Category Archives: Film

Film Film Pemenang Oscar Yang Masih Main Di Bioskop 21 Beserta Sinopsisnya

Sejumlah film Barat yang masih tayang di bioskop 21 cukup menarik untuk ditonton. Bagi Anda yang minat untuk menonton, berikut sinopsis film Barat tersebut antara lain film The Grey, Man On A Ledge, Safe House, Ides of March, The VOW, This Means War, dan Ghost Rider: Spirit of Vengeance.

THE GREY

Durasi: 117 minutes
Jenis Film : Thriller
Produser : Jules Daly, Joe Carnahan, Ridley Scott, Mickey Liddell
Produksi : LIDDELL ENTERTAINMENT, SCOTT FREE PRODUCTIONS
Sutradara : Joe Carnahan

Sinopsis
Sebuah tim yang bekerja pada pos pengeboran di Arctic mendapat kabar bahwa perusahaan akan memulangkan mereka untuk beristirahat. Akibat cuaca buruk, pesawat mereka jatuh.

Hanya sedikit yang selamat, salah satu di antaranya adalah Ottway (Liam Neeson), yang hanya pulang demi wanita yang dicintainya. Ia mengambil alih dan memimpin orang-orang dalam upaya untuk bertahan hidup dicuaca yang sangat dingin. Mereka menyalakan obor untuk menghangatkan tubuh namun hal itu menarik perhatian serigala-serigala di sekeliling mereka dan kemudian mendekati mereka..

MAN ON A LEDGE

Durasi: 102 minutes
Jenis Film : Thriller
Produser : Mark Vahradian, Lorenzo Di Bonaventura
Produksi : ENTERTAINMENT ONE
Sutradara : Asger Leth

Sinopsis
Seorang mantan polisi (Sam Worthington) yang kehilangan pekerjaannya dan akan dipenjara setelah menghadiri pemakaman ayahnya. Ia menuju ke puncak Manhattan hotel, dimana ia mengancam untuk melompat ke kematiannya
Tanpa sepengetahuan psikolog polisi yang membujuknya untuk turun, tindakannya ini bukanlah sekedar percobann bunuh diri..

SAFE HOUSE

Durasi: 117 minutes
Jenis Film : Action
Produser : Scott Stuber
Produksi : UNIVERSAL PICTURES
Sutradara : Daniel Espinosa

Sinopsis
Bosan dengan kerja dibelakang meja pos CIA di Afrika Selatan, seorang polisi (Ryan Reynolds) mengawal seorang buronan berbahaya (Denzel Washington) saat pos tersebut diserang dan dihancurkan oleh tentara bayaran
Saat ini mereka harus mencari tahu apakah para penyerang adalah teroris atau salah satu dari mereka sendiri seseorang dari kepolisian, sebelum mereka mengetahui siapa yang dapat mereka percaya

IDES OF MARCH

Durasi: 101 minutes
Jenis Film : Drama
Produser : Brian Oliver, George Clooney, Grant Heslov
Produksi : Alliance Films
Sutradara : George Clooney

Sinopsis
Seorang juru bicara muda (Ryan Gosling) tersingkir dari dunia politik, terlibat manipulasi berbahaya dan tergoda oleh seorang pegawai magang (Evan Rachel Wood) saat mereka bekerja untuk Gubernur Morris (George Clooney), yang sedang melakukan kampanye pemilihan calon presiden

THE VOW

Durasi: 104 minutes
Produser : Roger Birnbaum, Paul Taublieb, Jonathan Glickman, Gary Barber
Produksi : Columbia Pictures
Sutradara : Michael Sucsy

Sinopsis
Merayakan lima tahun pernikahan mereka, pasangan muda ini justru menghadapi tantangan terbesarnya disaat sang istri, Paige (Rachel McAdams), cedera serius dalam kecelakaan mobil yang mengakibatkan koma. Ketika aia sadar, bukan hanya dia tidak mengenali suaminya, Leo (Channing Tatum), namun ingatannya justru tertuju pada mantan tunangannya, Jeremy (Scott Speedman)

Meskipun Paige nampaknya tidak mencintai Leo lagi, semua usaha ia lakukan untuk membuat istrinya jatuh cinta dengannya lagi. Apakah usaha Leo akan berhasil?

THIS MEANS WAR

Durasi: 98 Menit
Jenis Film : Comedy
Produser : Robert Simonds, Will Smith, James Lassiter, Simon Kinberg
Produksi : 20TH CENTURY FOX
Sutradara : Mcg

Sinopsis
Dua agen CIA hebat (Chris Pine, Tom Hardy), dahulu adalah sahabat, terpisah saat mereka jatuh cinta dengan wanita yang sama (Reese Witherspoon). Daripada bekerjasama untuk memberantas penjahat, mereka justru menggunakan keterampilannya untuk mengalahkan satu sama lain

GHOST RIDER: SPIRIT OF VENGEANCE

Durasi: 96 Menit
Jenis Film : Action
Produser : Avi Arad, Michael De Luca, Steven Paul, Ashok Amritraj
Produksi : WARNER BROS. PICTURES
Sutradara : Neveldine, Taylor

Sinopsis
Johnny Blaze (Nicolas Cage), masih berjuang melawan kutukannya sebagai pemburu setan, ia dipaksa keluar dari persembunyian oleh sekte rahasia Gereja. Sekte tersebut merekrutnya untuk membantu menyelamatkan seorang anak muda (Fergus Riordan) agar tidak terjerumus kepada setan jahat (Ciaran Hinds). Satu-satunya cara bagi Johnny untuk menyelamatkan anak muda dan mungkin bahkan membebaskan dirinya sendiri dari kutukan, adalah muncul sebagai Ghost Rider.

Setelah Film Eat, Pray, Love Kini Film Hollywood I, Alex Cross Akan Syutting Di Bali

Setelah film Eat, Pray, Love (EPL) yang dibintangi Julia Robert, satu lagi film produksi Hollywood mengambil syuting di Pulau Bali.

Pengambilan ganmbar film I, Alex Cross yang disutradarai Rob Cohen disaksikan langsung Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Kompleks Villa Champuan, Desa Jasri, Kecamatan Karangsem Bali, Sabtu (22/10).

Saat dikonfirmasi di sela-sela pengambilan gambar tersebut manta Menteri Perdagangan tersebut menegaskan, jika Indonesia menginginkan berbagai produksi film terkenal dunia mengambil syuting di Bali.

“Setelah Julia Robert dengan EPL-nya, maka kini Bali mendapat kesempatan lagi dengan sebuah film terkenal Hollywood lainnya berjudul I. Alex Cross, yang mengambil gambarnya di Bali. Walaupun durasinya lebih pendek dibanding dengan EPL-nya Julia Robert, tetapi tetap memberikan dampak besar bagi Bali,” ujarnya.

Untuk mempermudah pengambilan gambar di Indonesia, Kementerian Pariwisata akan mempermudah seluruh proses perizinan pengambilan gambar tersebut. “Selama ini memang banyak keluhan soal regulasi yang berbelit-belit, namun ke depannya kita akan menerapkan proses satu pintu selesai. Kita ingin agar banyak film besar produksi Hollywood syuting di Bali dan di Indonesia umumnya karena ini akan memberikan dampak yang luar biasa bagi Indonesia dan Bali khususnya,” ujarnya.

Film tersebut dibintangi Matthew Fox, Edward Burns, Rahel Nichols, Jessalyn Wanlim. Pengambilan gambar dilakukan selama 40 hari di Amerika Serikat dan tiga hari di Karangasem. Film ini melibatkan 35 tenaga lokal dan 20 pemain lokal yang berperan sebagai polisi.

Dalam film tersebut dikisahkan Alex Cross, seorang detektif sedang memburu penjahat yang membunuh isterinya. Ternyata, sang pembunuh tersebut menghindari dari sang detektif hingga ke Bali. Penjahat yang diperankan Jean Reno akhirnya tertangkap di sebuah villa yang ada di sebuah pedesaan di Karangasem Bali.

Film Dokumenter Mengenai Kemiskinan Di Indonesia Masuk Dalam Nominasi Oscar

Film dokumenter tentang Indonesia Stand van de Sterren (posisi bintang gemintang) yang dibuat sineas Belanda, Leonard Retel Helmrich, berhasil lolos nominasi Oscar. Bagi sineas Belanda sendiri, ini prestasi besar dalam industri perfilman Belanda. Soalnya, belum pernah ada seorang sineas “Negeri Kincir Angin” itu yang lolos nominasi Oscar kategori tersebut. Untuk Indonesia, baru kali inilah sebuah film dokumenter bertema keluarga Indonesia masuk ke Piala Oscar.

Selama kurang lebih 12 tahun, Pembuat film Leonard Retel Helmrich meneliti kehidupan Bangsa Indonesia dengan ikut tinggal dari daerah kumuh Jakarta. Sama seperti sebelumnya dua Film sebelumnya tentang kemiskinan dan kesenjangan hidup Bangsa Indonesia telah banyak memenangkan penghargaan Internasional. Film yang terakhir berjudul “Stand van de Sterren” adalah Film Trilogi dari dua film sebelumnya “Stand van de Zon” dan “Stand van De Maan”, Sang Pembuat Film terus menunjukkan pola yang mendasari kehidupan di Indonesia yaitu “KORUPSI DAN KEMISKINAN”, Film Trilogi ini sudah mendapatkan penghargaan seperti :

- Winner of ‘Best International Documentary’ IDFA 2010
- Winner ‘Special Jury Award’ SUNDANCE 2011
– Winner ‘Big Stamp’ ZagrebDocs 2011
– Winner ‘Special Jury Mention’ Silverdocs 2011

Kerja apik tim membuat kerja kamera menjadi sangat revolusioner. Diceritakan dalam Film tersebut sebuah Keluarga Indonesia yaitu Sjamsuddin merupakan gambaran masalah yang paling penting dari kehidupan di Indonesia seperti Korupsi, Kemiskinan, Pelacuran, konflik antar agama, kecanduan judi, kesenjangan generasi dan perbedaan tumbuh antara miskin dan kaya.

Bangsa Indonesia yang terlena dengan mimpi-mimpi rakyat miskin untuk menjadi kaya, susahnya mencari kehidupan di Ibukota, ancaman putus sekolah, menjadi pelacur, meningkatnya ketidak percayaan rakyat kepada Pemerintah karena pemerintah asyik memperkaya diri sendiri dan kroni-kroninya dari berbagai orde baik orde lama, orde baru hingga orde reformasi, Gerakan anti pemerintah yang terus mengakar di Indonesia, Isu revolusi, sehingga maraknya terorisme adalah akibat dari kajahatan yang telah tersistemkan Pemerintah, kemudian seruan jihad untuk melawan pemerintah yang menjajah bangsa sendiri, jihad ekonomi melawan kemiskinan terus berkumandang menjadi tema sentral dalam film Stand Van De Sterren ini.

Dahsyatnya lagi adalah setelah mendapatkan penghargaan-penghargaan Internasional kini film tersebut mampu menembus nominasi penghargaan film bergengsi dunia, Piala Oscar .

Film dokumenter ini masuk nominasi Academy Award kategori film dokumenter panjang. Bagi Sineas Belanda sendiri, Film ini adalah prestasi besar dalam industri perfilman Belanda. Belum pernah ada seorang sineas negeri kincir angin itu lolos nominasi Oscar kategori tersebut. Begitupun untuk Indonesia, karena baru kali ini sebuah film dokumenter bertema keluarga Indonesia masuk ke Piala Oscar.

Video Lengkap Pesta Seks 3 in 1 Berjudul Anak % 20 Baru Bogor

TIM khusus Reskrim Polres Bogor Kabupaten Jawa Barat memburu pelaku utama penyebaran video pesta seks yang menyebar di masyarakat, setelah berhasil menangkap dua dari tiga wanita pemeran video tersebut. “Pelaku utama berinisial NK, dari hasil penyelidikan pelaku berasal dari Jakarta,” kata Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP, Imron Ernawan, di Cibinong, Sabtu (16/7).

AKP Imron mengatakan, tim khusus telah diterjunkan untuk memburu pelaku yang diduga berada di Jakarta. Untuk memudahkan penyelidikan, Polres Bogor juga akan berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Dijelaskannya, pembentukan tim khusus sengaja dilakukan oleh Kapolres untuk mengungkap pelaku pembuatan dan penyebar video porno yang berisi adegan pesta seks pasangan muda-mudi yang telah meresahkan masyarakat.

Alhasil dalam waktu tiga minggu pasca maraknya penyebaran video tersebut melalui bluetooth telepon seluler masyarakat, Tim Khusus Reskrim Polres Bogor berhasil menangkap dua dari tiga pemeran wanita dalam video tersebut.
Kedua wanita masing-masing berinisial SH usia 20 tahun dan CH usia 21 tahun. “Keduanya merupakan warga Kabupaten Bogor,” kata Imron.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara dan pengakuan kedua wanita tersebut, Imron menyebutkan, video tersebut dibuat pada tahun 2006 di sebuah Villa Taman Sari kawasan Kaki Gunung Salak, Kabupaten Bogor. “Mereka mengaku tidak tahu dengan pembuatan video ini, mengakunya mereka hanya difoto. Keduanya masih kita jadikan saksi, belum dilakukan penahanan, hanya wajib lapor saja,” kata Imron.

Imron mengatakan, pihaknya belum bisa menetapkan pasal terhadap dua wanita karena pelaku utama belum tertangkap.
Bila pelaku utama pembuat dan penyebar video tersebut berhasil ditangkap, maka tidak menutup kemungkinan ke dua wanita yang berperan dalam video panas tersebut juga akan terjerat Undang-Undang Pornografi dan UU ITE, serta KUHP.
“Mereka bisa dijerat pasal 55 KUHP karena turut serta dalam perbuatan asusila,” kata Imron.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, video pesta seks berdurasi 5 menit 48 detik, berjudul “Anak % 20 Baru Bogor” dengan format 3 gp. Rekaman video itu kini mulai menyebar dari satu warga ke warga yang lain melalui handphone genggam yang disebar lewat bluetooth, pada Rabu (29/6) lalu. Berdasarkan informasi yang diperoleh, video tersebut berisikan adegan pesta seks seorang pria dengan tiga wanita sekaligus.

Semua Dewan Juri Baru FFI 2010 Di Pecat Oleh Panitia

Setelah memberhentikan dengan hormat Dewan Juri FFI 2010 yang diketuai Jujur Prananto, Komite FFI mengangkat Dewan Juri baru sebagai pengganti Rabu ( 1/12) malam. Dewan Juri baru yang terdiri atas lima orang anggota Komite Seleksi lama plus dua orang baru, yaitu musisi Areng Widodo dan aktor Alex Komang. Mereka mulai menilai film secara marathon sejak tadi malam dan akan berakhir malam ini. Jumat (3/12) hasil keputusan mereka akan diumumkan dalam acara Dahsyat di RCTI. Sedangkan Awarding FFI tetap sesuai jadwal, Senin (6/12) malam di Central Park, Jakarta. Acara itu disiarkan langsung oleh RCTI.

Koordinator pengarah KFFI, Deddy Mizwar mengemuakan itu Kamis pagi kepada wartawan media online Cek& Ricek. ” Itulah yang maksimal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kemelut FFI tahun ini. Semua pihak legowo menerima putusan tersebut,” tambahnya.

Ihwal kemelut FFI 2010 diakui Deddy Mizwar bersumber dari buku Pedoman FFI yang disusun oleh KFFI. Tidak ada pasal secara jelas mengatur hubungan antara Komite Seleksi dengan Dewan Juri. Mula mula Komite Seleksi keliru menetapkan hanya delapan film yang lolos seleksi padahal seharusnya sepuluh. Sedangkan Dewan Juri menilai film lain selain yang sudah ditetapkan oleh Komite Seleksi.

Sampai menjelang pengumuman Nominasi di Batam, Dewan Juri tetap pada pendirian walau KFFI telah meminta mereka hanya menilai sepuluh judul film. Terjadilah deadlock hingga Nominasi batal diumumkan, ditunda hingga Jumat tanggal (3/12).

Sepanjang sejarah FFI yang dimulai pada tahun 1955, inilah petama kalinya Dewan Juri yang diangkat dipecat sendiri oleh panitia.

Tayangan Ramadhan Di Televisi Sangat Jauh Dari Nilai Nilai Agama Islam Tetapi Lebih Berisikan Humor Kasar dan Mengumbar Seks

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) menilai tayangan televisi selama Ramadhan lebih bersifat ilusi dan manipulatif.

“Tayangan-tayangan televisi selama Ramadan dapat disimpulkan lebih bersifat ilusi dan manipulatif ketimbang edukatif,” kata Ketua Tim Peneliti LPPM Stikosa-AWS, Yayan Sakti Suryandari, di Surabaya, Rabu.

Dari semua program televisi yang diteliti selama kurun 27 Agustus-3 September 2010, kata dia, LPPM menyimpulkan bahwa tayangan yang diprogramkan secara khusus pada bulan puasa banyak ditemukan tidak memiliki korelasi dengan tematik Islam dan Ramadhan itu sendiri.

Ia mengemukakan program Ramadhan terjadi dalam dua latar, penempatan tayangan-tayangan komedi di masa sahur maupun masa berbuka puasa mengindikasikan terjadinya dislokasi konten acara.

“Dislokasi itu terlihat dari substansi topik yang diangkat oleh sebagian besar acara tersebut yang kebanyakan amat lemah relevansinya dengan persinggungan tematik Islam dan Ramadhan,” kata dosen Pascasarjana Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

Tayangan dengan masa prime time sahur dan berbuka puasa, terutama yang memilih genre komedi, ternyata banyak melanggar dengan berbagai kekerasan verbal, kekerasan fisik, seksualitas, dan distorsi penafsiran ajaran agama.

Analisis mengenai dunia komedi di Indonesia belakangan ini, menurut Yayan, merupakan pola humor tertentu yang telah memengaruhi sedemikian dalamnya program pertelevisian yang sukar dicarikan alternatifnya, yakni humor-humor yang kasar.

“Sesungguhnya hal ini gejala baru dalam pertelevisian kita, setelah humor-humor saru yang populer sejak Warkop Grup pada dekade 1980-an. Pola humor yang kasar tersebut tumbuh semakin meluas dan mendalam sehingga kehadirannya selalu dikehendaki pasar,” katanya didampingi dua peneliti muda, Rendy Pahrun Wadipalapa dan Putri Aisyiyah.

Kecenderungan umum dari diambilnya genre komedi oleh televisi komersial menunjukkan persoalan yang tidak kunjung tuntas dari tahun ke tahun.

Bahkan, kecenderungan lain dari metamorfosa tayangan komedi saat ini adalah digunakannya kekerasan verbal dan kekerasan fisik sebagai menu utama yang dijual dalam suatu program komedi, di samping menu seksualitas.

Kekerasan verbal terwujud dalam lontaran kasar yang dapat berupa olokan atau celaan, dan ditujukan kepada individu dalam program komedi tersebut, sedangkan kekerasan nonverbal dapat mewujud pada adegan perilaku, baik spontan maupun tidak, yang mengarah pada kekerasan.

Yayan menambahkan, penempatan acara-acara yang tidak berhubungan dengan substansi Ramadhan pada prime time menunjukkan orientasi industri pertelevisian yang tidak memedulikan substansi religiusitas, melainkan rating pemirsa.

“Yang paling membahayakan dari semua ini adalah gagalnya industri pertelevisian kita melihat bahwa pada masa sahur dan berbuka puasa, maka seluruh kategori usia dapat berkumpul bersama,” kata dia.

Dengan kata lain, lanjut dia, seluruh humor kekerasan dan seksis telah dikonsumsi oleh segala usia, termasuk di dalamnya anak-anak.

Ia menambahkan, di sini pula tampak kegagalan regulator dalam mendesak tayangan pertelevisian agar taat asas dengan memahami faktor jam tayang sebelum menentukan programnya, patut dikritisi lebih lanjut.

Ia mencontohkan tayangan “Saatnya Kita Sahur” pada salah satu episode tampak adegan Laudya Cintya Bella sedang berjoget bersama para penonton laki-laki dengan diiringi lagu “Senggol-Senggolan”.

“Maka yang menjadi pertanyaan, apakah layak hal demikian ditayangkan untuk menemani sahur dengan label tayangan spesial Ramadhan,” kata Ketua Jurusan Komunikasi FISIP Unair itu.

Demikian pula dalam sinetron. Eksploitasi simbol-simbol agama dalam tayangan sinteron, baik sinetron yang khusus diproduksi untuk Ramadhan maupun sinetron kejar tayang, hanya mengubah tampilan lebih islami selama bulan Ramadhan.

Dalam penelitian itu, Yayan dan kawan-kawan mengamati tayangan TV One dan Metro TV. Menurut dia, kedua televisi swasta itu memiliki program tayangan Ramadhan sesuai dengan tema dan substansi kajian keislaman.

Sementara TV swasta lainnya cenderung memperlihatkan ketidakpekaan media terhadap Ramadhan.

MUI Keluarkan Fatwa Haram Infotaiment

Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang status haram isi program infotainment tak otomatis mengharuskan sensor terhadap produk infotainment.

Infotainment adalah produk yang disiarkan melalui penyiaran televisi, dan penyiaran televisi tunduk kepada Undang-Undang (UU) Penyiaran. Sementara UU Penyiaran Pasal 47 dengan eksplisit menyatakan, program siaran yang wajib memperoleh tanda lulus sensor hanyalah film dan iklan.

Maka cukup jelas, sensor tidak dapat dilakukan terhadap produk siaran di luar film dan iklan. Sungguhpun, misalnya, disepakati infotainment bukan bagian dari jurnalisme dan merupakan program hiburan murni, sensor tidak otomatis dilakukan terhadapnya.

Sensor terhadap program infotainment hanya dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengamandemen pasal-pasal sensor dalam UU Penyiaran. Revisi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) pun tidak memadai untuk memperluas lingkup sensorship terhadap produk siaran.

Dengan demikian, sensorship semestinya tidak menjadi isu utama dalam diskusi status infotainment, termasuk dalam kaitannya dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia. Dibutuhkan langkah-langkah legislasi yang sangat jauh untuk sampai pada keputusan infotainment harus disensor sebelum ditayangkan.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia penting sebagai titik pijak untuk mengidentifikasi sisi-sisi yang harus segera dirombak dalam sudut-pandang, referensi, dan cara kerja industri infotainment sedemikian rupa agar produk yang dihasilkan kompatibel dengan nilai-nilai keutamaan publik dan berdampak positif pada pengembangan keadaban masyarakat.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia adalah cermin kegelisahan masyarakat terhadap kecenderungan dominan infotainment untuk menayangkan hal-hal yang menarik, sensasional, dan memenuhi rasa ingin tahu pemirsa, tanpa mengindahkan kelayakannya bagi ruang publik sebuah masyarakat yang sangat majemuk dalam hal nilai, budaya, dan kepercayaan.

Lebih spesifik lagi, Majelis Ulama Indonesia mengharamkan penayangan berita bermuatan gosip, bohong, isapan jempol, dan berita yang membuka aib orang lain.

Pesan moral

Pesan moral yang perlu digarisbawahi di sini adalah tayangan televisi, khususnya infotainment harus ditata berdasarkan kepantasan dan kelayakan ruang publik. Tayangan-tayangan tentang kisah selebriti memang digemari pemirsa televisi dan rata-rata meraih kepermirsaan (rating) yang cukup tinggi.

Namun, fungsi ruang publik media jelas bukan hanya menyajikan sesuatu yang sensasional dan banyak ditonton khalayak. Kalaupun yang demikian ini yang disajikan di ruang televisi, tetap harus dipastikan relevansinya untuk kepentingan pemirsa, kesesuaiannya dengan realitas norma-norma masyarakat.

Sebagai seruan moral, fatwa Majelis Ulama Indonesia di atas perlu mendapatkan apresiasi. Kegelisahan yang sama sesungguhnya juga muncul dalam komunitas agama yang lain.

Persoalannya kemudian, siapa yang harus menampung kegelisahan unsur-unsur masyarakat tentang infotainment? Semua pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia, pasti memahami bahwa Komisi Penyiaran Indonesia-lah yang mempunyai otoritas untuk mengatur produk-produk penyiaran. Komisi Penyiaran Indonesia-lah yang harus menampung kegelisahan, aspirasi, dan seruan moral tentang infotainment dan mewujudkannya ke dalam produk kebijakan yang operasional. Khusus untuk lingkup jurnalisme penyiaran televisi dan radio, Komisi Penyiaran Indonesia akan berkoordinasi dan bekerja-sama dengan Dewan Pers.

Namun, perlu digarisbawahi, sesungguhnya ada paralelisme dalam pandangan Majelis Ulama Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia, dan Dewan Pers tentang nilai-nilai utama dunia penyiaran. Ketiga lembaga ini concern, ruang publik media harus selalu identik dengan sesuatu yang penting, substansial, dan relevan bagi kehidupan publik.

Kepentingan Komisi Penyiaran Indonesia adalah memastikan bahwa ruang publik penyiaran mencerminkan kemajemukan nilai dalam masyarakat, ramah keluarga, tidak bias gender, tidak diskriminatif, menghibur, tetapi juga memberikan nilai tambah kepada masyarakat.

Komisi Penyiaran Indonesia bertugas untuk memastikan bahwa hubungan antara stasiun televisi dan pemirsanya bukan sekadar hubungan produsen-konsumen informasi, tetapi terutama hubungan antara ”pemilik” dan ”peminjam” kekayaan publik. Kekayaan publik yang dimaksud adalah gelombang elektromagnetik.

Sejauh praktik penyiaran masih bergantung pada penggunaan gelombang elektromagnetik, media penyiaran jelas bukan murni entitas bisnis. Selain berfungsi sebagai institusi bisnis, media penyiaran tetaplah institusi sosial yang harus mengabdi kepada nilai-nilai kepublikan: pencerdasan, pemberdayaan, pengawasan, dan solidaritas sosial.

Dewan Pers berada pada posisi untuk menegaskan bahwa fungsi jurnalisme bukan hanya menyajikan sesuatu yang banyak ditonton khalayak. Fungsi jurnalisme terutama adalah bagaimana mengolah dan menyajikan hal-hal yang penting dan mendesak bagi publik sedemikian rupa sehingga menjadi tampilan yang menarik bagi khalayak.

Jurnalisme pertama-tama harus dipahami sebagai sebentuk idealisme untuk memberdayakan suara masyarakat dengan memberikan ruang diskusi yang interaktif, dengan menyediakan informasi dan fakta yang relevan dan bertolak dari kode etik jurnalistik. Jurnalisme juga bukan semata-mata persoalan proses mencari, mengolah, dan menyajikan informasi, tetapi juga persoalan penerapan standar-standar universal dan lokal ke dalam proses tersebut dan kepada produk akhirnya.

Maka, jurnalisme selalu mengajukan pertanyaan, apakah nilai yang dibagikan kepada publik ketika media menyajikan kisah seputar gosip dan kehidupan privat selebriti? Apa penyajian tersebut telah kompatibel dengan nilai berita, etika media, dan kepantasan di ruang publik? Demikianlah lebih kurang batu uji bagi semua tayangan televisi untuk mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari jurnalisme.

Agus Sudibyo Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat Dewan Pers

Seribu Wajah Dunia Intelejen Dalam James Bond Quantum of Solace

Dunia intelijen selalu diidentikkan dengan sesuatu yang serba rahasia dan tak kasatmata orang awam. Orang hanya tahu (atau merasa tahu) apa yang terjadi di dunia itu melalui komik, buku, novel, dan tentu saja film.

Pekan ini, salah satu tokoh paling terkenal di dunia intelijen kembali mengunjungi para penggemarnya di layar lebar. Dialah James Bond, agen khusus nomor 007 dari MI-6, dinas rahasia spesialis urusan luar negeri Kerajaan Inggris Raya.

Diberi judul Quantum of Solace, ini adalah film kedua yang menampilkan Daniel Craig sebagai pemeran utama dan film James Bond ke-22 sejak tokoh rekaan novelis Ian Fleming itu pertama kali difilmkan tahun 1962.

Tidak seperti sebagian besar film Bond lainnya, yang tidak berkaitan satu sama lain, Quantum of Solace adalah kelanjutan atau sekuel dari film sebelumnya, Casino Royale (2006). Bond bertekad membalas dendam kepada organisasi kriminal rahasia yang telah membunuh kekasihnya, Vesper Lynd (Eva Green), dalam film Casino Royale.

Meski masih diwarnai adegan kebut-kebutan, tembak-tembakan, dan pukul-pukulan khas film Bond, dua film termutakhir tersebut menampilkan sosok James Bond dan semangat film yang berbeda. Mulai dari sosok Bond yang sekarang berambut pirang (sejak diperankan Sean Connery hingga Pierce Brosnan, Bond selalu berambut hitam) hingga karakternya yang lebih dingin dibandingkan Bond sebelumnya.

Manusiawi

Tak ada lagi Bond yang ganteng kinclong, flamboyan (bahkan kadang genit), dan punya banyak pacar di sana-sini. Bond yang diperankan Craig tetap bertemu cewek-cewek cantik dan seksi, tetapi tidak untuk diumbar buat pacaran. Bahkan, Camille, cewek Bond dalam Quantum of Solace yang diperankan foto model asal Ukraina, Olga Kurylenko, tidak sempat dipacari (apalagi ditiduri) oleh Bond hingga akhir film.

Tak ada pula berbagai gadget spionase khas James Bond, seperti mobil Aston Martin yang bisa menembakkan rudal atau menyelam, jam tangan yang bisa mengeluarkan sinar laser dan tali penyelamat, atau kacamata sinar X. Aston Martin DBS yang dipakai Craig pun sudah hancur sejak adegan kebut-kebutan di awal film dan tak muncul lagi hingga film usai.

Secara keseluruhan, EON Productions—perusahaan yang membuat seri film layar lebar James Bond sejak Dr. No (1962)—tampak ingin menampilkan karakter tokoh dan film Bond yang lebih manusiawi. Dan, yang lebih manusiawi seperti ini terasa lebih mendekati kenyataan.

Bond tak ditampilkan lagi sebagai sosok setengah super yang bisa melakukan apa saja, kapan saja, dan di mana saja, tanpa mendapat konsekuensi apa-apa. Bond yang diperankan Craig adalah seorang agen rahasia yang bisa terluka, bisa jatuh cinta, bisa dikhianati, bisa memendam dendam, bahkan bisa dipecat dari pekerjaannya.

Bagi penggemar James Bond tradisional, hal ini bisa menjadi hal yang mengecewakan. Namun, sebagai sebuah karya film utuh, film-film Bond yang sekarang menjadi terasa lebih berwarna dan bermakna dibandingkan film-film sebelumnya.

Lebih ”nyata”

Khususnya bagi penggemar film dan cerita bertema spionase, sosok James Bond lama tak ubahnya seperti tokoh komik kartun karena terlalu meromantisasi kehidupan dunia intelijen yang sangat jauh dari kenyataan sesungguhnya.

Terlepas dari betapa sumirnya definisi ”kenyataan sesungguhnya” dalam konteks dunia intelijen, nyatanya beberapa tahun belakangan ini bermunculan film bertema spionase yang digarap lebih serius dan tak melulu menempatkan tokoh utamanya sebagai sosok pahlawan yang tak terkalahkan.

Hanya berselang beberapa pekan sebelum Quantum of Solace dirilis, ada film Body of Lies arahan sutradara Ridley Scott yang mengisahkan aksi seorang agen rahasia CIA dalam membongkar jaringan teroris Al Qaeda di Timur Tengah. Sang agen bernama Roger Ferris (Leonardo DiCaprio), digambarkan sangat lusuh dan tidak dibekali peralatan canggih apa pun kecuali telepon seluler dan menjadi histeris saat hampir dipenggal kepalanya.

Dalam trilogi Bourne (Bourne Identity [2002], Bourne Supremacy [2004], dan Bourne Ultimatum [2007]) dikisahkan seorang produk eksperimen gagal CIA bernama Jason Bourne (Matt Damon) yang hendak dibunuh untuk menghilangkan barang bukti. Bourne menampilkan sudut pandang musuh saat harus menghadapi aksi CIA yang didukung sumber daya hampir tak terbatas.

Matt Damon juga bermain dalam film bertema spionase lain, yakni sebagai Edward Wilson, salah satu kepala operasi rahasia CIA dalam film The Good Shepherd (2006). Film ini mengisahkan sisi lain seorang agen rahasia yang menghadapi dilema antara mengutamakan tugas negara dan mementingkan keutuhan serta keselamatan keluarganya.

Cerita tentang konflik internal di CIA juga ditampilkan dalam Spy Game (2001) dan The Recruit (2003). Film-film ini menggambarkan bagaimana dalam sebuah dinas rahasia sebesar CIA pun masih dimungkinkan terjadinya kebocoran atau pengkhianatan.

Sutradara Steven Spielberg pun pernah mengangkat kisah nyata para agen rahasia Mossad dari Israel dalam film Munich (2005). Dalam film itu dikisahkan bagaimana membunuh seseorang tidak pernah menjadi perkara yang mudah dan sepele.

Film-film Hollywood telah menampilkan seribu wajah dunia intelijen. Tinggal terserah kita, mana yang akan kita percayai sebagai wajah dunia rahasia sesungguhnya.

Game James Bond Terbaru Quantum of Solace Menegangkan dan Realistis

Saat para penggemar tak sabar menanti peluncuran film terbaru James Bond, Quantum of Solace, para pencinta game pun harap-harap cemas. Bukan karena ingin ikut antre pemutaran perdana film itu di bioskop-bioskop. Bersamaan dengan peluncuran film tersebut 31 Oktober nanti, versi video game film ini akan dipasarkan.

Sesuai dengan filmnya, Quantum of Solace: The Game juga akan dipenuhi aksi nekat si agen rahasia Inggris itu. Bahkan game ini akan memperkenalkan Bond, yang dikenal dengan nomor sandi 007, yang lebih berbahaya, mematikan, dan licin dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Game bergenre laga ini memadukan secara intens aksi orang (pemain) pertama dengan sistem perlindungan dari orang ketiga. Menurut pengembangnya, Quantum of Solace: The Game akan menggerakkan naluri para gamer ke sebuah pengalaman sinematis dari aksi spionase internasional.

Pemain akan diajak untuk benar-benar merasakan pengalaman Daniel Craig, pemeran 007 yang dalam filmnya selalu dikelilingi para wanita cantik. Bagaimana si agen ini menyusup ke dalam pesta mewah, juga ketika ia sembunyi-sembunyi dan menembak musuh dengan tepat saat menjalankan misi. Karakter Bond dalam game ini juga dibuat mirip dengan si aktor tersebut.

Desain dan efek suara game ini juga dirancang seperti benar-benar berada di tengah pertempuran bersenjata, diselingi ledakan-ledakan masif. Bukan cuma itu, latar lokasi Bond “versi digital” ini juga layaknya di film karena memang dipotret dari lokasi-lokasi pengambilan gambar film itu, di Montenegro, Venesia, Bolivia, hingga Austria.

Sepanjang sejarah, seri game Bond 007 memang selalu laris terjual. Seperti game N64 GoldenEye, versi game film Golden Eye yang diputar pada 1995, terjual lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia setelah dirilis pada 1997. Dengan moda multiplayer deathmatch, game itu dianggap sebagai salah satu game berjenis first-person shooters terbaik.

Adam Gascoigne, salah satu perancang game Quantum of Solace, berharap game yang pembuatannya memakan waktu dua tahun ini dapat mengulang sukses GoldenEye. Quantum of Solace bahkan lebih mudah dimainkan.

Menurut Gascoigne, game ini awalnya dikembangkan berdasarkan seri film Bond sebelum Quantum of Solace, yakni Casino Royale (2006). Ketika merancangnya, pada akhir 2007, tim mendapat konsep skenario Quantum dari penulisnya, Paul Haggis. Jadilah game ini perpaduan kedua film tersebut. Karena itu, “Game ini juga tentang bagaimana Bond berpakaian, kelakuannya, dan minuman apa yang ia sukai,” ujarnya.

Sebelum diluncurkan ke pasar, game yang dipenuhi aksi tembak-menembak ini rupanya sudah menjaring banyak penggemar, terutama mereka yang dalam kehidupan nyata bekerja di industri layanan keamanan. Seperti Will Geddes, ahli pencegahan aksi teror. “Saya adalah gamer seperti banyak orang bekerja di industri pengamanan,” ujar Geddes, yang kini mengepalai firma keamanan miliknya sendiri.

“Kepala kami diisi dengan pekerjaan karena kami bekerja 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Karena itu, Anda harus mengistirahatkan beban di kepala Anda dengan bermain game seperti ini,” katanya.

Quantum of Solace disokong game engine Call of Duty 4: Modern Warfare untuk mengantar grafis definisi tinggi yang superior kepada para pengguna. Game yang diluncurkan untuk konsol Xbox 360 ini akan tersedia di gerai-gerai game mulai 31 Oktober di Eropa, dan di Amerika pada 4 November.

Deathmatch: Moda permainan video game yang umum digunakan dalam game laga multiplayer. Pemenangnya adalah pemain yang membunuh paling banyak ketika pertandingan usai.

HellBoy Kalah Menarik dan Populer

Hellboy, anak setan yang menjadi superhero penyelamat manusia, kembali dengan misi menyelamatkan bumi dari rencana jahat Pangeran Nuada dalam film lanjutan Hellboy II: The Golden Army.

Nuada (diperankan Luke Goss) adalah putra mahkota Raja Balor, raja peri yang pernah membuat perjanjian damai dengan umat manusia. Nuada berniat melanggar perjanjian itu dan ingin memusnahkan manusia di muka bumi dengan mengerahkan Pasukan Emas. Rencana itu dihambat saudari kembarnya, Putri Nuala (Anna Walton), yang enggan menyerahkan peta dan kunci tempat penyimpanan Pasukan Emas.

Hellboy (masih diperankan Ron Perlman) dan para agen Biro Pertahanan dan Riset Paranormal (Bureau for Paranormal Research and Defense/BPRD) diperintahkan untuk menghentikan rencana jahat Nuada itu.

Selain dibantu pacarnya, Liz Sherman (Selma Blair), dan sahabatnya, Abe Sapian (Doug Jones), Hellboy juga dibantu Johann Krauss (John Alexander), makhluk protoplasma dari Jerman yang mengenal seluk-beluk dunia peri ini.

Dalam usaha perburuan Nuada ini, Abe jatuh cinta kepada Putri Nuala, sementara Hellboy nyaris terbunuh setelah terkena tombak Nuada. Hellboy dihadapkan pada kenyataan bahwa sosoknya tetap tidak diterima di lingkungan manusia meski ia bertaruh nyawa untuk menyelamatkan mereka. Ia sempat tergoda untuk kembali ke dunianya yang sesungguhnya, yakni dunia setan dan makhluk gaib, dan berbalik melawan manusia.

Namun, Hellboy diyakinkan untuk menyelesaikan misinya setelah Liz mengungkapkan rahasia. Cerita selanjutnya bisa ditebak, Hellboy dan kawan-kawan menghadapi pertempuran terakhir dengan Nuada yang berhasil membebaskan Pasukan Emas.

Dari segi cerita, Hellboy II masih kalah menegangkan dibandingkan film pertama, Hellboy (2004), yang lebih menggambarkan pertempuran batin Hellboy saat harus memilih antara dunia setan dan dunia manusia.

Di luar itu, film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru, kecuali jorjoran menampilkan berbagai sosok makhluk gaib. Sosok-sosok makhluk gaib di Pasar Peri, misalnya, justru mengingatkan pada makhluk alien yang lazim ditemui di film tentang angkasa luar, seperti Star Wars, Star Trek atau Babylon 5.