Category Archives: Perekomonian

Setelah Menanti 12 Tahun Akhirnya Sistem Subak Bali Menjadi Warisan Budaya Dunia

Tak lama lagi Indonesia akan memiliki warisan budaya yang diakui dunia internasional melalui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco). Penghargaan itu akan disampaikan pada 24 Juni mendatang di St Pittrsbug Rusia. “Tapi ini masih rekomendasi dan mudah-mudahan tidak ada hambatan yang menggugurkan pencapaian ini,” ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, Senin, 21 Mei 2012.

Menurut Wiendu, masuknya Subak menjadi nominasi warisan budaya dunia tidaklah mudah. Pemerintah sudah memasukkan permohonan sejak tahun 2001. Namun selama ini, permohonan menjadikan Subak sebagai warisan budaya dunia belum dapat diterima Unesco.

Beberapa kendala yang menghalangi, kata Windu, misalnya masih kurangnya kesadaran masyarakat membenahi pengairan. Begitu juga dengan pembangunan yang belum sesuai dengan tata budaya subak. Tumpah tindih penggunaan lahan juga masih sering terjadi.

Selama hampir dua belas tahun sejak Subak diusulkan itu pemerintah, tokoh adat dan masyarakat setempat kata Wiendu sudah bermusyawarah mengembalikan lanskap subak. Akhirnya konsep penataan Subak dalam tajuk “Bali Culture Lanscape Subak System” berhasil disusun. “

Sekarang, melihat kesiapan masyarakat, pemerintah yakin Subak akan ditetapkan menjadi warisan budaya dunia. “Kami sudah kembalikan peta-peta sumber air, dan irigasi, dan mengembalikan tata kelola tanah dalam dua belas tahun ini,” ujar dia.

Konsep yang diusung kementerian adalah Tri Hita Karana, berupa pedoman kehidupan masyarakat Bali. Budaya ini pada intinya mengajarkan manusia harus hidup harmoni dengan Tuhan, hidup selaras dengan sesamanya, dan sejiwa dengan alam. “Dengan prinsip ini pembangunan yang berkelanjutan akan tercapai,” kata Wiendu.

Wiendu berharap dengan ditetapkannya Subak sebagai warisan budaya dunia, pemerintah lokal, masyarakat, pengusaha dan pendatang akan hidup berdampingan. Dalam pembangunan pun tidak bisa lagi membangun hotel sembarangan sampai menggerus lahan pertanian. Lebih jauh diharapkan pengukuhan Subak akan menghilangkan pembangunan hotel di sempadan sawah.

Penetapan warisan budaya dunia juga akan menjamin masyarakat untuk lebih menjaga keseimbangan alam. Dia berharap pengusaha dan pemerintah bersama-sama berkomitmen menjaga daerah resapan air seperti yang tertuang dalam peta penggunaan lahan masyarakat adat.

Ditetapkannya Subak sebagai warisan budaya dunia kata Wiendu diharapkan juga menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga warisan budaya. Semangat bersama bangsa menjaga warisan budaya nusantara akan menjadi modal dasar mengajukan sautu budaya untuk menjadi warisan budaya.

Jakarta Great Sale 2012 Akan Targetkan Pendapatan 10 Triliun Rupiah Dalam Waktu 1 Bulan

Festival Jakarta Great Sale telah terselenggara lima kali. Gelaran keenam akan berlangsung mulai 1 Juni nanti ditargetkan menembus angka Rp 10 triliun. Angka tersebut naik 20 persen dibanding tahun lalu.

Akan ada satu program istimewa yang tidak pernah ada sebelumnya pada tahun ini. “Kami memiliki program Shopper Card,” kata Darwin A. Roni, Sekretaris Jenderal Festival Jakarta Great Sale, usai konferensi pers pra-acara, di Mall Senayan City, Rabu, 9 Mei 2012.

Shopper Card adalah kartu yang bisa didapatkan pengunjung yang telah berbelanja Rp 250 ribu dalam sekali atau dua kali belanja, di mall atau pusat perbelanjaan. Dengan memiliki kartu itu, pembeli tadi bisa mendapatkan poin untuk diundi mendapatkan hadiah, dengan hadiah utama berupa mobil.

Menurut Darwin, panitia penyelenggara Festival memiliki tujuan lain dengan keberadaan kartu itu yakni branding. “Kartu tersebut tidak akan hangus, kami pertahankan momentum festival ini setidaknya hingga 2014,” katanya.

Darwin mengharapkan kartu itu tidak hanya berguna saat Festival saja, namun bisa berguna saat tak ada Festival. “Misalnya, dengan adanya kartu itu, bisa mendapatkan program diskon sehari-hari,” katanya.

Namun harapan Darwin harus ditunda dahulu lantaran belum ada kesepakatan koordinasi dari seluruh mall di Jakarta. “Kami ingin tahun depan sudah bisa diaplikasikan.”

Darwin mengatakan, setidaknya keberadaan kartu tersebut bisa menjaga kedekatan customer dengan Festival atau dengan mall dan pusat perbelanjaan di Jakarta.

Pada 1 Juni – 14 Juli 2012, akan digelar Festival Jakarta Great Sale, program tahunan hasil kerja sama Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia DPD DKI Jakarta dengan Pemda DKI Jakarta.

Sejak tiga tahun lalu Festival Jakarta Great Sale menjadi salah satu alternatif tempat liburan bagi warga Timur Tengah, khususnya Kuwait. Meski tidak ada data pasti, diperkirakan jumlah wisatawan terus meningkat.

“Ada tim kelompok kerja yang khusus mengundang wisatawan mancanegara,” kata Herna Danuningrat, anggota Tim Pokja Timur Tengah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, ketika ditemui di sela konferensi pers pra-acara Festival Jakarta Great Sale 2012, di Mall Senayan City, Rabu, 9 Mei 2012.

Menurut Herna, bulan Juni-Juli yang bertepatan dengan pelaksanaan festival itu, merupakan bulan liburan bagi penduduk Timur Tengah. “Cuaca di sana sedang terlalu panas, Karena itu diliburkan hingga berkisar tiga bulan lamanya. Kami harap keberadaan festival bisa menjaring mereka,” tutur dia.

Karakteristik penduduk Timur Tengah, menurut Herna, gemar berbelanja, terutama kaum wanitanya. Berdasarkan pengalaman, mereka akan jorjoran mengeluarkan uang untuk bertransaksi. “Uang mereka banyak, jadi tak masalah,” katanya. Apalagi harga barang di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan di Timur Tengah. Selain itu, wisatawan dari Timur Tengah selalu menginap di hotel berbintang empat atau lima.

Herna mengatakan pihaknya sudah berupaya membagi-bagikan brosur festival ke negara-negara Timur Tengah. “Seperti pengalaman sebelumnya, brosur berhasil mendatangkan wisatawan dari Timur Tengah,” katanya. Beberapa minggu lalu ia membawa 1.500 brosur, membagi-bagikannya di Mekkah dan Jeddah.

“Hingga kini sudah ada 500 kamar hotel dipesan wisatawan Timur Tengah untuk menghadiri festival,” tutur Herna.

Festival Jakarta Great Sale akan digelar pada 1 Juni-14 Juli 2012. Festival ini merupakan program tahunan hasil kerja sama Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia DPD DKI Jakarta dan Pemda DKI Jakarta.

Tahun ini transaksi retail pada gelaran yang bertepatan dengan hari ulang tahun DKI Jakarta itu ditargetkan menembus angka Rp 10 triliun. Angka tersebut naik 20 persen dibanding tahun lalu.

Dahlan Iskan Ternyata Populis Karena Tidak Mau Tahu dan Disalahkan Soal Listrik Jakarta Yang Padam Total

Menteri BUMN Dahlan Iskan enggan menanggapi rusaknya gardu PLN yang menyebabkan matinya beberapa kawasan di Jakarta dan Depok. Dahlan justru menegaskan dirinya bukan Dirut PLN seperti sebelumnya.

“Aku bukan dirut PLN,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (25/4/2012). Dahlan menyatakan hal tersebut disebabkan dirinya sudah terlambat menghadiri rapat yang seharusnya dimulai pada pukul 16.00 WIB.

“Mohon maaf saya harus rapat jam empat, ini sudah telat 1 jam,” ujarnya sambil berlalu. Sebelumnya, PLN merilis bahwa ada kerusakan Gardu Listrik pada pukul 13.00 WIB lalu. Namun, PLN yakin pada pukul 16.00 ini semua kondisi listrik dapat pulih kembali.

Hingga pukul 20.45 WIB kondisi kelistrikan di Jakarta belum normal sepenuhnya, setelah adanya kerusakan di Gardu Induk tegangan ekstra tinggi (GITET) Gandul. Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto mengatakan kondisi kelistrikan Jakarta masih dalam pemulihan yang bersifat darurat.

“Beban yang biasanya dipikul GITET Gandul untuk sementara malam ini dipikul oleh PLTGU Muara Karang. Jadi PLTGU Muara Karang kerja keras malam ini,” cetus Bambang kepada detikFinance, Rabu (25/4/2012).

Namun, kerja keras dari pembangkit di Muara Karang hanya terjadi sampai sekitar pukul 22.00 WIB. Selepas itu beban akan turun seiring masyarakat yang mulai beristirahat di malam hari.

“Current Transformer (CT) atau alat ukur arus yang rusak, malam ini diganti dengan spare part yang sama yang didatangkan dari Bandung. Besok pagi perbaikan/pemasangan CT selesai sehingga GITET Gandul akan normal,” jelas Bambang.

Seperti diketahui, pada pukul 13.12 WIB hari ini terjadi gangguan pada gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) PLN di Gandul Jakarta. Ini menyebabkan beberapa wilayah di Jakarta mengalami pemadaman. Gangguan terjadi setelah jaringan CT (Transformator Center Tap/Trafo CT) atau pengukur arus di gardu tersebut meledak.

Berikut wilayah yang mengalami pemadaman listrik versi PLN:

  1. Bintaro
  2. Depok
  3. Casablanca
  4. Karet
  5. Cengkareng
  6. Grogol
  7. Kebon Sirih
  8. Duri
  9. Budi Kemuliaan.

Listrik Jakarta Padam Karena 2 Trafo Jebol dan 17 Gardu Tidak Berfungsi

Dua trafo penghantar tegangan tinggi (IBT) Gandul jebol, Jakarta kehilangan daya hingga 1.600 MW. Sebagian besar wilayah Jakarta, Tangerang dan Depok padam. Akibatnya aktivitas warga nyaris lumpuh.

“Padamnya listrik di Jakarta karena ada gangguan trafo di unit 1 dan 2 IBT Gandul pada pukul 13:12 WIB,” ungkap Manajer Distribusi PLN Jakarta dan Tangerang, Paranai Suhasfan, Rabu (25/4).

Gangguan trafo yang terjadi di unit IBT Gandul ini berbuntut panjang, karena merembet ke PLTGU Muara Karang dan PLTGU Lontar. Aliran listrik dari kedua pembangkit tersebut langsung trip (terputus), sehingga mengakibatkan 17 gardu induk (GI) yang ada di wilayah Jakarta padam.

Ke-17 gardu induk yang padam yakni GI Ketapang 11 dan GI Danayasa. GI Kebon Sirih 12 dan GI Cengkareng. GI Karet Baru 13 dan GI Senayan. GI Budi Kemuliaan, GI Bintaro , GI Abadi Guna papan 15, GI Teluk Naga, GI Grogol 16 dan GI New Tangerang. GI GI Kebon Jeruk, GI Duri Kosambi, GI Karet Lama, GI Muara Karang dan GI Petukangan.

Saat ini petugas Pusat Pengatur dan Pengendalian Beban (P3B) tengah menangani gangguan ini. ”Mudah-mudahan aliran listrik bisa pulih kembali. Tentunya perlu waktu,” katanya.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto, mengungkapkan gangguan pasokan yang berakibat listrik padam, akibat kerusakan pada alat ukur arus. ”Pengganti alat ukur arus yang rusak didatangkan dari Bandung, malam ini dipasang, besok pagi beroperasi,” jelasnya.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, menyesalkan terjadinya pemadaman listrik yang berakibat lumpuhnya kegiatan warga. ”Ini harus menjadi perhatian serius. Tak hanya jajaran direksi PLN, tapi pemerintah,” katanya dengan ketus.

Kejadian ini merupakan bukti infrastruktur kelistrikan masih lemah dan tidak andal, karena usianya sudah pada tua.
Disamping juga karena faktor SDM (sumber daya manusia) kurang baik. ”Sudah infrastrukturnya tua, SDM tidak bisa memelihara. Akibatnya, padam hingga mengganggu aktivita,” pungkasnya.

Daftar 11 Pemerintah Kota Yang Habiskan Anggaran Buat Kenaikan Gaji PNS dan Bukan Untuk Kesejahteraan Rakyat

Forum Indonesia Untuk Transparansi Aggaran (Fitra) mencatat terdapat 11 pemeritah kabupaten/kota di Indonesia yang 70% anggarannya hanya habis untuk gaji pegawai. Kota Langsa di NAD menempati urutan teratas pemerintah terboros dalam hal belanja pegawai yaitu sekitar 76,7%.

Berikut ini 11 dearah (kabupaten/kota) terboros dengan anggaran belanja pegawai di atas 70% (dari Ringkasan APBD 2012):

Kota Langsa-N.A.D = 76,7%
Kab. Kuningan-Jawa Barat = 74,0%
Kota Ambon-Maluku = 73,4%
Kab. Ngawi-Jawa Timur = 73,0%
Kab. Bantul-D.I.Y = 71,9%
Kab. Bireuen-N.A.D = 71,8%
Kab. Klaten-Jawa Tengah = 71,6%
Kab. Aceh Barat-N.A.D = 70,9%
Kota Gorontalo-Gorontalo = 70,3%
Kab. Karanganyar-Jawa Tengah = 70,1%
Kota Padang Sidempuan-Sumatera Utara = 70,0%

Secara umum Sekretariat Nasional Fitra mencatat ada 291 daerah yang menghabiskan anggaran untuk belanja pegawai lebih dari 50%. ironisnya, jumlah ini meningkat signifikan sebesar 135% dibanding tahun 2011 yang hanya 124 daerah. Para pemda ini terancam dalam jurang kebangkrutan.

“Hal ini tidak bisa dibiarkan bila tidak ingin kepentingan masyarakat luas dikorbankan terus menerus karena sisa anggaran yang tersedia untuk belanja program kegiatan hanya 9-14%,” kata Kepala Divisi Pengembangan Jaringan Hadi Prayitno dalam keterangan tertulisnya, Minggu (8/4/2012)

Menurutnya penyebab kebangkrutan ini adalah karena adanya penetapan yang dilakukan pemerintah terkait kenaikan gaji pegawai secara berkala sejak tahun 2007 sampai 2011 di angka 5-15% ditambah dengan adanya gaji ke-13.

Kedua dikarenakan adanya penyerapan PNS baru secara terus menerus tanpa mempertimbangkan kapasitas keuangan daerah. Yang terakhir karena melonjaknya jumlah organisasi di kab/kota yang menambah beban terhadap anggaran daerah.

Untuk itu, lanjut Hadi, Fitra mendorong untuk segera diberlakukan perubahan kebijakan untuk penghematan anggaran Pemda dan juga memperbaiki kinerjanya yang dinilai tidak dapat melayani publik dengan baik.

Hentikan Politisasi Birokrasi. Pembinaan PNSD dibawah Kepala Daerah menjadi salah satupemicu praktek rekrutmen yang tidak didasarkan pada pertimbangan kebutuhan riil personil serta kemampuan keuangan daerah.
Keluarkan Belanja Pegawai dari Perhitungan Alokasi Dasar DAU. Kuncinya adalah dengan segera merevisi UU 33/2004 tentang perimbangan keuangan pusat daerah, lalu memasukkan formula dana perimbangan baru yang memberikan insentif bagi daerah yang berhasil meningkatkan pendapatannya dan mengurangi belanja pegawainya.
Pembatasan Jumlah Organisasi di Kabupaten dan Kota. Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan harus bertindak cepat untuk membuat batasan jumlah maksimal organisasi yang ada di tingkat kabupaten/ kota.
Teruskan Moratorium Rekrutmen PNSD. Kebijakan moratorium yang telah dibuat pemerintah sejak tahun 2011 harus diteruskan sampai tahun 2014.

Perusahaan Farmasi Telah Naikan Harga Obat Sebelum Harga BBM Naik

Harga obat di Kota Bekasi yang dijual bebas ternyata sudah naik sejak sebulan lalu. Meski kenaikannya berkisar antara Rp 2.000 – Rp 3.000, namun amat dirasakan berat bagi warga khususnya menengah ke bawah. Di pusat apotek rakyat dan medis, yang berada di Pasar Proyek, Bekasi Timur, kenaikan harga obat berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000, tergantung jenis obat.

Para apoteker mengaku, menaikkan harga obat karena dari perusahaan farmasi yang biasa menyuplai obat telah menaikkan harga. ’’Kalau kami tergantung perusahaan farmasi penyuplai. Kalau mereka menaikkan harga, di sini juga akan ikut naik,” ungkap Arifin, penjaga Apotek Makmur di Pasar Proyek Bekasi.

Menurut Arifin, kenaikan harga obat dipengaruhi biaya transportasi yang meningkat dan adanya isu kenaikan harga BBM. Diakuinya, banyak konsumen yang mengeluh dengan adanya kenaikan harga obat. Meskipun begitu, tidak berdampak pada menurunnya tingkat daya beli konsumen.

’’Banyak konsumen yang mengeluhkan harga obat sudah naik, padahal harga yang digunakan harga lama. Tapi mau gimana lagi, dari penyuplainya juga sudah menaikkan harga, kita juga terpaksa menaikkan harga,” terangnya.

Selain harga obat yang merangkak, alat-alat kesehatan juga ternyata ikut naik. Kenaikan alat-alat kesehatan berkisaran antara Rp4.000 hingga Rp5.000. ’’Tidak semua alat kesehatan yang naik. Hanya ada beberapa saja yang naik,” ungkap Alex, penjaga toko alat kesehatan.

Sejak 23 Maret kemarin, pemerintah melalui Menteri Kesehatan (Menkes) telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) obat generik antara 6 hingga 9 persen. Penentuan HET ini sudah melalui berbagai pertimbangan, di antaranya kemungkinan pembatasan BBM bersubsidi, kenaikan bahan baku obat, kenaikan upah minimum regional dan sebagainya.

Menkes menyebutkan, ada kenaikan harga pada 170 obat, namun harga pada 327 jenis obat malah turun. Hanya 34 persen dari seluruh jenis obat yang HET-nya naik, 28 item itu adalah sediaan injeksi dengan rata-rata kenaikan harga per item sebesar Rp343 sebanyak 123 jenis tablet dan kapsul naik rata-rata Rp31 sebanyak 8 item sirup rata-rata naik sebesar Rp30 dan 3 macam salep dengan rata-rata kenaikan Rp22

Bus AKAS III Dengan Nomer N 7257 UR Timbun BBM Selama Sebulan Dengan Membeli Solar Sebanyak Rp. 8,45 Juta Sekali Belanja

Secara sepintas tak ada yang aneh dari bus paket dengan nomor polisi N 7257 UR itu. Saat bus yang kemudian diidentifikasi sebagai milik Perusahaan Otobus (PO) AKAS III itu mengisi BBM di SPBU Al Miftah di Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, 19 Maret lalu, awalnya petugas SPBU tak curiga. AKAS III adalah perusahaan bus yang bermarkas di Probolinggo, Jawa Timur.

Semula bus itu mengisi solar Rp 500 ribu. Kecurigaan mulai muncul saat sopir bus minta tambah dan baru ‘penuh’ setelah diisi solar 1.887 liter atau senilai Rp 8,450 juta, atau lebih dari tiga kali lipat kapasitas tangki bus umumnya. Petugas SPBU itu lantas lapor polisi. Bus itu sudah di pintu keluar SPBU saat mobil patroli polisi datang. Bus, bersama empat awaknya, Farid Hardianto, 46 tahun, dkk, lantas ditahan polisi. Dari keterangan Farid dkk, polisi menduga bos PO AKAS III, yang berinisial RY, sebagai otak penimbunan BBM itu. “Tim Satreskrim sedang berusaha mengejar pelaku,” kata Kapolres Jember AKBP Jayadi, kemarin. Hingga kemarin, pihak AKAS III belum bisa memberikan konfirmasi soal ini.

Seluruh badan bus paket itu dicat putih sehingga suasana di dalam tak terlihat dari luar, kecuali kaca depan, kaca sebelah kanan, dan kiri sopir. Ada tulisan “Paket” dengan warna merah di dinding bagian kanan, kiri, dan belakang bus. Di kaca depan tertulis “PAKET, Sumbawa – Sumatera”. Melongok ke dalam, inilah pemandangannya. Bus itu hanya ada dua kursi, yaitu untuk sopir dan kondektur. Tepat di belakangnya ada dinding dari lembaran seng tebal bercat hijau tua, dengan sebuah pintu yang hanya cukup dimasuki satu orang dewasa. Di dalamnya ada 12 buah kotak plat, enam di sisi kanan dan enam di sisi kiri. “Kotak-kotak itu berfungsi sebagai penampung solar, semacam jeriken,” kata Jayadi.

Jayadi menguraikan cara kerja bus ‘paket’ ini. Setelah mengisi penuh tangki BBM di bagian bawah bus, solar dipompa ke dalam 12 ‘jeriken’ tersebut dengan mesin diesel. Selain tangki standar dengan kapasitas 500 liter, di bus itu ada tiga tangki tambahan yang masing-masing menampung 400 liter. Sedangkan 12 tangki di bagian atas memiliki total kapasitas 2400 liter. Secara total, bus itu bisa menyimpan 4100 liter BBM.

Menurut polisi, pemilik bus biasanya membekali sopir dkk Rp 40 juta untuk ‘berbelanja’ BBM di sejumlah SPBU di Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember, Lumajang, sebelum kembali ke Probolinggo. Biasanya, di tiap SPBU mereka hanya membeli sekitar 500 liter. Entah apa yang ada di benak para pengemudi bus itu sehingga mereka membeli solar dalam jumlah besar Ahad lalu. Kepada polisi, keempat awak bus berkilah mereka mengisi solar dalam jumlah besar itu untuk mengantar paket ke Sumbawa dan Sumatera. Polisi tak percaya. “Bus itu memang pengantar paket, tapi ‘paket BBM bersubsidi’ yang mereka timbun,” kata Jayadi. Pemilik Perusahaan Otobus (PO) AKAS ternyata telah menyiapkan satu bus lagi untuk dimodifikasi menjadi bus untuk menimbum solar. ”Baru dipermak (dikerjakan) dan belum dioperasikan,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Kota Probolinggo, Ajun Komisaris Agus I Suprianto, Jum’at malam, 23 Maret 2012.

Keberadaan bus tersebut diketahui ketika tim dari Kepolisian Resor Jember bersama Kepolisian Resor Kota Probolinggo melakukan peninjauan ke markas PO AKAS III di Jalan Sunan Kalijogo di Kelurahan Jati. Menurut Agus, peninjauan dilakukan sebagai tindak lanjut langkah penyelidikan oleh Polres Jember setelah terungkap modus operandi penimbunan solar oleh PO AKAS di Jember, Senin malam, 19 Maret 2012 lalu. Namun dalam peninjauan tersebut, kata Agus, aparat Polresta Probolinggo hanya bertuas memembantu. Sebab proses penyelidikan dan penyidikan seluruhnya dilakukan Polres Jember. Terhadap bus yang sedang dikerjakan tersebut tidak dilakukan penyitaan.

Sementara itu sumber Tempo di Polresta Probolinggo mengatakan bahwa Jum’at siang tadi sebuah tim dari Kepolisian Daerah Jawa Timur datang ke Polresta Probolinggo. Tujuannya berkoordinasi dalam hal kasus PO AKAS. Menurut sumber Tempo tersebut, kasus penimbunan solar oleh PA AKAS akan diambilalih penanganannya oleh Polda Jawa Timur. Sebab, jumlah solar yang ditimbun cukup banyak. Sekali ’disedot’ oleh bus yang sudah dimodifikasi mencapai 4.000 liter. Selain itu, modus operandinya pun tergolong canggih. Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, garasi bus yang juga difungsikan sebagai bengkel tersebut tampak lengang sejak terkuaknya kasus penimbunan solar. Hanya tampak empat buah buas, termasuk yang sedang dikerjakan untuk dimodifikasi. Bus yang sedang dikerjakan itu berada agak di luar. Bus tampak seperti baru dicat berwarna hijau. Seluruh bagian dindingnya tertutup seperti bus yang ditangkap di Jember.

Seperti diberitakan sebelumnya, bus PO AKAS dengan nomor polisi N 7257 UR ditangkap Senin malam, 19 Maret 2012. Bus yang disulap menjadi bus paket (bus AKAS adalah bus penumpang) ditangkap seusai mengisi solar di SPBU Al Miftah di Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember. Petugas SPBU dan anggota Kepolisian Sektor yang berjaga di SPBU tersebut merasa curiga karena jumlah soal yang diisi dalam bus tersebut di luar kewajaran, yakni sebanyak 1.887 liter dengan harga Rp 8.450 juta. Setelah diteliti, ternyata bagian dalam bus sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi bus ’penyedot’ solar. Di dalam kabin bus yang telah diubah dari bus penumpang menjadi bus paket barang itu, terdapat 12 tangki. Masing-masing tangki berisi 200 liter. Selain itu masih ada tiga tangki lainnya di bagian bawah bodi bus yang berisi 400 liter per tangki. Masih ditambah tangki asli bus dengan isi 400 liter. Maka seluruh tangki kapasitasnya 4.000 liter.

Empat awak bus tersebut, yakni Farid Hardianto, 46 tahun, Wiji Adi, 39 tahun, Haryanto, 54 tahun dan Heri, 44 tahun, hingga kini masih terus menjalani pemeriksaan di Polres Jember. Adapun pemilik PO AKAS III, Rudy Yahyanto, sudah ditetapkan sebagai DPO (daftar pencarian orang) dan terus diburu oleh anggota Polres Jember. Hasil penyelidikan Kepolisian Resor Jember, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa praktek penimbunan solar oleh sebuah bus milik Perusahaan Otobus (PO) AKAS III dengan nomor polisi N 7257 UR ternyata sudah berlangsung sejak sebulan yang lalu. Seorang awak bus, Farid Hardianto, 46 tahun, kepada polisi mengaku dirinya bersama tiga kawannya diperintahkan membeli ribuan liter solar dari sejumlah SPBU untuk ditampung di sebuah kolam penampungan di markas perusahaan PO AKAS III di Probolinggo. “Bus yang kami awaki mengisi solar di sejumlah SPBU di berbagai daerah, seperti Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo. Kalau sudah penuh tangkinya, kami balik ke Probolinggo,” kata Farid kepada polisi yang memeriksanya, Jumat, 23 Maret 2012.

Farid memaparkan bahwa di setiap SPBU, bus mengisi solar 400 liter hingga 500 liter. Bus tersebut telah dimodifikasi sehingga kapasitas tangkinya besar. Di dalam kabin bus yang telah diubah dari bus penumpang menjadi bus paket barang itu terdapat 12 tangki. Selain itu, masih ada tiga tangki lainnya di bagian bawah bodi bus. Seluruh tangki, termasuk tangki asli bus, kapasitasnya mencapai 4.000 liter. Wiji Adi, 39 tahun, awak lainnya mengaku setiap beroperasi bus membawa empat orang awak, terdiri dari dari sopir, satu orang orang kondektur, dan dua orang mekanik. Setiap hari Rudy Yahyanto, bos AKAS III, menyiapkan dana tunai Rp 40 juta. ”Setiap kali jalan kami dimodali Rp 10 juta,” ujarnya.

Wiji mengatakan uang Rp 40 juta tersebut harus habis sehingga bus bisa lebih dari sekali jalan. Setelah berhasil memenuhi kapasitas seluruh tangki 4.000 liter, bus kembali ke pangkalan di Probolinggo untuk memindahkan solar ke bak penampungan. Kemudian bus yang dikemudikan awak lainnya berangkat lagi “memburu’ solar. Kapolres Jember, Ajun Komisaris Besar Polisi Jayadi, mengatakan bahwa berdasarkan pengakuan awak bus, solar yang ditimbun di bak penampungan dijual kepada pemilik industri di wilayah Probolinggo dan Pasuruan. “Tentu dijual dengan standar harga industri. Padahal, solar yang dibeli dari SPBU adalah solar bersubsidi,” ucapnya. Menurut Jayadi, tim Reserse dan Kriminal Polres Lumajang saat ini sedang memburu Rudy Yahyanto. Rudy diduga menjadi otak penimbunan ribuan liter solar bersubsidi untuk kepentingan bisnisnya. “Dia buruan dan sudah jadi DPO (Daftar Pencarian Orang),” tutur Jayadi pula.

Kasus terungkap Senin malam, 19 Maret 2012. Bermula dari laporan petugas SPBU dan anggota Kepolisian Sektor yang mencurigai bus tersebut. Saat itu bus mengisi solar di SPBU Al Miftah di Sumberbaru. ”Semula awak bus minta diisi solar seharga Rp 500 ribu. Tapi kemudian mereka terus meminta tambah untuk diisi sampai penuh,” kata Kapolsek Sumberbaru, Ajun Komisaris Polisi Saidi. Pengisian solar dihentikan setekah menyedot sebanyak 1.887 liter dengan harga Rp 8.450 juta. Polisi kemudian menghadang bus saat akan meninggalkan SPBU. Sopir dan seluruh awaknya digiring ke polsek dan terungkaplah modus operasi tersebut. Pemeriksaan kasus tersebut dilimpahkan ke Polres Jember.

Selain Farid Hardianto dan Wiji Adi, awak lainnya yang ditahan dan dijadikan tersangka adalah Haryanto, 54 tahun, dan Heri, 44 tahun. Keempatnya adalah warga Kabupaten Probolinggo. Rudy Yahyanto belum bisa dimintai konfirmasi. Tempo sudah berupaya menghubunginya di markas PO AKAS III, tetapi yang bersangkutan tidak ada. Dihubungi melalui teleponnya juga tidak dijawab. Kepala Kepolisian Resor Jember, Ajun Komisaris Besar Polisi Jayadi, mengatakan kasus penimbunan BBM oleh bus AKAS masih terus diselidiki. “Masih terus kami dalami penyelidikannya,” katanya, Selasa, 20 Maret 2012.

Menurut Jayadi, empat awak bus tersebut akan dijerat dengan Pasal 53 sampai Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang pengaturan perniagaan ataupun pengangkutan minyak dan gas dengan ancaman hukuman enam tahun penjara dan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan BBM bersubsidi dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun. Empat awak bus tersebut adalah Farid Hardianto, 46 tahun, Wiji Adi (39), Haryanto (54), dan Heri, (44). Mereka adalah warga Kabupaten Probolinggo dan kini ditahan di Markas Polres Jember. Kasus tersebut semula ditangani Kepolisian Sektor Sumber Baru. Bermula ketika Senin malam, 19 Maret 2012, bus dengan nomor polisi N 7257 UR itu memborong Solar bersubsidi dalam jumlah besar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Al Miftah di Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru. “Setelah kami periksa, bus itu melakukan tindakan yang mengarah pada penimbunan BBM bersubsidi,” ujar Kepala Polsek Sumberbaru, Ajun Komisaris Polisi Saidi, Selasa, 20 Maret 2012.

Saidi menjelaskan petugas SPBU dan polisi yang bertugas menjaga di SPBU curiga karena solar yang disedot bus bercat putih yang pada bodinya bertuliskan PAKET itu cukup banyak. ”Semula kepada petugas SPBU dibayar Rp 500 ribu. Tapi awak bus meminta terus diisi meski angka petunjuk harga sudah menunjukkan Rp 500 ribu,” ucap Saidi. Setelah diteliti ternyata solar yang diisi sebanyak 1.887 liter atau setara Rp 8,45 juta. Tangki bus milik PO AKAS III Probolinggo tersebut telah dimodifikasi agar isinya lebih banyak dari biasanya. Awak bus dibawa ke Markas Polsek dan terungkap bahwa mereka sengaja menimbun Solar.

Kaki Gunung Galunggung Kini Menjadi Sentra Bisnis Perikanan Air Tawar Baru

Kolam ikan dan sawah menghampar luas di kaki Gunung Galunggung, berseling dengan rumah-rumah warga yang berdiri rapat. Nyaris tak ada lagi jejak kehancuran yang tersisa dari letusan dahsyat Gunung Galunggung 30 tahun silam.

Dulu rumah-rumah, kolam-kolam, dan sawah di desa ini tertutup pasir. Semua kolam dan ikan yang saat itu siap panen terkubur,” Ojoh (90), pembudidaya gurami di Kampung Cihujung, Desa Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, berkisah.

Pada 5 April 1982, Gunung Galunggung meletus hebat. Letusan itu berlangsung sampai sembilan bulan kemudian. Muntahan material letusan, menurut JA Katili dan Adjat Sudrajat dalam bukunya, Galunggung the 1982-1983 Eruption, menutup 600 kilometer persegi lahan dengan sebaran terbanyak di lereng sebelah tenggara. Material yang terlontar 370 juta meter kubik. Lebih dari 63.000 warga di 20 desa mengungsi.

Seluas 1.321 hektar tambak ikan dan 1.816 hektar sawah di kaki Galunggung tertimbun material letusan. Saluran irigasi pun tak bisa dipakai lagi.

Sukaratu, desa sentra budidaya ikan, terkubur material gunung api. Namun, Ojoh tak menyerah. Setiap hari, selama hampir dua tahun sejak Galunggung meletus, Ojoh dan Sopiah (80), istrinya, bolak-balik dari pengungsian ke kolam yang berjarak 10 kilometer. Siang hari keduanya mengeruk pasir, malam hari kembali ke tenda pengungsian di Kecamatan Cisayong.

Setelah pasir dibersihkan, ikan tak bisa segera dibudidayakan. Air kolam terlalu asam buat ikan. ”Butuh waktu 3,5 tahun untuk bisa membudidayakan ikan lagi,” kata Ojoh.

Bagi Ojoh, gurami adalah jalan hidup. Sejak merintis usaha pada 1960-an, Ojoh telah mendapat banyak hasil dari gurami, termasuk keberangkatannya bersama istri ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Oleh karena itu, seluruh daya dicurahkan untuk menghidupkan lagi kolam ikannya. Dia bahkan menjual sebagian sawah untuk membiayai pengerukan pasir yang mengubur kolam.

Di atas pasir

Di Kampung Sukaratu, Desa Sukaratu, sampai tahun 1988 atau enam tahun setelah Galunggung meletus belum ada satu sawah pun yang bisa ditanami padi karena pasir belum sempurna disingkirkan.

Adalah Bunyamin yang memulai menanam padi di sawah berpasir. ”Karena lahan berpasir, air terus meresap. Namun, saya tetap mencoba menanam padi,” katanya.

Butuh waktu dua tahun untuk mencetak sawah baru di lahan berpasir. Caranya, jerami sisa panen tak diambil, tetapi ditinggal di sawah sehingga membusuk dan lama-lama air tidak lagi hilang meresap.

Sobirin (70), warga Dusun Cihaseum, Desa Linggajati, tak akan lupa perjuangannya menyingkirkan pasir dari rumah dan sawahnya. Pasir mengubur rumah Sobirin hingga atap. Dengan tekun Sobirin mencangkul pasir, memasukkan ke karung, lalu menyingkirkannya. Sorenya, Sobirin kembali ke pengungsian di Kota Tasikmalaya. Setelah dua tahun, baru rumahnya bersih dari pasir. Itu pun belum bisa ditempati, masih harus diperbaiki.

Tidak semua warga memilih bertahan menghadapi timbunan pasir. Keponakan Sobirin, Ane dan Eming, memilih bertransmigrasi ke Sekayu, Jambi. Pada September 1982, tercatat 2.003 keluarga korban Galunggung bertransmigrasi ke Sumatera dan Kalimantan. Namun, setelah beberapa tahun, Ane dan Eming kembali lagi ke Galunggung. ”Lebih enak di desa ini daripada di Sumatera, cari uang lebih mudah,” kata Ane yang bertahan empat tahun di Jambi.

Membawa berkah

Sejak 1984, kehidupan kembali lebih cepat ke Galunggung. Pasir yang semula menjadi masalah dilirik para pemodal sebagai bahan galian. Melimpahnya pasir gunung dengan kualitas bagus menarik minat swasta untuk berinvestasi.

Bahkan, rel sepanjang 6,5 kilometer dari Pirusa, Desa Sukaratu, ke Babakan Jawa khusus dibangun untuk mengangkut pasir Galunggung, disambung hingga Jakarta. Kereta pengangkut pasir berangkat pertama kali 1 Desember 1983 (Kompas, 3 Desember 1983). Setiap hari, sebanyak 450 ton pasir Galunggung meluncur ke Jakarta untuk memenuhi berbagai proyek, antara lain pembangunan Jalan Raya Cengkareng yang menyedot 50.000 meter kubik pasir. Sampai kemudian, jalur rel khusus itu ditutup.

Kesadaran warga terhadap potensi ekonomi baru dalam bentuk tambang pasir mulai bangkit. Warga setempat turut mengeksploitasi pasir. Mereka menggali pasir dan menjual dengan pola bagi hasil. Untuk setiap truk pasir, pemilik lahan mendapat bagian Rp 2.000 dan penggali mendapat Rp 3.000.

Pasir sisa letusan perlahan menghilang. Sawah-sawah lebih cepat terbuka, warga pun mulai bertani dan membudidayakan ikan. Namun, penambangan pasir terus berlangsung. ”Penambangan pasir bermasalah karena merusak sebagian dam yang menjadi benteng aliran lahar,” kata Akhmad Zaenuddin, geolog dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Warga tak mau beranjak dari kaki Galunggung. Jutaan ton pasir yang mengubur kampung dan membuat mereka harus mulai dari titik nadir tak mengurungkan niat mereka untuk tinggal di bawah bayangan Galunggung.

Namun, kembalinya warga tidak diikuti dengan penataan ruang dan pemeliharaan infrastruktur, seperti kantong lahar untuk menghadapi letusan Galunggung berikutnya

Zona Waktu Di Indonesia Akan Digabung Menjadi Satu

Pemerintah berencana menyatukan tiga zona waktu Indonesia yang terdiri atas Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT) melalui program GMT+8 sehingga daya saing ekonomi meningkat dan tercipta efisiensi birokrasi.

“WIB, WITA, dan WIT akan disatukan. Rencananya WITA atau GMT+8 yang akan dijadikan patokan waktu,” kata Juru Bicara Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) Edib Muslim di Bogor, Sabtu 10 Maret 2012.

Menurut Edib, penyatuan waktu tersebut untuk meningkatkan produktivitas nasional yang semula hanya terdapat 190 juta penduduk dalam zona WIB, bisa menjadi 240 juta jika waktunya disamakan.

“Selisih satu jam di antara tiga zona waktu di Indonesia ini tidak efektif. Contohnya, dalam waktu dagang antara dunia usaha di zona WIB dan WIT” ujarnya. ” Kalau transaksi perdagangan di Jakarta dimulai jam 09.00 WIB dan berakhir pada jam 17.00 WIB, berarti waktu yang efektif untuk aktivitas perdagangan antara dunia usaha di zona WIB dan WIT cuma empat jam,”

Edib menyatakan, penyatuan waktu semata-mata untuk meningkatkan kinerja birokrasi mulai dari Sabang hingga Merauke.

“Selain itu, penyatuan waktu ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam bidang ekonomi, sosial politik, bahkan ekologi,” katanya.

Melalui GMT+8, katanya, masyarakat yang tinggal di kawasan Indonesia timur dan tengah akan memiliki waktu transaksi yang lebih banyak dengan masyarakat yang tinggal di kawasan Indonesia barat.

“Kami memilih GMT+8 karena berada di tengah-tengah antara WIB dan WIT. Kami masih akan membahas hal ini lebih lanjut,” katanya.

Program GMT+8 yang sedang digalakkan oleh tim KP3EI tersebut, katanya, bertujuan menyatukan tiga zona waktu Indonesia menjadi satu waktu.

Telkomsel Luncurkan Voucher Flash Unlimited

TELKOMSEL meluncurkan voucher Flash Unlimited untuk layanan paket data tanpa batas.

”Internet paling Indonesia merupakan jawaban Telkomsel untuk memenuhi kebutuhan mobile internet yang sesuai karakteristik masyarakat Indonesia. Berbagai inovasi akan terus diberikan untuk mendukung kemudahan pelanggan dalam mengakses data di era beyond telecommunication,” papar Head of Corporate Communication Division Telkomsel Ricardo Indra.

Voucher Flash Unlimited memberi kemudahan bagi para pelanggan Simpati dan Kartu As untuk mengakses internet kapan dan di mana saja tanpa registrasi terlebih dahulu.

Pelanggan dapat menggunakan voucher Flash Unlimited melalui SMS, menelepon ke nomor 888 atau lewat laman depan www.telkomsel.com/infoflash untuk modem dan komputer tablet yang tidak dilengkapi fitur SMS.

Voucher tersedia dengan nominal Rp50 ribu-Rp100 ribu dan hanya dikhususkan untuk akses data sehingga tidak dapat dipakai menelepon dan SMS.

Selama masa promo yang berlangsung sampai 31 Mei 2012, pelanggan akan mendapat bonus fair usage sebesar 25% dari total kuota yang dimiliki.