Categories
Terorisme

Teroris Sumedang Memiliki 10 KTP Dengan Nama Berbeda Dan Rekening 1 Milyar


Kasat Reskrim Polres Sumedang Ajun Komisaris Tri Suhartanto mengatakan bahwa Ar (Arli) memiliki beberapa nama alias serta mempunyai sedikitnya 10 KTP. “Terduga teroris berinisial Ar itu memiliki 10 KTP dengan nama berbeda-beda,” kata Tri, Kamis (22/3/2012). Pengelola kontrakan, Irwan Mulyawan (40), mengatakan, harga sewa untuk gerai itu besarnya Rp 8 juta.

“Uangnya dibayar lunas untuk satu tahun. Mereka mengatakan tadinya akan buka gerai di Jatinangor, tapi harganya mahal sehingga memilih mencari di Sumedang,” katanya. Dalam menjalankan usahanya, gerai itu dijaga oleh Catur. “Yang ditangkap tadi itu Catur, pegawainya. Ia juga berasal dari Subang. Saat kontrak pertama, Catur datang bersama istrinya dan tiga anaknya. Dia juga jarang bicara dan sikapnya biasa saja,” timpal Ilah, istri Irwan.

Selama tiga bulan itu, Arli sering pergi dari kontrakan. “Bilangnya sih ke Bandung dan Jakarta untuk membeli peralatan perbaikan ponsel,” kata Ilah. Setiap hari, Catur lebih banyak berada di belakang komputer dan melayani konsumennya. “Sehari-harinya ya dia jaga toko dan berada di belakang komputer sampai melayani pembeli. Saya sempat ngobrol kalau sekitar tiga minggu sudah tak bisa menghubungi Arli,” beber Ilah lagi.

Catur, seperti dituturkan Ilah, menyebutkan, saat dihubungi ponsel Arli tidak aktif. “Selama pergi sekitar tiga minggu lalu itu, Arli tak bisa dihubungi,” katanya. Menurut Ilah, setelah tak ada kabar selama tiga pekan itu, ternyata pada Kamis (22/3/2012) kontrakan Arli digeledah karena dituduh terlibat jaringan terorisme. “Sejak sebulan lalu anggota Densus 88 sudah ada di kawasan Angkrek dan mengontrak rumah persis di depan kontrakan yang digeladah Densus,” kata sumber Tribun di Mapolres Sumedang. Penyewa rumah kontrakan yang digerebek tim Densus 88 Antiteror Polri di Jalan Angkrek Nomor 71 RT 1/14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Sumedang, Jawa Barat, selalu menghindar ketika dimintai indentitasnya.

Pemilik rumah kontrak, Ilah Sarmila (40) dan suaminya Irwan Mulyawan (40), mengatakan bahwa kontrakan itu disewakan selama satu tahun kepada Arli (42) pada 25 Desember 2011. Saat mengontrak gerai ukuran 2,5 x 2,5 meter itu, Arli tak memperlihatkan kartu tanda penduduk (KTP) kepada Ilah maupun Irwan. “Kami sudah sering meminta fotokopi KTP, tapi pengontrak gerai itu tak memberikan. Orang tak banyak bicara kalau bertemu dan ditanyakan KTP selalu menghindar,” kata Irwan kepada Tribun Jabar, Kamis (22/3/2012). Irwan hanya tahu bahwa Arli mengaku dari Subang dan mempunyai usaha jual beli dan perbaikan ponsel.

Ketua RT setempat, Dadang Suhendar, mengatakan bahwa di kawasan Jalan Angkrek terdapat banyak rumah sewa. Sebagian penyewa tidak melaporkan keberadaannya kepada Dadang. “Untuk yang menyewa di pinggir jalan untuk kios atau toko itu jarang ada yang lapor, kecuali bagi yang mengontrak di dalam dan sudah berumah tangga selalu lapor ke RT,” katanya.

Pada Kamis sekitar pukul 13.30 siang tadi, tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pria berinisial CP di gerai ponsel yang disewa oleh Arli di Jalan Angkrek. Penangkapan terhadap CP berlangsung cepat. Pria itu tak dapat melawan dan kaget begitu tim Densus 88 menodongkan senapan ketika ia asyik duduk di depan rumah. Tanpa banyak bicara, Densus 88 langsung mengamankan penjaga gerai Plus Celullar itu.

Penggeledahan di gerai ponsel CP itu dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Arli sebelumnya tinggal di rumah kontrakan tersebut. Dalam penggerebekan siang tadi, tim Densus 88 membawa Arli dan menempatkannya di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil tertutup dan berkaca film hitam tidak tembus pandang. Arli merupakan anggota kelompok jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Barat awal Maret ini.

Kepala Polres Sumedang Ajun Komisaris Besar Eka Satria Bhakti mengatakan, penggerebekan terhadap CP, tersangka terduga teroris di Sumedang, dilakukan setelah tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggeledah tempat kontrakan tersangka lain. Penggerebekan oleh tim Densus 88 Polri itu berlangsung di Jalan Angkrek Nomor 71 RT 1/14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Kamis (22/32012) siang. Tim Densus 88 menangkap CP, yang tengah menjaga gerai ponsel di tempat tersebut. “Itu kegiatan Densus 88 dan mereka menggeledah tempat kontrakan terduga teroris yang sudah ditangkap duluan. Penjaga gerai ponsel itu dibawa untuk dimintai keterangan,” kata Eka saat dihubungi melalui ponselnya.

Penggeledahan dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Dalam penggerebekan itu, tim Densus 88 juga membawa Arli dan terus berada di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil tertutup plus kaca film hitam tidak tembus pandang. Tribun sempat mencoba mengintip dari balik kaca mobil tapi langsung dihardik petugas Densus 88. Arli merupakan jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di PN Jakarta Barat awal Maret ini.

Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap seorang pria yang diduga terlihat terorisme di sebuah gerai telepon seluler di Sumedang, Jawa Barat, Kamis (22/32012) siang. Tersangka berinisial CP (40) tak dapat berontak dan langsung menyerah di tangan petugas.

Penangkapan CP di Jalan Angkrek, RT 1 / RW 14, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, itu berlangsung sekitar pukul 13.30. Hj Omoh (72), pemilik rumah dan kontrakan di Jalan Angkrek Nomor 71, kaget dan langsung beranjak dari depan televisi begitu mendengar ada mobil mikrobus berhenti di depan rumah.

“Dari dalam mobil itu berhamburan orang berpakaian hitam dengan senjata laras panjang memakai helm dan muka tertutup,” kata Omoh yang menyaksikan kejadian itu dari pintu depan rumahnya. Omoh menuturkan, di depan rumah itu sedang duduk CP (40), penjaga gerai Plus Celullar. CP yang mengenakan kaus hitam dan celana jins langsung angkat tangan ketika moncong senapan aparat Densus 88 diarahkan kepadanya. “Tak ada pembicaraan sedikit pun. CP angkat tangan dengan mulut terbuka kaget. Petugas berpakai hitam-hitam itu menutup mata CP dengan lakban,” kata Omoh yang mengaku masih shock.

Dengan mata tertutup dan tangan diikat ke belakang, CP yang masih memakai sandal jepit biru itu digelandang naik ke dalam mobil dan pintunya langsung ditutup. Penggeledahan dilakukan cepat dan akses Jalan Angkrek langsung ditutup meski jalur tersebut sangat padat lalu lintas karena berada di kawasan perguruan tinggi dan sekolah.

Anggota Polres Sumedang langsung memasang garis polisi di tempat kejadian. Empat anggota Densus 88 dengan senapan serbu di tangan berdiri di depan gerai ponsel. Anggota lain melakukan penggeledahan di dalam gerai yang berukuran 2,5 x 2,5 meter itu. Warga Angkrek tumplek dan melihat aksi penggeledahan yang disebutkan warga sebagai penangkapan teroris. “Saya nonton saja karena tadi mendengar ada penangkapan teroris di Angkrek,” kata Hendrawan, warga Situ.

Selain membawa CP, anggota Densus 88 juga menggeledah gerai ponsel dan mengangkut satu buah central processing unit (CPU), buku tabungan sampai slip penarikan dan penyetoran uang. “Dari buku tabungan itu nilai uangnya di atas Rp 1 miliar lebih. Transaksi pemasukan dan pengeluaran uang juga banyak,” kata seorang anggota polisi yang ikut penggeledahan. Tim Densus 88 Antiteror menggeledah gerai ponsel di Jalan Angkrek, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (22/3/2012) siang. Polisi mengangkut satu buah central processing unit (CPU), buku tabungan, serta slip penarikan dan penyetoran uang.

“Dari buku tabungan itu nilai uangnya di atas Rp 1 miliar. Transaksi pemasukan dan pengeluaran uang juga banyak,” kata seorang anggota polisi yang ikut dalam penggeledahan, Kamis. Penggeledahan dilakukan menyusul tertangkapnya terduga teroris atas nama Arli. Densus membawa Arli dan terus berada di dalam mobil mikrobus warna silver dengan kaca mobil yang tertutup kaca film hitam tidak tembus pandang.

Arli merupakan jaringan teroris Harry Kuncoro, adik ipar Dulmatin, yang sedang menjalani proses persidangan tindak pidana terorisme di PN Jakarta Barat awal Maret ini. Kapolres Sumedang Ajun Komisaris Besar Eka Satria Bhakti mengatakan, operasi itu dilakukan Densus 88 Antiteror. “Itu kegiatan Densus 88 dan mereka menggeledah tempat kontrakan terduga teroris yang sudah ditangkap duluan. Penjaga gerai ponsel itu dibawa untuk dimintai keterangan,” kata Kapolres saat dihubungi melalui ponselnya.

Fadliansyah, anggota gerakan teroris Poso yang telah ditangkap polisi 17 Maret lalu diduga kuat merupakan kelompok jaringan Umar Patek, “Diduga juga turut membantu aktivitas teror Umar Patek dan Dulmatin,” kata juru bicara Mabes Polri, Inspektur Jendral Saud Usman Nasution, Sabtu, 24 Maret 2012. Tentang peran Fadliansyah dalam jaringan Umar Patek dan aktivitas terorisme di Poso, Saud enggan menyebutkan. “Ini masih dalam penyelidikan.” Fadliyansah ditangkap 17 Maret lalu di sebuah hotel di Jalan Dewi Sartika Bandung bersama istrinya berinisial NAT.

Ia ditangkap terkait kasus pelatihan militer di Poso. Ia membeli amunisi atau peluru M16 pada saat pelatihan dan latihan pembuatan detonator. Selain itu Fadliansyah bersama Heri Kuncoro pernah mengikuti pelatihan bongkar pasang senjata api di Pare, Kediri Jawa Timur, dan membuat KTP palsu dengan nama Arif Arhan.

Dalam penangkapannya Polri menyita barang bukti yakni 10 lembar KTP, 10 kartu ATM, aplikasi formulir paspor. Fadliyansah disangkakan dengan Pasal 15 jo Pasal 7, jo Pasal 9, jo. Pasal 11 Perpu Nomor 1 th 2002 / UU Nomor 15 tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Melalui Fadliansyah polisi berusaha mengembangkan penyelidikan dengan menggeledah rumah dia di kawasan Sumedang yang juga dijadikan tempat usaha gerai telepon seluler. Dalam penggeledahan polisi menyita 1 buah komputer, dua perangkat ponsel, dan enam sim card. Dari penggeledahan tersebut polisi juga mengamankan 1 orang yang bernama Catur atau CHW. Catur asal Purwakarta diamankan karena kebetulan tinggal bersama Fadliansyah.

Categories
Kriminalitas Perekomonian dan Bisnis Transportasi

Bus AKAS III Dengan Nomer N 7257 UR Timbun BBM Selama Sebulan Dengan Membeli Solar Sebanyak Rp. 8,45 Juta Sekali Belanja


Secara sepintas tak ada yang aneh dari bus paket dengan nomor polisi N 7257 UR itu. Saat bus yang kemudian diidentifikasi sebagai milik Perusahaan Otobus (PO) AKAS III itu mengisi BBM di SPBU Al Miftah di Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, 19 Maret lalu, awalnya petugas SPBU tak curiga. AKAS III adalah perusahaan bus yang bermarkas di Probolinggo, Jawa Timur.

Semula bus itu mengisi solar Rp 500 ribu. Kecurigaan mulai muncul saat sopir bus minta tambah dan baru ‘penuh’ setelah diisi solar 1.887 liter atau senilai Rp 8,450 juta, atau lebih dari tiga kali lipat kapasitas tangki bus umumnya. Petugas SPBU itu lantas lapor polisi. Bus itu sudah di pintu keluar SPBU saat mobil patroli polisi datang. Bus, bersama empat awaknya, Farid Hardianto, 46 tahun, dkk, lantas ditahan polisi. Dari keterangan Farid dkk, polisi menduga bos PO AKAS III, yang berinisial RY, sebagai otak penimbunan BBM itu. “Tim Satreskrim sedang berusaha mengejar pelaku,” kata Kapolres Jember AKBP Jayadi, kemarin. Hingga kemarin, pihak AKAS III belum bisa memberikan konfirmasi soal ini.

Seluruh badan bus paket itu dicat putih sehingga suasana di dalam tak terlihat dari luar, kecuali kaca depan, kaca sebelah kanan, dan kiri sopir. Ada tulisan “Paket” dengan warna merah di dinding bagian kanan, kiri, dan belakang bus. Di kaca depan tertulis “PAKET, Sumbawa – Sumatera”. Melongok ke dalam, inilah pemandangannya. Bus itu hanya ada dua kursi, yaitu untuk sopir dan kondektur. Tepat di belakangnya ada dinding dari lembaran seng tebal bercat hijau tua, dengan sebuah pintu yang hanya cukup dimasuki satu orang dewasa. Di dalamnya ada 12 buah kotak plat, enam di sisi kanan dan enam di sisi kiri. “Kotak-kotak itu berfungsi sebagai penampung solar, semacam jeriken,” kata Jayadi.

Jayadi menguraikan cara kerja bus ‘paket’ ini. Setelah mengisi penuh tangki BBM di bagian bawah bus, solar dipompa ke dalam 12 ‘jeriken’ tersebut dengan mesin diesel. Selain tangki standar dengan kapasitas 500 liter, di bus itu ada tiga tangki tambahan yang masing-masing menampung 400 liter. Sedangkan 12 tangki di bagian atas memiliki total kapasitas 2400 liter. Secara total, bus itu bisa menyimpan 4100 liter BBM.

Menurut polisi, pemilik bus biasanya membekali sopir dkk Rp 40 juta untuk ‘berbelanja’ BBM di sejumlah SPBU di Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Jember, Lumajang, sebelum kembali ke Probolinggo. Biasanya, di tiap SPBU mereka hanya membeli sekitar 500 liter. Entah apa yang ada di benak para pengemudi bus itu sehingga mereka membeli solar dalam jumlah besar Ahad lalu. Kepada polisi, keempat awak bus berkilah mereka mengisi solar dalam jumlah besar itu untuk mengantar paket ke Sumbawa dan Sumatera. Polisi tak percaya. “Bus itu memang pengantar paket, tapi ‘paket BBM bersubsidi’ yang mereka timbun,” kata Jayadi. Pemilik Perusahaan Otobus (PO) AKAS ternyata telah menyiapkan satu bus lagi untuk dimodifikasi menjadi bus untuk menimbum solar. ”Baru dipermak (dikerjakan) dan belum dioperasikan,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Kota Probolinggo, Ajun Komisaris Agus I Suprianto, Jum’at malam, 23 Maret 2012.

Keberadaan bus tersebut diketahui ketika tim dari Kepolisian Resor Jember bersama Kepolisian Resor Kota Probolinggo melakukan peninjauan ke markas PO AKAS III di Jalan Sunan Kalijogo di Kelurahan Jati. Menurut Agus, peninjauan dilakukan sebagai tindak lanjut langkah penyelidikan oleh Polres Jember setelah terungkap modus operandi penimbunan solar oleh PO AKAS di Jember, Senin malam, 19 Maret 2012 lalu. Namun dalam peninjauan tersebut, kata Agus, aparat Polresta Probolinggo hanya bertuas memembantu. Sebab proses penyelidikan dan penyidikan seluruhnya dilakukan Polres Jember. Terhadap bus yang sedang dikerjakan tersebut tidak dilakukan penyitaan.

Sementara itu sumber Tempo di Polresta Probolinggo mengatakan bahwa Jum’at siang tadi sebuah tim dari Kepolisian Daerah Jawa Timur datang ke Polresta Probolinggo. Tujuannya berkoordinasi dalam hal kasus PO AKAS. Menurut sumber Tempo tersebut, kasus penimbunan solar oleh PA AKAS akan diambilalih penanganannya oleh Polda Jawa Timur. Sebab, jumlah solar yang ditimbun cukup banyak. Sekali ’disedot’ oleh bus yang sudah dimodifikasi mencapai 4.000 liter. Selain itu, modus operandinya pun tergolong canggih. Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, garasi bus yang juga difungsikan sebagai bengkel tersebut tampak lengang sejak terkuaknya kasus penimbunan solar. Hanya tampak empat buah buas, termasuk yang sedang dikerjakan untuk dimodifikasi. Bus yang sedang dikerjakan itu berada agak di luar. Bus tampak seperti baru dicat berwarna hijau. Seluruh bagian dindingnya tertutup seperti bus yang ditangkap di Jember.

Seperti diberitakan sebelumnya, bus PO AKAS dengan nomor polisi N 7257 UR ditangkap Senin malam, 19 Maret 2012. Bus yang disulap menjadi bus paket (bus AKAS adalah bus penumpang) ditangkap seusai mengisi solar di SPBU Al Miftah di Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember. Petugas SPBU dan anggota Kepolisian Sektor yang berjaga di SPBU tersebut merasa curiga karena jumlah soal yang diisi dalam bus tersebut di luar kewajaran, yakni sebanyak 1.887 liter dengan harga Rp 8.450 juta. Setelah diteliti, ternyata bagian dalam bus sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi bus ’penyedot’ solar. Di dalam kabin bus yang telah diubah dari bus penumpang menjadi bus paket barang itu, terdapat 12 tangki. Masing-masing tangki berisi 200 liter. Selain itu masih ada tiga tangki lainnya di bagian bawah bodi bus yang berisi 400 liter per tangki. Masih ditambah tangki asli bus dengan isi 400 liter. Maka seluruh tangki kapasitasnya 4.000 liter.

Empat awak bus tersebut, yakni Farid Hardianto, 46 tahun, Wiji Adi, 39 tahun, Haryanto, 54 tahun dan Heri, 44 tahun, hingga kini masih terus menjalani pemeriksaan di Polres Jember. Adapun pemilik PO AKAS III, Rudy Yahyanto, sudah ditetapkan sebagai DPO (daftar pencarian orang) dan terus diburu oleh anggota Polres Jember. Hasil penyelidikan Kepolisian Resor Jember, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa praktek penimbunan solar oleh sebuah bus milik Perusahaan Otobus (PO) AKAS III dengan nomor polisi N 7257 UR ternyata sudah berlangsung sejak sebulan yang lalu. Seorang awak bus, Farid Hardianto, 46 tahun, kepada polisi mengaku dirinya bersama tiga kawannya diperintahkan membeli ribuan liter solar dari sejumlah SPBU untuk ditampung di sebuah kolam penampungan di markas perusahaan PO AKAS III di Probolinggo. “Bus yang kami awaki mengisi solar di sejumlah SPBU di berbagai daerah, seperti Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo. Kalau sudah penuh tangkinya, kami balik ke Probolinggo,” kata Farid kepada polisi yang memeriksanya, Jumat, 23 Maret 2012.

Farid memaparkan bahwa di setiap SPBU, bus mengisi solar 400 liter hingga 500 liter. Bus tersebut telah dimodifikasi sehingga kapasitas tangkinya besar. Di dalam kabin bus yang telah diubah dari bus penumpang menjadi bus paket barang itu terdapat 12 tangki. Selain itu, masih ada tiga tangki lainnya di bagian bawah bodi bus. Seluruh tangki, termasuk tangki asli bus, kapasitasnya mencapai 4.000 liter. Wiji Adi, 39 tahun, awak lainnya mengaku setiap beroperasi bus membawa empat orang awak, terdiri dari dari sopir, satu orang orang kondektur, dan dua orang mekanik. Setiap hari Rudy Yahyanto, bos AKAS III, menyiapkan dana tunai Rp 40 juta. ”Setiap kali jalan kami dimodali Rp 10 juta,” ujarnya.

Wiji mengatakan uang Rp 40 juta tersebut harus habis sehingga bus bisa lebih dari sekali jalan. Setelah berhasil memenuhi kapasitas seluruh tangki 4.000 liter, bus kembali ke pangkalan di Probolinggo untuk memindahkan solar ke bak penampungan. Kemudian bus yang dikemudikan awak lainnya berangkat lagi “memburu’ solar. Kapolres Jember, Ajun Komisaris Besar Polisi Jayadi, mengatakan bahwa berdasarkan pengakuan awak bus, solar yang ditimbun di bak penampungan dijual kepada pemilik industri di wilayah Probolinggo dan Pasuruan. “Tentu dijual dengan standar harga industri. Padahal, solar yang dibeli dari SPBU adalah solar bersubsidi,” ucapnya. Menurut Jayadi, tim Reserse dan Kriminal Polres Lumajang saat ini sedang memburu Rudy Yahyanto. Rudy diduga menjadi otak penimbunan ribuan liter solar bersubsidi untuk kepentingan bisnisnya. “Dia buruan dan sudah jadi DPO (Daftar Pencarian Orang),” tutur Jayadi pula.

Kasus terungkap Senin malam, 19 Maret 2012. Bermula dari laporan petugas SPBU dan anggota Kepolisian Sektor yang mencurigai bus tersebut. Saat itu bus mengisi solar di SPBU Al Miftah di Sumberbaru. ”Semula awak bus minta diisi solar seharga Rp 500 ribu. Tapi kemudian mereka terus meminta tambah untuk diisi sampai penuh,” kata Kapolsek Sumberbaru, Ajun Komisaris Polisi Saidi. Pengisian solar dihentikan setekah menyedot sebanyak 1.887 liter dengan harga Rp 8.450 juta. Polisi kemudian menghadang bus saat akan meninggalkan SPBU. Sopir dan seluruh awaknya digiring ke polsek dan terungkaplah modus operasi tersebut. Pemeriksaan kasus tersebut dilimpahkan ke Polres Jember.

Selain Farid Hardianto dan Wiji Adi, awak lainnya yang ditahan dan dijadikan tersangka adalah Haryanto, 54 tahun, dan Heri, 44 tahun. Keempatnya adalah warga Kabupaten Probolinggo. Rudy Yahyanto belum bisa dimintai konfirmasi. Tempo sudah berupaya menghubunginya di markas PO AKAS III, tetapi yang bersangkutan tidak ada. Dihubungi melalui teleponnya juga tidak dijawab. Kepala Kepolisian Resor Jember, Ajun Komisaris Besar Polisi Jayadi, mengatakan kasus penimbunan BBM oleh bus AKAS masih terus diselidiki. “Masih terus kami dalami penyelidikannya,” katanya, Selasa, 20 Maret 2012.

Menurut Jayadi, empat awak bus tersebut akan dijerat dengan Pasal 53 sampai Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang pengaturan perniagaan ataupun pengangkutan minyak dan gas dengan ancaman hukuman enam tahun penjara dan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan BBM bersubsidi dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun. Empat awak bus tersebut adalah Farid Hardianto, 46 tahun, Wiji Adi (39), Haryanto (54), dan Heri, (44). Mereka adalah warga Kabupaten Probolinggo dan kini ditahan di Markas Polres Jember. Kasus tersebut semula ditangani Kepolisian Sektor Sumber Baru. Bermula ketika Senin malam, 19 Maret 2012, bus dengan nomor polisi N 7257 UR itu memborong Solar bersubsidi dalam jumlah besar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Al Miftah di Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru. “Setelah kami periksa, bus itu melakukan tindakan yang mengarah pada penimbunan BBM bersubsidi,” ujar Kepala Polsek Sumberbaru, Ajun Komisaris Polisi Saidi, Selasa, 20 Maret 2012.

Saidi menjelaskan petugas SPBU dan polisi yang bertugas menjaga di SPBU curiga karena solar yang disedot bus bercat putih yang pada bodinya bertuliskan PAKET itu cukup banyak. ”Semula kepada petugas SPBU dibayar Rp 500 ribu. Tapi awak bus meminta terus diisi meski angka petunjuk harga sudah menunjukkan Rp 500 ribu,” ucap Saidi. Setelah diteliti ternyata solar yang diisi sebanyak 1.887 liter atau setara Rp 8,45 juta. Tangki bus milik PO AKAS III Probolinggo tersebut telah dimodifikasi agar isinya lebih banyak dari biasanya. Awak bus dibawa ke Markas Polsek dan terungkap bahwa mereka sengaja menimbun Solar.

Categories
Korupsi

Wali Kota Bekasi Non Aktif Mochtar Mohammad Berhasil Ditangkap Polisi Di Vila Lalu Seminyak Bali


Penangkapan Mochtar Mohammad di Villa Lalu Seminyak, Rabu (21/03/2012) siang tadi sempat membuat tamu villa lain –yang sebagian besar wisatawan asing ketakutan. Mereka terkejut saat melihat puluhan polisi bersenjata laras panjang masuk ke dalam villa.

“Tadi banyak tamu yang tanya, ada apa ini, kok banyak polisi? Mereka kira ada teroris,” ujar Sales Marketing Villa Lalu, Surya Dewi kepada wartawan siang tadi.
“Saya bilang, mungkin ada pemeriksaan menjelang Hari Raya Nyepi,” kata Dewi mencoba menenangkan tamu.

Beruntung tidak ada aksi tembak menembak saat terjadi penyergapan perampok di Sanur Minggu lalu, sehingga kepanikan tamu akhirnya sirna. Mereka kembali beraktivitas seperti biasa usai polisi meninggalkan Villa sekitar pukul 13.00 WITA.

Seperti diberitakan, Mochtar Muhammad, Wali Kota Bekasi non aktif yang menjadi buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditangkap di villa ini siang tadi. Mochtar ditangkap tanpa perlawanan dan rencananya akan segera diterbangkan ke Jakarta.

Wali Kota Bekasi nonaktif, Mochtar Mohamad menggunakan nama Muhammad Yamin untuk bermalam di kamar nomor 10 komplek villa Lalu Seminyak, Kuta, Bali. Hal ini diterangkan. Sales Marketing Officer Villa Lalu Seminyak, Suriadewi yang menjadi saksi penangkapan sang buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di mata Dewi, Yamin alias Mochtar tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang berlibur. Yamin yang masuk ke villa pada Senin (19/3/2012) sekitar pukul 15.00 wita itu, hanya membawa satu buah tas kecil. Selama berada di Seminyak, Yamin pun tak pernah terlihat bersama orang lain.

Komplek Villa Lalu Seminyak terdiri dari 12 unit villa dengan harga sewa rata-rata 100 dollar AS per malam. Di lokasi ini sejak pukul 10.00-13.00 Wita terjadi pengepungan atas tamu di kamar nomor 10. Pengepungan yang dilakukan dengan polisi berseragam lengkap, serta senjata laras panjang itu, sempat diduga sebagai pengepungan teroris.

Sumber Kompas.com di Intelijen Kepolisian Daerah Bali membenarkan, penangkapan tersebut dilakukan terhadap sang buronan KPK, Mochtar Muhammad. Belakangan jurubicara KPK Johan Budi pun membenarkan telah terjadi penangkapan atas Mochtar di Bali.

Menurut Dewi, dia sangat terkejut saat rombongan polisi datang ke komplek villa-nya pagi tadi. Penangkapan Muchtar dilakukan oleh sedikitnya 50-an polisi bersenjata laras panjang, lengkap dengan helm antipeluru. “Saya sempat tanya, ada apa ini Pak?” kata Suriadewi. “Mau jemput seseorang,jawab salah satu petugas,” kata Dewi.

Dewi sempat mengira ada terduga teroris yang bermalam di komplek villa itu. Para polisi bersenjata lengkap itu, kata Dewi, lalu menjaga sejumlah titik di dalam komplek. Dan membawa tamu di kamar nomor 10 tadi sekitar pukul 13.00 wita. Ia mengaku tidak terdengar suara tembakan, dan juga tak ada pintu yang didobrak.

Sebelumnya diberitakan, KPK berencana melakukan penjemputan paksa untuk mengeksekusi Mochtar Mohammad, hari ini. Sebab seharusnya, Mochtar memenuhi panggilan KPK untuk dieksekusi, Kamis (15/3/2012) pekan lalu. “Hari ini rencananya mau jemput paksa,” ujar Johan Budi SP

Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya berhasil menangkap Wali Kota Bekasi nonaktif, Mochtar Mohamad, Rabu (21/3/2012), untuk dieksekusi. Mochtar ditangkap di Seminyak, Bali, sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

“Saya sudah dapat informasi dari Direktur Penuntutan KPK, tim sudah berhasil menangkap Mochtar di Seminyak, Bali,” kata Johan Budi SP, Juru Bicara KPK.

Dari informasi, Mochtar ditangkap di sebuah vila. Selanjutnya, Mochtar akan segera dibawa ke lembaga pemasyarakatan untuk menjalani hukuman 6 tahun penjara. “Kalau tidak dibawa ke Cipinang, Jakarta, mungkin di Bandung,” ujar Johan.

Tim KPK memburu Mochtar sejak kemarin setelah yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan eksekusi.

Categories
Lain Lain Pencinta Lingkungan

Serangan Serangga Tomcat Kini Telah Sampai Di Rumah Susun Duren Jaya Bekasi


Serangan serangga jenis tomcat kini dikabarkan telah masuk ke Bekasi, setelah menyerang warga di Surabaya, Jawa Timur. Serangga yang menimbulkan gatal-gatal ini menyerang warga yang bermukim di Rumah Susun Sewa (Rusunawa) di Jalan Baru Underpass Durenjaya Kelurahan Bekasijaya Kecamatan Bekasi Timur, Jawa Barat.

Menurut Dedy bin Warsita (32) penghuni Rusunawa lantai 2 blok B6, serangga jenis ini sudah menyerang sejak dua bulan lalu. Ketika masuk musim hujan, jumlahnya berkurang, namun beberapa minggu ini serangga itu jumlahnya semakin banyak. “Saya dan istri pernah digigit. Kalau saya di bagian leher, rasanya panas, perih dan kulit saya memerah,” ujarnya, Selasa (20/3).

Selain dia dan sang istri, Rosa Neta Iswantuti (23), serangga tomcat itu sudah hampir menyerang seluruh penghuni di rusunawa itu. “Dari seluruh penghuni yang terdiri dari 94 kepala keluarga di rusunawa, 30 persen di antaranya sudah pernah digigit,” katanya.

Mulanya, kata dia, warga mengira serangga itu adalah jenis semut merah. Namun setelah marak pemberitaan di media, warga baru tahu bahwa serangga itu adalah tomcat. “Warnanya belang-belang hitam dan merah. Panjangnya sekitar setengah senti, ujungnya lancip kaya kalajengking,” terangnya.

Dedy menduga, serangga jenis Tomcat itu berasal dari kebun di belakang rusunawa. Di tempat itu rumput tumbuh sangat lebat dan tidak terawat. “Serangga itu masuk kedalam kamar melalui ventilasi udara dan juga menempel di pakaian yang dijemur di depan kamar,” katanya.

Saat akan tidur, tidak jarang warga menemukan banyak tomcat di tempat tidur. “Harus dibersihkan dulu, sebelum tidur. Daripada kena gigit atau cairannya yang perih,” katanya seperti dilansir

Categories
Kriminalitas

Warga Kalibaru Timur Bekasi Bersatu Dalam Bentrokan Melawan Kelompok John Kei


Tewasnya dua anak buah John Refra Kei di Bekasi, Selasa, 20 Maret 2012, memicu bentrok susulan. Bentrok antarwarga terjadi di Jalan Kalibaru Timur, Kalibaru, Bekasi Barat, Jawa Barat. Sekelompok warga yang diduga pendukung anak buah John Key menggeruduk warga lain yang sudah berjaga-jaga di beberapa ujung gang.

Seorang warga berteriak dari ujung jalan, “Mereka menyerang”. Seketika warga menarik golok, parang, bambu, celurit, dan panah, yang disembunyikan di bawah gerobak dan di got jalan. Mereka kebanyakan warga daerah itu. Kelompok penyerang diduga anak buah John Kei.

Kedua kelompok saling serang. Sekitar 100 petugas brigade motor dari Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi kemudian melepaskan beberapa tembakan peringatan.

Anak buah John Key yang jumlahnya lebih sedikit mundur. Mereka diburu sampai Perumahan Tityan Indah, kediaman John Key.

Penduduk yang kebanyakan orang Betawi semakin mengetatkan penjagaan. Mereka mengawasi setiap gang di Jalan Kali Baru Timur. Salah seorang warga mengaku kesal terhadap anak buah John Key yang selama ini bikin gaduh. “Mereka harus diusir dari Bekasi,” kata pria berumur sekitar 40 tahun.

Categories
Transportasi

Dhalan Iskan Mengamuk Di Pintu Tol Karena Baru Pertama Kali Harus Antri Yang Panjang


Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan sepagi ini, Selasa 20 Maret 2012 sudah mengamuk di tol dekat Semanggi menuju Slipi, Jakarta Barat. Bermula, sang menteri sedang melaju dengan mobilnya ke kantor Garuda menghadiri rapat.

Namun perjalanan Dahlan tersendat ketika akan masuk tol pada pukul 06.10 WIB itu. Pagi ini, dia menemukan antrean panjang di pintu tol, lebih dari 30 mobil. Ini, tentu saja bertentangan dnegan instruksi Dahlan Iskan saat membenahi pelayanan jalan tol. Paling panjang, sesuai instruksi Dahlan, antrean itu harusnya lima mobil.

Dahlan pun akhirnya langsung turun dari mobil menuju pintu tol. Dia memeriksa, dua loket masih kosong, hanya satu loket manual dan satu otomatis yang buka. Dua loket lainnya tertutup.

Mantan wartawan Tempo itu pun masuk loket itu dan membuang kursi yang ada di situ. Lalu masuk loket satunya lagi membuang kursinya juga. “Tidak ada gunanya kursi ini,” kata pria kelahiran Magetan ini, Selasa 20 Maret 2012.

Sesaat kemudian Dahlan lihat antrean tambah panjang. Secara cepat dia putuskan membuka penghalang pintu dan meminta agar mobil yang antre segera masuk lewat loket kosong itu secara gratis. Lebih dari 100 mobil disuruh lewat begitu saja tanpa bayar alias gratis. Salah satu pengemudi yang sedang lewat itu ternyata kenal Dahlan yang lagi mengatur mobil di pintu tol. Ia adalah Emirsyah Sattar, Direktur Utama Garuda, kolega Dahlan dalam rapat pagi ini. “Ada apa pak kok ngatur lalulintas?” tanya Emir. Emir menanyakan apakah ini gratis.

Setelah pintu tol sepi, Dahlan meninggalkan lokasi pintu tol menuju kantor Garuda.

Juru Bicara Kementerian BUMN Rudi Rusli yang dihubungi Tempo membenarkan insiden itu. ” Ini serius, Pak Dahlan sendiri yang mengetik laporan kejadian itu” kata Rudi. “Saya hanya memfoward dan beliau mempersilahkan untuk dikutip”

Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan kembali marah-marah dengan ulah perusahaan di bawah kepemimpinannya. Tadi pagi, Selasa 20 Maret 2012, ketika akan berangkat ke Cengkareng untuk menghadiri Rapat Kantor PT Garuda Tbk. pukul 07.00 WIB, Dahlan dihadang antrean kendaraan panjang di pintu tol dekat Semanggi menuju Slipi, Jakarta Barat. Ia pun mengamuk. (baca: Dahlan Iskan Ngamuk di Pintu Tol )

Dahlan membenarkan aksinya itu. Ia mengaku bukan lagi marah, tapi mengamuk. “Saya bukan marah lagi, tapi ngamuk,” kata Dahlan, saat dihubungi wartawan melalui telepon, Selasa 20 Maret 2012.

Menurut Dahlan, ia tak tahan melihat antrean mobil di pintu tol sudah mencapai 30 mobil pada pukul 6.10 WIB. Amarahnya meledak ketika melihat ternyata hanya satu loket yang difungsikan. Dua loket lainnya mangkrak karena tidak ada petugasnya. “Padahal saya sudah bilang Jasa Marga puluhan kali,” kata Dahlan. “Saya tegur, tidak boleh ada antrean panjang.”

Akhirnya, Dahlan segera memutuskan untuk membuka penghalang pintu dan meminta agar mobil yang antre segera lewat loket untuk memecah antrean, tanpa membayar. Termasuk di antaranya yang lewat adalah Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar. “Sebanyak 100 mobil adalah. Daripada tidak jalan begitu,” kata dia.

Dahlan berjanji akan mengevaluasi manajemen Jasa Marga usai peristiwa ini. “Tapi setelah saya ngamuk tadi berubah enggak?” kata Dahlan. “Jika tidak, saya akan ambil tindakan. Saya masih lihat mereka mampu memperbaiki diri.”

Categories
Terorisme

5 Teroris Ditembak Mati Di Denpasar Bali Setelah Memesan 4 Wanita Panggilan


Polda Bali saat ini tengah memeriksa 5 jenazah teroris yang ditembak di Denpasar, Bali. Rencananya, jenazah teroris akan diterbangkan ke Jakarta untuk identifikasi lanjutan. “Jenazah 5 teroris masih diperiksa. Kalau sudah selesai akan diterbangkan ke Jakarta,” kata Wakapolda Bali Brigjen Pol Untung Yoga Ana, kepada detikcom, Senin (19/3/2012).

Menurut Yoga, kondisi di Bali pasca penyergapan teroris kondusif. Warga sekitar lokasi beraktifitas seperti biasa, meski sejumlah polisi bersiaga. “Situasi kondusif, baik-baik saja. Tadi malam saja ramai, pejagaan secukupnya,”katanya. Sebelumnya 5 pria terduga jaringan teroris tewas ditembak di Bali. Mereka ditengarai hendak melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas Jl Uluwatu Jimbaran. Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Medan.

Penyergapan dilakukan pada Minggu (18/3) malam pukul 20.30 WIB. Penyergapan dilakukan di dua tempat di kawasan Jl Gunung Soputan dan di Jl Danau Poso. 5 Pelaku yang tewas yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan sementara 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Selain menembak mati para terduga teroris, turut diamankan pula 2 pucuk senjata api jenis FN yang di dapat dari dua lokasi berbeda yakni 1 pucuk didapat dari TKP di Soputan dan 1 pucuk dari TKP Jalan Danau Poso, 2 magazene dan peluru berjumlah 48 butir kaliber 9 milimeter serta sebuah penutup wajah.

Sebelum ditembak mati oleh polisi, pria diduga teroris sempat terlihat memesan 4 orang wanita di sebuah bungalow Laksmi di Jalan Danau Poso, Denpasar, Bali. “Sebelum penembakan ada 4 orang wanita, salah satu wanita sudah dipesan oleh pelaku,” kata seorang saksi mata, Butet kepada wartawan Senin (19/03/2012) dini hari.

Menurut dia, sebelum mendengar suara tembakan dirinya melihat ada dua orang yang sempat diikat tangannya oleh petugas Kepolisian. Namun dia tidak dapat menjelaskan kedua orang yang diikat tersebut wanita atau pria. “Ada dua yang diikat, Tapi tidak tahu apakah wanita atau pria,” jelasnya. Keempat wanita yang dipesan tersebut berinisial RR, GT, IN, serta satu wanita yang belum diketahui identitasnya.

Sebelumnya 5 Pria terduga jaringan teroris tewas ditembak di Bali. Mereka ditengarai hendak melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas Jl Uluwatu Jimbaran. Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Medan. Penyergapan dilakukan pada Minggu malam pukul 20.30 WIB. Penyergapan dilakukan di dua tempat di kawasan Jl Gunung Soputan dan di Jl Danau Poso.

5 Pelaku yang tewas yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan sementara 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Selain menembak mati para terduga teroris, turut diamankan pula 2 pucuk senjata api jenis FN yang di dapat dari dua lokasi berbeda yakni 1 pucuk didapat dari TKP di Soputan dan 1 pucuk dari TKP Jalan Danau Poso, 2 magazene dan peluru berjumlah 48 butir kaliber 9 milimeter serta sebuah penutup wajah.

5 orang teroris ditembak mati oleh Densus 88 Antiteror di Denpasar, Bali. Polisi menegaskan situasi di Bali saat ini sudah aman terkendali. “Situasi Bali aman, terkendali dan kondusif,” kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar kepada detikcom, Senin (19/3/2012).

Sebelumnya 5 pria terduga jaringan teroris tewas ditembak di Bali. Mereka ditengarai hendak melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas Jl Uluwatu Jimbaran. Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Medan.

Penyergapan dilakukan pada Minggu (18/3) malam pukul 20.30 WIB. Penyergapan dilakukan di dua tempat di kawasan Jl Gunung Soputan dan di Jl Danau Poso. 5 Pelaku yang tewas yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan sementara 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Selain menembak mati para terduga teroris, turut diamankan pula 2 pucuk senjata api jenis FN yang di dapat dari dua lokasi berbeda yakni 1 pucuk didapat dari TKP di Soputan dan 1 pucuk dari TKP Jalan Danau Poso, 2 magazene dan peluru berjumlah 48 butir kaliber 9 milimeter serta sebuah penutup wajah. 5 anggota jaringan teroris yang terkait perampokan CIMB Medan ditembak mati di Bali. Mabes Polri menyebut kelimanya hendak merampok toko emas dan money changer di Bali.

“Pada saat ditangkap, para pelaku akan melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan toko emas di Jl Uluwatu Jimbaran,” jelas Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar, Mingggu (18/3/2012). Namun menurut sumber detikcom, setelah melakukan aksi perampokan, para pelaku ini akan menggunakan uangnya untuk merancang sebuah peledakan. “Mereka mengincar sebuah cafe terkenal,” jelas seorang perwira yang enggan disebutkan namanya. Boy yang dikonfirmasi soal rencana pemboman itu belum memberikan komentar. Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.

“Mereka diintai 1 bulan,” jelas Boy. Penggerebekan terhadap 5 anggota jaringan teroris itu dilakukan pada Minggu pukul 20.30 WIB. Nama 5 pelaku jaringan teror itu yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan. 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Polisi menemukan kepingan VCD tentang jihad saat penggeledahan di dua hotel tempat lima perampok di Bali menginap. Menurut Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, VCD itu berisi anjuran dan cara berjihad. Namun, ia tidak menyebutkan berapa jumlah kepingan VCD yang ditemukan.

“Kita menemukan cd-cd jihad, buku-buku, dan kartu tanda penduduk empat orang pelaku. Itu ditemukan di dua hotel para pelaku,” ujar Saud, di Jakarta, Selasa (20/3/2012).

Selain, barang-barang tersebut juga ditemukan gambar lokasi target kawanan ini. Salah satunya adalah sebuah kafe di Bali. Namun, Saud enggan menjelaskan apakah kafe tersebut adalah target pengeboman atau perampokan.

“Mereka sudah targetkan tempat, khususnya toko emas dan money changer dalam rangka menyiapkan dana. Setelah itu target mereka kafe yang sudah disurvei untuk menjalankan aksi berikutnya,” terang Saud.

Meski diduga memiliki jaringan dengan kelompok teror tertentu, Saud enggan menyebutkan kelompok ini terkait dengan kelompok bom Solo maupun JAT. Menurut dia, saat ini masih pengembangan, oleh karena itu kepolisian masih mengumpulkan bukti-bukti. “Kita juga masih mengejar beberapa orang dari kelompok yang di Bali ini. Jadi ini semua masih dalam pengembangan dan penyidikan,” tegasnya.

Seperti diketahui, kelima perampok yang ditembak mati Densus 88 Anti teror adalah tersangka pelaku perampokan yang diringkus di Jalan Gunung Soputan, sebelah selatan Kota Denpasar, dan tiga orang lainnya ditembak di Bungalo Laksmi di Jalan Danau Poso, Sanur, Minggu (18/3/2012). Akibat melakukan perlawanan, kelima orang tersebut ditembak di tempat. Pada saat akan ditangkap, para pelaku tengah merencanakan perampokan di Bali Money Changer di Jalan Sriwijaya, Kuta, dan toko emas di Uluwatu, Jimbaran.

Categories
Pariwisata

Daftar Hutan Ditengah Kota Jakarta Yang Dapat Dipakai Rekreasi Keluarga


Lelah melihat hutan beton yang menjulang atau kesemrawutan lalu lintas, arahkan kendaraan ke Kampus Universitas Indonesia, Depok, atau tengoklah Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Embusan angin menyejukkan dan suara gemeresik daun dari pohon-pohon tinggi terdengar. Sesekali kicau burung menyahuti.

Hemmm, segarnya…. Menikmati suasana itu serasa berada di lokasi nun jauh di pedalaman Indonesia. Padahal, tempat ini tidak jauh dari kota Jakarta. Lokasinya berada di hutan Kampus Universitas Indonesia (UI) yang membentang antara Depok dan Jakarta Selatan.

Sajian alam inilah yang mengundang banyak orang mendatangi hutan UI. Salah satu titik pertemuan para penikmat suasana hutan kota di utara Fakultas Teknik UI. Dari area ini, mereka masuk hutan dengan beragam kepentingan. Sebagian bersepeda, berjalan-jalan saja, joging, atau memancing di danau tepian hutan.

Walau berbeda kegiatan menikmati suasana hutan kota, satu kesan yang mereka rasakan, yaitu kedamaian menyatu dengan alam.

Nur Halim, pegawai PT Pertamina, sangat menggemari suasana tersebut. Setiap ada keinginan, terutama selepas kerja, dia bisa mengunjungi hutan UI, seperti yang dilakukan pada Kamis (15/3) sore. Dengan seragam kantor masih melekat di tubuhnya, dia melintasi jalan tanah menantang di Trek Mangkuk.

Bersama puluhan penggemar sepeda lain, Nur menikmati suasana hutan kota UI. ”Susah mencari tempat seperti ini,” katanya.

Tahun 2006, dia dan sesama penggemar sepeda di komunitas Rombongan Anak Mangkuk (Roam) UI membuat jalur bersepeda mini down hill sepanjang 300 meter. Lantaran salah satu ruasnya berbentuk seperti mangkuk, jalur ini dikenal dengan Trek Mangkuk.

Meski pendek, Trek Mangkuk sering kali memakan korban. Sudah biasa pengguna sepeda jatuh terpelanting, menabrak pohon, atau keluar lintasan. Namun, hal itulah yang membuat mereka ketagihan dan ingin menjajal lagi.

Hampir setiap hari trek ini dipakai orang, terutama sore hari selepas melakukan aktivitas sekolah, kuliah, atau bekerja. ”Lokasi hutan UI dekat dari Jakarta, tidak ada biaya masuk, dan dapat suasana segar,” ujar Koordinator Roam UI Adrian Bachrumsyah.

Lokasi Trek Mangkuk berada di utara Fakultas Teknik UI. Tidak hanya itu, di dalam hutan kota UI terbentang Trek Nyamuk sepanjang 3,2 kilometer. Rute Trek Nyamuk berputar-putar di dalam hutan, melipir di tepi danau, dan kembali lagi ke dalam hutan. Lantaran berputar-putar, lintasan itu disebut Trek Nyamuk. ”Tidak semua orang dapat menguasai trek ini. Jika tidak paham, akan terus berputar di dalam hutan,” tutur Adrian.

Murah

Menikmati hutan UI tidak selalu dengan alat dan biaya tinggi. Salah satunya dilakukan Yopi (60) yang menyambangi hutan UI bersama cucunya, Ridwan (10), Patrisia (7), dan Angel (3). Dia menggelar tikar di antara pepohonan dekat Stadion UI. Tempatnya sejuk, tanahnya berbentuk lereng, dan rumputnya terpangkas rata.

Berbekal makanan yang dibawa dari rumah, Yopi menikmati Minggu (11/3) pagi hingga siang itu bersama cucu-cucunya.

Kakek yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini merasakan kenikmatan suasana alami di antara pohon yang menjulang tinggi. Dia tidak khawatir dengan keamanan cucu-cucunya. Semuanya terlihat di depan mata.

Dia memilih pergi ke hutan UI sebagai pilihan agar cucu-cucunya tidak bosan.

Koordinator Binaan Hutan Kota UI Tarsoen Waryono mengatakan, saat ini belum ada upaya untuk mengomersialkan hutan. Pemanfaatan untuk kepentingan rekreasi dan olahraga tidak dipungut biaya. Rencana untuk mengembangkan konsep agrowisata sudah dirancang sebelumnya.

Sementara ini, UI baru menyediakan lokasi berkemah di sekitar kantor resimen mahasiswa. Namun, pengunjung yang ingin menginap dapat singgah di Wisma Makara yang memiliki 67 kamar, ruang pertemuan, tempat makan, dan ruang serbaguna.

Wisma ini berada di sisi utara wilayah kampus, secara administratif masuk wilayah Jakarta Selatan, berdampingan dengan asrama mahasiswa. Jika beruntung, Anda dapat menempati kamar dengan pemandangan langsung ke arah hutan dan danau UI.

Hutan kota di Kampus UI terletak di lahan seluas 90 hektar. Di dalamnya terdapat 130 jenis pohon dari rencana pengembangan 800 jenis. Di kawasan dalam hutan terdapat penangkaran rusa, jalur sepeda, jalur lintas alam, dan danau.

Tidak semua hutan di UI dapat diakses karena benar-benar berupa hutan dengan semak-semak tinggi dan pohon yang rapat. Kawasan ini dapat dijangkau melalui Jalan Raya Pasar Minggu dari arah Jakarta, sedangkan dari arah Bogor dapat melewati Jalan Raya Margonda.

Bogor

Lebih ke selatan, Anda bisa memilih Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Susuri tepian danau di pengujung hutan, lalu masuk lebih dalam ke hutan yang teduh ini. Sesap keheningan dan ketenangannya sebelum melihat rusa-rusa timor.

Hujan baru saja mereda suatu pagi pada awal Maret. Udara di sekitar Hutan Penelitian Dramaga di Kecamatan Bogor Barat ini semakin sejuk. Sinar matahari yang malu-malu muncul usai hujan, memantul dari tepian permukaan Situ Gede yang beriak. Rumput di perbatasan hutan dan danau basah.

Lima remaja perempuan duduk di sebatang sisa pohon tumbang, sesekali tertawa di sela percakapan mereka. Tak jauh dari sana, laki-laki dan perempuan duduk di bangku di antara dua pohon, menghadap ke arah Situ Gede, asyik bercengkerama. Beberapa warung di sekitar mereka masih tutup, membuat suasana benar-benar tenang.

”Saya baru sekali ini datang, dan memang suasananya nyaman. Benar-benar kembali ke alam,” tutur Diana (15), seorang dari lima remaja putri yang saat itu sedang mengerjakan tugas sekolah membuat videoklip untuk mata pelajaran Seni dan Budaya SMA.

Hutan Penelitian Dramaga berada di perbatasan antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Hutan ini berada di ujung Kecamatan Bogor Barat yang berbatasan dengan Kecamatan Dramaga (Kabupaten Bogor). Jaraknya hanya sekitar 60 kilometer dari Jakarta. Dari Bogor hanya diperlukan waktu 15-30 menit saja berkendara, bisa melalui jantung kota atau memutar lewat Jalan Soleh Iskandar mengarah ke Taman Yasmin dan Terminal Bubulak.

Luas hutan yang dikelola oleh Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan ini sekitar 60 hektar. Awalnya, kawasan hutan ini adalah perkebunan karet sebelum dijadikan hutan penelitian pada tahun 1956.

Namun, belasan tahun terakhir, 11 hektar di antaranya dimanfaatkan oleh Center for International Forestry Research. Kementerian Kehutanan juga membuat penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) di kawasan ini dengan jumlah populasi saat ini sekitar 40 ekor.

Untuk jalur yang paling ringan, Anda bisa memarkir kendaraan di samping Kelurahan Situ Gede, lalu berjalan kaki menyusuri tepian Situ Gede, masuk ke kawasan hutan. Anda bisa langsung mengunjungi penangkaran rusa atau berjalan di sekitar kawasan hutan.

”Kalau masuk ke dalam hutan, sebaiknya hati-hati dengan ular. Untuk mengelilingi kawasan hutan ini setidaknya dibutuhkan 30 menit sampai satu jam jalan kaki. Ada jalan setapak yang menjadi pemisah antarpetak,” tutur Zaenal, penanggung jawab Hutan Penelitian Dramaga.

Pengunjung perorangan bebas masuk tanpa dipungut biaya. Namun, Zaenal meminta pengunjung tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak merusak tanaman atau membuang sampah sembarangan.

Untuk rombongan cukup besar, ia menyarankan agar sepekan sebelumnya melayangkan surat ke Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan di Gunung Batu, Kota Bogor. Jika membutuhkan petugas untuk mengantar berkeliling atau menjelaskan soal hutan itu, bisa juga mengajukan permintaan ke Puslitbang.

Tak perlu pemandu jika Anda sekadar ingin mencari ketenangan. Carilah tempat duduk, lalu tutup mata Anda, hirup kesegaran udaranya, serta rasakan angin yang bertiup dan suara daun di pohon yang digoyang angin. Curi ketenangan hutan ini untuk mengisi jiwa Anda sebelum kembali menghadapi hutan beton.

Categories
Kriminalitas

Kronologi Penembakan Djuli Elfano Wartawan Senior TVRI Di Perumahan Vila Bintaro Indah


Djuli Elfano (47), warga di perumahan Vila Bintaro Indah, Jombang, Tangerang, tewas ditembak perampok bermotor. Peristiwa terjadi Sabtu (17/3/2012) siang. Kompas.com yang datang setelah peristiwa penembakan itu melihat korban sudah dilarikan ke IMC rumah sakit terdekat. Di depan rumah korban masih terdapat darah segar.

Menurut Kenang Jenaya, anak kedua dari korban, ayahnya tewas setelah mempertahankan sepeda motor yang hendak dibawa perampok. “Ayah sedang memperbaiki aki mobil, motor diparkir di jalan. Ayah mungkin memergoki perampok, lalu perampok panik dan menembak ayah,” katanya. Tetangga korban, Yudha Yudhistira, mengaku mendengar satu kali letusan. “Saya lihat korban tertembak di bagian ketiak tembus pinggang,” kata Yudha yang sempat menolong korban.

Korban kemudian dibawa keluarganya ke IMC. Saat ini pihak Kepolisian Sektor Jombang sudah tiba di tempat. Kepala Kepolisian Sektor Ciputat Komisaris Alif menyebutkan, telah terjadi percobaan perampokan sepeda motor di Jalan Kalimantan, Kompleks Perumahan Vila Bintaro Indah, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (17/3/2012) siang.

“Saya lagi di lokasi,” kata Alif saat dihubungi. Alif dan jajarannya tengah mengumpulkan informasi, bukti-bukti, dan keterangan saksi di lokasi kejadian.

Informasi yang dihimpun Kompas.com di lokasi kejadian menunjukkan, korban perampokan adalah Djuli Elfano (47), warga di perumahan Vila Bintaro Indah. Ia tewas ditembak perampok bermotor. Peristiwa terjadi pada Sabtu siang.

Kompas.com yang datang seperempat jam setelah peristiwa penembakan itu melihat korban sudah dilarikan ke IMC, rumah sakit terdekat. Di depan rumah korban masih terdapat darah segar.

Menurut Kenang Jenaya, anak kedua korban, ayahnya tewas setelah mempertahankan sepeda motor yang hendak dibawa perampok. “Ayah sedang memperbaiki aki mobil, motor diparkir di jalan. Ayah mungkin memergoki perampok, lalu perampok panik dan menembak ayah,” katanya.

Tetangga korban, Yudha Yudhistira, mengaku mendengar satu kali letusan. “Saya lihat korban tertembak di bagian ketiak tembus pinggang,” kata Yudha yang sempat menolong korban. Djuli Elfano adalah karyawan TVRI. Demikian diungkapkan Taufik, salah satu tetangga korban. Fadli, salah seorang teman Kenang Jenaya (anak korban), mengatakan, “Pak Djuli itu salah seorang produser di TVRI.”

Peristiwa penembakan terjadi pukul 13.30 WIB di Jalan Boulevard, Kompleks Perumahan Vila Bintaro Indah. Sebelum ditembak, korban sempat mempertahankan sepeda motor yang hendak dibawa lari perampok. Warga menuturkan, pelaku perampokan dua orang, mengendarai sepeda motor. Ciri-ciri perampok yang dibonceng berambut gondrong, serta bercelana jins dan memakai jaket. Kedua perampok tidak memakai helm.

Perampokan dengan senjata api terjadi cukup sering sejak Januari lalu. Dari pemberitaan di Harian Kompas saja, sedikitnya sudah terjadi 20 kali perampokan, sebagian besar bersenjata api, terjadi di wilayah kerja Polda Metro Jaya.
Perampokan juga tidak hanya terjadi di waktu-waktu sepi, seperti dini hari, tetapi juga pada siang hari.

Djuli Elfano (47), wartawan senior TVRI tewas ditembak perampok pada Sabtu (17/3/2012). Djuli roboh seketika di depan rumahnya di Perumahan Vila Bintaro Indah, Jombang, Tangerang Selatan.

Pria yang sudah bergabung dengan TVRI sejak tahun 1986 itu sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat namun nyawanya tak tertolong lagi.

Kepergian Djuli meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga kecilnya. Ia pergi meninggalkan seorang istri bernama Rika Setyawati (42) dan dua orang putra, yakni Jelang Ramadhan (17) dan Kenang Jenaya (14).

Seluruh anggota keluarganya ada di dalam rumah saat perampok menembaki Djuli tepat di bawah ketiak kirinya.

Jelang, anak tertua Djuli, menceritakan bahwa peristiwa itu membuat sekeluarganya syok. Tidak ada yang menyangka kalimat Djuli yang mohon pamit untuk membeli aki mobil ke luar rumah akan menjadi kalimat terakhir yang didengarnya.

“Kejadiannya sekitar pukul 13.30 WIB. Sebenarnya nggak ada saksi siapa pun. Saya lagi di dalam, adik dan mama juga di dalam,” ungkap Jelang, Sabtu malam, di kamar jenazah RS Fatmawati, Jakarta.

Saat itu, ayahnya memang sempat mengatakan akan pergi sebentar keluar rumah untuk membeli aki mobilnya yang rusak. “Dia tanya ke adik saya soal motor karena mau dipakai Papa. Kata adik saya, udah dikeluarin di depan rumah,” tutur Jelang.

Setelah itu, ayahnya pun bergegas keluar rumah. “Tiba-tiba ada suara ‘dar’ sangat keras. Adik saya keluar dan langsung teriak minta tolong. Pas saya keluar, Papa sudah tergeletak dan darah udah ngucur,” ucapnya.

Jelang mengaku ia dan adiknya sama sekali tidak melihat siapa pelaku yang tega menghabisi ayahnya itu. Tetapi, ada salah seorang tetangga, kata Jelang, yang melihat gerak-gerik mencurigakan pasca suara tembakan itu.

“Teman saya ada yang lihat anak muda bawa motor kayak orang kepanikan. Saking paniknya, dia bahkan terjatuh dari motornya. Tapi setelah itu dia cepat-cepat pergi,” ucap Jelang.

Jelang sendiri ketika itu tengah sibuk menolong ayahnya yang sudah sulit bernapas. “Napasnya udah kecil, dikit. Langsung kita bawa ke rumah sakit, tapi ternyata Papa sudah nggak ada,” ujar Jelang yang baru saja tamat SMA ini.

Tetangga korban, Yudha Yudhistira, juga mengaku mendengar satu kali letusan. “Korban sepertinya mempertahankan motor milik anaknya yang akan dibawa lari perampok,” kata Yudha, yang sempat menolong korban. Tim gabungan dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan dan Reserse Mobil Polda Metro Jaya memburu dua pelaku penembakan juru kamera senior TVRI, Djuli Elfano. Pelaku melarikan diri seusai menembak Djuli yang memergoki mereka saat hendak mencuri sepeda motor korban di depan rumahnya.

“Tim buser dan polres sedang bergerak untuk mencari dan mendata para pelaku,” ungkap Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Metro Ciputat Ajun Komisaris Syamsudin, Sabtu (17/3/2012) di kamar jenazah RS Fatmawati.

Syamsudin mengatakan, peristiwa ini terjadi pada Sabtu siang pukul 13.30 di depan rumah Djuli, di Villa Bintaro Indah, Tangerang Selatan. “Ada motor diparkir di depan rumah. Pelaku waktu itu mau ambil motor, tapi kepergok korban. Jumlah pelaku dua orang,” ujarnya.

Salah seorang pelaku kemudian mengeluarkan senjata api dan menembakkannya ke dada kiri korban. “Peluru tidak menembus, tapi menyerempet ke ketiak kanannya. Saat ini proyektil akan dikeluarkan terlebih dulu oleh rumah sakit,” papar Syamsudin. Setelah menembak, dua pelaku kemudian melarikan diri menggunakan sepeda motor.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Metro Ciputat, Ajun Komisaris Syamsudin, mengatakan aparat kepolisian masih belum menemukan selongsong peluru yang digunakan pelaku menembak Djuli Elfano. Sedangkan proyektil peluru yang bersarang dalam tubuh Djuli hingga kini masih berusaha diangkat oleh tim forensik.

“Kalau jenis senjata hingga saat ini masih belum diketahui karena selongsong peluru setelah disisir oleh tim masih belum ditemukan. Jumlah senpinya hanya satu yang digunakan,” ujar Syamsudin, Sabtu (17/3/2012), saat dijumpai di kamar jenazah RS Fatmawati. Ia melanjutkan, karena selongsong peluru tidak ditemukan di lokasi kejadian, polisi masih belum bisa menyimpulkan jenis senjata api yang digunakan perampok.

“Karena selongsongnya belum ditemukan, kami tunggu dulu proses pengangkatan proyektilnya supaya bisa dicari jenis senjata apa yang mereka gunakan,” papar Syamsudi. Diberitakan sebelumnya, Djuli Elfano, wartawan TVRI, ditembak perampok di depan rumahnya di Villa Bintaro Indah, Jombang, Tangerang, Sabtu, sekitar pukul 13.30 WIB.

Ia memergoki dua orang pria akan merampas sepeda motornya yang diparkir di depan rumah. Pelaku yang panik karena tepergok lantas melepaskan tembakan ke bagian dada kiri dan menyerempet ke ketiak bagian kanan. Djuli roboh berlumuran darah. Dua orang pelaku melarikan diri.

Categories
Taat Hukum

Mencari Keadilan Yang Telah Kadaluarsa Dengan Berjalan Kaki Sampai Mekkah


Ia mirip lelaki dalam cerita pendek The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway. Tubuhnya mulai menua. Sisa-sisa keperkasaan mulai luntur. Setiap pagi dia harus menatap hari-hari yang murung dan tak bersahabat.

Tapi, Indra Azwan, sang lelaki itu, bukanlah nelayan seperti tokoh dalam cerpen tersebut. Dia juga tak menghabiskan kesialannya di tengah laut. Kepedihan hatinya membawa Indra ke jalan raya. Dia bertekad mencari keadilan dengan berjalan kaki dari Malang ke Jakarta, bahkan bila perlu sampai Mekah.

Warga Blimbing, Malang, Jawa Timur, itu selama 19 tahun mencari keadilan atas kasus tabrak lari yang menimpa anaknya, Rifki Andika, 12 tahun, pada 1993. Kasus itu menggantung. Itu yang membuatnya kembali menjalani ritual berjalan kaki dari Malang menuju Jakarta dengan satu tekad: menuntut keadilan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Dia ingin mengembalikan uang Rp 25 juta pemberian Pak Presiden,” kata Beti, istri Indra.

Uang tersebut diterima Indra saat bertemu dengan Presiden pada 2010. Indra menerima uang tersebut setelah Presiden saat itu berjanji akan membantu membongkar kembali kasus kecelakaan yang mengakibatkan anaknya, Rifki Andika, tewas pada 1993. Rifki ditabrak saat akan menyeberang jalan di Malang oleh seorang polisi, Joko Sumantri.

Indra, 53 tahun, menuntut kasus kecelakaan itu kembali diungkap. Sebab, Joko terbebas dari jerat hukum. Itu berdasarkan putusan Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya pada 2008. Sebab, kasus dianggap kedaluwarsa, yakni melewati waktu 12 tahun. Kasus itu memang baru disidangkan 15 tahun kemudian.

Ini yang ketiga kali Indra melakukan aksi jalan kaki ke Jakarta. Aksi pertama pada 9 Juli 2010 dan tiba di Istana Negara 22 hari kemudian. Aksi kedua pada 27 September 2011 melalui jalur selatan, tapi tak sampai ke Istana karena ia sakit. Disusul aksi ketiga kalinya pada 18 Februari 2012.

“Keadilan itu cuma untuk orang kaya, bukan rakyat miskin,” kata Indra saat ke Jakarta pada 2010.

Ketika bertemu dengan Presiden pada 2010, diinstruksikan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia memprioritaskan perkara ini. Namun, dua tahun berlalu, kasus tersebut tetap tak diungkap. “Sudah 19 tahun tak ada perkembangan yang berarti,” ujar Beti lagi.

Jika gagal bertemu dengan Presiden, menurut Beti, Indra berencana mengadukan masalah ini kepada Tuhan. Indra menyiapkan paspor dan visa untuk berjalan kaki ke Tanah Suci untuk berpasrah diri. Ia akan berjalan melalui Palembang, Dumai, Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Iran, Kuwait, Riyadh, hingga ke Mekah.

Menurut Beti, Indra adalah sosok kepala rumah tangga yang berpendirian teguh. Tetangganya menjuluki Indra, Singo Edan, karena kecintaannya pada klub sepak bola Malang. Ia juga tegas dalam mendidik kedua anaknya yang kini masih duduk di sekolah dasar. Ia penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya.

Sementara itu, Indra kemarin malam tak dapat dihubungi. Sebelumnya, Sabtu lalu, Indra melintas di Cirebon. Ia, seperti dikutipAntara, menegaskan tetap akan terus berusaha meminta keadilan atas kematian anaknya.

Menurut dia, perlu pembenahan hukum secara menyeluruh supaya siapa pun pelaku kejahatan bisa dijerat hukum. Ia berharap keadilan bisa terwujud. Dan Indra pun terus mencari keadilan dengan berjalan dan terus berjalan.