Siaga Tsunami Di Indonesia Akibat Gempa Berskala 8.9 Ritcher Di Jepang


Meski ancaman tsunami Jepang tak terjadi di wilayah Indonesia, kepanikan dan kesiapsiagaan terjadi pada Jumat (11/3) petang di Manokwari, Jayapura, Ambon, Ternate, dan Manado, mengantisipasi gempa besar 8,9 skala Richter dan tsunami di Jepang, Jumat siang.

Sebagian kecil warga pesisir kota Manokwari di Kampung Borobudur sekitar pukul 18.00 panik setelah perangkat kampung mengumumkan agar warga waspada dan mengungsi. Banyak warga yang mengemasi barang-barang mereka dan menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Di Jayapura, kepanikan terjadi sekitar pukul 18.00 saat penduduk menyelamatkan diri dengan kendaraan umum dan kendaraan pribadi ke Entrop dan Abepura yang merupakan daerah perbukitan. Jalanan di Jayapura yang biasanya meriah, menjelang malam, mendadak jadi lengang.

Emi dan Abu Rumkel, keduanya penduduk Kampung Borobudur, Manokwari, mengaku khawatir jika terjadi tsunami. Emi membawa kedua anaknya dan bersama temannya menuju ke bagian kampung yang lebih tinggi. Sedangkan Abu Rumkel mengatakan, warga panik karena pengalaman buruk peristiwa tsunami pada 1996 di Biak.

Menurut Yulson Sinery, petugas pemantau meteorologi dari BMKG Kelas III Manokwari di Papua Barat, ada enam daerah yang berpotensi tsunami, yakni Manokwari, Kota Sorong, Sorong Selatan dan utara, Raja Ampat, dan Teluk Wondama. Sedangkan di Provinsi Papua ada di delapan lokasi.

Situasi Ambon (Maluku) dan Ternate (Maluku Utara) nyaris sama dengan Papua. Kepanikan warga terlihat sekitar pukul 17.00. Jalan-jalan ramai oleh hiruk-pikuk orang yang hendak mengungsi ke perbukitan Gunung Gamalama. Transportasi laut dari Ternate ke Pulau Halmahera atau Pulau Tidore dihentikan sementara.

Di Kota Ambon, sebagian warga di pesisir Waihaong memilih mengungsi ke perbukitan Kebun Cengkeh. Jaringan telekomunikasi di Maluku dan Maluku Utara sekitar pukul 17.00 terganggu.

Di Jayapura, warga menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi untuk mengungsi ke daerah perbukitan Entrop dan Abepura.

Kepanikan luar biasa melanda sebagian warga Sulut. Sebagian penduduk bahkan mengungsi ke Kota Tomohon, kota pegunungan, 30 kilometer dari Manado.

Anjuran mengungsi

Pemprov Sulut memberikan pengumuman melalui pengeras suara di setiap kelurahan di Kota Manado. Sedangkan Gubernur Sulut SH Sarundajang, melalui berita radio dan televisi lokal, meminta warga untuk mengungsi.

Menurut Sarundajang, Sulut akan menjadi tuan rumah pelaksanaan latihan penanggulangan bencana internasional, termasuk tsunami, 15 Maret mendatang. Ia berharap warga tetap tenang dan tidak panik.

Namun, situasi lalu lintas di jalan-jalan protokol kota Manado kacau-balau. Warga berebut keluar meninggalkan Jalan Piere Tendean di kawasan Boulevard di bibir pantai Manado. Jalan Bethesda dan Teling macet total.

Di Kepulauan Talaud dan Kota Bitung, ribuan warga mengungsi ke kawasan perbukitan. Warga Gorontalo Utara memilih mengungsi sejak sore.

Di Bali, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menyatakan, tsunami Jepang tidak berdampak besar terhadap Indonesia. Meski demikian, pemerintah daerah di wilayah rawan, seperti di Sulut, Papua, dan Maluku Utara yang berhadapan langsung dengan Laut Pasifik, harus tetap waspada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s