Category Archives: Pencinta Lingkungan

Meresapi Kemurnian Pulau Dewata Di Karangasem Bali

Kemasi koper dan berikan hadiah bagi diri Anda untuk menikmati keanggunan Pulau Seribu Pura. Hampir di setiap sudut pulau ini Anda bisa menemukan rumah ibadah umat Hindu, berdiri megah seolah-olah melindungi Pulau Dewata ini. Doa dilantunkan, sajen disembahkan, sungguh pemandangan yang menyejukkan jiwa.

Pulau favorit para wisatawan ini tak pernah berhenti menawarkan hiburan bagi para wisatawan. Membuai dengan keelokan alam, membuka wawasan mengenai keragaman seni dan budaya, dan yang tak kalah penting menyucikan dengan kekayaan spiritual masyarakat setempat.

JUMAT. Berlokasi di Kabupaten Gianyar, yang berjarak kurang kebih 36 km dari ibu kota Denpasar, Pura Tirta Empul, menyimpan kesejukan tersendiri bagi masyarakat Bali. Selain sebagai salah satu lokasi suci umat Hindu, pura ini juga merupakan salah satu situs peninggalan sejarah di Bali. Nama Tirta Empul memiliki arti air yang menyembul keluar dari dalam tanah. Pura ini diperkirakan dibangun sejak zaman raja Chandra Bhayasingha dari dinasti Warmadewa.

Di dalam Pura Tirta Empul ini, terdapat dua kolam besar dengan puluhan pancuran, yang dipercaya oleh masyarakat setempat, bahwa air yang dikucurkan mampu menyucikan diri dari sikap buruk. Tapi tempat ini terlarang bagi wanita yang sedang datang bulan.

Oya bagi Anda yang ingin memasuki pura, jangan lupa untuk mengenakan pakaian sopan yang menutupi lutut, atau anda bisa mengenakan kain yang disediakan.

Selesai membersihkan jiwa, kemudikan kendaraan Anda menuju Ubud untuk memanjakan diri di tengah kerimbunan hutan.

Terinspirasi dari nama lembu Dewa Siwa, Nandini Bali Jungle Resort and Spa menghadirkan konsep menginap di dalam hutan, cocok bagi Anda yang mencintai ketenangan dan keasrian. Sedikit butuh perjuangan untuk menemukan resort ini, tapi dijamin begitu Anda memasuki kamar Anda, hard to find hard to leave.

Salah satu keunggulan yang dihadirkan oleh Nandini Bali Jungle Resort and Spa adalah spa di pinggir anak Sungai Ayung. Uniknya lagi spa bagi pria dilakukan di atas batu dan bagi wanita, kita bisa merasakan sensasi spa di atas pasir. Merdunya suara sungai, sejuknya udara, bercampur pijitan lembut membuat lelah penerbangan Jakarta-Denpasar selama hampir 2 jam terbayar sudah.

Tapi untuk menikmati semua itu, Anda harus menaklukkan 200 anak tangga. Jangan khawatir, pijatan refleksi di kaki oleh para terapis akan menambah relaksasi Anda.

Oya sembari membersihkan tubuh dari sisa-sisa lulur yang menempel, boleh loh Anda mengucap keinginan di pancuran mata air anak Sungai Ayung. Masyarakat setempat percaya, ini adalah aliran mata air suci yang niscaya mampu mengabulkan doa-doa kita. Boleh percaya boleh tidak. Cukup mengeluarkan biaya Rp 3.000.000 hingga Rp. 3.500.000 untuk mendapatkan semua fasilitas dan kenyamanan tersebut.

SABTU. Saat matahari Bali masih terlelap, cobalah untuk tidak membangunkannya, dan bergegaslah bergerak menuju daerah Karangasem. Lokasi dimana keindahan Selat Lombok bersanding dengan kemegahan Gunung Sraya. Dalam hitungan 2 jam dari Nandini Resort, Anda pun akan tiba di Taman Soekasada Ujung.

Taman Soekasada Ujung yang juga dikenal sebagai Istana Air Ujung atau Taman Ujung adalah peristirahatan bagi keluarga kerajaan serta tempat menjamu tamu kerajaan. Tapaki anak tangga bale kapal, dan Anda akan menyaksikan keindahan terbitnya matahari Bali.

Malu-malu tapi mau, cahaya mentari menyinari keindahan Taman Ujung yang telah berdiri sejak tahun 1919 pada masa keemasan Raja Karangasem, I Gusti Bagus Jelantik. Sungguh ciptaan yang begitu dahsyat.

Sesuai dengan namanya Istana Air Ujung, maka di tempat ini terdapat 3 kolam utama yang besar dan luas. Kolam Bale Kambang, kolam Bale Gili, dan Kolam Dirah. Tak lupa bangunan-bangunan cantik ikut menghiasi komplek istana seluas 9 hektar ini. Suasana yang sejuk, membuat taman seluas 9 hektar ini cocok bagi yang ingin bersantai bersama sahabat atau olahraga pagi. Oya, bagi yang ingin mampir sekadar melantunkan doa, bisa mengunjungi Pura Manikin yang ada di dalam kompleks istana.

Di tengah kolam paling utara terdapat bangunan utama yang dihubungkan oleh dua buah jembatan. Bale Gili namanya. Jika Anda ingin melihat koleksi foto kerajaan, di sini tempatnya. Di satu sisi kolam juga terdapat bangunan yang digunakan untuk menikmati keindahan taman sekitar, Bale Bengong. Konon Bale Bengong digunakan oleh raja untuk menikmati taman sambil berkhayal.

Jika yang Anda suka dari Bali adalah wisata pantainya, selagi masih berada di kawasan timur bali, mari kita tengok sebaran pantai berpasir hitam di wilayah Desa Prasi.

Namun, masih banyak yang belum tahu keindahan pantai yang terdapat di Desa Prasi, Kabupaten Karangasem ini. Di antara sebaran pantai berpasir hitamnya, ada satu pantai yang berbeda, Virgin Beach adalah satu-satunya pantai berpasir putih. Apa yang identik dengan namanya ya? Virgin Beach, ehmm…

Perjalanan menuju Virgin Beach memang butuh sedikit perjuangan. Tapi setibanya Anda di sini, dijamin, infrastruktur jalanan yang tidak terlalu bersahabat, rambu jalan yang kurang akurat, bukanlah kendala yang berarti.

Pantai yang menjadi destinasi turis bule ini memiliki banyak nama. Penduduk sekitar menyebutnya pasir putih atau Pantai Prasi. Sedangkan para turis memberikan nama Virgin Beach untuk pantai ini. Jadi jangan heran jika tak banyak warga lokal tahu keberadaan Virgin Beach. Mungkin kata virgin merujuk pada kondisi pantai yang masih, bersih, air yang bening, ombaknya yang bersahabat, pantai yang belum tersentuh sampah dan tangan jahil para wisatawan tak bertanggung jawab.

Rasanya bisa membuat Anda jatuh cinta pada kunjungan pertama. Berenang bersama dengan anjing kesayangan, snorkeling, ataupun sekadar berjemur, menjadi pilihan favorit para wisatawan di Virgin Beach.

Oya, dikarenakan kondisinya yang masih perawan, listrik pun belum masuk di pantai ini. Tapi untuk masalah makan an, jangan khawatir. Tersedia sederetan rumah makan yang menawarkan menu masakan yang membuat Anda tak bisa menahan air liur.

MINGGU. Pulau dewata menawarkan beragam pilihan cara untuk menikmati hari-hari libur para wisatawan. Bali dan wisata air adalah dua kata yang tak terpisahkan. Silahkan menuju tanjung benoa yang menginginkan rekreasi air nan seru. Bersama dengan Bali Marine Recreation, habiskan minggu, di Tanjung Benoa, bermain banana boat.

Selain itu, yang patut Anda coba juga adalah Bali Ocean Walker. Berjalan di bawah laut. Huuuu… tak terbayangkan betapa serunya. Jangan abaikan petunjuk yang diberikan oleh instrukstur tentang sandi-sandi yang harus Anda gunakan selama di dalam laut.

Untuk memulai perjalanan di laut, Anda akan diberi pemberat di pinggang sebesar 5 hingga 7 kg dan di kaki seberat 1,5 kg. Dan yang tak kalah penting helm oksigen yang wajib anda gunakan, hati-hati yah saat menggunakan, beratnya mencapai 38 kg. saat berada di dalam laut. Biaya berjalan di dalam laut Bali ini adalah Rp 700.000.

Ada satu lagi permainan yang wajib dijajal, saat berkunjung ke bali marine recreation, wake boarding. Berdiri di sebilah papan layaknya peselancar, dan ditarik dengan jetski berkecepatan tinggi. Kekuatan kaki dan keseimbangan menjadi modal utama dalam permainan dengan biaya Rp 200.000 ini.

Sebelum meninggalkan Bali Marine Recreation dan Tanjung Benoa, jangan lupa membuat body spray tattoo seharga Rp 50.000 sebagai kenang-kenangan. Pilih gambar favorit Anda, dan voila tak sampai 5 menit tubuh anda telah dihiasi tattoo nan cantik

Surga Hijau Berjarak 3 Jam Perjalanan Dari Jakarta

Sejauh mata memandang tampak pohon tinggi nan rimbun. Kemudian di antaranya terhampar rumput hijau dengan latar Gunung Gede Pangrango. Di bagian lain, air terjun kecil mengalirkan air yang jernih, berkelok-kelok membelah deretan pohon Sakura yang masih malu untuk mekar.

Kebun Raya Cibodas, Selasa (22/5), menyajikan pemandangan yang sungguh indah. Cuaca cerah dengan sinar mentari terik bertemu kesejukan hawa gunung. Seorang laki-laki dan perempuan menghamparkan terpal di atas rumput lalu merebahkan badan. Mereka bercengkerama, menikmati keteduhan naungan pohon besar yang menghalangi sinar matahari.

Buat mereka yang bersantai di kebun raya yang secara administrasi berada di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu waktu terasa berlalu dengan perlahan. Cibodas memikat hati orang-orang dari banyak daerah, bahkan dari luar Indonesia.

”If paradise still exist on earth, Cibodas must have been part of it” (seandainya masih ada surga di bumi ini, maka Cibodas pastilah bagian daripadanya). Begitu komentar Dr FW Went 1903, ahli fisiologi tumbuhan kelahiran Belanda tahun 1903 yang pernah bermukim di Indonesia, seperti kerap dikutip dalam aneka situs perjalanan.

Penilaian Went tidak berlebihan. Hal itu bisa dirasakan ketika mengunjungi Kebun Raya Cibodas. Kawasan ini menyajikan keindahan alam dan kesejukan udara yang melenakan. Cocok untuk liburan bersama keluarga sambil mengenal kekayaan alam Sang Pencipta.

Lelah dan penat berkendara karena kepadatan arus lalu lintas sepanjang jalur Puncak terbayarkan. Perhatian akan beralih pada hamparan perdu, rerimbunan pohon, sungai, air terjun, jalan berbatu, taman lumut, dan danau-danau bersih.

Membasuh muka dengan aliran air Curug Cibogo yang dingin dan jernih, yang mengalir di antara taman sakura, sungguh menyegarkan. Berikutnya pengunjung bisa menikmati pemandangan akar-akar pohon yang mencakar bumi, berdiri kokoh memanjang mulai dari Wisma Tamu.

”Pohon ini sudah ada sejak tahun 1800-an,” kata Tatang dari humas Kebun Raya Cibodas seraya menunjuk jajaran pohon Araucaria.

Dibuka 1852

Kebun Raya Cibodas, yang berada di area seluas 84,99 hektar, dibuka pada 11 April 1852 oleh Johannes Ellias Teijsmann, warga negara Belanda. Lokasi kebun raya, sekitar 100 kilometer dari Jakarta, bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3 jam jika arus lalu lintas tidak padat. Namun, di akhir pekan, waktu tempuh bisa jauh lebih lama karena antrean kendaraan di jalur Puncak.

Kebun Raya Cibodas berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada ketinggian 1.300 meter sampai 1.425 meter dari permukaan laut. Kebun raya ini memiliki koleksi 1.293 jenis tanaman, 144 jenis lumut, 734 jenis biji-bijian, dan 1.826 herbarium. Selain untuk tujuan wisata, kebun ini juga berfungsi sebagai tempat konservasi, penelitian, dan pendidikan lingkungan.

Tidak hanya keindahan lanskap, kebun raya ini menyajikan keindahan lengkap. Pengunjung dapat menikmati Taman Rhododendron yang berisi koleksi dari Indonesia, Jepang, dan China. Di dekat Curug Cibogo, terdapat taman sakura yang dilengkapi koleksi dari Himalaya. Jika Anda ingin melihat bunga ini mekar, datanglah pada bulan Januari sampai Februari atau bulan Agustus sampai September. Ketika mengunjunginya, Selasa lalu, beberapa kuntum bunga mekar terlihat.

Sentuhan tangan kreatif melengkapi keindahan alami berupa jalan air, taman lumut, dan jalan berbatu. Di samping taman lumut, ada koleksi bunga bangkai hasil eksplorasi di Jambi tahun 2000.

”Tempatnya sejuk dan indah, kami senang di sini,” kata Nunung (18), siswi SMA PGRI Tangerang Selatan, setelah membasuh muka dari aliran air Curug Cibogo.

Selain indah, kawasan ini relatif bisa dijangkau semua kalangan karena tiket masuk yang murah. Bagi Anda yang tertarik bermalam di kawasan ini, pengelola menyediakan penginapan tidak jauh dari taman lumut dan pepohonan yang menjulang tinggi.

Ada dua wisma tamu dengan lima kamar tidur dan sembilan kamar tidur yang bisa disewa per kamar atau keseluruhan dengan biaya Rp 250.000-Rp 2.250.000. Wisma tamu itu merupakan renovasi dari bangunan kuno peninggalan masa kolonial Belanda.

Setelah Menanti 12 Tahun Akhirnya Sistem Subak Bali Menjadi Warisan Budaya Dunia

Tak lama lagi Indonesia akan memiliki warisan budaya yang diakui dunia internasional melalui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco). Penghargaan itu akan disampaikan pada 24 Juni mendatang di St Pittrsbug Rusia. “Tapi ini masih rekomendasi dan mudah-mudahan tidak ada hambatan yang menggugurkan pencapaian ini,” ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, Senin, 21 Mei 2012.

Menurut Wiendu, masuknya Subak menjadi nominasi warisan budaya dunia tidaklah mudah. Pemerintah sudah memasukkan permohonan sejak tahun 2001. Namun selama ini, permohonan menjadikan Subak sebagai warisan budaya dunia belum dapat diterima Unesco.

Beberapa kendala yang menghalangi, kata Windu, misalnya masih kurangnya kesadaran masyarakat membenahi pengairan. Begitu juga dengan pembangunan yang belum sesuai dengan tata budaya subak. Tumpah tindih penggunaan lahan juga masih sering terjadi.

Selama hampir dua belas tahun sejak Subak diusulkan itu pemerintah, tokoh adat dan masyarakat setempat kata Wiendu sudah bermusyawarah mengembalikan lanskap subak. Akhirnya konsep penataan Subak dalam tajuk “Bali Culture Lanscape Subak System” berhasil disusun. “

Sekarang, melihat kesiapan masyarakat, pemerintah yakin Subak akan ditetapkan menjadi warisan budaya dunia. “Kami sudah kembalikan peta-peta sumber air, dan irigasi, dan mengembalikan tata kelola tanah dalam dua belas tahun ini,” ujar dia.

Konsep yang diusung kementerian adalah Tri Hita Karana, berupa pedoman kehidupan masyarakat Bali. Budaya ini pada intinya mengajarkan manusia harus hidup harmoni dengan Tuhan, hidup selaras dengan sesamanya, dan sejiwa dengan alam. “Dengan prinsip ini pembangunan yang berkelanjutan akan tercapai,” kata Wiendu.

Wiendu berharap dengan ditetapkannya Subak sebagai warisan budaya dunia, pemerintah lokal, masyarakat, pengusaha dan pendatang akan hidup berdampingan. Dalam pembangunan pun tidak bisa lagi membangun hotel sembarangan sampai menggerus lahan pertanian. Lebih jauh diharapkan pengukuhan Subak akan menghilangkan pembangunan hotel di sempadan sawah.

Penetapan warisan budaya dunia juga akan menjamin masyarakat untuk lebih menjaga keseimbangan alam. Dia berharap pengusaha dan pemerintah bersama-sama berkomitmen menjaga daerah resapan air seperti yang tertuang dalam peta penggunaan lahan masyarakat adat.

Ditetapkannya Subak sebagai warisan budaya dunia kata Wiendu diharapkan juga menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga warisan budaya. Semangat bersama bangsa menjaga warisan budaya nusantara akan menjadi modal dasar mengajukan sautu budaya untuk menjadi warisan budaya.

Masa Terbaik Untuk Melakukan Pendakian Ke Gunung Rinjani

Kabut tipis turun di Danau Segara Anak, Lereng Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, Rabu pagi pekan lalu. Tak berapa lama, kabut pun mulai menghilang digantikan siraman mentari pagi yang membentuk tirai-tirai tipis. Puluhan pendaki Gunung Rinjani yang malamnya mendirikan tenda di pinggir danau pun mulai sibuk mengabadikan pemandangan ajaib itu.

“Sungguh indah pemandangan Danau Segara Anak pagi ini,” kata Habibur Rahman Novan, 30 tahun, pendaki asal Probolinggo, Jawa Timur, saat mengabadikan momen itu dengan kamera sakunya.

Bagi Habibur, ini adalah kedua kalinya ia mendaki gunung tertinggi nomor tiga di Indonesia ini. Ia pun sudah mencapai puncak gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl sehari sebelumnya.

Gunung Rinjani memang menawarkan petualangan dan pemandangan yang cukup lengkap. Pendaki biasanya memulai pendakian dari Jalur Sembalun dengan melintasi padang savana yang cukup panjang.

Setelah itu, pendaki harus melintasi Bukit Penyesalan untuk mencapai Plawangan Sembalun. Dinamakan Bukit Penyesalan karena trek bukit ini cukup menanjak. Fisik dan mental pendaki menjadi kunci agar bisa sampai di Pos Plawangan Sembalun. “Biasanya, pendaki akan mengucapkan kata-kata penyesalan saat mendaki bukit ini. Meskipun tahun depannya justru mereka akan kembali ke sini lagi,” kata Habibur.

Selesai dengan Bukit Penyesalan, pendaki akan sampai di Plawangan Sembalun. Dari pos inilah, pendaki bisa memulai pendakian menuju puncak Gunung Rinjani.

Di puncak Rinjani, pendaki bisa melihat Gunung Tambora, Agung, dan Ijen. Ditambah lagi dengan pemandangan awan yang sayang untuk dilewatkan. “Selama empat bulan ke depan, merupakan masa terbaik untuk mendaki Rinjani,” kata Dika, 27 tahun, salah satu porter yang biasa menemani pendaki.

Selain tak ada hujan, kata Dika, awal musim kemarau ini juga memperlihatkan langit biru yang cukup bersih. Ia menyarankan agar pendaki membawa alat pancing untuk mengail ikan di Danau Segara Anak.

Taufik, petugas Pos Sembalun yang menjaga Taman Nasional Gunung Rinjani, mengatakan, setiap bulannya, sekitar 9.000 pendaki datang ke gunung itu. “Tiga ribu di antaranya merupakan pendaki dari luar negeri,” katanya.

Ia mengatakan bulan ini hingga tiga bulan ke depan merupakan waktu terbaik mendaki Rinjani. Sejumlah biro perjalanan wisata juga tengah sibuk-sibuknya melayani jasa penyediaan porter untuk para pendaki.

130.000 Pohon Bakau Mangrove Akan Ditanam Di Pantai Utara Jakarta

Guna menghindari abrasi di kawasan pesisir, sebanyak 130 ribu pohon mangrove di tanam wilayah pesisir Jakarta Utara. Diharapkan dengan ditanamnya ratusan pohon tersebut pengikisan tanah di wilayah Jakarta Utara tidak akan terjadi lagi.
Selain itu, dengan dilakukan penanaman pohon tersebut juga dapat mengurangi air pasang yang hampir setiap tahun terjadi di wilayah Jakarta Utara.

Walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono, menyatakan, dari 400 hektar lahan yang ada di wilayah pesisir Jakarta yang ada baru 40 persen yang dilakukan penanaman pohon. “Pohon Mangrove itu selain dapat menahan abrasi, juga bisa untuk dikelola produk olahan seperti souvenir, dodol, sirup, kue dan sebagainya.,” ungkap.

Untuk itu Walikota berharap semua pihak untuk bersama-sama mendukung aksi penanaman mangrove. Dengan banyaknya pohon yang ditanam di pinggir pantai itu secara otomatis wilayah akan terhindar dari abrasi. Selain itu juga akan menciptakan udara yang sejuk dan segar.

“Jadi dalam hal ini gerakan peduli menanam pohon mangrove dan pohon pelindung lainnya akan terus kita ditingkatkan. Minimal 1000 pohon telah tertanam di Jakut setiap bulannya. Jika setiap tahun terus kita lakukan, saya yakin Jakarta Utara akan menjadi daerah yang hijau royo-royo seperti keinginan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo,” harap Walikota

Jakarta Car Free Day Akan Dilaksanakan Setiap Minggu

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menerapkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) setiap Minggu. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan pola baru ini untuk meningkatkan kualitas udara dan ekosistem di Jakarta.

“Ini juga merupakan upaya agar pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum, sepeda, atau berjalan kaki,” kata Fauzi kemarin. Penerapan HBKB baru tersebut dimulai pada 13 Mei. Namun waktunya dipersingkat, dari pukul 06.00 hingga pukul 11.00.

Sebelumnya HBKB dilaksanakan setiap dua minggu sekali di Jalan Sudirman-Thamrin dan berlaku dari pukul 06.00 hingga 14.00. “HBKB, yang biasanya dilaksanakan dua kali sebulan, sekarang dilaksanakan empat kali sebulan atau setiap Minggu sepanjang tahun,” tutur Fauzi.

Pola baru ini juga meningkatkan HBKB di ruas jalan lima wilayah lain di Jakarta yang pelaksanaannya sempat tidak rutin. Adapun kelima ruas jalan itu adalah Jalan Pemuda (Jakarta Timur), Jalan Danau Sunter Selatan (Jakarta Utara), Jalan Letnan Jenderal Soeprapto (Jakarta Pusat), Jalan Sisingamangaraja (Jakarta Selatan), dan jalan di kawasan Kota Tua Taman Sari (Jakarta Barat).

Kini kendaraan bermotor di wilayah provinsi, yaitu Jalan Sudirman-Thamrin, dilarang lewat. “Sudirman-Thamrin bersih dari kendaraan bermotor,” kata dia. Hanya, bus Transjakarta yang diperbolehkan lewat. “Bus Transjakarta ramah lingkungan karena menggunakan bahan bakar gas,” kata dia.

Konsep pembagian jalur juga diterapkan di Jalan Sudirman-Thamrin. Jalur lambat untuk pejalan kaki. “Anak-anak di lajur kiri jalur lambat, sedangkan orang tua di lajur kanan jalur lambat,” katanya. Adapun pengguna sepeda dapat menggunakan jalur cepat dengan pembagian orang tua di sebelah kanan lajur dan anak-anak di sebelah kiri jalur cepat.

Menurut Fauzi, program HBKB telah dilaksanakan sejak 2007. Program ini mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Pada 2007, HBKB dilaksanakan dua kali sebulan pada Ahad pukul 06.00-14.00 di Jalan Sudirman-Thamrin. Kemudian, pada 2009, ruas jalan HBKB ditambah di lima wilayah lainnya, dari pukul 06.00 hingga 12.00.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan akses kendaraan bermotor hanya dibuka di jalur lambat di sekitar Semanggi setiap Ahad. “Tepatnya dari SCBD sampai Karet,” kata Pristono. Kamis 10 Mei 2012. Berikut ini adalah jalur alternatif bagi pengendara untuk menghindari Jalan Sudirman-Thamrin.

ALTERNATIF PERGERAKAN SELATAN-UTARA

1. Dari sisi barat: Jalan Sultan Iskandar Muda-Jalan Pakubuwono-Jalan Asia Afrika-Jalan Gerbang Pemuda-Jalan Gatot Subroto-Jalan Jenderal Sudirman (jalur lambat)-Jalan Bendungan Hilir-Jalan Karet Pasar Baru Barat-Jalan KH Mas Mansyur-Jalan Abdul Muis-Jalan Majapahit-dan seterusnya.

2. Dari sisi timur: Jalan Panglima Polim-Jalan Sisingamangaraja-Jalan Trunojoyo-Jalan Senopati-Jalan Kapten Tandean-Jalan H R. Rasuna Said-Jalan H O.S. Tjokroaminoto-Jalan Menteng Raya-Jalan Medan Merdeka Timur-dan seterusnya.

ALTERNATIF PERGERAKAN UTARA-SELATAN

1. Sisi barat: Jalan Medan Merdeka Utara-Jalan Abdul Muis-Jalan Mas Mansyur-Jalan Karet Pasar Baru Barat-Kalan Penjernihan-Jalan Tentara Pelajar-Jalan Teuku Nyak Arief-Jalan Sultan Iskandar Muda – dan seterusnya.

2. Sisi Timur : Jalan Lapangan Banteng-Jalan Medan Merdeka Timur-Jalan Menyeng Raya-Jalan Sam Ratulangi-Jalan HOS Tjokroaminoto-Jalan HR Rasuna Said-Jalan Kapten Tandean-Jalan Walter Monginsidi-Jalan Trunojoyo – dan seterusnya.

Cuaca Ekstrim Landa Jakarta Hingga Rabu Karena Ada Bibit Badai Tropis Di Maluku Tenggara

Cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai kilat petir dan angin kencang diprediksi masih bakal melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) hingga Rabu (9/5). Prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tersebut menyusul adanya bibit badai tropis yang akan trejadi di perairan sebelah utara Kepulauan Babar atau di perairan sebelah barat Maluku Tenggara.

Kasubag Informasi Meteorologi BMKG, Hari Tirto, Senin (7/5), mengatakan angin di atas wilayah Indonesia umumnya dari arah Timur – Tenggara, kecuali Sumatera bagian utara, Kalimantan bagian utara dan Sulawesi bagian utara angin dari arah Selatan-Barat Daya.

Dengan kecepatan angin berkisar antara 5–54 km/jam dengan kecepatan angin tertinggi terjadi di Samudera Indoneia sebelah selatan Nusa Tenggara, Laut Timor, Laut Banda dan Laut Arafura berkisar antara 36–54 km/jam.

Hal ini mengakibatkan wilayah Jabodetabek bakal dilanda hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Kecuali Jakarta bagian selatan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. “Hujan berpeluang besar terjadi pada siang, sore dan malam hari,” ujar Hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca buruk masih akan melanda kawasan Jakarta dan sekitarnya dalam tiga hari ke depan. Hujan lebat disertai angin kencang ini merupakan dampak dari perubahan musim dari hujan ke kemarau. “Kita sedang memasuki akhir masa transisi,” kata Kepala Sub-Bidang Informasi BMKG Hary T. Djatmiko Senin 7 Mei 2012 kemarin.

Menurut Hary, pada masa pancaroba, potensi hujan memang masih ada. Hal ini terjadi karena suhu permukaan laut yang hangat dan kelembapan yang tinggi. “Belokan angin bisa membentuk awan hujan taktis, dan ini sudah terdeteksi sejak akhir minggu lalu,” katanya.

Hary membantah pendapat bahwa cuaca buruk itu dipengaruhi fenomena supermoon yang terjadi Sabtu 5 Mei 2012. Posisi bulan yang jaraknya sangat dekat dengan bumi itu hanya berimbas pada pasang-surut air laut. “Tidak ada kaitan dengan cuaca,” katanya.

Kemarin hampir seharian langit Jakarta gelap. Hujan turun di beberapa wilayah sejak pagi. Berdasarkan pantauan Traffic Management Center Kepolisian Daerah Metro Jaya, kemacetan terjadi di sejumlah titik akibat hujan yang menimbulkan genangan air. Ketinggian genangan beragam, dari 5 hingga 20 sentimeter.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan permukaan air naik secara signifikan akibat hujan kemarin. “Hujan bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di Bogor dan Depok,” kata Fauzi. Bahkan Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana DKI Jakarta kemarin sempat menetapkan siaga III karena ketinggian air di pintu air Sunter Selatan dan Karet meningkat.

Untunglah, hujan tidak terlalu mempengaruhi debit air di Sungai Ciliwung. Di Bendung Katulampa, Bogor, ketinggian berada di kisaran 30 sentimeter. “Normalnya 50 sentimeter,” kata Kepala Pelaksana Harian Unit Pelaksana Teknis Bendungan Katulampa Andi Sudirman.

Begitu juga di pintu air Manggarai, Jakarta Selatan. Menurut Dion, petugas pintu air, ketinggian normal di pintu air Manggarai adalah 750 sentimeter. Kemarin ketinggian air hanya mencapai 720 sentimeter.

Orangutan di Sumatera Tinggal 200 Ekor

Aktivis lingkungan hidup dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menyebutkan populasi orangutan (pongo pygmaenus abelii) di Sumatera hingga tahun 2012 tinggal 200 ekor, akibat rusaknya habitat binatang dilindungi itu.

“Pada tahun 2000-an populasi orangutan di wilayah Sumatera di atas 1.000 ekor, namun pada tahun 2012 ini sudah di bawah 200 ekor, karena sebagian besar sudah punah akibat lingkungan mereka dirusak,” kata Advokad lingkungan hidup YEL Aceh Halim di Meulaboh, Senin (7/5), seperti dikutip dari Antara.

Ia menyebutkan, penyidikan terakhir, keberadaan orangutan terbesar adalah di kawasan hutan gambut Rawa Tripa di Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, namun selama ini kawasan tersebut disembunyikan keberadaannya, karena ada pihak tertentu akan mencoba merusak habitat mereka.

“Sebenarnya keberadaan orangutan terbesar hasil terakhir kami melihat itu di kawasan rawa gambut tripa, namun selama ini informasi itu ditutupi, karena akan ada pembukaan lahan baru di kawasan ini,” tambahnya.

Kata Halim, selama ini isu yang digembar-gemborkan keberadaan orangutan di Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara, padahal kawasan itu hanya merupakan sebagian kecil populasinya hewan mamalia ini.

Dikatakan, akibat alih fungsi lahan dari hutan gambut Rawa Tripa menjadi perkebunan sawit mulai dari Aceh Singkil hingg Kabupaten Nagan Raya, populasi Orangutan terus menyusut, karena habitat mereka sudah dirusak orang tidak bertangung jawab.

Sebab itu, ia menyarankan Kementrian Kehutanan untuk merekomendasikan reboisasi kembali hutan gambut rawa tripa dan mancabut izin pembersihan lahan yang sudah pernah diberikan Gubernur Aceh dikepemimpinan Irwandi Yusf/M Nazar pada 25 Agustus 2011.

“Setelah izin ini dicabut, kawasan rawa tripa ini harus menjadi kawasan lindung di luar kawasan hutan sesuai dengan tata ruang nasional,” tegasnya.

Sebut Halim, dalam tata ruang nasional lingkungan hidup tersebut ditetapkan bahwa rawa tripa atau Kawasan Ekosistem Leuser adalah kawasan strategis nasional yang wajib dilindungi dari ancaman pengrusakan.

Katanya, selain bermanfaat untuk keberlangsungan hidup manusia secara global, di dalam hutan gambut rawa tripa ini adalah sebagai habitat Orangutan, harimau sumatera, beruang madu dan sebagainya.

Selain itu, dengan keberadaan ketebalan rawa gambut setebal 3-5 meter itu akan mampu menyerap air dan melindunggi masyarakat sekitar dari bencana alam banjir seperti yang sering terjadi selama ini.

“Karena alih fungsi lahan pada Maret 2012 itu, warga disini mengalami gangguan pernafasan karena sudah banyak kanal-kanal perusahaan, pada saat demikian kebakaran rawa gambut sudah sangat gampang,” pungkasnya.

Menikmati Taman Kota Dan Danau Kambang Iwak Ditengah Kota Palembang Sebagai Taman Kota Terbaik Di Indonesia

Sebagai salah satu tempat yang masih asri di Palembang, Kambang Iwak (KI) kini semakin ramai dikunjungi warganya saban hari. Kawasan yang terletak di Jalan Tasik, Palembang, ini menjadi salah satu alternatif warga untuk menikmati suasana hijau dan beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda.

Kambang Iwak dalam bahasa setempat berarti kolam ikan. Hingga kini tempat itu masih menjadi salah satu kolam retensi yang dapat diandalkan untuk menampung luberan air kala hujan. Di pinggiran kolam masih ditumbuhi puluhan batang pohon besar. Karena itu, sepanjang hari di sekitar Kambang Iwak tetap adem meskipun tengah disorot sinar Matahari.

“Sebelum ngantor saya dan keluarga pasti jogging dulu di sini. Kalau malam paling kami makan-makan bersama teman kantor dan tamu,” kata Amrina, Selasa 17 April 2012.

Amrina pengunjung tetap di Kambang Iwak. Sehingga ia paham betul kebiasaan pengunjung di Kambang Iwak. “Kalau Sabtu-Minggu ramai sekali. Makanya kalau akhir pekan agak kurang nyaman.”

Tak salah bila Kementerian Lingkungan Hidup pada 2008 serta 2010 lalu menobatkan Kambang Iwak sebagai Taman Kota Terbaik di Indonesia. Dalam kunjungan nya akhir pekan lalu, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya tak luput mengacungkan kedua jempolnya saat ditanya keasrian Kambang Iwak. Ia pun sempat menanam pohon terembesi serta memberi pakan ikan di kolam seluas sekitar 5 hektare itu. “Ini bagus sekali, silakan pertahankan ya.”

Kambang Iwak sangat mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Terdapat sejumlah rute angkutan kota dan bus mahasiswa yang diwajibkan melintas di pinggiran KI. Sebut saja rute angkot kota Ampera-pasar KM 5, kota Ampera-Bukit Besar, Kota Ampera-Perumnas serta Bus Mahasiswa Kota-Kampus Universitas Sriwijaya.

Perkembangan pesat juga terjadi di seputar Kambang Iwak. Di sana kini berdiri Hotel Swarna Dwipa dan Hotel Pradha serta sejumlah restoran seperti KFC, Soerabi Bandung, Tasiq, dan restoran lain nya.

Saban hari, baik pagi, siang maupun malam hari, Kambang Iwak dijadikan pula sebagai kawasan yang tepat bagi penghobi Jogging, skateboard, sepeda, fotografi serta teater. Maklum saja kawasan itu kini sudah dilengkapi dengan jalur jogging serta lintasan khusus pesepeda.

Sementara di bagian atas kolam telah membentang jembatan gantung sepanjang tak kurang dari 200 meter. “Pada Sabtu Minggu di sini bebas kendaraan,” kata Agung Nugroho, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang.

Menurut Agung Nugroho, pihaknya sengaja “membiarkan Kambang Iwak apa adanya” agar dapat menjadi kawasan yang dapat mengimbangi pesatnya pembangunan Palembang. Selain Kambang Iwak, menurut Agung, kawasan serupa terdapat di Taman Punti Kayu dan Taman Bukit Siguntang. “Ketiga kawasan ini merupakan kawasan pendukung bgi Palembang Clean, green dan blue.”

Dari kawasan Kambang Iwak, pengunjung dapat dengan mudah menuju Jembatan Ampera, Kampus Universitas Sriwijaya. Serta hanya beberapa menit saja, pengunjung dapat menjangkau Kantor Wali Kota (dulunya kantor ledeng) dan kantor Gubernur.

Di kawasan Kawasan Iwak sebelah Jalan Tasik masih berdiri kokoh rumah residen Belanda. Rumah berwarna putih itu kini menjadi kediaman resmi Wali Kota Palembang. Sebelumnya bangunan itu sempat pula dijadikan kampus utama cikal bakal Universitas Sriwijaya.

Sementara Kawasan Iwak arah Jalan Talang Kerangga dan Jalan Supeno masih berdiri pula bangunan tempo duluh. Bangunan itu meskipun sudah berpindah tangan namun keasliannya masih tampak. Di sana juga terdapat sebuah bangunan gereja tua yang merupakan gereja Protestan dengan nama resminya Gereja Siloam. Dari prasasti diketahui, Gereja Siloam dibangun pada masa Agustus 1933.

Buruknya Pengelolaan Air Akan Menjadi Bencana Bagi Indonesia Khususnya Pulau Jawa

Buruknya pengelolaan air bisa mengakibatkan bencana dan menghambat pembangunan nasional. Masyarakat diminta berpartisipasi lebih baik lagi dalam mengelola air untuk menjaga kualitasnya secara berkelanjutan. “Air menjadi faktor tunggal yang paling mendesak karena bisa menghambat pembangunan bangsa. Buruknya pengelolaan air bisa menghambat pembangunan, membatasi produksi pangan serta menimbulkan berbagai penderitaan, bencana dan kerusakan ekonomi,” kata Direktur Perwakilan Kantor Unesco di Jakarta, Hubert Gijzen memperingati Hari Air sedunia PBB 2012, Minggu (25/3).

Ia menjelaskan, perlu dilakukan berbagai upaya untuk lebih mempromosikan pembangunan air secara berkelanjutan.
Sebelumnya, mantan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Mochammad Amron menyatakan, padatnya jumlah penduduk dan lahan pertanian menjadi penyebab potensi air di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, tertekan dan ketersediaannya mengkhawatirkan. Kondisi itu diperparah lagi dengan buruknya pengelolaan air, yang mengakibatkan air tidak layak konsumsi semakin meningkat.

Ia mengimbau seluruh masyarakat Indonesia harus ikut berpartisipasi dalam mengelola air dengan baik untuk menjaga kualitasnya secara berkelanjutan. “Perlu komitmen semua pihak untuk ikut mengelola air dengan baik,” kata Mochammad Amron.

Presiden Global Compact Network Indonesia, YW Junardy menambahkan, penyelamatan air tidak hanya dilakukan perorangan dan pemerintah saja tapi kolaborasi dengan dunia usaha. “Untuk itu telah dibentuk kelompok kerja Water Mandate Indonesia yang akan berkolaborasi untuk bekerja sama dalam menyelamatkan air Indonesia,” katanya.

Terkait pelestarian air bersih, Managing Director Corporate Affairs and Communication APP, Hendra Gunawan menjelaskan, sebagai pimpinan kelompok kerja water mandate pihaknya akan melakukan berbagai kegiatan menuju sesi seminar saat Konferensi Rio+20 pada Juni 2012. “Kelompok kerja juga akan melakukan kampanye selamatkan air,” katanya.

Ia juga menjelaskan, Hari Air sedunia PBB 2012 memiliki tema “Keamanan Pengadaan Air dan Makanan”.

Secara terpisah, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nahdia Forqan menuturkan krisis air di Pulau Jawa bukan karena tersedot lahan pertanian, melainkan lantaran rusaknya daerah aliran sungai, pencemaran limbah, dan pengambilan air berlebihan oleh industri.

“Tiga hal itu menyebabkan penduduk Pulau Jawa sulit mengakses air. Saat ini saya yakin lahan pertanian justru semakin berkurang sehingga tidak mungkin pertanian menyedot air lebih dari 70 persen,” ujar Berry, kemarin.