Category Archives: Terorisme

Teroris Sumedang Memiliki 10 KTP Dengan Nama Berbeda Dan Rekening 1 Milyar

Kasat Reskrim Polres Sumedang Ajun Komisaris Tri Suhartanto mengatakan bahwa Ar (Arli) memiliki beberapa nama alias serta mempunyai sedikitnya 10 KTP. “Terduga teroris berinisial Ar itu memiliki 10 KTP dengan nama berbeda-beda,” kata Tri, Kamis (22/3/2012). Pengelola kontrakan, Irwan Mulyawan (40), mengatakan, harga sewa untuk gerai itu besarnya Rp 8 juta.

“Uangnya dibayar lunas untuk satu tahun. Mereka mengatakan tadinya akan buka gerai di Jatinangor, tapi harganya mahal sehingga memilih mencari di Sumedang,” katanya. Dalam menjalankan usahanya, gerai itu dijaga oleh Catur. “Yang ditangkap tadi itu Catur, pegawainya. Ia juga berasal dari Subang. Saat kontrak pertama, Catur datang bersama istrinya dan tiga anaknya. Dia juga jarang bicara dan sikapnya biasa saja,” timpal Ilah, istri Irwan.

Selama tiga bulan itu, Arli sering pergi dari kontrakan. “Bilangnya sih ke Bandung dan Jakarta untuk membeli peralatan perbaikan ponsel,” kata Ilah. Setiap hari, Catur lebih banyak berada di belakang komputer dan melayani konsumennya. “Sehari-harinya ya dia jaga toko dan berada di belakang komputer sampai melayani pembeli. Saya sempat ngobrol kalau sekitar tiga minggu sudah tak bisa menghubungi Arli,” beber Ilah lagi.

Catur, seperti dituturkan Ilah, menyebutkan, saat dihubungi ponsel Arli tidak aktif. “Selama pergi sekitar tiga minggu lalu itu, Arli tak bisa dihubungi,” katanya. Menurut Ilah, setelah tak ada kabar selama tiga pekan itu, ternyata pada Kamis (22/3/2012) kontrakan Arli digeledah karena dituduh terlibat jaringan terorisme. “Sejak sebulan lalu anggota Densus 88 sudah ada di kawasan Angkrek dan mengontrak rumah persis di depan kontrakan yang digeladah Densus,” kata sumber Tribun di Mapolres Sumedang. Penyewa rumah kontrakan yang digerebek tim Densus 88 Antiteror Polri di Jalan Angkrek Nomor 71 RT 1/14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Sumedang, Jawa Barat, selalu menghindar ketika dimintai indentitasnya.

Pemilik rumah kontrak, Ilah Sarmila (40) dan suaminya Irwan Mulyawan (40), mengatakan bahwa kontrakan itu disewakan selama satu tahun kepada Arli (42) pada 25 Desember 2011. Saat mengontrak gerai ukuran 2,5 x 2,5 meter itu, Arli tak memperlihatkan kartu tanda penduduk (KTP) kepada Ilah maupun Irwan. “Kami sudah sering meminta fotokopi KTP, tapi pengontrak gerai itu tak memberikan. Orang tak banyak bicara kalau bertemu dan ditanyakan KTP selalu menghindar,” kata Irwan kepada Tribun Jabar, Kamis (22/3/2012). Irwan hanya tahu bahwa Arli mengaku dari Subang dan mempunyai usaha jual beli dan perbaikan ponsel.

Ketua RT setempat, Dadang Suhendar, mengatakan bahwa di kawasan Jalan Angkrek terdapat banyak rumah sewa. Sebagian penyewa tidak melaporkan keberadaannya kepada Dadang. “Untuk yang menyewa di pinggir jalan untuk kios atau toko itu jarang ada yang lapor, kecuali bagi yang mengontrak di dalam dan sudah berumah tangga selalu lapor ke RT,” katanya.

Pada Kamis sekitar pukul 13.30 siang tadi, tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pria berinisial CP di gerai ponsel yang disewa oleh Arli di Jalan Angkrek. Penangkapan terhadap CP berlangsung cepat. Pria itu tak dapat melawan dan kaget begitu tim Densus 88 menodongkan senapan ketika ia asyik duduk di depan rumah. Tanpa banyak bicara, Densus 88 langsung mengamankan penjaga gerai Plus Celullar itu.

Penggeledahan di gerai ponsel CP itu dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Arli sebelumnya tinggal di rumah kontrakan tersebut. Dalam penggerebekan siang tadi, tim Densus 88 membawa Arli dan menempatkannya di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil tertutup dan berkaca film hitam tidak tembus pandang. Arli merupakan anggota kelompok jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Barat awal Maret ini.

Kepala Polres Sumedang Ajun Komisaris Besar Eka Satria Bhakti mengatakan, penggerebekan terhadap CP, tersangka terduga teroris di Sumedang, dilakukan setelah tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggeledah tempat kontrakan tersangka lain. Penggerebekan oleh tim Densus 88 Polri itu berlangsung di Jalan Angkrek Nomor 71 RT 1/14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Kamis (22/32012) siang. Tim Densus 88 menangkap CP, yang tengah menjaga gerai ponsel di tempat tersebut. “Itu kegiatan Densus 88 dan mereka menggeledah tempat kontrakan terduga teroris yang sudah ditangkap duluan. Penjaga gerai ponsel itu dibawa untuk dimintai keterangan,” kata Eka saat dihubungi melalui ponselnya.

Penggeledahan dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Dalam penggerebekan itu, tim Densus 88 juga membawa Arli dan terus berada di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil tertutup plus kaca film hitam tidak tembus pandang. Tribun sempat mencoba mengintip dari balik kaca mobil tapi langsung dihardik petugas Densus 88. Arli merupakan jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di PN Jakarta Barat awal Maret ini.

Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pria yang diduga terlihat terorisme di sebuah gerai telepon seluler di Sumedang, Jawa Barat, Kamis (22/32012) siang. Tersangka berinisial CP (40) tak dapat berontak dan langsung menyerah di tangan petugas.

Penangkapan CP di Jalan Angkrek, RT 1 / RW 14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, itu berlangsung sekitar pukul 13.30. Hj Omoh (72), pemilik rumah dan kontrakan di Jalan Angkrek Nomor 71, kaget dan langsung beranjak dari depan televisi begitu mendengar ada mobil mikrobus berhenti di depan rumah.

“Dari dalam mobil itu berhamburan orang berpakaian hitam dengan senjata laras panjang memakai helm dan muka tertutup,” kata Omoh yang menyaksikan kejadian itu dari pintu depan rumahnya. Omoh menuturkan, di depan rumah itu sedang duduk CP (40), penjaga gerai Plus Celullar. CP yang mengenakan kaus hitam dan celana jins langsung angkat tangan ketika moncong senapan aparat Densus 88 diarahkan kepadanya. “Tak ada pembicaraan sedikit pun. CP angkat tangan dengan mulut terbuka kaget. Petugas berpakai hitam-hitam itu menutup mata CP dengan lakban,” kata Omoh yang mengaku masih shock.

Dengan mata tertutup dan tangan diikat ke belakang, CP yang masih memakai sandal jepit biru itu digelandang naik ke dalam mobil dan pintunya langsung ditutup. Penggeledahan dilakukan cepat dan akses Jalan Angkrek langsung ditutup meski jalur tersebut sangat padat lalu lintas karena berada di kawasan perguruan tinggi dan sekolah.

Anggota Polres Sumedang langsung memasang garis polisi di tempat kejadian. Empat anggota Densus 88 dengan senapan serbu di tangan berdiri di depan gerai ponsel. Anggota lain melakukan penggeledahan di dalam gerai yang berukuran 2,5 x 2,5 meter itu. Warga Angkrek tumplek dan melihat aksi penggeledahan yang disebutkan warga sebagai penangkapan teroris. “Saya nonton saja karena tadi mendengar ada penangkapan teroris di Angkrek,” kata Hendrawan, warga Situ.

Selain membawa CP, anggota Densus 88 juga menggeledah gerai ponsel dan mengangkut satu buah central processing unit (CPU), buku tabungan sampai slip penarikan dan penyetoran uang. “Dari buku tabungan itu nilai uangnya di atas Rp 1 miliar lebih. Transaksi pemasukan dan pengeluaran uang juga banyak,” kata seorang anggota polisi yang ikut penggeledahan. Tim Densus 88 Antiteror menggeledah gerai ponsel di Jalan Angkrek, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (22/3/2012) siang. Polisi mengangkut satu buah central processing unit (CPU), buku tabungan, serta slip penarikan dan penyetoran uang.

“Dari buku tabungan itu nilai uangnya di atas Rp 1 miliar. Transaksi pemasukan dan pengeluaran uang juga banyak,” kata seorang anggota polisi yang ikut dalam penggeledahan, Kamis. Penggeledahan dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Densus membawa Arli dan terus berada di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil yang tertutup kaca film hitam tidak tembus pandang.

Arli merupakan jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin, yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di PN Jakarta Barat awal Maret ini. Kapolres Sumedang Ajun Komisaris Besar Eka Satria Bhakti mengatakan, operasi itu dilakukan Densus 88 Antiteror. “Itu kegiatan Densus 88 dan mereka menggeledah tempat kontrakan terduga teroris yang sudah ditangkap duluan. Penjaga gerai ponsel itu dibawa untuk dimintai keterangan,” kata Kapolres saat dihubungi melalui ponselnya.

Fadliansyah, anggota gerakan teroris Poso yang telah ditangkap polisi 17 Maret lalu diduga kuat merupakan kelompok jaringan Umar Patek, “Diduga juga turut membantu aktivitas teror Umar Patek dan Dulmatin,” kata juru bicara Mabes Polri, Inspektur Jendral Saud Usman Nasution, Sabtu, 24 Maret 2012. Tentang peran Fadliansyah dalam jaringan Umar Patek dan aktivitas terorisme di Poso, Saud enggan menyebutkan. “Ini masih dalam penyelidikan.” Fadliyansah ditangkap 17 Maret lalu di sebuah hotel di Jalan Dewi Sartika Bandung bersama istrinya berinisial NAT.

Ia ditangkap terkait kasus pelatihan militer di Poso. Ia membeli amunisi atau peluru M16 pada saat pelatihan dan latihan pembuatan detonator. Selain itu Fadliansyah bersama Heri Kuncoro pernah mengikuti pelatihan bongkar pasang senjata api di Pare, Kediri Jawa Timur, dan membuat KTP palsu dengan nama Arif Arhan.

Dalam penangkapannya Polri menyita barang bukti yakni 10 lembar KTP, 10 kartu ATM, aplikasi formulir paspor. Fadliyansah disangkakan dengan Pasal 15 jo Pasal 7, jo Pasal 9, jo. Pasal 11 Perpu Nomor 1 th 2002 / UU Nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Melalui Fadliansyah polisi berusaha mengembangkan penyelidikan dengan menggeledah rumah dia di kawasan Sumedang yang juga dijadikan tempat usaha gerai telepon seluler. Dalam penggeledahan polisi menyita 1 buah komputer, dua perangkat ponsel, dan enam sim card. Dari penggeledahan tersebut polisi juga mengamankan 1 orang yang bernama Catur atau CHW. Catur asal Purwakarta diamankan karena kebetulan tinggal bersama Fadliansyah.

5 Teroris Ditembak Mati Di Denpasar Bali Setelah Memesan 4 Wanita Panggilan

Polda Bali saat ini tengah memeriksa 5 jenazah teroris yang ditembak di Denpasar, Bali. Rencananya, jenazah teroris akan diterbangkan ke Jakarta untuk identifikasi lanjutan. “Jenazah 5 teroris masih diperiksa. Kalau sudah selesai akan diterbangkan ke Jakarta,” kata Wakapolda Bali Brigjen Pol Untung Yoga Ana, kepada detikcom, Senin (19/3/2012).

Menurut Yoga, kondisi di Bali pasca penyergapan teroris kondusif. Warga sekitar lokasi beraktifitas seperti biasa, meski sejumlah polisi bersiaga. “Situasi kondusif, baik-baik saja. Tadi malam saja ramai, pejagaan secukupnya,”katanya. Sebelumnya 5 pria terduga jaringan teroris tewas ditembak di Bali. Mereka ditengarai hendak melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas Jl Uluwatu Jimbaran. Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Medan.

Penyergapan dilakukan pada Minggu (18/3) malam pukul 20.30 WIB. Penyergapan dilakukan di dua tempat di kawasan Jl Gunung Soputan dan di Jl Danau Poso. 5 Pelaku yang tewas yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan sementara 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Selain menembak mati para terduga teroris, turut diamankan pula 2 pucuk senjata api jenis FN yang di dapat dari dua lokasi berbeda yakni 1 pucuk didapat dari TKP di Soputan dan 1 pucuk dari TKP Jalan Danau Poso, 2 magazene dan peluru berjumlah 48 butir kaliber 9 milimeter serta sebuah penutup wajah.

Sebelum ditembak mati oleh polisi, pria diduga teroris sempat terlihat memesan 4 orang wanita di sebuah bungalow Laksmi di Jalan Danau Poso, Denpasar, Bali. “Sebelum penembakan ada 4 orang wanita, salah satu wanita sudah dipesan oleh pelaku,” kata seorang saksi mata, Butet kepada wartawan Senin (19/03/2012) dini hari.

Menurut dia, sebelum mendengar suara tembakan dirinya melihat ada dua orang yang sempat diikat tangannya oleh petugas Kepolisian. Namun dia tidak dapat menjelaskan kedua orang yang diikat tersebut wanita atau pria. “Ada dua yang diikat, Tapi tidak tahu apakah wanita atau pria,” jelasnya. Keempat wanita yang dipesan tersebut berinisial RR, GT, IN, serta satu wanita yang belum diketahui identitasnya.

Sebelumnya 5 Pria terduga jaringan teroris tewas ditembak di Bali. Mereka ditengarai hendak melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas Jl Uluwatu Jimbaran. Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Medan. Penyergapan dilakukan pada Minggu malam pukul 20.30 WIB. Penyergapan dilakukan di dua tempat di kawasan Jl Gunung Soputan dan di Jl Danau Poso.

5 Pelaku yang tewas yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan sementara 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Selain menembak mati para terduga teroris, turut diamankan pula 2 pucuk senjata api jenis FN yang di dapat dari dua lokasi berbeda yakni 1 pucuk didapat dari TKP di Soputan dan 1 pucuk dari TKP Jalan Danau Poso, 2 magazene dan peluru berjumlah 48 butir kaliber 9 milimeter serta sebuah penutup wajah.

5 orang teroris ditembak mati oleh Densus 88 Antiteror di Denpasar, Bali. Polisi menegaskan situasi di Bali saat ini sudah aman terkendali. “Situasi Bali aman, terkendali dan kondusif,” kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar kepada detikcom, Senin (19/3/2012).

Sebelumnya 5 pria terduga jaringan teroris tewas ditembak di Bali. Mereka ditengarai hendak melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas Jl Uluwatu Jimbaran. Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Medan.

Penyergapan dilakukan pada Minggu (18/3) malam pukul 20.30 WIB. Penyergapan dilakukan di dua tempat di kawasan Jl Gunung Soputan dan di Jl Danau Poso. 5 Pelaku yang tewas yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan sementara 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Selain menembak mati para terduga teroris, turut diamankan pula 2 pucuk senjata api jenis FN yang di dapat dari dua lokasi berbeda yakni 1 pucuk didapat dari TKP di Soputan dan 1 pucuk dari TKP Jalan Danau Poso, 2 magazene dan peluru berjumlah 48 butir kaliber 9 milimeter serta sebuah penutup wajah. 5 anggota jaringan teroris yang terkait perampokan CIMB Medan ditembak mati di Bali. Mabes Polri menyebut kelimanya hendak merampok toko emas dan money changer di Bali.

“Pada saat ditangkap, para pelaku akan melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan toko emas di Jl Uluwatu Jimbaran,” jelas Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar, Mingggu (18/3/2012). Namun menurut sumber detikcom, setelah melakukan aksi perampokan, para pelaku ini akan menggunakan uangnya untuk merancang sebuah peledakan. “Mereka mengincar sebuah cafe terkenal,” jelas seorang perwira yang enggan disebutkan namanya. Boy yang dikonfirmasi soal rencana pemboman itu belum memberikan komentar. Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.

“Mereka diintai 1 bulan,” jelas Boy. Penggerebekan terhadap 5 anggota jaringan teroris itu dilakukan pada Minggu pukul 20.30 WIB. Nama 5 pelaku jaringan teror itu yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan. 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Polisi menemukan kepingan VCD tentang jihad saat penggeledahan di dua hotel tempat lima perampok di Bali menginap. Menurut Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, VCD itu berisi anjuran dan cara berjihad. Namun, ia tidak menyebutkan berapa jumlah kepingan VCD yang ditemukan.

“Kita menemukan cd-cd jihad, buku-buku, dan kartu tanda penduduk empat orang pelaku. Itu ditemukan di dua hotel para pelaku,” ujar Saud, di Jakarta, Selasa (20/3/2012).

Selain, barang-barang tersebut juga ditemukan gambar lokasi target kawanan ini. Salah satunya adalah sebuah kafe di Bali. Namun, Saud enggan menjelaskan apakah kafe tersebut adalah target pengeboman atau perampokan.

“Mereka sudah targetkan tempat, khususnya toko emas dan money changer dalam rangka menyiapkan dana. Setelah itu target mereka kafe yang sudah disurvei untuk menjalankan aksi berikutnya,” terang Saud.

Meski diduga memiliki jaringan dengan kelompok teror tertentu, Saud enggan menyebutkan kelompok ini terkait dengan kelompok bom Solo maupun JAT. Menurut dia, saat ini masih pengembangan, oleh karena itu kepolisian masih mengumpulkan bukti-bukti. “Kita juga masih mengejar beberapa orang dari kelompok yang di Bali ini. Jadi ini semua masih dalam pengembangan dan penyidikan,” tegasnya.

Seperti diketahui, kelima perampok yang ditembak mati Densus 88 Anti teror adalah tersangka pelaku perampokan yang diringkus di Jalan Gunung Soputan, sebelah selatan Kota Denpasar, dan tiga orang lainnya ditembak di Bungalo Laksmi di Jalan Danau Poso, Sanur, Minggu (18/3/2012). Akibat melakukan perlawanan, kelima orang tersebut ditembak di tempat. Pada saat akan ditangkap, para pelaku tengah merencanakan perampokan di Bali Money Changer di Jalan Sriwijaya, Kuta, dan toko emas di Uluwatu, Jimbaran.

Kronologis Pembantaian dan Pemancungan 30 Petani Di Mesuji Terungkap

Video pembantaian petani di Mesuji yang dilaporkan oleh lembaga adat Lampung ke Komisi III DPR harus diverifikasi dimana kejadian persisnya. “Video itu harus diverifikasi terjadi di Lampung atau dimana,”ujar Anggota Komisi III DPR, Saan Mustopa di gedung DPR, Jakarta, Kamis (15/12/2011).

Sebelumnya, lembaga adat Lampung yang dipimpin oleh Purnawirawan TNI Mayjen Saurip Kadi mengadu ke Komisi III DPR mengenai adanya pembantaian sadis yang terjadi di Mesuji, Lampung. Saat berada di DPR video pembantaian seperti adanya pemenggalan kepala, penyiksaan dipertontonkan di hadapan anggota dewan.

Terkait hal itu kata Saan dirinya belum bisa katakan video tersebut benar atau salah. Karena itu lanjut Saan ketika rapat dengan Kapolri semalam, tragedi pembantaian itu dipertanyakan. “Itu dari sumber resmi kepolisian, sudah diproses ke pengadilan, itulah komisi 3 yang harus mencari apa benar atau tidak,” jelas Saan.

Komisi III DPR sendiri kata Wakil Sekjen Partai Demokrat ini sudah membentuk tim khusus yang akan terjun ke lapangan mengusut kasus tersebut. Verifikasi lanjut Saan juga segera dilaksanakan, minimal setelah masa reses DPR. “Verifikasi supaya ini tidak liar, bisa pas reses,” katanya.

Namanya Saurip Kadi (60). Mayjen Purnawirawan TNI asal Brebes ini bikin heboh sejak kemarin. Dia memimpin rombongan Lembaga Adat Megoupak menghadap Komisi III DPR melaporkan soal dugaan pembantaian terhadap 30 petani di Mesuji Lampung sejak pemerintahan SBY.
Laporannya disertai foto dan video pembantaian yang diduga dilakukan Pamswakarsa yang dibekingi perusahaan sawit asal Malaysia PT Silva Inhutani.
Saurip, demikian dia disapa, ketika berbicara sangat tegas layaknya seorang tentara. Dalam sebuah dialog di televisi swasta nasional semalam, Saurip berbicara lantang dan berani mendebat Menko Polhukam Djoko Suyanto yang berbicara di ujung telepon. “Pak Djoko ini dulu teman saya,” kata Saurip dengan enteng.

Dari sejumlah penelusuran Tribunnews.com, nama Saurip cukup dikenal luas. Di zaman pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencuat namanya sempat berkibar.
Ini terkait dengan munculnya isu “Dokumen Bulak Rantai” pada 2000 dimana dalam dokumen itu disebutkan Pangkostrad Letjen TNI Agus Wirahadi Kusumah (alm) dan Saurip yang kala itu menjabat sebagai Aster KSAD bersama sejumlah perwira tinggi TNI lainnya dituduh mengadakan pertemuan ilegal dengan sejumlah perwira TNI lainnya.

Saat itu Saurip dicopot dari jabatannya sebagai Aster KSAD dan digantikan Mayjen TNI Sang Nyoman Suwisna, 29 Juni 2000.
Itulah jabatan terakhir tetinggi Saurip di TNI AD.
Pada Pilpres 2009 lalu, nama Saurip muncul dan hendak mencalonkan Presiden berpasangan dengan Aktor Deddy Nizwar. Kendati gagal jadi capres namun Saurip tidak patah arang. Dia melaju melalui jalur independen dan menggugat Mahkamah Konstitusi soal UU Pilpres.
Setelah itu nama Saurip tidak langsung tenggelam. Dia muncul lagi dengan tulisan-tulisannya yang masih tetap membuat heboh. Diantaranya bukunya yang berjudul “Menata Ulang Sistem Demokrasi dan TNI Menuju Peradaban Baru” serta buku berjudul “TNI AD Dahulu Sekarang dan Akan Datang”. Serta berbagai buku lainnya seperti “Menembus Batas”, Mengutamakan Rakyat” dan sebagainya. Banyak diantaranya mengupas soal peran TNI dalam kancah pembangunan bangsa.

Di era pemerintahan SBY-Boediono sekarang ini Saurip kadang muncul dengan kritikan-kritikan pun tetap mengalir.

Dari sebuah media online pada 2 Juli 2011 lalu, Saurip dikritik Benteng Kedaulatan yakni Ormas Pendukung SBY yang menilai aneh Saurip melontarkan pendapat bahwa SBY mempermalukan militer dan mendukung agar SBY diturunkan.
Nah, kini Jenderal Saurip yang dikenal keras ini muncul lagi dengan membawa para korban para petani yang kabarnya dibantai di Lampung. Apa cerita selanjutnya yang akan diperlihatkan Saurip, kita tunggu saja!

Polda Sumatera Selatan (Sumsel) mengakui terjadi bentrok antara warga dengan karyawan perusahaan kebun sawit PT Sumber Wangi Alam (SWA) di Desa Sodong Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pada 21 April 2011 lalu.

Akibat bentrok itu, tujuh orang tewas, terdiri dari dua orang dari pihak warga dan 5 orang dari pihak karyawan PT SWA. Dua di antara korban, tewas dengan kepala terpenggal. “Di Sumsel, terjadi bentrok di Kecamatan Mesuji antara masyarakat Desa Sodong dengan karyawan PT SWA, yang mengakibatkan dua warga masyarakat tewas dan lima karyawan tewas, yang dua di antaranya dengan leher terpenggal,” kata Kabid Humas Polda Sumsel, AKBP Sabaruddin Ginting, Kamis (15/12/2011).

Menurutnya, kejadian saat itu dipicu sengketa lahan antara warga setempat dengan PT SWA. Dari kejadian itu, lima orang dari pihak karyawan PT SWA yang diduga pelaku pembunuhan tersebut telah menjadi tersangka dan berkas perkaranya telah dilimpahkan ke pengadilan. Bahkan, seorang pelaku lainnya telah divonis bersalah oleh pengadilan.
Dan saat ini, Polda Sumsel masih melakukan pengejaran terhadap sejumlah orang yang diduga ikut dalam pembunuhan tersebut.

Sabaruddin menegaskan kasus yang ditangani Polda Sumsel ini bukan kasus yang diadukan warga Lampung ke Komisi III DPR RI pada Rabu (14/12/2011). Menurut Sabaruddin, kasus yang terjadi di Sumsel memang serupa dengan yang terjadi di Mesuji, Provinsi Lampung, di mana terjadi bentrok antara warga dan pihak perusahaan kebun sawit. Namun, tempat dan tempat kejadian kedua kasus itu berbeda, kendati nama tempat kejadian sama, yakni Mesuji.

Sebagaimana diberitakan, Rabu (14/12/2011) kemarin, warga Lampung yang mengaku keluarga korban petani yang diduga dibantai pihak pengamanan perusahaan sawit PT Silva Inhutani, mengadu ke Komisi III DPR.

Menurut mereka, sejak 2009 hingga 2011, ada 30 petani yang dibunuh oleh pihak pengamanan Pam Swakarsa PT Silva. Bahkan, mereka membawa barang bukti yang cukup mencengangkan, yakni berupa video pembantaian yang diduga dilakukan aparat Brimob kendati selanjutnya Polri meragukan kebenaran isi video tersebut.

Kabareskrim Polri Irjen Pol Sutarman plintat-plintut alias berubah-ubah saat menjelaskan soal perkara pembantaian warga di Lampung yang sempat direkam dalam video. Sebelum Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III, Rabu (14/12/2011) malam, Sutarman mengatakan tidak ada pemenggalan kepala di Lampung.

Ia pun menyatakan ragu kebenaran video tersebut. “Kalau kita bicara logika, masa iya sih orang sadis begitu,” kata Sutarman. Namun, seusai rapat, pernyataan Sutarman berubah dan mengakui adanya pemenggalan tersebut. Kali ini, Sutarman mengatakan pemenggelan kepala itu dilakukan warga sipil dan diawali bentrok warga sipil dan perusahaan di Lampung. “Pelakunya warga masyarakat. Itu kan terjadi (ketika) bentrok warga dengan warga yang di Lampung,” ucap Sutarman.

Sementara itu, di dalam rapat, Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo yang dicecar anggota Komisi III soal pembantaian petani itu menjelaskan Polda Lampung dan Sumatera Selatan pernah menangani dua kasus bentrokan di dua wilayah Mesuji.
Kasus pertama, terjadi di Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, akibat sengketa lahan pada 21 April 2011. Sengketa itu berujung bentrokan antar warga yang mengakibatkan dua warga dan lima karyawan perusahaan sawit tewas. “Kasus itu enam tersangka sudah dalam proses pengadilan,” kata Kapolri.

Dan kasus kedua, terjadi di Kabupaten Mesuji, Lampung, pada November 2010. Kasus itu lantaran sengketa lahan. “Ada masyarakat yang disandera di sana oleh sekelompok masyarakat. Polisi mendatangi tempat kejadian. Ketika dievakuasi, masyarakat mencegat,” ujarnya. Menurut Timur, saat itu polisi terpaksa mengeluarkan tembakan karena warga melakukan perlawanan. Akibat bentrok ini seorang warga meninggal dunia. “Dua anggota yang membawa senjata sudah kami periksa dan sekarang dalam proses peradilan,” jelas Kapolri.

Seusai rapat, Wakil Ketua Komisi III dari PKDn Nasir Djamil, mengaku tak puas atas penjelasan Kapolri.
Karena itu, lanjut Nasir, Komisi III akan kembali memanggil Kapolri untuk meminta penjelasan kasus ini seusai masa reses DPR atau sekitar 10 Januari 2012.

Mabes Polri telah meminta Polda Lampung dan Sumatera Selatan menginvestigasi adanya informasi pembantaian 30 petani di Lampung sebagaimana aduan warga ke DPR RI. Demikian disampaikan Kabag Penum Polri, Kombes (Pol) Boy Rafli Amar, di Jakarta, Rabu (14/12/2011). Menurut Boy, ketidakjelasan lokasi kejadian membuat kedua polda harus dilibatkan. Sebab, warga yang mengadu ke DPR tersebut menyabutkan lokasi pembantaian ada di Mesuji, Lampung, dan pembantaian yang dipicu sengketa lahan dengan perusahaan sawit itu terjadi sejak 2009. Sementara, di provinsi Lampung dan Sumsel juga ada nama daerah yang bernama Mesuji.

“Nanti akan ada. Daerah Mesuji itu ada dua, di Sumsel dan Lampung. Yang disampaikan masyarakat akan ditelusuri lebih lanjut, daerah mana, sejauh mana penanganan polisi saat itu. Jadi, akan ada langkah-langkah investigatif,” ujar Boy.
Sebagaimana diberitakan, Selasa (13/12/2011) kemarin, keluarga korban petani yang diduga dibantai pihak pengamanan perusahaan sawit milik Warga Negara Malaysia, PT Silva Inhutani, mengadu ke Komisi III DPR.

Menurut mereka, sejak 2009 ada 30 petani dibunuh dengan cara disembelih dan disayat-sayat oleh pihak Pam Swakarsa PT Silva. Konflik bermula saat PT Silva membuka lahan untuk menanam kelapa sawit dan karet pada 2003, yang selalu ditentang masyarakat setempat. Akhirnya, PT Silva membentuk PAM Swakarsa yang juga dibekingi aparat kepolisian untuk mengusir penduduk. Pascaadanya PAM Swakarsa terjadilah beberapa pembantaian sadis dari tahun 2009 hingga 2011.
Saat mengadu ke Komisi III tersebut, mereka menayangkan video pembantaian sadis para petani tersebut.

Polda Lampung membantah adanya pembantaian petani di wilayahnya kendati ada nama daerah bernama Mesuji. Polda Lampung mengakui terjadi konflik masyarakat dengan petugas keamanan perusahaan sawit pada 21 April 2011 lalu, yang mengakibatkan 2 warga dan 5 karyawan meninggal dunia. Namun, lokasi kejadian berada di Desa Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang masuk wilayah Sumsel, bukan Lampung.

Menurut Boy, penelusuran dari Mabes Polri adalah mencari tahu ada tidaknya pidana yang belum diusut kepolisian setempat. Namun, tetap menunggu kejelasan lokasi dan rangkaian kejadian tersebut. “Ini akan menjadi suatu bahan penelusuran lebih lanjut, bagaimana proses yang terjadi, antara siapa saja. Apa langkah-langkah yang sudah dilakukan, tindakan yang merugikan masyarakat. Jadi, akan ada investigasi terkait informasi dari masyarakat,” paparnya.

Polisi Sita Dokumen Daftar Target Teroris dan Telusuri Keterlibatan Oknum Mahasiswa Universitas Indonesia

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Boy Rafli Amar mengungkapkan, pihaknya menemukan dokumen perencanaan target korban aksi teror. Dokumen tersebut ditemukan dari hasil penangkapan enam tersangka teroris jaringan Abu Omar di wilayah Tangerang pada Sabtu (12/11/2011) dan Minggu (13/11/2011).

Enam orang tersangka itu berinisial DAP (34), BH alias Dodi (35), AA alias Agung (31) S, DWT (50), dan SGO alias Sugih. Kantor polisi termasuk target dari serangan kelompok teroris itu.

“Penyerangan terhadap petugas. Itu yang pertama. Sudah ada dokumen-dokumen perencanaannya di beberapa kantor polisi. Itu didapat dari dokumen yang diperoleh dari petugas,” ujar Boy di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (14/11/2011).

Selain polisi, kata Boy, dalam dokumen itu juga berisi target jaringan ini terhadap beberapa kelompok masyarakat. Namun, ia tak menyebutkan kelompok mana yang dimaksud oleh jaringan Kalimantan Timur tersebut. Hal ini karena polisi masih mendalami lebih jauh barang bukti tersebut dalam penyelidikan. Namun, ia menyatakan target kelompok ini tak ada yang berhubungan dengan perhelatan olahraga akbar SEA Games maupun kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN.

“Ada kelompok masyarakat juga yang masih kita dalami. Ini belum ada keterkaitan untuk mengganggu penyelenggaraan SEA Games dan KTT ASEAN,” jelasnya.

Seperti yang diketahui, selain dokumen berisi target penyerangan, pasukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri juga menyita dua pucuk senjata api jenis M16, satu pucuk senpi jungle, satu pucuk senpi FN. Selain itu juga, 888 butir peluru berbagai caliber dan enam buah magazin.

Dari hasil interogasi polisi terhadap tersangka BH diketahui bahwa ia pernah menerima senpi 2 pucuk dari Abu Omar yaitu satu pucuk senjata api jungle, satu pucuk F dan 20 peluru yang diakuinya disembunyikan di kawasan hutan Universitas Indonesia, Depok. Kelompok teroris ini juga tercatat pernah mendatangkan senjata dari Filipina selatan dan terkait peledakan bom di Bali.

Kepala Polisi Negara RI Jenderal Timur Pradopo menyatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah ada oknum mahasiswa dari Universitas Indonesia yang terkait dengan penemuan senjata api milik tiga terduga teroris dari kelompok Abu Omar. Hal ini disampaikan Kapolri seusai menghadiri upacara peringatan HUT Korps Brimob Polri Ke-66 di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Senin (14/11/2011).

“Masih penyelidikan kita tunggu hasil secara utuh. Saya kira tidak ada (keterkaitan dengan mahasiswa UI),” ujar Kapolri.

Dalam penyelidikan tindakan terorisme ini, kata Timur, Polri juga tetap membutuhkan informasi dari masyarakat yang mengetahui pergerakan dari jaringan teroris itu. “Segala bentuk informasi apa pun yang selama ini kita terima tidak lepas dari peran masyarakat. Semua kaitan masih penyelidikan. Informasi sekecil apa pun kita tindak lanjuti masyarakat tidak perlu khawatir,” sambungnya.

Seperti diberitakan, Sabtu lalu Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap tiga tersangka yang berinisial DAP (34), yang beralamat di Cipondoh, Kota Tangerang, serta BHD (35) dan A (32), yang beralamat di Karawaci, Kota Tangerang.

BHD mengaku pernah menerima 2 pucuk senjata api dari tersangka AO. Kedua senjata itu adalah satu pucuk senjata api jungle dan satu pucuk senjata jenis FN, beserta 20 butir peluru. Kedua senjata itu disembunyikan dengan cara ditanam di kawasan hutan Universitas Indonesia di daerah Depok.

Senjata-senjata yang ditemukan dalam penangkapan terhadap enam orang yang diduga sebagai bagian dari jaringan teroris diduga dipasok dari Filipina. Senjata-senjata itu dimasukkan ke Indonesia melalui jalur Nunukan, Balikpapan, Makasar, dan Surabaya.

Demikian disampaikan Direktur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Petrus Golose, di Jakarta, Senin (14/11/2011). “Tersangka yang ditangkap masih terkait jaringan Abu Omar yang membawa senjata dari Filipina,” kata Golose.

Senjata-senjata itu, lanjut Golose, berasal dari Filipina dan dimasukkan ke Indonesia melalui Nunukan, Balikpapan, Makasar, dan Surabaya. Ia menambahkan, polisi antiteror masih mencari senjata yang disimpan di Depok. “Belum tahu jumlahnya berapa,” katanya.

Dari penangkapan terhadap enam orang itu, Sabtu dan Minggu lalu, polisi antiteror telah menyita dua pucuk senjata jenis M16, satu pucuk senjata jenis jungle, dan satu pucuk jenis FN.

Keenam orang yang ditangkap itu berinisial DAP, BH, AA, S, D alias N, dan S. Mereka ditangkap di daerah Tangerang, Bekasi, dan Duren Sawit di Jakarta Timur.

Sebuah Bom Aktif Ditemukan Di Gereja Maranata Ambon

Kepolisian RI akan terus mendalami keterkaitan antara bom bunuh diri di GBIS, Solo, Jawa Tengah, dan penemuan satu bom aktif di Gereja Maranata, Ambon, pada Senin (26/9/2011).

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan, keterkaitan tersebut akan difokuskan oleh Polri karena ternyata dari tiga bom yang terdapat di Ambon bentuknya sama.

“Jadi, selama kejadian itu, dua yang tidak meledak coba kami urai, semua modelnya sama. Artinya ada satu kelompok lagi di ambon yang sedang bermain,” ujar Anton kepada wartawan di Hotel Arya Duta, Jakarta, Rabu.

Sebelumnya, Kamis pekan lalu, sebuah bom juga meledak di daerah Karangpanjang, Ambon. Lalu, Sabtu pekan lalu, sebuah bom juga meledak di Terminal Mardika, Ambon. Tidak ada korban tewas dalam dua peristiwa itu.

Ia meyakinkan, polisi akan terus mendalami siapa pelaku utama dari rangkaian teror bom di Ambon. Dikatakan, sejauh ini polisi belum dapat memastikan apakah masih ada bom-bom lainnya di Ambon.

Anton meminta masyarakat tetap waspada agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Kami dalami terus kelompoknya siapa dan apakah ada keterkaitannya dengan bom Solo. Dan, kami minta kepada masyarakat, kalau ada informasi sekecil apa pun, kalau ada yang dicurigai, segera lapor polisi, nanti kami akan ambil tindakan,” katanya.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, menegaskan bahwa berkembangnya terorisme bukan semata-mata karena kemudahan akses informasi lewat internet. Menurutnya, orang-orang yang memanfaatkan internet untuk menyebarkan kekerasan dan hasutan yang harus mendapat perhatian serius.

“Terorisme itu adalah kesalahan orang memahami agama, bukan internet,” kata saat menggelar jumpa pers 1st ICT USO Expo and Conference di Jogja Expo Center, Senin (26/9/2011). Menurutnya, tindakan teror juga tak sepenuhnya dampak hasutan di internet.

Ia mengatakan, internet hanya menjadi satu upaya sekelompok orang untuk menghasut pembacanya. Karena itu, pihaknya akan melacak situs-situs yang terindikasi melakukan penghasutan kepadaorang lain untuk melakukan tindak kekerasan. Situs yang terbukti melakukan kegiatan tersebut tidak segan-segan diblokir.

“Ini sudah on progress,” ujarnya. Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah memblokir 300 dari 900 situs yang terindikasi menyebarkan kekerasan.

Ia mengatakan, upaya pemblokiran ini merupakan satu cara untuk mencegah adanya penghasutan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun, ia menegaskan tidak semua situs akan diblokir, melainkan hanya situs yang dianggap berbahaya saja

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj Tantang Tifatul Sembiring Untuk Berani Blokir Situs Radikal dan Tidak Hanya Berminat Pada Pornografi

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj mendesak Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring segera bertindak tegas terhadap situs radikal yang semakin marak di internet.

Ia meminta Menteri Tifatul berlaku memberi perlakuan sama dengan perlakuan pemerintah terhadap situs porno. “Menteri Tifatul jangan hanya bisa memblokir situs porno,” ujar Said di Kantor PBNU, Selasa malam, 27 September 2011.

Menurut Said, bahaya yang disebabkan situs radikal tidak kalah dibanding efek akibat pemberitaan di situs porno. Bahkan menurut Said situs porno lebih kecil bahayanya, daripada melihat situs radikal. “Setelah melihat situs porno orang jadi malu, tapi setelah melihat situs radikal orang jadi bersemangat,” ujarnya.

Said mendesak Menteri Komunikasi dan Informasi untuk segera menutup situs yang berisi ajaran radikal. Sebab tak bisa dipungkiri keberadaan jejaring sosial dan website kerap dijadikan sekelompok orang untuk menyebarkan ajaran radikal.

Tindakan radikal yang disyiarkan di melalui situs internet justru akan merusak keamanan dan membahayakan banyak orang. “Situs porno hanya merusak akhlak, sedang situs jihad merusak iman.”

Tingginya penyebaran ajaran radikal di Indonesia menurut Said tidak terlepas dari ajaran jihad yang salah yang ditulis di website. Padahal menurut dia, ajaran agama seharusnya bisa memecahkan konflik di tengah masyarakat. “Bukan malah dijadikan alat permusuhan, itu sangat tidak benar.” Bagaimanapun kata dia, ajaran Islam sangat tidak mentolerir aksi kekerasan.

Untuk menyampaikan rekomendasi ini, Said menyebutkan akan menemui Tifatul dalam waktu dekat. “Akan kami temui dan sampaikan.”

Kronologis Bom Bunuh Diri Yang Meledak Di Gereja Bethel Injil Kepunton Solo dan Menewaskan 1 Orang

Sebuah bom bunuh diri meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh yang berada di kawasan Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Satu orang tewas seketika, diduga pelaku bom bunuh diri. Petugas keamanan gereja, Suharto, menuturkan kejadian tersebut terjadi pada saat kebaktian selesai, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu para jemaat gereja sedang keluar dari gedung dan berada di halaman gereja.

“Pelaku membaur dengan jemaat gereja yang akan keluar,” katanya kepada Tempo saat dihubungi melalui telepon, Ahad 25 September 2011. Dia mengaku tidak sempat memperhatikan pelaku sebelumnya. Namun dia menduga bom tersebut disimpan di tubuh bagian depan. “Perutnya terurai,” kata Suharto. Akibat kejadian itu delapan jemaat dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Oen Kandangsapi, Solo. Sedangkan bangunan gereja tidak mengalami kerusakan berarti.

Pendeta di Gereja Nusukan Solo, Bambang Sriwijadi, yang sempat datang sebelum polisi memberi police line membenarkan ada ledakan bom di pintu masuk gereja Kepunton Solo, Ahad, 25 September 2011, sekitar pukul 11 siang tadi. Bom bunuh diri itu menewaskan satu orang yang diduga pelaku,”Wajah pelaku yang diduga pelaku bom bunuh diri masih utuh dan bisa dikenali,” kata Bambang. “Tapi dada ke bawah hancur.”

Menurut Bambang, karena wajahnya masih utuh, warga jemaat gereja langsung mengenali (korban tewas). “Dia bukan warga Kepunton,” ujarnya. Saat ini polisi sedang mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi. Korban tewas yang diduga pelaku masih tergeletak telentang memakai celana dan kemeja putih keabuan.

Tiga ambulans dari Palang Merah Indonesia (PMI) Solo, RS Dr. Oen Kandang Sapi, dan RS Panti Waluyo dikirim ke lokasi kejadian. Pantauan Tempo, evakuasi sedang berlangsung. Sebanyak 15 korban luka berat sebelumnya dibawa ke Rumah Sakit Panti Waluyo. Karena keterbatasan peralatan, para korban dipindahkan ke RS Dr Oen Solo.

Suharto, petugas keamanan Gereja, menuturkan kejadian tersebut terjadi pada saat kebaktian selesai, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu para jemaat gereja sedang keluar dari gedung dan berada di halaman gereja. “Pelaku membaur dengan jemaat gereja yang akan keluar,” katanya kepada Tempo, Ahad 25 September 2011. Dia mengaku tidak sempat memperhatikan pelaku sebelumnya. Namun dia menduga bom tersebut disimpan di tubuh bagian depan. “Perutnya terurai,” kata Suharto.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengungkapkan korban tewas dalam aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Inil Sepenuh Kepunton Solo sejauh ini ada dua orang. Satu di antaranya diduga pelaku bom dan tewas di lokasi kejadian. Satu lagi adalah jemaat dan meninggal dunia di rumah sakit.

“Seorang jemaat meninggal dunia di rumah sakit,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Minggu 25 September 2011. Djoko Suyanto mengaku langsung berkomunikasi dengan Presiden Susilo Yudhoyono sepengetahuannya soal teror bom bunuh diri di gereja itu. Presiden pun langsung mengeluarkan perintah kepada polisi.

Berdasarkan penelusuran pihaknya, Djoko Suyanto menyatakan titik persis ledakan bom bunuh diri itu adalah di pintu masuk gedung gereja. “Aksi teror seperti ini inisiatifnya selalu ada di pelaku. Mereka selalu tahu peta di lapangan,” katanya.

Metode teror serupa juga terjadi di masjid Kepolisian Resort Cirebon, Jawa Barat. Upaya memutus jaringan dan pergerakan teroris semacam mereka itu tidak mudah dilakukan.

Dia menegaskan, “Masih ada orang-orang yang bertekad mengorbankan diri untuk kepentingan seperti ini. Dulu mereka memakai alat komunikasi yang bisa kita jejaki, tapi perkembangannya kemudian, mereka tidak lagi memakai alat komunikasi seperti itu dan hal ini juga menyulitkan kami,” katanya.

Seperti diketahui, sebuah bom bunuh diri meledak di Gereja Bethel di Jalan Raya Arif Rachman Hakim, Solo, sekitar pukul 11.00. Sementara ini korban tewas diketahui hanya satu orang, yang diduga pelaku bom bunuh diri. Adapun belasan korban luka-luka parah dibawa ke Rumah Sakit Dr. Oen Solo.

Pelaku bom bunuh diri di Gereja Kepunton, Kota Solo, sebelum beraksi, Minggu 25 September 2011, sempat masuk sebuah warung Internet (Warnet) “Solonet” tak jauh dari lokasi kejadian.

Sunu, Direktur Warnet “Solonet” di Jalan Arifin yang terletak sekitar 200 meter dari lokasi ledakan, mengatakan orang yang diduga pelaku bunuh diri itu sempat masuk ke kamar mandi di warnet setempat untuk ganti baju. “Sempat masuk kamar mandi lalu keluar sudah ganti baju,” katanya tanpa menyebutkan warna baju pelaku.

Pelaku, katanya, juga membuka komputer untuk akses Internet dua kali di salah satu bilik dengan menggunakan nama “Eko” dan “Oki”. Pelaku juga menitipkan tas ransel berwarna abu-abu yang antara lain berisi kitab suci, sarung, masker, tas telepon seluler, dan kain pengelap kacamata di warnet tersebut.

Nyonya Budi, penjaga SD Kepatihan Kota Surakarta, sekitar 200 meter dari gereja tempat kejadian bom bunuh diri itu, mengatakan pelaku juga sempat masuk halaman sekolah itu tapi keluar lagi meninggalkan tempat tersebut.

Seperti diketahui, sebuah bom bunuh diri meledak di Gereja Bethel di Jalan Raya Arif Rachman Hakim, Tegalrejo, Jebres, Solo, sekitar pukul 11.00. Sementara ini korban tewas diketahui hanya satu orang, yang diduga pelaku bom bunuh diri. Adapun belasan korban luka-luka parah dibawa ke Rumah Sakit Dr. Oen Solo.

Ledakan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh di kawasan Kepunton, Solo, Jawa Tengah, tak hanya menewaskan korban yang diduga pelaku peledakan, tapi juga melukai setidaknya 15 jemaat yang berada di halaman gereja. Tiga ambulans dari Palang Merah Indonesia (PMI) Solo, RS Dr. Oen Kandang Sapi, dan RS Panti Waluyo dikirim ke lokasi kejadian. Pantauan Tempo, evakuasi sedang berlangsung.

Saat ini polisi sedang mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi. Korban tewas yang diduga pelaku masih tergeletak telentang memakai celana dan kemeja putih keabuan. Suharto, petugas keamanan Gereja, menuturkan kejadian tersebut terjadi pada saat kebaktian selesai, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu para jemaat gereja sedang keluar dari gedung dan berada di halaman gereja. “Pelaku membaur dengan jemaat gereja yang akan keluar,” katanya kepada Tempo, Ahad 25 September 2011.

Ledakan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Kepunton, Solo ternyata terdengar hingga satu kilometer. Eko, salah seorang warga Solo yang berada di Pasar Ledoksari, sekitar 1 kilometer arah timur dari lokasi kejadian, mengaku terkaget dengan bunyi ledakan itu. “Ledakannya cukup kuat, sehingga saya merapat ke lokasi,“ kata Eko yang ditemui Tempo di lokasi kejadian, Ahad 25 September 2011.

Polisi kini tengah menyisir dan mengamankan lokasi pengeboman. Pelaku bom bunuh diri yang tewas masih tergeletak di depan pintu masuk gereja itu dengan usus terburai. Dia tergeletak begitu saja di pintu utama gedung gereja dengan arah menghadap keluar.

Pelaku memakai kemeja putih keabuan dan berjaket warna krem. Tingginya sekitar 165 sentimeter.
“Warga Kepunton tak mengenali korban,” kata Bambang Sriwijadi, pendeta di Gereja Nusukan Solo, yang sempat datang sebelum polisi memberi garis polisi. Hingga saat ini belum diketahui identitas pelaku karena tanda pengenal yang berada di dompetnya masih diamankan pihak kepolisian. Para polisi sedang melakukan proses identifikasi di lokasi.

Seperti diketahui, bom bonuh diri meledak di depan pintu gerbang gereja sekitar 10.55 WIB. Saat itu gereja baru saja selesai menggelar kebaktian. Jemaat sebagian baru keluar dari gereja. “Kejadian pas bubaran gereja,” kata Erik, petugas keamanan gereja.

“Kami menduga dia bukan warga Gereja Kepunton karena kami tidak kenal,” kata Suharto, petugas keamanan gereja lainnya menambahkan. “Biasanya kalau jemaat gereja ini kami kenal semua.” Gereja itu tak jauh dari SPBU di kawasan Jebres menuju arah Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret. Di sekitar gereja itu terletak deretan rumah-toko.

Identitas pelaku bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton Solo masih misteri. Sebelum menjalankan aksinya, pelaku diduga sempat singgah di warung Internet tak jauh dari lokasi. Bahkan dia meninggalkan sebuah tas berisi ransel. Dia juga sempat membuka situs tentang MotoGP.

Menurut penjaga warnet, Rina Kristiningsih, pemuda tersebut masuk ke warnet pada pagi hari tadi. Setelah menggunakan Internet, pemuda yang diduga pelaku bom bunuh diri itu sempat pergi. “Lantas dia kembali lagi,” kata Rina, Ahad, 25 September 2011

Pada saat akan pergi untuk kedua kalinya, pemuda tersebut menitipkan sebuah tas. Rina sempat mengajaknya bercanda. “Jangan-jangan isinya bom, Mas,” kata Rina mengulangi gurauannya saat itu. Tidak disangka, raut muka pemuda itu segera berubah dan cepat-cepat pergi meninggalkan warnet tersebut.

Beberapa saat kemudian, Rina mendengar kabar bahwa gereja yang ada di dekat warnetnya dibom. “Pemuda yang titip tas itu juga tidak muncul hingga sore hari,” kata Rina. Dia menduga, pria itulah pelaku bom bunuh diri tersebut.

Dalam rekaman penggunaan Internet, pemuda tersebut sempat membuka puluhan tulisan tentang jihad. Dia membuka tulisan tersebut melalui satu mesin pencari dan dua website. Selain itu, dia juga sempat membuka situs tentang balap motor.

Tas yang dititipkan ke penjaga warnet tersebut sempat diamankan polisi. Namun polisi mengembalikan lagi tas tersebut ke tempat semula. Menurut sumber kepolisian, mereka tidak menemukan benda yang berbahaya dalam tas tersebut. Mereka juga belum yakin sepenuhnya bahwa tas tersebut milik pelaku bom bunuh diri.

Pimpinan Ponpes Umar Bin Khattab Ustaz Abrori Ditangkap Bersama 26 Bom dan Puluhan Senjata

Kepolisian berhasil menangkap Ustaz Abrori, pimpinan Pondok Pesantren Umar Bin Khattab yang berlokasi di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (15/7/2011). Abrori ditangkap di rumah orangtuanya di Desa Khananga, Kecamatan Bolo, NTB, sekitar pukul 12.30 WITA.

Demikian dikatakan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Untung Yoga Ana melalui pesan singkat kepada wartawan, Jumat.

Yoga menjelaskan, Abrori diduga terlibat kasus meledaknya bom rakitan di dalam ponpes yang menewaskan Suryanto Abdullah alias Adnan Firdaus, pengurus ponpes. “Dia juga diduga terlibat penusukan anggota Polsek Bolo,” kata Yoga.

Dikatakan Yoga, Abrori tengah diberangkatkan dari Bima menuju Polda Mataram untuk diperiksa secara intensif. Pihaknya masih memburu pihak lain yang terlibat kasus itu.

Seperti diketahui, Brigadir Rokhmat Saefudin tewas ketika piket di Polsek Bolo. Polda NTB telah menahan Sa’ban Abdurrahman (18), santri Ponpes Umar Bin Khattab. Menurut Polri, Sa’ban mengaku diperintah Tuhan karena polisi menjalankan undang-undang yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Kepolisian juga sudah menetapkan dua tersangka berinisial RH (22) dan S (38) terkait kepemilikan senjata tajam saat mengantarkan jenazah Firdaus ke pemakaman. Keduanya dijerat UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan ditahan di Polres Bima Kabupaten.

Dalam penggeledahan terakhir di dalam ponpes, polisi menemukan dokumen berisi rencana penyerangan kantor Polsek Mada Pangga di Bima, lengkap dengan denah kantor polsek berikut daftar petugas jaga. Dokumen itu ditemukan di kamar Firdaus yang tewas Senin lalu.

Selain itu, polisi juga menemukan 26 bom molotov, puluhan pedang, 150 anak panah, 1 senapan angin, golok, kapak, ponsel, satu rompi seragam laskar Jamaah Anshorud Tauhid, puluhan VCD bertema jihad, dan bahan-bahan merakit bom.

Berdasarkan bukti-bukti tersebut, kepolisian akan menjerat pimpinan ponpes dengan UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme.

200 Polisi Kepung Pondok Pesantren Umar bin Khattab Untuk Lakukan Olah TKP

Lebih dari 24 jam setelah ledakan bom pada Senin (11/7/2011) petang, polisi belum juga bisa masuk ke dalam lokasi ledakan bom di Pondok Pesantren Umar bin Khattab, Desa Sonolo, Bolo, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Hingga Selasa pukul 22.00 Wita, sekitar 200 personel kepolisian gabungan masih mengepung pesantren yang dihuni sekitar 49 santri dan pengurus pesantren itu. Kepolisian lebih memilih mengedepankan cara persuasif, yakni pembicaraan dengan pimpinan pesantren yang ada di dalam ponpes.

Langkah ini diambil untuk menghindari jatuhnya korban jika kepolisian mengambil langkah represif dengan memaksa masuk ke dalam pesantren. “Sampai sekarang di dalam masih status quo. Kami tetap mengawasi lokasi dari luar,” ujar Kabid Humas Polda NTB AKBP Sukarman Husen seperti dikutip Tribunnews.com, Selasa malam.

Alasan lain yang membuat tidak dilakukan masuk paksa ke dalam area pesantren karena ada kekhawatiran penghuni pesantren masih memiliki bom lain dan digunakan untuk menyerang petugas.

“Jelas, kami tidak underestimate (meremehkan) hal itu. Memang ada perkiraan kami ke arah situ. Makanya perlu kewaspadaan dan pengamanan tinggi. Kalau kita gempur, itu bisa saja. Namun, efek dominonya bisa banyak. Bisa jatuh korban juga,” ujarnya.

Sukarman belum bisa memastikan sampai kapan sikap “bertahan” polisi ini akan diakhiri. “Belum tahu. Pokoknya, kami tetap kedepankan cara-cara humanis dulu,” imbuhnya.

Sebuah ledakan di salah satu ruangan dalam Pondok Pesantren (Ponpes) Khilafiah Umar bin Khatab di Desa Sila, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (11/7/2011) sekitar pukul 15.30 WITA, menewaskan seorang pengurus pesantren. Kepala Urusan Penerangan Umum Bidang Humas Polda NTB AKP Sudjoko Aman, di Mataram, Selasa (12/7/2011), mengatakan, korban tewas itu teridentifikasi bernama Firdaus yang menjabat sebagai bendahara di pondok pesantren (ponpes) itu.

“Polisi mengetahui adanya korban tewas akibat ledakan itu dari sanak keluarga korban karena belum bisa olah TKP (tempat kejadian perkara),” ujar Sudjoko yang menyampaikan keterangan pers mewakili Kabid Humas Polda NTB AKBP Sukarman Husein.

Keluarga korban tewas itu menyerahkan sepenuhnya penanganan masalah tersebut kepada pihak kepolisian. Sudjoko mengatakan, polisi belum bisa melakukan olah TKP karena tidak diizinkan oleh pengelola pondok pesantren itu.

Sejak ledakan terjadi hingga kini, polisi baru sebatas menghimpun keterangan dari berbagai pihak. Proses identifikasi bahan peledak dan kerusakannya juga belum bisa dilakukan.

Sejauh ini polisi menduga kuat ledakan itu berasal dari bom rakitan yang didasarkan pada kerasnya suara ledakan dan kepulan asap di lokasi kejadian.

“Upaya penyelidikan dan pengamanan lokasi sudah kami tempatkan masing-masing satu peleton kompi Brimob, Dalmas dan satuan TNI yang sekarang masih di sekitar lokasi ledakan,” ujarnya. Polda NTB, kata Sudjoko, juga mengirim Unit Satuan Tugas Khusus Gabungan dari Satuan Reserse dan Brimob.

Sejauh ini, Polda NTB masih menerapkan pola preventif dan preemtif dalam menyikapi permasalahan tersebut. Namun, tidak tertutup kemungkinan diterapkan tindakan represif atau upaya paksa jika pihak pondok pesantren itu tetap bersikeras untuk tidak mengizinkan olah TKP.

“Jika sikap preventif dan preemtif tidak lagi dihargai maka polisi akan menempuh upaya penegakan hukum secara represif. Semuanya sedang diupayakan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Ponpes Umar bin Khatab di Bolo, Kabupaten Bima, itu merupakan tempat pendidikan salah seorang santri yakni Sa’ban Abdurrahman (18) yang sedang dalam pemeriksaan intensif di Mapolda NTB karena teridentifikasi sebagai pelaku pembunuhan terhadap anggota Polsek Bolo-Bima Brigadir Rokhmat, 30 Juni lalu.

Kepolisian mengamankan 11 orang terkait meledaknya bom di dalam pondok pesantren (Ponpes) pimpinan Umar bin Khatab di Desa Sonolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Bom rakitan itu meledak, Senin ( 12/7/2011 ) pukul 15.30 WITA. “Hari ini telah diamankan 11 orang,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Selasa (12/7/2011 ).

Anton menjelaskan, akibat ledakan itu, guru sekaligus pengajar di ponpes itu yakni Suriyanto alias Firdaus tewas. Pihaknya, kata Anton, belum dapat masuk ke lokasi lantaran dihalang-halangi oleh para santri dengan senjata tajam.

“Kami diusir. Kami tidak ingin menimbulkan kerusuhan. Kami usahakan untuk bernegosiasi dengan mereka. Kami sudah menyita beberapa panah dan parang-parang. Sudah diturunkan anggota kita satu pleton Brimob, satu peleton gabungan, dibantu TNI,” jelas Anton.

Dikatakan Anton, karena belum dapat masuk ke lokasi, pihaknya belum tahu apa saja bahan peledak yang digunakan, komponen, kekuatan, dan sebagianya. Pihaknya juga belum tahu bagaimana bom bisa meledak. “Diperiksa dulu yang 11 orang ini nanti baru kita bisa tahu,” ucap dia.

Bom rakitan yang dipersiapkan di dalam Pondok Pesantren Khilafatul bin Khatab di Desa Sonolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, akan digunakan untuk menyerang kepolisian. Bom itu meledak Senin (12/7/2011) pukul 15.30 WITA.

“Diduga bom itu adalah bom rakitan yang nantinya akan digunakan untuk menyerang polisi,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Selasa (12/7/2011).

Anton mengatakan, entah doktrin apa yang diajarkan oleh para pengajar, para santri tidak bisa menerima kehadiran polisi. Mereka tidak mengizinkan polisi masuk ke lokasi. Sejak semalam, mereka menghadang polisi dengan berbagai senjata tajam dan panah.

Meski mereka menargetkan polisi sebagai sasaran, kepolisian masih berupaya bernegosiasi agar dapat masuk ke lokasi. “Kita tidak ingin menimbulkan kerusuhan. Kita imbau dulu. Gampang saja kalau kita melakukan tindakan tegas. Tapi kita tidak ingin jatuh korban,” ucapnya.

Hingga saat ini, kata Anton, pihaknya telah mengamankan 11 orang untuk dimintai keterangan mengenai asal usul bom hingga kronologi meledaknya bom yang menewaskan Suriyanto alias Firdaus, pengajar sekaligus bendahara ponpes.

Dikatakan Anton, dua pleton polisi dibantu TNI masih berjaga-jaga di lokasi. “Kita imbau kepada warga di sana, polisi adalah saudara kita juga. Polisi ke sana dalam rangka memberi pengamanan, menegakkan hukum,” ujar Anton.

NII Sudah Bentuk Pemerintahan Bayangan Dengan Gaji Presiden Rp. 10 Juta Per Bulan

Negara Islam Indonesia (NII) bisa disebut menjadi pemerintah bayangan. Karena NII ternyata telah memiliki struktur pemerintahan lengkap, mulai presiden, menteri, bupati, hingga tingkat rukun tetangga (RT).

Bahkan para pejabat tinggi mereka telah mendapatkan gaji bulanan yang mencapai jutaan rupiah. “Untuk Presiden, gajinya Rp10 juta, menteri Rp2 juta,” kata Imam Supriyanto yang pernah menjadi Menteri Peningkatan Produksi NII.

Gaji para bawahan, lanjutnya, tidak diketahui secara detailnya, sebab dalam mengurus masalah finansial, sudah ada Menteri Keuangan NII yang mengaturnya. “Saya tidak tahu, karena yang mengurusi itu Menteri Keuangan.”
Dana untuk menggaji birokrasi mereka, lanjutnya, didapat dari sumbangan anggota yang berada di daerah-daerah. Seperti dari desa, lalu naik ke kelurahan, naik kecamatan, dan kabupaten. “Setiap anggota di daerah wajib menyetorkan apapun caranya tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya,” ungkapnya.

Tiap pribadi wajib menyetor, misal diharuskan menyetor satu juta sedangkan dia hanya memiliki 100 ribu, sisanya itu harus mencari.

BERKEDOK AGAMA

Ketua Divisi Kajian Strategis DPP Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, mengungkap data penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP). Dari data disebutkan ada kecenderungan remaja ikut dalam kekerasan berkedok agama.

“Sebanyak 48,9% pelajar tingkat SMP dan SMA di DKI Jakarta menyatakan mau ikut dalam kekerasan isu agama dan moral,” jelas Ulil dalam jumpa pers bersama sejumlah pengurus DPP Demokrat di Cikini, Minggu (1/5).

Menurutnya ini jadi ladang subur untuk menanamkan radikalisasi dan rekrutmen kader yang siap bunuh diri seperti pemboman atau yang lain.

Untuk mencegah radikalisasi itu, lanjutnya, bisa dengan pendekatan budaya oleh tokoh dan pemuka agama. “Hindari kata-kata yang menyebar kebencian dan kekerasan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Wasekjen PD Ramadhan Pohan menyesalkan pernyataan politisi FPDIP TB Hasanudin yang mengkritik kebijakan memberlakukan Siaga I.

Kapolri Jenderal Pol. Timur Pradopo mengatakan pihaknya tengah menyelidiki berbagai kasus penipuan berkedok Negara Islam Indonesia (NII). “Sekarang yang disidik Polri pelanggaran hukumnya,” kata Timur Pradopo usai menghadiri apel persiapan Satgas PAM KTT ASEAN ke 18 di Lapangan Monas, Minggu (1/5). Dalam penanganan NII, kata Timur, polisi bersinergi dengan berbagi instansi terkait.