Aktivitas Gunung Semeru Mulai Meningkat Tajam Dengan 30-60 Letusan Per Hari


Aktivitas Gunung Semeru sepekan terakhir ini dilaporkan mulai meningkat. Warga di lereng gunung dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut itu kian sering mendengar suara letusan Semeru. Warga di dua desa, yaitu Desa Supiturang dan Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, mulai sering mendengar gunung itu ‘batuk-batuk’.

Mochamad Ashari, warga Desa Supiturang, mengatakan sejak sepekan terakhir ini, warga sering mendengar suara letusan dari gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini. “Sering kali terjadi pada malam hari,” katanya. Kepala Sekolah MI Miftahul Ulum itu menyebutkan suara letusan yang cukup dahsyat terjadi pada Jumat pagi pekan lalu.

“Suaranya memang sangat keras. Warga desa juga sempat khawatir,” katanya. Suara letusan kembali terdengar pada Jumat malam. “Berlanjut lagi pada Minggu malam dan Senin pagi,” katanya. Warga kadang sampai tidak tidur karena suara dentuman yang sering terjadi.

Ashari menambahkan, warga cukup waspada dalam menghadapi ancaman letusan Gunung Semeru. “Terutama warga Desa Supiturang, yang memiliki riwayat terkena bencana letusan Gunung Semeru,” ucapnya. Bapak empat anak ini juga menambahkan, masih ingat betul bagaimana bencana letusan Gunung Semeru pada 1994 yang terjadi pada pukul 03.00 WIB.

Becermin pada kejadian tersebut, warga Supiturang, kata dia, selalu tanggap terhadap setiap gejala yang terjadi pada Gunung Semeru. Hal yang sama juga dikatakan Karyati, warga Desa Oro-oro Ombo. “Letusan pada Jumat lalu juga sangat keras terdengar hingga ke desa kami,” katanya. Sebelumnya, kata anggota relawan Palang Merah Indonesia desa setempat ini, jarang terjadi letusan seperti itu. “Namun, warga tidak terlalu khawatir. Bagi warga, itu merupakan hal yang biasa,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pos Pengamat Gunung Api Gunung Semeru di Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Suparno, mengatakan aktivitas Gunung Semeru masih tetap di level waspada.

Ihwal suara letusan kuat disertai semburan material abu vulkanik pada Jumat merupakan karakter asli Gunung Semeru. “Itulah karakter asli Semeru,” katanya. Hal itu, dia melanjutkan, baik bagi Gunung Semeru yang belakangan ini sangat jarang mengeluarkan letusan. Dia mengatakan belakangan ini masih didominasi embusan dan bukan letusan. “Letusan itu tingkatan di atas embusan,” ujarnya. Embusan Gunung Semeru biasanya disertai dengan suara serta keluarnya uap air atau material vulkanik berupa abu.

Suparno menambahkan, akibat meningkatnya intensitas letusan dan embusan Semeru, kubah lava di kawah Jonggring Saloka kini mulai berguguran. Guguran ini, kata dia, nantinya akan tergelontor oleh air hujan.

Suparno menjelaskan bentukan kubah lava di kawah Jonggring Saloka Gunung Semeru ini muncul karena ada dorongan energi dari dalam seiring dengan adanya gempa tremor harmonik. Lava yang ada di dalam terdorong ke permukaan kawah akibat tremor harmonik Gunung Semeru ini. Dijelaskan Suparno, hal ini kemudian membentuk kubah lava di kawah Jonggring Saloka. “Ketika ada letusan agak kuat, kubah lava tersebut berguguran,” katanya.

Jumlah letusan dan embusan saat ini 30-60 kali per hari. Jumlah ini terhitung masih kecil dibanding lima tahun sebelumnya yang setiap hari bisa lebih dari 60 kali letusan dan embusan. Sebelumnya, Gunung Semeru mengeluarkan letusan setiap 15-20 menit. “Namun, kini jarang sekali ada letusan,” ujarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s