Harga Cabai Naik Tajam Akibat Cuaca Tidak Menentu


Pedagang makanan mencari siasat untuk tetap menggunakan cabai. Sebagian mencampurnya dengan bahan makanan lain agar volume tetap sama. Kenaikan harga cabai membuat mereka terdesak sehingga harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar.

”Harga cabai sudah mahal. Saya harus mencampur sambal dari cabai dengan saus tomat kemasan biar tambah banyak. Kalau tidak saya campur begini, uang saya akan habis untuk beli cabai,” tutur Rohim (27), penjual bakso malang di Depok, Jawa Barat.

Rohim mengaku tak biasa melakukan hal itu jika harga cabai normal. Dengan campuran sambal dengan saus tomat kemasan itu, dia dapat memakainya sebagai bahan pelengkap bakso selama tiga sampai empat hari.

Saat ini, harga cabai di pasaran bahkan lebih tinggi daripada pendapatan bersih Rohim setiap hari, Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Rohim membeli cabai rawit merah untuk campuran sambal. Sementara harga cabai rawit merah di pasaran kini menembus Rp 60.000 per kilogram untuk kualitas bagus.

Tak hanya Rohim, Parno (55), penjual gorengan di Depok, bahkan memilih cabai busuk untuk membuat sambal. Cabai busuk itu dibeli di Pasar Kemiri Muka senilai Rp 12.000 per kg. Dia mengaku tak ada dana lebih banyak untuk membeli cabai. ”Kalau orang tidak mau makan, ya saya buang,” katanya.

Kenaikan harga cabai, menurut sejumlah pedagang, karena stok yang terbatas. Hal ini terjadi seiring dengan cuaca buruk yang terjadi belakangan. Karena itu, pedagang berebut mencari cabai kualitas bagus ke pedagang grosir.

Asep (35), pedagang sayur di Pasar Kemiri Muka, menyiasati dengan mendatangi langsung Pasar TU Bogor. Di pasar ini, dia memesan langsung cabai ke pedagang grosir langganannya. ”Dengan memesan terlebih dahulu, saya ada jaminan mendapat barang dengan harga relatif miring,” katanya.

Komunikasi dengan pedagang grosir, atau istilahnya bandar cabai, terus berlangsung setiap hari. Asep tidak memiliki akses langsung ke petani sehingga memesan ke bandar.

Saat ini harga tertinggi untuk semua jenis cabai di Pasar Kemiri Muka adalah cabai rawit merah senilai Rp 60.000 per kg. Padahal, seminggu sebelumnya harga cabai jenis ini Rp 40.000 per kg. Sementara cabai merah besar dijual Rp 40.000 per kg yang sebelumnya Rp 30.000 per kg. Harga yang sama juga berlaku untuk cabai merah keriting.

Asep mengaku tingkat penjualan tidak begitu berpengaruh meskipun ada kenaikan harga. Setiap hari dia dapat menjual cabai merah keriting 40 kg per hari, rawit merah 10 kg per hari, dan cabai merah besar 5 kg per hari.

Rifda (25), warga Cipayung, Depok, tetap membeli cabai meskipun harga naik karena kebutuhan. Dia membutuhkan rata- rata 0,5 kg seminggu untuk keperluan memasak. ”Sebenarnya kenaikan harga ini memberatkan, tetapi namanya kebutuhan mau apa lagi,” katanya.

Tuti, pemilik warung tegal di Palmerah, Jakarta Barat, menuturkan, harga cabai memang tinggi, tetapi tidak mungkin tidak dibeli. ”Paling masakan jadi tidak terlalu pedas karena cabainya dikurangi,” ujarnya, Selasa (14/12).

Harga cabai rawit termasuk paling tinggi di Pasar Grogol, mencapai Rp 53.000 per kg. Harga itu naik dari sebelumnya Rp 40.000 per kg. Sementara harga cabai merah Rp 46.000 per kg, naik dari Rp 35.000 per kg.

Kepala Suku Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Jakarta Barat Tati Budiarti mengatakan, pasokan cabai di Jakarta Barat berkurang karena kendala cuaca sehingga harganya tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s