Kampus Universitas Muhammadiyah Malang Sebar Intel Untuk Melawan Pencucian Otak Oleh Kelompok Negara Islam Indonesia


Dua perekrut para mahasiswa di Malang untuk menjadi anggota kelompok radikal berkedok mendirikan Negara Islam diperkirakan masih berkeliaran di Malang. Seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga mantan korban kelompok itu, pernah memergoki mereka berada di jembatan Jl Soekarno-Hatta, depan Universitas Brawijaya (UB).

Informasi lain, dua perekrut yang diketahui bernama Fikri alias Feri alias Dani dan Adam alias M Muhaiyin A Sidik juga pernah diketahui berkeliaran di Jl Terusan Sigura-gura barat, belakang kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Pembantu Rektor (PR) III UMM, Joko Widodo, membenarkan apabila sepekan lalu mahasiswanya yang pernah dibaiat di Jakarta, namun kini telah sadar, Ea alias An, memergoki Adam di Jl Soekarno-Hatta.

“Ketika itu Ea sedang ngopi di warung dekat jembatan Jl Soekarno-Hatta. Begitu tahu ada Adam, dia mengontak ke tim bentukan kampus. Namun, begitu tim datang, Adam sudah menghilang,” kata Joko Widodo ketika dihubungi Surya, Selasa (19/4).

Sebenarnya, bulan lalu tim bentukan UMM untuk mencegah masuknya kelompok radikal itu juga pernah menggerebek markas mereka di Kota Malang. Ketika itu, ada seorang korban yang merasa ragu dengan doktrin perekrut pura-pura setuju menjadi anggota mereka. Ketika perekrut memintanya memejamkan mata saat dibawa ke markas, korban juga menuruti. Namun, begitu perekrut lengah, sesekali korban membuka mata hingga mengetahui markas mereka itu berada di kawasan Klayatan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

“Berdasarkan informasi itu, tim dari UMM berusaha menggerebek. Ternyata, markas itu telah kosong dan para penghuninya telah pindah tempat. Informasinya, rumah itu juga tak pernah dirawat pemiliknya” ungkap Joko Widodo.

Menurut Joko, tim UMM juga pernah menggerebek markas mereka di Jl Kembang Turi. Namun, ketika digerebek rumah juga dalam keadaan kosong karena mereka telah pindah tempat. “Di rumah Jl Kembang Turi inilah ditemukan KTP Lampung atas nama Adam,” ujar Joko Widodo.

Untuk mencegah merebaknya aksi penipuan berkedok mendirikan Negara Islam itu, pihak kampus UMM memang menjadikan para korban yang telah insyaf dan berontak dengan kelompok misterius ini sebagai ‘intel’. Berkat petunjuk mereka inilah, markas mereka di Kota Malang diketahui.

Diberitakan sebelumnya, aksi penipuan berkedok mendirikan Negara Islam yang dilakukan kelompok tertentu seperti yang terjadi di Jakarta merambah Malang dengan korban para mahasiswa. Saat ini yang sudah menjadi korban 11 mahasiswa UMM (versi kampus), dengan rincian 10 orang dalam proses penyembuhan psikis dan satu orang masih ‘hilang’. Namun, versi lain menyebut, masih ada dua mahasiswa UMM yang belum diketahui keberadannya yaitu Mahatir Rizki dan Agung Arief Perdana Putra.

Proses cuci otak diawali dengan mengajak mahasiswa berdiskusi di pertokoan elite, di antaranya, Malang Town Square (Matos) dan Malang Olympic Garden (MOG). Setelah proses cuci otak, anggota dibaiat di Jakarta. Biasanya dari Malang calon anggota baru dibawa naik bus ke Surabaya, Jogjakarta, dan Jakarta. Setiba di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, calon anggota dibawa dengan mata tertutup.

Anggota baru harus membayar iuran berkedok infak rata-rata Rp 2 juta hingga Rp 30 juta untuk menyucikan dosa. Setiap bulan para anggota harus membayar iuran sebesar Rp 120.000 kepada petugas yang ditunjuk.

Kelompok yang beroperasi di Malang itu tidak menyebut pasti identitas organisasi mereka, namun sejumlah pengamat dan mantan korbannya menyebut mereka adalah bagian dari kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Menurut Joko Widodo, para korban yang telah insyaf kini telah masuk ke kampus dan telah mengikuti ujian. Seiring telah insyafnya mereka, rektorat UMM telah membentuk tim pendamping terdiri para Pembantu Dekan (PD) III, tim psikologi dan keagamaan, dan mahasiswa senior Fakultas Teknik.

Terhadap para korban, tim juga melarang mereka untuk memikirkan kembali tindakan yang telah keliru dan menyalahi ajaran agama itu. “Secara psikis, mereka memang masih takut dan malu. Perasaan itu bercampur aduk menjadi satu, sehingga perlu penanganan khusus. Untuk menyadarkan para korban, salah satu tekniknya ajaran kelompok itu dilawan dengan ajaran-ajaran agama yang benar,” jelas Joko.

Joko menegaskan terkait masalah ini, rektorat justru berterimakasih pada para korban. Sebab, berkat keberanian para korban menentang ajaran mereka, kasus ini akhirnya terungkap. Ada tiga orang yang telah dibaiat di Jakarta justru akhirnya menentang karena ajaran mereka benar-benar menyimpang. Ketika di Jakarta para korban kaget karena kelompok itu justru mengabaikan salat. “Selain itu, para korban diajari harus berbohong kepada orangtua. Para korban akhirnya menyadari bahwa ajaran itu sesat,” ungkap Joko Widodo.

Waspada

Kasus yang menimpa 11 mahasiswa UMM itu membuat sejumlah kampus besar di Malang seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas UIN Maliki, dan Universitas Islam Malang (Unisma) ikut waspada.

Ketika didatangi Surya, secara serempak keempat kampus tersebut akan terus dan sudah melakukan antisipasi agar mahasiswanya tidak terjerumus penipuan berkedok agama.

Ketika Surya berkunjung ke Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) keagamaan di UB, didapati kenyataan bahwa gerakan pencucian otak itu sudah sejak lama mencoba masuk ke dalam Unit Aktivitas Kerohanian Islam (UAKI) UB. Namun, para anggota organisasi telah melakukan langkah pencegahan dengan secara berkala mengadakan diskusi agama antarsesama anggota.

”Kebanyakan anggota kami memang bukan berasal dari kalangan pesantren, namun kami paham bahwa Islam itu adalah agama santun, dan sangat jelas jauh berbeda dari apa yang didogmakan oleh mereka-mereka yang menyebut dirinya itu sebagai NII,” kata Camal AM, Direktur Lagzis dan mantan ketua umum UAKI.

Sementara pihak kampus UIN Malik Ibrahim, telah sejak lama menerapkan langkah preventif agar mahasiswanya tidak terlibat dengan aliran-aliran yang tujuannya tidak jelas.

”Cita-cita kampus kami ini adalah untuk mencetak mahasiswa yang mempunyai kearifan intelektual, keluhuran akhlak, kedalaman spiritual, dan kematangan profesional, yang berbasis Islam moderat, yang tidak ke kiri, juga tidak ke kanan. Untuk mewujudkan hal tersebut, kami sudah menciptakan sebuah metode sistemik yang bisa menetralisir pemahaman-pemahaman yang bisa dikatakan agak menyimpang,” kata M Jaiz Kumkelo, kepala bagian kemahasiswaan UIN Malang.

Ketika Surya mendatangi unit kegiatan mahasiswa bidang kerohanian UIN Malang, mereka mengatakan bahwa mereka tahu tentang organisasi atau kegiatan yang dikenal dengan sebutan NII, namun mereka tidak mengindahkan jika salah seorang oknum meminta untuk diskusi. ”Saya dan juga teman-teman HTQ (Hai’ah Tahfizh Al Quran) yang lain sudah paham seperti apa NII itu. Saya tidak tertarik dengan dogma mereka yang Islamnya itu kasar tidak intelek,” kata Alif Chandra, ketua UKM HTQ UIN Malang.

Pembantu Rektor I Universitas Islam Malang (Unisma) Dr Ir Badat Muwakhid MP menjelaskan, membentengi mahasiswa dari penipuan berkedok agama menjadi tanggung jawab moral kampus kepada para orangtua mahasiswa.

Rektor Unisma Prof Dr Drs Surahmat MSi menambahkan, biasanya, mahasiswa yang mudah dibelokkan akidahnya adalah mahasiswa dari fakultas ilmu pasti, seperti teknik, kedokteran, atau MIPA. Ini karena mahasiswa di fakultas tersebut, cenderung berpikir logika semata. “Mereka akan mudah dicuci otak,” terangnya.

“Tapi, saya yakin di Unisma saat ini tidak ada yang ikut hal-hal sesat itu. Pihak kampus sudah memasang ‘mata-mata’ terkait aktivitas mahasiswa. Istilahnya kami punya intelijen,” ujarnya.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memerintahkan seluruh kiai di daerah turun gunung untuk meluruskan ideologi radikal yang belakangan marak ditularkan kepada generasi muda di kampus- kampus. Salah seorang Ketua PBNU Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul menyatakan, perintah PBNU ini telah dikeluarkan pekan lalu dengan mengirimkan surat kepada seluruh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) NU se-Indonesia.

Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof Nur Syam menyatakan, keberadaan pergerakan radikal di perguruan tinggi kian mengkhawatirkan. Kalau ini dibiarkan berkembang dengan liar dan terus merekrut pengikut akan mengancam tatanan ideologi negara yang sudah disepakati.

Advertisements

3 responses to “Kampus Universitas Muhammadiyah Malang Sebar Intel Untuk Melawan Pencucian Otak Oleh Kelompok Negara Islam Indonesia

  1. aswrb..sy pernah ikut ajakan tmn sehingga sy masuk dlm NII smp di jakarta tp skrg sy lepas dr mereka krn beberapa pendapat yg tidak sesuai dgn ajaran agama Islam

  2. wah gawat ya klu banyak pencuci otak di indonesia ini, apalagi dipake ga bener

  3. rasanya pengen ngajak berantem saya dengan orang2 nii… sebel tingkat akut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s