Categories
Lain Lain

Jakarta Merupakan Basis NII (Negara Islam Indonesia) Dengan Jumlah Anggota 151 Ribu Orang


Mantan anggota gerakan Negara Islam Indonesia, Sukanto, menyebut bahwa Jakarta merupakan basis terbesar gerakan NII. “Kantong-kantong NII kebanyakan di pinggiran Jakarta,seperti Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Timur,” ujarnya saat diskusi bertema “Penanganan NII di berbagai daerah” di gedung DPD, Rabu 4 Mei 2011.

Sukanto yang saat ini tergabung dalam NII Crisis Centre, gerakan anti NII yang dididrikan oleh eks anggota, mengatakan NII memilih wilayah pinggiran dikarenakan wilayah seperti ini biasanya banyak anak muda yang menjadi sasaran mereka. Selain itu,”Di pinggiran dimana perumahan masih banyak, orang tidak terlalu peduli dan mobilitasnya mudah,” ujarnya.

Ia mengatakan, berdasarkan data 2007, anggota NII di Jakarta berjumlah mencapai 151 ribu orang. “Keseluruhan anggotanya 181 ribu, itu data riil yang saya lihat langsung,” ujarnya. Ia juga memperkirakan jumlah ini telah bertambah besar. “Saya tidak tahu pasti, tapi perkiraan saya semakin besar karena jaringan mereka masih aktif,” ujarnya.

Mengenai lokasi persebarannya, Sukanto mengatakan bahwa persebaran terbesar berada di daerah Jakarta Selatan. ” Daerah Pamulang, Lebak Bulus sampai Serpong. Juga Pasar Minggu dan sekitarnya,” ujarnya. Sementara untuk wilayah Jakarta Timur tersebar di daerah Jatiwaringin, Jati Bening, sampai Bekasi. “Kalau Jakarta Barat di daerah Meruya dan sekitarnya,” tutur Sukanto.

Ia mengatakan, wilayah persebaran NII difokuskan pada wilayah Jawa. “Di jawa ada lima wilayah, dan satu lagi di Malaysia, jadi semuanya ada enam,” ujarnya. Wilayah ini, menurut Sukanto, merupakan wilayah utama. “Kalau yang lain disebutnya toifah,” jelasnya.

Sukanto menambahkan, biasanya Jaringan NII ini tersebar dari tingkatan provinsi sampai yang mereka sebut desa. “Jadi seperti ada struktur pemerintahan sendiri,” jelasnya. Untuk tingkatan desa, basis pergerakan ini biasanya dipusatkan di kontrakan-kontrakan para anggotanya. “Dirumah-rumah petakan begitu,” ujarnya.

Ia menambahkan, biasanya para anggota NII ini selalu sembunyi-sembunyi jika mengadakan pertemuan. “Biasanya pintunya ditutup dan di pasang radio yang kencang biar tidak kedengaran kegiatan mereka,” tandasnya. Sementara untuk tingkat Kabupaten atau Provinsi, biasanya NII menggunakan perumahan-perumahan elit yang berfungsi sebagai pusat komando dan juga pusat pembaiatan. “Untuk baiat itu perumahan besar yang kontraknya tahunan. Tempatnya sepi. Itu tempat pembaiatan, terutama di Jakarta Timur,” ujarnya.

Categories
Transportasi

Honda Luncurkan Skutik Baru Spacy Helm In Dengan Harga 11 Juta Rupiah


PT Astra Honda Motor (AHM) meluncurkan sepeda motor matik (skutik) baru untuk pasar global dengan bagasi yang lebih besar, yaitu “Spacy helm-in,” dan Indonesia menjadi negara pertama peluncuran produk tersebut.

“Ini (skutik Spacy) adalah model global yang diproduksi di Indonesia dan China. Produksinya hampir bersamaan di kedua negara tersebut,” kata Presdir AHM Yusuke Hori, di Jakarta, Rabu.

Negara lainnya di Asia, lanjut dia, akan menyusul untuk memproduksi skutik baru tersebut pada tahun ini juga. “Indonesia merupakan pasar pertama untuk model dengan konsep baru ini,” kata Hori.

Selain di Indonesia dan China, skutik Spacy, lanjut dia, juga diproduksi dan dipasarkan di Eropa, Jepang, Australia, Thailand, dan Vietnam.

Ditambahkan Direktur Pemasaran AHM Kojiro Iguchi, skutik baru tersebut dikembangkan selama dua tahun mulai dari konsep hingga produksi. “Target kami adalah keluarga muda,” katanya.

Skutik Spacy memakai mesin yang sama dengan skutik Honda lainnya yang membidik segmen bawah yaitu Beat. Perbedaannya, kata dia, Spacy memiliki desain modern, dengan kapasitas bagasi lebih besar mencapai 18 liter atau cukup untuk bagasi satu helm “full face,” dan tangki bensin mencapai lima liter.

“Peningkatan kinerja mesin membuat skutik itu mampu berjalan 205 kilo meter dengan tangki penuh lima liter,” tambah Hori. Konsumsi bahan bakarnya sendiri mencapai 41 kilometer per liter. Bahkan dengan kecepatan stabil 50 kilometer per jam, maka konsumsi bahan bakarnya mencapai 67 kilometer per liter.

Di Indonesia, skutik Spacy dipasarkan dengan dengan harga Rp11,75 juta per unit (velg jari-jari) dan Rp12,55 juta per unit (velg racing), dengan target penjualan sebanyak 25.000 unit.

Direktur Pemasaran AHM Auddie A Wiranata memperkirakan pada triwulan II permintaan sepeda motor, terutama di segmen skutik, akan meningkat.

“Kami mengharapkan pada triwulan II permintaan skutik setidaknya sama dengan triwulan I,” kata dia.

Pada triwulan I penjualan skutik AHM mencapai 518.136 unit atau menguasai 52,23 persen pasar dengan pertumbuhan sebesar 88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada April, penjualan skutik Honda mencapai 177 ribu unit atau naik 174 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

Pada triwulan I penjualan AHM mencapai 989.862 unit dari total pasar sepeda motor nasional sebesar 1.985.800 unit. Sedangkan pada April penjualan Honda mencapai 370.467 unit.

Categories
Beragama Berbudaya

Menjalankan Islam Sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam


Dalam masyarakat yang multikultural, umat Islam harus bangkit mendakwahkan perubahan positif dan memberikan solusi terhadap persoalan masa kini.

Umat Islam akan mengulang kejayaan peradaban yang pernah dialaminya sebagai perwujudan misi Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), jika kembali kepada Alquran dan sunnah sebagai sumber hukum dan rujukan berijtihad.

Kini telah terjadi kemunduran dan tafaruq (perpecahan) di kalangan umat muslim, bukan kerena ketidakmampuan Islam mempersatukan umatnya, namun karena sikap beragama yang statis, eksklusif dan fanatik terhadap mazhab, serta krisis kepemimpinan dalam umat.

Mengindendtikan Islam dengan tindakan kekerasan dan mengarahterorisme, jelas sangat tidak diinginkan.

Munculnya aksi kekerasan dan radikalisme di berbagai negara, senyatanya disebabkan oleh faktor sosial, ekonomi, ketidakadilan atau karena tekanan politik rezim.

Islam memang membolehkan penganutnya menggalang kekuatan dan kekerasan, namun itu hanya untuk membela diri ketika diserang.

Syeikh Muhammad bin Husain bin Said Alu Sufran Al Qahtani menjawab persoalan radikalisme, terorisme, aksi bom bunuh diri dan berbagai bentuk tindakan anarkhis lainnya melalui bukunya Fataawa al-Aimmah fii an-Nawaazil al-Mudalhimah yang pada Desember 2008 disalin ke versi Bahasa Indonesia dalam “Fatwa-Fatwa Ulama Terkemuka tentang Tindak Kekerasan”.

Pada pengatar buku setebal 143 halaman dan diterbitkan Pustaka Islahul Ummah dengan penerjemah Ade Hermansyah Lc.M.Pd.I itu, mantan Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni menyebutkan buku itu mengurai bagaimana para ulama memberikan pencerahan dan pemahaman yang tepat mengenai ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadits.

Para ulama memberikan pemahaman tentang dasar-dasar berpijak bagi kaum muslimin dalam mengarungi kehidupan yang sarat dengan tantangan dan godaan yang dapat menimbulkan kekerasan atau konflik.

Apa hukum orang yang meletakkan bahan peledak di badannnya, lalu meledakkan dirinya di tengah kerumunan orang-orang kafir sebagai bentuk penyerangan?

Dalam bukut itu, Syeikh Qahtani dengan tegas menjawabnya, orang itu akan ditempatkan di neraka Jahannam. Dia akan kekal di sana.

Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan bahwa orang yang membunuh dirinya akan disiksa dengan cara yang sama saat ia membunuh dirinya, sesuai Alquran dalam surat An Nisa: 29, “Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.

Ada yang berpendapat bahwa perbuatan maksiat dan dosa besar yang dilakukan sebagian penguasa, menyebabkan wajibnya memberontak untuk perubahan, walau mengandung risiko. Banyak peristiwa menimpa dunia Islam akibat tindakan tersebut. Bagaimana pendapat yang mulia?

Untuk menjawab persoalan tersebut, diangkat berbagai ayat dalam Alquran yang kemudian mengerucut bahwa tidak diperbolehkan membangkang dan memberontak, kecuali bila melihat kekufuran yang nyata dan memiliki bukti kuat.

Memberontak dapat menimbulkan kerusakan besar. Hilangnya keamanan, hilangnya hak, tak bisa mencegah orang zalim dan menolong orang dizalimi. Kecuali kaum muslimin melihat ada kekufuran nyata dan punya bukti kuat, memiliki kekuatan, maka boleh memberontak untuk menurunkannya.

Namun apabila tak ada kekuatan, memberontak itu bisa dibenarkan, apalagi pemberontakan itu menyebabkan keburukan yang lebih besar.

Ulama sepakat, tidak boleh menghilangkan keburukan dengan sesuatu yang lebih buruk. Yang benar adalah mencegah keburukan dengan apa-apa yang bisa menghilangkan atau mengurangi.

Ada penjelasan tentang gairah untuk melenyapkan kemunkaran yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam perbuatan yang bertentangan dengan syara (agama) seperti dilakukan kaum khawarij dan mu`tazilah.

Mereka terdorong oleh semangat membela kebenaran dan kecemburuan terhadap kebenaran yang menjerumuskan mereka ke dalam kesalahan dengan mengafirkan kaum muslimin yang berbuat maksiat atau menyatakan orang yang berbuat maksiat akan kekal di neraka, seperti anggapan kaum mu`tazilah.

Berkaitan radikalisme, sebagaimana marak diwartakan, fatwa ulama yang tertuang dalam buku itu sangat penting dipahami. Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin pun mengingatkan, persoalan sosial, agama, ekonomi dan politik harus diselesaikan karena memiliki korelasi dengan radikalisme.

Radikalisme akan terus berkembang seperti terjadi pada Negara Islam Indonesia dan menggunakan agama sebagai jastifikasi. faham ini jangan sampai masuk ke kampus. Ia mengimbau anak muda jangan terpengaruh pemikiran pembentukan negara baru. Kata Dini, itu pemikiran masa silam yang harus dikubur.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Agil Siroj pun sejalan dengan pemikiran para ulama bahwa radikalisme harus dihentikan di permukaan bumi.

Agil melihat radikalisme sudah masuk pada tahap lampu merah alias emergency.

Hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) menyebutkan lebih dari 40 persen anak usia remaja/sekolah di Jakarta setuju melakukan aksi kekerasan untuk menyelesaikan moral dan agama.

Jika memang demikian adanya, para orangtua, guru sekolah dan ustadz atau ustazah perlu menggali fatwa ulama sebagai dasar referensi atau perbendaharaan pengajaran di lembaga pendidikan mereka masing-masing.

Ulama adalah pewaris ilmu yang diturunkan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Kedekatan ulama dan ummat bukan didasari kepada kepentingan diri pribadi, tapi demi menuju kedamaian dan kesejahteraan umat.

Categories
Terorisme

NII Sudah Bentuk Pemerintahan Bayangan Dengan Gaji Presiden Rp. 10 Juta Per Bulan


Negara Islam Indonesia (NII) bisa disebut menjadi pemerintah bayangan. Karena NII ternyata telah memiliki struktur pemerintahan lengkap, mulai presiden, menteri, bupati, hingga tingkat rukun tetangga (RT).

Bahkan para pejabat tinggi mereka telah mendapatkan gaji bulanan yang mencapai jutaan rupiah. “Untuk Presiden, gajinya Rp10 juta, menteri Rp2 juta,” kata Imam Supriyanto yang pernah menjadi Menteri Peningkatan Produksi NII.

Gaji para bawahan, lanjutnya, tidak diketahui secara detailnya, sebab dalam mengurus masalah finansial, sudah ada Menteri Keuangan NII yang mengaturnya. “Saya tidak tahu, karena yang mengurusi itu Menteri Keuangan.”
Dana untuk menggaji birokrasi mereka, lanjutnya, didapat dari sumbangan anggota yang berada di daerah-daerah. Seperti dari desa, lalu naik ke kelurahan, naik kecamatan, dan kabupaten. “Setiap anggota di daerah wajib menyetorkan apapun caranya tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya,” ungkapnya.

Tiap pribadi wajib menyetor, misal diharuskan menyetor satu juta sedangkan dia hanya memiliki 100 ribu, sisanya itu harus mencari.

BERKEDOK AGAMA

Ketua Divisi Kajian Strategis DPP Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, mengungkap data penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP). Dari data disebutkan ada kecenderungan remaja ikut dalam kekerasan berkedok agama.

“Sebanyak 48,9% pelajar tingkat SMP dan SMA di DKI Jakarta menyatakan mau ikut dalam kekerasan isu agama dan moral,” jelas Ulil dalam jumpa pers bersama sejumlah pengurus DPP Demokrat di Cikini, Minggu (1/5).

Menurutnya ini jadi ladang subur untuk menanamkan radikalisasi dan rekrutmen kader yang siap bunuh diri seperti pemboman atau yang lain.

Untuk mencegah radikalisasi itu, lanjutnya, bisa dengan pendekatan budaya oleh tokoh dan pemuka agama. “Hindari kata-kata yang menyebar kebencian dan kekerasan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Wasekjen PD Ramadhan Pohan menyesalkan pernyataan politisi FPDIP TB Hasanudin yang mengkritik kebijakan memberlakukan Siaga I.

Kapolri Jenderal Pol. Timur Pradopo mengatakan pihaknya tengah menyelidiki berbagai kasus penipuan berkedok Negara Islam Indonesia (NII). “Sekarang yang disidik Polri pelanggaran hukumnya,” kata Timur Pradopo usai menghadiri apel persiapan Satgas PAM KTT ASEAN ke 18 di Lapangan Monas, Minggu (1/5). Dalam penanganan NII, kata Timur, polisi bersinergi dengan berbagi instansi terkait.

Categories
Terorisme

Indonesia Dijadikan Musuh dan Medan Perang Baru Oleh Pasukan NII Sebagai Pengganti Amerika Serikat


Berbagai penemuan bom tahun 2011 ini menunjukkan bahwa generasi baru pelaku aksi terorisme telah lahir di negeri ini. Lebih dari itu, berbagai kasus bom itu juga membuktikan, Indonesia kini sudah menjadi medan perang baru bagi pelaku aksi terorisme.

Jaringan pelaku terorisme sebelumnya terkait Jemaah Islamiyah (JI) menjadikan Amerika Serikat dan kelompok non-Muslim sebagai musuh terdekatnya. Generasi pelaku te- rorisme baru yang berakar pada jaringan Negara Islam Indonesia (NII) menjadikan institusi pemerintah, TNI, Polri, dan kelompok non-Muslim sebagai musuh terdekatnya. AS menjadi musuh jauh.

Karena itu, untuk menghadapi kelompok teroris baru itu, semua komponen bangsa harus bergerak bersama, tak bisa bergantung pada pemerintah dan aparat saja. Deradikalisasi kepada kelompok radikal itu perlu dilakukan oleh berbagai komponen bangsa ini.

”Sekarang di Indonesia banyak rekrutmen baru. Indonesia dianggap sebagai medan perang,” papar pengamat intelijen Wawan Purwanto, Minggu (1/5) di Jakarta.

Yang melakukan perekrutan, kata Wawan, adalah kelompok pelaku teror yang selama ini belum tertangkap. ”Misalnya, kelompok Poso belum semuanya tertangkap. Kelompok bom Bali I juga masih ada yang belum tertangkap,” katanya. Kelompok itu pernah direkrut tersangka teroris Noordin M Top dan melakukan perekrutan anggota jaringan teroris baru cara klandestin, yakni gerakan tertutup, bawah tanah.

Untuk generasi pelaku terorisme yang belakangan muncul, pengamat terorisme Al Chaidar di Jakarta, Minggu, menyatakan, kelompok ini sebenarnya lebih kompromistis, lebih mudah didekati. Pemerintah bisa membuat program multikulturalisme karena doktrin lama mereka, yang menjadi musuh adalah TNI, polisi, dan orang non-Muslim. Apalagi, sebagian dari mereka sudah terbuka untuk berinteraksi dengan pemerintah dan khalayak.

Al Chaidar menyebutkan, dua tahun lalu kelompok ini terbagi atas 14 faksi. Namun, lewat gerakan transformasi yang dirintisnya, mengubah paham kekerasan menjadi perdamaian, gerakan bawah tanah menjadi di atas tanah, dan organisasi tertutup menjadi terbuka, kini tinggal tersisa tujuh faksi. Tujuh faksi ini yang kini melakukan ”perang” melalui serangkaian gangguan bom.

Tersangka terkait bom di dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, Tangerang, dan bom buku, Pepi Fernando, misalnya, dilaporkan juga pernah direkrut NII. Jaringan terorisme lama terkait JI pun berhubungan dengan NII.

Generasi baru

Secara terpisah, pengamat terorisme dari International Crisis Group, Sydney Jones; bekas Ketua Mantiki III JI Nasir Abas; anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin; dan Wawan mengakui, jaringan terorisme terus tumbuh di Indonesia. Pertumbuhan jaringan terorisme itu kini bahkan melahirkan generasi baru dengan ideologi, modus, dan sasaran serangan yang bergeser dibandingkan dengan jaringan sebelumnya.

Mereka juga mengorganisasi diri dalam kelompok kecil, sebagian dengan bom rakitan sederhana dan sasarannya individual. Hal itu didasarkan pada serangkaian aksi kekerasan selama 2011 dibandingkan dengan sejumlah kasus bom sebelumnya, khususnya sejak 2000.

Selama 2011 ada bom buku yang dikirimkan kepada sejumlah orang di Jakarta dan Bogor, bom bunuh diri di Markas Polresta Cirebon (Jawa Barat), dan bom di Serpong. Tahun 2000-2010 terjadi serangkaian aksi terorisme dengan berbagai bom dengan korban beragam dan berjumlah massal.

Sasaran serangan bom hingga 2010 masih terkait dengan simbol AS atau dunia Barat serta kelompok non-Muslim, misalnya bom di gereja, restoran, dan pub di Bali serta hotel yang terkait dengan AS. Adapun sasaran bom tahun 2011 mengincar pribadi dan polisi.

Sydney menengarai, ada pergeseran ideologi, organisasi, dan modus aksi bom di Indonesia. Bom saat ini dilancarkan tanpa instruksi langsung dari organisasi besar, dikelola dalam kelompok kecil, dan mengincar sasaran lebih dekat, termasuk pejabat atau tokoh tertentu. Dalam beraksi, kelompok kecil itu bergerak sendiri secara leluasa.

Hal ini terjadi, antara lain, karena aparat keamanan menangkap tokoh dalam organisasi besar teroris. Sebagian anggotanya lantas membentuk kelompok kecil. Sebenarnya perubahan ini terdeteksi sejak 1,5 tahun terakhir, seperti dari penangkapan teroris di Klaten (Jawa Tengah), Medan, Bandung, dan Lampung. Kelompok ini lebih sulit dideteksi.

Menurut Nasir, senada dengan Al Chaidar, meski tak ada kaitan langsung dengan organisasi besar, kelompok kecil jaringan terorisme itu ialah aktivis ekstrem hasil didikan kelompok besar, seperti Pepi yang terkait NII. ”Sudah biasa pelaku bom itu beraksi dengan cara sendiri, tanpa atas nama organisasi besar,” katanya.

Nasir juga meragukan, kelompok kecil jaringan terorisme dan baru itu, seperti jaringan Pepi, belajar membuat bom secara otodidak dari internet. Kemungkinan ada orang yang memotivasi dan mengajarinya dasar-dasar membuat bom, baru ia mengembangkan sendiri.

Wawan mengingatkan, jaringan teroris tidak berhenti mencari anggota dan modus baru. Namun, modus lama juga tetap dapat digunakan.

Sebaliknya, Al Chaidar mengaku belum melihat pergeseran signifikan pada pola dan jaringan terorisme di Indonesia. Aksi terorisme masih dilakukan oleh kelompok yang terkait dengan jaringan lama. ”Hanya bergeser sedikit, tetapi tak ada perubahan yang berarti,” ungkapnya.

Sebelum berkembang menjadi JI, kelompok ini berasal dari Darul Islam dan NII. Kini yang muncul kembali dan dinilai sebagai generasi baru adalah jaringan yang terkait dengan NII.

Menghadapi pergeseran terorisme dalam kelompok kecil ini, TB Hasanuddin berharap pemerintah dan aparat keamanan lebih jeli dan ketat dalam mendeteksi gejala terorisme. Deteksi sebaiknya dilakukan hingga tingkat bawah, seperti rukun tetangga.

Categories
Berbudaya

4000 Orang Mengamuk Di Acara Ultah Kota Depok Ngubek Situ Karena Tidak Kebagian Ikan


Sedikitnya 4.000 orang yang memadati Situ Citayam, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, mengamuk. Mereka merusak panggung acara ”Ngubek Situ”, menjarah hadiah, dan menceburkannya ke dalam situ. Amuk massa ini terjadi hanya gara-gara ikan.

Massa kecewa dengan panitia yang menjanjikan menebar 2 ton ikan di dalam situ. Kenyataannya, ikan tidak sebanyak yang dijanjikan panitia. Kemarahan massa makin menjadi ketika tahu panitia menyimpan sebagian ikan. Padahal, peserta acara telah membayar Rp 20.000 per orang.

”Keributan tidak akan terjadi kalau panitia bagus. Mereka tidak terbuka soal ikan. Namanya juga acara ngubek situ, orang yang ngubek berharap mendapatkan ikan. Apalagi panitia janji menebar 2 ton ikan,” tutur Nendi (44), warga Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Minggu (1/5).

Gelagat terjadinya keributan terlihat sejak pukul 08.00. Saat itu, peserta Ngubek Situ mulai turun ke dalam situ mencari ikan. Beberapa peserta mulai melontarkan kekecewaan. Sekitar 30 menit setelah Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il meninggalkan lokasi, makin banyak orang kecewa.

Tidak lama kemudian, kerusuhan di lokasi Ngubek Situ terjadi. Massa nekat menceburkan hadiah ke dalam situ.

Keributan kian membesar. Massa tidak lagi peduli kepada petugas keamanan yang berjaga. Mereka menginjak-injak panggung utama panitia. Massa menjarah hadiah yang tersisa di panggung terpisah. Sebagian hadiah tersebut mereka rusak. Massa kemudian membakar panggung tempat hadiah berada.

Hadiah yang diceburkan massa ke dalam situ antara lain sepeda motor Yamaha Mio dan kulkas. Hadiah yang dijarah massa antara lain 1 televisi, 2 sepeda kayuh, 10 magic jar, 6 kompor gas, 6 kipas angin, 15 helm, dan 5 jaket. Sementara hadiah yang dirusak massa adalah 1 televisi dan 1 kulkas.

Mahwan (51), warga Kelurahan Bojong Pondok Terong, mengaku kecewa dengan panitia. Acara yang digelar tiap tiga tahun itu baru kali ini rusuh. Sebelumnya, acara Ngubek Situ tidak pernah rusuh dan menjadi semacam pesta rakyat.

Periksa panitia

Petugas Kepolisian Resor (Polres) Kota Depok saat kejadian lebih banyak berada di Jalan Raya Bogor, memantau aksi buruh yang akan ke Jakarta. Hanya beberapa personel Kepolisian Sektor (Polsek) Pancoran Mas yang berada di lokasi. Itu pun atas inisiatif personel kepolisian. Dari informasi yang dihimpun Kompas, panitia belum memiliki izin resmi dari Polsek Pancoran Mas ataupun Polres Kota Depok.

Kepala Polsek Pancoran Mas Komisaris Ismail Usman mengatakan, panitia sempat mengajukan izin. Namun, berkas perizinan tersebut dikembalikan karena masih ada dokumen yang belum lengkap. Setelah itu, pihak Polsek Pancoran Mas belum menerima berkas baru lagi dari panitia.

Menurut Usman, saat ini polisi memeriksa beberapa unsur panitia. Panitia acara Ngubek Situ berasal dari Kelompok Kerja Situ Citayam, harian lokal terbitan Depok, Dinas Pariwisata Depok, dan pihak Kelurahan Bojong Pondok Terong.

”Mereka, harus bertanggung jawab atas kerusuhan yang terjadi di Situ Citayam. Kerusuhan ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi panitia dan peserta, tetapi juga kerusakan lingkungan situ,” kata Usman.

Asep Hidayat (26), pemilik panggung dan kursi, hanya bengong. Ribuan warga membakar panggung dan kursi yang disewa panitia. ”Paling tidak, saya rugi sekitar Rp 50 juta,” kata Asep.

Sesaat setelah kejadian, tidak ada satu pun panitia yang berada di lokasi. Kompas berusaha menghubungi salah seorang panitia yang bernama Marhasan, tetapi telepon selulernya tidak aktif.

”Saya tidak tahu di mana mereka. Kami tidak dilibatkan dalam panitia, kami diundang sebagai peserta,” kata Camat Cipayung Eko Herwianto

Categories
Beragama Berbudaya Demokrasi

Peletak Dasar Islam Kebangsaan di Indonesia


Tahun 1950-an, ketika menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, mantan Menteri Agama Republik Indonesia Tolchah Hasan kaget mendapat pelajaran bahasa Perancis. Menurut Tolchah, keterkejutannya bertambah saat mengetahui sebagian guru yang mengajarinya ilmu pengetahuan umum beragama Kristen dan Katolik.

”Saya kira, pada zamannya ada yang seperti itu sesuatu yang langka. Guru ilmu alam saya orang Kristen. Saya di (madrasah) Aliyah A, yang dapat pelajaran bahasa Arab, Inggris, dan Perancis. Meski sekarang saya enggak bisa lagi ngomong dengan bahasa Perancis,” ujar Tolchah terkekeh, saat menceritakan pengalamannya menuntut ilmu di Tebuireng yang ketika itu diasuh KH Abdul Wahid Hasjim, pada acara bedah buku Satu Abad KH Abdul Wahid Hasjim karya Aboebakar Atjeh, Sabtu (30/4) di Jakarta.

Wahid, anak kelima pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratusyekh Hasyim Asy’ari dengan Nafiqah, dianggap menjadi peletak dasar revolusi pendidikan di pesantren. Revolusi itu mulai dilakukan sepulang Wahid dari Mekkah, akhir tahun 1933. Menukil buku itu, Wahid yang ketika itu baru berusia 19 tahun mulai memimpin dan mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan ayahandanya.

Di buku ditulis, hasrat Wahid mengadakan revolusi pendidikan di pesantren mulai tampak. Cara kuno yang hanya terdiri dari mendengar dan menggantungkan makna pada kitab- kitab fikih Islam sudah mulai ditinjau kembali oleh Wahid. Niatnya merevolusi dunia pendidikan di pesantren didasari keinginan agar para santri tidak lebih rendah kedudukannya dalam masyarakat yang belajar pengetahuan Barat ketika itu. Kekurangan santri ketika itu hanya ilmu pengetahuan umum.

Awalnya hanya empat santri yang dididik menggabungkan ilmu agama dengan pengetahuan umum. Baru dua tahun kemudian, setelah melihat keberhasilan dua orang di antara empat santri pertamanya, Wahid mulai mendirikan Madrasah Nizamiyah, yang memasukkan ilmu pengetahuan umum yang masih terasa asing dalam tradisi pesantren.

Aboebakar dalam bukunya menulis, Wahid berpegang pada salah satu hadis, barang siapa mengetahui bahasa sesuatu golongan, ia akan aman dari perkosaan golongan itu. Hingga suatu ketika Wahid melihat anak-anak didiknya, ia tersenyum sambil berkata, ”Mudah-mudahan kamu sekalian di masa yang akan datang menjadi calon kiai intelek, yang dapat mengangkat derajat golonganmu.” (halaman 172).

Kebesaran Wahid tak hanya sebagai peletak dasar revolusi pendidikan di pesantren. Tak banyak yang tahu bahwa Wahid adalah tokoh sentral berdirinya Indonesia sebagai negara kebangsaan. ”Salah seorang penulis Arab malah menulis KH Wahid Hasjim adalah peletak dasar kemerdekaan Indonesia,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj.

Melacak jejak dan warisan Wahid tak cukup hanya mengetahui kiprah ayah mantan Presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid ini di dunia pesantren. Sebelum kemerdekaan, Wahid menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dari kacamata Direktur Reform Institute Yudi Latif, Wahid adalah pemikir bangsa yang terpenting setelah Soekarno. ”Ia menjadi anggota BPUPKI dalam usia 31 tahun,” katanya.

Sikap kenegarawanan Wahid terlihat setelah tanggal 18 Agustus 1945 ia tidak lagi mengungkit tujuh kata yang dihapuskan dalam Piagam Jakarta. Bahwa Wahid merupakan salah seorang tokoh Islam yang merumuskan Piagam Jakarta, dan kemudian juga mengusulkan syarat Presiden Indonesia haruslah orang Islam, merupakan salah satu fakta sejarah.

Akan tetapi, sikap kenegarawanan Wahid menerima kompromi dalam perdebatan soal dimasukkannya tujuh kata dalam Piagam Jakarta, menjadi penanda penting bahwa warisan tokoh ini terhadap Indonesia sebagai negara bangsa. ”Wahid meninggalkan jejak besar bagi republik ini dengan bersedia menyatakan kalau konsensus sudah diterima semua pihak, maka harus diterima dengan lapang dada. Bagi Wahid, Indonesia bisa menjadi bangsa yang religius tanpa memaksakan satu agama pun menjadi dasar negara,” kata Yudi.

Menurut Pendeta Nathan Setiabudi, sikap Wahid yang mau berkompromi demi tetap bersatunya semua golongan dalam Republik Indonesia justru menggambarkan pilihan kebangsaan yang diambil Wahid tak pernah mengecilkan religiositas Islam dalam bernegara.

Menurut KH Salahudin Wahid, salah seorang putra Wahid, sikap itu menunjukkan bahwa ayahandanya tahu membedakan mana hal yang bersifat mendesak dan mana hal yang bisa dimusyawarahkan lagi. ”Saat itu adalah sangat wajar kalau umat Islam dan tokoh-tokoh Islam bercita-cita mendirikan negara berdasarkan Islam karena kitab-kitab yang mereka baca menegaskan cita-cita seperti itu. Kalau tidak, malah aneh,” ujar Salahudin (Gus Sholah).

Namun, pada akhirnya perjalanan sejarah kemudian membuktikan, NU, organisasi yang ikut dibesarkan Wahid menjadi pelaku utama bagaimana sikap kompromi itu mendapatkan pembenarannya. Dalam istilah Gus Sholah, Indonesia tak perlu menjadi negara Islam untuk dapat memasukkan syariat Islam pada aturan hukum negara.

Indonesia berutang besar kepada tokoh seperti Wahid yang bisa dengan gamblang mengajarkan bahwa Islam dan kebangsaan bukanlah pangkal sengketa.

Categories
Banjir Di Indonesia Pencinta Lingkungan

2.000 Rumah di MajalayaTergenang Banjir Setinggi 2 Meter


Luapan Sungai Citarum yang naik secara mendadak, Sabtu (30/4) petang, menggenangi setidaknya 2.000 rumah di wilayah Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Peristiwa itu terjadi karena Sungai Citarum yang mengalir di kawasan tersebut tidak mampu menampung volume air dari daerah hulu.

Menurut keterangan yang dihimpun Kompas, air mulai menggenangi permukiman warga di Majalaya sejak pukul 18.00. Sekitar 30 menit kemudian, ketinggian air yang menggenangi jalan dan permukiman mencapai 1,5 meter. Namun, pukul 19.00, air menyusut. Tidak lama berselang, banjir besar tersebut datang lagi dengan ketinggian lebih kurang dua meter.

Administrator Garda Caah Riki Waskito mengungkapkan, luapan air Sungai Citarum di wilayah Majalaya diduga berasal dari daerah Kamojang di Ibun. Adapun luapan berikutnya datang dari daerah Kertasari, lereng Gunung Wayang, yang merupakan hulu Sungai Citarum, sekitar dua jam perjalanan dari lokasi bencana. Sekitar pukul 17.00 terjadi hujan lebat di kawasan Kertasari dan sekitarnya.

Hingga Sabtu malam, belum diketahui secara pasti kondisi warga Majalaya yang terjebak banjir. Namun, relawan Garda Caah terus berupaya mengevakuasi para korban ke daerah yang lebih tinggi dan aman. ”Sebagian relawan juga menghalau pengguna jalan yang terjebak di jembatan untuk tidak nekat menerobos. Pasalnya, sangat berbahaya untuk menembus banjir yang deras arusnya,” kata Riki.

Riki mengkhawatirkan beberapa konstruksi tanggul yang dibuat dari karung pasir di beberapa titik di Majalaya bakal jebol akibat banjir bandang tersebut. Bila hal tersebut terjadi, genangan akan meluas dan bisa membahayakan warga.

Informasi dari Pos Pemantau Sungai Citarum, ketinggian air sungai itu pada pukul 19.30 tercatat mencapai 4,75 meter. Padahal, ketinggian air pada banjir besar tahun sebelumnya hanya 4,65 meter. Menurut petugas pos pemantau, Adang Suhendar, pihaknya akan terus melaporkan ketinggian air setiap 15 menit kepada relawan tanggap darurat melalui radio panggil untuk dilakukan penanganan terhadap warga.

Warga Majalaya lainnya, Deni Riswandani, mengatakan, banjir juga menggenangi dua kecamatan tetangganya, yakni Ibun dan Solokanjeruk. Luapan air sempat menggenangi akses jalan menuju Kecamatan Ciparay, tetapi tidak parah sehingga masih bisa dilalui kendaraan.

Kecamatan Majalaya berada di tepi kelokan Sungai Citarum dan berjarak sekitar 20 kilometer dari hulu sungai. Bila meluap, air melimpas ke permukiman warga di pinggir sungai. Kawasan ini juga merupakan sentra industri tekstil nasional. Di sana beroperasi sekitar 600 unit industri tekstil yang mempekerjakan lebih kurang 500.000 tenaga kerja.

Categories
Pencinta Lingkungan

Pembangunan Di Bandung Sudah Melupakan Fungsi Sungai


Industrialisasi di Bandung tidak hanya mengubah wajah Sungai Citarum, tetapi juga mengubah cara hidup ”urang” Bandung. Perekonomian warga berkembang, tetapi warganya kian terasing dari sungai.

Begitu perupa Tisna Sanjaya memarkir motornya di depan hamparan padang plastik berukuran sekitar 25 meter x 25 meter, warga Kelurahan Cigondewah Kaler langsung mengelukannya. ”Kumaha damang Kang Kabayan?” beberapa warga menyapa bertanya kabar, berebut bersalaman.

Tisna memang terkenal sebagai Kang Kabayan, lantaran ia menjadi pembawa acara talkshow televisi lokal, Kabayan Nyintreuk. Si Kabayan menjejaki hamparan sampah itu, mengenang masa kecilnya.

”Dulu ini kolam, situ, yang airnya begitu jernih. Warga bahkan mengambil air wudu di situ itu,” tutur Tisna.

Kini, sampah plastik aneka warna, karton bekas, juga potongan busa dan beling, terhampar menjadi pemandangan setiap rumah yang berjajar mengelilingi bekas situ tersebut. Tisna bersemangat mengisahkan cita-citanya menyulap hamparan plastik itu menjadi hutan kota yang teduh dan hijau tanpa plastik. Namun, ”protes” Amas (62) membuyarkan angan Tisna.

”Kalau Kang Kabayan membuat hutan di sini, lalu di mana saya harus menjemur plastik? Lapangan ini satu-satunya tempat menjemur plastik dan kertas semen saya,” ujar Amas.

Tisna merindukan sungai yang berair jernih. Tetapi air di tempat itu kini selalu berganti warna mengikuti warna limbah buangan pabrik. Namun, Amas yang juga orang asli Cigondewah Kaler punya ingatan masa yang berbeda.

”Dulu Cigondewah memang lumbung beras. Saya dulu buruh tani, tidak pernah punya sawah meski Blok Sawah di Cigondewah kondang sebagai lumbung beras. Kini saya pengumpul plastik dan kertas semen, dan memiliki penghasilan yang lebih baik daripada menjadi buruh tani. Memang air tanah kami kini rusak sehingga kami harus membeli air untuk memasak seharga Rp 1.500 per 20 liter,” ujar Amas.

Kumuh miskin

Pabrik aneka industri di Kabupaten Cimahi dan Bandung tidak hanya memerah-kuning-hijaukan Sungai Cikendal, anak Sungai Citarum yang membelah Cigondewah Kaler. Industrialisasi yang dimulai sejak akhir tahun 1970-an itu juga menyediakan peluang usaha baru.

Cigondewah Kaler yang dulu kampung jawara, ”Jago Bobok – Jago Tarok”, kini dikenal sebagai kampung ”Kuya-Kumis”. Kuya-Kumis itu satir kehidupan Cigondewah Kaler, pelesetan kata ”kumuh kaya” dan ”kumuh miskin” yang hidup dengan menampung aneka sampah pabrik.

Plastik dilebur ulang menjadi bijih, sisa kain pabrik tekstil menjadi keset perca, karung bekas dicuci, kardus bekas dipilah, makanan kedaluwarsa disulap menjadi pakan ternak. Segala sampah pabrik menjadi pundi-pundi uang di Cigondewah.

Di kelurahan seluas 140 hektar itu ada 1.687 usaha kecil dan menengah, 432 usaha perdagangan, 65 warung, dan toko. Dari 16.000 penduduknya, hanya 278 orang yang menjadi petani. Jika 30 tahun lalu 90 persen lahan di Cigondewah Kaler adalah sawah, luasan sawah tersisa kurang dari 16 hektar.

”Puncaknya pertumbuhan ekonomi Cigondewah Kaler terjadi sebelum krisis moneter 1997. Mobil mewah itu barang biasa di Cigondewah. Saya kerap mencicipi rasanya menyetir mobil keluaran terbaru, diajak warga menjajal mobil baru mereka,” tutur Lurah Cigondewah Kaler Maulana Fatahudin.

Arif (24) dan adiknya, Ujang (23), bekerja di penimbunan plastik orangtuanya. Setiap hari mereka membakar hingga 200 kilogram sampah plastik menjadi gumpalan plastik yang lantas dicacahnya menjadi bijih plastik siap daur ulang. ”Untuk membakar plastik, kami memakai plastik tidak lolos sortir,” kata Arif. Setiap bulan, bapak satu anak itu menerima upah Rp 1,1 juta hingga Rp 1,7 juta.

Kemenakan dan tetangga mereka, Yusuf (13) dan Nanan (13), mulai ”magang” bisnis sampah dengan menjadi buruh cuci plastik. ”Saya tidak melanjutkan sekolah ke SMP, lebih baik bekerja daripada sekolah,” kata Yusuf sembari menjejalkan segunung plastik bening yang telah dicucinya di Sungai Cicukang ke dalam karung goni.

Yusuf dan teman-temannya adalah saksi bagaimana belajar mengurus sampah lebih menjanjikan masa depan ketimbang sekolah. Separuh warga Cigondewah Kaler tidak pernah bersekolah, atau tidak lulus SD, seperempat lainnya hanya ”Sarjana Dasar”. Tak ada SMP dan SMA di Cigondewah Kaler.

Beberapa tahun mendatang, Yusuf akan menikahi gadis Cigondewah. ”Sangat jarang terjadi orang Cigondewah menikahi orang luar Cigondewah. Urbanisasi ke Cigondewah hampir tidak ada, jadi akulturasi jarang terjadi. Mereka yang ’kuya’ orang asli Cigondewah, yang ’kumis’ juga asli Cigondewah. Industrialisasi memberikan segala peluangnya, tetapi kualitas hidup masyarakat kami tidak lebih baik,” ujar Usep Yudha Prawira, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Cigondewah Kaler.

Perubahan hidup

Cigondewah Kaler hanya potret kecil perubahan hidup permukiman di Daerah Aliran Sungai Citarum dan anak-anak sungainya yang dikepung pabrik. ”Ada yang menjadi kantong urbanisasi, ada pula yang menjadi gudang pengusaha seperti Cigondewah,” kata antropolog Universitas Padjajaran, Budi Rajab.

Bukan sungai yang tercemar yang memaksa warga bersalin jalan hidup. Namun, daya pikat peluang yang dimunculkan industrialisasilah yang mengubah mereka.

”Bagi orang Sunda, sungai dan air hanya instrumen ekonomi. Berbeda dengan orang Dayak misalnya, yang menempatkan sungai sebagai bagian dari kehidupan ritualnya,” tutur Budi Rajab.

Warga mengabaikan kerusakan DAS Citarum dan anak sungainya, karena merasa manfaat ekonomi pabrik pencemar dianggap cukup menggantikan manfaat ekonomi sungai, bahkan dengan pendapatan yang lebih besar.

”Kalau kami tidak segera membangun kebudayaan sungai kami, pastilah DAS Citarum akan semakin hancur,” kata Budi.

Tisna mencoba membangunnya di Cigondewah melalui Pusat Kebudayaan Cigondewah, yang kerap menggarap kehancuran lingkungan Cigondewah sebagai inspirasi proses kreatif bersama warganya. ”Kami tidak bisa mengkritik frontal kehancuran lingkungan Cigondewah. Melalui seni, kami mencoba menginspirasi, mengajak warga memikirkan sungai dan airnya. Memang tidak mudah,” ujar Tisna.

Categories
Lain Lain

Anggota NII Diharapkan Bisa Mencari Dana Sendiri dan Wajib Setor 250 Ribu Per Hari


SURYA Online – Anggota jaringan Negara Islam Indonesia wajib menyetorkan dana sebesar Rp250 ribu perhari kepada pimpinan mereka, kata seorang mantan anggota NII di wilayah Jawa Tengah.

“Selain merekrut anggota baru, setiap anggota NII diharapkan bisa mencari dana. Waktu itu saya ditarget menyetor Rp250 ribu perhari dan jika tidak bisa terpenuhi maka dianggap utang,” kata mantan anggota NII yang tidak mau disebut jatidirinya, AN di Magelang, Sabtu (30/4/2011).

Ia mengatakan, untuk mendapatkan dana tersebut anggota NII harus mengedarkan proposal kepada masyarakat yang dianggap mampu. Pencarian dana juga dilakukan dengan mengedarkan kotak amal di warung-warung maupun di ATM.

AN menuturkan, jika pada suatu hari setoran tersebut tidak memenuhi target maka anggota harus mengganti pada hari-hari selanjutnya. Ia menuturkan, untuk memenuhi target setoran tersebut terpaksa harus meminjam uang ibunya dan setelah ditotal mencapai sekitar Rp15 juta.

“Karena sering tidak bisa setor dana sesuai target maka saya meminjam uang ibu untuk menutupnya,” katanya.

Ia mengaku menjadi anggota NII sekitar lima tahun waktu kulaih di sebuah perguruan tinggi swasta di Magelang dan keluar pada 2006. Awal mula masuk dalam jaringan tersebut ketika diajak mengaji teman yang kini menjadi istrinya.

Menurut dia, perekrutan anggota NII dengan menggunakan berbagai cara, antara lain dengan menjadikan calon anggota sebagai pacar atau bahkan sebagai suami atau istri. “Pendekatan tersebut lebih mudah untuk masuk ke jaringan NII dengan diawali diajak mengaji atau diskusi, kemudian diajarkan tentang dalil-dalil tentang surga dan neraka,” katanya.

Ia mengatakan, untuk menjadi anggota NII harus melalui tahapan hijrah, pertama dari daerah kemudian di Semarang dan terakhir di Jakarta. Dalam setiap tahapan diberikan kajian dan penguatan kemudian dibaiat. “Jika dalam penguatan tersebut diketahui hanya akan coba-coba maka calon tersebut akan ditolak menjadi anggota NII,” katanya.