Serangan Ulat Bulu Di Jakarta Timur Daerah Pekayon Termasuk Ulat Bulu Berbahaya


Warga Jalan Sekretaris, Tanjung Duren, Kecamatan Petamburan, Jakarta, menunjukkan ulat bulu pada sebuah pohon di lingkungan tempat mereka tinggal, Rabu (13/4/2011). Menurut Dinas Pertanian dan Kehutanan Jakarta Barat, ulat bulu di kawasan Tanjung Duren ini sudah ada sejak tahun 2007 dan keberadaannya musiman. Hama ini menyerang 30 pohon cemara dengan jumlah sekitar 1.800 ulat.

Sudah ada lima lokasi di Jakarta yang diserang hama ulat bulu. Di Jakarta Barat, lokasi ulat bulu terdapat di Duri Kosambi dan Pasar Kembangan. Di Jakarta Timur, ulat bulu ditemukan di rumput-rumput di belakang Balai Kimia, Pekayon.

Di Jakarta Utara, lokasi ulat bulu terdapat di rumput di TPU Plumpang. Adapun terakhir, hama ulat bulu ditemukan di Petojo, Jakarta Pusat. Namun, jenis ulat bulu itu sebagian besar tidak berbahaya. Ulat bulu yang cukup berbahaya hanya yang berlokasi di Pekayon, Jakarta Timur.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta Ipih Ruyani, Selasa (19/4/2011) di Jakarta. “Di Pekayon ada dua jenisnya. Salah satunya cukup berbahaya karena merupakan ulat merah. Akan panas kalau terkena bulu-bulunya,” ucap Ipih.

Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta (DKP DKI Jakarta) telah mengindentifikasi ada dua jenis ulat di Pekayon, yakni ulat bulu yang masuk dalam famili Lasiocampidae dengan species Trabala Spp dan ulat bulu yang masuk dalam famili Limacodidae dengan spesies Ploneta diducta. Jenis terakhir merupakan ulat bulu merah.

Sementara itu, ulat bulu di Tanjung Duren dan Kembangan, Jakarta Barat, juga telah diidentifikasi ke dalam famili Lymantridae dengan spesies Euproctis Sp. Adapun di Petojo, Jakarta Pusat, ulat bulu yang ada baru teridentifikasi sebatas famili, yakni Noctuidae. “Bisa dipastikan bahwa jenis ulat bulu ini berbeda dengan ulat bulu di Probolinggo,” ungkap Ipih.

Penyebaran keempat jenis ulat bulu ini juga tidak terfokus pada satu jenis tanaman. Ulat bulu tersebut juga menyerang areal tanah kosong yang ditumbuhi ilalang liar. Menurut Ipih, pertambahan populasi ulat bulu di beberapa wilayah DKI Jakarta masih relatif normal dan tidak memberikan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat. Namun, warga tetap diminta untuk selalu waspada.

Saat ini, petugas DKP telah melakukan penyemprotan insektisida kepada seluruh wilayah yang terjangkit hama ulat. Akan tetapi, rupanya langkah ini masih belum bisa meredam berkembangnya ulat bulu. “Penyemprotan itu memang tidak bisa langsung membunuh hama ulat. Yang paling ampuh adalah peran masyarakat,” ucapnya.

Oleh karena itu, Ipih mengimbau warga secara rutin melakukan kerja bakti dan sanitasi lingkungan. “Bersihkan daun-daun kering dan sampah-sampah dengan membenamkannya ke dalam tanah minimal 50 sentimeter ke dalamannya,” tandas Ipih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s