Monthly Archives: April 2011

Prabowo: NII Bukan Islam


Eks Panglima Kostrad Letnan Jenderal Purnawirawan Prabowo Subianto menyebut gerakan Negara Islam Indonesia (NII) tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. “NII tidak sesuai dengan kaidah Islam,” kata Prabowo usai Rapat Kerja Dewan Masjid Indonesia di Batam, Jumat 29 April 2011.

Menurut Prabowo, meski gerakan itu bernama Negara Islam Indonesia, NII bukan Islam karena Islam mengajarkan kedamaian, bukan pemberontakan. “NII bukan Islam,” kata Prabowo.

Prabowo juga mengutuk terorisme yang disinyalir dilakukan aktivis NII. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengatakan gerakan NII bertujuan memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Karena itu, tidak ada ruang bagi kelompok, organisasi, dan semua aktivitas yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Patrialis di Denpasar.

Menurut Menteri, gerakan semacam NII dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. “Kita ini bersaudara. Gerakan semacam itu bisa memecah belah Indonesia. Apa ingin negara ini hancur? Tidak ada pentingnya gerakan semacam itu,” katanya.

Anggota Komisi III DPR RI I Gusti Ketut Adhiputra mengatakan keberadaan NII harus dikaitkan dengan legalitas organisasi tersebut. “Kita harus tetap bicara aturan. Badan hukumnya harus ada. Kalau tidak ada, itu artinya ilegal, dan wajib ditelusuri lebih jauh aktivitasnya,” katanya.

Nama NII santer disebut setelah sejumlah pelaku teror bom di Serpong dan bom buku ternyata adalah anggota organisasi tersebut. NII disebut-sebut kelanjutan dari gerakan Darul Islam yang didirikan oleh Kartosoewirjo pada 1949. Organisasi ini belakangan terpecah-pecah dalam berbagai faksi. Salah satu faksi yang terkenal adalah NII KW 9.

Sejumlah kalangan menyebut faksi ini dipimpin Panji Gumilang, pemimpin Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat. Tapi, kepada Tempo, Panji jelas-jelas membantah. “Saya pemimpin pesantren Al Zaytun, bukan KW 9,” katanya beberapa waktu lalu.

Panji sejak muda dikenal aktif dalam gerakan Islam. Bermula saat di Gerakan Pemuda Islam (GPI) dan menjadi Ketua Cabang GPI Pandeglang. Menurut penelusuran Tempo, di masa itu pula Panji mulai melibatkan diri dengan NII. Mengutip penjelasan Abdul Qadir Djaelani, mantan Ketua Umum PP GPI, ”Dia memang Ketua NII KW 9 Wilayah Banten.”

Pada 1978, Panji masuk tahanan Laksusda di Jalan Jawa, Bandung, Jawa Barat. Dia dituduh terlibat peledakan bom molotov karena memprotes masuknya aliran kepercayaan ke dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara. ”Kami ditahan sekitar enam bulan sebelum Sidang MPR 1978,” kata Mursalin Dahlan, teman satu selnya di Bandung. ”Dia rajin salat lima waktu serta berbagai amalan sunah. Juga kerap membantu memijati tahanan lain yang sakit,” tutur Mursalin kepada Majalah Tempo.

Warga NII Boleh Melacur dan Merampok Asal Hasilnya Disetor Untuk Kepentingan NII


Ketua Lembaga Penelitian dan Pengakajian Islam (LPPI), Muhammad Amin Djamaludin, menyatakan para korban pengikut Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9), bertobat karena dikejar utang untuk kepentingan infak dan sedekah. “Mereka melakukan zina saja boleh untuk membayar infak,” katanya kepada Tempo, di kantornya, di Jakarta Pusat, Kamis, 28 April 2011.

Menurut Amin, karena keanggotaan bersifat wajib dan mengikat, para anggota biasanya kesulitan ketika harus membayar infak. Dalam kondisi terjepit, tindakan apa pun dihalalkan sepanjang dimaksudkan sebagai ikhtiar untuk membayar utang infak dan sedekah. Uang hasil melacur (berzina), merampok, maling, dan tindakan buruk lainnya, tak dilarang asalkan uangnya dipakai untuk membayar infak.

“Dalam menjalankan roda organisasi, kelompok ini tak segan menggunakan beragam cara untuk mendapatkan dana,” kata Amin. “Mulai dari infak sedekah yang bersifat mengikat hingga menghalalkan segala cara yang bertentangan dengan Islam.”

Dia mencontohkan berdasarkan laporan satu keluarga yang telah menjadi anggota NII KW 9 sejak lama. Mereka mengeluh akibat besarnya sedekah yang harus ditanggung. “Tak membayar infak dan sedekah, sifatnya jadi uutang,” jelas Amin.

Menurut Amin, gerakan NII KW 9 akhir-akhir ini semakin meresahkan masyarakat. Para mahasiswa dan pelajar berpengetahuan agama minim jadi sasaran empuk. “Cara mereka mempesona sehingga banyak yang tertarik,” kata dia.

Lembaga ini mencatat jumlah pengikut NII KW 9 pada tahun 2005 mencapai 500 ribu orang lebih. Mereka tersebar di 28 provinsi dengan struktur lengkap. “Organisasinya dari Aceh sampai Papua,” kata Amin.

Daftar Daerah Yang Menjadi Kantong Gerakan NII (Negara Islam Indonesia) Di Indonesia


Badan Intelijen Negara (BIN) mendeteksi sejumlah kawasan yang diduga menjadi daerah kantong penyebaran Darul Islam (DI) dan Negara Islam Indonesia (NII). ” Ada beberapa wilayah,” kata Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto.

Gerakan NII kabarnya dilakukan dengan mencuci otak, yaitu memasukkan doktrin yang menyebarkan kebencian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para anggota yang baru direkrut wajib menyerahkan uang untuk organisasi.

Menurut BIN, sejumlah daerah di luar Jakarta terdeteksi sebagai daerah kantong penyebaran NII. Di antaranya, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Wilayah-wilayah itu antara lain, kawasan Klender (Jakarta Timur), Pondok Gede (Bekasi), dan beberapa tempat di Tangerang.

Sutanto menambahkan, akan mengambil tindakan hukum jika di lokasi yang diindikasikan sebagai kantong-kantong NII itu terbukti terlibat dalam gerakan tersebut. “Kalau secara hukum terbukti, tentu harus ada bukti secara hukum. Akan ditindak semua, seperti sudah kita lakukan di Jawa Barat,” ujarnya.

Sutanto hanya menegaskan aparat akan mengambil tindakan hukum jika wilayah yang dicurigai itu terbukti terlibat dalam doktrinasi NII. “Kalau secara hukum terbukti, akan ditindak semua,” ujarnya. “Seperti sudah kami lakukan di Jawa Barat.”

Sutanto membantah adanya dugaan keterlibatan anggota TNI dalam aksi NII Komandemen Wilayah 9. “Jangan berpikiran seperti pada masa lalu, ini sudah reformasi,” ujarnya. Ia juga menegaskan BIN sudah sangat transparan, sehingga masyarakat bisa mengetahui apa saja yang telah dilakukan institusinya.

Kelompok radikal Negara Islam Indonesia (NII) sudah menyusup ke birokrasi. Pemerintah Provinsi Banten mengungkapkan sejumlah anggota NII diketahui menjadi pegawai negeri sipil di wilayah itu.

“Saya sudah menerima laporan terkait keberadaan anggota NII yang saat ini masuk jajaran pemerintahan atau menjadi PNS,” kata Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah di Markas Komando Resor Militer 064 Serang seusai dialog antara Musyawarah Pimpinan Daerah Banten dan ulama kemarin.

Menurut Ratu Atut, pihaknya sejauh ini tak bisa menindak pegawai itu karena menjadi PNS merupakan hak asasi. Apalagi hingga saat ini tidak ada payung hukum yang melarang anggota NII tidak boleh menjadi PNS. “Tidak ada aturannya yang bersangkutan (anggota NII) tidak diperkenankan menjadi PNS,” katanya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Banten Asmudji H.W. belum tahu persis jumlah anggota NII di birokrasi Banten karena datanya sudah kedaluwarsa. “Kami sedang mendata lagi,” ucapnya. Yang pasti, “Anggota NII di birokrasi sudah ada sejak sepuluh tahun lalu.”

Asmudji menambahkan, pemerintah hanya bisa mengawasi dan membina mereka melalui Badan Kepegawaian Daerah.

Bupati Malang, Jawa Timur, Rendra Kresna menyatakan birokrasi di wilayahnya juga diduga sudah disusupi NII. Ia menyatakan beberapa waktu lalu bahwa dua pegawai wanita pemerintah kabupaten diketahui lenyap sejak dua pekan terakhir, yang diduga terkait dengan gerakan radikal itu. Ia meminta aparat memastikan apakah mereka korban NII atau justru pelaku.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengaku pihaknya belum mengetahui soal pegawai negeri yang anggota NII. “Tanya saja Kapolri,” ujarnya via pesan pendek. Tapi, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Reydonnyzar Moenek memastikan instansinya segera mengirim surat kepada semua gubernur, bupati, dan wali kota agar mengawasi pergerakan jaringan NII di wilayah masing-masing. “Hari ini sudah meminta tanda tangan Menteri Dalam Negeri,” ujar Reydonnyzar.

Sebelumnya, calon pegawai negeri sipil Kementerian Perhubungan, Laila Febriani alias Lian, 26 tahun, diduga menjadi korban NII. Ia menghilang pada 7 April lalu dan ditemukan dalam keadaan linglung keesokan harinya di Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Kampus Universitas Muhammadiyah Malang Sebar Intel Untuk Melawan Pencucian Otak Oleh Kelompok Negara Islam Indonesia


Dua perekrut para mahasiswa di Malang untuk menjadi anggota kelompok radikal berkedok mendirikan Negara Islam diperkirakan masih berkeliaran di Malang. Seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga mantan korban kelompok itu, pernah memergoki mereka berada di jembatan Jl Soekarno-Hatta, depan Universitas Brawijaya (UB).

Informasi lain, dua perekrut yang diketahui bernama Fikri alias Feri alias Dani dan Adam alias M Muhaiyin A Sidik juga pernah diketahui berkeliaran di Jl Terusan Sigura-gura barat, belakang kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Pembantu Rektor (PR) III UMM, Joko Widodo, membenarkan apabila sepekan lalu mahasiswanya yang pernah dibaiat di Jakarta, namun kini telah sadar, Ea alias An, memergoki Adam di Jl Soekarno-Hatta.

“Ketika itu Ea sedang ngopi di warung dekat jembatan Jl Soekarno-Hatta. Begitu tahu ada Adam, dia mengontak ke tim bentukan kampus. Namun, begitu tim datang, Adam sudah menghilang,” kata Joko Widodo ketika dihubungi Surya, Selasa (19/4).

Sebenarnya, bulan lalu tim bentukan UMM untuk mencegah masuknya kelompok radikal itu juga pernah menggerebek markas mereka di Kota Malang. Ketika itu, ada seorang korban yang merasa ragu dengan doktrin perekrut pura-pura setuju menjadi anggota mereka. Ketika perekrut memintanya memejamkan mata saat dibawa ke markas, korban juga menuruti. Namun, begitu perekrut lengah, sesekali korban membuka mata hingga mengetahui markas mereka itu berada di kawasan Klayatan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

“Berdasarkan informasi itu, tim dari UMM berusaha menggerebek. Ternyata, markas itu telah kosong dan para penghuninya telah pindah tempat. Informasinya, rumah itu juga tak pernah dirawat pemiliknya” ungkap Joko Widodo.

Menurut Joko, tim UMM juga pernah menggerebek markas mereka di Jl Kembang Turi. Namun, ketika digerebek rumah juga dalam keadaan kosong karena mereka telah pindah tempat. “Di rumah Jl Kembang Turi inilah ditemukan KTP Lampung atas nama Adam,” ujar Joko Widodo.

Untuk mencegah merebaknya aksi penipuan berkedok mendirikan Negara Islam itu, pihak kampus UMM memang menjadikan para korban yang telah insyaf dan berontak dengan kelompok misterius ini sebagai ‘intel’. Berkat petunjuk mereka inilah, markas mereka di Kota Malang diketahui.

Diberitakan sebelumnya, aksi penipuan berkedok mendirikan Negara Islam yang dilakukan kelompok tertentu seperti yang terjadi di Jakarta merambah Malang dengan korban para mahasiswa. Saat ini yang sudah menjadi korban 11 mahasiswa UMM (versi kampus), dengan rincian 10 orang dalam proses penyembuhan psikis dan satu orang masih ‘hilang’. Namun, versi lain menyebut, masih ada dua mahasiswa UMM yang belum diketahui keberadannya yaitu Mahatir Rizki dan Agung Arief Perdana Putra.

Proses cuci otak diawali dengan mengajak mahasiswa berdiskusi di pertokoan elite, di antaranya, Malang Town Square (Matos) dan Malang Olympic Garden (MOG). Setelah proses cuci otak, anggota dibaiat di Jakarta. Biasanya dari Malang calon anggota baru dibawa naik bus ke Surabaya, Jogjakarta, dan Jakarta. Setiba di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, calon anggota dibawa dengan mata tertutup.

Anggota baru harus membayar iuran berkedok infak rata-rata Rp 2 juta hingga Rp 30 juta untuk menyucikan dosa. Setiap bulan para anggota harus membayar iuran sebesar Rp 120.000 kepada petugas yang ditunjuk.

Kelompok yang beroperasi di Malang itu tidak menyebut pasti identitas organisasi mereka, namun sejumlah pengamat dan mantan korbannya menyebut mereka adalah bagian dari kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Menurut Joko Widodo, para korban yang telah insyaf kini telah masuk ke kampus dan telah mengikuti ujian. Seiring telah insyafnya mereka, rektorat UMM telah membentuk tim pendamping terdiri para Pembantu Dekan (PD) III, tim psikologi dan keagamaan, dan mahasiswa senior Fakultas Teknik.

Terhadap para korban, tim juga melarang mereka untuk memikirkan kembali tindakan yang telah keliru dan menyalahi ajaran agama itu. “Secara psikis, mereka memang masih takut dan malu. Perasaan itu bercampur aduk menjadi satu, sehingga perlu penanganan khusus. Untuk menyadarkan para korban, salah satu tekniknya ajaran kelompok itu dilawan dengan ajaran-ajaran agama yang benar,” jelas Joko.

Joko menegaskan terkait masalah ini, rektorat justru berterimakasih pada para korban. Sebab, berkat keberanian para korban menentang ajaran mereka, kasus ini akhirnya terungkap. Ada tiga orang yang telah dibaiat di Jakarta justru akhirnya menentang karena ajaran mereka benar-benar menyimpang. Ketika di Jakarta para korban kaget karena kelompok itu justru mengabaikan salat. “Selain itu, para korban diajari harus berbohong kepada orangtua. Para korban akhirnya menyadari bahwa ajaran itu sesat,” ungkap Joko Widodo.

Waspada

Kasus yang menimpa 11 mahasiswa UMM itu membuat sejumlah kampus besar di Malang seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas UIN Maliki, dan Universitas Islam Malang (Unisma) ikut waspada.

Ketika didatangi Surya, secara serempak keempat kampus tersebut akan terus dan sudah melakukan antisipasi agar mahasiswanya tidak terjerumus penipuan berkedok agama.

Ketika Surya berkunjung ke Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) keagamaan di UB, didapati kenyataan bahwa gerakan pencucian otak itu sudah sejak lama mencoba masuk ke dalam Unit Aktivitas Kerohanian Islam (UAKI) UB. Namun, para anggota organisasi telah melakukan langkah pencegahan dengan secara berkala mengadakan diskusi agama antarsesama anggota.

”Kebanyakan anggota kami memang bukan berasal dari kalangan pesantren, namun kami paham bahwa Islam itu adalah agama santun, dan sangat jelas jauh berbeda dari apa yang didogmakan oleh mereka-mereka yang menyebut dirinya itu sebagai NII,” kata Camal AM, Direktur Lagzis dan mantan ketua umum UAKI.

Sementara pihak kampus UIN Malik Ibrahim, telah sejak lama menerapkan langkah preventif agar mahasiswanya tidak terlibat dengan aliran-aliran yang tujuannya tidak jelas.

”Cita-cita kampus kami ini adalah untuk mencetak mahasiswa yang mempunyai kearifan intelektual, keluhuran akhlak, kedalaman spiritual, dan kematangan profesional, yang berbasis Islam moderat, yang tidak ke kiri, juga tidak ke kanan. Untuk mewujudkan hal tersebut, kami sudah menciptakan sebuah metode sistemik yang bisa menetralisir pemahaman-pemahaman yang bisa dikatakan agak menyimpang,” kata M Jaiz Kumkelo, kepala bagian kemahasiswaan UIN Malang.

Ketika Surya mendatangi unit kegiatan mahasiswa bidang kerohanian UIN Malang, mereka mengatakan bahwa mereka tahu tentang organisasi atau kegiatan yang dikenal dengan sebutan NII, namun mereka tidak mengindahkan jika salah seorang oknum meminta untuk diskusi. ”Saya dan juga teman-teman HTQ (Hai’ah Tahfizh Al Quran) yang lain sudah paham seperti apa NII itu. Saya tidak tertarik dengan dogma mereka yang Islamnya itu kasar tidak intelek,” kata Alif Chandra, ketua UKM HTQ UIN Malang.

Pembantu Rektor I Universitas Islam Malang (Unisma) Dr Ir Badat Muwakhid MP menjelaskan, membentengi mahasiswa dari penipuan berkedok agama menjadi tanggung jawab moral kampus kepada para orangtua mahasiswa.

Rektor Unisma Prof Dr Drs Surahmat MSi menambahkan, biasanya, mahasiswa yang mudah dibelokkan akidahnya adalah mahasiswa dari fakultas ilmu pasti, seperti teknik, kedokteran, atau MIPA. Ini karena mahasiswa di fakultas tersebut, cenderung berpikir logika semata. “Mereka akan mudah dicuci otak,” terangnya.

“Tapi, saya yakin di Unisma saat ini tidak ada yang ikut hal-hal sesat itu. Pihak kampus sudah memasang ‘mata-mata’ terkait aktivitas mahasiswa. Istilahnya kami punya intelijen,” ujarnya.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memerintahkan seluruh kiai di daerah turun gunung untuk meluruskan ideologi radikal yang belakangan marak ditularkan kepada generasi muda di kampus- kampus. Salah seorang Ketua PBNU Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul menyatakan, perintah PBNU ini telah dikeluarkan pekan lalu dengan mengirimkan surat kepada seluruh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) NU se-Indonesia.

Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof Nur Syam menyatakan, keberadaan pergerakan radikal di perguruan tinggi kian mengkhawatirkan. Kalau ini dibiarkan berkembang dengan liar dan terus merekrut pengikut akan mengancam tatanan ideologi negara yang sudah disepakati.

Siswa SMP Pelaku Pembunuhan Sadis Teman Mainnya Akan Diperiksa Psikiater


PENYIDIK Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Bekasi Kota mempertimbangkan untuk memeriksakan Muhamad Rizki Fauzi alias Deden (13), tersangka pembunuh David Riyadi (14), ke psikiater. Cara tersangka menghabisi nyawa temannya sendiri dinilai terlalu sadis.

“Selain karena usianya yang masih dibawah umur itu, cara tersangka mengeksekusi korbannya sudah termasuk sadis,” ungkap Kepala Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polresta Bekasi Kota, AKP Bambang S Nugroho, Selasa (19/4).

Bambang ditugaskan mendampingi penyidik di Unit PPA itu. Untuk mengungkap lebih dalam mengenai seluk beluk pembunuhan siswa kelas VIII-3 SMP Al Manar, Bekasi Utara, Kota Bekasi itu pihaknya berencana menggelar rekonstruksi, Kamis (21/4) besok.

Seperti diberitakan, Deden menghabisi nyawa rekannya itu dengan sebilah celurit di bantaran Kali Teluk Pucung, di Kampung Penggilingan Baru RT1/3, Kelurahan Harapan Baru, Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Deden pertama kali mengarahkan celurit yang dipinjamnya dari Fathurrohman (13) itu ke bagian belakang kepala David. Begitu terkena sabetan pertama, korban langsung teriak. Saat itu pula saksi Fathurrohman dan Priyo (13) langsung kabur ke arah jalan raya.

Kepada penyidik, Fathurrohman dan Priyo mengaku melihat langsung saat tersangka Deden membacok kepala David. Mereka juga sudah tahu bahwa Deden akan membuat perhitungan dengan David karena masalah pribadi. “Mereka semula mengira, hanya akan berantem biasa saja, tak sampai membunuh dengan cara sadis seperti itu,” kata Bambang.

Setelah menyabet tengkuk David, Deden membabi buta mengayunkan senjata tajam itu ke bagian leher belakang, dan punggung. Perut David juga terkena sabetan hingga usus korban terburai. Kedua tangan korban juga terluka, bahkan jari kelingking kanannya nyaris putus.

Melihat korban masih juga belum tersungkur, Deden lalu mengalungkan celurit itu di bagian depan leher korban, dan menariknya kuat-kuat. David yang tersungkur kemudian ditinggalkan begitu saja di bawah pohon bambu. Jasad David ditemukan Sandi (16), seorang warga yang habis berenang di Kali Teluk Pucung.

Hingga kemarin, Deden masih menjalani penahanan di ruang khusus anak. Belum satu pun anggota keluarganya yang menjenguk. Orangtua Deden tinggal di Bengkulu. Di Bekasi, ABG lulusan SDN 04 Bengkulu itu tinggal di rumah pamannya, di Perumahan Duta Harapan, Bekasi Utara.

Keluarga paman Deden itu tampaknya juga syok atas kejadian tersebut. Saat Warta Kota mendatangi rumah paman Deden yang terletak di Jalan Delta Utama I Nomor 18 itu, seorang perempuan paruh baya keluar menyambut dari balik pagar. “Saya tidak tahu apa-apa, disini saya hanya Uwaknya yang dititipin,” tutur perempuan berekerudung itu sembari bergegas menutup pagar.

Sementara itu, suasana duka juga masih tampak di rumah keluarga korban. Ditemui usai menjenguk makam anaknya, Sri Yatini (36) mengaku sudah mendapat kabar tentang tertangkapnya pembunuh David Riyadi itu. “Belum ada keluarga dia yang ke sini, kami sudah serahkan semuanya ke aparat,” tuturnya

SEORANG siswa kelas 2 SMP Al-Manar, Bekasi Utara, Kota Bekasi, ditemukan tewas dengan belasan luka bacok dan luka tusuk pada tubuhnya, Sabtu (16/4) petang. Sepeda motor Yamaha Mio yang dikendarainya raib, diduga dibawa kabur si pembunuh.

Jenazah pelajar bernama David Riyadi (14) itu ditemukan oleh Sandi (16) dan Saigon (35) tergeletak di dekat rumpun bambu di bantaran Kali Telukpucung, Kampung Penggilingan Baru RT 01/03, Kelurahan Harapan Baru, Bekasi Utara. Posisi jasad pelajar yang mengenakan kaus dan jelana jins warna gepal itu telentang.

“Sore itu saya belajar berenang, kebetulan kali sedang naik airnya. Selesai belajar renang, saya naik dari kali. Kaget banget lihat ada mayat di bawah pohon bambu. Saya sampai lari ketakutan,” kata Sandi.

Siswa kelas 3 SMP ini segera melaporkan penemuan mayat tersebut ke pengurus RT setempat. Laporan ini segera diteruskan ke kepolisian terdekat. “Kami menerima laporan dari warga sekitar pukul 17.30,” ungkap Kapolsektro Bekasi Utara Komisaris Suyoto kemarin.

Tim Identifikasi Polrestro Bekasi langsung mengidentifikasi jenazah. Selesai diidentifikasi, jasad David dibawa ke RSUD Kota Bekasi untuk keperluan visum.

Dari ponsel

Awalnya identitas pelajar naas itu tidak diketahui. Namun, polisi mendapati telepon seluler (ponsel) di saku celana dia. Polisi kemudian menghubungi nomor yang ada pada ponsel tersebut dan tersambung dengan orangtua David Riyadi.

“Saya dihubungi polisi sekitar pukul 19.45. Mendapat kabar anak saya meninggal, tentu saja saya kaget. Saya minta istri dan adik untuk mengecek ke sana, dan ternyata benar,” kata Budi Santoso (37), ayah David, di rumahnya di Kampung Telukpucung RT 04/01, kemarin.

Budi mengatakan, dia masih sempat melihat anak sulungnya itu di rumah sesaat sebelum berangkat kerja. “Sabtu pagi biasanya dia pergi main futsal, tapi sampai siang itu dia masih di rumah,” ujarrnya.

Istri Budi, Sri Yatini (36), mengatakan, David pamit pergi sekitar pukul 16.00. Tanpa membawa STNK dan juga tak mengenakan helm, anak pertama dari tiga bersaudara tersebut pergi sendirian mengendarai sepeda motor Yamaha Mio merah marun bernomor polisi B 6520 KUY.

“Waktu pamit itu dia bilang mau main ke rumah temannya, entah siapa. Ada tetangga yang bilang, temannya yang menjemput itu menunggu depan gang, enggak masuk ke sini,” kata Sri.

Luka bacok

Kasat Reskrim Polrestro Bekasi Komisari Ade Ary Syam Idradi menjelaskan, David menderita 4 luka bacok pada kepala, 4 luka serupa pada leher, serta 3 luka tusuk pada perut dan punggung. Jari kelingking kanannya nyaris putus, juga akibat sebetan senjata tajam.

Kapolsektro Bekasi Utara Komisaris Suyoto menambahkan, pihaknya telah menemukan sebilah celurit di sekitar lokasi penemuan mayat. “Dugaan sementara, celurit itulah yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban. Kami juga menemukan sandal selop di lokasi tadi,” ujarnya, kemarin.

Jasad David dimakamkan di TPU Telukpucung kemarin sekitar pukul 09.00. Puluhan rekannya tampak berdatangan ke rumah duka. Beberapa rekan Budi Santoso-Sri Yatini juga takziah menyampaikan belasungkawa.

PETUGAS Kepolisian Resor Kota Bekasi Kota berhasil menangkap tersangka pembunuh David Riyadi (14), siswa SMP Islam Terpadu Almanar Teluk Pucung, Bekasi Senin (18/4) siang. Tersangka ternyata teman sekolah korban.

“Benar, sudah tertangkap dan sedang diperiksa,” kata Kepala Kepolisian Sektor Bekasi Utara Komisaris Suyoto.

Dia mengatakan, tersangka berinisial D, usianya dua tahun lebih tua dari David. Di SMP Almanar, D juga duduk di kelas 8 atau seangkatan dengan David tetapi beda kelas.

D diyakini sebagai pembunuh David dengan senjata celurit di tepi Kali Penggilingan Baru, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara, Sabtu (16/4) sore. Jenazah David ditemukan di lokasi dirinya dibunuh di tepi kali itu.

“Pelaku kabarnya dendam dengan korban,” kata Suyoto

MUI: Koruptor Harus Dihukum Mati


Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan mendorong pemberlakuan hukuman mati bagi koruptor karena perbuatan mereka dinilai sangat merugikan.

Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun, di Palembang, Rabu (20/4/2011), menyatakan, selama ini para koruptor masih dihukum ringan, sehingga masing banyak yang menyalahgunakan jabatan dan uang rakyat tersebut.

“Bila para koruptor dihukum mati diharapkan bisa membuat jera pelaku lainnya agar tidak lagi merugikan keuangan negara yang berdampak buruk bagi masyarakat,” katanya.

Namun, dia mengusulkan agar para koruptor yang dihukum mati itu harus disesuaikan dengan besaran uang yang dikorupsi supaya ada keadilan. Menurut Sodikun, Islam mengharuskan bagi mereka yang bersalah dihukum setimpal.

Selain koruptor, lanjut dia, pihaknya juga mengusulkan kejahatan di bidang penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang (narkoba) juga pelakunya harus dihukum mati. “Bila itu diterapkan, Indonesia akan semakin aman dan kesejahteraan juga akan meningkat,” demikian KH Sodikun.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas, menegaskan poin hukuman mati dalam RUU Tipikor perlu dipertahankan. Hal ini karena menyangkut bahaya tindak pidana korupsi apalagi ketika sudah membudaya di tengah kehidupan masyarakat.

“Hukuman mati perlu dipertahankan, tidak perlu merespon budaya luar dan negara-negara barat. Bahkan, di Amerika sendiri saat ini masih merespon mengenai hukuman mati bagi koruptor,” ujar Busyro usai mengisi seminar bertajuk “Penguatan dan Pembangunan Kapasitas Kelembagaan DPR RI,” di Jakarta, Senin (4/4/2011).

Busyro menuturkan, penerapan hukuman mati memiliki landasan filosofi, argumen sosiologis dan kultural tersendiri. Menurutnya, ketika korupsi di Indonesia ini sudah mengkristal, maka budaya tersebut dapat menjadi momok yang membahayakan bagi kelangsungan hidup bernegara.

“Sangat berbahaya jika budaya tersebut sudah mengkristal di Indonesia. Oleh karena itu, hukuman mati dari aspek budaya sangat lebih efektif,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, perlu pendekatan yang lebih integral dalam menyikapi RUU tersebut, misalnya menghilangkan undang-undang gradasi untuk koruptor. Ia juga menyarankan, jika disetujui publik, maka ada baiknya para koruptor diberi sanksi sosial. Misalnya dengan melakukan kerja bakti sosial memakai seragam korupsi di jalan-jalan selama seminggu, sehingga keluarga mereka melihat.

“Kalau istri mereka melihat, anak, besan, menantu, dan cucu yang mereka sayangi melihat, efektif nggak? Saya yakin itu efektif. Tidak ada koruptor yang berbahagia jika rumah tangganya rusak akibat korupsi,” ujarnya.

Serangan Ulat Bulu Di Jakarta Timur Daerah Pekayon Termasuk Ulat Bulu Berbahaya


Warga Jalan Sekretaris, Tanjung Duren, Kecamatan Petamburan, Jakarta, menunjukkan ulat bulu pada sebuah pohon di lingkungan tempat mereka tinggal, Rabu (13/4/2011). Menurut Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Barat, ulat bulu di kawasan Tanjung Duren ini sudah ada sejak tahun 2007 dan keberadaannya musiman. Hama ini menyerang 30 pohon cemara dengan jumlah sekitar 1.800 ulat.

Sudah ada lima lokasi di Jakarta yang diserang hama ulat bulu. Di Jakarta Barat, lokasi ulat bulu terdapat di Duri Kosambi dan Pasar Kembangan. Di Jakarta Timur, ulat bulu ditemukan di rumput-rumput di belakang Balai Kimia, Pekayon.

Di Jakarta Utara, lokasi ulat bulu terdapat di rumput di TPU Plumpang. Adapun terakhir, hama ulat bulu ditemukan di Petojo, Jakarta Pusat. Namun, jenis ulat bulu itu sebagian besar tidak berbahaya. Ulat bulu yang cukup berbahaya hanya yang berlokasi di Pekayon, Jakarta Timur.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta Ipih Ruyani, Selasa (19/4/2011) di Jakarta. “Di Pekayon ada dua jenisnya. Salah satunya cukup berbahaya karena merupakan ulat merah. Akan panas kalau terkena bulu-bulunya,” ucap Ipih.

Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta (DKP DKI Jakarta) telah mengindentifikasi ada dua jenis ulat di Pekayon, yakni ulat bulu yang masuk dalam famili Lasiocampidae dengan species Trabala Spp dan ulat bulu yang masuk dalam famili Limacodidae dengan spesies Ploneta diducta. Jenis terakhir merupakan ulat bulu merah.

Sementara itu, ulat bulu di Tanjung Duren dan Kembangan, Jakarta Barat, juga telah diidentifikasi ke dalam famili Lymantridae dengan spesies Euproctis Sp. Adapun di Petojo, Jakarta Pusat, ulat bulu yang ada baru teridentifikasi sebatas famili, yakni Noctuidae. “Bisa dipastikan bahwa jenis ulat bulu ini berbeda dengan ulat bulu di Probolinggo,” ungkap Ipih.

Penyebaran keempat jenis ulat bulu ini juga tidak terfokus pada satu jenis tanaman. Ulat bulu tersebut juga menyerang areal tanah kosong yang ditumbuhi ilalang liar. Menurut Ipih, pertambahan populasi ulat bulu di beberapa wilayah DKI Jakarta masih relatif normal dan tidak memberikan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat. Namun, warga tetap diminta untuk selalu waspada.

Saat ini, petugas DKP telah melakukan penyemprotan insektisida kepada seluruh wilayah yang terjangkit hama ulat. Akan tetapi, rupanya langkah ini masih belum bisa meredam berkembangnya ulat bulu. “Penyemprotan itu memang tidak bisa langsung membunuh hama ulat. Yang paling ampuh adalah peran masyarakat,” ucapnya.

Oleh karena itu, Ipih mengimbau warga secara rutin melakukan kerja bakti dan sanitasi lingkungan. “Bersihkan daun-daun kering dan sampah-sampah dengan membenamkannya ke dalam tanah minimal 50 sentimeter ke dalamannya,” tandas Ipih.