Tsunami Malnutrisi Pasti Terjadi Pada Anak Anak Pada Tahun 2050


Dunia pada tahun 2050 tetap menghadapi ancaman malnutrisi pada anak-anak meski mulai saat ini juga kita menghentikan emisi gas rumah kaca. Untuk mengatasinya, dibutuhkan sekitar 7 miliar dollar AS per tahun untuk melakukan penelitian pangan.

Problem naiknya harga pangan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang sehingga diperkirakan pada selepas 2050 akan muncul ”ancaman yang sifatnya bergulir”. Harga pangan yang amat tinggi ini akan meningkatkan sekitar 20 persen jumlah anak-anak yang mengalami malnutrisi, menambah jumlah 25 juta sekarang. Pada 2050, harga pangan bisa menjadi dua kali lipat.

Berdasarkan analisis pakar meteorologi, diperkirakan suhu bumi meningkat 6,4 derajat celsius pada abad mendatang. Hal itu disampaikan oleh peneliti senior Gerald Nelson dari Institut Riset Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI).

Tim peneliti IFPRI yang berbasis di Washington membuat 15 skenario populasi dan pendapatan dalam model komputer. Hasilnya menunjukkan, ”perubahan iklim menyebabkan kondisi kesejahteraan pada masa depan memburuk, terutama di kalangan penduduk termiskin dunia”. Studi itu diungkapkan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB, Pertemuan Para Pihak ke-16 Kerangka Kerja PBB atas Konvensi Perubahan Iklim (COP-16 UNFCCC), Kamis (2/12).

Peningkatan harga disebabkan turunnya produktivitas akibat pemanasan global, pergeseran pola hujan, dan naiknya permintaan akibat pertambahan penduduk. Perubahan di India, misalnya, suhu yang menghangat membuat tanaman pangan matang lebih cepat. Luas lahan pun menyempit. Pertanian yang terganggu di antaranya di sub-Sahara di Afrika, Asia Selatan, Amerika Latin, dan Meksiko.

Dengan mitigasi, diperkirakan harga pangan akan naik 18 persen, paling optimistis, dan bisa mencapai 34 persen untuk perkiraan paling pesimistis, bahkan naik 100 persen untuk jagung.

Hasil utama COP-16 di Cancun adalah disepakatinya skema baru pengganti Protokol Kyoto yang tahap pertama akan selesai pada 2012—saat 37 negara dan Uni Eropa diwajibkan menurunkan emisi rata-rata 5,2 persen pada 2020 dibandingkan level emisi 1990—AS tidak turut meratifikasi karena menuntut India dan China juga diwajibkan.

Kini perseteruan AS-China tampaknya menyusut, tinggal bagaimana memonitor dan mengukur emisi gas rumah kaca. Pemimpin perunding China, Su Wei, mengatakan, ”Kami ingin mendorong proses dan membuat kesepakatan di Cancun.”

Sementara itu, kesepakatan baru penurunan emisi dipastikan tidak akan tercapai di Cancun. Jepang pun tak ingin memperpanjang Protokol Kyoto.

Sementara itu, dalam siaran persnya, Ketua Delegasi Indonesia Rachmat Witoelar menegaskan, hasil dan keputusan yang dicapai di Cancun harus berupa suatu kesepakatan yang bersifat adil dan berimbang bagi semua pihak, terutama demi kesetaraan berbagai elemen yang dimandatkan dalam Bali Action Plan— yang mencakup berbagai elemen yang menjadi unsur krusial negosiasi, seperti visi bersama (shared vision), mitigasi, adaptasi, REDD+, pendanaan, alih teknologi, dan capacity building.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s