Category Archives: Pendidikan

Sejumlah Pelajar Situbondo Kreatif Mengadakan Arisan Seks Mingguan Dengan Hadiah Berhubungan Intim Dengan Pelacur

Sejumlah pelajar di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, diduga membuat kelompok arisan untuk bisa berkencan dengan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi. Mereka mengumpulkan iuran Rp 5.000 per bulan dan mendapat jatah bergilir untuk bisa berkencan dengan PSK.

Dugaan ini disampaikan sukarelawan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Situbondo, Heru Hertanto. Menurut Heru, cerita itu dia peroleh saat melakukan sosialisasi mengenai bahaya HIV/AIDS ke sejumlah lokalisasi. Saat itulah seorang PSK berisial JL, 22 tahun, bercerita tentang arisan seks pelajar itu.

“Dia cerita pelanggan tetapnya adalah pelajar,” kata Heru kepada Tempo, Kamis, 6 Desember 2012.

Menurut cerita JL, ada tujuh pelajar yang menjadi peserta arisan. Mereka berasal dari sejumlah SMA dan SMK di Situbondo dengan rentang usia 16-17 tahun. Dengan iuran Rp 5.000 per bulan, terkumpul Rp 75 ribu yang akan diterima pemenang arisan.

Uang itulah yang dipakai untuk melakukan melakukan hubungan seksual dengan PSK berinisial JL itu. “Mereka melakukannya di lokalisasi,” kata Heru. Arisan seks itu, kata Heru, sudah berlangsung lebih dari satu tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Fenomena macam ini turut menyumbang tingginya angka pengidap HIV/AIDS di Indonesia.

Sejumlah pelajar SMA di Situbondo, Jawa Timur, yang mestinya giat belajar demi masa depan, justru menggelar arisan seks. Pemenang dalam arisan tersebut dihadiahi kencan dengan pekerja seks komersial (PSK).

Parahnya, para pelajar tersebut diduga terjangkit HIV/AIDS. Sebab, para PSK yang di-booking mereka terindikasi virus tersebut. Hal ini diketahui setelah Komisi Pemberantasan HIV/AIDS (KPA) bersama Dinas Kesehatan Situbondo, melakukan pendataan dan tes cepat ke sejumlah PSK yang berada di lokalisasi Situbondo.

Data yang dihimpun KPA Situbondo, saat ini ada 21 PSK yang terindikasi penyakit HIV/AIDS. Salah satu PSK yang terjangkit virus berbahaya itu, berinisial YL.

Berdasarkan testimoni dari seorang PSK, dia mengaku sering dibooking untuk arisan seks yang digelar setiap pekan oleh sejumlah pelajar SMA di Situbondo. Sementara itu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Situbondo menelusuri kebenaran testimoni PSK tersebut.

“Kami akan segera memanggil semua kepala SMA dan SMK di Situbondo untuk menindaklanjuti masalah ini, agar tidak meluas. Informasi dari data yang dihimpun KPA Situbondo tersebut jelas mencoreng dunia pendidikan, khususnya di Jawa Timur,” kata Sekretaris Dispendik Situbondo, Ateng Zailani saat dikonfirmasi, Kamis (6/12).

Pihaknya mengaku baru mengetahui masalah tersebut. Karenanya, ia mengaku akan mengambil tindakan cepat untuk mengantisipasi penyebaran virus berbahaya tersebut, agar tidak bertambah meluas.

“Kejadian ini jelas menjadi racun bagi generasi muda, apalagi dilakukan saat mengenakan seragam. Bersama kepala Sekolah, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) serta Kepala Seksi SMA dan SMK, akan kita ajak untuk menyelidiki masalah ini,” tegas dia.

Kasus arisan seks pelajar SMA di Situbondo, Jawa Timur, yang berhadiah ‘main’ dengan pekerja seks komersial (PSK) menggegerkan Jawa Timur. Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur langsung menghubungi Kadisdik Situbondo.

Kadisdik Jawa Timur Harun mengatakan, dirinya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Situbondo, untuk mengumpulkan semua Kepala Sekolah, baik di SMA Negeri maupun swasta. Hal ini untuk mencari kebenaran informasi tersebut.

“Yang jelas, jika informasi itu terbukti benar, dan kami sudah bisa menemukan para pelakunya, serta terbukti terjangkit virus HIV/AIDS, kami akan memberi tindakan tegas dengan mengeluarkan mereka dari sekolah,” tegas Harun, Kamis (6/12).

Namun lanjut dia, kabar ini baru sebatas testimoni dari si PSK, belum bisa dibuktikan kebenarannya. “Jadi kita tidak bisa memberi tindakan sebelum memastikan kebenaran itu,” kata dia.

Sementara soal penilaian dari pengamat soal lemahnya sistem pendidikan moral di lingkungan formal, Harun tidak menyangkalnya.

“Memang, saat ini pendidikan hanya sebatas memberi pendidikan formal. Tapi sekolah kan memberi win-win solution. Untuk masalah pengembangan potensi diri si murid, itu dilakukan oleh individu masing-masing. Nah di sinilah peran sekolah dan keluarga untuk bekerjasama mendidik moral pelajar, jadi sekolah tidak bisa berdiri sendiri dalam mengembangkan potensi murid,” elak dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus arisan seks di kalangan pelajar SMA di Situbondo ini terkuak, ketika Komisi Pemberantasan HIV/AIDS (KPA) bersama Dinas Kesehatan Situbondo melakukan pendataan dan melakukan test cepat ke sejumlah PSK yang berada di lokalisasi Situbondo. Berdasarkan testimoni dari seorang PSK, dia mengaku kalau pernah di booking untuk arisan seks yang digelar setiap pekan oleh sejumlah pelajar SMA tersebut.

Dan dari data yang dihimpun, sejumlah PSK yang perah dibooking untuk arisan seks ini, terjangkit virus HIV/AID. Jadi dimungkinkan, sejumlah pelajar yang terlibat arisan seks ini, diduga juga terjangkit virus mematikan tersebut.

Dunia pendidikan di Jawa Timur pun mengerang. Dinas Pendidikan di Situbondo, mengambil tindakan cepat dengan memanggil semua Kepala SMA dan SMK di Situbondo untuk menindaklanjuti masalah tersebut, agar tidak meluas. Informasi dari data yang dihimpun KPA Situbondo tersebut, menurut mereka jelas mencoreng dunia pendidikan.

Pelajar SD dan SMP Spontan Ramai Ramai Menari Erotis Untuk Isi Acara Dalam Festival Musik

Maksud hati hendak melestarikan musik tradisi di kalangan pelajar, sebuah festival musik tradisi pelajar se-Kota Mataram yang digelar Dikpora Kota Mataram, justru diwarnai dengan tarian berbau erotis yang belum pantas untuk ditonton apalagi dimainkan kalangan pelajar.

Tabuhan gendang dan lengking suara suling yang dimainkan sejumlah pelajar menghentak ruang sanggar tari taman Budaya Mataram Rabu (29/11/2012) siang itu.

Penonton yang didominasai anak-anak pelajar SD dan SMP langsung bergoyang mengikuti irama musik.

Dua orang penyanyi melantunkan lagu “Ale-ale”, sebuah lagu berbahasa Sasak yang cukup dikenal luas di Pulau Lombok. Syair lagu tak begitu penting, tapi irama musik yang menghentak dan goyangan dua orang penari mengajak beberapa rekan sesame pelajar lainnya untuk mau ke tengah arena dan ikut bergoyang.

Sayangnya, goyang penyanyi dan penari yang masih di bawah umur ini terjebak mengikuti gaya penari di televisi yang terkesan erotis dan selama ini mengundang pro dan kontra.

Setidaknya ada tiga lagu yang dimainkan kelompok pelajar itu dan ketiga lagu itu selalu dibarengi dengan goyangan yang belum pantas mereka lakukan.

Akan tetapi sejumlah guru dan panitia yang ada di arena itu hanyabisa terdiam. Sebagian tampak tersenyum, sebagian lagi ikut bergoyang dan bertepuk tangan menyemangati.

“Saya sendiri tak bisa menerima tarian yang dilakukan anak-anak itu. Sebenarnya itu di luar festival. Mereka hanya diminta mengisi kekosongan acara sambil menunggu pengumuman juri. Tapi saya kan bukan panitia,” kata Andreas Suwandi, salah seorang guru pendamping peserta festival.

Musik “Ale-Ale” yang dimainkan salah satu kelompok pelajar hari itu adalah pengisi waktu lowong saat dewan juri tengah berembuk menentukan para penyaji terbaik.

Acara intinya bertajuk “Festival Musik Cilokak dan Gule Gending, Pelajar SD, SMP, SMA/ SMK se-Kota Mataram”. Ada belasan kelompok musik pelajar yang ikut ambil bagian dalam festival itu.

Terkait tarian anak-anak yang erotis di sela festival tersebut, Made Swatika Negara, Kabid PNFI Dikpora Kota Mataram, mengaku kecolongan.

“Itu di luar kontrol saya. Kalau saya lihat, pasti saya minta dihentikan. Tapi, itu di luar agenda acara festival ini. Itu di luar kontrol saya,” katanya.

Menurut Swastika, semua itu bisa terjadi karena pengaruh hiburan yang diterima anak-anak melalui televisi.

“Saya benar-benar tidak tahu, tapi itu semua terjadi karena tontonan anak-anak yang selama ini juga tidak terbendung, termasuk tontonan di televisi. Festival ini untuk melahirkan penyaji terbaik di bidang musik tradisi dan ini merupakan program tahunan. Masukan tadi akan menjadi bahan evaluasi kami,” katanya.

Abdul Hamid Hamzah, salah seorang seniman musik tradisi Lombok yang juga bertindak sebagai salah seorang dewan juri festival menyatakan bahwa musik Ale-Ale bukanlah music tradisi.

“Musik Ale-ale ini belum ada KTP-nya,” kata Hamid. Menurut Hamid kemunculan musik dan tarian Ale-ale dalam festival bagi pelajar itu bukanlah kesalahan para pelajar, melainkan tanggung jawab para guru dan pembina musik di sekolah mereka.

“Kalau saya tidak menyalahkan anak-anak. Anak-anak itu kan hanya menerima, yang punya peran adalah bapak dan ibu guru pembinanya,” ujar dia.

Festival Musik Cilokak dan Gule Gending, Pelajar SD, SMP, SMA/ SMK se-Kota Mataram, terbilang kegiatan yang positif untuk menumbuhkan kecintaan kalangan pelajar terhadap seni tradisi di daerah mereka, sayang jika acara itu harus tercemari budaya yang tidak pantas bagi kalangan pelajar.

“Mereka anak-anak didik yang kelak akan menjadi calon insinyur musik, insinyur vokal, insinyur tari. Kalau tidak dari sekarang kita benahi, mungkin kita akan terlambat,” kata Abdul Hamid.

Hore Kini Tidak Ada Lagi Pelajaran IPA dan IPS Di SD Sekolah Dasar

Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tak akan diajarkan lagi di tingkat Sekolah Dasar tahun depan. Keputusan ini berdasarkan pada pengembangan kurikulum baru yang bakal diterapkan mulai tahun ajaran 2013-2014.

“Bukan berarti tidak ada pelajaran IPA dan IPS, tetapi metodenya sudah diubah menjadi metode tematik integratif,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, di kantor wakil presiden, Jakarta, Selasa, 13 November 2012.

Menurut Nuh, metode tematik integratif merupakan salah satu ciri kurikulum baru untuk SD. Melalui metode ini, IPA dan IPS dijadikan sebagai materi pembahasan pada semua mata pelajaran. “Prosesnya, tema-tema yang ada pada dua pelajaran itu diintegrasikan ke dalam sejumlah mata pelajaran,” ujarnya.

Saat ini, terdapat 10 mata pelajaran untuk SD, yaitu pendidikan agama; pendidikan kewarganegaraan; bahasa Indonesia; matematika; IPA; IPS; seni budaya dan keterampilan; pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan; muatan lokal; serta pengembangan diri.

Adapun tahun depan, hanya tersisa 6 mata pelajaran, yakni pendidikan agama; pendidikan pancasila dan kewarganegaraan; bahasa Indonesia; matematika; seni budaya dan prakarya; serta pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan.

“IPA menjadi materi pembahasan pelajaran bahasa Indonesia, matematika, dan lain-lain. IPS menjadi materi pembahasan pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, dan lain-lain,” ucap Nuh.

Ia mencontohkan, seorang guru bahasa Indonesia bisa menjelaskan fenomena alam yang kemudian dikaitkan dengan IPA. Misalnya tema tentang sungai. “Sungai itu ada airnya, rumusnya H2O, bisa mengalir karena ada perbedaan tekanan, memiliki derajat kejernihan, tercemar kotoran, dan seterusnya” kata Nuh. “Satu mata pelajaran bisa dikaitkan kemana-mana.”

Dengan begitu, menurut Nuh, anak-anak didik di tingkat SD akan memiliki kemampuan yang utuh. ” Anak-anak SD tidak akan mendapat pendekatan yang terpisah-pisah,” ujar dia.

Adapun hingga kini penerapan kurikulum baru itu masih dimatangkan untuk menentukan sasaran awalnya. Pilihan pertama adalah diterapkan di kelas-kelas tertentu, misalnya kelas 1, 3, dan 5. “Tidak semua kelas, tapi di seluruh sekolah di Indonesia,” ucap Nuh. Sedangkan pilihan kedua adalah di kelas tertentu dan di sekolah tertentu.

Penerapan kurikulum ini rencananya bakal diuji publik pada akhir bulan ini. Tujuannya adalah mendapatkan masukan dari berbagai kalangan masyarakat.

Dominic Brian Remaja Asal Bali Pecahkan Rekor Dunia Guinness World Records Mengingat 84 Angka Dalam 1 Menit

Remaja asal Denpasar, Dominic Brian, 15 tahun, berhasil memecahkan rekor dunia Guinness World Records (GWR) yakni mengingat 84 angka dalam 1 menit. Brian memecahkan rekornya sendiri, yang sudah bertengger sejak 16 Agustus 2009 lalu, mengingat 76 angka dalam 1 menit. “Upaya kali ini melewati proses panjang dan dramatis,” kata Gidion Hindarto, ayah Dominic, Minggu, 16 September 2012.

Pemecahan rekor berhasil dilakukan pada Jumat malam, 14 September 2012. Padahal, 2 hari sebelumnya, Dominic sudah diupayakan memecahkan rekor di depan sekitar 2.000 peserta Kingdom Leadership Conference dari berbagai pelosok Tanah Air.

Mereka berharap turut menyaksikan Brian mencoba mengingat 100 angka dalam 1 menit. Sayangnya, hasil terbaik yang diperoleh 73 angka, masih di bawah rekor sebelumnya.

Rekor akhirnya sukses dipecahkan pada larut malam, pukul 23:00, dimana secara fisik maupun mental Brian sudah kelelahan. Sepuluh menit sebelumnya, ia gagal untuk yang ketiga kalinya, masih ditambah lagi dengan beberapa kali gangguan suara dan lampu yang menyala dan mati.

Dalam pemecahan rekor itu, pihak Guinness secara resmi diwakili oleh 2 saksi yaitu Dr Ir Bob Foster MM, Direktur Utama Bimbel Ganesha Operation, dan Rev Dr Harry Sudarma, Presiden Sekolah Tinggi Teologi Bandung.

Dengan prestasi itu, Dominic kini telah mengkoleksi 3 rekor dunia, 2 dari Guinness World Records, “Mengingat 84 dalam 1 menit”, “Mengingat 216 angka binari 0 dan 1 dalam 1 menit”, dan 1 Record Holders Republic “Mengingat 90 angka dalam waktu 1 menit, secara urut depan ke belakang dan sebaliknya maupun acak. Aksi kepiawaian Brian dalam mengingat angka sudah dikenal luas. Saat berita ini ditulis, sudah belasan ribu orang menyaksikannya di YouTube.

Selain baru saja menerbitkan buku dan memecahkan rekor dunia, remaja yang sudah 5 tahun homeschooling ini, bersama ayahnya, tengah mempersiapkan buku berikutnya di tahun 2012 ini. Buku berjudul Cerdas Homeschooling ditujukan bagi para orang tua agar lebih menyadari peran mereka, sekalipun anak-anak mereka sekolah di sekolah formal. Seberapa banyak peran orang tua dalam mendidik anak jelas akan menentukan sukses anak, dan sayangnya banyak orang tua masih belum memahami hal ini.

Di penghujung 2012 nanti Brian juga telah mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade memori dunia World Memory Championship (WMC) di London, Inggris. Tahun 2011 lalu, di WMC Cina, Brian bertanding dengan 120 atlet memori dari 20 negara. Ia sukses mengharumkan nama bangsa, sebagai atlet pertama Indonesia yang memperoleh medali di ajang bergengsi tersebut sekaligus terpilih mendapat penghargaan masuk Top 10 Junior.

Menjelang Tahun Ajaran Baru Pedagang Buku Dadakan Untung Besar

Menjelang tahun ajaran baru dan siswa masuk sekolah pekan depan, pedagang buku dan alat tulis di beberapa daerah meraup berkah. Seperti di Kota Serang dan Cilegon mengaku meraup untung ratusan ribu rupiah per harinya. Pedagang dadakan ini menjajakan dagangannya di atas trotoar ataupun numpang didepan toko.

Menurut penjual buku, omset mereka meningkat dibanding hari biasa, bahkan keuntungan penjualan hampir mencapai 70 persen. Pembeli beranggapan, membeli diemperan harganya bisa ditawar dan relatif lebih murah dibanding belanja di toko.

Wahab, 32, salah satu pedagang buku dan alat tulis di pusat pertokoan Royal, Kota Serang, mengatakan, untuk tahun ini penjualan cukup bagus, bahkan dalam sehari bisa menjual 20-30 paket buku tulis. Wahab mengakui jika alat tulis yang dijualnya lebih murah ketimbang yang ada di toko-toko.

”Biasanya kalau menghadapi tahun ajaran baru, banyak pembeli. Mereka juga lebih memilih emperan karena harganya yang lebih murah. Lumayanlah pak, sehari bisa menjual 20-30 paket buku tulis,” ujar Wahab, Kamis (12/7).

Tidak hanya buku tulis, menurut Wahab, pembeli juga membeli sampul buku dan alat-alat tulis lainnya. Harga buku tulis dijual antara Rp 10.000 hingga Rp 30.000 satu pak atau berisi 10 buah buku tulis.

Pedagang lainnya, Mahmud, 40, asal Kec. Jombang, Kota Cilegon mengaku, harga buku dan alat tulis setiap tahunnya tidak berbeda jauh. “Jadi buku-buku sisa tahun ajaran lama bisa juga dijual dengan harga murah. Untuk tahun ini, kami menjual bisa mencapai 50-60 perpaketnya,” ujar Mahmud seraya menjelaskan, buku-buku itu dibelinya dari Jakarta dengan harga grosiran.

Siska, 35, seorang ibu rumah tangga asal Kec. Cibeber, Kota Cilegon yang sedang membeli buku di kios buku Pasar Pagebangan, mengatakan alasan membeli buku di emperan karena relatif lebih murah dan banyak pilihannya. “Pokoknya harga buku diemperan lebih murah karena bisa ditawar,” ujarnya seraya mengatakan beli buku untuk anaknya kelas 3 sekolah dasar

Indonesia Turun Peringkat Menjadi ke 63 Dalam Kategori Negara Gagal Tahun 2012

Pemerintah mengklaim bahwa negara telah membuat kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, suatu prestasi yang harus dicegah negara dari yang termasuk dalam daftar “negara gagal”.

Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Menteri Djoko Su-yanto mengatakan bahwa tahun 2012 Gagal Negara Index (FSI), yang menempatkan Indonesia di ambang menjadi negara gagal, sudah melukis gambaran yang tidak akurat negara.

“Indonesia adalah negara yang berjalan sangat baik, dari pemerintah pusat ke tingkat lokal. Kami telah mencatat 6,5 persen yang luar biasa dari pertumbuhan ekonomi dan memiliki lebih dari US $ 115 miliar pada cadangan devisa. Apa jenis indikator yang mereka gunakan untuk menentukan negara yang gagal “kata? Djoko The Jakarta Post pada hari Rabu.

Djoko mengomentari tahun 2012 FSI disusun oleh Washington berbasis nirlaba organisasi Dana untuk Perdamaian.

Studi ini menempatkan Indonesia di tempat ke-63 dari 178 negara di seluruh dunia, turun satu posisi dari posisi ke-64 tahun lalu. Pada tahun 2010, Indonesia menduduki peringkat ke-61.

Indonesia telah menunjukkan sedikit perbaikan dalam skor-nya selama dua tahun terakhir. Pada 2012, Indonesia mendapat 80,6 poin, lebih rendah dari 2011 yang 81,6 dan 2010 yang 83,1.

Skor yang tinggi menunjukkan tekanan tinggi pada keadaan, yang juga diterjemahkan ke dalam risiko yang lebih tinggi ketidakstabilan, menurut sebuah pernyataan yang dirilis pada Dana untuk website Peace fundforpeace.org.

FSI 2012 peringkat 178 negara menggunakan 12 indikator sosial, ekonomi dan politik dari tekanan pada negara, bersama dengan lebih dari 100 sub-indikator.

Ini termasuk isu-isu seperti pembangunan tidak merata, legitimasi negara, keluhan kelompok minoritas, dan hak asasi manusia.

Setiap indikator adalah nilai pada skala 1-10, berdasarkan analisis dari jutaan dokumen tersedia untuk publik, data kuantitatif lainnya, dan penilaian oleh para analis, kata organisasi.

FSI kelompok negara dengan poin lebih tinggi dari 90 sebagai “waspada”; antara 60 dan 90 sebagai “peringatan”; 30-60 “moderat”, dan di bawah 30 sebagai “berkelanjutan”.

Ada 91 negara di zona “peringatan”, termasuk Indonesia.

Pelepasan FSI tahun ini terjadi di tengah gelombang kekerasan di Papua.

Laporan-laporan mengatakan bahwa sedikitnya 18 orang tewas di Papua dan Papua Barat dalam beberapa bulan terakhir, dengan pemerintah terus menyalahkan “separatis” untuk penembakan sejumlah warga sipil di wilayah tersebut.

Negara ini juga melihat peningkatan kekerasan terhadap kelompok agama minoritas di negeri ini.

Analis politik Yudi Latief mengatakan bahwa semua indikator dapat menunjukkan fakta bahwa Indonesia memang negara yang gagal. “Kegagalan untuk menyediakan fasilitas umum yang layak, korupsi politik yang merajalela, dan tidak adanya pelayanan sosial, adalah bagian dari indikator sebuah negara gagal, “katanya.

Djoko mencela mereka yang menyalahgunakan hasil survei untuk “menyerang” pemerintah. “Lihatlah kehidupan demokrasi kita, seperti kebebasan pers. Meskipun ada kekurangan, kita seharusnya bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Jangan sinis, dan mari kita bergabung bersama-sama membantu membangun bangsa ini, “kata menteri.

Yopie Hidayat, juru bicara Wakil Presiden Boediono, berbagi pendapat Djoko itu.

“Aku, sebagai orang yang telah bekerja untuk pemerintah, berpikir bahwa kita telah melakukan yang terbaik dalam membawa negara ini menuju kondisi yang lebih baik,” katanya. Yopie kata laporan itu harus dianggap sebagai dorongan bagi semua orang untuk bekerja untuk memperbaiki bangsa. “Survei ini dilakukan oleh lembaga asing, kita tidak dapat menyangkal ini. Kami tidak berjalan bersama-sama dengan negara lain, kita bersaing dengan negara lain, “tambah Yopie.

FSI 2012, yang merupakan edisi kedelapan dari studi tahunan, peringkat Somalia sebagai nomor satu untuk tahun kelima berturut-turut, dengan alasan pelanggaran hukum meluas, pemerintah tidak efektif, terorisme, pemberontakan, kejahatan, dan serangan bajak laut dipublikasikan dengan baik terhadap kapal-kapal asing.

Finlandia tetap yang paling stabil, dengan Skandinavia tetangganya Swedia dan Denmark pembulatan keluar tiga peringkat terbaik. Semua tiga negara mendapatkan keuntungan dari indikator sosial dan ekonomi yang kuat, dipasangkan dengan ketentuan yang sangat baik dari pelayanan publik dan menghormati hak asasi manusia dan supremasi hukum.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Tjahjo Kumolo, menyayangkan posisi Indonesia yang menempati posisi 63 dari 178 negara dalam Indeks Negara Gagal 2012 atau Failed State Index 2012. Menurut dia, posisi itu sangat memprihatinkan dan harus menjadi introspeksi.
“Indonesia negara di ambang gagal,” ujar Tjahjo kepada VIVAnews, Rabu 20 Juni 2012.

Menurut Tjahjo, penururan peringkat tersebut disebabkan oleh beberapa indikasi. Antara lain karut-marutnya penyelenggara negara yang menyebabkan rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintahan. Selain itu, tingkat korupsi di Indonesia sudah tidak terkendali lagi.

Indikator lainnya adalah banyaknya megaskandal hukum yang terjadi di Indonesia. Dia menyebut kasus Bank Century, mafia perpajakan, mafia suara KPU, yang hingga kini tidak kunjung bisa diselesaikan. Oleh karena itu, Tjahjo menyarankan pemerintah segera melakukan langkah-langkah perbaikan, terutama menyangkut keadilan ekonomi dan pelembagaan demokrasi.

“Memang secara historis dan sosiologis indonesia sebagai negara bangsa memiliki kekuatan emosional kebangsaan yang kuat. Karena persolan yang paling utama di Indonesia itu adalah masalah ketidakadilan ekonomi dan proses institusionalisasi demokrasi, bukan persolan kesukubangsaan apalagi agama,” kata Tjahjo.
“Jadi kalau ini dua hal tersebut dapat diperbaiki yaitu isu ketidakadilan dan institusionalisasi demokrasi maka Indonesia akan semakin kuat.”

Pada tahun 2011, Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 81. Dikutip dari laman fundforpeace.org, tahun ini Indonesia menempati peringkat 63 dengan skor 80,6. Angka ini didapat dari perhitungan beberapa faktor, seperti ekonomi dan sosial. Selain itu, Fund for Peace juga menggunakan lebih dari 100 subindikator, termasuk isu-isu seperti pembangunan tidak merata, legitimasi negara, protes kelompok masyarakat, dan penegakan hak asasi manusia.

Dalam penjelasan indeks ini, penegakan HAM di Indonesia dinilai lemah dan cenderung memburuk dalam lima tahun terakhir. Indikator lainnya yang dinilai menurun dalam lima tahun terakhir adalah keluhan kelompok masyarakat dan tekanan demografis. Sementara di bidang layanan publik, Fund for Peace mencatat ada kemajuan di Indonesia meski tetap saja dinilai lemah dengan peringkat 75. Enam indikator di bidang politik dan militer, semua dinilai lemah.

Organisasi Fund for Peace merilis indeks terbaru mereka mengenai Failed State Index 2012 di mana Indonesia berada di posisi 63. Sementara negara nomor 1 yang dianggap gagal adalah Somalia. Dalam membuat indeks tersebut, Fund for Peace menggunakan indikator dan subindikator, salah satunya indeks persepsi korupsi.

Dalam penjelasan mereka, dari 182 negara, Indonesia berada di urutan 100 untuk urusan indeks korupsi tersebut. Indonesia hanya berbeda 82 dari negara paling korup berdasarkan indeks lembaga ini, Somalia. Negara yang dianggap paling baik adalah New Zealand.

Hal ini paralel dengan Indeks Pendayagunaan SDM di mana Indonesia berada di urutan 124. Di indeks ini, Norwegia berada di urutan terbaik, sementara Kongo berada di urutan bontot (187).

Organisasi ini mengakui perkembangan ekonomi Indonesia yang pesat dalam lima tahun terakhir. Indonesia pun mampu bertahan dalam krisis moneter yang kini melanda dunia. Selain itu, reformasi politik Indonesia pun diakui sebagai kemajuan yang pesat. Namun, di tengah prestasi tersebut, Fund for Peace memandang korupsi masih menjadi tantangan terbesar untuk dituntaskan negara berpenduduk 250 juta ini. Selain itu, Fund for Peace juga mencatat kekerasan berbau agama, dan penyakit menjadi tantangan lain.

“Pemberdayaan SDM, korupsi, lemahnya penegakan hukum, kekerasan terhadap kelompok agama minoritas menjadi hambatan yang signifikan,” demikian dikutip dari laman fundforpiece.org.

Diberitakan sebelumnya, posisi Indonesia turun ke peringkat 63 dalam Indeks Negara Gagal 2012 atau Failed State Index 2012. Indeks yang dikeluarkan organisasi Fund for Peace itu menilai peringkat ini turun dibandingkan dari tahun 2011 di mana Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 81.

Menanggapi indeks tersebut, juru bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat mengaku Pemerintah sudah berbuat maksimal bekerja. “Kalau ada penilaian seperti itu ya kita setuju. Bagaimanapun juga kita tidak hanya berlari melawan diri sendiri, tapi juga melawan negara-negara lain,” kata dia di Istana Wakil Presiden, Rabu 20 Juni 2012.

Di era keterbukaan, sambung Yopi, Indonesia harus terus melihat tetangga. “Kalau mereka lebih baik, kita harus lebih baik lagi,” imbuhnya. “Kami sudah maksimal, tetap saja harus dipacu lebih keras lagi sisa dua tahun ini.

Ratusan Siswi SMA Sumenep Jawa Timur Memilih Kawin Daripada Ikut Ujian Nasional

Ratusan siswa tingkat SMA sederajat di Sumenep, Jawa Timur, tidak mengikuti Ujian Nasional (UN) hingga memasuki hari kedua, Selasa (17/04/2012) pelaksanaan UN.

Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, dari 9.838 siswa yang terdaftar sebagai peserta UN, 165 siswa tidak ikut. Mereka itu terdiri dari siswa SMA Negeri sebanyak 12 siswa, SMA swasta sebanyak 33 siswa, MA sebanyak 85 siswa dan SMK sebanyak 25 siswa.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah, Disdik Sumenep, Ataurrahman mengatakan, siswa yang memberikan keterangan sakit hanya 2 siswa. Sedangkan yang mengundurkan diri sebanyak 87 siswa, meninggal dunia 4 siswa, dan siswa yang tanpa keterangan sebanyak 19 siswa.

“Ada juga di antara mereka sebanyak 53 siswa memilih kawin dan tidak mengikuti UN,” kata Ataurrahman.

Bagi siswa yang tidak ikut UN tanpa ada keterangan yang jelas, tidak bisa mengikuti UN susulan Senin depan. Kecuali dua siswa karena sakit dengan dilengkapi surat keterangan dari dokter.

“Kedua siswa itu bisa ikut UN susulan jika sakitnya sudah sembuh. Jika belum sembuh, kita usahakan diantar ke rumah yang bersangkutan,” imbuhnya.

Ditambahkan Ata, guru di masing-masing sekolah sudah jauh-jauh hari menyampaikan himbauan kepada siswanya agar tetap ikut UN meskipun dalam keadaan apapun.

“Kalau sudah memilih kawin dan tidak mau melanjutkan sekolah, kita juga tidak bisa memaksa mereka karena pilihan itu juga mendapat dukungan dari orang tuanya,” terangnya.

Cerita Dewasa Tentang Aksi Kisah Bang Maman dan Istri Simpanannya Kini Jadi Buku Wajib Anak SD Untuk Mengajari Anak Memperebutkan Harta Warisan

Pengajar komunikasi Universitas Indonesia, Nina Armando, mengatakan penerbit sangat bertanggung jawab atas isi buku untuk anak-anak. Proses penulisan hingga penerbitan seharusnya sudah direncanakan dengan matang. “Penerbit harus sensitif dan bisa menyeleksi cerita yang tepat disampaikan untuk anak,” tuturnya saat dihubungi Tempo, Kamis, 12 April 2012. Ia menyebut cerita rakyat yang memuat kisah tentang istri simpanan tak layak dimuat dalam buku untuk anak usia sekolah dasar.

Tanggapan itu ia berikan terhadap polemik kisah “Bang Maman dari Kali Pasir”, cerita yang dimuat dalam buku muatan lokal Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta. Buku terbitan CV Media Kreasi itu ditujukan untuk siswa kelas 2 SD. Kisah tersebut menjadi perbincangan di media sosial Twitter karena bercerita tentang istri simpanan dan perebutan harta.

Cerita seperti ini, kata dia, bisa membuat masa kecil anak terenggut dan membuat mereka dewasa sebelum waktunya. Selain itu, cerita tentang hal yang negatif harus segera diimbangi dengan ganjaran yang didapat pelaku. “Sehingga anak belajar bahwa perbuatan baik akan dibalas kebaikan sementara perbuatan jahat akan berakibat buruk,” katanya.

Cerita tentang istri simpanan dan perebutan harta ini menurutnya tak layak dikonsumsi anak. “Memalukan, karena ini buku teks yang harus dipelajari anak,” katanya. Karena itu, pengawasan juga harus dilakukan oleh pihak sekolah dan orang tua. Sekolah, kata dia, harus membaca buku secara menyeluruh. Isi buku pelajaran muatan lokal memang diserahkan kepada sekolah, tidak berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Orang tua juga harus ikut membaca sehingga bisa protes jika ada kejanggalan,” katanya.

Satrio, 8 tahun, siswa kelas 2 Sekolah Dasar Angkasa IX,Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, asyik membaca bukunya. Dia terhanyut dengan kisah bertema istri simpanan. Istri simpanan? Ya, tidak salah. Satrio tidak sedang membaca buku Pak Moer-Poppy The Untold Story, yang sedang ramai dibincangkan. Dia tengah membaca buku paket pelajaran Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ) Lembar Kerja Siswa (LKS) terbitan PT. Media Kreasi, Jawa Timur.

Entah kenapa, kisah istri simpanan itu dijadikan teladan dalam buku pelajaran. Cerita itu muncul pada halaman 30 dan 31 dengan judul “Bang Maman dari Kali Pasir”. Dikisahkan, anak Bang Maman, Ijah, menikah dengan Salim, putra orang kaya dari Kali Pasir. Salim mendapatkan warisan kebun.

Namun, Salim jatuh miskin karena tukang kebunnya berkhianat dengan menjual kebun itu. Ijah, pun diminta ayahnya, Bang Maman, menceraikan suaminya. Ijah menolak. Bang Maman lalu menyusun skenario ada wanita lain bernama Patme yang mengaku menjadi istri simpanan Salim. Patme mendatangi Ijah. Ijah percaya dan akhirnya menceraikan Salim.

Buku pelajaran bak kisah sinetron itu membikin geger dunia maya. Di Internet, buku ini jadi sasaran kemarahan. Donny B.U., penyuluh internet sehat, berkomentar dalam akun Twitternya, “Itu otak yang menulis buku resmi pelajaran SD di mana ya? Masak anak kelas 2 SD sudah harus bingung/bertanya, istri simpanan itu apa?”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh berang dengan lolosnya kisah istri simpanan itu. “Ngapain anak SD diperkenalkan perselingkuhan keluarga,” kata Nuh di kantornya, kemarin. Dia berjanji membentuk tim untuk menelusuri peredaran buku berkisah Bang Maman. “Tim akan terjun untuk evaluasi,” katanya.

Kepala Penerangan Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Mayor Khusus Gerardus Maliti mewakili Yayasan Ardhya Garini tempat SD itu bernaung, mengaku hanya pengguna. “Kalau soal buku dan isinya, silakan tanya dinas terkait,” kata Gerardus pada Tempo kemarin. Yayasan Ardhya Garini memilih buku itu sebagai salah satu bahan ajar di sekolah tersebut, karena lembar kerja itu sudah diakui oleh Dinas Pendidikan. Dia menunjukkan logo KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) di sampul LKS tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, Taufik menyesalkan kejadian itu. Menurut dia kesalahan itu adalah kealpaan bawahannya.”Memang sedikit terjadi di luar kendali,” katanya saat dihubungi kemarin. Cerita dengan muatan kehidupan orang dewasa seperti kisah “Bang Maman dari Kali Pasir” dinilai bisa membuat anak dewasa sebelum waktunya. Soalnya melalui media, anak belajar mengenai kehidupan, serta hubungan sosial dalam masyarakat.

Pengajar ilmu komunikasi Universitas Indonesia, Nina Armando, mengatakan masuknya muatan cerita dewasa dalam buku teks sangat mengkhawatirkan. Menurut dia selama ini anak sudah mendapat pengaruh dari media elektronik seperti televisi dan game. Buku, kata dia, adalah salah satu media yang bisa diharapkan membawa muatan yang lebih sehat. “Apalagi ini buku teks (pelajaran) yang wajib dipelajari oleh anak,” tutur Nina, Kamis, 12 April 2012.

“Bang Maman dari Kali Pasir” bertutur tentang cerita Bang Maman, istri simpanan, dan perebutan harta. Kisah ini terdapat dalam buku muatan lokal Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta. Cerita ini menjadi perbincangan di Twitter sejak Kamis 12 April 2012 pagi. Kontroversi muncul setelah sejumlah orang tua murid kelas 2 di sekolah dasar di kawasan Jakarta Timur ini kaget saat melihat buku pelajar anak mereka yang bercerita tentang istri simpanan yang sebenarnya tidak lazim dibaca anak-anak.

Dikatakan Nina, anak usia sekolah dasar sedang belajar mengenai tahapan individu dalam keluarga dan lingkungan sosial. “Kalau sudah diceritakan tentang istri simpanan, sangat berbahaya,” kata wanita yang juga menjabat sebagai wakil ketua Komisi Penyiaran Indonesia itu. Ia mengatakan seleksi bahan pelajaran anak harus dilakukan dengan berhati-hati. Anak, kata dia, merupakan khalayak yang rentan sehingga pemilihan materi pelajaran harus dilakukan dengan cermat. “Penyusun juga harus mengerti aspek psikologi anak,” ucapnya.

Menanggapi masalah ini, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, mengatakan akan segera menarik buku tersebut. Sementara SD IX Halim Perdanakusuma akan diberi peringatan.

Survey Membuktikan Bahwa 47 Persen Siswa SMU Palu Sudah Tidak Perawan Alias Sudah Sering Berhubungan Seks

Hasil penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako, (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, menyatakan 47 persen siswa Sekolah Menengah Atas di wilayah Kota Palu mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks bebas. Baik yang dilakukan sekali maupun berkali-kali dengan pasangannya. Penelitian dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2010 dengan sampel sebanyak 15 persen dari 15.542 jumlah siswa SMA/SMK di kota Palu.

Ikhlas Rasido, peneliti dari FKIP Untad, mengatakan sebanyak 43,5 persen remaja melakukan hubungan badan dengan lawan jenisnya karena pengaruh lingkungan, seperti ajakan pacar, teman, atau nonton film porno. Sementara faktor kematangan secara seksual hingga memiliki keinginan atau coba-coba, menjadi alasan kuat selanjutnya.

Ikhlas mengatakan, sebagian besar siswa atau siswi yang melakukan seks bebas tersebut tinggal di kos-kosan, namun ada juga yang tinggal bersama keluarga. Ada juga yang sekolah di SMA favorit di Palu. “Maaf, kami tidak bisa sebutkan sekolah tersebut,” katanya usai salat Jumat, 21 Oktober 2011.

Menurut dosen bimbingan konseling ini, perilaku seksual diawali dari sekadar ciuman, kemudian ciuman yang disertai birahi, hingga terakhir menjadi percintaan badan atau making love. Yang menarik dari penelitian tersebut, sebagian remaja merasa bangga jika telah melakukan hubungan seks dengan pacarnya atau dengan orang lain. Ini terutama terjadi pada laki-laki, dimana secara psikologis ingin menampilkan sesuatu yang lebih dari lelaki yang lain, termasuk soal seks tersebut.

Selain itu, sebagian besar remaja tidak menggunakan pengaman saat berhubungan badan. Demikian halnya dari pengakuan yang diperoleh, kebanyakan pelaku tidak memiliki pengetahuan yang mendalam soal HIV/AIDS atau dampak yang ditimbulkan akibat berhubungan seks tersebut. Pascapengakuan tersebut, ketika pelaku diarahkan untuk melakukan pemeriksaan HIV melalui VCT, tak ada satupun yang bersedia.

Melihat data yang cukup mencengangkan ini, Ikhlas berharap penelitian tersebut bisa ditindaklanjuti para pihak terkait yang peduli dengan remaja, khususnya Dinas Pendidikan melalui program-program sekolah. “Tapi selama ini belum ada tindaklanjutnya. Ini kami sudah publikasikan dan kami sudah seminarkan,” katanya.

Selain itu belum juga ada koordinasi dengan instansi terkait, seperti antara BKKBN dengan Dinas Kesehatan soal remaja yang melakukan hubungan seks bebas ini. Di sekolah juga perlu diaktifkan kembali bimbingan konseling dan Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIKKRR). Penelitian ini, kata Ikhlas, semata-mata dilakukan untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit HIV/AIDS di kalangan remaja akibat perilaku seks bebas. Untuk itu, dalam penelitian ini, pihaknya juga melibatkan konselor HIV/AIDS.

Sosok Ibu di Tengah Tawuran Perang Batu Kelurahan Johar Baru

Di antara dua kelompok remaja yang bersiap baku hantam, Umiyati (50) kerap berdiri sambil membentangkan kedua tangannya. Dihalaunya anak-anak RW 02 Kelurahan Johar Baru.

“Saya berdiri di situ agar tidak ada tawuran. Anak-anak biasanya sungkan karena ada ibu-ibu yang berdiri di tengah mereka,” ujar ibu dua anak yang juga istri Dewa Firmansyah (51), Ketua RW 02 Kelurahan Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (21/12/2011).

Tindakan ini bukan tanpa risiko. Batu dan molotov kerap berseliweran di atas kepala. Namun, semangat untuk menghentikan tawuran mengatasi rasa takutnya.

Dan, di tengah konflik itu, Umi berdiri sendiri, sementara bapak-bapak serta pengurus lingkungan hanya menonton tawuran dari pinggiran. Ada juga orang tua yang justru menyemangati remaja yang berperang.

Umi mengaku, baku lempar antarwarga di daerah itu sudah sedemikian berakar sehingga tawuran dianggap lumrah. Orang-orang sekitar akhirnya merasa tidak berdaya untuk menghentikan tawuran.

Umi yang tinggal di kawasan Johar Baru sejak tahun 1969 merasakan bibit-bibit ketidakpedulian di antara warga dan di keluarga mulai subur saat ini. Pendidikan anak, misalnya, kerap terputus lantaran tidak ada semangat anak dan penyemangat dari keluarga.

Akibatnya, nongkrong hingga pagi menjadi pemandangan biasa di wilayah ini. Warga juga tidak peduli dengan tingkah laku anak muda, termasuk bila mereka melakukan tindak kriminal.

Yang tumbuh subur kemudian adalah solidaritas semu antaranak muda. Sejalan dengan semangat ini, tawuran semakin mudah tersulut. Di tengah kekacauan ini, Umi muncul dengan membawa semangat perubahan. Setelah suaminya terpilih menjadi Ketua RW, 27 Maret 2011, dia semakin getol turun ke anak-anak muda.

Dia menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan keluh kesah anak-anak. Dia juga yang sering kali mencereweti anak-anak yang kedapatan bolos kursus, main sampai sore, atau nongkrong hingga pagi.

“Orangtua mereka tidak ada yang peduli anaknya mau berbuat apa. Justru saya yang peduli. Anak-anak ini malah cium tangan saya kalau bertemu. Bila ada apa-apa, mereka juga mencari saya,” ucap Umi.

Langkah ini memang tidak sepenuhnya mulus. Umi kerap kali dihujat tetangganya karena terlalu rajin mengurusi anak-anak yang bukan anak kandungnya. Mendidik remaja belasan tahun yang sudah terbiasa hidup seenaknya juga bukan perkara mudah. Beberapa kali komitmen untuk tidak tawuran tetap dilanggar juga.

Namun, Umi tidak surut. Dia menganggap anak-anak di RW 02 itu adalah anaknya juga. Karena itu, dia bersemangat untuk melobi agar berbagai pelatihan keterampilan masuk ke Johar Baru. Kini, dia merintis perpustakaan RW. “Sekarang bangunannya yang siap. Saya masih cari sumbangan buku. Siapa tahu anak-anak jadi senang membaca,” kata Umi.

Umi bukan sosok ibu biasa. Keberadaan ibu yang peduli dengan lingkungan ini menjadi kebutuhan di tengah lingkungan yang kian individualistis.