Category Archives: Jalan Jakarta Banjir

Belajar Dari Banjir Di Jakarta Karena Rumah Warga Jakarta Tidak Punya Area Resapan Air Hujan (Semua Disemen)

Banjir di wilayah Jakarta yang terjadi sejak Selasa 15 Januari 2013 hingga sekarang telah menimbulkan korban jiwa, kerugian, dan kerusakan pada banyak sektor.

Hingga 23 Januari, korban jiwa tercatat 20 orang meninggal dunia yang disebabkan oleh banjir. Mereka meninggal karena hanyut ke sungai, dan faktor penyebab tidak langsung karena dampak sekunder, seperti kesetrum listrik, sakit karena lanjut usia, kekurangan oksigen karena menghirup gas karbon monoksida dari genset di ruangan tertutup dan sebagainya. Dari 20 orang yang meninggal sebagian besar justru meninggal di lokasi yang jauh dari sungai-sungai yang meluap.

Banjir ini juga mempengaruhi 100.274 KK atau 245.119 jiwa dan mengungsikan puluhan ribu orang. Kendati besar banjir sudah surut, namun masih terdapat 45.954 jiwa mengungsi.

Data terakhir BNPB juga mencatat daerah di sekitar Kecamatan Penjaringan yang meliputi empat kelurahan yaitu Kelurahan Pluit, Kelurahan Penjaringan, Kelurahan Penjagalan, dan Kelurahan Kapuk, masih terendam banjir dengan ketinggian bervariasi, ada beberapa titik yang mencapai 2 meter.

Banjir ini disebabkan meluapnya Waduk Pluit, meluapnya Kali Angke Hilir dan hujan yang mengguyur wilayah setempat. Selain itu, jebolnya tanggul Banjir Kanal Barat (BKB) di Jl. Latuharhary menyebabkan banjir menggenangi kawasan sebagian Jl. Sudirman, Bunderan HI, Jl Thamrin dan sekitarnya.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, mengatakan bahwa kerugian materil dan immateril akibat banjir yang menerjang Jakarta mencapai Rp1 triliun.

Ada pelajaran yang baik dari banjir Jakarta yang sudah berulang ulang tapi penyelesaiannya selalu tidak ke penyebab masalah. Faktor hujan memang tidak bisa dihindari karena saat ini memang musim hujan dan bulan Januari dan Februari memang sedang tinggi-tingginya sehingga yang harus diperhatikan bagaimana kondisi tata ruang dan masyarakatnya.

Berdasarkan hasil pengamatan, sedikitnya ada beberapa masalah utama terkait perilaku (buruk) masyarakat, yaitu terjadinya perubahan tata guna lahan di kawasan resapan air di kawasan Puncak G Pangrango, yang awalnya hutan diubah menjadi kawasan terbangun akibatnya air hujan tidak ada yg meresap, tapi semuanya mengalir menjadi air banjir yang akan mengerosi tanah dan mengendapkannya ke sungai sehingga sungai akan dangkal.

Masalah yang lain banyaknya penduduk bermukim di bantaran sungai akibatnya lebar sungai akan menyempit dan akan terus menyempit. Demikian pula dengan masalah perilaku buang sampah sembarangan termasuk membuang sampah ke Kali Ciliwung seperti sampah kasur, sofa, lemari, bantal, stereofoam, plastik, dan sebagainya.

Masalah yang juga pengaruhnya sangat besar adalah pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk sehingga secara otamatis ikut menekan sungai, ikut mengurangi hutan kota, dan terjadi pula peningkatan pengambilan air tanah yang berlebihan dan tidak terkontrol yang mengakibatkan penurunan tanah di beberapa tempat di Jakarta.

Terowongan Sia-sia

Klop, hujan turun tidak ada yang meresap dan langsung mengalir sambil membawa tanah serta diendapkan di sepanjang sungai. Masyarakat bermukim di tepi sungai dan membuat dimensi sungai mengecil serta dipermukaannya ada sampah. Saat hujan besar datang, maka sungai tidak muat lagi sehingga sungai melebihi tanggul dan akan menjebolkan tanggul sehingga banjir akan menyebar kemana-mana.

Yang mengherankan, masyarakat yang berperilaku buruk itu terdiri dari para pejabat sampai masyarakat, dari birokrat sampai masyarakat, dari profesor sampai provokator, dari konglomerat sampai yang melarat, intinya semua level baik yang “educated” maupun yang “uneducated” sama-sama melakukan semuanya dengan sadar.

Yang tak kalah mengherankan lagi, banjir ini sudah berulang kali dan mereka melakukan hal yang sama. Pemerintah Jakarta hanya melakukan tindakan parsial, seperti misalnya melakukan pengerukan sungai dan pembersihan sampah.

Andai kawasan resapan hanya digunakan hutan saja maka erosi dan sedimentasi sungai tidak akan terjadi sehingga (proyek) pengerukan tidak perlu dilakukan. Andai dilakukan edukasi secara sistematik dan termonitor tentang pembuangan sampah maka (proyek) pembersihan sampah tidak perlu dilakukan.

Rencana Gubernur DKI Joko Widodo untuk membangun Terowongan Multiguna akan sia-sia kalau sedimentasi dan perilaku buang sampah masyarakat masih tetap terjadi, bisa jadi muncul masalah baru. Upaya revitalisasi kawasan resapan dan revitalisasi sungai tidak bisa dan tidak mau dilakukan karena semuanya terlibat dan pemerintahnya juga tidak mau melakukan itu.

Ini penting untuk pembelajaran bagi daerah aliran sungai (DAS) besar yg banyak di Indonesia, kalau mereka membiarkan kejadian yang sama seperti Jakarta maka mereka akan bermasalah dengan banjir terus menerus.

Misalnya, Provinsi Jawa Timur mempunyai banyak DAS besar yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan DAS Kali Ciliwung seperti DAS Bengawan Solo, DAS Brantas, DAS Sampean, dan sebagainya.

Bagian hulu (kawasan resapan air) DAS Bengawan Solo, Brantas dan Sampean sudah diubah jadi lahan persawahan dan permukiman, bahkan khusus di hulu Kali Brantas ada tambahan kawasan wisata dengan hotel-hotel dan vila.

Demikian pula di sepanjang sungai, bahkan di dalam tanggul sudah banyak permukiman dan untuk jalan masuk pun mereka menjebol tanggul. Sampai-sampai saat terjadi banjir di Bojonegoro, penduduk yang bermukim di dalam tanggul melarang penutupan pintu air. “Banjir siji banjir kabeh (satu banjir, semua banjir),” kata penduduk yang bermukim di dalam tanggul.

Ketegasan pemerintah dan semua pihak sangat dibutuhkan untuk membuat kebijakan yang bisa diterima semua pihak, sehingga masyarakat yang mengubah kawasan resapan air dan penduduk yang bermukim di bantaran sungai mau mengubah sikapnya. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah masyarakat tidak membuang sampah di sungai. Semuanya berpulang kepada: apakah mau belajar atau tidak. (*)

————————

*) Penulis adalah Ketua Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim LPPM ITS Surabaya.

Underpass Kemayoran Yang Terendam Banjir Setinggi 5 Meter Dijadikan Ajang Menyelam

Situasi di Underpass Kemayoran yang terendam banjir setinggi 5 meter ini semakin ramai dikunjungi warga sekitar yang ingin melihatnya. Sejumlah anak kecil yang sesekali loncat dari batas tembok dan menjatuhkan badannya ke banjir tersebut.

Pantauan detikcom dilokasi sekitar pukul 17:30 WIB, Jumat (18/1/2013), anak kecil yang menantang maut dengan berenang di banjir itu sedikitnya berjumlah 4 orang. Bukan cuma berenang, mereka terkadang menyelam ke dalam genangan air.

“Buat seru-seruan aja bang. Abisnya seru juga terwongan jadi kaya kolam berenang gini,” cetus Ali salah satu anak kecil yang berenang saat ditemui detik.com dilokasi.

Ketika ditanya apa tidak takut kelelep kedalam terowongan? Bocah itu hanya tertawa dan langsung meneruskan berenangnya bersama teman-temannya yang lain.

Sementara itu, salah seorang warga sempat mengatakan kalau setiap banjir underpass yang menghubungkan Kemayoran dan Sunter ini selalu digenangi banjir. Bahkan tahun 2007 lalu sempat menelan korban seorang anak kecil yang mencoba berenang yang akhirnya kelelep dan berhasil ditemukan saat airnya disedot menggunakan mesin.

Untuk tahun ini, underpass memang tidak menelan korban jiwa tapi di dalam underpass ini ada dua mobil yang tenggelam.

Diprediksi 27 Januari Jakarta Tenggelam Beserta Petanya Karena Curah Hujan Sekarang Baru 95mm dan Belum Bulan Purnama

Pakar air Universitas Indonesia (UI), Firdaus Ali, menyatakan bahwa banjir besar yang kembali terulang di Jakarta saat ini, salah satunya, dipicu kondisi tanah yang jenuh. Hal itu menyebabkan proses peresapan air menjadi tak optimal.

Selain itu, kondisi drainase di Jakarta yang buruk pun memperparah keadaan. Firdaus menjelaskan, seluruh volume air di Jakarta dapat ditampung melalui dua media, yakni yang mengalir di sungai, dan yang meresap ke dalam tanah. Dengan kondisi tanah Jakarta yang jenuh, akibatnya hanya 15 persen yang mampu terserap dan sisanya tumpah di permukaan.

“Tanah jenuh, dan hujan terus turun. Akhirnya air mengalir ke mana-mana,” kata Firdaus, Kamis (17/1/2013).

Lebih jauh Firdaus menyampaikan, daya tampung 13 sungai yang terdapat di Jakarta mencapai 8 juta meter kubik, sedangkan Kanal Banjir Barat (KBB) sanggup menampung volume air 500.000 meter kubik per detik. Meski demikian, semua menjadi tidak berlaku saat hujan terus mengguyur tanpa henti.

Menurut dia, curah hujan di Jakarta saat ini masih berada di kisaran 95 milimeter, dan di wilayah hulu (Puncak, Bogor) masih di bawah 75 milimeter. Angka ini jauh dibandingkan hujan yang mengguyur Jakarta pada 2007 yang mencapai 320 milimeter.

Perlu diketahui, satu milimeter air hujan di satu meter persegi dapat menghasilkan air sebanyak satu liter. Dapat dibayangkan, luas Jakarta yang mencapai 626 kilometer persegi dikali curah hujan saat ini yang mencapai sekitar 95 milimeter. “Tapi sekarang kan hujan terus menerus. Air pasang laut juga lagi tinggi sehingga volume menampung air jadi tak berlaku,” ujar Firdaus.

Pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan seluruh warga DKI Jakarta diimbau untuk waspada terhadap datangnya banjir yang mungkin akan lebih besar dibandingkan dengan 2007. Bahkan, diprediksi, pada medio 26-29 Januari 2013 banjir yang terjadi berpotensi “menenggelamkan” Ibu Kota Jakarta.

Pakar air dari Universitas Indonesia (UI), Firdaus Ali, menjelaskan, curah hujan Jakarta diperkirakan akan terus meningkat, ditambah pada 27 Januari, Bulan akan berada di puncak purnama. Pada saat itu, air pasang di laut akan lebih tinggi sehingga tak dapat menampung air yang berasal dari daratan sehingga potensi banjir di Jakarta diprediksi akan melebihi banjir yang terjadi pada 2007.

Untuk diketahui, pada 2007 curah hujan yang mengguyur Jakarta mencapai 320 milimeter. Curah hujan di Jakarta saat ini sekitar 95 milimeter dan di wilayah hulu (Puncak, Bogor) sekitar 75 milimeter. Satu milimeter air hujan di 1 meter persegi mampu menghasilkan air sebanyak 1 liter.

Dapat dibayangkan, luas Jakarta mencapai 626 kilometer persegi dikali curah hujan di akhir Januari yang diprediksi akan lebih tinggi. Hal itu diperparah dengan air kiriman dari hulu dan kondisi tanah Jakarta yang jenuh akibat pori tanah terisi penuh oleh air akhirnya hanya mampu menyerap air sebanyak 15 persen.

“Nanti kejadiannya bisa lebih hebat dari 2007. Waspada, khususnya di 27 Januari, karena air di darat sekecil apa pun tak akan bisa mengalir ke laut,” kata Firdaus, Kamis (17/1/2013).

Saat ditanya mengenai solusi terbaik menghadapi ancaman itu, Firdaus menjawab, pemerintah harus menjamin antisipasi evakuasi, ketersediaan logistik, dan obat-obatan. Menurut dia, sudah tak ada cukup waktu untuk menghindari banjir. “Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali berdoa, meminta kemurahan Tuhan. Kalau mau menghindari banjir, dari dulu ke mana saja,” ujar Firdaus.

Curah hujan tinggi sejak beberapa hari lalu berujung pada banjir di sejumlah wilayah di DKI Jakarta.

Sebagai informasi untuk masyarakat mengenai daerah mana saja yang terkena dampak di ibukota, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Provinsi DKI Jakarta telah merilis peta sebaran banjir.

Peta dengan ukuran besar dapat diakses di tautan ini. Adapun peta dengan wilayah cakupan banjir yang dibagi berdasarkan rukun warga (RW) dapat diakses di tautan ini.

Peta Lokasi Rawan Banjir Di Jakarta

Banjir Di Jalan MH Thamrin Tenggelamkan Basement Gedung Plaza UOB

Banjir di Jl MH Thamrin, Jakarta, memendam basement Gedung Plaza UOB. Petugas Parkir Abdul Hakim yang selamat setelah berjam-jam terjebak di basement 1 gedung tersebut berbagi cerita.

Sekitar pukul 09.00 WIB air mulai memasuki basement Plaza UOB. Namun pengelola gedung belum memerintahkan semua karyawan untuk evakuasi diri dan mobil-mobil di dalamnya.

“Awalnya air masuk biasa setinggi mata kaki. Jadi gedung memasang bak pasir supaya air tidak masuk. Tapi tiba-tiba air masuk sangat kencang seperti tsunami kuat banget, saya langsung terseret dan menabrak mobil-mobil yang masih terparkir,” kisah Abdul Hakim yang terjebak banjir di basement 1 Gedung Plaza UOB di Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (17/1/2013), sejak pukul 09.30 WIB.

Abdul Hakim baru bisa menghirup udara bebas setelah ditolong tim seadanya sekitar pukul 14.00 WIB. Dia masih shock berat tubuhnya terhempas air cokelat gelap yang saat ini sudah menenggelamkan semua basement Plaza UOB.

“Awalnya saya mau menyelamatkan dua orang lainnya mas, dua orang cleaning service. Tapi saya nggak bisa, talinya nggak sampai. Mereka berdiri di atas mobil, tapi terhempas ke basement 2,” kata Abdul Hakim lirih.

Abdul Hakim yang sehari-hari bekerja di perusahaan Auto Parking di basement Plaza UOB itu pun kini tengah menjalani pengobatan. Badannya kesakitan dihempaskan banjir menabrak mobil-mobil yang terparkir di dalamnya.

Sementara proses evakuasi sampai saat ini masih terus berlangsung. Pihak pengelola gedung belum melibatkan tim SAR dalam evakuasi ini.

Perjalanan Kereta Api KRL Di Jakarta Lumpuh Total Karena Banjir

Perjalanan KRL lintas Bogor/Depok tujuan Jakarta berakhir di Stasiun Pasar Minggu menyusul banjir yang juga menggenangi Stasiun Cawang dan Tebet, Kamis (17/1/2013) pagi.

Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jabodetabek Eva Chairunisa mengatakan, KRL Bogor/Depok sudah tidak bisa lagi masuk ke Cawang karena ada genangan, baik di pelintasan maupun di area stasiun. “Saat ini, KRL hanya sampai Pasar Minggu, lalu kembali ke Depok/Bogor,” ujarnya sekitar pukul 09.00.

Dengan demikian, KRL jalur lingkar juga belum bisa dijalankan, apalagi beberapa stasiun seperti Kampung Bandan dan Jakarta Kota juga banjir. Sementara itu, KRL dari Bekasi masih bisa sampai Manggarai. Adapun KRL lintas Serpong hanya bisa sampai Stasiun Palmerah karena Stasiun Tanah Abang juga tergenang sampai setinggi 60 cm.

Eva mengatakan, rel di Stasiun Palmerah hanya dua jalur sehingga kereta yang akan masuk atau berangkat dari stasiun ini harus menunggu giliran. “Ini menyebabkan antrean kereta yang cukup panjang. Kami mencoba mengurai agar antrean tidak terlalu panjang,” ucapnya. Adapun KRL lintas Tangerang tidak mengalami gangguan.

Stasiun Kereta Api Tanah Abang, Jakarta Pusat, tergenang air akibat hujan yang terjadi sejak dini hari tadi. Imbasnya, perjalanan KRL sementara ini mengalami gangguan.

“Benar, ada genangan di Stasiun Tanah Abang, sehingga perjalanan sedikit terganggu,” kata Mateta Rijalulhaq, Manajer Komunikasi PT KAI Daops 1 Jakarta, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (17/1/2013) pagi.

Ia menjelaskan, petugas masih berupaya menangani gangguan yang terjadi. Untuk sementara, PT KAI melakukan pengaturan ulang jadwal perjalanan guna menghindari luasnya dampak gangguan tersebut ke lintasan lainnya.

“Kalau Stasiun Jakarta Kota dan Kampung Bandan belum ada laporan masuk (tentang genangan),” sambung Mateta.

Perjalanan KRL dari arah Depok, menurut informasi penumpang, saat ini mengalami gangguan. Selain tersendat dan molor dari jadwal biasanya, salah satu KRL juga tertahan sementara di dekat Stasiun Pasar Minggu.

“Dari tadi tertahan di Stasiun Pasar Minggu. Enggak ada info soal gangguan perjalanan,” kata Agnes, penumpang KRL lintasan Depok – Jakarta Kota.

Ia menerangkan, informasi sama diperoleh dari rekan-rekannya yang menumpang KRL lintasan Bekasi-Manggarai. Perjalanan dari Bekasi pun saat ini mengalami gangguan.

Dipo atau tempat perawatan kereta rel listrik (KRL) Bukit Duri, Jakarta Selatan, kebanjiran, Rabu (16/1/2013), menyusul hujan deras sejak Selasa dini hari kemarin. Akibatnya, KRL yang ada di dipo ini dipindahkan ke sejumlah tempat.

Kepala Balai Yasa Manggarai, Alberth Tarra, mengatakan, KRL sudah dipindahkan sejak kemarin untuk mengantisipasi banjir di dipo Bukit Duri itu.

“KRL dari kemarin diamankan ke Manggarai dan Kota untuk di parkir di sana. Jadi KRL aman,” kata Alberth.

Selain dipo Bukit Duri, dipo Dao di Jakarta Utara juga banjir. Dipo Dao digunakan untuk penyimpan dan perawatan kereta lokal.Perjalanan KRL atau kereta rel listrik mengalami gangguan pada Kamis (17/1/2013) pagi ini. KRL lintas Bogor/Depok dan Bekasi hanya berhenti sampai Stasiun Manggarai. Adapun KRL lintas Serpong hanya berhenti sampai Stasiun Palmerah.

Kepala Humas PT KAI Mateta Rijalulhaq mengatakan, sejumlah rel di Stasiun Tanah Abang dan Jakarta Kota kebanjiran. “Sekarang rel belum bisa dilintasi kereta sehingga perjalanan KRL hanya berhenti di Manggarai dan Palmerah,” kata Mateta.

Antrean kereta di pelintasan pun tidak terhindarkan lagi. Operasional KRL jalur lingkar dan lintas tengah tujuan Jakarta Kota ditiadakan untuk sementara waktu karena kondisi ini.

Naiknya air sampai menutupi rel terjadi sekitar pukul 07.30 tadi. Sejak itu, perjalanan KRL mulai dihentikan sampai Manggarai dan Palmerah saja. Adapun KRL lintas Tangerang masih beroperasi seperti biasa.

Kawasan Bundaran HI Hotel Indonesia Sudah Berubah Menjadi Sungai

Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2013) tergenang air pascahujan deras. Jika dipantau dari ketinggian, maka kawasan HI layaknya sungai.

Pengamatan Kompas.com dari jembatan penyeberangan di depan UOB Plaza, kawasan HI di dua arah sudah tergenang air. Genangan mulai terjadi di depan UOB Plaza. Paling parah, yakni jalur arah Semanggi dengan ketinggian air sampai paha orang dewasa.

Air yang memenuhi jalur arah Semanggi lalu mengalir ke jalur arah Thamrin. Banjir itu mengakibatkan kemacetan parah di Jalan Sudirman ke arah Thamrin. Kendaraan hanya bisa memakai jalur busway yang genangan airnya tidak terlalu tinggi. Begitu pula arah sebaliknya.

Tak sedikit kendaraan yang mogok ketika nekat menerobos, khususnya sepeda motor. Pengendara yang tak mau ambil risiko memilih memutar arah. Genangan air bisa saja meningkat lantaran hingga pukul 10.00 WIB hujan deras masih terjadi.

Puluhan mobil roda empat atau lebih terjebak di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2013) akibat banjir. Salah satunya, yakni mobil mewah Roll Royce.

Mobil mewah berwarna hitam itu tertahan tepat di depan Menara BCA ke arah Semanggi. Air masuk hingga dalam mobil. Akhirnya, pengemudi sibuk mengeluarkan air dari dalam mobil dengan wadah plastik.

Untuk diketahui, genangan sudah terjadi di depan OUB Plaza di dua arah. Paling dalam, genangan air sampai setinggi pinggang orang dewasa. Akibatnya, kendaraan tak berani melintas.

Sebagian kendaraan roda dua yang terjebak lalu memarkirkan motor di jalur pembatas. Sebagian lagi memilih mendorong motor meski harus melintasi arus deras. Untuk melawan arus, motor harus didorong oleh beberapa orang. Beberapa motor tampak terjatuh.

Hingga pukul 11.60 WIB, kawasan HI masih lumpuh. Akibatnya, kemacetan parah terjadi di Jalan Jenderal Sudirman. Sebagian kecil memilih memutar ke arah Jalan Tanjung Karang.

Semua Koridor Busway Transjakarta Lumpuh Total Karena Terendam Banjir

Transportasi umum andalan warga Jakarta, transjakarta, untuk sementara tidak beroperasi di semua koridor. Hal ini disebabkan oleh genangan air berada hampir di semua ruas jalan yang dilalui oleh transjakarta.

“Untuk sementara, semua bus tidak beroperasi di semua koridor. Ada sebagian ruas jalan di masing-masing koridor yang tergenang air sehingga tidak bisa dilalui oleh bus,” kata Kepala Badan Layanan Umum Transjakarta Muhammad Akbar saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (17/1/2013).

Dia melanjutkan, koridor I Transjakarta arah Blok M-Kota terhalang genangan air di Thamrin, koridor II arah Pulo Gadung-Harmoni terhalang genangan di Pulo Mas dan sebagian ruas jalan lainnya. Adapun koridor III arah Kalideres-Pasar Baru merupakan koridor yang mengalami banjir paling parah, yaitu di Daan Mogot, Dispenda, dan Rawa Buaya.

Koridor IV arah Pulo Gadung-Duku Atas, kata Akbar, terhalang banjir di Matraman dan Manggarai. Koridor V arah Ancol-Kampung Melayu terhambat genangan air di Pedongkelan Ancol dan sekitar Kampung Melayu yang tidak bisa dilalui transjakarta. Koridor VI arah Duku Atas-Ragunan terhalang genangan air di Ragunan sehingga kendaraan tidak bisa melintas di ruas jalan tersebut.

Koridor VII arah Kampung Melayu-Kampung Rambutan tergenang air di ruas jalan Kampung Melayu sepanjang Otista. Adapun koridor VIII arah Lebak Bulus-Harmoni tak bisa dilalui transjakarta karena juga melalui jalan-jalan di Daan Mogot yang terpantau banjir.

Akbar melanjutkan, koridor IX arah Pinang Ranti-Pluit tidak dapat dilalui karena genangan air di Grogol yang tingginya hampir 80 sentimeter. Koridor X arah Tanjung Priok-Cililitan tak dapat dilalui karena genangan air di Plumpang dan Kebon Nanas. Terakhir, koridor XI arah Kampung Melayu-Wali Kota Jakarta Timur tak dapat beroperasi karena genangan air di ruas jalan Otista.

Akbar mengatakan, pihak Transjakarta belum mengetahui berapa lama armada mereka tidak beroperasi. Transjakarta akan kembali beroperasi saat ruas-ruas jalan yang tergenang air sudah surut dan bisa dilalui bus.

Jalan Di Jakarta Selatan Lumpuh Karena Terendam Banjir

Hujan deras yang mengguyur di wilayah DKI Jakarta sejak Kamis (17/1/2013) dini hari membuat sejumlah ruas jalan di Ibu Kota tergenang. Akibatnya, arus lalu lintas kendaraan di sejumlah jalan pada berbagai wilayah DKI Jakarta pun menjadi terganggu.

Di Jakarta Selatan, banjir juga menggenangi sejumlah ruas jalan serta membuat arus lalu lintas menjadi macet. Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Jakarta Selatan AKBP Hindarsono menuturkan, pihaknya mengerahkan semua anggota untuk berupaya mengurai kemacetan dan juga mengawasi wilayah dengan genangan pada sejumlah wilayah.

“Semua anggota sudah dikerahkan di lapangan untuk membantu kelancaran arus,” ujar Hindarsono.

Berikut informasi yang dirangkum dari Traffic Management Center Polda Metro Jaya melalui akun Twitternya @TMCPoldaMetro :
1. Banjir 25 sentimeter di depan traffic light Kuningan.
2. Banjir 80-100 sentimeter di Jalan Rasuna Said (dekat Setiabudi Building).
3. Banjir di dekat Gedung KPK 30-50 sentimeter berimbas arus lalu lintas padat.
4. Semanggi arah Pancoran macet imbas di depan Depnaker, ada genangan lebih kurang 40 sentimeter.
5. Banjir 30 sentimeter di depan KFC Kemang Raya.
6. Banjir depan Casablanca.
7. Banjir 30 sentimeter di depan pasar Cipete, Jalan Antasari. Arus lalu lintas tersendat.

Daftar Jalan Di Jakarta Yang Terputus Akibat Banjir Termasuk Kereta Api

Hujan lebat yang mengguyur sejak dinihari benar-benar telah melumpuhkan Jakarta sehingga warga tidak bisa bepergian, termasuk mereka yang hendak menjalankan aktivitas rutin, setidaknya terpantau dari kicauan warga dalam Twitter. (Lihat: Jalan Depan Kantor Jokowi Tergenang). Kereta Rel Listrik Commuter Line pun hanya sampai Stasiun Manggarai (untuk arah Bogor-Tanah Abang) dan Stasiun Palmerah (untuk arah Serpong-Tanah Abang) karena Stasiun Sudirman terendam banjir.

Mengutip TMC Polda Metro Jaya, hujan lebat yang terus mengguyur Jakarta sejak Kamis dinihari tadi, memperparah banjir yang telah terjadi dalam dua hari terakhir.

Traffic Management Centre (TMC) Kepolisian Daerah Metro Jaya meriilis sejumlah titik banjir yang terdeteksi sejak sekitar pukul 03.00 WIB hingga saat ini. (Baca: Banjir Jakarta Bukan Karena Hujan Deras)

Titik-titik banjir tersebut adalah:

JAKARTA TIMUR
1. Kawasan Jalan Jatinegara Barat
2. Kawasan Jalan KH Abdullah Syafei

JAKARTA SELATAN
3. Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan, ketinggian banjir banjir 30-40 sentimeter
4. Banjir sedalam 50-60 sentimeter di Jalan Pelita I, Tanah Kusir, Bintaro.

JAKARTA PUSAT
5. Depan Bank Indonesia banjir selutut
6. Depan Sarinah Thamrin banjir sudah lebih dari 40 sentimeter
7. Depan kantor Jokowi di Merdeka Selatan banjir lebih dari 40 sentimeter.

JAKARTA BARAT
8. Genangan sepanjang 100 meter dengan kedalaman 40-50 sentimeter di depan kampus Trisakti, Jalan S Parman, Grogol
9. Genangan sedalam 30-50 sentimeter di depan RS Sumber Waras, Jalan Kyai Tapa, Grogol.
10. Banjir sedalam 25-50 sentimeter di kawasan Jalan Satria Grogol, dan masih bisa dilintasi
11. Genangan hingga 30 sentimeter di depan kantor Dispenda dan Jembatan gantung, Jalan Daan Mogot.
12. Banjir 1,20 meter di Pospol Ring Road Cengkareng, Mall Puri arah ke Cengkareng, tak bisa dilintasi kendaraan.
13. Banjir sedalam 80-120 sentimeter di sekitar kampus Trisakti dan Mal Citra Land, Grogol, tidak bisa dilintas semua jenis kendaraan.
14. Banjir di Perumahan Villa Kelapa Dua, Pos Pengumben, hanya bisa dilintasi kendaraan besar.
15. Banjir sedalam 40-50 sentimeter sepanjang 150 meter di Jalan Arjuna Selatan-Jalan Arjuna Utara (Universitas Indonusa Esa Unggul), tidak bisa dilintasi kendaraan.

“Diharapkan para pengguna jalan mencari jalur alternatif dan mematuhi imbuan petugas polantas di lapangan agar kendaraan tidak terjebak banjir,” demikian pesan polisi dalam laman TMC Polda Metro.

Jalan HR Rasuna Said Kuningan Jakarta Macet Parah Karena Terendam Banjir

Genangan air di Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, mulai surut. Namun arus lalu lintas di jalan tersebut terpantau masih cukup parah.

Arus lalu-lintas sangat padat karena jalan HR Rasuna Said arah Menteng baru saja dibuka setelah sempat ditutup karena tingginya genangan air. Pantauan detikcom di sepanjang ruas Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, pukul 11.45 WIB, Kamis (17/1/2013) arus lalu-lintas tersendat sangat parah. Antrean kendaraan sangat padat dan berjalan sangat pelan.

Kemacetan kian parah mendekati depan Wisma Bakrie hingga sebelum Hotel Four Seasons di seberang Gedung KPK karena masih terdapat genangan setinggi lutut orang dewasa. Kendaraan berjalan sangat pelan melewati banjir.

Sementara arah sebaliknya yakni Jl HR Rasuna Said arah Mampang Prapatan terpantau relatif normal. Karena memang sejak tadi pagi hanya terdapat genangan air karena hujan, bukan karena luapan sungai. Pagi tadi diberlakukan contra flow di ruas Jl HR Rasuna Said di depan Gedung KPK.

Sementara sejumlah tempat pelayanan publik seperti RS MMC tak jauh dari Pasar Festival tetap buka seperti biasa. Posisi ruas jalan mengarah ke Mampang memang tak banyak digenangi air.