Cina Benteng yang Perkuat Budaya Ibu Kota


Suara pukulan simbal (cai-cai), gong (nong), dan tambur musik pengantar barongsai seperti magnet yang menarik warga untuk segera masuk dalam ruangan pertemuan atau sering disebut Rumah Kawin ”Hengky” di Kampung Melayu, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Sabtu (19/2) sore.

Sontak, dalam sekejap ratusan pengunjung, yang sebagian sudah hadir sejak pagi hari, langsung mengerumuni dan memadati ruangan ajang pegelaran barongsai. Sebagian dari mereka terlihat berkulit hitam, mata besar, dan rambut ikal.. Ada lagi yang kulit hitam, mata sipit, dan rambut lurus.

Mereka menyaksikan Perkumpulan Barongsai Kwam Im Bio yang memainkan atraksi kesenian budaya Tionghoa itu. Atraksi itu merupakan pembukaan Festival Budaya Tionghoa 2001 yang berlangsung Sabtu dan Minggu (20/2).

”Festival ini bertujuan membangkitkan rasa cinta warga Cina Benteng terhadap budaya Tionghoa sekaligus ikut melestarikan budaya nenek moyang,” kata Ketua Panitia Festival Budaya Etnis Tionghoa Pemuda Tridharma Indonesia Provinsi Banten Aditiya Hermawan.

Keberadaan Cina Benteng memang berbeda dengan orang China kebanyakan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Budayawan Suma Mihardja dalam seminar Budaya Tionghoa Peranakan Tangerang, yang merupakan rangkaian acara festival tersebut, mengatakan, ”Adalah salah besar kalau orang Cina Benteng disebut sebagai pendatang atau orang asing.”

Meski sama-sama keturunan Tionghoa, menurut Suma, Cina Benteng adalah penduduk asli yang sudah lahir, besar, dan beranak pinak di Tangerang dan sekitarnya, berabad-abad.

Terbukti, budaya Tionghoa yang selama ini melekat dalam Cina Benteng sudah berbaur dan memperkuat budaya Indonesia, terutama dalam kesenian dan makanan. Sebut saja kesenian gambang kromong yang sudah menjadi kesenian tradisional di Tangerang, Jakarta, atau Betawi.

Begitu juga dalam penganan dan makanan tradisional di Tangerang dan Jakarta, antara lain dikenal penganan kue pepe, cucur, dan dodol. Sementara dalam makanan, ada laksa.

”Sebagai penduduk asli, Cina Benteng sudah menjadi bagian dari budaya Kota dan Kabupaten Tangerang serta Indonesia secara keseluruhan,” jelas Suma.

Setidaknya rasa memiliki itu pula yang mendorong Pemuda Tridharma Indonesia Provinsi Banten menggelar festival tersebut setiap tahun.

Mereka bukan sekadar ingin menunjukkan bahwa mereka eksis, melainkan juga ingin menunjukkan bahwa Cina Benteng menjadi bagian dari sejarah peradaban bangsa.

Seperti pemeo, ”bangsa yang besar, bangsa yang tak melupakan sejarah”. Sejarah Cina Benteng pun sudah menjadi bagian, bahkan memperkaya budaya Ibu Kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s