Monthly Archives: October 2010

Mentawai Kembali Diguncang Gempa 5,1 Ritcher dan Gunung Merapi Meletus Sesudahnya


Gempa 5,1 skala Richter kembali menggoyang Pagai Selatan, Mentawai, Sumatera Barat, Sabtu (30/10) dini hari. Menurut situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa terletak di 108 kilometer sebelah barat daya Pagai Selatan, Mentawai, dengan kedalaman 27 kilometer. Gempa terjadi pukul 01.05.25 WIB.

Titik gempa terletak di 3,45 Lintang Selatan-99,42 Bujur Timur. Pusat gempa juga berada di 109 kilometer sebelah barat daya Pagai UTara, Mentawai, Sumatera Barat; 140 kilometer sebelah barat daya Sipura, Mentawai, Sumatera Barat; 212 kilometer sebelah barat daya Muko-muko, Bengkulu; dan 877 kilometer sebelah barat laut Jakarta.

Pada Senin (25/10) lalu, gempa berkekuatan 7,2 skala Richter menggoyang Pagai Selatan, Mentawai. Gempa tersebut memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 400 orang.

Staf Khusus Presiden untuk Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, mengatakan gunung Merapi kembali meletus, Sabtu (30/10) dini hari.

“Baru saja ada ledakan di Merapi,” tulis Andi Arief di akun Twitternya, Sabtu (30/10) dini hari. “Arah muntahan Merapi ke barat (Magelang dan sekitar).”

Letusan terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Menurut Andi Arief, abu letusan tersebut sampai ke kilometer 19 Jalan Kaliurang, Yogyakarta.

Letusan tersebut merupakan yang ketiga kalinya sejak Merapi memuntahkan awan panas pada Selasa (26/10) lalu. Akibat letusan pada Selasa lalu, sekitar 30 orang tewas.

Advertisements

Daftar Lokasi Banjir dan Genangan Air DI Jakarta Selatan Bertambah Banyak


Pegawai harian lepas Kementerian Pekerjaan Umum membenahi talut Kali Baru di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (29/10). Perbaikan talut ini mulai berjalan setelah terjadi longsor pada Selasa (26/10) dan diikuti longsor susulan Kamis (28/10). Namun, warga yang menempati bantaran kali ini tetap bertahan meskipun Pemkot Depok mengedarkan perintah mengosongkannya.

Pelaksana Harian Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Selatan Yayat Hidayat, Jumat (29/10), mengatakan, curah hujan yang tinggi dan kondisi drainase yang buruk menyebabkan lokasi genangan air di Jakarta Selatan bertambah. Semula ada 15 lokasi genangan, tetapi kini ada 22 lokasi. Sementara lokasi banjir cenderung tetap, yaitu 14.

Sebanyak 22 lokasi genangan air itu ada di Jalan Hasanuddin (pintu masuk Blok M), Jalan Wijaya I, Jalan Aditya Warman, Jalan Antasari (depan Pasar Impres), Jalan Kompleks Kejaksaan (Pasar Minggu), Jalan TB Simatupang (depan SPBU), Jalan Sungai Sambas I dan IV, Jalan Pulo Mawar, Jalan Kemandoran (depan Al-Azhar), Jalan Kapten Tendean (depan Kantor Pos), Jalan Kapten Tendean (depan Trans TV), dan Jalan Kapten Tendean (jalan layang Gatot Subroto).

Selain itu, genangan juga sering muncul, antara lain, di Jalan Saharjo, Jalan Abdul Safei, Jalan SMPN 115, Jalan Asem Baris, Jalan MT Haryono, Jalan Tebet Raya, Jalan Tebet Timur Dalam II, Jalan Raya Pasar Minggu (depan Pospol Pancoran), dan terowongan Bungur.

Sementara kawasan banjir terpantau sering terjadi di Gang Perintis Tebet, Bukit Duri, Kampung Melayu Kecil, Jalan Wijaya Timur, Tendean (kompleks Tarakanita), Tebet Timur Dalam, Jalan Supomo di Kecamatan Tebet, Jalan Supomo di depan Kampus Universitas Sahid, Kemandoran VIII, Jalan Pulo Raya (Villa Pejaten Indah), Jalan Bank, Jalan Darmawangsa X, Kemang (depan LPPI), dan Jalan Kemang Raya (depan KFC).

Menurut Yayat, lokasi genangan air terparah di Kecamatan Tebet dan Kebayoran Baru.

”Pengerukan saluran terus berlangsung dan sampai kini masih berjalan. Namun, saluran yang ada tetap tidak dapat menampung debit air karena curah hujan cukup tinggi,” kata Yayat.

Tetap bertahan

Warga yang menempati bantaran Kali Baru di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, tetap bertahan. Mereka tidak mau pindah sampai diusir aparat Pemkot Depok. Para pemilik lapak nekat bertahan karena tidak punya pilihan lain.

Longsor susulan sempat terjadi setelah longsor Selasa (26/10) lalu yang membuat tujuh lapak hancur dan tiga warga terperosok ke dasar kali. Longsor talut Kali Baru kini memakan badan Jalan Raya Bogor. Tidak ada pembatas jalan di sisi talut sehingga membahayakan lalu lintas kendaraan.

”Saya nekat saja. Saya akan terus di sini sampai benar-benar dibongkar (lapaknya). Angsuran lapak saya belum lunas, jangankan mikir pindah dari sini, mikir membayar angsuran ke bank saja saya pusing,” tutur Kartim (49), pemilik lapak warung kopi di lokasi longsor, Jumat (29/10) di Depok, Jawa Barat.

Cipto (43), penjual mi ayam, mengaku sudah menerima perintah pengosongan tempat itu pada awal Oktober. Dalam surat yang dikeluarkan Dinas Bina Marga, Kota Depok, itu disertai rencana pembongkaran paksa. ”Saya sudah terima suratnya (pengosongan), biarlah.”

Kepala Dinas Bina Marga Kota Depok Yayan Arianto mengatakan, banyak bangunan yang melanggar garis sempadan sungai (GSS) di Kali Baru. Pelanggaran GSS mulai dari ruas perbatasan Cibinong (Kabupaten Bogor) sampai mengarah ke Kramatjati (Jakarta Timur).

Dua Orang Pingsan Ketakutan Di Wahana Rumah Hantu di La Piazza Kelapa Gading


Dalam budaya Barat, Oktober adalah bulan di mana para hantu berkeliaran. Warga lalu berpesta untuk berdamai dengan para makhluk halus agar tidak diganggu. Kini budaya itu mulai merambah ke masyarakat Indonesia. Tetapi tidak dirayakan dengan pesta trick or tread, tetapi dengan memunculkan setan-setan produk asli Indonesia.

Tzipi Tshabalala (45), warga negara Afrika Selatan, terlihat terengah-engah setelah berlari dari sebuah bangunan bertirai merah. Wajahnya terlihat pucat. Tzipi lalu terbatuk-batuk sampai terbungkuk-bungkuk, tetapi tidak lama kemudian, dia tertawa sekeras-kerasnya.

Setelah mengatur napasnya, barulah Tzipi bisa bersuara dan berkata-kata. Rupanya dia ketakutan setengah mati karena masuk ke Wahana Rumah Hantu di La Piazza, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, dia bertutur, ”Di negara saya juga banyak setannya. Tetapi setan di Indonesia ternyata jauh lebih menyeramkan,” kata Tzipi yang masih belum pulih benar dari ketakutannya.

Begitu juga dengan Sisilia (38), warga Pulo Asem, Jakarta Timur. Setelah keluar dari Rumah Hantu, bibirnya memang menyiratkan tawa, tetapi di matanya tersirat ada sedikit ketakutan.

”Tadi kaki saya dipegang sama suster ngesot… haduuuh… sampai sekarang bekas pegangannya masih terasa,” kata Sisilia yang masuk ke rumah hantu itu bersama suaminya, Jani (40), dan anaknya, Emil (11).

Walau masuk bersama suami dan menyadari setan-setan yang ada itu adalah manusia, Sisilia mengaku tetap takut. ”Suasana dan triknya mencekam. Siapa yang mengira tahu-tahu dari bawah ada tangan terus memegang kaki kita. Saya, kan, jadi panik,” kata Sisilia.

Dhika (12), seorang remaja, terlihat biasa saja ketika keluar dari rumah hantu. Tetapi ketika temannya mengajak dengan sedikit memaksa untuk masuk lagi, Dhika menolak mati-matian hingga menangis. ”Enggak mau, seram banget,” kata dia sambil berlari menjauh.

Wahana Rumah Hantu yang digelar sejak 10 Oktober hingga 10 November 2010 ini memang tempat uji nyali. Berani tidak berhadapan langsung dengan karakter-karakter hantu berdasarkan budaya Indonesia yang menyeramkan. Ada pocong, suster ngesot, kuntilanak, buto ijo, dan sebagainya.

”Paling tidak, ada dua orang yang pingsan dalam sehari karena melihat hantu di dalam rumah tua itu,” ungkap koordinator acara, Andre, ketika ditemui di lokasi pertunjukan.

Menurut Andre, acara ini diinspirasi dari perayaan Halloween alias pesta hantu yang biasa diselenggarakan di negara seperti Amerika Serikat maupun Irlandia. Oleh Bejo Production, penyelenggara acara ini, konsep Halloween digabungkan dengan nuansa horor khas Indonesia sehingga memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Indonesia.

Layaknya sebuah uji nyali, Wahana Rumah Hantu ini mengambil konsep sebuah rumah tua usang yang lama tidak berpenghuni. Suasana mencekam akan sangat terasa dengan adanya tata suara yang menimbulkan bunyi deruan angin, lengkingan, dan jerit-jeritan. Pengunjung seperti menjadi tokoh utama dalam film horor yang terjebak di dalam rumah tua itu.

Yang membuat panik, selain pengunjung harus mencari jalan keluar, di mana alurnya dibuat seperti labirin, pengunjung juga harus menghindari para hantu yang terus-menerus bermunculan, seperti ingin mengejar dan berusaha menangkap pengunjung. ”Jalan masuk sulit ditemukan karena suasananya remang-remang. Salah jalan, bisa menginjak kuburan yang ada di dalam rumah,” kata Dhika.

Museum hantu

Wahana yang sebagian besar pengunjungnya adalah anak muda ini sudah digelar sejak dua tahun terakhir.

Perbedaannya pada tahun ini, selain Wahana Rumah Hantu, juga dihadirkan Museum Hantu yang menghadirkan foto, jimat, benda-benda, dan karakter hantu yang ada di Indonesia. Bahkan, di museum itu juga dipamerkan jenglot, yang bentuknya seperti manusia mini dengan ukuran satu jari orang dewasa. Jenglot memiliki taring dan seluruh tubuhnya ditutupi rambut panjang.

Wahana Museum Hantu ini cocok bagi pengunjung yang merasa tidak kuat masuk ke dalam rumah hantu. Di sini pengunjung bisa mendapatkan pengetahuan tentang hantu-hantu lokal di Indonesia. Ada juga permainan jelangkung, simulasi kuntilanak melahirkan, dan sebagainya.

Untuk menikmati Wahana Rumah Hantu dan Museum Hantu ini, pengunjung dikenai tiket seharga Rp 20.000 per wahana yang berlaku untuk dua orang. Namun wanita hamil, orang dengan penyakit jantung, dan anak-anak dilarang masuk.

Pengendara Motor Yang Berteduh Dibawah Jembatan Saat Hujan Akan Ditilang Karena Menyebabkan Kemacetan


Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengimbau semua pengendara sepeda motor tidak berteduh di bawah jembatan layang atau terowongan saat hujan. Saat para pengendara sepeda motor berteduh, arus lalu lintas terganggu dan kemacetan dapat mencapai beberapa kilometer.

”Saat para pengendaranya berteduh, puluhan sepeda motor menutup satu sampai dua jalur jalan. Jika terjadi saat jam pulang kerja, kemacetan tidak hanya terjadi di sekitar jembatan layang atau terowongan, tetapi mengular sampai jauh,” kata Fauzi Bowo, Jumat (29/10) di Balaikota DKI.

Untuk mengatasi kondisi itu, Fauzi meminta Dinas Perhubungan DKI Jakarta turut mengatur arus lalu lintas di bawah jembatan layang dan terowongan saat hujan. Dishub juga diminta bekerja sama dengan Polda Metro Jaya untuk menindak para pengendara sepeda motor yang berhenti sembarangan dan menyebabkan kemacetan panjang.

Saat hujan selalu terjadi hambatan lalu lintas di bawah jembatan layang dan terowongan karena banyak pengendara sepeda motor di situ. Sebagian dari mereka berteduh sebentar untuk memakai jas hujan, tetapi banyak yang berhenti lama untuk menunggu hujan reda.

Banyaknya pengendara sepeda motor berteduh, membuat badan jalan hanya tersisa satu jalur untuk kendaraan lain yang ingin lewat. Situasi leher botol semacam itu membuat kemacetan saat hujan deras kian menjadi.

Di Jakarta, ada 72 jembatan layang dan terowongan. Hampir semuanya penuh pengendara sepeda motor yang berteduh kala hujan. Kondisi itu turut memicu kemacetan parah setiap hujan.

Wahyu Jati, pengendara sepeda motor, mengakui dia selalu berteduh di bawah jembatan layang jika hujan deras.

”Air hujan sering menyakiti mata jika sepeda motor tetap melaju. Kaca helm sering harus dibuka karena terlalu gelap saat hujan,” kata Wahyu.

Menindak

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Inggard Joshua mengatakan, para pengendara sepeda motor yang berteduh itu membahayakan diri mereka sendiri. Di terowongan, misalnya, banyak kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi dan susah mengerem karena hujan membasahi badan jalan sehingga dapat menabrak pengendara sepeda motor yang tengah berteduh.

”Petugas Dishub perlu turun tangan untuk mencegah pengendara yang berteduh di bawah jembatan layang,” kata Inggard.

Di sisi lain, berhenti di tengah jalan dalam waktu lama berarti melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas. Tindakan itu dapat dianggap sebagai pelanggaran dan dapat dikenai sanksi polisi.

Oleh karena itu, Polda Metro Jaya diminta mengatur para pengendara sepeda motor yang berteduh di bawah jembatan layang dan di terowongan. Jika mereka tetap ngotot berteduh, polisi harus memberi surat tilang.

”Jika ingin berteduh, mereka dapat memilih tepian toko atau tepi bangunan lain, yang penting tidak di badan jalan. Para pengendara sepeda motor diimbau membawa jas hujan agar tidak perlu berteduh di tengah jalan,” kata Inggard.

70 Ibu Rumah Tangga Di Surabaya Terjangkit HIV AIDS Meski Tak Lakukan Seks Bebas


Sebanyak 70 ibu rumah tangga di Surabaya tercatat positif menderita HIV/AIDS selama sembilan bulan terakhir pada tahun 2010 ini. Kasi Program Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Surabaya, Ponco Nugroho, Rabu mengatakan, banyaknya ibu rumah tangga yang terjangkit virus ini, memang sempat mengejutkan karena banyak yang mengaku tidak pernah melakukan hubungan seks bebas dengan penderita HIV/AIDS.

“Awalnya memang sulit dipercaya, tapi setelah dilakukan pemeriksaan, hasilnya seperti itu. Sebab penularan virus ini tidak hanya dari hubungan seks bebas saja, namun bisa juga karena didapat dari sang suami yang homoseksual. Justru itulah yang kita khawatirkan,” ujarnya.

Ia menceritakan, pernah ada pasien seorang ibu rumah tangga yang tidak percaya mengidap positif HIV/AIDS. Koordinator Unit Perawatan Intermediet dan Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU dr Soetomo, dr Erwin Astha Trijono, SpPD mengungkapkan, banyaknya ibu rumah tangga yang terjangkit HIV/AIDS karena sosialisasi terhadap mereka yang sangat minim.

“Tidak adanya sosialisasi kepada para ibu rumah tangga tentang penularan HIV/AIDS menjadi salah satu faktor rentannya terjangkit virus. Jadi, inilah tugas kita para dokter maupun instansi terkait untuk menindaklanjuti dan selalu menyosialisasikannya,” terang dia.

Karena itulah, pihaknya berharap adanya edukasi atau pendidikan sosialisasi kepada siapa saja, termasuk ibu rumah tangga. Kata dia, selama ini pendidikan penanggulangan HIV/AIDS mayoritas dilakukan terhadap remaja dan instansi tertentu. “Padahal siapa saja bisa tertular. Ini yang harus difahami dan dimengerti semuanya. Kami harap yang tertular bisa diminimalisasi lagi,” tukas ahli penyakit dalam tersebut.

Data di Dinas Kesehatan, kelompok yang rentan terkena virus HIV/AIDS ini adalah orang dengan mobilitas tinggi (sipil maupun militer), perempuan, remaja, anak jalanan, pengungsi, ibu hamil, penerima transfusi darah, maupun petugas kesehatan sendiri.

Erwin juga mengatakan, saat ini sudah ada obat bagi penderita HIV/AIDS. Untuk dewasa dalam bentuk tablet, sedangkan anak-anak dalam bentuk sirup. “Syaratnya, harus diminum sesuai aturan dan tidak boleh terlambat. Tapi, virus ini bisa disembuhkan kok, sama seperti penyakit lainnya,” tuturnya menjelaskan

Jalan Tol BSD Serpong Bintaro Putus Lagi Karena Banjir Setinggi 50 cm dan Menjadi Tontonan


Jalan Tol Lingkar Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, di Kilometer 8 digenangi air setinggi sekitar 50 sentimeter sepanjang sekitar 200 meter. Akibatnya, tol ini tidak bisa dilalui.

Pukul 21.00, kemacetan arus lalu lintas di tol ini mulai reda meski genangan air belum surut. ”Posisi banjir sekitar 1,5 kilometer sebelum pintu keluar BSD Pamulang,” tutur Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Ipung Purnomo saat dihubungi, Kamis (28/10) malam.

Karena banjir, sebagian kendaraan dari Jakarta menuju BSD berputar balik melawan arus ke gerbang tol Pondok Ranji kembali. Polisi lalu mengarahkan pengemudi membawa kendaraan mereka ke jalan Pondok Aren. Akibatnya, jalan Pondok Aren-Bintaro macet.

Menurut Ipung, puncak banjir terjadi pada pukul 19.00-20.00.

”Panjang antrean kendaraan mencapai 5 kilometer,” tuturnya. Ia menjelaskan, menjelang tiba di genangan air, pengemudi memilih mengarahkan kendaraan mereka ke tengah.

Hal ini membuat jalan tol yang biasa dilintasi tiga lajur kendaraan, saat itu hanya dilintasi satu lajur kendaraan. ”Pengemudi memilih ke tengah ketimbang kendaraannya kepeleset dan terguling ke tepi jalan tol. Saat banjir, kan, mereka tidak bisa melihat batas aspal dan jalur darurat yang sebagian rumput dan tanah,” papar Ipung.

Jadi tontonan

Lalu lintas macet karena laju kendaraan di seberang tol yang banjir bergerak lamban.

”Biasa, jadi tontonan pengemudi kendaraan yang berada di seberang. Lalu lintas di jalur seberang jalan tol yang tadinya lancar pun tersendat karena pengemudi mengurangi laju kendaraannya sambil menonton banjir,” jelas Ipung.

Di Jakarta Timur, genangan air karena guyuran hujan selama dua setengah jam kemarin menyebabkan arus lalu lintas di Kampung Melayu arah ke Pondok Bambu juga macet.

Senin lalu, Jalan Tol Lingkar BSD juga banjir. Kondisinya lebih buruk hingga pintu tol ditutup. Akibatnya, arus lalu lintas tumpah ke beberapa jalan utama di perumahan Bintaro Jaya, khususnya di sektor sembilan.

Kemacetan di beberapa jalan utama tersebut berlangsung hingga Selasa dini hari. Pengemudi yang kelelahan memarkir mobilnya di tepian jalan dan pulang dengan ojek motor atau dijemput dengan sepeda motor dari rumahnya.

Tampak puluhan mobil parkir berjejer dari sekitar sekolah Jepang hingga ke cluster Taman Permata Bintaro Jaya.

Sistem Pengelolaan Air Bersih Di Jakarta Harus Segera Dibenahi


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu mencari terobosan agar layanan air bersih di Jakarta dapat diperbaiki dalam waktu tidak terlalu lama. Sistem layanan air bersih yang ada di Jakarta saat ini tidak dapat diandalkan dan tidak berkelanjutan untuk masa depan.

”Layanan air bersih yang buruk membuat penyedotan air tanah dalam akan terus berlangsung dan penurunan permukaan tanah tidak dapat diperlambat. Di sisi lain, warga miskin dipaksa membeli air dengan harga terlalu mahal karena tidak terlayani jaringan pipa air bersih,” kata Firdaus Ali, anggota Badan Regulator Pelayanan Air Minum (BRPAM), Jakarta, Kamis (28/10).

Menurut Firdaus Ali, berdasarkan data PAM Jaya, jaringan pipa sudah melayani 60 persen warga Jakarta. Namun, berdasarkan penelusuran BRPAM, hanya 44 persen yang terlayani. Jika ditambah para pelanggan yang tidak pernah mendapat pasokan air, cakupan layanan itu turun hingga 38 persen.

Tingkat kehilangan air mencapai 48 persen atau hampir separuh air bersih terbuang percuma. Sebanyak 98 persen air baku juga harus dipasok dari luar Jakarta. Di Jakarta Utara, lima kelurahan tidak terlayani jaringan pipa sama sekali dan hanya dua kelurahan yang terlayani dengan baik. Sisanya terlayani jaringan pipa tetapi pasokannya buruk.

Warga miskin di kelurahan yang tidak terlayani jaringan pipa harus membeli air bersih yang dijual eceran Rp 125.000 per meter kubik. Padahal harga rata-rata air bersih dari PAM Jaya hanya Rp 7.500 per meter kubik.

”Pemprov DKI perlu membantu PAM Jaya untuk menurunkan tingkat kehilangan air. Di sisi lain, jaringan sanitasi dan pengolahan limbah domestik harus dibangun,” kata Firdaus.

Jaringan air bersih adalah satu-satunya infrastruktur yang tidak dibiayai pemerintah. Semuanya dibebankan kepada warga sebagai pelanggan.

Di sisi lain, limbah domestik harus diolah agar dapat dijadikan sumber air baku. Pengolahan limbah domestik juga harus dilakukan agar tidak mencemari sungai-sungai yang ada. Sungai-sungai yang ada seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku agar layanan air bersih dapat berkesinambungan.

Asisten Sekda DKI bidang Perekonomian Hasan Basri mengatakan, Pemprov DKI sedang mendesak pemerintah pusat untuk membangun pabrik air bersih di Waduk Jatiluhur. Pemprov DKI juga siap berkontribusi membangun instalasi yang mampu menghasilkan air minum 4.000-9.000 meter kubik.

Dalam RTRW DKI 2010-2030, Pemprov DKI juga merencanakan pembangunan jaringan sanitasi dan pengolahan limbah domestik. Namun, untuk memanfaatkan air sungai, pemerintah pusat juga harus turun tangan untuk mencegah pencemaran sejak dari hulu sungai.

Sementara itu, untuk mengurangi tingkat kehilangan air, mitra PAM Jaya, PT Aetra Air Jakarta, memutus 400 sambungan ilegal di Kampung Pulo Ngandang, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Sekretaris Perusahaan PT Aetra Yosua L Tobing mengatakan, sambungan ilegal mengakibatkan Aetra kehilangan 2.800 meter kubik air per bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, PT Aetra akan menyediakan suplai air alternatif, seperti kios air bagi warga di permukiman ilegal. Menurut aturan, jaringan pipa tidak boleh dibangun di lingkungan permukiman ilegal. Di sisi lain, para pencuri air akan diserahkan pada polisi untuk ditangani. Proses hukum diperlukan untuk menciptakan efek jera.