Kasat Reskrim Polres Sumedang Ajun Komisaris Tri Suhartanto mengatakan bahwa Ar (Arli) memiliki beberapa nama alias serta mempunyai sedikitnya 10 KTP. “Terduga teroris berinisial Ar itu memiliki 10 KTP dengan nama berbeda-beda,” kata Tri, Kamis (22/3/2012). Pengelola kontrakan, Irwan Mulyawan (40), mengatakan, harga sewa untuk gerai itu besarnya Rp 8 juta.
“Uangnya dibayar lunas untuk satu tahun. Mereka mengatakan tadinya akan buka gerai di Jatinangor, tapi harganya mahal sehingga memilih mencari di Sumedang,” katanya. Dalam menjalankan usahanya, gerai itu dijaga oleh Catur. “Yang ditangkap tadi itu Catur, pegawainya. Ia juga berasal dari Subang. Saat kontrak pertama, Catur datang bersama istrinya dan tiga anaknya. Dia juga jarang bicara dan sikapnya biasa saja,” timpal Ilah, istri Irwan.
Selama tiga bulan itu, Arli sering pergi dari kontrakan. “Bilangnya sih ke Bandung dan Jakarta untuk membeli peralatan perbaikan ponsel,” kata Ilah. Setiap hari, Catur lebih banyak berada di belakang komputer dan melayani konsumennya. “Sehari-harinya ya dia jaga toko dan berada di belakang komputer sampai melayani pembeli. Saya sempat ngobrol kalau sekitar tiga minggu sudah tak bisa menghubungi Arli,” beber Ilah lagi.
Catur, seperti dituturkan Ilah, menyebutkan, saat dihubungi ponsel Arli tidak aktif. “Selama pergi sekitar tiga minggu lalu itu, Arli tak bisa dihubungi,” katanya. Menurut Ilah, setelah tak ada kabar selama tiga pekan itu, ternyata pada Kamis (22/3/2012) kontrakan Arli digeledah karena dituduh terlibat jaringan terorisme. “Sejak sebulan lalu anggota Densus 88 sudah ada di kawasan Angkrek dan mengontrak rumah persis di depan kontrakan yang digeladah Densus,” kata sumber Tribun di Mapolres Sumedang. Penyewa rumah kontrakan yang digerebek tim Densus 88 Antiteror Polri di Jalan Angkrek Nomor 71 RT 1/14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Sumedang, Jawa Barat, selalu menghindar ketika dimintai indentitasnya.
Pemilik rumah kontrak, Ilah Sarmila (40) dan suaminya Irwan Mulyawan (40), mengatakan bahwa kontrakan itu disewakan selama satu tahun kepada Arli (42) pada 25 Desember 2011. Saat mengontrak gerai ukuran 2,5 x 2,5 meter itu, Arli tak memperlihatkan kartu tanda penduduk (KTP) kepada Ilah maupun Irwan. “Kami sudah sering meminta fotokopi KTP, tapi pengontrak gerai itu tak memberikan. Orang tak banyak bicara kalau bertemu dan ditanyakan KTP selalu menghindar,” kata Irwan kepada Tribun Jabar, Kamis (22/3/2012). Irwan hanya tahu bahwa Arli mengaku dari Subang dan mempunyai usaha jual beli dan perbaikan ponsel.
Ketua RT setempat, Dadang Suhendar, mengatakan bahwa di kawasan Jalan Angkrek terdapat banyak rumah sewa. Sebagian penyewa tidak melaporkan keberadaannya kepada Dadang. “Untuk yang menyewa di pinggir jalan untuk kios atau toko itu jarang ada yang lapor, kecuali bagi yang mengontrak di dalam dan sudah berumah tangga selalu lapor ke RT,” katanya.
Pada Kamis sekitar pukul 13.30 siang tadi, tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pria berinisial CP di gerai ponsel yang disewa oleh Arli di Jalan Angkrek. Penangkapan terhadap CP berlangsung cepat. Pria itu tak dapat melawan dan kaget begitu tim Densus 88 menodongkan senapan ketika ia asyik duduk di depan rumah. Tanpa banyak bicara, Densus 88 langsung mengamankan penjaga gerai Plus Celullar itu.
Penggeledahan di gerai ponsel CP itu dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Arli sebelumnya tinggal di rumah kontrakan tersebut. Dalam penggerebekan siang tadi, tim Densus 88 membawa Arli dan menempatkannya di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil tertutup dan berkaca film hitam tidak tembus pandang. Arli merupakan anggota kelompok jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Barat awal Maret ini.
Kepala Polres Sumedang Ajun Komisaris Besar Eka Satria Bhakti mengatakan, penggerebekan terhadap CP, tersangka terduga teroris di Sumedang, dilakukan setelah tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggeledah tempat kontrakan tersangka lain. Penggerebekan oleh tim Densus 88 Polri itu berlangsung di Jalan Angkrek Nomor 71 RT 1/14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Kamis (22/32012) siang. Tim Densus 88 menangkap CP, yang tengah menjaga gerai ponsel di tempat tersebut. “Itu kegiatan Densus 88 dan mereka menggeledah tempat kontrakan terduga teroris yang sudah ditangkap duluan. Penjaga gerai ponsel itu dibawa untuk dimintai keterangan,” kata Eka saat dihubungi melalui ponselnya.
Penggeledahan dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Dalam penggerebekan itu, tim Densus 88 juga membawa Arli dan terus berada di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil tertutup plus kaca film hitam tidak tembus pandang. Tribun sempat mencoba mengintip dari balik kaca mobil tapi langsung dihardik petugas Densus 88. Arli merupakan jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di PN Jakarta Barat awal Maret ini.
Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pria yang diduga terlihat terorisme di sebuah gerai telepon seluler di Sumedang, Jawa Barat, Kamis (22/32012) siang. Tersangka berinisial CP (40) tak dapat berontak dan langsung menyerah di tangan petugas.
Penangkapan CP di Jalan Angkrek, RT 1 / RW 14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, itu berlangsung sekitar pukul 13.30. Hj Omoh (72), pemilik rumah dan kontrakan di Jalan Angkrek Nomor 71, kaget dan langsung beranjak dari depan televisi begitu mendengar ada mobil mikrobus berhenti di depan rumah.
“Dari dalam mobil itu berhamburan orang berpakaian hitam dengan senjata laras panjang memakai helm dan muka tertutup,” kata Omoh yang menyaksikan kejadian itu dari pintu depan rumahnya. Omoh menuturkan, di depan rumah itu sedang duduk CP (40), penjaga gerai Plus Celullar. CP yang mengenakan kaus hitam dan celana jins langsung angkat tangan ketika moncong senapan aparat Densus 88 diarahkan kepadanya. “Tak ada pembicaraan sedikit pun. CP angkat tangan dengan mulut terbuka kaget. Petugas berpakai hitam-hitam itu menutup mata CP dengan lakban,” kata Omoh yang mengaku masih shock.
Dengan mata tertutup dan tangan diikat ke belakang, CP yang masih memakai sandal jepit biru itu digelandang naik ke dalam mobil dan pintunya langsung ditutup. Penggeledahan dilakukan cepat dan akses Jalan Angkrek langsung ditutup meski jalur tersebut sangat padat lalu lintas karena berada di kawasan perguruan tinggi dan sekolah.
Anggota Polres Sumedang langsung memasang garis polisi di tempat kejadian. Empat anggota Densus 88 dengan senapan serbu di tangan berdiri di depan gerai ponsel. Anggota lain melakukan penggeledahan di dalam gerai yang berukuran 2,5 x 2,5 meter itu. Warga Angkrek tumplek dan melihat aksi penggeledahan yang disebutkan warga sebagai penangkapan teroris. “Saya nonton saja karena tadi mendengar ada penangkapan teroris di Angkrek,” kata Hendrawan, warga Situ.
Selain membawa CP, anggota Densus 88 juga menggeledah gerai ponsel dan mengangkut satu buah central processing unit (CPU), buku tabungan sampai slip penarikan dan penyetoran uang. “Dari buku tabungan itu nilai uangnya di atas Rp 1 miliar lebih. Transaksi pemasukan dan pengeluaran uang juga banyak,” kata seorang anggota polisi yang ikut penggeledahan. Tim Densus 88 Antiteror menggeledah gerai ponsel di Jalan Angkrek, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (22/3/2012) siang. Polisi mengangkut satu buah central processing unit (CPU), buku tabungan, serta slip penarikan dan penyetoran uang.
“Dari buku tabungan itu nilai uangnya di atas Rp 1 miliar. Transaksi pemasukan dan pengeluaran uang juga banyak,” kata seorang anggota polisi yang ikut dalam penggeledahan, Kamis. Penggeledahan dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Densus membawa Arli dan terus berada di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil yang tertutup kaca film hitam tidak tembus pandang.
Arli merupakan jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin, yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di PN Jakarta Barat awal Maret ini. Kapolres Sumedang Ajun Komisaris Besar Eka Satria Bhakti mengatakan, operasi itu dilakukan Densus 88 Antiteror. “Itu kegiatan Densus 88 dan mereka menggeledah tempat kontrakan terduga teroris yang sudah ditangkap duluan. Penjaga gerai ponsel itu dibawa untuk dimintai keterangan,” kata Kapolres saat dihubungi melalui ponselnya.
Fadliansyah, anggota gerakan teroris Poso yang telah ditangkap polisi 17 Maret lalu diduga kuat merupakan kelompok jaringan Umar Patek, “Diduga juga turut membantu aktivitas teror Umar Patek dan Dulmatin,” kata juru bicara Mabes Polri, Inspektur Jendral Saud Usman Nasution, Sabtu, 24 Maret 2012. Tentang peran Fadliansyah dalam jaringan Umar Patek dan aktivitas terorisme di Poso, Saud enggan menyebutkan. “Ini masih dalam penyelidikan.” Fadliyansah ditangkap 17 Maret lalu di sebuah hotel di Jalan Dewi Sartika Bandung bersama istrinya berinisial NAT.
Ia ditangkap terkait kasus pelatihan militer di Poso. Ia membeli amunisi atau peluru M16 pada saat pelatihan dan latihan pembuatan detonator. Selain itu Fadliansyah bersama Heri Kuncoro pernah mengikuti pelatihan bongkar pasang senjata api di Pare, Kediri Jawa Timur, dan membuat KTP palsu dengan nama Arif Arhan.
Dalam penangkapannya Polri menyita barang bukti yakni 10 lembar KTP, 10 kartu ATM, aplikasi formulir paspor. Fadliyansah disangkakan dengan Pasal 15 jo Pasal 7, jo Pasal 9, jo. Pasal 11 Perpu Nomor 1 th 2002 / UU Nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Melalui Fadliansyah polisi berusaha mengembangkan penyelidikan dengan menggeledah rumah dia di kawasan Sumedang yang juga dijadikan tempat usaha gerai telepon seluler. Dalam penggeledahan polisi menyita 1 buah komputer, dua perangkat ponsel, dan enam sim card. Dari penggeledahan tersebut polisi juga mengamankan 1 orang yang bernama Catur atau CHW. Catur asal Purwakarta diamankan karena kebetulan tinggal bersama Fadliansyah.