Monthly Archives: March 2012

Bermacam Macam Tempat Makan Mie Aceh Yang Terkenal Enak


Saya terbahak ketika mendengar kisah seorang kawan yang tiba dari Jakarta, Senin, 19 Maret lalu. Karno, kawan itu belum pernah ke Aceh. Ia hanya mendengar tentang Aceh yang punya masakan khas: mie Aceh.

Saat senggang, Agus dan seorang rekannya berkeliling Kota Banda Aceh. Dari hotel, mereka menumpang becak ke Masjid Raya Baiturrahman, pusat kota. Dari sana mereka mencoba jalan kaki melihat-lihat suasana.

Agus teringat mie Aceh dan ingin mencobanya. Tiap warung diperhatikan, satu pun tak bertulis mie Aceh. Tak terasa dua kilometer sudah mereka berjalan, tapi mie Aceh tak ditemukan.

Saat bertemu, Karno protes kepada saya tentang susahnya mencari makanan itu. “Ada banyak tempat, tapi di Banda Aceh jarang sekali warung yang menuliskan mie Aceh di tempat berjualan. Karena ini Aceh. Kalau di luar Aceh baru ditulis besar-besar: mie Aceh,” ujarnya.

Mie Aceh mudah dijumpai di setiap warung kopi atau warung khusus yang menjual masakan itu. Hanya, namanya mengikuti nama warung, nama suatu daerah, dan nama orang. Misalnya Mie Razali, Mie Lala, Mie Midi, Mie Bireuen, dan Mie Kajhu.

Perbedaan dengan mi lainnya adalah pada bentuknya. Mi-nya terbuat dari tepung dan berwarna kuning atau kerap disebut mi kuning serta diolah tanpa bahan pengawet. Ukurannya sedikit lebih besar dari mi biasanya. Mungkin mirip mi hokkian atau spaghetti.

Meracik mie Aceh tidaklah susah. Bahan dasar yang dipergunakan hanya dua, mi kuning/basah dan bumbu. Mi kuning itu hanya bertahan satu hari karena tanpa pengawet membuatnya cepat basi. “Kalau dipakai pengawet rasanya tidak enak,” kata Insafuddin, pekerja di warung Mie Razali yang terletak di Jalan Teuku Panglima Polem, Banda Aceh.

Mengolah mie Aceh sangat tergantung pada bumbu masak. Bumbunya terdiri dari cabai (mutu tinggi), bawang putih, dan kemiri dalam jumlah dominan. Kemudian ditambahkan sedikit bawang merah dan kacang tanah. Semua bumbu itu digiling halus dan akan berwarna merah.

Memasaknya pun tergantung pada selera. Ada tiga model; kebanyakan orang menyebutnya dengan mi rebus (dengan banyak kuah), mi goreng basah (sedikit kuah), dan mi goreng (kering tanpa kuah). Ketiganya punya rasa berbeda-beda, sama nikmatnya. Bila pelanggan menginginkan pedas, maka akan diperbanyak bumbu.

Kata Insafuddin, saat memasak mi diperlukan air yang sudah dimasak dengan tulang sapi, seperti sop, dengan sedikit tambahan garam. Dimasak di dalam belanga, pertama dimasukkan air, kemudian bumbu serta sedikit rajangan kol ataupun toge dan bawang daun. Sesudahnya baru dimasukkan mi kuning. Dimasukkan sedikit air cuka dan kecap manis. Diperlukan waktu sekitar 2 menit untuk memasak satu porsi mie Aceh.

Sebagai pelengkap, juga bisa dimasak dengan mencampurkan daging atau udang atau kepiting. Dijamin rasanya makin sedap. Mie Aceh dihidangkan dengan kerupuk mulieng dan irisan bawang merah juga cabai rawit serta acar mentimun. “Rasanya sangat tergantung pada pembuatan dan bumbunya,” kata Insafuddin.

Warung Mie Razali tempat Insafuddin bekerja menawarkan mie Aceh sebagai menu utamanya. Tempat itu tak pernah sepi dan hampir menjadi rujukan setiap warga asing dan tamu luar Aceh yang berkunjung ke Aceh. Maklum, tempat itu juga mudah dijangkau karena letaknya di pusat kota.

Warung mi itu sudah lama ada, sejak 1960-an. Namanya diambil sesuai dengan nama pemiliknya, Razali, yang kini telah almarhum. Bisnis mi di warung tersebut kini ditangani keluarga. “Kami selalu menjaga cita rasa mie Aceh di sini,” ujar Insafuddin.

Banyak warung lainnya yang menjajakan mie Aceh. Kadang-kadang lain warung lain pula rasanya. Tergantung pada lidah para pelanggan. “Perbedaannya pada olahan bahan dasar mi dan bumbunya,” kata Muntasir, penjual mie Aceh di warung Mun Mie Bireuen, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Menurut dia, kadang-kadang bumbu yang diolah lebih banyak cabainya, lebih banyak bawangnya, ataupun lebih banyak kemiri dan kacangnya. Itulah yang membuat rasa berbeda. Selain itu juga pada mengolah tepung menjadi mi kuning sebagai bahan dasar. “Olahannya dengan kadar air tertentu dan pada pemilihan mutu tepung,” ujar Mun.

Tapi secara umum rasanya sama saja. “Rasanya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sedap, jauh lebih nikmat daripada mi-mi biasanya yang pernah saya cicipi,” sebut Karno, kawan saya.

Jika ke Banda Aceh, berikut ini beberapa tempat warung mie Aceh:

  1. Warung Mie Razali, Jalan Panglima Polem Banda Aceh. Warung ini hanya menjual mie Aceh dengan berbagai minuman jus dan minuman ringan lainnya. Mie Razali juga membuka cabang di Jalan Soekarno-Hatta, Lampeuneurut, Aceh Besar.
  2. Warung Mie Lala, Jalan Syiah Kuala, Kampung Kramat Banda Aceh. Warung ini hanya menjual mie Aceh dangan berbagai minuman jus dan minuman ringan lainnya.
  3. Pusat jajanan Rex Peunayong, Jalan Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Pusat jajanan yang menjual berbagai macam makanan. Selain mie Aceh juga ada nasi goreng, kerang rebus, sate matang, martabak telur, dan aneka minuman.
  4. Warung Mie Kajhu, Jalan Banda Aceh, Krueng Raya, Kajhu Aceh Besar. Selain menjual mie Aceh, warung ini juga menjual rujak Aceh.
  5. Warung Mie Lhoknga, Desa Lhok Nga, Aceh Besar. Warung ini hanya menjual mie Aceh dengan berbagai minuman lainnya.
  6. Warung Mie Bireuen, Simpang Tujuh, Ulee Kareng, Banda Aceh. Warung ini khusus menjual mie Aceh.

Untuk Menikmati Mie Aceh Seulawah Di Jakarta Silakan Klik: Wisata Kuliner Di Rumah Makan Mie Aceh Seulawah Benhil

Serangan Serangga Tomcat Sudah Sampai Di Indramayu


Seorang ibu rumah tangga di Desa Cikedung Kidul, Kecamatan Ciekdung, Indramayu, Sabtu (24/3) pagi menangkap dua ekor binatang tomcat yang mulai mendekati rumahnya. Tomcat yang tertangkap itu sudah mendekati rumahnya dan mengambil ancang-ancang pada sebuah kran air tanah di belakang rumahnya. Beruntung pemilik rumah, Jannah, 24 cepat tanggap. Binatang itu sebelum menyerang dan membahayakan keselamatan anaknya Alwa yang masih berusia 2 tahun terlebih dahulu ditangkap.

Jannah cukup kenal dengan serangga tomcat yang badannya berwarna belang-belang hitam dan oranye. “Binatang itu warnanya belang-belang. Kepala berwarna hitam. Punggung berwarna oranye. Perut berwarna hitam. Ekor berwarna orange. Bagian belakang ekor berwarna hitam,” katanya.

Karena tomcat dikhawatirkan menyerang anaknya Alwa, 2 yang senang bermain-main di teras dengan dekat kran air tanah, Jannah buru-buru menangkap hidup-hidup serangga tomcat yang sedang menghebohkan karena diketahui menyerang warga di kawasan pemukiman elit di Surabaya itu.

Agar tak kabur, binatang tomcat yang tertangkap itu langsung dikarantina di dalam botol bekas kemasan minuman mineral. Penangkapan tomcat menarik perhatian keluarganya yang mengetahui bahwa serangan tomcat dapat membahayakan kesehatan.
Seperti diketahui, tempat berkembang biak tomcat itu yakni di kawasan hutan mangrove yang biasa tumbuh subur di beberapa lokasi di Pantai Utara Indramayu.

Tomcat bisa menyebar secara liar ke luar habitatnya, apabila tanaman mangrove yang selama ini dikenal sebagai tempat berkembang biaknya tomcat itu dirusak tangan jahil. Misalnya dibabat oleh oknum warga yang memanfaatkan kayunya untuk kayu bakar.

Bulan Maret Jakarta Dilanda Hawa Panas Terik Dengan Suhu 35 Derajat Celcius


Beberapa hari terakhir, warga DKI Jakarta dan sekitarnya merasakan panas yang cukup terik. Suhu panas tersebut umumnya mencapai 35 derajat celcius. Namun tak usah khawatir. Meski panasnya cukup menyegat, kondisi ini masih normal.

“Kisarannya bervariasi ya, sekitar 34-35 derajat Celcius. Masih kondisi normal di bulannya, bulan Maret,” kata Kepala Sub Bidang Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Hari Tirto, saat dihubungi detikcom, Sabtu (24/3/2012).

Hari menjelaskan panas terik akan dirasakan di wilayah Indonesia barat. Hal ini terjadi karena adanya tekanan rendah di wilayah Indonesia barat yang menyebabkan massa udara lebih banyak terkonsentrasi di Indonesia bagian tengah dan timur. Karena itu potensi hujan akan terkonsentrasi ke Indonesia bagian tengah dan timur.

“Sedangkan di wilayah Indonesia barat potensi hujan cenderung kecil. Sehingga menjadi panas,” ujarnya.

Selain itu, kelembaban udara di wilayah Indonesia barat juga rendah. Sehingga potensi pembentukan awan menjadi hujan tidak optimal. Sementara di wilayah Indonesia tengah dan timur justru sebaliknya.

“Di wilayah Indonesia tengah dan timur kelembabannya tinggi dan cukup signifikan,” jelasnya.

Teroris Sumedang Memiliki 10 KTP Dengan Nama Berbeda Dan Rekening 1 Milyar


Kasat Reskrim Polres Sumedang Ajun Komisaris Tri Suhartanto mengatakan bahwa Ar (Arli) memiliki beberapa nama alias serta mempunyai sedikitnya 10 KTP. “Terduga teroris berinisial Ar itu memiliki 10 KTP dengan nama berbeda-beda,” kata Tri, Kamis (22/3/2012). Pengelola kontrakan, Irwan Mulyawan (40), mengatakan, harga sewa untuk gerai itu besarnya Rp 8 juta.

“Uangnya dibayar lunas untuk satu tahun. Mereka mengatakan tadinya akan buka gerai di Jatinangor, tapi harganya mahal sehingga memilih mencari di Sumedang,” katanya. Dalam menjalankan usahanya, gerai itu dijaga oleh Catur. “Yang ditangkap tadi itu Catur, pegawainya. Ia juga berasal dari Subang. Saat kontrak pertama, Catur datang bersama istrinya dan tiga anaknya. Dia juga jarang bicara dan sikapnya biasa saja,” timpal Ilah, istri Irwan.

Selama tiga bulan itu, Arli sering pergi dari kontrakan. “Bilangnya sih ke Bandung dan Jakarta untuk membeli peralatan perbaikan ponsel,” kata Ilah. Setiap hari, Catur lebih banyak berada di belakang komputer dan melayani konsumennya. “Sehari-harinya ya dia jaga toko dan berada di belakang komputer sampai melayani pembeli. Saya sempat ngobrol kalau sekitar tiga minggu sudah tak bisa menghubungi Arli,” beber Ilah lagi.

Catur, seperti dituturkan Ilah, menyebutkan, saat dihubungi ponsel Arli tidak aktif. “Selama pergi sekitar tiga minggu lalu itu, Arli tak bisa dihubungi,” katanya. Menurut Ilah, setelah tak ada kabar selama tiga pekan itu, ternyata pada Kamis (22/3/2012) kontrakan Arli digeledah karena dituduh terlibat jaringan terorisme. “Sejak sebulan lalu anggota Densus 88 sudah ada di kawasan Angkrek dan mengontrak rumah persis di depan kontrakan yang digeladah Densus,” kata sumber Tribun di Mapolres Sumedang. Penyewa rumah kontrakan yang digerebek tim Densus 88 Antiteror Polri di Jalan Angkrek Nomor 71 RT 1/14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Sumedang, Jawa Barat, selalu menghindar ketika dimintai indentitasnya.

Pemilik rumah kontrak, Ilah Sarmila (40) dan suaminya Irwan Mulyawan (40), mengatakan bahwa kontrakan itu disewakan selama satu tahun kepada Arli (42) pada 25 Desember 2011. Saat mengontrak gerai ukuran 2,5 x 2,5 meter itu, Arli tak memperlihatkan kartu tanda penduduk (KTP) kepada Ilah maupun Irwan. “Kami sudah sering meminta fotokopi KTP, tapi pengontrak gerai itu tak memberikan. Orang tak banyak bicara kalau bertemu dan ditanyakan KTP selalu menghindar,” kata Irwan kepada Tribun Jabar, Kamis (22/3/2012). Irwan hanya tahu bahwa Arli mengaku dari Subang dan mempunyai usaha jual beli dan perbaikan ponsel.

Ketua RT setempat, Dadang Suhendar, mengatakan bahwa di kawasan Jalan Angkrek terdapat banyak rumah sewa. Sebagian penyewa tidak melaporkan keberadaannya kepada Dadang. “Untuk yang menyewa di pinggir jalan untuk kios atau toko itu jarang ada yang lapor, kecuali bagi yang mengontrak di dalam dan sudah berumah tangga selalu lapor ke RT,” katanya.

Pada Kamis sekitar pukul 13.30 siang tadi, tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pria berinisial CP di gerai ponsel yang disewa oleh Arli di Jalan Angkrek. Penangkapan terhadap CP berlangsung cepat. Pria itu tak dapat melawan dan kaget begitu tim Densus 88 menodongkan senapan ketika ia asyik duduk di depan rumah. Tanpa banyak bicara, Densus 88 langsung mengamankan penjaga gerai Plus Celullar itu.

Penggeledahan di gerai ponsel CP itu dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Arli sebelumnya tinggal di rumah kontrakan tersebut. Dalam penggerebekan siang tadi, tim Densus 88 membawa Arli dan menempatkannya di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil tertutup dan berkaca film hitam tidak tembus pandang. Arli merupakan anggota kelompok jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Barat awal Maret ini.

Kepala Polres Sumedang Ajun Komisaris Besar Eka Satria Bhakti mengatakan, penggerebekan terhadap CP, tersangka terduga teroris di Sumedang, dilakukan setelah tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggeledah tempat kontrakan tersangka lain. Penggerebekan oleh tim Densus 88 Polri itu berlangsung di Jalan Angkrek Nomor 71 RT 1/14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Kamis (22/32012) siang. Tim Densus 88 menangkap CP, yang tengah menjaga gerai ponsel di tempat tersebut. “Itu kegiatan Densus 88 dan mereka menggeledah tempat kontrakan terduga teroris yang sudah ditangkap duluan. Penjaga gerai ponsel itu dibawa untuk dimintai keterangan,” kata Eka saat dihubungi melalui ponselnya.

Penggeledahan dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Dalam penggerebekan itu, tim Densus 88 juga membawa Arli dan terus berada di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil tertutup plus kaca film hitam tidak tembus pandang. Tribun sempat mencoba mengintip dari balik kaca mobil tapi langsung dihardik petugas Densus 88. Arli merupakan jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di PN Jakarta Barat awal Maret ini.

Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pria yang diduga terlihat terorisme di sebuah gerai telepon seluler di Sumedang, Jawa Barat, Kamis (22/32012) siang. Tersangka berinisial CP (40) tak dapat berontak dan langsung menyerah di tangan petugas.

Penangkapan CP di Jalan Angkrek, RT 1 / RW 14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, itu berlangsung sekitar pukul 13.30. Hj Omoh (72), pemilik rumah dan kontrakan di Jalan Angkrek Nomor 71, kaget dan langsung beranjak dari depan televisi begitu mendengar ada mobil mikrobus berhenti di depan rumah.

“Dari dalam mobil itu berhamburan orang berpakaian hitam dengan senjata laras panjang memakai helm dan muka tertutup,” kata Omoh yang menyaksikan kejadian itu dari pintu depan rumahnya. Omoh menuturkan, di depan rumah itu sedang duduk CP (40), penjaga gerai Plus Celullar. CP yang mengenakan kaus hitam dan celana jins langsung angkat tangan ketika moncong senapan aparat Densus 88 diarahkan kepadanya. “Tak ada pembicaraan sedikit pun. CP angkat tangan dengan mulut terbuka kaget. Petugas berpakai hitam-hitam itu menutup mata CP dengan lakban,” kata Omoh yang mengaku masih shock.

Dengan mata tertutup dan tangan diikat ke belakang, CP yang masih memakai sandal jepit biru itu digelandang naik ke dalam mobil dan pintunya langsung ditutup. Penggeledahan dilakukan cepat dan akses Jalan Angkrek langsung ditutup meski jalur tersebut sangat padat lalu lintas karena berada di kawasan perguruan tinggi dan sekolah.

Anggota Polres Sumedang langsung memasang garis polisi di tempat kejadian. Empat anggota Densus 88 dengan senapan serbu di tangan berdiri di depan gerai ponsel. Anggota lain melakukan penggeledahan di dalam gerai yang berukuran 2,5 x 2,5 meter itu. Warga Angkrek tumplek dan melihat aksi penggeledahan yang disebutkan warga sebagai penangkapan teroris. “Saya nonton saja karena tadi mendengar ada penangkapan teroris di Angkrek,” kata Hendrawan, warga Situ.

Selain membawa CP, anggota Densus 88 juga menggeledah gerai ponsel dan mengangkut satu buah central processing unit (CPU), buku tabungan sampai slip penarikan dan penyetoran uang. “Dari buku tabungan itu nilai uangnya di atas Rp 1 miliar lebih. Transaksi pemasukan dan pengeluaran uang juga banyak,” kata seorang anggota polisi yang ikut penggeledahan. Tim Densus 88 Antiteror menggeledah gerai ponsel di Jalan Angkrek, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (22/3/2012) siang. Polisi mengangkut satu buah central processing unit (CPU), buku tabungan, serta slip penarikan dan penyetoran uang.

“Dari buku tabungan itu nilai uangnya di atas Rp 1 miliar. Transaksi pemasukan dan pengeluaran uang juga banyak,” kata seorang anggota polisi yang ikut dalam penggeledahan, Kamis. Penggeledahan dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Densus membawa Arli dan terus berada di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil yang tertutup kaca film hitam tidak tembus pandang.

Arli merupakan jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin, yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di PN Jakarta Barat awal Maret ini. Kapolres Sumedang Ajun Komisaris Besar Eka Satria Bhakti mengatakan, operasi itu dilakukan Densus 88 Antiteror. “Itu kegiatan Densus 88 dan mereka menggeledah tempat kontrakan terduga teroris yang sudah ditangkap duluan. Penjaga gerai ponsel itu dibawa untuk dimintai keterangan,” kata Kapolres saat dihubungi melalui ponselnya.

Fadliansyah, anggota gerakan teroris Poso yang telah ditangkap polisi 17 Maret lalu diduga kuat merupakan kelompok jaringan Umar Patek, “Diduga juga turut membantu aktivitas teror Umar Patek dan Dulmatin,” kata juru bicara Mabes Polri, Inspektur Jendral Saud Usman Nasution, Sabtu, 24 Maret 2012. Tentang peran Fadliansyah dalam jaringan Umar Patek dan aktivitas terorisme di Poso, Saud enggan menyebutkan. “Ini masih dalam penyelidikan.” Fadliyansah ditangkap 17 Maret lalu di sebuah hotel di Jalan Dewi Sartika Bandung bersama istrinya berinisial NAT.

Ia ditangkap terkait kasus pelatihan militer di Poso. Ia membeli amunisi atau peluru M16 pada saat pelatihan dan latihan pembuatan detonator. Selain itu Fadliansyah bersama Heri Kuncoro pernah mengikuti pelatihan bongkar pasang senjata api di Pare, Kediri Jawa Timur, dan membuat KTP palsu dengan nama Arif Arhan.

Dalam penangkapannya Polri menyita barang bukti yakni 10 lembar KTP, 10 kartu ATM, aplikasi formulir paspor. Fadliyansah disangkakan dengan Pasal 15 jo Pasal 7, jo Pasal 9, jo. Pasal 11 Perpu Nomor 1 th 2002 / UU Nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Melalui Fadliansyah polisi berusaha mengembangkan penyelidikan dengan menggeledah rumah dia di kawasan Sumedang yang juga dijadikan tempat usaha gerai telepon seluler. Dalam penggeledahan polisi menyita 1 buah komputer, dua perangkat ponsel, dan enam sim card. Dari penggeledahan tersebut polisi juga mengamankan 1 orang yang bernama Catur atau CHW. Catur asal Purwakarta diamankan karena kebetulan tinggal bersama Fadliansyah.

Bus AKAS III Dengan Nomer N 7257 UR Timbun BBM Selama Sebulan Dengan Membeli Solar Sebanyak Rp. 8,45 Juta Sekali Belanja


Secara sepintas tak ada yang aneh dari bus paket dengan nomor polisi N 7257 UR itu. Saat bus yang kemudian diidentifikasi sebagai milik Perusahaan Otobus (PO) AKAS III itu mengisi BBM di SPBU Al Miftah di Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, 19 Maret lalu, awalnya petugas SPBU tak curiga. AKAS III adalah perusahaan bus yang bermarkas di Probolinggo, Jawa Timur.

Semula bus itu mengisi solar Rp 500 ribu. Kecurigaan mulai muncul saat sopir bus minta tambah dan baru ‘penuh’ setelah diisi solar 1.887 liter atau senilai Rp 8,450 juta, atau lebih dari tiga kali lipat kapasitas tangki bus umumnya. Petugas SPBU itu lantas lapor polisi. Bus itu sudah di pintu keluar SPBU saat mobil patroli polisi datang. Bus, bersama empat awaknya, Farid Hardianto, 46 tahun, dkk, lantas ditahan polisi. Dari keterangan Farid dkk, polisi menduga bos PO AKAS III, yang berinisial RY, sebagai otak penimbunan BBM itu. “Tim Satreskrim sedang berusaha mengejar pelaku,” kata Kapolres Jember AKBP Jayadi, kemarin. Hingga kemarin, pihak AKAS III belum bisa memberikan konfirmasi soal ini.

Seluruh badan bus paket itu dicat putih sehingga suasana di dalam tak terlihat dari luar, kecuali kaca depan, kaca sebelah kanan, dan kiri sopir. Ada tulisan “Paket” dengan warna merah di dinding bagian kanan, kiri, dan belakang bus. Di kaca depan tertulis “PAKET, Sumbawa – Sumatera”. Melongok ke dalam, inilah pemandangannya. Bus itu hanya ada dua kursi, yaitu untuk sopir dan kondektur. Tepat di belakangnya ada dinding dari lembaran seng tebal bercat hijau tua, dengan sebuah pintu yang hanya cukup dimasuki satu orang dewasa. Di dalamnya ada 12 buah kotak plat, enam di sisi kanan dan enam di sisi kiri. “Kotak-kotak itu berfungsi sebagai penampung solar, semacam jeriken,” kata Jayadi.

Jayadi menguraikan cara kerja bus ‘paket’ ini. Setelah mengisi penuh tangki BBM di bagian bawah bus, solar dipompa ke dalam 12 ‘jeriken’ tersebut dengan mesin diesel. Selain tangki standar dengan kapasitas 500 liter, di bus itu ada tiga tangki tambahan yang masing-masing menampung 400 liter. Sedangkan 12 tangki di bagian atas memiliki total kapasitas 2400 liter. Secara total, bus itu bisa menyimpan 4100 liter BBM.

Menurut polisi, pemilik bus biasanya membekali sopir dkk Rp 40 juta untuk ‘berbelanja’ BBM di sejumlah SPBU di Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember, Lumajang, sebelum kembali ke Probolinggo. Biasanya, di tiap SPBU mereka hanya membeli sekitar 500 liter. Entah apa yang ada di benak para pengemudi bus itu sehingga mereka membeli solar dalam jumlah besar Ahad lalu. Kepada polisi, keempat awak bus berkilah mereka mengisi solar dalam jumlah besar itu untuk mengantar paket ke Sumbawa dan Sumatera. Polisi tak percaya. “Bus itu memang pengantar paket, tapi ‘paket BBM bersubsidi’ yang mereka timbun,” kata Jayadi. Pemilik Perusahaan Otobus (PO) AKAS ternyata telah menyiapkan satu bus lagi untuk dimodifikasi menjadi bus untuk menimbum solar. ”Baru dipermak (dikerjakan) dan belum dioperasikan,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Kota Probolinggo, Ajun Komisaris Agus I Suprianto, Jum’at malam, 23 Maret 2012.

Keberadaan bus tersebut diketahui ketika tim dari Kepolisian Resor Jember bersama Kepolisian Resor Kota Probolinggo melakukan peninjauan ke markas PO AKAS III di Jalan Sunan Kalijogo di Kelurahan Jati. Menurut Agus, peninjauan dilakukan sebagai tindak lanjut langkah penyelidikan oleh Polres Jember setelah terungkap modus operandi penimbunan solar oleh PO AKAS di Jember, Senin malam, 19 Maret 2012 lalu. Namun dalam peninjauan tersebut, kata Agus, aparat Polresta Probolinggo hanya bertuas memembantu. Sebab proses penyelidikan dan penyidikan seluruhnya dilakukan Polres Jember. Terhadap bus yang sedang dikerjakan tersebut tidak dilakukan penyitaan.

Sementara itu sumber Tempo di Polresta Probolinggo mengatakan bahwa Jum’at siang tadi sebuah tim dari Kepolisian Daerah Jawa Timur datang ke Polresta Probolinggo. Tujuannya berkoordinasi dalam hal kasus PO AKAS. Menurut sumber Tempo tersebut, kasus penimbunan solar oleh PA AKAS akan diambilalih penanganannya oleh Polda Jawa Timur. Sebab, jumlah solar yang ditimbun cukup banyak. Sekali ’disedot’ oleh bus yang sudah dimodifikasi mencapai 4.000 liter. Selain itu, modus operandinya pun tergolong canggih. Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, garasi bus yang juga difungsikan sebagai bengkel tersebut tampak lengang sejak terkuaknya kasus penimbunan solar. Hanya tampak empat buah buas, termasuk yang sedang dikerjakan untuk dimodifikasi. Bus yang sedang dikerjakan itu berada agak di luar. Bus tampak seperti baru dicat berwarna hijau. Seluruh bagian dindingnya tertutup seperti bus yang ditangkap di Jember.

Seperti diberitakan sebelumnya, bus PO AKAS dengan nomor polisi N 7257 UR ditangkap Senin malam, 19 Maret 2012. Bus yang disulap menjadi bus paket (bus AKAS adalah bus penumpang) ditangkap seusai mengisi solar di SPBU Al Miftah di Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember. Petugas SPBU dan anggota Kepolisian Sektor yang berjaga di SPBU tersebut merasa curiga karena jumlah soal yang diisi dalam bus tersebut di luar kewajaran, yakni sebanyak 1.887 liter dengan harga Rp 8.450 juta. Setelah diteliti, ternyata bagian dalam bus sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi bus ’penyedot’ solar. Di dalam kabin bus yang telah diubah dari bus penumpang menjadi bus paket barang itu, terdapat 12 tangki. Masing-masing tangki berisi 200 liter. Selain itu masih ada tiga tangki lainnya di bagian bawah bodi bus yang berisi 400 liter per tangki. Masih ditambah tangki asli bus dengan isi 400 liter. Maka seluruh tangki kapasitasnya 4.000 liter.

Empat awak bus tersebut, yakni Farid Hardianto, 46 tahun, Wiji Adi, 39 tahun, Haryanto, 54 tahun dan Heri, 44 tahun, hingga kini masih terus menjalani pemeriksaan di Polres Jember. Adapun pemilik PO AKAS III, Rudy Yahyanto, sudah ditetapkan sebagai DPO (daftar pencarian orang) dan terus diburu oleh anggota Polres Jember. Hasil penyelidikan Kepolisian Resor Jember, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa praktek penimbunan solar oleh sebuah bus milik Perusahaan Otobus (PO) AKAS III dengan nomor polisi N 7257 UR ternyata sudah berlangsung sejak sebulan yang lalu. Seorang awak bus, Farid Hardianto, 46 tahun, kepada polisi mengaku dirinya bersama tiga kawannya diperintahkan membeli ribuan liter solar dari sejumlah SPBU untuk ditampung di sebuah kolam penampungan di markas perusahaan PO AKAS III di Probolinggo. “Bus yang kami awaki mengisi solar di sejumlah SPBU di berbagai daerah, seperti Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo. Kalau sudah penuh tangkinya, kami balik ke Probolinggo,” kata Farid kepada polisi yang memeriksanya, Jumat, 23 Maret 2012.

Farid memaparkan bahwa di setiap SPBU, bus mengisi solar 400 liter hingga 500 liter. Bus tersebut telah dimodifikasi sehingga kapasitas tangkinya besar. Di dalam kabin bus yang telah diubah dari bus penumpang menjadi bus paket barang itu terdapat 12 tangki. Selain itu, masih ada tiga tangki lainnya di bagian bawah bodi bus. Seluruh tangki, termasuk tangki asli bus, kapasitasnya mencapai 4.000 liter. Wiji Adi, 39 tahun, awak lainnya mengaku setiap beroperasi bus membawa empat orang awak, terdiri dari dari sopir, satu orang orang kondektur, dan dua orang mekanik. Setiap hari Rudy Yahyanto, bos AKAS III, menyiapkan dana tunai Rp 40 juta. ”Setiap kali jalan kami dimodali Rp 10 juta,” ujarnya.

Wiji mengatakan uang Rp 40 juta tersebut harus habis sehingga bus bisa lebih dari sekali jalan. Setelah berhasil memenuhi kapasitas seluruh tangki 4.000 liter, bus kembali ke pangkalan di Probolinggo untuk memindahkan solar ke bak penampungan. Kemudian bus yang dikemudikan awak lainnya berangkat lagi “memburu’ solar. Kapolres Jember, Ajun Komisaris Besar Polisi Jayadi, mengatakan bahwa berdasarkan pengakuan awak bus, solar yang ditimbun di bak penampungan dijual kepada pemilik industri di wilayah Probolinggo dan Pasuruan. “Tentu dijual dengan standar harga industri. Padahal, solar yang dibeli dari SPBU adalah solar bersubsidi,” ucapnya. Menurut Jayadi, tim Reserse dan Kriminal Polres Lumajang saat ini sedang memburu Rudy Yahyanto. Rudy diduga menjadi otak penimbunan ribuan liter solar bersubsidi untuk kepentingan bisnisnya. “Dia buruan dan sudah jadi DPO (Daftar Pencarian Orang),” tutur Jayadi pula.

Kasus terungkap Senin malam, 19 Maret 2012. Bermula dari laporan petugas SPBU dan anggota Kepolisian Sektor yang mencurigai bus tersebut. Saat itu bus mengisi solar di SPBU Al Miftah di Sumberbaru. ”Semula awak bus minta diisi solar seharga Rp 500 ribu. Tapi kemudian mereka terus meminta tambah untuk diisi sampai penuh,” kata Kapolsek Sumberbaru, Ajun Komisaris Polisi Saidi. Pengisian solar dihentikan setekah menyedot sebanyak 1.887 liter dengan harga Rp 8.450 juta. Polisi kemudian menghadang bus saat akan meninggalkan SPBU. Sopir dan seluruh awaknya digiring ke polsek dan terungkaplah modus operasi tersebut. Pemeriksaan kasus tersebut dilimpahkan ke Polres Jember.

Selain Farid Hardianto dan Wiji Adi, awak lainnya yang ditahan dan dijadikan tersangka adalah Haryanto, 54 tahun, dan Heri, 44 tahun. Keempatnya adalah warga Kabupaten Probolinggo. Rudy Yahyanto belum bisa dimintai konfirmasi. Tempo sudah berupaya menghubunginya di markas PO AKAS III, tetapi yang bersangkutan tidak ada. Dihubungi melalui teleponnya juga tidak dijawab. Kepala Kepolisian Resor Jember, Ajun Komisaris Besar Polisi Jayadi, mengatakan kasus penimbunan BBM oleh bus AKAS masih terus diselidiki. “Masih terus kami dalami penyelidikannya,” katanya, Selasa, 20 Maret 2012.

Menurut Jayadi, empat awak bus tersebut akan dijerat dengan Pasal 53 sampai Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang pengaturan perniagaan ataupun pengangkutan minyak dan gas dengan ancaman hukuman enam tahun penjara dan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan BBM bersubsidi dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun. Empat awak bus tersebut adalah Farid Hardianto, 46 tahun, Wiji Adi (39), Haryanto (54), dan Heri, (44). Mereka adalah warga Kabupaten Probolinggo dan kini ditahan di Markas Polres Jember. Kasus tersebut semula ditangani Kepolisian Sektor Sumber Baru. Bermula ketika Senin malam, 19 Maret 2012, bus dengan nomor polisi N 7257 UR itu memborong Solar bersubsidi dalam jumlah besar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Al Miftah di Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru. “Setelah kami periksa, bus itu melakukan tindakan yang mengarah pada penimbunan BBM bersubsidi,” ujar Kepala Polsek Sumberbaru, Ajun Komisaris Polisi Saidi, Selasa, 20 Maret 2012.

Saidi menjelaskan petugas SPBU dan polisi yang bertugas menjaga di SPBU curiga karena solar yang disedot bus bercat putih yang pada bodinya bertuliskan PAKET itu cukup banyak. ”Semula kepada petugas SPBU dibayar Rp 500 ribu. Tapi awak bus meminta terus diisi meski angka petunjuk harga sudah menunjukkan Rp 500 ribu,” ucap Saidi. Setelah diteliti ternyata solar yang diisi sebanyak 1.887 liter atau setara Rp 8,45 juta. Tangki bus milik PO AKAS III Probolinggo tersebut telah dimodifikasi agar isinya lebih banyak dari biasanya. Awak bus dibawa ke Markas Polsek dan terungkap bahwa mereka sengaja menimbun Solar.

Wali Kota Bekasi Non Aktif Mochtar Mohammad Berhasil Ditangkap Polisi Di Vila Lalu Seminyak Bali


Penangkapan Mochtar Mohammad di Villa Lalu Seminyak, Rabu (21/03/2012) siang tadi sempat membuat tamu villa lain –yang sebagian besar wisatawan asing ketakutan. Mereka terkejut saat melihat puluhan polisi bersenjata laras panjang masuk ke dalam villa.

“Tadi banyak tamu yang tanya, ada apa ini, kok banyak polisi? Mereka kira ada teroris,” ujar Sales Marketing Villa Lalu, Surya Dewi kepada wartawan siang tadi.
“Saya bilang, mungkin ada pemeriksaan menjelang Hari Raya Nyepi,” kata Dewi mencoba menenangkan tamu.

Beruntung tidak ada aksi tembak menembak saat terjadi penyergapan perampok di Sanur Minggu lalu, sehingga kepanikan tamu akhirnya sirna. Mereka kembali beraktivitas seperti biasa usai polisi meninggalkan Villa sekitar pukul 13.00 WITA.

Seperti diberitakan, Mochtar Muhammad, Wali Kota Bekasi non aktif yang menjadi buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditangkap di villa ini siang tadi. Mochtar ditangkap tanpa perlawanan dan rencananya akan segera diterbangkan ke Jakarta.

Wali Kota Bekasi nonaktif, Mochtar Mohamad menggunakan nama Muhammad Yamin untuk bermalam di kamar nomor 10 komplek villa Lalu Seminyak, Kuta, Bali. Hal ini diterangkan. Sales Marketing Officer Villa Lalu Seminyak, Suriadewi yang menjadi saksi penangkapan sang buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di mata Dewi, Yamin alias Mochtar tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang berlibur. Yamin yang masuk ke villa pada Senin (19/3/2012) sekitar pukul 15.00 wita itu, hanya membawa satu buah tas kecil. Selama berada di Seminyak, Yamin pun tak pernah terlihat bersama orang lain.

Komplek Villa Lalu Seminyak terdiri dari 12 unit villa dengan harga sewa rata-rata 100 dollar AS per malam. Di lokasi ini sejak pukul 10.00-13.00 Wita terjadi pengepungan atas tamu di kamar nomor 10. Pengepungan yang dilakukan dengan polisi berseragam lengkap, serta senjata laras panjang itu, sempat diduga sebagai pengepungan teroris.

Sumber Kompas.com di Intelijen Kepolisian Daerah Bali membenarkan, penangkapan tersebut dilakukan terhadap sang buronan KPK, Mochtar Muhammad. Belakangan jurubicara KPK Johan Budi pun membenarkan telah terjadi penangkapan atas Mochtar di Bali.

Menurut Dewi, dia sangat terkejut saat rombongan polisi datang ke komplek villa-nya pagi tadi. Penangkapan Muchtar dilakukan oleh sedikitnya 50-an polisi bersenjata laras panjang, lengkap dengan helm antipeluru. “Saya sempat tanya, ada apa ini Pak?” kata Suriadewi. “Mau jemput seseorang,jawab salah satu petugas,” kata Dewi.

Dewi sempat mengira ada terduga teroris yang bermalam di komplek villa itu. Para polisi bersenjata lengkap itu, kata Dewi, lalu menjaga sejumlah titik di dalam komplek. Dan membawa tamu di kamar nomor 10 tadi sekitar pukul 13.00 wita. Ia mengaku tidak terdengar suara tembakan, dan juga tak ada pintu yang didobrak.

Sebelumnya diberitakan, KPK berencana melakukan penjemputan paksa untuk mengeksekusi Mochtar Mohammad, hari ini. Sebab seharusnya, Mochtar memenuhi panggilan KPK untuk dieksekusi, Kamis (15/3/2012) pekan lalu. “Hari ini rencananya mau jemput paksa,” ujar Johan Budi SP

Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya berhasil menangkap Wali Kota Bekasi nonaktif, Mochtar Mohamad, Rabu (21/3/2012), untuk dieksekusi. Mochtar ditangkap di Seminyak, Bali, sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

“Saya sudah dapat informasi dari Direktur Penuntutan KPK, tim sudah berhasil menangkap Mochtar di Seminyak, Bali,” kata Johan Budi SP, Juru Bicara KPK.

Dari informasi, Mochtar ditangkap di sebuah vila. Selanjutnya, Mochtar akan segera dibawa ke lembaga pemasyarakatan untuk menjalani hukuman 6 tahun penjara. “Kalau tidak dibawa ke Cipinang, Jakarta, mungkin di Bandung,” ujar Johan.

Tim KPK memburu Mochtar sejak kemarin setelah yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan eksekusi.

Serangan Serangga Tomcat Kini Telah Sampai Di Rumah Susun Duren Jaya Bekasi


Serangan serangga jenis tomcat kini dikabarkan telah masuk ke Bekasi, setelah menyerang warga di Surabaya, Jawa Timur. Serangga yang menimbulkan gatal-gatal ini menyerang warga yang bermukim di Rumah Susun Sewa (Rusunawa) di Jalan Baru Underpass Durenjaya Kelurahan Bekasijaya Kecamatan Bekasi Timur, Jawa Barat.

Menurut Dedy bin Warsita (32) penghuni Rusunawa lantai 2 blok B6, serangga jenis ini sudah menyerang sejak dua bulan lalu. Ketika masuk musim hujan, jumlahnya berkurang, namun beberapa minggu ini serangga itu jumlahnya semakin banyak. “Saya dan istri pernah digigit. Kalau saya di bagian leher, rasanya panas, perih dan kulit saya memerah,” ujarnya, Selasa (20/3).

Selain dia dan sang istri, Rosa Neta Iswantuti (23), serangga tomcat itu sudah hampir menyerang seluruh penghuni di rusunawa itu. “Dari seluruh penghuni yang terdiri dari 94 kepala keluarga di rusunawa, 30 persen di antaranya sudah pernah digigit,” katanya.

Mulanya, kata dia, warga mengira serangga itu adalah jenis semut merah. Namun setelah marak pemberitaan di media, warga baru tahu bahwa serangga itu adalah tomcat. “Warnanya belang-belang hitam dan merah. Panjangnya sekitar setengah senti, ujungnya lancip kaya kalajengking,” terangnya.

Dedy menduga, serangga jenis Tomcat itu berasal dari kebun di belakang rusunawa. Di tempat itu rumput tumbuh sangat lebat dan tidak terawat. “Serangga itu masuk kedalam kamar melalui ventilasi udara dan juga menempel di pakaian yang dijemur di depan kamar,” katanya.

Saat akan tidur, tidak jarang warga menemukan banyak tomcat di tempat tidur. “Harus dibersihkan dulu, sebelum tidur. Daripada kena gigit atau cairannya yang perih,” katanya seperti dilansir