Categories
Serangan Ulat Bulu

Serangan Ulat Bulu Terjadi Karena Musnahnya Semut Rangrang


Hilangnya burung pemakan ulat, seperti burung ciblek (Prinia familiaris) atau prenjak dan semut rangrang, menjadi penyebab bertambahnya populasi ulat bulu di beberapa daerah, termasuk di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Oleh karena itu, penangkapan burung dan pengumpulan telur semut rangrang seharusnya dihentikan. Hal itu dikatakan oleh kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Sri Purwati, Selasa (19/4/2011). Menurut Sri, dulu ketika burung ciblek atau prenjak masih banyak, ulat bulu tidak sebanyak sekarang. “Harus ada penyadaran dari masyarakat terkait dengan hal itu,” katanya.

Ia menjelaskan, sekarang ini banyak orang menangkap burung ciblek atau prenjak untuk dipelihara, sedangkan semut rangrang diambil telurnya untuk makan burung. “Coba kalau burung-burng pemakan ulat dan semut rangrang itu tidak ditangkapi, pasti populasi ulat-ulat berbulu itu tidak sebanyak sekarang ini,” katanya. Untuk itu, pihaknya berharap agar penangkapan burung-burung pemakan ulat dihentikan.

Sri tidak memungkiri bahwa kelembaban juga menjadi salah penyebab banyaknya ulat berbulu. Pasalnya, kelembaban bisa juga mempercepat perkembangbiakan ulat. Di Kendal, saat ini sudah ada tujuh kecamatan yang terserang ulat bulu, yaitu Kendal Kota, Brangsong, Kaliwungu Selatan, Patebon, Ngampel, Pegandon, dan Cepiring.

Pemangkasan daun-daun tanaman yang rindang secara parsial atau sebagian dapat mengurangi berkembangnya populasi ulat bulu. Pasalnya, pemangkasan akan mengurangi ketersediaan pangan bagi ulat dan memudahkan sinar matahari masuk ke sela-sela daun sehingga mengurangi tingkat penetasan telur-telur kupu-kupu calon ulat bulu.

Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Dekan Fakultas Pertanian UMY) Ir Agus Nugroho Setiawan, MP, menanggapi merebaknya serangan ulat bulu, Kamis (14/4/2011) di Kampus Terpadu UMY. Menurutnya ketersediaan pangan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan populasi ulat bulu mudah berkembang, selain juga suhu dan kelembaban.

“Ulat itu mengalami metamorfosis atau perubahan bentuk. Dari telur kemudian menetas menjadi ulat kemudian kepompong lalu menjadi kupu-kupu atau ngengat. Agar telur menetas, diperlukan suhu maupun kelembaban tertentu sehingga masih banyaknya curah hujan turun memengaruhi berkembangnya populasi ulat bulu tersebut,” urainya.

Ketika ditanya mengenai penyebab ledakan populasi ulat bulu, Agus menyebutkan bahwa salah satunya adalah perubahan iklim. Siklus hidup ulat dapat berjalan dengan baik ketika hidup di lingkungan yang sesuai atau mendukung. “Siklus biasa yang terjadi adalah larva menetas dan diikuti pertumbuhan predator serangga atau ulat tersebut. Namun yang cenderung saat ini adalah pertumbuhan tidak diikuti oleh pertumbuhan predator atau pemangsa ulat. Itu bisa jenis serangga yang lain, burung, atau lainnya,” urainya.

Agus menambahkan, apabila pertumbuhan pemangsa atau predator ulat tersebut naik, maka populasi ulat bisa turun. Jika populasi ulat turun, maka populasi predator juga akan ikut turun. “Namun yang terjadi saat ini bisa jadi iklim mendukung tumbuhnya populasi ulat bulu, tetapi tidak mendukung populasi predator,” ungkapnya.

Agus juga mengatakan bahwa serangan ulat bulu yang terjadi di daerah-daerah di Indonesia saat ini bukan karena penyebaran ulat dari daerah satu ke daerah lain. Menurutnya, kecil kemungkinan bisa terjadi penyebaran dari daerah ke daerah. Agus memaparkan bahwa setiap daerah memiliki potensi sebagai tempat ulat bulu untuk berkembang. “Yang membedakan hanya kondisi cuaca dan ketersediaan pangan yang ada. Oleh karena itu, ada tempat yang sudah terkena ulat bulu dan ada yang belum,” ujarnya.

Terkait langkah antisipasi, selain pemangkasan terhadap pohon-pohon yang rindang, masyarakat bisa menggunakan pestisida. Namun, dampak penggunaan pestisida perlu diperhatikan, baik terhadap manusia maupun, hewan, maupun tumbuhan lainnya.

Alternatif lain adalah menggunakan pestisida nabati yang mengandung bahan-bahan dari tumbuhan. Dosen Fakultas Pertanian UMY ini berharap, masyarakat jangan terlalu khawatir adanya kasus ulat bulu tersebut. “Banyak antisipasi yang bisa dilakukan seperti melakukan eradikasi atau melakukan pemusnahan bagian tanaman yang terkena ulat. Misalnya, daun yang sudah terkena ulat dipotong, kemudian dibakar,” paparnya.

Categories
Kriminalitas Lain Lain

Mahasiswa Kini Banyak Menjadi Target Pencucian Otak


Sebanyak sembilan mahasiswa yang masih aktif kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diduga menjadi korban pencucian otak. Dua dari sembilan korban tersebut hingga saat ini masih belum diketahui keberadaannya.

Lima di antara sembilan mahasiswa UMM itu sudah pernah dibawa ke Jakarta untuk mengikuti prosesi pembaiatan dan disumpah. Mereka adalah Maya Mazesta, Agung Arief Perdana Putra, Mahatir Rizki, Fitri Zakiyah, dan Recki Davinci. Sementara sisanya tidak mau ikut ke Jakarta untuk dibaiat dan disumpah. Mereka adalah M Hanif, Wahyu Darmawan, Reza Yuniansyah, dan M Recky Kurniawan.

Kini sebagian besar dari sembilan mahasiswa itu sudah berada di Malang dan kembali kuliah di UMM. Sementara itu, yang hingga kini masih hilang adalah Agung Arief Perdana Putra dan Mahatir Rizki. Kedua mahasiswa itu hilang dari Malang sejak 25 Maret 2011, terakhir berada di tempat kosnya pada 24 Maret 2011.

Kasus ini terungkap setelah pihak keluarga Mahatir Rizki mencarinya ke kampus UMM dan ke kamar kosnya di Jalan Tlogomas, Gang III, di rumah dr Irma, Kota Malang.

Keluarga Mahatir yang kini mencari keberadaan Mahatir Rizki ke Kota Malang adalah Ismed Jayadi (35) dan Yudi Ardiyansyah (35). Keduanya adalah paman dari Mahatir Rizki. Setelah berhari-hari mencari keberadaan Mahatir di Malang, keduanya meminta tolong kepada Pengurus Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang.

“Melihat kondisi demikian, saya selaku Ketua Mabincam PMII Kota Malang siap membantu keluarga Mahatir Rizki itu. Namun, hingga kini masih belum ditemukan,” kata Ketua Mabincab PMII Kota Malang Bagyo Prasasti, Senin (18/4/2011) malam.

Menurut Bagyo, cara memengaruhi para korban adalah dengan modus penipuan berkedok perjuangan agama. “Para korban diajak berdiskusi lalu didoktrin bahwa semua amal ibadahnya tak bisa diterima kalau tak melakukan hijrah (berpindah). Hijrahnya adalah dari warga NKRI hijrah ke Negara Islam,” katanya.

Menurut Bagyo, jika tidak hijrah, tak akan pernah datang yang namanya kebangkitan Islam. “Kalau sudah hijrah akan mendapatkan surga 100 persen di akhirat nanti. Dosa-dosanya akan bersih seperti bayi yang baru lahir,” ujarnya.

Apa yang dikatakan Bagyo tersebut adalah pengakuan dari korban yang pernah diajak diskusi dan sudah pernah dibaiat dan disumpah ke Jakarta. “Selain itu, juga pengakuan dari para korban yang tidak mau diajak ke Jakarta untuk dibaiat,” katanya.

Salah satu korban yang tidak mau diajak ke Jakarta itu adalah M Hanif. “Saya tidak mau disuruh hijrah ke Jakatra karena semua korban itu dimintai uang minimal Rp 2,5 juta. Saya tidak mau,” ujar Hanif, yang juga ikut mendampingi Bagyo dan keluarga Mahatir Rizki itu.

Hanif mengaku, sebanyak sembilan korban, termasuk dirinya itu, pertama kali yang mengajaknya adalah Maya Mazesta. Maya diajak oleh Fikri alias Feri alias Dani dan Adam alias Muhayyin. Fikri mengaku berasal dari Cilacap, sedangkan Adam mengaku dari Lampung.

Dari dua orang tersebut hingga menyebar ke banyak mahasiswa di UMM dan juga di Universitas Brawijaya. “Di Brawijaya diduga yang ikut bernama Desy, mahasiswi Kedokteran Jurusan Farmasi,” kata Hanif.

Semua korban sudah pernah dimita uang oleh Fikri dan Adam. “Kalau beralasan tidak punya uang, suruh minta ke orangtuanya dan benda berharga yang dimilikinya suruh dijual untuk biaya baiat dan sumpah itu,” ujar Hanif.

Modus demikian juga dialami semua korban. Uang tersebut digunakan untuk biaya baiat dan sumpah ke Jakarta. “Katanya kalau mau ikut anggota Negara Islam itu harus siap mengorbankan semua harta bendanya,” ujarnya.

Sementara itu, Ismed dan Yudi, paman dari Mahatir, mengaku, Mahatir sudah meminta uang kepada kedua orangtuanya senilai Rp 20 juta. “Kalau minta uang kepada orangtuanya, mengakunya karena kehilangan laptop,” katanya.

Kembali menurut Bagyo, dari seluruh korban itu, enggan untuk ditemui dan kini nomor ponselnya sudah tidak bisa dihubungi. “Hanya M Hanif ini yang bersedia membongkar kasus ini, dan paman dari Mahatir ini sudah melaporkan kasus tersebut ke Mapolresta Malang pada 12 April 2011,” katanya.

Harapan keluarga Mahatir dan Agung (mahasiswa kelahiran Madura yang tinggal di Gresik bersama keluarganya) itu, keduanya bisa kembali kepada keluarga.

Categories
Beragama Kriminalitas

Cara Mengatasi Maling Yang Memiliki Ilmu Sirep


Maling di Purwakarta menebar ilmu sirep saat menyatroni rumah mangsanya. Terbukti,dari serangkaian tindak pencurian seluruh korban mengaku tidak mengetahui karena tertidur lelap.Sehingga, maling leluasa beraksi dengan menguras habis harta benda rumah yang disatroni.

“Kuat dugaan pencuri berilmu. Menebar ilmu sirep sehingga korban terbuai dari tidur panjangnya. Hampir seluruh korban bersaksi begitu,” ujar Kapolres Purwakarta AKBP Bahtiar Ujang Purnama dihubungi Pos Kota, Minggu (17/4) siang.

Untuk itu, kata Kapolres, ia telah mengumpulkan seluruh petugas babinsa disetiap Kantor Polsek diwilayahnya. “Saya telah mengintruksikan ke petugas babinsa agar mengintensifkan lagi pamswakarsa dengan warga. Dengan metode inilah, lingkungan warga terhindar dari tindak pencurian,” jelas Bahtiar.

Tokoh spiritual Purwakarta, Abah Edi, mengatakan, upaya agar warga dapat terbebas dari pengaruh ilmu sirep, dengan berdoa sebelum tidur. “Bentengi dengan membaca ayat kursi dan beristigfar,” saran Abah Edi.

Diakuinya, kekuatan ilmu sirep memang begitu dahsyat dan ampuh untuk melumpuhkan mangsanya. Dahulu kala,kenang Abah Edi, ilmu sirep ini sempat dipakai untuk melumpuhkan kompeni pada masa kolonial Belanda. Hanya saja, disayangkan, kesininya ilmu sirep kerap disalahgunakan, salah satunya membobol rumah warga. “Makanya sing banyak eling. Termasuk melaksanakan salat malam. Biasakan bangun tengah malam. Jangan seperti kebo, yang tidurnya lelap,”serunya.

Satu korban pencurian, Alex Supriadi, Kontributor Trans 7 di Purwakarta, mengakui, tengah malam, saat sekawanan maling membobol rumahnya, ia sekeluarga mendadak tertidur lelap.

“Tidak seperti biasanya, saya sering terbangun tengah malam untuk buang air kecil. Malam itu mendadak pulas. Termasuk istri dan anak. Kami samasekali tak mendengar suara gaduh atau bunyi apapun pada malam rumah disatroni maling,”ungkapnya

Categories
Serangan Ulat Bulu

Kecamatan Tlanakan dan Pakong Di Pamekasan Mulai Terserang Ulat Bulu


Hama ulat bulu menyerang dua kecamatan Tlanakan dan Pakong, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

“Baru beberapa hari lalu tanaman kami terserang hama ulat bulu,” kata warga Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan yang tanamannya terserang hama ulat bulu, Dahlan, Minggu (17/4/2011).

Dahlan mengatakan, hama ulat bulu menyerang tanaman pertanian mereka seperti pohon mangga, pohon pisang dan cabai.

Sementara di wilayah Kecamatan Pakong, hama ulat bulu menyerang pertanian penduduk di Desa Bicorong. Sejumlah pohon jati milik warga di desa ini terserang hama ulat bulu.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Pamekasan Isye Windarti menyatakan, Pamekasan bebas dari serangan hama ulat bulu, karena belum ada laporan dari petani.

Menurut para petani di Desa Laranngan, Kecamatan Tlanakan memang belum melaporkan adanya serangan hama ulat bulu yang menyarang pertanian mereka kepada Dinas Pertanian.

Dahlan beralasan, karena keberadaan hama ulat bulu yang menyerang tanaman mereka baru saja terjadi, yakni mulai beberapa waktu lalu. “Sebelumnya, pertanian di desa ini memang aman dari serangan hama ulat bulu,” katanya menjelaskan.

Dahlan juga mengaku belum melakukan penyemprotan terhadap keberadaan ulat bulu yang menyerang tanamannya dan hanya membuang ulat-ulat berwarna hitam tersebut.

Hal senada juga diakui petani di Desa Bicorong, Kecamatan Pakong, Ahmad. Dia menuturkan, hama ulat bulu yang menyerang tanamannya itu masih dibiarkan dan menunggu petunjuk lebih lanjut dari petugas penyuluh pertanian.

Categories
Serangan Ulat Bulu

Serangan Ulat Bulu Yang Mengganas Akhirnya Menyerang Daerah Rungkut Surabaya


Ulat bulu yang sempat dikhawatirkan banyak warga di sejumlah daerah di Provinsi Jawa Timur, kini juga mulai ditemukan di Kota Surabaya, khususnya di Kelurahan Kalianak, Kecamatan Krembangan dan kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Minggu (17/4/2011).

Pantauan di lapangan memperlihatkan, ribuan ulat bulu tersebut terlihat di Jalan Kalianak Timur Gang Belakang. Ulat itu terlihat di sebuah lahan kosong di belakang rumah salah satu warga, yakni Santoso. Warga setempat baru mengetahui ada ulat bulu setelah rumah warga yang berdampingan dengan tanah kosong itu dimasuki ulat yang masuk dari lubang angin.

Sementara itu, ulat bulu di Wonorejo, Rungkut menyerang pepohonan seperti pohon perdu dan pohon sonerasia. Kebanyakan pohon tersebut berada di sekitar Bosem Wonorejo. “Ulatnya berbulu, bikin gatal dan warnanya kuning. Ulat-ulat ini jarang sekali menyerang pohon lainnya,” kata salah satu petani Wonorejo, Muhson.

Meski demikian, lanjut dia, ulat tersebut berbeda dengan ulat bulu di Kabupaten Probolinggo dan beberapa daerah lainnya di Jatim. Di Probolinggo, ulat bulu menyerang pohon mangga, sedangkan di Surabaya, ulat menyerang pohon perdu dan pohon sonerasia.

Biasanya, ulat ini akan reda dengan sendirinya ketika musim hujan reda atau rentang waktunya satu bulan. Setelah ulat hilang, daun akan tumbuh kembali. Untuk saat ini, katanya, ulat tidak sampai menyerang ke rumah warga.

Mendapati hal itu, Kepala Dinas Pertanian Surabaya, Syamsul Arifin, memerintahkan anak buahnya untuk menyemprot ulat-ulat tersebut agar tidak sampai menganggu ke pemukiman.

“Di Wonorejo, sudah disemprot dengan pestisida organik. Sekarang tinggal di Kalianak. Saya sudah memerintahkan supaya segera disemprot,” kata Syamsul.

Namun, Syamsul mengingatkan kepada masyarakat supaya tidak khawatir. Menurut dia, ulat bulu dibutuhkan untuk menyeimbangkan ekosistem. Ulat tidak boleh dimusnahkan semuanya karena ada keuntungan dari ulat ini untuk tanaman.

Syamsul mencontohkan saat ulat ini menyerang pohon apukat, yaitu menghabiskan daunnya, tetapi buahnya malah lebat. Begitu juga ulat yang menyerang tanaman anggur. “Masalahnya, kalau ke rumah warga harus dikendalikan. Memang, kalau terlalu banyak menjijikkan,” ujarnya.

Categories
Jaminan Kesehatan Pencinta Lingkungan

Cara Melakukan Fogging Nyamuk Deman Berdarah Yang Benar Bila Ada Yang Terjangkit DBD


Pengasapan atau fogging untuk memberantas nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah bisa berbahaya jika dilakukan tanpa prosedur. Selain bisa menyebabkan orang yang menghirup gas semprotan keracunan, fogging juga berdampak buruk bagi keseimbangan ekosistem.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta, mengimbau warga menghentikan aktivitas fogging. Sebab, saat ini masih banyak warga yang melakukan penyemprotan tanpa berkoordinasi dengan instansi tersebut. Padahal, hal itu sangat berbahaya.

“Kalau saya perhatikan sekarang, masih banyak warga yang melakukan fogging sembarangan. Masyarakat melakukan sendiri tanpa berkoordinasi dengan petugas kesehatan, baik tingkat Sudin Kesehatan maupun di puskesmas,” ujar Dien Emawati, Kepala Dinas kesehatan DKI Jakarta.

Dien Emawati mengatakan, koordinasi sangat diperlukan mengingat ada standar campuran untuk fogging. Minimal, cairan dan obat yang digunakan harus sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu, fogging biasanya dilakukan jika ada warga yang terkena DBD di suatu wilayah. Itupun harus ada surat keterangan dari dokter rumah sakit atau puskesmas. Nantinya, kata Dieni, dokter akan turun ke alamat korban untuk melakukan observasi. Biasanya petugas akan mengecek apakah di lingkungan sekitar rumah penderita DBD ini ada warga lain yang mengalami demam tinggi atau tidak.

Jika ada, dapat diindikasikan penularan DBD itu dimulai dari lingkungan tersebut. Terlebih jika ditemukan juga jentik-jentik nyamuk dalam jumlah banyak. Dalam kondisi demikian, petugas kesehatan akan melakukan penyemprotan.

“Namun jika hasil penyelidikan epidemiologi (PE) itu negatif, tidak boleh dilakukan fogging. Jika tetap dilakukan, justru akan merusak eksositem yang ada seperti mematikan sejumlah serangga,” ungkapnya.

Pada triwulan pertama (Januari-Maret) tahun 2011, jumlah kasus DBD pun cenderung mengalami penurunan. Jika pada Januari tercatat sebanyak 1.099 kasus, jumlah itu menurun hanya menjadi 802 kasus di bulan Februari. Sedangkan di bulan Maret (hingga 23 Maret), jumlah kasus DBD tercatat hanya 240 kasus.

“Jika melihat data tersebut, tentu terjadi penurunan yang sangat signifikan, khususnya sejak Februari dan Maret tahun ini. Jadi, tidak benar jika ada yang mengatakan, saat ini kasus DBD mulai merebak di sejumlah rumah sakit di Jakarta,”

Categories
Terorisme

Polisi Berhasil Mengidentifikasi Pelaku Bom Bunuh Diri Di Masjid Cirebon Saat Sholat Jumat


Hingga Jumat (15/4) malam, polisi masih berupaya mengungkap motif aksi bom bunuh diri di dalam Masjid Adz-Dzikro di lingkungan Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat. Namun, polisi memastikan bisa segera mengidentifikasi karena wajah orang yang tewas dan diduga pelaku peledakan utuh tidak terluka.

Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, kepada pers di Markas Polres Kota Cirebon, Jumat sore, menjelaskan, insiden ledakan bom bunuh diri terjadi sekitar pukul 12.20 saat shalat Jumat baru akan dimulai. ”Mohon kesabarannya, kami tengah menyelidiki dan menyidik. Mudah-mudahan segera terungkap semuanya,” kata Timur.

Kepala Bagian Perencanaan Polres Kota Cirebon Komisaris Sutisna, saat ditemui di RS Umum Pertamina Cirebon, mengatakan, ”Wajah orang itu bisa diidentifikasi karena wajahnya tidak mengalami luka. Orang itu luka di bagian perut, hampir bolong.” Hal senada dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai.

Timur menegaskan, polisi segera memperketat pengamanan di seluruh areal kepolisian.

Dr Nurjati, dokter di RS Pelabuhan Cirebon, yang merawat 28 korban ledakan, menuturkan, sebagian besar korban luka parah akibat serpihan logam, paku, dan baut. Hingga Jumat malam, jumlah korban yang menjalani rawat inap 22 orang, sedangkan enam orang menjalani rawat jalan. Korban luka termasuk Kepala Polresta Cirebon Ajun Komisaris Besar Herukoco.

Jenazah seorang pria yang diduga pelaku peledakan, menurut Timur, kemarin langsung dikirim ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta, untuk penyidikan.

Ledakan terjadi setelah khatib baru saja menyelesaikan khotbahnya. Dari baris ketiga, mendadak terdengar ledakan bom yang diduga disembunyikan di balik baju salah seorang jemaah. Akibat ledakan itu, kaca-kaca jendela masjid pecah dan sebagian atap masjid berlubang terkena letupan bom.

”Ada 28 korban luka-luka dan satu korban meninggal dunia. Polisi menduga kuat, satu-satunya korban meninggal adalah pelaku bom tersebut. Bom itu ditempatkan di badan pelaku, tetapi kami belum tahu bentuk dan jenisnya,” kata Timur.

Korban meninggal yang diduga sebagai pelaku itu diperkirakan berusia 25-30 tahun dengan tinggi 170 sentimeter. Jenazah korban yang belum bisa diidentifikasi langsung dikirim ke RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 16.23. ”Korban luka parah di bagian atas perut sebelah kanan,” ujar Timur.

Bertingkah aneh

Ajun Inspektur Satu M Sukrim yang pada saat kejadian berada satu baris dengan pelaku menuturkan, pelaku sejak awal bertingkah aneh. Ia duduk di dekat pintu sekalipun bagian tengah masjid masih kosong. ”Saat khatib ceramah (khotbah), dia tidak memerhatikan dan justru mencari sandaran dekat tiang. Tetapi, saat akan mulai shalat, dia mendadak pindah posisi menuju ke tengah,” kata Sukrim.

Sesaat setelah bom meledak, suasana langsung panik dan banyak anggota jemaah yang keluar masjid karena khawatir ada bom susulan. ”Samping kanan saya sudah banyak anggota jemaah bergelimpangan dan mengerang kesakitan. Paku-paku menempel di lengan rekan saya, Heri,” katanya, yang juga mengalami luka ringan.

Akibat ledakan itu, Sukrim mengeluhkan telinga kanannya yang terus berdengung. ”Saya agak susah mendengar.”

Pelaku datang ke masjid dari arah samping, mengenakan kopiah dan jaket warna hitam. Polisi memastikan pelaku bukan dari unsur kepolisian, melainkan warga umum yang menumpang shalat di masjid polres.

Paku menancap

Polisi menjelaskan, ledakan bom bunuh diri itu melukai sejumlah perwira Polres Kota Cirebon, termasuk Kepala Bagian Administrasi Komisaris Suhadi dan Kepala Satuan Intelijen Ajun Komisaris Singgih. Selain itu, ada korban luka Ustaz Abas dan satu anggota masyarakat lain. Herukoco mengalami luka di punggung akibat serpihan paku dan baut. Suhadi luka parah di bagian lengan kiri dan leher akibat serpihan logam dan tancapan paku. Adapun Singgih mengalami luka di leher dan kaki.

Korban saat ini dirawat di dua rumah sakit, yakni 21 orang di RS Pelabuhan Cirebon dan satu orang di RSU Pertamina Cirebon, yakni Herukoco.

Hingga pukul 19.30, dokter berupaya mengeluarkan paku yang menancap di punggung Herukoco. Direktur RSU Pertamina Cirebon Zaenal Arifin memperkirakan, ada 4 paku dan 20 mur menancap di badan Herukoco. Operasi itu sendiri berlangsung sejak pukul 15.00. Setelah konferensi pers, Kapolri menjenguk Herukoco dan korban lain.

Komisaris Sutisna menambahkan, orang yang diduga pelaku itu duduk pada baris keempat. Saat shalat hendak dimulai, ia lalu maju ke baris kedua mendekati posisi Kapolresta. Selain melukai 28 orang, ledakan membuat atap masjid bolong dan kaca-kaca berantakan.

Sehubungan dengan kejadian itu, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, kepada pers di Jakarta, mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pemerintah mengecam keras perbuatan yang tidak berperikemanusiaan ini. ”Seluruh masyarakat Indonesia juga menyesalkan dan mengutuk perbuatan ini,” kata Djoko.

Tokoh ulama Cirebon, KH Maman, mengatakan, bom bunuh diri itu merupakan tindakan terencana. Pasti ada auktor intelektualis di balik aksi itu. Presiden harus mengungkap pelaku dan dalang di balik peristiwa ini.

Kepala BNPT Ansyaad Mbai menilai, dari rekam jejaknya, kelompok aksi bunuh diri itu diduga adalah kelompok yang sebelumnya pernah beraksi. ”Aparat keamanan akan lebih mudah mengusut aksi peledakan itu karena jasad korban tewas dan diduga pelaku masih utuh,” kata Ansyaad.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj mengecam keras aksi peledakan bom itu. Pemerintah dan aparat kepolisian diminta segera mengusut tuntas tragedi itu dan menyeret pelakunya ke pengadilan. ”Bom bunuh diri di Cirebon adalah perbuatan biadab. Semua bom dengan tujuan membunuh atau melukai manusia itu dilarang Islam, apalagi di masjid saat shalat Jumat. Itu seperti menantang,” kata Said Aqil Siradj.

Categories
Terorisme

Tubuh Korban Bom Cirebon Penuh Paku dan Aluminium Sementara Dalang Bom Bunuh Diri Sudah Kehilangan Akal Sehat Alias Tidak Waras


Ledakan bom yang terjadi saat dilaksanakannya sholat Jumat di Mapolresta Cirebon mendapat kecaman dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Buya Syafii Maarif.

Ia menganggap pelaku bom tersebut adalah orang yang sudah kehilangan akal sehat.

“Saya tidak habis pikir, hanya orang yang sudah kehilangan akal sehat yang tega bertindak keji tersebut,” kata Buya Syafii Maarif dalam rilis yang diterima kami, Jumat (15/4).

Ia menganggap ketidaktegasan pemerintah turut andil sehingga makin menyuburkan tindakan teror.

Sementara itu Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Fajar Riza Ul Haq mengatakan dalam peristiwa ini ada yang tidak beres dari sisi pengawasan dan pencegahan yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

“Ada yang tidak beres dalam sistem pengamanan dan pencegahan terhadap aksi-aksi teror, padahal kejadian semacam ini sudah berulang kali,” kata Fajar.

Menurutnya, keganjilan ini juga tampak dari lokasi yang dipilih. Fajar menilai Cirebon bukanlah kota yang memiliki karakteristik radikal. Bahkan menurutnya kota tersebut tidak pernah masuk dalam orbit radikalisme di Jawa Barat.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga meminta agar pihak kepolisian segera mengungkap siapa dalang peristiwa tersebut

Baru usai salat Jumat, waktu belum menunjukkan tepat pukul 13.30 WIB. Namun, sejumlah dokter sudah berlari-lari menyusuri selasar Rumah Sakit (RS) Pelabuhan Cirebon, Jawa Barat menuju ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Padahal, mereka baru saja selesai menunaikan salat Jumat di masjid yang ada di lingkungan rumah sakit tersebut. Bahkan sejumlah dokter belum terlihat menikmati makan siang mereka.

Di ruang IGD, kesibukan luar biasa pun telah terjadi. Puluhan korban dengan luka-luka di sekujur tubuh sudah berada di ruang tersebut. Puluhan paramedis pun sudah memeriksa mereka dan berusaha untuk mengeluarkan paku, baut maupun, pecahan logam yang menusuk ke dalam kulit korban.

Ruangan yang kecil membuat sebagian sejumlah korban harus menjalani perawatan darurat di ruang operasi.

Satu per satu, korban pun terus berdatangan ke ruang IGD. Suasana di rumah sakit itu pun semakin ramai,karena kedatangan anggota kepolisian maupun pengunjung rumah sakit yang penasaran. Isak tangis pun terdengar dari beberapa pengunjung yang anggota keluarganya menjadi korban dalam ledakan bom bunuh di Masjid Az Zikra yang ada di lingkungan Polres Cirebon Kota.

“Seluruh dokter jaga, bahkan dokter spesialis yang ada di rumah sakit ini kami kerahkan untuk membantu korban,” kata Yeni Rahmawati, Kepala Pelayanan Pelanggan dan Pemasaran RS Pelabuhan Cirebon.

Korban, lanjut Yeni, mulai dibawa ke RS Pelabuhan sekitar pukul 12.20 WIB.

“Dokter-dokter maupun paramedis pun langsung memberikan pertolongan pertama kepada mereka,” katanya. Dari 28 korban yang dibawa ke rumah sakit yang diperlukan perawatan intensif sebanyak 21 orang. Sebanyak 5 orang diperbolehkan untuk pulang dan hanya melakukan rawat jalan.

“Sedangkan Kapolres Cirebon saat ini dirawat di RS Pertamina,” katanya. Sedangkan seorang lagi dari awal sudah diperbolehkan untuk pulang karena hanya mengalami luka lecet.

Sementara itu dr Nurjati, Kepala Instalasi Rawat Inap RS Pelabuhan Cirebon, menjelaskan jika sebagian korban ada yang mengalami luka parah. Namun, ada pula yang mengalami luka ringan berupa lecet-lecet. “Korban yang mengalami luka parah karena terkena paku, baut, maupun lempengan logam aluminium yang banyak menempel di bagian tubuh mereka,” katanya.

Ada korban yang terluka di bagian punggung, bagian kepala dan wajah maupun bagian tubuh lainnya.

“Tapi rata-rata di bagian punggung yang banyak terluka,” kata Nurjati.

Termasuk Kapolres Cirebon, AKBP Herukoco, yang seluruh bagian punggungnya mengalami luka, termasuk keluarnya darah dari

bagian telinga.

Untuk penanganan pertama, dokter maupun perawat berusaha untuk mencabuti satu per satu paku, baut, maupun lempengan logam aluminium dari tubuh mereka. Setelah itu baru dirontgen dan jika memang parah akan dilakukan operasi.

Seperti diketahui, sebuah bom meledak di masjid Az Zikra, yang berada di kawasan Mapolres Cirebon Kota. Bom meledak sekitar pukul 12.20 WIB.

Meledaknya bom merupakan aksi bunuh diri yang hingga kini identitas pelaku belum diketahui. Pelaku sendiri tewas dan saat ini dibawa ke RS Kramat Jati, Jakarta.

Categories
Terorisme

Jenis Jenis Model Bom Yang Digunakan Teroris dan Perlu Diwaspadai Agar Tidak Jadi Korban


Hingga kini ada sembilan jenis bom rakitan yang digunakan teroris di Indonesia. Pelaku bom bunuh diri di Kompleks Kepolisian Resor Cirebon Kota pun diduga menggunakan salah satunya. Berikut ini jenis bom yang pernah menggegerkan negeri ini:

1. BOM BINGKISAN

Tempat : 23 gereja di berbagai kota
Waktu: 24 Desember 2000
Bahan: gotri, Black powder
Jenis Bom : rakitan
Korban : 20 tewas, 35 luka berat
Perakit: Azahari

2. BOM ROMPI
Tempat : Paddy’s Cafe, Bali
Waktu: 12 Oktober 2002
Jenis Bom : Black powder
Bahan: Potasium nitrat/kalium nitrat, belerang, 6 pipa PVC, 4 kg bubuk TNT.
Perakit : Azahari

3. BOM MOBIL
Tempat : Depan Sari Club, Bali
Waktu: 12 Oktober 2002
Jenis Bom : Black powder
Bahan : 900 kg potassium chlorate/kalium klorat, 40 kg bubuk aluminium, 100 kg belerang, 25 kg TNT. Dibawa mobil minibus.
Perakit : Azahari dan Dulmatin
Korban: 220 orang tewas

Tempat: Hotel JW Marriott
Waktu: 5 Agustus 2003
Jenis Bom : Black powder
Bahan: 3 galon bensin, 3 kotak bubuk TNT, kalium klorat 120 kg, dibawa minibus
Perakit : Azahari
Korban: 11 tewas

Tempat : Depan Kedutaan Besar Australia, Jakarta
Waktu: 9 September 2004
Jenis Bom : Black powder
Bahan: 120 kg TNT kalium klorat, belerang, dan bubuk aluminium dimasukkan mobil boks
Perakit: Azahari
Korban: 8 tewas

4. BOM RANSEL
Tempat : R.AJA’s Bar and Restaurant, Kuta dan Nyoman Café di Bali
Waktu: 1 Oktober 2005, korban
Bahan : Sulfur, potasium klorat, nitrat, gotri dimasukkan ransel
Perakit: Dulmatin
Korban: 22 tewas

5. BOM PIPA
Tempat : Pasar Tentena, Sulawesi Tengah
Waktu: 28 Mei 2005
Bahan : Potasium klorat, TNT, sulfur dimasukkan pipa
Perakit : Upik Lawanga alias Taufik Buraga
Korban: 21 tewas

6. BOM SENTER

Tempat : Kawua, Poso, Sulawesi Tengah
Waktu: 9 September 2006
Bahan : Bom dirakit di dalam senter berbatere enam dan meledak setelah tombol senter dipencet.
Perakit : Upik Lawanga alias Taufik Buraga
Korban: 1 tewas

7. BOM KOPER
Tempat : Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta
Waktu: 17 Juni 2009
Bahan : Potasium klorat, sulfur, dan alumunium powder 10 kilogram, mur baut dimasukkan koper.
Perakit : Ario Sudarso
Korban: 9 orang tewas

8. BOM SEPEDA
Tempat : Jalan Kalimalang, Jakarta
Waktu: 30 September 2010
Bahan : mesiu, karbit dan 50 buah paku berukuran 4 sentimeter, ditaruh di kardus di boncengan sepeda.
Perakit : Ahmad bin Abu Ali
Korban: 2 orang terluka

9. BOM BUKU
Tempat: kantor radio 68 H, Badan Narkotika Nasional, rumah Yapto Suryosumarno, Jakarta
Waktu: 15 Maret 2011
Bahan: potasium perklorat
Korban: 6 cedera

Categories
Terorisme

Serangan Bom Bunuh Diri Meledak Di Masjid Cirebon Saat Puluhan Umat Sedang Sholat Jumat


Mapolres Cirebon mendadak dikagetkan ledakan yang diduga bom bunuh diri oleh salah satu jamaah yang hendak shalat di Masjid At Taqwa Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, Jumat (15/4). Salah satu korban identifikasi adalah Kapolres Cirebon Ajun Komisaris Besar Edi Mardianto.

Sebuah bom meledak di Masjid Polres Cirebon Kota pukul 12.15. Radius ledakan itu mencapai 2 kilometer. Akibat ledakan itu sekitar 15 orang luka. Kini mereka dilarikan ke rumash sakit Pelabuhan Cirebon dan RS Tentara Cermai Cirebon.

Peristiwa ledakan berlangsung ketika dilakukan salat Jumat. Korban kebanyakan anggota masyarakat yang sedang sholat jumat. Kepolisian Resor Cirebon Kota telah memasang garis polisi di sekitar lokasi. Sejumlah Polisi Milter dan polisi organik sedang melakukan pemeriksaan di lokasi sekitar.

Demikian informasi yang dihimpun. Kapolres dibawa ke rumah sakit Gunung Jati. Sementara korban lainnya dilarikan ke rumah sakit Pelabuhan, Cirebon.

Sejauh ini jumlah korban luka-luka bertambah menjadi 17 orang. Kebanyakan dari para korban merupakan para personel polisi. Masjid yang berada di kompleks Mapolresta ini berada ditengah-tengah kota Cirebon.

Sebelumnya Polda Jawa Barat membenarkan jika adanya bom yang meledak di masjid dekat Mapolres Cirebon. Bom tersebut meledak setelah shalat Jumat sekitar pukul 12.35 WIB.

“Iya, benar ada bom. Sekitar pukul 12.35 WIB,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Agus Riyanto yang dihubungi Republika, Jumat (15/4) siang.

Ia menambahkan bom tersebut meledak di masjid dekat Mapolres Cirebon. Untuk korban akibat bom tersebut, ia belum memperoleh data detail. “Untuk informasi lainnya, saya masih mencarinya,” tegasnya.

Letakan bom bunuh diri di Masjid yang terletak di komplek Markas Polres Kota Cirebon, Jawa Barat, Jumat, 15 April 2011, siang ini mengindikasikan bahwa polisi sudah menjadi target dari para pelaku bom.

Penegaskan itu disampaikan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri (Mabes), Inspektur Jenderal, Anton Bachrul Alam. Jika targetnya bukan polisi, “Kenapa dia harus masuk ikut salat?”Masjid itu memang tempat salat Jumat polisi di sana.

Pelaku peledakan bom itu tewas di dalam Masjid, sejumlah 25 orang diangkut dan dirawat di Rumah Sakit. Siapa pelaku bom yang tewas itu masih ditelusuri oleh kepolisian. Yang juga menjadi korban ledakan itu adalah Kapolres Cirebon Ajun Komisaris Besar, Heru Koco. Dia kini sedang dirawat di Rumah Sakit Labuhan. Ledakan itu terjadi sekitar pukul 12.35 WIB, tepat saat salat Jumat baru dimulai.

KEPALA PELAKU SERANGAN BUNUH DIRI TERTINGGAL DI MASJID
Kepala milik pelaku dugaan bom bunuh diri di Masjid Polres Cirebon masih tertinggal di masjid itu. Saat ini tempat kejadian perkara telah dibatasi dan dilarang masuk.

Menurut petugas intel Polresta Cirebon, Brigadir Ecep, yang berada di belakang pelaku, semua korban terkena pecahan kaca dan paku, termasuk Kapolres Cirebon Ajun Komisaris Besar Herukoco.

Ecep sendiri turut menjadi korban, meskipun saat kejadian dia sempat tiarap. Pecahan kaca mengenai kakinya.

Saat ini setidaknya terdapat 40 korban yang dirawat di beberapa rumah sakit, yaitu RS Tentara, RS Pertamina, dan RS Pelabuhan.

Sebelumnya Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam menyatakan pelaku bom bunuh diri tewas saat beraksi di Masjid Attaqwa dalam kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon hari ini.

“Yang bersangkutan tewas,” kata Anton dalam jumpa pers di kantornya siang ini. Ia menambahkan jenazah pelaku sedang diperiksa. Ia menilai ledakan itu merupakan bom bunuh diri.

Anton menjelaskan ledakan terjadi pukul 12.20, persis saat salat Jumat mau dimulai. “Tiba-tiba ada satu orang ikut salat, dari dalam tubuhnya meledak,” kata dia yang mendapat informasi dari Wakapolresta Cirebon.

Menurut sumber Tempo, ledakan itu adalah bom bunuh diri. Pelaku, menurut sumber ini memakai baju hitam berdiri di shaf kedua saat shalat di masjid itu.

Peristiwa ledakan berlangsung ketika dilakukan shalat Jumat di masjid Polres Cirebon Kota. Akibatnya, jamaah yang kebanyakan merupakan anggota polisi menjadi korban dalam ledakan itu.

Kepolisian Cirebon Kota telah memasang garis polisi di sekitar lokasi. Sekarang ini pihak polisi milter dan organiknya sedang melakukan pemeriksaan di lokasi sekitar.

PELAKU BOM BUNUH DIRI DI MASJID CIREBON MENEROBOS MASUK KETIKA TAKBIR PERTAMA

Pelaku dugaan bom bunuh diri di Masjid Polres Cirebon menerobos masuk ke barisan kedua jamaah saat takbir pertama. Ia masuk dari pintu belakang masjid.

“Pas mau takbir pertama, pelaku merapat ke shaf kedua dari pintu belakang,” ujar Brigadir Ecep, petugas intel yang berada di belakang pelaku, Jumat 15 April 2011.

Ecep mengatakan posisi pelaku itu berdekatan dengan Kapolres Cirebon Kota Ajun Komisaris Besar Herukoco. Karenanya, Kapolres, yang berdekatan dengan pelaku, terkena serpihan kaca dan paku di kepala, punggung dan bagian tubuh lainnya.

Selain Kapolres, ledakan bom mengenai Kepala Bagian Administrasi Komisaris Suhadi, Kasat Intel Ajun Komisaris Singgih, Provost, dan anggota lainnya.

Para korban dirawat di beberapa rumah sakit, yaitu RS Tentara, RS Pertamina, dan RS Pelabuhan.

Sebelumnya Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam menyatakan pelaku bom bunuh diri tewas saat beraksi di Masjid Attaqwa dalam kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon hari ini.

Anton mengatakan ledakan terjadi pukul 12.20, persis saat salat Jumat mau dimulai. “Tiba-tiba ada satu orang ikut salat, dari dalam tubuhnya meledak,” kata dia yang mendapat informasi dari Wakapolresta Cirebon.