Category Archives: Serangan Ulat Bulu

Depok Bersiaga Menghadapi Serangan Wabah Ulat Bulu

DINAS Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kota Depok akan meningkatkan pengamatan di lahan pertanian. Hal itu sebagai langkah antisipasi merebaknya wabah ulat bulu yang beberapa waktu lalu menyerang Bekasi.

“Instruksi dari Provinsi Jawa Barat untuk antisipasi ulat bulu sudah kami terima Jumat pekan lalu. Sekarang kami sudah mengerahkan 25 Petugas Penyuluhan Lapangan untuk melakukan pengamatan,” kata Kepala Dinas Pertanian,Peternakan, dan Perikanan Kota Depok, Widyati Riyandani, Senin (11/4).

Menurut Widyati, pengamatan tersebut dilakukan untuk mengetahui adanya populasi ulat bulu di tanaman holtikultura bertambah banyak yang berbeda dari umumnya. Sesuai instruksi dari Pemprov Jawa Barat pengamatan dilakukan pada empat pohon buah. Di antaranya pohon mangga dan rambutan. Meski begitu pihaknya tetap melakukan pengamatan ke seluruh pohon buah. “Ada 200 hektar lahan pertanian yang didalamnya terdapat lahan perkebunan. Kami akan sosialisasikan dan sekaligus melakukan pengamatan kepada petani dan kelompok tani,” ujarnya.

Dikatakan Widyati, untuk menanggulangi serangan ulat bulu dapat dilakukan dengan memutus siklus perkembangbiakan ulat bulu menjadi kupu-kupu. Caranya menyemprotkan pestisida nabati kepada ulat bulu sehingga tidak menjadi kepompong atau dengan menaruh predator. Pestisida nabati itu adalah dengan membuat ekstra daun dari tanaman yang diserang dan menyemprotkannya ke tanaman holtikultura.

“Wabah ulat ini terjadi karena perubahan iklim yang ekstrem. Sehingga kelembapan udara tidak terjaga. Penyeprotan nabati ini untuk mencegah semua kupu-kupu mati. Kupu-kupu dibutuhkan untuk penyerbukan,” tandasnya.

Widyawati menyatakan hingga kini wabah ulat bulu belum terjadi di Depok. Meski begitu pihaknya meminta para petani segera melaporkan ke PPL bila ada ulat bulu yang berkembang dalam jumlah banyak. Sebab ulat bulu yang terjadi saat ini adalah jenis baru

Ratusan Ulat Bulu Juga Mulai Menyerang Kota Medan

Meskipun belum menyebar seperti di Jawa Timur, ratusan ulat bulu ada di pohon mahoni besar di depan Masjid Agung di Jalan Diponegoro, Medan, Sumatera Utara.

Umar, seorang penjual minuman air tebu di depan Masjid Agung Medan, Senin (11/4/2011), mengatakan, baru mengetahui pohon berusia puluhan tahun itu terdapat ulat bulu sejak dua hari terakhir padahal sebelumnya tidak pernah terlihat. Ulat bulu coklat kemerah-merahan itu bergerombol di pohon kayu mahoni.

Umar berharap Pemerintah Kota Medan segera membasmi habis ulat bulu tersebut dan ia khawatir bila dibiarkan akan meluas ke tempat lain.

Sementara, seorang warga bernama Syafruddin mengatakan, ulat bulu di pohon di depan Masjid Agung itu terlihat seperti ulat hama penyakit yang ini sering mematikan tanaman.

“Ulat bulu di Medan ini tubuhnya kecil dan bulunya tidak begitu lebat sedangkan ulat bulu di Probolinggo besar dan bulunya sangat lebat,” katanya.

Cicik, penjual martabak yang berada dekat di pohon itu, mengatakan, belum ada warga yang terkena ulat bulu itu. “Kalau kena pasti gatal,” katanya.

Setelah Probolinggo Kini Kabupaten Buleleng Bali Juga Terkena Serangan Ulat Bulu

Setelah menyerbu Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kini ribuan ulat bulu mulai menyerang kawasan lahan pertanian dan tempat pemukiman penduduk di Kabupaten Buleleng, Bali.

Uniknya, kehadiran ulat yang menebarkan rasa gatal di bagian kulit di wilayah Bali bagian utara itu, nyaris tak menampakkan gejala atau gelagat awal.

“Ulat tiba-tiba muncul dalam jumlah banyak di areal kebun dan kawasan rumah penduduk,” kata Made Suarta, penduduk Desa Patas, Kecamatan Geroggak, Kabupaten Buleleng, Senin (11/4/2011).

Dia menyebutkan, beberapa tetangga dan petani di desanya tiba-tiba menemukan ulat bulu dalam jumlah yang cukup banyak di areal kebunnya pada pertengahan pekan lalu.

Sejak itu, ulat bulu terus menyebar dan merayap hingga ke bagian dinding atau tembok belasan rumah milik penduduk.

“Anehnya, beberapa hari sebelumnya sedikit pun tak ada gelaja itu. Pendeknya, ulat tahu-tahu sudah banyak,” katanya sembari menunjuk beberapa pohon yang dikerubuti ulat bulu berwarna hitam kecoklat-coklatan.

Senada dengan Suarta, Nyoman Rempug, penduduk Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, menyebutkan kalau kehadiran ulat bulu cukup mengagetkan warga di desanya.

Masalahnya, lanjut dia, selain muncul dengan cukup tiba-tiba dalam jumlah banyak, juga tidak jarang bagian bulunya yang beterbangan sempat menyebarkan penyakit.

“Tidak sedikit warga di desa kami yang kini menderita pernyakit gatal-gatal di bagian kulit setelah terkena bulu ulat yang ‘bertaburan’ terbawa angin,” katanya.

Selain menyerbu sejumlah desa di Kecamatan Geroggak dan Sangsit, ulat bulu juga mulai tampak hadir di beberapa desa lain di Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kabupaten Buleleng Putu Mertha Jiwa yang dihubungi terpisah, membenarkan bahwa ulat bulu kini telah merambah sedikitnya pada enam desa di tiga kecamatan di wilayahnya.

Keenam desa itu, Sangsit, Patas, Penyabetan, Baktisegara, Tukad Mungga, dan Desa Penglatan.

Kadis menyebutkan bahwa ulat tersebut sebagian besar menyerang pohon mangga milik penduduk, dan hanya sebagain kecil saja yang menempel pada tanaman lain atau bagian tembok rumah tinggal milik warga.

Ia membenarkan jika bulu ulat mengenai bagian kulit, akan terasa gatal-gatal dan bila digaruk akan terasa nyeri dan perih.

“Ada beberapa warga yang mengaku sudah terkena bulu ulat tersebut,” katanya.

Beberapa warga yang terkena bulu ulat, mengaku ketakutan menemukan jenis satwa yang jumlahnya tidak seperti biasa itu.

“Di desa kami sering ditemukan ulat, tapi jumlahnya tidak seperti sekarang,” ujar Ni Luh Sari, ibu rumah tangga di Desa Patas.

Kadis Mentha menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengambil langkah-langkah pemblokiran atas wilayah yang sudah terkena serangan ulat tersebut, yakni dengan melakukan penyemprotan cairan antihama sejak empat hari lalu.

Melalui upaya itu, lanjut dia, diharapkan penyebaran ulat tersebut dapat dilokalisasi. Dengan kata lain, hanya terbatas di enam desa.

Menurut dia, selain upaya penyemprotan, sejumlah warga juga melakukan kegiatan ritual khusus agar serangan ulat bulu tersebut tidak terus berlanjut.

I Made Dwija, warga Desa Patas, mengatakan, pihaknya menyiramkan air beras yang diberi warna kuning dari bahan kunir atau kunyit di sekitar tembok rumah untuk mengusir serangan ulat bulu yang awalnya sempat banyak menempel.

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Dewa Nyoman Sukrawan yang sempat mengunjungi sejumlah lokasi serangan hama ulat bulu mengatakan, penanggulangan masalah itu hendaknya mengedepankan kerja sama antara pemerintah dan warga setempat.

“Selain pemerintah dituntut cepat, masyarakat juga harus tanggap dan segera dapat memberikan informasi, khususnya terhadap penyebaran hama ini,” ujarnya.

Selain wakil rakyat, Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan sejumlah stafnya, pada Minggu (10/4/2011) kemarin siang sempat meninjau sejumlah desa yang “ketamuan” ulat bulu tersebut.

Gubernur Pastika memerintahkan jajarannnya untuk secepatnya dapat melakukan langkah-langkah penanggulangan terhadap hama yang tidak hanya dapat merusak tanaman, tetapi juga menebarkan penyakit gatal-gatal itu.

“Saya minta instansi terkait secepatnya dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan, sehingga koloni ulat tidak semakin menyebar di pulau yang digandrungi wisatawan mancanegara ini,” kata Pastika menandaskan.

Kepada masyarakat luas gubernur meminta untuk secepatnya dapat melaporkan kepada instansi terdekat bila di daerahnya tiba-tiba ditemukan adanya serbuan ulat bulu.

“Kami minta warga untuk segera dalam menginformasikan, di samping juga dapat ambil bagian dalam upaya pencegahan dan pemberantasannya,” ujarnya saat berkunjung ke desa yang kini menjadi “sarang” ulat bulu di Kabupaten Buleleng.

Serangan Jutaan Ulat Bulu Di Probolinggo Terjadi Karena Musnahnya Burung Pemakan Ulat Bulu

Wabah ulat bulu yang menyerang perkebunan mangga di Probolinggo dan kini meluas ke daerah sekitarnya sebagai akibat dari semakin berkurang populasi predator burung liar pemakan ulat.

Chairman ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, Rabu menyatakan, populasi predator pemakan ulat seperti Burung Prenjak, Jalak dan Cinenen berkurang cukup signifikan hingga mencapai 80 persen dari populasi sebelumnya.

“Perburuan liar yang dilakukan secara besar-besaran sebagai komoditas perdagangan menjadikan populasi burung liar pemakan ulat ini menurun drastis, sehingga ulat-ulat tersebut bisa berkembangbiak dengan leluasa karena musuh utamanya sudah tidak ada,” tegasnya.

Di wilayah Malang sendiri terutama di Kecamatan Pujon dan kawasan Malang selatan, katanya, populasi predator berupa burung liar pemakan ulat (serangga) tersebut juga sudah hampir hampir punah.

Menurut dia, jika proses perburuan burung pemakan serangga ini dilakukan secara besar-besaran dan terus menerus akan memicu terjadinya bencana ekologi. Akibatnya, akan terjadi ledakan populasi kupu-kupu dan ulat di luar kendali.

Oleh karena itu, tegasnya, kalau warga di wilayah Malang Raya ini tidak ingin terjadi wabah ulat di daerahnya, maka masyarakat harus menghentikan berburu burung pemakan serangga tersebut.Biarkan burung-burung tersebut hidup di alam bebas agar rantai ekosistem tetap berjalan normal.

Sebelumnya Kepala Laboratorium Hama, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Dr Ir Totok Himawan mengimbau agar masyarakat khususnya petani di wilayah Malang Raya dan sekitarnya tidak perlu khawatir akan serangan ulat bulu yang kini mewabah di Probolinggo.

Sampai sejauh ini ulat bulu hanya menyerang tanaman mangga saja dan tidak akan menyerang tanaman lain, seperti padi, sayur, bunga serta berbagai jenis buah lainnya.

Apalagi, lanjutnya, sekarang juga sudah dilakukan penyemprotan insektisida atau sejenis cairan “Lamda Sihalotrim” sampai beberapa kali, sehingga kondisinya sudah jauh berkurang.”Petani tidak perlu khawatir, karena kemungkinan meluas hingga ke wilayah Malang dan sekitarnya itu sangat kecil,” tegasnya.

Hujan yang terus menerus mengakibatkan musuh alami ulat bulu, yakni sejenis predator bernama “Braconid” dan “Apanteles” tidak mampu bertahan hidup. Sehingga, musuh alami itu tidak bisa mengontrol populasi ulat bulu yang semakin banyak, dan berkembangbiak dengan cepat, bahkan menyebar ke lingkungan penduduk.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kota Malang Ninik Suryantini mengimbau agar masyarakat terutama petani lebih waspada.”Untuk wilayah Kota Malang yang rentan terhadap perkembangbiakan ulat bulu adalah Kecamatan Lowokwaru, Kedungkandang dan Sukun,” katanya menambahkan.

Jutaan Ulat Bulu Serang Warga Kabupaten Probolinggo

Sejak pertengahan Maret lalu, ulat bulu (desiciria inclusa) tampak “meneror” warga Probolinggo hingga menjalar ke delapan kecamatan di Kabupaten Probolinggo dan dua kecamatan di Kota Probolinggo.

Serangan jutaan hama ulat bulu itu terjadi di beberapa kecamatan di Kabupaten Probolinggo, seperti Leces, Bantaran, Tegal Siwalan, dan Sumber Asih.

Namun, Kepala Laboratorium Hama, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Dr Ir Totok Himawan, menyatakan para petani tidak perlu mengkhawatirkan ulat bulu yang menyerang perkebunan mangga di Kabupaten Probolinggo itu.

“Jangan khawatir, termasuk kalau serangan hama itu akan meluas ke wilayahnya (Malang Raya) dan daerah sekitar Kabupaten Probolinggo seperti Pasuruan,” katanya di Malang (4/4).

Masalahnya, katanya, hama ulat bulu sampai sejauh ini hanya menyerang tanaman mangga dan tidak akan menyerang tanaman lain, seperti padi, sayur, bunga serta berbagai jenis buah lainnya.

Apalagi, sekarang juga sudah dilakukan penyemprotan insektisida atau sejenis cairan “Lamda Sihalotrim” sampai beberapa kali, sehingga kondisinya sudah jauh berkurang.

Menurut dia, hujan yang terus menerus mengakibatkan musuh alami ulat bulu, yakni sejenis predator bernama “Braconid” dan “Apanteles” tidak mampu bertahan hidup.

“Musuh alami itu tidak bisa mengontrol populasi ulat bulu yang semakin banyak, dan berkembangbiak dengan cepat, bahkan menyebar ke lingkungan penduduk,” katanya.

Dalam proses sirkulasi kehidupan ulat saat masih menjadi telur, musuh alami ulat itu selalu memberikan parasit pada telur ulat, sehingga dari ribuan telur, hanya beberapa telur saja yang lolos dari parasit dan bisa menjadi ulat.

Namun, hujan yang terus menerus terjadi membuat proses kehidupan musuh alami tersebut terganggu, sehingga tidak mampu memberikan parasit pada telur ulat, akibatnya populasi ulat tidak bisa terkontrol dan menjadi banyak.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan karena ulat bulu yang menyerang perkebunan mangga di Probolinggo adalah spesies “Dasychira Inclusa” yang tidak gatal dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit.

“Jenis ulat bulu di Probolinggo ini tidak gatal dan berbahaya. Hanya masyarakat, bahkan kita, merasa tidak nyaman saja melihat ulat berkeliaran di lingkungan kita,” ujarnya.

Totok mengatakan, serangan ulat tersebut berpotensi meluas ke daerah-daerah lain, mengingat anomali cuaca yang terjadi di beberapa daerah.

“Salah satu pengendaliannya, yakni melakukan penyemprotan dari bahan Insektisida tertentu atau dari cairan `Lamda Sihalotrim`,” katanya.

Potensi meluasnya serangan hama ulat bulu itu pun diakui Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Jawa Timur, Eko Wibowo Putro.

“Kabupaten Probolinggo menjadi daerah serangan ulat bulu karena memiliki kelembaban maksimum sehingga sangat cocok bagi ulat tersebut untuk membentuk kepompong,” katanya di Surabaya (30/3).

Agaknya, prediksi itu benar. Serangan hama ulat bulu yang melanda Kabupaten Probolinggo kini sudah merebak ke wilayah Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Margono, warga Dusun Pandean, Desa Nguling, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, mengatakan, sejak tiga hari lalu pohon mangganya diserang ulat bulu dan mulai Minggu (3/4) terlihat mulai banyak jumlahnya.

Untuk mengendalikan perkembangan serangan hama ulat itu, Margono memberantasnya dengan cara membakarnya, namun tindakan itu tidak cukup efektif karena ulat-ulat yang posisinya tidak mudah terjangkau tidak bisa teratasi.

Hujan dan Pestisida

Pernyataan itu juga dibenarkan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pngan Kabupaten Pasuruan, Ihwan. “Kami sudah mendapat laporan tentang ulat bulu yang merambah wilayah Kecamatan Nguling itu,” katanya.

Untuk mencegah serangan ulat bulu itu meluas, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan melakukan antisipasi dengan menyediakan obat-obatan serta peralatan semprot berupa “power spray” yakni alat semprot yang menggunakan mesin dengan jangkauan semprot mencapai 10 meter.

“Mulai Selasa (5/4), petugas Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan akan melakukan penyemprotan terhadap pohon-pohon mangga di Kabupaten Pasuruan, khusunya di wilayah Nguling yang berbatasan dengan wilayah Probolinggo,” katanya.

Ihwan menyebutkan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan perlu melakukan langkah antisipasi karena Kabupaten Pasuruan merupakan sentra produksi mangga di Jawa Timur.

Kabupaten Pasuruan mempunyai potensi tanaman mangga seluas 13.851 hektare atau sebanyak 1.385.141 pohon dengan total produksi 85.131 ton per tahun, sedangkan Pemkab Probolinggo mencatat adanya 8.877 batang pohon mangga yang sudah terserang hama tersebut.

Menurut Kepala Distan Jatim, Eko Wibowo Putro, pihaknya telah melakukan antisipasi dengan mengirimkan 150 liter pestisida ke Probolinggo.

“Kami juga membentuk tim pengendali massal yang merupakan gabungan dari petugas pengendali organisme pengganggu tanaman Dinas Pertanian Probolinggo dan petugas Pengamat Hama dan Penyakit (PHP) Distan Jatim,” katanya.

Eko memperkirakan serangan tersebut belum sampai mengakibatkan kerugian yang cukup signifikan karena saat ini belum memasuki musim buah.

“Karena itu, petani sebaiknya tidak hanya mengandalkan penyemprotan pestisida dalam menangkal serangan hama ulat bulu itu. Lakukan langkah pembakaran daun-daun gugur di sekitar pohon. Asapnya bisa mengganggu proses terbentuknya kepompong,” katanya.

Kendati belum mengakibatkan kerugian yang besar, ahli ulat bulu dari IPB Prof Aunu Rauf mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai serangan hama ulat bulu tahap II pascaserangan ulat bulu yang kini sudah menjadi kepompong dan kupu-kupu.

“Ulat bulu yang ada sekarang sudah menjadi kepompong dan bahkan sudah ada yang menjadi kupu-kupu, tapi ulat bulu itu mempunyai siklus kehidupan 1,5 bulan, sehingga serangan ulat bulu baru perlu diwaspadai,” katanya kepada ANTARA per telepon dari Surabaya (5/4).

Serangan hama ulat bulu itu, katanya, merupakan akibat dari anomali cuaca yang membuat musuh alami ulat bulu menjadi mati, yakni sejenis predator bernama “Braconid” dan “Apanteles.”

Ditanya tentang upaya mencegah ulat bulu itu, ia mengatakan masyarakat dapat menyapu atau membakar ulat bulu yang di pohon-pohon atau turun di teras atau halaman rumah, sedangkan pemerintah dapat melakukan penyemprotan ulat bulu dengan zat tertentu hingga mati.

“Yang jelas, perkembangan ulat bulu harus dikendalikan melalui menyapu, membakar, atau menyemprot, sebab jika tidak dikendalikan akan semakin menjalar kemana-mana,” tuturnya.

Ia menambahkan bila perkembangan hama ulat bulu itu tidak dikendalikan secepatnya oleh masyarakat dan dinas terkait, maka jumlah hama ulat bulu itu akan semakin banyak.

“Kalau perkembangan hama ulat bulu itu menjadi tidak terkendali, maka petani mangga di Probolinggo dan sekitarnya akan menderita kerugian yang cukup besar,” katanya.

Pandangan itu dibenarkan Kepala Laboratorium Hama, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Dr Ir Totok Himawan.

“Kalau warga Probolinggo menyebut abu Bromo sebagai penyebab justru hanya kemungkinan kecil, sebab abu Bromo hanya sebentar,” katanya.

Selain akibat anomali cuaca, berkembangbiaknya ulat itu bisa terjadi karena pemakaian pestisida secara berlebihan oleh petani, hal ini bisa mengakibatkan terganggunya sirkulasi salah satu kehidupan, termasuk musuh alami ulat tersebut.

“Pestisida yang digunakan secara berlebihan bisa mengakibatkan kehidupan musuh alami ulat terganggu dan tidak sempat berkembangbiak, sehingga tidak mampu mengendalikan populasi ulat,” katanya.