Category Archives: Pendidikan

Hasil Pengumuman SBMPTN 2014 Di Indonesia


Panitia pusat Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2014 akan mengumumkan hasil ujian seleksi tersebut besok, Rabu (16/7/2014). Peserta menjalani SBMPTN untuk ujian tulis dan keterampilan pada 17-19 Juni 2014 lalu. Tahun ini SBMPTN diikuti oleh 664.509 peserta lulusan SMA/sederajat. Peserta mengikuti ujian tulis untuk meraih satu dari 86 ribu kursi PTN yang disediakan oleh 64 kampus negeri seluruh Indonesia.

Bagi yang ingin melihat kelulusannya, mulai besok peserta bisa mengecek secara online melalui lipsus SBMPTN Kompas.com atau laman sbmptn or dot id. Pengumuman kelulusan tersebut dapat diakses mulai pukul 17.00 WIB.

“Kami sudah mempersiapkan pengumuman hasil tes tertulis ini dengan baik,” ujar Ketua Panitia SBMPTN 2014, Prof. Ganjar Kurnia, Selasa (15/7/2014). Selanjutnya, setelah pengumuman peserta akan melakukan pendaftaran ke kampus tujuan masing-masing. Calon mahasiswa harus menunjukkan Kartu Tanda Bukti Pendaftaran SBMPTN 2014 dan mengikuti segala persyaratan dan waktu yang ditetapkan perguruan tinggi negeri (PTN) bersangkutan.

Universitas Padjadjaran (Unpad) merupakan perguruan tinggi negeri dengan jumlah pendaftar terbanyak pada pelaksanaan SNMPTN dan SBMPTN 2014, dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri lainnya seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

Hal itu diungkapkan Sub Bidang Informasi dan Humas Panitia Lokal Bandung SBMPTN 2014 yang juga Kepala Humas Unpad Bandung, Soni A Nurhakim di sela ujian SBMPTN di kampus ITB, Jalan Ganeca, Bandung, Jawa Barat, Selasa (17/6/2014).

Soni menjelaskan, pendaftar SNMPTN dan SBNMPTN 2014 ke Unpad jumlahnya masing-masing 72.272 dan 78.535 orang. Unpad, kata dia, masih paling banyak pendaftarnya dibandingkan dengan PTN lainnya. Dia merinci, program studi di Unpad berdasarkan jumlah pendaftarnya, yakni Ilmu Komunikasi 6.357 pendaftar; Manajemen 5.070 pendaftar; Akuntansi 3.663 pendaftar; Farmasi 3.620 pendaftar dan; Psikologi 3.298 pendaftar.

Sementara berdasarkan rasio pendaftar dan kuota, program studi di Unpad masing-masing Manajemen 1:113 2; Teknik Informatika 1:74; Akuntansi 1:61; Administrasi Bisnis 1:55 5 dan; Administrasi Negara 1: 55. Sedangkan pendaftar ke ITB, untuk SNMPTN 2014 sebanyak 23.512 pendaftar dan SBMPTN 2014 29.967 pendaftar. Lalu UPI, untuk SNMPTN 2014 sebanyak 48.031 pendaftar dan SBMPTN 2014 berjumlah 52.629 pendaftar. Kemudian, UIN Sunan Gunung Djati, jumlah pendaftar SNMPTN 2014 sebanyak 9.282 orang dan SBMPTN 2014 berjumlah 10.411 pendaftar. “Unpad paling banyak pendaftarnya,” kata Soni.

Di beberapa perguruan tinggi lainnya seperti Universitas Gadjah Mada, jumlah pendaftar SNMPTN 2014 sebanyak 62.875 orang. Lalu Universitas Sumatera Utara 60.308 orang; Universitas Diponegoro 57.527 orang dan; Universitas Brawijaya sebanyak 56.900 pendaftar.40 peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Universitas Jember (Unej), Jawa Timur, dinyatakan gagal. Hal itu disebabkan mereka tidak hadir dalam ujian yang diselenggarakan pada hari Selasa (17/6/2014) kemarin.

“Jadi meskipun mereka masih mengikuti salah satu ujian, baik itu soshum, saintek, maupun Tes Potensi Akademik (TPA), maka dinyatakan gugur. Sebab mereka tidak hadir dalam ujian yang diselenggaran kemarin,” ujar Kepala humas dan protokolo Universitas Jember, Agung Purwanto, Rabu (18/6/2014).

Agung menambahkan, untuk peserta yang mengikuti SBMPTN di Unej tercatat sebanyak 10.772 orang. “Jumlah itu terbagi ke dalam kelompok Sosial Humaniora (Soshum) sebanyak 4.153 orang, kemudian kelompok Sains dan Teknologi (Saintek) sebanyak 4.169 orang, dan kelompok Campuran sebanyak 2.450 orang,” ungkap Agung.

Mengerikan … Kepala Sekolah Jakarta Internasional School Terindikasi Paedofil


Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lidya Freyani Hawadi mengatakan, Kepala Sekolah Jakarta Internasional School (JIS) Timothy Carr terindikasi paedofil. “Timothy Carr atau Tim Carr harus diperiksa karena terindikasi paedofil. Begitu juga dengan wali kelasnya,” ujar Lidya, seperti dilansir kantor berita Antara, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/5/2014).

Pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya melalui pihak kepolisian, tetapi juga dilakukan secara menyeluruh. Menurut Lidya, tudingannya ini didasarkan pada kasus mantan wakil kepala sekolah tersebut, yakni William Vahey, yang merupakan buronan FBI terkait pelecehan seksual pada anak. Sebelumnya, kasus kekerasan seksual menimpa AK, murid TK JIS. Selain AK, kekerasan seksual juga menimpa dua korban lainnya.

“Kasus ini akan mulai disidangkan pada Senin (27/5/2014). Kemdikbud menjadi tersangka kedua karena dianggap lalai. Kami siap menghadapi persidangan itu,” jelas dia.

Polda Metro Jaya menanggapi berita korban kekerasan seksual di Taman Kanak-kanak Jakarta International School (JIS) yang melapor ke Bareskrim Polri. Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, bisa saja dalam pemeriksaan keduanya bertukar saksi untuk melengkapi pemberkasan.

“Jika ada pelapor ke Bareskrim Polri bisa jadi saksi kita, saksi yang sudah kita periksa (di Polda Metro) dapat juga diperiksa kembali di Bareskrim. Keterangan mereka bisa digunakan untuk menyempurnakan berkas kita,” katanya, Jumat (23/5/2014).

Rikwanto menambahkan, dalam penyelidikan kasus, tidak masalah pelapor mengadukan ke dua tempat berbeda. Keduanya, akan sama-sama dilakukan penelusuran. Sedangkan saat ini, lanjutnya, belum ada korban lain yang melapor ke Polda Metro Jaya.

“Pemeriksaan juga belum berkembang ke pihak lain, termasuk pihak JIS,” ujarnya.

Sebelum diberitakan pengacara korban JIS, OC Kaligis mendatangi Polda Metro Jaya, Kamis (22/5/2014). Dia mengatakan bahwa korban lain tindak kekerasan seksual di dalam sekolah itu telah melapor ke Bareskrim Mabes Polri.

Namun, ia enggan menyebutkan berapa banyak dan identitas korban. Hal tersebut, lantaran permintaan dari orang tua korban yang mengatakan permasalahan ini sangat sensitif. Pemeriksaan oleh penyidik, mereka telah mendatangi rumah para korban.

“Dengan berpakaian preman, mereka datang bermain-main dengan anak-anak. Setelah beberapa lama, mereka (anak-anak) akhirnya mengatakan (pelaku) dengan menunjukkan foto ini, foto ini dan foto ini,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, sesuai dengan pengakuan korban, pelaku kekerasan bukan hanya petugas kebersihan alihdaya sekolah, tetapi juga ada oknum lain.

Leony Alvionita Siswi SMP Negeri Tabanan Bunuh Diri Usai UN


Tewasnya siswi SMP Negeri 1 Tabanan Bali, Leony Alvionita, 14 tahun, akibat bunuh diri usai ujian nasional membuat tweeps (pengguna Twitter) berduka. Lewat cuitan, mereka menunjukkan rasa duka dan memanjatkan doa. Salah satu ucapan duka berasal dari akun Twitter @deviiisetianiii. Ia mengatakan, “Slmat jlan bwt Leony Alvionita smoga amal ibadhnya ditrima di Sisinya !! ☹.” Ucapan lain berasal dari akun @sheilayla. Lewat cuitan-nya, ia meminta tweeps untuk mengheningkan cipta. “Mari mengheningkan cipta sejenak utk Leony, siswi yang bunuh diri karena tak bisa kerjakan UN matematika,” ucapnya.

Akun @AyoTolakUN pun tak ketinggalan untuk menyampaikan perasaan duka. Akun yang kerap memberikan komentar sarkas soal ujian nasional itu bahkan berkata bahwa UN seharusnya memberikan harapan, bukan keputusasaan. Tak sedikit juga yang mengritik keputusan Leony untuk bunuh diri. Beberapa tweeps menganggap bunuh diri bukanlah solusi yang tepat. “Bunuh diri bkn solusi. Msh panjang jalan di depan, masih. Tp demi kamu #TolakUN lebih lantang kami suarakan @AyoTolakUN #RIPLeonyAlvionita,” ujar akun @mrKampreto.

Nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh pun juga disinggung dalam cuitan duka kepada Leony. Akun @Nabnaab15, misalnya, meminta Muhammad Nuh untuk tidak tutup mata atas kasus Leony ini “Pak @Mohammad_Nuh_, sudah ada yg jadi korban, apakah bpk masih menutup mata&telinga? :’) #RIPLeonyAlvionita,”ujarnya.

Leony tewas bunuh diri pada Selasa, 6 Mei 2014 lalu sekitar pukul 10.00 seusai menjalani UN Matematika. Ia bunuh diri dengan cara menggantung diri menggunakan dasi seragam sekolahnya. Orang tuanya menduga putrinya itu depresi. Leony sendiri terlihat muram usai menjalani ujian nasional mata pelajaran Matematika.

Polisi mendalami motif bunuh diri seorang siswi SMP Negeri 1 Tabanan, Bali, setelah mengikuti ujian nasional mata pelajaran Matematika pada Selasa, 6 Mei 2014. Selain mengumpulkan keterangan dari para saksi, polisi jmengecek kondisi korban bernama Leony Alvionita, 14 tahun, yang dibawa ke Rumah Duka Kerta Semadi, Denpasar. “Informasi dari tetangga korban, belum jelas motif di balik peristiwa itu,” kata Kepala Kepolisian Sektor Kota Tabanan Komisaris Kardika.

Korban pertama kali ditemukan orang tuanya, Oky, di dalam kamar rumahnya di Jalan Mawar Nomor 51 Tabanan, sekitar pukul 10.00, dalam kondisi leher terikat dasi seragam sekolah. Diduga korban mengalami depresi setelah mengikuti UN hari kedua yang mengujikan mata pelajaran matematika. Orang tua korban sempat bertanya kepada anaknya itu sewaktu pulang dari sekolah mengenai kesulitan ujian mata pelajaran tersebut.

Indra, tetangga korban, mengatakanm begitu ditemukanm korban dilarikan ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Tabanan. Namun, sesampai di rumah sakit, korban sudah tidak bernyawa. Jasad korban kemudian dibawa ke Rumah Duka Kerta Semadi di Jalan Kargo, Denpasar. Penyelidikan polisi antara lain dilakukan dengan memeriksa sejumlah saksi sebelum korban mengakhiri hidupnya.

Sedangkan di Depok, Jawa Barat, sebanyak tujuh siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Asih mengaku gugup dan mulas ketika mengerjakan soal matematika. Mereka yang mengalami keterbatasan pendengaran itu mengeluh soal matematika yang diujikan sangat sulit dan tidak seperti yang diajarkan di kelas. “Susah, saya jadi gugup dan sakit perut,” kata Rifqi, 15 tahun, setelah mengerjakan soal UN. Muhammad Khairulloh, siswa lainnya, bahkan pesimistis bisa mendapatkan nilai baik dalam ujian matematika. “Sepertinya dapat 5, karena susah,” katanya. Padahal, dia sudah belajar keras untuk menghadapi ujian itu. “Rasanya mules, perut saya sakit terus sebelum dan selama ujian,” katanya.

Wakil Kepala Sekolah SLB Dharma Asih Wiwin Meisawani mengatakan peserta UN tahun ini seharusnya berjumlah delapan siswa. Namun satu siswa berhalangan hadir, dan ada kemungkinan akan menjalani ujian susulan pada minggu depan. “H-3 jelang UN dia bilang enggak bisa ikut karena harus ke luar kota,” katanya. Sekolah, kata dia, telah melakukan berbagai persiapan menghadapi UN. “Kami sudah sering beri pelatihan supaya mereka terbiasa dengan soal-soal ujian,” katanya. Meski mengalami keterbatasan pendengaran, dia mengklaim, siswanya mampu mengerjakan soal seperti siswa umum. UN SMP dijadwalkan berlangsung dari Senin lalu hingga Kamis mendatang. Pada hari pertama, mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Indonesia. Hari kedua matematika, ketiga bahasa Inggris, dan terakhir ilmu pengetahuan alam.

Komunitas Pedofilia Diduga Ada Di Jakarta International School


Pengacara korban pelecehan seksual di Jakarta International School, Andi M. Asrun, menduga ada komunitas pedofil di sekolah itu. “Dugaan saja karena pernah ada pedofil buron FBI yang kerja di sana. Jangan-jangan ada komunitas di sekolah itu,” ujar Andi Rabu, 23 April 2014. Buron Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) yang dimaksud Andi adalah William James Vahey, 64 tahun. William adalah seorang predator seks yang beraksi selama empat dekade sebelum meninggal pada 21 Maret 2014. William menjadi buron sejak 1970. Dia menjadi buronan karena kabur dari hukuman percobaan akibat melecehkan enam anak.

William kabur dari satu negara ke negara lain untuk menghindari kejaran FBI. Ia menjadi guru di sekolah-sekolah internasional untuk mencari mangsa baru. Dalam salinan dokumen FBI disebutkan ia sempat bekerja di JIS selama sepuluh tahun dari 1992 hingga 2002. FBI menduga korbannya mencapai 90 lebih. Andi mengaku heran kenapa seorang pedofil buron bisa sampai bekerja di JIS. Dengan kasus petugas kebersihan yang juga menjadi pedofil di JIS selain William, ia menduga ada komunitas pedofil di sekolah yang hingga kini belum terungkap. “Polisi harus coba selidiki. Jangan sampai ada korban-korban lain di sekolah. Kasihan murid sana,” ujarnya.

Tanggapan Andi ini senada dengan keyakinan keluarga korban pelecehan seksual oleh petugas kebersihan di JIS yang belum lama terjadi. Ibu korban yakin ada korban-korban lain selain anaknya. Akun-akun di media sosial yang mengaku sebagai alumni JIS pun berkata bahwa kasus pelecehan seksual bukan hal baru di JIS. Akun anonim itu menyebut guru-guru juga terlibat.

Kepala Sekolah JIS, Timothy Carr, membantah dugaan ada guru-guru pedofil di sekolahnya. Ia menjamin tidak ada satu pun tenaga pengajarnya yang berani menyakiti siswa. “Saya percaya kepada guru dan tidak ada guru yang menjadi tersangka dalam kasus ini,” kata Carr dalam jumpa pers di Hotel Sultan, Jakarta, Senin lalu.

Carr yakin staf-stafnya tak bermasalah karena mereka sudah diseleksi ketat dengan standar internasional. Selain itu, kata Carr, calon pengajar juga harus mendapatkan rekomendasi dari tiga kedutaan besar, yakni Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Satu lagi korban pelecehan seksual di Taman Kanak-kanak Jakarta International School yang melapor ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Menurut Ketua KPAI Asrorun Niam, korban baru tersebut bisa menjadi saksi kunci.

“Korban mengaku pernah melihat korban sebelumnya mengalami hal itu (kekerasan seksual di toilet),” katanya kepada Tempo, Rabu, 23 April 2014. Dia juga mengenali sejumlah orang yang diduga sebagai pelaku. Sambil didampingi psikolog, korban mengaku pernah melihat korban sebelumnya mengalami pelecehan seksual. “Dia kenal pelaku saat ditunjukkan fotonya,” kata Niam. Korban menyebutkan beberapa istilah asing yang merujuk pada pelaku lainnya. “Dugaannya pelaku bukan hanya petugas kebersihan,” katanya.

Atas dasar itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban terkait dengan korban baru ini. “Kami sudah koordinasi dengan LPSK agar dia dilindungi,” tuturnya. Sebelumnya, orang tua dari seorang siswa TK JIS telah lebih dulu melaporkan kekerasan seksual yang dialami anaknya ke KPAI dan kepolisian. Kepolisian telah menetapkan dua tersangka atas nama Virziawan Amin dan Agun Iskandar, petugas kebersihan di sekolah tersebut.

William James Vahey, pedofil buron Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) yang juga bekas guru Jakarta International School, ternyata memiliki modus dan preferensi khusus dalam melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Berdasarkan keterangan dari situs FBI, William biasa beraksi dengan membius mangsanya terlebih dahulu menggunakan pil tidur. Setelah tertidur, anak tersebut dilecehkan.

Catatan FBI juga menyebutkan William kerap mengincar anak-anak berusia 12-14 tahun. Umumnya, anak-anak yang ia incar adalah mereka yang berjenis kelamin pria. Diduga, korban William sudah mencapai 90.

Untuk mendekati siswa laki-laki, James menjadi guru mata pelajaran yang diminati anak laki-laki. Beberapa di antaranya adalah menjadi pelatih basket untuk tim siswa laki-laki, menjadi guru sejarah, dan menjadi guru geografi. “William juga kerap menemani siswa-siswanya dalam kegiatan tur studi yang sampai menginap,” sebagaimana tertulis di catatan FBI.

William beraksi dari 1972 hingga Maret 2014, bulan di mana ia bunuh diri. Selama beraksi, pria asal Amerika Serikat itu berpindah-pindah sekolah untuk mencari mangsa. Total ada sepuluh sekolah yang pernah menjadi tempatnya bekerja. Salah satu dari sepuluh sekolah itu adalah Jakarta International School, Jakarta Selatan. Di sana, ia mengajar dari 1992 sampai 2002.

JIS sendiri sekarang tengah menjadi perhatian publik akibat kasus pelecehan seksual. Seorang siswa TK JIS dilecehkan petugas kebersihan hingga trauma. Orang tua korban pun berencana menggugat sekolah itu serta meminta perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

Pedofilia Kelas Internasional Buron FBI Pernah Mengajar Di Jakarta International School Dengan Korban 90 Anak


Willam James Vahey menjadi buruan Federal of Bureau of Investigation (FBI) dalam kasus pedofilia yang dilakukannya di sekolah berbagai negara. Dalam menjerat korbannya, Vahey yang pernah mengajar di Jakarta International School (JIS) ini memiliki trik tertentu hingga akhirnya para korban terpedaya. Seperti informasi yang didapat detikcom dari website resmi FBI, Rabu (23/4/2014), Vahey yang berprofesi sebagai guru itu menjerat korbannya dengan cara mengajak mereka bepergian ke suatu tempat. Saat mereka lengah, Vahey lalu membuat mereka tak sadarkan diri dengan memberikan obat tidur. Saat pra korban sudah tertidur dan tak sadarkan diri, barulah Vahey melancarkan aksi kejinya.

Dalam data USB milik Vahey yang saat ini sudah berada di tangan FBI, didapatkan gambar para korban yang berumur sekitar 12 hingga 14 tahun terbaring tak berdaya. Dalam file tersebut, Vahey mengakui semua perbuatannya sebagai pelaku kelainan seksual dengan menulis secara lengkap lokasi hingga waktu pencabulan.

Vahey sendiri telah tewas bunuh diri pada 21 Maret 2014. Namun FBI tak berhenti melakukan penyelidikan untuk menemukan identitas siswa sekolah yang pernah menjadi korban Vahey. FBI pun berpesan untuk segera melaporkan kepada mereka apabila ada yang merasa pernah menjadi korban pelaku kelainan seksual ini.

Pria 64 tahun itu pernah mengajar sebagai guru di JIS dalam kurun waktu 1992 hingga 2002. Sebelum di JIS, dia pernah menjadi guru di berbagai sekolah di 9 negara lain seperti London, Saudi Arabia, Iran, dan Spanyol.Jakarta Internasional School (JIS) saat ini sedang mendapatkan sorotan publik karena kasus izin TK yang tak resmi serta pelecehan seksual yang dilakukan oleh cleaning service mereka. Namun belakangan diketahui, seorang pelaku pedofilia buruan Federal of Bureau Investigation (FBI) pernah bekerja di sekolah ini dalam kurun waktu 1992 hingga 2002.

Menurut informasi yang diambil detikcom dari situs resmi FBI, pelaku tersebut bernama William James Vahey. Pria berumur 64 tahun itu sempat dicari FBI atas tuduhan kasus kekerasan seksual internasional atau pedofilia. Walaupun Vahey sudah bunuh diri pada 21 Maret tahun ini, namun dia pernah tercatat sebagai guru di berbagai sekolah swasta di berbagai negara sejak 1972.

Vahey sendiri dalam data FBI pernah mengajar sebagai guru di JIS selama 10 tahun. Sebelum di JIS, pria ini pernah tercatat sebagai guru di Saudi Aramco Schools di Dhahran, Saudi Arabia dalam kurun waktu 1980 hingga 1992. Setelah itu dia masih terus melanglang buana sebagai guru di beberapa negara seperti London, Spanyol, Nikaragua bahkan Iran.

Vahey melancarkan aksinya sebagai seorang pedofil dengan cara membuat korbannya yang berumur sekitar 12 hingga 14 tahun tertidur atau tak sadarkan diri. Dari data yang didapat FBI melalui USB milik Vahey, ada 90 orang korban yang saat ini identitasnya masih terus dicari. Jakarta International School (JIS) diduga melakukan pembiaran selama bertahun-tahun atas pelecehan seksual terhadap para muridnya. Setelah kasus itu terungkap ke media, di media sosial berhamburan pengakuan tentang dugaan pelecehan di sana.

Adalan Noorani, pemilik akun Path, yang mengungkapkan kebobrokan JIS selama bertahun-tahun. Noorani menyatakan kalau guru-guru di JIS sering melakukan pelecehan seksual kepada siswanya. “JIS. How ironic. Those western teachers have been sexually abusing the jis students for years and years and no one gets caught and no one daret to speak. Some sick cleaner finally reveals just how unsafe schools are but what parents don’t know is just how sick those teachers can get. Trust me, I Spent nearly all my Indonesian life in JIS.”

Lalu status Noorani itu dikomentari oleh seorang temannya, Khe. “My friend who went to JIS said the same thing earlier.” Noorani kembali menjawab, itulah penyebab anak JIS dikenal nakal dan binal. “My math teacher my thetre teacher my track and field coach that disgusting Frenc f*** with a pony tail, my Spanish teacher.”

Noorani menyebutkan guru-guru di JIS sering melakukan hal yang menjijikkan dengan rekan satu profesi di sekolah swasta internasional yang terkenal bergengsi itu. (Baca: Pedofil Buron FBI Pernah 10 Tahun Jadi Guru di JIS)

Kenyataan lain, seperti dikutip dalam sebuah harian The Jakarta Globe, korban lain adalah seorang anak berusia 9 tahun diperkosa di JIS yang kini telah pindah ke Bali. “One even told my husband that his 9 year old daughter was raped a year ago and that he had moves the girl to Bali.” Kutipan kalimat itu diucapkan oleh ibu korban pelecehan seksual di Taman Kanak-kanak JIS dalam pertemuan orang tua murid JIS beberapa hari lalu.

Kepala sekolah JIS, Timothy Carr, dalam jumpa pers pada 21 April 2014 mengatakan bahwa guru di JIS tidak ada yang terlibat dalam kasus pelecehan di sekolah yang berlokasi di Pondok Indah, Jakarta, itu.

TK Jakarta Internation School Ternyata Tidak Memiliki Izin dan Salahkan Orangtua Korban Sodomi


Kasus kejahatan seksual yang dialami siswa di TK JIS dinilai berpola. Alasannya, jumlah pelaku pencabulan lebih dari satu orang. “Dari cerita korban, pelaku pencabulan dilakukan oleh satu perempuan dan empat laki-laki. Ini artinya kejahatannya terpola,” kata kuasa hukum korban, Andi M. Asrun, saat dihubungi, Kamis, 17 April 2014.

Meskipun dari cerita korban jumlah pelaku ada lima, Asrun menduga jumlah pelaku bisa lebih dari itu. Apalagi setelah terungkapnya satu korban ke permukaan, ada indikasi siswa lainnya menjadi korban serupa. Dugaan ini muncul setelah sekitar 100 orang tua siswa berkumpul pada Selasa lalu membahas kasus tersebut. “Sudah ada indikasi ada korban lain,” kata Asrun. Dia pun mengaku siap membantu korban-korban lainnya untuk menuntut pihak JIS.

Tuntutan terhadap JIS dilakukan karena adanya dugaan kelalaian yang dilakukan pihak sekolah sehingga terjadi kasus pencabulan terhadap siswa. Contoh kelalaian yang dimaksud adalah tidak adanya pendampingan guru saat anak ke toilet. Guru juga tidak memperhatikan apa yang terjadi saat anak keluar dari toilet. “Seharusnya kan diperhatikan saat siswa keluar dari toilet kenapa ada perubahan, misalnya terjadi memar atau siswa jadi bingung,” kata dia.

Sisi keamanan sekolah JIS juga dinilai bermasalah. Menurut Asrun, tidak ada CCTV yang terpasang untuk menjamin keamanan siswa-siswa TK di JIS. “Pola keamanannya tidak bagus, sekolah tidak punya CCTV. Ini menunjukan sekolah internasional itu tidak profesional,” kata Asrun.

Sebelumnya, seorang siswa TK JIS menjadi korban pencabulan oleh dua petugas kebersihan di sekolah itu. Ibunda korban mengatakan putranya yang berusia 5 tahun berkali-kali dicabuli para pelaku. “Saya mulai mencium gelagat aneh pada anak saya, seperti jadi lebih pendiam, berat badannya turun, dan suka mengigau setiap tidur sejak Februari lalu. Diduga anak saya sudah disiksa dan dilecehkan sejak Februari,” ujar ibu korban, Senin, 14 April 2014, di Jakarta.

Tidak jadi mendatangi kantor Polisi Daerah Metro Jaya, siswa taman kanak-kanak internasional yang menjadi korban pelecehan pada Selasa, 15 Februari 2014 mendatangi lokasi sekolahnya di Jakarta. Korban didampingi ibunya mengunjungi sekolah untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat. Pengacara korban, Andi Muhamad Asrun, kepada media menuturkan korban tidak lama berada di sekolah. “Bahkan, dia enggak mau turun dari mobil karena takut,” kata Andi, Selasa, 15 April 2014.

Pihak sekolah bersama sejumlah anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia kemudian menemui korban di dalam mobil. “Dia lalu diberikan sejumlah foto petugas kebersihan yang bekerja di sekolah. Tidak ada tim penyidik polisi yang ikut, ” Andi berujar. Saat ditunjukkan sejumlah foto, kata Andi, korban menunjuk foto dua orang pria. Kedua pria itu bukanlah tersangka yang kini ditahan di Polda Metro Jaya. “Tadi dia tidak ragu menunjuk fotonya dan terlihat cukup yakin,” kata Andi. Menurut dia, kedua orang yang ditunjuk ini menguatkan dugaan bahwa pelaku berjumlah lebih dari tiga orang. “Ini kemajuan.”

Meskipun begitu, Andi belum bisa menyebutkan identitas kedua terduga tersebut. “Yang pasti keduanya juga petugas kebersihan sekolah. Saat ini polisi juga sudah menangkap keduanya untuk dimintai keterangan,” Andi melanjutkan. Adapun terkait dugaan adanya korban lain, Andi belum bisa memastikan. Namun, pihak sekolah sudah menemui para orang tua murid untuk menjelaskan masalah ini.

Pengacara keluarga korban sodomi, Andi M Asrun mengatakan Jakarta International School (JIS) tidak memberikan bantuan dalam bentuk apapun terhadap korban. Menurut dia, pihak JIS malah menyalahkan keluarga korban yang berani tampil di media. “Tidak ada bantuan dari mereka (JIS), tidak ada bantuan, mereka omong kosong aja, tidak ada itu bantuan itu,” ujar Andi kepada wartawan di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu, (16/4).

“Mereka malah menyalahkan kami dengan menghadirkan wartawan kemarin ke sekolah. Mereka bilang kenapa orangtua wajahnya ada di media dan sebagainya, kan ini kasus publik. Jadi mereka omong aja itu,” tambahnya. Meski demikian, dia pun akan segera melaporkan kejadian ini ke Polda Metro Jaya. Sebab, kata dia, pihak JIS sudah memiliki unsur pelanggaran pidana dan harus ditindak tegas oleh pihak yang berwajib. Menurutnya sekolah yang bertaraf internasional itu termasuk ilegal tidak tercantum dalam SK Kementerian Pendidikan dan Budaya.

“Harus dituntut, pelanggaran pidana juga. Kami minta polisi agar segera bertindak, kalau perlu dikasih police line itu sekolah ilegal, polisi harus bertindak,” tandasnya. “Pemerintah harus menindak tegas ini, serta mencari tahu, siapa penyelenggara sekolah ini dan keluarga meminta sekolah itu ditutup, dan ganti rugi juga sekalian. Karena sekolah itu ilegal, apa lagi sudah ada korban,” imbuhnya.

Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini di Jakarta Internasional School dinilai ilegal. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan, Lidya Freyani, mengancam akan menutup sekolah tersebut. “Jika izinnya tidak diurus, maka sekolah itu harus ditutup,” ujar Lidya kepada wartawan, 16 April 2014.

Lidya menjelaskan, izin yang diberikan kepada JIS selama ini sebenarnya hanya untuk penyelenggaraan pendidikan tingkat dasar dan menengah, bukan untuk PAUD. Untuk menghindari sanksi pembekuan, ia meminta pihak sekolah untuk sesegera mungkin mengurus proses perizinan. Temuan ini juga mendorong pihak kementerian untuk membentuk tim audit terhadap JIS. Tim yang terdiri dari perwakilan pihak kementerian dan dinas pendidikan itu akan mengevaluasi sejumlah aspek kelayakan sekolah seperti proses penyelenggaraan pendidikan, kurikulum, kompetensi lulusan dan tenaga pengajar.

“Kami ingin memastikan peraturan yang dikeluarkan pemerintah ditaati oleh pihak JIS,” ujarnya. Menurut Lidya, pelanggaran izin penyelenggaraan PAUD juga banyak ditemui pihak kementerian. Tercatat setidaknya ada 111 sekolah PAUD di seluruh Indonesia yang belum mengantongi izin.

Lidya enggan mengomentari ihwal kekerasan seksual yang dialami salah satu siswa Taman Kanak-Kanak sekolah tersebut. Ia mempercayakan penyelesaian proses hukum kasus tersebut kepada pihak kepolisian. “Kami lebih concern ke masalah proses belajar-mengajar, dan peserta didiknya,” kata dia.

Pihak sekolah memilih bungkam ketika dicecar wartawan ihwal kasus kekerasan seksual yang dialami siswanya. “Kami sudah sampaikan semuanya dalam keterangan pers barusan,” ujar pimpinan sekolah tersebut, Tim Carr, usai memberikan keterangan pers di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 16 April 2014.

Daftar Tokoh Tokoh Indonesia Yang Melakukan Plagiat


Anggito Abimanyu menyatakan mundur sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada pada Senin, 17 Februari 2014. Langkah ini ia ambil di tengah tudingan plagiarisme yang menunjuk ke arahnya. Anggito mengaku keliru mencantumkan referensi dalam karya tulisnya, tapi ia menyangkal telah menjiplak tulisan Hotbonar Sinaga disalah satu surat kabar. Jauh sebelum tuduhan plagiarisme mendera Anggito, sejumlah tokoh terkenal sempat terbelit tudingan serupa. Berikut ini daftarnya.

1. Chairil Anwar (1949)
Penyair Chairil Anwar pernah dituduh menjiplak karya tulis. Tak tanggung-tanggung, yang menuduh Hans Bague Jassin melalui tulisannya di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat membahas puisi Kerawang-Bekasi. Kritikus sastra yang juga bergelar Paus Sastra Indonesia itu membandingkan puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat. Jassin tidak menyalahkan Chairil. Menurut dia, meskipun mirip, tetap ada rasa Chairil di dalamnya. Sedangkan sajak MacLeish, menurut Jassin, hanyalah katalisator penciptaan. Namun tanggapan Chairil bisa berbeda, apalagi Jassin menyebut tindakan Chairil meniru sajak MacLeish karena butuh uang untuk biaya berobat ke dokter. Ketegangan mereka sempat memuncak pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta. Chairil dan Jassin sempat berkelahi.

2. Yahya Muhaimin (1992)
Ismet Fanany, ahli pendidikan asal Batusangkar, Sumatera Barat, yang bermukim di Amerika Serikat menerbitkan buku tentang plagiat. Buku terbitan CV Haji Masagung Jakarta itu berjudul Plagiat-Plagiat. Isinya tentang plagiat Yahya Muhaimin. Disertasi Yahya dituduh menjiplak tulisan beberapa ahli. The Politics of Client Businessmen, disertasi Yahya yang dipertahankan di MIT Cambridge, Amerika Serikat, 1982, dibandingkan dengan Capitalism and The Bureaucratic State in Indonesia: 1965-1975, judul asli tesis Robison di Universitas Sydney 1977. Menurut Ismet, kemiripan itu baru satu sumber. Masih banyak lagi kemiripan dengan artikel lain. Yahya sendiri menjelaskan, “Mungkin dia memakai standar plagiat yang berbeda dengan yang saya anut.” Dia mengakui disertasinya mengutip banyak fakta dan pendapat sejumlah ahli yang memang disebut Fanany. “Tapi saya mencantumkan sumbernya,” kata Yahya. Atas tudingan Fanany itu, Yahya tak berpikir menyerang balik.

3. Amir Santoso (1979)
Ia dituduh membajak karya tulis ilmiah dari berbagai kalangan, bahkan dari kalangan mahasiswanya sendiri. Amir juga mencaplok karya intelektual pakar lain. Apa yang dilakukan Amir Santoso itu dalam rangka mencapai gelar profesor (guru besar Universitas Indonesia).

4. I Made Kartawan (Desember 2008)
Dosen Institut Seni Indonesia Denpasar, I Made Kartawan, dituduh menjiplak. Tesis Kartawan pada 2003 yang berjudul Keragaman Laras Gong Kebyar di Bali sama persis dengan laporan penelitian berjudul Keragaman Laras (Tuning Systems) Gambelan Gong Kebyar hasil penelitian Prof Bandem, Prof Rai, Andrew Toth, dan Nengah Suarditha yang dilakukan pada 1999 dari Universitas Udayana.

5. Ade Juhana (Januari 2010)
Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati itu menyelesaikan tesis doktornya dengan membajak tesis Prof Dr H.M.A. Tihami, MA, Rektor Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, dan buku Mohamad Hudaeri M.A., dosen dan Ketua Lembaga Penelitian IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten. Sayangnya, ini hanya laporan surat pembaca di harian Kompas, jadi tidak terdengar kelanjutan kasusnya.

6. Anak Agung Banyu Perwita (Februari 2010)
Anak Agung Banyu Perwita, profesor Universitas Katolik Parahyangan, dituding menjiplak dalam artikelnya yang dimuat di harian nasional, The Jakarta Post. Harian itu menilai tulisan Banyu telah menjiplak sebuah jurnal ilmiah di Australia yang ditulis Carl Ungerer. Rapat senat Universitas yang berlangsung enam jam akhirnya memutuskan untuk mencopot seluruh jabatan guru besar bidang hubungan internasional Universitas Parahyangan itu. Banyu Perwita memilih mengundurkan diri.

7. Heri Ahmad Sukria (Juli 2010)
Dosen Institut Pertanian Bogor, Heri Ahmad Sukria, disomasi Jasmal A. Syamsu dari Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan. Somasi dilayangkan terkait dengan dugaan plagiarisme buku berjudul Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia. Buku tersebut diterbitkan IPB Press dengan penulis Heri Ahmad dan Rantan Krisnan. Menurut sang Profesor, terdapat tulisan dan data yang diambil dari artikelnya.

8. Siti Fadilah Supari (2004)
Menteri Kesehatan ini pernah dituduh melakukan plagiat. Ketika itu Fadilah menyajikan seminar berjudul Cholesterol-Lowering Effect of Soluble Fibre as an adjunct to Low Calories Indonesian Diet in Patients with Hypercholesterolamia di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, 29 Oktober 2002. Apa yang dia sajikan mirip dengan karya James W. Anderson berjudul Long-term Cholesterol Lowering Effect of Psyllium as An Adjunct to Diet Therapy in The Treatment of Hypercholesterolamia, yang dimuat di American Journal of Clinical Nutrition volume 71 tahun 2000. “Saya tahu, kok, batasan plagiat,” kata sang Menteri, berkilah. Plagiat, menurut Fadilah, terjadi apabila makalah yang dipersoalkan dimuat di majalah atau jurnal ilmiah. “Ini kan tidak. Saya hanya mempresentasikan di hadapan sejumlah dokter dan kalangan awam.”