Sebagian besar wilayah Kota Surabaya, tergenang banjir setelah di guyur hujan deras, Kamis (2/12) malam hingga Jumat (3/12) dini hari. Pantauan, Jumat, hampir semua perkampungan di kawasan Surabaya Utara digenangi air, begitu pula sebagian wilayah Surabaya Barat dan Surabaya Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta warga waspada karena banjir berpeluang terjadi lagi akibat fenomena iklim La Nina.
Banjir di Surabaya melumpuhkan sejumlah layanan publik, termasuk rumah sakit, dan menyebabkan seorang pelajar tewas tersengat listrik.
Fachrur Rosi (19), siswa SMA Pondok Pesantren (Ponpes) Yannabiul Ulum Walhakim, Sidoresmo, tewas tersengat aliran listrik setelah menghindari banjir di Jl Asem Mulya, Jumat (3/12) pagi.
Insiden yang terjadi pukul 08.00 WIB itu tidak segera diketahui warga atau pengguna jalan di kawasan tersebut. Banjir setinggi lutut pria dewasa, membuat pengguna jalan was-was untuk melintas. Korban yang mengendarai motor Honda Supra X seorang diri, nekat menerjang banjir. Akibatnya, motor korban mogok.
“Dia lalu menuntun motor itu ke pinggir jalan agar tidak terus diterjang air banjir,” ujar Kapolsek Asemrowo, AKP Dolly Primanto. Saat menuntun motor itulah, kaki Rosi terperosok lubang yang memang tidak terlihat lantaran genangan air yang keruh. “Spontan, tangan korban menyentuh sebuah gardu listrik yang berada tepat di sampingnya. Korban meninggal di lokasi,” imbuh Dolly.
Gardu tersebut rupanya mengalirkan listrik. Diduga ada kerusakan di salah satu kabel atau perangkat gardu sehingga listrik bertegangan tinggi bisa merambat ke genangan air banjir dan langsung mengalir ke tubuh Rosi. Sebelum menemui ajalnya, Rosi sempat memekikkan suara takbir. “Allahu Akbar!,” kata Muhamad Rois, ayah Rosi menirukan perkataan anaknya sebelum meninggal.
Teriakan itulah yang akhirnya membuat salah satu warga setempat, H Khusnul melihat ada sosok tubuh terlentang mengambang di permukaan air. Wajah korban tidak terlihat karena berada di dalam air. Sedangkan sebagian tubuh dan kakinya terlihat jelas. Namun saksi dan beberapa warga takut mendekati tubuh korban karena khawatir masih ada aliran listrik.
Bahkan polisi yang datang ke lokasi juga tidak serta merta bisa mendekat. Polisi kemudian meminta bantuan dari teknisi PLN untuk memadamkan aliran listrik. Tubuh pemuda pendiam itu akhirnya dievakuasi setelah mengambang lebih dari satu jam.
Banjir yang melanda Kota Surabaya mengakibatkan sejumlah fasilitas layanan publik terganggu, di antaranya RSI Wonokromo. Rumah sakit ini tergenang banjir sampai setinggi betis orang dewasa, masuk ke ruang rawat inap, kamar operasi, kamar bersalin, dan kantor administrasi. Sedangkan di halaman parkir, air sampai sepaha orang dewasa. Tidak ada satupun ruang di lantai bawah rumah sakit ini terhindar dari genangan banjir.
Menurut Direktur Pelayanan Medis RSI Wonokromo, dr Samsul Arifin, akibat ruang operasi tergenang, membuat lima jadwal operasi ditunda. Harusnya Jumat mulai pukul 13.00 WIB ada satu operasi usus buntu, dua operasi kandungan, dan dua operasi caesar. “Untuk operasi caesar kita pindah ke RSI Jemursari,” kata dia.
Selain mengganggu jadwal operasi, banjir ini mengakibatkan 50 pasien yang dirawat di ruang rawat inap lantai dasar, harus dirawat dalam ruang tergenang banjir. Dua pasien yang dirawat di lantai dasar dipindah ke lantai 2 karena mengeluh tidak nyaman tidur di atas air. Sisanya, termasuk pasien-pasien yang kritis tidak dipindah dengan pertimbangan medis. Menurut Samsul, banjir ini yang terparah sejak berdirinya rumah sakit ini tahun 1975.
Genangan air juga menenggelamkan beberapa peralatan medis yang tidak sempat diselamatkan. “Beberapa sudah bisa diselamatkan. Tapi ada alat untuk melihat detak jantung terancam rusak karena tenggelam. Lebih dari itu, pasien rawat jalan juga menghilang. Biasanya bisa di atas 100 pasien setiap hari,” kata dr Dina Kumaratih, Manajer Pelayanan RSI.
Hanyut
Banjir juga menyebabkan ratusan rumah di Surabaya Barat terendam, seperti halnya di Jalan Mayjen Sungkono, Wonorejo, Dupak, Simo, Tandes, Balongsari, Tanjung Sari, Karang Poh, Kandangan, serta beberapa kawasan lainnya. Sejumlah pabrik, termasuk PT Barindo Anggun Industry (BAI), pabrik di bidang pembuatan kran air di Jalan Simo Pomahan, lumpuh karena mesin produksi terendam banjir.
Selain itu, hujan deras juga mengakibatkan kemacetan lalu lintas di sejumlah jalan di Surabaya Barat seperti halnya Jalan Benowo dan Jalan Margomulyo. Di kawasan itu kendaraan bermotor tidak bisa bergerak karena kendaraan bermotor yang jumlahnya menumpuk dan genangan air.
Banyak warga sengsara dan terpaksa mengungsi di musala dan balai RW, serta tidur di dalam bekas gerbong kereta barang hingga mobil. Seperti yang terlihat di kawasan Surabaya Barat meliputi kawasan Pakal, Kandangan, Babat Jerawat, Sememi dan Banjar Sugihan. Ketinggian air di kawasan tersebut bervariasi. Dari semata kaki orang dewasa hingga di atas paha orang biasa.
Warga yang rumahnya masih terendam banjir masih sibuk mengeluarkan dan menyelamatkan barang berharga mereka. Warga terlihat membersihkan lumpur dan kotoran yang masuk ke rumahnya.
Kedatangan kereta api (KA) jurusan Jakarta-Surabaya mengalami keterlambatan akibat rel yang tergenang air. Humas PT KA Daop VIII Surabaya, Sri Winarto mengatakan, Jumat, bahwa terlambatnya kereta api yang masuk karena rel tergenang air hingga setinggi 25 centimeter dari kepala rel. “Hujan yang sangat deras semalaman membuat rel di kawasan Tandes, Kandangan, dan sekitarnya tergenang. Sehingga kereta api tidak bisa melewati rel,” ujarnya.
Beberapa kereta api yang mengalami keterlambatan datang masuk ke Stasiun Pasar Turi semuanya dari jalur utara. Di antaranya adalah KA Kertajaya, KA Gumarang, KA Sembrani, dan KA Argo Bromo Anggrek.
Proses belajar mengajar di 18 sekolah dasar (SD) di wilayah Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Jumat (3/12) terbengkalai. Belasan sekolah di wilayah ini memilih meliburkan seluruh siswanya karena gedung mereka diterjang banjir.
Ke-18 sekolah yang tergenang banjir itu adalah SDN Sukomanunggal 1, 2, dan 3. Lalu 15 sekolah di Tandes, yakni, SDN Tandes Lor, SDN Tandes Kidul 1 dan 2. SDN Balungsari 1 dan 2, SDN Manukan 1, 2, dan 3, SDN Banjar Sugihan 1, 2, 3, 4, dan 5. Selain itu, SD Muhammadiyah dan SD Radeh Patah juga tergenang.
“Tidak mungkin dipaksakan untuk tetap masuk dengan kondisi sekolah tergenang. Daripada sakit, siswa di sekolah-sekolah itu diliburkan. Jelas tidak memungkinkan kelas yang tergenang untuk kegiatan belajar mengajar,” jelas Kepala UPTD Tandes, Daka Wahyudi.
Pantauan di beberapa sekolah memang dalam kondisi parah akibat terjangan banjir. Meski arus tidak deras, namun genangan air di dalam kelas mencapai setengah meter. Luapan air bah dari beberapa kali di sekitar Sukomanunggal itu telah menghanyutkan bangku dan meja. Seperti yang terjadi di SDN Sukomanunggal 2. Bangku dan meja di kelas ngambang.
Menurut Sutrisno, penjaga SDN Sukomanunggal 2, banjir kali ini adalah yang terparah dalam lima tahun terakhir. Penjaga sekolah yang tinggal di perumahan SDN Sukomanunggal dikejutkan dengan genangan air yang menerobos setiap ruang kelas dan rumahnya. “Kira-kira tengah malam banjir mulai datang. Saya tidak tidur karena harus menyelamatkan komputer dan alat-alat berharga milik sekolah,” ujar Sutrisno.
Sekolah yang bersebelahan dengan SDN Sukomanunggal 1 itu tergenang habis. Genangan air pada siang kemarin masih setinggi pusar orang dewasa. Dalam kondisi ini dimanfaatkan para bocah untuk mandi dan bermain air. “Kalau banjir begini pasti libur. Tidak ada ada guru atau siswa yang datang ke sekolah,” lanjut Sutrisno.
Sementara itu, akibat banjir tersebut juga melumpuhkan ekonomi warga. Kegiatan transaksi yang biasanya ramai di sepanjang toko dan warung di sepanjang jalan raya Sukomanunggal, mandek. Banyak toko dan warung yang tutup karena di dalamnya masih digenangi air minimal 30 sentimeter. Warga juga lebih memilih membersihkan rumah dan menyelamatkan barang berharga serta perabotan rumah.
Warga Surabaya sampai awal tahun 2011 mendatang diminta waspada dengan perubahan cuaca akibat fenomena iklim La Nina. Dampak yang terjadi di antaranya curah hujan yang tinggi, durasi hujan yang lama, dan angin kencang. Tingginya curah hujan yang terjadi Kamis hingga Jumat sehingga menyebabkan Surabaya banjir merupakan dampak dari fenomena iklim La Nina.
Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Surabaya, Moch Effendi menjelaskan kumpulan awan cumbulus nimbus (CB) sedang berada di atas kota Surabaya.
Awan CB, adalah awan yang berbentuk berlapis-lapis. Saat itu langit terlihat gelap, dan awan ini membawa hujan, disertai kilat dan petir. “Kemarin intensitasnya terhitung 133 mm,” katanya, Jumat (3/12). Hujan di atas 20 mm saja sudah termasuk kategori hujan lebat.
Like this:
Be the first to like this post.