Di era modernisasi, dunia makin tanpa batas. Perjalanan lintas benua dengan pesawat selama belasan jam pun kian banyak dilakukan sebagian masyarakat di berbagai belahan dunia untuk berbagai urusan. Akan tetapi, perjalanan panjang itu ternyata bisa membahayakan kesehatan, bahkan mengancam jiwa penumpang.
Dalam sebuah rute perjalanan dari Asia ke Amerika Serikat, misalnya, para penumpang pesawat kelas ekonomi harus duduk selama belasan jam. Siapa menduga jika perjalanan itu berujung maut bagi salah seorang penumpang pesawat akibat mengalami darah beku yang menyumbat pembuluh vena.
”Ini dikenal sebagai sindroma penumpang pesawat kelas ekonomi. Karena otot kaki tidak bergerak saat duduk di pesawat dalam waktu lama, penumpang bisa mengalami terjadinya darah beku yang menyumbat pembuluh vena (venous thromboembolism/VTE) di paru-paru,” kata Direktur Institut Riset Thrombosis, London, Inggris, Prof Ajay Kakkar.
Gumpalan darah yang membeku dapat merusak dan memblokir sirkulasi darah dalam tubuh. Salah satu bagian dari bekuan darah itu kemungkinan bisa pecah dan pada akhirnya memblokir pembuluh darah sehingga memotong pasokan darah ke sejumlah organ penting dalam tubuh. Proses bekuan darah yang pecah dan menyumbat pembuluh darah vena dikenal sebagai VTE.
Menjaga sirkulasi
Ada sejumlah faktor utama yang berperan penting dalam menjaga sirkulasi darah agar tidak membentuk bekuan darah. Jika darah mengalir bersama pembuluh darah, itu akan mengurangi risiko terjadinya bekuan darah. Ketika aliran darah dalam pembuluh vena tidak lancar, hal ini memberi kesempatan bagi darah untuk membeku.
Faktor lain adalah menjaga agar dinding pembuluh darah tetap utuh, karena hancurnya dinding pembuluh darah, misalnya akibat pembedahan atau terluka, bisa menyebabkan aliran darah membentuk gumpalan darah yang membeku. Pemeliharaan tubuh untuk menjaga keseimbangan antara pengenceran dan pembekuan darah juga perlu dijaga agar tidak terbentuk bekuan darah.
Komplikasi
Darah beku yang menyumbat pembuluh darah vena dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal bagi penderitanya. Untuk menghindari terjadinya komplikasi yang membahayakan keselamatan jiwa pasien, upaya pencegahan perlu dilakukan kepada mereka yang berisiko terserang VTE.
”VTE merupakan salah satu isu utama kesehatan masyarakat yang sebenarnya dapat dengan mudah dicegah, baik pada pasien medik akut maupun yang dioperasi,” kata konsultan vaskular Dr Alexander Cohen dari Departemen Bedah King’s College Hospital London, dalam Pertemuan Asia Pasifik Pakar VTE, Sabtu (26/7) di Nusa Dua, Bali.
VTE dapat terjadi pada semua tempat dalam pembuluh darah vena, tetapi manifestasi paling umum adalah deep vein thrombosis (DVT) atau trombosis vena dalam, biasanya terjadi di bagian kaki. DVT merupakan pembentukan bekuan darah pada satu dari pembuluh vena dalam. Jenis trombosis ini dapat terjadi setelah proses pembedahan.
”Bila tidak segera ditangani secara tepat, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi yang bisa berakibat fatal. Salah satunya adalah emboli paru atau pulmobary embolism (PE),” kata Ajay.
Emboli paru terjadi apabila darah beku lepas dari lokasi terbentuknya bekuan darah dan masuk ke aliran darah menuju jantung lalu menyumbat di paru-paru sehingga mengancam jiwa pasien.
Emboli paru dialami 2-4 persen dari pasien DVT. ”Mayoritas pasien DVT yang mengalami emboli paru tidak menunjukkan gejala spesifik sehingga sulit dideteksi,” ujarnya. DVT atau PE bisa terjadi pada pasien medis akut yang dirawat dan tirah baring seperti penderita iskemik stroke akut, pasien infark jantung akut, penderita infeksi paru akut, dan hampir semua jenis kanker.
Pasien yang baru menjalani operasi seperti bedah ortopedi juga merupakan faktor risiko terjadinya DVT. Beberapa faktor risiko lain adalah, usia di atas 40 tahun, obesitas, ketidakmampuan bergerak, bepergian dengan pesawat lebih dari delapan jam, kehamilan, dan terapi hormon.
”Faktor risiko utama DVT adalah usia lanjut, penderita kanker, gagal jantung, dan penyakit paru-paru kronis,” ujar Cohen.
Di Amerika Serikat, kasus VTE mencapai 745.000 pasien per tahun dan 235.000 orang di antaranya berakibat fatal. Laporan lain menyebutkan, insiden DVT 145 per 100.000 penduduk, sedangkan emboli paru tanpa DVT 69 per 100.000 penduduk yang artinya emboli paru itu tidak selalu disertai DVT. Sementara itu, di Inggris, VTE menyebabkan 60.000 kematian setiap tahun.
Hasil studi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan, dari 17 pasien yang dioperasi, 13 orang menjalani pemeriksaan venografi dan sembilan di antaranya positif DVT.
”Banyak pasien tidak terdeteksi mengalami bekuan darah pada pembuluh vena sehingga menghambat kesembuhan,” ujar ahli hematologi-onkologi dr Djumhana.
Pencegahan
”Darah beku yang menyumbat pembuluh darah vena sebenarnya dapat dicegah dengan sering berjalan-jalan atau menggerakkan otot kaki, termasuk bagi penumpang pesawat dengan lama perjalanan lebih dari 8 jam,” kata Djumhana. Dengan berlatih menggerakkan otot, terutama bagian kaki, secara teratur, serangan VTE dapat dihindari.
Bagi pasien yang harus dirawat dan tirah baring dalam waktu lama atau sulit bergerak, pencegahan dilakukan dengan pemberian antikoagulan, baik suntikan maupun oral. Suntikan dapat diberikan intra vena langsung atau disuntik subkutan. Obat suntikan parenteral seperti Heparin, sedangkan yang subkutan adalah Heparin berbobot molekuler rendah (LMWH), bertujuan mencegah pembekuan darah pada pembuluh vena atau arteri.
”Low molecular weight Heparin (LMWH) lebih aman, efektif mengurangi angka kematian karena emboli paru, tidak meningkatkan risiko perdarahan, dan mengurangi efek samping penggunaan jangka panjang, seperti pengeroposan tulang dibanding jenis terapi pencegahan lain,” ujarnya. Pemberian obat antikoagulan ini diberikan pada mereka yang berisiko mengalami DVT atau PE, terutama sebelum dilakukan operasi besar dan bedah ortopedi.
Karena tingginya angka kematian akibat pembekuan darah yang menyumbat pembuluh vena, tutur Ajay, saat ini obat antikoagulan telah direkomendasikan di banyak negara sebagai pencegahan komplikasi pada pasien dengan faktor risiko mengalami DVT. Akan tetapi, perlu diantisipasi efek samping penggunaan obat ini dalam jangka panjang terutama perdarahan dan osteoporosis pada pasien.
Kurang peduli
Hasil studi global ENDORSE yang dipublikasikan dalam jurnal The LANCET memperlihatkan, 52 persen dari total jumlah pasien di rumah sakit itu berisiko mengalami VTE, mereka adalah pasien yang dioperasi dan pasien yang dirawat. Studi tersebut melibatkan 60.000 pasien di 358 rumah sakit di 32 negara di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia, Australia, dan Afrika Utara.
Akan tetapi, hanya sekitar 50 persen dari semua pasien dengan risiko terkena VTE yang mendapat terapi pencegahan dengan tepat. Dengan rincian, 59 persen dari pasien yang menjalani operasi dan berisiko terkena VTE, serta 40 persen dari pasien medik yang berisiko mengalami VTE.
”Tidak ada perbedaan nyata antara kondisi di Asia, Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Afrika,” kata Cohen.
Kondisi ini disebabkan, antara lain, VTE belum dianggap sebagai masalah, khawatir terjadi perdarahan, ditambah dengan keterbatasan waktu, kurangnya staf dan sumber daya di rumah sakit, mahalnya biaya pencegahan,” kata Cohen yang ikut memimpin tim riset global itu. Penyebab lain adalah, kurangnya informasi tentang efektivitas terapi dan sulitnya mengubah perilaku petugas.
Temuan ENDORSE ini dinilai penting dalam upaya memperbaiki sistem pelayanan kesehatan nasional di berbagai negara. ”Jika kita ingin memperbaiki hasil terapi pada pasien, kita perlu mengidentifikasi semua pasien yang dioperasi maupun pasien medik yang memiliki faktor risiko VTE dan memberi terapi untuk mencegah VTE,” ungkapnya.
Maka dari itu, kesenjangan antara pedoman penerapan pencegahan VTE dan praktik di berbagai rumah sakit di seluruh dunia perlu diatasi. Rendahnya kesadaran mengenai prevalensi pasien yang berisiko mengalami VTE merupakan alasan utama terjadinya kesenjangan ini. ”Dokter harus menginformasikan kepada pasien bahwa mereka berisiko terserang VTE,” katanya.