Kisah Wati Gadis Yang Hilang Waktu Tsunami Aceh Dan Diadopsi Untuk Dijadikan Pengemis Dimuat Oleh Koran Guardian Inggris

Pertemuan kembali seorang gadis yang hanyut ketika peristiwa tsunami di Aceh, 26 Desember 2004, dengan orang tuanya menjadi berita di media Inggris, The Guardian, Jumat.

Menurut laporan The Guardian, gadis yang bernama Wati (15) itu bercerita bahwa dirinya mulai menangis setelah melacak orang tuanya, dan akhirnya merasa kehilangan harapan untuk bisa bertemu dengan mereka kembali.

Wati, yang tiba-tiba muncul di sebuah kafe di Meulaboh, Provinsi Aceh, Indonesia, awal pekan ini, mengatakan tidak lama setelah gelombang menghantam, dirinya ditemukan dan “diadopsi” oleh seorang wanita yang memaksanya untuk mengemis di jalanan hingga larut malam dan kadang sampai pukul 01.00 dini hari.

Jika tidak membawa uang, Wati lalu ditendang oleh wanita itu. Dia kemudian bertekad untuk mencari keluarganya, tetapi informasi yang sangat sedikit membuatnya kesulitan mencari kedua orang tuanya. Apalagi dia hanya tahu nama kakeknya bernama Ibrahim.

Seseorang di kafe lantas melacak seorang pria dengan nama itu. Setelah bertemu dengan Wati, pria bernama Ibrahim itu yakin kalau itu adalah cucunya.

“Ketika saya melihat ibu saya, saya tahu itu dia. Aku hanya tahu itu,” kata Wati pada hari Jumat, yang diberi nama oleh wanita yang menemukannya dan nama aslinya adalah Meri Yuranda.

Bencana tsunami yang melanda Samudra Hindia pada tanggal 26 Desember 2004 itu menewaskan 230.000 orang di beberapa negara dan Aceh khususnya yang rusak parah karena dekat dengan pusat gempa yang berkekuatan 9.1 itu.

Karena puluhan ribu orang dinyatakan hilang, maka banyak orang yang masih berharap untuk bisa menemukan orang yang dicintai yang hilang. Mereka sering memasang brosur atau menempatkan iklan di surat kabar. Reuni, bagaimanapun, sangat langka, dan ketika mereka terjadi, jarang dikonfirmasi.

Ibu Wati, Yusniar binti Ibrahim Nur (35), mengatakan bahwa dirinya tidak perlu tes DNA untuk membuktikan gadis itu anaknya. “Dia memiliki wajah ayahnya,” katanya menegaskan.

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak percaya akan bertemu putrinya lagi. “Saya melihat bekas luka di atas mata dan tahi lalat di pinggulnya yang membuat saya yakin bahwa Wati adalah anak saya,” kata Yusniar menandaskan.

Gadis itu mengatakan bahwa dirinya ingat ayahnya meletakkannya ke dalam sebuah perahu dengan adiknya yang hingga sekarang belum ditemukan dan diperkirakan meninggal. Sang ayah mengatakan bahwa sebelum keluarga itu dipisahkan, dia meletakkan kedua putrinya di atap rumah mereka.

Meri Yulanda alias Wati (15) korban tsunami yang baru pulang ke rumah orang tuanya di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, akan menceritakan kisahnya kepada Metro TV di Jakarta, Senin esok (26/12).

Yusniar, ibu Wati di Meulaboh, Minggu mengatakan, putri keduanya itu bersama wartawan Metro TV telah berangkat ke Jakarta untuk menjadi narasumber dalam topik mengenang tujuh tahun tsunami Aceh.

“Kata mereka juga nanti sampai ke Jakarta akan dilakukan cek DNA untuk memastikan kalau dia itu benar anak kami agar tidak muncul kemudian pertanyaan di publik,” kata Yusniar di rumah orang tuanya Lr Sangkis Kelurahan Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat.

Suaminya Tarmiyunus dan mertuanya Ibrahim diikutsertakan mendampinggi anak mereka yang baru ditemukan
Rabu (21/12) setelah menghilang tujuh tahun sejak musibah gempa dan tsunami melanda Aceh.

Meskipun berat hati melepas keberangkatan selama tiga hari anaknya yang baru ditemukan itu, namun demi terbukanya kisah sedih Wati selama tujuh tahun menghilan, dia tidak keberatan demi diketahui publik.

Melalui fasilitasi TV swasta tersebut, keluarga Yuniar berharap mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat dan daerah dalam menghidupi keluarganya ke depan.

“Kami inikan orang miskin, kalau anak saya cuma dibawa dan dipertontonkan kepada publik saya rasa sama sekali tidak ada untungnya, kalau dia sehat nanti akan kami gunakan dana itu untuk pendidikannya,” imbuhnya.

Dia mengatakan, selama tujuh tahun menghilang Meri Yulanda sedikitpun tidak mendapat pendidikan, bahkan ia diperas sebagai peminta-minta di jalanan oleh ibu angkatnya Fatimahsyam di Kota Banda Aceh.

Sesampainya di Jakarta, Meri dijanjikan menjalani tes DNA untuk memastikan gadis berambut cepak dan berkulit hitam manis itu adalah anaknya.

Padahal tanpa tes DNA pun seluruh keluarga sudah memastikan bahwa gadis belia itu benar anak keduanya karena memiliki ciri-ciri sama saat dia masih berusia delapan tahun, selain si gadis masih mengenal sebagian silsilah keluarga sendiri.

“Katanya juga nanti Meri akan dites DNA, kami tidak keberatan karena dia memang anak saya bersama Bang Yus, tapi demi kebaikan silakan saja tapi kalau diminta uang kami nggak punya,” pungkasnya

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s