Category Archives: Bencana Alam

Status Gunung Slamet Meningkat Menjadi Siaga Meletus Setelah Berdentum Keras Pagi Tadi


Dentuman keras sekitar pukul 05.00 WIB, Rabu, 30 April 2014, menjadi penanda meningkatnya status Gunung Slamet dari waspada menjadi siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status Gunung Slamet dari waspada menjadi siaga setelah ada penggelembungan tubuh gunung tertinggi di Jawa Tengah itu.

“Mulai pukul 10.00 WIB, status Gunung Slamet naik dari waspada menjadi siaga,” kata Kepala Bidang Geologi Kementerian ESDM, Surono, Rabu, 30 April 2014. Ia menegaskan, area empat kilometer dari puncak harus steril dari kegiatan manusia. “Level naik dari waspada ke siaga rekomendasi empat kilometer tidak ada aktivitas,” kata Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet di Gambuhan, Kabupaten Pemalang, Sudrajat.

Kegempaan di Gunung Slamet juga terus meningkat, baik berupa gempa letusan, gempa hembusan, dan gempa tremor, energi kegempaan yang juga meningkat serta deformasi. Tubuh gunung itu semakin gendut akibat peningkatan itu.

Dari pantauan Tempo sejak Selasa malam pukul 22.00 WIB hingga 06.00 pagi tadi, dentuman demi dentuman disertai lontaran lava pijar terus terjadi. Suara dentuman sangat jelas terdengar. Bahkan dentuman sempat menggetarkan kaca rumah di Purwokerto yang berjarak sekitar 20 kilometer dari puncak gunung.

Berdasarkan data PVMBG terhadap aktivitas Gunung Slamet pada pukul 00.00-06.00 WIB asap putih kelabu dengan tebal tinggi 150-1.000 meter. terdapat 44 kali letusan asap kelabu dengan tebal tinggi 150-1.000 meter. kemudian terlihat 30 kali sinar api dan lontaran lava pijar dengan tinggi 150-600 meter serta 5 kali dentuman sedang hingga kuat dengan intensitas kegempaan 43 kali gempa letusan dan 72 kali gempa hembusan.

Gempa Tektonik Picu Gunung Merapi Untuk Meletus Kembali


Aktivitas vulkanik Gunung Merapi meningkat sesaat sekitar pukul 04.25 – 04.35 WIB, Minggu (20/4/2014). Akibatnya, kawasan lereng Merapi di Kabupaten Magelang, sempat dilanda hujan pasir dan abu. Triyono, petugas pengamatan Gunung Merapi di Pos Ngepos, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, membenarkan bahwa ada pelepasan material yang cukup kencang dini hari tadi, dari puncak gunung teraktif di Indonesia itu.

“Sempat meningkat (aktivitas vulkanik Merapi), tapi sebentar sekitar 10 menit,” ujar Triyono, saat dihubungi, Minggu pagi. Triyono menyebutkan, kondisi puncak Merapi tidak terlihat jelas karena cuaca masih berkabut. Sehingga, pihaknya belum dapat memastikan ketinggian embusan material dari puncak Merapi. “Akan tetapi, hingga saat ini, status aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tetap normal,” tegasnya.

Ahmad Muslim, salah seorang warga Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung mengaku merasakan hujan pasir dan abu di sekitar tempat tempat tinggalnya. Warga juga sempat berhamburan keluar rumah untuk melihat kondisi sebenarnya.

“Saya lihat ada embusan asap tebal berwarna kecokelatan membumbung tinggi dari puncak Merapi. Setelah itu hujan pasir dan abu,” ujar Muslim, yang rumahnya terletak di 12 kilometer dari puncak Merapi. Namun, Muslim bersama warga lainnya kembali melakukan aktivitas seperti biasanya karena hujan abu berangsur reda. Menurutnya, kondisi demikian sudah biasa terjadi sehingga warga tidak panik. “Kami sudah biasa, tapi kami juga tetap waspada,” katanya.

Hal yang sama dirasakan Irwanto Purwadi, warga Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Sekitar pukul 05.15 WIB, dia merasakan hujan abu meski masih tergolong tipis di sekitar rumahnya yang berjarak sekitar 11 kilometer dari puncak Merapi.

“Hujan abu tipis sekitar 10 menit tadi. Sekarang sudah reda. Warga sudah kembali beraktivitas seperti biasa,” kata Irwanto. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Subandrio menyatakan, aktivitas erupsi kecil sebagai bentuk dari pelepasan gas dalam perut Gunung Merapi dipicu adanya gempa tektonik yang terjadi beberapa hari terakhir ini.

“Gempa tektonik yang beberapa hari ini terjadi memicu pelepasan gas yang ada di dalam perut Gunung Merapi,” kata Subandrio, Minggu (20/04/2014). Subandriyo menyebutkan, gempa tektonik yang terjadi mempercepat pelepasan gas dari dalam bumi sehingga pelepasan gas mendorong keluarnya material pijar. Kejadian itu antara lain berlangsung pada Minggu pukul 04.44 WIB. “Sebelum letusan kecil tadi pagi juga ada gempa tektonik,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa seusai erupsi kecil tersebut, aktivitas Merapi kembali normal. Untuk itu, masyarakat diimbau tidak khawatir berlebihan, tetapi tetap waspada. Meski tidak ada perubahan signifikan, Subandrio mengatakan bahwa sampai saat ini status Merapi masih dalam kondisi aktif normal.

Selain mengeluarkan material pijar, letusan kecil Merapi pada pagi tadi juga menimbulkan hujan abu di beberapa daerah di lereng Merapi. Letusan berlangsung selama kurang lebih 10 menit.

Anomali Cuaca Besar Besar : Kepri Riau Dilanda Kekeringan Panjang


Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat anomali cuaca secara besar-besar terjadi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). “Dalam catatan kami, bulan kering yang terjadi di Batam, Bintan, Tanjungpinang dan Karimun yang terjadi sejak 45 hari yang lalu merupakan terlama. Ini adalah anomali cuaca besar-besaran, yang selama ini belum pernah terjadi,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tanjungpinang, Hartanto, Minggu.

Perkiraan BMKG Tanjungpinang terkait terjadinya hujan di Kepulauan Riau (Kepri) dua kali meleset. Pertama, BMKG memprakirakan hujan terjadi di atas tanggal 20 Februari 2014. Kemudian prakiraan yang kedua, hujan akan mengguyur Batam, Bintan, Karimun dan Tanjungpinang pada awal Maret. Hujan terjadi bersamaan dengaan perubahan arah angin dari utara ke barat daya.

“Sampai sekarang ternyata belum terjadi perubahan arah angin. Sekarang masih musin angin utara,” ungkapnya. Hal itu menyebabkan konsidi udara menurun dan menghambat pertumbuhan awan. Pada permukaan air laut juga masih dingin sehingga awan sulit terbentuk. “Butuh waktu berminggu-minggu agar terjadi perubahan, sehingga awan terbentuk,” ucapnya.

Bulan kering yang terjadi di Kepri, diprakirakan justru terjadi dalam waktu yang lama. Hal itu disebabkan faktor dari luar yaitu subsidensi yang meluas dari sekitar lintang menengah sampai ke khatulistiwa.

“Kepri terkena dampak terbesarnya, dibanding wilayah lainnya,” ujarnya.

Ia mengemukakan, Tanjungpinang dan Bintan kemarin sempat terjadi mendung dan gerimis sebentar, namun tiba-tiba hilang. Hal itu disebabkan awan-awan yang membentuk hujan terbawa oleh angin. “Peluang hujan di Tanjungpinang, Bintan, Karimun dan Batam pada saat ini sangat tipis,” katanya.

Saat ini, hampir seluruh air di sumur warga Kota Tanjungpinang mengalami kekeringan. Warga terpaksa membeli air. “Kami berharap ada solusi yang diberikan pemerintah. Bahaya kalau kondisi ini terus dibiarkan,” kata Melda, ibu rumah tangga yang tinggal di KM 8 Tanjungpinang.

Sementara itu, Ketua Komunitas Bakti Bangsa Provinsi Kepulauan Riau Eva Fransiska mengemukakan, bantuan berupa air gratis yang diberikan oleh berbagai organisasi, PDAM Tirta Kepri dan caleg sangat terbatas dan dalam waktu tertentu. Mereka tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.

“Ini saatnya pemerintah turun tangan, bergerak cepat untuk membantu masyarakat yang saat ini kesulitan mendapatkan air bersih. Salah satunya menciptakan hujan buatan,” katanya. Selain itu, PDAM Tirta Kepri juga sudah selayaknya menambah pelanggan secara merata di Tanjungpinang, karena sumber air bersih tidak hanya di Sei Pulai, melainkan juga Waduk Sei Gesek.

“Kalau hari ini seluruh rumah warga sudah tersambung jaringan pipa PDAM Tirta Kepri, tidak akan terjadi hal seperti ini. Sampai sekarang, PDAM Tirta Kepri hanya mampu melayani sebagian masyarakat Tanjungpinang,” ungkapnya.

Gunung Marapi Di Tanah Datar Sumatera Barat Kembali Semburkan Abu Vulkanik


Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengeluarkan abu vulkanik sore tadi. Kabut dan cuaca berawan menghalangi pantauan arah abu tersebut. “Sekitar pukul 16.15 WIB tadi, ketinggian dan arah abu tidak teramati karena kabut dan cuaca berawan,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho .

Gunung berapi setinggi 2.800 meter dari atas permukaan laut ini mengeluarkan abu selama 38 detik. Menurut Sutopo, aktivitas ini kerap dilakukan Marapi sejak dua tahun lalu namun sudah ditetapkan tak ada aktivitas dalam radius 3 km dari puncak gunung.

“Fenomena biasa karena sudah sering meletus sejak 3 Agustus 2011. Yang penting tidak ada aktivitas di radius 3 km dan sekitar situ memang tidak ada pemukiman,” kata Sutopo. Sutopo menyebutkan status Gunung Marapi saat ini adalah waspada atau level II. Pengawasan aktivitas Gunung Marapi terus dipantau hingga saat ini.

Siang tadi, terjadi letusan kecil di Gunung Marapi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Abu vulkanik yang meletus diperkirakan mencapai ketinggian 200 meter. “Tadi siang pukul 13.00 WIB, kurang lebih 200 meter,” kata Warsono, petugas posko pemantauan Gunung Marapi. Warsono saat ini sedang melakukan pengecekan lebih jauh soal peristiwa tersebut. Namun demikian, dia memastikan letusan itu tidak terjadi dalam waktu yang lama.

“Cuman sebentar kok,” imbuhnya.

Gunung Marapi terletak di antara Kabupaten Tanahdatar dan Agam, Sumatera Barat. Gunung tersebut memiliki ketinggian 2.891 meter dari permukaan laut. Salah satu gunung aktif di Sumatera Barat itu mengalami peningkatan aktivitas sejak 3 Agustus 2011 sekitar pukul 09.00 WIB. Gunung Marapi terakhir kali meletus pada 2005. Dalam kondisi aktif normal, gunung yang berdampingan dengan Gunung Singgalang dan Tandikek itu menjadi salah satu tujuan pendakian.

Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar dan Agam, Sumatera Barat (Sumbar) meletus. Namun meletusnya Gunung Marapi ini adalah aktivitas yang wajar. Penduduk tak perlu panik. “Sudah meletus memang, sudah lama beberapa bulan yang lalu,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono ketika dikonfirmasi.

Letusan materi vulkanik Gunung Marapi maksimum bisa mencapai 300-1.000 meter. Penduduk di sekitar Gunung Marapi, imbuh Surono, berada dalam radius 6 km. “Radius amannya 3 km, statusnya waspada. Itu wajar, nggak perlu (evakuasi),” tegas Surono. Sementara Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Ade Edward mengatakan sejak Agustus 2011, Gunung Marapi mengeluarkan debu. Gunung Marapi mengeluarkan debu 4-5 kali.

“Ini kita waspadai terus sambil mempersiapkan masyarakat di sana kalau terjadi letusan yang sifatnya merusak. Sekarang masker sudah didistribusikan karena debu. Masyarakat dan aparat sudah kita siapkan kalau ada tindakan darurat, sudah disosialisasikan,” jelas Ade.

Begitu pun juga jalur evakuasi, sudah disiapkan bila letusan gunung itu merusak dan mengeluarkan awan panas. “Kalau debu masih aman. Kalau sudah mulai batu dan pasir harus dievakuasi. Kalau sudah ada awan panas itu tidak aman, karena lontaran materinya sampai radius 5 Km. Ini belum mengkhawatirkan, tapi tetap diwaspadai,” jelas Ade.

Belasan Marinir TNI AL Tembusi Kawah Gunung Kelud Untuk Memastikan Keamanannya


Belasan prajurit Korps Marinir TNI AL dipimpin Letkol Marinir Irpan Nasution menyusuri lereng gunung Kelud hingga tembus di bibir kawah gunung yang beberapa hari lalu baru saja memuntahkan jutaan meter kubik material vulkanik itu, Jumat (21/02/2014).

Menurut Komandan Batalyon Komunikasi dan Elektronika-1 (Dan Yon Komlek-1) Korps Marinir TNI Angkatan Laut itu, penyusuran dilakukannya dengan tujuan untuk meyakinkan bahwa aktifitas gunung Kelud benar-benar sudah turun. Hal ini sekaligus dapat mematahkan isu yang berkembang di masyarakat sekitar gunung yang memiliki ketinggian 1.731 meter itu tentang akan adanya gas beracun dan wedus gembel, katanya.

Dengan demikian isu tersebut sudah terjawab, sehingga diharapkan masyarakat dapat lebih tenang, harapnya. “Saya akui, selama dua jam bersama tim berada pada jarak 200 meter dari kawah gunung Kelud, tercium bau belerang yang sangat menyengat, itupun bila kebetulan ada angin yang sedang mengarah ke tim kami yang ingin melihat langsung dari dekat keberadaan pusat letusan gunung Kelud”, imbuhnya.

Kegiatan yang dilakukan bersama 12 prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut dan dua personel dari Basarnas itu dilakukannya dengan menggunakan dua unit mobil ford ranger dan satu unit sepeda motor trail yang berakhir dengan berjalan kaki, sejak pukul 07.30 hingga 10.15 WIB, dengan titik terakhir pemantauan dari kawah gunung kelud berjarak tak kurang dari 200 meter.

Sementara itu status Gunung Kelud telah diturunkan dari Awas (level IV) menjadi Siaga (level III) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kamis (20/2).

Warga dibantu aparat TNI AL meninggalkan pengungsian dan kembali ke rumah masing-masing setelah mendapat informasi resmi dari pihak pemerintah pada pukul 10.00 WIB, bahwa Gunung Kelud sudah tidak lagi berstatus Awas dalam raidius sepuluh kilo meter.

Menurut Nunuk, Carik desa Wates, Kecamatan Wates, Kediri, Jumlah pengungsi di Balai Desa Wates dan di tenda yang berada di lapangan bola desa Wates, sejak Jum’at (13/02) hingga Kamis (20/2) ada ribuan orang. Setelah mendengar status Gunung Kelud diturunkan dari Awas, para pengungsi merasa senang. Rasa gembira tampak pada wajah kaum ibu dan anak-anak menjelang kepulangan ke rumahnya masing-masing. Selama satu minggu mereka berada di pengungsian.

Demikian halnya dengan warga desa Pondok Agung, Pujon, mereka diangkut dengan menggunakan dua unit truk Marinir TNI AL dari dari Balai Desa Kasembon ke kampung halamannya yang berjarak sekitar sepuluh kilo meter. Begitu senangnya, ada beberapa ibu dan anaknya tidak mau turun dari kendaraan padahal sudah sampai di depan rumahnya.

Nuri Handayani (21 th) misalnya. Ibu satu anak ini tetap bertahan di truk Marinir TNI AL yang mengangkutnya hingga Desa Mendalan dengan jarak 7 km dari dusunnya.

Gempa Di Gunung Merbabu Ternyata Bukan Aktivitas Vulkanik


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan gempa yang menggoyang kawasan sekitar Gunung Merbabu bukan gempa vulkanik. Kepala PVMBG Muhammad Hendrasto mengatakan gempa tersebut adalah tektonik.

Senin kemarin, warga yang tinggal di lereng Gunung Merbabu dikejutkan oleh gempa yang terjadi di sekitar gunung tersebut. Selain itu, warga juga beberapa kali mendengar suara dentuman keras yang muncul dari sekitar areal gunung. Akibatnya, sejumlah rumah mengalami kerusakan dan tanah di sekitar permukiman warga mengalami retakan.

Hendrasto mengatakan gempa yang terjadi di sekitar Gunung Merbabu merupakan gempa teknonik yang cakupannya masih lokal. Menuru dia, salah satu ciri gempa vulkanik adalah dampak gempa yang tidak menimbulkan kerusakan di atas permukaan tanah. “Kan, kalau gempa kemarin sampai merusak rumah dan tanah sampai retak,” ujarnya, Selasa, 18 Februari 2014.

Menurut dia, jika gempa yang terjadi kemarin adalah gempa vulkanik, Gunung Merbabu bisa dipastikan sudah meletus. Bahkan letusan gunung itu bisa cukup besar karena gempanya sampai menimbulkan kerusakan di permukaan tanah.

Hendrasto mengatakan status Gunung Merbabu saat ini masih normal. Dia juga memastikan tidak ada peningkatan aktivitas vulkanologi pascagempa yang terjadi kemarin. “Sekarang gunungnya baik-baik saja, tidak ada perubahan apa pun,” ujarnya.

Daftar 23 Gunung Berapi Di Nusa Tenggara Timur Yang Dalam Keadaan Aktif


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur (NTT), Tiny Thadeus, menjelaskan bahwa 23 gunung api di wilayah provinsi tersebut dikategorikan sebagai gunung yang masih aktif.

Menurut Tiny, Pemerintah Provinsi NTT mulai mengantisipasi peningkatan aktivitas gunung-gunung tersebut. “Karena kondisinya aktif, maka perlu diwaspadai,” katanya, Kamis, 8 November 2012.

Gunung-gunung berapi tersebut tersebar hampir di seluruh kabupaten di NTT (20 kabupaten). Namun tingkat aktivitas masing-masing gunung skalanya berbeda. Ada yang kecil dan besar. “Gunung api terbanyak berada di Flores Timur,” ujar Tiny.

Gunung skala besar, di antaranya Gunung Sirung di Kabupaten Alor, Gunung Lewotobi laki-laki dan perempuan di Flores Timur, Gunung Ile Ape dan Gunung Lewotolok di Lembata, Gunung Ranaka dan Gunung Anak Ranaka di Manggarai, Gunung Ine Rie dan Gunung Ebulobo di Ngada, serta Gunung Rokatenda di Sikka. Sedangkan yang berskala kecil, antara lain Gunung Kabah di Kabupaten Lembata.

Gunung-gunung aktif tersebut, Tiny menambahkan, masih dalam pantauan BPBD NTT, untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu aktivitasnya menunjukkan peningkatan.

Sejak 2011 hingga 2012, sudah beberapa gunung yang menunjukkan peningkatan aktivitas, seperti Gunung Ranaka, Lewotobi, Lewotolok, Sirung, dan terakhir Gunung Rokatenda, yang telah mengeluarkan api di puncak gunung dan memuntahkan awan panas ke permukiman warga.

Gunung Api Lewotobi Perempuan Kini Dalam Status Waspada Akan Meletus


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan Gunung Api Lewotobi Perempuan yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berstatus waspada (level II).

Hal itu dikemukakan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Thadeus, Selasa, 11 Februari 2014. Mengutip data PVMBG, Tini menjelaskan bahwa naiknya status gunung itu karena terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. “Gunung menyemburkan asap putih,” kata Tini.

Disebut Gunung Lewotobi Perempuan karena ada Gunung Lewotobi Laki-laki. Letak kedua gunung itu berdampingan di kawasan pegunungan di Kabupaten Flores Timur.

Menurut Tini, sesuai rekomendasi PVMBG, masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Lewotobi Perempuan sudah diperingatkan untuk tetap waspada karena sewaktu-waktu bisa meletus. “Peringatan dini sudah kami sampaikan kepada masyarakat di kaki gunung itu,” ujarnya.

Tini menjelaskan, jika terjadi erupsi Gunung Api Lewotobi Perempuan, lahar yang menyembur akan mengarah ke bagian selatan Kabupaten Flores Timur atau ke arah lautan. Dia mengatakan masyarakat setempat sudah paham dan tahu cara menyelamatkan diri.

Meski demikian, BPBD NTT tetap menyiagakan pola penanggulangan bila benar-benar terjadi erupsi guna melakukan berbagai bentuk penanganan, termasuk mengevakuasi warga.

Adapun Gunung Api Rokatenda yang meletus pada akhir Desember 2013 lalu masih mengeluarkan api dari kawah gunung itu. Karena itu, masyarakat tetap diminta terus waspada dan tidak mendekati gunung tersebut. “Kami sudah memasang tanda larangan mendekati gunung api itu,” tutur Tini.

Masyarakat Pulau Palue, pulau yang menjadi lokasi Gunung Rokatenda, sebelumnya telah mengungsi ke Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Namun mereka memilih kembali ke tempat asal setelah status gunung itu diturunkan.

Gunung Sangiang Dalam Status Waspada Akan Meletus


Hasil pemantauan tiga gunung berapi di Nusa Tenggara Barat (NTB), Sangeang Api di Kabupaten Bima dinyatakan status waspada. Sedangkan Tambora di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima dinyatakan aktif normal. Demikian pula Rinjani di Lombok dalam keadaan aktif normal.

Penjelasan kondisi tiga gunung api tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB M Husni setelah melaporkan pemantauannya kepada Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi. Husni diminta memantau aktivitasnya setelah terjadinya letusan gunung Sinabung di SumatraUtara dan gunung Kelud di Kediri Jawa Timur. “Perkembangan keadaan ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat,” kata Husni, melalui keterangan pers yang dib erikan kepada Tempo, Ahad 16 Februari 2014.

Gunung Sangiang yang berada di Pulau Sangiang sekitar 60 kilometer utara kota Bima. Memiliki ketinggian 1.842,05 meter. Luas pulaunya 215 kilometer persegi. Lokasinya ditempuh menggunakan perahu motor selama 1,5 jam dari daratan Wera. Semula diperkirakan ketinggiannya 4.000 meter di atas permukaan laut. Letusan terjadi mulai 1953, 1964, 1985, 1987, dan 1998.

Sementara Gunung Tambora letusannya mulai tercatat 1812-1813. Pada tahun 1815 tercatat sebagai letusan terdahsyat di dunia. Berlangsung selama tiga hari, 10-12 April 1815, mengakibatkan Surabaya dan Madura gelap gulita selama tiga hari.

Sewaktu meletusnya gunung Tambora 10 April 1815, menewaskan penduduk setempat diantara 10.000 jiwa penduduk Kerajaan Tambora atau 117.000 jiwa penduduk tiga kerajaan di sekitarnya. Lainnya adalah Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar. Akibat lainnya adalah hilangnya musim semi di Eropah dan hilangnya kota Tambora disebut sebagai Pompeii of the East. Pompeii dikubur sedalam 23 meter akibat letusan gunung Vesuvius di Italia. Letusan gunung api Tambora yang diperkirakan sebelum meletus tingginya 4.200 meter atau lebih tinggi dari gunung Rinjani di Lombok.

Gunung Rinjani, terakhir dikabarkan oleh para ahli kegunungapian, Rinjani tua diperkirakan semula memiliki ketinggian 5.000 meter. Letaknya di sebelah barat Rinjani yang sekarang. Akibat letusan besar dan kuat (paroximal eruption) diikuti runtuhnya tubuh gunung (collapse) telah mengakibatkan lebih dari sebagian tubuhnya hilang dan sisanya berupa kaldera Segara Anak yang diikuti degan pembentukan gunung api baru: Gunung Barujari dan Gunung Rombongan.

Berdasarkan sejarah erupsinya, Perekayasa Utama Fungsional Museum Geologi Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Heryadi Rachmat, gunung api Rinjani, gunungapi Barujari dan gunung api Rombongan sebelum abad ke-19 tidak tercatat sejarah letusannya. Sehingga tidak diketahui sejauh mana gunung api ini pernah menimbulkan korban. “Baik berupa korban jiwa maupun kerugian harta benda,” ujarnya.

Kegiatan gunung api Rinjani mulai ditulis oleh Zollinger (1846) yang mengatakan bahwa pada waktu itu keadaan gunung dalam stadia fumarola. Selanjutnya letusan yang terjadi hanya berlangsung di Segara Anak.(gunung api Baru jari dan Rombongan)

Dari catatan sejarah letusannya, gunung api ini telah meletus sebanyak sembilan kali di antaranya adalah letusan 1884, 1901, 1906, 1909, 1915, 1944, 1966, 1988 dan terakhir 1994 yang menghasilkan beberapa kawah, kubah lava, endapan piroklastik, lahar disertai munculnya bukit kecil. Yang merupakan hasil letusan kawah samping terletak di sebelah barat 1.175 meter dari puncak gunung api Barujari. Di samping itu hembusan solfatara dan fumarola sekeliling dasar dan lereng kawah/kubah gunung api Barujari terlihat aktif mengeluarkan asap putih-tipis sampai tebal dengan suhu berkisar antara 45-110 C.

152 Keluarga Diungsikan Di Cianjur Akibat Tanah Bergerak Sepanjang 3 Kilometer


Sebanyak 152 keluarga korban bencana pergerakan tanah di Kampung Cigedogan, Desa Mekarmulya, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akan segera direlokasi. Mereka akan menempati lahan hibah seluas 5 hektare milik sebuah perusahaan swasta. Selain itu, setiap rumah akan mendapatkan bantuan sebesar Rp 10 juta. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur, Asep Suhara, mengatakan, para pengungsi korban bencana longsor di Cikalongkulon masing-masing akan mendapatkan jatah 100 meter persegi untuk membangun rumahnya kembali. “Sekarang kami lagi persiapan untuk relokasi warga di Kampung Cigedogan. Ada satu perusahaan yang menghibahkan tanahnya untuk dibangun permukiman penduduk seluas lima hektare,” ujar Asep di Cianjur, Selasa, 18 Februari 2014.

Asep menjelaskan, warga yang direlokasi hanya perlu mengganti tanah garapan milik petani. Sebab, sebagian tanah milik perusahaan itu sudah dijadikan lahan pertanian. Nantinya, warga tinggal menggantinya dengan sebagian dana bantuan yang diberikan sebesar Rp 10 juta per rumah. BPBD Cianjur akan membantu pembangunan rumah agar warga korban pergeseran tanah tidak asal membangun. Tapi jika warga yang sudah pindah ke tempat lain dan tidak ingin direlokasi ke tempat yang sudah disediakan, BPBD Cianjur tidak akan memberikan santunan.

Dalam pembangunan pemukiman ini, BPBD CIanjur sudah meminta bantuan kepada Dinas Binamarga Kabupaten Cianjur untuk melakukan perataan di lahan yang akan dijadikan permukiman. Selain rumah, di sekitar permukiman baru itu akan dibuatkan jalan, MCK, tempat beribadah, dan sekolah. “Bangunan SD yang di Cigedogan sudah tidak bisa ditempati lagi. Jadi nanti kami akan bangunkan gedung sekolah yang baru di lahan relokasi yang sudah di sediakan itu. Tapi pembangunan jalan, MCK, dan sekolah itu akan dilakukan secara bertahap,” kata Asep.

Menurut Asep, pergerakan tanah di Kampung Cigedogan masih terjadi sampai sekarang secara perlahan-lahan. Kini panjang pergerakan sudah mencapai 3 kilometer dengan luas masing-masing pergerakan 500-600 meter. Bahkan, pada saat ini Sungai Cidadap sudah tertutup oleh longsoran tanah sepanjang 100 meter. “Tak hanya itu, pergerakan tanah juga hampir sampai ke desa sebelah, tapi masih terhalang dengan sungai kecil yang membatasi kedua desa tersebut. Kami harap warga masih tetap waspada,” kata Asep.