Category Archives: Sistem Pertahanan

Dua Unit F-16 Hibah Amerika Serikat Tidak Layak Terbang


Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Mayor Jenderal (Purn) Tubagus Hasanuddin mengaku mendapat kabar tentang proses hibah pesawat tempur F-16 blok 25 bekas Amerika Serikat. Kabarnya, dua unit F-16 yang hendak diberikan kepada Indonesia dalam kondisi tidak bisa terbang.

“Ada kerusakan di air frame-nya (rangka pesawat), jadi tak bisa diterbangkan,” ujar Tubagus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis, 4 September 2014. Hasanuddin belum mau menyebutkan detail sumber informasi yang diperoleh. Dia hanya mengaku mendapat informasi tersebut dari banyak pihak.

Untuk mengecek kebenaran kabar tersebut, dia berencana memanggil TNI Angkatan Udara untuk diajak rapat dengan Komisi I. “Bisa jadi ini risiko hibah barang bekas,” tuturnya.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto mengaku belum mendapat informasi tentang kerusakan dua unit pesawat F-16. Meski begitu, Hadi mengatakan TNI AU hanya menerima pesawat F-16 hibah dalam kondisi terbaik.

“Sebab, F-16 itu harus dikirim secara diterbangkan langsung dari Amerika ke Indonesia, jadi harus kondisi terbaik,” ujar Hadi saat dihubungi hari ini.

Hadi menjelaskan, dalam kontrak hibah dan peremajaan pesawat F-16, TNI Angkatan Udara mendapat pesawat setara dengan blok 52. Saat ini TNI AU sudah menerima tiga unit F-16 hibah Amerika Serikat. Sesuai dengan rencana, sampai akhir tahun ini, TNI AU akan menerima tiga unit lagi. “Diharapkan sebelum HUT TNI (5 Oktober) sudah tiba, jadi nanti ada enam F-16 dari Amerika yang dipamerkan,” katanya.

Profile Serda Siwi Putri Ningtyas Anggota Kopassus Wanita Indonesia


Puluhan pasukan penerjun payung Gabungan TNI Polri menghiasi langit Jakarta dalam rangka perayaan Independence Day di silang Monas. Salah satu prajurit Kopassus Serda Siwi Putri Ningtyas yang cantik menjadi daya tarik tersendiri.

Usai mendarat sukses di hadapan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pasukan itu terjun merapikan parasutnya di sisi selatan Monas. Di antara para prajurit pria, Serda Siwi Putri Ningtyas menjadi sasaran foto perserta Independece Day.

“Mbak boleh foto bersama tidak?” ujar salah satu penonton, Minggu (31/8/2014). “Oh silakan,” tutur Siwi. Siwi memakai baju Kopassus lengkap dengan baret merah. Senyumnya selalu merekah. Tidak hanya ibu-ibu dan anak-anak, kaum laki-laki juga tak malu untuk meminta foto bersama.

“Gimana ya agak cagung aja tadi apalagi ini pertama kalinya saya ikut demo terjun payung dalam event besar seperti ini,” ujar Siwi saat berbincang. Siwi merasa bangga lantaran mewakili satu-satunya wanita di pasukan Kopassus di acara terjun payung. Sebagai pasukan penerjun wanita, ia baru 145 kali terjun bebas.

“Untuk event besar seperti ini baru pertama kali, dibanding senior saya baru 145 kali terjun itu sedikit pengalamannya,” ujar wanita yang sudah setahun berkarier di Kopassus. Sebagai prajurit, Siwi mengaku juga memiliki rasa takut. Namun, ketakutan itu dianggapnya sebagai tantangan.

“Untuk takut adalah hal yang wajar, selanjutnya kita tinggal menikmati aja dan harus bisa berpikir tenang,” tutup wanita yang sudah memiliki kekasih ini.

Operasi Penyambungan Tangan yang Terpotong Letda Infantri Dylan Abraham Berhasil


Kepala Penerangan Kostrad Cilodong Letnan Kolonel Infantri Hariyanto menyatakan tim medis Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta berhasil menyambung tangan kiri Letda Infantri Dylan Abraham, anggota Denma Divif 1/K Kostrad Cilodong. Untuk mengetahui hasil proses operasi penyambungan tangan itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan tim medis RSPAD.

“Sudah tersambung. Walau tidak bisa 100 persen normal, yang penting saraf dan nadinya bisa bersatu kembali,” ujar Hariyanto di Depok, Jumat, 8 Agustus 2014. “Kita berharap kondisi fisik Dylan bisa kembali normal.” Menurut dia, dokter mengambil tindakan operasi penyambungan tangan lantaran melihat ada harapan tangan Dylan bisa tersambung kembali. Dylan melakukan aksi bunuh diri di Jalan Raya Bogor KM 38, Cilodong, Depok, pada Rabu malam, 6 Agustus 2014. Akibatnya, ia mengalami luka sayat golok di leher dan kemaluan, serta tangan kirinya terpotong di antara pergelangan dan siku.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Fuad Basya menuturkan Dylan mencoba bunuh diri karena stres. “Dia tertekan lantaran kariernya tak kunjung naik,” kata Fuad Kamis, 7 Agustus 2014. Karier Dylan seret, menurut Fuad, karena sering melanggar disiplin. Kini Dylan masih dirawat di ICU RSPAD. etnan Dua Dylan Abraham memotong tangan kirinya dengan golok. Aksi nekat itu dilakukan Dylan di Jalan Raya Bogor KM 38, Cilodong, Depok, pada Rabu, 6 Agustus 2014, sekitar pukul 22.30 WIB. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Fuad Basyamengatakan Dylan melakukan itu karena stres. “Dia tertekan lantaran kariernya tak kunjung naik,” kata Fuad, Kamis, 7 Agustus 2014. Karier Dylan seret, menurut Fuad, karena sering melanggar disiplin.

Kini Dylan dirawat di ICU RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Tim dokter yang menanganinya berusaha menyambung tangan yang telah putus itu. Berikut ini kronologi potong tangan dari keterangan sejumlah saksi mata. Seorang saksi mata, Budi Rianto, 30 tahun, mengatakan melihat Dylan keluar dari gerbang Hotel Uly Artha dengan mengenakan kaus dan celana jins. Budi yang berada di seberang jalan dari tempat Dylan berjalan memperhatikan lelaki itu melepas kaus yang dikenakannya. “Dia tampak linglung,” kata Budi.

Sekitar 50 meter dari hotel arah Jakarta, langkah Dylan terhenti. Dia kemudian menebas tangan kirinya dengan golok hingga putus. Tangan kiri Dylan jatuh ke trotoar, darah pun berceceran. Budi mengatakan, setelah tangan kirinya putus, Dylan mencoba menggorok leher, lalu membuka ritsleting celana dan berusaha memotong kemaluannya.

Budi dan warga sekitar berusaha menghentikan Dylan. Mereka merampas golok dan menanyakan kenapa Dylan berbuat senekat ini. “Ada masalah keluarga katanya,” ujar Budi. Kondisi Dylan semakin lemah karena kehilangan banyak darah. Tak lama datang petugas dari Kepolisian Sektor Sukmajaya, Depok, dan sejumlah anggota TNI. Lalu lintas di sekitar lokasi macet karena banyak pengendara yang menonton kejadian itu. “Tangannya dimasukkan ke dalam kantong plastik,” ujar Budi.

Dylan sempat dilarikan ke Rumah Sakit Sentra Medika, kemudian dirujuk ke RSPAD Gatot Subroto pada Kamis dinihari. “Pagi tadi langsung dioperasi untuk mengatasi luka di tangannya,” kata seorang petugas kesehatan di RSPAD Gatot Subroto. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Fuad Basya mengatakan lelaki yang memotong tangan kirinya di Depok pada Rabu malam, 6 Agustus 2014, adalah anggota TNI berpangkat letnan dua bernama Dylan Abraham. “Dia sekarang dirawat di RSPAD Gatot Soebroto,” ujar Fuad saat dihubungi pada Kamis, 7 Agustus 2014.

Berdasarkan informasi yang didapat, Fuad mengatakan, Dylan mengalami stres lantaran kariernya tak kunjung naik. Alasannya, Dylan kerap melanggar disiplin sehingga kariernya terhambat. “Sementara teman-temannya sudah letnan satu, dia masih letnan dua,” kata Fuad. Selain tangan kiri, Dylan juga hendak memutus lengan kanan, menggorok leher, dan memotong kemaluannya. Namun tindakan nekat itu berhasil dicegah oleh warga sekitar, polisi, serta aparat TNI yang datang. Dylan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Sentra Medika, Depok, sebelum dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto. Hingga kini Dylan masih dirawat di ICU RSPAD Gatot Soebroto sejak masuk pada dinihari tadi.

Meski belum mengetahui kondisi Dylan, Fuad menyatakan tim dokter yang menanganinya berupaya menyambung kembali tangan kiri Dylan yang putus. Seorang pria berusia sekitar 30 tahun memotong tangannya sendiri dengan sebuah golok di Jalan Raya Bogor KM 38, Cilodong, Depok, pada Rabu, 6 Agustus 2014, sekitar pukul 22.30 WIB. Lelaki berperawakan tegap dan berambut cepak itu kehilangan tangan kirinya. Darah mengucur dari lengannya dan berceceran di sekitar lokasi.

Seorang saksi mata, Budi Rianto, 30 tahun, mengatakan melihat lelaki itu sendirian sambil menggenggam sebilah golok. “Saya lihat dia mau menebas tangan kanannya lalu menggorok lehernya sendiri,” kata Budi, Kamis, 7 Agustus 2014. Budi kemudian berteriak meminta bantuan ketika melihat pria itu hendak menebas lehernya. Warga yang menolong sempat bertanya kenapa lelaki itu bertindak nekat. “Dia bilang, ada masalah keluarga.”

Budi yang berada di seberang jalan dari posisi lelaki tadi mengaku sudah memperhatikan gerak-geriknya. “Dia tampak linglung,” ujarnya. Menurut Budi, sebelum memotong tangannya sendiri, pria itu terlihat keluar dari pintu gerbang Hotel Uli Artha, atau sekitar 50 meter dari tempat dia memotong tangannya.

Seraya melangkah dari hotel itu, lelaki tersebut perlahan membuka kaus yang dikenakannya, kemudian memotong tangan kirinya. Potongan tangan itu jatuh di trotoar. Saat diselamatkan warga, ritsleting celana jins yang dipakai lelaki itu terbuka. Dia diduga hendak memotong kemaluannya.

3 Anggota TNI Langsung Datangi Ahok Ketika Disindir jadi Becking Di Monas


Setelah Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menumpahkan kekesalannya pada oknum TNI yang diduga “melindungi” pedagang kaki lima (PKL) di Monas, pada Senin (4/8/2014) sore tadi, tiga anggota TNI mendatanginya di Balaikota Jakarta. Sekitar pukul 16.00, ketiga anggota TNI dengan berseragam lengkap itu terlihat langsung masuk ke ruang kerja Basuki. Sebelum masuk, salah satu dari mereka sempat mengatakan, mereka sudah memiliki janji bertemu dengan pria yang akrab disapa Ahok itu.

Namun, ternyata mereka tak kunjung bertemu dengan sang tuan rumah. Pasalnya Basuki telah memiliki agenda lain di ruang rapat besar, yakni menerima 28 mahasiswa dan dua dosen perencanaan kota dari Universitas Delft Belanda. Setelah satu jam menunggu dan tidak dapat bertemu Basuki, ketiganya pun memilih untuk keluar dari ruang kerja Wagub. Begitu keluar, beberapa wartawan pun mencoba mengonfirmasi perihal tujuan mereka menyambangi Basuki. Namun, tak ada satu pun dari tiga anggota TNI itu yang bersedia menjawab pertanyaan wartawan.

“Tidak mau wawancara,” kata salah seorang anggota seraya mengayunkan tangannya ke arah wartawan, mengelak menjawab. Mereka bertiga pun terus berlalu meninggalkan wartawan dan langsung masuk ke dalam elevator. Sementara salah seorang staf pengamanan dalam (pamdal) Balaikota Jakarta mengatakan kedatangan tiga anggota TNI itu tidak ada di dalam jadwal Wakil Gubernur.

“Enggak ada janji sebelumnya. Tadi dengar di radio (HT), katanya mau bahas soal Tanah Abang atau Monas gitu, kan penertibannya bareng TNI dan Garnisun juga,” kata staf pamdal. Sekedar informasi, sebelumnya, Basuki begitu geram mendengar ada personel Satpol PP yang diamankan oleh Polsek Gambir, karena menertibkan warga yang diduga PKL. Warga itu ternyata anggota TNI yang sedang berlibur bersama keluarganya di Monas.

Basuki mengaku heran, mengapa tidak ada pihak yang peduli terhadap personel Satpol PP yang celaka saat menertibkan PKL maupun bangunan kumuh. “Satpol PP setiap kali melakukan tindakan di Monas, pasti dipanggil polisi di-BAP sebagai tindak pengeroyokan. Ini kan konyol Terus kalau orang kita (Satpol PP) ada yang kepalanya bocor, apa ada yang BAP?” kata Basuki.

Basuki pun mengaku siap melakukan aksi baku tembak dengan para oknum yang membekingi PKL dan parkir liar yang berada di Monas. Pasalnya, kondisi Monas saat ini sudah semakin semrawut. Para PKL dengan mudah membobol pagar dan berdagang di dalam Monas. Sementara, preman yang semakin membeludak “memeras” pengunjung Monas yang memarkirkan kendaraannya di kawasan seluas 82 hektar itu.

Menurut dia, Pemprov DKI memiliki hak untuk menertibkan semua permasalahan itu. Sesuai dengan peraturan daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Basuki pun telah bersedia memberi persenjataan lengkap pada personel Satpol PP. Mulai dari rompi anti peluru, pistol, alat kejut listrik, pisau, dan lainnya.

Presiden SBY Mendadak Copot Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Budiman


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberhentikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman. Menurut Budiman, pemberhentian itu disampaikan melalui Panglima TNI Jenderal Moeldoko. “Panglima menelepon saya dan mengabarkan pemberhentian tersebut,” kata Budiman, Senin, 21 Juli 2014. Telepon itu diterima Budiman sekitar pukul 18.45.

Budiman, yang dilantik sebagai KSAD pada September tahun lalu, akan memasuki masa pensiun pada 25 September 2014. Budiman menyatakan tak menanyakan alasan pemberhentian. “Saya cuma bilang, ‘Siap laksanakan, silakan Pak,’,” kata Budiman. Rencananya, Budiman diberhentikan pada Jumat, 25 Juli atau dua bulan lebih cepat. Belum jelas benar alasan pemberhentian Budiman. Sampai berita ini ditulis, belum mendapat tanggapan dari pihak Istana.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikabarkan memberhentikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman, Senin, 21 Juli 2014. Pemberhentian ini dipertanyakan banyak pihak karena Jenderal Budiman baru akan mengakhiri masa jabatan pada 25 September mendatang. Pemberhentian ini menimbulkan tanda tanya ihwal penyebabnya. Sebagian kalangan pun menduga apakah pemberhentian ini berkaitan dengan perbedaan yang kerap terjadi antara Panglima TNI Jenderal Moeldoko dengan KSAD Jenderal Budiman dalam menyikapi beberapa kasus.

Dalam catatan, misalnya, keduanya terlihat tak seirama dalam kasus Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang mencuat menjelang pemilihan presiden lalu. Jenderal Budiman saat itu bertindak tegas dengan memerintahkan pengusutan tuntas terkait kabar anggota Babinsa yang mendatangi rumah-rumah warga di Jakarta Pusat dan mengarahkan warga mendukung calon presiden tertentu.

Bahkan, Markas Besar TNI Angkatan Darat menjatuhkan hukuman penjara bagi anggota bintara pembina desa, Kopral Satu Rusfandi. Rusfandi sehari-hari bertugas di Komando Rayon Militer Kecamatan Gambir. Dia dinyatakan bersalah lantaran dinilai mengambil alih pekerjaan yang menjadi kewenangan Komisi Pemilihan Umum. Namun, keterangan dari TNI AD berlawanan dengan yang disampaikan oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Pada 8 Juni 2014 lalu, Moeldoko menyebut kabar adanya Babinsa yang menyuruh warga memilih salah satu capres tertentu tidak benar alias tak terbukti. Jenderal Moeldoko memastikan tak ada pelanggaran yang dilakukan oleh Babinsa baik dalam kasus di Cideng, Sumedang, Jakarta Pusat, maupun tempat-tempat lain.

Selain itu, pada Mei lalu santer dikabarkan Jenderal Budiman telah bertemu dengan Megawati ataupun Puan Maharani untuk membicarakan kemungkinan menjadi calon wakil presiden bagi calon presiden yang diusung PDI Perjuangan, Joko Widodo. Hal ini dianggap sebagai langkah tak netral dari Jenderal Budiman sebagai bagian TNI. Namun, Jenderal Budiman sendiri membantah kabar tersebut. Di sisi lain, kabar tentang upaya Moeldoko mendekati kubu PDI Perjuangan pun santer terdengar di lingkungan Istana. Banyaknya manuver di kalangan petinggi militer ini pula yang membuat Presiden mengumpulkan mereka dalam sebuah pertemuan di Istana Kepresidenan. “Saya Panglima Tertinggi,” kata SBY ketika itu untuk menegaskan posisinya.

Presiden SBY sejauh ini belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab diberhentikannya Jenderal Budiman. Kabarnya, Panglima TNI saat ini telah menyorongkan tiga nama sebagai pengganti Jenderal Budiman. “Pemberhentian KASAD murni keputusan Presiden,” kata Moeldoko. Ia membantah spekulasi politik seputar pergantian itu dan menganggapnya sebagai hal yang lumrah di organisasi TNI.

Kabar pemberhentian mendadak itu disambut tenang Jenderal Budiman. Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu ternyata sudah memiliki rencana untuk menyusun masa pensiunnya yang sesuai ketentuan jatuh pada September mendatang. Kepada yang menemuinya Senin, 21 Juli 2014 malam, beberapa jam setelah menerima telepon Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Budiman mengaku ingin menjadi pengawas sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar. “Saya mau mengurusi TK dan SD,” kata Budiman di Jakarta, Senin, 21 Juli 2014.

Budiman enggan menjelaskan di mana sekolah yang dimaksud. Ia menyebut ada kebutuhan SD dan TK, tempat ia bisa mendedikasikan dirinya bagi pendidikan dasar. Sebagai anak guru, Budiman mengaku peduli dengan pengembangan pendidikan. “Tapi saya maunya jadi pengawas sekolah, bukan kepala sekolah,” kata Budiman.

Jenderal Budiman diberi tahu pemberhentian dirinya melalui telepon oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko pada Senin, 21 Juli 2014 lalu. Saat ditelepon, Budiman sedang berbuka puasa bersama wartawan di Mabes TNI AD. Karena melalui telepon, Budiman mengaku belum tahu resmi diberhentikan sebagai KSAD. “Baru ditelepon Panglima, belum ada surat apa-apa,” kata Budiman. Rencananya, Budiman diberhentikan pada Jumat, 25 Juli atau dua bulan lebih cepat. Belum jelas benar alasan pemberhentian Budiman. Sampai berita ini ditulis, belum mendapat tanggapan dari pihak Istana.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko membenarkan kabar pemberhentian Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Budiman oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Jumat, 25 Juli mendatang. Menurut Moeldoko, keputusan tersebut disampaikan Presiden kemarin siang di Istana Negara. Dia pun membenarkan bahwa pemberhentian KSAD Jenderal Budiman dimajukan dua bulan. Budiman seharusnya pensiun pada 25 September 2014. Jenderal Moeldoko menganggap percepatan masa pensiun tersebut lumrah. “Itu hal yang biasa di TNI. Sebelumnya banyak petinggi TNI yang diberhentikan lebih awal,” kata Moeldoko kepada wartawan di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, Selasa, 22 Juli 2014.

Sebagai contoh, dia melanjutkan, ada dua mantan Kepala Staf Angkatan Laut, yakni Laksamana Suparno dan Laksamana Tedjo Edhie Pudijanto yang diberhentikan lebih cepat dari masa pensiun. Walhasil, Moeldoko meminta wartawan untuk tak berpikir yang negatif soal pemberhentian Jenderal Budiman. “Sama saja kok, sebentar lagi saya, KSAL, dan KSAU akan pensiun. Jadi, tak ada yang istimewa,” kata Moeldoko. “Jadi, bagi kami diberhentikan kapan pun siap.” Sebelumnya, KSAD Jenderal Budiman membenarkan pemberhentian dirinya akhir pekan ini. Kabar tersebut dia peroleh melalui sambungan telepon dari Panglima TNI kemarin malam saat dia menggelar acara buka puasa bersama wartawan. Budiman sendiri tak tahu-menahu alasan pemberhentiannya.

Jalur Mudik Dijaga Pasukan Brimob Bersenjata


Sebanyak satu peleton atau sebanyak 30 personil bersenjata lengkap dari Satuan Brimob Kepolisian Daerah (Satbrimob Polda) Jawa Timur, akan ditempatkan di Jalur Gunung Gumitir, yang menghubungkan Kabupaten Jember- Banyuwangi, selama terjadinya mudik Lebaran dan balik tahun 2014.

“Sesuai dengan arahan dari Bapak Kapolda Jawa Timur, akan ada satu peleton personil dari Satbrimob bersenjata lengkap, akan ditempatkan di jalur Gunung Gumitir,” terang Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Jember, Ajun Komisaris Polisi Akmal, Sabtu (12/7/2014).

Dikatakan Akmal, alasan penempatan personil brimob bersenjata lengkap tersebut dikarenakan jalur Gunung Gumitir Kecamatan Silo, dinilai sangat rawan. “Jadi hasil pemetaan kemarin, selain rawan kecelakaan lalu lintas, juga rawan aksi kriminalitas,” kata dia.

Apalagi, saat ini lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) yang dipasang oleh Pemkab Jember banyak yang hilang dicuri maling. “Awalnya jalur di sana terang, tetapi belakangan banyak lampu dicuri maling. Nanti kita tambahi lagi untuk rambu-rambu lalu lintasnya, sebab tikungannya tajam, dan rawan longsor,” ungkap Akmal.

Akmal berharap, dengan tambahan personil dari Brimob tersebut, masyarakat yang akan mudik ke kampung halamannya, bisa selamat sampai tujuan dan merasa aman di perjalanan. “Kita berusaha semaksimal mungkin, bagaimana arus mudik dan balik ini bisa berjalan dengan maksimal,” pungkasnya.

Juru Parkir Monas Dibakar Anggota TNI Karena Kurang Bayar Jatah Preman


Yusri (47), juru parkir (jukir) liar di Monas diduga dibakar oleh seorang oknum TNI pada Selasa (24/6) lalu. Keluarga Yusri meminta kepada pihak TNI untuk mengusut tuntas kasus tersebut. “Kami minta dengan sangat pada panglima TNI agar proses pemeriksaan ditindaklanjuti. Pelaku dipecat,” kata adik ipar Yusri, Andre saat ditemui di RS Tarakan, Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014).

Andre khawatir jika pelaku tak dipecat, ulahnya akan semakin menjadi. Ia mengakui, profesi sebagai parkir liar memang tidak dibenarkan. Namun menurutnya, perilaku oknum TNI tersebut sangat berlebihan. “Jangan sampai terulang memakan korban lagi. TNI jangan semena-mena,” katanya. Sementara itu, saat ini kondisi Yusri masih kritis. Andre belum dapat melihat langsung keadaan kakak iparnya itu. “Dia masih koma, belum bisa diganggu,” tutupnya.

Yusri (47) korban pembakaran oleh salah seorang oknum TNI di Monas masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat. Yusri kini dalam keadaan koma, dan kondisinya semakin kritis. “Saat ini masih tidak sadarkan diri. Kondisinya semakin memburuk, masih kritis,” kata Kepala Bidang Pelayanan Medis RS Tarakan, dr Maria Margaretha di RS Tarakan, Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014).

Menurut dokter forensik yang merawat Yusri, dr Evi Untoro, penurunan kondisi Yusri disebabkan karena luka yang dideritanya. Luka bakar yang menjalar di tubuhnya sejak Selasa (24/6) lalu membuat kondisi tubuhnya semakin lemah. “Pasien kritis karena lukanya. Dan memang masih harus dipasang alat bantu nafas,” kata Evi. RS Tarakan juga telah melakukan visum pada juru parkir liar Monas tersebut. Dari hasil visum itu menunjukkan bahwa Yusri benar menderita luka bakar.

“Hasil visumnya pasien menderita luka bakar 30% yaitu di bagian muka, leher, punggung dan lengan kiri kanan,” kata dr Maria. Hasil visum tersebut akan diserahkan ke pihak kepolisian untuk pemeriksaan lebih lanjut. Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap 8 orang terkait pembakaran juru parkir Monas bernama Yusri (47). Sertu H (versi lain menyebut Pratu HR) yang diduga melakukan pembakaran ini telah diringkus. Polisi juga telah melimpahkan kasus tersebut ke Pomdam Jaya.

“Kita sudah memeriksa 8 saksi yang merupakan juru parkir dan petugas keamanan dan pemeriksaan mengarah pada seorang anggota TNI,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kepada wartawan, Kamis (26/6/2014). Rikwanto mengatakan, polisi telah melakukan koordinasi dengan Polisi Militer (PM) di Pomdam Jaya Guntur. Satuan PM Guntur membenarkan pelaku penganiayaan terhadap Yusri adalah Pratu HR dari satuan Puspom TNI. Saat ini pelaku sudah diamankan oleh Pomdam Jaya.

“Pemeriksaan para saksi selesai dilaksanakan, perkara akan segera dilimpahkan ke Guntur,” katanya. Yusri harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Tarakan di Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat. Pria asal Aceh menjalani operasi karena menderita luka bakar lebih dari 50 persen. Menurut saksi, pembakaran terhadap Yusri terjadi karena pelaku kesal karena tak mendapatkan ‘jatah preman’ dari parkir liar yang dikelola Yusri seperti yang diharapkan.

Sertu H yang diduga sebagai pelaku pembakaran juru parkir liar di Monas bernama Yusri (47) telah diringkus. Beberapa barang bukti seperti botol air mineral dan juga baju yang terbakar telah diamankan petugas sebagai barang bukti. “Baju warna biru terbakar dan botol air mineral terbakar bekas mengisi bensin sudah kita jadikan barang bukti,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kepada wartawan, Kamis (26/6/2014).

Rikwanto mengatakan, peristiwa ini terjadi di samping Polsub sektor Monas Timur pada pukul 22.00 WIB, Selasa (24/6/2014). Korban Yusri Mongendong merupakan warga kelahiran Jaya Baru, Aceh. Rikwanto mengatakan, pelaku adalah seorang anggota TNI berinisial HR dengan pangkat Pratu dan bekerja di satuan Puspom TNI. Sebelumnya, Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan telah mengamankan Sertu H dan membawanya ke di Pomdam Jaya di Guntur untuk menjalani pemeriksaan. Jadi status H hingga saat ini masih terperiksa.

“Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan apakah dia benar melakukan aksi pembakaran tersebut,” ujar Fuad, Rabu (25/4) malam. Sementara itu, Yusri harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Tarakan di Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat. Pria asal Aceh menjalani operasi karena menderita luka bakar lebih dari 50 persen. Menurut saksi, pembakaran terhadap Yusri terjadi karena pelaku kesal karena tak mendapatkan ‘jatah preman’ dari parkir liar yang dikelola Yusri seperti yang diharapkan.

TNI menangkap Sertu H yang diduga sebagai pelaku pembakaran juru parkir liar di Monas bernama Yusri (47). Polisi mengaku belum mengetahui penangkapan ini dan akan mengecek keberadaan Sertu H di Pomdam Jaya di Guntur, Manggarai, Jakarta Selatan. “Ini bukan kita yang menangkap, karena itu kita akan cek ke Guntur soal penangkapan itu,” kata Kapolsek Gambir AKBP Putu Putra Sadana kepada detikcom, Kamis (26/6/2014).

Saat ditanya apakah kasus pembakaran Yusri ini masih ditangani polisi, Putu mengatakan akan melakukan pengecekan dulu ke Guntur. “Soal itu kita akan cek dulu ke Guntur,” katanya. Sebelumnya, Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan telah mengamankan Sertu H dan membawanya ke di Pomdam Jaya di Guntur untuk menjalani pemeriksaan. Jadi status H hingga saat ini masih terperiksa.

“Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan apakah dia benar melakukan aksi pembakaran tersebut,” ujar Fuad, Rabu (25/4) malam. Sementara itu, Yusri harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Tarakan di Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat. Pria asal Aceh menjalani operasi karena menderita luka bakar lebih dari 50 persen. Menurut saksi, pembakaran terhadap Yusri terjadi karena pelaku kesal karena tak mendapatkan ‘jatah preman’ dari parkir liar yang dikelola Yusri seperti yang diharapkan.