Category Archives: Gempa Bumi

10 Buah Pusat Gempa yang Siap Hantam Kota Jakarta

Ketua Tim Revisi Peta Gempa Indonesia, Masyhur Irsyam, mengatakan terdapat kurang lebih sepuluh sumber gempa di sekitar wilayah DKI Jakarta. “Sumber terbesar diperkirakan berada di Selat Sunda,” kata Masyhur di Gedung Krida Bhakti, Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 17 April 2012.

Menurut Masyhur, sumber gempa di Selat Sunda diprediksi mencapai 8,4 skala Richter pada awal pembuatan peta gempa itu. “Bisa lebih. Bahkan, ada yang menyebut 8,7 skala Richter dan 9 skala Richter,” ujar Ketua Pusat Penelitian Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung ini.

Masyhur menyatakan sepuluh sumber gempa itu berada di luar wilayah Jakarta. Ia mengaku belum tahu ihwal keberadaan sumber gempa dalam wilayah Jakarta. “Belum ada bukti otentik ada atau tidaknya sumber gempa di Jakarta,” kata anggota Tim Penasihat Konstruksi Bangunan DKI Jakarta ini.

Mengenai keselamatan bangunan tinggi di Jakarta, Masyhur mengatakan bangunan akan tahan menghadapi guncangan gempa jika bangunan itu direncanakan, diawasi, dan dikelola dengan mengikuti kaidah dan tata perencanaan yang berlaku. Kaidah perencanaan itu merupakan standar penghitungan kekuatan bangunan terhadap besarnya daya gempa. “Yang masalah adalah apabila (bangunan) tidak mengikuti kaidah,” katanya.

Sementara untuk bangunan satu lantai, misalnya rumah, pemerintah juga akan mendorong bangunan itu mengikuti peraturan baru mengenai bangunan tahan gempa. “Kami berharap Pemerintah Daerah memberikan syarat kepada bangunan agar IMB (Izin Mendirikan Bangunan) mulai diketatkan untuk menjamin bahwa hanya bangunan tahan gempa yang dibangun,” ujar Masyhur.

Menurut Masyhur, kebijakan seperti itu tidak hanya ditujukan untuk Jakarta, tetapi juga untuk seluruh wilayah lain di Indonesia. Soalnya, semua wilayah Indonesia berpotensi diguncang gempa. “Hanya bergantung besar-kecil guncangannya,” ucap dia.

Gempa Hebat Skala 6 Ritcher Guncang Banten dan Jakarta Selama 20 Detik

Gempa berkekuatan 6,0 Skala Richter terjadi di Pandeglang, Provinsi Banten, pada Minggu, pukul 02.26 WIB. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika gempa berpusat di 95 kilometer barat daya Pandeglang pada kedalaman 10 kilometer. Getaran gempa juga dirasakan oleh masyarakat di Jakarta dan sekitarnya.

Gempa Cilegon itu terasa hingga Jakarta bahkan Sukabumi. “Saya merasakan gempa cukup kencang dan membuat panik saya,” kata Reni S warga Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Informasi BMKG gempa yang terjadi pada 02.26 WIB berpusat di 7.17 lintang selatan-105.13 bujur timur di kedalaman 10 Km tidak berpotensi tsunami.

Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, belum menerima adanya laporan pada peristiwa gempa tersebut namun pihaknya bersiaga mengantisipasi adanya gempa susulan yang menyebabkan kerusakan.

Belum ada laporan kerusakan dari pihak manapun baik dari satuan pelaksana penanggulangan becana daerah di setiap kecamatan dan warga,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Sukabumi, Irwan Fajar.

Gempa bumi berkekuatan 6.0 SR sempat mengguncang wilayah Banten dan sekitarnya pada Minggu (15/4/2012) pukul 2.26 WIB.

Gempa yang berpusat di 95 km Barat Daya Pandeglang, Banten ini dirasakan di beberapa kota lain, seperti Jakarta dan Depok. Bahkan, beberapa pengguna Twitter yang berada di Bogor melaporkan merasakan gempa yang berpusat di sekitar Selat Sunda tersebut. Di Jakarta, guncangannya terasa cukup kuat selama kurang lebih 20 detik.

Menurut laporan Tribun News, kepanikan sempat terjadi di kantor Kompas TV di Palmerah, Jakarta. Sejumlah karyawannya berhamburan keluar ketika gempa terjadi. Seperti dilansir BMKG, titik pusat gempa ini berjarak 216 km dari kota Jakarta.

Aceh Dilanda Gempa Besar 8.9 Skala Ritcher Peringatan Tsunami Dikeluarkan India dan Tim SAR Indonesia Siaga

Warga kepulauan Nias ikut merasakan gempa yang menghantam wilayah Sumatera Utara, Aceh. Bahkan sebelum gempa berkekuatan 8,5 skala richter itu terjadi, warga Nias merasakan gempa awalan sebelum akhirnya gempa besar menyusul dalam beberapa menit kemudian. “Di sini gempa juga dirasakan di Nias. Warga berlarian ke luar,” ujar Iyun warga Kepuluan Nias Rabu (11/4/2012). Menurut Iyun, sebelum gempa besar, warga pertama kali mendapatkan gempa kecil dan pada gempa kedua yang hanya berselang beberapa menit, dirasakan sangat besar goyangannya.

“Beberapa warga bahkan masih duduk di jalanan untuk berjaga-jaga jika ada gempa susulan,” terangnya. Bahkan untuk menjaga kemungkinan yang terburuk, beberapa warga kemudian telah memasukkan beberapa barang berharganya ke dalam tas. “Sudah dimasukkan ke dalam tas semuanya jadi tinggal dibawa jika ada gempa besar,” kata Iyun.

Gempa bumi berkekuatan 8,5 Skala Richter (SR) yang melanda Aceh dan sekitarnya juga terasa hingga ke sebagian wilayah Singapura, Thailand dan India. Warga-warga di negara-negara tersebut ikut panik dan berhamburan keluar rumah. Seperti dilansir oleh Reuters, Rabu (11/4/2012), gempa ini dirasakan oleh warga yang berada di Bangkok, Thailand. Warga yang panik pun berhamburan ke jalanan.

Gempa yang sangat kuat juga terasa di wilayah India bagian selatan. Ratusan pekerja di wilayah Bangalore, India, bahkan terpaksa harus meninggalkan gedung masing-masing. Sedangkan menurut Twitter, gempa ini juga dirasakan di wilayah Singapura dan Malaysia. Bahkan dilaporkan bangunan apartemen dan gedung perkantoran di wilayah pantai barat Malaysia berguncang selama 1 menit. Menurut Pusat Peringatan Tsunami Wilayah Pasifik di Hawaii, gempa ini berpotensi tsunami. Diperkirakan tsunami akan berdampak di wilayah Indonesia, India, Sri Lanka, Australia, Myanmar, Thailand, Kepulauan Maldives, wilayah Samudera Hindia lainnya, Malaysia, Pakistan, Somalia, Oman, Iran, Bangladesh, Kenya, Afrika Selatan dan Singapura.

Pasca gempa 8,5 skala richter (SR) di Aceh dan Sumatera Utara saat ini membuat pembangkit listrik di wilayah tersebut mati otomatis. Ini mengakibatkan pemadaman listrik. Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji menyatakan, pembangkit listrik PLN di Medan mati otomatis akibat getaran gempa yang terlalu kuat. “Jadi memang ada wilayah yang harus kami padamkan karena pembangkit kami di Medan mati otomatis akibat guncangan gempa. Sebagian konsumen kita padamkan dulu,” jelas Nur Rabu (11/4/2012). Pemadaman listrik, ujar Nur, terjadi hampir di seluruh wilayah Sumatera Utara karena guncangan gempa sangat kuat. “Jadi pembangkit mati otomatis karena alat pengaman bekerja. Akan kita periksa dulu untuk dicek apakah sudah bisa dinyalakan kembali,” jelas Nur.

Otoritas Malaysia juga mengeluarkan peringatan tsunami menyusul gempa bumi berkekuatan 8,5 SR yang mengguncang Aceh. Penduduk di sepanjang pantai barat Malaysia diserukan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. “Kami telah mengumumkan peringatan tsunami di sepanjang pantai barat semenanjung Malaysia. Kami telah memerintahkan evakuasi segera untuk warga di sepanjang pantai negara-negara bagian Perlis, Kedah, Langkawi, Penang dan Perak,” kata seorang pejabat Departemen Meteorologi Malaysia kepada kantor berita AFP, Rabu (11/4/2012).

Sebelumnya, otoritas India, Sri Lanka dan Thailand juga telah mengeluarkan peringatan tsunami menyusul gempa 8,5 SR di Simeuleu, Aceh yang terjadi pada pukul 15.38 WIB. Peringatan tsunami di Thailand bahkan telah diperluas untuk 6 provinsi dari sebelumnya 2 provinsi saja. Sementara pusat manajemen bencana Sri Lanka telah menyerukan penduduk pantai untuk bergerak ke daerah-daerah yang lebih tinggi. Ini sebagai pencegahan jika terjadi gelombang tsunami.

Disebutkan bahwa gelombang tsunami bisa menjangkau wilayah pantai timur Sri Lanka dalam waktu dekat. Otoritas Sri Lanka pun menyerukan evakuasi warga dari jalur-jalur pantai. “Ada kemungkinan kuat tsunami menghantam pulau ini setelah gempa bumi di Indonesia,” kata wakil direktur Departemen Meteorologi Sri Lanka M. D. Dayananda kepada AFP.

Masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam berbondong-bondong menuju perbukitan menyusul gempa berkekuatan 8,5 skala richter. Jalan macet dan suara azan bergema. “Listrik padam, jalan macet menuju tanah yang tinggi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho Rabu (11/4/2012). Menurut dia, suara sirine meraung-raung dan suara azan berkumandang. Saat dihubungi terpisah, Kabag Humas Basarnas Gagah Prakoso mengatakan jajarannya siaga diterjunkan ke lokasi bencana. “Kita telah siap dan siaga. Data kerusakan dan korban masih dihimpun,” ujar Gagah.

Gempa kembali terjadi di Aceh sebesar 8,1 SR. Gempa itu dirasakan kencang seperti yang pertama. “Terasa barusan. Yang pertama sekitar jam 4-an sore, sekarang barusan beberapa detik. Kencangnya seperti yang awal,” jelas petugas keamanan Pelabuhan Belawan Khairul, yang dihubungi Rabu (11/4/2012) pukul 17.50 WIB. Namun kondisi Pelabuhan Belawan, imbuhnya, normal. Pelabuhan Belawan terletak di pantai timur Sumatera, dekat selat Malaka.

Meulaboh, Aceh bersiaga menyusul gempa susulan besar. Petugas kepolisian dan SAR bersiaga di pinggir pantai.”Informasi yang saya dapat, air lau kadang naik selutut kadang turun, ini tidak wajar,” kata Kapolres Aceh Barat AKBP Artanto saat dikonfirmasi Rabu (11/4/2012) pukul 17.50 WIB. Artanto menjelaskan, penduduk di pinggir pantai sudah diungsikan ke tempat yang lebih tinggi. “Jalur evakuasi sudah disiapkan,” jelasnya. Sejauh ini kondisi di Meulaboh masih kondusif. Belum ada laporan soal korban jiwa dan kerusakan. Petugas tetap bersiaga.”Petugas masih bersiaga,” jelasnya.

Sejarah Gempa Besar dan Tsunami Yang Pernah Melanda Bali Sejak 1815

Hari ini, Bali diguncang gempa berkekuatan 6,8 skala Richter dengan intensitas 4 MMI. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 10.16 WIB dengan pusat gempa di 143 kilometer barat daya Nusa Dua pada kedalaman 10 km.

Setidaknya tujuh gempa susulan terjadi setelah gempa di pagi hari itu. Salah satunya adalah gempa berkekuatan 5,6 skala Richter pada pukul 14.52 Wita. Pusat gempa susulan ini terjadi di 131 km barat daya Nusa Dua dan juga pada kedalaman 10 km.

Lindu yang getarannya terasa hingga Mataram, Malang, dan Yogyakarta dengan kekuatan lebih dari 6 SR ini bukan yang pertama kali menggoyang “Pulau Dewata”. Sejarah mencatat bahwa Bali pernah diguncang gempa yang lebih dahsyat dan mengakibatkan tsunami.

Peneliti gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawijaya, mengatakan, gempa besar pernah terjadi di Bali pada tahun 1800-an. Gempa besar juga pernah terjadi pada 1979.

Berdasarkan data USGS, setidaknya ada 8 gempa besar yang pernah terjadi di Bali. Salah satu gempa paling tua yang tercatat terjadi pada 22 November 1815 dan 21 Januari 1917. Dalam sejarah gempa, kejadian tersebut dikatakan besar sebab kekuatannya mencapai 7 SR.

Gempa lain terjadi pada 14 Juli 1976, 26 Januari 1977, 21 Mei 1979, 20 Oktober 1979 dan 17 Desember 1979. Magnitude gempa tersebut bervariasi, mulai dari 5 SR sampai 6,6 SR.

Publikasi I Wayan Sengara dan rekannya dari Institut Teknologi Bandung menjelaskan bahwa beberapa gempa di Bali tergolong mematikan. Gempa pada 17 Desember 1979 di Karangasem menyebabkan 400 orang luka. Adapun gempa pada 29 Maret 1862 di Buleleng mencapai intensitas 7 MMI.

Data NOAA mengungkap bahwa ada beberapa gempa Bali yang mengakibatkan tsunami. Gempa 22 November 1815 mengakibatkan tsunami dan menewaskan 1.200 orang. Gempa 13 Mei 1857 juga mengakibatkan gejolak ombak setinggi 3,4 meter dan gempa 20 Januari 1917 mengakibatkan tsunami setinggi 2 meter.

“Secara umum, frekuensi gempa di Bali termasuk sedang. Untuk gempa di bawah 7 skala Richter, cukup banyak terjadi di bagian utara dan timur Bali. Kalau dibandingkan dengan gempa di utara Bali, gempa di selatan seperti hari ini lebih jarang,” kata Danny.

Meski demikian, Danny mengungkapkan perlunya meneliti lebih lanjut patahan-patahan yang berpotensi menyebabkan gempa di Bali. Sejauh ini pemetaan telah dilakukan dan penelitian tentang sifat serta potensi gempa yang mungkin terjadi sedang direncanakan.

Danny Hilman Natawijaya, pengamat gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan bahwa patahan di wilayah sekitar Bali yang berpotensi mengakibatkan gempa bumi dan tsunami belum banyak diteliti.

“Pemetaan patahan sebenarnya sudah dilakukan. Tetapi, penelitian tentang sifat, sejarah patahan tersebut dan potensi gempa yang bisa ditimbulkan di masa yang akan datang belum banyak diteliti,” katanya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (13/10/2011).

Danny mengungkapkan, ada beberapa patahan yang kini sudah diidentifikasi, salah satunya adalah Patahan Bali Utara. Sementara itu, patahan lain juga terdapat di wilayah timur Bali. Di wilayah selatan Bali terdapat zona subduksi yang juga berpotensi menimbulkan gempa.

Meski demikian, Danny mengatakan, “Banyak peristiwa gempa di Bali yang kita belum tahu pasti patahan mana yang menyebabkan. Seperti gempa besar tahun 1800an itu, kita juga belum tahu pasti. Gempa hari ini kita juga belum tahu pasti.”

Danny mengatakan, pemetaan dan penelitian tentang karakteristik patahan yang berpotensi mengakibatkan gempa di Bali harus dilakukan. “Kita sudah berencana untuk memasang GPS di utara dan selatan Bali. Jadi sebenarnya sudah ada rencana untuk meneliti ke sana,” tutur Danny.

Hari ini gempa mengguncang Bali dengan kekuatan 6,8 skala Richter dan magnitud 4 MMI. Gempa dirasakan oleh warga Mataram, Malang, Surabaya hingga Yogyakarta. Sejumlah gempa berkekuatan lebih kecil menyusul sesudahnya.

Dalam sejarah, Danny mengatakan, cukup banyak gempa berkekuatan rendah terjadi di wilayah utara dan timur Bali. Gempa dengan episentrum di wilayah selatan Bali seperti hari ini tergolong jarang terjadi. Secara umum, frekuensi terjadinya gempa besar di Bali dikatakan sedang.

Gempa besar yang pernah terjadi di Bali antara lain pada 17 Desember 1979 di wilayah Karangasem. Adapun salah satu gempa tertua yang tercatat adalah pada 29 Maret 1862. Setidaknya ada tiga gempa yang mengakibatkan tsunami, terjadi pada 12 November 1815, 13 Mei 1857, dan 21 Januari 1917.

Guncangan gempa susulan masih terus terasa mengguncang Denpasar, Bali. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mencatat tujuh kali gempa susulan terjadi.

Namun, enam gempa susulan tidak terasa. Gempa susulan ketujuh terasa kuat sekitar 5 detik terjadi sekitar pukul 15.40 Wita. Menurut BKMG, gempa susulan ini berkekuatan 5,6 SR.

Guncangan yang cukup terasa membuat orang berhamburan keluar rumah. Namun, sejauh ini tidak dilaporkan terjadi kerusakan tambahan. Diperoleh laporan, gempa susulan itu juga terasa di Jember.

Informasi BMKG menyebutkan, gempa susulan terasa paling kuat di Denpasar dan Mataram. Masing-masing dengan kekuatan getaran antara III-IV Skala MMI (modified mercally intencity).

Nusa Dua Denpasar dan Ubud Bali Dilanda Gempa Besar Skala 6,8 Ritcher

Bali diguncang gempa bumi berskala Richter 6,8, demikian laporan sejumlah saksi seperti dilaporkan Metro TV, Kamis. Menurut laporan itu, gempa bumi membuat warga Bali panik. “Goncangannya sangat kuat. Kita yang di dalam mobil saja merasakan,” kata Stevani, warga Jakarta yang berkunjung ke Bali, kepada stasiun televisi berita nasional itu.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, gempa yang dirasakan warga Bali cukup besar ini tidak berpotensi tsunami, sedangkan pusat gempa berada 143 km arah barat daya Nusa Dua, Bali. Kedalaman gempa disebutkan 10 kilometer, sedangkan gempa bumi terjadi pada 10.16 WIB dan dirasakan oleh tidak hanya Bali, tapi juga sejumlah daerah di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Kota Denpasar dan sekitarnya diguncang gempa sehingga menimbulkan kepanikan warga masyarakat setempat.

Warga masyarakat, anak-anak sekolah dan pegawai yang sedang melakukan aktivitas keseharian tumpah ruah ke luar ruangan, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Di pusat perkantoran kawasan Niti Praja Lumintang, Kota Denpasar misalnya saat gempa yang terjadi sekitar pukul 11.24 Wita itu, sebagian besar karyawan instansi pemerintah berhamburan ke luar gedung.

Demikian pula anak-anak Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (SD) di sekitarnya berhamburan ke luar menyelamatkan diri. Gempa yang mengentarkan jendela kaca bangunan cukup terasa keras dan lama itu pusat gempa di barat daya nusa dua dengan kedalamam 10 kilometer. Kekuatan gempa 6,8 kala Richter (SR), namun tidak berpeluang tsunami.

Gempa berkekuatan 6,8 skala richter (SR) mengguncang Mataram dan Pulau Sumbawa, Kamis (13/190) sekitar pukul 10.15 WITA, menyebabkan sebagian warga berhamburan ke luar rumah.

Informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) yang diterima Kamis, pusat gempa pada koordinat 9.89 Lintang Selatan (LS)-114.53 Bujur Timur (BT) pada kedalaman 10 kilometer dan gempa berada sekitar 143 kilometer barat daya Nua Dua Bali. Gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami.

Selain di Kota Mataram dan sekitarnya gempa dirasakan cukup keras di Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat menyebabkan sebagian warga berhamburan keluar rumah. Bambang Mardiansyah, warga Desa Labuan Lalar mengatakan gempa dirasakan cukup keras, menyebabkan sebagian warga berlari keluar rumah. Bahkan anak-anak yang sedang tidur berlarian keluar rumah. Masyarakat khawatir gempa itu diikuti Tsunami.

Gara-gara gempa 6,8 SR di lepas pantai Nusa Dua, Bali, Bandara Ngurah Rai, Denpasar kena dampak. Plafon dan dinding keramik gedung bandara berjatuhan. “Di Ngurah Rai Bali, di terminalnya ada beberapa plafon akustik yang berjatuhan kemudian ada untuk di gedung perkantorannya di beberapa dinding keramik jatuh, lepas, dan semua langsung dilakukan pembersihan,” jelas Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bambang S Ervan ketika dihubungi detikcom, Kamis (13/10/2011).

Sementara penerbangan berjalan seperti biasa, tidak ada pengaruh terhadap landasan. Sedangkan di Pelabuhan Gilimanuk, Pelabuhan Benoa, dan Pelabuhan Padang Bai tidak ada kendala walupun getaran gempa terasa keras sekali. Semua bangunan dan fasilitas tidak ada kerusakan. “Operasional pelabuhan terus berjalan. Hanya di Pelabuhan Lembar (Lombok) saja yang belum bisa kita kontak,” jelas Bambang.

Gempa susulan masih terjadi di Bali menyusul guncangan gempa utama berskala 6,8 SR. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan terus memantau gempa yang terjadi di Bali. “Biasanya kalau gempa besar pasti diikuti dengan gempa susulan. Tapi kapan itu kita nggak tahu. Sampai sekarang nggak bisa diprediksi,” ujar staf operasional informasi gempa bumi BMKG, Meita saat dihubungi detikcom, Kamis (13/10/2011).

Meita mengatakan, hingga kini pihaknya memang belum menerima informasi adanya gempa susulan di sejumlah daerah yang merasakan guncangan gempa berskala 6,8 SR tersebut. “Kalau sekarang belum ada gempa susulan,” jelasnya. Pusat gempa di Bali berada di 143 km barat daya, Nusa Dua, Bali. Magnitudenya 6,8 SR dengan kedalaman 10 km. Gempa ini terjadi pada pukul 10.16 WIB.

Goyangan gempa Bali benar-benar membuat warga panik. Termasuk yang berada di Hotel Fave di kawasan Jl Teuku Umar, Denpasar. Para tamu hotel itu berhamburan keluar menyelamatkan diri saat goyangan gempa dirasakan. Pantauan detikcom, Kamis (13/10/2011) tamu hotel tampak berkumpul di luar hotel. Gempa yang dirasakan cukup lama ini benar-benar membuat shock. Meski tidak ada korban jiwa, para tamu tampak masih setengah tidak percaya ada gempa.

Karena gempa terjadi sekitar pukul 11.00 Wita, umumnya para tamu di lantai 4 itu sudah berpakaian rapi. Tidak tampak di antara mereka yang memakai handuk atau pakaian tidur.”Gempa bikin kaget, bikin panik,” terang Deco, seorang tamu hotel.

Tidak ada bangunan hotel yang rusak. Kondisi kini berangsur tenang. Warga di sekitar hotel yang juga sempat memenuhi pinggir jalan berangsur kembali ke tempat mereka. Lalu lintas di kawasan Teuku Umar yang sebelumnya sempat tersendat kini sudah kembali normal.

Gempa 6,8 SR yang mengguncang Bali membuat warga di sekitar Ubud panik. Sejumlah warga langsung berhamburan ke luar rumah. “Ya lumayan panik. Semua pada keluar rumah sambil teriak-teriak,” ujar warga Jl Kajeng No 33, Ubud, Sudiana saat dihubungi detikcom, Kamis (13/10/2011).

Sudiana mengatakan, gempa terjadi sekitar pukul 11.16 Wita. Gempa terjadi selama kurang lebih 30 detik hingga 1 menit. 15 Detik pertama, guncangan dirasakan cukup keras. Hingga membuat beberapa Ibu-ibu di sekitar Jl Kajeng muntah.

“Keras banget ini guncangannya. Ada 2 ibu-ibu ini pada muntah,” jelasnya. Menurut Sudiana, para warga kini masih berada di luar rumah karena khawatir akan ada gempa susulan lagi. “Masih pada di luar rumah. Kelihatannya nggak ada bangunan roboh atau korban jiwa. Tapi saya nggak tahu juga,” ujarnya.

Gempa Besar Skala 6.7 Ritcher Guncang Aceh Singkil, Kota Subulussalam Terbelah

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan tiga warga tewas dan ratusan rumah rusak akibat gempa 6,7 Skala Richter di Aceh dan Sumatera Utara pada Selasa (6/9/2011) dini hari. “Jumlah orang meninggal tiga orang, yaitu dua orang dari Aceh (Singkil dan Subulussalam) dan satu orang lagi dari Kabupetan Dairi, Sumatera Utara,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (7/9/2011).

Selain korban tewas, seorang warga mengalami luka berat dan empat warga lainnya mengalami luka ringan akibat gempa tersebut. Berdasarkan peta getaran (shakemap) dari BMKG dan USGS, terdapat 6 kabupaten/kota yang memiliki intensitas gempa 5,7 MMI, yaitu Kabupeten Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Pakpak Bharat, Dairi, dan Karo.
Dampak terparah akibat gempa ini terjadi di Kabupaten Pakpak Bharat. “Ini ditandai dengan banyaknya bangunan yang rusak terkena gempa,” ujarnya.

Untuk wilayah Aceh, diketahui 432 rumah warga mengalami rusak berat dan 1095 rumah warga lainnya mengalami rusak ringan. Kerusakan lainnya, yakni 2 unit sekolah, 9 rumah ibadah, 4 puskesmas, dan 6 kantor. Sementara wilayah Sumatera Utara, dilaporkan ada 3 kabupaten/kota yang mengalami kerusakan, yaitu di Kabupaten Pakpak Bharat, Dairi, dan Humbang Hasundutan. Sebanyak 334 rumah rusak ringan, 60 rumah rusak sedang, dan 89 rumah rusak berat. Beberapa bangunan di Kabupaten Pakpak Bharat yang mengalami kerusakan antara lain 9 masjid, 10 gereja, 35 perkantoran, dan 10 puskesmas.
Diperkirakan kerusakan infrastruktur, perumahan dan sarana instansi pemerintah mencapai sekitar Rp 43 miliar di Kabupaten Pakpak Bharat. “Sedangkan di Kabupaten Dairi kerusakan antara lain meliputi 8 masjid, 8 gereja, dan 78 bangunan lainnya,” jelasnya.

Upaya yang dilakukan saat ini masih dilakukan pendataan. BNPB telah mengirimkan Tim Reaksi Cepat untuk melakukan kaji cepat dan pendampingan daerah. BPBD Provinsi telah memberikan bantuan kepada masyarakat, berupa makanan siap saji, selimut, family kit dan sebagainya. Pemerintah daerah hingga saat ini masih sanggup untuk menangani bencana tersebut, baik yang menyangkut logistik maupun peralatan.

Ekses gempa berkekuatan 6,7 SR pada Selasa (6/9/2011) dini hari bukan hanya merenggut korban jiwa dan merusak bangunan milik warga maupun fasilitas publik lainnya, bahkan Bumi Subulussalam yang merupakan salah satu kawasan terdekat dengan pusat gempa ikut terbelah di beberapa bagiannya.

Rongga memanjang yang membentuk belahan terlihat antara lain pada badan jalan nasional Aceh-Sumut sepanjang empat kilometer, tepatnya di sekitar tanjakan dan tikungan Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam.
Kadis PU Kota Subulussalam, Anasri, Rabu (7/9/2011) mengatakan, jika dalam sepekan ke depan tidak ada perbaikan jalur utama Aceh-Sumut itu, diyakini akan memunculkan persoalan serius di bidang transportasi. “Kami sudah laporkan masalah ini ke BMCK Aceh,” kata Anasri.

Ada puluhan titik rekahan badan jalan maupun di luar badan jalan akibat gempa yang memunculkan kepanikan luar biasa itu. Rongga memanjang berbentuk parit itu rata-rata selebar enam sentimeter dengan kedalaman mencapai 1,5 hingga 2 meter. Bahkan pada salah satu ruas yang terbilang parah ketika diinjak seperti mengeper sehingga dikhawatirkan akan ambruk bila dilindas oleh kendaraan berat.

Titik-titik bumi yang terbelah tersebut terjadi sejak dari Jembatan Lae Terutung, Perkebunan PT Laot Bangko hingga tanjakan menikung Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat. Selain itu, dua tanggul yang baru dibangun di sekitar Jongkong, Desa Singgersing juga ambruk.

Sebelumnya, tanggul tersebut juga sempat ambruk sebelum selesai dikerjakan. Sedangkan di tikungan menanjak Simenjeren, Desa Singgersing terjadi longsor yang menimbun badan jalan sepanjang sekitar enam meter dan menutup setengah badan jalan. Wali Kota Subulussalam, Merah Sakti didampingi LO Polres Kota Subulussalam Kompol Mirwazi, Pabung TNI Mayor M Saying, dan Wakil Ketua DPRK Karlinus, Ketua Komisi B Netap Ginting dan Kadis PU Anasri meninjau jalan nasional yang terbelah itu.

Wali Kota langsung menghubungi Kadis BMCK Aceh melalui telepon melaporkan kondisi di lapangan. “Ini harus segera dicegah, kalau melihat kondisi jalan ini truk tidak bisa lewat, harus dibatasi nanti,” kata Merah Sakti.
Bantuan tiba

Kabag Humas pada Biro Hukmas Setda Aceh, Usamah Elmadny kepada Serambi melaporkan, bantuan masa panik dari Pemerintah Aceh untuk korban gempa Singkil dan Subulussalam telah tiba di lokasi, Rabu (7/9/2011) pagi.

Menurut Usamah dengan mengutip keterangan Kadis Sosial Aceh, Nasir Gurumud, bantuan tahap pertama yang diberangkatkan pada Selasa malam berupa 10.000 butir telur, 500 dus mi instan, 1.200 kaleng ikan sarden, 300 liter minyak goreng, 1.000 lembar kaos kerah, 1.000 lembar daster, 200 paket family kits, 100 lembar terpal biru, 100 lembar matras, 200 paket foodware, dan 600 kilogram ikan asin telah tiba di Subulussalam dan telah disalurkan untuk korban, baik di Subulussalam maupun Singkil.

Pada Rabu siang kemarin, tim Dinsos Aceh bersama BPBA juga bergerak ke zona bencana untuk memastikan semuanya tertanggulangi dengan baik. Dalam rombongan tersebut, ikut serta dua orang perwakilan Dirjen Kebencanaan Depsos RI yang akan melakukan pemantauan.

“Gubernur Aceh, sedianya akan berangkat juga kemarin untuk memimpin rombongan, akan tetapi sehubungan adanya kunjungan penting dari Atase Militer Singapura, serta pertemuan dengan Dirjen Otda Kemendagri, maka beliau terpaksa menunda keberangkatannya dan mendelegasikan tugas dan tanggung jawab kepada SKPA terkait,” ujar Usamah.
“Pak Gubernur akan tetap ke Aceh Singkil dalam 1-2 hari ini,” kata Usamah.

Gempa bumi berkekuatan 6,7 Skala Richter (SR) yang terjadi, Selasa (6/9) lalu di Aceh Singkil mengakibatkan sebanyak 2.281 unit rumah di lima kecamatan di kota Subulusssalam rusak.

Hingga tadi sore, selain rumah, sebanyak 87 unit masjid/mushalla juga rusak. Sementara itu, jalan negara yang menghubungkan Aceh dan Sumatera Utara tepatnya di sekitar tanjakan dan tikungan Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam terbelah sepanjang 4 kilo meter.

Gempa Tektonik Besar 6,8 Skala Richter Hantam Kupang sampai Dili dan Aceh

Gempa tektonik berkekuatan 6,8 skala richter terjadi di Kota Kupang ibu kota Nusa Tenggara Timur (NTT), pukul 14.57 WITA, Selasa. Tidak ayal, Kupang dilanda cukup kepanikan karena gempa itu.

Informasi yang diterima ANTARA Biro NTT di Kupang, dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Geofisika Klas I Kupang, menyebutkan pusat gempa berada pada 6,47 Lintang Selatan/ 126,83 Bujur Timur.

Pusat gempa tersebut berada pada kurang lebih 271 km timur laut Dili, Timor Timur (Timor Leste) dengan kedalaman 469 km. BMG Kupang menyatakan gempa tidak memiliki potensi tsunami itu, juga dirasakan di sejumlah daerah di NTT, antara lain, Kota Soe di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kefa di Kabupaten Timor Tengah Utara, Atambua di Kabupaten Belu, Waingapu di Sumba Timur serta Kabupaten Alor.

Seperti yang dipantau di hampir sebagian daerah di Kota Kupang, terlihat aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa, namun sedikit terjadi kepanikan. Sebagaimana yang disaksikan di RS Bhayangkara Kupang, para pengunjung dan pasien yang sudah cukup sehat berhamburan ke luar ruangan untuk menyelamatkan diri.

Tidak ada dampak kerugian dari guncangan gempa terebut. “Saya takut karena itu saya kabur dari ruangan untuk selamatkan diri,” kata salah seorang pasien yang hampir sembuh namun enggan menyebutkan namanya.

Gempa berkekuatan 5,0 skala Richter (SR) telah terjadi di barat daya Sinabang Provinsi Aceh pada Rabu pukul 10.08 WIB di kedalaman 10 kilometer. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam situsnya, pusat gempa itu berada di 13 km barat daya Sinabang (Aceh), 137 km barat daya Tapaktuan Aceh, 149 km barat daya Labuhan Haji (Aceh) atau 1.514 km barat laut Jakarta.

Gempa berkekuatan 6,8 skala Richter mengguncang kawasan timur laut negara Timor Leste, pada pukul 13.57 WIB, Selasa.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Pusat gempa berada pada jarak 271 kilometer arah timur laut Dili, ibukota negara itu, atau berjarak 248 kilometer arah barat daya Ambon, Maluku, pada kedalaman 469 kilometer.

Sampai dengan pukul 14.45 WIB belum ada informasi resmi tentang dampak gempa tersebut terhadap masyarakat setempat

Lampung Dilanda Gempa Hebat Sebesar 6.2 Skala Ritcher

Masyarakat Pesisir Lampung Barat berhamburan keluar rumah akibat gempa berkekuatan 6,2 skala Richter (SR), bahkan sebagian besar masyarakat menjauh dari pantai mengkhawatirkan kemungkinan tsunami.

“Guncangan gempa terasa sangat kuat, gempa tersebut mengakibatkan perabot rumah tangga saya terguling, sehingga saya segera menyelamatkan diri karena takut getaran gempa tersebut dapat merobohkan rumah saya,” kata masyarakat Kecamatan Pesisir Tengah Lampung Barat, Mat Saifudin (38), di Krui, Selasa Pagi.

Dia menjelaskan, sebagian besar masyarakat keluar rumah dan lari di tanah lapang.

Menurut dia, getaran gempa sangat kuat membuat sebagian besar tiang listrik bergoyang kencang. “Getaran gempa kali ini sangat kuat di bandingkan beberapa hari lalu, bahkan getaran tersebut membuat atap rumah yang terbuat dari seng berbunyi keras, sehingga saat getaran terjadi menimbulkan suara sangat gaduh,” kata dia lagi.

Dia mengakui, masyarakat yang berada di lokasi pantai berlari menjauh, yang di takutkan gempa tersebut dapat berpotensi tsunami.

Kemudian lanjut dia, masyarakat enggan kembali kerumah, karena di takutkan gempa susulan terjadi.

“Dalam sepekan terakhir Lampung Barat kerap di guncang gempa, dan kondisi ini jelas membuat masyarakat takut, dan yang kami sesalkan saat terjadi gempa, masyarakat tidak mendapatkan informasi yang jelas apakah gempa tersebut berpotensi tsunami atau tidak,” kata dia lagi.

Sementara itu masyarakat Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balikbukit, Lampug Barat, Tarsim (37) mengatakan, getaran gempa mampu menggoyangkan lemari dan perabot berat lain.

“Gempa yang terjadi jelas membuat masyarakat panik, yang kami takutkan getaran tersebut dapat mengancam keselamatan, sebab dari beberapa gempa yang terjadi beberapa hari lalu tidak sekuat kali ini, sehingga mampu menggeser benda berat,” kata dia.

Dia memaparkan, kondisi tanah di Kota Liwa sangat labil, sehingga saat terjadi gempa mampu merobohkan tempat tinggal.

Kemudian Tarsim menjelaskan, meskipun getaran gempa terjadi hanya beberapa detik, akan tetapi kekuatannya mampu menjatuhkan perabot rumah.

“Gempa menjadi momok paling menakutkan bagi kami, sebab gempa dasyat pernah terjadi di Lampung Barat dan menewaskan ratusan orang, sehingga saat gempa mengguncang daerah ini, jelas masyarakat segera menyelamatkan diri dan menuju tanah lapang, karena takut musibah besar itu akan terjadi kembali,” kata Tarsim lagi.

Sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan terjadi gempa berkekuatan 6,2 skala Richter (SR), Selasa pukul 03.12 WIB dengan pusat 140 kilometer Barat Daya Krui Lampung .

Gempa yang berlokasi di 6,45 Lintang Selata 103,91 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer dinyatakan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada 154 Barat Daya Liwa-Lampung, 179 Kilometer Barat Laut Ujungkulon-Banten, 188 Barat daya Tanjung Karang-Lampung, 325 Kilometer Barat Daya Jakarta-Indonesia.

Hingga berita ini ditulis belum terdapat laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat gempa yang terjadi tersebut. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan telah terjadi gempa berkekuatan 6,2 skala Richter (SR) pada Selasa pukul 03.12 WIB yang pusat di 140 kilometer baratdaya Krui, Lampung.

Gempa yang berlokasi di 6,45 Lintang Selata 103,91 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer dinyatakan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa juga berada 154 Barat Daya Liwa-Lampung, 179 Kilometer Barat Laut Ujungkulon-Banten, 188 Barat daya Tanjung Karang-Lampung, 325 Kilometer Barat Daya Jakarta-Indonesia.

Belum ada laporan mengenai dampak gempa dan kondisi masyarakat di Krui terkait gempa tersebut.

Gempa Bumi Tektonik Dahsyat Guncang Maluku Utara Sebesar 5.3 Skala Ritcher

Gempa bumi tektonik berkekuatan 5,3 skala Richter (SR) mengguncang Tual, Maluku Tenggara pada Senin, sekitar pukul 06.05 WIB, namun hingga saat ini tidak terjadi gelombang laut tsunami.

Kepala Stasiun Geofisika Ambon Benny Sipolo di Ambon mengatakan, gempa tersebut terletak pada lokasi 5,25 LS atau 133,82 BT, 127 km Timur Laut Tual dengan kedalaman 94 km.

Benny Sipolo mengatakan, hasil kooordinasi dengan Pemerintah kota Tual, maupun Pemkab Maluku Tenggara menunjukkan bahwa gempa tersebut tidak menimbulkan gelombang laut tsunami.

“Gelombang pasang (tsunami) yang sering meresahkan masyarakat juga tidak berpotensi terjadi,” ujarnya.

Benny Sipolo juga mengakui pihaknya intensif memantau perkembangan gempa karena wilayah Maluku Tenggara, seperti kota Tual, Saumlaki termasuk daerah rawan terjadi gempa di Maluku yang hampir setiap hari terjadi peristiwa tersebut dengan kapasitas 2 – 3 SR

Menurut Benny Sipolo, Provinsi Maluku merupakan salah satu daerah rawan gempa dan gelombang laut tsunami karena terletak pada pertemuan tiga lempeng besar yakni Pasifik, Indo Australia dan Eurasia.

Lempeng Indo Australia masuk ke bawah Eurasia, bertemu dengan Lempeng Pasifik sehingga mengakibatkan patahan yang tidak beraturan.

Namun, hingga kini belum ada gempa yang berpotensi tsunami di Maluku. Gempa-gempa yang terjadi di wilayah-wilayah di Maluku kebanyakan tremor, yakni lokal dangkal yang terus menerus. Kekuatannya berkisar tiga hingga empat Modified Mercally Intensity (MMI)).

Daerah-daerah rawan gempa di Maluku di antaranya wilayah-wilayah bagian tenggara, Pulau Ambon, Seram dan Buru. Sedangkan pusat patahan di antaranya berada di Laut Ambon dan Seram Bagian Barat (SBB)

Gempa Kuat Berskala 6.8 Ritcher Guncang Papua Nugini

Gempa dengan kekuatan 6,8 pada skala Richter mengguncang pantai Papua Nugini, Senin, kata U.S. Geological Survey, tapi tak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan dan belum ada laporan mengenai kerusakan.

Seperti dikutip dari Reuters, USGS menyatakan gempa tersebut tercatat pada pukul 23.39 GMT, Ahad (Senin, 06.39 WIB), 130 kilometer di sebelah timur kota kecil Wewak pada kedalaman 10,4 mil.

Tapi tak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan untuk daerah di dekat pusat gempa.

Juru bicara bagi Geophysical Observatory Papua Nugini di ibu kota negeri tersebut, Port Moresby, mengatakan belum ada laporan mengenai kerusakan.

Ia mengatakan guncangan terasa di Wewak dengan kekuata 5.0 pada skala Richter.

Dinas Penanganan Bencana dan Keadaan Darurat Nasional Papua Nugini menyatakan kantornya di Wewak belum menerima laporan mengenai kerusakan.