Monthly Archives: October 2010

Beberapa Kawasan Jakarta dan Tangerang Masih Tergenang Air Seperti Perumahan Ciledug Indah


Menaiki perahu karet, petugas pemadam kebakaran membantu warga melintasi banjir setinggi lutut yang menggenangi Kompleks Perumahan Ciledug Indah, Pedurenan, Tangerang, Banten, Rabu (27/10). Walaupun belum sepenuhnya surut, banyak warga bersiap membersihkan rumah mereka dari sisa banjir.

Hingga Rabu (27/10), beberapa kawasan di Jakarta dan Tangerang masih tergenang walau air mulai surut. Di Perumahan Ikatan Keluarga Besar Pegawai Negeri Bintaro, Jakarta Selatan, warga mulai membersihkan rumah mereka dari endapan lumpur.

”Kalau mendung, saya khawatir. Soalnya kalau hujan lagi, kemungkinan air bisa menembus tanggul sementara dan banjir lagi,” ujar Naswan, warga Perumahan Ikatan Keluarga Besar Pegawai Negeri (IKPN).

Warga pun meminta pembangunan tanggul permanen setelah tanggul yang lama ambrol, pertengahan Agustus lalu.

Kemacetan luar biasa yang terjadi di Jakarta pada Senin (25/10) lalu tak hanya karena hujan yang sangat deras dan saluran drainase yang tidak berfungsi maksimal. Aparat di lapangan juga kurang siap membantu masyarakat.

Demikian kesimpulan yang muncul dalam rapat mendadak yang digelar Wali Kota Jakarta Utara Bambang Sugiyono dengan semua kepala dinas, camat, dan lurah di wilayahnya.

”Hujan yang turun itu mencapai 119 milimeter dalam ukuran BMKG. Padahal, jumlah itu biasanya terpenuhi setelah dua minggu. Senin lalu, hanya tiga jam, curah air hujan mencapai setinggi itu,” kata Bambang.

Walau hujan turun deras, jika aparat siap di lapangan, minimal bisa membantu masyarakat yang mengalami kesulitan di jalan.

Contoh yang terjadi, seharusnya ada kerja sama antara satuan polisi pamong praja dengan suku dinas perhubungan, polisi lalu lintas, camat, dan lurah setempat. ”Jangan begitu hujan, semua hilang,” ujar Bambang.

Hal yang harus dilakukan pada saat kritis seperti Senin lalu adalah menertibkan kendaraan umum yang mengetem dan mengatur sepeda motor yang berteduh di kolong jembatan.

Kini, di Jakarta Utara ada 72 lokasi rawan genangan dan 19 lokasi rawan kemacetan. Jumlah pompa 54 unit di 17 lokasi. Bambang mengakui ada beberapa pompa yang saat ini dalam perbaikan.

Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta saat ini sedang membersihkan dan memperbaiki saluran drainase di 34 lokasi yang rawan genangan. Masih terdapat 72 lokasi yang saluran drainasenya belum dibersihkan karena keterbatasan dana. Di Jalan MH Thamrin, Jalan Sabang, sampai Kali Cideng, pembesaran saluran drainase hampir selesai.

Di Kecamatan Anyar, Banten, korban banjir di Desa Sindang Mandi dan Sindang Karya menerima bantuan pangan dan pakaian dari Pemerintah Kabupaten Serang.

Advertisements

Gunung Merapi Meletus Hari Ini dan Lebih Besar Dibanding Tahun 2006


Erupsi Gunung Merapi lebih besar dibanding tahun 2006. Energi yang keluar lebih besar dan alur guguran material Gunung Merapi terus meluas. Material vulkanik menyebar dengan arah guguran ke Magelang, Jawa Tengah, terutama ke Kali Senowo dan Kali Lamat.

Menurut anggota Staf Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Dewi Sri, tanda- tanda erupsi Gunung Merapi tahun ini sangat berbeda dibanding erupsi sebelumnya. ”Perbedaan terutama dari data kegempaan dan deformasi yang terus meningkat,” katanya, Selasa (26/10).

Dewi menambahkan, peluang terjadinya letusan memang terbuka. Magma sudah naik ke permukaan dan guguran telah berwarna coklat, dengan membawa beragam material vulkanik. ”Sekali luncuran guguran bisa berjarak tiga kilometer dari letusan yang biasanya berlangsung secara bertahap,” kata Dewi.

Sampai berita diturunkan pukul 21.00, Posko Utama di Pakem, Sleman, mengevakuasi tujuh orang yang terjebak awan panas di Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. ”Awalnya mereka tidak mau diungsikan, kami masih terus mengevakuasi dan belum tahu kondisi mereka,” kata petugas Posko Pakem, Wartono.

Dengan perluasan alur guguran, wilayah desa yang harus diungsikan bertambah. Akibat perluasan alur guguran, tiga desa di alur Kali Senowo dan tiga desa di alur Kali Lamat harus diungsikan. Desa-desa itu adalah Desa Kerinjing, Mangunsoka, Sumber, Keningar, Ngargomulyo, dan Kali Bening.

Saat ini, guguran material vulkanik mengarah ke barat dan selatan ke Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Lamat, dan Kali Senowo. Alur guguran biasanya akan diikuti dengan alur awan panas. Awan panas berupa guguran ataupun letusan normalnya akan dialirkan ke sungai-sungai di Lereng Merapi.

Menurut Dewi, pembangunan dam sabo (bentangan tanggul di sungai yang berfungsi menahan laju lahar) yang terlalu dekat dengan puncak gunung justru berbahaya karena membelokkan awan panas seperti yang pernah terjadi di Kali Gendol pada erupsi 2006. Saat ini, mayoritas dari sekitar 200 dam sabo di lereng Merapi dalam kondisi rusak sehingga tak bisa diharapkan untuk menahan laju sedimen lahar.

”Dam sabo seharusnya tidak dibangun di alur jangkauan awan panas. Normalnya, jangkauan awan panas Merapi adalah 4-7 kilometer. Jadi, lahar tidak mungkin mengalir kurang dari 7 kilometer,” kata Dewi.

Perlengkapan kurang

Dari pemantauan, barak-barak pengungsian di lereng Merapi masih kekurangan perlengkapan, seperti alas tidur, selimut, toilet, kekurangan air bersih, serta tidak ada perlengkapan untuk bayi dan anak balita.

Di barak Hargobinangun, Sleman, sejumlah pengungsi mengeluh karena tidak tersedia tempat tidur untuk bayi dan kelambu. ”Mestinya ada ruangan khusus untuk bayi,” kata Winda (31), warga Dusun Jambu, Kepuharjo, sembari mengendong anaknya, Dafa (3,5), yang rewel karena tidak bisa tidur.

Di barak Desa Hargobinangun yang juga kantor desa, seluruh toilet berjumlah tiga macet. Ngadimin dan istrinya, Ngadiyem (83), harus diantar pulang-pergi ke rumahnya oleh anak-anaknya dengan naik motor saat hendak mandi. Rumah pasangan suami istri lanjut usia ini berjarak tiga km di utara barak, yakni Dusun Kaliurang Barat, Hargobinangun.

Sementara itu, di barak Desa Glagaharjo, Cangkringan, yang berada di lapangan desa, salah satu masalahnya adalah kurangnya penerangan. Selain itu, barak yang ada tidak bisa menampung seluruh pengungsi. Akibatnya, sebagian penduduk lanjut usia dan para perempuan ditempatkan di tenda peleton di dekat barak.

Sejauh ini yang masih aman adalah persediaan makanan dan minuman, serta stok obat-obatan. Di tiga barak pengungsian, stok bahan makanan cukup untuk tiga hari ke depan. Bupati Sleman Sri Purnomo menjanjikan untuk segera melengkapi kebutuhan yang diperlukan di barak.

Kunjungan Menkes

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih saat mengecek kesiapan barak Hargobinangun, Selasa, menyatakan, Pemkab Sleman harus memerhatikan kepentingan pengungsi bayi, anak balita, dan anak-anak.

Koordinator P3K Puskesmas Pakem yang bertugas di barak Hargobinangun, Agus Margana, mengatakan, selama dua hari ini sudah 60 orang lansia yang sakit. Umumnya mereka mengeluhkan batuk, pilek, dan pusing.

Daftar 10 Kecamatan dan Perumahan Di Bekasi Yang Rawan Banjir


Hujan yang terjadi beberapa hari terakhir menyita perhatian pemerintah kota (Pemkot) Bekasi untuk meningkatkan kewaspadaan. Pergantian musim kali ini, pemerintah menyatakan 10 kecamatan merupakan daerah rawan banjir. Karena itu seluruh aparat pemerintah dinstruksikan memantau daerah masing-masing.

Peningkatan status menjadi waspada banjir itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkot Bekasi, Tjandra Oetama kepada wartawan, Rabu (24/11). Permintaan pemerintah kepada seluruh jajaran pemerintah untuk waspada dengan tindakan nyata itu dimaksudkan agar musibah banjir pada 2002 silam tidak terulang lagi.

Tahun ini, kata Tjandra, dari 10 kecamatan waspada satu diantaranya terdapat 58 titik lokasi yang rawan. Dari jumlah itu ada 27 titik lagi yang merupakan daerah langganan banjir setiap tahun. “Di tiap titik sekarang ini kami siapkan tim khusus untuk memantau perkembangan apakah akan terjadi banjir,” katanya.

Dari catatan di Dinas Fisik dan Prasarana Kota Bekasi, kesepuluh kecamatan yang dinyatakan rawan banjir itu antara lain, Bekasi Barat, Bekasi Timur, Bekasi Selatan, Bekasi Utara, Pondok Gede, Jatiasih. Pemkot Bekasi sudah sendiri mengakui daerah merupakan daerah langganan banjir.

Secara teknis, Dinas Fisik dan Prasanana mencatat bahwa genangan air dan banjir di Kota Bekasi terjadi karena hambatan saluran air dari arah selatan kearah utara. Terjadinya penggerusan dan terbawanya material saluran oleh aliran air sehingga terjadi pendangkalan dan sedimentasi yang mengakibtkan terjadinya penyempitan drainase.

Faktor lain karena pengembangan wilayah kota yang mengubah tata guna lahan yang mengakibatkan bertambahnya debit air di saluran. Luapan dan genangan terjadi karena pertambahan debit itu tidak disertai dengan perencanaan ulang saluran drainase.
Banjir terakhir terjadi pada 2002 lalu, tercatat di Kecamatan Pondok Gede dilaporkan, terdapat delapan perumahan terendam banjir. Yakni Perumahan Housing Molek (40 cm), Raflesia (70-80 cm), Bukit Kencana (60 cm), Wira (60 cm), Angkatan Laut (40-50 cm), Jatiwarna (40-50 cm), Pondok Cemara (50 cm), Pondok Melati (40 cm).

Di Kecamatan Bekasi Selatan, meliputi Perumahan Galaksi (10-15 cm), Pondok Timur Mas (40 cm), Vila Jakasetia (40 cm), Cikunir (40 cm), kantor kelurahan Margajaya (20 cm). Kecamatan Medan Satria meliputi Perumahan Harapan Mulya (50-150 cm), Kali Baru (100 cm), Kelurahan pejuang (25-40 m).

Di Kecamatan Bekasi Timur, banjir merendam Perumahan Margahayu (50-80 cm), Jalan Kartini (50 cm), Rawa Semut (50 cm), Unisma (80 cm), Bekasi Jaya (50 cm), Duren Jaya (80-100 cm), Cerewet (50 cm), dan Aren jaya (50-100 cm). Curah hujan yang di atas rata-rata tersebut, membuat debit air di Bendung Kali Bekasi mencapai 400 meter kubik.

Menurut Tjandra, musibah banjir dua tahun silam itu sudah merendam sekitar 526 hektare. Selain itu juga telah meninggalkan rusaknya sarana dan prasarana pembangunan infrastruktur yang ada. Meski tidak menyebutkan jumlah kerugian, namun pemerintah sudah menanggung kerugian jutaan rupiah.

Bekas kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bekasi ini juga mengatakan, terus berulangnya musibah banjir itu disebabkan karena Kota Bekasi di sebagian lingkungan, seperti sungai-sungai mengalami kerusakan. Selain itu juga karena berkurangnya daerah-daerah resapan air.

Dari sisi geografisnya, sungai, terutama Sungai Kali Bekasi merupakan kepanjangan dari sungai Cikeas dari Bogor Jawa Barat. Selain karena lingkungan di Kota Bekasi, penyebabnya juga datangnya air kiriman bertubi-tubi dari atas atau Bogor itu sehingga debit air Sungai Kali Bekasi tidak mampu menampung hantaman air dari Bogor.

Dari pemantauan Tempo saat ini kondisi sungai-sungai di Bekasi sudah berkurang fungsinya. Di sungai Kali Bekasi sendiri di bagian-bagian tertentu sudah mengalami pendangkalan atau penyempitan. Penyebabnya, antara lain meningkatnya kegiatan masyarakat di sekitar sungai.

Aktivitas masyarakat di sekitar bantaran sungai yang cenderung merusak ekosistem sungai itu, misalnya, banyak warga pendatang dari luar Bekasi yang mencari hidup di Bekasi. Mereka mendirikan pemukiman berupa gubuk-gubuk liar di wilayah sempadan sungai sehingga selain merusak pemandangan juga menimbulkan sampah dan sumbatan.
Adapun antisipasi yang dilakukan pemerintah saat ini adalah membentuk satuan koordinator pelaksanaan penanggulanagan bencana alam, mendirikan posko-posko di titik-titik yang dinyatakan rawan tadi, selain itu juga tengah mempersiapkan logistik, antara lain menyeriakan tenda dan perahu karet.

Secara diplomatis Tjandra juga menghimbau kepada warga supaya mulai saat ini juga ikut menggalakan kebersihan lingkungan sungai. Misalnya dengan mengangkat sampah-sampah yang tergonggok di bantaran sungai. “Satuan yang kita bentuk ikut bekerjasama untuk memantau dan berkerja di daerah yang rawan itu,” katanya.

Pemerintah juga mengakui bahwa persoalan banjir ini sulit sulit dihentikan. Karena itu, kata Tjandra selalu berulang setiap kali musim penghujan tiba. Namun, tahun ini dengan antisipasi dari saat ini dan kerjasama dari masyarakat diharapkan bencana musiman itu tidak sampai menghancurkan perekonomian Kota Bekasi.

Sayangnya Tjandra tidak menyebutkan berapa alokasi anggaran untuk program penanggulangan bencana banjir ini. Tjandra hanya mengatakan saat ini pemerintah masih kekurangan anggaran sebab dana tersedot ke kantong anggaran lainnya.

Perumahan IKPN Bintaro Terendam Banjir Setinggi 2 Meter


Ratusan rumah di Perumahan Ikatan Keluarga Besar Pegawai Negeri Bintaro di Jalan Veteran, Jaksel, terendam luapan air Kali Pesanggrahan setinggi 1,5 meter-2 meter. Di RSKD Duren Sawit, Jaktim, genangan air terjadi di pintu gerbang, mengganggu akses publik.

Genangan di Perumahan Ikatan Keluarga Besar Pegawai Negeri (IKPN) Bintaro, Jakarta Selatan, membuat ratusan jiwa mengungsi. Posko pengungsian, seperti pada kejadian sebelumnya, terkonsentrasi di Masjid Al Humaira dan SDN 05 Bintaro.

”Tanggul sementara dari tumpukan karung berisi pasir itu tidak mempan menahan air. Air Kali Pesanggrahan terus masuk, Senin (25/10) malam sampai Selasa dini hari,” kata Naswan, warga setempat.

Sejak Senin malam, warga IKPN mengungsi. Sebagian warga telanjur terkepung banjir di rumahnya. Tim SAR gabungan dari Pemerintah Kota Jaksel, polisi, dan sukarelawan segera mengerahkan perahu karet untuk mengevakuasi mereka.

”Saya dan keluarga dijemput perahu karet Senin pukul 21.00. Untunglah, lebih aman di posko ini,” kata Lila, warga IKPN.

Wali Kota Jaksel Syahrul Effendi mengatakan, telah mengerahkan bantuan, baik makanan, obat-obatan, pakaian kering, selimut, perahu karet, maupun fasilitas kesehatan, seperti mobil klinik bagi korban banjir.

Selain di IKPN, banjir juga merendam tiga RW di Petogogan, Bukit Duri, dan Pondok Pinang. Kepala Satpol PP Jaksel Jurnalis mengatakan, mereka menyiagakan anggotanya untuk membantu warga korban banjir, antara lain dengan menyiapkan dua perahu karet di tiap lokasi banjir.

Bersihkan saluran

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pembangunan Muhammad Tauchid mengatakan, luasnya jaringan saluran drainase yang harus dibersihkan membuat Pemprov DKI Jakarta berencana menggerakkan warga untuk bekerja bakti membersihkannya. Kerja bakti dimulai pada November 2010.

”Warga diajak untuk membersihkan saluran drainase di lingkungan masing-masing. Pemprov DKI memfasilitasi karung untuk membungkus lumpur dan sampah serta pengangkutan untuk pembuangannya,” kata Tauchid.

Pembersihan saluran drainase mikro diperlukan untuk mencegah genangan di tingkat lingkungan. Selain itu, beban sedimentasi di saluran drainase penghubung dapat dikurangi karena lumpur dan sampah dibersihkan di saluran mikro.

Selama ini, kerja bakti untuk pembersihan saluran drainase berlangsung bersamaan dengan program perbaikan kampung. Kali ini, kerja bakti untuk pembersihan saluran drainase berlangsung di semua kelurahan dan diikuti pembuatan lubang biopori dan sumur resapan.

Kerja bakti juga digelar secara rutin setiap bulan sepanjang tahun dan tidak berorientasi proyek. Penanganan banjir harus melibatkan warga dan tidak mungkin dilakukan Pemprov DKI sendiri.

Wakil Gubernur DKI Prijanto meminta seluruh penduduk dan pengusaha menaati koefisien dasar bangunan agar sisa lahan dapat menjadi ruang terbuka hijau. Masyarakat dan pengusaha diminta secara proaktif untuk membuat lubang biopori dan sumur resapan agar air terserap ke tanah, bukan ke saluran drainase.

Pada Selasa genangan dan banjir di Jakarta Timur tidak seburuk sehari sebelumnya. Kemacetan lalu lintas pun tidak sekacau sebelumnya. Meski demikian, sejumlah genangan air masih berulang terjadi di terowongan jalan di persimpangan Cawang UKI (Universitas Kristen Indonesia), di depan Gedung Wijaya Karya, serta Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit.

Akses sulit

Camat Duren Sawit Wismark Yasabari mengatakan, genangan air di depan RSKD Duren Sawit tersebut terjadi karena saluran air menuju Banjir Kanal Timur (BKT) belum jadi.

Kepala Bagian Umum RSKD Dian secara terpisah mengatakan, genangan air yang terjadi di depan pintu gerbang RSKD menyulitkan akses ke RSKD.

”Padahal lembaga ini lembaga pelayanan umum. Kami sudah menyampaikan keluhan mengenai hal ini ke Wali Kota Jaktim, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” ujarnya.

Selain itu, genangan air di wilayahnya juga terjadi di Pondok Bambu di sekitar perumahan Cipinang Indah.

”Genangan air di daerah itu terjadi karena penyempitan Kali Sunter dan banyaknya bangunan liar yang berdiri di atas saluran. Bangunan liar itu sering kali menjadi sumber sumbatan sampah di kali,” ujar Wismark.

Dia menambahkan, hal serupa terjadi di Kelurahan Malaka Sari.

Wismark mengakui, kini Kali Jati Kramat yang bertemu dengan Kali Buaran menuju BKT sering meluap dan menimbulkan genangan karena adanya endapan lumpur.

”Saya menyampaikan seluruh persoalan ini kepada atasan sampai ke provinsi. Saya juga menyampaikan beberapa alternatif solusinya,” ucap Wismark.

Hujan yang turun Selasa belum membuat kawasan rawan banjir seperti di Cipinang Latihan, Cipinang Muara, Cipinang Besar Utara, dan Cipinang Besar Selatan terendam.

Genangan air di Kampung Pulo, Kampung Melayu, dan Jatinegara pun baru setinggi 20 sentimeter. Seperti biasa, genangan itu terjadi karena banjir kiriman dari Bogor.

Lokasi banjir

Traffic Management Centre Polda Metro Jaya mencatat, sedikitnya terdapat 17 lokasi banjir di Jakarta dan Kota Tangerang. Lokasi banjir kemarin meluas sampai Jalan Raya Bekasi, Jakarta Timur, dan Sunter, Jakarta Utara. Sementara itu, kemacetan masih terus terjadi sejak menjelang sore hingga malam hari.

Sore kemarin, sisa banjir setinggi 20 sentimeter sampai satu meteran berangsur surut. Genangan air terparah, yaitu di permukiman sekitar Kota Tangerang, mulai surut menjadi 40 sentimeter.

Genangan air di Jalan Daan Mogot di depan Samsat Polda Metro Jaya, hingga pukul 18.15 masih setinggi 30 sentimeter. Hal ini membuat arus lalu lintas di sana tersendat.

Kemacetan sampai Selasa malam masih terjadi di perempatan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Kendaraan di sana tidak bisa bergerak karena para pengemudi saling menyerobot jalan. Lalu lintas dari Pejompongan ke Patal Senayan pun padat.

Kondisi hampir sama terjadi di Casablanca arah ke Tebet, Jaksel dan Kampung Melayu, Jaktim. Di Jakarta Barat, terjadi kepadatan arus lalu lintas di Jalan Panjang ke arah Kedoya. Lalu lintas Jalan Tol Tomang ke Cawang padat merayap, sementara di arah sebaliknya lalu lintas bergerak perlahan.

Banjir Di Jalan Antasari Cipete Cilandak Memakan 1 Korban Terseret Arus Banjir


Dian Nur Arfianti atau Yanti (21) ditemukan tewas tersangkut di bantaran Kali Krukut, tepatnya di gorong-gorong Jalan Haji Naim III, Cilandak, Selasa (26/10). Sehari sebelumnya, Yanti dinyatakan hilang terperosok di saluran air di Jalan Antasari, Cipete, Jakarta Selatan.

Yanti adalah warga Jalan Damai RT 03 RW 05, Pejaten Timur. Saat banjir di Jakarta, Senin (25/10) malam, Yanti mengendarai sepeda motor memboncengkan adiknya di kawasan Antasari. Genangan air yang melebihi 30 sentimeter di Antasari menyebabkan sepeda motor Yanti mogok. Yanti pun mendorong sepeda motornya berupaya menembus genangan. Tidak dinyana, Yanti justru terperosok ke saluran air atau gorong-gorong yang tidak tertutup dengan baik.

”Tidak lama setelah dilaporkan terseret arus di gorong-gorong, Tim SAR turun sekitar pukul 20.00, Senin. Kemudian pencarian dihentikan pukul 00.00 dan dilanjutkan Selasa pukul 06.00. Pukul 09.00 baru ditemukan,” kata Serda Marinir Batalyon Intai Amfibi Ali Maskur yang tergabung dalam tim SAR, Selasa.

Selain marinir, anggota satuan polisi pamong praja (satpol PP), anggota Kepolisian Sektor Metro Cilandak, dan warga setempat ikut membantu pencarian Yanti.

Jasad Yanti, mahasiswi Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), dibawa ke RS Fatmawati untuk divisum. Dari hasil visum, ada sejumlah luka di kepala dan sekujur tubuh. Luka di bagian kepala diduga karena terbentur benda keras saat terperosok dan terseret arus.

Burhanudin, ayah Yanti yang menjemput jasad anaknya di RS Fatmawati, mengatakan, hanya bisa pasrah.

”Sangat sedih, sama sekali tidak menyangka bakal seperti ini. Namun, syukur jasadnya bisa cepat ditemukan,” katanya.

Siswa dievakuasi

Banjir yang terjadi Senin malam juga menyebabkan kompleks SMA Tarakanita I di Jalan Pulo Raya, Petogogan, Jakarta Selatan, terendam. Dampaknya, hingga Selasa kemarin, kegiatan belajar-mengajar terganggu.

Anggota Satpol PP Jakarta Selatan pada Senin malam dikerahkan untuk mengevakuasi 50 siswa dan 15 guru yang terjebak banjir. Mereka dilaporkan sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, tetapi akhirnya tidak bisa keluar dari kompleks sekolah karena banjir setinggi hampir 2 meter telah mengepung. Menunggu dievakuasi, siswa dan guru mengungsi ke lantai dua sekolah mereka.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Selatan Slamet Widodo mengatakan, meski aktivitas terganggu bukan berarti kegiatan belajar-mengajar terhenti. Pihak sekolah SMA Tarakanita berinisiatif memindahkan lokasi kegiatan belajar-mengajar ke Gereja Santa bagi pelajar SMA I Tarakanita dan Aula Gereja Barito.

Jika banjir surut dan pembersihan kompleks sekolah selesai, aktivitas di SMA I Tarakanita bakal berlangsung normal kembali.

Longsor di Depok

Dari Kota Depok, Jawa Barat, dilaporkan longsor kembali terjadi di bibir aliran sungai. Musibah ini terjadi di Kali Baru, Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, yang mengakibatkan tujuh lapak usaha warga rusak. Sebagian lapak ambruk ke dasar kali, sebagian yang lain miring ke arah bibir kali.

Tiga warga terperosok bersama lapaknya yang ambruk ke dasar Kali Baru. ”Sebelum lapak saya ambruk, saya dengar kreteg, kreteg, ambruk semua. Saya ikut jatuh bersama lapak di kali. Alhamdulillah, saya tidak apa-apa,” kata Wasripah (61), salah seorang pemilik lapak yang terperosok ke dasar kali, Selasa (26/10) di lokasi kejadian.

Wasripah terlihat lemas dan menggigil ketika Kompas menemuinya di salah satu rumah warga setempat. Dia kaget, tidak mengira terjadi longsor karena hujan di Jatijajar tidak begitu deras. Musibah ini terjadi sekitar pukul 16.00 setelah hujan mengguyur sejak pukul 15.00. Sampai pukul 19.00, proses pemindahan barang-barang warga yang berharga masih berlangsung.

Adapun tujuh lapak yang rusak karena longsoran talut Kali Baru itu antara lain dua warung kopi, penjual kaca mobil, dua lapak tambal ban, bengkel motor, dan bengkel mobil. Lapak tersebut rata-rata seukuran 5 x 3 meter yang berdiri persis di bibir Kali Baru. Talut kali itu hanya berupa tanah setinggi sekitar 15 meter dari air kali.

Tidak hanya itu, lima sepeda motor turut jatuh ke dasar Kali Baru yang mengalir dari Bogor menuju Kali Cipinang. Jalan Raya Bogor-Jakarta di sekitar kejadian terlihat retak.

Juru Air Kecamatan Tapos Djuhardi mengaku sudah berkali-kali mengingatkan warga agar tidak berjualan di tempat itu karena tidak layak huni. Namun, warga mengabaikan peringatan itu. Di sepanjang Kali Baru, terutama di ruas perbatasan Cibinong, Kabupaten Bogor, sampai ke Kompleks Perumahan Hubad, terdapat ratusan bangunan yang berada di bibir kali.

Seiring hujan yang terus turun, ancaman longsor terjadi di sejumlah titik. Daerah rawan longsor itu terdapat di bibir Kali Baru (Kelurahan Jatijajar, Tapos), Kali Sugutamu (Kelurahan Bakti Jaya, Sukmajaya), Kali Ciliwung (Kelurahan Kemiri Muka, Beji), dan Kali Cipinang (Kelurahan Suka Maju, Tapos).

Jakarta Lumpuh Total Akibat Banjir … Fauzi Bowo Minta Masyarakat Maklum


Pengendara sepeda motor menggunakan jasa penarik gerobak saat menyeberangi genangan air setinggi sekitar 1 meter di Jalan Hasyim Ashari, Pedurenan, Ciledug, Tangerang, Banten, Selasa (26/10). Selain memutus jalur transportasi, banjir luapan Kali Angke tersebut juga merendam ratusan rumah di Kompleks Ciledug Indah I dan II.

Bencana banjir dan kemacetan parah yang terjadi hari Senin (25/10) mencerminkan buruknya sistem drainase di Jakarta. Hari Selasa, sebagian besar warga Jakarta cemas bencana banjir akan berulang. Beberapa titik genangan yang cukup lebar dan dalam terlihat di Jalan Bulevar Barat, Jalan Perintis Kemerdekaan, dan Jalan Pluit Barat.

Camat Kelapa Gading Jupan R Tampubolon mengatakan, banyaknya genangan air terjadi karena banyaknya saluran air di kawasan Kelapa Gading yang belum dikuras. Ini dikarenakan banyak saluran air yang masih berada di bawah tanggung jawab pengembang. ”Ada 41 titik saluran air yang belum bisa dikuras oleh Sudin Tata Air karena masih berada di bawah tanggung jawab pengembang,” kata Jupan.

Timbo Sugiharjo, Lurah Pluit, mengatakan, pihaknya sering menguras saluran air setiap minggu, tetapi untuk mengangkat lumpur diperlukan peralatan khusus.

Irvan Amtha, Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Utara, saat dikonfirmasi menjelaskan, pihaknya akan segera melaksanakan pengurasan lumpur di kawasan itu.

Sementara itu, di Jakarta Selatan, kegiatan bersih-bersih dan pengerukan saluran langsung dilakukan sepanjang hari Selasa kemarin. Tumpukan karung berisi lumpur dan sampah terlihat antara lain di Jalan Ciledug Raya, M Saidi Raya-Bintaro, Tentara Pelajar, Fatmawati, dan Lebak Bulus.

”Di sini awal tahun ini sudah dibersihkan, tetapi lihat saja ini, sudah penuh lagi lumpurnya,” kata Tisno, pekerja pengeruk saluran di Cipulir, Jakarta Selatan.

Dibongkar

Di Jakarta Barat, Suku Dinas PU Tata Air tengah merampungkan pembongkaran ratusan bangunan yang berdiri di atas saluran air. Sebanyak 75 persen dari 200 saluran air penghubung di Jakarta Barat tertutup bangunan, seperti lapak, warung, gudang, dan rumah tinggal.

Selain membongkar bangunan, petugas juga mengeruk saluran air agar mencapai kedalaman ideal 3,5 meter. Di Jakarta Barat, gorong-gorong terhitung masih bagus penyerapannya karena dasarnya tanah. Namun, karena ada bangunan permanen dan semipermanen di atasnya, air akhirnya tidak bisa masuk ke gorong-gorong. Dengan demikian, air tidak mengalir sehingga timbul genangan yang lama saat hujan deras.

Di Jalan Pintu Besar, sekitar Kawasan Kota Tua, kemarin, para pekerja tampak menggali saluran air. Di beberapa bagian terlihat saluran tersebut mulai mendangkal sehingga harus dikeruk agar bisa menampung dan mengalirkan lebih banyak air.

”Dengan tingginya curah hujan ditambah pasang air laut, luapan air akan ke mana-mana. Pengerukan saluran air dan sungai memang menjadi kuncinya,” kata Kepala Suku Dinas PU Tata Air Jakbar Heryanto.

Tidak kerja total

Pengamat perkotaan Nirwono Joga mengatakan, kemacetan parah yang terjadi hari Senin disebabkan Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak bekerja secara total.

”Genangan terjadi karena drainase tidak berfungsi baik. Hal ini menunjukkan pekerjaan normalisasi drainase tidak tuntas. Padahal, sebelum musim hujan datang November nanti, pengerjaan drainase wajib ditingkatkan sampai 24 jam sehari,” kata Nirwono, Selasa.

Fakta di lapangan, genangan ternyata muncul di lokasi yang lebih kurang sama. Menurut Nirwono, hal ini seharusnya bisa diantisipasi lebih awal oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

”Seharusnya sudah ada strategi yang langsung diterapkan ketika genangan muncul. Berapa jumlah petugas yang harus diterjunkan di titik-titik genangan, pemilihan jalur alternatif, hingga tetap menjaga ketertiban warga berlalu lintas,” kata Nirwono.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, lanjut Nirwono, bisa memanggil pemimpin kedua dinas itu untuk mempertanggungjawabkan kinerja mereka. Jangan sampai kemacetan parah hari Senin lalu memperburuk citra Fauzi Bowo, apalagi dia semakin dianggap tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengentaskan Jakarta dari kemacetan dan banjir.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Ery Basworo mengatakan, sampai saat ini perbaikan sistem drainase terus dilakukan. Saluran drainase di Jalan Thamrin, misalnya, sedang dikerjakan sehingga aliran air belum lancar.

Dinas PU sedang memperlebar persimpangan saluran, menambah pompa di sistem Kali Cideng, dan menambah kemiringan dari Jalan Thamrin ke Kali Cideng agar air lebih cepat mengalir.

Di sisi lain, Nirwono mengingatkan bahwa kejadian hari Senin lalu juga akibat perilaku buruk warga Jakarta. Buang sampah seenaknya dan perilaku buruk berkendara terbukti jadi bumerang, merugikan diri sendiri.

Sudah bekerja keras

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, pihaknya sudah bekerja keras untuk membersihkan dan mengoptimalkan saluran drainase. Namun, saluran drainase yang ada tidak mampu menampung air dari hujan yang sangat deras dengan curah 111 milimeter selama tiga jam itu.

”Genangan di Sarinah langsung surut karena saluran drainase sudah diperbaiki. Genangan di beberapa kawasan lain juga cepat surut,” kata Fauzi menjelaskan.

Fauzi meminta masyarakat memaklumi banjir pada hari Senin malam lalu sebagai kejadian luar biasa. Hujan dengan curah semacam ini pernah memicu banjir besar pada tahun 2007.

Sementara itu, pengerukan 13 sungai utama di Jakarta belum dapat dilakukan karena masih menunggu peraturan presiden yang bakal terbit akhir Oktober ini. Pengerukan itu diperlukan untuk meningkatkan daya tampung sungai.

Stasiun Palmerah Kebanjiran Kereta Api Jurusan Tanah Abang-Serpong Tidak Beroperasi


Hujan deras pada Senin (25/10/2010) sore dari pukul 15.00 menyebabkan Stasiun Kereta Api Palmerah kebanjiran. Akibatnya, pihak PT KAI menghentikan semua perjalanan kereta.

“Dari laporan petugas di lapangan, Stasiun Kereta Api Palmerah kebanjiran sampai 30 sentimeter,” kata Mateta Rijalulhaq, Humas PT KAI Daops 1 ketika dihubungi wartawan, Senin (25/10/2010).

Menurut Mateta, banjir di Stasiun Palmerah mengakibatkan rel kereta api tidak bisa dilalui. “Rel kereta kena banjir. Kami hentikan semua perjalanan kereta api karena tidak mau mengambil risiko,” kata Mateta.

Mateta melanjutkan, pihaknya tak mau ambil risiko memberangkatkan kereta karena hujan menggerus batu-batuan penyangga rel. “Kalau batu-batunya tergerus, rel bisa naik, kereta bisa anjlok,” katanya.

Selain itu, kata Mateta, bila nekat dijalankan, air hujan akan mengenai mesin kereta dan bisa mengakibatkan kerusakan. “Kita tunggu sampai airnya surut, baru kereta berjalan. Tapi info terakhir, air naik lagi,” katanya.

Sampai saat ini, kereta jurusan Tanah Abang-Serpong dan sebaliknya tidak bisa berjalan.

Humas PT KA Daops 1, Mateta Rijalulhaq mengatakan pihaknya memberhentikan perjalanan kereta api yang melalui stasiun kereta api Palmerah, Jakarta Pusat, akibatnya banyak penumpang kereta yang terlantar.

“Banyak penumpang kereta api yang terlantar karena perjalanan dihentikan,” kata Mateta ketika dihubungi wartawan, Senin ( 25/10/2010 ).

Mateta mengatakan terpaksa menghentikan perjalanan kereta api karena banjir yang menggenangi rel kereta api setinggi 30 sentimeter. “Banjir di stasiun Palmerah terjadi karena rel kereta posisinya lebih rendah daripada tinggi jalan,” ujar Mateta.

Untuk solusinya, Mateta mengatakan hanya bisa menunggu air surut. “Penyedotan air dan cara lainnya tidak bisa. Kita menunggu air di Kanal Barat surut, biar bisa jalan lagi,” ujarnya.

Kalau nekat dijalankan, Mateta menuturkan akan mengakibatkan resiko yang tinggi. “Air menggerus batu-batuan penyangga rel. Relnya bisa naik, dan membuat kereta anjlok,” kata Mateta.

Perjalanan kereta di stasiun Palmerah berhenti dari pukul 16.46 WIB. Sampai saat ini, kereta jurusan Tanah Abang – Serpong dan sebaliknya tidak bisa berjalan.