Harga Tanah Di Cibesut Cipinang Besar Utara Melonjak Tajam Hingga 400 persen Karena Bebas Banjir


Sejak pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT) menembus laut tahun 2009, sebagian besar wilayah Kelurahan Cipinangbesar Utara terbebas dari banjir. Maka tak mengherankan jika harga tanah di kawasan ini melonjak tajam.

Harga pasaran tanah yang dulunya antara Rp 300.000 sampai Rp 1 Juta permeter persegi, kini melonjak menjadi Rp 2 Juta sampai diatas Rp 3 Juta per meter persegi. Bukan itu saja, sejumlah warga yang dulu berniat menjual rumah dan tanahnya kini justru mempertahankannya. Bahkan sekalipun sebagian wilayahnya merupakan kawasan padat penduduk, sejumlah orang mulai melirik untuk membeli tanah dan rumah tinggal di kawasan ini.

“Dulu, sewaktu wilayah kita selalu kena banjir saban tahun, boro-boro ada yang mau nawar tanah atau rumah di sini. Sekarang wilayah kita justru diminati orang untuk bermukim,” kata Ketua RW 13, Cipinangbesar Utara, Sidik WS saat ditemui Warta Kota di Kantor Kelurahan Cipinangbesar Utara, Selasa (8/11).

Menurut Sidik harga NJOP tanah di wilayahnya yang rata-rata sekitar Rp 1 Juta atau bahkan jauh di bawahnya, kini naik menjadi sekitar Rp 2 Juta permeter persegi. Karenanya harga pasaran tanah di wilayahnya juga melonjak tajam. Bahkan di beberapa titik yang dekat dengan jalan besar bisa mencapai lebih Rp 3 Juta per meter persegi atau bahkan lebih.

“Warga berterimakasih sama pemerintah dengan beroperasi KBT, sebab banjir tidak lagi jadi rutinitas kita setiap tahun,” kata Sidik.

Menurut Sidik, banjir terakhir yang melanda wilayahnya terjadi tahun 2007, di mana 10 RT dari 15 RT di RW 13 terendam banjir. “Banjirnya bisa sampai 1,5 meter lebih,” kata Sidik.

Menurut Sidik dari luas wilayahnya sekitar 3.000 meter persegi, 70 persen terendam banjir. “Sekalipun ada wilayah yang tidak kena banjir, warga di sana juga nggak bisa kemana-mana karena mereka dikepung banjir,” kata Sidik.

Sidik menuturkan beberapa transaksi jual beli tanah dan rumah terjadi di wilahnya sejak KBT bebas banjir. Dia mencontohkan, ada rumah sederhana di atas lahan 68 meter persegi yang jauh dari jalan utama dibeli seharga Rp 120 Juta. Padahal sewaktu masih terkena banjir rumah itu ditawarkan dengan harga Rp 50 Juta. “Itupun nggak ada yang mau waktu itu, karena kena banjir. Tapi sekarang berebut, dan yang punya naikin sampai dua kali lipat lebih,” kata Sidik.

Menurut Sidik hampir 70 persen warga di RW 13 memiliki surat hak milik tanah dan sebagian lainnya sedang dalam proses. “Dulu warga banyak yang mau jual rumah dan tanahnya di sini. Sekarang justru sayang dan nggak mau. Mereka jadi bertahan dan senang tinggal di sini,” kata Sidik.

Di wilayahnya, lanjut Sidik, terdapat 3.000 jiwa warga yang terbagi dalam 1.050 KK. Sidik menjelaskan wilayah RW 13 berada agak jauh di sebelah barat Kali Cipinang yang dulu menjadi penyebab banjir. Wilayahnya dilintasi Kali Baru yang merupakan kali sodetan Kali Cipinang. “Waktu belum ada KBT, Kali Baru itu yang meluap dan merendam rumah warga. Tapi sekarang tidak lagi,” kata Sidik.

Hal senada diungkapkan Ketua RW 04, Cipinangbesar Utara, Djunaedi Martha. Menurut Djunaedi wilayahnya berada tepat di sisi barat Kali Cipinang. “Jadi kalau banjir dan Kali Cipinang meluap, 100 persen wilayah kami terendam banjir,” kata Djunaedi.

Namun sejak KBT beroperasi dan tembus ke laut, praktis wilayahnya bebas banjir. “Kantong-kantong air penyebab banjir di wilayah kami otomatis hilang,” katanya.

Menurut Djunaedi hal ini juga membuar harga pasaran tanah dan bangunan di wilayahnya melonjak, sekalipun merupakan permukiman padat penduduk. “Dulu kalau ada yang jual rumah dan tanah, orang mau nawar aja ogah. Tapi sekarang nggak lama ditawarin, paling sebulan sudah ada yang beli,” kata Djunaedi.
Namun begitu, menurut Djunaedi, sebagian kecil warga saja yang ingin melepas tanah dan rumahnya. “Justru sebagian warga yang dulu mau jual tanah dan rumahnya nggak jadi, karena sudah bebas banjir,” kata Djunaedi.

Saat ini tercatat jumlah. warga di RW 04 sebanyak 4.429 jiwa yang tersebar di 15 RT. Sebelum tahun 2009 jumlah warganya sebanyak 4.863 jiwa.

Wakil Lurah Cipinangbesar Utara, Bambang Novianto, mengakui sejak KBT dioperasikan, seluruh wilayahnya yang memiliki luas lahan 115,2 hektar terbebas dari banjir. “Jadi jelas karena ini harga pasaran tanah di sini melonjak,” kata Bambang.

Dari total 14 RW, tercatat hanya lima RW yang tidak pernah terkena banjir karena berada di dataran tinggi, yakni RW 03, 06, 07, 08 dan RW 09. “Itupun warga disana jadi terisolir, karena wilayah sekelilingnya dikepung banjir,” kata Bambang. Sedangkan titik banjirnya, dahulu terdapat di RW 01, 02, 04, 05, 10, 11, 12, 13 dan RW 14.

“Hampir 80 persen wilayah kami dulu, selalu kena banjir kalau musim hujan tiba,” katanya.

Kini dia berharap 51.692 jiwa warganya untuk menjaga kebersihan Kali Cipinang dan Kalibaru yang melintas pemukiman mereka. “Juga menjaga kebersihan KBT,” kata Bambang. Setidaknya warga tak lagi membuang sampah sembarangan ke kali. Sebab jika warga tak disiplin maka ancaman banjir bisa datang kapan saja dan menimpa warga kembali.

Advertisements

One response to “Harga Tanah Di Cibesut Cipinang Besar Utara Melonjak Tajam Hingga 400 persen Karena Bebas Banjir

  1. waduhhh…..walaupun udeh kaga banjir,ane kaga bakalan jual ntuh taneh ane…gile benerrrrr…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s