Category Archives: Bencana Alam

Anak Krakatau Dalam Status Waspada Akan Meletus

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda meningkat sepanjang Sabtu, 15 Februari 2014. Gempa vulkanik tercatat 212 kali terjadi sehingga status gunung ini masih dinyatakan waspada level 2. “Kami meminta masyarakat pesisir Banten tenang, karena kegempaan itu tidak menimbulkan gelombang tsunami,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Anton S. Pambudi, Sabtu, 15 Februari 2014

Ia menjelaskan aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terpantau Sabtu ini terdiri atas 3 kali gempa vulkanik dalam, 177 kali gempa vulkanik dangkal, dan 32 kali embusan. Gunung Anak Krakatau diselimuti kabut tebal akibat aktivitas tersebut. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Jawa Barat, mengingatkan nelayan ataupun warga dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau karena sangat membahayakan. “Kami hanya memberikan rekomendasi 1,5 kilometer dari titik gunung berapi itu,” kata Anton.

Menurut dia, batu-batu pijar yang terlontar dari Anak Krakatau bisa berakibat fatal bagi penduduk yang terkena. Suhu batu pijar tersebut antara 600 dan 800 derajat Celcius. Sejauh ini, aktivitas kegempaan vulkanik Anak Krakatau masih normal.”Saya kira kegempaan vulkanik dalam dan dangkal dan embusan relatif normal dan dinyatakan status waspada level 2,” jelasnya.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Muhammad Hendrasto, mengatakan saat ini Gunung Anak Krakatau dalam status waspada atau level II. “Kondisinya masih waspada. Artinya masih normal,” kata Hendrasto, Sabtu, 15 Februari 2014. Menurut Hendrasto saat ini aktivitas vulkanik Anak Krakatau relatif stabil dan tidak menimbulkan letusan dan gelombang tsunami. Dalam jarak mendekati radius 1 kilometer dari puncak gunung, nelayan maupun pengunjung dilarang naik atau mendarat di pulau Gunung Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau terkahir meletus pada 2 September 2012. Dengan erupsi tipe strombolian, gunung itu memuntahkan material pijar hingga ketinggian 200-300 meter. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih mematok status aktivitas gunung itu di level II atau waspada yang sudah ditetapkan sejak 2011 lalu. (Baca: Giliran Krakatau Mengeliat, Gempa Vulkanik 212 Kal)

PVMG tidak menaikkan status gunung itu meski tipe letusannya strombolian, sebab lontaran material pijar yang terlontar dari kawah hanya sampai radius 1 kilometer karena sistem kawah Gunung Anak Krakatau sudah terbuka. Selepas erupsi pada 2001, Gunung Anak Krakatau kembali aktif mulai 23 Oktober 2007 hinga 10 Juli 2011. Status gunung itu sempat dinaikkan di level III atau siaga pada 30 September 2011 sebelum diturunkan ke level II atau waspada mulai 26 Januari 2012.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda meningkat sepanjang Sabtu, 15 Februari 2014. Gempa vulkanik tercatat 212 kali terjadi sehingga status gunung ini masih dinyatakan waspada level 2.

“Kami meminta masyarakat pesisir Banten tenang, karena kegempaan itu tidak menimbulkan gelombang tsunami,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Anton S. Pambudi, Sabtu, 15 Februari 2014 Ia menjelaskan aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terpantau Sabtu ini terdiri atas 3 kali gempa vulkanik dalam, 177 kali gempa vulkanik dangkal, dan 32 kali embusan. Gunung Anak Krakatau diselimuti kabut tebal akibat aktivitas tersebut.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Jawa Barat, mengingatkan nelayan ataupun warga dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau karena sangat membahayakan. “Kami hanya memberikan rekomendasi 1,5 kilometer dari titik gunung berapi itu,” kata Anton.

Menurut dia, batu-batu pijar yang terlontar dari Anak Krakatau bisa berakibat fatal bagi penduduk yang terkena. Suhu batu pijar tersebut antara 600 dan 800 derajat Celcius. Sejauh ini, aktivitas kegempaan vulkanik Anak Krakatau masih normal.”Saya kira kegempaan vulkanik dalam dan dangkal dan embusan relatif normal dan dinyatakan status waspada level 2,” jelasnya.

Debu Abu Vulkanik Sudah Keluar Dari Wilayah Jawa dan Sumatera

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Kelud telah meninggalkan Jawa dan Sumatera. Ini berdasarkan peringatan dari Volcanic Ash Advisory Centre yang berpusat di Washington, Amerika Serikat.

“Sebaran abu vulkanik di udara sebagian besar telah meninggalkan Jawa serta Sumatera dan mengarah ke samudra Indonesia, barat Sumatera,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho lewat pesan pendek, Sabtu, 15 Februari 2014.

VAAC, kata Sutopo, merekomendasikan agar pesawat tidak melintas di area yang masih terdapat abu vulkanik itu. “Penerbangan menunggu hasil evaluasi otoritas masing-masing wilayah. Saat ini masih melakukan pembersihan di semua bandara,” ujar Sutopo.

Gunung Kelud meletus pada Kamis malam, 13 Februari 2014. Akibat hujan abu Kelud, tujuh bandara tidak dapat beroperasi pada Jumat, 14 Februari 2014. Hari ini, tiga di antaranya sudah bisa kembali beroperasi, yaitu Bandara Achmad Yani di Semarang, Bandara Tunggul Wulung di Cilacap, dan Bandara Abdul Rahman Saleh di Malang. Bandara Juanda Surabaya juga akan buka sore ini pukul 18.00.

57 Penerbangan Dari Bali Ke Jawa Akibat Letusan Gunung Kelud

Dampak abu Kelud juga berimbas pada penerbangan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Ada sejumlah tujuan penerbangan yang dibatalkan. “Memasuki hari kedua setelah erupsi Gunung Kelud, beberapa penerbangan masih mengalami pembatalan. 57 Penerbangan tujuan Cengkareng- Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya dibatalkan baik yang datang maupun yang berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai,” kata Co. General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, I.G.N dalam siaran pers, Sabtu (15/2/2014).

Salah satu alasan pembatalan penerbangan itu, bandara-bandara yang terkena dampak erupsi Gunung Kelud diperpanjang penutupannya. Hal ini menyebabkan penerbangan dari dan tujuan Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Bandung dan Jakarta belum dapat beroperasi normal.

Penerbangan yang membatalkan penerbangannya antara lain, Garuda Indonesia sebanyak 14 penerbangan, Citilink 6, Air Asia 8 dan Lion Air (Wings Air) sebanyak 29 penerbangan. Sedang penerbangan dari Bali ke luar negeri hari ini sudah kembali normal, bahkan yang kemarin dibatalkan hari ini mengajukan penambahan penerbangan.

“Operasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai sendiri cukup stabil dan kondusif. Secara aktif, kami terus umumkan kepada penumpang dan calon penumpang atas keterlambatan atau pembatalan jadwal penerbangan” tambah Ardita. Aktivitas Gunung Kelud berangsur melemah. Jarak pandang untuk penerbangan juga sudah tidak mengalami masalah.

“Saya kira untuk saat ini setelah tidak adanya lagi erupsi dari Gunung Kelud, jarak pandang untuk penerbangan sudah tidak mengalami masalah,” ujar Kepala Pusat Komunikasi Kemenhub, Bambang S Ervan, Sabtu (15/2/2014). Menurut dia, pihak bandara masih sibuk membersihkan run off landasan pacu dari sisa abu Gunung Kelud. “Ya, kita harapkan tidak ada erupsi lagi. Sekarang ini pihak bandara tengah membersihkan landasan pacunya,” ujarnya.

“Kalau terkait debu, saya kira sudah tidak mengganggu lagi. Tetapi kalau faktor cuaca, kita tidak mengetahui karena itu juga bisa mengganggu jadwal penerbangan,” ujarnya.

Kediri Hujan Kerikil Akibat Letusan Gunung Kelud

Letusan Gunung Kelud yang baru saja terjadi sudah mulai berdampak kepada warga Kediri. Beberapa daerah hingga di kawasan Kota Pare, Kediri, mulai dilanda hujan kerikil.

Salah satu warga Pare, Ajeng Pinto, mengatakan, hujan kerikil terus berlangsung sejak pukul 23.30 WIB. “Semula saya kira suara hujan besar saja, ternyata hujan kerikil. Kerikilnya besar-besar, ini warga kampung sudah mulai panik,” ujar Ajeng saat dihubungi, Kamis (13/2/2014) malam.

Menurutnya, hujan kerikil terjadi sangat lebat sehingga warga mulai khawatir kekuatan atap tidak bisa menahan hujan kerikil tersebut.

Gunung Kelud mulai meletus dan mengeluarkan ratusan ribu kubik material vulkanik, Kamis (13/2/2014) sekitar pukul 23.00. Sebelumnya, gunung tersebut mengeluarkan beberapa kali dentuman disertai dengan beberapa kilatan.

Sementara itu, ribuan warga di lereng Kelud memadati jalan menuju tempat evakuasi. Mereka dari beberapa desa di Kecamatan Ngancar. Untuk saat ini, warga Kecamatan Ngancar ditempatkan di Balai Desa Tawang di Kecamatan Wates, Kediri.

Letusan Gunung Kelud juga berimbas ke Kota Batu di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Hujan abu telah membuat kota ini bak “kota mati”. Jalur dari Kota Batu di Kabupaten Malang menuju Kota Kediri pun ditutup untuk sementara.

Dalam pantauan, warga enggan meninggalkan rumah mereka karena pekatnya abu dari letusan Gunung Kelud. Jarak pandang jalanan di wilayah yang berjarak tak kurang dari 50 kilometer dari kawah Gunung Kelud ini hanya berkisar puluhan meter.

Kondisi tersebut mengakibatkan lalu lintas dari Kabupaten Malang ke Kota Kediri lumpuh. Para pengemudi tak berani ambil risiko menembus kepekatan abu. Kapolres Batu AKBP Windiyanto Pratomo kemudian juga memastikan jalur penghubung antara Kota Batu di Kabupaten Malang ke Kabupaten Kediri telah ditutup untuk sementara. “Ditutup dari Batu sampai Kasembon (kedua kecamatan ada di Kabupaten Malang, red), karena abu yang cukup tebal,” ujar dia, Jumat (14/2/2014) dini hari.

Pengungsi

Sementara itu, pengungsi dari kawasan terdampak letusan Gunung Kelud juga sudah mulai memenuhi pos-pos pengungsian. Salah satu pos pengungsian itu berada di kompleks kantor Kecamatan Tujon, Kabupaten Malang. Saat ini ratusan pengungsi telah memadati gedung kantor dan dua tenda di lapangan kompleks tersebut. Penanganan lokasi pengungsian dikoordinasi oleh personel TNI. Dapur umum juga sudah didirikan.

Beberapa pengungsi harus dilarikan ke rumah sakit di Kota Batu, setelah mereka pingsan karena mengalami sesak napas. Di antara mereka terdapat juga anak-anak.

Warga Pemalang Ramai Ramai Ke Gunung Slamet Setelah Gunung Kelud Meletus

Letusan gunung Kelud membuat Pos Pemantauan gunung Slamet di Desa Gambuhan, Pulosari, Pemalang, Jawa Tengah, ramai dikunjungi warga. Rata-rata mereka penasaran dengan kondisi gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.

Seperti Syaid Adnan (26), warga Desa Gambuhan, Pulosari, Pemalang, yang sengaja datang ke pos pemantauan karena penasaran dengan kondisi gunung Slamet. Adnan ingin mengetahui apakah gunung Slamet aman-aman saja atau ada peningkatan aktivitas.

“Saya ingin tahu, terus khawatir barangkali ada dampak yang ditimbulkan dari meletusnya gunung Kelud,” kata Syaid sambil memandang gunung Slamet. Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet, Sudrajat mengatakan, hari ini, Jumat (14/2/2014), sudah puluhan warga yang datang ke tempatnya. Umumnya, mereka ingin mengetahui kondisi gunung ketinggian 3.428 Mdpl ini.

“Ya, kira-kira sudah ada 25 orang yang datang ke pos pemantauan, warga kebanyakan bertanya soal status gunung Slamet saat ini, padahal biasanya sepi-sepi saja,” ujar Sudrajat. Sudrajat menambahkan, gunung Slamet saat ini dalam kondisi normal. Menurutnya, gunung Kelud yang meletus tidak berpengaruh pada aktivitas gunung Slamet.

“Semua normal, gunung Kelud punya dapur magma sendiri, begitu juga dengan gunung Slamet, sehingga tidak berpengaruh,” jelasnya.

Sejarah Panjang Letusan Gunung Kelud Beserta Keanehannya

Gunung Kelud yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Blitar, di Jawa Timur, meletus lagi pada Kamis (13/2/2014) pukul 22.50 WIB. Letusan ini mengembalikan ciri historis panjang letusan gunung ini, yang hanya berjeda perubahan letusan pada 2007. Gunung Kelud merupakan gunung api bertipe strato. Lokasinya berada di 7 derajat 56 menit Lintang Selatan dan 112 derajat 18 menit 30 detik Bujur Timur. Gunung Kelud memiliki ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut.

Letusan terakhir Gunung Kelud sebelum Kamis ini adalah pada 3-4 November 2007. Letusan tersebut ibarat jeda dari ciri khas letusan Gunung Kelud yang biasanya adalah eksplosif, termasuk letusan sekarang. Pada 2007, hanya terjadi letusan efusif, yang memunculkan kubah lava di tengah lokasi yang dulu adalah danau kawah Gunung Kelud.

Sejarah panjang dan anomali letusan Gunung Kelud

Catatan tentang letusan Gunung Kelud terlacak sejak tahun 1000, seperti termuat dalam buku Data Dasar Gunung Api Indonesia yang diterbitkan Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral pada 2011. Ciri letusan eksplosif gunung ini setidaknya diketahui sejak 1901. Letusan pada 2007, merujuk ungkapan mantan Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Surono, adalah anomali.

“Penyelewengan” ciri khas pada 2007 itu pun menurut Surono bukan karena ada hal gaib atau tak dapat dijelaskan. Letusan pada 2007 tidak mempertontonkan letusan hebat sebagaimana setiap kali Gunung Kelud meletus lebih karena ternyata ada retakan di jalur lava gunung itu, yang membuat daya dorong letusan sudah merembes keluar. Karenanya, daya letus gunung pun jauh berkurang.

Pada 1990, letusan terakhir sebelum letusan Kamis malam, setidaknya 200 juta ton meter kubik material padat terlontar dari kawah Gunung Kelud. Sebagai pembanding, letusan Gunung Merapi pada 2010 “hanya” melontarkan 150 juta meter kubik material padat.

Ribuan korban jiwa dan terowongan Ampera

Dengan ciri letusan yang eksplosif, Gunung Kelud adalah salah satu gunung api aktif yang mencatatkan ribuan korban jiwa dalam sejarah panjang letusannya, meski dampaknya belum seluar biasa letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat ataupun Gunung Krakatau di Selat Sunda yang sampai mengguncang dunia.

Sebelum letusan pada 2007, Gunung Kelud dikenal sebagai gunung api dengan kawah berupa danau. Menurut Surono dalam sebuah wawancara, kedahsyatan dampak letusan dengan tipe kawah semacam Gunung Kelud ini akan berbanding lurus dengan volume air pada danau kawah.

Letusan efusif pada 2007, telah menyurutkan danau kawah di Gunung Kelud, hanya menyisakan genangan yang bahkan nyaris kering. Namun, sebelumnya upaya untuk menyusutkan volume danau kawah ini juga sudah dilakukan pemerintah, yaitu dengan pembangunan terowongan pembuangan air. Proyek pertama dibangun pada masa pemerintahan kolonial, pada 1926.

Terowongan tersebut dibangun setelah letusan Gunung Kelud meletus pada 1919 yang menewaskan tak kurang dari 5.160 orang. Terowongan yang dibangun pemerintah kolonial itu sempat tertutup material vulkanik pada letusan 1966 meski lolos dari kerusakan akibat letusan pada 1951. Meski letusan 1919 sudah memakan korban jiwa sedemikian banyak, letusan Gunung Kelud yang paling banyak menewaskan berdasarkan catatan yang ada adalah letusan pada 1586, dengan lebih dari 10.000 orang jadi korban.

Terowongan pengalir air dari danau kawah buatan 1926 masih berfungsi sampai sekarang. Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera. Fungsinya menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik.

Pada letusan 1990 yang berlangsung selama 45 hari, material vulkanik yang dilontarkan letusan Gunung Kelud mencapai 57,3 juta meter kubik. Namun, lahar dinginnya mengalir sampai 24 kilometer melewati 11 sungai yang berhulu di Gunung Kelud. Terowongan Ampera pun sempat tersumbat, dan revitalisasinya baru rampung pada 1994.

Letusan Gunung Kelud Tingginya Sampai 17 Kilometer

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengungkapkan, letusan Gunung Kelud, Kamis (13/2/2014) malam, mencapai ketinggian 17 kilometer. Jero meminta semua pihak tetap waspada karena material letusan menyebabkan sejumlah penerbangan terganggu. “Ketinggian letusan sampai 17 kilometer, sehingga mengganggu penerbangan,” ujar Jero seusai rapat terbatas dengan Presiden, di Kantor Kepresidenan, Jumat (14/2/2014).

Kompas.com/SABRINA ASRIL Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik Jero menjelaskan, pemerintah sudah berkoordinasi dengan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang bandara mana saja yang harus diwaspadakan akibat dampak letusan Kelud. “Meski dari pagi sudah agak mereda, saya minta tetap, yang namanya gunung api, itu alam, meski monitoring, waspadanya tidak boleh turun,” ujarnya.

Menurut Jero, sejak 2 Februari 2014, status Gunung Kelud sudah dinyatakan Waspada. Sejak itu, Bupati Malang, Bupati Kediri, dan Bupati Blitar bersama dengan Gubernur Jawa Timur mulai meningkatkan koordinasinya untuk mengantisipasi meletusnya Gunung Kelud.

Pada tanggal 10 Februari, status Gunung Kelud ditingkatkan menjadi Siaga. Dalam status ini, Jero mengatakan pemerintah terus memantau gempa tremor yang terjadi. “Hingga akhirnya pada pukul 21.15, tadi malam, Gunung Kelud berstatus Awas. Ini status paling tinggi, level empat. Persiapan makin intensif,” papar dia.

Namun, tak lama berselang, sekitar pukul 22.50, erupsi Gunung Kelud terjadi. Ia meminta masyarakat bersabar dan tetap mengikuti arahan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk bertahan di pengungsian.

“Pak Presiden sudah bicara langsung dengan gubernur, pangdam, dan semua sudah dilaporkan secara umum. Pemerintah Jatim siap menghadapi Kelud meletus. Saya harap ini menjadi suatu yang baik dan kita semua harus siaga akan apa yang harus dihadapi ke depan,” kata Jero.

Kilat dan Petir Warnai Letusan Gunung Kelud … Hujan Batu dan Abu Disejumlah Daerah

Erupsi Gunung Kelud sejak Kamis, 13 Februari 2014, pukul 22.59 WIB yang diwarnai semburan lava pijar serta lontaran abu dan kerikil hingga jarak puluhan kilometer serta sambaran kilat menyala-nyala pada Jumat menjelang subuh mulai mereda. Letusan gunung dari ketinggian 1.776 meter di atas permukaan laut (dpl) dari daerah Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, sekitar pukul 03.30 tak lagi menyaksikan semburan lava pijar.

Belum diperoleh keterangan dari pihak berwenang mengapa semburan lava pijar, kilat dan suara gemuruh disertai bunyi geluduk yang semula terdengar gaduh tiba-tiba menghilang dan suasana langit di atas Gunung Kelud seolah menjadi sunyi.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Blitar Izul Marom mengakui tidak lagi melihat aktivitas Gunung Kelud yang semula terasa “garang” dan menakutkan. Hujan kerikil sebesar batu mengguyur kawasan Gandusari. “Lalu tiba-tiba mereda, semburan lava pijar, tebaran kerikil maupun kilat jarang muncul lagi,” ujar Izul.

Hingga kumandang azan di berbagai masjid menyongsong subuh, suasana tidak lagi hiruk pikuk seperti saat baru terjadi letusan gunung, yang wilayahnya berada di Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Malang itu. Gunung Kelud yang meletus dirasa sangat mencekam oleh warga. Kejadian pada malam hari disertai lemparan material padat berupa kerikil dan pasir menambah suasana menjadi kian mencekam bagi para pengungsi. “Kejadiannya cepat sekali,” kata Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Kediri, Edy Purwanto.

Gunung Kelud meletus hanya berselang satu jam setelah ditetapkan berstatus awas. Letusan kali ini terasa sangat kuat dengan kilatan dan dentuman berulang kali. Para petughas masih berusaha mengevakuasi warga yang berada di radius 10 kilometer dari puncak Kelud. Para pengungsi itu berasal dari tiga desa yakni Sugihwaras, Sempu, dan Babadan. Mereka berkumpul di tempat-tempat pengungsian di Kecamatan Wates. Para pengungsi itu berdiam di gereja, balai desa, dan gedung sekolah yang sudah dipersiapkan sebagai tempat mengungsi.

Sekitar 5.000 penduduk di Kecamatan Ngantang dan Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, diungsikan ke sejumlah lokasi. Langkah ini ditempuh untuk menghindari dampak setelah Gunung Kelud meletus pada Kamis, 13 Februari 2014, pukul 22.50 WIB. Koordinator Umum Jangkar Kelud (Jangkane Kawula Redi Kelud) Catur Sudharmanto alias Mbah Dharmo mengatakan abu pasir dan kerikil Kelud sudah menimpa penduduk Desa Pondokagung, Kecamatan Kasembon, serta dusun-dusun di Desa Pagersari, Desa Sidodadi, Desa Ngantru, Desa Pandansari, dan Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang.

”Ini masih berlangsung hujan abu dan pasir. Guyuran batu kerikil diiringi kilat dan suara petir terus-menerus. Evakuasi penduduk terus berlangsung,” kata Mbah Dharmo kepada Tempo pada Jumat, 14 Februari 2014, pukul 00.30 WIB. Saat ditelepon, Mbah Dharmo sedang di Pondokagung, desa paling terdampak letusan Kelud di Malang. Jarak antara Pondokagung dan lokasi Gunung Kelud sekitar 20 kilometer. Lewat telepon memang terdengar suara letusan berkali-kali dan lalu-lalang kendaraan seperti berkejaran.

Menurut dia, penduduk yang diungsikan sekitar 2.500 orang dari Ngantang dan Kasembon. Proses evakuasi di Pondokagung mencakup penduduk di Dusun Mendalam (187 keluarga/717 jiwa), Dusun Gobed (335 keluarga/1.155 jiwa), Dusun Rekesan (178 keluarga/686 jiwa), Dusun Bocok (320 keluarga/1.030 jiwa), Dusun Sambirejo (122 keluarga/430 jiwa), Dusun Pondok (295 keluarga/1.013 jiwa), dan Dusun Druju (91 keluarga/301 jiwa). ”Prioritas warga yang diungsikan di empat dusun, yaitu Mendalam, Gobed, Rekesan, dan Sambirejo, karena dusun-dusun paling dekat dengan Gunung Kelud; jaraknya rata-rata 10-15 kilometer dari pusat letusan. Pokoknya dalam radius 5 kilometer harus steril dari penduduk,” kata Mbah Dharmo.

Lokasi pengungsian di Kasembon disiapkan di lapangan SMP Negeri 1, SD Negeri Sukosari 1 dan SD Negeri Sukosari 2, SMK Negeri Kasembon, serta kantor Desa Sukosari dan Desa Kasembon. Calon lokasi pengungsian ini berjarak 21-25 kilometer dari lokasi Kelud dan dinilai merupakan daerah aman dari jangkauan letusan Kelud. Sedangkan penduduk Ngantang diungsikan ke obyek wisata Bendungan Selorejo dan lapangan dekat Pasar Ngantang di pusat kota kecamatan.

Sejarah kegunungapian di Indonesia mencatat letusan Gunung Kelud yang berada di persimpangan wilayah Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang, tak pernah kecil. Bahkan sejak tahun 1000 hingga abad 20, gunung ini telah meletus sebanyak enam kali dengan jumlah korban jiwa yang cukup besar.

Data pusat informasi di Pos Pemantauan Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, menyebutkan letusan yang terjadi pada tahun 1586 telah menewaskan sedikitnya 10.000 jiwa. Jumlah tersebut adalah terbesar dalam sejarah letusan Gunung Kelud akibat minimnya teknologi kegunungapian hingga tak bisa memberikan peringatan dini. Letusan berikutnya terjadi secara berturut-turut pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966, 1990, dan 2007. Dari sekian letusan tersebut, hanya letusan tahun 2007 yang tidak menimbulkan korban jiwa. Letusan tahun 1966 memakan sedikitnya 212 korban jiwa, 74 orang hilang, dan 890 luka-luka. Sedangkan letusan tahun 1990 menelan 33 korban jiwa dan 43 orang luka-luka.

Karakter letusan Kelud sendiri cukup berbahaya. Selain terjadi secara eksplosif atau ledakan dengan tenaga sangat besar, letusannya berlangsung singkat dan tidak didahului tanda-tanda visual berupa letusan awal yang beraturan. Dimulai dari letusan kecil hingga menjadi letusan besar, selang waktu antar fase letusan sangat singkat hingga akhirnya terjadi erupsi eksplosif.

Plt Bidang Pengawasan dan Penyelidikan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Gede Suantika mengatakan, karakter letusan Kelud mulai berubah pada tahun 2007. Jika sebelumnya pola letusan Kelud selalu eksplosif, kali ini berubah menjadi efusif dengan munculnya kubah lava dari dasar kawah. “Baru kali ini Kelud efusif,” katanya. Dalam erupsi tahun 2007 tersebut tak ada korban jiwa sama sekali. Selain karena kesiapan aparat untuk mengungsikan penduduk di kawasan rawan bencana, letusan Kelud yang tak lagi eksplosif menjadi faktor keselamatan warga. Saat ini tim PVMBG sangat berharap gunung itu akan tetap melakukan erupsi secara efusif. Meski kemungkinannya cukup kecil, setidaknya bisa menekan potensi ancaman keselamatan masyarakat.

Masyarakat Yogyakarta menganggap dampak letusan Gunung Kelud lebih dahsyat ketimbang letupan Gunung Merapi pada 2010. Gunung yang berada di Provinsi Jawa Timur itu erupsi pada pukul 22.50, Kamis, 13 Februari 2014. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 03.00, hampir seluruh wilayah Yogyakarta diselimuti abu vulkanik. Akibatnya, pada Jumat pagi, ketebalan abu mencapai lima sentimeter di sejumlah titik. Seperti di Yogyakarta selatan, perbatasan Kabupaten Bantul.

“Letusan Merapi dulu saja abunya tidak sampai Gunung Kidul, ini hampir seluruh wilayah Gunung Kidul juga kena,” ujar Warta, warga Gunung Kidul kepada Tempo, 14 Februari 2014.Pardiman, penduduk Kasihan, Bantul, Yogyakarta, juga menyatakan dampak letusan Kelud lebih mengerikan dari Merapi. Meski erupsi Merapi pada 2010 dibarengi hujan kerikil dan pasir yang menyakitkan bila terkena badan. “Waktu Merapi, rasanya hujan kericil mencubiti badan. Tapi sekarang abunya tebal sekali dan kecokelatan, bikin mata sakit jika terkena,” kata Pardiman.

Sementara di wilayah Kota Yogyakarta, seluruh sekolah diliburkan akibat pekatnya abu. Sejumlah pengelola pertokoan dan minimarket pun menyatakan kehabisan stok masker. Permintaan akan masker meningkat drastis setelah Yogyakarta diguyur hujan abu. “Stok masker sudah habis sejak jam 05.00 tadi, banyak sekali warga yang mencari,” kata seorang petugas minimarket 24 jam di kawasan Sonosewu, Yogyakarta. Sampai sekitar pukul 07.30, hujan abu masih mengguyur Yogyakarta. Namun intensiasnya tak sederas dinihari tadi.

7000 Prajurit TNI Dikerahkan Untuk Amankan Jalur Pantura

Sedikitnya 7.000 prajurit di lingkungan Komando Daerah Militer IV/Diponegoro dikerahkan untuk mengamankan jalur Pantai Utara Jawa Tengah yang penuh lubang karena musim hujan dan banjir dengan memperbaikinya. “Mereka ditugaskan sejak Sabtu kemarin,” kata Kepala Penerangan Komando Daerah Militer IV/Diponegoro, Kolonel Arh Ramses L Tobing saat dihubungi, Minggu, 9 Februari 2014. “Dari Brebes sampai Rembang”.

Prajurit ditugaskan menambal sementara lubang-lubang dengan pecahan batu atau kerikil tanpa aspal. Mereka ditugaskan hingga perbaikan permanen dilaksanakan. Jika lubang terbuka lagi karena hujan, segera ditutup lagi. “Ini semacam perang melawan lubang,” tambah Ramses setengah berkelakar. Prajurit-prajurit tersebut berasal dari 11 Komando Distrik militer di sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah, satu Batalyon Zipur 9/Kostrad, satu Batalyon Zipur 4/Tanpa Kawan-dya serta satu Brigade Infanteri 4/Dewa Ratna.

Dalam pantauan Tempo di jalur Pantai Utara Demak, puluhan tentara terlihat memperbaiki jalan di Jalan Raya Karangtengah, jelang masuk kota Demak dari arah Semarang. “Sudah dua hari kami bertugas menambal lubang,” kata Pembantu Letnan Dua Saironi yang juga Wakil Komandan Komando Rayon Militer Guntur, Demak. Menurutnya setiap hari terdapat 300 tentara di jalur Pantai Utara Demak.

Sekitar 2.500 anggota Tentara Nasional Indonesia dikerahkan untuk memperbaiki kerusakan jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa. “Dari Satuan Zeni ada 1.500 orang. Dari satuan non-Zeni dan teritorial di sepanjang Pantura ada 1.000 sampai 1.200 orang,” kata Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Budiman di markas Komando Rayon Militer 05 Losari, Kabupaten Brebes, Ahad sore, 9 Februari 2014.

Dengan pengawalan ketat, sejak Ahad pagi, Budiman menyisir sepanjang jalur Pantura dari Jakarta ke Semarang. Di Jawa Barat, iring-iringan mobil Budiman dan rombongannya itu sempat berhenti di Subang, Indramayu, dan Cirebon, untuk memantau kerusakan jalur Pantura akibat banjir. Januari lalu, jalur nasional di tiga daerah itu lumpuh total selama beberapa hari akibat terendam banjir.

Di Brebes, Budiman disambut Panglima Komando Daerah Militer IV/Diponegoro Mayor Jenderal TNI Sunindyo. Selain di Brebes, Budiman singgah di Tegal. Senin, 10 Februari, Jenderal Budiman akan melanjutkan pemantauan Pantura dari Semarang sampai Surabaya. Tinjauan itu merupakan tindak lanjut kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Pekalongan pada Selasa dan Rabu lalu.

Budiman mengatakan, dalam rapat kabinet terbatas, Jumat lalu, Presiden SBY memerintahkan TNI untuk membantu Kementerian Pekerjaan Umum dalam penanganan tanggap darurat untuk jalur Pantura. “Sejak Sabtu sudah dimulai,” kata Budiman. Pejabat Pembuat Komitmen Jalan dan Jembatan Bina Marga Provinsi Jawa Tengah wilayah Losari-Brebes-Tegal, Sumarjono, mengatakan bantuan tenaga dari TNI membuat pekerjaannya lebih cepat kelar. “Biasanya material baru habis pukul 17.00. Siang tadi langsung habis karena penambalan jalan dibantu TNI,” ujar dia.

Direktur Jenderal Bina Marga Djoko Murjanto mengatakan perbaikan jalan Pantura Jawa yang rusak akibat banjir akan dimulai bulan depan. Ruas-ruas jalan tersebut rencananya akan dibeton. “Relatif lebih lebih kuat dan lebih tahan dengan beton karena design life-nya 20 tahun,” katanya saat ditemui di kompleks Kementerian Pekerjaan Umum, Jumat, 7 Februari 2014.

Namun Djoko mengatakan hanya jalan yang tanahnya stabil saja yang dapat dibeton. Djoko juga menuturkan perbaikan jalan dengan menggunakan beton yang rencananya berlangsung hingga Juni 2014 itu bukan karena banjir, tapi bagian dari perbaikan reguler. Hingga kini, jalur Pantura Jawa yang sudah dibeton baru 230 kilometer. Djoko berharap pada tahun ini perbaikan jalan sepanjang 1.300 kilometer di jalur itu dapat dilaksanakan.

Djoko mengatakan total dana untuk perbaikan jalan nasional yang rusak seluruh Indonesia Rp 2 triliun dari Ditjen Bina Marga. Namun untuk jalur Pantura Jawa, Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan dana reguler Rp 200 miliar dan dana mendesak Rp 330 miliar. “Itu masih kurang. Kami saat ini optimalkan dana yang ada. Dari dana reguler yang memang sudah kami alokasikan sebelum bencana ini (banjir),” katanya.

Daftar 19 Gunung Berapi Di Indonesia Dengan Status Waspada Akan Meletus

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Departemen ESDM, Hendrasto, mengatakan, pihaknya mencatat ada 19 gunung di Indonesia dengan status Waspada. Untuk status Siaga ada 3 gunung, serta 1 gunung dengan status Awas, yaitu Sinabung.

Menurutnya, meski baru level 1, gunung berapi pada dasarnya sudah berbahaya. “Pada normal aktif, potensi bahayanya ada pada dasar kawahnya, karena mengeluarkan gas, terutama pada malam hari,” kata Hendrasto saat memantau perkembangan Gunung Kelud di Pos Pengamatan yang ada di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (8/2/2014).

Oleh sebab itu, kata dia, pengunjung dilarang berada di lokasi kawah, atau bahkan bermalam di lokasi itu. PVMBG, dia menambahkan, selama ini sudah kerap memberikan himbauan kepada pemerintah daerah yang kawasannya terdapat gunung api.

Pada level II atau Waspada, Hendrasto menjelaskan, pemerintah memberikan rekomendasi berupa sterilisasi aktifitas manusia pada radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Fase ini menandakan mulai meningkatnya tekanan dan jumlah gas yang dikeluarkan gunung berapi.

Untuk level III atau Siaga, radius sterilisasi bisa mencapai 5 kilometer dari lokasi erupsi. Pada fase ini kadang mulai muncul letupan-letupan yang susah diprediksi. Dari serangkaian pemeriksaan instrumen kegempaan dan sebagainya, jika diprediksi dapat mengancam pemukiman, maka statusnya akan dinaikkan menjadi Awas dengan rekomendasi steril hingga radius 10 kilometer.

“Sehingga timbul pengungsian kalo sampai ke Awas. Tapi kalau letusannya kecil-kecil gak sampai Awas,” tandasnya.