Category Archives: Wisata Kuliner

3 Jenis Makanan Yang Wajib Di Nikmati Di Pecatu Bali


Pengelola Restoran Klapa, Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali menyadari benar keberagaman tamu yang datang. Karena itu, restoran kemudian dibagi tiga. Ada yang bergaya western bagi pengunjung asal Eropa dan Amerika, serta menu bergaya menu bergaya Balinese bagi yang suka menu dengan cita rasa lokal. Terakhir ada menu Chinese food untuk wisatawan Asia.

Masing–masing resto memiliki dapur, sehingga pengunjung tidak harus menunggu lama jika memesan menu kesukaan. Salah satu menu andalan di sini adalah bamboo lobster.

Berbahan dasar lobster segar dengan berat 300 gram. Diolah ala Chinese. Untuk menu satu ini, isi lobster dikeluarkan terlebih dahulu kemudian diolah dengan menggunakan vegetable oil dan beberapa bumbu rahasia.

Tampilannya sangat menarik. Kulit atau bagian terluar lobster dijadikan hiasan. Disajikan bersama potongan brokoli dan saus spesial. Sementara daging lobster sendiri disajikan di atas fresh mi. Yaitu mi garing berbetuk piring.

Di dalamnya terdapat potongan daging lobster dan sayuran. Saat dicicipi terasa nikmat di lidah. Empuknya lobster dipadukan dengan segranya sayuran hijau. Apalagi makannya sambil menyaksikan sunset.

Bagi yang suka cita rasa lokal, Restoran Klapa menyajikan sate lilit ayam. Sate lilit satu ini terbilang spesial. Jika kebanyakan tempat sate lilit memasukan kelapa sebagai salah satu bahan campuran, tapi tidak demikian di Restoran Klapa.

Tidak menggunakan kelapa tapi cita rasa bumbu khas Bali terasa di lidah. Terasa pedas rempah dan segarnya daging ayam

Tempe Goreng Di Bengkulu Dapat Menyala Seperti Obor Bila Di Bakar


Betapa terkejutnya H Christoper, salah seorang jurnalis media di Bengkulu, saat membeli tempe goreng untuk berbuka puasa sebab tempe yang dibelinya itu bisa terbakar seperti obor.

“Saya membeli sepiring gorengan termasuk tempe, namun aneh tempe tersebut keras dan kaku padahal sudah dingin, lalu ketika saya bakar, tempe itu langsung menyala layaknya obor,” kata Christoper.

Ia mengaku membeli gorengan tersebut di Jalan Danau, Kota Bengkulu. Ia menduga beberapa pedagang gorengan di kawasan tersebut mencapurkan plastik untuk gorengan mereka agar tetap keras.

Dia juga berencana akan melaporkan kejadian itu ke pihak berwenang. “Kejadian ini akan saya laporkan ke BPOM, kasihan masyarakat mengonsumsi makanan yang berbahaya seperti ini,” lanjut dia.

Sebelumnya Plt Sekda Bengkulu Sumardi telah mengingatkan warga Bengkulu akan beredarnya gorengan yang bercampur plastik dan membahayakan kesehatan.

Sajian Buka Puasa Paling Diburu Warga Polewali


Wangi pandan tercium dari Pasar Pekkabata, Polewali Mandar, Sulawesi Selatan setiap menjelang buka puasa. Bila harum itu ditelusuri, sampailah kita pada kios-kios penjual kue berwarna putih, berbungkus daun yang banyak dijajakan. Itulah kue tetu.

Penganan tradisional yang menggunakan santan, gula aren dan telur ayam ini menjadi kue yang identik dengan ramadhan di Polewali. Selain rasa gurih dan manis yang berpadu di lidah, kue tetu bahkan dipercaya bisa membuat badan kembali bugar setelah seharian berpuasa.

Setiap hari, sejak sekitar pukul 14.30 wita warga biasanya sudah mencari sajian untuk berbuka puasa. Dan tetu sepertinya menjadi menu yang tidak pernah dilewatkan untuk menemani berbuka. Tak heran jika para pedagang tetu di Pasar Pekkabata membuat tetu lebih banyak dari hari-hari lain. Beberapa pedagang mengaku membuat tetu tiga kali lebih banyak dibanding hari biasa.

Harga tetu pun relatif murah yakni Rp 1.000 per buah. Basira, salah satu pedagang tetu di Pasar Pekkabata, mengaku mulai melayani pembeli sejak pukul 13.00 wita. Jika pembeli terlalu banyak, Basira kana mendahulukan mereka yang sudah memesan terlebih dahulu.

“Untungnya lumayan. Dengan berjualan mulai sore hingga menjelang petang, bisa meraup pendapatan sampai 350 ribu sehari. Kalau hari biasa paling banyak Rp 100 ribu,” ujar Basira, Jumat siang (11/7/2014) kemarin.

Meski tetu menjadi favorit, di pasar kue tradisonal Polewali Mandar, pembeli juga bisa mendapati kue tradisional lain seperti surabeng dan jepa yang tak kalah lezat.

Nikmatnya Rujak Kuah Pindang Kuliner Khas Bali


Cabai rawit diulek bersama terasi bakar. Kemudian aneka buah yang diiris-iris dengan pisau gerigi dicampur ke ulekan cabai dan terasi. Belum selesai, karena terakhir buah-buahan ini disiram dengan kaldu pindang. Hasilnya adalah Rujak Kuah Pindang. Dari namanya saja, sering kali mengundang rasa penasaran penggemar kuliner. Jika lazimnya rujak menggunakan bumbu kacang, kuliner khas Bali ini malah menggunakan kuah dari kaldu ikan. Orang yang pertama kali mencicipi rujak ini memang akan mengernyitkan dahi.

Bagaimana tidak? Aroma amis dari kaldu ikan berpadu pedasnya cabai rawit, lalu diadu dengan asam segarnya buah-buahan. Ya, buah yang digunakan salah satunya mangga muda yang asam. Selain mangga muda, ada juga kedondong yang cenderung asam. Rasa dan aromanya yang khas ini membuat orang yang pertama kali mencoba merasa aneh. Namun, jika sudah menghabiskan satu piring, bisa-bisa malah jadi doyan. Ada banyak warung di Bali terutama di kawasan Denpasar yang menjual Rujak Kuah Pindang.

Buah-buahan yang dipakai oleh setiap warung bisa beda-beda. Umumnya menggunakan mangga muda, pepaya, kedongdong, bengkuang, timun, dan nanas. Tetapi satu hal yang sama adalah penggunaan kaldu ikan. Salah satu warung yang menjual menu ini adalah Warung Rujak Buk Man Sanur. Warung sederhana ini berada di Sanur dan terkenal di kalangan warga setempat. Tepatnya di Jalan Melsonet, Sanur.

Bisa dibilang, warung ini bukanlah tempat yang umum bagi turis. Tetapi menjadi salah satu tempat nongkrong favorit penduduk lokal. Nah sebagai tempat makan Rujak Kuah Pindang bisa coba minuman Air Gula. Sesuai namanya, minuman ini memang hanya berupa air gula. “Gula direbus dengan air banyak. Tambahkan daun pandan supaya wangi,” tutur Buk Man.

Jangan heran saat meminumnya karena warnanya yang merah. Air Gula lazim diberikan sedikit pewarna makanan untuk mendapatkan warna merah tersebut. Setelah jadi, air gula diberi es batu dan irisan jeruk limau. Minuman ini sangat menyegarkan dan tidak terlalu manis. Efeknya yang menyegarkan mampu meredam rasa pedas dari Rujak Kuah Pindang. Apalagi diminum di siang hari bolong, di tengah teriknya matahari Sanur.

Indonesia Harus Contek Thailand Promosikan Kuliner


Penulis dan pelopor pembentukan komunitas wisata boga Jalan Sutra, Bondan Winarno, mengatakan Indonesia bisa meniru cara Thailand mempromosikan kuliner untuk memperkenalkan khazanah makanan tradisional Tanah Air ke mancanegara. Kepada Antara di Beijing, Rabu (21/5/2014) malam, Bondan menuturkan Thailand terbukti berhasil menduniakan makanan tradisionalnya dengan “Thai Kitchen to The World”, program promosi pariwisata lewat kuliner.

Langkah pemerintah dan pemangku kepentingan Thailand menggunakan kuliner sebagai media promosi sudah membuahkan hasil. Restoran-restoran Thailand kini bermunculan di berbagai belahan dunia. “Dari target sekitar 10.000 restoran di seluruh dunia, kini hanya kurang dari lima tahun sejak program itu diluncurkan, telah ada 20 ribu restoran Thailand di selruh dunia,” kata Bondan, yang berada di Beijing untuk menghadiri penyerahan penghargaan Gourmand World Cookbook Awards.

“Sehingga, walau tak ke Thailand, orang-orang seluruh dunia dapat merasakan masakan Thailand. Orang London misalnya, jadi suka makan makanan Thailand. Lalu berpikir musim panas nanti mau liburan ke Thailand, sebab makan di tempat aslinya tentu lebih enak. Akhirnya jadi berdampak ke pariwisata,” katanya.

Indonesia, lanjut Bondan, punya lebih banyak ragam makanan dibandingkan negara Gajah Putih itu dan bisa menggunakan cara serupa untuk menduniakan kekayaan makanan tradisional Tanah Air. “Di Sumatera ada masakan Padang, ada Minangkabau, yang ada pula masakan Kapau dan lainnya. Tiap daerah memiliki ragam kuliner yang berbeda,” katanya.

Menurut dia, pemerintah, swasta dan pengiat kuliner mesti segera menyatukan visi untuk membawa kuliner tradisional nusantara ke masyarakat internasional. Pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait seharusnya sudah menajamkan visi dan menentukan arah promosi kuliner Indonesia. “Ini memang perlu komitmen kuat dari semua pihak, tidak saja pemerintah, tetapi semua pemangku kepentingan terkait,” katanya.

“Indonesia telah menetapkan 30 ikon kuliner nusantara untuk dipromosikan ke mancanegara dan itu sangat baik. Namun kesatuan visi itu penting supaya promosi 30 ikon kuliner nusantara itu semakin maksimal hasil dan dampaknya bagi Indonesia,” katanya.

Penghargaan buku masakan
Bondan berada di Beijing untuk menerima Gourmand World Cookbook Awards untuk buku resepnya yang berjudul “100 Makanan Tradisional Indonesia, Mak Nyus”. Dalam ajang penghargaan bagi buku kuliner terbaik ke-19 di Beijing, Tiongkok, yang berlangsung selama 20-21 Mei 2014 penulis buku memasak Indonesia Reno Andam Suri juga mendapat penghargaan khusus untuk buku “Rendang, Minang Legacy to The World”.

Sementara Dr Samuel Oetoro serta Erwin dan Jana Parengkuan mendapat penghargaan untuk buku “Smart Eating.” Ajang penghargaan bagi para penerbit, penulis buku, jurnalis dan penggiat kuliner itu kali ini diikuti oleh sekitar 187 negara.

Eksplorasi Tak Bertepi Masakan Indonesia


TAK perlu segan mengutak-atik khazanah kuliner Indonesia demi menciptakan ragam masakan yang tak hanya nikmat tapi juga berdaya kejut. Dalam jamuan yang digelar ”Life is Sweet” berbagai kejutan manis itu menyapa kesadaran cita rasa kita. Red Pyramid, nama gedung mungil di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, petang itu tengah ditata cantik untuk persiapan jamuan di malam harinya. Di dapur terbuka, para anggota tim masak yang dikelola William Wongso, pegiat kuliner Indonesia, juga tengah sibuk mempersiapkan sajian.

Herman, salah seorang juru masak, tengah membakar irisan-irisan tebal daging wagyu berbentuk bundar satu per satu. Sesekali irisan daging yang montok segar itu dibolak-balik. Permukaan daging yang semula merah beralih rupa menjadi kecoklatan berkilat-kilat oleh olesan minyak zaitun. Asap tipis pun membubung disertai bunyi khas ”nyess”, suara daging terkena panas landasan pembakaran. Ruangan jamuan pun lantas diharumi oleh aroma yang memancing kelenjar saliva bertingkah.

”Ini nanti jadi steak rendang,” kata Herman.

Keterangan singkat Herman itu membuat hasrat bersantap mulai memanas. Sementara, di sudut dapur lainnya, anggota tim pemasak lainnya, Astrid, asyik membentuk serutan buah-buahan seperti nanas, mangga, lobak merah, zukini, dan pir dengan garpu dalam bentuk gulungan mungil yang cantik. Samar-samar tercium aroma asam-asam segar dari wadah besar berisi serutan buah-buahan. Asinan yang diadaptasi dari asinan Jakarta itu akan disajikan sebagai hidangan pembuka.

Setelah petang berganti malam, ruangan jamuan penuh oleh tamu. Para pendiri ”Life is Sweet” yakni Lita Hamzah, Rubiana Fajar, dan Michael Soetantyo, menyambut tamu-tamu mereka satu per satu. William Wongso pun sibuk meladeni sapaan para tamu di sela-sela keasyikannya memotret. Jamuan pun akhirnya dimulai.

Hidangan pembuka disebut sebagai ”Deconstructed Asinan Jakarta” tampil berupa gulungan serutan buah dan sayur, kepiting goreng mungil dalam balutan serutan wortel, udang goreng, irisan timun yang digulung, irisan scallop Hokkaido, dan kuah asam segar berwarna tangerine. Menu yang berakar pada asinan Jakarta ini didekonstruksi unsur-unsurnya dan dipadupadankan dengan bahan lain yang bisa selaras cita rasanya. Sebagai pembuka, selera kita segera terbangkitkan oleh sapaan asam segar dan gurih dari sajian ini.

Tak berapa lama, hadir menu sup berwarna hijau lembut dalam cangkir espresso yang mungil. Dari namanya, yakni Cream of Kenikir Espresso with Pohpohan and Sambal Tempe Tempura, kita bisa segera mendeteksi bahan dasar yang digunakan. Rasanya tak terbayangkan daun kenikir dan pohpohan bisa selezat ini ketika dijadikan sup.

Kenikir biasanya dijadikan urap-urapan, sementara pohpohan biasanya sekadar dilalap. Kedua sayuran ini direbus dahulu kemudian diblender dan dimasak menjadi sup. Penambahan krim pada sup membuat konsistensi sup lebih lembut dan creamy. Ada kenang rasa khas daun kenikir dan pohpohan yang masih terdeteksi di akhir seruputan. Sup kenikir-pohpohan ini sungguh sukses meninggalkan kesan yang positif.

Steak rendang
Pada menu ketiga, intensitas cita rasa rempah menjadi lebih tinggi dengan kehadiran ”Gulai Kepala Ikan Ravioli”. Pasta ravioli khas Italia dikawinkan dengan kuah gulai adalah imajinasi cukup liar. Ravioli berisi ikan kakap merah yang berserat daging lembut. Hidangan ketiga ini seperti menyiapkan indera pengecapan kita untuk menikmati menu steak rendang sebagai sajian utamanya.

Steak rendang kemudian hadir dengan nasi tumpeng mungil beserta ubo rampe seperti sambal kering kentang. Daging wagyu yang telah direndam dalam bumbu rendang semalaman itu terasa gurih dibandingkan steak ala Barat. Tingkat kematangan medium membuat kita bisa menikmati serat-serat dagingnya yang lembut.

Tanpa nasi tumpeng pun, sebenarnya steak ini sudah memuaskan untuk dinikmati secara mandiri. Beberapa tamu terlihat mulai tampak kekenyangan, tetapi tampak masih penasaran melumat sajian ini hingga tandas. Anggur merah Perancis dari Beaujolais Villages menjadi pendamping steak rendang yang disarankan malam itu.

Di segmen penutup, pencuci mulut garapan Michael Soetantyo mengundang antusiasme tersendiri di antara tamu. Sarikayo crème brulee yang lembut dan harum pandan memang layak digandrungi. Begitu pula dengan ”kolak panna” dengan saus kopi. Puding dengan rasa kolak yang manis ini ditingkahi sentilan pahit dari saus kopi. Menikmatinya berselang-seling dengan sarikayo crème brelee terasa amat menyenangkan. ”Saya mau tambah srikayanya ah,” cetus seorang tamu.

Jamuan Pop Up Dining tersebut menjadi salah satu segmen dari rangkaian kegiatan ”Life is Sweet”, lembaga pembelajaran ilmu memasak yang berkonsentrasi pada eksplorasi masakan Indonesia. Jamuan itu dalam rangka memperlihatkan betapa masakan Indonesia membuka ruang pada eksplorasi dan layak diperlakukan serius. ”Ragam kuliner Indonesia sangat kaya, tetapi sayangnya lama-kelamaan bisa kehilangan otentisitasnya kalau kualitasnya tidak terjaga,” kata Lita Hamzah.

Menurut Lita, masyarakat urban kelas menengah-atas saat ini cenderung meninggalkan aktivitas memasak dan menyerahkannya kepada pembantu rumah tangga. Makan di luar pun menjadi gaya hidup yang amat meluas. Padahal dengan kebiasaan memasak sendiri, kualitas masakan Indonesia bisa lebih terjaga dan terwarisi ke generasi berikutnya.

”Indonesia seharusnya bisa menjadi food destination, setidaknya di Asia. Di Thailand misalnya, bidang kuliner digarap sangat serius dan terjaga kualitasnya sehingga mendapat kepopuleran yang luas secara global. Kita harusnya juga bisa,” kata Lita. Makanan memang bagian dari identitas budaya masyarakat. Ketika kita masih bingung memasak masakan lokal yang paling sederhana saja, boleh jadi pertanyaan siapa kita, perlu diajukan

Lezatnya Ikan Sembilang di Kedai Mak Munah Batam


Jika Anda berkunjung ke pulau yang berbatasan langsung dengan Singapura ini, sepertinya Anda harus mampir ke salah satu kedai makan tradisional yang terletak di wilayah Tanjung Riau, Sekupang, Batam. Di sini Anda akan menemukan 100 persen masakan Melayu.

Kedai makan yang tidak mempunyai nama ini terkenal dengan Kedai Mak Munah yang sering dipanggil Mak Sembilang. “Saya sehari-hari masak ikan sembilang. Itulah alasan orang jauh panggil saya Mak Sembilang,” kata perempuan yang memiliki nama asli Maimunah ini.

Sembilang merupakan salah satu jenis ikan laut yang berbentuk seperti lele. Hanya saja bentuknya lebih besar. Seperti lele, ikan sembilang juga memiliki patil yang menyengat dan berkulit hitam dan licin.

Mak Munah bercerita awalnya ia dan keluarga tinggal di Pulau Jeri dan hijrah ke Batam pada tahun 1996 agar anak-anaknya bisa melanjutkan sekolah karena di Pulau Jeri tidak ada SMP. “Kami kemudian tinggal di rumah papan di Tanjung Riau Sekupang dan membuka warung kopi yang juga menyediakan mi instan. Saat itu nelayan dari Malaysia dan Singapura masih biasa masuk ke sini,” kata perempuan keturunan Tionghoa tersebut.

Hingga suatu saat ia diminta memasakkan makanan melayu oleh salah satu nelayan dari Singapura dengan menu gulai ikan sembilang “Akhirnya jadi langganan. Setiap kali datang ia selalu meminta gulai sembilang bahkan sering membawa rombongan juga untuk makan disini,” jelasnya.

Sejak saat itulah kelezatan gulai sembilang Mak Munah tersebar dari mulut ke mulut dan banyak tamu yang datang untuk menikmati gulai sembilang atau yang disebut asam pedas ikan sembilang. “Sejak saat itulah saya tak lagi jual mi instan dan jual masakan melayu dan menu andalannya ya asam pedas ikan sembilang,” katanya.

Perempuan berusia 63 tahun ini menjelaskan ikan sembilang cocok untuk dimasak asam pedas karena tekstur dagingnya yang lembut dan sedikit duri membuat ikan berpatil ini nikmat untuk disantap. Ia mengaku tidak ada bumbu rahasia untuk asam pedasnya. “Yang terpenting ikannya harus segar. Kalau bumbunya sama lah dengan orang lain,” katanya sambil tersenyum.

Langganan Pejabat sampai Artis

Mak Munah bercerita tidak sulit mencari Ikan Semilang karena ia telah memiliki langganan nelayan yang angsung dari Pulau Kasu. “Tidak pernah kekurangan, hanya saja tambah hari harga ikan sembilang semakin mahal. Sehari minimal habis 5 kilo. Tapi dulu saat Kantor Provinsi Kepulauan Riau masih di Batam bisa berlipat-lipat yang datang kesini,” jelasnya.

Ia bahkan hafal menu kesukaan pejabat jika datang ke kedai makan miliknya. “Pak Sani (Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Muhammad Sani) suka dengan asam pedas ikan sembilang. Sekarang sejak pindah ke Tanjung Pinang jarang ke sini. Sedangkan kalau Pak Ahmad Dahlan (Wali Kota Batam) suka menu Sotong Masak Hitam. Saya sering dapat pesanan buat acara Pak Wali,” katanya sambil memperlihatkan foto-fotonya bersama dengan beberapa pejabat dan juga artis ibu kota.

“Kalau yang lain tak hafal saya. Terlalu banyak yang datang,” sambungnya dengan logat melayu yang kental.

Mak Munah melanjutkan, selain menu andalan asam pedas ikan sembilan dan sotong masak hitam, kedai sederhananya juga menyediakan masakan melayu lainnya seperti ikan lebam goreng, kangkung belacan dan juga sambal belacan.

“Biasanya orang-orang ke sini waktu makan siang. Dari kantor pemko, dari perusahaan, tentara, polisi, atau keluarga. Semua datang ke sini. Semua meja penuh, sampai di teras depan kita kasih kursi juga,” kata perempuan yang menjadikan kedainya sebagai tempat tinggal.

“Sore sudah habis. Tutup kedainya,” tambahnya.

Sementara itu Wenny, salah satu pengunjung warung Mak Munah mengaku sering datang ke kedai tersebut. “Kedainya memang sederhana. Suasananya juga nyaman seperti rumah sendiri. Apalagi di sini memang lingkungan pantai. Kalau ditanya rasa masakan disini? Mantap. Rasanya melayu sekali,” tuturnya.

Wenny sering mengajak keluarga dan kawannya yang datang ke Batam untuk singgah ke kedai Mak Munah. “Wajib ke sini agar bisa merasakan seafood ala orang Melayu Mak Sembilang,” katanya berseloroh.

Nah Anda tertarik menikmati kuah asam pedas ikan sembilang yang segar dengan warna merah menggoda? Atau lembutnya daging sotong dengan bumbu hitam yang nikmat? Atau sambal belacan yang pedas menyengat? Anda harus berkunjung ke Tanjung Riau, Sekupang, Batam. Tanya saja di mana kedai makan Mak Munah, maka masyarakat sekitar akan kompak menjawab, “Oh… Kedai Mak Sembilang.” Maka Anda akan mendapatkan petunjuk yang tepat menikmati asam pedas ikan sembilang.

Nikmatnya Kopi Pangku Di Pelabuhan Sunda Kelapa


Sebuah truk fuso warna putih tiba-tiba menyalakan lampu, namun hanya sebentar karena kemudian dimatikan kembali. Sesaat kemudian dari jarak 100 meter dari sisi kiri truk tersebut, seorang wanita penjaja kopi mendekat dan masuk ke kabin bagian depan.

Baru satu jam kemudian wanita penjual kopi tersebut keluar dari kabin truk. Sambil membetulkan posisi kerah baju yang belum tertata sempurna, dia melangkah menjauhi truk. Udara di Pelabuhan Sunda Kelapa pada Kamis (3/10) malam pekan lalu itu sangat dingin. Namun beberapa kali si penjual kopi tersebut mengusap keringat di kening.

Penjaja kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa tak jauh berbeda dengan pedagang sejenis di tempat lain. Menyajikan kopi kemasan layaknya dijual di warung-warung. Yang membedakan adalah soal harga. Satu gelas kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa harganya bisa mencapai Rp 10 ribu per gelas. Jika ingin sambil memangku dan meraba- raba si penjual, pembeli harus menambah uang sekitar Rp 30 ribu atau lebih, tergantung kesepakatan awal.

Bahkan, pembeli dapat melanjutkan transaksi ke hubungan seksual. Tentunya dengan tarif yang lebih mahal, yakni antara Rp 50 hingga Rp 100 ribu. Lagi – lagi tergantung kelihaian komunikasi. Penjual kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa juga gemar bersolek. Bahkan dalam waktu 10 sampai 15 menit sekali mereka membenahi make up di wajah.

Dandanan mereka juga tampak menor dengan pakain yang cenderung ketat. Obrolan-obrolan vulgar pun sering keluar dari mulut mereka. Aneka alat rias wajah tersimpan di keranjang, bercampur dengan kopi kemasan yang jumlahnya tak sampai 10 bungkus.

Yanti (31 tahun) salah satu penjual kopi mengatakan, kedipan lampu dari mobil truk fuso tadi adalah sebuah kode. Si awak truk minta kopi dan layanan seks. “Istilahnya di sini kopi pangku, minum kopi sambil bisa mangku (penjual kopi),” kata Yanti, Kamis (3/10) menjelang tengah malam.

Dia mengaku sudah 15 bulan menjadi penjual kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa. Dia mulai menjajakan kopi sejak pukul 21:00 malam hingga menjelang Subuh. “Kalau siang malam jualan ya gak kuat,” kata Yanti sambil membetulkan posisi kaus ketatnya.

Menurut dia selain menjual kopi pangku, penjaja juga memberi layanan tambahan. Dari sekadar meraba, sampai hubungan intim layaknya suami istri. “‘Mainnya’ bisa di dalam truk, di dalam atau luar kontainer. Kalau mau ‘main’ lebih nyaman ya ke hotel melati,” kata wanita yang menawarkan tarif Rp 50 ribu untuk hubungan seksual ini.

Untuk memudahkan bertemu dengan pelanggan, ia dan penjual kopi lainnya memberikan nomor telepon genggam ke pelanggan. Dengan menjual kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa, Yanti mengaku dalam satu malam dapat membawa uang Rp 200 sampai Rp 500 ribu.

Penjual kopi lainnya adalah Minah (33 tahun). Di keranjang yang dia bawa hanya ada belasan bungkus kopi dan sebuah tas gendong kecil berwarna coklat. Ibu satu anak ini mengaku hampir dua tahun menjadi pedagang kopi di Pelabuhan Sunda Kelapa. Berawal dari ajakan seorang teman, yang mengatakan bahwa berjualan kopi keliling di kawasan pantai tersebut mampu memperoleh keuntungan besar.

Namun, Minah mematok harga lebih tinggi untuk tarif berhubungan seksual di banding Yanti. Ia menawarkan harga Rp 80 ribu untuk sekali kencan. “Kalau ‘mainnya’ di hotel saya mau nurunin (tarif) dikit,” kata Minah.

Sama seperti Yanti, Minah juga mengaku bahwa nomor ponselnya sudah banyak disimpan para ‘warga’ pelabuhan untuk memudahkan mengetahui keberadaan pelanggan. “Capek kan kalau keliling doang tapi gak jelas, karena pelanggannya juga orang-orang sini (pelabuhan),” kata dia.

Yanti dan Minah hanya dua dari puluhan wanita penjual kopi di pelabuhan Sunda Kelapa.

Sate Ikan Marlin Masakan Khas Lombok Di Gili Trawangan


Pada jamuan makan malam yang digelar Gili Jazz di Gili Trawangan, Lombok, Senin (23/4/2012) lalu, hidangan sate ikan marlin khas Tanjung menjadi menu utama yang sayang untuk dilewatkan.

Sebelum dihidangkan, ketika sate buatan pasangan suami istri Artiman dan Nur Santen tersebut masih dipanggang dengan arang batok kelapa, belum apa-apa wanginya sudah menerbitkan selera makan.

Menurut Artiman, sate ikan marlin buatannya itu cukup istimewa. “Biasanya dari ikan cakalang, tapi kami memakai ikan marlin yang kira-kira berat per ekornya 40 kilogram,” ujar Artiman yang mematok harga Rp 10.000 untuk lima tusuk satenya.

Untuk menciptakan rasa gurih dan menambah selera, Artiman dan Nur Santen meracik bumbu sederhana yang dioleskan di atas satai sebelum dipanggang. “Pertama pisahkan daging dari tulangnya, terus potong kecil-kecil. Setelah itu kasih bumbu dari santan yang diayak, lengkuas, jahe, dan kemiri,” papar Artiman.

“Rahasia supaya harum, saya kasih perasan daun jeruk nipis,” lanjutnya.

Sebelum dikenal luas di Lombok, sate ikan tersebut konon berasal dari Kampung Kandang Kao tempat kelahiran Nur Santen. “Ini asli dari kampungnya Ibu (Nur Santen). Jadi orangtua dulu enggak setiap hari bikin begini, hanya hari lebaran yang dihidangkan di masjid-masjid. Lama-lama banyak yang berminat, jadi dibawalah ke luar,” kisah Artiman.

Bermacam Macam Tempat Makan Mie Aceh Yang Terkenal Enak


Saya terbahak ketika mendengar kisah seorang kawan yang tiba dari Jakarta, Senin, 19 Maret lalu. Karno, kawan itu belum pernah ke Aceh. Ia hanya mendengar tentang Aceh yang punya masakan khas: mie Aceh.

Saat senggang, Agus dan seorang rekannya berkeliling Kota Banda Aceh. Dari hotel, mereka menumpang becak ke Masjid Raya Baiturrahman, pusat kota. Dari sana mereka mencoba jalan kaki melihat-lihat suasana.

Agus teringat mie Aceh dan ingin mencobanya. Tiap warung diperhatikan, satu pun tak bertulis mie Aceh. Tak terasa dua kilometer sudah mereka berjalan, tapi mie Aceh tak ditemukan.

Saat bertemu, Karno protes kepada saya tentang susahnya mencari makanan itu. “Ada banyak tempat, tapi di Banda Aceh jarang sekali warung yang menuliskan mie Aceh di tempat berjualan. Karena ini Aceh. Kalau di luar Aceh baru ditulis besar-besar: mie Aceh,” ujarnya.

Mie Aceh mudah dijumpai di setiap warung kopi atau warung khusus yang menjual masakan itu. Hanya, namanya mengikuti nama warung, nama suatu daerah, dan nama orang. Misalnya Mie Razali, Mie Lala, Mie Midi, Mie Bireuen, dan Mie Kajhu.

Perbedaan dengan mi lainnya adalah pada bentuknya. Mi-nya terbuat dari tepung dan berwarna kuning atau kerap disebut mi kuning serta diolah tanpa bahan pengawet. Ukurannya sedikit lebih besar dari mi biasanya. Mungkin mirip mi hokkian atau spaghetti.

Meracik mie Aceh tidaklah susah. Bahan dasar yang dipergunakan hanya dua, mi kuning/basah dan bumbu. Mi kuning itu hanya bertahan satu hari karena tanpa pengawet membuatnya cepat basi. “Kalau dipakai pengawet rasanya tidak enak,” kata Insafuddin, pekerja di warung Mie Razali yang terletak di Jalan Teuku Panglima Polem, Banda Aceh.

Mengolah mie Aceh sangat tergantung pada bumbu masak. Bumbunya terdiri dari cabai (mutu tinggi), bawang putih, dan kemiri dalam jumlah dominan. Kemudian ditambahkan sedikit bawang merah dan kacang tanah. Semua bumbu itu digiling halus dan akan berwarna merah.

Memasaknya pun tergantung pada selera. Ada tiga model; kebanyakan orang menyebutnya dengan mi rebus (dengan banyak kuah), mi goreng basah (sedikit kuah), dan mi goreng (kering tanpa kuah). Ketiganya punya rasa berbeda-beda, sama nikmatnya. Bila pelanggan menginginkan pedas, maka akan diperbanyak bumbu.

Kata Insafuddin, saat memasak mi diperlukan air yang sudah dimasak dengan tulang sapi, seperti sop, dengan sedikit tambahan garam. Dimasak di dalam belanga, pertama dimasukkan air, kemudian bumbu serta sedikit rajangan kol ataupun toge dan bawang daun. Sesudahnya baru dimasukkan mi kuning. Dimasukkan sedikit air cuka dan kecap manis. Diperlukan waktu sekitar 2 menit untuk memasak satu porsi mie Aceh.

Sebagai pelengkap, juga bisa dimasak dengan mencampurkan daging atau udang atau kepiting. Dijamin rasanya makin sedap. Mie Aceh dihidangkan dengan kerupuk mulieng dan irisan bawang merah juga cabai rawit serta acar mentimun. “Rasanya sangat tergantung pada pembuatan dan bumbunya,” kata Insafuddin.

Warung Mie Razali tempat Insafuddin bekerja menawarkan mie Aceh sebagai menu utamanya. Tempat itu tak pernah sepi dan hampir menjadi rujukan setiap warga asing dan tamu luar Aceh yang berkunjung ke Aceh. Maklum, tempat itu juga mudah dijangkau karena letaknya di pusat kota.

Warung mi itu sudah lama ada, sejak 1960-an. Namanya diambil sesuai dengan nama pemiliknya, Razali, yang kini telah almarhum. Bisnis mi di warung tersebut kini ditangani keluarga. “Kami selalu menjaga cita rasa mie Aceh di sini,” ujar Insafuddin.

Banyak warung lainnya yang menjajakan mie Aceh. Kadang-kadang lain warung lain pula rasanya. Tergantung pada lidah para pelanggan. “Perbedaannya pada olahan bahan dasar mi dan bumbunya,” kata Muntasir, penjual mie Aceh di warung Mun Mie Bireuen, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Menurut dia, kadang-kadang bumbu yang diolah lebih banyak cabainya, lebih banyak bawangnya, ataupun lebih banyak kemiri dan kacangnya. Itulah yang membuat rasa berbeda. Selain itu juga pada mengolah tepung menjadi mi kuning sebagai bahan dasar. “Olahannya dengan kadar air tertentu dan pada pemilihan mutu tepung,” ujar Mun.

Tapi secara umum rasanya sama saja. “Rasanya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sedap, jauh lebih nikmat daripada mi-mi biasanya yang pernah saya cicipi,” sebut Karno, kawan saya.

Jika ke Banda Aceh, berikut ini beberapa tempat warung mie Aceh:

  1. Warung Mie Razali, Jalan Panglima Polem Banda Aceh. Warung ini hanya menjual mie Aceh dengan berbagai minuman jus dan minuman ringan lainnya. Mie Razali juga membuka cabang di Jalan Soekarno-Hatta, Lampeuneurut, Aceh Besar.
  2. Warung Mie Lala, Jalan Syiah Kuala, Kampung Kramat Banda Aceh. Warung ini hanya menjual mie Aceh dangan berbagai minuman jus dan minuman ringan lainnya.
  3. Pusat jajanan Rex Peunayong, Jalan Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Pusat jajanan yang menjual berbagai macam makanan. Selain mie Aceh juga ada nasi goreng, kerang rebus, sate matang, martabak telur, dan aneka minuman.
  4. Warung Mie Kajhu, Jalan Banda Aceh, Krueng Raya, Kajhu Aceh Besar. Selain menjual mie Aceh, warung ini juga menjual rujak Aceh.
  5. Warung Mie Lhoknga, Desa Lhok Nga, Aceh Besar. Warung ini hanya menjual mie Aceh dengan berbagai minuman lainnya.
  6. Warung Mie Bireuen, Simpang Tujuh, Ulee Kareng, Banda Aceh. Warung ini khusus menjual mie Aceh.

Untuk Menikmati Mie Aceh Seulawah Di Jakarta Silakan Klik: Wisata Kuliner Di Rumah Makan Mie Aceh Seulawah Benhil