Category Archives: Serangan Ulat Bulu

Serangan Ulat Bulu Sudah Sampai Di Jakarta … Di Tanjung Duren


Fenomena serangan ulat bulu yang menggemparkan sejumlah kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah, kini mulai merambah Jakarta. Ulat bulu diketahui mulai menyerang kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, sejak Selasa (12/4/2011) kemarin. Akan tetapi, jenis ulat bulu di Jakarta berbeda dengan wabah ulat bulu yang terdapat di Probolinggo, Jawa Timur.

“Memang benar sudah ada ulat bulu itu. Tapi ini berbeda seperti yang terjadi di Probolinggo,” ujar Kepala Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Barat, Bambang Wisanggeni saat dihubungi wartawan, Rabu (13/4/2011).

Bambang menjelaskan, ulat bulu di kawasan Tanjung Duren ini sudah ada sejak tahun 2007. Keberadaannya musiman dan sudah menertap di wilayah tersebut. Ulat bulu ini menyerang 30 pohon cemara yang ada di Kali Sekretaris, tepatnya RT 15 RW 7, Kelurahan Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Pada satu pohon cemara terdapat sekitar 60 ulat yang berkembang biak. Sehingga, sekitar 1.800 ulat menyerang 30 pohon cemara di wilayah itu. Namun, Bambang menuturkan, ulat bulu ini tidak sampai menjalar ke rumah warga seperti halnya yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur. Dengan demikian, ulat bulu tidak akan mengganggu warga sekitar.

“Hingga kini belum ada laporan warga yang mengaku terserang ulat bulu. Apakah terjangkit gatal-gatal karena serangan ulat bulu tersebut. Kemungkinan menyebar sangat kecil,” katanya.

Adapun, untuk mengantisipasi keberadaan ulat bulu semakin menyebar, Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Barat telah mengerahkan petugas untuk melakukan penyuluhan pertanian dan memantau kondisi tanaman-tanaman di Jakarta Barat.

Wabah ulat bulu mulai menyerang wilayah Jakarta Barat. Hal ini membuat kawasan lain di Jakarta mulai waspada akan wabah ulat bulu yang awalnya menyerang Probolinggo, Jawa Timur, tersebut. Kegiatan pemantauan mulai dilakukan antara lain oleh Suku Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Selatan yang memantau ke beberapa titik lokasi yang dianggap berpotensi terjangkit wabah ulat bulu.

“Kami tetap antisipasi dan terus lakukan pemantauan,” tutur Kasudin Pertanian dan Kehutanan Jakarta Selatan Aswin Saragih, Rabu (13/4/2011) di Jakarta.

Hingga kini, Sudin Pertanian dan Kehutanan Jakarta Selatan masih belum menerima laporan warga terkait keberadaan ulat bulu. Menurut Aswin, hal itu karenawilayah Jakarta Selatan berbeda dengan Jakarta Barat. “Jakarta Selatan tidak memiliki siklus tahunan wabah ulat bulu. Namun, karena mulai mewabah di tempat lain, kami akan lakukan antisipasi,” katanya.

Para petugas pun sudah disiapkan. Apabila ada laporan warga yang masuk, petugas akan langsung turun dan melakukan penyemprotan. Sebelumnya, wabah ulat bulu tak hanya menggegerkan warga Probolinggo, Lumajang, dan Mojokerto di Jawa Timur. Jakarta juga mulai diserang ulat bulu, tepatnya di Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Di Tanjung Duren Utara, ribuan ulat bulu bercokol di sekitar 30 pohon cemara milik Suku Dinas Pertamanan yang berjejer di sepanjang aliran Kali Sekretaris. Penyemprotan sudah dilakukan agar ulat bulu tidak semakin mewabah dan mencapai rumah warga.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengajak keterlibatan masyarakat untuk menjaga lingkungan tempat tinggalnya dari ancaman ulat bulu yang mulai merebak di beberapa daerah. Prijanto juga meminta masyarakat untuk langsung melapor apabila menemukan banyak ulat bulu.

“Semua pohon pasti ada ulat bulu. Untuk mencegahnya di bawah pohon jangan sampai ada daun-daun yang kering atau sampah. Sapu bersih itu supaya tidak lembab dan membuat telur-telur itu jadi ulat,” ucap Prijanto, Rabu (13/4/2011) di Balaikota, Jakarta.

Apabila ada tanda-tanda ulat bulu mulai mewabah, Prijanto menyarankan warga untuk langsung melapor kepada petugas DKI, baik di tingkat RT, RW, maupun kelurahan untuk dilanjutkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan DKI Jakarta. “Langsung lapor kalau ada banyak ulat bulu agar penyemprotan segera dilakukan,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, DKI sendiri sudah jauh-jauh hari membentuk brigade pengamanan terhadap deteksi dini semua hama dan ulat bulu. “Sekarang di Jakarta Barat sudah disemprot. Belum ada lagi temuan di wilayah lain,” tandasnya.

Hama ulat bulu ini awalnya dideteksi menyerang wilayah Probolinggo, Jawa Timur. Ribuan ulat bulu tidak hanya menyerang pepohonan, tetapi juga merambat di tembok-tembok rumah warga. Wabah ulat bulu kemudian menyebar sampai ke Bali hingga Bandung.

Kini, Jakarta juga mulai terserang ribuan ulat bulu. Hama ini ditemukan di Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Di daerah itu ribuan ulat bulu bercokol di sekitar 30 pohon cemara milik suku dinas pertamanan yang berjejer di sepanjang aliran Kali Sekretaris. Penyemprotan sudah dilakukan agar ulat bulu tidak semakin mewabah dan mencapai rumah warga.

Serangan Ulat Bulu Diperkirakan Akan Berulang


Serangan ulat bulu famili Lymantriidae di sejumlah daerah dimungkinkan berulang akibat keseimbangan ekosistem tidak dibenahi. Saat ini introduksi tanaman asing dan penanaman homogen terus berlangsung, sedangkan variasi tanaman lokal semakin menghilang.

”Hutan di Jawa harus dibenahi bertahap, setidaknya mengembalikan ciri hutan tropis yang bervariasi jenisnya,” kata ahli ekologi tumbuhan yang juga Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mustaid Siregar di Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/4).

Mustaid mengatakan, hutanhutan tersisa yang berganti tanaman homogen perlu dikembalikan variasinya sesuai kekhasan masing-masing. Pemerintah daerah dapat mendukung dengan memprioritaskan konservasi jenis tanaman lokal.

Ahli serangga LIPI, Rosichon Ubaidillah mengatakan, ulat bulu merupakan spesies kupu-kupu malam (ngengat) perusak daun. Predator ngengat paling penting yang mulai langka adalah kelelawar. Habitatnya, pegunungan karst, dieksploitasi sebagai bahan tambang kapur.

Sementara burung predator ulat adalah jenis jalak dan kutilang. Pelepasan burung pipit tak berpengaruh karena tak memangsa bagian metamorfosa, baik telur, ulat, pupa, maupun ngengat.

”Ledakan populasi ulat bulu merupakan fenomena ekosistem sudah berubah,” kata dia. Tanpa pemulihan kondisi alam, serangan sejenis akan berulang.

Riset UGM

Hasil riset para peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta terhadap sampel ulat bulu di Kabupaten Probolinggo menunjukkan, siklus pertumbuhannya bergeser. Siklus dari pupa menjadi ngengat yang biasanya butuh waktu lebih dari sembilan hari, kini empat hari.

”Begitu ngengat muncul dari pupa, sehari berikutnya sudah kawin, kemudian bertelur,” kata pakar entomologi (ilmu serangga) Fakultas Pertanian UGM, Suputa.

Pergeseran siklus itu diperkirakan karena minimnya musuh alami ulat bulu dan naiknya temperatur udara. Padahal, setiap ngengat betina mampu memproduksi 70 hingga 300 ekor.

”Dalam satu titik tempat bertelur, jumlah telur yang diletakkan ngengat betina rata-rata 37 butir. Jika telur-telur itu menetas seluruhnya, perkembangan populasi ulat bulu akan sangat cepat,” kata Suputa.

Penelitian pakar serangga Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM menyatakan terdapat dua spesies ulat bulu yang menyerang pohon mangga di Probolinggo, yaitu Arctornis sp dan Lymantria atemeles Collenette. Keduanya menyerang pohon mangga jenis manalagi.

Dua spesies itu berbeda. Lymantria atemeles Collenette punya dua antena di kepala dengan pola seperti berlian di punggung serta bercak biru di sekujur tubuh yang mengeluarkan racun penyebab gatal-gatal. Adapun Arctornis sp hanya punya satu antena di kepala, tetapi tak punya racun penyebab gatal-gatal.

”Khusus spesies Lymantria atemeles Collenette sudah ada di Indonesia sejak tahun 1891. Saat itu ditemukan di Gunung Gede, Jabar. Spesimen ulat ini sekarang tersimpan di Museum Nasional Amerika Serikat,” ujarnya.

Kerja sama sinergi

Fakultas Pertanian UGM menggandeng sejumlah universitas, seperti Universitas Jember, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Pendidikan Indonesia untuk membuat program bersama di lapangan. ”Daripada saling berdebat, sebaiknya langsung terjun ke lapangan,” kata Suputa.

Penanganan ledakan populasi ulat bulu yang bisa dilakukan adalah pemasangan jebakan lampu ultraviolet, pengumpulan pupa, dan penyemprotan larva dengan pestisida terukur.

Ahli hama dan penyakit tumbuhan UGM, Susamto Somowiyarjo mengatakan, untuk mencegah ledakan populasi hama tanaman, perlu dihindari sistem monokultur (satu jenis tanaman) di suatu wilayah terus-menerus. Penganekaragaman tanaman dan pergiliran pola tanam perlu untuk menjaga rantai makanan sehingga predator hama pengganggu tanaman tetap hidup dan membasmi hama pengganggu tanaman secara alami. Tanpa itu serangan hama, seperti ulat bulu, akan terus berulang.

Hingga kemarin dilaporkan, ulat bulu masih menyerang sejumlah wilayah, seperti Buleleng, Gianyar, Denpasar (Bali); Mojokerto, Jombang, Malang (Jawa Timur); dan beberapa kecamatan di Kendal (Jawa Tengah)

Provinsi Jawa Barat Bersiaga Hadapi Serangan Ulat Bulu Yang Meluas


Wakil Gubernur Dede Yusuf mengatakan, sudah mendapat laporan soal hama ulat bulu yang terpantau sudah muncul di Jawa Barat. ”Yang saya tahu di Bekasi dan Sumedang,” katanya di Bandung, Selasa, 12 April 2011.

Dia mengatakan, pemerintah provinsi masih menunggu perkembangan soal laporan hama ulat bulu di daerah itu. Dia mengatakan, saat ini, penanganannya masih diserahkan pada masing-masing pemerintah kabupaten/kota setempat.

Menurut Dede, hama ulat bulu yang dilaporkan ada di Jawa Barat itu, belum bisa dikategorikan serangan. ”Laporannya masih dalam keadaan normal, belum seperti serbuan kayak di Jawa Timur,” katanya.

Dede mengatakan, pihaknya belum bisa menyatakan, hama ulat bulu yang dilaporkan di sejumlah daerah di Jawa Barat itu sebagai serangan. ”Kita belum bisa menyatakan demikian, seperti yang ada di daerah-daerah lain juga belum bisa diindikasikan serangan, bahwa ada migrasi, itu masih batas wajar,” katanya.

Menurut dia, pihaknya masih mempelajari soal kejadian hama ulat bulu itu. ”Justru yang kita pengen tahu adalah kenapa dia keluar bukan pada musimnya, apakah ada masalah dengan tanah atau pestisida yang berlebihan atau apa, itu masih dikaji,” katanya.

Dede mengatakan, hasil kajian itu, yang akan menentukan langkah yang akan dilakukan untuk menghadapinya.

Dede mengatakan, pihaknya tidak bisa reaktif soal ulat bulu itu. ”Kita juga tidak bisa reaktif, ada kejadian langsung (ditangani), justru yang harus dicari kenapa, ada apa, itu yang harus kita cari langkah proteksinya,” katanya.

Sementara itu, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sejumlah petani di Kota Palangkaraya dan sekitarnya mulai resah dengan maraknya wabah ulat bulu di sejumlah daerah.

Sumiswan, petani di Kelurahan Bukit batu, Kecamatan Bukit batu, Kota
Palangkaraya, misalnya. Dia mengaku resah mendengar pemberitaan mewabahnya ulat bulu di sejumlah daerah. “Kita jadi takut dengan wabah ulat bulu tersebut, apalagi wabah ini semakin meluas hingga ke Kalimantan,” ujarnya, Selasa (12/4). Ulat bulu saat ini sudah merambah ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. “Tidak menutup kemungkinan wabah ini juga melanda Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Kemarin, Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur sudah menginstruksikan kepada seluruh mantri pertanian untuk siaga terhadap wabah ulat bulu.

Depok Bersiaga Menghadapi Serangan Wabah Ulat Bulu


DINAS Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kota Depok akan meningkatkan pengamatan di lahan pertanian. Hal itu sebagai langkah antisipasi merebaknya wabah ulat bulu yang beberapa waktu lalu menyerang Bekasi.

“Instruksi dari Provinsi Jawa Barat untuk antisipasi ulat bulu sudah kami terima Jumat pekan lalu. Sekarang kami sudah mengerahkan 25 Petugas Penyuluhan Lapangan untuk melakukan pengamatan,” kata Kepala Dinas Pertanian,Peternakan, dan Perikanan Kota Depok, Widyati Riyandani, Senin (11/4).

Menurut Widyati, pengamatan tersebut dilakukan untuk mengetahui adanya populasi ulat bulu di tanaman holtikultura bertambah banyak yang berbeda dari umumnya. Sesuai instruksi dari Pemprov Jawa Barat pengamatan dilakukan pada empat pohon buah. Di antaranya pohon mangga dan rambutan. Meski begitu pihaknya tetap melakukan pengamatan ke seluruh pohon buah. “Ada 200 hektar lahan pertanian yang didalamnya terdapat lahan perkebunan. Kami akan sosialisasikan dan sekaligus melakukan pengamatan kepada petani dan kelompok tani,” ujarnya.

Dikatakan Widyati, untuk menanggulangi serangan ulat bulu dapat dilakukan dengan memutus siklus perkembangbiakan ulat bulu menjadi kupu-kupu. Caranya menyemprotkan pestisida nabati kepada ulat bulu sehingga tidak menjadi kepompong atau dengan menaruh predator. Pestisida nabati itu adalah dengan membuat ekstra daun dari tanaman yang diserang dan menyemprotkannya ke tanaman holtikultura.

“Wabah ulat ini terjadi karena perubahan iklim yang ekstrem. Sehingga kelembapan udara tidak terjaga. Penyeprotan nabati ini untuk mencegah semua kupu-kupu mati. Kupu-kupu dibutuhkan untuk penyerbukan,” tandasnya.

Widyawati menyatakan hingga kini wabah ulat bulu belum terjadi di Depok. Meski begitu pihaknya meminta para petani segera melaporkan ke PPL bila ada ulat bulu yang berkembang dalam jumlah banyak. Sebab ulat bulu yang terjadi saat ini adalah jenis baru

Ratusan Ulat Bulu Juga Mulai Menyerang Kota Medan


Meskipun belum menyebar seperti di Jawa Timur, ratusan ulat bulu ada di pohon mahoni besar di depan Masjid Agung di Jalan Diponegoro, Medan, Sumatera Utara.

Umar, seorang penjual minuman air tebu di depan Masjid Agung Medan, Senin (11/4/2011), mengatakan, baru mengetahui pohon berusia puluhan tahun itu terdapat ulat bulu sejak dua hari terakhir padahal sebelumnya tidak pernah terlihat. Ulat bulu coklat kemerah-merahan itu bergerombol di pohon kayu mahoni.

Umar berharap Pemerintah Kota Medan segera membasmi habis ulat bulu tersebut dan ia khawatir bila dibiarkan akan meluas ke tempat lain.

Sementara, seorang warga bernama Syafruddin mengatakan, ulat bulu di pohon di depan Masjid Agung itu terlihat seperti ulat hama penyakit yang ini sering mematikan tanaman.

“Ulat bulu di Medan ini tubuhnya kecil dan bulunya tidak begitu lebat sedangkan ulat bulu di Probolinggo besar dan bulunya sangat lebat,” katanya.

Cicik, penjual martabak yang berada dekat di pohon itu, mengatakan, belum ada warga yang terkena ulat bulu itu. “Kalau kena pasti gatal,” katanya.

Setelah Probolinggo Kini Kabupaten Buleleng Bali Juga Terkena Serangan Ulat Bulu


Setelah menyerbu Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kini ribuan ulat bulu mulai menyerang kawasan lahan pertanian dan tempat pemukiman penduduk di Kabupaten Buleleng, Bali.

Uniknya, kehadiran ulat yang menebarkan rasa gatal di bagian kulit di wilayah Bali bagian utara itu, nyaris tak menampakkan gejala atau gelagat awal.

“Ulat tiba-tiba muncul dalam jumlah banyak di areal kebun dan kawasan rumah penduduk,” kata Made Suarta, penduduk Desa Patas, Kecamatan Geroggak, Kabupaten Buleleng, Senin (11/4/2011).

Dia menyebutkan, beberapa tetangga dan petani di desanya tiba-tiba menemukan ulat bulu dalam jumlah yang cukup banyak di areal kebunnya pada pertengahan pekan lalu.

Sejak itu, ulat bulu terus menyebar dan merayap hingga ke bagian dinding atau tembok belasan rumah milik penduduk.

“Anehnya, beberapa hari sebelumnya sedikit pun tak ada gelaja itu. Pendeknya, ulat tahu-tahu sudah banyak,” katanya sembari menunjuk beberapa pohon yang dikerubuti ulat bulu berwarna hitam kecoklat-coklatan.

Senada dengan Suarta, Nyoman Rempug, penduduk Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, menyebutkan kalau kehadiran ulat bulu cukup mengagetkan warga di desanya.

Masalahnya, lanjut dia, selain muncul dengan cukup tiba-tiba dalam jumlah banyak, juga tidak jarang bagian bulunya yang beterbangan sempat menyebarkan penyakit.

“Tidak sedikit warga di desa kami yang kini menderita pernyakit gatal-gatal di bagian kulit setelah terkena bulu ulat yang ‘bertaburan’ terbawa angin,” katanya.

Selain menyerbu sejumlah desa di Kecamatan Geroggak dan Sangsit, ulat bulu juga mulai tampak hadir di beberapa desa lain di Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kabupaten Buleleng Putu Mertha Jiwa yang dihubungi terpisah, membenarkan bahwa ulat bulu kini telah merambah sedikitnya pada enam desa di tiga kecamatan di wilayahnya.

Keenam desa itu, Sangsit, Patas, Penyabetan, Baktisegara, Tukad Mungga, dan Desa Penglatan.

Kadis menyebutkan bahwa ulat tersebut sebagian besar menyerang pohon mangga milik penduduk, dan hanya sebagain kecil saja yang menempel pada tanaman lain atau bagian tembok rumah tinggal milik warga.

Ia membenarkan jika bulu ulat mengenai bagian kulit, akan terasa gatal-gatal dan bila digaruk akan terasa nyeri dan perih.

“Ada beberapa warga yang mengaku sudah terkena bulu ulat tersebut,” katanya.

Beberapa warga yang terkena bulu ulat, mengaku ketakutan menemukan jenis satwa yang jumlahnya tidak seperti biasa itu.

“Di desa kami sering ditemukan ulat, tapi jumlahnya tidak seperti sekarang,” ujar Ni Luh Sari, ibu rumah tangga di Desa Patas.

Kadis Mentha menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengambil langkah-langkah pemblokiran atas wilayah yang sudah terkena serangan ulat tersebut, yakni dengan melakukan penyemprotan cairan antihama sejak empat hari lalu.

Melalui upaya itu, lanjut dia, diharapkan penyebaran ulat tersebut dapat dilokalisasi. Dengan kata lain, hanya terbatas di enam desa.

Menurut dia, selain upaya penyemprotan, sejumlah warga juga melakukan kegiatan ritual khusus agar serangan ulat bulu tersebut tidak terus berlanjut.

I Made Dwija, warga Desa Patas, mengatakan, pihaknya menyiramkan air beras yang diberi warna kuning dari bahan kunir atau kunyit di sekitar tembok rumah untuk mengusir serangan ulat bulu yang awalnya sempat banyak menempel.

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Dewa Nyoman Sukrawan yang sempat mengunjungi sejumlah lokasi serangan hama ulat bulu mengatakan, penanggulangan masalah itu hendaknya mengedepankan kerja sama antara pemerintah dan warga setempat.

“Selain pemerintah dituntut cepat, masyarakat juga harus tanggap dan segera dapat memberikan informasi, khususnya terhadap penyebaran hama ini,” ujarnya.

Selain wakil rakyat, Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan sejumlah stafnya, pada Minggu (10/4/2011) kemarin siang sempat meninjau sejumlah desa yang “ketamuan” ulat bulu tersebut.

Gubernur Pastika memerintahkan jajarannnya untuk secepatnya dapat melakukan langkah-langkah penanggulangan terhadap hama yang tidak hanya dapat merusak tanaman, tetapi juga menebarkan penyakit gatal-gatal itu.

“Saya minta instansi terkait secepatnya dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan, sehingga koloni ulat tidak semakin menyebar di pulau yang digandrungi wisatawan mancanegara ini,” kata Pastika menandaskan.

Kepada masyarakat luas gubernur meminta untuk secepatnya dapat melaporkan kepada instansi terdekat bila di daerahnya tiba-tiba ditemukan adanya serbuan ulat bulu.

“Kami minta warga untuk segera dalam menginformasikan, di samping juga dapat ambil bagian dalam upaya pencegahan dan pemberantasannya,” ujarnya saat berkunjung ke desa yang kini menjadi “sarang” ulat bulu di Kabupaten Buleleng.

Serangan Jutaan Ulat Bulu Di Probolinggo Terjadi Karena Musnahnya Burung Pemakan Ulat Bulu


Wabah ulat bulu yang menyerang perkebunan mangga di Probolinggo dan kini meluas ke daerah sekitarnya sebagai akibat dari semakin berkurang populasi predator burung liar pemakan ulat.

Chairman ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, Rabu menyatakan, populasi predator pemakan ulat seperti Burung Prenjak, Jalak dan Cinenen berkurang cukup signifikan hingga mencapai 80 persen dari populasi sebelumnya.

“Perburuan liar yang dilakukan secara besar-besaran sebagai komoditas perdagangan menjadikan populasi burung liar pemakan ulat ini menurun drastis, sehingga ulat-ulat tersebut bisa berkembangbiak dengan leluasa karena musuh utamanya sudah tidak ada,” tegasnya.

Di wilayah Malang sendiri terutama di Kecamatan Pujon dan kawasan Malang selatan, katanya, populasi predator berupa burung liar pemakan ulat (serangga) tersebut juga sudah hampir hampir punah.

Menurut dia, jika proses perburuan burung pemakan serangga ini dilakukan secara besar-besaran dan terus menerus akan memicu terjadinya bencana ekologi. Akibatnya, akan terjadi ledakan populasi kupu-kupu dan ulat di luar kendali.

Oleh karena itu, tegasnya, kalau warga di wilayah Malang Raya ini tidak ingin terjadi wabah ulat di daerahnya, maka masyarakat harus menghentikan berburu burung pemakan serangga tersebut.Biarkan burung-burung tersebut hidup di alam bebas agar rantai ekosistem tetap berjalan normal.

Sebelumnya Kepala Laboratorium Hama, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Dr Ir Totok Himawan mengimbau agar masyarakat khususnya petani di wilayah Malang Raya dan sekitarnya tidak perlu khawatir akan serangan ulat bulu yang kini mewabah di Probolinggo.

Sampai sejauh ini ulat bulu hanya menyerang tanaman mangga saja dan tidak akan menyerang tanaman lain, seperti padi, sayur, bunga serta berbagai jenis buah lainnya.

Apalagi, lanjutnya, sekarang juga sudah dilakukan penyemprotan insektisida atau sejenis cairan “Lamda Sihalotrim” sampai beberapa kali, sehingga kondisinya sudah jauh berkurang.”Petani tidak perlu khawatir, karena kemungkinan meluas hingga ke wilayah Malang dan sekitarnya itu sangat kecil,” tegasnya.

Hujan yang terus menerus mengakibatkan musuh alami ulat bulu, yakni sejenis predator bernama “Braconid” dan “Apanteles” tidak mampu bertahan hidup. Sehingga, musuh alami itu tidak bisa mengontrol populasi ulat bulu yang semakin banyak, dan berkembangbiak dengan cepat, bahkan menyebar ke lingkungan penduduk.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kota Malang Ninik Suryantini mengimbau agar masyarakat terutama petani lebih waspada.”Untuk wilayah Kota Malang yang rentan terhadap perkembangbiakan ulat bulu adalah Kecamatan Lowokwaru, Kedungkandang dan Sukun,” katanya menambahkan.