Tren Penyebaran AIDS/HIV Berubah Dari Pelaku Narkoba Ke Seks


Tren penyebaran HIV/AIDS telah berubah. Dulu tingkat prevelensi atau penyebaran infeksi baru HIV/ADIS paling tinggi oleh pelaku narkoba dengan penggunaan jarum suntik bersama-sama. Kini pola penyebaran paling tinggi diakibatkan perilaku seks beresiko kaum homoseksual yang telah menikah.

HIIV/AIDS kini tidak hanya diderita oleh orang dewasa saja. Bahkan pelaku seks beresiko dapat menularkan HIV/AIDS kepada pasangan di rumah. Sehingga ibu kelak yang mengandung, dapat menularkan HIV/AIDS kepada janin yang di kandungnya.

Perubahan tren di atas dikatakan oleh Sekretaris KPAN RI dr. Nafsiah Mboi, SpA., MpH di Ruang Rapat I, Balaikota Bogor,. Nafsiah memberikan pembekalan kepada aktivis HIV/AIDS sebelum melakukan observasi ke kantong-kantong pelaku seks beresiko di Kota Bogor, seperti Taman Topi, Jalan Bangka dan Terminal Bubulak.

Aktivis juga diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Bogor Bambang Gunawan, Kepala BPMKB Kota Bogor Nia Kurnaesih dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Triwandha Elan.

“Mengendalikan prevelensi akibat perilaku seks beresiko seperti ini tidak mudah,” jelas Nafsiah. Terlebih, berdasarkan hasil pengamatan, lebih dari 2000 pelabuhan di Indonesia, tidak ada satupun yang tidak ada tempat pelacuran. Tidak ada satu terminal pun yang tidak ada pelacuran.

Hal ini dipersulit dengan pembubaran lokalisasi. Pelacuran kini masuk ke dalam rumah-rumah penduduk sehingga sulit dipetakan. Hal ini diperparah dengan minimnya pemahaman pelaku seks beresiko terhadap pentingnya perlindungan diri, seperti pentingnya menggunakan kondom.

“Kita harus berpacu dengan perilaku seks beresiko. Kenyataannya di Indonesia prevelensi akibat perilaku seks beresiko meningkat, namun penggunaan kondom ditentang,” tambahnya. Untuk itu, lanjutnya, penggunaan kondom pada seks beresiko harus ditingkatkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari epidemic HIV/AIDS.

Pencegahan primer yang harus dilakukan adalah kepada anak-anak. Agar tidak terkena HIV/AIDS, pelaku seks beresiko harus menggunakan kondom. Bila sudah terinfeksi, diusahakan agar tidak menularkan kepada pasangan. Dan bagi yang sudah terinfeksi HIV, harus meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah agar tidak berubah menjadi AIDS.

Senada dengan Nafsiah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Triwanda Elan mengatakan bahwa di Kota Bogor, HIV/AIDS masih menjadi fenomena gunung es. Dinas Kesehatan baru mencatat penderita HIV/AIDS 530 orang. Padahal ia yakin, realita di masyarakat lebih banyak lagi.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Bogor Bambang Gunawan menambahkan bahwa hingga kini Pemerintah Kota Bogor terus berupaya mencegah penyebaran HIV/AIDS.Namun faktanya, jumlah penderita HIV/AIDS di KOta Bogor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Bahkan berdasarkan angka estimasi tahun 2006, tercatat ada 22 ribu warga Kota Bogor yang masuk ke dalam resiko HIV/AIDS,” cetus Bambang.

Untuk itu, sejak tahun 2006, penanganan pencegahan HIV/AIDS telah masuk ke dalam Rencana Strategis KPAD Kota Bogor. Beragam upaya dan program telah dilakukan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS meningkat. Salah satunya dengan sosialisasi kepada kelompok usia rendah dan pelaku seks beresiko. “Sedangkan kepada penderita, kami terus berupaya agar mereka mendapatkan penanganan klinis yang lebih serius,” ujarnya.

Bambang juga menjelaskan, bahwa sejak tahun 2009, pemerintah memiliki program agar para pelaku seks beresiko ini diikutsertakan dalam program pemberdayaan secara ekonomi berupa bantuan ekonomi produktif. Bagi penderita, kini Kota Bogor telah memiliki Puskesmas Bogor Timur yang menjadi rujukan penanganan penderita HIV/AIDS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s