BERITA INFORMASI TERKINI

Archive for the ‘Pariwisata’ Category

10 Buah Danau Di Indonesia Rusak Parah

In Pariwisata, Pencinta Lingkungan on November 15, 2008 at 1:24 am

Kementerian Negara Lingkungan Hidup mengidentifikasi 10 danau yang mendesak direhabilitasi karena dalam kondisi rusak parah. Jika rehabilitasi tidak segera dilakukan, danau-danau itu terancam berubah fungsi dan tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Sepuluh danau itu adalah Limboto (Gorontalo), Toba (Sumatera Utara), Tempe (Sulawesi Selatan), Tondano (Sulawesi Utara), Maninjau dan Singkarak (Sumatera Barat), Poso (Sulawesi Tengah), Matano (Sulawesi Selatan), Rawa Pening (Jawa Tengah), dan Batur (Bali).

Kondisi itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Penyelamatan Danau Regional Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi yang digelar di Denpasar, Bali, Jumat (14/11). Hadir dalam acara itu Asisten Deputi Pengendalian Sungai dan Danau Kementerian Negara Lingkungan Hidup Untung Deddy Radiansyah, Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Bali Sudirman, serta perwakilan penanggung jawab danau dan atau sungai di Bali, Nusa Tenggara serta Sulawesi.

Untung mengungkapkan, peran ekosistem danau cukup besar untuk sejumlah daerah di Indonesia. Indonesia mempunyai lebih dari 500 danau dengan luas total 5.000 kilometer persegi atau sekitar 0,25 persen dari luas daratan negeri ini.

Semua danau itu mengandung sekitar 500 kilometer kubik sumber air. Ketika kondisinya makin memprihatinkan, semua pihak, terutama warga di sekitar danau dan maupun di pulau tertentu, hingga negara secara nasional akan sangat rugi.

”Pengelolaan danau harus disesuaikan dengan batas ekosistem masing-masing. Sayangnya, ekosistem danau di negeri ini kecenderungannya semakin rusak akibat aktivitas manusia yang berlebihan,” kata Untung.

Aktivitas berlebihan

Sepuluh danau yang diidentifikasi rusak parah itu masing-masing dan secara beragam menjadi tempat manusia melakukan aktivitas berlebihan.

”Di Danau Batur, misalnya, akumulasi limbah penduduk semakin besar, sementara danau itu tidak memiliki saluran pembuangan seperti sungai atau anak sungai. Kondisi sama terjadi di Limboto dan diduga menyebabkan punahnya ikan endemik setempat,” kata Sudirman.

Pertemuan itu berhasil menyusun rencana aksi sekaligus usulan pedoman penyelamatan danau. Dua hal itu diharapkan menjadi acuan pengelolaan ekosistem danau untuk instansi pemerintah pusat dan daerah dalam mengimplementasikan pemanfaatan, perlindungan, serta pelestarian danau secara terpadu. Selama ini sejumlah instansi berjalan sendiri-sendiri dalam pelaksanaan program terkait penyelamatan danau.

Rencana aksi tersebut antara lain penataan batas terluar dan sempadan danau, sertifikasi kepemilikan danau, serta pembentukan kelembagaan pengelolaan danau

Keragaman Budaya Ditunjukan Pada Hari Ulang Tahun Manokwari

In Berbudaya, Demokrasi, Kreatif, Pariwisata on November 8, 2008 at 1:51 am

Perayaan Hari Ulang Tahun Manokwari Ke-110, Jumat (7/11), dimeriahkan dengan pertunjukan berbagai keunikan budaya di Papua maupun luar Papua dalam suatu karnaval di kota itu.

Dalam kesempatan itu, kerukunan keluarga besar Maluku tampil di barisan terdepan. Mereka mempertunjukkan tarian cakalele. Penari pria mengenakan ikat kepala merah dan memegang parang khas pahlawan nasional asal Maluku, Kapitan Pattimura.

Sementara itu, keluarga Nabire (Papua), yang tinggal di Manokwari, menampilkan tarian khas daerah mereka. Dalam kesempatan tersebut, penari pria mengenakan koteka atau holim, sedangkan yang wanita mengenakan rok rumbia dan bertelanjang dada.

Perwakilan Kerukunan Keluarga Bali tak ketinggalan untuk tampil. Mereka mengusung ogoh- ogoh Leak setinggi sekitar 3 meter dan berjalan 3 kilometer, dari Lapangan Golkar menuju Lapangan Borarsi. Ogoh-ogoh yang disajikan pria Bali kali ini sangat mengundang decak kagum warga.

Setidaknya ada tiga puluhan perwakilan berbagai kesenian—di samping instansi, sekolah, dan kerukunan—yang turut dalam karnaval itu. Hal ini membuat jalan-jalan protokol macet. Sebab, ribuan warga tumpah ruah di tepi-tepi jalan, menyimak pertunjukan tahunan tersebut.

Terkait acara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari Anthony Lesnussa berkomentar, keberagaman budaya di Manokwari saat ini mencerminkan bahwa ibu kota Provinsi Papua Barat merupakan daerah damai. Dalam kaitan itu, ia mengimbau seluruh warga terus bekerja sama membangun Manokwari.

Luka tembak

Di tengah Manokwari merayakan ulang tahunnya, dari Digul Atas, Papua, diinformasikan, Basilius Onjap (49), warga setempat, kemarin ditemukan tewas di Pelabuhan Distrik Asiki.

Yulianus Kayep (30), keponakan korban, menceritakan, peristiwa itu bermula kemarin pagi saat Basilius memancing di Pelabuhan Asiki. ”Tiba-tiba, empat orang berpakaian preman mendekatinya. Tak lama kemudian, terdengar dua kali tembakan,” ujarnya.

Jenazah korban ditemukan di semak-semak. ”Kemungkinan mereka mencoba menjatuhkan korban ke sungai, tetapi tertahan di semak-semak,” ujar Yulianus, seraya menjelaskan, pada tubuh korban ditemukan dua luka tembak, di kepala dan dada.

”Kami sudah melaporkan kejadian ini ke Polsek (Kepolisian Sektor) Asiki,” kata Yulianus menambahkan.

Kepala Polres Digul Atas Ajun Komisaris Besar Daniel Priojatmoko, yang dihubungi di Jayapura, mengatakan, penyebab kematian korban masih diselidiki. ”Menurut laporan dari Asiki, korban diduga tewas karena tenggelam. Ini didasarkan pada otopsi yang dilakukan,” ujarnya

Menilai Program Visit Indonesia Year 2008 Yang Segera Berakhir dan Gagal

In Pariwisata, Perekomonian on November 7, 2008 at 1:46 am

Program Visit Indonesia Year yang dicanangkan tahun 2008 kini menjelang berakhir. Bagi negeri Zamrud Khatulistiwa dengan kekayaan alam berlimpah, program itu sejatinya menjadi gaung kebangkitan industri pariwisata yang kini masih separuh terlelap.

Bisnis pariwisata identik dengan citra (image) sehingga citra harus dikembangkan ke arah yang positif. Jika citra pariwisata Indonesia baik dan aman, turis dengan sendirinya akan berdatangan.

Ungkapan itu dilontarkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik di sela-sela Forum Pariwisata Internasional Ke-6 untuk Parlemen dan Pemerintah Lokal yang digelar Badan PBB untuk Pariwisata Dunia (UNWTO) di Cebu, Filipina, Oktober 2008.

Namun, pembentukan citra baik dan aman di negeri elok ini tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi, industri pariwisata sempat terguncang akibat rentetan bencana, yakni tsunami di Aceh pada akhir tahun 2004, tragedi bom Bali II tahun 2005, serta gempa bumi di Yogyakarta dan Sumatera Barat tahun 2006.

Dalam Forum UNWTO ke-6, pariwisata Indonesia dinilai mulai pulih dari krisis. Jika tahun 2004 tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) adalah 5,32 juta orang, tahun 2005 menjadi 4,96 juta orang atau merosot 7 persen, dan tahun 2006 sebesar 4,87 juta atau turun 2 persen, maka tahun 2007 kembali meningkat jadi 5,5 juta orang atau naik 13 persen.

Seiring program Visit Indonesia Year 2008, pemerintah optimistis menargetkan kunjungan wisman tahun ini mencapai 7 juta orang dengan nilai devisa 6,7 miliar dollar AS dan tahun 2009 target wisman juga dinaikkan jadi 8 juta orang dengan nilai devisa 8 miliar dollar AS.

Kendati citra pariwisata Tanah Air berangsur membaik, belum demikian halnya dengan kesiapan segenap pemangku kepentingan industri pariwisata dalam mengoptimalkan sektor penghasil devisa negara ini.

Transportasi dan promosi

Jero Wacik mengakui, kendala utama yang menghadang program tahun kunjungan wisata adalah transportasi dan promosi. Hingga kini, maskapai penerbangan dalam negeri belum mampu menjangkau kebutuhan angkutan ke daerah-daerah tujuan wisata.

Bahkan, sewaktu program Visit Indonesia kembali digulirkan tahun ini, tidak banyak maskapai penerbangan dalam negeri dan perhotelan menyambut program itu. ”Saya harus ngomong berkali-kali untuk meyakinkan maskapai penerbangan dan hotel agar turut mempromosikan program itu. Barulah mereka jalan,” ujar Jero Wacik.

Tentu saja, peran maskapai penerbangan dan hotel bukan yang utama. ”Peluru” yang tak kalah penting adalah penggarapan kawasan wisata. Sayangnya, partisipasi pemerintah daerah dalam mengelola obyek wisata masih jauh dari harapan. Jangankan menggaet turis asing untuk berkunjung, beberapa obyek wisata unggulan Tanah Air bahkan belum dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia akibat minimnya promosi.

Menurut Jero Wacik, hanya tujuh dari 33 provinsi di Indonesia yang secara swadaya giat berpromosi dan mendorong pariwisata, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Barat. Selebihnya, pemerintah daerah masih mengandalkan pemerintah pusat untuk mempromosikan daerahnya.

Sejak tahun 2007, pemerintah menggulirkan dana stimulan sebesar Rp 25 miliar kepada lima provinsi setiap tahun yang dianggap mulai berkiprah membangkitkan pariwisata. Hingga tahun ini, sudah ada 10 provinsi yang mendapatkan bantuan dana itu, yakni Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, dan Irian Jaya Barat.

Apabila pemda tidak bersedia menyisihkan anggaran (APBD) untuk berpromosi dan membenahi sarana pariwisata daerah masing-masing, jangan harap mendapatkan turis dan devisa yang optimal, ujar Jero Wacik dengan nada kesal.

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan, keunggulan pariwisata Indonesia terdapat pada wisata alam dan budaya. Namun, hal itu tidak menjamin kunjungan wisata jika tanpa kesiapan faktor penunjang utama pariwisata, yakni hotel, restoran, transportasi, dan infrastruktur. Hingga kini, infrastruktur jalan dan transportasi di sejumlah daerah wisata masih minim dan terdapat kekurangan jasa pemandu wisata profesional sebanyak 30 persen.

Kendala itu ditambah dengan belum adanya standar tarif jasa di sejumlah daerah tujuan wisata sehingga rentan menimbulkan pungli dan meresahkan wisatawan.

Di Asia Tenggara, Indonesia hanya menduduki peringkat keempat dalam kunjungan wisman. Peringkat pertama ditempati Singapura dengan jumlah wisman 15 juta per tahun, peringkat kedua dan ketiga ditempati Malaysia dengan wisman 10 juta per tahun dan Thailand 10 juta wisman per tahun.

Fokus pasar

Tahun 2008, total anggaran pariwisata adalah Rp 1,08 triliun. Sasaran promosi wisata difokuskan pada 12 pasar utama pariwisata, di antaranya Perancis, Belanda, Inggris, Jerman, Rusia, Jepang, Singapura, Australia, Korea, Malaysia, dan China.

”Keterbatasan anggaran tidak memungkinkan promosi wisata ke seluruh negara. Oleh karena itu, pemerintah fokus memasarkan pariwisata ke negara-negara yang merupakan pasar utama,” kata Jero Wacik.

Di tengah keterbatasan promosi itu, pemerintah mengarahkan Bali sebagai kawasan tujuan wisata yang telah mendunia menjadi sentra referensi informasi obyek-obyek wisata di luar Jawa dan Bali.

Upaya lainnya, kata Jero Wacik, adalah kebijakan kemudahan kredit bagi travel biro yang memboyong wisatawan Nusantara (wisnu). Namun, dibutuhkan komitmen travel biro di dalam negeri untuk mengubah paradigma promosi pariwisata yang kini masih memprioritaskan obyek-obyek wisata di luar negeri.

Pariwisata sebagai industri yang menimbulkan efek multidimensional, yakni membuka lapangan kerja, menekan kemiskinan, hingga sumber pendapatan daerah sejatinya menjadi penopang perekonomian nasional. Pengelolaannya memerlukan langkah integratif pemerintah dan pelaku usaha.

Pengelolaan itu dibuktikan tidak hanya dengan keseriusan pemda untuk memperbaiki fasilitas dan sarana wisata, kemudahan layanan imigrasi, transportasi memadai, tetapi juga peran pelaku usaha dalam mengelola kawasan wisata, hingga pemasaran produk khas daerah.

”Pemerintah daerah sudah saatnya menanggalkan ego sektoral dan melakukan terobosan untuk membangkitkan pariwisata. Salah satunya, sinergi dalam menggarap infrastruktur wisata antardaerah yang saling berdekatan,” tutur Irwan Prayitno, Ketua Komisi X DPR.

Program Visit Indonesia Year 2008 adalah awal dari perbaikan spirit dan kesadaran bangsa untuk membenahi pariwisata. Jangan biarkan gaungnya meredup seiring berakhirnya proyek-proyek pemerintah.

Wisatawan Mancanegara Baru Mencapai 4,5 Juta Dari Target 6,4 Juta Ternyata Memasang Banner Visit Indonesia Year 2008 Di Internet Sama Sekali Tidak Membantu

In Kreatif, Pariwisata, Perekomonian on November 6, 2008 at 2:00 am

Hingga September 2008, jumlah wisatawan mancanegara baru tercapai sebanyak 4,5 juta orang dari target Visit Indonesia 2008 sebanyak 6,4 juta wisatawan mancanegara.

Sekretaris Jenderal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar di Jakarta, Rabu (5/11), mengatakan, terjadi peningkatan sekitar 12,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2007. Tahun lalu, sampai September, terdapat 4,07 juta wisatawan mancanegara, sedangkan sampai September 2008 ini tercatat 4,5 juta wisatawan.

”Masih ada waktu tiga bulan untuk mencapai target 6,4 juta wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Dia yakin target itu akan tercapai karena pada akhir tahun 2008 ada beberapa kegiatan internasional yang diperkirakan menyedot banyak wisatawan mancanegara. Misalnya, ”2nd WIPO International Conference in Intelectual Property and the Creative Industries” pada 2-3 Desember 2008.

World Intellectual Property Organisation (WIPO) adalah lembaga di bawah PBB yang dibentuk tahun 1967 dengan tujuan menangani hal-hal berkenaan dengan perlindungan kekayaan Intelektual ke seluruh dunia, serta membantu negara anggota WIPO dalam penyusunan kebijakan untuk melindungi kekayaan intelektual. Konferensi akan menampilkan pembicara internasional dari 13 negara, yaitu Swiss, Singapura, Inggris, India, Filipina, Korea, Malaysia, Perancis, Butan, Jepang, China, Selandia Baru, dan Belanda.

Langkah lain untuk menarik wisatawan, lanjut Sapta, adalah melakukan terobosan-terobosan pemasaran pariwisata, termasuk menjalin kerja sama dengan perbankan dan industri pariwisata dunia serta pemasangan banner diblog-blog atau situs yang berbunyi visit indonesia year 2008

Negara Maju Harus Bayar Atas Hutan Negara Berkembang Sebagai Jasa Layanan Lingkungan Hidup

In Kreatif, Pariwisata, Pencinta Lingkungan on November 4, 2008 at 2:03 am

Pangeran Charles mengakui, pendorong kerusakan hutan tropis yang memicu perubahan iklim adalah negara-negara maju. Untuk itu, negara maju harus bertanggung jawab, dengan mendanai pemeliharaan dan pemulihan hutan tropis. Bukan dalam bentuk bantuan, tetapi pembayaran akan layanan.

”Pembayaran ini harus bersifat transaksi komersial, seperti kita harus membayar layanan listrik, air, dan gas. Pembayaran itu tidak boleh bersifat bantuan. Sebagai imbangannya, negara-negara berhutan tropis akan menyediakan layanan lingkungan (ecoservices),” ujar Charles dalam pidato kepresidenan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/11).

Pidato dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan sebagian besar anggota Kabinet Indonesia Bersatu.

Charles menyampaikan hal itu karena yakin bahwa negara-negara maju menjadi pendorong kerusakan hutan tropis. ”Negara- negara maju tidak boleh dan tidak bisa berdiam diri, tidak melakukan apa-apa,” ujarnya.

Charles menyebut proyek Hutan Harapan sebagai contoh penyelamatan hutan tropis. Untuk pendanaan, Charles berharap mekanisme pasar seperti karbon kredit yang akan menyediakan apa yang diperlukan selanjutnya.

Negara berhutan tropis perlu waktu untuk membangun struktur serta kapasitas dan perlu waktu mengganti Protokol Kyoto serta peraturan pelaksanaannya agar pasar bisa berkembang maksimal di negara-negara pembayar.

Charles memuji upaya Indonesia mengatasi perubahan iklim dengan hutan tropisnya dan peran Yudhoyono dalam Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim di Bali, 2007. Presiden dinilai membantu memberikan keyakinan, konferensi berhasil merintis jalan ke Kopenhagen 2009 serta pasca- Protokol Kyoto.

Tokoh lain yang memberikan kuliah kepresidenan adalah Jeffrey Sachs, Nicholas Stern, Syaukat Aziz, Muhammad Yunus, Bill Gates, dan Kishore Mahbubani.

Pangeran Charles hari Selasa ini akan mengunjungi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pasukan keamanan yang dikerahkan antara lain Batalyon Infanteri 403, Batalyon 400 Rider dengan pasukan penembak jitu.

”Kami kerahkan cukup banyak kekuatan karena titik yang dikunjungi cukup banyak dan rute panjang.” ujar Komandan Komando Resimen (Korem) 072/ Pamungkas Kolonel (Arm) Subekti seusai rapat koordinasi pengamanan di Kompleks Kepatihan DI Yogyakarta, kemarin.

Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan, ”Kedatangannya hanya untuk say hello, melihat pameran, dan pertunjukan kesenian. Beliau memesan tari yang dulu pernah ditonton, yaitu Golek Menak

Ukiran Suku Asmat Perlu Segera Dilindungi Oleh Undang-undang Hak Cipta

In Berbudaya, Kreatif, Pariwisata, Perekomonian, Taat Hukum on October 12, 2008 at 3:53 am

Hingga sekarang belum ada satu pun motif atau jenis karya seni para seniman Asmat di Papua yang dipatenkan meski telah dikenal di banyak negara. Pemerintah dan pemerhati seni diminta aktif membantu seniman daerah itu untuk mematenkan karya mereka agar Indonesia tak lagi kecolongan warisan leluhur, seperti yang terjadi pada ukiran Bali dan berbagai batik di Jawa.

”Beberapa kali kami berusaha membuat database motif ukiran khas seniman Asmat dan mendaftarkan patennya, tetapi belum berhasil,” ujar Erick Sarkol, Kepala Museum Asmat di Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, Papua, Sabtu (11/10). Saat ini di Agats digelar Pesta Budaya Asmat 2008 yang menginjak tahun ke-25.

Erick mengatakan, belum ada motif ukiran Asmat yang terdaftar dalam hak cipta. Belum ada pula seniman luar mengklaim memiliki hak cipta ukiran Asmat. ”Ukiran Asmat dapat dibedakan dari ukiran daerah lain. Ini tampak dari bahan baku yang dipakai, yaitu batang sagu atau pohon perahu. ”Alur pahatan juga memiliki keunikan tersendiri,” ujar kurator ini.

Uskup Asmat, Mgr Alloysius Moerwito, menambahkan, keuskupan telah berusaha meningkatkan dan mempertahankan kekayaan seni budaya masyarakat Asmat dengan menggelar pesta budaya tahunan. Untuk pergelaran tahun depan, keuskupan tak lagi menjadi panitia utama.

”Kami pikir sudah saatnya pemerintah mengambil alih tanggung jawab penyelenggaraan pesta budaya mendatang. Namun, kami akan tetap membantu langkah-langkah menjaga kelestarian budaya Asmat,” ujarnya.

Erick Sarkol menambahkan, kualitas hasil ukiran seniman Asmat tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Itu tampak dari lomba ukiran yang sebagian besar dilelang kepada wisatawan. (i

Festival Kampung Tugu dan Bazar Mancanegara Digelar Pemerintah Kota Jakarta Utara Di Cafe VOC Galangan

In Berbudaya, Kreatif, Pariwisata on October 10, 2008 at 2:03 am

Festival Kampung Tugu yang menghadirkan tradisi masyarakat keturunan Portugis dan bazar mancanegara digelar Pemerintah Kota Jakarta Utara tanggal 14-16 November di Cafe VOC Galangan.

Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Jakarta Utara Nany Ahimza yang ditemui hari Kamis (9/10) menjelaskan, kegiatan tersebut dihadiri lima duta besar dan masyarakat negara sahabat yang terkait dengan sejarah Portugis di Nusantara, yakni Republik Portugal, Kerajaan Belanda, Republik Brasil, Republik Mozambik, dan Republik Timor Leste.

Kekayaan budaya

”Masyarakat Tugu merupakan salah satu kekhasan dan kekayaan budaya di Jakarta. Mereka adalah masyarakat keturunan Portugis yang eksis sejak tahun 1661 di kawasan Tugu,” ujar Nany.

Pemerintah Kota Jakarta Utara menyumbang satu set peralatan keroncong baru untuk masyarakat Tugu.

Pergelaran Keroncong Tugu yang kerap manggung di Istana Negara dan bahkan di Pasar Malam Tong-Tong di Den Haag, Kerajaan Belanda, dipersiapkan untuk tampil selama sepekan. Para musisi yang tampil, pemusik senior dan yunior dari komunitas Portugis-Tugu.

Kolaborasi tari

Kolaborasi tari Portugal dan Betawi diharapkan menjadi salah satu daya tarik festival. Selain itu, juga diadakan pameran foto sejarah masyarakat Tugu.

Bazar mancanegara akan pula digelar dan menampilkan kekhasan negara sahabat, seperti Republik Portugal dan Kerajaan Belanda.

Hasil pendataan Bangunan Cagar Budaya Kotamadya Jakarta Utara oleh Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Jakarta Utara tahun 2008 menyebutkan, masyarakat Tugu bermukim di sekitar Gereja Tugu atau Gereja Portugis yang dibangun tahun 1744-1747 oleh tuan tanah Justinus Vinck. Lokasi itu kini di Jalan Gereja Tugu, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Koja.

Sesepuh masyarakat Tugu, Arthur James Michiels, dalam sebuah riset menjelaskan, salah satu tonggak sejarah di Kampung Tugu adalah penerjemahan Alkitab dari bahasa Belanda ke bahasa Melayu oleh Melchior Leydecker dan Petrus Van De Vorm.

Jembatan Suramadu Surabaya Madura Hampir Selesai

In Pariwisata, Perekomonian, Sistem Transportasi on October 10, 2008 at 1:56 am

Total penyelesaian pembangunan proyek Jembatan Suramadu, Jawa Timur, hingga akhir September 2008 telah mencapai 87,22 persen. Pembangunan jembatan terpanjang di Indonesia sepanjang 5,4 kilometer tersebut masih terkendala pencairan dana segar dan persoalan pembebasan lahan.

”Pembangunan bentang tengah terhambat karena terjadi keterlambatan pencairan dana. Kekurangan dana akhirnya menyebabkan pembangunan approach bridge (jembatan pendekat) sisi Surabaya sepanjang 672 meter oleh pihak Consortium of Indonesian Contractors (CIC) juga melambat,” kata Kepala Satuan Kerja Sementara Pembinaan Teknik Pembangunan Jembatan Suramadu, Yudha Handita, Kamis (9/10).

Menurut Yudha, keterlambatan disebabkan belum cairnya dana pinjaman tambahan dari Bank Exim China.

”Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersedia menalangi dana sementara melalui Bank Jatim sebesar Rp 50 miliar agar pembangunan kembali berjalan. Kami akan terus melihat detail pembangunan, khususnya persiapan pembangunan pada saat musim hujan tiba yang dikhawatirkan mengganggu proyek,” kata Yudha.

Kepala Satuan Kerja Pembangunan Jembatan Suramadu Bentang Tengah, Atyanto Busono, mengungkapkan, secara teknis pembangunan bentang tengah Jembatan Suramadu hingga akhir September lalu telah mencapai 81,01 persen.

Rincian realisasi pembangunan bentang tengah adalah 76,66 persen untuk pembangunan jembatan pendekat sisi Surabaya, 83,97 persen pada jembatan utama, dan 76,61 persen untuk jembatan pendekat sisi Madura.

Di bagian jembatan pendekat saat ini sedang dipasang balok beton penopang (concrete box girder) dan di bagian jembatan utama dipasang balok baja penopang (steel box girder). Dari total panjang jembatan utama 818 meter, saat ini telah terpasang balok baja penopang sepanjang 556 meter.

Atyanto menargetkan pemasangan balok baja penopang selesai sekitar Januari 2009, sedangkan balok beton penopang selesai dipasang Februari 2009. ”Pembangunan jembatan pendekat sisi Madura akan selesai sekitar bulan Februari dan sisi Surabaya bulan Maret,” katanya menambahkan.

Pinjaman terlambat

Sebagaimana penjelasan Yudha, menurut Atyanto, terhambatnya pembangunan bentang tengah Suramadu disebabkan terlambatnya pencairan dana pinjaman tambahan dari Bank Exim China.

”Rencananya penandatangan pencairan dana pada pertengahan September 2008, tetapi mundur hingga pertengahan Oktober 2008,” kata Atyanto.

Menurut Atyanto, pihak Bank Exim China pada akhir September lalu datang ke proyek untuk mengamati langsung dan mendata kelengkapan surat. Karena itu, pertengahan Oktober mendatang pencairan dana diharapkan benar-benar terlaksana.

Persoalan pembebasan lahan baik di sisi Surabaya maupun Madura juga menjadi permasalahan pokok.

Pimpinan Proyek Pembebasan Lahan Tanah Sisi Surabaya, Tutuk Suryojatmiko, mengatakan, hingga awal September lalu, realisasi pembebasan tanah di Surabaya telah mencapai 99,57 persen dengan jumlah tanah yang belum terbebaskan 637 meter persegi.

Adapun kemacetan pembebasan lahan terbesar terjadi di sisi Madura sejak 2005 karena masyarakat minta ganti rugi lebih besar dari penawaran pemerintah Rp 35.000 per meter persegi.

Di sisi Surabaya, jalan pendekat yang harus dibebaskan sepanjang 4,35 kilometer dan di sisi Madura sepanjang 11,50 kilometer.

Ditemukan Macan Tutul Langka di Ciwidey

In Pariwisata, Pencinta Lingkungan on October 5, 2008 at 11:46 am

Macan tutul dari hutan Gunung Patuha Ciwidey Kabupaten Bandung menjadi penghuni baru Kebun Binatang Taman Sari Kota Bandung, Jawa Barat.

“Macan Tutul itu koleksi terbaru di sini sekaligus untuk menyelamatkan keberadaanya, macan jenis ini terdesak karena hutannya kian berkurang,” kata Sekretaris Yayasan Kebun Binatang Taman Sari Kota Bandung, Dadang, Minggu.

Macan Tutul itu ditempatkan di salah satu sal yang berdekatan dengan koleksi binatang carnivora lainnya seperti Harimau Sumatera, macan kumbang, harimau bulu putih serta yang lainnya.

Meski macan tutul “penghuni” hutan Gunung Patuha itu tidak terlalu mencolok dan menarik perhatian pengunjung, namun kehadirannya di kebun binatang itu cukup istimewa karena macan jenis itu khas dari daerah pegunungan Bandung.

Pengelola Kebun Binatang Bandung itu mengimbau, kepada masyarakat yang menemukan atau memelihara hewan langka dan dilindungi untuk menyerahkannya kepada pihak berwajib atau menitipkannya ke Kebun Binatang agar keberadaanya terjamin dan lestari.

Selain macan tutul, koleksi tambahan binatang di obyek wisata keluarga itu juga bertambah dengan kelahiran beberapa binatang mamalia antara lain rusa tutul kemudian kera dan juga beruang madu.

Pihak kebun binatang juga menambah koleksi jenis reptil seperti ular, jenis burung dan kera, unggas serta lainnya..

Pada musim liburan Lebaran 2008 ini, jumlah pengunjung ke kebun binatang itu rata-rata 30 ribuan orang. Jumlah binatang terdiri 1.159 ekor dari 218 jenis binatang.

Jakarta Fashion Week 2008 Adalah Mimpi Yang Jadi Kenyataan

In Berbudaya, Kreatif, Pariwisata, Perekomonian on August 24, 2008 at 6:18 pm

”Ini seperti mimpi jadi kenyataan,” kata Gubernur Jakarta Fauzi Bowo. Ucapan itu disampaikan Fauzi Bowo saat membuka Jakarta Fashion Week 2008, Rabu (20/8) malam di Pacific Place, Jakarta.

Pernyataan Fauzi Bowo itu tidak berlebihan bila melihat pengalaman lalu. Tahun 1997, Jakarta pernah menyelenggarakan Pekan Mode Jakarta. Penyelenggaraan itu dikaitkan dengan keinginan menjadikan Ibu Kota sebagai kota jasa dalam pameran serta penyelenggaraan konferensi, rapat, dan pertemuan.

Saat itu pun, sudah muncul keinginan menjadikan Jakarta sebagai kota mode internasional. Sebagai Kepala Dinas Pariwisata yang ikut menggagas pekan mode itu, Fauzi Bowo mendatangkan konsultan penyelenggara pekan mode dari Milan, Italia. Sayang, setahun kemudian krisis ekonomi Asia juga melibas Indonesia.

”Saya yakin mode adalah industri kreatif unggulan Jakarta,” kata Fauzi Bowo. Gubernur juga menyatakan komitmennya untuk membantu menyelenggarakan pekan mode ini secara rutin di Jakarta.

”Industri mode Jakarta lebih besar daripada Bandung dan banyak UKM-nya, tetapi memang tempatnya menyebar. Kami sedang memetakan industri ini,” kata Fauzi dalam wawancara seusai pembukaan.

Dalam perkembangan terakhir, selain menggunakan gedung pencakar langit, kota besar dunia juga menggunakan mode sebagai penanda kemodernan urban dan mendapat status internasional. Pada saat yang sama, mode juga menggunakan budaya sebagai pendorong industri mode.

Dari Mumbai hingga Sao Paulo, dari Shanghai hingga Singapura, dari Madrid hingga Moskwa, dari Beirut hingga Sydney, kota-kota tersebut menyelenggarakan pekan mode. Mereka ingin mencontoh Paris, Milan, London, dan New York yang sudah lebih dulu mendapat status sebagai pusat mode.

Sumbangan signifikan mode bukan hanya pendapatan dan lapangan kerja. Status sebagai kota mode juga memberi citra muda, dinamis, dan berubah mengikuti suasana zaman.

Pekan mode

Pekan Mode Jakarta atau Jakarta Fashion Week datang pada saat Jakarta semakin ramai oleh toko yang menjual produk mode kelas dunia. Bahkan, merek yang konsumennya sangat khusus untuk laki-laki pun, seperti Brioni, ada di Jakarta.

Warga Jakarta hampir di semua lapisan sadar mode. Mereka tak ragu-ragu membeli produk mode terbaru seharga Rp 100.000 dari Mangga Dua dan Tanah Abang atau jutaan rupiah dari Chanel atau Stella McCartney.

Pada saat yang sama, warga Jakarta juga tak ragu memakai karya perancang atau produk Indonesia. Batik adalah salah satu contohnya.

Pada pembukaan Pekan Mode Jakarta, para perancang tampil bersama muse mereka. Maka, Carmanita mengajak bekas model Chrisye Subono, sebagai sosok yang menjadi sumber inspirasinya, mengenakan atasan batik berlengan kimono dipadu celana harem. Priyo Oktaviano menggandeng model Sigi Wimala yang mengenakan gaun berbentuk dasar kimono berbahan tenun klungkung dari Bali berbenang emas hasil kerja sama Priyo dengan penenun setempat.

Ari Seputra muncul bersama socialite Andrea Risjad, Era Sukamto dengan penyanyi Alena, Jeanny Ang menggandeng pemandu acara Maudy Koesnaedi, dan Lenny Agustin bersama pesinetron Ririn Dwi Ariyanti.

Atau, saat acara terpisah pergelaran busana Sebastian Gunawan di Hotel Mulia, Kamis (21/8) malam. Lobi ballroom seperti panggung pergelaran sendiri ketika para sosialita Jakarta memakai baju karya perancang itu, beberapa bahkan dalam tema desain terbaru seperti yang akan digelar malam itu.

Pekan mode yang diharapkan menjadi acara milik semua komponen industri mode ini diselenggarakan oleh kelompok majalah Femina Group, Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Pacific Place, Sunsilk, serta media internet Kompas.com dan berlangsung hingga Minggu (24/8) malam di Pacific Place, Jakarta.

Pergelaran ini pun menghadirkan perancang dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan Ikatan Perancang Mode Indonesia, perancang nonorganisasi, serta empat perancang dari Australia, yakni Akira Isogawa, Jayson Brunsdon, Eileen Kirby, dan Aime Cristie.

Chief Operating Officer Femina Group sekaligus ketua penyelenggara pekan mode, Svida Alisyahbana, menyebutkan, perancang dari Inggris, Perancis, dan Italia juga diundang. ”Dari Inggris mereka mengatakan tertarik, tetapi waktu belum cocok, sementara dari Milan dan Paris masih adem ayem,” kata Svida.

Konsisten

Sebagai kegiatan pekan mode dengan tujuan menjadikan Jakarta sebagai pusat aktivitas mode, setidaknya di Asia Tenggara, salah satu tuntutannya adalah acara ini bukan sekadar pertunjukan sosial yang hanya dihadiri pelanggan atau konsumen langsung perancang.

Penyelenggara menyadari tuntutan ke arah sana dan mengatakan akan mengundang para pembeli dari usaha ritel dalam dan luar negeri pada penyelenggaraan berikut. Langkah awal adalah memasukkan acara ini sebagai agenda kegiatan Pemprov DKI.

Upaya tersebut jelas besar tantangannya, seperti dialami penggagas Bali Fashion Week (BFW), Mardiana Ika. Hanya konsistensi kerja serta berjejaring dengan perancang dan pembeli dari berbagai negara membuat BFW yang kembali digelar pekan ini secara bertahap mendapat kepercayaan dari industri mode di luar Indonesia.

Selain penyelenggaraan yang ajek, perancang pun harus kontinu ikut serta bila produknya ingin dikenal pembeli ritel, seperti telah dilakukan beberapa anggota APPMI melalui Hong Kong Fashion Week.

Orisinalitas desain menjadi isu penting karena Asia, juga Indonesia, telanjur mendapat stigma tidak peduli pada hak cipta alias tukang bajak desain. Keterkaitan antara pelaku industri, mulai dari tekstil, industri garmen, industri pendukung lain, ritel, hingga ketersediaan sumber daya manusia, adalah isu yang tak dapat diabaikan.

Meskipun semua pihak berulang kali menyebut budaya Indonesia luar biasa kaya yang mewujud dalam berbagai bentuk seni dan punya kain amat beragam, menerjemahkan kekayaan itu ke dalam desain yang dapat diterima masyarakat urban internasional adalah persoalan tersendiri.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang telah memetakan industri kreatif Indonesia menyadari semua tantangan itu dan dalam percakapan seusai acara pembukaan kembali memberikan komitmennya untuk memfasilitasi melalui kebijakan agar industri kreatif tumbuh. Begitu juga Gubernur Fauzi Bowo yang menyebut industri ritel, termasuk mode, menyumbang 30 persen dari produk domestik regional DKI Jakarta.

Sekarang yang ditunggu adalah kesediaan semua pihak mewujudkan janji mereka. Dengan penyelenggaraan Jakarta Fashion Week 2008 yang cukup rapi ini, harapan tersebut tampaknya tak terlalu muluk.

Bentara Budaya Jakarta Putar Film-film Perang Pasifik Dalam Memperingati Hari Perang Pasifik 1945

In Berbudaya, Demokrasi, Pariwisata, kemerdekaan on August 24, 2008 at 6:16 pm

Memperingati berakhirnya Perang Pasifik pada Agustus 1945, Bentara Budaya Jakarta (BBJ) akan memutar enam film bertema Perang Pasifik. Dimulai dari penyerangan Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbor, Hawaii, dan diakhiri dengan penggunaan bom atom di kota Hiroshima yang memaksa Jepang menyerah dan mengantar kemerdekaan Indonesia.

Film pertama adalah Tora! Tora! Tora! yang merupakan produksi gabungan Amerika dan Jepang. Film tahun 1970 berdurasi 144 menit ini disutradari oleh Richard Fleischer, Kinji Fukasaku, dan Toshio Masuda. Film kedua, Midway (produksi 1976, 132 menit), mencipta ulang pertempuran laut di Midway, yang merupakan titik balik kekalahan armada Jepang. Film ketiga, Windtalkers (2002, 134 menit), didasarkan atas operasi yang memang terjadi selama Perang Pasifik, yaitu penggunaan bahasa sandi yang memakai bahasa suku Navajo yang nyaris punah yang tak dipahami pemecah sandi Jepang. Film ini dibintangi Nicolas Cage dan disutradarai oleh John Woo.

Film keempat, Letters from Iwo Jima, merupakan film garapan sutradara Clint Eastwood, salah satu kandidat film terbaik Oscar 2007. Film ini mencoba menampilkan pertempuran di Pulau Iwo Jima dari sudut pandang tentara Jepang sehingga dikategorikan dalam genre anti-perang. Film kelima, MacArthur (1977, 128 menit), menampilkan sosok Jenderal Douglas MacArthur yang diperankan Gregory Peck. Film terakhir, Hiroshima (1995, 205 menit), merupakan produksi gabungan Kanada-Jepang, mengisahkan proyek pembuatan bom atom yang dijatuhkan berturut-turut di Hiroshima dan Nagasaki itu akhirnya mengubah wajah perang modern. (ij)

Senin, 25 Agustus 2008:

Jam 14.00 : Tora! Tora! Tora!

Jam 16.30 : Midway

Jam 19.00 : Windtalkers

Selasa, 26 Agustus 2008:

Jam 14.00 : Letters from Iwo Jima

Jam 16.30 : MacArthur

Jam 19.00 : Hiroshima

Ini Baru Ini

Vivi yip art room akan melakukan ”grand opening” dengan memamerkan karya 36 seniman dalam pameran bertajuk ”Ini Baru Ini”. Pameran menampilkan lukisan, art object, seni instalasi, video art, dan digital print. ”Dilihat dari kuantitasnya, pameran ini terbilang berskala besar,” tulis Aminudin TH Siregar yang bertindak sebagai kurator. ”’Ini Baru Ini’ mengingatkan kita pada ’Pasar Raya Dunia Fantasi’ tahun 1987. Perbedaannya, kalau yang dulu diiringi kontroversi, sementara dewasa ini karya-karya, hemat saya, akan menuai apresiasi,” lanjut Aminudin.

Dari perupa yang terbilang muda seperti Andi Cakra Abbas, W Alimin SW, Badru Zaman, sampai Hanafi akan ambil bagian. Sedang dari negara lain muncul Eric Chan (Singapura), Ruel Cassi (Filipina), Bembol de la Cruz (Filipina), serta Wong Perng Fey dan Liew Choong Ching, keduanya dari Malaysia. Pembukaan pameran dari art room di Jalan Warung Buncit Raya 98 Jakarta ini tanggal 30 Agustus pukul 17.00. Host Cicilia King berikut penampilan khusus Alakazam rock band. (IAM)

Himpunan Senyap

Emmitan Fine Art Gallery di Jalan Walikota Mustajab 76 Surabaya akan menggelar pameran ”Himpunan Senyap” dengan menampilkan dua perupa, Albert Yonathan Setyawan dan Syah Fadil. Bekerja dengan medium berbeda, kedua perupa menunjukkan kesejajaran pandangan di sekitar pokok keheningan-kesenyapan.

Syah Fadil lahir di Medan tahun 1979 dan Albert Yonathan lahir di Bandung tahun 1983. Keduanya memperoleh pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Pembukaan pameran tanggal 29 Agustus 2008 pukul 19.30, akan berlangsung sampai 10 September 2008. Kurator Hendro Wiyanto. (*/BRE)

Membaca Tanda-tanda

Perupa Tommy Wondra, keluaran Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, akan berpameran tunggal di Edwin’s Gallery, Jalan Kemang Raya 21 Jakarta. Pameran bertajuk ”Membaca Tanda-tanda” itu akan dibuka tanggal 27 Agustus 2008 pukul 19.30 dan akan berlangsung sampai 7 September 2008. Pembukaan pameran dilakukan oleh Rektor Institut Kesenian Jakarta Prof Sardono W Kusumo.

Penyebaran Pariwisata Di Bali Belum Merata

In Berbudaya, Pariwisata, Perekomonian on August 16, 2008 at 3:25 pm

Periode Juli-September menjadi musim panen wisatawan mancanegara bagi Provinsi Bali. Namun, penyebaran wisatawan belum merata di seluruh wilayah Bali.

”Wisatawan masih terpusat di Bali bagian selatan dan Ubud. Sementara itu, Bali bagian utara (Lovina) dan Bali timur (Candi Dasa dan Karangasem) masih belum terlalu ramai meskipun sudah lebih baik. Semester pertama tahun ini rata-rata okupansi penginapan di Bali utara dan timur sekitar 30 persen,” kata Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Perry Markus, Jumat (15/8).

PHRI Bali mencatat, sejak Mei hingga saat ini tingkat kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 4.000-5.500 orang per hari, dengan lama tinggal rata-rata sepekan. Sementara itu, Dinas Pariwisata Bali mengakumulasikan, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sejak Januari-Mei tahun ini mencapai sekitar 753.000 orang.

Kecenderungan

Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Ngurah Wijaya menduga, telah terjadi perubahan kecenderungan tempat favorit kunjungan wisatawan selama di Bali. Hal itu kemungkinan besar juga dipengaruhi oleh profil wisatawan itu sendiri.

Data BTB menunjukkan, menurut kebangsaan, wisatawan asal Jepang yang paling banyak berkunjung ke Bali, yakni 24,16 persen, disusul Taiwan (10,71 persen), China (8,62 persen), Australia (8,03 persen), dan Korea Selatan (7,42 persen).

”Orang Jepang dulu tidak terlalu suka pantai, tapi sekarang kaum mudanya menyenangi pantai. Maka, mereka memilih Kuta dan Nusa Dua,” kata Wijaya.

Ketut Nuryasa, salah satu pengurus BTB, mengungkapkan, kalangan pelaku wisata di Karangasem dan Buleleng tengah mencari upaya merevitalisasi kawasan wisata mereka.

Kisah Duka Yang Mengundang Isak Tangis Dari Situs Warisan Dunia Sangiran

In Berbudaya, Pariwisata, Pencinta Lingkungan on August 13, 2008 at 2:20 pm

Mengaku sejak pagi dagangan belum terjual, tiba-tiba Samiyem (45) dan pedagang lain, Minggu siang, tersenyum. Satu bus penuh wisatawan dari Jakarta dan satu bus wisatawan dari Jepang berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran, Kabupaten Sragen.

Ketika wisatawan meninggalkan museum, dua jam kemudian, wajah Samiyem, Tuti Martini, Sutini, dan pedagang lain tampak nelangsa.

”Tak ada satu pun barang yang terjual. Beginilah sehari- hari menjalani hidup, banyak susahnya,” ujar Samiyem. Suaminya yang memburuh, katanya, juga belum ada kepastian bakal pulang membawa uang recehan ribuan.

Para pedagang wanita itu menjajakan berbagai barang cendera mata, seperti kapak batu pualam, tiruan bentuk kapak batu zaman purba, dan asbak rokok dengan patung manusia purba. Juga ada fosil-fosil ”kecil” binatang laut yang diperkirakan hidup 2 juta sampai 200.000 tahun lalu.

”Kalaupun ada barang yang laku terjual, paling untungnya cuma Rp 2.000-Rp 3.000,” kata Suryani. Barang yang mereka jual diambil dari koperasi.

Mereka ingin ada usaha lain yang bisa jadi penopang hidup keluarga. Sebab, berharap banyak dari dagangan suvenir, menurut mereka, sesuatu yang tak mungkin. Situs Sangiran tidak banyak dikunjungi baik wisatawan domestik maupun asing.

Tanah mereka pun tak diperkenankan diolah untuk kepentingan apa pun sebab Situs Sangiran sudah menjadi Warisan Budaya Dunia. Khawatir ada fosil atau peninggalan yang rusak, kawasan seluas 56 kilometer persegi tersebut tak boleh diolah sama sekali.

Warisan Budaya Dunia

Indonesia mungkin bangga dengan predikat Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) yang diberikan UNESCO pada 5 Desember 1996. Namun, di balik kebanggaan sejak 12 tahun lalu itu, pemerintah seolah lupa dan seakan lebih peduli dengan potensi fosil manusia purba dibandingkan manusia bernyawa sekitar 175.000 jiwa, yang bermukim di sekitarnya.

Ketika pemerintah mengucurkan dana Rp 25 miliar untuk membangun Museum Fosil Manusia Purba, tanyalah masyarakat, apa yang mereka peroleh?

Sejumlah warga Sangiran mengatakan, mereka hanya pernah mendapatkan pelatihan bagaimana membuat patung-patung kecil manusia purba.

”Warga tak dibolehkan lagi menggarap lahan. Alternatif perekonomian warga dialihkan untuk menjadi perajin, membuat oleh-oleh patung kecil manusia purba,” kata Tuti Martini, warga Desa Krikilian, Sangiran.

Susahnya hidup digambarkan Sutini dengan seringnya berutang. ”Untuk keperluan sekolah anak, saya sampai ngutang. Dan entah kapan bisa melunasinya,” kata Sutini, yang anak tertuanya masuk SMP negeri harus membayar Rp 1.250.000 untuk keperluan seragam, sepatu, tetapi belum termasuk buku-buku.

Warga yang bermukim di sekitar Sangiran berharap, kalaupun mereka tidak boleh menggarap lahan, alangkah baiknya jika mereka boleh menggembalakan kambing, kerbau, atau sapi di sekitar situs. Tentunya hewan ternak tersebut pengadaannya dilakukan pemerintah. ”Tetapi, sudahlah, itu cuma mimpi,” kata Sutini putus asa.

Fosil diperjualbelikan

Kepala Balai Pelestarian Manusia Purba Sangiran Harry Widiyanto mengatakan, soal ganti rugi lahan warga bukan wewenangnya. Namun, Sangiran harus dilindungi karena mempunyai nilai yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan. Kawasan ini menyimpan berbagai fosil berusia sekitar dua juta sampai 200.000 tahun yang lalu. Dari kawasan ini juga bisa diungkap proses evolusi manusia purba, budaya, dan lingkungannya.

Yang menjadi persoalan, areal Situs Sangiran yang luasnya 56 kilometer persegi berada di kawasan permukiman. Tak kurang dari 175.000 jiwa bermukim di kawasan itu yang mencakup tiga kecamatan di Kabupaten Sragen serta satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar.

”Sekarang Situs Sangiran dianggap rusak karena sekitar 80 persen kawasannya sudah dirambah. Bahkan, fosil-fosilnya diperjualbelikan,” ujar Harry.

Secara terpisah, Kepala Subdirektorat Pemahaman Nilai Sejarah Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI Amurwani Dwi Lestari mengakui, secara ekonomi, seperti Sangiran, memang masyarakat belum mendapatkan kompensasi yang seimbang. ”Ini yang menjadi sumber masalahnya,” ujarnya.

Festival Jalan Jaksa Semarak Dan Meriah

In Berbudaya, Kreatif, Pariwisata, Perekomonian on August 10, 2008 at 3:42 am

Festival Jalan Jaksa 2008 berlangsung semarak dan meriah. Gelar seni dan budaya yang dibuka oleh Walikota Jakpus Hj. Sylviana Murni, Sabtu (9/8) malam, dipenuhi warga yang ingin menonton berbagai pentas kesenian tradisional, termasuk turis-turis asing yang berada di kawasan itu.

Sejak sore masyarakat telah berdatangan dan memenuhi kawasan wisata malam di Jakpus tersebut. Suasana makin semarak, begitu Walikota Jakpus bersama rombongan yang naik delman dari Kantor Balaikota datang. Sebanyak 44 kelompok kesenian Marawis berjajar di sepanjang jalan menyambut kedatangannya dan mengantar ke panggung utama.

Berbagai macam kesenian dan kegiatan di gelar pada Festival Jalan Jaksa ini. Mulai dari pemutaran film legendaris almarhum Benyamin Sueb, pernak pernik almarhum Benyamin Sueb, pagelaran musik betawi seperti alat musik tanjidor, gambang kromong, tari betawi, ondel-ondel, musik dangdut, pop dan jazz, hingga ke makanan khas betawi juga meramaikan festival ini. “Sudah jarang di Jakarta, pemutaran film sosok budayawan betawi ini masih dapat dipertahankan,”tutur Yanti, warga Jalan Kebon Sirih Barat Dalam I, Jakarta Pusat, saat menonton pemutaran film layar lebar.

DIPENUHI TURIS ASING
Walaupun menggunakan proyektor yang sederhana, nampaknya para pekerja pemutar film tersebut nampak sabar mengganti rol film yang telah rusak itu, sehingga menimbulkan bunyi krek…krek dan filmnya terputus-putus. Sekalipun demikian para penonton tetap antusias menyaksikan film kocak almarhum Benyamin Sueb.

Sejumlah Café seperti Memoris Café, Absolut, Café Betawi, BFC Café dan Café-Café lainnya yang tersebar di Jalan Jaksa dipenuhi turis asing maupun turis lokal. Puluhan stan yang menjual produk makanan, minuman, pakaian dan pernak-pernik khas Bali dan Betawi juga terpampang di jalan tersebut. Sejumlah makanan khas Betawi seperti kerak telor, nasi uduk betawi, bir pletok dan asinan betawi juga tersedia.

Rekor Baru Di Indonesia Dimana 10.000 Orang Makan Tahu Gejrot

In Aneh Dan Lucu, Indonesia Sehat, Kreatif, Pariwisata on August 9, 2008 at 4:47 pm

Sebuah rekor dari Musium Rekor Indonesia (MURI) diserahkan kepada PT Karya Bersama Takarub menyusul aksi 10 ribu orang memakan tahu gerjot, makanan khas Cirebon, Sabtu siang, yang diselenggarakan di Cirebon Super Blok (CSB).

Soetjipto Handoko, GM PT Karya Bersama Takarob, selaku developer CSB, mengatakan tahu gejrot sengaja dipilih sebagai menu pemecah rekor karena merupakan kuliner jajanan khas Cirebon dan diharapkan pemecahan rekor ini akan mengangkat nama Kota Cirebon sebagai salah satu daerah yang kaya masakan kuliner.

“Kami semula menyediakan 11.000 cup tahu gejrot, namun kemudian ditambah lagi 1.000 cup karena peserta membludak, dan sampai penutupan tercatat ada 14.000 pendaftar,” katanya.

Jumlah tahu yang disediakan mencapai 120 ribu tahu dan semua peserta yang mendaftar mendapatkan jatah mereka. “Hari ini mungkin sulit cari tahu gejrot karena tahunya semua teserap di sini,” katanya setengah guyon.

Selain pemecahan rekor di lokasi proyek CSB juga diadakan peresmian Tenca CSB sebuah pusat kuliner yang diklaim terbesar se-Jawa Barat karena mempunyai 51 tenant dengan ratusan menu kuliner dari lokal maupun cita rasa internasional.

“Saya klaim ini terbesar se-Jawa Barat karena yang tersebesar saat ini di Hiper Square Bandung hanya mempunyai kurang dari 40 tenant,” katanya.

Walikota Cirebon Subardi SPd hadir meresmikan Tenda CSB dengan pengguntingan pita disertai pelepasan balon ke udara.

Menurut Walikota, semakin banyak pusat kuliner yang tumbuh maka diharapkan bisa menjadi daya tarik wisata di Kota Cirebon.

“Jakarta-Cirebon hanya tiga jam dengan kereta sehingga dengan beregam kuliner diharapkan warga Jakarta bisa berkunjung ke Cirebon untuk menikmati beragam makanan, dan pulangnya bisa membawa berbagai cindera mata khas Cirebon,” katanya.

Ia juga meminta pengelola kuliner bisa terus mempromosikan makanan khas Cirebon sehingga bisa terkenal ke seluruh nusantara

Hotel Formula 1 Di Resmikan Oleh Walikota

In Pariwisata, Perekomonian on August 8, 2008 at 3:57 pm
Perusahaan properti dan investasi PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk melalui anak perusahaannya PT Hotel Cikini Realty telah membangun dan mengoperasikan hotel baru di kawasan Cikini Jakarta Pusat dengan nama Hotel Formule 1.

Pengoperasian hotel yang dibangun di kawasan eks kolam renang Cikini itu, dibuka secara resmi oleh Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni, Jumat.

Dalam sambutannya, Sylviana mengatakan, pembangunan hotel Formule 1 diharapkan dapat meningkatkan citra Kota Jakarta sebagai destinasi (tujuan) wisata, selain juga dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Kepada Jakarta Setiabudi Internasional, Sylviana berpesan agar perusahaan itu dalam mengembangkan properti dan perhotelan tetap memelihara ruang terbuka hijau.

Sylvana mengaku gembira karena dalam membangun hotel Formula 1 di eks kawasan kolam renang Cikini itu, keberadaan kolam renang yang legendaris bagi warga Jakarta tersebut tetap dipertahankan.

Mengenai kepariwisataan di Jakarta Pusat, Sylviana menyebut jumlah wisatawan yang mengunjungi Jakarta dari tahun ke tahun terus meningkat.

Pada 2006 tercatat ada 1,31 juta wisatawan berkunjung ke Jakarta, kemudian naik menjadi 1,57 juta pada 2007, dan ditargetkan 2008 mencapai 2 juta orang.

Menurut keterangan Jakarta Setiabudi Internasional, hotel Formule 1 ini dibangun mulai Juli 2007 dan selesai Juli 2008. Pembangunan hotel tersebut merupakan kerjasama Grup Jakarta Setiabudi Internasional dengan Accor Asia Pasific.

Sebelum membangun Formule 1 Cikini, Grup Jakarta Setiabudi juga sudah mengoperasikan Formula 1 Menteng dengan rata-rata tingkat hunian 90 persen. Hotel Formule 1 Menteng maupun Cikini merupakan bagian dari jaringan 380 hotel Formule 1 yang tersebar di Eropa, Australia, Brazil, Afrika Selatan, dan Jepang.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan per 31 Desember 2007, Jakarta Setiabudi Internasional membukukan pendapatan Rp811,76 miliar, naik dibanding 2006 yang hanya Rp657,95 miliar.

Dengan pendapatan yang menguat itu, Jakarta Setiabudi membukukan laba bersih Rp26,65 miliar.

Pesatnya Perkembangan Pariwisata Mempengaruhi Kemasan Seni Tradisional

In Berbudaya, Kreatif, Pariwisata, Perekomonian on August 7, 2008 at 1:55 pm
Pesatnya perkembangan dunia pariwisata di Indonesia telah menimbulkan berbagai permasalahan industri budaya. Seni pertunjukan tradisional yang akhir-akhir ini menjadi primadona dalam perkembangan pariwisata menjadi kehilangan ”roh” karena terjadi perubahan dimensi bentuk dan dimensi waktu sebuah seni pertunjukan.

Demikian salah satu persoalan yang diungkapkan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof Dr Timbul Haryono, pada seminar ”Globalisasi dan Kebudayaan” yang digelar Komunitas Budaya Indonesia, Rabu (6/8) di Jakarta.

Mengambil contoh pertunjukan wayang kulit, Timbul menjelaskan, di masa lalu, pertunjukan wayang kulit mengandung aspek tuntunan. Dengan durasi pertunjukan delapan jam, penonton dapat menikmati isi pendidikan moral. Namun, sekarang terjadi perubahan secara fungsional menjadi tontonan semata-mata. Sebagian pertunjukan wayang kulit telah kehilangan ”rohnya” karena aspek hiburan lebih dominan.

Direktur PT Kharisma Starvision Plus Edison Nainggolan, yang mempresentasikan persoalan industri film, mengatakan bahwa industri perfilman sekarang dihantui pembajakan. Apabila film kalah cepat main, akan sulit memperoleh hasil untuk mendorong roda produksi berikutnya.

Adapun Sapto Raharjo, salah seorang tim inti Komunitas Budaya Indonesia, mengatakan, industri budaya bisa menjadi bahaya besar karena orang muda dibuat untuk menjadi berpikiran pendek. Mereka hanya dipandang sebagai konsumen, bukan partner kehidupan.

Para Pebisnis Mendominasi Wisatawan Domestik

In Pariwisata, Perekomonian on August 6, 2008 at 3:53 pm
Kunjungan tamu hotel di Kota Palembang dari segmen wisatawan domestik masih didominasi kalangan pebisnis untuk kegiatan MICE atau meeting, incentive, conference, dan exhibition. Wisatawan yang berkunjung untuk tujuan murni berwisata masih minim jumlahnya. Untuk mendongkrak angka kunjungan wisata sesuai dengan tujuan Visit Musi 2008, pemerintah disarankan lebih membangun sinergi dengan para pelaku pariwisata lokal dalam membangun sistem promosi pariwisata yang tepat.

Menurut Public Relation Officer Hotel Horizon Palembang Prayudi Tama, Selasa (5/8), dari profil tamu hotel di Hotel Horizon selama dua tahun terakhir, sekitar 70 persen berasal dari kalangan wisatawan pebisnis dan MICE, sedangkan sisanya merupakan wisatawan keluarga, kelompok, dan perorangan.

Menurut dia, itu menandakan Kota Palembang sangat diminati untuk kegiatan MICE, tetapi belum begitu digemari untuk tujuan murni berwisata. Salah satu indikatornya adalah tingkat okupansi hotel yang selalu penuh justru pada hari kerja Senin-Jumat.

”Sedangkan pada akhir pekan, tingkat okupansi justru menurun. Jika wisatawan yang datang adalah untuk tujuan murni berwisata, maka pada akhir pekanlah biasanya tingkat okupansi penuh,” katanya.

Belum bersinergi

Ditanya tentang peran pemerintah dalam mempromosikan Visit Musi 2008 di sektor perhotelan, Yudi menjawab sampai sekarang masih minim dan masih belum terbangun sinergi dengan pelaku pariwisata tingkat lokal. Selama ini pelaku perhotelan seperti dirinya selalu membentuk sistem promosi pariwisata sendiri tanpa ada keterlibatan pemerintah setempat.

”Kami menyadari keterbatasan pemerintah dalam hal dana dan kemampuan. Untuk itu, kami juga membuat sistem promosi sendiri,” katanya.

Sejumlah upaya yang pernah dilakukan pelaku pariwisata lokal, misalnya, pembuatan peta wisata Kota Palembang, pemberian fasilitas gratis wisata keliling kota pada akhir pekan, dan penerapan sistem tarif hotel yang terjangkau bagi semua jenis wisatawan.

Yudi menyarankan agar pemerintah mulai membangun sinergi dengan pelaku pariwisata tingkat lokal. Hal ini penting karena bisa meningkatkan angka kunjungan untuk segmen wisatawan domestik, terutama yang tujuannya berwisata.

Menurut dia, sinergi tersebut seharusnya bisa diwujudkan dalam pengemasan promosi pariwisata dan menggagas kegiatan kesenian-kebudayaan yang secara langsung mendukung sektor pariwisata

Indonesia Akan Menjadi Produsen Bonsai Terbesar Dunia Mengalahkan Jepang

In Berbudaya, Kreatif, Pariwisata, Pencinta Lingkungan, Perekomonian on August 4, 2008 at 2:26 pm
Ketua Umum Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Pusat, Sapto Darsono mengatakan, wilayah Nusantara sebagai daerah tropis yang memiliki jenis pepohonan terbanyak kedua di dunia setelah Brasil, potensial aneka macam bibit bonsai.

“Kita berpeluang mendapatkan aneka jenis pepohonan sebagai bibit atau bakal bonsai. Jenis apa yang diminati mudah kita dapatkan,” kata Sapto Darsono pada pembukaan Kontes Bonsai Nasional 2008 serangkaian kegiatan Sanur Village Festival (SVF) ke-3 di Sanur, Bali, Minggu malam.

Ia mengatakan, aneka jenis bonsai di Indonesia terus berkembang seiring bertambahnya penggemar, yakni yang menjadi anggota PPBI saja sudah mencapai sekitar 70.000 orang tersebar di berbagai daerah.

Seiring perkembangan tersebut, Bali sebagai pusat pariwisata diharapkan menjadi gerbang promosi bonsai untuk pasar dunia. “Seperti saat ini, tanpa kita undang wisatawan manacanegara banyak yang datang,” kata Sapto.

Sementara Koordinator Kontes Bonsai Nasional 2008, I Wayan Jelantik mengatakan, ratusan bonsai dari berbagai daerah ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Padahal kontes seni pohon kerdil tersebut baru digelar yang kedua kalinya dalam SVF. “Sebagai karya seni yang terus berkembang, bonsai memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi,” ucapnya seraya menyebutkan, di Bali seni bonsai berkembang sejak tahun 1980-an.

Tanaman bonsai semakin akrab dengan kehidupan masyarakat, bahkan banyak warga yang telah memanfaatkan seni bonsai sebagai komoditi bisnis. Satu bonsai ada yang bernilai hingga ratusan juta rupiah.

“Seni bonsai tidak lepas dari budaya. Kendati seni bonsai diadopsi dari luar negeri, tetapi di di tanah air memiliki banyak keunggulan,” kata Jelantik

Jangan Naik Mandala Airlines Karena Mesin Sering Rusak dan Delay Hingga 12 Jam Tanpa Ada Ganti Rugi

In Pariwisata, Perekomonian, Sistem Transportasi on August 3, 2008 at 4:39 pm
Ratusan penumpang pesawat Mandala RI 270 Boeing 737-400 tujuan Jakarta-Surabaya membentak-bentak petugas maskapai tersebut. Ada di antara mereka menggedor-gedor meja dan kaca di Terminal 1 C, Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng.

Aksi ini dilakukan karena 9 jam terkatung-katung di bandara tanpa pemberitahuan yang jelas, Minggu.

Awalnya sekitar 180 calon penumpang ini sudah masuk ke dalam pesawat pk.09:15, tapi lebih dari 40 menit pesawat belum juga terbang. Malahan, tiba-tiba petugas kabin memberitahukan kalau ada kerusakan mesin sebelah kiri dan penumpang diminta turun kembali ke ruang tunggu.

Setelah 45 menit menunggu, petugas mengabarkan bahwa pesawat yang akan ditumpangi baru bisa berangkat pk.16:00. Secara spontan penumpang mulai gaduh, satu persatu mendatangi petugas Mandala yang ada di sekitarnya, tudingan, cacian dan amarah penumpang menyatu.

Akhirnya penumpang yang sudah check in langsung menyerbu ke kantor Mandala di Terminal 1 C untuk menuntut pertanggungjawaban pihak Mandala terhadap tertundanya pemberangkatan dan mendapat jawaban mereka akan diterbangkan pk. 14:00.

Sampai pk. 14:00 pesawat masih belum selesai diperbaiki dan mendapat kabar delay hingga pk.22:00. Mendengar berita tersebut ratusan penumpang tidak terkontrol lagi. Mereka langsung menggerak-gebrak meja kantor Mandala serta memukul-mukul kaca dan nyaris terjadi bentrokan.

ADA GANGGUAN TEKNIS
Mengetahui situasi panas, sekitar 10 petugas dari Polres Bandara dibantu security Angkasa Pura II berusaha menenangkan calon penumpang dan menjaga kantor Mandala. Bagi calon penumpang yang tidak sabar langsung me-refund atau mengembalikan tiket dan mencari pesawat lainnya. Calo tiket pun menawarkan harga lebih tinggi 30 persen.

“Terpaksa saya beli soalnya nguber waktu, ada janji dengan teman bisnis saya,” kata Hendra.

Humas atau Head of Corporate Communication Mandala Airlines, Trisia Megawati mengatakan pesawatnya mengalami gangguan teknis.

“Sesuai prosedur jika sedikit saja pesawat ada gangguan kami tidak akan menerbangkan sebelum teknisi kami memperbaikinya. Jika dipaksakan khawatir terjadi sesuatu dan semua pihak akan menanggung kerugian dan kami memilih delay tanpa ganti rugi karena delay ini untuk kepentingan kita semua. Delay ini adalah bentuk kebaikan bagi kita semua demi keselamatan”

Trisia mengatakan sebagai bentuk permintaan maaf, Mandala telah memberikan makanan dan minuman kepada calon penumpang. Hingga pk.16:00 kemarin pesawat belum terbang.

Festival Sungai Cisadane Marak dan Meriah

In Berbudaya, Pariwisata on July 31, 2008 at 6:31 pm
Ribuan warga Kota Tangerang kembali tumplek di tepian sepanjang Sungai Cisadane di Jln. Benteng Jaya untuk menyaksikan perlombaan perahu naga, kole-kole, dan perahu tradisional dalam Festival Cisadane 2008 yang berlangsung 31 Juli-3 Agustus.

“Ayo kejar… kejar…” teriak penonton sesaat tiga regu lomba perahu naga dilepas Wakil Walikota Tangerang H. Deddy Syafe’i sekaligus membuka festival itu, Kamis (31/7).

Teriring teriakan penonton terdiri pria-wanita dari usia anak-anak sampai dewasa itu, regu perahu naga sebanyak 12 orang itu lebih semangat memacu laju perahunya.

Lomba perahu ini memang mampu memunculkan kembali kenangan sejarah bahwa di Sungai Cisadane Kota Tangerang sejak puluhan tahun lalu telah tumbuh-berkembang kebudayaan masyarakat yang dikenal sebagai Pekcun yang akhirnya banyak memunculkan tokoh-tokoh pejuang pembela kebenaran yang menentang penjajahan Belanda seperti yang Daan Mogot yang namanya diabadikan sebagai nama jalan.

Komisi Uni Eropa Perpanjang Larangan Terbang Dari Maskapai Penerbangan Indonesia

In Pariwisata, Perekomonian on July 25, 2008 at 11:28 am
Komisi Uni Eropa memutuskan memperpanjang larangan terbang bagi seluruh maskapai Indonesia menuju Eropa.

Salah satu alasan dari perpanjangan pelarangan adalah regulator dinilai masih lemah dalam mengawasi keselamatan penerbangan. ”Indonesia memperlihatkan kemajuan dalam meningkatkan keselamatan penerbangan, terutama satu tahun terakhir sejak dimulainya pelarangan terbang. Tetapi, kami menilai masih ada hal-hal yang harus ditingkatkan, antara lain inspeksi oleh regulator terhadap maskapai,” kata Duta Besar Ad Interim Uni Eropa (UE) untuk Indonesia Pierre Philippe, Kamis (24/7), seusai bertemu Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal.

Philippe menegaskan, tidak ada alasan komersial di balik perpanjangan pelarangan terbang. ”Alasan utama pelarangan itu adalah untuk menjamin keselamatan penumpang,” ujarnya. Perpanjangan larangan terbang paling tidak hingga November 2008.

Jusman mengatakan, sebanyak 60 persen dari 69 temuan Komisi UE atas persoalan keselamatan penerbangan telah diperbaiki pemerintah. Sisanya, menunggu revisi Undang-Undang Penerbangan. ”Sebenarnya, bagi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) komitmen revisi UU sudah cukup, tetapi UE secara tersirat menuntut bukti berupa selesainya UU Penerbangan,” ujar Jusman.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Budhi Mulyawan Suyitno mengatakan, UU Penerbangan akan dituntaskan pada akhir tahun ini. Ia juga mengatakan, Presiden ICAO akan datang ke Indonesia pada November 2008.

Jusman menambahkan, pemerintah akan mempererat kerja sama dengan ICAO untuk meningkatkan keselamatan penerbangan.