Category Archives: Jalan Jakarta Banjir

Jalan KH Mansyur Karet Bivak Tergenang Air 20 Cm Akibat Hujan

Hujan yang mengguyur Jakarta sejak Senin pagi mengakibatkan beberapa ruas jalan tergenang air. Namun genangan tersebut segera surut seiring mengecilnya volume hujan.

“Air lewat aja, tapi lumayan tinggi,” ujar Amir, warga Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakpus, Senin (7/5).

Genangan air setinggi 20 cm terpantau antara lain di Jalan KH Mas Mansyur Karet Bivak, Karet Tengsin. Genangan air muncul mengingat di sepanjang jalan KH Mas Mansur area Karet Bivak, ada tiga titik saluran yang kurang berfungsi optimal.

“Ada titik saluran yang menyempit dan agak meninggi dibanding saluran disekitarnya, sehingga air kurang lancer,” ujar Lurah Karet Tengsin, Maskur.

Genangan air serupa juga terpantau di Jalan Kramat Raya, Jalan Suprapto dan Jalan Gunung Sahari. Genangan air setinggi rata-rata 20 cm hingga 30 cm tersebut muncul saat volume hujan meninggi. Namun begitu hujan reda, air pun langsung surut.

Akibat tingginya genangan air tersebut beberapa ruas jalan sempat terkena macet. Jalan KKH mas Masyur, Jalan Kramat Raya dan Gunung Sahari sempat diwarnai kemacetan cukup panjang.

“Nggak Cuma karena ada genangan, para pengguna sepeda motor banyak berteduh dikolong fly over. Sehingga jalan jadi macet,” pungkas Lukas, warga Senen.

Banjir Masih Merendam Ciledug dan Tangerang Hingga Setinggi Paha Orang Dewasa

Ketinggian air mencapai paha orang dewasa masih merendam kawasan perumahan Ciledug Indah, Kota Tangerang, Rabu, 4 April 2012 siang ini. Genangan air juga memutus akses Jalan K.H. Hasyim Ashari, Ciledug Indah, Ciledug, Kota Tangerang, sehingga akses menuju Jakarta dan sebaliknya terganggu.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk menjual jasa menjadi ojek penyeberangan warga yang melintasi area genangan air. Sedikitnya, ada sekitar 15 gerobak yang tampak disulap menjadi alat untuk menyeberang.

Umumnya mereka mematok tarif antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu untuk sekali menyeberang.”Ya nego saja, saya buka harga Rp 25 ribu. Paling-paling jadinya Rp 20 ribu untuk sekali menyeberang motor dan pengendaranya,” kata Sail, 49 tahun, pedagang sayur asal Pekalongan yang mengubah gerobak sayurnya menjadi alat angkut.

Jarak yang ditempuh oleh penjaja gerobak adalah sekitar 500 meter dengan kedalaman sedengkul orang dewasa. “Daripada motor mati dan enggak sampe kantor, ya terpaksa lah naik gerobak,” kata Fadillah, salah satu pengguna jasa.

Sementara itu, Tim SAR dari Tagana, Kota Tangerang, hingga siang ini masih mengevakuasi ratusan warga di Perumahan Ciledug Indah 1 dan 2, Kecamatan Ciledug. Di lokasi ini, ratusan kepala keluarga sudah terkepung banjir sejak Selasa kemarin karena luapan Kali Angke.

Sejumlah warga yang bersedia mengungsi akhirnya ditempatkan di lokasi yang lebih tinggi, seperti musola dan kantor kelurahan setempat. Meskipun demikian, masih banyak warga yang menolak mengungsi dan memilih untuk bertahan dengan alasan capek keluar masuk komplek mengangkut barang.

“Saya memilih tetap bertahan karena capek harus keluar masuk kompleks. Apalagi, bila ditinggal rumah dalam kondisi tidak aman,” ujar Fidel, salah seorang warga Perumahan Ciledug Indah 1 yang rumahnya tergenang banjir.

Sambil menunggu air surut, Fidel dan keluarganya memilih untuk bertahan di lantai dua rumah. “Nanti juga airnya surut, kok. Sementara ini, lebih baik kami bertahan di lantai 2 rumah,” katanya.

Hal senada diungkapkan Shiren, warga korban banjir lainnya. Alasan Shiren tidak mengungsi lebih disebabkan oleh faktor keamanan rumahnya. “Kalau rumah ditinggal, takut banyak pencuri,” katanya.

Tanggul Kali Sekretaris Depan Samsat Jebol Jalan Daan Mogot Lumpuh Karena Tergenang Air

Tanggul Kali Sekretaris di depan kantor Samsat Jakarta Barat, jebol pukul 14.00 WIB, Rabu, 4 April 2012. Akibatnya, Jalan Daan Mogot terendam. “Lalu lintas ke Cengkareng sudah ditutup di Tomang,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta Arfan Arkili di Balai Kota DKI Jakarta.

Jebolnya tanggul, kata dia, karena tak kuat menampung debit air yang tinggi dari hulu. Sejak Selasa, 3 April 2012, pintu air Angke Hulu siaga 2. “Ketinggian air di pintu air Angke Hulu terus naik. Tadi malam 290 sentimeter, sekarang sudah sampai 300 sentimeter,” kata Arfan.

Menurut Arfan, jika empat jam ke depan pintu air Angke Hulu tak kunjung turun, genangan air di Jakarta Barat juga membutuhkan waktu yang lama untuk surut. Arfan menjelaskan hujan yang turun terus-menerus di hulu sebenarnya tergolong sedang, curah hujan sekitar 49 milimeter.

Namun, kata dia, beban Sungai Mookervart yang mengalirkan air dari Kali Angke dan Kali Sekretaris terlampau tinggi. Karena tak kuat menampung beban itu, salah satu tanggul yang menghubungkan kali akan jebol. “Cengkareng Drain juga sedang dinormalisasi. Kalau sudah selesai, beban Mookervart, Angke, dan Pesanggrahan akan dilimpahkan ke laut lewat Cengkareng Drain,” kata dia.

Arfan menjelaskan sebagian tanggul Kali Sekretaris belum sempat dilakukan normalisasi. “Sudah diprediksi daerah itu rawan. Anggaran normalisasi untuk Kali Sekretaris baru turun tahun ini,” katanya.

Kondisi kawasan Daan Mogot saat ini berdasarkan foto yang tersebar di BlackBerry Messenger sangat parah. Tumpukan kendaraan roda dua dan empat terlihat sangat semrawut. Banjir yang diakibatkan hujan lebat sejak Senin, 2 April 2012, hingga Selasa malam tadi sempat membuat air Sungai Mookervart meluap ke Jalan Daan Mogot. Meskipun sempat dikabarkan melumpuhkan lalu lintas, dari pantauan Tempo, Rabu siang, 4 April 2012, kendaraan dari kedua jalur terpantau ramai lancar.

Tempo memantau ketinggian air saat ini masih setinggi betis. Arus kendaraan dari arah Grogol menuju Cengkareng ramai tetapi lancar. Begitu pula arah sebaliknya karena pagi tadi sempat membuat Transjakarta koridor III mandek.

“Tadi memang sempat ditutup, sebentar saja. Tapi sekarang itu sudah lancar lagi,” kata Sihombing yang berada di pos ojek depan Kantor Samsat Jakarta Barat, Rabu, 4 April 2012.

Sihombing menuturkan genangan air di jalan arah Cengkareng menuju Grogol sudah surut.

Sebelumnya, kondisi jalan itu, kata Sihombing, sempat digenangi air setinggi betis. Ia menuturkan tidak ada tanggul air di Sungai Mookervart selama ini.

“Tidak ada tanggul bocor di sini. Kalau banjir begitu ya karena air sungai meluap,” tuturnya dengan logat Batak yang kental.

Diguyur Hujan Jalan Dari Jakarta Barat Menuju Tangerang Putus Terendam Air

Hujan yang mengguyur Jakarta sejak Senin (2/4) sore mengakibatkan banjir di beberapa wilayah. Salah satunya di dekat Sekolah Yadika 5, Jalan Joglo Raya, Jakarta Barat, yang terendam air hingga ketinggian 50 sentimeter. Akibatnya, ruas Jalan Joglo Raya yang menghubungkan Jakarta Barat dan Tangerang terputus.

Menurut petugas piket Pos Polisi Ciledug, Atang, tinggi air yang menggenang di dekat Sekolah Yadika 5 pada ruas Jalan Warung Pojok ke arah Jalan Joglo Raya tidak bisa dilalui kendaraan. Ia menyarankan agar pengguna jalan mencari jalur alternatif.

“Sepertinya tidak bisa dilalui kendaraan,” kata Atang saat dihubungi detikcom, Selasa (3/4/2012) pukul 00.50 WIB.

Akibat banjir tersebut, kemacetan panjang terjadi sejak pertigaan Jalan Haji Saaba dari arah Jakarta menuju Tangerang. Dari arah sebaliknya, kemacetan mulai terasa di Jalan Ciledug Raya.

Namun, menurut Atang, banjir tersebut tidak akan lama. Menurutnya banjir di tempat tersebut sudah biasa terjadi. Biasanya, setelah beberapa jam banjir akan surut.

“Biasanya enggak lama, menjelang pagi juga sudah surut,” tutur Atang.

Saluran Mampet Penyebab Jalan Gajah Mada Selalu Kebanjiran

GENANGAN air selalu jadi langganan di Jalan Gajah Mada di depan halte Duta Merlin dan depan Gajah Mada Plaza di wilayah Kelurahan Petojo Utara, Gambir Jakarta Pusat. Hal itu akibat tidak optimalnya saluran air di kawasan tersebut. Kondisi ini sangat mengganggu aktifitas warga khususnya para pengguna jalan, karena jalan jadi menyempit dan menimbulkan kemacetan.

Genangan juga terjadi di kawasan Jalan Pembangunan III, akibat saluran air tidak berfungsi. “Kondisi ini sudah berlangsung lama,” kata Uki, warga, Jumat.

Ketua Lembaga Masyarakat Kelurahan (LMK) Petojo Utara, Ramli Jontang, ketika dimintai tanggapannya mengatakan masalah genangan air di Jalan Gajah Mada yang masuk wilayah RW 01 dan depan Duta Merlin di RW 07 pihak LMK belum bisa mengurasnya karena keterbatasan dana.

Apalagi, kawasan tersebut merupakan jalan protokol sehingga menjadi tangungjawab Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta. Sehingga, upaya yang dilakukan LMK adalah melaporkan masalah tersebut ke pihak kelurahan untuk diajukan ke instansi terkait.

LEWAT MUSRENBANG
Sedangkan genangan air di Jalan Pembangunan III, akibat saluran air dari Jalan Alaydrus ke lokasi tersebut terputus, sehingga tidak bisa berjalan lancar. “LMK tidak mampu menangani saluran tersebut, karena menjadi kewenangan Sudin PU Tata Air,” jelas Ramli.

Namun, LMK akan berusaha mencarikan jalan keluarnya dengan mengajukan masalah tersebut sebagai usulan program dalam pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tahun 2012. “Kami akan ajukan masalah tersebut dalam musrenbang, agar langsung ditangani oleh isntansi terkait,” jelasnya

Daftar 33 Wilayah Di Jakarta Yang Rawan Banjir Saat Musim Hujan Tiba

Bulan Januari ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan 33 kawasan di lima kota di Jakarta berpotensi tinggi banjir. Prakiraan ini merupakan hasil penggabungan data BMKG, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, serta Departemen Pekerjaan Umum Bidang Sumber Daya Air.

Ke-33 kawasan tersebut antara lain Cengkareng, Grogol, Petamburan, Kalideres, Kebon Jeruk, dan Taman Sari di Jakarta Barat. Di Jakarta Pusat, banjir berpotensi tinggi terjadi di Cempaka Putih, Gambir, Kemayoran, Menteng, Sawah Besar, Senen, dan Tanah Abang. Di Jakarta Selatan, wilayah berpotensi banjir adalah Cilandak, Kebayoran Baru, Mampang Prapatan, Pancoran, Pasar Minggu, Pesanggrahan, dan Tebet.

Sementara di Jakarta Timur, kawasan rawan banjir adalah Cakung, Cipayung, Ciracas, Jatinegara, Kramat Jati, Makasar, dan Pulo Gadung. Di Jakarta Utara, wilayah itu meliputi Cilincing, Kelapa Gading, Koja, Pademangan, Penjaringan, dan Tanjung Priok.

Kepala Subbidang Informasi Meteorologi BMKG Hary Tirtodjatmiko mengatakan, penyebab banjir diperkirakan tingginya curah hujan. Peluang banjir ini ditambah pasang laut yang diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir pekan ini. Rob berpotensi besar menerjang pesisir utara Jakarta mulai akhir pekan hingga awal pekan depan.

”Kalau masalah di wilayah, seperti saluran atau bantaran kali, itu wewenang pemerintah daerah setempat. Kami hanya mengamati dan memperkirakan curah hujan, khususnya pada awal Januari ini. Curah hujan rata-rata ringan hingga lebat dengan kisaran 5-20 milimeter per hari atau bahkan bisa 50-100 milimeter per hari,” kata Hary.

Rob

Sejumlah ruas jalan di Jakarta Utara, Kamis (5/1), kembali digenangi rob limpasan pasang air laut, yaitu Jalan Lodan, Jalan Pasir Putih, dan Jalan Budi Kemulyaan. Genangan itu menyebabkan kemacetan cukup panjang, lebih dari 100 meter, di Jalan Lodan.

Posko Banjir DKI Jakarta mencatat, pasang mulai terjadi pukul 08.00 dengan ketinggian 1,1 meter dan menyebabkan permukaan laut di pintu air Pasar Ikan mencapai 2,08 meter. Seorang petugas posko, Frans, mengatakan, pasang laut tinggi berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 13.00.

Sementara berdasarkan data perkiraan yang dihitung Dinas Hidro Oseanografi TNI AL, pasang air laut maksimal setinggi 1,1 meter akan berlangsung pada tanggal 5-10 Januari. Seperti pasang laut sebelumnya, pasang setinggi itu akan menyebabkan permukaan laut di pintu air Pasar Ikan, Penjaringan, bisa mencapai 2,08-2,1 meter. Akibatnya, sejumlah sungai yang bermuara di pesisir utara akan meluap.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Jakarta Utara Komisaris Tri Suhartanto mengimbau pengendara menghindari ruas Jalan RE Martadinata hingga Jalan Lodan dan Jalan Pasir Putih serta Jalan Budi Kemulyaan menuju Jalan Gunung Sahari. Pengendara mobil pribadi lebih baik masuk ke jalan tol dan pengendara sepeda motor mencari jalan alternatif.

”Kami sudah menyiapkan personel untuk mengatur lalu lintas. Seperti rob menjelang Natal lalu, kami turunkan 25 personel untuk mengatur lalu lintas,” ujarnya.

Meskipun menjelang sore hari rob kian surut, genangan tetap bermunculan di sejumlah ruas jalan akibat hujan deras. Kondisi itu menyebabkan arus kendaraan tersendat, terutama di persimpangan jalan depan Pelabuhan Tanjung Priok serta perempatan menuju Ancol dan Mangga Dua.

Sementara di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya sepanjang 400 meter antara Jembatan Semanggi dan jalan layang Sudirman, baik di jalur lambat di sisi kiri maupun kanan ruas protokol yang sebelumnya rusak parah, sudah terlihat aktivitas perbaikan.

Hujan deras yang mengguyur pada Rabu malam dan Kamis siang hingga sore menghambat pengaspalan serta pemadatan jalan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Ery Basworo menyatakan, pihaknya akan terus memperbaiki Jalan Sudirman.

Kemarin sore, ketinggian air di Bendung Katulampa masih 10 sentimeter di atas normal.

Daftar 217 Lokasi Evakuasi dan Pengungsian Bencana Banjir Di Jakarta Barat

Ukat dan suaminya terguling dari motor bersama barang dagangan warung mereka yang baru dibeli, saat melintas di Jalan Gunung Sahari menuju Ancol, Jakarta yang tergenang hingga hampir setinggi ban motor, Selasa (15/2/2011). Selain akibat pasang air laut atau banjir rob, genangan juga diakibatkan hujan yang selama dua hari mengguyur Jakarta. Untuk mengantisipasi ancaman banjir, sebanyak 217 lokasi evakuasi pengungsi akan disiapkan Pemkot Administrasi Jakarta Barat. Lokasi pengungsian akan disebar pada 32 kelurahan rawan banjir di Jakarta Barat.

“Untuk lokasi pengungsian akan ditentukan berdasarkan hasil koordinasi dengan aparat kecamatan dan kelurahan. Sebab, kedua unsur tersebut yang tahu lokasi yang aman untuk menampung pengungsi,” ungkap Burhanuddin, Wali Kota Jakarta Barat, Jumat (16/12/2011).

Selain menyiapkan lokasi pengungsian, pihaknya juga telah menyiapkan sebanyak 81 posko kesehatan, 113 dapur umum, 65 posko banjir, dan 42 unit pompa di 11 lokasi rawan banjir.

Selain itu, juga disiapkan personel gabungan dari Pemkot Administrasi Jakarta Barat, polisi, TNI, Tagana, PMI, dan ormas yang mencapai 5.947 personel, 253 mobil operasional, 139 sepeda motor, 92 perahu karet dan perahu fiver, 52 motor tempel, 263 baju pelampung, 42 tenda peleton, 27 tenda regu, 37 mobil tangki air bersih, dan 13 ambulans, termasuk logistik dan obat-obatan.

“Kesiapan seluruh perangkat tersebut kami lakukan dalam rangka mengantisipasi banjir yang diperkirakan dalam waktu dekat ini akan banyak melanda wilayah Jakarta Barat,” ujarnya.

Burhanuddin mengakui, dari 56 kelurahan di Jakarta Barat, sebanyak 32 kelurahan merupakan daerah rawan banjir. Bahkan, dari 32 kelurahan tersebut, sebanyak 18 titik dianggap sangat rawan karena potensi ketinggian airnya di atas 1 meter.

Beberapa kelurahan rawan genangan itu di antaranya, di Kecamatan Cengkareng yaitu Kelurahan Cengkareng Timur, Duri Kosambi, Kedaung Kaliangke, Kapuk, dan Rawa Buaya. Kecamatan Grogol Petamburan meliputi Kelurahan Tomang, Grogol, Jelambar, dan Jelambar Baru. Kecamatan Tambora yaitu Kelurahan Kalianyar, Jembatan Besi, Angke, Tanah Sereal, Tambora, dan Roamalaka.

Kecamatan Taman Sari yaitu Kelurahan Maphar, Taman Sari, Mangga Besar, Pinangsia, dan Tangki. Kecamatan Kebon Jeruk yaitu Kelurahan Kelapa Dua, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, dan Duri Kepa.

Kecamatan Palmerah, yaitu Kelurahan Kota Bambu Utara, Jatipulo, dan Palmerah. Kecamatan Kembangan yaitu Kelurahan Kembangan Utara dan Srengseng. Kecamatan Kalideres yaitu Kelurahan Semanan, Kamal, dan Tegal Alur.

Tips Mengemudi Yang Aman Bagi Pengendara Mobil dan Sepeda Motor Saat Musim Hujan

Jakarta dan mungkin juga beberapa kota besar lainnya sudah masuk musim hujan. Ketika intensitas guyuran air dari langit meningkat saat mengendarai mobil, ada hal yang perlu diwaspadai bagi pengendara. Minimnya kewaspadaan akan berakibat kecelakaan. Berikut tips mengemudi aman saat hujan.

1. Kurangi kecepatan
Saat mengemudi mendadak, turun hujan dengan lebatnya. Secara psikologis, emosi akan berubah karena banyak hal yang harus dikontrol dari dalam kabin. Seperti menyalakan wiper atau lampu kota (bila jarak pandang berkurang) sebagai alat bantu melihat kondisi jalan dan juga memberi isyarat, baik kepada kendaraan di depan maupun belakang.

2. Tetap di jalur yang tidak tergenang
Genangan cenderung berada di tepian jalan karena merupakan bagian yang paling rendah. Meski ketinggian air sebatas mata kaki, usahakan tetap melintas di jalur yang kering. Pasalnya, semua kotoran yang ada di jalan akan menuju area yang tergenang. Andai kata sampai benda tajam masuk ke kaliper rem, misalnya, hal itu akan merusak piringan dan komponen lainnya.

3. Jaga jarak aman
Ketika di depan ada genangan air, jangan langsung diterabas. Pelajari kondisi dan ketahui genangan terendah (jika seluruh jalan tertutup air). Selanjutnya, amati mobil yang sedang menerjang genangan untuk mengetahui kondisinya. Bila hendak melewati, bisa dengan mengikuti mobil di depan (sebaiknya sejenis), tetapi jaga jarak (sekitar 10 meter) agar bisa menghindar ketika kendaraan yang diikuti terjebak lubang atau sesuatu yang bisa merugikan mobil Anda.

4. Hindari penggunaan rem saat deselerasi
Saat menerjang genangan, jaga kecepatan (jangan ngebut). Ketika ingin mengurangi kecepatan, sebaiknya cukup dengan melepaskan kaki dari pedal gas. Soalnya, jika dalam kondisi yang tidak tepat, maka gejala slip bisa timbul akibat rem mengunci. Terlebih lagi jika ketinggian air sampai merendam seluruh perangkat rem, jangan langsung percaya pada performa rem karena cenderung masih basah.

Lolos dari genangan, periksa kepakeman rem dengan menekan pedal rem perlahan dan bertahap beberapa kali. Tentu, ini dilakukan dalam kondisi mobil melaju.

5. Genggam setir
Kala melewati genangan, genggam setir dengan erat. Pasalnya, bila terjadi aquaplanning, arah mobil bisa berpindah karena kehilangan traksi. Lain hal jika setir terpegang dengan erat. Selain bisa merasakan gejala aquaplanning, mobil pun bisa diarahkan dengan benar.

Musim hujan saat ini menjadi “momok” bagi pengendara sepeda motor. Ketika menghadapi kondisi itu, yang pasti perjalanan tidak nyaman dan tidak lancar. Apalagi sampai mengalami mogok, ke tempat tujuan pun jadi terlambat.

Ini ada beberapa pentujuk (tips), cara berkendara dalam situasi hujan, yang intinya tidak mengubah gaya Anda.

Kaca helm bening

Sebelum jalan, pastikan jaket sudah tersedia di bagasi. Sebaiknya pergunakan model setelan (celana dan baju) bukan terusan seperti jubah. Kemudian kenakan sarung tangan anti-hujan (terbuat dari bahan kulit) dan sepatu yang telapaknya tidak licin, sehingga lancar saat pengoperasian tuas persneling dan menginjak pedal rem.

Pergunakan helm full-face (kepala tertutup) bukan model half-face yang bisa membasahi muka dan busanya jadi basah dan lembab. Trus, pelapis kaca dilepas agar pandangan jadi jernih.

Setelah perlengkapan pada badan, pastikan kondisi sepeda motor dalam ke adaan baik. Periksa jarak tekan pedal rem (belakang) tidak terlalu jauh, termasuk juga handel rem depan.

Ketika berkendaraan di jalan licin, perhatian utama pada kendaraan adalah traksi. Karena, umumnya pengedara tidak mengetahui berapa kuat daya cengkeram ban, baik saat mengerem atau manuver di tikungan. Makanya, pemilik sepeda motor harus mengetahui kondisi kedua ban. Jika kondisi kembangan ban tinggal 50 persen, jangan melakukan pengereman dengan keras dan menikung dengnan kecepatan tinggi.

Santai dan fokus

Saat berkendara, sebaiknya santai dan fokus. Jangan sekali-sekali kedua kaki lepas dari pedal (menggantung karena jaga-jaga bila kendaraan terguling). Lalu, letakan jari-jari kaki pada pedal, tujuannya untuk mengontrol bila terjadi sesuatu.

Kontrol dan teknik

Berkandaraan saat hujan, kuncinya fokus pada kecepatan dan perubahan arah, kemudian pengereman serta buka-tutup pedal gas. Menaik-turunkan gigi persneling lakukan dengan halus dan jaga putaran mesin.

Begitu juga mengerem. Bila dilakukan dengan keras, kendaraan bukannya cepat malah lama baru berhenti. Hati-hati bila menggunakan rem depan (sebisanya tidak digunakan) di trek licin, apalagi kecepatan di atas 50 km per jam kala menikung pula.

Nah, dengan petunjuk ini, semoga perjalanan Anda jadi nyaman saat hujan.

Daftar 89 Jalan Yang Merupakan Titik Rawan Banjir dan Genangan Air Di Jakarta

Sudah seminggu ini Jakarta mulai diguyur hujan. Biasanya, saat musim hujan sejumlah titik jalan raya di Ibu Kota rawan tergenang banjir.

Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya pada tahun 2010 ada 89 titik yang tergenang air akibat hujan. “Tahun ini bisa jadi bertambah, bisa jadi juga berkurang. Dulu misalnya nggak banjir sekarang bisa saja tergenang,” kata Kepala Bagian Perencanaan dan Administrasi Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Juwarno, Rabu (26/10) siang.
Kedalaman genangan air bervariasi, mulai dari 10 cm sampai 2 meter. Di Jakarta Pusat genangan paling dalam seperti di Kampungbencong (1 meter). Di Jakarta Utara di Teluk Gong (80 cm), di Jakarta Selatan di Kemang Bawah (1 – 2 meter), dan di Jalan Gatot Subroto depan kantor Pajak (1 meter).

Kemudian di Jakarta Barat, genangan air paling dalam ada di depan Samsat Barat Jalan Daan Mogot (1 meter) dan di Jalan Asirot Sukab Selatan Kebon Jeruk (1 meter). Sedangkan di wilayah Jakarta Timur bisa ditemui di Bidaracina (2 meter).
Kepolisian sendiri, kata Juwarno, hanya bertugas memperlancar arus lalu lintas yang tersendat oleh genangan itu. Polisi akan berkoordinasi dengan pihak Dinas Pekerjaan Umum jika menemukan genangan tersebut.

Polda Metro Jaya juga sudah mempersiapkan 36 unit mobil patroli lalu lintas jenis Ranger. Tiap satuan wilayah lalu lintas di Jakarta menerima tiga unit mobil. Kendaraan roda empat yang dimodifikasi sedemikian rupa, dengan ciri bannya lebih besar. Mobil ini diklaim mampu menembus genangan banjir dan dikerahkan untuk mengevakuasi korban banjir.

27 titik genangan air di DKI Jakarta pada awal tahun 2011.Hujan deras sepanjang siang hingga sore ini di Bogor, Depok, dan sebagian Jakarta menyebabkan banjir di beberapa kawasan di Ibu Kota, seperti di Lenteng Agung dan Cilandak, Jakarta Selatan.

Di RT 11 RW 03 Kelurahan Pondok Labu, Cilandak, banjir melanda mulai sekitar pukul 17.00. Ketinggian banjir hingga pukul 19.00 sudah mencapai lebih dari 1 meter.

“Rumah saya mau kelelep. Tolong kirimkan perahu karet untuk evakuasi,” kata Budi, warga Pondok Labu, saat dihubungi Kompas sekitar pukul 18.30.

Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Selatan Frans Silalahi mengatakan, pihaknya segera merespons permintaan warga. “Terima kasih atas informasinya. Saya segera kirimkan bantuan,” kata Frans.

Badan Meterologi, Klimitalogi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim penghujan sudah dimulai pada Oktober 2011 mendatang. Sejumlah titik jalan dan wilayah di Jakarta Timur tetap rawan banjir terutama di kawasan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung.
Kawasan itu mencakup Kelurahan Balekambang dan Cawang di Kecamatan Kramatjati, Kelurahan Bidaracina dan Kampungmelayu di Kecamatan Kramatjati, serta Kelurahan Kebonmanggis, Kecamatan Matraman.

Hal itu diungkapkan Kasudin PU Tata Air Jakarta Timur, Suhartono, kepada wartawan, Rabu (14/9). Di sepanjang das Ciliwung di lima kelurahan dari tiga kecamatan itu sedikitnya ada 8.600 bangunan warga yang rawan terendam banjir pada musim penghujan Oktober mendatang.

Selain rawan banjir akibat hujan lokal, wilayah di sepanjang bantaran Kali Ciliwung itu juga kerap diancam banjir kiriman. Khususnya jika curah hujan di Bogor dan Depok meninggi yang mengakibatkan debit air di Kali Ciliwung meluap.
Daerah lainnya yang rawan banjir adalah pemukiman di RW 03, Cipinangmelayu, Makasar, Jakarta Timur yang berada di bantaran Kali sunter. “Daerah-daerah ini tetap rawan banjir,” kata Suhartono.

Menurut Suhartono, sejak kehadiran Kanal Banjir Timur dan tembus laut, sejumlah titik genangan atau banjir di Jakarta Timur telah berkurang hingga mencapai 30 persen. Sejumlah wilayah yang biasanya banjir seperti di Cipinang, Durensawit, dan Rawamangun, Pulogadung dan Cakung kini terselamatkan. Namun wilayah di sepanjang bantaran kali Ciliwung dan bantaran Kali Sunter di RW 03, Cipinangmelayu, masih tetap menjadi wilayah yang paling rawan banjir.

Suhartono mengatakan, selain di sepanjang bantaran kali Ciliwung, sejumlah titik jalan di Jakarta Timur juga rawan genangan di musim penghujan. Diantaranya adalah beberapa titik di Jalan DI Panjaitan, yakni di depan kampus IBN (Institut Bisnis Nusantara) di Penas, Cipinangcempedak dan di depan kantor PT Telkom Prumpung, Jatinegara, dan di depan PN Jakarta Timur, Pulogadung serta dibawah underpass, Cawang.

Menurut Suhartono genangan air akan tetap terjadi di sejumlah titik itu, karena crossing atau saluran air yang melintas di bawah badan Jalan DI Panjaitan itu ukurannya sangat kecil, yakni hanya sekitar 80 centimeter. Akibatnya air tidak mengalir ke KBT. Padahal ukuran ideal saluran air adalah sekitar 1,5 meter agar daya tampung air cukup banyak.
“Kami sudah mengusulkan ke Dinas PU DKI agar dilakukan perbaikkan crossing di dua titik tersebut namun hingga kini belum terealisasi,” katanya, Rabu (14/9).

Salah satu upaya untuk mengantisipasi adanya genangan air di sejumlah jalan lainnya, pihaknya kini tengah melakukan normalisasi saluran air di 32 titik jalan di Jakarta Timur. Berdasarkan data yang ada di Humas Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, sebelum Kanal Banjir Timur (KBT) beroperasi, titik rawan banjir di wilayah Jakarta Timur terdapat 40 kelurahan dari 65 Kelurahan.

Titik rawan tersebut meliputi 163 RW dan 678 RT. Banyaknya titik rawan banjir itu disebabkan wilayah tersebut dilalui oleh 7 kali, yakni Ciliwung, Sunter, Cipinang, Kalibaru, Jatikramat, Buaran dan Cakung.

Namun sejak KBT tembus laut pada akhir 2010 lalu, wilayah rawan banjir di Jakarta Timur berkurang hingga 30 persen.
Camat Cakung, Lukman Hakim, mengatakan, saat ini wilayah yang dimungkinkan masih akan terjadi genangan air di musim penghujan di wilayahnya adalah di RW 05 Kelurahan Rawaterate. Padahal sebelum KBT difungsikan, ada lima titik genangan air di wilayahnya.

Namun ia memastikan genangan di RW 05 Rawaterate, Cakung itu akan cepat surut dalam dua sampai tiga jam. “Penyebab genangan karena wiayah ini rendah dan adanya pedangkalan Kali Cakung Drain, yang sudah kita minta untuk dikeruk,” kata Lukman.

Daftar Jalan dan Daerah Di Jakarta Timur Yang Rawan Banjir dan Genangan Air

Badan Meterologi, Klimitalogi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim penghujan sudah dimulai pada Oktober 2011 mendatang. Sejumlah titik jalan dan wilayah di Jakarta Timur tetap rawan banjir terutama di kawasan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung.

Kawasan itu mencakup Kelurahan Balekambang dan Cawang di Kecamatan Kramatjati, Kelurahan Bidaracina dan Kampungmelayu di Kecamatan Kramatjati, serta Kelurahan Kebonmanggis, Kecamatan Matraman.

Hal itu diungkapkan Kasudin PU Tata Air Jakarta Timur, Suhartono, kepada wartawan, Rabu (14/9). Di sepanjang das Ciliwung di lima kelurahan dari tiga kecamatan itu sedikitnya ada 8.600 bangunan warga yang rawan terendam banjir pada musim penghujan Oktober mendatang.

Selain rawan banjir akibat hujan lokal, wilayah di sepanjang bantaran Kali Ciliwung itu juga kerap diancam banjir kiriman. Khususnya jika curah hujan di Bogor dan Depok meninggi yang mengakibatkan debit air di Kali Ciliwung meluap.
Daerah lainnya yang rawan banjir adalah pemukiman di RW 03, Cipinangmelayu, Makasar, Jakarta Timur yang berada di bantaran Kali sunter. “Daerah-daerah ini tetap rawan banjir,” kata Suhartono.

Menurut Suhartono, sejak kehadiran Kanal Banjir Timur dan tembus laut, sejumlah titik genangan atau banjir di Jakarta Timur telah berkurang hingga mencapai 30 persen. Sejumlah wilayah yang biasanya banjir seperti di Cipinang, Durensawit, dan Rawamangun, Pulogadung dan Cakung kini terselamatkan. Namun wilayah di sepanjang bantaran kali Ciliwung dan bantaran Kali Sunter di RW 03, Cipinangmelayu, masih tetap menjadi wilayah yang paling rawan banjir.

Suhartono mengatakan, selain di sepanjang bantaran kali Ciliwung, sejumlah titik jalan di Jakarta Timur juga rawan genangan di musim penghujan. Diantaranya adalah beberapa titik di Jalan DI Panjaitan, yakni di depan kampus IBN (Institut Bisnis Nusantara) di Penas, Cipinangcempedak dan di depan kantor PT Telkom Prumpung, Jatinegara, dan di depan PN Jakarta Timur, Pulogadung serta dibawah underpass, Cawang.

Menurut Suhartono genangan air akan tetap terjadi di sejumlah titik itu, karena crossing atau saluran air yang melintas di bawah badan Jalan DI Panjaitan itu ukurannya sangat kecil, yakni hanya sekitar 80 centimeter. Akibatnya air tidak mengalir ke KBT. Padahal ukuran ideal saluran air adalah sekitar 1,5 meter agar daya tampung air cukup banyak.
“Kami sudah mengusulkan ke Dinas PU DKI agar dilakukan perbaikkan crossing di dua titik tersebut namun hingga kini belum terealisasi,” katanya, Rabu (14/9).

Salah satu upaya untuk mengantisipasi adanya genangan air di sejumlah jalan lainnya, pihaknya kini tengah melakukan normalisasi saluran air di 32 titik jalan di Jakarta Timur. Berdasarkan data yang ada di Humas Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, sebelum Kanal Banjir Timur (KBT) beroperasi, titik rawan banjir di wilayah Jakarta Timur terdapat 40 kelurahan dari 65 Kelurahan.
Titik rawan tersebut meliputi 163 RW dan 678 RT. Banyaknya titik rawan banjir itu disebabkan wilayah tersebut dilalui oleh 7 kali, yakni Ciliwung, Sunter, Cipinang, Kalibaru, Jatikramat, Buaran dan Cakung.

Namun sejak KBT tembus laut pada akhir 2010 lalu, wilayah rawan banjir di Jakarta Timur berkurang hingga 30 persen.
Camat Cakung, Lukman Hakim, mengatakan, saat ini wilayah yang dimungkinkan masih akan terjadi genangan air di musim penghujan di wilayahnya adalah di RW 05 Kelurahan Rawaterate. Padahal sebelum KBT difungsikan, ada lima titik genangan air di wilayahnya.

Namun ia memastikan genangan di RW 05 Rawaterate, Cakung itu akan cepat surut dalam dua sampai tiga jam. “Penyebab genangan karena wiayah ini rendah dan adanya pedangkalan Kali Cakung Drain, yang sudah kita minta untuk dikeruk,” kata Lukman