parkir, air sampai sepaha orang dewasa. Tidak ada satupun ruang di lantai bawah rumah sakit ini terhindar dari genangan banjir.

Menurut Direktur Pelayanan Medis RSI Wonokromo, dr Samsul Arifin, akibat ruang operasi tergenang, membuat lima jadwal operasi ditunda. Harusnya Jumat mulai pukul 13.00 WIB ada satu operasi usus buntu, dua operasi kandungan, dan dua operasi caesar. “Untuk operasi caesar kita pindah ke RSI Jemursari,” kata dia.

Selain mengganggu jadwal operasi, banjir ini mengakibatkan 50 pasien yang dirawat di ruang rawat inap lantai dasar, harus dirawat dalam ruang tergenang banjir. Dua pasien yang dirawat di lantai dasar dipindah ke lantai 2 karena mengeluh tidak nyaman tidur di atas air. Sisanya, termasuk pasien-pasien yang kritis tidak dipindah dengan pertimbangan medis. Menurut Samsul, banjir ini yang terparah sejak berdirinya rumah sakit ini tahun 1975.

Genangan air juga menenggelamkan beberapa peralatan medis yang tidak sempat diselamatkan. “Beberapa sudah bisa diselamatkan. Tapi ada alat untuk melihat detak jantung terancam rusak karena tenggelam. Lebih dari itu, pasien rawat jalan juga menghilang. Biasanya bisa di atas 100 pasien setiap hari,” kata dr Dina Kumaratih, Manajer Pelayanan RSI.

Hanyut

Banjir juga menyebabkan ratusan rumah di Surabaya Barat terendam, seperti halnya di Jalan Mayjen Sungkono, Wonorejo, Dupak, Simo, Tandes, Balongsari, Tanjung Sari, Karang Poh, Kandangan, serta beberapa kawasan lainnya. Sejumlah pabrik, termasuk PT Barindo Anggun Industry (BAI), pabrik di bidang pembuatan kran air di Jalan Simo Pomahan, lumpuh karena mesin produksi terendam banjir.

Selain itu, hujan deras juga mengakibatkan kemacetan lalu lintas di sejumlah jalan di Surabaya Barat seperti halnya Jalan Benowo dan Jalan Margomulyo. Di kawasan itu kendaraan bermotor tidak bisa bergerak karena kendaraan bermotor yang jumlahnya menumpuk dan genangan air.

Banyak warga sengsara dan terpaksa mengungsi di musala dan balai RW, serta tidur di dalam bekas gerbong kereta barang hingga mobil. Seperti yang terlihat di kawasan Surabaya Barat meliputi kawasan Pakal, Kandangan, Babat Jerawat, Sememi dan Banjar Sugihan. Ketinggian air di kawasan tersebut bervariasi. Dari semata kaki orang dewasa hingga di atas paha orang biasa.

Warga yang rumahnya masih terendam banjir masih sibuk mengeluarkan dan menyelamatkan barang berharga mereka. Warga terlihat membersihkan lumpur dan kotoran yang masuk ke rumahnya.

Kedatangan kereta api (KA) jurusan Jakarta-Surabaya mengalami keterlambatan akibat rel yang tergenang air. Humas PT KA Daop VIII Surabaya, Sri Winarto mengatakan, Jumat, bahwa terlambatnya kereta api yang masuk karena rel tergenang air hingga setinggi 25 centimeter dari kepala rel. “Hujan yang sangat deras semalaman membuat rel di kawasan Tandes, Kandangan, dan sekitarnya tergenang. Sehingga kereta api tidak bisa melewati rel,” ujarnya.

Beberapa kereta api yang mengalami keterlambatan datang masuk ke Stasiun Pasar Turi semuanya dari jalur utara. Di antaranya adalah KA Kertajaya, KA Gumarang, KA Sembrani, dan KA Argo Bromo Anggrek.

Proses belajar mengajar di 18 sekolah dasar (SD) di wilayah Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Jumat (3/12) terbengkalai. Belasan sekolah di wilayah ini memilih meliburkan seluruh siswanya karena gedung mereka diterjang banjir.

Ke-18 sekolah yang tergenang banjir itu adalah SDN Sukomanunggal 1, 2, dan 3. Lalu 15 sekolah di Tandes, yakni, SDN Tandes Lor, SDN Tandes Kidul 1 dan 2. SDN Balungsari 1 dan 2, SDN Manukan 1, 2, dan 3, SDN Banjar Sugihan 1, 2, 3, 4, dan 5. Selain itu, SD Muhammadiyah dan SD Radeh Patah juga tergenang.

“Tidak mungkin dipaksakan untuk tetap masuk dengan kondisi sekolah tergenang. Daripada sakit, siswa di sekolah-sekolah itu diliburkan. Jelas tidak memungkinkan kelas yang tergenang untuk kegiatan belajar mengajar,” jelas Kepala UPTD Tandes, Daka Wahyudi.

Pantauan di beberapa sekolah memang dalam kondisi parah akibat terjangan banjir. Meski arus tidak deras, namun genangan air di dalam kelas mencapai setengah meter. Luapan air bah dari beberapa kali di sekitar Sukomanunggal itu telah menghanyutkan bangku dan meja. Seperti yang terjadi di SDN Sukomanunggal 2. Bangku dan meja di kelas ngambang.

Menurut Sutrisno, penjaga SDN Sukomanunggal 2, banjir kali ini adalah yang terparah dalam lima tahun terakhir. Penjaga sekolah yang tinggal di perumahan SDN Sukomanunggal dikejutkan dengan genangan air yang menerobos setiap ruang kelas dan rumahnya. “Kira-kira tengah malam banjir mulai datang. Saya tidak tidur karena harus menyelamatkan komputer dan alat-alat berharga milik sekolah,” ujar Sutrisno.

Sekolah yang bersebelahan dengan SDN Sukomanunggal 1 itu tergenang habis. Genangan air pada siang kemarin masih setinggi pusar orang dewasa. Dalam kondisi ini dimanfaatkan para bocah untuk mandi dan bermain air. “Kalau banjir begini pasti libur. Tidak ada ada guru atau siswa yang datang ke sekolah,” lanjut Sutrisno.

Sementara itu, akibat banjir tersebut juga melumpuhkan ekonomi warga. Kegiatan transaksi yang biasanya ramai di sepanjang toko dan warung di sepanjang jalan raya Sukomanunggal, mandek. Banyak toko dan warung yang tutup karena di dalamnya masih digenangi air minimal 30 sentimeter. Warga juga lebih memilih membersihkan rumah dan menyelamatkan barang berharga serta perabotan rumah.

Warga Surabaya sampai awal tahun 2011 mendatang diminta waspada dengan perubahan cuaca akibat fenomena iklim La Nina. Dampak yang terjadi di antaranya curah hujan yang tinggi, durasi hujan yang lama, dan angin kencang. Tingginya curah hujan yang terjadi Kamis hingga Jumat sehingga menyebabkan Surabaya banjir merupakan dampak dari fenomena iklim La Nina.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Surabaya, Moch Effendi menjelaskan kumpulan awan cumbulus nimbus (CB) sedang berada di atas kota Surabaya.

Awan CB, adalah awan yang berbentuk berlapis-lapis. Saat itu langit terlihat gelap, dan awan ini membawa hujan, disertai kilat dan petir. “Kemarin intensitasnya terhitung 133 mm,” katanya, Jumat (3/12). Hujan di atas 20 mm saja sudah termasuk kategori hujan lebat.

Longsor dan Banjir Hancurkan 85 Rumah Di Cilacap

Sedikitnya 85 rumah di Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terendam banjir sedalam 30-40 sentimeter akibat hujan deras pada Jumat (3/12) malam. Banjir juga merendam lebih dari 10 hektar sawah di Kecamatan Cipari dan Wanareja.

Hal itu disebabkan karena Sungai Cikawung meluap dan tanggulnya yang jebol sepanjang 10 meter.

Selain itu, satu rumah di Desa Tayem, Kecamatan Karangpucung, roboh akibat tertimpa tebing longsor.

Anggota Unit Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cilacap wilayah Majenang, Sabar, mengatakan, Sabtu (4/12) pagi, banjir telah surut. Tinggal areal sawah di sebagian Kecamatan Cipari dan Wanareja yang masih terendam banjir.

Camat Karangpucung Sadmoko mengatakan, hujan sangat deras. Meski hanya sekitar 30 menit menyebabkan sebagian tebing di Desa Tayem longsor dan menimpa rumah warga, Aryoto.

Menurut Sadmoko, tidak ada korban jiwa. Namun, empat rumah di sekitar lokasi terancam terkena longsor juga. ”Kami meminta warga waspada,” katanya. Aryoto diminta membangun rumah di lahan yang lebih aman.

Stasiun Meteorologi Cilacap sebelumnya telah memperingatkan bahwa curah hujan selama Desember berada di atas normal. Kalau kondisi normal 300-400 milimeter kini menjadi 400-500 milimeter. Menurut pengamat cuaca, Maspujiono, hal itu dipengaruhi badai La Nina di perairan Samudra Pasifik.

Banjir di Bandung

Hujan deras yang mengguyur Bandung sejak Sabtu siang hingga sore menyebabkan ibu kota Jawa Barat itu nyaris lumpuh. Selain lalu lintas macet, hujan deras mengakibatkan longsor dan banjir.

Hujan menyebabkan Sungai Citepus meluap hingga membanjiri permukiman penduduk di Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo. ”Air setinggi 2,5 meter datang tiba-tiba dan berlangsung dalam waktu 15 menit saja,” ujar Ketua RW 7 Kelurahan Pajajaran Oman Suryaman.

Daerah tersebut memang menjadi langganan banjir, tetapi biasanya tinggi air hanya mencapai paha orang dewasa. Banjir Sabtu sekitar pukul 15.30 itu setinggi leher orang dewasa.

Selain daerah Cicendo, hujan juga mengakibatkan dinding penahan tebing di daerah Babakan Siliwangi ambrol sepanjang 2,5 meter. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, kemacetan terjadi dari arah Ciumbuleuit ke arah Dago.

Menurut Petugas Kecamatan Coblong, Uung Hendaya, ia sudah melaporkan ambrolnya tebing Babakan Siliwangi kepada Dinas Bina Marga Kota Bandung serta Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung.

”Saya mengkhawatirkan pohon-pohon tinggi di dekat lokasi ambrol. Bila tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin pohon-pohon tersebut ambruk ke arah jalan,” katanya.

Libur panjang pada akhir pekan juga menyebabkan kemacetan lalu lintas di Bandung. Antara lain di sekitar Institut Teknologi Bandung, jembatan layang Pasupati, dan daerah Pasteur.

Lampu lalu lintas tidak mampu mengatur barisan panjang kendaraan pribadi dengan pelat nomor Bandung ataupun Jakarta. Pada beberapa titik perempatan jalan, polisi lalu lintas harus turun tangan karena kemacetan sudah tak mampu diatasi lampu lalu lintas.

Kendaraan roda dua memilih melepaskan diri dari kemacetan dengan naik ke trotoar hingga jalur pejalan kaki di pulau jalan. Tidak jarang, mereka mengambil jalur bagi kendaraan yang datang dari arah sebaliknya hingga menyebabkan lalu lintas semakin macet

Bulan Januari Pengungsi Bencana Banjir Wasior Akan Di Relokasi

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, mengutip Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, mengatakan, saat ini hunian sementara untuk korban banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, sudah terbangun 50-60 persen. Pembangunan hunian itu ditargetkan selesai akhir November 2010 dan sudah bisa dihuni pada Desember mendatang.

Proses relokasi dan rehabilitasi, lanjut Djoko, rencananya dimulai pada Januari 2011. ”Sekarang sudah dilaksanakan pendataan penduduk mana yang nanti harus direlokasi di luar tempat mereka dulu berada. Demikian juga sudah disediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum di tempat hunian sementara karena di hunian sementara itu juga harus ada fasilitas umum dan fasilitas pendidikan,” kata Djoko, mewakili Agung, kepada pers, Selasa (16/11) di Jakarta.

Sebelumnya, Djoko mengikuti rapat kabinet terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden. Tentang waktu pelaksanaan relokasi dan rehabilitasi tersebut, menurut Djoko, diputuskan dalam rapat kabinet terbatas itu.

Laporan dari Wasior, kawasan yang dipilih sebagai areal relokasi adalah Distrik Naikere di Kabupaten Teluk Wondama. Dalam perencanaan pembangunan Provinsi Papua Barat, Naikere bakal dilalui Jalan Trans-Papua Barat yang kelak menghubungkan Manokwari, ibu kota Papua Barat, dengan Kabupaten Teluk Wondama.

Sebagaimana diberitakan, Wasior, ibu kota Kabupaten Teluk Wondama, luluh lantak diterjang banjir bandang pada 4 Oktober lalu.

300 hektar

Penjabat Sementara Bupati Teluk Wondama Decky Ampnir, yang ditemui kemarin, menyatakan, saat ini ada lahan sekitar 1.500 hektar yang cocok untuk areal pemukiman berikut fasilitas umum dan fasilitas sosial di Naikere. Namun, dari lahan seluas itu, yang akan digunakan untuk relokasi Wasior sekitar 300 hektar.

Naikere terletak 52 kilometer selatan Wasior. Dari Wasior, Naikere dapat ditempuh dua jam melalui perjalanan darat.

Naikere dipilih sebagai kawasan relokasi karena jauh dari ancaman bahaya banjir bandang. Meski demikian, relokasi harus didahului peningkatan infrastruktur jalan. Sebab, separuh jalan dari Wasior ke Naikere—persisnya dari Tandia ke Naikere (sekitar 15 km)—jalannya masih berupa pasir dan batu.

Sejumlah warga Wasior menolak rencana relokasi tersebut. Mereka meminta pemerintah membantu membangun rumah permanen yang letaknya tidak jauh dari kampung mereka.

Warga juga meminta sungai-sungai yang menyebabkan banjir bandang dinormalisasi. ”Sejak lahir kami sudah tinggal di sini. Tidak mungkin kami meninggalkannya,” kata Anton Aure (40), korban banjir asal Kampung Worowai, mewakili teman-temannya.

Korban Banjir di Timor Tengah Selatan Masih di Pengungsian

Kendati sudah berlalu dua minggu, 38 keluarga (257 jiwa) korban banjir bandang di Desa Skinu, Kecamatan Toianas, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di pengungsian.

Menurut anggota DPRD Timor Tengah Selatan (TTS), Beny Saikoko, sebenarnya ada 132 keluarga (705 jiwa) yang rumahnya hanyut diterjang banjir bandang. Tapi, yang 94 keluarga mengungsi ke rumah sanak famili mereka di lokasi yang lebih aman, sekitar Dusun C dan D.

”Ke-38 keluarga (yang mengungsi ke tenda-tenda darurat) ini benar-benar tidak memiliki anggota keluarga,” kata Saikoko, kemarin.

Mengenai 132 rumah yang hanyut diterjang banjir, Saikoko mengatakan, Pemerintah Kabupaten TTS berjanji membangun rumah korban dan memperbaiki rumah yang rusak berat. Rumah korban yang mengalami rusak ringan diperbaiki pemiliknya sendiri. ”Tapi, bahan bangunan dari Pemerintah Kabupaten,” demikian penjelasan Saikoko

Perbaikan rumah korban yang rusak ringan, menurut Saikoko, rencananya dimulai awal Desember 2010 ini, sedangkan rumah yang rusak berat dibangun Januari-Maret 2011.

Sebagaimana diberitakan, banjir bandang menerjang desa tersebut, Rabu (3/11). Sejumlah korban terpaksa mengungsi dan tinggal di tenda-tenda darurat di sekitar Dusun C dan Dusun D Desa Skinu.