Category Archives: Sejarah

Sejarah Asal Usul Nama Lokalisasi Gang Dolly dan Kisah Pilu Yang Terlupakan


Sejarah panjang kawasan lokalisasi prostitusi Dolly di Surabaya memang selalu membuat penasaran banyak orang sebab kawasan ini sangat terkenal dan telah ada sejak masa kolonial Belanda. Kini, kawasan itu juga dikatakan sebagai pusat pelacuran terbesar se-Asia Tenggara. Dolly berada di Kelurahan Putat Jata, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Beragam kisah tentang Dolly pun muncul. Ada yang menyebut perintis awal bisnis “esek-esek” di kawasan itu bernama Dolly van der Mart, seorang noni Belanda. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa Dolly lebih dikenal dengan nama Dolly Khavit.

Lokalisasi prostitusi Dolly awalnya merupakan kompleks pemakaman Tionghoa. Sekitar tahun 1960, kawasan itu kemudian dibongkar dan dijadikan permukiman. Sekitar tahun 1967, seorang mantan pekerja seks komersial (PSK) bernama Dolly Khavit yang menikah dengan pelaut Belanda membuka sebuah wisma di kawasan itu. Di dalam buku berjudul Dolly, Kisah Pilu yang Terlewatkan karya penulis Cornelius Prastya R K dan Adir Darma terbitan Pustaka Pena, Yogyakarta, 2011, disebutkan tentang sosok Dolly Khavit yang tomboi.

Dikisahkan, Dolly Khavit mengawali bisnisnya karena kesepian dan merasa sakit hati akibat ditinggal suaminya yang seorang pelaut. Dolly dikenal sebagai sosok wanita cantik yang cukup tersohor kala itu. Hal itu jelas membuat banyak orang penasaran. Meski cantik, Dolly merupakan wanita yang berlagak seperti lelaki. Bahkan disebutkan ia bertransformasi menjadi laki-laki dan menikahi sejumlah perempuan yang kemudian dipekerjakan di rumah bordil yang dikelolanya.

Sebab itu, Dolly diceritakan lebih suka dipanggil “papi” daripada “mami”, sebagaimana biasanya sebutan seorang mucikari. Namun, kecantikannya memang disebut tidak mampu menutup sifat tomboinya. Oleh karena itu, Dolly dinilai bukan hanya sekadar wanita, melainkan juga seorang pria yang menyukai para wanita. Kondisi itu membuat usaha wisma milik “Papi Dolly” ini semakin berkembang. Awalnya hanya untuk melayani tentara Belanda, tetapi laki-laki hidung belang yang datang makin hari makin meluas. Ini sebab, konon pelayanan para anak buah “Papi Dolly” sangat memuaskan.

Bahkan, “Papi Dolly” kemudian tidak hanya memiliki satu wisma, tetapi memiliki empat wisma di kawasan itu. Empat wisma itu masing-masing diberi nama wisma T, Sul, NM, dan MR. Hal itu juga disebutkan dalam buku berjudul Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Komplek Pelacuran Dolly yang ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dan diterbitkan oleh Grafiti Pers, April 1982. Bisnis “Papi Dolly” awalnya sempat dilanjutkan oleh seorang anak hasil hubungan Dolly dengan pelaut Belanda. Namun, usaha itu tidak dilanjutkan setelah anak “Papi Dolly” tersebut meninggal dunia.

Keturunan Dolly disebutkan masih ada yang tinggal di Surabaya, tetapi tidak lagi melanjutkan bisnis itu. Kini, nama Dolly yang tersohor dalam dunia prostitusi sebentar lagi hanya tinggal cerita. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan tekad kuatnya akan menutup kawasan itu malam ini.

Semoga, setelah penutupan kompleks lokalisasi prostitusi Dolly di Surabaya, tidak ada lagi yang mengidentikkan nama Dolly sebagai tempat pelacuran. Harapan itu diungkapkan Handoyo yang mengaku sebagai adik Dolly A Chavid, yang ingin arwah kakaknya tenang di alam baka. ”Setiap hari saya selalu berdoa agar dia tenang. Saya sampai menangis kalau ingat dia,” imbuh anak terakhir dari tiga bersaudara itu.

Selama ini, tidak ada satu pun orang yang tahu dia adalah adik kandung Dolly. Satu adik Dolly lainnya juga masih hidup, dan kini dalam kondisi sakit-sakitan. Handoyo mengaku menyembunyikan identitasnya karena malu disebut sebagai famili dari mantan PSK dan mucikari paling kesohor se-Asia Tenggara itu. Kepada Handoyo, Dolly hanya bisa menangis. Dia sakit hati dengan orang yang mencetuskan agar namanya digunakan untuk kompleks pelacuran.

Namun, menurut Handoyo, Dolly pun mengaku tidak mengerti siapa yang awalnya memberikan nama itu untuk sebutan tempat tersebut. ”Sakit hati itu dibawa mati kakak saya,” kata pria kelahiran Surabaya, 1936, ini.
olly meninggal pada 1992. Pihak keluarga memakamkannya di kompleks pemakaman di Sukun, Kota Malang. Kini, makam tersebut ramai dicari para jurnalis, menyusul kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang menutup kawasan lokalisasi Dolly dan Jarak.

Seorang pekerja seks komersial (PSK), yang mengaku punya nama panggilan Rina dan tinggal di wisma Gang Dolly, mengaku hatinya luluh setelah mendengar dan ikut membaca doa-doa dalam istigasah saat deklarasi tandingan yang digelar di sepanjang Jalan Jarak, jalan masuk ke Gang Dolly, diikuti warga serta puluhan PSK setempat.

Deklarasi dengan membaca doa istigasah disertai dengan potong tumpeng itu adalah deklarasi tandingan melawan deklarasi yang digelar Pemerintah Kota Surabaya, di Gedung Islamic Centre, tak jauh dari lokalisasi Jarak dan Dolly, Rabu (18/6/2014) malam.

Istigasah itu dilangsungkan dengan harapan Dolly tetap buka dan penghuninya terhindar dari segala penganiayaan dari pihak lain yang berencana akan melakukan sweeping ke lokalisasi Dolly dan Jarak. Dari pantauan, saat istigasah berlangsung, yang dipimpin oleh seorang modin setempat, Rina menangis dan terlihat khusyuk membaca kalimat-kalimat istigasah. Seusai istigasah dan berhasil ditemui, Rina mengaku terharu setelah membaca kalimat-kalimat istigasah.

“Hati saya luluh setelah baca istigasah. Terasa banyak dosa. Tapi seakan berat mau meninggalkan kehidupan di Dolly,” katanya lirih. Ditanya soal mengapa bisa masuk ke Dolly, Rina tak mau mengisahkan perjalanan hidupnya hingga masuk Dolly. “Cukup saya yang tahu. Sekarang mumpung libur mau menenangkan diri dulu. Mau istirahat,” aku perempuan yang masih berumur 36 tahun itu.

Rina yang mengaku kelahiran Jember itu sudah lima tahun menghuni Dolly. “Mungkin pada saatnya saya harus meninggalkan profesi saya, tapi tidak sekarang. Bisa saja minggu depan atau bulan depan karena pemerintah sudah deklarasi penutupan Dolly, walau warga dan PSK di sini menolaknya,” katanya pasrah. Ketika ditanya apakah akan segera meninggalkan Dolly, Rina tak menjawab. Hanya menggelengkan kepalanya. “Maaf ya, saya mau balik ke wisma. Mau menenangkan diri,” katanya.

Sulastri, seorang wanita yang kini berumur 29 tahun, mengaku memilih menjadi perempuan bayaran di salah satu wisma di Gang Dolly, Surabaya, setelah diperkosa bapaknya. Kala itu, ayah Sulastri kesepian karena ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan. Jadilah Sulastri sebagai tempat pelampiasan nafsu bapaknya. Masa depannya pun hancur. “Saya putuskan nekat ke Dolly. Saat itu, saya baru lulus SMA di kampung. Akibat bapak, saya hamil. Terpaksa saya gugurkan saat masih dua bulan hamil,” kata perempuan asal Tulungagung itu.

Sejak tahun 2004, Sulastri tak pernah pulang ke kampung halamannya. Ia tidak tahu lagi keberadaan sanak keluarganya di kampung. “Karenanya, saya berharap dan akan terus berjuang, bagaimana (supaya) Dolly tetap buka,” tekannya. Sulastri adalah salah satu PSK di Gang Dolly yang aktif mengikuti aksi blokade jalan. “Saya dan teman-teman akan berjuang mati-matian bagaimana (supaya) Dolly dan Jarak tetap buka,” kata Sulastri.

Ditanya soal besarnya uang kompensasi dari Pemerintah Kota Surabaya senilai Rp 5.050.000 untuk PSK dan Rp 5.000.000 untuk mucikari, Sulastri tegas menolaknya. “Kita menolak ditutup kok, ya harus tolak juga uang kompensasinya,” kata Sulastri. Sulastri mengaku baru akan berhenti bekerja di Dolly jika sudah menikah. “Banyak kok calon yang akan menikah dengan saya. Tapi masih saya persiapkan. Saya sudah punya pacar,” kata perempuan yang mengaku pernah diajak salah satu kepala desa di wilayah Surabaya ini.

Selama bekerja di Dolly, tarif Sulastri tergolong mahal. Per jamnya mencapai Rp 300.000. “Tapi uang itu masih dibagi tiga, untuk mucikari, dan pemilik wisma,” kata dia tanpa mau menyebutkan berapa persen yang ia dapat untuk sekali melayani tamu. “Tak ada kata lain selain tetap tolak penutupan Dolly. Walau sudah dideklarasikan oleh Wali Kota, Dolly dan Jarak ditutup, kita akan tetap beroperasi. Yang datang terima uang kompensasi itu mayoritas bukan PSK, melainkan anggota PKK,” selorohnya.

Setelah Pemerintah Kota Surabaya menggelar deklarasi menutup lokalisasi Jarak dan Dolly pada Rabu (18/6/2014) malam, suasana di dua lokalisasi belum ada perubahan signifikan. Hanya terlihat penjagaan dari warga setempat di sepanjang jalan Jarak dan gang Dolly masih dilakukan. Malam terakhir dua lokalisasi ditutup, menemui seorang pekerja seks komersial (PSK) yang menghuni lokalisasi Jarak. Ia sudah berumur 41 tahun.

“Saya jual diri di Dolly hanya untuk membiayai anak saya sekolah. Anak saya tiga yang semuanya masih sekolah. Suami saya sudah 2 tahun meninggal. Cari pekerjaan susah. Ya, saya kerja di Dolly untuk memenuhi kebutuhan saya dan anak-anak saya,” beber perempuan yang Rabu (18/6/2014) malam juga ikut istigasah bersama PSK lainnya.

Menurut perempuan yang mewanti-wanti tak disebutkan nama aslinya itu, dia masuk ke Dolly sejak 2005 lalu. Sejak ditinggal suaminya, dia harus menanggung biaya hidup tiga anaknya. “Soal dosa, Tuhan yang lebih tahu. Dosa tak ditentukan manusia,” ujarnya sembari menutupi wajahnya dengan sapu tangan. Berapa penghasilan yang didapatnya setiap hari, tidak tentu. “Di Jarak tarifnya beda dengan Dolly. Di Jarak tarifnya lebih murah. Paling mahal Rp 100.000. Kalau di Dolly di atas Rp 200.000. Jika ramai, paling ada tiga tamu yang saya layani,” akunya.

Tapi selama kerja di lokalisasi Jarak, dia mampu membiayai ketiga anaknya untuk sekolah. Kini ketiga anaknya ada di Malang. Setelah pemkot Surabaya menggelar deklarasi menutup dua lokalisasi, dia berharap wali kota Surabaya mau berdialog dengan para PSK dan warga di lima RW di Jarak dan di Dolly. “Jujur, tak ada yang mau menjual dirinya. Tapi karena ini soal kebutuhan ekonomi dan susahnya cari pekerjaan. Kerja apa saja bisa dilakukan,” katanya.

Ditanya apakah akan pulang kampung ke Malang? Dia mengaku jika di Jarak dan di Dolly sudah tak bisa dioperasi ia terpaksa harus pulang ke Malang. “Karena di Malang juga ada lokalisasi. Tapi jika ada pekerjaan lain, mungkin cari pekerjaan lain,” terangnya. Soal uang konvensasi dari Pemkot Surabaya senilai Rp 3 juta itu, perempuan yang tinggal di Kecamatan Sumbermanjing Wetan sepakat tidak akan mengambilnya. “Kita jaga solidaritas. Sepakat tak akan mengambil uang itu. Lebih baik kita terima tamu saja,” tegasnya.

Sementara itu, Pemkot Surabaya, pada Kamis (19/6/2014) pagi, akan memberikan uang konvensasi untuk PSK dan mucikari kepada 1.449 orang. Pembagian uang konvensasi itu akan diberikan di kantor Koramil Kecamatan Sawahan, tak jauh dari dua lokalisasi Jarak dan Dolly. Musik berdentam keras di salah satu tempat hiburan malam di Banyuwangi. Seorang perempuan mengenakan pakaian seksi tampak bergoyang mengikuti irama musik.

“Nunggu pelanggan,” ungkapnya. Sari, perempuan berusia 31 tahun itu, mengaku sudah hampir delapan bulan memilih beroperasi di tempat hiburan malam. “Sebelum di sini saya tinggal di kompleks lokalisasi. Ikut sama mucikari. Tapi sejak ditutup dan sering grebekan sama satpol PP, hidup saya enggak tenang. Akhirnya, saya kos saja dekat sini (menyebutkan nama lingkungan). Kalau malam, baru saya keluar cari pelanggan,” kata perempuan yang mengaku berasal dari Lumajang ini.

Sari mengatakan bahwa ia adalah salah satu wanita pekerja seksual yang mendapatkan bantuan dari pemerintah pada tahun 2013 lalu. Ia memilih kembali menjual diri karena uang bantuan yang ia dapatkan habis untuk membayar utang. “Sama mami saya yang dulu, saya punya utang banyak. Jadi uang bantuannya buat nutup utang biar bisa keluar dan pindah ke kompleks lokalisasi lain. Eh, sudah pindah ternyata banyak grebekan juga. Pernah saya sampai harus sembunyi di pohon-pohon jati sampai tengah malam agar enggak tertangkap, waktu tempat baru saya digerebek satpol PP. Kapok sih, tapi gimana lagi? Saya butuh uang buat hidup anak saya,” ungkap Sari.

Sari bercerita, anaknya ia titipkan pada saudaranya yang tinggal di Jember. “Seminggu sekali saya antar uang buat anak saya. Dia sekarang TK. Saya harus bekerja agar dia bisa sekolah. Ayahnya enggak tau ke mana, katanya sih nikah lagi. Dia meninggalkan saya, waktu anak saya masih umur tiga bulan. Saya bekerja seperti ini karena terpaksa, belum lagi suami saya meninggalkan utang cukup banyak. Rumah kami dipegang rentenir sekarang,” keluhnya.

Saat memutuskan untuk kos, Sari mengatakan bahwa ia harus mengeluarkan uang lebih dibandingkan saat tinggal di kawasan lokalisasi. “Kalo kos kan harus bayar uang kos setiap bulan, terus kadang juga harus beli minuman sendiri seperti ini. Tapi saya anti membawa tamu saya ke kamar kos. Saya maunya di hotel,” tambahnya.

Demi menghindari grebekan, Sari tidak menetap. Ia berpindah-pindah dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan lain. “Nggak harus dugem seperti ini kok. Pindah-pindah. Kalau nggak gitu, gampang terdata sama petugas. Di kafe-kafe juga, tetapi biasanya janjian sama yang sudah kenal. Kalau kafe, biasanya saya di wilayah selatan,” ujar Sari lagi.

Agar pekerjaannya tidak diketahui oleh tetangga kos, Sari mengaku bekerja sebagai penjaga toko. “Saya pakai baju biasa aja. Dandan sama gantinya nanti di rumah teman,” ujarnya. Untuk menjaga kesehatan, dia masih rajin memeriksakan diri dan meminta pelanggannya menggunakan kondom.

“Istilahnya korekan. Paling lama tiga bulan sekali saya selalu periksa ke puskesmas langganan sejak di kompleks lokalisasi dulu. Saya tau kalau pekerjaan saya ini bisa jadi sumber penyakit. Siapa lagi yang peduli kalau bukan saya sendiri. Saya kerja ya kerja sendiri. Saya sakit ya sakit sendiri. Anak saya sekolah ya saya yang mati-matian kerja seperti ini. Jadi ya saya yang harus melindungi diri saya sendiri,” kata dia dengan mata berkaca-kaca.

Sari mengatakan, ia ingin berhenti dari pekerjaan yang sudah ia tekuni selama lima tahun terakhir ini. Namun, dia tidak tahu harus bekerja apa lagi. “Saya janji pada diri saya sendiri, setelah utang dari suami saya lunas, saya mau berhenti. Jadi pembantu pun saya enggak masalah. Sekarang perempuan mana yang mau dan mampu harus tidur dengan laki-laki yang berbeda setiap hari kalau bukan untuk bertahan hidup seperti saya,” kata Sari.

Kisah Kutukan Lembu Sura dan Letusan Gunung Kelud Yang Akhiri Kerajaan Majapahit


“Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung” ~Lembu Sura~

Kalimat di atas adalah “sepatan” alias kutukan yang diucapkan Lembu Sura, tokoh legenda yang mewarnai sejarah Kabupaten Kediri di Jawa Timur. Juga, sejarah kerajaan Majapahit. Ada beragam versi soal Lembu Sura yang berakhir dengan kutukan dan menjadi sejarah lisan kehadiran Gunung Kelud ini. Meski demikian, semua bertutur tentang cara seorang perempuan cantik menolak lamaran Lembu Sura.

Satu versi, adalah cerita dengan perempuan cantik Dewi Kilisuci yang adalah anak Jenggolo Manik. Versi lain, ini adalah kisah tentang Dyah Ayu Pusparani, putri dari Raja Brawijaya, penguasa tahta Majapahit. Ada versi-versi lain tetapi inti cerita sama. Kisah ini bermula dari kecantikan yang tersohor, mendatangkan para pelamar, sayangnya yang datang tak sesuai harapan. Tak enak menolak, maka cara sulit diterapkan. Tak beda dengan kisah Rorojonggrang dan legenda candi Prambanan.

Namun, dalam legenda Gunung Kelud, pelamar sang putri ini masih pula bukan manusia. Dia makhluk berkepala lembu. Itulah Lembu Sura. Untuk menolak lamaran Lembu Sura, dibuatlah syarat pembuatan sumur sangat dalam hanya dalam waktu semalam. Tak dinyana, Lembu Sura ini punya kekuatan dan kemampuan untuk mewujudkan syarat itu.

Melihat perkembangan tak menggembirakan, sang putri pun menangis. Ayahnya, dalam versi kisah yang mana pun, kemudian memerintahkan para prajurit untuk menimbun Lembu Sura yang masih terus menggali di sumur persyaratan itu. Batu demi batu dimasukkan ke lubang sumur, menjadi sebentuk bukit menyembul karena ada Lembu Sura di dalamnya. Saat batu dilemparkan, Lembu Sura masih memohon untuk tak ditimbun.

Begitu menyadari bahwa permohonannya akan sia-sia, keluarlah “sepatan” sebagaimana menjadi kutipan di atas. Sejak saat itulah legenda Gunung Kelud dan kedahsyatan letusan maupun dampaknya mengemuka.

Hancurnya Majapahit
Terlepas dari mitos Lembu Sura, tiga wilayah yang disebut dalam kutukannya itu memang kemudian luluh lantak. Para ahli sejarah memperkirakan letusan pada1586 yang menewaskan lebih dari 10.000 orang adalah akhir dari sejarah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Betul, catatan sejarah menyebutkan Kerajaan Majapahit diperkirakan runtuh pada kisaran angka tahun 1478. Namun, para sejarawan hari ini pun mengakui masih banyak yang belum terkuak soal sejarah kerajaan itu, seperti misalnya dugaan ada dua Majapahit pada satu masa.

Apa kaitannya dengan Gunung Kelud? Tentu saja letusannya.
Peta rawan bencana letusan Gunung Kelud, yang dirilis Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral menyusul peningkatan status kegunungapian Gunung Kelud menjadi Awas, Kamis (13/2/2014) malam. Gunung ini kembali meletus pada Kamis dengan letusan pertama terjadi pada pukul 22.50 WIB. Sebelum letusan pada 2007, setidaknya sejak awal abad 1900-an diketahui bahwa kawah Gunung Kelud memiliki danau. Kecuali letusan pada 2007, letusannya pun diketahui bertipe eksplosif, termasuk letusan pada Kamis (13/2/2014) malam.

Dalam sebuah wawancara mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral (ESDM) Surono mengatakan keberadaan danau di kawah ini sama bahayanya dengan lontaran material padat dari letusan gunung.

Surono yang pada Jumat (14/2/2014) diangkat menjadi Kepala Badan Geologi, mengatakan lontaran air dari danau kawah, bila masih ada, bisa mencapai sekitar 37,5 kilometer. Sudah air panas, bercampur magma, masih dipadukan dengan seratusan juta ton material padat yang terlontar.

Kira-kira, karena tak ada catatan sejarahnya, itulah yang terjadi pada letusan 1586. Namun, bukan pula letusan itu saja yang menyebabkan korban jiwa mencapai lebih dari 10.000 jiwa. Dampak sesudah letusan, tak kurang buruknya. Diduga, kematian puluhan ribu orang itu juga disebabkan kelaparan. Dengan muntahnya air danau kawah, lontaran material padat, dan abu vulkanik yang mematikan tanaman, dapat diduga tak ada pasokan makanan yang bisa disediakan dalam jumlah besar untuk jumlah warga pada saat itu.

Membaca simbol tradisi lisan untuk mitigasi bencana
Inilah yang kemudian diduga sebagai penyebab benar-benar paripurnanya sejarah kerajaan Majapahit, menutup beragam konflik politik internal zaman itu, maupun legenda kutukan Lembu Sura. Sebagai gambaran, letusan pada 1919 yang notabene relatif lebih modern dibandingkan kondisi pada 1586, juga menewaskan ribuan orang. Angka yang tercatat adalah 5.160 orang. Letusan pada 1919 inilah yang mengawali dilanjutkannya upaya pembangunan terowongan di kaki gunung berketinggian 1.731 meter tersebut.

Terowongan-terowongan tersebut berfungsi mengurangi volume air di kawah danau. Catatan tertua tentang upaya mengurangi dampak dari lahar cair, gabungan magma dan air danau yang mendidih, adalah “kelahiran” Sungai Harinjing yang sekarang dikenal sebagai Sungai Sarinjing di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri. Sungai ini merupakan sudetan dari Sungai Konto.

Kehadiran Sungai Serinjing tercatat dalam prasasti Harinjing di Desa Siman. Dalam prasasti yang dikenal pula sebagai Prasasti Sukabumi itu, tertera angka tahun 921 M. Di situ diceritakan soal pembangunan bendungan dan sungai yang dimulai pertama kali pada 804 M. Terowongan pengalir air dari danau kawah buatan 1926, setelah letusan pada 1919, masih berfungsi sampai sekarang. Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama.

Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera. Fungsinya menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik. Volume air di kawah Gunung Kelud susut dan hanya menyisakan genangan pada letusan efusif 2007. Pada letusan Kamis (13/2/2014) malam, air danau bisa jadi bukan lagi ancaman. Namun, terbukti pada malam itu bawa Gunung Kelud masih memiliki ciri letusan eksplosif. Lontaran material padat vulkanik pada letusan terbesar pada pukul 23.30 WIB mencapai ketinggian 17 kilometer, ketika letusan pertama melontarkan material hingga setinggi 3 kilometer.

Jangkauan abu vulkanik letusan Gunung Kelud pada malam itu pun menyebar luas mengikuti arah angin, menyebar luas di Jawa Tengah dan menjangkau Jawa Barat. Bisa jadi gabungan antara pembangunan saluran-saluran air yang telah menghadirkan 11 sungai berhulu di gunung itu, letusan efusif yang menyurutkan air danau kawah, dan persiapan yang lebih baik menjadi faktor yang meminimalkan jumlah korban.

Namun, barangkali pekerjaan rumah tetap belum habis. Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelud memiliki pola letusan berjeda pendek, antara 9 sampai 25 tahun. Walaupun korban jiwa yang jatuh dalam dua hari ini bukan karena dampak langsung letusan, tetapi fakta sangat pendeknya tenggat waktu antara peningkatan status Awas sampai terjadi letusan pada Kamis malam, tetap merupakan sebuah catatan baru.

Jarak waktu peningkatan status hingga terjadinya letusan, tak sampai dua jam. Kalaupun kutukan Lembu Sura tak lagi relevan sebagai mitos, barangkali perlu dibaca ada simbol-simbol budaya dalam tradisi lisan sebagai “kode” mitigasi bencana. Percaya atau tidak, hari ini selain 11 sungai ada di Kediri, di Tulungagung pun ada Bendungan Wonorejo, dan Blitar menjadi sebidang tanah datar di kawasan yang dikelilingi danau dan sungai itu. Agak terdengar familiar? Betul, kalimat dalam legenda Lembu Sura.

Mari Pelajari Peninggalan Bersejarah Kerajaan Gelang Gelang


Ada jejak peninggalan bersejarah di Ngurawan, Dolopo, Madiun, Jawa Timur yang seolah dilupakan. Peninggalan ini sisa-sisa Kerajaan Gelang Gelang yang berdiri pada tahun 1290-an lalu. “Lokasi ini seperti sejarah yang tidak diakui,” jelas aktivis Komunitas Bersejarah Madiun, Nunung Widia saat berbincang, Senin (27/1/2014).

Dahulu Kerajaan Gelang Gelang ini didirikan oleh Jayakatwang yang menghancurkan Kerajaan Singosari. Kini jejak-jejak kerajaan Jayakatwang itu masih tersisa, sayangnya tak terawat. “Dahulu pertama kali di tempat itu cikal bakal yang namanya bendera merah putih dikibarkan, dalam bentuk panji-panji. Ada situs-situs dan prasasti di tempat ini,” terang Widia.

Di desa di kawasan Madiun ini, situs kerajaan Gelang Gelang bertebaran. Bahkan ada yang di pekarangan dan persawahan rumah warga. “Kawasan ini semestinya ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya agar melindungi peninggalan masa lalu,” terang dia. Hingga kini sisa-sisa peninggalan bersejarah itu teronggok begitu saja. Tak ada perawatan dan tak ada eskavasi. Pihak arkeologi menurut Widia hanya sekedar tahu saja. “Padahal bila melihat area sisa peninggalan kerajaan ini, diperkirakan ada candi dan berbagai sarana kota. Kita saja bisa melihat bekas pentirtaan atau tempat mandi raja-raja,” tuturnya.

ejak peninggalan bersejarah Kerajaan Gelang Gelang di Desa Ngurawan, Dolopo, Madiun benar-benar terlupakan. Keberadaan situs bersejarah itu hanya sekedar diketahui saja, untuk perawatan dan penjagaan, hanya Tuhan yang tahu. “Banyak kolektor datang ke tempat ini,” jelas aktivis komunitas bersejarah di Madiun, Nunung Widia saat berbincang, Senin (27/1/2014).

Kerajaan Gelang Gelang yang didirikan Jayakatwang pada 1290-an ini kini hanya menyisakan reruntuhan bekas istana. Kerajaan Gelang Gelang ini yang dahulu meruntuhkan Kerajaan Singosari. “Banyak arca di tempat ini yang kepalanya terpenggal,” jelas Nunung. Peninggalan bekas Kerajaan Gelang Gelang ini memang bercampur baur dengan kebun, pekarangan, dan persawahan warga. Tak jelas batasnya, hanya saja tersebar di sejumlah titik.

Diduga kawasan Desa Ngurawan ini dahulu kawasan istana serta perkotaan Kerajaan Gelang Gelang. Sebagai buktinya masih tersisa tembok-tembok istana. “Ini meliputi area sekitar 30-an hektar. Hanya penduduk saja yang berjaga di kawasan ini. Arca-arca seperti Ganesha tersebar, diduga ada candi dan tempat pemandian di kawasan ini,” jelasnya. Nunung bersama rekan-rekannya, hanya bisa peduli dan berupaya merawat sebisanya. Mereka berharap ada kepedulian lebih dari pemerintah akan peninggalan bersejarah ini.

Sejarah Kawasan Pluit dan Mengapa Dinamakan Pluit


Sejak dahulu Jakarta dikenal sebagai wilayah yang mempunyai banyak situ atau rawa. Di awal 1960-an, rawa berfungsi untuk menampung air hujan dan limpahan air dari daerah Bogor, Puncak, dan Cianjur sehingga dapat menyelamatkan Jakarta dari banjir besar, sekaligus penyuplai air tanah di sekitarnya.

Rawa umumnya, daerah resapan berada di dataran rendah. Secara geologis, seluruh dataran terdiri dari endapan Pleistocene ±50 m di bawah permukaan tanah, terutama dataran Pluit yang berada di bawah permukaan laut.

Nama Pluit berasal dari kata fluitschip yang artinya kapal (layar) panjang berlunas ramping. Dulu Belanda meletakkan sebuah fluitschip bernama Het Whitte Paert, yang sudah tidak laik laut di pantai sebelah timur muara Kali Angke. Tempat ini dijadikan kubu pertahanan dalam menghadapi serangan pasukan Banten. Kubu ini dikenal dengan nama De Fluit. Sekarang kita mengenalnya sebagai kawasan Pluit.

Kawasan Pluit berada di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Jakarta Utara merupakan tempat bermuaranya 13 sungai dan dua kanal. Pluit berada di dataran rendah di bawah permukaan laut berupa dataran rawa. Daerah ini baru berkembang pada zaman Ali Sadikin memimpin Jakarta. Kini kawasan ini dikenal dengan perumahan mewahnya, yang hanya dapat dibeli oleh orang-orang yang benar-benar kaya. Di antaranya kawasan modern Pluit, Pulo Mas dan Pantai Mutiara.

Di daerah utara, Kelurahan Pluit berbatasan dengan Teluk Jakarta; sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Penjaringan, dan Kelurahan Pejagalan; serta di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Kapuk Muara dan Kelurahan Penjaringan di sebelah selatan.

Kelurahan Pluit mencakup Pluit, Muara Karang, Pantai Mutiara, Waduk Pluit, Kawasan Pergudangan Pluit, dan Pemukiman Nelayan Muara Angke. Perumahan serta mal mewah seperti Pluit Village (sebelumnya Mega Mall), Emporium Pluit, dan Pluit Junction.

Kelurahan Pluit memiliki penduduk sebanyak 16. 173 KK dengan 19 RW dan 232 RT. Luas wilayah kelurahan 7.79 kilometer persegi.

Daerah hamparan rawa yang direklamasi menjadi hamparan beton. Guna menampung air sementara dari aliran sungai sebelum ke laut dibangun Waduk Pluit dengan luas 80 hektare. Waduk ini juga untuk mencegah banjir. Pembangunan waduk selesai pada tahun 1981.

Perjalanan kawasan Pluit:

1960, kawasan Pluit dinyatakan sebagai kawasan tertutup. Kawasan ini direncanakan sebagai polder Pluit dan pekerjaan pengerukan kali melalui Keputusan Peperda Jakarta Raya dan Sekitarnya No 387/ Tahun 1960. Namun, di bawah Otorita Pluit, ada pengembangan Pluit Baru untuk pengembangan perumahan, industri, dan waduk. Adapun daerah Muara Karang, Teluk Gong dan Muara Angke untuk perumahan dan pembangkit listrik, serta kampung nelayan.

1971 – Proyek Pluit terus dilanjutkan dengan perluasan wilayah hingga ke Jelambar dan Pejagalan.

1976 – kawasan Pluit menjadi permukiman moderen dengan tempat rekreasi dan lokasi perindustrian

1981 – selesai pembangunan Waduk Pluit. Terjadi banjir besar di Pluit

1985, 1996, 2002, 2007, 2013 – Banjir besar melanda Pluit

Tercatat penurunan tanah hingga 4.1 meter di satu titik antara Pluit dan Muara Baru dari 1974-2010 sehingga tak heran jika Pluit selalu menjadi langgan banjir besar yang susah surut, baik saat air laut pasang maupun surut.

Ditemukan Makam Di Situs Megalitikum Gunung Padang


Situs megalitik Gunung Padang menjadi buah bibir setelah sejumlah peneliti dari berbagai disiplin ilmu berupaya menguak secara scientific situs yang diperkirakan berusia 500 tahun sebelum masehi tersebut. Baru-baru ini, arkeolog menemukan deretan makan tua yang ada di punden berundak tersebut.

Adalah Ali Akbar, Arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) yang menemukan kelompok makam di dalam area penelitian situs yang ada di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sekitar 50 KM dari Kota Cianjur, Jawa Barat.

“Makam itu ada di tenggara teras kelima (teras puncak) Gunung Padang, agak menurun sedikit, ada beberapa makam di sana,” kata Ali saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/1/2013).

Berdasarkan pengamatannya, makam tersebut ada di areal situs megalitik sekitar tahun 1900-an. Dari beberapa makam yang ada, terdapat satu makam yang sedikit memberikan gambaran mengenai keberadaan makam dari sepasang nisan makam tersebut.

“Bila dilihat dari bentuk makamnya, itu adalah makam Islam. Satu nisan bertuliskan huruf latin dan satunya lagi bertuliskan huruf Arab,” terangnya.

Dari batu nisan itu tertulis Hadi Winata yang wafat pada tahun 1947 yang wafat di usia 68 tahun, artinya lahir pada tahun 1879 masehi. Di nisan lainnya, masih di makam yang sama, tertulis huruf Arab dan terdapat keterangan tahun hijriyah, yaitu 1356 H. Menurut Ali, dirinya masih meneliti keterkaitan keterangan tahun Hijriyah yang tertera dengan tahun masehi di nisan tersebut.

“Bila di nisan tulisan Arab tertulis Prabu,” terang Ali. Dia menambahkan, kemungkinan jasad yang dimakamkan itu merupakan dari golongan bangsawan bila sekilas diamati dari nama latin yang tercantum di nisan dan juga tulisan ‘Prabu’ di nisan berhuruf Arab.

Namun sayang, para peneliti belum bisa menaksir usia makam lainnya yang ada di areal Gunung Padang. “Ada yang lebih tua lagi, tapi tidak ada tulisan di nisannya, jadi belum bisa diprediksi berapa usia makam itu,” ujarnya.

Terkait penemuan tersebut, Ali sudah melaporkannya ke tim penelitian untuk kemudan ditindaklanjuti. Penelitian arkeologi situs Megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, mulai menempuh babak akhir. Seperti apa rupa dari punden berundak yang menjadi kontroversi ini akan segera terkuak.

Apa yang akan dilakukan Ke depan? Semua tim terus bekerja dengan titik konsentrasi di lokasi yang berada di luar situs. Tim arkeologi menjadi terdepan membuka ‘pintu peradaban’ leluhur yang sangat luar biasa ini. Adapun bentuk dan isi di dalamnya akan secara otomatis terkuak,” kata Erick Rizky, Asisten Stafsus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (19/12/2012)

Penelitian situs yang ditaksir berusia 500 tahun lebih ini terdiri dari berbagai unsur akademis. Menurut Erick, Tim Geologi sudha 99 persen memiliki data lengkap geolistrik dan alat bantu geofisika. Ditambah pemetaan satelit, kountur dan DEM.

“Dari hasil itu ditambah pembuktian di beberapa titik bor sampling serta analisa petrografi secara scientific bisa disimpulkan memang ada man made structure di bawah permukaan situs gunung padang,” papar Erick menambahkan hasil riset dipaparkan Selasa (18/12) malam dari pukul 19.00 hingga 00.00 WIB.

Erick menambahkan, dari penelitian para akademisi itu juga ditengarai memiliki chamber dan bentuk struktur lain dugaan goa dan lorong, serta kecenderungan adanya anomali magnetik di berbagai lintasan alat geofisika.

“Temuan ini makin diperkuat dengan temuan tim arkeologi yang berhasil menemukan artefak-artefak di barat dan timur bangunan Gunung Padang terutama di luar situs. Bahkan temuan awal batu melengkung di timur dipertunjukan yang kuat diduga sebagai ‘pintu’. Ini temuan yang luar biasa,” jelasnya.

Menurut Erick, dari paparan penelitian luasan situs diperkirakan memiliki luasan yang lebih besar dari data yang dimiliki saat ini. “Tim sudah hampir mirip dengan temuan di sumba Nusa Tenggara. Sebelumnya Tim arsitektur menemukan kemiripan yang sama dengan piramida Machupichu Mexico,” jelasnya.

Bapak arkeologi Indonesia yang juga Guru Besar UI Profesor Mundardjito tak habis pikir akan kabar yang ditiupkan soal piramida Gunung Padang di Cianjur. Menurutnya, isu itu malah merusak situs Gunung Padang. Ribuan orang datang berbondong dan berbuat tanpa kontrol di situs purbakala itu.

“Akibat isu piramida, semakin banyak pengunjung yang datang, semakin rusak. Manusia pakai sepatu menginjak-injak bebatuan, menggores dengan kunci mengukir nama. Ini akumulasi yang harus ditangani dengan serius,” kata Mundardjito saat berbincang dengan detikcom, Rabu (19/12/2012).

Mundardjito sedih, situs yang diperkirakan berusia 2.000 tahun itu malah kini tenar dengan isu piramida. Bukan pada sejarah keberadaan situs megalitik peninggalan nenek moyang itu. Mundardjito yang terlibat dalam restorasi Borobudur dan Prambanan ini sendiri tak yakni kalau Gunung Padang itu sebuah piramida.

“Kalau kita lihat, Gunung Padang itu unik, megah, dan monumental. Lokasi yang bagus, sebuah bukit yang dikelilingi bukit yang lain dan juga sungai. Rasanya ini memang menarik masyarakat. Kita juga bisa melihat kemampuan nenek moyang kita merancang dan menyiapkan batuan di atas bukit, sebelum kita dipengaruhi kebudayaan India,” terang Mundardjito yang kini berusia 76 tahun ini.

Arkeolog senior Indonesia yang pernah ikut eskavasi di Yunani ini menjelaskan, yang utama dalam sebuah situs adalah perlindungan. Kondisi Gunung Padang amat memprihatinkan. Hanya kabarnya saja yang disebarkan ada piramida tapi tak ada konservasi akan situs itu.

“Sekarang susunan batu di sana, banyak yang diatur manusia. Susunannya palsu, diatur-atur. Kondisi situs Gunung Padang juga belum ditangani kompehensif, batu-batu berserakan, miring, roboh. Erupsi tanah saat hujan juga terus terjadi. Kita tidak ingin ini terus terjadi,” terangnya.

Mundardjito menuturkan, keaslian bentuk harus dijaga. Apalagi situs itu merupakan bagian cagar budaya. Tentu perlindungan maksimal harus diupayakan. Janganlah hanya mencari sesuatu yang di luar perkiraan seperti piramida dengan merusak situs itu.

Dia juga mengusulkan membagi Gunung Padang dalam tiga zona. Zona inti yang harus diproteksi, benar-benar daerah ‘haram’ dari bangunan. Zona dua, menjadi penjaga zona inti, dan kemudian zoan tiga atau zona pengembangan yang bisa dipakai penduduk setempat untuk memberikan jasa kepada wisatawan.

“Heritage for all. Perlindungan hukum dibuat dengan SK Cagar Budaya oleh bupati, dan harus ada zona di kawasan itu. Cagar budaya itu tak ternilai. Selamatkan Gunung Padang,” tegasnya.

Selama ini catatan sejarah menulis penemu Situs Megalitik Gunung Padang Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sekitar 50 KM dari Kota Cianjur, Jawa Barat, adalah NJ Krom yang merupakan warga negara Belanda. Namun, ditemukannya deretan makam di areal yang kini menjadi objek penelitian itu, diharapkan dapat membuka tabir baru jika masyarakat sekitarlah yang pertama kali menemukan situs tersebut.

“Dengan adanya makam di situ (areal Gunung Padang), artinya ada masyarakat yang tinggal dan menetap di situ, kemudian ada jeda sampai MJ Krim menemukan situs tersebut dan melaporkannya ke pemerintah Belanda,” ujar Arkeolog UI, Ali Akbar, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/1/2013).

Ali memaklumi, bila Belanda mencatat temuan Krom tahun 1914 itu dalam catatan pemerintahannya. Pasalnya, pemerintahan saat itu dipegang oleh Gubernur Hindia-Belanda, dimana Krom memiliki akses langsung ke pemerintah untuk memasukannya ke dalam temuan Belanda.

“Maksudnya ke depan, kita menghargai masyarakat setempat yang mereka sudah lebih dulu tahu dan menjaganya namun tidak masuk dalam laporan temuan,” kata Ali.

Berdasarkan temuan tim penelitian di Gunung Padang, terdapat beberapa makam yang terletak di teras kelima situs megalitik tersebut. Ali menyebut, makam yang ditemukan tersebut bergaya makam Islam yang masing-masing makamnya memiliki nisan. Namun, hanya satu makam yang tulisan di nisannya masih terbaca.

Di nisan satu tertera tulisan latin yang menerangkan nama jasad yang dimakamkan bernama Hadi Winata yang wafat pada tahun 1947. Almarhum tertulis juga wafat pada usia 68 tahun, artinya almarhum lahir pada tahun 1879. Di nisan lainnya makam yang sama, tertera pula tulisan Arab, di nisan tersebut terbaca ‘prabu’ serta terdapat tahun hijriyah, 1356 H.

Bungker Kuno Zaman Belanda Beserta Instalasi Listriknya Ditemukan Di RS Kariadi Semarang


Sebuah bungker misterius yang diduga peninggalan jaman kolonial Belanda ditemukan di kawasan proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) RS Kariadi Semarang. Bungker tersebut ditemukan oleh pekerja proyek saat menggali tanah menggunakan alat berat tiga hari lalu, Sabtu (23/6/2012).

Karyawan kontraktor bagian keselamatan kerja, Mujiyono mengatakan, pihaknya menemukan pintu saat menggali bagian bawah bukit yang tadinya terdapat tempat pembuangan sampah di dekatnya.

“Untuk membuat IPAL, kami menggali dari atas ke bawah. Lalu ketika sampai di bawah kami menemukan tempat tersebut,” kata Mujiyono di RS Kariadi, Jalan Dr. Sutomo, Semarang, Selasa (26/6/2012).

“Kami menggali tanah di sekitar goa secara manual sejak Sabtu lalu,” imbuhnya.

Setelah diukur, bungker tersebut memiliki ketebalan 42 cm, lebar 2 meter, dan kedalaman 5,2 meter. Ketinggiannya diperkirakan mencapai 2 meter. Belum diketahui apakah masih ada akses ke ruang bawah tanah atau tidak karena masih terdapat timbunan tanah setebal 70 cm.

“Nanti timbunan tanah tersebut akan kami gali secara manual untuk mengetahui apa yang ada di dalam goa. Tadinya juga ada pintu besi tua yang sudah karatan setinggi 110 cm,” pungkasnya.

Mujiyono juga menjelaskan, dari material batu bata yang terlihat pada bungker, diduga sudah ada sejak jaman Belanda. Selain itu terdapat instalasi listrik model kuno di dalam yang terhubung dengan tempat lampu yang berada di atas dinding.

“Dilihat dari batu batanya yang tebal, seperti yang ada pada bangunan Lawang Sewu dan Stasiun Tawang,” tutur Mujiyono sembari mengukur ketebalan batu bata dengan tangan.

Sementara itu Humas RS Kariadi, Darwito mengatakan untuk bangunan RS sendiri sudah berdiri sejak jaman kolonial Belanda tahun 1925, namun di dalam denah RS tidak ada bungker dan hanya berupa bukit.

“Bangunan RS sudah ada sejak jaman kolonial tahun 1925. Di denah RS hanya terdapat bukit di sana,” ujar Darwito.

Asal Usul Nama Kota Tangerang


Kota Tangerang belum lama ini merayakan hari ulang tahun ke-19. Kota yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang, Banten, ini berkembang pesat di segala sektor.

Tapi tahukah Anda asal usul nama Tangerang? Dalam tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Tangerang, nama “Tangerang” dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran yang berasal dari bahasa Sunda, yaitu tengger dan perang.

Kata “tengger” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, sekitar pertengahan abad ke-17.

Oleh karena itu, ada pula yang menyebut Tangerang berasal dari kata “Tanggeran” (dengan satu g maupun dobel g—Red).

Daerah yang dimaksud berada di bagian sebelah barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung Jalan Otto Iskandardinata sekarang).

Tugu dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut: Bismillah peget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gasal Sapar Tahun Wau/Rengsena Perang nelek Nangeran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi

Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa/Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan Tugu/Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas (Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian/Semua menjaga tanah kaum Parahyang

Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC.

Hal ini makin dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane.

Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng. Hingga masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Beteng”.

Perubahan sebutan “Tangeran” menjadi “Tangerang” terjadi pada masa daerah Tangeran mulai dikuasai oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684.

Daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda. Kala itu, tentara Belanda tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda, tetapi juga merekrut warga pribumi di antaranya dari Madura dan Makassar yang di antaranya ditempatkan di sekitar beteng.

Tentara kompeni yang berasal dari Makassar tidak mengenal huruf mati, dan terbiasa menyebut “Tangeran” dengan “Tangerang”. Kesalahan ejaan dan dialek inilah yang diwariskan hingga kini.