Category Archives: Indonesia Sehat

Pengendara Kendaraan Bermotor Yang Tidak Mentaati Car Free Day Membuat Rusak Jalan Inspeksi Banjir Kanal Timur

Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) yang digelar Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur di sepanjang Jalan Kolonel Sugiono, Minggu (5/1), dengan menutup ruas jalan itu bagi kendaraan bermotor, membuat ratusan kendaraan melintas di trase kering Kanal Banjir Timur (KBT) atau Jalan Inspeksi KBT.

Padahal ruas Jalan Inspeksi KBT di sisi Selatan Jalan Kol Sugiono itu, bukanlah jalan umum yang dapat dilintasi kendaraan bermotor. Hal ini membuat trase kering KBT atau ruas Jalan Inspeksi KBT itu menjadi rawan rusak.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kanal Banjir Timur (KBT), Sorimuda Harahap, kepada Warta Kota, Minggu (5/2) menyayangkan hal itu.

Menurutnya ini berarti HBKB di Jalan Kolonel Sugiono sudah melanggar aturan pihaknya, dimana Jalan Inspeksi KBT bukanlah jalan umum dan tidak diperbolehkan dilintasi kendaraan bermotor. Pasalnya dengan dilintasi kendaraan, Jalan Inspeksi KBT menjadi rawan rusak.

Selain itu, Jalan Inspeksi KBT karena tidak dilengkapi pagar pengaman, sehingga cukup berbahaya bagi kendaraan yang melintas.

Sorimuda mengatakan dalam rapat dengan Pemkot Jakarta Timur sebelum HBKB digelar, pihak Pemkot Jakarta Timur meminta Jalan Inspeksi KBT dibuka sedikit untuk dapat dilintasi sepeda.

Namun nyatanya dilapangan, Jalan Inspeksi KBT justru digunakan sebagai jalur pengalihan kendaraan bermotor. “Ini memang melanggar aturan. Tapi kita tak bisa berbuat apa-apa, karena itu instruksi Walikota. Saya juga menyayangkan hal itu,” kata Sorimuda.

Menurut Sorimuda, jalan Inspeksi KBT adalah Jalan Pemeliharaan KBT yang digunakab petugas untuk pemeliharaan KBT. Jalan Inspeksi KBT, kata Sorimuda, nantinya juga akan dibuat jalur sepeda di sana.

“Kalau digunakan untuk pesepeda dan masyarakat berolahraga, tak apa-apa. Tapi tidak boleh untuk kendaraan umum,” kata Sorimuda.

Seperti diketahui, untuk kedua kalinya di tahun 2012 ini, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur menggelar Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day, pada Minggu (5/2), di ruas Jalan Kolonel Sugiono, Durensawit sepanjang 2,6 Km, mulai dari perempatan Mc Donald sampai Fly Over Pondokbambu. Ini berarti jalan tersebut ditutup untuk kendaraan bermotot, mulai pukul 06.00 sampai pukul 12.00.

Adra Soraya Ramadani Pasien Flu Burung Meninggal Karena Salah Ambil Sample Darah

Ketua Pusat Riset Universitas Airlangga tentang Flu Burung (Avian Influenza-zoonosis Reseach Center), C. A. Nidom mengemukakan dua asumsi penyebab tak tertolongnya Adra Soraya Ramadani, 5 tahun, pasien terinfeksi flu burung. Menurut dia, ada dua kemungkinan sebab berubahnya status negatif flu burung Soraya menjadi positif hingga balita itu meninggal 16 Januari lalu.

Pertama, ada kekeliruan pengambilan sampel. Karena waktu demam Soraya berdekatan dengan masa terinfeksinya sang paman, Puguh Dwi Yanto yang lebih dulu meninggal. Ia kemungkinan terkena paparan virus bersamaan dengan pria 23 tahun tersebut. “Berarti harusnya saat sampelnya diambil, virus sudah ada,” ujar Nidom, ketika dihubungi, Sabtu 21 Januari 2012.

Sehingga, harusnya hasil uji PCR balita itu positif. Kalau hasilnya negatif, berarti, “Ada kekeliruan dalam pengambilan. Pengambilannya enggak benar,” kata Nidom. Ia menjelaskan, ini terkait teknik pengambilan sampel. Selain sampel darah, pengambilan sampel ludah ataupun lendir pasien flu burung juga perlu dilakukan melalui nasofaring atau bagian antara hidung dan tenggorokan.

Adalah alat berbentuk seperti cotton bud panjang dimasukkan ke hidung sampai ujung dipakai untuk ambil sampel ini. Atau bisa juga melalui mulut, dimasukkan sampai menyentuh antil-antil. “Kalau pengambilannya benar, bisa dapat,” terangnya.

Asumsi kedua Nidom, virus si tubuh Soraya sudah masuk sampai ke paru-paru sehingga tidak terdeteksi saat pengambilan sampel. “Bisa jadi virusnya sudah berkembang merusak organ, sudah masuk ke bagian paru-paru,” urainya. Perjalanan virus, kata Nidom, berawal dari hidung, tenggorokan, masuk ke paru-paru, lalu naik ke hidung lagi.

Pasien Tersangka Flu Burung Di Sunter Agung Jakarta Utara Meninggal Dunia

Pasien suspect flu burung PDY (23) yang tinggal di kawasan Sunter Agung, Jakarta Utara, akhirnya meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang, Sabtu (7/1/2012) malam.

Menurut orangtua PDY, Si (48), usai merayakan malam Tahun Baru, PDY pulang ke rumah pukul 02.30 dan mengeluh menggigil serta panas hingga 39 derajat. PDY sempat diberi obat panas, namun pada Senin (2/1) dia menggigil lagi. Dia sempat dibawa ke Rumah Sakit Satyanegara, Sunter. Di rumah sakit itu cuma divonis sakit maag dan diperbolehkan pulang saat itu juga.

Sejak hari Rabu (4/1/2012) PDY akhirnya dirawat di Rumah Sakit Satyanegara, dan hari Jumat (6/1/2012), PDY kritis. Menurut dokter yang merawatnya, PDY diduga terjangkit flu burung karena sesak napas serta jantung berdebar-debar.

“Saat kritis, langsung dipindah ke ruangan isolasi. Karena keterbatasan alat di rumah sakit tersebut, pihak rumah sakit merujuk ke Rumah Sakit Sulianti Suroso dan Persahabatan, Rawamangun, tapi semuanya penuh. Akhirnya, Sabtu (7/1) malam, kami pindah ke RSUD Tangerang,” kata Si saat ditemui, Minggu (8/1/2012).

Namun, saat perjalanan menuju rumah sakit tersebut, nyawa PDY tidak tertolong. “Minggu pagi, kami langsung memakamkan di Cilincing bersama petinya, karena menurut pihak rumah sakit tidak ada yang boleh menyentuh jenazahnya,” kata Si.

Akibat Penyedotan Air Sumur Besar-Besaran, Jakarta Alami Krisis Air Tanah dan Penurunan Permukaan Tanah

Krisis air tanah di DKI Jakarta akibat penyedotan besar-besaran oleh gedung-gedung pencakar langit, industri, dan kebutuhan rumah tangga lainnya sudah sangat mengkhawatirkan. Jika ini terus dibiarkan maka berbagai bencana kemanusiaan akan silih berganti dialami masyarakat.

“Sejak 20 tahun lalu sebenarnya air tanah di DKI Jakarta sudah tidak mampu lagi menyokong kebutuhan masyarakat,” kata Kelapa Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr. Arie Herlambang dalam Diskusi Pengelolaan Sumber Daya Air bertema ‘Kelola Air Selamatkan Bumi’ yang dilaksanakan Mapiptek.

Hal ini terlihat pada saat musim kemarau dimana banyak warganya yang berteriak kekeringan kendati kemarau tidak terlalu panjang. Terutama bagi mereka yang selama ini masih mengandalkan pemenuhan kebutuhan airnya dari air tanah.

Dampak lain akibat penyedotan air tanah secara besar-besaran itu adalah adanya penurunan permukaan tanah yang membawa berbagai dampak ikutan. Contohnya, Jalan Thamrin yang dulu tidak pernah banjir saat ini genangannya bisa mencapai satu meter saat terjadi hujan lebat.

Selain akibat drainase yang buruk, setidaknya penurunan permukaan tanah di lokasi tersebut akibat penyedotan air oleh gedung-gedung pencakar langit juga memiliki kontribusi yang tidak sedikit. Karena itu perlu ada langkah nyata untuk menanggulanginya.

Contoh lain yang tidak boleh dianggap main-main adalah adanya penurunan permukaan jalan tol menuju Bandara Soekarno Hatta yang melebihi satu meter. Akibatnya pada saat terjadi hujan lebat jalan ini tidak bisa dilalui kendaraan kecil dan besar.

“Dari segi ekonomi penurunan permukaan tanah di kedua lokasi tersebut menimbulkan kerugian yang tidak sedikit,” katanya.

Ada sejumlah langkah yang direkomendasikan Arie agar hal itu tidak terus berlangsung. Misalnya, dengan mengurangi penyedotan air tanah secara besar-besaran, bahkan kalau perlu menyetopnya.

Kemudian langkah lainnya dengan mendorong kesadaran masyarakat membangun penampungan-penampungan air hujan atau sumur resapan. Langkah ini diperlukan agar pori-pori tanah bisa terisi air kembali dan permukaan air tanah bisa naik.

Sedangkan bagi pemilik gedung pencakar langit bisa memanfaatkan teknologi daur ulang sehingga tidak banyak air yang terbuang sia-sia. Gedung-gedung di Singapura telah menerapkan teknologi ini sehingga mampu memenuhi 35 persen kebutuhannya sendiri.

Hati Hati Menjelang Natal dan Tahun Baru Banyak Ayam Potong Berformalin Beredar Di Pasar Bekasi

Warga Kota Bekasi diminta waspada terhadap peredaran ayam potong berformalin. Pasalnya, menjelang Natal dan Tahun Baru peredaran ayam potong berformalin di sejumlah Pasar tradisional Kota Bekasi mulai marak.

Penggunaan formalin ini, diungkap sejumlah pedagang ayam potong, untuk membuat ayam awet hingga seminggu. “Kalau nggak laku hari ini bisa dijual besok atau lusa dengan kondisi tidak bau,” kata Fendi Pradana, sati pedagang ayam potong di Pasat Baru Kota Bekasi.

Ia mengaku kesal karena beberapa rekannya menjual ayam potong berformalin tersebut. “Saya sudah minta agar mereka jangan jual ayam berformalin karena berbahaya buat kesehatan, Tapi rekan-rekan saya itu tetap membandel. Yah sudahlah, itu urusan mereka,” kata Fendi kesal.

Meski tahu pelakunya, namun Fendi enggan menunjukkan pedagang yang menjual ayam berformalin. “Memang nggak semua pedagang di pasar ini jual ayam berformali, hanya ada beberapa saja,” ujarnya.

Fendi hanya menunjukkan cara mudah mengenali daging ayam dengan bahan pengawet. Ciri-cirinya, daging ayam pucat dan tidak dikerubung lalat. “Dagingnya tahan lama,” jelas Fendi.

Namun sebagian besar pedagang, kata dia, tidak tahu menahu proses pemberian bahan pengawet. Biasanya mereka membeli dari tengkulak atau perusahaan penyalur ayam potong sudah dalam kondisi berbahan pengawet. “Kebanyakan ayam tersebut didatangkan dari luar Bekasi,” katanya.

Agar pembeli tidak rugi, Fendi menyarankan memilih daging yang masih segar. Seperti di potong di tempat saat melakukan transaksi, kulit ayam berwarna kuning ketika disiram air panas untuk dicabut bulunya, dan dagingnya merah.

Harga daging ayam sejak sepekan lalu, mulai naik rata-rata Rp 2.500 per kilogram untuk daging ayam besar. Harga sebelumnya Rp 16 ribu menjadi Rp 18.500 per kilogram.

Sebelumnya, harga daging ayam ukuran sedang rata-rata Rp 14.800 menjadi 16.000 per kilogram. “Kemungkinan akan naik terus sampai perayaan Natal dan tahun baru nanti,” katanya.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi Edy Kadarusman, mengakui sudah banyak mendengar kabar soal maraknya ayam berformalin beredar di sejumlah pasar di Kota Bekasi.

Edy berencana menggelar inspeksi ke sejumlah pasar, pada Senin pekan depan (19/12). Seperti pasar Baru, pasar Kranji, Pondokgede, Jatiasih, dan pasar Jatisampurna.

1 Dari 5 Orang Di Jawa Barat Menderita Gangguan Kejiwaan

Data mengejutkan diungkapkan Dr Natalingrum dari Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan. Ia mengatakan, satu dari lima orang di Jawa Barat mengalami gangguan jiwa.

Data tersebut diungkapkan Natalingrum pada acara Pertemuan Peningkatan Peran Media Massa tentang Kesehatan Jiwa di Hotel Grand Seriti Hegarmanah, Kamis (13/10/2011). “Jawa Barat menjadi provinsi dengan penderita gangguan jiwa tertinggi di Indonesia. Bahkan, angka rata-ratanya mencapai 20 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional,” ujarnya.

Angka rata-rata nasional sendiri hanya 11,6 persen. “Dengan data ini bisa dikatakan, ada sekitar 19 juta orang di Jawa Barat mengalami gangguan jiwa. Ini berarti 1 dari 5 orang di Jawa Barat mengalami gangguan kesehatan jiwa,” kata Natalingrum.

Namun, Natalingrum buru-buru menegaskan bahwa gangguan jiwa ini tidak bisa lantas diartikan sebagai gangguan jiwa berat atau gila. Sebab, depresi, stres, dan cemas juga termasuk kategori gangguan kesehatan jiwa. “Mereka yang mengalami gangguan jiwa ini berusia 17 tahun ke atas. Rata-rata mengalami depresi, cemas, dan stres karena berbagai hal. Yang mengalami gangguan jiwa berat tidak banyak,” ujarnya.

Natalingrum mengatakan, ada beragam faktor yang menjadi penyebab gangguan jiwa, antara lain faktor ekonomi, pekerjaan, sosial, hingga gangguan kesehatan jiwa yang dipicu karena penyalahgunaan narkoba. “Namun, ada juga yang dipicu faktor genetik. Tapi penyebab terakhir ini hanya bisa terjadi bila faktor gennya mengalami gangguan jiwa berat,” ujarnya.

Selain itu, gangguan jiwa juga bisa dipicu dari gangguan kesehatan fisik, seperti sakit yang tak kunjung sembuh hingga menjadi beban pikiran si penderita yang berujung pada gangguan kesehatan jiwa.

Ia juga mengatakan, gangguan jiwa memang tidak secara langsung menyebabkan kematian, namun bisa menjadi kronis hingga ada yang memilih mengakhiri hidup. “Mereka yang mengalami gangguan jiwa akan menjadi tidak produktif, menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Ironisnya, gangguan kesehatan jiwa banyak dialami oleh masyarakat ekonomi lemah. Dengan alasan tidak ada biaya untuk berobat, banyak masyarakat yang lalu memasung anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

Untuk menekan angka gangguan kesehatan jiwa ini, kata Natalingrum, puskesmas di Indonesia kini harus siap untuk menangani kesehatan jiwa. Saat ini, dari 9.000-an puskesmas, baru 700 puskesmas sudah melayani pasien kesehatan jiwa.

Waspadai Makanan Tak Layak Konsumsi di Bulan Ramadhan

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sumatera Barat mengimbau masyarakat untuk mewaspadai makanan tidak layak konsumsi terutama pada bulan Ramadhan.

Kepala Staf Informasi Konsumen BPOM Sumbar Syahrial di Padang, Selasa, mengatakan, masyarakat harus selektif memilih makanan siap saji selama bulan Ramadhan, terutama yang mengandung zat kimia berbahaya seperti zat pewarna dan sejenisnya.

“Kita mengimbau masyarakat agar teliti dalam berbelanja makanan siap saji selama bulan Ramadhan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak ditemukan zat pewarna berbahaya dalam masakan yang dijual selama bulan Ramadhan,” katanya.

Ia menyebutkan, pada saat konsumsi masyarakat meningkat pada bulan Ramadhan terkadang membuat para pedagang ingin meraih keuntungan besar tanpa memikirkan dampak yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan zat-zat berbahaya.

Pada Ramadhan tahun 2010 yang lalu, dari 150 sampel makanan yang diuji BPOM Sumbar, sekitar 22 persen diantaranya tidak layak untuk dikonsumsi karena mengandung zat-zat berbahaya.

“Data tersebut menunjukan masih banyak makanan siap saji pada bulan Ramadhan yang mengandung zat berbahaya seperti Rodamin-B yang merupakan pewarna pakaian, borak, serta pemanis buatan yang melebihi batas toleransi,” ujarnya.

Menurut dia, dampak yang ditimbulkan makanan yang mengandung zat kimia berbahaya dalam jangka pendek adalah kelelahan atau batuk, sementara dalam jangka panjang dapat menimbulkan kanker darah, serta gangguan lambung dan ginjal.

Jenis makanan yang biasa ditemukan mengandung zat berbahaya, katanya, diantaranya kolak delima, cendol, sirup, dan makanan sejenisnya.

“Berdasarkan temuan pada tahun-tahun sebelumya itu kita meminta masyarakat agar mewaspadai makanan yang berbahaya tersebut, sementara pedagang diharapkan tidak menggunakan zat tersebut dalam masakan mereka,” ujar Syahrial

Lagi Tren Terapi Kesehatan Dengan Listrik Di Jalur Rel Kereta Api

Terik matahari tak lagi menyengat Kamis sore lalu, 21 Juli 2011. Warga sekitar Stasiun Rawa Buaya, Duri Kosambi, Jakarta Barat, berduyun-duyun menuju rel kereta api.

Seperti menantang kereta yang bisa sewaktu-waktu datang, beberapa orang lalu duduk di bantalan rel sembari menaruh kedua tangannya di rel. Beberapa lagi bahkan nekat rebahan, kepala diletakkan di satu bentang rel lalu kaki di bentang rel lainnya.

Tak peduli larangan, mereka bermaksud mencari terapi listrik gratis. Menurut kesaksian beberapa warga, kejutan arus listrik yang dirasakan begitu badan ditempelkan dengan rel berkhasiat menyembuhkan. “Badan jadi enak. Tidak sering nyeri lagi,” kata Sri, 50 tahun, yang mengaku mengidap diabetes.

Sri mengaku sudah mengikuti terapi massal itu selama setahun. “Bagi orang kecil seperti saya, terapi gratis ini kan sangat membantu. Kalau terapi beneran, mana saya mampu?” ujar Sri.

Warga yang datang dari Semanan, Kalideres, itu menyatakan tidak khawatir akan kemungkinan tertabrak kereta saat terapi. Teguran atau pengusiran dari petugas PT Kereta Api (KA) diakui telah dia diterima. Tapi, dia mengatakan, “Tangkap ya tangkap saja. Kalau kemungkinan mati kan bisa kapan dan di mana saja.”

Budi, 52 tahun, juga mengaku memperoleh efek positif dari terapi itu. Dia menyatakan penyakit asam urat yang dideritanya kini membaik. “Belum saya cek ke dokter, tapi saya pribadi merasakan perubahan baik di tubuh saya,” kata pria yang sore itu rebahan dengan bercelana pendek, kaus putih, topi cokelat, dan kacamata hitam itu.

Warga memang serius menjalani terapi. Mereka bahkan datang dengan persiapan handuk untuk alas tidur. “Mungkin banyak orang ke sini karena dekat dengan stasiun yang punya 2 jalur rel dan ada pengeras suara sehingga gampang tahu jika ada kereta melintas,” tutur Budi.

PT KA jelas tak senang dengan adanya terapi itu. Selain berbahaya, kondisi stasiun juga menjadi kumuh. Mereka berusaha mencari dan memanggil orang yang dianggap sebagai tabib dari terapi itu. “Tapi, belum ada yang datang,” kata Executive Vice President PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional I, Purnomo Radiq, Kamis lalu.

Kepala Stasiun Rawa Buaya, Suardi, mengungkapkan pihaknya telah bolak-balik menertibkan. Juga memasang spanduk berisi peringatan dan larangan. “Tapi warga masih saja membandel. Susah juga (menghalau warga),” katanya mengeluh.

Wakil Lurah Duri Kosambi Firmansyah tak tahu pasti sejak kapan kebiasaan aneh itu dilakoni warga. Menurut dia, kebiasaan itu memang pernah marak, tapi kemudian menghilang, sampai muncul lagi saat ini. “Sepertinya ini berkembang dari mulut ke mulut saja. Tidak ada yang bertindak sebagai tabibnya,” kata Firmansyah.

Tak urung, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pun angkat bicara. Dia meminta warga untuk berhenti terapi. “Sudah diimbau, itu satu langkah yang secara medis tak bisa dipertanggungjawabkan,” kata Fauzi di Balai Kota, Jumat kemarin, 22 Juli 2011.

Fauzi membantah dugaan rendahnya pelayanan kesehatan di puskesmas setempat, sehingga warga memilih terapi alternatif berbaring di rel. “Itu mindset yang keliru saja, puskesmas kecamatan kita sudah mendapat ISO,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Polsek Cengkareng Komisaris Ruslan menyatakan menunggu permintaan dari PT KA untuk bisa ikut menertibkan di jalur kereta itu. “Tidak bisa main tangkap atau usir. Bukan wewenang kami tiba-tiba masuk ke sana,” kata Ruslan.

Sebagian Besar Penderita AIDS/HIV Di Sulawesi Selatan Adalah Ibu Rumah Tangga dan Anaknya Karena Perilaku Homoseksual Suami

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengklaim ibu rumah tangga banyak terjangkit penyakit kelamin Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Data Badan Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS, daerah ini berada pada peringkat ketiga penderita terbesar di Indonesia.

“Beberapa kasus yang muncul dipermukaan, banyak ibu rumah tangga yang terinfeksi,” kata Kepala Bagian Pencegahan dan Penanggulangan Napza HIV AIDS Biro Bina Napza Muh Nuhrahim, siang tadi.

Kalangan ibu rumah tangga, menurut Nuhrahim, terserang virus setelah berhubungan seks dengan pasangan resmi. Anak yang dikandung, juga harus menerima penyakit bawaan yang ditularkan melalui orangtua. “Kemungkinan prilaku sang suami yang melakukan hubungan seks bebas dengan pasangan homoseksualnya, yang membuat mereka tertular,” kata Nuhrahim.

Penemuan baru di 2011 ini, berdasarkan laporan hasil survei Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan Badan Narkotik Nasional (BNN). Peningkatan jumlah penderita tidak lagi didominasi penggunaan jarum suntik. Tapi mulai didominasi prilaku seks bebas homoseksual atau seks antar lelaki.

Prilaku seks menyimpan, menurut Nuhrahim, tidak lagi dilakukan dilokalisasi, tapi cenderung pada teman kencan secara bergantian. Seks bebas di daerah ini sudah mencapai 60 persen, sementara penggunaan jarum suntik sebesar 58,6 persen.

Jumlah penderita HIV AIDS di Sulawesi Selatan tahun ini mencapai 3.918 jiwa, mengalami peningkatan 60 persen dari 2010 yang hanya mencapai 2.400 jiwa. Penderita penyakit kelamin di daerah ini berada diurutan ketiga setelah Papua dan DKI Jakarta. Sulawesi Selatan juga menduduki urutan ketujuh penderita HIV dan kedelapan pengguna narkoba di Indonesia.

Kulit Tohari Warga Surabaya Mendadak Berubah Menjadi Sekeras Beton

Kelainan yang dialami Tohari ini cukup aneh. Sekujur kulitnya tiba-tiba mengeras seperti papan kayu. Akibatnya, tubuh pria 35 tahun ini menjadi kaku. Geraknya pun terbatas. “Sekarang saya tidak bisa menengok dengan memutar leher,” kata Tohari saat ditemui di rumah orang tua angkatnya, Wahyudi, di Jalan Nginden III No.4 Surabaya, Selasa, 28 Juni 2011.

Tidak hanya kesulitan memutar leher, Tohari juga sukar membuka mulut karena rahangnya terasa menebal. Tak heran bila bapak satu anak ini butuh waktu lama untuk makan dan minum. “Mulut saya hanya bisa membuka separo, tidak bisa bebas seperti dulu,” imbuh lelaki asal Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk ini.

Tohari juga tidak bisa tidur dengan leluasa. Sebab untuk mengubah posisi rebahan, dia cukup kesulitan. Sehingga sepanjang malam Tohari hanya tidur dalam posisi telentang. Ketika Tempo memegang tubuhnya, daging Tohari terasa keras seperti semen kering sehingga tidak bisa dicubit.

Tohari tidak tahu penyakit apa yang sedang dia derita. Sebab kelainan itu muncul sejak 2006 atau sepulang dari bekerja di Jakarta. Saat hendak potong rambut, tukang cukurnya kaget karena rambut Tohari mengeras. “Saya baru sadar kalau terserang kelainan tubuh,” ungkap Tohari.

Dia mencoba menyembuhkan kelainan itu dengan berobat ke juru sembuh alternatif. “Sudah tak terhitung saya berobat ke penyembuhan alternatif, bahkan sampai ke Banten segala. Tapi tak ada perkembangan,” kata Tohari.

Pada 2008 Tohari mencoba berobat ke Rumah Sakit Umum Nganjuk. Tapi, menurutnya, dokternya ikut bingung melihat penyakitnya. Setahun kemudian Tohari ke dokter spesialis syaraf dan kulit Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya. Di sana, selain diberi obat-obatan medis Tohari juga dikasih obat herbal. “Sejauh ini tidak ada perubahan,” ucapnya.

Kini Tohari sudah tidak bisa berdiri tegak. Tubuhnya membungkuk, tangannya makin lama makin bengkok karena sulit diluruskan. Kelainan tubuhnya ini juga berpengaruh pada penis Tohari. Menurut dia, sejak terserang kelainan itu “burung” nya makin mengkerut dan mengeras. “Tapi masih bisa ereksi,” kata dia.