Daftar 10 Kecamatan dan Perumahan Di Bekasi Yang Rawan Banjir

Hujan yang terjadi beberapa hari terakhir menyita perhatian pemerintah kota (Pemkot) Bekasi untuk meningkatkan kewaspadaan. Pergantian musim kali ini, pemerintah menyatakan 10 kecamatan merupakan daerah rawan banjir. Karena itu seluruh aparat pemerintah dinstruksikan memantau daerah masing-masing.

Peningkatan status menjadi waspada banjir itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkot Bekasi, Tjandra Oetama kepada wartawan, Rabu (24/11). Permintaan pemerintah kepada seluruh jajaran pemerintah untuk waspada dengan tindakan nyata itu dimaksudkan agar musibah banjir pada 2002 silam tidak terulang lagi.

Tahun ini, kata Tjandra, dari 10 kecamatan waspada satu diantaranya terdapat 58 titik lokasi yang rawan. Dari jumlah itu ada 27 titik lagi yang merupakan daerah langganan banjir setiap tahun. “Di tiap titik sekarang ini kami siapkan tim khusus untuk memantau perkembangan apakah akan terjadi banjir,” katanya.

Dari catatan di Dinas Fisik dan Prasarana Kota Bekasi, kesepuluh kecamatan yang dinyatakan rawan banjir itu antara lain, Bekasi Barat, Bekasi Timur, Bekasi Selatan, Bekasi Utara, Pondok Gede, Jatiasih. Pemkot Bekasi sudah sendiri mengakui daerah merupakan daerah langganan banjir.

Secara teknis, Dinas Fisik dan Prasanana mencatat bahwa genangan air dan banjir di Kota Bekasi terjadi karena hambatan saluran air dari arah selatan kearah utara. Terjadinya penggerusan dan terbawanya material saluran oleh aliran air sehingga terjadi pendangkalan dan sedimentasi yang mengakibtkan terjadinya penyempitan drainase.

Faktor lain karena pengembangan wilayah kota yang mengubah tata guna lahan yang mengakibatkan bertambahnya debit air di saluran. Luapan dan genangan terjadi karena pertambahan debit itu tidak disertai dengan perencanaan ulang saluran drainase.
Banjir terakhir terjadi pada 2002 lalu, tercatat di Kecamatan Pondok Gede dilaporkan, terdapat delapan perumahan terendam banjir. Yakni Perumahan Housing Molek (40 cm), Raflesia (70-80 cm), Bukit Kencana (60 cm), Wira (60 cm), Angkatan Laut (40-50 cm), Jatiwarna (40-50 cm), Pondok Cemara (50 cm), Pondok Melati (40 cm).

Di Kecamatan Bekasi Selatan, meliputi Perumahan Galaksi (10-15 cm), Pondok Timur Mas (40 cm), Vila Jakasetia (40 cm), Cikunir (40 cm), kantor kelurahan Margajaya (20 cm). Kecamatan Medan Satria meliputi Perumahan Harapan Mulya (50-150 cm), Kali Baru (100 cm), Kelurahan pejuang (25-40 m).

Di Kecamatan Bekasi Timur, banjir merendam Perumahan Margahayu (50-80 cm), Jalan Kartini (50 cm), Rawa Semut (50 cm), Unisma (80 cm), Bekasi Jaya (50 cm), Duren Jaya (80-100 cm), Cerewet (50 cm), dan Aren jaya (50-100 cm). Curah hujan yang di atas rata-rata tersebut, membuat debit air di Bendung Kali Bekasi mencapai 400 meter kubik.

Menurut Tjandra, musibah banjir dua tahun silam itu sudah merendam sekitar 526 hektare. Selain itu juga telah meninggalkan rusaknya sarana dan prasarana pembangunan infrastruktur yang ada. Meski tidak menyebutkan jumlah kerugian, namun pemerintah sudah menanggung kerugian jutaan rupiah.

Bekas kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bekasi ini juga mengatakan, terus berulangnya musibah banjir itu disebabkan karena Kota Bekasi di sebagian lingkungan, seperti sungai-sungai mengalami kerusakan. Selain itu juga karena berkurangnya daerah-daerah resapan air.

Dari sisi geografisnya, sungai, terutama Sungai Kali Bekasi merupakan kepanjangan dari sungai Cikeas dari Bogor Jawa Barat. Selain karena lingkungan di Kota Bekasi, penyebabnya juga datangnya air kiriman bertubi-tubi dari atas atau Bogor itu sehingga debit air Sungai Kali Bekasi tidak mampu menampung hantaman air dari Bogor.

Dari pemantauan Tempo saat ini kondisi sungai-sungai di Bekasi sudah berkurang fungsinya. Di sungai Kali Bekasi sendiri di bagian-bagian tertentu sudah mengalami pendangkalan atau penyempitan. Penyebabnya, antara lain meningkatnya kegiatan masyarakat di sekitar sungai.

Aktivitas masyarakat di sekitar bantaran sungai yang cenderung merusak ekosistem sungai itu, misalnya, banyak warga pendatang dari luar Bekasi yang mencari hidup di Bekasi. Mereka mendirikan pemukiman berupa gubuk-gubuk liar di wilayah sempadan sungai sehingga selain merusak pemandangan juga menimbulkan sampah dan sumbatan.
Adapun antisipasi yang dilakukan pemerintah saat ini adalah membentuk satuan koordinator pelaksanaan penanggulanagan bencana alam, mendirikan posko-posko di titik-titik yang dinyatakan rawan tadi, selain itu juga tengah mempersiapkan logistik, antara lain menyeriakan tenda dan perahu karet.

Secara diplomatis Tjandra juga menghimbau kepada warga supaya mulai saat ini juga ikut menggalakan kebersihan lingkungan sungai. Misalnya dengan mengangkat sampah-sampah yang tergonggok di bantaran sungai. “Satuan yang kita bentuk ikut bekerjasama untuk memantau dan berkerja di daerah yang rawan itu,” katanya.

Pemerintah juga mengakui bahwa persoalan banjir ini sulit sulit dihentikan. Karena itu, kata Tjandra selalu berulang setiap kali musim penghujan tiba. Namun, tahun ini dengan antisipasi dari saat ini dan kerjasama dari masyarakat diharapkan bencana musiman itu tidak sampai menghancurkan perekonomian Kota Bekasi.

Sayangnya Tjandra tidak menyebutkan berapa alokasi anggaran untuk program penanggulangan bencana banjir ini. Tjandra hanya mengatakan saat ini pemerintah masih kekurangan anggaran sebab dana tersedot ke kantong anggaran lainnya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s