Category Archives: Bencana Alam

Gunung Tangkuban Parahu Akhirnya Meletus …. Kawasan Wisata Ditutup

Setelah melepas letusan abu pada 21 Februari 2013 lalu, Gunung Tangkuban Parahu kembali meletus lagi. Letusan pertama terjadi 4 Maret 2013 pukul 17.43 WIB, lalu esoknya, pada 5 Maret 2013, terjadi dua kali letusan, yakni pukul 01.37 WIB dan pukul 07.45 WIB. Dan letusan selanjutnya terjadi hari ini, 6 Maret 2013.

“Hari ini terjadi letusan sejak pukul 05.59 WIB sampai 06.08 WIB, sekitar 8 menit letusan itu,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr Surono, di kantornya di Bandung, Rabu, 6 Maret 2013.

Gunung Tangkuban Parahu menghasilkan letusan abu pada 21 Februari 2013 dinihari, dan hari itu, pada malamnya, PVMBG menaikkan status gunung itu menjadi waspada atau level II. Setelah hampir dua pekan tidak meletus, gunung itu kembali menghasilkan letusan setelah terpantau melonjaknya aktivitas gempa vulkanik dalam gunung itu. “Ternyata letusan masih tejadi, kekuatan letusannya lebih besar dari (letusan) 21 Februari 2013,” kata Surono.

Letusan pertama pada 21 Februari 2013 terjadi dinihari. PVMBG kala itu menyimpulkan telah terjadi letusan dengan temuan sebaran abu tipis putih di seputaran Kawah Ratu, kawah utama gunung itu. Tapi untuk letusan kali ini tak hanya bukti sebaran abu. PVMBG mendapat rekaman video yang diambil oleh petugas BPBD Bandung Barat. “Sangat pendek rekamannya,” kata Surono.

Di ruang kerjanya, Surono memutar rekaman video berdurasi kurang dari 10 detik yang diambil di bibir Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu saat gunung itu mulai meletus pada 4 Maret 2013 pukul 17.73 WIB. Dalam rekaman itu terlihat semburan material hitam muncrat dari dasar Kawah Ratu yang menyerupai lembah, di sela asap putih yang keluar dari mulut kawah. “Letusannya bukan hanya asap, tapi sudah mengeluarkan material padat. Sekarang ada pasirnya, bukan material halus lagi,” kata Surono.

Menurut dia, kemungkinan semburan yang terjadi menjangkau ketinggian hampir 500 meter. Dia beralasan, kedalaman lembah mati, sebutan bagian dalam Kawah Ratu itu, dari bibir hingga dasar mendekati 300 meter. “Material letusan sampai di parkiran kendaraan (di seputaran bibir Kawah Ratu), pasti tinggi itu barang (meletusnya),” kata Surono.

Karena meletus, Gunung Tangkuban Parahu yang terletak di utara Bandung mulai hari ini ditutup bagi pengunjung. “Kita khawatir debu yang diembuskan oleh gunung dalam beberapa kali terjadi letusan bisa mengakibatkan iritasi (mata),” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat, Maman Sulaiman, saat dihubungi Tempo, Rabu, 6 Februari 2013.

Spanduk larangan memasuki kawasan ini pun sudah dipasang. Kawasan wisata alam itu akan dibuka lagi menunggu rekomendasi PVMBG. BPBD menyiagakan posko di pintu masuk utama kawasan wisata alam gunung itu. Selain petugas BPBD dan sukarelawan, penjagaan juga dibantu oleh aparat TNI dan Polri. “Posko itu berada di titik 2,2 kilometer dari Kawah Ratu,” kata Mamang.

Selain pengunjung, pedagang pun dilarang berjualan di sana. Menurut dia, evakuasi ratusan pedagang yang hendak mengambil barangnya di jongko-jongko di seputaran Kawah Ratu dilakukan sejak Selasa sore, 5 Maret 2013.

Maman mengatakan, letusan yang sempat terekam, 4 Maret 2013, pukul 17.43 WIB itu, ketinggian semburan awan hitamnya mencapai lebih dari 75 meter dari bibir Kawah Ratu gunung itu. “Abunya itu bertebaran di seputaran lokasi,” kata Maman.

Direktur Utama PT Graha Rani Putra Persada, Putra Kaban, pengelola kawasan wisata alam gunung itu, mengatakan, pihaknya sudah melarang warga naik ke lokasi kawah gunung itu sejak dari pintu gerbang. Walaupun PVMBG mensyaratkan lokasi yang terlarang didekati dalam radius 1,5 kilometer di seputaran Kawah Ratu.

Kaban mengatakan, kendati sudah ditutup, masih saja ada wisatawan yang datang ke gunung itu. Petugas pun harus menjelaskan kondisi gunung tersebut. Bagi yang ingin melihat langsung kondisi gunung itu, petugas akan mengantar menuju Pos Pengamatan Gunung Api milik PVMBG, yang berjarak tak jauh dari gerbang masuk gunung itu. “Mereka bisa lihat langsung seismografnya,” kata dia.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Dr Surono, mengatakan, lembaganya menetapkan kawasan yang tidak boleh didekati dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Ratu, kawah utama gunung itu. Selain bahaya terkena lontaran material panas saat letusan terjadi, juga bahaya gas beracun. “Sekarang masih diuntungkan angin kencang di puncak, gasnya gampang terbuang. Tapi, kalau angin tenang, gas bisa menyebar dengan lambat di luar kawah,” kata dia.

Menurut Surono, erupsi yang terjadi saat ini masih terhitung kecil dibandingkan erupsi gunung lain yang berstatus sama, yakni waspada, seperti Gunung Marapi di Sumatera Barat. Dari data yang ada saat ini, kecil kemungkinan gunung itu bakal menghasilkan letusan yang hebat, hingga gunung itu harus dipatok statusnya di level IV atau awas. “Letusannya bukan lagi asap, tapi mengeluarkan material padat, pasirnya cukup besar, tidak halus lagi,” ujarnya.

Catatan PVMBG, letusan freatik seperti yang terjadi saat ini sempat terjadi di Gunung Tangkuban Parahu pada 1992. Letusannya menghasilkan awan abu yang membumbung tinggi hingga 159 meter di atas Kawah Ratu.

Rel Kereta Stasiun Cilebut Longsor, 98 Perjalanan Kereta Api Dari Bogor Jakarta Di Batalkan

Stasiun Bojong Gede Kamis pagi dipadati ribuan calon penumpang, menyusul bencana longsor di kawasan Cilebut yang memutus jalur kereta api jurusan Bogor. Penumpukan terjadi karena calon penumpang KA tujuan Jakarta yang biasanya naik dari Stasiun Besar Bogor dan Stasiun Cilebut terpaksa naik dari Bojong Gede.Penumpang dari arah Jakarta menuju Bogor atau Cilebut, harus turun di Stasiun Bojong Gede untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan angkot atau ojek.Peron stasiun Bojong Gede yang hanya untuk dua trek, tidak bisa menampung penumpang sehingga banyak calon penumpang yang duduk-duduk di rel.

Longsor yang terjadi karena hujan yang mengguyur wilayah Bogor selama beberapa jam, selain menyebabkan tanah rel sepanjang 10 meter terkikis dan tidak bisa dilalui oleh kereta. Juga menyebabkan empat tiang listrik aliran atas rubuh sehingga tidak dapat berfungsi.Sementara itu, kemacetan terjadi di Jalan Raya Bojong Gede dari arah Bogor. Angkot banyak yang menurunkan penumpangnya jauh sebelum stasiun karena jalanan macet.

Sebagian besar angkot rute Bojong Gede – Pasar Anyar Bogor Kamis pagi dipenuhi penumpang.Pengelola tempat penitipan motor di sekitar Stasiun Bojong Gede juga kecipratan rezeki karena ketambahan penitip motor yang bisanyta naik dari Cilebut atau Bogor.Sebagian motor terpaksa ditaruh di tepi jalan karena tempat penitipan sudah penuh. Dampak dari longsor di antara Stasiun Cilebut dan Bojong Gede selain menyebabkan rel tidak dapat dilalui, aliran listrik atas terputus karena empat tiangnya roboh, juga menyebabkan Stasiun Besar Bogor merugi karena dibatalkannya 98 perjalanan.

“Dampaknya ya kita (stasiun) tidak ada pendapatan, kerugian material karena tidak adanya perjalanan,” kata Wakil Kepala Stasiun Besar Bogor, Enjang Syarif Budiman, saat ditemui di Bogor, Kamis. Enjang mengatakan dalam satu hari pendapatan Stasiun Besar Bogor Rp128 juta dari 35.000 tiket penumpang yang berangkat.Diprediksikan perjalanan kereta dari Stasiun Besar Bogor dan Cilebut baru dapat beroperasi berkisar antara tiga hingga tujuh hari ke depan.

“Itu belum optimal, baru mengupayakan satu sepur (rel) saja,” katanya. Longsor yang terjadi di antara Stasiun Cilebut dan Bojong Gede tersebut tergolong cukup parah. Karena longsor menyebabkan rel sepanjang 200 meter “menggantung” dan tidak dapat dilalui.Selain itu, empat tiang listrik yang menyalurkan listrik aliran atas kereta api roboh hingga tidak bisa dioperasionalkan. “Perbaikan cukup lama selain membenahi kondisi tanahnya, juga harus mengganti material tiang listrik dan rel yang rubuh,” katanya.

Longsor terjadi Rabu (21/11) saat hujan deras mengguyur wilayah Bogor. Longsor terjadi diantara Stasiun Cilebut dan Bojong tepatnya di KM 45+4/5 (piket 400-500). Lokasi sebelumnya juga pernah mengalami longsor tepatnya saat kereta anjlok di Cilebut 5 Oktober 2012 lalu. Namun, longsoran tidak terlalu parah kereta hanya mengalami gangguan sehari saja.Longsor dilokasi yang sama kembali terjadi dengan kondisi lebih parah. Longsor tebingan menyebabkan 200 meter rel menggantung dan tidak bisa dilalui oleh kereta.

Akibatnya, KRL Jabodetabek-Bogor hanya bisa melayani penumpang dari Stasiun Bojong Gede. Menurut Enjang, longsor terjadi akibat luapan air kali yang ada di lokasi tersebut. Air yang meluap ke jalan raya dan menggenang di sekitar rel. Akibatnya tanah di sekitar rel terkikis hingga rel tidak bisa dilewati.Sementara itu, situasi di Stasiun Bogor hari ini sepi dari penumpang. Aktivitas di stasiun hanya terlihat petugas dan Polisi yang berjaga-jaga.

Beberapa penumpang yang belum mengetahui adanya pembatalan perjalanan masih terlihat berdatangan ke Stasiun Bogor. Setelah mengetahuinya, penumpang mencari moda transportasi alternatif.Di depan Stasiun Bogor, sejumlah angkutan kota dan ojek menyediakan layanan mengantar penumpang ke Stasiun Bogor. Kesempatan tersebut diambil sopir dan tukang ojek untuk menarik penumpang sebanyaknya dengan menggunakan tarif Rp10.000 untuk angkot dan Rp70.000 untuk ojek.

Akibat adanya longsor menyebabkan rel putus dan aliran listrik atas di Stasiun Cilebut terganggu, 98 perjalanan kereta di Stasiun Besar Bogor dibatalkan.”Hari ini Stasiun Besar Bogor tidak melayani perjalanan Kereta Api. 98 perjalanan dibatalkan,” kata Wakil Kepala Stasiun Besar Bogor, Enjang Budiman, saat ditemui, Kamis. Enjang mengatakan, longsor yang terjadi di Cilebut menyebabkan perjalanan kereta api dari Stasiun Bogor tidak dapat difungsikan.

“Longsor yang terjadi cukup parah. Tadi malam longsor hanya menyebabkan rel menggantung sepanjang 10 meter tapi pagi ini melebar jadi 200 meter,” katanya. Selain menyebabkan rel menggantung hingga tidak bisa dilalui. Longsor juga menyebabkan empat tiang listrik saluran atas tumbang. “Kondisi longsor cukup berat. Belum bisa dipastikan kapan bisa melayani kembali. Diperkirakan tiga hingga tujuh hari kedepan tidak bisa melayani,” katanya.

Sementara itu, suasana di Stasiun Besar Bogor pada pukul 08.00 WIB terlihat lengang. Hanya petugas stasiun dan petugas kebersihan yang terlihat beraktivitas disekitar stasiun. Sesekali ada beberapa penumpang datang. Mereka belum mengetahui adanya gangguan perjalanan kereta di Stasiun Bogor. “Kondisi di stasiun kondusif, penumpang sudah tidak terlihat lagi di stasiun. Tadi pagi sempat banyak yang datang, tapi sudah diinformasikan jadi pada pindah ke stasiun Bojong,” kata Enjang.

Endang (17) salah satu calon penumpang kereta api mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Selain harus resiko terlambat ke kantor ia pun merasa terbebani harus ke Bojong Gede untuk dapat naik kereta.”Tadi malam (Rabu) saya sudah kemalaman pulang karena gangguan. Sekarang harus dibuat kecewa lagi karena harus naik dari Bojong. Padahal kejauhan dari rumah saya,” katanya.

Tembok Seskoal Cipulir Rubuh Kebayoran Lama, Lima Rumah Rusak

Lima buah rumah rusak dan tiga motor tertimbun akibat hujan besar yang merubuhkan tembok Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) di RT 01/RW 06, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Barat. Tak ada korban tewas dalam kejadian kali ini. “Kayak tsunami kecil rasanya,” ujar Awi, 23 tahun, yang menyaksikan langsung musibah tersebut saat ditemui Tempo, Ahad, 18 November 2012.

Kejadian terjadi pada Ahad siang, sekitar pukul 11.00 WIB. Waktu itu hujan besar melanda wilayah Kebayoran Lama. Awi yang sedang memperbaiki antena yang terganggu akibat cuaca buruk keluar rumah. Tiba-tiba, menurut dia, terdengar suara keras seperti palu besar menghantam tembok.

Tak sampai semenit, tembok setinggi 2,5 meter itu rubuh sepanjang 5 meter. Tembok rubuh menghantam rumah yang berselang sebuah gang kecil seluas satu meter. “Kena udah itu rumah sama motor. Hancur,” ujarnya. Dari pantauan Tempo, kelima rumah itu mengalami rusak berat di bagian teras dan ruang depan. Tembok seberat ratusan kilogram itu tanpa izin masuk ke rumah mereka.

Dugaan warga sementara ini adalah hujan besar yang menyebabkan kolam lele di dalam tembok meluap. Selain itu, runtuhnya tembok disebut akibat adanya pengikisan tanah setinggi setengah meter yang terjadi di dalam tembok tersebut. “Dari kolam turun tanahnya, air masuk. Enggak kuat temboknya” ujarnya. Karena itu, ia menyangka air menerjang amat keras bila kolam tersebut meluap.

Saat ini air sudah surut. Warga dibantu aparat TNI AL sudah mulai bekerja bakti mengevakuasi motor yang tertimbun. Mereka juga membersihkan puing-puing beton yang terserak masuk ke dalam rumah.

Awi belum berpikir untuk menuntut ganti rugi atas kejadian ini. “Namanya juga musibah. Yang penting sekarang beresin dulu,” ujarnya. Namun, ia menyatakan pihak Seskoal TNI telah berencana untuk memanggil korban untuk membicarakan masalah ganti rugi.

Pihak Seskoal TNI belum bisa dimintai keterangan akibat kejadian ini. Beberapa wartawan foto juga sempat mengeluh akibat dilarang mengambil gambar terkait musibah ini.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo Siap Hadapi Meletusnya Gunung Bromo

PELUIT waspada tidak hanya ditiup daerah yang memiliki gunung dalam status siaga alias level III. Pemkab Probolinggo, Jawa Timur, juga memperingatkan warga mereka untuk bersiap menghadapi erupsi Gunung Bromo yang berstatus waspada atau di level II, sejak 3 Oktober.

“Kami sudah menyosialisasikan untuk warga Kecamatan Sukapura, yang paling dekat dengan kawah Bromo. Koordinasi dengan petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi juga terus kami lakukan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Probolinggo, Mashuri, kemarin.

Ia menambahkan, masyarakat Tengger yang hidup di kaki Bromo sudah berpengalaman dengan erupsi gunung tersebut. Namun, mereka diminta tidak menganggap remeh peningkatan aktivitas vulkanis.

BPB sudah menyiapkan keperluan guna mengantisipasi bencana yang bisa datang secara tiba-tiba. Mereka di antaranya menyiagakan petugas di sejumlah posko. “Termasuk menyiapkan tenda bila diperlukan untuk pengungsian,” ujar Mashuri.

Soal dana tidak lagi jadi masalah karena sudah disusun melalui pos anggaran tak terduga.

Dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan, sumber air minum di kaki Gunung Rokantenda di Pulau Palue, mulai tercemar abu vulkanis. Karena itu, warga yang mengungsi sejak akhir pekan lalu enggan kembali ke rumah meski kondisi dinilai aman.

Sumur warga yang tercemar berada di desa-desa yang berjarak 1-1,5 kilometer dari puncak gunung, di antaranya ialah Desa Nitunglea, Rokirole, Kesokoja, dan Lidi.

Status Gunung Rokatenda ditetapkan siaga. Meski demikian, warga tidak direkomendasikan untuk mengungsi karena aktivitas gunung dinilai masih aman.

Namun, sampai kemarin, sekitar 90 orang asal Dusun Awa, Desa Nitungle, turun gunung dan bertahan di lokasi penampungan di Kantor Lurah Hewuli, Kacamatan Alok Barat. “Warga mengungsi karena gunung mengeluarkan abu vulkanis,” papar Kepala BPB NTT Tini Thadeus.

Gunung Soputan Di Sulawesi Utara Meletus Lagi September 2012

Gunung api Soputan yang terletak di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, meletus, Selasa (18/9). Gunung ini pernah meletus pada 26 Agustus 2012, statusnya siaga. “Gunung Soputan erupsi pada pukul 17.30 WITA,” kata Kepala Pusat Informasi dan Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwonugroho, Selasa (18/9).

Dia menambahkan, suara gemuruh terdengar sejak pukul 15.15 WITA. Hingga 18.85 WITA, erupsi Soputan masih terjadi. Sesekali diiringi suara gemuruh. “Ketinggian asap sekitar 1.500 meter dari kawah,” tutur Sutopo. Menurutnya, data seismograf menunjukkan tremor letusan dengan magnitud maksimum. Sedangkan, pantauan ke arah puncak terhalang oleh kabut. Dia menambahkan, permukiman warga masih berada di luar zona bahaya, yaitu sekitar 6,5 kilometer dari puncak. “Jadi masyarakat tidak perlu mengungsi,” ucapnya.

Masyarakat, tambah dia, saat ini tetap melakukan aktivitas dengan normal. Namun diimbau agar tidak beraktivitas di dekat puncak Soputan. “Pendakian dan aktivitas berkemah di puncak gunung Soputan dihindari,” katanya. Gunung api Soputan di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara meletus pada Selasa (18/9/2012) tepat pukul 17.30 Wita. Informasi itu disampaikan Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers yang diterima Kompas.com.

“Sesekali terdengar suara gemuruh dari Pos Gunung Soputan. Gunung Soputan terjadi erupsi pada pukul 17:30 WITA, dengan ketinggian asap sekitar 1.500 meter dari kawah,” tulis Sutopo. Sutopo melaporkan hingga pukul 18.15 WIB masih terus terjadi erupsi Gunung Soputan dengan sesekali diiringi suara gemuruh. Seismograf mencatat tremor letusan dengan magnitud maksimum, namun pemantauan visual ke arah puncak terhalang kabut.

“Permukiman warga masih berada di luar zona bahaya, yaitu sekitar 6,5 km dari puncak gunung. Jadi masyarakat tidak perlu mengungsi. Masyarakat tetap melakukan aktivitasnya dengan normal,” tandas Sutopo. BNPB juga mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di dekat puncak gunung. Pendakian dan aktivitas berkemah di puncak gunung Soputan dihindari. Dan saat ini status masih siaga.

Gunung Soputan di Sulawesi Utara pernah meletus pada Minggu, 26, Agustus 2012 sekitar pukul 21.50 Wita. Ketinggian asap dilaporkan mencapai 5.000 meter dari puncak.Masyarakat Minahasa Tenggara dan Minahasa Selatan sudah mengenal karakter Gunung Soputan. Gunung berapi itu selalu meletus pada pertengahan tahun. Kelaziman itu membuat masyarakat di sekitar Gunung Soputan selalu waspada, dan tidak begitu terkejut manakala gunung setinggi 1.784 meter (5.853 kaki) di atas permukaan laut itu memuntahkan debu, lava, dan awan panas.

“Tak usah heran, setiap pertengahan tahun memang selalu meletus. Soputan biasa meletus antara Mei sampai September,” ujar Camat Silian Raya, Kabupaten Minahasa Tenggara, Alexander Tumigolung, kepada Tribun belum lama ini.

Pernyataan senada disampaikan Boyke Akay. Menurutnya, periode letusan setiap pertengahan tahun, tak ubahnya seperti perayaan HUT Gunung Soputan. “Seperti perayaan hari jadi saja, tiap pertengahan tahun Soputan selalu meletus,” kata Akay, yang juga Camat Tombatu.

Akay masih ingat, letusan Gunung Soputan yang paling hebat terjadi 30 tahun silam, di mana ketebalan abu vulkanis mencapai puluhan sentimeter. “Kami tak lupa tahun 1982, Soputan memang meletus kuat. Debunya sampai 30 sentimeter, memang itu yang paling kuat,” ungkap Akay.

Letusan Soputan pada Minggu (26/8/2012) hingga Senin (27/8/2012) lalu, menurut Akay, tak perlu dirisaukan berlebihan karena dampaknya tidak signifikan bagi masyarakat di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra). “Angin mengarah ke Minsel (Minahasa Selatan). Jadi, Mitra sementara aman, walaupun tetap harus waspada,” tutur Akay.

Soputan yang terletak di wilayah Minahasa Selatan merupakan gunung berapi jenis stratovolcano. Tipe erupsinya berupa ledakan kubah lava, aliran piroklastik, dan aktivitas strombolian. Letusan Soputan pertama kali tercatat pada 1785. Sejak itu, sudah ratusan kali gunung tersebut meletus. Dalam sepuluh tahun terakhir, intensitas letusannya berlangsung hampir saban tahun. Hingga Selasa (28/8/2012), kondisi Gunung Soputan semakin tenang, bahkan jauh lebih tenang dari keadaan sehari sebelumnya.

Menurut catatan pos pemantau Soputan, sejak pukul 06.00-12.00 Wita kemarin, sudah tidak terjadi lagi letusan dan lontaran pijar atau awan panas. “Tadi hanya terjadi satu kali embusan, satu kali tektonik, dan tujuh kali gempa guguran, bahkan tremor tidak ada lagi,” jelas Fandy, pemantau Soputan di Maliku, Selasa. Kondisi puncak gunung, lanjutnya, tidak terpantau karena dihalangi kabut tebal. Meski begitu, masyarakat di sekitar kaki Gunung Soputan belum diperkenankan melakukan aktivitas karena masih berbahaya. “Radius 6,5 kilometer belum diizinkan,” jelasnya.

Meski Soputan sudah berangsur normal, status gunung belum diturunkan dari siaga. “Status belum diturunkan, karena yang memutuskan dari pusat, kami hanya berikan laporan perkembangan setiap enam jam,” papar Fandy.

Dua Gunung Yaitu Gunung Lokon Di Sulawesi Utara dan Gamalama Di Ternate Meletus Bersama Sama

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginformasikan Gunung Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara, kembali meletus.

Kepala Pusat Data, informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Sabtu, menyatakan, PVMBG Badan Geologi telah menyampaikan informasi kepada Posko BNPB bahwa Gunung Lokon telah meletus pada 15 Sept 2012 pukul 18:53 WITA.

“Letusan diawali letusan eksplosif, dengan ketinggian asap 1.500 m dari Kawah Tompaluan,” ujarnya.

Letusan ini, ujarnya lagi, menggetarkan kaca-kaca Pos Gunung Lokon yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Kawah Tompaluan, disusul dengan letusan strombolian (lontaran material pijar), dengan ketinggian sekitar 600 meter dari kawah Tompaluan.

Sebelumnya, PVMBG Badan Geologi juga sudah menyampaikan peringatan dini bahwa sejak Minggu pagi (15/9) pukul 08.30 WITA, telah terjadi peningkatan kegempaan.

Sampai pukul 12.00 WITA tercatat 56 kali gempa Vulkanik dalam, 91 kali gempa Vulkanik dangkal, dan 11 kali gempa hembusan asap. “Jika peningkatan kegempaan kegempaan Gunung Lokon terus berlangsung dengan ritme yang sama, maka dapat diikuti letusan,” katanya.

Terkait letusan itu, BNPB merekomendasi agar tidak ada aktivitas masyarakat dalam radius 1.5 kilometer dari Kawah Tompaluan.

Selain itu, meskipun Gunung Lokon meletus, status tetap Siaga (level 3) serta belum perlu ada pengungsian. “Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada,” ujarnya.

Sejak ditetapkan status Siaga sejak 24 Juli 2011 oleh PVMBG, gunung api Lokon beberapa kali meletus dan tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan yang besar. Memang tipikal Lokon adalah terjadi peningkatan aktivitas yang cepat dan diikuti meletus, kemudian aktivitasnya menurun hingga periode tertentu. Masyarakat setempat juga sudah mengenali perilaku Gunung Lokon.

“BNPB telah meminta BPBD Sulawesi Utara dan BPBD Kota Tomohon untuk mengambil langkah-langkah antisipasinya,” kata Sutopo. Gunung api Lokon di Tomohon yang sedang berstatus siaga kembali mengeluarkan letusan pada Sabtu (15/09/2012) pukul 18.56 Wita.

“Dibanding dengan letusan beberapa waktu lalu, letusan kali ini cukup keras. Rumah kami bergetar, jendela-jendela bergoyang dan warga keluar rumah,” ujar Fredy B, warga Kakaskasen III yang berada dekat dengan Lokon.

Danramil Tomohon, Ahmad Nurdin yang berada di pos pemantau ketika dikonfirmasi membenarkan adanya letusan yang lumayan keras tersebut. “Belum ada evakuasi warga, tetapi letusannya kali ini cukup keras. Api terlihat keluar dari kawah dan awan letusan mengarah ke arah utara,” ujarnya.

“Letusan Lokon kali ini cukup terasa keras. Desa Kinilow mulai dihujani debu letusan,” tambah Fredy. Dan hingga kini aktivitas letusan masih terjadi walau dalam intensitas yang lebih kecil.

Gunung Api Lokon merupakan salah satu gunung api aktif di Sulawesi Utara selain, GA Soputan yang beberapa minggu lalu juga meletus. Di samping itu ada GA Karangetang di pulau Siau yang juga sementara beraktivitas mengeluarkan lahar, serta GA Awu di Sangihe dan GA Mahagetang yang merupakan gunung api bawah laut di Sangihe.

Dua hari berturut-turut, gunung di kawasan timur Indonesia meletus. Setelah Sabtu (15/9) Gunung Lokon di Kecamatan Tomohon Utara, Tomohon, Sulawesi Utara, kemarin giliran Gunung Gamalama yang meletus. Tercatat, gunung di Maluku Utara itu tiga kali bereaksi dan menyemburkan abu yang menyelimuti selatan kota Ternate.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho merinci letusan itu. Pertama, terjadi pada Sabtu (15/9) malam. Sekitar pukul 20.27 WIT gunung api tersebut meletus untuk kali pertama. “Saat itu, hujan abu terjadi semalaman di bagian timur-selatan Kota Ternate,” ujarnya.

Ternyata, letusan itu membawa reaksi lainnya. Tepatnya pukul 13.22 WIT, gunung setinggi 1.715 meter itu kembali meletus. Tidak lama kemudian, pukul 14.15 WIT erupsi lagi dan disertai dengan suara gemuruh sedang. Saat itu, tinggi asap letusan lebih kurang 1.000 m ke arah tenggara-selatan gunung.

Abu bergerak cepat, hanya lima menit setelah letusan terakhir abu sudah sampai di pos pengamatan. Lantas, debu bergerak ke arah selatan Kota Ternate. Pekatnya debu membuat jarak pandang di Kota Ternate terganggu. “Saat itu, jarak pandang hanya sekitar 50 meter,” tandas Sutopo.

Terus meningkatnya aktivitas Gunung Api yang sudah meletus sedikitnya 60 kali sejak 1538 itu membuat BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat. Terhitung sejak pukul 14.30 WIT kemarin, Gunung Gamalama langsung dinaikkan statusnya dari Waspada (Level II) ke status Siaga (Level III).

Kepala BPBD Maluku Utara, Arief Armaiyn kepada Jawa Pos mengatakan kalau pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah. Itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Sebab, aktivitas gunung terus naik dan belum ada tanda menurun. “Kita tidak tahu apa yang terjadi nanti, lebih baik siap-siap,” tuturnya.

Selain itu, BPBD Maluku Utara juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk penyediaan masker. BPBD menghimbau agar masyarakat tak keluar rumah terlebih dahulu. Terutama, saat debu masih beterbangan di atas Kota Ternate.

Gunung Gamalama di Maluku Utara kembali meletus, Minggu (16/9/2012), siang ini pukul 13.22 WIT. Selanjutnya, pada pukul 14.15 WIT gunung tersebut meletus lagi disertai suara gemuruh sedang.

Demikian informasi yang disampaikan Kepala Pusat Data, informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kepada Kompas.com melalu pesan singkat, Minggu. Menurut Sutopo, asap letusan membumbung lebih kurang 1.000 m ke arah tenggara-selatan.

“Hujan abu jatuh di pos pengamatan pukul 14.20 WIT. Debu sudah turun di Selatan Kota ternate. Jarak pandang 50 meter. Tim BPBD Provinsi Maluku Utara saat ini sudah di lokasi kejadian,” tulisnya.

Belum ada pengungsian. BPBD Provinsi Maluku Utara telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk penyediaan masker. Masyarakat diimbau untuk tidak keluar rumah karena debu sudah menutup seluruh Kota Ternate.

“Terhitung sejak pukul 14.30 WIT, Gunung Gamalama dinaikan statusnya dari Waspada (level II) ke status Siaga (level III).

Sebelumnya, Sabtu (15/9/2012) malam Gunung Gamalama juga tiga kali meletus. Hujan abu terjadi semalam di bagian timur-selatan Kota Ternate.

Orangutan di Sumatera Tinggal 200 Ekor

Aktivis lingkungan hidup dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menyebutkan populasi orangutan (pongo pygmaenus abelii) di Sumatera hingga tahun 2012 tinggal 200 ekor, akibat rusaknya habitat binatang dilindungi itu.

“Pada tahun 2000-an populasi orangutan di wilayah Sumatera di atas 1.000 ekor, namun pada tahun 2012 ini sudah di bawah 200 ekor, karena sebagian besar sudah punah akibat lingkungan mereka dirusak,” kata Advokad lingkungan hidup YEL Aceh Halim di Meulaboh, Senin (7/5), seperti dikutip dari Antara.

Ia menyebutkan, penyidikan terakhir, keberadaan orangutan terbesar adalah di kawasan hutan gambut Rawa Tripa di Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, namun selama ini kawasan tersebut disembunyikan keberadaannya, karena ada pihak tertentu akan mencoba merusak habitat mereka.

“Sebenarnya keberadaan orangutan terbesar hasil terakhir kami melihat itu di kawasan rawa gambut tripa, namun selama ini informasi itu ditutupi, karena akan ada pembukaan lahan baru di kawasan ini,” tambahnya.

Kata Halim, selama ini isu yang digembar-gemborkan keberadaan orangutan di Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara, padahal kawasan itu hanya merupakan sebagian kecil populasinya hewan mamalia ini.

Dikatakan, akibat alih fungsi lahan dari hutan gambut Rawa Tripa menjadi perkebunan sawit mulai dari Aceh Singkil hingg Kabupaten Nagan Raya, populasi Orangutan terus menyusut, karena habitat mereka sudah dirusak orang tidak bertangung jawab.

Sebab itu, ia menyarankan Kementrian Kehutanan untuk merekomendasikan reboisasi kembali hutan gambut rawa tripa dan mancabut izin pembersihan lahan yang sudah pernah diberikan Gubernur Aceh dikepemimpinan Irwandi Yusf/M Nazar pada 25 Agustus 2011.

“Setelah izin ini dicabut, kawasan rawa tripa ini harus menjadi kawasan lindung di luar kawasan hutan sesuai dengan tata ruang nasional,” tegasnya.

Sebut Halim, dalam tata ruang nasional lingkungan hidup tersebut ditetapkan bahwa rawa tripa atau Kawasan Ekosistem Leuser adalah kawasan strategis nasional yang wajib dilindungi dari ancaman pengrusakan.

Katanya, selain bermanfaat untuk keberlangsungan hidup manusia secara global, di dalam hutan gambut rawa tripa ini adalah sebagai habitat Orangutan, harimau sumatera, beruang madu dan sebagainya.

Selain itu, dengan keberadaan ketebalan rawa gambut setebal 3-5 meter itu akan mampu menyerap air dan melindunggi masyarakat sekitar dari bencana alam banjir seperti yang sering terjadi selama ini.

“Karena alih fungsi lahan pada Maret 2012 itu, warga disini mengalami gangguan pernafasan karena sudah banyak kanal-kanal perusahaan, pada saat demikian kebakaran rawa gambut sudah sangat gampang,” pungkasnya.

Dilarang Naik Mobil atau Motor Bila Ada Tsunami

Apa yang pertama kali harus dilakukan warga sekitar pantai jika gempa berpotensi tsunami datang? Jangan ragu-ragu, larilah secepat mungkin ke arah jalur evakuasi atau tempat perlindungan (shelter) yang aman. Namun, jangan sekali-kali menggunakan kendaraan bermotor.

“Semuanya larilah langsung ke arah shelter dan tidak boleh pakai kendaraan (bermotor),” kata Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prih Harjadi, kepada Tempo, Kamis, 12 April 2012.

Sayangnya, kata Prih, masyarakat sering kali mengungsi menjauhi pantai dengan menggunakan kendaraan bermotor, terutama sepeda motor. Padahal, yang ditakutkan adalah menumpuknya kendaraan bermotor di satu tempat tertentu saat evakuasi. “Masih ada kecenderungan kalau terjadi tsunami masyarakat mengungsi (dengan kendaraan bermotor),” kata dia.

Selain dilarang menggunakan kendaraan bermotor, Prih juga mengingatkan warga lebih mementingkan keselamatan dirinya saat terjadi gempa berpotensi tsunami. Bukan berarti mereka harus melupakan keluarga yang saat kejadian berada di tempat yang berbeda. Namun, setiap orang yang sudah memperoleh pengetahuan wajib memiliki kesadaran tersebut untuk meminimalisir korban jiwa.

Ia mengatakan ada orang yang mencari anaknya dulu di sekolah. Seharusnya itu tidak boleh dilakukan karena ketika orang itu sampai di sekolah sang anak juga sudah pergi. “Pendidikan di sekolah, kalau ada kejadian seperti itu, gurunya yang harus memimpin anak didiknya untuk evakuasi,” ujarnya.

Berkaitan dengan evakuasi gempa berkekuatan 8,5 skala Ritcher yang menggoyang Aceh, Rabu, 11 April 2012, Prih mengakui penanganan memang belum maksimal. Ditambah lagi informasi mengenai potensi tsunami sangat telat karena sirine peringatan tsunami tak berbunyi saat gempa terjadi.

“Nanti kami tanyakan ke Pemda apakah mereka tidak merespons atau petugas yang dulunya sudah dilatih sudah dipindahtugaskan atau malah lari duluan,” kata dia.

Gempa Hebat Skala 6 Ritcher Guncang Banten dan Jakarta Selama 20 Detik

Gempa berkekuatan 6,0 Skala Richter terjadi di Pandeglang, Provinsi Banten, pada Minggu, pukul 02.26 WIB. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika gempa berpusat di 95 kilometer barat daya Pandeglang pada kedalaman 10 kilometer. Getaran gempa juga dirasakan oleh masyarakat di Jakarta dan sekitarnya.

Gempa Cilegon itu terasa hingga Jakarta bahkan Sukabumi. “Saya merasakan gempa cukup kencang dan membuat panik saya,” kata Reni S warga Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Informasi BMKG gempa yang terjadi pada 02.26 WIB berpusat di 7.17 lintang selatan-105.13 bujur timur di kedalaman 10 Km tidak berpotensi tsunami.

Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, belum menerima adanya laporan pada peristiwa gempa tersebut namun pihaknya bersiaga mengantisipasi adanya gempa susulan yang menyebabkan kerusakan.

Belum ada laporan kerusakan dari pihak manapun baik dari satuan pelaksana penanggulangan becana daerah di setiap kecamatan dan warga,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Sukabumi, Irwan Fajar.

Gempa bumi berkekuatan 6.0 SR sempat mengguncang wilayah Banten dan sekitarnya pada Minggu (15/4/2012) pukul 2.26 WIB.

Gempa yang berpusat di 95 km Barat Daya Pandeglang, Banten ini dirasakan di beberapa kota lain, seperti Jakarta dan Depok. Bahkan, beberapa pengguna Twitter yang berada di Bogor melaporkan merasakan gempa yang berpusat di sekitar Selat Sunda tersebut. Di Jakarta, guncangannya terasa cukup kuat selama kurang lebih 20 detik.

Menurut laporan Tribun News, kepanikan sempat terjadi di kantor Kompas TV di Palmerah, Jakarta. Sejumlah karyawannya berhamburan keluar ketika gempa terjadi. Seperti dilansir BMKG, titik pusat gempa ini berjarak 216 km dari kota Jakarta.

Aceh Dilanda Gempa Besar 8.9 Skala Ritcher Peringatan Tsunami Dikeluarkan India dan Tim SAR Indonesia Siaga

Warga kepulauan Nias ikut merasakan gempa yang menghantam wilayah Sumatera Utara, Aceh. Bahkan sebelum gempa berkekuatan 8,5 skala richter itu terjadi, warga Nias merasakan gempa awalan sebelum akhirnya gempa besar menyusul dalam beberapa menit kemudian. “Di sini gempa juga dirasakan di Nias. Warga berlarian ke luar,” ujar Iyun warga Kepuluan Nias Rabu (11/4/2012). Menurut Iyun, sebelum gempa besar, warga pertama kali mendapatkan gempa kecil dan pada gempa kedua yang hanya berselang beberapa menit, dirasakan sangat besar goyangannya.

“Beberapa warga bahkan masih duduk di jalanan untuk berjaga-jaga jika ada gempa susulan,” terangnya. Bahkan untuk menjaga kemungkinan yang terburuk, beberapa warga kemudian telah memasukkan beberapa barang berharganya ke dalam tas. “Sudah dimasukkan ke dalam tas semuanya jadi tinggal dibawa jika ada gempa besar,” kata Iyun.

Gempa bumi berkekuatan 8,5 Skala Richter (SR) yang melanda Aceh dan sekitarnya juga terasa hingga ke sebagian wilayah Singapura, Thailand dan India. Warga-warga di negara-negara tersebut ikut panik dan berhamburan keluar rumah. Seperti dilansir oleh Reuters, Rabu (11/4/2012), gempa ini dirasakan oleh warga yang berada di Bangkok, Thailand. Warga yang panik pun berhamburan ke jalanan.

Gempa yang sangat kuat juga terasa di wilayah India bagian selatan. Ratusan pekerja di wilayah Bangalore, India, bahkan terpaksa harus meninggalkan gedung masing-masing. Sedangkan menurut Twitter, gempa ini juga dirasakan di wilayah Singapura dan Malaysia. Bahkan dilaporkan bangunan apartemen dan gedung perkantoran di wilayah pantai barat Malaysia berguncang selama 1 menit. Menurut Pusat Peringatan Tsunami Wilayah Pasifik di Hawaii, gempa ini berpotensi tsunami. Diperkirakan tsunami akan berdampak di wilayah Indonesia, India, Sri Lanka, Australia, Myanmar, Thailand, Kepulauan Maldives, wilayah Samudera Hindia lainnya, Malaysia, Pakistan, Somalia, Oman, Iran, Bangladesh, Kenya, Afrika Selatan dan Singapura.

Pasca gempa 8,5 skala richter (SR) di Aceh dan Sumatera Utara saat ini membuat pembangkit listrik di wilayah tersebut mati otomatis. Ini mengakibatkan pemadaman listrik. Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji menyatakan, pembangkit listrik PLN di Medan mati otomatis akibat getaran gempa yang terlalu kuat. “Jadi memang ada wilayah yang harus kami padamkan karena pembangkit kami di Medan mati otomatis akibat guncangan gempa. Sebagian konsumen kita padamkan dulu,” jelas Nur Rabu (11/4/2012). Pemadaman listrik, ujar Nur, terjadi hampir di seluruh wilayah Sumatera Utara karena guncangan gempa sangat kuat. “Jadi pembangkit mati otomatis karena alat pengaman bekerja. Akan kita periksa dulu untuk dicek apakah sudah bisa dinyalakan kembali,” jelas Nur.

Otoritas Malaysia juga mengeluarkan peringatan tsunami menyusul gempa bumi berkekuatan 8,5 SR yang mengguncang Aceh. Penduduk di sepanjang pantai barat Malaysia diserukan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. “Kami telah mengumumkan peringatan tsunami di sepanjang pantai barat semenanjung Malaysia. Kami telah memerintahkan evakuasi segera untuk warga di sepanjang pantai negara-negara bagian Perlis, Kedah, Langkawi, Penang dan Perak,” kata seorang pejabat Departemen Meteorologi Malaysia kepada kantor berita AFP, Rabu (11/4/2012).

Sebelumnya, otoritas India, Sri Lanka dan Thailand juga telah mengeluarkan peringatan tsunami menyusul gempa 8,5 SR di Simeuleu, Aceh yang terjadi pada pukul 15.38 WIB. Peringatan tsunami di Thailand bahkan telah diperluas untuk 6 provinsi dari sebelumnya 2 provinsi saja. Sementara pusat manajemen bencana Sri Lanka telah menyerukan penduduk pantai untuk bergerak ke daerah-daerah yang lebih tinggi. Ini sebagai pencegahan jika terjadi gelombang tsunami.

Disebutkan bahwa gelombang tsunami bisa menjangkau wilayah pantai timur Sri Lanka dalam waktu dekat. Otoritas Sri Lanka pun menyerukan evakuasi warga dari jalur-jalur pantai. “Ada kemungkinan kuat tsunami menghantam pulau ini setelah gempa bumi di Indonesia,” kata wakil direktur Departemen Meteorologi Sri Lanka M. D. Dayananda kepada AFP.

Masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam berbondong-bondong menuju perbukitan menyusul gempa berkekuatan 8,5 skala richter. Jalan macet dan suara azan bergema. “Listrik padam, jalan macet menuju tanah yang tinggi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho Rabu (11/4/2012). Menurut dia, suara sirine meraung-raung dan suara azan berkumandang. Saat dihubungi terpisah, Kabag Humas Basarnas Gagah Prakoso mengatakan jajarannya siaga diterjunkan ke lokasi bencana. “Kita telah siap dan siaga. Data kerusakan dan korban masih dihimpun,” ujar Gagah.

Gempa kembali terjadi di Aceh sebesar 8,1 SR. Gempa itu dirasakan kencang seperti yang pertama. “Terasa barusan. Yang pertama sekitar jam 4-an sore, sekarang barusan beberapa detik. Kencangnya seperti yang awal,” jelas petugas keamanan Pelabuhan Belawan Khairul, yang dihubungi Rabu (11/4/2012) pukul 17.50 WIB. Namun kondisi Pelabuhan Belawan, imbuhnya, normal. Pelabuhan Belawan terletak di pantai timur Sumatera, dekat selat Malaka.

Meulaboh, Aceh bersiaga menyusul gempa susulan besar. Petugas kepolisian dan SAR bersiaga di pinggir pantai.”Informasi yang saya dapat, air lau kadang naik selutut kadang turun, ini tidak wajar,” kata Kapolres Aceh Barat AKBP Artanto saat dikonfirmasi Rabu (11/4/2012) pukul 17.50 WIB. Artanto menjelaskan, penduduk di pinggir pantai sudah diungsikan ke tempat yang lebih tinggi. “Jalur evakuasi sudah disiapkan,” jelasnya. Sejauh ini kondisi di Meulaboh masih kondusif. Belum ada laporan soal korban jiwa dan kerusakan. Petugas tetap bersiaga.”Petugas masih bersiaga,” jelasnya.