Category Archives: Wisata Kuliner

3 Jenis Makanan Yang Wajib Di Nikmati Di Pecatu Bali


Pengelola Restoran Klapa, Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali menyadari benar keberagaman tamu yang datang. Karena itu, restoran kemudian dibagi tiga. Ada yang bergaya western bagi pengunjung asal Eropa dan Amerika, serta menu bergaya menu bergaya Balinese bagi yang suka menu dengan cita rasa lokal. Terakhir ada menu Chinese food untuk wisatawan Asia.

Masing–masing resto memiliki dapur, sehingga pengunjung tidak harus menunggu lama jika memesan menu kesukaan. Salah satu menu andalan di sini adalah bamboo lobster.

Berbahan dasar lobster segar dengan berat 300 gram. Diolah ala Chinese. Untuk menu satu ini, isi lobster dikeluarkan terlebih dahulu kemudian diolah dengan menggunakan vegetable oil dan beberapa bumbu rahasia.

Tampilannya sangat menarik. Kulit atau bagian terluar lobster dijadikan hiasan. Disajikan bersama potongan brokoli dan saus spesial. Sementara daging lobster sendiri disajikan di atas fresh mi. Yaitu mi garing berbetuk piring.

Di dalamnya terdapat potongan daging lobster dan sayuran. Saat dicicipi terasa nikmat di lidah. Empuknya lobster dipadukan dengan segranya sayuran hijau. Apalagi makannya sambil menyaksikan sunset.

Bagi yang suka cita rasa lokal, Restoran Klapa menyajikan sate lilit ayam. Sate lilit satu ini terbilang spesial. Jika kebanyakan tempat sate lilit memasukan kelapa sebagai salah satu bahan campuran, tapi tidak demikian di Restoran Klapa.

Tidak menggunakan kelapa tapi cita rasa bumbu khas Bali terasa di lidah. Terasa pedas rempah dan segarnya daging ayam

Tempe Goreng Di Bengkulu Dapat Menyala Seperti Obor Bila Di Bakar


Betapa terkejutnya H Christoper, salah seorang jurnalis media di Bengkulu, saat membeli tempe goreng untuk berbuka puasa sebab tempe yang dibelinya itu bisa terbakar seperti obor.

“Saya membeli sepiring gorengan termasuk tempe, namun aneh tempe tersebut keras dan kaku padahal sudah dingin, lalu ketika saya bakar, tempe itu langsung menyala layaknya obor,” kata Christoper.

Ia mengaku membeli gorengan tersebut di Jalan Danau, Kota Bengkulu. Ia menduga beberapa pedagang gorengan di kawasan tersebut mencapurkan plastik untuk gorengan mereka agar tetap keras.

Dia juga berencana akan melaporkan kejadian itu ke pihak berwenang. “Kejadian ini akan saya laporkan ke BPOM, kasihan masyarakat mengonsumsi makanan yang berbahaya seperti ini,” lanjut dia.

Sebelumnya Plt Sekda Bengkulu Sumardi telah mengingatkan warga Bengkulu akan beredarnya gorengan yang bercampur plastik dan membahayakan kesehatan.

Sajian Buka Puasa Paling Diburu Warga Polewali


Wangi pandan tercium dari Pasar Pekkabata, Polewali Mandar, Sulawesi Selatan setiap menjelang buka puasa. Bila harum itu ditelusuri, sampailah kita pada kios-kios penjual kue berwarna putih, berbungkus daun yang banyak dijajakan. Itulah kue tetu.

Penganan tradisional yang menggunakan santan, gula aren dan telur ayam ini menjadi kue yang identik dengan ramadhan di Polewali. Selain rasa gurih dan manis yang berpadu di lidah, kue tetu bahkan dipercaya bisa membuat badan kembali bugar setelah seharian berpuasa.

Setiap hari, sejak sekitar pukul 14.30 wita warga biasanya sudah mencari sajian untuk berbuka puasa. Dan tetu sepertinya menjadi menu yang tidak pernah dilewatkan untuk menemani berbuka. Tak heran jika para pedagang tetu di Pasar Pekkabata membuat tetu lebih banyak dari hari-hari lain. Beberapa pedagang mengaku membuat tetu tiga kali lebih banyak dibanding hari biasa.

Harga tetu pun relatif murah yakni Rp 1.000 per buah. Basira, salah satu pedagang tetu di Pasar Pekkabata, mengaku mulai melayani pembeli sejak pukul 13.00 wita. Jika pembeli terlalu banyak, Basira kana mendahulukan mereka yang sudah memesan terlebih dahulu.

“Untungnya lumayan. Dengan berjualan mulai sore hingga menjelang petang, bisa meraup pendapatan sampai 350 ribu sehari. Kalau hari biasa paling banyak Rp 100 ribu,” ujar Basira, Jumat siang (11/7/2014) kemarin.

Meski tetu menjadi favorit, di pasar kue tradisonal Polewali Mandar, pembeli juga bisa mendapati kue tradisional lain seperti surabeng dan jepa yang tak kalah lezat.

Nikmatnya Rujak Kuah Pindang Kuliner Khas Bali


Cabai rawit diulek bersama terasi bakar. Kemudian aneka buah yang diiris-iris dengan pisau gerigi dicampur ke ulekan cabai dan terasi. Belum selesai, karena terakhir buah-buahan ini disiram dengan kaldu pindang. Hasilnya adalah Rujak Kuah Pindang. Dari namanya saja, sering kali mengundang rasa penasaran penggemar kuliner. Jika lazimnya rujak menggunakan bumbu kacang, kuliner khas Bali ini malah menggunakan kuah dari kaldu ikan. Orang yang pertama kali mencicipi rujak ini memang akan mengernyitkan dahi.

Bagaimana tidak? Aroma amis dari kaldu ikan berpadu pedasnya cabai rawit, lalu diadu dengan asam segarnya buah-buahan. Ya, buah yang digunakan salah satunya mangga muda yang asam. Selain mangga muda, ada juga kedondong yang cenderung asam. Rasa dan aromanya yang khas ini membuat orang yang pertama kali mencoba merasa aneh. Namun, jika sudah menghabiskan satu piring, bisa-bisa malah jadi doyan. Ada banyak warung di Bali terutama di kawasan Denpasar yang menjual Rujak Kuah Pindang.

Buah-buahan yang dipakai oleh setiap warung bisa beda-beda. Umumnya menggunakan mangga muda, pepaya, kedongdong, bengkuang, timun, dan nanas. Tetapi satu hal yang sama adalah penggunaan kaldu ikan. Salah satu warung yang menjual menu ini adalah Warung Rujak Buk Man Sanur. Warung sederhana ini berada di Sanur dan terkenal di kalangan warga setempat. Tepatnya di Jalan Melsonet, Sanur.

Bisa dibilang, warung ini bukanlah tempat yang umum bagi turis. Tetapi menjadi salah satu tempat nongkrong favorit penduduk lokal. Nah sebagai tempat makan Rujak Kuah Pindang bisa coba minuman Air Gula. Sesuai namanya, minuman ini memang hanya berupa air gula. “Gula direbus dengan air banyak. Tambahkan daun pandan supaya wangi,” tutur Buk Man.

Jangan heran saat meminumnya karena warnanya yang merah. Air Gula lazim diberikan sedikit pewarna makanan untuk mendapatkan warna merah tersebut. Setelah jadi, air gula diberi es batu dan irisan jeruk limau. Minuman ini sangat menyegarkan dan tidak terlalu manis. Efeknya yang menyegarkan mampu meredam rasa pedas dari Rujak Kuah Pindang. Apalagi diminum di siang hari bolong, di tengah teriknya matahari Sanur.

Indonesia Harus Contek Thailand Promosikan Kuliner


Penulis dan pelopor pembentukan komunitas wisata boga Jalan Sutra, Bondan Winarno, mengatakan Indonesia bisa meniru cara Thailand mempromosikan kuliner untuk memperkenalkan khazanah makanan tradisional Tanah Air ke mancanegara. Kepada Antara di Beijing, Rabu (21/5/2014) malam, Bondan menuturkan Thailand terbukti berhasil menduniakan makanan tradisionalnya dengan “Thai Kitchen to The World”, program promosi pariwisata lewat kuliner.

Langkah pemerintah dan pemangku kepentingan Thailand menggunakan kuliner sebagai media promosi sudah membuahkan hasil. Restoran-restoran Thailand kini bermunculan di berbagai belahan dunia. “Dari target sekitar 10.000 restoran di seluruh dunia, kini hanya kurang dari lima tahun sejak program itu diluncurkan, telah ada 20 ribu restoran Thailand di selruh dunia,” kata Bondan, yang berada di Beijing untuk menghadiri penyerahan penghargaan Gourmand World Cookbook Awards.

“Sehingga, walau tak ke Thailand, orang-orang seluruh dunia dapat merasakan masakan Thailand. Orang London misalnya, jadi suka makan makanan Thailand. Lalu berpikir musim panas nanti mau liburan ke Thailand, sebab makan di tempat aslinya tentu lebih enak. Akhirnya jadi berdampak ke pariwisata,” katanya.

Indonesia, lanjut Bondan, punya lebih banyak ragam makanan dibandingkan negara Gajah Putih itu dan bisa menggunakan cara serupa untuk menduniakan kekayaan makanan tradisional Tanah Air. “Di Sumatera ada masakan Padang, ada Minangkabau, yang ada pula masakan Kapau dan lainnya. Tiap daerah memiliki ragam kuliner yang berbeda,” katanya.

Menurut dia, pemerintah, swasta dan pengiat kuliner mesti segera menyatukan visi untuk membawa kuliner tradisional nusantara ke masyarakat internasional. Pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait seharusnya sudah menajamkan visi dan menentukan arah promosi kuliner Indonesia. “Ini memang perlu komitmen kuat dari semua pihak, tidak saja pemerintah, tetapi semua pemangku kepentingan terkait,” katanya.

“Indonesia telah menetapkan 30 ikon kuliner nusantara untuk dipromosikan ke mancanegara dan itu sangat baik. Namun kesatuan visi itu penting supaya promosi 30 ikon kuliner nusantara itu semakin maksimal hasil dan dampaknya bagi Indonesia,” katanya.

Penghargaan buku masakan
Bondan berada di Beijing untuk menerima Gourmand World Cookbook Awards untuk buku resepnya yang berjudul “100 Makanan Tradisional Indonesia, Mak Nyus”. Dalam ajang penghargaan bagi buku kuliner terbaik ke-19 di Beijing, Tiongkok, yang berlangsung selama 20-21 Mei 2014 penulis buku memasak Indonesia Reno Andam Suri juga mendapat penghargaan khusus untuk buku “Rendang, Minang Legacy to The World”.

Sementara Dr Samuel Oetoro serta Erwin dan Jana Parengkuan mendapat penghargaan untuk buku “Smart Eating.” Ajang penghargaan bagi para penerbit, penulis buku, jurnalis dan penggiat kuliner itu kali ini diikuti oleh sekitar 187 negara.

Eksplorasi Tak Bertepi Masakan Indonesia


TAK perlu segan mengutak-atik khazanah kuliner Indonesia demi menciptakan ragam masakan yang tak hanya nikmat tapi juga berdaya kejut. Dalam jamuan yang digelar ”Life is Sweet” berbagai kejutan manis itu menyapa kesadaran cita rasa kita. Red Pyramid, nama gedung mungil di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, petang itu tengah ditata cantik untuk persiapan jamuan di malam harinya. Di dapur terbuka, para anggota tim masak yang dikelola William Wongso, pegiat kuliner Indonesia, juga tengah sibuk mempersiapkan sajian.

Herman, salah seorang juru masak, tengah membakar irisan-irisan tebal daging wagyu berbentuk bundar satu per satu. Sesekali irisan daging yang montok segar itu dibolak-balik. Permukaan daging yang semula merah beralih rupa menjadi kecoklatan berkilat-kilat oleh olesan minyak zaitun. Asap tipis pun membubung disertai bunyi khas ”nyess”, suara daging terkena panas landasan pembakaran. Ruangan jamuan pun lantas diharumi oleh aroma yang memancing kelenjar saliva bertingkah.

”Ini nanti jadi steak rendang,” kata Herman.

Keterangan singkat Herman itu membuat hasrat bersantap mulai memanas. Sementara, di sudut dapur lainnya, anggota tim pemasak lainnya, Astrid, asyik membentuk serutan buah-buahan seperti nanas, mangga, lobak merah, zukini, dan pir dengan garpu dalam bentuk gulungan mungil yang cantik. Samar-samar tercium aroma asam-asam segar dari wadah besar berisi serutan buah-buahan. Asinan yang diadaptasi dari asinan Jakarta itu akan disajikan sebagai hidangan pembuka.

Setelah petang berganti malam, ruangan jamuan penuh oleh tamu. Para pendiri ”Life is Sweet” yakni Lita Hamzah, Rubiana Fajar, dan Michael Soetantyo, menyambut tamu-tamu mereka satu per satu. William Wongso pun sibuk meladeni sapaan para tamu di sela-sela keasyikannya memotret. Jamuan pun akhirnya dimulai.

Hidangan pembuka disebut sebagai ”Deconstructed Asinan Jakarta” tampil berupa gulungan serutan buah dan sayur, kepiting goreng mungil dalam balutan serutan wortel, udang goreng, irisan timun yang digulung, irisan scallop Hokkaido, dan kuah asam segar berwarna tangerine. Menu yang berakar pada asinan Jakarta ini didekonstruksi unsur-unsurnya dan dipadupadankan dengan bahan lain yang bisa selaras cita rasanya. Sebagai pembuka, selera kita segera terbangkitkan oleh sapaan asam segar dan gurih dari sajian ini.

Tak berapa lama, hadir menu sup berwarna hijau lembut dalam cangkir espresso yang mungil. Dari namanya, yakni Cream of Kenikir Espresso with Pohpohan and Sambal Tempe Tempura, kita bisa segera mendeteksi bahan dasar yang digunakan. Rasanya tak terbayangkan daun kenikir dan pohpohan bisa selezat ini ketika dijadikan sup.

Kenikir biasanya dijadikan urap-urapan, sementara pohpohan biasanya sekadar dilalap. Kedua sayuran ini direbus dahulu kemudian diblender dan dimasak menjadi sup. Penambahan krim pada sup membuat konsistensi sup lebih lembut dan creamy. Ada kenang rasa khas daun kenikir dan pohpohan yang masih terdeteksi di akhir seruputan. Sup kenikir-pohpohan ini sungguh sukses meninggalkan kesan yang positif.

Steak rendang
Pada menu ketiga, intensitas cita rasa rempah menjadi lebih tinggi dengan kehadiran ”Gulai Kepala Ikan Ravioli”. Pasta ravioli khas Italia dikawinkan dengan kuah gulai adalah imajinasi cukup liar. Ravioli berisi ikan kakap merah yang berserat daging lembut. Hidangan ketiga ini seperti menyiapkan indera pengecapan kita untuk menikmati menu steak rendang sebagai sajian utamanya.

Steak rendang kemudian hadir dengan nasi tumpeng mungil beserta ubo rampe seperti sambal kering kentang. Daging wagyu yang telah direndam dalam bumbu rendang semalaman itu terasa gurih dibandingkan steak ala Barat. Tingkat kematangan medium membuat kita bisa menikmati serat-serat dagingnya yang lembut.

Tanpa nasi tumpeng pun, sebenarnya steak ini sudah memuaskan untuk dinikmati secara mandiri. Beberapa tamu terlihat mulai tampak kekenyangan, tetapi tampak masih penasaran melumat sajian ini hingga tandas. Anggur merah Perancis dari Beaujolais Villages menjadi pendamping steak rendang yang disarankan malam itu.

Di segmen penutup, pencuci mulut garapan Michael Soetantyo mengundang antusiasme tersendiri di antara tamu. Sarikayo crème brulee yang lembut dan harum pandan memang layak digandrungi. Begitu pula dengan ”kolak panna” dengan saus kopi. Puding dengan rasa kolak yang manis ini ditingkahi sentilan pahit dari saus kopi. Menikmatinya berselang-seling dengan sarikayo crème brelee terasa amat menyenangkan. ”Saya mau tambah srikayanya ah,” cetus seorang tamu.

Jamuan Pop Up Dining tersebut menjadi salah satu segmen dari rangkaian kegiatan ”Life is Sweet”, lembaga pembelajaran ilmu memasak yang berkonsentrasi pada eksplorasi masakan Indonesia. Jamuan itu dalam rangka memperlihatkan betapa masakan Indonesia membuka ruang pada eksplorasi dan layak diperlakukan serius. ”Ragam kuliner Indonesia sangat kaya, tetapi sayangnya lama-kelamaan bisa kehilangan otentisitasnya kalau kualitasnya tidak terjaga,” kata Lita Hamzah.

Menurut Lita, masyarakat urban kelas menengah-atas saat ini cenderung meninggalkan aktivitas memasak dan menyerahkannya kepada pembantu rumah tangga. Makan di luar pun menjadi gaya hidup yang amat meluas. Padahal dengan kebiasaan memasak sendiri, kualitas masakan Indonesia bisa lebih terjaga dan terwarisi ke generasi berikutnya.

”Indonesia seharusnya bisa menjadi food destination, setidaknya di Asia. Di Thailand misalnya, bidang kuliner digarap sangat serius dan terjaga kualitasnya sehingga mendapat kepopuleran yang luas secara global. Kita harusnya juga bisa,” kata Lita. Makanan memang bagian dari identitas budaya masyarakat. Ketika kita masih bingung memasak masakan lokal yang paling sederhana saja, boleh jadi pertanyaan siapa kita, perlu diajukan

Lezatnya Ikan Sembilang di Kedai Mak Munah Batam


Jika Anda berkunjung ke pulau yang berbatasan langsung dengan Singapura ini, sepertinya Anda harus mampir ke salah satu kedai makan tradisional yang terletak di wilayah Tanjung Riau, Sekupang, Batam. Di sini Anda akan menemukan 100 persen masakan Melayu.

Kedai makan yang tidak mempunyai nama ini terkenal dengan Kedai Mak Munah yang sering dipanggil Mak Sembilang. “Saya sehari-hari masak ikan sembilang. Itulah alasan orang jauh panggil saya Mak Sembilang,” kata perempuan yang memiliki nama asli Maimunah ini.

Sembilang merupakan salah satu jenis ikan laut yang berbentuk seperti lele. Hanya saja bentuknya lebih besar. Seperti lele, ikan sembilang juga memiliki patil yang menyengat dan berkulit hitam dan licin.

Mak Munah bercerita awalnya ia dan keluarga tinggal di Pulau Jeri dan hijrah ke Batam pada tahun 1996 agar anak-anaknya bisa melanjutkan sekolah karena di Pulau Jeri tidak ada SMP. “Kami kemudian tinggal di rumah papan di Tanjung Riau Sekupang dan membuka warung kopi yang juga menyediakan mi instan. Saat itu nelayan dari Malaysia dan Singapura masih biasa masuk ke sini,” kata perempuan keturunan Tionghoa tersebut.

Hingga suatu saat ia diminta memasakkan makanan melayu oleh salah satu nelayan dari Singapura dengan menu gulai ikan sembilang “Akhirnya jadi langganan. Setiap kali datang ia selalu meminta gulai sembilang bahkan sering membawa rombongan juga untuk makan disini,” jelasnya.

Sejak saat itulah kelezatan gulai sembilang Mak Munah tersebar dari mulut ke mulut dan banyak tamu yang datang untuk menikmati gulai sembilang atau yang disebut asam pedas ikan sembilang. “Sejak saat itulah saya tak lagi jual mi instan dan jual masakan melayu dan menu andalannya ya asam pedas ikan sembilang,” katanya.

Perempuan berusia 63 tahun ini menjelaskan ikan sembilang cocok untuk dimasak asam pedas karena tekstur dagingnya yang lembut dan sedikit duri membuat ikan berpatil ini nikmat untuk disantap. Ia mengaku tidak ada bumbu rahasia untuk asam pedasnya. “Yang terpenting ikannya harus segar. Kalau bumbunya sama lah dengan orang lain,” katanya sambil tersenyum.

Langganan Pejabat sampai Artis

Mak Munah bercerita tidak sulit mencari Ikan Semilang karena ia telah memiliki langganan nelayan yang angsung dari Pulau Kasu. “Tidak pernah kekurangan, hanya saja tambah hari harga ikan sembilang semakin mahal. Sehari minimal habis 5 kilo. Tapi dulu saat Kantor Provinsi Kepulauan Riau masih di Batam bisa berlipat-lipat yang datang kesini,” jelasnya.

Ia bahkan hafal menu kesukaan pejabat jika datang ke kedai makan miliknya. “Pak Sani (Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Muhammad Sani) suka dengan asam pedas ikan sembilang. Sekarang sejak pindah ke Tanjung Pinang jarang ke sini. Sedangkan kalau Pak Ahmad Dahlan (Wali Kota Batam) suka menu Sotong Masak Hitam. Saya sering dapat pesanan buat acara Pak Wali,” katanya sambil memperlihatkan foto-fotonya bersama dengan beberapa pejabat dan juga artis ibu kota.

“Kalau yang lain tak hafal saya. Terlalu banyak yang datang,” sambungnya dengan logat melayu yang kental.

Mak Munah melanjutkan, selain menu andalan asam pedas ikan sembilan dan sotong masak hitam, kedai sederhananya juga menyediakan masakan melayu lainnya seperti ikan lebam goreng, kangkung belacan dan juga sambal belacan.

“Biasanya orang-orang ke sini waktu makan siang. Dari kantor pemko, dari perusahaan, tentara, polisi, atau keluarga. Semua datang ke sini. Semua meja penuh, sampai di teras depan kita kasih kursi juga,” kata perempuan yang menjadikan kedainya sebagai tempat tinggal.

“Sore sudah habis. Tutup kedainya,” tambahnya.

Sementara itu Wenny, salah satu pengunjung warung Mak Munah mengaku sering datang ke kedai tersebut. “Kedainya memang sederhana. Suasananya juga nyaman seperti rumah sendiri. Apalagi di sini memang lingkungan pantai. Kalau ditanya rasa masakan disini? Mantap. Rasanya melayu sekali,” tuturnya.

Wenny sering mengajak keluarga dan kawannya yang datang ke Batam untuk singgah ke kedai Mak Munah. “Wajib ke sini agar bisa merasakan seafood ala orang Melayu Mak Sembilang,” katanya berseloroh.

Nah Anda tertarik menikmati kuah asam pedas ikan sembilang yang segar dengan warna merah menggoda? Atau lembutnya daging sotong dengan bumbu hitam yang nikmat? Atau sambal belacan yang pedas menyengat? Anda harus berkunjung ke Tanjung Riau, Sekupang, Batam. Tanya saja di mana kedai makan Mak Munah, maka masyarakat sekitar akan kompak menjawab, “Oh… Kedai Mak Sembilang.” Maka Anda akan mendapatkan petunjuk yang tepat menikmati asam pedas ikan sembilang.