Categories
Berbudaya Kriminalitas

Masyarakat Semakin Kerap Berbuat Sadis Karena Menjadikan Uang Sebagai Berhala


Kesenjangan sosial kian tajam. Yang kaya makin kaya, si miskin tambah miskin. Kondisi ini membuat banyak orang tak mampu mengendalikan emosi. Pengadilan jalanan terhadap pelaku kejahatan yang berakhir dengan kematian, kerap terjadi. Selain itu, tindak kejahatan terjadi dimana-mana. Bahkan anak tak berdosa pun menjadi korban.

Hal ini antara lain menimpa Puroh. Bocah 4 tahun anak tukang pisang, digorok pemuda tetangga yang hanya sekolah sampai kelas 2 SD, Muhtadin, 20, Rabu (28/12) pagi. Kejadian di Bogor itu dilatarbelakangi kejengkelan pelaku yang tak dibelikan motor oleh kakaknya.

Selain itu, Ira Yuniriyanti, 7, juga menjadi korban penculikan Yudi Irawan, 30, mantan tetangga di Kranji, Bekasi. Selama 32 jam disekap dalam angkot bobrok, bocah itu tak diberi makan dan dipukul. Korban dibuang di Pasar Kranji setelah seorang wanita teman penculik menilai korban dekil, Selasa (28/12) malam.Bahkan ada yang tega memperkosa pedagang sayur di angkot disaksikan pacarnya sendiri

Dua kasus kejahatan itu hanya bagian dari banyaknya tindak kriminal yang terjadi belakangan ini. Mudahnya orang gelap mata hingga berprilaku jahat dianggap Lia Sutisna Latif, psikolog forensik, sebagai ketidakmampuan mengendalikan diri. “Lingkungan bagai menekan seseorang untuk sama dengan mereka sehingga orang yang tak mampu mengontrol emosi akan terjerumus hingga bertindak nekat demi memenuhi ambisinya,” kata dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini, Rabu (28/12) malam.

Kecenderungan bertindak kriminal, lanjutnya, juga dilatarbelakangi masa lalu yang buruk. “Seseorang dengan riwayat pola asih uang buruk akan bisa bertindak anarkis dan kejam,” ujarnya. “Karenanya, sangat diperlukan lingkungan keluarga dengan pola asuh yang baik untuk membuat seseorang tumbuh dengan emosi dan nilai moral yang terkendali.”

PELAMPIASAN EMOSI
Secara terpisah, sosiolog dari Universitas Islam negeri (UIN), Husni Thamrin, berpandangan belum terbukanya demokrasi ekomoni menjadi pemicu timbulnya masalah sadisme tersebut. Dengan demikian, masalah kecil yang timbul akan menjadi besar seiring tindakan kriminalitas yang dibuatnya.

Menurutnya, gap ekonomi kaum berada dengan golongan pinggiran terlalu kentara hingga dengan kasat mata mudah terlihat. Cara ini akan memancing stres kaum yang sehari-hari sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.

Akibatnya, kemarahan mudah terpicu. “Sasarannya bisa apa saja. Setiap ada kesalahan maka emosi akan naik lalu dilampiaskan kepada siapa saja dan apa saja,” katanya. “Ini gejala masyarakat yang stres. Jika ekonomi membaik secara keseluruhan maka angka kejahatan akan berkurang dengan sendirinya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s