Category Archives: Lain Lain

Hujan Akan Landa Jakarta Sepanjang Hari


Warga Jakarta dan wilayah sekitarnya masih harus sedia payung dan antisipasi banjir hari ini. Sebab awan tebal tampaknya masih akan terus memayungi wilayah Jabodetabek sepanjang hari ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pergerakan awan hujan di langit Jabodetabek.

Dikutip dari website resmi BMKG, Jumat (17/1/2014), hujan dengan intensitas ringan hingga lebat diperkirakan masih akan mengguyur wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mulai pagi hingga malam hari ini.

Seluruh wilayah Jakarta diperkirakan diguyur hujan sedang dan lebat sejak pagi hingga malam hari. Begitupun dengan wilayah Depok dan Bogor berpotensi diguyur hujan sedang dan lebat sepanjang hari.

Sementara wilayah Tangerang dan Bekasi berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat pada pagi dan siang hari. Sedangkan malam hari, diperkirakan diguyur hujan ringan.

Perempuan Yang Dipoligami Lebih Banyak Yang Alami Kekerasan dan Penderitaan


Rendahnya ancaman pidana bagi poligami bermasalah dinilai mendorong maraknya kawin kontrak. Hal ini mendorong laki-laki tidak jera dan mempermainkan lembaga perkawinan poligami.

“Realitas kehidupan perempuan yang dipoligami cenderung lebih banyak mengalami kekerasan daripada kebahagiaan,” kata Prof Tri Lisiani seperti detikcom kutip dari pidato pengukuhan guru besar hukum perdata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah, Prof Dr Tri Lisiani, Rabu (20/11/2013).

Menurut Tri, kenyataan keseharian menunjukkan pada adanya perempuan yang mau dipoligami, tetapi hal ini tidak bisa sekaligus menunjukkan bahwa mereka menyukai jalan hidup yang demikian. Seperti empat perempuan yang bersedia dipoligami dilakukan oleh Pemilik Ayam Goreng Wong Solo, sementara sikap yang berbeda dilakukan oleh penyanyi Dewi Yul yang tidak bersedia dipoligami dan memilih bercerai dari suaminya Rae Sahetapi.

“Salah satu penyebab masih banyak terjadi poligami ilegal adalah rendahnya sanksi denda. Berdasarkan Pasal 45 PP 9 Tahun 1975, sanksi pidana yang dijatuhkan pada pelanggarnya yaitu denda Rp 7.500,” ujar Tri.

Tri juga menyoroti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membuka jalan anak yang di luar perkawinan mempunyai hubungan hukum dengan ayah biologis dan keluarga ayah biologisnya. Tapi putusan itu belum final, sebab masih butuh jalan panjang jalan yang harus ditempuh ibu biologis anak tersebut untuk membuktikan bahwa anaknya mempunyai bapak biologis.

“Kesulitan lain yaitu tingginya biaya test DNA sebagai cara untuk membuktikan keabsahan anak tersebut yaitu berkisar antara Rp 7-15 juta. Kesulitan lain yaitu laki-laki atau keluarganya tidak mau dilakukan test DNA,” ucap peraih doktor dari Murdoch University, Australia itu.

Kisah Ayu Sang Pelacur Kelas Atas Yang Bermodal Ijazah Palsu Untuk Menjadi Simpanan Dosen


Berbalut rok mini warna hitam dengan baju motif “animal print”, Ayu (bukan nama sebenarnya) terlihat seksi malam itu. Dandanan wanita yang mengaku sehari-hari bekerja sebagai kasir di salah satu kelab malam di Samarinda itu terlihat sangat berkelas.

“Maaf ya lama datangnya, soalnya macet,” ujar Ayu saat tiba di salah satu kafe di kawasan Jalan Gatot subroto, Samarinda. Sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dia berujar, “Eh, wawancaranya ini enggak gratis lho.” Lalu, dia tertawa lebar.

Tentu, dandanan berkelas dan serba mewah yang ditampilkan gadis ramping berusia 24 tahun itu tak dibiayai dari gajinya sebagai kasir. Sejak lulus SMP, Ayu sudah terjerumus ke dalam bisnis pelacuran. Kala itu, dia mencoba peruntungannya di Jakarta.

“Awalnya saya gadis baik-baik kok. Sayangnya, saya tidak sabar mencari pekerjaan halal, akhirnya takdir membawa saya menjadi ladies di Ibu Kota,” ungkapnya.

Tanpa ditanya, gadis itu langsung menceritakan perjalanan hidupnya. Dia seolah sudah mengerti apa yang diinginkan pencari berita. Sebab, tak hanya sekali ini dia diwawancarai seputar kehidupan dunia malam yang digelutinya.

Mulanya, Ayu pergi ke Ibu Kota untuk mencari kerja. Sayang, latar belakang pendidikan yang hanya lulusan SMP tak membuatnya mendapat banyak pilihan pekerjaan.

Ayu yang datang dari pelosok desa di Kalimantan Timur lantas hijrah ke Samarinda. Alasannya, dia melihat tetangga sebayanya yang berhasil menjadi kaya setelah dua tahun merantau di Kota Tepian.

“Dari kawan saya itulah, akhirnya saya tahu kalau ada pekerjaan di salah satu kelab malam. Dia bilang cuma kasir dan front office. Ternyata, yang dibutuhkan penari dan ladies yang harus menemani tamu-tamu yang datang,” kata Ayu.

Sejak saat itu, Ayu pun menekuni profesi gandanya sebagai pekerja seks komersial. Namun, berkali-kali dia mengingatkan bahwa dia PSK “berkelas” dan bukan PSK pinggir jalan.

Dulu, saat pertama bekerja sebagai pelacur, Ayu mengaku bisa menerima sembarang tamu. Tetapi, setahun berjalan, dia mulai terkenal dan tidak sembarang mencari pelanggan. Tarifnya kini Rp 1 juta per malam. Tak hanya itu, Ayu hanya mau menginap di hotel berbintang dengan kendaraan mobil pribadi. Bahkan, tak jarang, Ayu meminta pembayaran dalam bentuk mata uang dollar AS.

Memanfaatkan situs jejaring sosial dan layanan BlackBerry Messenger, Ayu menjajakan diri kepada para pelanggannya. Uang yang diperoleh dari “bisnis” inilah yang lalu digunakan Ayu untuk “memperbaiki” diri. Tak hanya secara fisik, Ayu pun menaikkan “kelasnya” dengan cara mencari ijazah SMA dan berkuliah.

Ayu mengaku berhasil membuat ijazah “bodong” sebagai modal untuk mendaftar ke perguruan tinggi ternama di Samarinda. Kini, Ayu yang hanya lulusan SMP itu sudah tercatat sebagai seorang mahasiswi.

Dia sadar dengan ijazah seadanya dia tidak akan bisa mencari pekerjaan yang diimpikan. Jika harus kembali ke kampung, maka ia akan menanggung malu. Sebab, saat mau berangkat, dia menceritakan ke semua tetangganya kalau dia akan kaya raya saat pulang nanti.

“Hidup itu singkat, buat apa menangisi takdir. Lebih baik tetap tersenyum dan menjauh dari pikiran-pikiran yang bikin cepat tua,” celoteh perempuan berlesung pipit ini

Malam semakin larut. Namun, percakapan dengan Ayu, wanita pekerja seks komersial yang ‘sukses’ menaklukkan Kota Samarinda, belum juga berakhir.

Setelah bercerita panjang tentang awal perjalanan hidupnya hingga terjun ke dunia hitam, gadis 24 tahun ini lalu bercerita tentang pandangan orang kepada dirinya.

“Hampir semua orang tidak menyukai saya. Semua bilang saya pelacur, sehingga harus dijauhi. Padahal saya begini karena ada alasannya. Saya butuh kehidupan yang layak. Uang yang banyak untuk menafkahi keluarga saya,” kata Ayu dengan nada tinggi.

Ayu yang asalnya dari sebuah kampung di padalaman Kalimantan Timur, datang ke Samarinda dengan harapan menjadi kaya. Sebagian mimpinya sudah tercapai. Dengan penghasilannya sekarang, dia bisa melakukan banyak hal, termasuk membiayai kehidupan keluarganya di kampung.

“Ayah saya petani, sedang ibu saya cuma pegawai pengupas bawang di kampung. Adik-adik saya ada lima, kasihan mereka harus hidup dengan kemiskinan. Dari situ saya semangat pergi ke Samarinda, saya harus menerima semua pekerjaan. Walaupun akhirnya saya tahu, kalau pekerjaan ini adalah pekerjaan yang diharamkan agama,” kata Ayu lirih.

Meski demikian, Ayu terus melakukan pekerjaannya itu. Kalau ditanya orangtua, dia mengaku bekerja di salah satu kafe sebagai kasir. “Saya tidak mau orangtua tau apa yang saya lakukan di sini. Saya harus menjaga hati mereka, agar mereka tidak merasa hancur,” ujar Ayu lagi.

“Lumayan lo, setiap malam dapat sejuta, tiap bulan dapat gaji lagi dari klub kalau ada job nari. Tapi enggak bisa beli mobil, soalnya uangnya pasti dikirim ke kampung dan habis untuk berdandan,” katanya.

Bicara soal dandan, Ayu memang terlihat sangat mewah. Aroma parfum mahal pun tercium setiap kali dia menggerakkan tubuhnya. “Parfum saya saja harga jutaan. Kalau tidak punya uang, jangan coba-coba ngubungin saya deh,” cetus Ayu yang berkali-kali mengaku sebagai palacur ‘berkelas’.

Selain mempercantik diri dengan perawatan mahal, Ayu terus mengumpulkan rupiah. Seperti yang dia telah ceritakan, dia “berhasil” membeli ijazah SMA ‘bodong’ dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di kota itu.

“Hebat kan saya? Saya adalah pekerja seks kelas atas. Apa yang saya dapat adalah jerih payah. Saya tidak akan mengabaikan semua pendapatan hanya untuk bersenang-senang. Maka saya harus kuliah dan berpendidikan seperti mereka yang hidupnya di kantoran,” ungkap dia.

Dengan status mahasiswa nya itu, Ayu bisa ‘melebarkan sayap’ dalam ‘bisnisnya’ itu. Jika dulu dia hanya duduk merayu di kelab malam, kini dia sudah menjadi gadis simpanan.

Tak tanggung-tanggung, salah satu dosennya yang berhasil dia taklukkan. Setiap akhir pekan Ayu menemani kekasihnya itu keluar kota. Bahkan, belakangan kekasihnya melarang Ayu bekerja di kelab, dengan iming-iming uang jajan Rp 3 juta per bulan.

“Dia sih maunya saya cuma di rumah, nunggu dia pulang seperti istrinya. Tapi saya masih mikir mikir. Soalnya, saya enggak mau terkurung di rumah tanpa uang jajan harian. Tapi seandainya dia mau menjadikan saya istri simpanan, mungkin saya akan nurut apa katanya,” kata Ayu.

Ayu mengaku memimpikan rumah tangga seperti perempuan-perempuan lain. Dia akan berusaha lulus sarjana dengan cepat, dan mencari pekerjaan halal. Dia berharap suatu saat nanti, dia akan menemukan lelaki pujaan hati yang siap menerima masa lalunya sebagai pekerja seks komersial.

“One day. Saya akan pergi dari kehidupan ini. Saya akan menjadi istri dari laki-laki yang baik. Saya akan melahirkan anak-anak saya, dan saya akan melihat adik-adik saya menjadi apa yang mereka cita-citakan. Untuk saat ini, tidak apa-apa saya bekerja sebagai PSK. Demi orangtua, dan menyekolahkan adik-adik saya,” tutupnya seraya menyeka air mata.

Ledakan Besar Di Mangga Besar … Listrik Langsung Padam


Pipa bawah tanah di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, dilaporkan meledak pada Rabu (21/8/2013) malam. Usai ledakan, aliran listrik di sekitar lokasi padam. Informasi yang beredar di Twitter pada Rabu malam ini menyebutkan ledakan diduga dari pipa gas. Namun, inof lainnya menyebutkan ledakan tersebut berasal dari kabel listrik bawah tanah yang terbakar.

“Kabel Bawah Tanah di Jl. Mangga Besar Raya 7 terbakar. 1 unit mobil dinas pemadam kebakaran Jakarta Barat diluncurkan ke lokasi,” kicau akun Twitter ‏@SonoraFM92. Informasi dari akun @lewatmana, ledakan tersebut terjadi persis di depan Hotel Astika Mangga Besar. Arus lalu lintas ke arah Rumah Sakit Husada pun menjadi padat merayap.

Satu dari empat korban ledakan di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, adalah anggota DPRD Bengkulu Selatan, Bengkulu. Dia adalah Haidar Saito (44). “Benar, dia anggota DPRD Bengkulu Selatan. Dia kena luka bakar di muka,” kata Kepala Polsek Metro Taman Sari, Jakarta Barat, Komisaris Hadi Vivi, Kamis (22/8/2013) dini hari.

Haidar berada di Jakarta dalam rangka kunjungan kerja. Saat ledakan terjadi, dia tengah mencari makan malam di kawasan tersebut. Kepala Polres Jakarta Barat Kombes M Fadil Imran mengatakan, ledakan di kawasan Mangga Besar ini terjadi karena hubungan pendek arus listrik. Ledakan pertama terjadi pada Rabu (21/8/2013) pukul 20.30 WIB, dan ledakan susulan terjadi di salah satu titik pada Kamis (22/8/2013) pukul 00.20 WIB.

Pada peristiwa pertama, ledakan terjadi di beberapa titik, yakni:
1. Satu titik di depan Hotel Astika di Jalan Mangga Besar Raya.
2. Dua titik di depan Oasis Spa di Jalan Mangga Besar Raya.
3. Satu titik di depan Biliard Utama di Jalan Mangga Besar Raya.
4. Dua titik di depan Madonna Club di Jalan Mangga Besar 7.

Dalam ledakan pertama, empat orang mengalami luka bakar. Mereka adalah Heru Kurniawan (23), Haidar Saito (44), Arsyad (37), dan Saeful Junandar (29). Para korban dirawat di Rumah Sakit Husada. Saat ini polisi juga tengah meminta keterangan dari para saksi ledakan ini di Polsek Metro Taman Sari, Jakarta Barat. Setelah meminta keterangan saksi, kepolisian berencana meminta keterangan dari PLN.

Kepala Polres Metro Jakarta Barat M Fadil Imran mengatakan, ledakan yang terjadi di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, Rabu (21/8/2013) malam, bukan akibat dari pipa gas bawah tanah. Ledakan terjadi akibat hubungan pendek arus listrik bawah tanah di empat tempat di sekitar jalan tersebut lebih kurang pukul 20.30. Fadil mengatakan, total ada enam titik ledakan di sepanjang jalan tersebut. Satu titik ledakan berada di depan Hotel Astika, Jalan Mangga Besar Raya. Satu titik lagi terjadi di depan Biliard Utama di jalan yang sama. Sementara empat ledakan lain terjadi di dua titik di depan Oasis Spa, Jalan Mangga Besar Raya; dan dua titik di depan Madonna Club, Jalan Mangga Besar 7.

Pantauan pada pukul 22.55, arus lalu lintas tersendat di Jalan Mangga Besar Raya mengarah ke Gajah Mada dan sebaliknya. Warga yang penasaran dengan kejadian itu berkerumun di dekat lokasi kejadian. Lokasi kejadian masih dijaga ketat oleh aparat Polsek Taman Sari, Jakarta Barat. Ledakan yang terjadi di Mangga Besar, Jakarta Barat, Rabu (21/8/2013) sekitar pukul 20.30 WIB bukan berasal dari pipa gas seperti diberitakan sebelumnya, melainkan kabel listrik bawah tanah yang terbakar. Kabel terbakar di empat titik.

Selain mengakibatkan kebakaran, ledakan juga mencederai empat orang. Empat orang itu kini dirawat di Rumah Sakit Husada, Jakarta, sementara kebakaran sudah dipadamkan pada sekitar pukul 21.30 WIB. “Jadi bukan gardu, melainkan rangkaian kabel,” ujar Kepala Polsek Metro Tamansari Komisaris Adri Vivid, Rabu. Saat ini, petugas sedang melakukan perbaikan terhadap kabel-kabel tersebut. Sampai berita ini diturunkan, listrik di sekitar lokasi kejadian masih padam.

Arus lalu lintas di sekitar kawasan Jalan Mangga Besar, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2013) malam ini, macet parah akibat terjadinya insiden ledakan keras dari pipa bawah tanah. Selain karena lokasi titik ledakan yang memakan sedikit badan jalan, kemacetan diperparah dengan banyaknya warga yang berkumpul dan berkerumun di sekitar titik ledakan. Ledakan dilaporkan terjadi di 6 titik sekitar Jalan Mangga Besar mulai wilayah Taman Sari sampai Sawah Besar, Rabu (21/8/2013) malam pukul 20.30 WIB.

Ledakan ini mengakibatkan 4 orang mengalami luka bakar, yakni Heru Kurniawan (23), Haidar Saito (44), Arsyad (37), dan Saeful Junandar (29). Ledakan juga mengakibatkan permukiman warga di sekitarnya mengalami mati lampu. Zandre Badak (27), seorang pengendara mobil yang melintas di Jalan Mangga Besar menuju Jalan Gunung Sahari, mengaku tertahan hampir satu jam di Jalan Mangga Besar.

“Macet parah, banyak orang berkerumun, katanya ada ledakan. Selain itu lampu di sekitarnya mati,” kata Zandre. Menurut Zandre, kemacetan berdampak sampai lampu merah Olimo di Jalan Hayam Wuruk. “Pantas dari Olimo, Mangga Besar, dan Kartini gelap semua. Katanya karena ledakan ini,” kata Zandre.

Ia mengatakan, beberapa petugas kepolisian yang mengatur lalu lintas tidak dapat berbuat banyak dengan adanya kemacetan ini. “Karena selain warga yang bekerumun, banyak pengendara berhenti mau melihat lokasi ledakan,” kata Zandre. Diberitakan sebelumnya, ledakan akibat hubungan pendek arus listrik di bawah tanah atau gorong-gorong terjadi sedikitnya di 6 titik di sekitar Jalan Mangga Besar Raya, Rabu (21/8/2013) pukul 20.30. Akibat peristiwa ini, 4 orang mengalami luka bakar dan dilarikan ke RS Husada, Jakarta Barat.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto menuturkan, 6 titik lokasi ledakan akibat hubungan pendek arus listrik bawah tanah di Jalan Mangga Besar itu adalah di depan Hotel Astika (satu titik), di depan Oasis Spa (dua titik), di depan Bilyard Utama (satu titik), dan dua titik ledakan di depan Madonna Club di Jalan Mangga Besar 7.

Dari penyelidikan sementara, kata Rikwanto, penyebab ledakan bukan pipa gas, melainkan hubungan pendek arus listrik bawah tanah. “Penyebabnya arus pendek listrik,” kata Rikwanto. Menurutnya pula, seorang saksi mata saat ini masih diperiksa di Polsek Taman Sari untuk penyelidikan lebih lanjut. Ledakan besar kembali terjadi di depan Hotel Astika, Jalan Mangga Besar, Jakarta Barat, Kamis (22/8/2013) dini hari. Ledakan pada pukul 00.20 WIB ini terjadi di lokasi yang beberapa saat sebelumnya meledak. “Tiba-tiba terjadi suara letukan keras. Untung kondisi sudah sunyi,” kata Kalwi, Babinsa Koramil dari Taman Sari, Jakarta Barat, kepada wartawan, Kamis (22/8/2013) dini hari. Dia yang mengaku baru hendak mencari makan dikagetkan dengan suara ledakan tersebut.

Menyusul terjadinya ledakan kedua ini, Jalan Gunung Sahari menuju Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, ditutup dan arus lalu lintas dialihkan ke Jalan Mangga Delapan. Warga pun diminta menjauh dari lokasi ledakan. Garis polisi sudah dipasang pula. Adapun arus lalu lintas dari Jalan Gunung Sahari menuju Jalan Mangga Besar tetap diizinkan melintas.

Sebelumnya, akibat ledakan di Jalan Mangga Besar Raya, empat korban yang mengalami luka bakar dilarikan ke Rumah Sakit Husada. Kepala Polres Metro Jakarta Barat M Fadil Imran MSI mengatakan, ledakan diduga dipicu hubungan pendek arus listrik di bawah tanah yang kemudian memunculkan ledakan di beberapa titik, Rabu (21/8/2013) pukul 20.30 WIB.

Lokasi-lokasi ledakan pertama adalah:
1. Satu titik di depan Hotel Astika di Jalan Mangga Besar Raya.
2. Dua titik di depan Oasis Spa di Jalan Mangga Besar Raya.
3. Satu titik di depan Biliard Utama di Jalan Mangga Besar Raya
4. Dua titik di depan Madonna Club di Jalan Mangga Besar 7

Empat orang yang menjadi korban luka dalam ledakan pertama diidentifikasi sebagai Heru Kurniawan (23), Haidar Saito (44), Arsyad (37), dan Saeful Junandar (29). Saat ini polisi juga tengah meminta keterangan dari para saksi ledakan, di Polsek Metro Tamansari, Jakarta Barat. “Kami minta keterangan saksi dulu, baru (kemudian) kami akan meminta keterangan kepada PLN (yang menangani) wilayah Taman Sari,” kata Kepala Polsek Taman Sari Komisaris Hadi Vivid, Rabu (21/8/2013) malam.

Empat orang mengalami luka bakar akibat ledakan di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, Rabu (21/8/2013) malam.
Keempat korban tersebut adalah Heru Kurniawan (23), Haidar Saito (44), Arsyad (37), dan Saeful Junandar (29). Para korban tengah dilarikan ke Rumah Sakit Husada. Polisi masih memeriksa saksi-saksi yang mengetahui ledakan di enam titik tersebut. Kasus ini tengah ditangani Polsek Metro Taman Sari.

“Yang jelas kita memeriksa saksi-saksi dulu yang mengetahui terjadinya ledakan, baru kami akan meminta keterangan kepada PLN wilayah Taman Sari,” kata Kepala Polsek Metro Taman Sari Komisaris Hadi Vivid kepada Kompas.com di lokasi kejadian, Rabu. Kepala Polres Metro Jakarta Barat M Fadil Imran mengatakan, ledakan yang terjadi di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, Rabu malam, bukan akibat dari pipa gas bawah tanah. Ledakan diakibatkan oleh hubungan pendek arus listrik bawah tanah di empat tempat di sekitar jalan tersebut, lebih kurang pada pukul 20.30.

Fadil mengatakan, secara total terdapat enam titik ledakan di sepanjang jalan tersebut. Satu titik ledakan berada di depan Hotel Astika, Jalan Mangga Besar Raya. Satu titik lagi di depan Biliard Utama di jalan yang sama. Sementara itu, empat ledakan lain terjadi di dua titik di depan Oasis Spa, Jalan Mangga Besar Raya; dan dua titik di depan Madonna Club, Jalan Mangga Besar 7. Berdasarkan pantauan Kompas.com pada pukul 22.55, arus lalu lintas tersendat di Jalan Mangga Besar Raya mengarah ke Gajah Mada dan sebaliknya. Warga yang penasaran dengan kejadian itu berkerumun di dekat lokasi kejadian. Lokasi masih dijaga ketat oleh aparat Polsek Metro Taman Sari.

Menteri BUMN Dahlan Iskan membantah, ledakan yang terjadi di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, pada Rabu (21/8/2013) malam disebabkan adanya program pembaruan kabel bawah tanah 1.000 kilometer yang dilakukan PT PLN (Persero).

Dahlan menegaskan, ledakan terjadi karena adanya hubungan arus pendek listrik bawah tanah pada kabel lama, di mana disekitar lokasi terdapat galian.

“Biasanya kalau ada gangguan, gardunya dimatikan meskipun berakibat pemadaman yang luas. Tetapi kemarin itu gardunya tidak mati, wilayah pemadaman kecil, ya akibatnya terjadi ledakan itu,” jelas Dahlan kepada KONTAN di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/8/2013).
Mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) tersebut menambahkan, gardu listrik juga memiliki fungsi seperti sekering listrik yang mencegah menjalarnya dampak gangguan arus listrik.

Dahlan bilang, pemadaman dampak ledakan kemarin dilakukan selama empat jam. “Tapi itu tidak semua. Penormalan dilakukan per wilayah. Ada juga yang dalam dua jam, jaringan listrik sudah pulih,” ucapnya.

Sebagaimana diberitakan, Rabu kemarin tadi terjadi ledakan cukup keras yang menggegerkan warga sekitar Mangga Besar, Jakarta Barat. Ledakan tersebut bersumber dari kabel bawah tanah yang ditanam di sepanjang Jalan Mangga Besar Raya

Gedung Kampus Institut Kesenian Jakarta IKJ Cikini Terbakar


Kebakaran terjadi di gedung kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Cikini, Jakarta Pusat. 16 unit mobil pemadam kebakaran (damkar) dikerahkan untuk menjinakkan api.

“Yang terbakar gedung IKJ,” ujar salah seorang petugas Suku Dinas Damkar Jakarta Pusat yang enggan menyebutkan namanya saat dihubungi, Selasa (20/8/2013).

Api diketahui mulai membakar gedung sekitar pukul 17.30 WIB. Diduga kebakaran disebabkan karena korsleting listrik.

“Sekitar jam 17.30 tadi. Petugas sudah di lokasi kejadian,” katanya.

Belum diketahui apakah ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Saat ini petugas masih di lokasi kejadian untuk menjinakkan api.

Kebakaran terjadi di Jalan Asofa Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat akhirnya padam. Akibat kebakaran tersebut, 2 toko mebel dan atap rumah kontrakan hangus terbakar.

Menurut Kasie Ops Damkar Jakarta Barat, kebakaran padam sekitar pukul 09.30 WIB. Kebakaran terjadi dikarenakan arus pendek dari toko mebel.

“Sudah padam dan kebakaran karena arus pendek,” ujar Agus Surya Mandala, Selasa (20/8/2013).

Agus juga mengatakan, tidak ada korban meninggal dalam peristiwa ini. Namun, ada beberapa orang yang terluka karena pecahan kaca.

“Tadi satu orang luka karena mau ngambil barang-barangnya nggak hati-hati. Tapi sudah dalam penanganan petugas,” imbuh Agus.

Rumah Mewah Polisi AKP Andreas Tulam Ditembak Orang


Polda Metro Jaya mengaku tidak tahu menahu mengenai rumah mewah AKP Andreas Tulam yang berada di Perumahan Banjar Wijaya, Cipondoh, Tangerang. Sebagaimana diketahui rumah tersebut sempat menjadi sasaran tembak orang tak dikenal Selasa (13/8) pagi lalu.

“Enggak tahu saya soal itu, ya rezekinya dia,” kata Kombes Nugroho Aji Wijayanto di Direktorat Tindak Pidana Narkotika, Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (16/8/2013).

Nugroho merupakan atasan langsung Andreas Tulam di Direktorat Narkotika Polda Metro Jaya. Dia mengakui bila Tulam selain bekerja di kepolisian memiliki sampingan atau usaha. Namun dia tidak mengetahui usaha apa yang digeluti anak buahnya tersebut.

“Ada usaha,” katanya. (Baca juga: Pegawai Negeri Dilarang Berusaha atau Memiliki Usaha Sampingan

Andreas berdinas sebagai Kepala Unit (Panit) 3 Unit 2 Direktorat Narkotika Polda Metro Jaya. Nugroho mengenal Andreas sebagai perwira yang cakap dalam menjalankan tugas. Dia menegaskan peristiwa penembakan rumah anak buahnya itu tidak terkait dengan kasus yang ditangani Polda Metro Jaya.

“Memang perkara yang ditanganinya itu besar-besar, tapi enggak ada kaitannya dengan perkara,” ujar Nugroho. Dia mencontohkan kasus besar itu adalah kasus 350 kg sabu yang mana melibatkan warga negara asing. “Tapi kasus itu kan sudah selesai di pengadilan dan para tersangkanya sudah divonis mati,” kata Nugroho.

Rumah Tulam diduga ditembak dengan menggunakan airsoft gun. Kaca pintu dari rumah berwarna coklat ini pecah akibat tembakan ini. Saat itu AKP Tulam baru saja meninggalkan rumahnya untuk bertugas sekitar pukul 06.00 WIB. Penembakan itu terjadi setelah 15 menit kemudian.

Polisi telah memeriksa 3 saksi baru terkait penembakan rumah AKP Andreas Tulam pada Selasa (13/8) lalu di Cipondoh, Tangerang. Para saksi tersebut merupakan satpam yang menjaga kompleks Banjar Wijaya kluster Yunani itu.

“Sudah ada 3 saksi baru yakni Wandi, Mahmud dan Nursalim. Ketiganya adalah satpam kompleks,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakpus, Kamis (15/8/2013).

Menurutnya, ketiga satpam ini diperiksa terkait pengamatan mereka terhadap aktivitas warga dan orang-orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar rumah AKP Tulam. “Mereka kami periksa sebagai saksi, terkait lalu lintas orang yang lalu lalang di sana. Apakah ada yang mencurigakan dan membawa air soft gun,” jelas Rikwanto.

Hingga saat ini, kepolisian masih menyelidiki motif penembakan yang menyebabkan rusaknya kediaman anggota Dit Narkoba Polda Metro Jaya tersebut. “Permasalahan apa yang dihadapi oleh AKP Tulam, masih kami selidiki. Bisa jadi ada kemungkinan dia bermasalah dengan seseorang atau ada yang dendam terkait pekerjaannya. Itu masih kami identifikasi,” tuturnya.

Penembakan rumah AKP Andreas Tulam terjadi pada Selasa (13/8) pada 06.15 WIB pagi atau 15 menit setelah AKP Andreas Tulam berangkat kerja. Penembak diduga menggunakan airsoft gun karena tidak ditemukan proyektil di TKP. Beruntung, tembakan tersebut hanya mengenai pintu dan tidak melukai siapapun. Sebelumnya pada Rabu (14/8/2013), polisi telah memeriksa saksi bernama Mawir. Dia adalah kepala satpam kompleks.

Polisi kembali memeriksa saksi terkait penembakan di rumah megah AKP Andreas Tulam di Cipondoh, Tangerang. Saksi yang diperiksa adalah kepala satpam perumahan.

“Hari ini diperiksa kepala satpam kompleks atas nama Mawir di Polres Tangerang,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (14/7/2013). Rikwanto mengatakan, belum ada perkembangan terkait hasil pemeriksaan tersebut. Pihaknya juga kembali melakukan olah TKP di waktu yang sama dengan kejadian.

“Tadi pagi kembali olah TKP lanjutan sekitar pukul 05.30-06.00 WIB di sekitar kediaman AKP Tulam,” katanya. Menurutnya, hasil olah TKP menunjukkan jalanan di rumah AKP Tulam pada pukul tersebut sudah mulai ramai. Banyak pengguna jalan seperti pejalan kaki, pengguna sepeda, pengguna motor maupun mobil yang melintasi kompleks Banjar Wijaya kluster Yunani tersebut. “Jadi siapa pun pelakunya bisa naik kendaraan bermotor maupun jalan kaki,” terangnya.

Belum diketahui motif penembakan tersebut, sebab tidak ada barang milik AKP Tulam yang hilang. Menurut Rikwanto, tim gabungan yang terdiri dari Direktorat Kriminal Umum, Intelijen dan Direktorat Narkoba masih terus berupaya untuk mengungkap kasus tersebut. “Mereka (tim gabungan) mengolah informasi yang ada, kemudian membagi tugasnya masing-masing,” tutur Rikwanto.

Penembakan di rumah AKP Andreas Tulam, anggota Dit Narkoba Polda Metro Jaya, terjadi pukul 06.15 WIB, Selasa (13/8) atau 15 menit setelah AKP Andreas Tulam berangkat kerja. Penembak diperkirakan menggunakan airsoft gun karena tidak ditemukan proyektil di TKP. Tembakan hanya mengenai pintu.

FPI Bentrok Dengan Warga Lamongan Karena Ada Warga Yang Meludah Sembrangan


Lurah Blimbing, Kecamatan Paciran, Lamongan, Toha Mansyur, mengatakan bentrok warga dengan kelompok Front Pembela Islam Lamongan pada Minggu malam dan Senin dinihari kemarin dipicu oleh kejadian sepele, yaitu orang meludah. “Dari meludah di sembarang tempat itulah yang memunculkan aksi berubah jadi rentetan kejadian,” kata Toha kepada Tempo, Selasa, 13 Agustus 2013.

Pada malam Lebaran, tepatnya Rabu malam 7 Agustus, puluhan orang pawai keliling kampung dengan takbiran menyambut hari raya. Di saat bersamaan di Jalan Raya Blimbing, Paciran, juga tengah digelar malam takbiran, yang di antaranya diikuti sejumlah pemuda, organisasi kemasyarakatan dan anak-anak kampung, dari beberapa desa di Kecamatan Paciran dan Kecamatan Brondong.

Di antara kerumunan itu, terdapat belasan anak-anak muda duduk-duduk di pinggir Jalan Raya Blimbing, tak jauh dari ada rental play station (PS) yang dikelola Eko. Tak berapa lama, ada rombongan yang diduga anggota FPI, lewat di Jalan Raya Blimbing.

Saat itu, di antara kerumunan pemuda di pinggir jalan itu tiba-tiba ada yang meludah ke arah belasan anak muda yang lewat. Ludah yang muncrat itu diketahui oleh para pemuda yang beriring-iringan di jalan yang kemungkinan juga anggota FPI.

Rupanya, ludahan itu membuat marah. Salah satunya lalu menanyakan siapa yang meludah. Akan tetapi, pemuda di pinggir jalan tidak ada yang mengaku dan sempat terjadi cekcok mulut. Setelah tidak ada pengakuan perihal yang meludah, para anggota FPI pergi meninggalkan kerumunan.

Tak selesai sampai di situ, berapa jam kemudian, sekitar pukul 21.00, belasan anggota FPI datang lagi beriring-iringan ke Jalan Raya Blimbing. Di tempat itu, sudah tidak ada pemuda yang dicari. Belasan pemuda itu, lalu mendatangi rental PS yang tak jauh dari lokasi. Di sana mereka kemudian, menanyakan soal aksi meludah.

Singkatnya, begitu tiba di lokasi, pintu masuk ke rental PS digedor-gedor. Ada lima orang masuk di ruangan. Dua menggunakan helm, dua orang bercadar dan satu lagi tanpa penutup muka dan melengkapi dengan senjata tajam.

Di tempat rental PS, mereka bertemu sejumlah orang dan langsung menganiaya. Belakangan, diketahui tiga orang korban penganiayaan bernama Agus Langgeng, Sampurno dan Zaenul Efendi. Mereka mengalami luka senjata tajam dan lebam akibat dipukul dan ditendang. Penganiayaan itu berimbas menjadi balas dendam dan saling serang kelompok warga dan FPI.

Demi keamanan, 42 anggota Front Pembela Islam yang melakukan pengrusakan dan penganiayaan di Dusun Dengok, Desa Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran, Lamongan ditangani Kepolisian Daerah Jawa Timur. “Atas perintah Kapolda, 41 pelaku (pengrusakan dan penganiayaan) digeser penanganannya ke Mapolda demi keamanan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Awi Setiyono, Senin, 12 Agustus 2013.

Sementara itu, sampai pukul 16.30 WIB petang ini, warga yang ditangkap karena diduga sebagai pelaku penganiayaan di rumah Zaenuri, bertambah menjadi 8 orang. Sebelumnya, polisi telah mengamankan Slamet Badiono alias Raden, 35 tahun dan Said, 16 tahun. Keduanya diduga melakukan penganiayaan terhadap isteri Zaenuri, Sundari, 30 tahun dan Riyan, 20 tahun di rumah Zaenuri pada Ahad, 11 Agustus 2013 pukul 23.30 WIB.

Dari pengembangan kasus, polisi akhirnya menangkap 6 orang lainnya atas nama Adi Susanto, 29 tahun, Nur Yaqin, 41 tahun, Farid Yulianto, 24 tahun, Fikri, 22 tahun, Rakum, 38 tahun yang semuanya warga Sidoarjo dan Sampurno, 19 tahun warga Blimbing Kecamatan Paciran, Lamongan.

Versi polisi, kasus ini berawal dari penganiayaan terhadap Zaenul Efendi, Agus Langgeng dan Sampurno di sebuah rental play station milik Eko di Gowa, Kelurahan Blimbing, Paciran, Lamongan pada 8 Agustus 2013 pukul 00.10 WIB. Dalam penganiayaan itu, polisi menetapkan Zaenuri alias Zen, Viki dan Gondok yang diketahui merupakan anggota Front Pembela Islam sebagai tersangka.

Peristiwa tersebut memancing amarah Slamet Badiono alias Raden, 35 tahun dan Said, 16 tahun. Keduanya ingin membalas perlakuan Zen. Tidak bertemu Zen, Raden dan Said melukai istri Zen, Sundari dan Riyan di rumahnya pada Ahad, 11 Agustus 2013, pukul 23.30 WIB.

Selang beberapa jam, sekitar pukul 01.30 WIB, Senin, 12 Agustus 2013, peristiwa di rumah Zen memicu kemarahan anggota FPI. Dipimpin Umar Faruk, 42 orang anggota FPI mencari pelaku penganiayaan terhadap istri Zen. Mereka menuju ke rumah Muklis di Dusun Denhok, Desa Kandang, Semangkon, Kecamatan Paciran. Karena yang bersangkutan sudah kabur, mereka merusak rumah, televisi dan 6 unit sepeda motor.

Setelah di rumah Muklis, kelompok FPI menyasar sebuah rumah di Jalan Daendels, Paciran. Di lokasi, mereka melakukan sweeping untuk mencari pelaku penganiayaan di rumah Zen. Anggota FPI kemudian menganiaya Hamzah Soleh, 18 tahun hingga mengalami luka bacok di punggung dan telinga kirinya.

Awi mengatakan polisi masih terus mendalami dan mengembangkan kasus ini untuk memastikan keterkaitan 4 peristiwa penganiayaan tersebut dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Juru bicara Kepolisian Resor Lamongan, Jawa Timur, Ajun Komisaris Umar Dami, mengatakan 42 orang anggota Front Pembela Islam Lamongan yang terlibat pengrusakan dan penganiayaan di Kecamatan Paciran Lamongan, Senin dinihari kemarin itu sudah diperiksa penyidik Kepolisian Resor Lamongan.

Mereka sempat ditahan di Markas Polres Lamongan mulai Senin pagi dan sudah menjalani periksaan selama 24 jam. Selanjutnya, mereka dipilah-pilah sesuai perannya. Namun, 42 orang itu belum resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Alasannya, kata Umar Dami, penentuan statusnya akan diserahkan ke Kepolisian Daerah Jawa Timur. “Dari kami belum ditetapkan tersangka. Kami serahkan ke Polda Jatim,” kata Umar Dami kepada Tempo, Selasa, 13 Agustus 2013.

Selain memeriksa, Kepolisian Lamongan juga menyita puluhan jenis senjata tajam. Mulai dari badik 4 biji, pedang 9 biji, parang 10 biji, celurit 4 biji, sangkur 4 biji, pisau belati 8 biji, betel besi 1 biji, kayu balok ujuran 1,5 meter 5 batang dan besi batangan 2 biji. Barang bukti itu, kini disimpan di penyidik Polres Lamongan.

Tak hanya anggota FPI, Polres Lamongan juga masih menahan dua orang atas nama Slamet Badiono alias Raden dan Said. Dua orang yang disangka melakukan penganiayaan atas nama Sundari, istri dari Zainul ini, masih ditahan di Kantor Kepolisian Sektor Paciran.

Umar Dami mengatakan jumlah tersangka bakal bertambah, mengingat tidak hanya kasus penganiayaan, tapi juga perusakan rumah yang terjadi di Kelurahan Blimbing, Kecamatan Paciran, Lamongan, Minggu, 11 Agustus, lalu.

Versi polisi, kasus ini berawal dari penganiayaan terhadap Zaenul Efendi, Agus Langgeng, dan Sampurno di sebuah rental play station milik Eko di Desa Blimbing pada 8 Agustus 2013 pukul 00.10 WIB oleh Zainuri alias Zen, Viki, dan Gondok. Ketiga anggota FPI ini langsung ditetapkan tersangka.

Peristiwa tersebut memancing amarah Slamet Badiono alias Raden, 35 tahun dan Said, 16 tahun. Keduanya bersama 20-an warga ingin membalas perlakuan Zen. Tidak bertemu Zen, Raden dan Said—yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka–melukai istri Zen, Sundari, dan Riyan di rumahnya pada Ahad, 11 Agustus 2013, pukul 23.30 WIB.

Penganiayaan terhadap Sundari memicu kemarahan anggota FPI. Senin pukul 01.30 dinihari, dipimpin Umar Faruk, 42 anggota FPI mencari penganiaya istri Zen. Mereka merangsek ke rumah Muklis di Kandang Semangkon, yang dianggap sebagai pimpinan kelompok Raden dan Said. Karena Muklis sudah kabur, mereka merusak rumah, televisi, dan enam unit sepeda motor. Sweeping mereka berlanjut ke sebuah rumah di Jalan Daendels, Paciran. Di situ mereka menganiaya Hamzah Soleh, 18 tahun.

Mantan aktivis pembela perjuangan warga Afganistan dan Moro, Ali Fauzi, mengaku pernah membina anggota Front Pembela Islam di Paciran, Lamongan. Bahkan, mereka juga pernah meminta untuk diajari merakit bom.

“Tapi saya menolak,” ujar lelaki berumur 43 tahun itu kepada Tempo, Selasa, 13 Agustus 2013. Ali Fauzi, adik dari terpidana mati Bom Bali I, yaitu almarhum Amrozi dan Ali Ghufron ini, menolak mengajari karena dia menganggap kondisi umat Islam di Lamongan dan sekitarnya sudah kondusif sehingga tidak diperlukan berjuang dengan meledakkan bom. “Ya, saya tolak. Dan mereka memahami argumen saya.”

Merakit bom, kata Ali Fauzi lagi, bisa dipelajari dan diajarkan jika kondisinya memungkinkan. Misalnya, ketika dia menjadi aktivis di Afganistan dan di Moro. Tujuannya jelas, yakni membela agama dari ancaman musuh. “Tetapi, ketika kondisi masyarakat aman dan kondusif, tidak perlu belajar merakit bom. Jadi, peruntukannya jelas,” ujarnya.

Maka yang dia lakukan terhadap anggota FPI hanya pembinaan mental dan agama. Dia mengajarkan pelajatan ketauhidan, hadis, tarikh (sejarah Islam), dan peningkatan beribadah. Aktivitas belajar mengaji anggota FPI Paciran berjalan antara 2008 hingga tahun 2009. Bahkan, para anggota FPI Paciran ini dikenal militan. Ali Fauzi merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Islam, Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan.

Di antara para aktivis FPI itu, terdapat teman-temannya dari Pondok Pesantren Yayasan Taman Pengetahuan di Kertosono, Nganjuk, yaitu dua bersaudara bernama Anshor dan Umar Farouk (keduanya aktivis FPI Lamongan), yang tercatat sebagai teman dan adik kelas saat belajar di pondok pesantren. (Baca: Bentrok FPI Lamongan Ramai di Linimasa Twitter)

Ali Fauzi berpendapat keberadaan FPI di Kecamatan Paciran dan Brondong, Lamongan, sebenarnya bisa bermanfaat yakni bisa menjadi penyeimbang maraknya prostitusi, peredaran narkotik dan minuman keras di daerah tersebut. Hanya, Ali Fauzi juga tidak setuju dengan tindakan keras seperti perusakan, penganiayaan, dan sweeping.

Dukungan yang sama disampaikan Lurah Blimbing, Kecamatan Paciran, Toha Mansyur, bahwa ada sisi lain yang positif untuk gerakan organisasi kemasyarakatan seperti memerangi penjualan minuman keras, peredaran obat-obat terlarang, dan seterusnya. “Positifnya di sana,” katanya yang dihubungi Tempo, Senin sore, 12 Agustus 2013.

Tarif Dakwah Ustad Solmed Di Hongkong Adalah 10 Juta Dollar


Selain diduga menaikkan tarif dakwah secara tiba-tiba, ustad Solmed menurut pimpinan majelis Thoriqul Jannah, Khalifah yang mengundangnya untuk berceramah di Hong Kong juga meminta fasilitas lain. Khalifah menyebut, Solmed juga meminta penginapan bagus.

Namun, sebenarnya bukan hal itu yang membuat Khalifah kemudian keberatan, dan membatalkan penampilan Solmed. Melainkan, menurut Khalifah, Solmed juga meminta bagian ‘infak’ alias ‘tiket’ untuk pengajian tersebut.

“Pengajian itu diadakan infak. Infak itu penjualan tiket, dia minta (bagian) juga. Minta transportasi selama di Hong Kong, lalu juga minta penginapan juga yang bagus,” jelas Khalifah lewat pernyataan yang diungah di YouTube, Kamis (15/8/2013).

Khalifah juga menjelaskan, pihaknya menyesalkan Solmed yang sebelumnya menyatakan bahwa dirinya merasa dipermainkan oleh pihak Thariqul Jannah. Padahal, menurut Khalifah, Solmed-lah yang mengubah tarif dakwah yang tadinya hanya sebesar HK$ 6000 menjadi HK$ 10 juta.

“Ada perubahan permintaan dari yang awalnya seihklasnya yakni HK$ 6000 Uustad Solmed berubah pikiran dengan menaikkan tarif HK$ 10 Juta dan awalnya dua tiket lalu minta empat tiket pesawat,” rinci Khalifah mengklarifikasi. Ustad Solmed mengatakan bahwa dirinya batal mengisi ceramah di Hong Kong karena panitia penyelanggara menjadikan acara yang dibisniskan, karena menjual tiket. Kini, tudingan itu pun mendapatkan tanggapan.

Khalifah selaku pimpinan majelis Thoriqul Jannah yang mengundang Solmed merasa difitnah atas tudingan tersebut.

“Kalau disebut bisnis ini suatu Fitnah yang harus diluruskan. Saya dan Ustad Solmed berasal dari dunia dakwah dan syiar harusnya juga paham. Ini harus diluruskan,” ujar Khalifah lewat jejaring YouTube, Kamis (15/8/2013).

Sebelumnya, Solmed juga mengaku merasa seperti dipermainkan karena adanya penjualan tiket dalam acara ceramahnya di Hong Kong. Karena itu Solmed membatalkan untuk kerja sama tersebut.

“Saya bilang ‘catatannya saya mau ceramah asal Anda gratisin, Anda nggak usah bayar saya, saya akan dakwah’ ternyata mereka nggak mau. Itu bisnis mereka. Nggak mau saya, saya batalin,” demikian bantahan Solmed beberapa waktu lalu.

Namun Khalifah menegaskan justru pihaknya yang merasa dirugikan atas kejadian ini. “Dari pihak Ustad Solmed yang ada perubahan kata dan permintaan,” tegas Khalifah. Ustad Solmed sepertinya memang sudah enggan menanggapi kontroversi soal tarif dakwahnya di Hong Kong yang makin panas. Menurut Solmed, harusnya dari awal pihak yang mengundangnya itu melaporkannya ke polisi daripada terus mengeluarkan pernyataan.

“Harusnya sejak awal mereka lakukan itu (lapor polisi) jika mereka berada di pihak yang benar,” ucap Solmed kepada detikHOT, Jumat (16/8/20130.

“Bukannya malah berkoar-koar seperti ini,” lanjut suami April Jasmine itu. Solmed sepertinya memang sudah lelah dengan masalah tausiah di Hong Kong. Ia pun merasa, bila menanggapi pernyataan ketua majelis Thoriqul Jannah, Khalifah, pihak pengundangnya.

“Tidak menyelesaikan masalah malah akan makin lebar,” bilang Solmed. Khalifah membeberkan mengenai undangan sang ustad ke Hong Kong melalui situs YouTube. Di situ, Khalifah menyebut pihaknya awalnya mencapai kata sepakat dengan Solmed dengan bayaran ceramah sebesar HK$ 6000.

Namun menurut Khalifah, Solmed merubah permintaan bayaran dan meminta fasilitas akomodasi lebih dari perjanjian awal. Pihak Khalifah pun keberatan dan membatalkan tausiah bersama Solmed. Ustad Solmed mencoba tetap dingin menghadapi terpaan masalah tarif dakwah di Hong Kong yang memanas. Ia juga mengaku masalah itu tak mengganggu kehidupan rumah tangganya.

Pria bernama lengkap Soleh Mahmud itu bahkan mengatakan, istrinya selalu mendoakan dan memberikan dukungannya. Terlebih saat diterpa masalah seperti ini. “Sama sekali tidak (terganggu). April baik-baik saja. Dia selalu mendoakan dan mendukung saya,” ucap Solmed saat dihubungi detikHOT, Jumat (16/8/2013).

Ustad muda yang sebelumnya bikin kontroversi dengan aksinya sahur on the road bermobil lamborghini itu kini enggan membahas masalah batalnya tausiah di Hong Kong. Dengan tegas ia enggan diungkit lagi kasus tersebut. Solmed berucap, dirinya lebih terima bila masalah itu dilaporkan ke ranah hukum daripada terus beradu argumen yang membuat kasus tersebut makin panas.

Lantas benarkah Solmed meminta bayaran menjadi HK$ 10 Juta untuk tausiahnya itu? “Saya pokoknya sudah closed, maaf,” tepis Solmed saat disinggung menganai nominal ‘wah’ itu. Pimpinan majelis Thoriqul Jannah, Khalifah selaku pengundang ustad Solmed untuk tausiah di Hong Kong angkat bicara dan menangkis semua pernyataan sang ustad. Khalifah bahkan menegaskan Solmed memang menaikkan tarif tausiah.

Solmed yang dihubungi detikHOT menekankan, dirinya sudah tak ingin lagi menyinggung soal kejadian di Hong Kong itu. Ia enggan berpanjang lebar lagi soal masalah itu.

“Saya sudah closed soal Hong Kong. Saya tidak akan mau wawancara lagi soal itu, maaf banget ya,” tepis Solmed, Jumat (16/8/2013).

Solmed merasa masalah batalnya ia berceramah di Hong Kong sudah tak harusnya dipermasalahkan lagi. Suami April Jasmine itu pun sama sekali tak ingin menggubris pernyataan dari pihak Khalifah.

Solmed juga merasa bahwa jika dirinya menanggapi pernyataan pihak pengundang, justru akan menambah kisruh lantaran perbedaan argumen.

“Tidak menyelesaikan masalah, malah melebarkan masalah,” kilah dia.

Melalui YouTube, Khalifah membeberkan mengenai undangan sang ustad ke Hong Kong. Ia menegaskan pihaknya memang keberatan setelah Solmed dan manajemennya merubah permintaan mengenai masalah tarif dan fasilitas akomodasi selama berceramah di sana.

Rombongan FPI Lari Kocar Kacir Setelah Bentrok Dengan Warga Kendal Karena FPI Menabrak Ibu Ibu


Polres Kendal memastikan tak ada yang tewas dalam insiden bentrok antara warga dan rombongan FPI di Kendal, Jateng. Bentrok itu dipicu kecelakaan lalu lintas, di mana rombongan FPI menabrak warga.

“Ini masyarakat terluka, ibu-ibu dia ditabrak konvoi FPI,” jelas Kapolres Kendal AKBP Asep Jenal saat dikonfirmasi, Kamis (18/7/2013).

Kecelakaan lalu lintas itu yang memicu keributan. Warga berkerumun dan terjadi perselisihan antara rombongan FPI dengan warga. “Nggak ada yang tewas, hanya terluka sudah dirawat di rumah sakit,” jelas Asep.

Menurut Asep saat ini polisi tengah memfasilitasi perundingan damai antara warga dengan FPI. Sementara itu menurut keterangan FPI 20 anggota mereka dikepung warga dan kini berlindung di musola.

Ormas yang terlibat bentrok dengan warga di Sukorejo, Kendal Jawa Tengah adalah Front Pembela Islam. Menurut pihak FPI ada 20 anggota yang dikepung. “Ada 20 anggota FPI Kendal yang dikepung preman dan saat ini mereka berlindung di masjid,” ujar Wasekjen FPI Ustad Awid Mashuri saat dikonfirmasi, Kamis (18/7/2013).

Menurut Awid, siang ini 20 orang anggota FPI dari Kendal itu tengah dalam perjalanan menuju ke Temanggung. Mereka hendak mendukung rekan mereka untuk melaporkan mengenai penganiayaan beberapa anggota mereka pada Rabu kemarin. “Di tengah perjalanan mereka dicegat dan dikepung,” ujar Awid.

Namun Awid mengaku belum mendapatkan detil mengenai korban luka ataupun kemungkinan adanya korban jiwa akibat bentrok tersebut. Dikonfirmasi secara terpisah, Kasat Reskrim Polres Kendal AKP Purwanto mengatakan pihaknya masih melakukan penanganan. Peristiwa memang masih berlangsung.

“Saya belum bisa komentar, kita lagi di lapangan. Lagi ngejar orang,” kata Purwanto.

Bentrok warga dan FPI di Sukorejo Kendal sudah mereda. Tapi situasi masih mencekam. Polisi dan TNI siaga.

Warga setempat, Syukron mengatakan massa berada di jalanan. Mereka mempersenjatai diri dengan pentungan dan kayu. Sementara anggota FPI berada di Masjid Agung Sukorejo, kawasan alun-alun.

“Polisi dan TNI berjaga di alun-alun. Jumlahnya ratusan,” kata Syukron saat dihubungi detikcom sekitar pukul 18.10 WIB, Kamis (18/7/2013). Syukron yang sempat berada di tengah-tengah bentrok menjelaskan anggota FPI kocar-kacir. Yang berada di masjid hanya sebagian. Sisanya sudah kabur saat bentrokan terjadi.

“Satu mobil mereka (FPI) dibakar,” kata warga Patean Kendal ini. Menurut keterangan FPI, 20 anggota mereka dikepung warga dan kini berlindung di musola. Saat ini, polisi tengah memfasilitasi perundingan damai antara warga dengan FPI.

Kota Tegal Habis Diguyur Dengan Hujan Es


Hujan deras disertai butiran es mengguyur Kota Tegal, Minggu siang, 14 Juli 2013. Sejumlah warga di dua kecamatan berbeda mengaku kaget dengan fenomena alam yang jarang terjadi di pantai utara (pantura) Jawa Tengah. “Awalnya tidak percaya juga,” Agus Reza, 40 tahun, warga Jalan Kates, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat.

Agus mengatakan, hujan deras mengguyur sejak pukul 13.30 WIB hingga 14.00 WIB. Sedangkan hujan yang disertai jatuhnya butiran es hanya berlangsung sekitar sepuluh menit. “Benturan es ke genteng rumah terdengar nyaring. Butiran esnya banyak, tapi lekas mencair.” Selain Agus, sebagian tetangganya juga mengaku menyaksikan butiran es tersebut.

Warga lain di Jalan Kates, Zubaedah, mengaku sempat mengumpulkan butiran-butiran es yang jatuh dari langit itu. “Tidak semuanya bulat. Ada yang pipih dan panjang.” Perempuan 51 tahun itu menambahkan, keponakannya yang bermain air hujan juga mengaku kepalanya sakit karena butiran es yang bertubi-tubi.

Tasirah Hartati, 60 tahun, warga Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, juga mengaku menyaksikan butiran-butiran es yang turun bersama hujan deras. “Besarnya rata-rata seukuran kelereng.” Menurut Tasirah, hujan es itu berlangsung sekitar 15 menit. “Cukup lama. Dari dalam rumah, suaranya terdengar keras karena membentur genteng.”

Dihubungi melalui telepon, Yunibar, 32 tahun, warga Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, mengaku sangat terkejut karena baru sekali ini merasakan hujan es. “Tadi mobil saya serasa dilempari kerikil dari langit,” ujar Yunibar yang saat itu sedang melintas di Jalan Ahmad Yanio, tepatnya di depan Pasar Pagi Kota Tegal.

Prakirawan Stasiun Meteorologi di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tegal, Laylya Isnaini, menerangkan hujan es berasal dari jenis awan bersel tunggal berlapis-lapis (CB) yang dekat dengan permukaan bumi. “Bisa juga dari multi sel awan dan pertumbuhannya secara vertikal. Kejadiannya singkat, hanya berkisar antara tiga, lima, sampai sepuluh menit.”

Laylya menambahkan, hujan es itu juga hujan es sangat jarang terjadi dan biasanya hanya bersifat lokal alias tidak merata. Saat ini, kondisi cuaca di Pantura pada umumnya berawan-hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada siang hingga malam hari. Angin bertiup dari Timur Laut – Selatan dengan kecepatan 5-30 kilometer/jam.