Pembangunan Saluran Irigasi Di Takalar Terhambat Anomali Cuaca


Para petani di Kabupaten Takalar dan Wajo, Sulawesi Selatan, kecewa dengan lambannya pembangunan jaringan irigasi teknis. Sawah tadah hujan tidak efektif menghadapi anomali cuaca.

Tamsiah (38), petani di Desa Pallalakkang, Kecamatan Galesong Utara, Takalar, Kamis (18/11), mengaku baru satu kali panen dari lahan seluas 0,5 hektar. Dua kali masa panen sebelumnya, April dan Juli, ia gagal panen akibat curah hujan tinggi. ”Hampir seluruh sawah di Galesong Utara terendam air,” katanya.

Hal serupa dialami Nurhadi (40), petani di Desa Kampung Baru, Kecamatan Gilirang, Kabupaten Wajo. Sawahnya seluas 0,75 hektar hanya menghasilkan 2 ton gabah berkadar air lebih dari 25 persen. ”Pemerintah perlu membangun jaringan irigasi teknis karena sawah tadah hujan tidak efektif menghadapi cuaca ekstrem,” kata Nurhadi.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Sulsel Soeprapto Budisantoso mengatakan, luas sawah tadah hujan di Sulsel mencapai 200.000 hektar atau 25 persen dari total persawahan. Sejak tahun 2000, Pemerintah Provinsi Sulsel mengajukan program pembangunan tiga bendungan di Gilirang (Wajo), Pamukulu (Takalar), dan Kelara-Kareloe (Jeneponto). Namun, pemerintah pusat belum mengalokasikan anggaran.

Gagal capai target

Pengadaan beras petani oleh Bulog di Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap, Jawa Tengah, tahun 2010 dipastikan tidak mencapai target. Dari target 65.000 ton beras, baru terealisasi 41.183 ton.

Kepala Bulog Subdivisi Regional IV Banyumas Witono, Kamis, mengatakan, hal itu akibat anomali cuaca yang membuat kualitas beras petani di bawah standar yang ditetapkan Bulog.

”Kadar air gabah petani tinggi, 28-29 persen. Saat diolah menjadi beras menguning. Beras Bulog nanti untuk masyarakat sehingga harus selektif,” katanya.

Selain itu, tahun ini harga beras dan gabah di tingkat petani relatif tinggi, di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Banyak petani, pedagang beras, bahkan mitra kerja Bulog memilih menjual beras ke pedagang besar. Pada bulan Oktober-November ini beras di penggilingan mencapai Rp 5.600-Rp 5.900 per kilogram. Padahal, HPP beras Rp 5.060 per kg di penggilingan.

Seiring menyusutnya area panen padi, harga gabah di Karawang, Jawa Barat, terus naik. Sedikitnya 91.957 hektar dari 97.144 hektar sawah yang ditanami padi pada musim tanam gadu telah dipanen dan segera menyusul 5.187 hektar sisanya.

Harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani, Kamis, berkisar Rp 4.700 per kg. Menurut Asep Saefudin, petani di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, harga gabah kering panen (GKP) berkisar Rp 4.300 per kg. Harga saat panen bulan lalu Rp 3.700-Rp 3.900 per kg.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Karawang Sasmita Alkaidar menyatakan, produktivitas padi di Karawang pada musim tanam gadu (MT 2010) 6,64 ton GKP per hektar. Produktivitas musim sebelumnya (MT 2009/2010) 7,36 ton GKP per hektar. Anomali cuaca dan serangan organisme pengganggu tanaman dinilai memicu penurunan itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s