Monthly Archives: January 2012

Akhir 2012 Taman Impian Jaya Ancol Akan Menjadi Kawasan Bebas Mobil Karena Mobil Paling Banyak Menyumbang Polusi


Taman Impian Jaya Ancol pada akhir 2012 nanti akan mulai mensosialisasikan program bebas mobil di kawasan tersebut. Diharapkan pada tahun 2013 kawasan Ancol sudah bebas mobil. “Di akhir 2012 nanti, diharapkan mobil sudah tidak masuk lagi ke kawasan Ancol dan 2013 sudah bebas mobil,” kata Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol, Winarto saat konferensi pers peluncuran wahana Happy Feet di Premium Lounge Dufan, Ancol, Jakarta, Kamis (19/1/2012).

Nantinya pengunjung yang ingin berlibur ke Ancol akan diberikan parkir di tempat khusus. Tapi jangan khawatir Anda tidak akan jalan kaki untuk mengelilingi Ancol. Pengelola Taman Impian Jaya Ancol akan menyediakan shuttle bus, golf car atau bahkan sepeda motor yang dapat digunakan pengunjung yang ingin mengelilingi Ancol.

Winarto juga menambahkan, aturan baru ini adalah satu program yang dilakukan dari pihak Ancol untuk mendukung gerakan cinta lingkungan. Menurutnya, menjaga lingkungan sebaik mungkin adalah tugas kita semua.

“Program ini mendukung green company. Ancol akan membuat produk cinta lingkungan. Salah satunya pembatasan jumlah mobil yang masuk,” kata Winarto. Pada hari pertama di tahun 2012 ini, Minggu (1/1/2012), kawasan wisata Ancol tampak ramai dikunjungi. Meski cuaca tak mendukung, ternyata tak memupuskan semangat masyarakat untuk merayakan hari pertama di tahun 2012 ini dengan kegiatan berlibur.

Para pengunjung Ancol, selain yang datang untuk berwisata bersama keluarga pada hari ini, adapula para pengunjung yang sudah datang sejak perayaan malam tahun baru, Sabtu (31/12/2011), dan sengaja menginap. Menurut Fita, salah seorang penjual di kawasan Ancol, sudah menjadi kebiasaan pengunjung akan menginap satu malam sampai esok paginya.

“Mereka bawa tikar dan perlengkapan lain sengaja sebagai persiapan tidur. Lalu baru besoknya pulang,” katanya.

Dari pemantauan Kompas.com, beberapa spot wisata seperti Dunia Fantasi, Pantai Karnaval, Pantai Timur telah diramaikan oleh pengunjung. Nani (35) dari Jakarta Barat bersama keluarganya sengaja datang untuk menikmati libur di hari pertama di tahun 2012.

“Mumpung libur dan pas tahun baru, jadi sama anak-anak kesini,” ujarnya.

Meski cuaca tidak mendukung, seperti hujan dan angin, pengunjung masih tetap bertahan di area ini dengan berteduh. Banyak dari mereka mencari tempat makan, namun ada pula yang nekat berhujan-hujanan.

“Sudah terlanjur sampai sini, semoga sebentar lagi reda hujannya,” kata Ita (25) yang ditemui tengah duduk sembari berpayung di kawasan wisata tersebut.

Dari data pengunjung kawasan wisata Ancol, realisasi kunjungan dari 24 Desember hingga 31 Desember 2011 telah tercatat sedikitnya 600 ribu pengunjung. Pengunjung khusus untuk malam tahun baru, menurut data sementara, mencapai 280 ribu orang.

Memasuki tahun 2012, Ancol Taman Impian mengembangkan diri sebagai wisata konvensi. Ancol tak lagi hanya mengedepankan wahana permainan.

Ancol akan mengembangkan diri sebagai area wisata yang nyaman bagi pengunjung untuk jalan-jalan menikmati suasana pantai, bercengkerama, dan melakukan pertemuan.

Inovasi itu, antara lain, diwujudkan dalam area wisata baru Ancol Beach City (ABC) dan Ancol Promenade. ABC menyajikan ruang terbuka dan tertutup menghadap pantai di atas lahan seluas 5.000 meter persegi.

Pada pertengahan tahun, di area wisata ABC itu juga akan dibuka Museum Madame Tussauds yang selama ini baru ada di Bangkok, Hongkong, dan Shanghai untuk kawasan Asia.

Untuk wisata ekologi, Ancol Promenade hadir menyajikan area joging dan jalan yang cukup leluasa di sepanjang pantai timur Ancol Taman Impian. Tak seperti lintasan joging yang umumnya sempit, lintasan di Ancol ini memiliki lebar 8 meter dengan panjang 600 meter.

Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi, Rabu (4/1), mengatakan, tahun ini akan menjadi momentum bagi Ancol Taman Impian untuk lahir kembali sebagai tempat wisata yang menyajikan kenyamanan bagi pengunjungnya untuk berkumpul dan bertemu serta wisata yang mendidik bagi anak-anak.

”Ancol memang sudah menjadi tujuan wisata, tetapi kami pun dihadapkan pada kompetisi wisata yang semakin kompetitif. Karena itu, kami perlu berinovasi menciptakan Ancol sebagai ikon destinasi wisata masa depan,” paparnya.

Selain area wisata baru ABC, menurut Budi Karya, wisata konvensi itu akan dikembangkan di kawasan Putri Duyung Cottage dengan menyediakan arena pertemuan seluas 2.000 meter persegi yang dapat menampung 4.500 orang dan satu hotel baru berbintang empat. Di Ecopark Ancol juga disediakan ruang serbaguna seluas 4.200 meter persegi.

”Di area ABC pun telah disiapkan auditorium yang dapat menampung 18.000 orang. Auditorium itu akan digunakan sebagai arena konser internasional di dalam ruangan,” katanya.

Wisata pendidikan
Sementara itu, untuk wisata pendidikan akan dikembangkan produksi film karakter dan pertunjukan teater anak. Keduanya akan didukung seniman kreatif, seperti Mira Lesmana, dan akan menyerap pekerja seni lain sebagai penampil. Teater anak ”Laskar Pelangi”, contohnya, sudah mulai digelar di Dunia Fantasi selama dua bulan terakhir ini.

Untuk mewujudkan itu, Budi Karya mengatakan, telah dianggarkan Rp 900 miliar. ”Semua akan dilaksanakan secara terencana dan terpadu sehingga Ancol bisa semakin kuat sebagai destinasi wisata nasional,” ujarnya.

Program pengembangan wisata tahun 2012 ini, menurut Sekretaris PT Pembangunan Jaya Ancol Agus Rokhyadi, untuk mendukung pengembangan Ancol sebagai kawasan wisata terpadu dan ramah lingkungan.

Untuk mendukung pelestarian lingkungan dilakukan penataan area parkir yang telah dilakukan secara bertahap dan penyediaan lima bus wisata pengunjung. Dengan semakin tertatanya area parkir, semua pengunjung akan didorong tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi untuk berkeliling Ancol, tetapi menumpangi bus wisata yang disediakan.

Selain berinovasi menyajikan area wisata, Budi Karya menambahkan, tahun ini juga telah disiapkan departemen pemeliharaan (maintenance department) untuk mengawasi secara ketat semua wahana di Ancol Taman Impian. Upaya itu untuk meminimalkan kecelakaan pada pengunjung akibat kerusakan di wahana, seperti yang terjadi pada Tornado dan Atlantis Ancol Adventure tahun 2011.

Advertisements

Kerusuhan Suni Syiah Di Madura Ternyata Bukan Konflik Agama Tetapi Ternyata Karena Masalah Rebutan Perempuan Antara Saudara Kandung


Ali Murtadha alias Tajul Muluk, pemimpin kelompok Syiah Sampang, Madura, Jawa Timur, mengakui terlibat perselisihan dengan adik kandungnya sendiri, Roisul Hukama. Si adik ini menganut Sunni. Perselisian ini diakuinya memperuncing pertikaian antara Sunni-Syiah yang ada di daerahnya.

“Perselisihan dengan adik saya dimulai 2009 lalu, memang masalah perempuan. Pacar atau tunangan dia saya ambil,” kata Tajul Muluk ketika memberikan keterangan pers di kantor Lembaga Bantuan Hukum Surabaya, Jalan Kidal Surabaya, sore tadi, 2 Januari 2012.

Menurut Tajul, adiknya memang tak bisa menerima pacarnya dia ambil. “Padahal kan itu biasa, saat itu kan belum dinikahi,” ujar dia. Perselisihan inilah yang menurut dia memperuncing akar masalah yang terjadi di Sampang.

Tajul menambahkan, ketegangan antara Syiah dan Sunni di daerahnya dimulai sekitar tahun 2004 silam. Saat itu, entah asalnya dari mana, terjadi provokasi kepada masyarakat sekitar yang menyatakan Syiah sesat. Puncaknya, pada 2006, sekitar lima ribu warga dari tiga kecamatan di sekitar itu berunjuk rasa dan minta aktivitas Pesantren Misbachul Huda yang diasuh Tajul dihentikan.

Saat unjuk rasa itu, tambah Tajul, ia dipaksa oleh polisi untuk menandatangani kesepakatan yang berisi tak akan mengajarkan aliran Syiah di sekitar daerah itu. “Saya sebenarnya tidak mau tanda tangan, tapi dipaksa dengan dalih untuk menenangkan warga, nanti polisi berjanji akan memperbolehkan lagi Syiah diajarkan,” ujar dia.

Dan sejak saat itulah, hampir tiap tahun, keberadaan komunitas Syiah di kawasan itu selalu diusik oleh warga sekitar. Apalagi setelah ada perselisihan antara Tajul dan Roisul Hukama. Perselisihan antara Syiah dan Sunni di Sampang ini pun sebenarnya pernah didamaikan oleh Komnas HAM pada 28 Oktober 2011 lalu. Saat itu Komnas HAM telah mempertemukan Tajul dan Roisul Hukama di Hotel Santika Jemursari, Surabaya, untuk menandatangani kesepakatan perdamaian.

Iklil al Milal bin Makmun, kakak kandung dari Tajul dan Roisul Hukama, membenarkan masalah perempuan ini. Menurut dia, dua adiknya itu memang mendirikan dua pesantren berbeda. Meski berbeda, kedua pesantren ini cukup dekat karena hanya berjarak tak lebih dari 500 meter dan sama-sama berada di Dusun Nang Kernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang.

“Semula tidak masalah, dan puncaknya seorang santri putri Roisul itu mungkin akan dinikahi oleh Rois, tahu-tahu diambil oleh Tajul,” kata Iklil. Diambil, tambah dia, bukan untuk dinikahi oleh Tajul sendiri, melainkan dinikahkan dengan seorang santri pria dari Tajul.

Meski ada perselisihan tersebut, sejak 28 Oktober 2011, dengan bantuan Komnas HAM sebenarnya mereka telah dipersatukan dan kedua belah pihak merasa tidak ada masalah lagi, hingga akhirnya ada aksi pembakaran yang terjadi beberapa waktu lalu.

Iklil menambahkan, kaum Syiah di Sampang tersebar di dua dusun, yaitu Dusun Gading Laok, Desa Blu’uran, dan Dusun Nang Kernang, Desa Karang Gayam. Keduanya berada di Kecamatan Omben, Sampang. Di dua dusun itu setidaknya terdapat 135 keluarga Syiah.

Koordinator pembela hukum Ahlul Bait Indonesia (pembela kelompok Syiah), Muhammad Hadun Hadar, mengatakan kemarin malam telah terjadi penjarahan besar-besaran terhadap ratusan rumah warga Syiah di Dusun Nangkreng, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang.

Penjarahan, kata Hadun, dilakukan oleh puluhan orang dengan terang-terangan membawa apa saja harta benda dari dalam rumah yang telah kosong ditinggal penghuninya untuk mengungsi itu. “Kami sudah lapor ke polisi, bahkan sebelum penjarahan sudah kami laporkan, tapi tidak ada pengamanan,” kata Hadun, Sabtu, 31 Desember 2011.

Hasil penelusuran timnya, penjarahan yang terjadi semalam setidaknya membuat sebanyak tujuh sepeda motor beserta Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) hilang digondol penjarah. Tak hanya itu, perhiasan berupa emas, baju, serta peralatan elektronik juga raib.

Hadun menduga setelah proses pembakaran saat ini ada kesengajaan untuk melakukan skenario untuk menghabiskan seluruh harta benda kelompok Syiah di Sampang. Harapannya, setelah harta benda ludes, kaum Syiah sudah tak memiliki lagi kemampuan untuk membangun kembali perkampungan mereka.

Terkait dengan insiden pembakaran yang terjadi pada warga kampung Syiah dua hari lalu, Hadun menjelaskan jika saat kejadian sebenarnya terdapat ratusan petugas dari kepolisian sudah berada di lokasi. “Meski banyak polisi, tetap dibiarkan saja. Saya ada bukti videonya, bahkan daerah itu dilokalisasi dan wartawan saat itu dilarang masuk,” ujar dia.

Sementara itu, untuk menangani konflik antara Sunni dan Syiah di Sampang, Rektor Institut Agama Islam Negeri Surabaya, Nur Syam, berharap tokoh masyarakat dan para ulama di Sampang segera bertemu untuk melakukan dialog. “Pemerintah tidak punya otoritas untuk mengatur keyakinan, harusnya ulama setempat berada di garda terdepan untuk selesaikan masalah ini,” ujar Nur Syam.

Dia mencontohkan, ulama di Kediri yang dengan santun bisa berdialog dengan Lemkari yang saat ini sudah berubah menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Dengan dialog itu, kehidupan antara LDII dan seluruh pesantren di Kediri bisa berjalan harmonis tanpa adanya pertentangan yang menjurus pada konflik.

Alexander PNS Di Bappeda Kabupaten Dharmasraya Pendiri Ateisme Minang (ATMIN) Dikeroyok Massa Karena Tidak Suka Orang Atheis


Seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Dharmasraya, Alexander, 30 tahun, sore tadi sekitar pukul 15.30 diamankan Polsek Pulaupunjung. Dia diamankan dari amuk massa yang tidak menyukai keyakinannya sebagai seorang atheis.

Menurut Kepala Polisi Sektor (Polsek) Pulau Punjung AKP Nofrial SE, pengamanan diawali laporan masyarakat bahwa ada kericuhan di dekat kantor Bappeda Dharmasraya. “Saat anggota kami ke lokasi, dia sudah dikerumuni orang-orang. Makanya kami mengamankannya ke Mapolsek,” ujarnya kepada Tempo, Kamis 19 Januari 2012.

Saat interogasi di Mapolsek, kata Nofrial, dia tidak mengakui adanya Tuhan. Malah, dia juga membuat dan mengelola Facebook dengan nama Ateisme Minang (ATMIN). “Dia berkeras tidak mengakui adanya Tuhan,” ujarnya.

Saat ini Alexander, menurut Nofrial, sudah dijadikan tersangka, sesuai dengan laporan Majelis Ulama Indonesia setempat. “Facebook yang dikelolanya itu sudah lama meresahkan warga,” ujarnya.

Alexander diduga melakukan penistaan agama. Dia bisa dituntut Pasal 156 KUHP dengan pidana penjara maksimal 5 tahun.

Menanggapi adanya PNS dari Bappeda yang diduga atheis, Kepala Bappeda Kabupaten Dharmasraya Adilisman menyayangkan kasus ini. Namun, menurutnya, kasus ini atas nama pribadi bukan membawa nama lembaga. “Kami tak akan menghalangi proses hukum yang dihadapinya,” ujarnya.

Menurut pantauan Adilisman, dalam kesehariannya Alexander sangat tertutup. “Dia termasuk orang cerdas di kantor. Namun sayang dia menilai segalannya dari rasionalitas. Semoga dia tobat,” ujarnya. Status kepegawaian Alexander, kata Adilisman, masih menunggu proses hukum yang jelas.

Het Kong Sie Huis Tek Peninggalan Sejarah Tertua Jakarta Yang Dilupakan Oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta


Tahu tidak, Pasar Baru di Jakarta Pusat itu didirikan jauh sebelum republik ini berdiri?

Semula bernama Passer Baroe dan ketika Batavia menjadi nama untuk Jakarta, Pasar Baru didirikan pada 1820.

Tak heran, banyak bangunan tua di sini dan banyak yang masih seasli ketika pasar itu pertama kali didirikan, bahkan ada yang jauh lebih tua dari itu.

Salah satunya adalah Het Kong Sie Huis Tek atau sekarang dinamai Vihara Dharma Jaya atau Sin Tek Bio.

Letak rumah peribadatan ini tersembunyi, tenggelam di antara toko-toko tua, masuk Gang Belakang Kongsi yang begitu sempit dan kumuh di Pasar Baru Dalam.

Semerbak bau pesing menyertai perjalanan menuju tempat bersembahyang kaum Tionghoa itu.

Gang itu hanya cukup untuk dilalui oleh dua orang, dan itu pun mesti bersenggolan. Tuntas di gang ini Anda akan berujung pada satu tembok besar bertuliskan “Yayasan Wihara Dharma Jaya, Sin Tek Bio, Anno 1698 Batavia”.

Memasuki area kelenteng berwarna dominan merah itu, Anda akan membaui semerbak hio yang merasuki seluruh rongga hidung.

Di kanan dan kiri pintu utama kelenteng Anda akan disambut dua ekor patung singa penjaga yang disebut Bao-gu-shi.

Kelenteng ini tidak besar, namun keagungannya tetap terlihat dari atas bangunan kelenteng yang idhuni dua ekor patung naga dengan mutiara di antaranya.

Dalam ruang utama ada tiang-tiang pancang yang dililit dua ekor naga, sementara di dalam kelenteng ada ribuan lilin disangkari gelas-gelas kaca dengan stempel berwarna merah bertuliskan kaligrafi Cina berwarna emas.

Ratusan patung dewa dewi diletakkan di 14 altar yang memenuhi ruang utama, sedangkan patung Hok-tek Ceng-sin diletakkan di altar utama sebagai dewa utama yang disembah di kelenteng ini.

Patung itu sudah ada sejak kelenteng ini didirikan, bahkan usianya lebih tua dari kelenteng. Patung itu didatangkan langsung dari Tiongkok, sebelum kelenteng itu berdiri.

Sin Tek Bio yang memiliki dewa utama Hok-tek Ceng-sin sepertinya memang cocok berada di tengah Pasar Baru, karena Hok-tek Ceng-Sin adalah dewa Bumi dan rejeki atau dewa para petani dan pedagang.

Vihara ini diyakini berdiri pada abad ke-17, tepatnya 1698 yang saat itu adalah Tahun Macan. Tahun itu didapat dari data perabotan keleteng yang tercatat dari daftar penyumbang pembangunan kelenteng.

Akan tetapi pada 1820, seiring berdirinya Passer Baroe, kelenteng ini baru didaftarkan dengan nama Sin Tek Bio, yang berarti Kelenteng Pasar Baru.

Kapan kelenteng ini didirikan, mungkin sudah bukan masalah lagi. Yang jadi persoalan ini bangunan bersejarah itu mesti dilindungi. Sayang, kenyataan hampir dilupakan.

“Saya sudah pernah meminta bantuan ke Dinas Tata Kota, tapi tidak pernah ada tanggapan. Mereka (pemerintah) kurang perhatian kepada keadaan kami,” kata Ketua Yayasan Wihara Dharma Jaya Santoso Witoyo.

Santoso yang sejak 1981 mengurusi yayasan ini tampak pasrah dengan keadaan kelenteng yang kian hari kian tidak dianggap pemerintah. Padahal ini adalah salah satu jejak sejarah Jakarta, sekaligus objek wisata.

Tak hanya Sin Tek Bio, kelenteng Kwan Im Bio yang tepat berada di sebelahnya bernasib sama. Kwan Im Bio bahkan jauh lebih sulit ditemukan. Keduanya adalah kelenteng-kelenteng tertua di Ibukota.

Meski dinyatakan sebagai salah satu dari sembilan kelenteng utama di Jakarta, Sin Tek Bio sama sekali tak seperti kelenteng utama. Apalgi jika melihat jalan ke kelenteng ini yang begitu kumuh, sempit, becek dan pesing.

Tak hanya jalanan ke kelenteng, papan nama kelenteng pun sulit ditemukan karena tertutup terpal para pedagang.

Sungguh mengenaskan nasib jejak sejarah dan peradaban ini.

“Saya hanya bisa berpasrah kepada yang kuasa,” ucap Santoso.

Pelaku Korupsi Harus Dikucilkan Karena Merusak Moral dan Ahlak Bangsa


”When it is the governor who goes bad, the fabric of Illinois is torn and disfigured and not easily repaired. You did that damage.” Hakim Illinois, Amerika Serikat, James Zagel (2011)

Koruptor tak sekadar penjarah harta. Ia sekaligus perusak bangunan moral dan sosial.

Itulah dakwaan Hakim Zagel terhadap mantan gubernur Illinois, AS, Rod Blagojevich, sebagaimana dikutip chicagotribune.com (8 Desember 2011). Zagel menjatuhkan hukuman 14 tahun bagi gubernur dari Partai Demokrat yang memimpin Negara Bagian Illinois 2003-2009 itu.

Korupsi tak sekadar urusan uang yang ditilap (financial manipulations), karena itu bisa dikembalikan atau dirampas kembali; atau hanya terkait perilaku menyimpang (misuse of public power) sebagaimana didefinisikan JJ Senturia (1993) yang bisa diselesaikan secara hukum. Korupsi, menurut Zagel, terkait destruksi atas senyawa sosial yang kohesif. Korupsi berefek pada kerusakan sinergi sosial yang sudah berjalin secara fungsional.

Ia menghambat, memutus, dan membusukkan rangkaian kehidupan sosial yang sejatinya saling memberi efek dan energi positif bagi kehidupan yang lebih baik. Kehadiran koruptor jadi duri yang berpotensi memborokkan tatanan sosial dari dalam. Dan ini patut kita prihatinkan seiring kian runtuhnya kepercayaan publik terhadap pemberantasan korupsi di negeri ini. Rilis Lembaga Survei Indonesia (8 Januari 2012), opini masyarakat terhadap penegakan antikorupsi 2011 kian menurun dibandingkan 2010.

Sengkarut kebejatan
Beberapa kali kita dikejutkan oleh putusan bebas terdakwa kasus korupsi. Catatan Komisi Yudisial, puluhan koruptor divonis bebas Pengadilan Tipikor. Indonesia Corruption Watch menyebutkan, sampai November 2011 terdapat 40 terdakwa korupsi divonis bebas. Logika hukum para hakim tak berdaya menjamah para koruptor. Kebebasan para koruptor sedikit banyak memberikan angin segar bagi para calon dan pelaku korupsi yang belum terendus untuk terus nekat korupsi. Jangankan efek jera, mereka justru kian cerdik cari celah berkorupsi secara sistemik.

Ironisnya, ini ”mendapat angin” dari anggota DPR. Upaya interpelasi atas kebijakan pengetatan pemberian remisi untuk para koruptor dan teroris sedikit banyak menggoyah upaya sungguh-sungguh pemberantasan korupsi. DPR yang mempertanyakan kebijakan moratorium terjebak pada problem formalistik-legalistik yang selama ini sering dijadikan kedok koruptor untuk korupsi. Seharusnya, sebagai wakil rakyat, mereka lebih melihat dampak eksesif korupsi bagi rakyat dan mendukung sepenuhnya logika dan upaya pemberantasan korupsi.

Lemahnya komitmen antikorupsi oknum penegak hukum dan legislatif jadi pelengkap sengkarut korupsi di segala lini kehidupan negeri ini. Korupsi masif ini berdampak terhadap deviasi kehidupan yang tersamarkan di balik euforia demokrasi prosedural. Dampak sosiologis inilah yang cenderung terlupakan dan terabaikan. Pada titik tertentu, korupsi jadi ajang selebrasi kaum bedebah. Bahkan kalau bisa melakukan perlawanan balik.

Kesadaran tentang efek destruktif korupsi bagi tatanan sosial belum sepenuhnya tumbuh di masyarakat. Hal ini terlihat dari belum adanya korelasi signifikan antara persepsi masyarakat yang negatif terhadap korupsi dan penyikapan terhadap koruptor. Persepsi tak selalu berkorelasi dengan aksi. Korupsi lebih dilihat sebagai kejahatan ekonomi dan hukum (struktural), bukan beban sosial (kultural). Akibatnya, sanksi sosial dan operasi masif atas potensi korupsi tak hadir secara komprehensif.

Lebih jauh, ini berdampak pada sikap permisif terhadap korupsi. Korupsi dipandang bukan sesuatu yang aneh dan najis, karena itu tak perlu dieliminasi dan dieksklusi. Bahkan dalam beberapa kasus, koruptor tetap mendapatkan simpati (suara) dari konstituen untuk jabatan publik baik di legislatif maupun di eksekutif. Dalam kurun 2008-2011 terjadi delapan kali pelantikan kepala daerah berstatus tersangka dan terdakwa

Padahal, secara moral, koruptor berperilaku di luar kewajaran sosial dan secara personal mereka mengidap kejiwaan menyimpang (psychiatric deviations). Pada titik tertentu, apabila dibiarkan, ini bisa menjalar dan menular. Karena itu, perlu eksklusi, pemisahan secara tegas, baik secara kategoris maupun sosiologis terhadap koruptor. Eksklusi ini penting untuk memastikan berjaraknya efek domino dari tindak koruptif yang destruktif para pelaku korupsi dengan tatanan sosial yang belum sepenuhnya terkontaminasi.

Eksklusi harus jadi gerakan masif masyarakat madani dan didukung media massa, di tengah runtuhnya citra bersih institusi negara. Sebagaimana ditekankan Michel Foucault, identitas menyimpang (gila) para koruptor bukan masalah empiris atau medis semata. Ini juga terkait nilai-nilai sosial dan diskursus-diskursus yang terbentuk dalam masyarakat. Eksklusi dibentuk karena kebutuhan rakyat untuk kepentingan formasi sosial yang bersih dari korupsi. Paling tidak, ada komitmen masif untuk menegaskan jarak antara kami (rakyat) dan mereka (koruptor). Kami sebagai rakyat yang tak mau jadi korban, dan mereka sebagai yang aneh dan beda, karena itu harus dieksklusi

Setelah Melanggar Peraturan Dengan Masuk Jalur Busway Seorang Polisi Melepaskan Tembakan Untuk Menakut Nakuti Petugas Busway


Hingga saat ini pihak kepolisian masih belum mengetahui siapa oknum polisi yang melepaskan tembakan di jalur busway Koridor IV (Pulo Gadung-Dukuh Atas II) beberapa waktu lalu. Apakah polisi berinisial I ataukah D?

“Karena tidak diperbolehkan masuk ke jalur busway, akhirnya salah satu dari I dan D melepas tembakan. Saya belum bisa memastikan siapa yang melepas tembakan itu,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (15/1/2012).

Rikwanto menjelaskan terkait aksi koboi itu, bisa jadi I dan D dikenakan sanksi disiplin. Tapi tidak sampai dikeluarkan dari kesatuan. “Kita lihat saja perkembangan kasusnya nanti,” ujar Rikwanto singkat.

Seperti diberitakan, seorang petugas jalur busway koridor IV (Pulo Gadung-Dukuh Atas 2) bernama Rocky (RM), telah melaporkan oknum polisi ke Propam Polda Metro Jaya atas aksi koboinya yang melepas tembakan ke udara, persis di samping telinga kirinya saat dilarang menerobos jalur busway di Jalan Pramuka Raya, Kamis (12/1/2012) pagi. Rocky pun langsung dibawa ke rumah sakit untuk divisum.

Selasa (17/1/2012) pekan depan rencananya oknum polisi ini akan menjalani pemanggilan pertamanya di Polda Metro Jaya. Oknum polisi yang melepaskan tembakan di jalur busway Koridor IV (Pulo Gadung-Dukuh Atas II) beberapa waktu lalu, akan menjalani pemeriksaan pertama Selasa (17/1/2012) nanti. Demikian diungkapkan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (15/1/2012).

“Selasa depan akan ada pemanggilan yang pertama. Senin sehari sebelumnya kami akan membuat surat ke kesatuan oknum tersebut untuk melakukan pemanggilan,” ucap Rikwanto.

Rikwanto menjelaskan aksi koboi oknum polisi ini tidak dibenarkan. Pasalnya secara kode etik, melepaskan tembakan itu ada peraturannya. “Dalam situasi apa dan ada tahapan eskalasinya. Tidak boleh sembarangan melepaskan tembakan,” jelas Rikwanto.

Rikwanto menambahkan, apabila oknum polisi itu meminta baik-baik kepada petugas penjaga jalur busway akan diberikan izin. “Saya rasa pasti dibukakan pintu jika dikomunikasikan dengan baik,” ujar Rikwanto.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang petugas jalur busway koridor IV (Pulo Gadung-Dukuh Atas 2) bernama Rocky (RM), telah melaporkan oknum polisi ke Propam Polda Metro Jaya atas aksi koboinya yang melepas tembakan ke udara persis di samping telinga kirinya saat dilarang menerobos jalur busway di Jalan Pramuka Raya, Kamis (12/1/2012) pagi. Rocky pun langsung dibawa ke rumah sakit untuk divisum.

Kopassus dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Tanam Ribuan Pohon di Bantaran Ciliwung


Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menanam ribuan pohon di sekitar bantaran Kali Ciliwung. “Kita ingin membuat ruang terbuka hijau di Kali Ciliwung,” kata Komandan Kopassus TNI AD Mayor Jenderal Wisnu Bawa Tanaya, Ahad, 15 Januari 2012.

Kopassus dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menanam 60 ribu pohon. Kopassus menanam 40.000 pohon, sementara sisanya dari pemerintah DKI. Pohon-pohon yang ditanam berjenis eboni (kayu hitam), trembesi, mahoni, nyamplung, salam, mangga, dan rambutan. Pohon dipilih berdasarkan manfaatnya. Misalnya pohon trembesi yang memiliki daya serap CO2 dan memiliki akar yang kuat untuk ikut menjaga kali dari banjir dan longsor.

Penanaman dilakukan di bantaran Kali Ciliwung, daerah Depok Margonda, sampai dengan TB Simatupang-Tanjung Barat. Panjang area tanam yaitu 15 kilometer. “Penting melakukan penanaman karena masyarakat sangat bergantung dengan Kali Ciliwung,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Lapangan Tembak Sudaryan Kopassus Cijantung 3.

Acara Kopassus dan pemerintah Jakarta ini bertajuk “Green, Clean, and Healthy” dengan bentuk kegiatan berupa pembersihan Sungai Ciliwung dan penanaman pohon di lapangan tembak B. Gubernur melakukan kegiatan “Green, Clean, and Healthy” bersama Kopassus, Pangkostrad, Kapuspen TNI, Pangdam Jaya, Kepala Basarnas, Kapolda Metro Jaya, Komunitas Pencinta Ciliwung, beserta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Acara juga disertai dengan penyusuran Sungai Ciliwung.