Category Archives: Lain Lain

Pesta Narkoba Di Rumah Raffi Memakai Chatinone Atau Zat Tradisional Bernama Khat

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan unsur senyawa chatinone (katonin) yang ditemukan dalam penggerebekan pesta narkoba di kediaman artis Raffi Ahmad dampaknya hampir sama jika mengkonsumsi narkoba jenis ekstasi. “Sebetulnya chatinone itu senyawa intinya, tapi senyawanya turunannya banyak. Senyawa ini bisa menimbulkan efek stimulasi, seperti euforia, menahan nafsu makan, tidak pernah lelah, yang tadinya malu jadi percaya diri (PD) bila menggunakannya,” ujar Deputi bidang Pengawasan produk Terapetik dan Napza BPOM, A Retno Tyas Utami, dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (30/1/2013).

Dia mengakui jenis senyawa ini masih baru di Indonesia dan kemungkinan besar didatangkan dari luar negeri, bisa melalui internet atau melalui pergaulan. Khat sudah digunakan selama ribuan tahun sebagai tradisi sosial dalam pergaulan di Arab dan Afrika. Zat ini juga dikenal dengan nama Teh Arab (lihat Wikipedia: Khat)

“Harganya tidak mahal. Harga persisnya saya tidak tahu. Bahannya tidak mahal, lebih mahal heroin,” ujar dia.

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Golkar, Aditya Anugerah Moha meminta BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) lebih meningkatkan sosialisasi agar zat narkoba baru seperti Catinone tidak bisa masuk ke Indonesia. Disinggung bahwa BPOM sudah melakukan sosialisasi sejak tahun 2005. Dia menegaskan, BPOM saja yang mengetahui. Buktinya masih ada saja peredaran obat terlarang tersebut.

”Kenapa sudah mengetahui, kok masih terjadi. Artinya sosialisasi BPOM tidak jalan,” kata Aditya kepada wartawan usai Rapat kerja komisi IX bersama Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan Napza BPOM RI, Rabu (30/1/2013). Menurutnya, Catinone termasuk golongan satu narkoba. Artinya mempunyai efek seperti psikotropika yang berdampak kalau di konsumsi berlebihan menyebabkan kematian. Namun tidak jelas senyawanya dan belum ada dalam golongan I tersebut. Sehingga perlu dibahas dalam rapat gabungan antara Komisi IX, Komisi III DPR, BNN dan Polri.

“Kita akan bicarakan dalam rapat Gabungan lagi,” tukasnya. Sedangkan Deputi, Pengawasan Produk Terpetik dan Napza Kementerian Kesehatan, Retno Tyas Utama membantah pihaknya lalai.

“Catinone ini bukan hal baru. Karena kita sudah memasukkan molekul intinya ke dalam UU. Mungkin baru terjadi, ketika ada kasus ini,” kilahnya seraya menambahkan sudah diantisipasi sebelumnya. “BPOM sudah membuat pagar supaya bahan yang potenisial untuk ekstasi dan catinone kita batasi peredarannya sejak tahun 2005. Kita bukan kecolongan,” tandasnya.

Kepala Badan Narkotika Nasional, Inspektur Jenderal Anang Iskandar, mengatakan 17 orang yang digerebek saat pesta narkoba menggunakan narkoba jenis baru. “(Mereka) menggunakan kapsul,” kata Anang di Jakarta Convention Centre, Senin, 28 Januari 2013.

Sejumlah artis, dan politisi dtangkap saat pesta narkoba di rumah Raffi Ahmad. Mereka harus menjalani pemeriksaan laboratorium. Anang mengatakan jajarannya masih meneliti kandungan dari jenis narkoba kapsul tersebut. “(Kapsul) itu dibikin sendiri.”

Anang menjelaskan, penggunaan kapsul itu dilakukan dengan mencampurkannya ke minuman berkarbonasi. “Kapsul dibuka, dimasukkan ke minuman. Lalu mereka bergantian minum,” ujar dia.

Adapun sejumlah artis yang ikut digerebek, Anang belum memastikan mereka menggunakan narkoba. Mereka masih diperiksa oleh petugas.

Perbedaan Tipe Tipe Hujan Pada Tahun 2007 dan 2013 Di Jakarta

Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika Mulyono Prabowo, mengatakan karakteristik curah hujan di Jakarta saat ini berbeda dengan lima tahun lalu. “Bedanya pada persebaran curah hujan,” kata dia ketika dihubungi, Kamis 17 Januari 2013.

Menurutnya, curah hujan bulanan pada 2007 tinggi karena hujan terkonsentrasi di satu titik, yaitu Jakarta Selatan, 340 milimeter. Sedangkan tahun ini, curah hujan tersebar merata di seluruh wilayah Jakarta. “Pantauan kami, sejak November 2012 sampai Januari ini, curah hujan bulanan Jakarta tidak pernah mencapai angka itu. Maksimal 150 sampai 180.”

Berdasar pengamatan tahunan BMKG terhadap cuaca kawasan Ibu Kota, hujan yang menimbulkan banjir selalu terjadi pada Januari dan Februari. Begitu pula prediksi dia soal hujan sekarang. “Kami prediksi, tenggat waktu potensi banjir pada dua minggu terakhir Januari dan dua minggu awal Februari.”

Curah hujan yang merata ini mengakibatkan banjir di sebagian besar Jakarta sehingga aktivitas di ibu kota nyaris lumpuh. Hingga pertengahan bulan Januari 2013, curah hujan di Ibu Kota memang di atas normal, antara 250 sampai 300 milimeter.
Mulyono merinci curah hujan harian dalam 24 jam terakhir.

Di Jakarta Utara, curah hujan berkisar 50 hingga 100 milimeter yang termasuk kategori lebat. Jakarta Barat, hujan sangat lebat, yaitu di atas 100 milimeter. Di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, curah hujan antara 20 sampai 50 milimeter alias sedang. Sedangkan di Jakarta Pusat 50 sampai 100 milimeter. Cek update banjir dan lokasi genangan di seluruh DKI Jakarta di sini.

Bayi Yang Lahir di Atas Pesawat Merpati Meninggal Dunia

Bayi yang dilahirkan di Pesawat Merpati akhirnya meninggal dunia. Kabar duka tersebut disampaikan langsung oleh dokter yang merawat bayi kepada pramugari Merpati Airlines Sherly Juwita (36).

“Informasi yang saya terima begitu (meninggal dunia),” ujar Sherly Juwita saat dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (8/1).

Bayi yang belum sempat diberi nama itu meninggal diduga karena hipotermia. Bayi yang lahir prematur tersebut meninggal semalam.

Sebelumnya diberitakan, Harmani (33) melahirkan di pesawat Merpati pada pukul 18.40 WIT. Bayi tersebut lahir di atas udara Timika Papua saat terbang ke Makassar pada Minggu (7/1).

Sebelumnya diberitakan, Sherly Juwita (36) mendadak menjadi bidan di atas pesawat Merpati yang sedang terbang dari Timika menuju Makassar, Minggu (6/1). Pesawat yang berangkat dari Timika sekitar pukul 18.00 Wita itu dihebohkan dengan kelahiran seorang bayi perempuan.

“Itu pengalaman yang luar biasa bagi saya. Sampai sekarang saya masih deg-degan,” ujar Sherly dalam perbincangan dengan merdeka.com, Senin (7/1).

Sherly mengaku, waktu pesawat akan take off, Harmani (33), yang sedang hamil 28 minggu sudah menunjukkan surat dokter yang menyatakan dia boleh melakukan penerbangan. Namun, pada ketinggian 9.800 meter di atas laut atau 15 menit setelah take off, Harmani mengaku sakit pinggang.

“Saya tanya: Ibu kenapa? Ibunya langsung menjawab sakit pinggang dan sepertinya mau melahirkan,” ungkap Sherly.

Menjelang Tahun Baru Suasana Bali Mecekam, Padang Sambian Rusuh Karena Ormas Bentrok

Bentrok dua ormas di Desa Padang Sambian, Denpasar antara Laskar Bali dengan Pemuda Padangsambian Bersatu, Minggu (23/12/2012) malam dipicu masalah kembang api.

Pemuda Padang Sambian Bersatu menutup sebuah toko yang menjual kembang api di wilayah mereka karena kebijakan Desa yang melarang penjualan kembang api.

Awalnya pihak toko sudah diperingatkan untuk tidak berjualan kembang api di wilayah Desa Padang Sambian. Namun saat Pemuda Padangsambian Bersatu melakukan patroli, toko tersebut masih tetap berjualan dan pemilik diminta menutup tokonya.

Karena merasa sudah mengantongi izin dari polisi, pemilik toko tidak terima dan melaporkan kejadian ini kepada Laskar Bali. Masalah ini kemudian memicu kesalahpahaman antara Laskar Bali dengan Pemuda Padang Sambian Bersatu.

“Kita masih menelusuri dan menyelidiki informasi tersebut,” ujar Kasubag Humas Polresta Denpasar AKP Ida Bagus Made Sarjana yang dihubungi beberapa saat lalu.

Belum ada laporan korban jiwa akibat bentrokan ini dan polisi masih berjaga di TKP.

Seperti diberitakan, dua ormas terlibat bentrok di Desa Padang Sambian Denpasar Minggu malam. Sebuah posko milik Laskar Bali, tujuh unit motor dibakar massa dan dua unit mobil dirusak dalam bentrok tersebut.

Tujuh unit sepeda motor dan 2 unit mobil dirusak massa saat bentrok 2 ormas di Desa Padang Sambian Denpasar antara ormas LB dengan ormas PPB, Minggu (23/12/2012) malam.

Sampai saat ini belum ada laporan korban dalam bentrok tersebut dan aparat Polresta Denpasar masih berjaga di lokasi bentrok.

“Korban nihil, anggota Polresta Denpasar masih stand by di TKP,” ujar Kasubag Humas Polresta Denpasar AKP Ida Bagus Made Sarjana yang dihubungi beberapa saat lalu.

Suasana di sekitar lokasi bentrok masih mencekam dan warga setempat tidak berani keluar rumah karena massa kedua kubu masih berkumpul dan membawa senjata tajam.

Seperti diberitakan, dua ormas terlibat bentrok di Desa Padang Sambian Denpasar Minggu malam. Sebuah posko milik ormas LB dibakar massa dan seluruh akses jalan menuju lokasi bentrok ditutup.

Dua organisasi masyarakat (ormas) di Denpasar terlibat bentrok di Desa Padang Sambian, Denpasar, Minggu (23/12/2012) malam. Sampai saat ini situasi di sekitar lokasi bentrok masih mencekam dan dijaga ketat oleh aparat kepolisian.

Warga setempat pun merasa ketakutan dan tidak berani keluar rumah. Toko-toko dan warung makan juga menutup tempat usahanya lebih awal.

“Jalan di depan perumahanku ditutup, tadi mau beli makan pada tutup semua, lampu pada mati,” ujar salah seorang warga Padang Sambian yang rumahnya sangat dekat dengan lokasi bentrok.

Sebuah posko milik salah satu kelompok dibakar saat terjadi bentrok. Kedua kelompok masih berjaga dengan membawa senjata tajam dan seluruh akses jalan masuk menuju lokasi bentrok saat ini sudah ditutup.

Tata Cara Serta Istilah Dalam Kawin Kontrak Melalui Nikah Siri

Wanita itu bernama Sarah. Usianya baru 21 tahun. Walau masih belia, wanita bertubuh sintal ini mengaku sudah lima kali kawin kontrak. Sarah menceritakan lika-liku soal kawin kontrak di kawasan Puncak Jawa Barat. Pernikahan yang seharusnya sakral tak ubahnya seperti prostitusi. Bedanya ada penghulu dan akad nikah, selebihnya tak jauh dari urusan ranjang.
“Ada istilah-istilah tertentu yang biasa kita gunakan. Biasanya yang dipakai kata jawas, istilah untuk kawin kontrak.

Jadi kalau ditanya mau jawas, ya berarti ditawarin kawin kontrak,” kata Sarah kepada merdeka.com pekan lalu di Puncak.
“Kita biasanya di awal tidak berhubungan sama pelanggan langsung. Ada biyong atau makelar atau mak comblang kawin kontrak yang menghubungkan kita ke pelanggan. Selebihnya ya dari mulut ke mulut aja. Tinggal telepon,’ beber wanita cantik ini.

Untuk biaya kawin kontrak, biasanya Sarah mendapat Rp 500 ribu per hari. Biaya ini sudah diluar ongkos untuk mak comblang. Sebulan Sarah bisa mendapat Rp 15 juta. Belum ditambah dengan hadiah atau tips dari suami kontraknya. Gadis ini pun kini sudah mampu membangun rumah sendiri di Puncak.

“Kawin kontrak ada harga kesepakatannya. Tergantung sepakatnya berapa. Mau berapa hari kontraknya. Biyong, dapat 20 persen kalau dia yang mendapatkan suaminya, 80 persen untuk aku. Sehari rata-rata aku Rp 500 ribu,” aku Sarah.
Prosesi kawin kontraknya seperti apa?

“Akadnya kontrak ada dua saksi aja. Kontraknya berapa lama, uangnya berapa, terus uangnya dikasih semua di awal. Kalau sudah dikasih di awal aman, kalau terjadi sesuatu di belakang nggak masalah maharnya dah lunas,” jelasnya.

Setelah itu Sarah pun menjadi istri kontrak. Seperti istri lain dia punya kewajiban menemani suami, termasuk melayani nafsu suaminya. Setiap berhubungan, Sarah mengaku selalu menggunakan pengaman.

“Harus pakai kondom. Biasanya malah suami sendiri yang nyediain kondom. Karena sama-sama sadar dengan risikonya.”
Uang, wanita dan udara dingin Puncak. Tiga hal yang membuat bisnis birahi ini tak pernah mati. Seperti pernikahan umumnya ada juga mahar alias mas kawin bagi pelaku kawin kontrak. Makin cantik maharnya makin mahal. Apalagi jika si gadis masih perawan, harga yang dikeluarkan bisa puluhan juta.

Harga sebesar ini tak masalah bagi pria berkantong tebal. Demi menikah beberapa hari dengan perawan, tarif puluhan juta rupiah dinilai sepadan. Dari sini terlihat kawin kontrak tak ubahnya dengan prostitusi biasa. “Pernikahan pertama kalau masih perawan harganya beda. Kalau masih perawan kita dijatah mahar besar. Misalnya Rp 80 juta ya berarti di ijabnya ada mahar Rp 80 juta,” aku Sarah, seorang pelaku kawin kontrak, kepada merdeka.com pekan lalu di Puncak.
Sarah pun mengaku masih perawan saat pertama kali terjun ke bisnis ini. Dia menjual mahkotanya Rp 50 juta pada ‘suami’ pertamanya.

“Aku waktu itu 20 tahun. Kawin kontrak pertama aku pas masih perawan, aku dapat Rp 50 juta. Tapi bukan untuk aku sendiri. Untuk aku bagi juga dengan makelarnya. Aku dapat 50 persen,” kata wanita yang menolak difoto wartawan ini.
Setelah itu Sarah mengaku tak menyesal atau takut. Gadis belia ini menikmati profesi barunya sebagai pelaku kawin kontrak. Sarah tergiur lembaran uang yang bisa didapatnya dengan mudah. “Enggak. Cuma takutnya keluarga tahu aja,” ucap Sarah pelan.

Rieke Diah Pitaloka: Pernikahan dan Perceraian Kilat Bupati Aceng HM Fikri Patut Dipidanakan

Cagub Jabar yang lahir di Garut, Rieke Diah Pitaloka (38), menilai pernikahan dan perceraian kilat Bupati Aceng HM Fikri patut disoal. Ada unsur trafficking, sehingga layak dipolisikan. Menurut Rieke, kasus tersebut tidak hanya dilihat dari hukum perdata saja, tapi juga bisa dilihat hari unsur pidana. “Ini layak dipolisikan,” ujar Rieke di sela kunjungan ke Cirebon, Jabar, Senin (3/12/2012).

Lebih lanjut Rieke mengatakan, trafficking tidak hanya dilihat dari mobilitas perdagangan antar tempat, tetapi juga bisa terjadi dalam keluarga. Pernikahan bisa jadi salah satu modus trafficking. “Anak di bawah umur yang dinikahi majikan di luar negeri atau anak gadis maharnya harus lebih mahal. Itu adalah mudus-modus trafficking,” tambah Rieke yang dikenal lantang saat bicara soal TKW dan perempuan ini.

Secara pribadi, Rieke mengaku tidak dekat dengan Aceng, meskipun pernah sama-sama di PKB. Pasangan Teten Masduki dalam Pilgub Jabar ini menyayangkan pernikahan dan perceraian itu. Pernikahan Bupati Aceng dan Fany Octora dilakukan 14 Juli 2012 lalu. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Limbangan, K.H. Abdurrozaq, S.Ag menikahkan kedua mempelai secara siri atau secara agama tanpa catatan resmi negara. Empat hari kemudian, Aceng menceraikan Fany.

Hari ini, puluhan tokoh masyarakat mendatangi DPRD Garut. Mereka menuntut bupati mundur. Jika bupati tidak mau mundur, maka DPRD didesak menggunakan hak politiknya dan mengajukan pemberhentian bupati melalui Mendagri. Jauh sebelum kasus Fany Octora (18) mencuat ke publik, beberapa waktu lalu politik di Garut juga sempat geger. Sebab musababnya, mundurnya Dicky Chandra sebagai wakil bupati Garut. Dicky saat itu menyimpan misteri alasan meninggalkan kursi empuk itu. Kini dia bicara.

Seperti dikutip dari Majalah Detik, Senin (3/12/2012), Dicky menceritakan, sebelum maju di Pilkada Garut, ia sama sekali tak mengenal nama Aceng. Sampai tiba-tiba di tahun 2008 itu ia mendapatkan telepon dari Aceng. Di dalam pembicaraan telepon itu, Aceng mengajaknya untuk berduet dalam Pilkada Garut. Merasa belum mengenal jauh siapa Aceng, ajakan itu ditolaknya tiga kali. Hingga setelah melewati sejumlah proses, Dicky mulai tertarik atas ajakan Aceng. Dari perkenalan yang singkat, ia menilai Aceng sebagai sosok yang santun. Aceng juga dikenal sebagai ustaz yang hafal Alquran dan hadis.

Sepak terjangnya di dunia kemasyarakatan lewat LSM tak diragukan lagi. Ditambah hidup Aceng yang terlihat sederhana, Dicky akhirnya menerima ‘lamaran’ Aceng setelah lebih dulu berkonsultasi dengan ibunya dan melakukan salat istikharah. “Rumahnya (Aceng) cuma kamar dua, loteng, dan kotor,” kata Dicky. Nah, ketika selesai mendaftar sebagai pasangan Cabup-Cawabup Garut, mulai terlihatlah siapa sesungguhnya Aceng. Di mata Dicky, Aceng sangat angkuh dan sombong. Ia sudah mau mengundurkan diri saat itu, namun terganjal ketentuan.

“Harus bayar Rp 20 miliar kalau mundur dari pencalonan. Berat kan?” terang Dicky. Pasangan independen Aceng-Dicky memenangi Pilkada Garut dalam dua putaran. Menurut Dicky, Aceng menggelar pesta kemenangan di Situ Bagendit. Dicky memutuskan tak hadir pada saat itu, karena ia menginginkan kemenangan tersebut disyukuri dengan cara sederhana. Sebab, tantangan yang dihadapi di depan sangat besar.

“Waktu kami menang, saya masuk kamar, menangis,” katanya. Di awal-awal menjabat sebagai bupati, Dicky mengatakan, Aceng sudah membuat kebijakan yang bertolak belakang dengan janji kampanye. Baru tiga bulan menjadi bupati, Aceng ‘berpelesiran’ ke Belanda. Setelah menjabat pun, Dicky menilai gaya hidup Aceng selama menjadi bupati sangat berlawanan dengan kondisi Garut. “Memang berapa sih gajinya? Paling Rp 6 juta. Tunjangan tidak lebih dari Rp 30 juta. Tergantung dari PAD (Pendapatan Asli Daerah-red) kan? PAD Garut kecil,” ucapnya.

Lama-kelamaan, Dicky merasa tidak ada kekompakan dengan Aceng. Puncaknya adalah ketika Aceng memutuskan untuk masuk ke partai politik yaitu Golkar. Ketidaksetujuan Dicky membuahkan konflik internal yang berlarut-larut dalam duet kepemimpinan Garut itu. Sampai akhirnya, pada September 2011 yang lalu, Dicky menyatakan mundur dan kembali menjadi artis.

Aceng Fikri tengah disorot terkait kontroversi nikah 4 hari-nya dengan perempuan berumur 18 tahun, Fany Octora. Bupati dari jalur independen ini sebelum menjadi bupati memiliki kekayaan sebesar Rp 663.681.608. Hal itu tertuang dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Aceng ke KPK pada 3 Agustus 2008. Ini merupakan pelaporan Aceng sebelum mengikuti pemilihan bupati dan dilantik pada 2009.

Nah, sampai Senin 3 Desember hari ini, Aceng belum melaporkan kembali harta kekayaan terbarunya. Sampai saat ini dia sudah tiga tahun menjabat sebagai Bupati. Harta Rp 663 juta itu terdiri dari harta bergerak berupa tanah dan bangunan di empat lokasi berbeda di daerah Garut senilai Rp 30 juta. Dia juga memiliki usaha dari peternakan dengan taksiran nilai Rp 120 juta.

Aceng juga tercatat memiliki area perkebunan dengan 600 pohon jati mas yang merupakan hasil sendiri dengan taksiran nilai Rp 60 juta. Aceng juga memiliki pabrik kerupuk yang mampu memproduksi 20 ribu kerupuk. Taksiran nilai pabrik itu senilai Rp 20 juta. Aceng tercatat hanya memiliki 1 kendaraan yakni, mobil BMW keluaran tahun 1996, yang dibelinya dalam kondisi second pada 2006 dengan harga Rp 30 juta. Aceng juga tercatat memiliki harta bergerak lain senilai Rp 26,5 juta.

Bupati Garut Aceng Fikri menduga kasus pernikahan kilatnya menjadi ramai sekarang karena ada yang memolitisasi. Dia menuding ada yang bermain dan memanfaatkan isu nikah sirinya dengan Fany Octora (18). Aceng mengkaitkan dengan soal Pilkada Garut 2013 mendatang. Siapa orangnya?

Mantan wakil bupati Garut Dicky Chandra menepis dirinya yang memolitisasi kasus Aceng. Sama sekali Dicky tak berminat maju di Pilkada Garut. Dia sibuk syuting. Nah, selaku mantan pasangan Aceng, Dicky pun punya komentar atas mantan kawan seperjuangannya di Pilkada Garut ini.

“Ya saya juga dipermasalahkan, dibilang ikut campur. Tapi kalau saya tidak ikut campur juga kan dia teman saya. Saya perjuangkan juga. Jadi saya harus meluruskan dia, saya harus minta maaf juga kepada masyarakat,” terang Dicky seperti dikutip Majalah detik, Senin (3/12/2012).

Dicky menilai, komentar-komentar Aceng sudah tidak jelas. Dia juga terkaget-kaget atas pernyataan Aceng di televisi. Misal, karena wajahnya yang ganteng dia pantas berbuat sesuatu. “Sudah tidak keruan,” terang Dicky yang mundur sebagai pendamping Aceng setelah 2 tahun karena merasa tidak sejalan. Dahulu Dicky maju Pilkada Garut karena Aceng dikenal sebagai sosok sederhana. Aceng dekat dengan petani karena aktif di LSM yang mengurusi petani. Tapi akhirnya, setelah 6 bulan menjabat sebagai bupati, Aceng berubah sikap. Dicky pun pikir-pikir dan akhirnya mundur setelah 2 tahun sebagai wakil bupati.

Masih menurut Majalah detik, kasus ini mencuat setelah Fany mengadu ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPTPPA). Di lembaga itu Fany menceritakan kronologi perkenalan, pernikahan, hingga diceraikan, kepada Ketua Tim Advokasi PPTPPA. “Kita kasihan dia diceraikan lewat SMS dengan kata-kata yang tidak pantas dikeluarkan oleh pimpinan (bupati),” ujar Rani Permata, aktivis PPTPPA.

Menurut Rani, yang juga istri mantan Wakil Bupati Garut Dicky Chandra, saat datang ke PPTPPA pada awal November 2012, Fany sempat pingsan dan tertekan. Fany memang benar-benar tertekan karena setelah perceraian itu Aceng mengirimkan SMS yang sangat kejam.

“Hai perempuan jahat, aq minta sgla pemberian aq dikembalikan”. Demikian antara lain bunyi SMS itu.

Bupati Garut Aceng Fikri Nikahi Fani Oktora Gadis 18 Tahun Untuk Temani Umroh dan Dicerai 4 Hari Kemudian Setelah Digauli 1 Kali

Bupati Garut Aceng HM Fikri angkat bicara soal pernikahan dan perceraiannya dengan Fani Oktora (18). Ia tidak membantah telah menikah dan menceraikan Fani. Berikut penjelasan lengkapnya.

“Saya tidak mau menanggapi. Ini ranah pribadi. Apalagi ini sudah diselesaikan 5 bulan lalu,” kata Aceng kepada wartawan di Pendopo Pemkab Garut, Rabu (28/11/2012) petang.

Aceng enggan menjelaskan secara detail proses pernikahan dan perceraiannya dengan Fani. Ia juga menjawab diplomatis saat ditanya seputar alasan menikahi dan menceraikan gadis berusia 18 tahun tersebut.

“Saya lebih baik diam. Yang penting, saya masih bisa berdinas seperti biasa, menghadiri berbagai kegiatan dan mengunjungi masyarakat,” kata Aceng.

Mantan pasangan Dicky Chandra ini mengaku terganggu dengan pemberitaan mengenai dirinya dan menduga hal itu dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak menyukainya. Meski demikian, ia tidak akan menanggapi dan bertugas seperti biasa.

“Yang jelas, kalau ada perceraian, pasti ada pernikahan. Saya menceraikan secara lisan, pakai kata-kata halus. SMS hanya penegasan saja,” katanya tanpa merinci kata-kata yang dimaksud.

Aceng menikahi Fani pada pertengahan Juli lalu. Dia dikenalkan oleh seorang ustaz sebuah pesantren di dekat rumahnya. Saat menikah, sang bupati mengaku duda dan mencari istri untuk menemaninya umroh.

Bupati Garut Aceng Fikri tengah menjadi sorotan. Semuanya berawal dari tindakannya yang menikahi Fani Oktora (18) secara siri. Tapi, yang menjadi pergunjingan tak lain karena sikap Aceng yang menceraikan Fani, hanya 4 hari setelah dinikahi!

Aceng mengaku dikenalkan kepada seorang gadis yang berasal dari Limbangan, Garut. Dia bermaksud menikah lagi karena rumah tangganya sedang dirundung masalah. Dia sudah pisah ranjang dengan istrinya hampir 2 tahun.

“Saya menikah di rumah pribadi, disaksikan orang tua dan keluarga Fani,” cerita Aceng yang kini berusia 40-an ini.

Aceng hendak menikah lagi karena tidak ingin terjebak dalam perzinahan. Nikah siri diambil karena status pernikahan dengan istrinya masih menggantung. Atas saran seorang ustad dia pun menikahi Fani pada Juli 2012. Oleh mak comblang, Fani disebut perawan.

“Tapi ternyata sudah tidak perawan,” cerita Aceng.

Akhirnya dia memberi talak tiga kepada Fani yang artinya bercerai lewat SMS. Fani hanya dinikahi selama 4 hari dan digauli sebagai istri hanya satu kali. “Saya merasa dibohongi,” jelasnya.

Namun pengakuan ini dibantah oleh Fani. Sang bupati dianggapnya mencemarkan nama baiknya dan keluarganya. Sebab sudah tersebar di masyarakat, dia dicerai karena saat dinikahi sudah tidak perawan. Alasan dia tidak perawan dianggap Fani hanya mengada-ngada.

“Saya masih perawan, saya tidak pernah bergaul dengan lelaki lain,” tegas Fani yang menuntut permintaan maaf dari sang bupati. Pernikahan 4 hari Bupati Garut Aceng Fikri tak hanya jadi perbincangan di masyarakat. Di kalangan politisi Garut, di DPRD pun jadi isu hangat. Mereka, awalnya menebak-nebak, apa iya bupati seperti itu.

“Ya itu jadi omongan, pembicaraan,” kata anggota DPRD Garut Jajang Ismail saat berbincang, Kamis (29/11/2012). Jajang mengaku, sejak awal pekan lalu, kalangan DPRD Garut memang membicarakan soal ulah Bupati Aceng yang menikahi Fani Oktora (18), tapi kemudian menceraikannya 4 hari kemudian. “Itu juga kan ramai, jadi pembicaraan di media dan masyarakat,” jelasnya.

Tapi, Jajang mengaku dirinya pun hanya sebatas mendengar dari media. Hingga pada Rabu (28/11) Aceng muncul dan buka-bukaan soal kasusnya itu. “Memang hak dan kewajiban seseorang untuk menikah lagi atau tidak, tapi jangan seperti itu,” jelas politisi PDIP yang duduk di Komisi B DPRD Garut ini.

Pernikahan Bupati Garut Aceng HM Fikri dengan Fani Octora (18) tersebar luas di masyarakat dan jadi sorotan. DPRD tak bersikap, hanya berkomentar. Berikut komentar ketua dan salah satu anggota DPRD. “Saya belum menerima masukan dari para anggota DPRD, sehingga jujur kami belum bisa memberikan komentar,” ujar ketua DPRD Garut, Ahmad Bajuri, kepada wartawan di kantor DPRD Garut, Kamis (29/11/2012).

Salah seorang anggota DPRD Garut, Juju Hartati mengatakan, persoalan pernikahan bupati harus dirunut dari awal perkenalan dengan Fani hingga perceraian. Juga, harus diungkap kemungkinan adanya konflik keluarga. “Jangan asal berkomentar. Kita harus tahu dulu bagaimana proses pernikahan bupati,” jelas anggota Fraksi PDI Perjuangan ini.

Dikatakan Juju, banyaknya komentar melalui jejaring sosial Facebook, Twitter serta media online lainnya, mengakibatkan citra kedua belah pihak buruk. Keduanya bisa dianggap sebagai korban. “Sekarang nama bupati jelas sudah hancur. Kemudian pihak perempuannya, Fani, jelas sudah tercemar,” ucapnya.

Juju menjelaskan dirinya belum mau memberikan komentar terkait kasus bupati sebelum mengetahui duduk persoalan sebenarnya. “Maaf komentar lebih jauh, saya no comment,” imbuhnya. Aceng menikahi Fani pada pertengahan Juli lalu. Dia dikenalkan oleh seorang ustaz sebuah pesantren di dekat rumahnya. Saat menikah, sang bupati mengaku duda dan mencari istri untuk menemaninya umroh.

Salah satu anggota keluarga Fani Octora, Ayi Rohimat, menyebut Fani menandatangani surat pernyataan tidak akan memperpanjang persoalan pernikahan dengan Bupati Garut Aceng HM Fikri. Fani terdesak karena butuh uang perbaikan rumah yang roboh.

“Waktu itu kita sedang butuh uang karena rumah Fani roboh dan harus diperbaiki,” ujar paman Fani, Ayi Rohimat kepada wartawan di Kampung Cukang Galeuh, Desa Dunguswiru, Kecamatan Limbangan Garut, Jawa Barat, Rabu (28/11/2012).

Meski uang Rp 20 juta tak mencukupi, namun keputusan tersebut terpaksa dilakukan agar Fani bisa membangun kembali rumahnya. Saat itu, kedua orangtua Fani belum mengetahui perceraiannya.

“Orangtua Fani sebenarnya belum mengetahui perceraian saat itu. Kami bersadiwara. Salah satunya alasannya, Fani harus segera membantu orangtua membangun rumahnya kembali,” ungkap Ayi.

Menurut Ayi, kini kedua orang tua Fani sudah mengetahui perceraiannya dengan orang nomor satu di Garut. Keduanya masih shock atas peristiwa tersebut. “Namanya orangtua pasti akan merasa kecewa,” pungkasnya.

Fani, dinikahi Aceng pada pertengahan Juli lalu. Dia dikenalkan oleh seorang ustaz sebuah pesantren di dekat rumahnya. Sang bupati mengaku duda dan mencari istri untuk menemaninya umroh.

Bisnis Prostitusi Berkedok Salon Kecantikan

Penyebaran pekerja seks komersial (PSK) di Kolaka, Sulawesi Tenggara semakin tidak terkendali. Bisnis yang dinilai menggiurkan oleh sebagian kalangan ini pun sudah memanfaatkan wadah salon kecantikan sebagai ajang prostitusi secara terselubung.

Hampir sepuluh tahun praktik ini dijadikan modus jitu bagi penggunanya, baik itu PSK maupun lelaki hidung belang. Bayangkan saja, di Kolaka sangat banyak salon kecantikan yang ternyata menyediakan jasa “plus” bagi pelanggannya. Hal ini pun seakan sudah menjadi rahasia umum bagi kalangan penikmat seks di kota ini.

“Bekerja di salon kecamtikan itu memang adalah tujuan utama kami untuk mencari uang. Tapi kalau ada yang mau dilayani lebih juga boleh asalkan orangnya bersih dan harganya cocok,” ungkap SN salah satu karyawan salon di Kolaka.

Biasanya, PSK yang berkedok sebagai karyawan salon kecantikan memang terlihat menarik. Selain penampilan mereka yang bersih, caranya pun relatif halus untuk mengajak ‘calon klien’ berkencan.

“Kalau ada yang mau biasanya kami ajak bercanda dulu, sambil bicara yang sedikit berani dan berbuat centil. Karena tidak semua orang yang datang ke salon kecantikan untuk berbuat seperti itu. Kalau ada respon dari mereka barulah kami memperpanjang pembicaraan. Kalau harga cocok tinggal calon pelanggan saja yang menentukan tampat di mana dan kapan mereka mau,” cetus SN.

PSK yang bekerja di salon kecantikan biasanya mendapat bantuan dari pihak lain untuk mendapatkan pelanggan. “Kami kan tidak mungkin dapat terus pelanggan dari para tamu salon tempat kami bekerja. Kan tidak semuanya tamu yang datang mau berbuat begitu, biasanya ada orang yang kami percayakan untuk carikan kami pelanggan. Itu biasanya disebut Bunda. Bunda inilah yang kami percayakan dan kalau dapat pasti kita bagi hasil,” tegasnya.

Sementara itu, wanita yang biasa berprofesi sebagai “bunda” menjelaskan bahwa memang betul “bunga-bunganya” (sebutan bagi PSKnya-red) itu kebanyakan bekerja di salon kecantikan dan beberapa tempat hiburan yang ada di Kolaka. “Kalau saya itu cukup menghubungi mereka lewat telepon kalau ada pelanggan. Yang bicarakan harga saya juga, kalau permintaannya yang cantik harganya bisa mencapai satu juta, kalau mau yang standar biasa sampai Rp 700 ribu. Pakoknya tergantung pesanan lah,” cerita HD, sang “bunda”.

HD menambahkan, “bunga-bunganya” bukan dari wilayah Kolaka saja, tapi ada dari wilayah luar yang tentunya memiliki tubuh menarik. “Pokoknya yang dari luar Kolaka itu tidak kalah lah dengan yang dari Kolaka. Harga tetap sama, dan kalau mereka sudah akrab dengan pelanggan masing-masing, biasanya saya tidak menjadi perantara lagi. Mereka yang langsung berkomunikasi kalau ada niat, saya biasanya tinggal tunggu bonus dari mereka,” tutur HD.

Lebih jauh, dia menjelaskan kenapa harus memakai wadah salon kecantikan ketimbang menyediakan tempat khusus. Menurutnya, jika lewat salon kecantikan bisa relatif aman. “Bedalah kalau kota-kota besar yang secara terang-terangan. Mereka itu (PSK) banyak yang tidak diketahui sama keluarganya kalau bekerja sebagai pemuas hidung belang. Kalau di salon kecantkan itu bisa relatif aman dan kita bisa bermain ‘cantik’. ‘Bunga-bunga’ saya juga malu kalau ketahuan sama orang banyak tentang profesi asli mereka, karena kita ini tinggal dan bergaul di tengah-tengah masyarakat. Jadi harus pintar sembunyikan identitas, yang pokok janganlah terlalu nampak,” kata HD.

Jubir Front Pembela Islam (FPI) Munarman Dikeroyok Massa Karena Bunyikan Klakson Terus Menerus Saat Macet

Jubir Front Pembela Islam (FPI) Munarman dikeroyok sekelompok massa di Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan. Pengeroyokan itu diketahui dipicu karena Munarman membunyikan klakson di tengah kemacetan.

“Alasannya ya gara-gara pada saat itu (Minggu sore) macet, Munarman ini membunyikan klakson mobil. Ya wajar kan kalau macet,” ujar Sekjen Front Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khata ketika dikonfirmasi detikcom, Senin (26/11/2012) pagi.

Selain aktif di FPI, Munarman juga selama ini dikenal aktif di FUI. Al Khata mengatakan, ketika Munarman membunyikan klakson itu, tiba-tiba ada lima orang tak dikenal mendekat ke mobil Munarman.

“Mereka protes. Tapi Munarman menjelaskan bahwa dai tidak berniat mengklakson orang-orang itu. Terus terjadi pengeroyokan,” terang Al Khata.

Munarman, lanjut Al Khata, lantas melaporkan hal ini ke Polres Jaksel. Namun menurut Al Khata, tak lama kemudian Munarman menarik laporan itu.

“Sudah ditarik, ya agar polisi tahu saja bahwa sudah ada kejadian pemukulan itu,” terang Al Khata. Munarman ketika dikonfirmasi, telepon selulernya tidak aktif. Peristiwa pemukulan terhadap Jubir FPI, Munarman di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, ternyata akibat Munarman yang membunyikan klakson ke beberapa pengendara motor di sekitar lokasi tersebut. Munarman pun disebut sempat agak dongkol, karena dia sedang terburu-buru.

“Jadi itu kejadian pada minggu (25/11) sekitar pukul 17.00 WIB. Dia agak dongkol dan kecewa karena dia merasa lagi buru-buru kok nggak dikasih jalan. Akhirnya dia klakson-klakson,” ujar Kapolsek Pamulang, Kompol Mohamad Nasir, kepada detikcom, Senin (26/11/2012).

Menurut Nasir, dalam peristiwa tersebut yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Munarman menurutnya juga, hanya menganggap peristiwa tersebut sebagai kejadian yang sepele.

“Dia bilang ini masalah kecil,” terang Nasir.

Sebelumnya, Sekjen FUI Al Khathath mengatakan Munarman dikeroyok lima orang di Pondok Cabe pada Minggu sore. Saat itu Munarman tengah terjebak kemacetan dan membunyikan klakson agar kendaraan yang ada di depannya maju ke depan.

Namun tiba-tiba saja mendekat lima orang ke arah mobil Munarman. Setelah terlibat adu mulut, mereka lantas memukuli Munarman. Menurut Al Khathath, ketika Munarman membunyikan klakson, tanda itu tidak ditujukan kepada lima orang ini.

Sampai saat ini Munarman belum dapat dikonfirmasi. Nomor handphone-nya, tidak bisa dihubungi. Jubir FPI Munarman dikeroyok massa di Pondok Cabe, Pamulang, Tangsel. Munarman diketahui menderita luka lebam dan juga kaca mobilnya pecah.

“Kata teman yang sudah bertemu dia, mukanya lebam. Ya siapa yang tidak lebam sih dikeroyok lima orang begitu,” ujar Sekjen FUI, Muhammad Al Khathath kepada detikcom, Senin (26/11/2012) pagi.

Selain aktif di FPI, Munarman selama ini juga aktif dalam kegiatan FUI. Dua ormas ini sebelumnya juga cukup sering terlibat kolaborasi dalam menggelar aksi.

Selain menderita luka lebam, lanjut Al Khathath, Munarman juga harus menerima kenyataan kaca mobil miliknya dipecah oleh para pengeyoroknya itu. “Kaca mobilnya juga dipecah. Yang mengeroyok dia itu preman,” paparnya.

Sebelumnya, Al Khathath mengatakan Munarman dikeroyok lima orang di Pondok Cabe pada Minggu sore. Saat itu Munarman tengah terjebak kemacetan dan membunyikan klakson agar kendaraan yang ada di depannya maju ke depan.

Namun tiba-tiba saja mendekat lima orang ke arah mobil Munarman. Setelah terlibat adu mulut, mereka lantas memukuli Munarman. Menurut Al Khatath, ketika Munarman membunyikan klakson, tanda itu tidak ditujukan kepada lima orang ini.

Pihak Polsek Pamulang juga sudah membenarkan mengenai insiden ini. Sampai saat ini Munarman belum dapat dikonfirmasi, nomor handphone-nya tidak aktif.

Pekerja Seks ABG Di Saritem Bandung Sanggup Layani 5 Pria Semalam dengan Penghasilan Minimal 7 Juta Sebulan

Luar biasa memang kondisi fisik para pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Saritem, Bandung. Konon, mereka sanggup melayani lima pelanggan setiap malamnya. Rata-rata setiap tamu yang datang akan dilayani selama 60 menit.

“Hampir setiap malam saya melayani hingga lima orang tamu. Kadang-kadang, tiga laki-laki kalau lagi sepi,” kata Yesy (14)—bukan nama sebenarnya, salah satu PSK termuda asal Cicalengka, Kabupaten Bandung, dalam perbincangan dengan Kompas.com beberapa waktu lalu.

Yesy mengaku dibanderol majikannya seharga Rp 250 ribu untuk satu kali kencan. “Dari uang itu, nantinya dibagi tiga, pertama majikan saya, kedua saya, dan ketiga calo, itu juga kalau tamunya diantar sama calo,” kata Yesy.

Yesy beserta para PSK lainnya mengaku senang saat akhir pekan tiba. Menurutnya, pada saat itulah, para PSK bisa melayani tamu lebih banyak dari hari-hari biasanya. “Kalau malam minggu, saya bisa melayani tamu lebih banyak, lebih dari lima orang tamu. Otomatis penghasilan pun meningkat berlipat-lipat,” ujar Yesy.

Biasanya, setelah malam harinya bekerja, para PSK beramai-ramai melakukan sarapan pagi sebelum beristirahat untuk persiapan tenaga di malam selanjutnya.

Seperti yang telah diulas sebelumnya, Saritem merupakan salah satu lokalisasi yang namanya terdengar hingga ke kota-kota lain, layaknya Doly di Surabaya atau Sarkem (Pasar Kembang) di Yogyakarta. Lokasi Saritem berada di Jalan Saritem, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir.

Menurut Yadin (76), yang mengaku mengetahui banyak tentang sejarah Kota Bandung, Saritem sudah dibuka sejak zaman penjajahan Jepang. “Tempat pelacuran di Saritem memang dari zaman Jepang juga sudah ada,” kata Yadin saat ditemui kediamannya.

Hal tersebut dibenarkan Ece (28), salah satu calo pekerja seks komersial (PSK) Saritem yang juga sebagai warga di kawasan tersebut. Sepengetahuannya, area prostitusi di Saritem sudah dibuka sejak 1942. “Wah, sudah lama sekali, sejak saya belum lahir juga sudah mulai dibuka,” kata Ece.

Konon, kata Ece, Saritem dijadikan lokalisasi bagi para serdadu Jepang. Para PSK kala itu berjejer, dipajang dengan menggunakan kebaya di setiap rumah. Kebanyakan PSK tersebut didatangkan dari desa-desa dengan cara ditipu atau dipaksa meski ada pula yang menawarkan diri secara terang-terangan. “Saritem dulu menjadi suguhan untuk kolonial Jepang, kemungkinan orang Jepang sendiri yang mendirikan dan mengelolanya,” kata Ece.

Sejak saat itu hingga sekarang, area prostitusi Saritem tak pernah sepi pengunjung. Selalu saja ada lelaki hidung belang yang “jajan” di sana. Terlebih lagi jika hari libur panjang atau weekend, banyak sekali kendaraan roda dua dan empat terparkir di area prostitusi yang bisa dibilang terletak di tengah-tengah Kota Bandung ini.

“Setiap harinya, selalu saja ada yang datang, tak pernah sepi. Setiap wanita bisa melayani tamu 2-3 laki-laki kalau lagi sepi. Khusus untuk hari libur, yang datang banyak sekali. Wanita bisa melayani tamu 5 hingga belasan kali per malam,” katanya.

Dia menyebutkan, saat ini jumlah PSK di Saritem mencapai 625 orang di 52 rumah. Masing-masing rumah ditempati 6-9 orang PSK. Kebanyakan PSK didatangkan dari Indramayu, 75 persennya berasal dari kota tersebut. “Jumlah tersebut akan berubah, bahkan jadi bertambah. Kita punya channel khusus untuk mendatangkan wanita-wanita yang akan bekerja di sini,” ujar Ece.

Pekerja seks komersial (PSK) di Bandung yang beroperasi di Jalan Saritem, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Bandung, Jawa Barat, mengaku bisa mengantongi uang hingga Rp 7 juta sebulan, bahkan lebih.

“Ya, kisaran segitu. Tapi, tergantung kerja kita dan berapa banderol kita. Besar kecil gaji kita tergantung seberapa banyak kita main dengan tamu,” kata salah satu PSK Saritem, Yesy—bukan nama sebenarnya, saat makan siang di salah satu warung tegal di Jalan Saritem, belum lama ini.

Meski terbilang PSK yunior, Yesy mengaku betah melakoni pekerjaan haramnya itu. Sebab, dengan menjadi PSK penghasilannya bisa “membeludak” hebat, tidak seperti karyawan atau pekerja pada umumnya. “Paling besar tak terhingga, bahkan bisa nyampe puluhan juta per bulan. Apalagi kalau pasaran harga kita tinggi, bisa membeludak penghasilan kita,” kata Yesy.

Yesy mengaku, untuk masing-masing PSK ada banderol harga tersendiri. Kebijakan penentuan harga itu ditentukan oleh sang majikan, tergantung dengan “kualitasnya”. Yesy sendiri mengaku dibanderol seharga Rp 250.000. Sementara di Saritem ada macam-macam harga, mulai dari Rp 150.000 hingga jutaan rupiah untuk tiap 60 menit.

Belum lagi biaya sewa kamar Rp 30.000-Rp 50.000, dan biaya membeli minuman seperti bir. “Dari uang itu nantinya dibagi tiga, pertama majikan saya, kedua saya, dan ketiga calo, itu juga kalau tamunya diantar sama calo. Kecuali uang bir hanya masuk ke kantong sang majikan saja,” kata Yesy.

Lalu, masih ada uang tips dari para hidung belang. Karenanya, sebisa mungkin, si PSK harus bisa memuaskan pelanggannya karena mereka umumnya berharap mendapatkan tips tambahan. “Keseringan dikasih tips Rp 100.000. Ada yang kasih lebih ada juga yang enggak ngasih sama sekali,” ungkap Yesy.