Dentuman Misterius Di Bawah Tanah Pada Tengah Malam Meluas Dari Trenggalek, Ponorogo Hingga Tulungagung


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasang empat alat pendeteksi gempa di Kabupaten Trenggalek. Mereka meneliti dentuman keras dari dalam bumi yang dilaporkan warga terjadi sejak tiga pekan terakhir.

Ketua tim peneliti PVMBG Heri Purnomo mengatakan penelitian ini merupakan tindak lanjut atas laporan warga tentang terjadinya suara dentuman dari dasar bumi. Suara yang diperkirakan berasal dari pergerakan lapisan tanah bagian bawah itu cukup meresahkan warga. “Kami memasang alat pendeteksi di empat kecamatan,” kata Heri, Rabu (23/2).

Keempatnya dipasang di Kecamatan Munjungan, Watulimo, Kampak, dan Dongko. Menurut Heri alat tersebut bisa mendeteksi getaran atau seisme hingga kedalaman 200 kilometer. Alat tersebut juga melaporkan sumber suara berkekuatan 1 hingga 3,2 skala richter. Pemantauan yang akan dilakukan selama tiga hari ke depan itu diharapkan bisa menjawab ketakutan warga terjadinya gempa bumi. Apalagi kawasan tersebut berdekatan dengan Pantai Laut Selatan yang memungkinkan terjadinya gelombang tsunami.

Sebelumnya tim PVMBG yang terdiri atas lima orang ini juga memasang alat serupa di empat titik Kabupaten Ponorogo. Mereka adalah Kecamatan Ngebel, Pulung, Pudak, serta Sooko. Di tempat ini juga dilaporkan terjadi suara dentuman dari dasar bumi yang meresahkan warga.

Hingga saat ini Heri belum bisa memastikan aktivitas yang terjadi di bawah bumi. Aktivitas tersebut bisa berupa tektonik ataupun vulkanik. Bahkan bisa saja hanya efek dari pergeseran tanah lambat seperti yang disampaikan Kepala PVMBG Surono di Bandung kemarin.

Masih menurut Heri, kejadian seperti ini cukup langka. Namun beberapa wilayah seperti Indonesia timur dan Sumatera kerap terjadi. Karena itu dia meminta masyarakat tidak terlalu khawatir. Rencananya PVMBG akan mengumumkan hasil penelitian itu dalam waktu dua pekan mendatang.

Bupati Trenggalek Mulyadi mengatakan, kedatangan tim PVMBG ini atas permintaan pemerintah setempat. Sejak tiga pekan terakhir wilayahnya kerap dilanda gempa berskala kecil. “Kami minta PVMBG menyelidikinya,” katanya.

Hasil penelitian itu selanjutnya akan dipergunakan untuk menyusun peta kerawanan Kabupaten Trenggalek.

Fenomena dentuman misterius yang muncul dari dalam perut bumi terus meluas. Setelah Kabupaten Trenggalek dan Ponorogo, dentuman serupa juga dirasakan warga Kabupaten Tulungagung.

Sejumlah warga di lima desa Kecamatan Besuki mengaku mendengar suara dentuman seperti ledakan. Suara tersebut menggema dan kerap terdengar pada malam hari. “Sudah satu minggu ini,” kata Wahyu Aji, 30, warga Desa Tanggul Turus, Kamis (24/2).

Menurut dia, dentuman serupa juga dirasakan warga di desa sekitarnya. Di antaranya adalah Desa Siyoto Bagus, Sedayu Gunung, Tanggung Turus, Kebo Ireng, serta Desa Besuki. Warga yang ketakutan melaporkannya kepada perangkat desa yang meneruskannya ke Pemerintah Kabupaten Tulungagung.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Tulungagung Mariyani mengatakan, kelima desa yang merasakan dentuman itu berdekatan dengan wilayah pesisir pantai selatan. Kawasan ini bahkan berbatasan langsung dengan Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang telah merasakan fenomena serupa. “Mungkin merembet dari Trenggalek,” katanya.

Untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam, Pemerintah Kabupaten Tulungagung telah melaporkan hal itu kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tretes. Hingga saat ini belum diterima laporan kerusakan akibat dentuman misterius tersebut.

Gede Swantika, Ketua Tim Peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung yang diterjunkan ke Trenggalek, mengaku telah mendengar munculnya dentuman di Tulungagung. Rencananya tim tersebut akan memperluas area penyelidikan di lima desa di Tulungagung untuk mengetahui asal usulnya. “Kami juga akan kesana (Tulungagung),” kata Gede.

Hingga saat ini Gede masih meyakini jika dentuman tersebut merupakan dampak dari pergerakan tanah lambat. Aktivitas ini diduga dipicu oleh tingginya curah hujan yang terjadi dalam satu tahun terakhir. “Pergerakan ini akan berhenti sendirinya jika sudah mencapai kesesuaian letak,” katanya.

Hasil penyelidikan sementara yang dilakukan lima tim PVMBG di Trenggalek dan Ponorogo juga menemukan banyaknya patahan di wilayah itu. Patahan tersebut telah mengalami pergerakan hingga menimbulkan suara bergemuruh. “Kami masih mendalami penyebab pergerakan itu,” ujar Gede.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s