Denok Taviperiana Pegawai Pajak Pemilik Rekening 5,5 Milyar Rupiah dan Menerima Suap Sebesar 500 Juta Rupiah Dipecat Dengan Tidak Hormat


Denok Taviperiana, PNS pajak yang diduga memiliki rekening gendut tak wajar dan harta Rp 5,5 miliar sekarang tak lagi bekerja di kantor pajak Bekasi, kabarnya Denok sudah dipecat.

Salah seorang petugas pajak di Kantor Wilayah Ditjen Pajak II, Bekasi Barat mengatakan Denok sudah lama tidak masuk kerja.

“Kepegawaian Ibu Denok itu semuanya diurus oleh Pajak Pusat di Gatot Subroto. Ibu Denok sudah diberhentikan oleh (kantor) pusat setelah pemberitaan di media. Kira-kira bulan dua di 2012,” jelas petugas tersebut kepada detikFinance, Kamis (8/3/2012).

Semenjak ramai diberitakan memiliki rekening gendut, selang satu atau dua hari Denok tidak datang lagi ke kantor. “Ibu Denok itu bukan staf humas, dia itu staf pelaksana Golongan IV kalau tidak salah,” lanjut petugas tersebut.

“Jadi Ibu Denok tidak mengundurkan diri, tapi diberhentikan,” tambahnya.

Dari data laporan harta kekayaan pejabat negara (LHKPN) Denok kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terakhit dilakukan 24 November 2008, terlihat Denok memiliki kekayaan Rp 5,52 miliar.

Adapun daftar harta terakhir Denok yang didapatkan berdasarkan LHKPN ke KPK yang dikutip detikFinance, Rabu (7/3/2012) adalah:

Harta Tak Bergerak Rp 2.275.566.000

Tanah dan Bangunan seluas 232 m2 dan 228 m2, di Jakarta Timur yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 1998, NJOP Rp 725.536.000
Tanah dan Bangunan seluas 151 m2 dan 60 m2 di Kabupaten Cianjur yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 2007, NJOP Rp 302.354.000
Tanah dan Bangunan seluas 305 m2 dan 110 m2 di Jakarta Selatan yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 2006, NJOP Rp 841.940.000
Tanah dan Bangunan seluas 242 m2 dan 110 m2 di Kota Malang yang berasal dari perolehan sendiri, perolehan tahun 1995, NJOP 160.798.000
Tanah dan Bangunan seluas 123 m2 dan 50 m2 di Kabupaten Bandung yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 199, NJOP Rp 75.322.000
Tanah dan Bangunan seluas 112 m2 dan 40 m2 di Kota Bandung yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 1999, NJOP Rp 117.824.000

Harta Bergerak

A. Alat transportasi dan mesin lainnya Rp377.000.000

Mobil merek Honda Jazz tahun buatan 2004 yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 2004 nilai jual Rp 100.000.000
Mobil merek Toyota Kijang Innova tahun pembuatan 2005 dengan nilai jual Rp140.000.000
Motor Yamaha Mio buatan tahun 2008, yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 2008 dengan nilai jual Rp 7.000.000
Mobil merek Honda buatan tahun 2003 yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 2008, dengan nilai jual Rp 130.000.000
B. Harta Bergerak lainnya Rp 40.000.000

Logam mulia yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 2005, dengan nilai jual Rp 23.000.000
Benda bergerak lainnya, yang berasal dari hasil sendiri, perolehan tahun 2008 dengan nilai jual Rp 17.000.000
C. Surat Berharga Rp 1.381.795.107

Tahun investasi dari tahun 2006-2011 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 275.456.405
Tahun investasi dari 2005-2006 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 770.986.865
Tahun investasi dari 2008-2010 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 335.351.837
D. Giro Setara Kas Rp 1.172.341.821

E. Piutang
Piutang dalam bentuk pinjaman uang Rp 274.036.900

Wanita kelahiran Probolinggo 17 Desember 1964 ini pernah bekerja di kantor pelayanan pajak (KPP) Bekasi dengan nomor induk pegawai (NIP) 060078821. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah mempercepat proses pemberhentian dua pegawai pajak berekening gendut Denok dan Totok.

Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Kiagus Ahmad Badaruddin menyatakan Surat Keputusan (SK) pemecatan kedua pegawai Ditjen Pajak Denok dan Totok akan segera terbit. Saat ini, SK tersebut masih dalam proses pemeriksaan pihaknya untuk diteruskan kepada Menteri Keuangan.

“Denok dan Totok sebentar lagi SK-nya terbit, kita cek lagi supaya benar, saya sudah terima, baru kita terima dari Dirjen Pajak, yang nanti kita teruskan ke pak menteri untuk ditandatangani,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (8/3/2012).

Proses ini, lanjut Badaruddin, merupakan pemeriksaan formal pihak Setjen bersama bagian SDM Kemenkeu dan Biro Hukum Kemenkeu.

“Iya, tapi kan harus hati-hati, cuma pemeriksaan formal seperti berita acaranya. Kan tentu, biro SDM dan hukum harus lihat secara bersama-sama, saya sudah panggil biro bantuan hukum dan SDM untuk melihat,” ujarnya.

Menurut Badaruddin, pihaknya mengutamakan proses SK pemecatan kedua pegawai tersebut dibandingkan pegawai lainnya.

“Yang dikejar-kejar kalian kan itu, jadi itu didulukan. Yang lagi proses minggu ini, 2 itu,” pungkasnya.

Denok Taviperiana dan Totok Hendriyatno merupakan kedua pegawai yang terindikasi memiliki rekening gendut. PPATK pernah melaporkan hasil analisis keuangan Denok kepada kepolisian namun dihentikan karena tidak cukup bukti pada 2007.

Denok merupakan wanita kelahiran Probolinggo 17 Desember 1964 ini pernah bekerja di kantor pelayanan pajak (KPP) Bekasi dengan nomor induk pegawai (NIP) 060078821.

Laporan hasil analisis yang sama diserahkan kepada Itjen Kemenkeu. Hasilnya, Denok dan Totok terbukti menerima uang dari wajib pajak senilai Rp 500 juta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s