Indonesia Dijadikan Musuh dan Medan Perang Baru Oleh Pasukan NII Sebagai Pengganti Amerika Serikat

Berbagai penemuan bom tahun 2011 ini menunjukkan bahwa generasi baru pelaku aksi terorisme telah lahir di negeri ini. Lebih dari itu, berbagai kasus bom itu juga membuktikan, Indonesia kini sudah menjadi medan perang baru bagi pelaku aksi terorisme.

Jaringan pelaku terorisme sebelumnya terkait Jemaah Islamiyah (JI) menjadikan Amerika Serikat dan kelompok non-Muslim sebagai musuh terdekatnya. Generasi pelaku te- rorisme baru yang berakar pada jaringan Negara Islam Indonesia (NII) menjadikan institusi pemerintah, TNI, Polri, dan kelompok non-Muslim sebagai musuh terdekatnya. AS menjadi musuh jauh.

Karena itu, untuk menghadapi kelompok teroris baru itu, semua komponen bangsa harus bergerak bersama, tak bisa bergantung pada pemerintah dan aparat saja. Deradikalisasi kepada kelompok radikal itu perlu dilakukan oleh berbagai komponen bangsa ini.

”Sekarang di Indonesia banyak rekrutmen baru. Indonesia dianggap sebagai medan perang,” papar pengamat intelijen Wawan Purwanto, Minggu (1/5) di Jakarta.

Yang melakukan perekrutan, kata Wawan, adalah kelompok pelaku teror yang selama ini belum tertangkap. ”Misalnya, kelompok Poso belum semuanya tertangkap. Kelompok bom Bali I juga masih ada yang belum tertangkap,” katanya. Kelompok itu pernah direkrut tersangka teroris Noordin M Top dan melakukan perekrutan anggota jaringan teroris baru cara klandestin, yakni gerakan tertutup, bawah tanah.

Untuk generasi pelaku terorisme yang belakangan muncul, pengamat terorisme Al Chaidar di Jakarta, Minggu, menyatakan, kelompok ini sebenarnya lebih kompromistis, lebih mudah didekati. Pemerintah bisa membuat program multikulturalisme karena doktrin lama mereka, yang menjadi musuh adalah TNI, polisi, dan orang non-Muslim. Apalagi, sebagian dari mereka sudah terbuka untuk berinteraksi dengan pemerintah dan khalayak.

Al Chaidar menyebutkan, dua tahun lalu kelompok ini terbagi atas 14 faksi. Namun, lewat gerakan transformasi yang dirintisnya, mengubah paham kekerasan menjadi perdamaian, gerakan bawah tanah menjadi di atas tanah, dan organisasi tertutup menjadi terbuka, kini tinggal tersisa tujuh faksi. Tujuh faksi ini yang kini melakukan ”perang” melalui serangkaian gangguan bom.

Tersangka terkait bom di dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, Tangerang, dan bom buku, Pepi Fernando, misalnya, dilaporkan juga pernah direkrut NII. Jaringan terorisme lama terkait JI pun berhubungan dengan NII.

Generasi baru

Secara terpisah, pengamat terorisme dari International Crisis Group, Sydney Jones; bekas Ketua Mantiki III JI Nasir Abas; anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin; dan Wawan mengakui, jaringan terorisme terus tumbuh di Indonesia. Pertumbuhan jaringan terorisme itu kini bahkan melahirkan generasi baru dengan ideologi, modus, dan sasaran serangan yang bergeser dibandingkan dengan jaringan sebelumnya.

Mereka juga mengorganisasi diri dalam kelompok kecil, sebagian dengan bom rakitan sederhana dan sasarannya individual. Hal itu didasarkan pada serangkaian aksi kekerasan selama 2011 dibandingkan dengan sejumlah kasus bom sebelumnya, khususnya sejak 2000.

Selama 2011 ada bom buku yang dikirimkan kepada sejumlah orang di Jakarta dan Bogor, bom bunuh diri di Markas Polresta Cirebon (Jawa Barat), dan bom di Serpong. Tahun 2000-2010 terjadi serangkaian aksi terorisme dengan berbagai bom dengan korban beragam dan berjumlah massal.

Sasaran serangan bom hingga 2010 masih terkait dengan simbol AS atau dunia Barat serta kelompok non-Muslim, misalnya bom di gereja, restoran, dan pub di Bali serta hotel yang terkait dengan AS. Adapun sasaran bom tahun 2011 mengincar pribadi dan polisi.

Sydney menengarai, ada pergeseran ideologi, organisasi, dan modus aksi bom di Indonesia. Bom saat ini dilancarkan tanpa instruksi langsung dari organisasi besar, dikelola dalam kelompok kecil, dan mengincar sasaran lebih dekat, termasuk pejabat atau tokoh tertentu. Dalam beraksi, kelompok kecil itu bergerak sendiri secara leluasa.

Hal ini terjadi, antara lain, karena aparat keamanan menangkap tokoh dalam organisasi besar teroris. Sebagian anggotanya lantas membentuk kelompok kecil. Sebenarnya perubahan ini terdeteksi sejak 1,5 tahun terakhir, seperti dari penangkapan teroris di Klaten (Jawa Tengah), Medan, Bandung, dan Lampung. Kelompok ini lebih sulit dideteksi.

Menurut Nasir, senada dengan Al Chaidar, meski tak ada kaitan langsung dengan organisasi besar, kelompok kecil jaringan terorisme itu ialah aktivis ekstrem hasil didikan kelompok besar, seperti Pepi yang terkait NII. ”Sudah biasa pelaku bom itu beraksi dengan cara sendiri, tanpa atas nama organisasi besar,” katanya.

Nasir juga meragukan, kelompok kecil jaringan terorisme dan baru itu, seperti jaringan Pepi, belajar membuat bom secara otodidak dari internet. Kemungkinan ada orang yang memotivasi dan mengajarinya dasar-dasar membuat bom, baru ia mengembangkan sendiri.

Wawan mengingatkan, jaringan teroris tidak berhenti mencari anggota dan modus baru. Namun, modus lama juga tetap dapat digunakan.

Sebaliknya, Al Chaidar mengaku belum melihat pergeseran signifikan pada pola dan jaringan terorisme di Indonesia. Aksi terorisme masih dilakukan oleh kelompok yang terkait dengan jaringan lama. ”Hanya bergeser sedikit, tetapi tak ada perubahan yang berarti,” ungkapnya.

Sebelum berkembang menjadi JI, kelompok ini berasal dari Darul Islam dan NII. Kini yang muncul kembali dan dinilai sebagai generasi baru adalah jaringan yang terkait dengan NII.

Menghadapi pergeseran terorisme dalam kelompok kecil ini, TB Hasanuddin berharap pemerintah dan aparat keamanan lebih jeli dan ketat dalam mendeteksi gejala terorisme. Deteksi sebaiknya dilakukan hingga tingkat bawah, seperti rukun tetangga.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s