Categories
Kriminalitas

Pemimpin Redaksi Pelangi Maluku Tewas Karena Meliput Perdagangan BBM Gelap Di Maluku


Alfrets Mirulewan, Pemimpin Redaksi mingguan Pelangi Maluku, Jumat dini hari (16/12) ditemukan tewas secara mengenaskan. Korban ditemukan terapung di laut di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, dengan kondisi tubuh memar yang diduga akibat pukulan benda tumpul.

Menurut kerabatnya, Alfrets Mirulewan telah hilang sejak Selasa (14/12). “Alfrets sudah hilang selama tiga hari sejak Selasa lalu dan baru ditemukan pagi tadi dalam keadaan tewas di Pantai Nama,” kata Hendrik Laudiun, salah seorang kerabat Alfrets yang dihubungi Tempo dari Kupang, Jumat (17/12).

Leksi Kikilai, rekan korban sesama wartawan, mengatakan Alfrets terakhir terlihat sedang melakukan liputan investigasi perdagangan gelap bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Maluku Barat Daya. Ia melakukan investigasi lantaran beberapa waktu belakangan terjadi kelangkaan BBM di kabupaten itu.

“Dia (korban) melakukan liputan investigasi dan meminta saya menemani,” kata Leksi ketika dihubungi, Jumat (17/12).

Saat itu, tepatnya pada Selasa (14/12) malam, Leksi dan korban mengunjungi Pelabuhan Pantai Nama di Kabupaten Maluku Barat Daya untuk meliput transaksi gelap BBM. Keduanya mengendarai sepeda motor. Setibanya di sana, Leksi ditinggal sendirian di pelabuhan, sementara korban membuntuti sebuah truk yang mengangkut BBM dari pelabuhan menuju ke Desa Yawuru, yang berlokasi tak jauh dari situ.

Di tengah jalan membuntuti truk, kata Leksi, keberadaan korban kepergok oleh seorang penumpang truk. Penumpang itu sempat menanyai identitas korban. “Mereka juga sempat adu mulut karena pertanyaan dari penumpang truk. Tapi akhirnya dia (korban) terpaksa membuka identitasnya sebagai wartawan,” ujar dia.

Usai itu, korban kembali ke pelabuhan untuk menemui Leksi. Mereka berdua sempat berbincang dengan petugas pelabuhan. Tak lama kemudian petugas mengarahkan keduanya keluar dari pelabuhan dan menutup pintu pelabuhan.

Ketika keduanya sedang berbincang di pelataran parkir pelabuhan, lanjutnya, ternyata truk yang tadi dibuntuti korban kembali masuk ke dalam pelabuhan. “Namun dengan sopir yang berbeda,” kata dia.

Menduga ada kejanggalan, korban memutuskan kembali masuk ke pelabuhan untuk menanyai sopir truk itu. Mendapat pertanyaan dari korban, sopir truk mengatakan ia akan mengangkut BBM milik petugas kesyahbandaran (petugas pelabuhan). “Katanya untuk pembuatan rumah,” imbuh Leksi menirukan ucapan sopir truk.

Setelah melakukan investigasi malam itu, korban lantas mengantar Leksi pulang ke kosnya. Kejadian itu merupakan saat terakhir Leksi berjumpa dengan korban. Leksi tidak pernah kontak dengan korban hingga mendengar kabar tewasnya korban dini hari tadi. “Dia baru ditemukan jam 03.00,” kata dia.

Leksi, yang dari pagi tadi menunggu proses visum di Puskesmas Kisar, sempat melihat kondisi tubuh korban sebelum dibawa masuk ke puskesmas. Jenazah korban, kata Leksi, ditemukan dalam keadaan membengkak. Terdapat luka lecet di kedua kakinya. “Lengan kiri korban ada lebam kebiruan,” ujarnya.

Leksi mengatakan, sepeda motor yang mereka gunakan ketika melakukan liputan investigasi pada Selasa malam ternyata dijumpai di pelabuhan. “Motor itu masih utuh, tidak ada lecet sedikit pun di bodinya,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Desa Wonreli, Edi mengaku pihaknya baru menerima laporan tentang temuan mayat di Pantai Nama, sehingga belum diketahui penyebab kematiannya apa. “Saya juga baru dapat laporan siang ini. Rencananya sore ini dimakamkan,” katanya.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surabaya mendesak polisi mengungkap kasus tewasnya Alfrets Mirulewan secara transparan.

Sekretaris AJI Surabaya Andreas Wicaksono mengatakan pengungkapan kasus setidaknya bisa membuka tabir yang sebenarnya terhadap kematian Alfrets. “Informasi yang kami dapat, Alfrets meninggal dengan kondisi tubuh penuh memar bekas pukulan,” kata Andreas.

Alfrets Mirulewan, Pemimpin Redaksi Mingguan Pelangi, Maluku, yang ditemukan tewas dini hari tadi, terakhir terlihat sedang melakukan liputan investigasi perdagangan gelap bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Maluku Barat Daya. Ia melakukan investigasi lantaran beberapa waktu belakangan terjadi kelangkaan BBM di kabupaten itu.

“Dia (korban) melakukan liputan investigasi dan meminta saya menemani,” kata Leksi Kikilai, rekan korban yang juga sesama wartawan, ketika dihubungi, Jum’at (17/12).

Saat itu, tepatnya pada Selasa 14 Desember 2010 malam, Leksi dan korban mengunjungi Pelabuhan Pantai Nama di Kabupaten Maluku Barat Daya untuk meliput transaksi gelap BBM. Keduanya mengendarai sepeda motor. Setibanya di sana, Leksi ditinggal sendirian di pelabuhan, sementara korban membuntuti sebuah truk yang mengangkut BBM dari pelabuhan menuju ke Desa Yawuru, yang berlokasi tak jauh dari situ.

Di tengah jalan membuntuti truk, kata Leksi, keberadaan korban kepergok oleh seorang penumpang truk. Penumpang itu sempat menanyai identitas korban. “Mereka juga sempat adu mulut karena pertanyaan dari penumpang truk. Tapi akhirnya dia (korban) terpaksa membuka identitasnya sebagai wartawan,” ujar dia.

Usai itu, korban kembali ke pelabuhan untuk menemui Leksi. Mereka berdua sempat berbincang dengan petugas pelabuhan. Tak lama kemudian petugas mengarahkan keduanya keluar dari pelabuhan dan menutup pintu pelabuhan.

Ketika keduanya sedang berbincang di pelataran parkir pelabuhan, lanjutnya, ternyata truk yang tadi dibuntuti korban kembali masuk ke dalam pelabuhan. “Namun dengan sopir yang berbeda,” kata dia.

Menduga ada kejanggalan, korban memutuskan kembali masuk ke pelabuhan untuk menanyai sopir truk itu. Mendapat pertanyaan dari korban, sopir truk mengatakan ia akan mengangkut BBM milik petugas kesyahbandaran (petugas pelabuhan). “Katanya untuk pembuatan rumah,” imbuh Leksi menirukan ucapan sopir truk.

Setelah melakukan investigasi malam itu, korban lantas mengantar Leksi ke pulang kosnya. Kejadian itu merupakan saat terakhir Leksi berjumpa dengan korban. Leksi tidak pernah kontak dengan korban hingga mendengar kabar tewasnya korban dini hari tadi. “Dia baru ditemukan jam 03.00,” kata dia.

Leksi, yang dari pagi tadi menunggu proses visum di Puskesmas Kisar, sempat melihat kondisi tubuh korban sebelum dibawa masuk ke puskesmas. Jenazah korban, kata Leksi, ditemukan dalam keadaan membengkak. Terdapat luka lecet di kedua kakinya. “Lengan kiri korban ada lebam kebiruan,” ujarnya.

Leksi mengatakan, sepeda motor yang mereka gunakan ketika melakukan liputan investigasi pada Selasa malam ternyata dijumpai di pelabuhan. “Motor itu masih utuh, tidak ada lecet sedikit pun di bodinya,” kata dia.

Categories
Berbudaya Kreatif Lain Lain

Banyuwangi Luncurkan Inovasi Perpanjangan KTP 5 Menit


Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, hari ini meluncurkan program perpanjangan kartu tanda penduduk (KTP) hanya lima menit. Program ini dibuat untuk memperingati Hari Jadi Banyuwangi ke-239.

Program tersebut diluncurkan langsung oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di kantor Kecamatan Wongsorejo, Sabtu (18/12).

Menurut Anas, masyarakat Banyuwangi kini bisa mengurus perpanjangan KTP hanya dalam waktu lima menit. Sedangkan untuk pembuatan KTP dijamin selesai dalam waktu 30 menit. “Seluruh pelayanan KTP bisa dilakukan di kantor kecamatan,” kata dia.

Sebelumnya, pembuatan atau perpanjangan KTP hanya dilayani di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Banyuwangi, Setio Harsono, mengatakan pelayanan KTP di tingkat kecamatan ini dipastikan dapat meningkatkan jumlah penduduk yang memiliki KTP. Hingga akhir 2010, kata dia, masih ada 500 ribu orang yang belum memiliki KTP.

Hal itu, diduga karena warga malas mengurus KTP di kantor Dinas Kependudukan yang jaraknya jauh dari rumah mereka.

Menurut Setio, ada dua petugas khusus di setiap kecamatan yang akan melayani pembuatan dan perpanjangan KTP. “Mereka kita beri insentif Rp 200 ribu per bulan,” tambahnya.

Categories
Kriminalitas

Tanpa Kerja Keras Seorang Anak Indonesia Mampu Memiliki Rekening Senilai 18 Milyar


Terdakwa Bahasyim Assifie pernah membuka 17 rekening sejak tahun 2004 hingga 2010 untuk menyimpan harta kekayaannya. Selain atas nama dirinya, Bahasyim juga membuka rekening atas nama Sri Purwanti, istrinya, dan dua putrinya, yakni Winda Arum Hapsari dan Riandini.

Suyanto, akuntan yang dihadirkan pihak Bahasyim, menjelaskan, dari 17 rekening, sebanyak 6 rekening atas nama Bahasyim telah ditutup antara tahun 2004 dan 2008. Di salah satu rekening atas nama Bahasyim masih tersimpan Rp 244 ,8 juta per 1 Maret 2010. “Sebelas rekening lain ada saldonya,” kata Suyanto saat bersaksi dalam sidang Bahasyim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (14/12/2010).

Berdasarkan laporan akuntansi yang dipaparkan Suyanto, Bahasyim menyebar harta ke rekening milik istri dan dua putrinya. Sri Purwanti memiliki empat rekening di BNI, yakni rekening dengan saldo Rp 41,7 miliar per 8 April 2010, Rp 6,5 juta per 31 Maret 2010, Rp 2,2 juta per 28 Februari 2010, dan 681.147,37 dollar AS per 28 Februari 2010.

Sementara itu, Winda memiliki empat rekening di BNI, yakni rekening dengan saldo Rp 17,7 miliar per 8 April 2010, saldo Rp 64,6 juta per 5 April 2010, saldo Rp 5,6 juta per 31 Maret 2010, dan saldo Rp 5,1 juta per 28 Februari 2010. Adapun Riandini memiliki dua rekening di BNI, yakni rekening dengan saldo Rp 1,1 miliar per 9 April 2010 dan Rp 217 juta per 31 Maret 2010.

Suyanto mengatakan, saat melakukan audit, ia pernah menanyakan asal usul uang sebanyak itu ke Bahasyim. “Dia bilang ada usaha-usaha dari tahun 1972. Ada usaha jual beli mobil, fotografi, jual bahan bangunan, sampai investasi di China dan terakhir investasi di BNI,” katanya.

Ketika ditanya, kenapa Bahasyim tidak menyimpan uang di rekening atas namanya, Suyanto menjawab, “Itu kebijaksanaan keluarga”. Dia mengaku tidak tahu mengapa Bahasyim mengosongkan enam rekeningnya dan memindahkan ke rekening keluarganya. “Itu hak Pak Bahasyim,” katanya.

Seperti diberitakan, Bahasyim didakwa melakukan korupsi senilai Rp 1 miliar saat menjabat Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Jakarta Tujuh tahun 2005. Mantan kepala kantor di beberapa kantor pajak dan pejabat di Bappenas itu juga didakwa melakukan pencucian uang senilai Rp 932 miliar.

Categories
Pariwisata Perekomonian dan Bisnis

10000 Wisatawan Masih Rajin Mengunjungi Maluku Tahun 2010


Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Maluku tahun 2010 hampir 10.000 orang. Jumlah ini tertinggi sejak kerusuhan melanda Maluku 10 tahun silam. Hal ini terutama karena acara Sail Banda bulan Juli-Agustus lalu.

Kepala Dinas Pariwisata Maluku Florence Sahusilawane mengatakan hal itu di sela-sela acara Maluku Travel Fair 2010 yang dibuat Asosiasi Agen Perjalanan Wisata (Asita) Maluku bersama maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Ambon, Maluku, Selasa (14/12).

Sementara itu, kondisi pariwisata DI Yogyakarta berangsur pulih meski status Gunung Merapi masih Siaga. Kunjungan wisatawan domestik ke Keraton Yogyakarta bahkan sama seperti sebelum erupsi Merapi. Wisatawan mancanegara diperkirakan akan kembali setelah status Merapi normal.

Demikian menurut pengelola Museum Keraton Yogyakarta, Brahmana, dan Kepala Dinas Pariwisata DIY Tazbir.

Beragam kegiatan digelar Dinas Pariwisata DIY untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke DIY.

Untuk liburan Natal dan Tahun Baru, tingkat pemesanan hotel di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, mencapai 50 persen. Semua kamar diperkirakan akan habis dipesan. Tahun lalu tingkat hunian 100 persen.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Singkawang Mulyadi Qamal, Selasa, mengatakan, obyek wisata baru membuat kunjungan wisata ke Singkawang meningkat, yaitu Zinka Zoo dan Rindu Alam melengkapi Pantai Pasir Panjang yang sudah lebih dulu terkenal.

Moda transportasi

PT Kereta Api Indonesia (KAI) memperkirakan volume penumpang kereta api selama Natal dan Tahun Baru 2011 mencapai 2.007.357 orang, meningkat 0,5 persen ketimbang tahun lalu yang 1.998.140 penumpang.

Kepala Humas PT KAI Sugeng Priyono, Selasa, di Bandung mengatakan, curah hujan tinggi berpotensi menyebabkan banjir dan longsor di beberapa titik perjalanan. Untuk itu, pihaknya menyiapkan lokomotif cadangan, crane, dan alat material untuk siaga, seperti pasir, bantalan kayu bekas, dan jembatan darurat.

Arus penumpang kereta api dari Purwokerto, Jawa Tengah, ke Jakarta diprediksi melonjak menjelang masa pergantian tahun

Categories
Bencana Alam

Abu Gunung Bromo Sudah Mencapai Jember


Dinas Kesehatan Jember rencananya akan membagikan 1.200 masker penutup hidung dan mulut di Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Persiapan ini menyusul hujan abu Gunung Bromo yang dilaporkan mencapai perbatasan Lamongan-Jember.

Kepala Humas Dinas Kesehatan Jember Yumarlis, Selasa (14/12), mengemukakan, pihaknya mendapat laporan, di daerah Lumajang yang berbatasan dengan Jember terjadi hujan abu vulkanik. ”Kami tetap mengantisipasi agar jangan sampai menimbulkan bencana bagi masyarakat di perbatasan,” ujarnya.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Jember Sandi Suwardi Hasan secara terpisah mengatakan, pihaknya menerima laporan tentang terjadinya hujan abu di sekitar Kecamatan Kencong, Jombang, dan Sumberbaru, Jember. ”Memang tidak merata ke seluruh wilayah itu, tetapi masyarakat sebaiknya tetap berhati-hati,” katanya.

Koordinator Bagian Pelayanan PMI Jember Yunus Syamsuri menambahkan, pukul 11.30 kemarin abu menebar di sekitar Kecamatan Jombang. ”Tapi, kemudian menghilang. Abu (vulkanik itu kemungkinan) terbawa angin yang bertiup ke arah timur,” katanya.

Tanggal 6 Desember lalu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menurunkan status Gunung Bromo, yakni dari Awas (level IV) menjadi Siaga (level III).

Dieng

Masih terkait aktivitas vulkanik, dari Banjarnegara dilaporkan, Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah dipastikan aman untuk kegiatan pariwisata. Hal itu ditegaskan

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara Suyatno menyusul beredarnya isu soal meningkatnya ancaman letusan vulkanik di Kawasan Dieng pascaerupsi Gunung Merapi.

Menurut Suyatno, isu tersebut membuat banyak wisatawan membatalkan kunjungannya ke Dieng.

Selain keberadaan candi-candi, wisata di Dieng mengandalkan sejumlah obyek wisata alam yang mempunyai kaitan dengan aktivitas vulkanik pada masa lalu, seperti kawah Sikidang, Sileri, Candradimuka, Telaga Merdada, Telaga Balekambang, Telaga Menjer, dan Sumur Jalatunda. Ada sembilan kawah di dataran tinggi ini yang sekarang masih aktif, termasuk kawah Sikidang dan Sileri, dua kawah yang paling sering dikunjungi wisatawan.

”Pemerintah Kabupaten Banjarnegara selalu berkoordinasi dengan pos pengamatan gunung api dalam menentukan kelayakan pariwisata di kawasan Dieng. Sejauh ini, dari hasil pengamatan masih aman,” kata Suyatno meyakinkan.

Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Dieng Tunut Pujiarjo mengatakan, hasil pemantauan seismik sejak Oktober 2010, getaran gempa di Dieng umumnya didominasi gempa-gempa tektonik yang tidak ada kaitannya dengan aktivitas vulkanik Gunung Dieng.

Hasil pengamatan visual terhadap kawah-kawah seluruh Gunung Dieng, kondisi seluruhnya dalam batas normal. ”Pemunculan gas beracun dalam konsentrasi rendah masih terdapat di beberapa titik kantong gas racun,” ujar Tunut.

Berdasarkan data tersebut di atas, kata Tunut, aktivitas vulkanik Gunung Dieng secara keseluruhan masih dalam tingkat aktif normal. ”Dengan demikian, Dieng masih layak untuk kunjungan wisata,” katanya.

Categories
Demokrasi Kriminalitas

Narapidana Politik Tersangka Perusakan Lembaga Pemasyarakatan


Narapidana politik Papua, Filep Karma dan Buchtar Tabuni, serta tiga narapidana kasus kriminal ditetapkan sebagai tersangka penghasutan dan perusakan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Jayapura, Papua, pada 3 Desember 2010. Kini mereka ditahan di tahanan Kepolisian Daerah Papua di Jayapura.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah ( Polda) Papua Komisaris Besar Wachyono, Selasa (14/12) di Jayapura, mengatakan, tiga narapidana lainnya yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Dominggus Pulalo, Alex Elopere, dan Lopes Karubaba. ”Mereka bersama Filep dan Buchtar melakukan perusakan ruang tahanan di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Kelas II A Jayapura. Itulah sebabnya, mereka ditahan di Polda Papua dengan status tersangka,” kata Wachyono,

Meski kelima orang itu berstatus narapidana, lanjut Wachyono, mereka tetap dapat diproses hukum ketika melakukan pelanggaran hukum yang baru. Selain kasus perusakan, mereka juga dituding menghasut penghuni LP Abepura untuk melakukan tindakan anarki dengan memecahkan kaca bagian depan gedung LP.

Seperti diberitakan, penghasutan dan perusakan LP terjadi setelah salah seorang narapidana, Miron Wetipo, tertembak mati oleh aparat gabungan Polri/TNI. Saat itu tim gabungan Polri/TNI tersebut sedang melakukan penggerebekan dan pengejaran terhadap orang tak dikenal yang diduga menembak mati Riswandi Yusuf, warga sipil di Kampung Nafri, Jayapura.

Tanggal 28 November 2010 itu, Miron Wetipo bersama lima narapidana lainnya melarikan diri dari LP Kelas II A Jayapura ke arah Perbukitan Abepura. Miron akhirnya tertembak di bagian leher. Setelah mengetahui Miron tewas tertembak, lima tersangka tersebut melakukan perusakan di LP. Selain itu, mereka juga menghasut narapidana lainnya untuk melawan petugas.

”Karena itu, mereka dikenai pasal berlapis, yakni perusakan dan penghasutan dengan ancaman masing-masing 6 dan 7 tahun penjara,” kata Wachyono.

Bintang kejora

Filep Karma selama setahun terakhir ditahan sebagai narapidana dengan hukuman 15 tahun penjara akibat mengibarkan bendera bintang kejora—simbol separasi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara Buchtar Tabuni dijatuhi hukuman tiga tahun penjara terkait kasus makar.

Dominggus Pulalo dan Lopes Karubaba adalah narapidana dengan hukuman dua tahun penjara. Sementara Alex Elopere adalah narapidana dengan hukuman tiga tahun penjara terkait kasus kriminal murni.

Hari Melanesia

Di ibu kota Papua Barat, Manokwari, kemarin aparat Polres Manokwari menangkap delapan aktivis yang dipimpin Melkianus Bleskadit. Mereka ditangkap saat sedang bersiap-siap mengibarkan bendera bintang 14, sebagai simbol kejayaan rumpun bangsa Melanesia.

Upaya pengibaran bendera itu mereka lakukan seusai menggelar ibadah syukur. Menurut mereka, tanggal 14 Desember adalah hari kemerdekaan Negara Melanesia. Peringatan syukur dilakukan di Lapangan Golkar Sanggeng, Manokwari

Categories
Perekomonian dan Bisnis

Peredaran Gula Rafinasi Ancam 3,5 Juta Jiwa Petani dan Buruh Pabrik Gula


Rencana pemerintah membebaskan penjualan gula rafinasi dinilai bakal menyengsarakan 3,5 juta penduduk, khususnya petani tebu dan pekerja pabrik gula serta keluarga mereka.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil, Senin (13/12), mengatakan, di Indonesia ada 850.000 petani. ”Sementara jumlah karyawan per pabrik di 58 pabrik gula rata-rata 5.500 orang,” ujarnya.

Dengan asumsi setiap petani dan pekerja mempunyai satu istri dan satu anak, berarti ada sekitar 3,5 juta orang yang terlibat dalam industri gula nasional. ”Itu belum menghitung pekerja yang terlibat di sektor pengangkutan tebu,” kata Arum, Senin di Surabaya.

Petani dan pekerja pabrik gula, kata Arum, terancam kehilangan penghasilan bila gula rafinasi dibebaskan penjualannya.

Komentar Arum dilontarkan terkait pernyataan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Rabu lalu. Menurut Mari, gula rafinasi akan dijual bebas.

”Gula rafinasi lebih murah biaya produksinya daripada gula tebu rakyat. Gula rafinasi berbahan baku gula impor yang tinggal dicuci oleh produsen. Gula rafinasi ditetapkan hanya untuk industri. Kalau sampai dibebaskan, pasar gula dalam negeri akan hancur. Kehancuran industri gula sama dengan menyengsarakan petani tebu dan karyawan pabrik gula,” ujar Arum.

Pernyataan sebaliknya disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara (Sulut) Sanny Parengkuan, Kepala Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah (Sulteng) Muhammad Hajir Hadde, serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maluku Burhanudin di Manado, Sulut. Mereka menegaskan, tiga provinsi itu justru meminta Kementerian Perdagangan mengizinkan peredaran gula rafinasi.

Categories
Kebodohan Mega Transportasi

Perjalanan Kereta Api Jakarta Lumpuh Setelah PT. KAI Memperbaiki Serentak Kereta Api Yang Sudah Tidak Layak Jalan


Dua hari ini Yudi (38) kelabakan berangkat kerja. Kereta rel listrik yang melintas di Stasiun Cilebut selalu sesak, belakangan lebih padat dibandingkan hari-hari biasa. Untuk naik ke kereta saja tidak mungkin. Senin lalu, Yudi memilih tidak masuk kerja lantaran tidak kebagian ruang berdiri di kereta.

Sejak pukul 06.00, saya tunggu kereta, tapi kereta yang lewat sangat penuh. Bisa saja saya naik, tapi ada risiko jatuh. Daripada jatuh, saya pilih pulang saja sekitar pukul 07.00 karena belum dapat kereta,” tutur Yudi yang masuk kerja pukul 07.00.

Kondisi ini terjadi lantaran 43 perjalanan kereta rel listrik (KRL) di Jabodetabek dibatalkan. Pembatalan perjalanan kereta itu diputuskan menyusul rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) menarik kereta api—baik KRL maupun lokomotif—yang sudah tidak laik jalan untuk diperbaiki.

Selasa, Yudi—yang mengantongi upah Rp 41.000 per hari— memilih naik bus setelah mendengar pengumuman, sejumlah KRL tidak diberangkatkan. Namun, karena perjalanan dengan bus tidak secepat KRL, Yudi terlambat 45 menit di tempat kerja.

Berebut kereta juga dialami Susi. Beruntung Susi naik kereta dari Stasiun Bogor atau stasiun paling awal di jalur Bogor-Jakarta. Biasanya, penumpang memang berjejal di dalam kereta. Namun, dua hari terakhir kepadatan penumpang melebihi hari biasanya. ”Untuk bernapas saja susah,” ucap Susi yang bekerja sebagai buruh di kawasan Juanda, Jakarta Pusat.

Tiket KRL yang relatif terjangkau—Rp 1.500-Rp 11.000 sekali jalan—membuat moda transportasi ini banyak diburu orang. Apalagi KRL terhindar dari kemacetan di jalan raya sehingga waktu tempuh relatif cepat. Dari Bogor hingga Gambir, misalnya, dibutuhkan waktu sekitar satu jam saja. Tidak heran apabila banyak warga yang memanfaatkan moda transportasi ini untuk mengantarkan dari sekitar rumah hingga ke lokasi kerja.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sudaryatmo adalah salah satu pelanggan KRL. Ia biasa menumpang kereta dari Stasiun Bojong Gede ke Stasiun Duren Tiga. ”Sebenarnya KRL merupakan transportasi publik yang paling baik dibandingkan transportasi publik lain kendati semua transportasi publik belum memberikan kenyamanan bagi penggunanya,” ucap Sudaryatmo.

Sama seperti Yudi dan Susi, dua hari terakhir Sudaryatmo juga merasakan sulitnya naik KRL lantaran padatnya penumpang. Sebelum perbaikan ini, tidak semua KRL yang ada beroperasi. Dari 386 KRL yang tersedia, hanya sekitar 340 unit yang beroperasi. Puluhan kereta lain sudah tua dan kerap rusak.

Penambahan kereta tidak sebanding dengan pertumbuhan penumpang. Dalam rencana bisnis PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ)—anak perusahaan PT KAI—2009-2013, ada rencana membeli 88 KRL bekas. Sementara tahun 2013 diperkirakan jumlah penumpang yang kini sekitar 500.000 orang per hari bakal mencapai 1,49 juta orang per hari.

Perbaikan bertahap

Kepala Humas PT KAI Daerah Operasi I Jabodetabek Mateta Rijalulhaq mengatakan, perbaikan KRL dilakukan bertahap. ”Kalau kerusakan tidak parah, kereta bisa beroperasi lagi. Akan tetapi, kalau kereta rusak parah, waktu perawatan bisa lama, bahkan kereta itu tidak bisa lagi beroperasi,” papar Mateta.

Ia belum bisa memastikan waktu yang dibutuhkan untuk pemeriksaan semua kereta.

Sekretaris Perusahaan PT KCJ Makmur Syaheran mengatakan, pihaknya meminta petugas di stasiun agar terus mengumumkan perjalanan kereta yang dibatalkan. Dengan begitu, calon penumpang bisa memilih moda transportasi lain apabila merasa terganggu dengan pembatalan perjalanan kereta api ini.

Dokter Sofyan, pengguna jasa KRL, menyayangkan pembatalan keberangkatan karena mengganggu aktivitas warga. Menurut dia, jika sarana KRL diperbaiki, hal itu bisa dapat mengurangi kemacetan di jalan.

”Persoalan KRL sering saya dengar. Tidak hanya pembatalan keberangkatan, tetapi juga sinyal yang hilang, mogok, atau persoalan lain,” katanya.

Sudaryatmo pun menyesalkan pembatalan perjalanan KRL. Mestinya jadwal KRL disusun memperhitungkan masa perawatan dan perbaikan kereta. Apalagi jadwal itu dibuat PT KAI, bukan konsumen. ”Pembatalan sepihak melanggar hak konsumen,” katanya.

Kekacauan perjalanan KRL ini menunjukkan masalah di level operator dan regulator perkeretaapian Indonesia. Di tingkat regulator, tidak ada dukungan terhadap perkeretaapian sebagai transportasi massal publik.

Peneliti transportasi dari Universitas Indonesia, Jachrizal, memahami keputusan direksi PT KAI membatalkan 43 perjalanan demi keamanan penumpang. Namun, katanya, keputusan itu membuat kepentingan masyarakat kalah.

Persoalan ini merupakan bagian dari sederet persoalan. Adapun persoalan mendasar perkeretaapian adalah perbaikan manajemen, seperti pengelolaan rel dan kereta. Dua hal ini dikelola manajemen berbeda.

Hal ini memprihatinkan, apalagi menjelang pemerintah membatasi penjualan bahan bakar minyak bersubsidi di Pulau Jawa mulai Maret 2011. Perbaikan transportasi publik merupakan salah satu agenda besar yang harus segera diperbaiki. Transportasi yang baik akan mendorong pengguna kendaraan pribadi memilih moda transportasi publik karena alasan kepraktisan, yakni mudah, lebih irit, dan tepat waktu.

Namun, jika pembangunan transportasi publik tak juga terwujud, bukan tak mungkin pemerintah menuai persoalan yang jauh lebih pelik

Categories
Demokrasi Kreatif Lain Lain

Pemerintah Buka Kartu Soal Besarnya Dana Penelitian Untuk Indonesia


Mengikuti paparan peneliti di Pusat Penelitian Perkembangan Iptek LIPI di Jakarta, Selasa (14/12), hadirin mendapatkan gambaran tentang berapa besar dana yang kini dicurahkan oleh pemerintah untuk penelitian, seberapa kuat tenaga peneliti yang ada di Indonesia, dan bidang-bidang penelitian apa yang paling menarik.

Wacana peneliti dan penelitian terdengar relevan justru ketika beberapa hari terakhir harian ini mengangkat isu kurang bergairahnya penelitian di Tanah Air. Namun, dari indikator yang diterbitkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemarin justru tampak dinamika penelitian dan pengembangan (litbang) di perguruan tinggi tidak redup sebagaimana dikhawatirkan.

Untuk tahun 2010 saja ada 42.083 peneliti lokal yang terlibat dalam kegiatan litbang di perguruan tinggi negeri. Data yang disampaikan LIPI ini bahkan dipertanyakan oleh penanggap Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendiknas Prof Suryo Hapsoro karena menurut ketentuan yang ada sekarang ini, setiap dosen adalah peneliti, dan untuk PTN yang ada, jumlah dosen tetap adalah 160.000 orang. Mahasiswa pun juga sebenarnya—dengan cara mereka sendiri—adalah komponen peneliti di lingkungan perguruan tinggi, antara lain mereka ada yang merancang nanosatelit mahasiswa.

Para peneliti Indonesia berkiprah dalam beragam bidang sains dan teknologi, dan empat bidang ilmu yang paling banyak diteliti adalah ilmu pertanian, teknologi, kedokteran, dan ekonomi. Keempat bidang di atas menyedot 51,57 persen jumlah peneliti yang ada.

Yang menarik, ilmu-ilmu kebumian dan antariksa hanya menarik bagi 748 peneliti. Kalau astronomi tetap bidang yang eksotik, ilmu-ilmu kebumian sudah waktunya bisa menarik minat orang muda Indonesia. Alasannya nyata, karena kondisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik membutuhkan lebih banyak lagi ahli gempa dan tsunami, serta ahli gunung berapi.

Publikasi

Luaran kegiatan litbang antara lain berupa publikasi, paten, prototipe, konsep/model/ teori, atau kontrak kerja sama litbang. Selain itu, menurut Siti Meiningsih—yang bersama rekannya, Nani Grace Simamora—memaparkan Indikator Iptek 2010, luaran juga diindikasikan dengan jumlah paten atau produk yang berhasil dikomersialisasikan.

Untuk publikasi internasional, kinerja empat PTN (IPB, UGM, UI, ITB) secara umum masih lebih unggul dibandingkan Filipina dan Vietnam, tetapi kalah jika dibandingkan dengan Singapura (yang unggul sangat jauh), Thailand, dan Malaysia.

Terkait dengan produk yang bisa dikomersialkan, Komisaris Utama PT Kalbe Farma Johannes Setijono yang menjadi salah seorang penanggap menyebutkan bahwa salah satu keberhasilan litbang adalah kalau hasilnya bisa mewujud sebagai merek dagang yang diakui.

Di era di mana inovasi sedang menjadi wacana yang kencang, hasil-hasil penelitian memang baru dirasakan manfaatnya bila ia bisa ditransformasikan menjadi produk yang layak jual. Di sini, konsep lain yang kini juga banyak disuarakan adalah technopreneurship, yaitu bahwa insinyur peneliti baru akan paripurna perannya bila ia sanggup memasarkan hasil karyanya. Kita bisa angkat lagi peringatan yang disampaikan dalam satu Kongres Persatuan Insinyur Indonesia bahwa tugas insinyur tidak cukup hanya membuat, tetapi juga menjual karyanya.

Namun, Prof Suryo Hapsoro kembali mengingatkan bahwa meski ada tarikan kuat untuk riset terapan, riset dasar jangan pernah dilupakan. Handphone yang kini menjadi peranti wajib (melebihi dompet) bagi kebanyakan orang bermula dari riset gelombang (radio).

Keseimbangan

Kini, secara ekonomi RI telah mencapai peringkat ke-15 di dunia (bila Uni Eropa digabung, menurut data yang disampaikan oleh Prof Nizam, Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi). Itu bisa saja membanggakan. Namun, dari peringkat daya inovasinya, RI masih di urutan ke-77.

Bila pertumbuhan ekonomi ingin dipacu lebih tinggi, tidak kurang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri telah mengakui bahwa peran inovasi iptek harus ditingkatkan. Itu pula yang menjadi alasan Presiden membentuk Komite Inovasi Nasional bersama Komite Ekonomi Nasional.

Meminjam momentum meningkatnya daya saing Indonesia, dari 54 ke 44, komitmen terhadap pemanfaatan iptek yang alamiahnya akan selalu diiringi oleh kegiatan litbang, patut diteguhkan kembali.

Perekonomian sudah baik bergerak dari berbasis sumber daya ke ekonomi yang didorong oleh efisiensi. Hal ini, menurut Nizam, akan lebih baik lagi bila menjadi ekonomi yang digerakkan oleh inovasi.

Bila inovasi canggih masih sulit atau perlu waktu, maka dari litbang yang ada bisa dikerahkan untuk mendukung industri manufaktur tingkat sederhana, seperti pembuatan cangkul.

Apa pun formulasinya, yang tak kalah penting adalah kembali mendengungkan semboyan iptek sebagai P4 atau prerequisite for progress, power, and prosperity (prasyarat bagi kemajuan, kekuasaan, dan kemakmuran).

Memang diakui, mewujudkan semboyan itu sendiri tidak mudah, justru ketika alam materialisme semakin banyak mendominasi kehidupan di sekeliling peneliti dan pekerja iptek, juga ketika regulasi dan anggaran yang tersedia belum sepenuhnya kondusif bagi langkah tersebut. Yang terakhir ini membuat peneliti fisika, misalnya, kesulitan mendapatkan peralatan baru karena kebijakan anggaran tak memungkinkan hal itu.

Categories
Perekomonian dan Bisnis Pertanian

Harga Cabai Naik Tajam Akibat Cuaca Tidak Menentu


Pedagang makanan mencari siasat untuk tetap menggunakan cabai. Sebagian mencampurnya dengan bahan makanan lain agar volume tetap sama. Kenaikan harga cabai membuat mereka terdesak sehingga harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar.

”Harga cabai sudah mahal. Saya harus mencampur sambal dari cabai dengan saus tomat kemasan biar tambah banyak. Kalau tidak saya campur begini, uang saya akan habis untuk beli cabai,” tutur Rohim (27), penjual bakso malang di Depok, Jawa Barat.

Rohim mengaku tak biasa melakukan hal itu jika harga cabai normal. Dengan campuran sambal dengan saus tomat kemasan itu, dia dapat memakainya sebagai bahan pelengkap bakso selama tiga sampai empat hari.

Saat ini, harga cabai di pasaran bahkan lebih tinggi daripada pendapatan bersih Rohim setiap hari, Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Rohim membeli cabai rawit merah untuk campuran sambal. Sementara harga cabai rawit merah di pasaran kini menembus Rp 60.000 per kilogram untuk kualitas bagus.

Tak hanya Rohim, Parno (55), penjual gorengan di Depok, bahkan memilih cabai busuk untuk membuat sambal. Cabai busuk itu dibeli di Pasar Kemiri Muka senilai Rp 12.000 per kg. Dia mengaku tak ada dana lebih banyak untuk membeli cabai. ”Kalau orang tidak mau makan, ya saya buang,” katanya.

Kenaikan harga cabai, menurut sejumlah pedagang, karena stok yang terbatas. Hal ini terjadi seiring dengan cuaca buruk yang terjadi belakangan. Karena itu, pedagang berebut mencari cabai kualitas bagus ke pedagang grosir.

Asep (35), pedagang sayur di Pasar Kemiri Muka, menyiasati dengan mendatangi langsung Pasar TU Bogor. Di pasar ini, dia memesan langsung cabai ke pedagang grosir langganannya. ”Dengan memesan terlebih dahulu, saya ada jaminan mendapat barang dengan harga relatif miring,” katanya.

Komunikasi dengan pedagang grosir, atau istilahnya bandar cabai, terus berlangsung setiap hari. Asep tidak memiliki akses langsung ke petani sehingga memesan ke bandar.

Saat ini harga tertinggi untuk semua jenis cabai di Pasar Kemiri Muka adalah cabai rawit merah senilai Rp 60.000 per kg. Padahal, seminggu sebelumnya harga cabai jenis ini Rp 40.000 per kg. Sementara cabai merah besar dijual Rp 40.000 per kg yang sebelumnya Rp 30.000 per kg. Harga yang sama juga berlaku untuk cabai merah keriting.

Asep mengaku tingkat penjualan tidak begitu berpengaruh meskipun ada kenaikan harga. Setiap hari dia dapat menjual cabai merah keriting 40 kg per hari, rawit merah 10 kg per hari, dan cabai merah besar 5 kg per hari.

Rifda (25), warga Cipayung, Depok, tetap membeli cabai meskipun harga naik karena kebutuhan. Dia membutuhkan rata- rata 0,5 kg seminggu untuk keperluan memasak. ”Sebenarnya kenaikan harga ini memberatkan, tetapi namanya kebutuhan mau apa lagi,” katanya.

Tuti, pemilik warung tegal di Palmerah, Jakarta Barat, menuturkan, harga cabai memang tinggi, tetapi tidak mungkin tidak dibeli. ”Paling masakan jadi tidak terlalu pedas karena cabainya dikurangi,” ujarnya, Selasa (14/12).

Harga cabai rawit termasuk paling tinggi di Pasar Grogol, mencapai Rp 53.000 per kg. Harga itu naik dari sebelumnya Rp 40.000 per kg. Sementara harga cabai merah Rp 46.000 per kg, naik dari Rp 35.000 per kg.

Kepala Suku Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Jakarta Barat Tati Budiarti mengatakan, pasokan cabai di Jakarta Barat berkurang karena kendala cuaca sehingga harganya tinggi.