Category Archives: Jakarta Banjir

Daftar Wilayah Di Bantaran Kali Ciliwung Yang Terendam Banjir Lagi Hingga 2-3 Meter


Pemukiman Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, akan tergenang hingga mencapai tiga meter pada Sabtu (22/2/2014) malam ini. Pasalnya, ketinggian air di pintu air Depok mencapai 300 cm. “Tadi sore kami dapat informasi, ketinggian air di pintu air Depok sampai 300 cm, diperkirakan akan sampai di Kampung Pulo sekitar jam 11 atau 12 malam, dengan ketinggian mencapai 3 meter,” kata Bambang Pangestu, Lurah Kampung Melayu, Sabtu malam.

Untuk itu, pihaknya telah melakukan antisipasi untuk menghadapi banjir dan persiapan tempat untuk pengungsi. “Kami telah siapkan pengungsian, dan lakukan kordinasi dengan beberapa pihak seperti RT, RW, Tagana, Sudin Sosial, dan lainnya, untuk antisipasi banjir ini. Karena pengungsi juga semakin banyak,” katanya.

Sebelumnya, beberapa wilayah di Kampung Melayu sudah tergenang dan di beberapa tempat banjir menggenang hingga kedalaman 2 meter. Sebanyak 101 warga pun telah mengungsi. Inilah wilayah di Kampung Melayu yang telah tergenang banjir. Genangan mencapai 30 sentimeter sampai 200 sentimeter dengan radius 20 meter dari bantaran Kali Ciliwung.

- RW 01 : 5 RT dengan 158 KK atau 396 jiwa
– RW 02 : 11 RT dengan 632 KK atau 1.789 jiwa
– RW 03 : 15 RT dengan 853 KK atau 2.312 jiwa
– RW 04 : 2 RT dengan 75 KK atau 158 jiwa
– RW 05 : 2 RT dengan 74 KK atau 214 jiwa
– RW 07 : 10 RT dengan 412 KK atau 1.691 jiwa
– RW 08 : 8 RT 571 KK dengan 983 jiwa

Total : 7 RW/53 RT dengan 2.775 KK atau 7.543 jiwa yang terdampak banjir

Baru sepekan menikmati rasanya kembali ke rumah pascabanjir, warga Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, terpaksa mengungsi kembali. Rumah mereka kembali dilanda banjir hingga ketinggian 2 meter, Sabtu (2/2/2014).

Berry (41), warga RT 04 RW 03, terpaksa mengungsi ke tempat saudaranya di RW 02 untuk menghindari banjir tersebut. Meski tempat tinggalnya terdiri dari dua lantai, ia memilih mengungsi karena belum ada persiapan saat listrik dimatikan akibat banjir. “Air masuk dari siang, tapi perlahan naik terus, sampai sekarang sudah 2 meter,” kata Berry, Sabtu malam.

Ia mengaku sudah cukup lelah menghadapi banjir tersebut. Sepekan lalu, ia baru saja membersihkan endapan lumpur di rumahnya. “Bersihin lumpurnya aja bisa lebih dari seminggu sendiri,” kata pria yang bekerja di penyedia jasa ekspedisi ini.

Kusir Delman dan Kudanya Tewas di Perumahan Sangrila Dua Karena Terobos Banjir


Dua orang tewas terseret arus deras di Perumahan Sangrila Dua, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, Sabtu (22/2/2014). Ibnu (19), seorang saksi mata, mengungkapkan dua orang korban tewas tersebut akibat tenggelam. Korban pertama adalah seorang anak kelas VI sekolah dasar yang sedang bermain banjir di perumahan Sangrila Dua. “Kalau yang anak kecil meninggal sekitar jam setengah empat sore (15.30 WIB),” ujarnya.

Sementara itu, korban lainnya yang meninggal sekitar pukul 17.30 WIB adalah seorang pria yang sehari-hari berprofesi sebagai kusir delman. Pria yang kerap disapa Gondrong itu tewas ketika sedang melintas perumahan Sangrila Dua mengendarai kudanya. “Kusirnya meninggal, kudanya juga mati,” kata Ibnu.

Hingga berita ini diturunkan, kawasan perumahan Sangrila Dua masih dilanda banjir. Air yang menggenangi kawasan perumahan tersebut mencapai 1,5 meter. Sementara, arus lalu lintas di perumahan tersebut masih dilanda kemacetan. Air yang ada di perumahan juga mengalir keluar ke Jalan Ciledug Raya yang membuat kendaraan yang hendak ke Ciledug dan sebaliknya mengalami kemacetan parah.

Perumahan Sangrila Dua dilanda banjir saat hujan terus mengguyur kawasan Jakarta dan sekitarnya sejak pagi hari hingga petang. Kawasan perumahan tersebut memang kerap menjadi langganan banjir karena letaknya bersebelahan dengan sebuah kali. Jasad kuda yang tenggelam bersama sang pemilik Sabtu (22/2/2014) petang masih tergeletak di tengah sawah yang ada di perumahan Sangrila Dua, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, Minggu (23/2/2014) pagi.

Jasad kuda tersebut masih lengkap dengan tali pedati yang melekat pada tubuhnya. Delman yang berwarna hitam tersebut belum diangkat dari tengah sawah karena air masih cukup tinggi. Warga perumahan Sangrila Dua dan masyarakat sekitarnya ramai melihat jasad kuda naas itu yang masih lengkap dengan delmannya. Pantauan Wartakotalive.com mulai dari anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak memenuhi lokasi jasad kuda yang belum diangkat ke permukaan tersebut.

Kuda itu merupakan milik Syarifudin (31) yang tak lain kusir delman yang terseret arus banjir. Syarifudin juga turut menjadi korban karena tak mampu menyelamatkan diri saat arus banjir yang cukup deras menyapu dirinya. Untung, seorang saksi mata mengatakan Syarifudin tidak mampu menyelamatkan diri karena arus yang menghantamnya cukup deras. Menurutnya, Syarifudin sempat berenang untuk menyelematkan diri namun nasib berkata lain.

“Kusirnya sebenarnya bisa berenang, tapi dia juga mau nolong kudanya. Mungkin kecapean, akhirnya si gondrong (Syarifudin) tenggelam,” katanya. Pencarian jenazah Syarifudin pun cukup cepat. Menurut Untung tak sampai 30 menit jenazah pria asal Banjar tersebut berhasil ditemukan oleh para pemuda Sangrila Dua yang melakukan evakuasi.

“Jenazahnya cukup cepat ditemuinnya. Setengah jam udah ketemu. Pas ditemuin jenazahnya ada di dasar sawah,” tuturnya. Sebelum Syarifudin, bocah kelas VI sekolah dasar juga menjadi korban banjir di perumahan Sangrila Dua. Bocah bernama Cahya itu juga tewas karena terseret oleh arus yang cukup deras.

Banjir yang kembali melanda kawasan Jakarta Sabtu (22/2) kemarin kembali menelan korban jiwa. Seorang kusir delman dilaporkan tewas tenggelam di Pemancingan Perum Shangrila Indah 2, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jaksel, setelah terbawa arus banjir. “Korban bernama Saripundin (30), warga Mampang RT 4/1 Pancoran Mas, Depok,” kata Kasubag Humas Polres Jakarta Selatan AKP Aswin, Minggu (23/2/2014).

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (22/1) pukul 18.30 WIB. Korban saat itu sedang menuntun delman melewati pinggiran kolam. Warga sudah memperingati, namun sang kusir tetap melaju terjang banjir. “Tiba-tiba kuda mengamuk dan korban tercebur ke dalam kolam,” katanya. Diduga, karena tidak bisa berenang, kusir pun tenggelam. Korban kemudian ditemukan warga dalam kondisi tewas beberapa saat setelah peristiwa itu terjadi.

Di lokasi yang sama, seorang bocah berusia 13 tahun, Cahya Adiputra juga dilaporkan tewas pada Sabtu (22/2) pukul 17.00 WIB. Saat itu, korban sedang bermain di dekat pemancingan ikan. “Korban lalu tercebur dan tenggelam ditemukan sudah meninggal dunia. Korban langsung dibawa ke rumah duka oleh pihak keluarga,” pungkasnya.

Jakarta Utara Lumpuh Dilanda Banjir Akibat Hujan Pagi Hari


Hujan deras pagi tadi menyebabkan sejumlah kawasan di Jakarta Utara seperti Pademangan, Kelapa Gading, dan Yos Sudarso, tergenang air hari ini, Rabu, 5 Februari 2014. Namun, hujan bukan jadi satu-satunya penyebab banjir. Menurut Wagiman, penyebab banjir di Jakarta Utara adalah limpasan air dari berbagai kali. Adapun limpasan air itu sendiri karena kiriman air dari hulu. Sebagai contoh, Jalan Yos Sudarso hari ini banjir dari ketinggian rendah hingga setinggi lutut atau antara 10-50 cm karena limpasan dari Kali Sunter. Air dari Kali Sunter sendiri tumpah karena tidak lagi sanggup menampung air kiriman dari Pintu Air Pulo Gadung, Pompa Pulomas, dan Pintu Air Kali Item.

“Jakut itu kan daerah hilir, muaranya sungai. Sementara itu, daerah parkir air sudah hampir tidak ada dan saluran pun lebarnya tidak bertambah,” ujar Wagiman. Meski Jakut dilanda banjir, Wagiman optimis genangan tak bertahan lama. Ia memperkirakan sore atau malam ini air sudah surut karena air pasang juga perlahan turun. Sementara itu, berdasarkan pantauan Tempo, banjir di Jakut hari ini menyebabkan sejumlah pengendara kendaraan bermotor nekat melanggar lalu lintas. Sebagai contoh, motor menghindar genangan dengan masuk tol Wiyoto Wiyono.

Di daerah Pademangan dan Gunung Sahari, bahkan motor melawan banjir dengan menggunakan jalur busway yang berlawanan arah. Mereka sampai berkelit berkali-kali untuk menghindari motor atau mobil dari arah sebaliknya.

Berikut data yang dikompolasi terkait jalur yang tergenang sepanjang hari ini:
-Jalan Yus Sudarso: 10-50cm
-Jalan Boulevard Kelapa Gading: 20-30 cm,
-Jalan Kelapa Nias: 10-25 cm,
-Jalan Kelapa Hibrida: 15-20 cm,
-Jalan Boulevard Barat: 10-30 cm
-Jalan Rawa Indah: 20-40 cm,
-Jalan Kelapa Gading Timur:10-30 cm
-Jalan Gunung Sahari Raya: 10-20cm
-Jalan Kampung Bandan: 20-40 cm

Hujan deras yang mengguyur Jakarta Utara dari Selasa malam membuat genangan di sejumlah titik. Genangan itu membuat layanan transportasi terganggu, bahkan hingga Rabu, 5 Februari 2014. Berdasarkan pantauan genangan tinggi berada di sekitar kawasan Pademangan, Ancol, Mangga Dua, serta Kampung Bandan yang memang menjadi lokasi yang dilewati beragam jalur transportasi.

Layanan transportasi yang terganggu adalah mikrolet, ojek, kereta, dan Transjakarta. Untuk mikrolet dan ojek, hanya sedikit yang mau mengantar penumpang melewati jalur Mangga Dua ataupun Kampung Bandan. Kebanyakan mikrolet dan ojek hanya mau mengantar hingga ITC Mangga Dua. Dari situ, penumpang diminta turun dan berjalan kaki menerobos banjir. Sopir ojek dan angkot mengaku terpaksa melakukan hal itu untuk menjaga kondisi mesin kendaraan mereka.

“Duh, gak berani saya mas kalau diminta sampai Pademangan. Di sana selutut,”ujar Puji (39), tukang ojek di dekat Mangga Dua. Layanan bus Transjakarta, ada empat koridor yang terganggu. Gangguan terjadi di koridor 5, 8, 9,dan 12. Khusus untuk kawasan Jakarta Utara, Koridor 12 jurusan Tanjung Priok-Pluit berhenti operasi sejak pukul 08.15 pagi tadi. Anehnya, tak ada pemberitahuan di halte Transjakarta Kota. Pantauan Tempo, ada sejumlah penumpang transit yang kebingungan kenapa bus tak kunjung datang.

Sementara itu, Humas PT KAI Comuter Jabodetabek, Eva Chairunisa, menjelaskan bahwa rel jalur 9, 10, 11 dan 12 di stasiun Kota tertutup genangan. Hal itu menyebabkan kereta tidak sampai ke Stasiun Jakarta Kota. “Seluruh perjalanan KRL menuju Stasiun Jakarta Kota belum dapat dilakukan. Demikian juga dengan Stasiun Kampung bandan,” katanya.

Perjalanan KRL sendiri harus mengalami perubahan pola operasi akibat ganggu ini. Untuk perjalanan KRL Bekasi – Jakarta Kota, hanya sampai Stasiun Jatinegara karena gangguan persinyalan di Stasiun Jakarta Kota. Sementara itu, perjalanan KRL Bogor – Jakarta Kota hanya sampai Stasiun Manggarai. Untuk perjalanan KRL Bogor – Jatinegara, hanya sampai Stasiun Duri. Sebagai gantinya dijalankan feeder Jatinegara – Pasar senen.

Perubahan operasi ini membuat stasiun Kota dan Kampung Bandan tampak sepi. Berdasarkan pantauan Tempo, hanya ada 3-4 orang di Stasiun Kampung Bandan. Di Stasiun Kota, lebih banyak meskipun tak banyak biasanya.

Orang-orang yang berada di stasiun itu mengaku menunggu kereta listrik karena diperbolehkan pulang cepat sebelum hujan menjadi terlalu deras. Namun, nyatanya, sampai sekarang, belum ada kereta lewat. “Kalau kerera lokomotif sih ada mas, dan memang biasanya bisa,” ujar Aminah, 60 tahun, penumpang.

Daftar Wilayah Di Jakarta Yang Mati Listrik Selama 3 Minggu Karena Banjir


Akibat masih terjadinya banjir dan cuaca buruk sepanjang awal tahun ini, PT PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang masih melakukan pemadaman sejumlah gardu listrik. “Status pada pukul 08.00 WIB masih terdapat 22 gardu distribusi yang masih dipadamkan,” ujar Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Roxy Swagerino dalam keterangannya, Senin (3/2/2014).Roxy mengatakan, akibat masih padamnya 22 gardu listrik, beberapa wilayah di Jakarta masih dilakukan pemadaman listrik. “Wilayah yang padam yaitu Kramat Jati, Jatinegara, dan Lenteng Agung,” ucap Roxy.

Pemadaman listrik tersebut sudah berlangsung 3 minggu, akibat wilayah tersebut masih tergenang banjir.

“Sudah lebih dari tiga minggu banjir menenggelamkan sebagian wilayah Jakarta dengan tidak memandang status sosial ekonomi. Sementara itu, demi keamanan dan keselamatan masyarakat, PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang masih memutus aliran lisrik dengan memadamkan pasokan dari gardu distribusi. Upaya ini dilakukan mengingat bahaya yang akan ditimbulkan oleh listrik saat air menggenang,” katanya.

Roxy menambahkan lagi, kesiapan wilayah yang listriknya bisa dinormalkan yaitu bila seluruh wilayah yang dilayani dari gardu distribusi tersebut sudah dalam keadaan kering. Tidak itu saja, dari pihak PLN juga memerlukan waktu untuk melakukan pembersihan dan revisi gardu. “Pelanggan juga dimohon melakukan pengecekan dan memastikan instalasi maupun alat-alat elektronik dalam keadaan kering. Jadi, setelah banjir surut, butuh waktu dan proses untuk penormalan gardu distribusi. Apabila terjadi banjir susulan, tidak menutup kemungkinan gardu distribusi yang sudah normal akan kami padamkan kembali,” ucapnya.

Terkait meteran listrik yang rusak akibat banjir, Roxy memastikan PLN siap menganti KWH meter tanpa dipungut biaya atau gratis. “PLN akan mengganti KWH meter pelanggan-pelanggan yang terendam banjir dengan tidak dipungut biaya atau Gratis. PLN mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati terhadap oknum yang memanfaatkan kondisi ini dengan memungut biaya penggantian KWH meter,” ungkapnya.

“Petugas PLN akan melakukan survey dan pendataan kepada pelanggan yang KWHnya terendam banjir, selanjutnya dilakukan pengganian secara bertahap. Selain itu bagi masyarakat yang rumahnya terendam dimohon untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap instalasi listriknya dan gunakan instalatir resmi yang sudah terdaftar. Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi call center 123, website http://www.pln.co.id, Email pln123@pln.co.id, Facebook PLN 123, dan Twitter @PLN_123,” tutup Roxy.

Turunnya curah hujan di Jakarta berimbas positif terhadap surutnya air di beberapa titik banjir meski ada beberapa daerah yang ketinggian air masih tinggi. Oleh karena itu demi kemanan dan keselamatan pelanggan, PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang masih memutus aliran listrik dengan memadamkan gardu distribusi. Hingga pukul 10.00 WIB, Sabtu (1/2/2014) masih terdapat 33 gardu distribusi yang dipadamkan karena kondisi belum memungkinkan untuk dinyalakan mengingat di wilayah tersebut masih terendam air.

Adapun daerah padam tersebut yaitu;

Kramat Jati
Jatinegara
Bandengan
Lenteng Agung

“Bagi masyarakat di daerah tersebut, mohon kesabaran dan pengertiannya karena pemutusan aliran listrik tersebut demi kemanan dan keselamatan,” kata Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Disjaya dan Tangerang Roxy Swagerino dalam keterangan tertulis. “Setelah banjir surut, mohon pelanggan melakukan pengecekan terhadap instalasi listrik dan peralatan elektronik di rumah masing-masing. Pastikan semua sudah kering dan siap untuk dialiri tenaga listrik,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihak PLN juga akan melakukan pengecekan terhadap gardu distribusi dan memastikan listrik siap untuk dinyalakan. PLN juga akan mengganti KWH meter pelanggan-pelanggan yang terendam banjir dengan tidak dipungut biaya atau Gratis. PLN menghimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati terhadap oknum yang memanfaatkan kondisi ini dengan memungut biaya penggantian KWH meter. Petugas PLN akan melakukan survey dan pendataan kepada pelanggan yang KWHnya terendam banjir, selanjutnya dilakukan pengganian secara bertahap.

“Selain itu bagi masyarakat yang rumahnya terendam dimohon untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap instalasi listriknya dan gunakan instalatir resmi yang sudah terdaftar,” katanya. PLN kembali menambah pemadaman listrik, akibat hujan yang cukup deras sejak Senin kemarin yang mengakibatkan beberapa daerah kembali tergenang banjir.

“PLN Disjaya dan Tangerang memutuskan aliran listrik dari gardu distribusi sebagai langkah pengamanan, akibat hujan deras yang melanda Jakarta semalam dan mengakibatkan beberapa daerah kembali tergenang banjir,” ujar Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan, PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, Roxy Swagerino dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/2/2014).

Roxy mengatakkan, PLN meminta masyarakat saat ini memposisikan Mini Circuit Breaker (MCB dalam keadaan off, serta mencabut semua tusuk kontak dan peralatan elektronik yang masih menancap dalam kontak listrik. “Ini sebagai antisipasi awal, mencegah terjadinya bahaya akibat listrik,” ujarnya. Terkait hujan deras yang melanda Jakarta, PLN telah memutuskan aliran listrik dari gardu distribusi sebagai langkah pengamanan.

“Posisi gardu yang dipadamkan sampai dengan pukul 07.00 WIB hari ini yaitu 31 gardu dengan sebaran di Bandengan, Lenteng Agung, Kramat Jati, Jatinegara, Menteng, dan Cikupa,” ungkapnya. Roxy mengatakan, listrik akan kembali dialirkan jika rumah warga dan lingkungannya sudah dalam keadaan kering serta instalasi di rumah sudah siap untuk dialiri listrik. “Selain itu, PLN juga akan melakukan pengecekan terhadap gardu dan memastikan siap untuk mendistribusikan listrik,” ujarnya.

Banjir Dan Jalan Tergenang Ketika Hujan Menjadi Keseharian Baru Warga Jakarta


Hujan dengan intensitas sedang hingga besar mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak sore hingga tengah malam. Akibatnya sejumlah ruas jalan tergenang air, beberapa di antaranya bahkan tidak bisa dilewati. Pusat Kendali Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPBD) DKI Jakarta mencatat, sedikitnya ada 23 titik ruas jalan di Jakarta yang tergenang air banjir.

“Tercatat ada 23 titik ruas jalan di Jakarta yang tergenang air banjir akibat hujan yang cukup deras dan angin kencang,” ujar petugas Pusdalops DKI dalam pesan singkat yang diterima, Selasa (4/2/2014). Berikut titik ruas jalan yang tergenang air berdasarkan data dari Pusdalops BPBD DKI;

Untuk Jakarta Selatan, tercatat ada 6 titik ruas jalan yang terendam banjir, yaitu, Jalan Layang Tebet dekat Kasablanka di kedua arahnya. Genangan setinggi 20-30 cm. Jalan Mampang Raya arah Cilandak, genangan setinggi 20 cm.

Jalan Pondok Indah dari Gandaria City, terdapat genangan setinggi 10–20 cm, sama halnya di dekat Gandaria City. Kemudian di Jalan Permata Hijau dan Jalan Raya Fatmawati depan RS Fatmawati yang mengarah ke Lebak Bulus. Ketinggian air 20 cm.

Untuk wilayah Jakarta Timur, titik ruas jalan yang tergenang air cukup parah yaitu di jalan depan Kampung Melayu, Bukit Duri arah Cipinang. Genangan setinggi 30 cm

Di Jakarta Barat, tercatat ada 13 titik ruas jalan yang terenda banjir. Yaitu, Jalan Kembangan Utara Raya di Kompleks Taman Permata Buana. Jalan tersebut tergenang air setinggi 10-20 cm. Jalan Panjang depan Perum Green Garden, genangan setinggi 20-40 cm. Kemudian Jalan Mangga Besar, Kepa Duri, genangan setinggi 20 cm.

Di Jalan Bandara Soetta, air juga menggenangan setinggi 20 cm. Kemudian di Jalan Semanan Raya dekat pasar, ada genangan air 20–30 cm.

Selanjutnya Jalan depan Roxy Square dari arah Grogol ke Hasyim Ashari, dan depan Citraland. Genangan 30 cm. Kemudian di ruas Jalan Daan mogot depan kantor Samsat, ada genangan 20-30 cm.

Ruas Jalan Kebon Jeruk Raya arah ke Batu Sari juga tergenang air setinggi 20 cm. Kemudian Jalan Arjuna Selatan Kemanggisan pinggir tol, ada genangan 10-40 cm.

Ruas Jalan Tanjung Duren Raya, Jalan Tomang depan Kampus Trisakti dan Jalan Daan Mogot depan Indosiar juga tergenang air sekitar 30 cm.

Selanjutnya di Wilayah Jakarta Utara, ruas jalan yang tergenang ada di Jalan Tanjung Priok-Pluit-Slipi dan Jalan Kelapa Gading Raya. Genangan tercatat sekitar 10-30 cm.

Di Jakarta Pusat, Jalan Gunung Sahari dari mulai Mabes AL dan WTC Mangga Dua, genangan 10-20 cm.

Cuaca Jabodetabek hari ini diperkirakan akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi ini akan terus berlangsung hingga malam hari. Berdasarkan informasi yang dikutip dari situs BMKG, Selasa (4/2/2014), untuk wilayah Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, Tangerang dan Bekasi pagi hari ini akan diguyur hujan lebat. Sedangkan untuk wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Depok dan Bogor diperkirakan akan diguyur hujan dengan intensitas sedang.

Di sore hari, untuk wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta Utara dan Jakarta Timur akan diguyur hujan dengan intensitas ringan. Sedangkan wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bogor diperkirakan akan hujan dengan intensitas sedang.

Di malam harinya, BMKG memprediksi untuk wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Kepulauan Seribu dan Bekasi akan diguyur hujan dengan intensitas sedang. Sedangkan wilayah Jakarta Barat, Tangerang dan Bogor akan diguyur hujan lebat. Namun di wilayah Depok hujan diperkiran akan turun dengan intensitas ringan.

Wilayah Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga besar sejak sore tadi. Akibatnya sejumlah ruas jalan di beberapa titik tergenang air. Informasi yang dihimpun detikcom, Senin (3/2/2014) pukul 23.45 WIB, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat digenangi air setinggi 30 cm, tepatnya di jembatan layang Pesing mengarah ke Cengkareng. “Genangan airnya sekitar 30 cm, membuat arus lalu lintas di jembatan layang Pesing macet parah,” ujar salah seorang warga, Wiwin.

Banjir sekitar 30 cm juga terjadi di terowongan Kalimalang. Tepatnya sebelum UKI dari arah Kebon Nanas. Kendaraan terpaksa memperlambat laju kendarannya untuk melintasi terowongan ini. Tak hanya itu, di wilayah jalan layang Tebet, tepatnya di dekat Mal Kota Casablanca, di kedua arahnya tergenang air cukup tinggi. Air setinggi 20 cm juga merendam ruas jalan di depan Mangga Dua Square.

Air setinggi 30 cm juga merendam ruas jalan di depan kantor Pemadam Kebakaran Jakarta Barat dan Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Grogol. Dilaporkan jalur ini tidak bisa dilintasi kendaraan. Selain itu, ruas jalan di seputaran Medan Merdeka, Monas, juga dilaporkan tergenang air setinggi 20 cm.

LSM Gugat Pemda Bekasi Karena Banjir Di Muaragembong Semakin Meluas


Lembaga Kajian Advokasi dan Informasi Lingkungan Hidup (eL-KAIL) akan menggugat Pemerintah Kabupaten Bekasi terkait dengan banjir di wilayah pesisir Bekasi, terutama Kecamatan Muaragembong, yang semakin meluas. Sekretaris Jenderal eL-KAIL Sardi Adi Saputra mengatakan dasar gugatan adalah kerusakan lingkungan. “Pembalakan liar hutan mangrove menjadi salah satu penyebab banjir di Muaragembong,” kata Sardi, Kamis, 30 Januari 2014.

Sardi mengatakan banjir rob di wilayah itu semakin meluas seiring berkurangnya hutan mangrove. Ia mencatat, pada 1998, hutan mangrove di Kecamatan Muaragembong mencapai 1.500 hektare. Namun, akibat pembalakan oleh perusahaan minyak untuk pengeboran dan pertambakan, saat ini tinggal 100 hektare. “Pada 2012 lalu masih tersisa 400 hektare,” kata warga asal Muaragembong ini.

Di Kecamatan Muaragembong, sedikitnya ada tujuh kilang minyak yang sudah beroperasi. Lokasinya terletak di Desa Pantai Harapan Jaya, Desa Jayasakti, dan Desa Pantaimekar. Selain itu, perusahaan korporasi pertambakan juga dituding melakukan pembalakan liar.

“Tambak milik warga luar Bekasi, ada yang dari Jakarta. Warga sekitar hanya bekerja sebagai penjaganya,” ujar Sardi. Akibat pembalakan itu, banjir rob di wilayah setempat semakin meluas. Banjir rob mengikis hampir seluruh desa tersebut, di antaranya Desa Pantai Bahagia, Desa Pantai Bakti, Pantai Sederhana, dan Desa Pantai Mekar.

Selain mengikis desa, pembalakan mengakibatkan menyusutnya jumlah lutung Jawa. “Lutung Jawa tinggal 72 ekor. Ini terancam punah kalau sampai terjadi hutan gundul,” ia menambahkan. Sardi menuding pemerintah daerah tak dapat mengimplementasikan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup. “Pemerintah daerah tidak mempunyai peraturan sendiri mengatur lingkungan hidup,” kata dia.

Ia menambahkan, meski Kecamatan Muaragembong memiliki kekayaan alam, warganya jauh dari sejahtera. Menurut dia, rata-rata penghasilan mereka tak lebih dari Rp 15 ribu sebagai buruh tani, nelayan, serta penjaga tambak. “Ini sangat ironis. Apalagi kalau terkena banjir, warga tak bisa beraktivitas. Hanya mengandalkan bantuan dari luar,” ujarnya.

Selain karena kerusakan lingkungan, banjir di wilayah itu diakibatkan meluapnya Kali Citarum. Kali yang berhulu di Kabupaten Bandung itu bermuara di Desa Pantai Sederhana, Kecamatan Muaragembong. Setiap hujan lebat dipastikan kali tersebut meluap. Sejauh ini, menurut dia, tanggul yang dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane belum mampu menahan luapan air dari kali tersebut. “Kami akan gugat pembangunannya ke BBWS,” kata dia.

Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informasi Pemerintah Kabupaten Bekasi Beny Saputra mengatakan bakal mempelajari isi dari gugatan tersebut. Sejauh ini, kata dia, belum ada gugatan secara tertulis yang masuk ke pemerintah terkait dengan persoalan banjir. “Akan kami pelajari materi gugatannya,” ujar Beny

Cibubur Dan Jatibening Kembali Di Landa Banjir Karena Hujan


Hujan deras yang turun sejak semalam membuat Jalan Alternatif Cibubur banjir. Genangan yang cukup tinggi ini membuat lalu lintas di kawasan tersebut macet parah. “Macetnya sudah dari sekitar pukul 05.30 WIB, lalu lintas tidak bergerak sama sekali. Macet total,” kata Yofie salah seorang warga Cibubur, Selasa (28/1/2014) pukul 09.30 WIB.

Yofie mengatakan ada sekitar tiga titik banjir di kawasan itu. Lokasi pertama di dekat sekolah Alazar Syifa Budi, di dekat lampu merah Plaza Cibubur dan di sekitar perumahan Taman Kenari. “Cukup dalam banjirnya sehingga kendaraan sulit melintas,” katanya.

Yofie mengatakan, dirinya sempat mencoba berfikir untuk mengambil jalan lain melintasi JORR untuk bisa menuju kantornya di Kebon Jeruk. Namun rekannya mengatakan lalu lintas di kawasan itu juga macet parah. “Teman saya nelepon mengatakan kalau lalu lintasnya di sana juga macet parah,” katanya.

Selain Cibubur, banjir juga menggenangi kawasan Jatibening, Bekasi, Jawa Barat. Banjir yang cukup dalam menggenangi komplek Dosen IKIP di Jatibening. Banjir membuat jalur Jatibening-Pondok Gede terputus. “Kalau di dalam komplek kedalamannya 1,5 meter sedangkan di jalanan depan komplek sekitar 1 meter,” kata warga Komplek Dosen IKIP Arif Hidayat, Selasa (28/1/2014) pukul 11.15 WIB.

Arif mengatakan, genangan yang cukup tinggi ini membuat banyak kendaraan yang putar balik. Hanya mobil-mobil truk besar yang bisa menembus lokasi banjir ini. Banjir ini disebabkan meluapnya sungai Jatikramat yang ada di dekat komplek itu. “Ada sebuah mobil boks yang nekat melintasi akhirnya terjebak di tengah banjir,” katanya.

Arif mengatakan ada sekitar 400 kepela keluarga yang tinggal di komplek Dosen IKIP tergenang banjir. Sebagian warga masih ada yang bertahan di dalam rumah, namun ada juga yang nekat menerobos banjir. “Ada juga yang nekat keluar rumah untuk sekedar membeli sarapan, meskipun harus berjalan di tengah air yang mencapai leher orang dewasa,” katanya.

Anggaran Banjir Jakarta Tahun 2014 Sebesar 5 Triliun Rupiah


Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menaikkan anggaran penanganan antisipasi banjir dua kali lipat dari tahun anggaran 2013 sebesar Rp 2,1 triliun. Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2014, pos ini naik menjadi Rp 5,505 triliun.

“Fokus utama adalah pengerukan kali dan pembangunan waduk baru,” kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Balai Kota pada Jumat, 24 Januari 2014. Proses pengerukan kali akan lebih mudah karena saat ini DKI sudah memiliki 26 unit ekskavator baru. Untuk waduk, DKI rencananya akan menambah 26 waduk baru dan memperluas waduk yang lama. Saat ini, di Jakarta sudah ada 76 buah waduk atau situ dengan luas total keseluruhan mencapai 502 hektar.

Anggaran untuk pembangunan waduk dan perluasan sekitar Rp 698 miliar. Beberapa waduk yang akan dibangun ada di kawasan Jakarta Selatan, seperti Pesanggrahan, Cilandak, dan Jagakarsa. Kemudian di Jakarta Timur ada di Ciracas, Pasar Rebo, dan Cimanggis.

Menurut Jokowi, pembangunan situ dan waduk ini memiliki kelebihan. Sebab, selain menampung limpahan banjir, situ dan waduk juga berperan sebagai konservasi air tanah. “Sehingga memang harus dimulai saat ini,” ujarnya.Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menuding reklamasi pantai dan alih fungsi lahan menjadi penyebab utama bencana banjir di Jakarta. Selama puluhan tahun, tata ruang dan kawasan di Jakarta dilanggar oleh pengusaha dan pemerintah. “30 tahun lalu kita tegas menolak reklamasi pantai untuk perumahan mewah,” kata Direktur Walhi Nasional, Abetnego Tarigan, Kamis 23 Januari 2014.

Pemerintah, menurut Abetnego, lebih membela investor dengan alasan investasi dan pertumbuhan ekonomi. Masalah pelanggaran tata ruang tersebut harus dilakukan dengan penegakan hukum. Seperti sejumlah industri yang berdiri di kawasan konservasi maupun kawasan lindung. Sehingga menjadi efek jera agar pengusaha mencari lahan pengganti.

“Banjir telah melumpuhkan ekonomi serta merugikan pegusaha,” katanya. Sementara bagi warga miskin yang tinggal di tepi danau atau sungai harus dilakukan relokasi. Tujuannya, untuk mengurangi penyebab banjir yang melanda Jakarta selama dua pekan terakhir.

Selama ini reklamasi pantai terjadi secara besar-besaran di Jakarta. Kawasan pesisir berubah menjadi hotel dan apartemen mewah. Seperti yang terjadi di Teluk Jakarta, katanya, tak hanya sebagai penyebab banjir juga menciptakan masalah sosial baru. Seperti para nelayan yang sebelumnya pekerjaan utama menangkap ikan di kawasan tersebut menjadi tersingkir.

“Nelayan pun menganggur,” katanya. Teluk Jakarta seluas 800 hektare tersebut telah merusakan ekologi dan ekosistem pesisir laut. Persoalan yang sama juga terjadi di Teluk Lamong di Gresik, Tanjung Benoa di Bali dan Teluk Kendari. Banjir akibat reklamasi pantai tersebut dikhawatirkan bakal terulang di kawasan tersebut.

Menurutnya, banjir di Jakarta tak hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah daerah penyangga dan pemerintah pusat juga harus turun tangan. Sebab, sejumlah kebijakan tak bisa ditangani sendiri oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. “”Sungai utama itu menjadi tanggungjawab Kementerian Pekerjaan Umum,” katanya.

Selain itu, juga perlu koordinasi lintas daerah dengan daerah penyangga seperti Depok, Bogor, Karawang dan Tangerang. Pemerintah lintas daerah, katanya, harus melakukan tindakan nyata dan terukur untuk melakukan normalisasi kawasan. Seperti mengembalikan lahan terbuka hijau, hutan lindung dan lahan persawahan.

Sementara rekayasa modifikasi cuaca dengan hujan buatan dianggap tak efektif. Selain berbiaya mahal, juga tak tepat sasaran. Karena teknologi tersebut hanya memindahkan lokasi hujan. Justru dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru bagi daerah lain.

31 Januari Banjir Rob Diperkirakan Melanda Jakarta


Banjir belum berakhir. Bah yang melanda Jakarta akibat air dan cuaca alias hidrometeorologi diperkirakan masih tinggi hingga beberapa minggu ke depan. Firdaus Ali, Pendiri dan Pimpinan Indonesia Water Institute mengingatkan adanya potensi bencana banjir yang lebih besar 31 Januari mendatang. Pada saat itu menurut dia akan terjadi air pasang puncak di Teluk Jakarta. Jika pada saat bersamaan juga terjadi hujan dengan curah tinggi dalam waktu lama, maka banjir yang lebih besar bisa melanda kawasan utara Jakarta.

“Kondisi tanah telah jenuh air sehingga membuat air limpasan dari 13 DAS yang melewati Ibu Kota tidak bisa dengan cepat dialirkan ke laut,” kata dia, Selasa (21/1). Di Jakarta menurut dia banjir bisa berupa genangan yang biasanya langsung surut dalam beberapa jam, lalu banjir akibat limpasan ketika air melebihi kapasitas daya angkut saluran, dan terakhir banjir rob khususnya di daerah utara.

Persoalan banjir akibat limpasan dari 13 aliran sungai memang sudah bertahun-tahun dihadapi Ibu Kota. Salah satu sungai yang sulit diatasi ketika musim hujan adalah Ciliwung. Sungai ini membelah Jakarta dari Selatan hingga ke Penjaringan di bagian Utara. Sungai penting di Jawa ini tak lepas dari isu perusakan seperti masalah resapan air di hulu, penyempitan trase hingga pendangkalan sungainya. Akibatnya banjir tak bisa dielakkan.Setiap kali musim hujan, airnya pasti melimpas, menggenani wilayah yang dilaluinya.

Pemerintah provinsi pun kewalahan menanggulanginya. Beragam wacana dicanangkan, mulai dari pembangunan dan revitalisasi kali, waduk, empang, situ, hingga manipulasi aliaran sungai dengan cara membangun kanal atau menyodetnya. Salah satu yang kembali digaungkan pemerintah adalah sodetan Ciliwung – Cisadane.

Sayangnya, sodetan yang sudah digagas sejak tahun 1997 ini, menurut Firdaus Ali, sulit direaliasikan. Itu sebabnya, ia lebih memilih mengajukan konsep terowongan multiguna alias Multi Purposes Deep Tunnel. Terowongan ini, kata dia, sebagai solusi karena tidak perlu pembebasan lahan, yang selama ini jadi penghambat pembangunan aneka instrastuktur di tanah air.

“Saya sudah berulang kali bilang, kalau bisa milih, bikin waduk, situ, sungai, kanal, saya pasti pilih bikin waduk dan kanal. Tapi kan persoalannya bikin waduk enggak mungkin. Berdarah-darah.Sodetan (Ciliwung – Cisadane) saja enggak mau Tangerang,” ujar Firdaus.

Kawasan Kemayoran, Senen dan Gunung Sahari Masih Terendam Banjir


Meski sebagian genangan air di jalanan di Jakarta mulai surut, tetapi di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, genangan air masih cukup tinggi. Di Jalan Gunung Sahari yang mengarah ke Senen ketinggian air masih 50 cm. Pantauan detikcom sekitar pukul 06.00 WIB, jalanan di Gunung Sahari yang mengarah ke Senen hanya bisa dilalui kendaraan lewat jalur TransJakarta. Akibat ada genangan itu lalu-lintas terpantau macet.

Untuk arah sebaliknya, genangan air tetap ada di jalanan. Tetapi tinggi genangan air itu hanya 10 centimeter. Sehingga pengendara motor dan mobil tetap bisa melintas dengan kecepatan yang minim. Sementara di Perempatan Jalan Angkasa, genangan air sudah mulai surut. Ketinggian genangan hanya sekitar 20 centimeter. Lalu-lintas terpantau belum padat karena masih pagi. Menurut Supriyadi, petugas kebersihan di lokasi, genangan air itu disebabkan karena tadi malam hujan deras mengguyur kawasan Kemayoran.

Genangan air setinggi 50 cm masih mewarnai Jalan Bungur Raya, Senen, Jakarta Pusat. Lalu lintas dari arah Senen menuju Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang melalui Jalan H Samanhudi, terputus. Genangan ini terlihat setelah perempatan menuju Jalan Garuda hingga traffic light Jalan H Samanhudi. 1 Unit mobil milik Sudin Perhubungan Jakarta Pusat terparkir melintang di perempatan jalan itu. “Nggak bisa lewat. Banjirnya tinggi,” ujar petugas Dishub di perempatan tersebut, Kamis (23/1/2014).

Puluhan kendaraan baik roda 2 maupun roda 4 memilih untuk berputar balik. Beberapa kendaraan roda 2 yang nekat menerobos terpaksa harus mendorong motornya di tengah banjir. Jalan-jalan kecil di sekitar Jalan Bungur Raya juga masih tampak tergenang. Genangan setinggi 30 cm masih terlihat di Jalan Bangau dan gang-gang kecil di Jalan Gunung Sahari. Imbasnya, Jalan Garuda padat merayap. Kendaraan dari arah Senen menuju Kemayoran memilih berbelok melalui Jalan Garuda. Sementara itu cuaca di sekitar lokasi gerimis.

Hujan yang terus mengguyur kawasan Ibu Kota dan sekitarnya, menimbulkan genangan air dan banjir. Di Sawah Besar, Jakarta Pusat, sedikitnya ada 18 titik ruas jalan yang tergenangi air, dengan ketinggian bervariasi hingga 50 Cm. Kapolsek Sawah Besar Kompol Shinto Silitonga menginformasikan genangan air di wilayah Sawah Besar yang terpantau hingga pukul 08.00 WIB, Kamis (23/1/2014). “Sebagian masih bisa dilintasi, sebagian lagi tidak dapat dilalui kendaraan karena ketinggian air cukup tinggi,” kata Shinto melalui siaran persnya.

Berikut titik-titiknya:

1. Jl Kelinci Raya ketinggian air 40 cm
2. Jl Kelinci 1-2-3-4 setinggi 40-50 cm
3. Jl Gereja Ayam ketinggian air 40 cm
4. Jl Pasar Baru Selatan 20 cm
5. Traffic Light MBAL 20 cm (dapat dilalui)
6. Jl Krekot Bunder Raya 30-40 cm
7. Jl Lautze 20 cm
8. Jl Industri I (perbatasan wilayah Pademangan) 60-70 cm
9. Jl Industri Raya (belakang Hotel Media) 50 cm
10. Jl Pangeran Jayakarta 10-20 cm
11. Jl Mangga Dua Raya 10-20 cm
12. Jl Mangga Besar Raya 10 cm
13. Jl Gunung Sahari Raya depan SPBU 50 cm, dapat dilalui pada jalur busway
14. Jl Gunung Sahari VII A-B-C 50 cm
15. Jl Kartini Raya 15-20 cm
16. Jl Kartini 1, 4 Dalam, 10 dan 10 A ketinggian 50 cm
17. TL Pintu Besi 15cm (dapat dilalui jalur busway)
18. TL Pintu Air 20-30 cm (dapat dilalui jalur busway)

Puluhan motor mogok alias tak bisa jalan karena nekat dipaksa pemiliknya menembus banjir di kawasan Kemayoran, Jakpus. Ketinggian air di kawasan itu sejatinya memang belum bisa dilalui pemotor. Namun menurut pembaca detikcom, Danang Prihatoro dalam surat elektroniknya, Kamis (23/1/2014) banyak pemotor yang nekat. Alhasil para pemotor ini mesti gigit jari dengan kondisi motor mereka yang mogok.

Kawasan Kemayoran ini mengalami banjir sejak Rabu (21/1). Air kali di sekitar Jl Industri Kemayoran meluap ke jalan. Akibatnya lalu lintas terputus. Banjir ini cukup merepotkan para pengguna jalan. Bagi beberapa mobil mungkin bisa menerobos, tetapi bagi yang lainnya tidak. Nah, bagi pemotor semestinya tidak nekat menembus banjir, tapi tetap saja ada yang mencoba mengadu peruntungan walau hasilnya ada yang sukses dan ada juga yang mogok.

Genangan air masih terjadi di berbagai ruas jalan di Jakarta. Genangan ini membuat lalu lintas mengalami kemacetan yang cukup panjang. Para pengendara yang melintas di lokasi genangan kebanyakan memilih jalur sebelah kanan. Hal ini disebabkan jalur ini lebih tinggi sehingga kendaraan mereka tidak terkena genangan banjir. TMC Polda Metro Jaya, Kamis (23/1/2014), menyatakan banyak pengendara yang tetap menerobos perlintasan yang digenangi air. Berikut ini adalah ruas-ruas jalan yang tergenang air:

1. Jl Industi, Kemayoran, sedalam 30 cm
2. Jl Gunung Sahari di depan Samsat Jakarta Utara setinggi 25 cm
3. Kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara sedalam 20 cm
4. Pademangan, Jakarta Utara sedalam 25 cm
5. Jl Ring Road Kembangan sedalam 30 cm
6. Perempatan Holel Golden Boutique di Jl Gunung Sahari sedalam 20 cm

Sementara itu lokasi banjir di Jl Abdullah Syafei dan di flyover Rawajati mulai surut. Pengendara sudah bisa melintas di Jl Abdullah Syafei, namun harus mengambil jalur paling kanan karena di lokasi sebelah kiri jalan masih ada genangan.