Categories
Transportasi

Daniel Shalom Hutauruk Tewas Setelah Mobil Innovanya Berplat B 1602 SOJ Terbakar dan Jatuh Meledak Dari Flyover Dekat Seasons City


Peristiwa memilukan menimpa seorang pengendara mobil bernama Daniel Shalom Hutauruk (31). Kontraktor proyek itu tewas terbakar di dalam kendaraannya yang meledak setelah menabrak pagar pembatas jalan layang tol dalam kota ruas Pluit-Grogol-Cawang, Jumat (29/6/2012) dini hari.

Ketika itu Daniel mengemudikan mobil Toyota Kijang Innova dari arah Pluit ke arah Grogol. Saat mobil sampai di atas Jalan Latumenten, Kelurahan Jelambar, Grogolpetamburan, Jakarta Barat, Daniel tak bisa mengendalikan mobilnya. Innova warna silver itu menabrak pagar pembatas jalan layang tol dalam kota dan tersangkut di sana.

Lalu muncul api yang membakar mobil. Api itu kemudian merembet dan menyambar tangki bensin. Mobil pun meledak lalu jatuh ke Jalan Latumenten.

Nyawa Daniel tak bisa diselamatkan. Tubuhnya terbujur kaku di jok mobil dalam keadaan hangus. Warga dan pihak aparat di lokasi kejadian pun segera mengevakuasi mobilnya, lalu membawa jenazah Daniel ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Kanit Laka Lantas Polrestro Jakarta Barat, Ajun Komisaris Rahmat Dahlizar menuturkan, Daniel yang tinggal di Jalan Raya Rantau Indah no 1C, Kelurahan Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu diduga sedang dalam keadaan ngantuk berat.

“Sebelum jatuh dari jalan layang, mobil itu sempat nyangkut di pagar pembatas jalan. Bagian mesin mobil lalu mulai mengeluarkan api, dan akhirnya menyambar tangki bensin dan meledak,” ujar Rahmat di kantornya, Jumat siang kemarin.

Mengantar ibu

Rahmat menjelaskan, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 04.30. Menurut informasi yang didapat Rahmat dari keluarga Daniel di RSCM, disebutkan bahwa sekitar pukul 04.00 Daniel mengemudikan mobil melaju dari Bandara Soekarno Hatta menuju rumahnya.

“Korban baru saja mengantar ibunya ke bandara. Diduga, sebelum mengantar ibunya korban baru selesai nonton pertandingan sepak bola,” kata Rahmat. Dini hari kemarin di televisi memang ditayangkan pertandingan antara Jerman melawan Italia di ajang Piala Eropa 2012.

Dari bandara, Daniel yang diketahui bekerja sebagai pengusaha properti dan kontraktor sejumlah proyek itu kemudian memacu Toyota Innova nomor B 1602 SOJ untuk pulang ke rumahnya. Selepas jalan tol Ir Sedyatmo, Daniel mengambil arah Grogol-Cawang.

Di jalan layang tol arah Grogol itulah, tepatnya di dekat pusat perbelanjaan Seasons City, Daniel tiba-tiba kehilangan kendali. “Diduga korban tertidur dan kakinya masih menginjak pedal gas,” kata Rahmat lagi.

Akibatnya, mobil yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi itu nyelonong dan menghajar pagar pembatas jalan tol yang menikung hingga ringsek. “Saat itu, bagian bawah mobil sempat tersangkut pagar pembatas, sehingga mobil tergantung,” tutur Rahmat.

Tak lama setelah menabrak, bagian depan mobil mulai berasap dan mengeluarkan api. Sejumlah warga yang berada di bawah jalan layang tol terperanjat bukan kepalang melihat peristiwa itu.

Panik, Daniel pun menjerit minta tolong sekeras-kerasnya. “Namun karena posisi dia ada di atas, warga yang melihat dari bawah pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menonton. Mobil lain yang melintas di tol juga tak ada yang berhenti. Korban tidak bisa keluar dari mobil karena posisinya sudah terjepit setir mobil dan jok,” kata Rahmat.

Api kian membesar dan menyelimuti mobil Daniel. Warga yang berada di bawah jalan layang segera mengevakuasi kendaraan-kendaraan mereka agar tidak ikut tertimpa mobil naas tersebut. “Sebagian besar yang ada di sana adalah sopir-sopir kendaraan umum, seperti angkot, bajaj, dan ojek,” ujar Rahmat.

Bola api

Pekikan minta tolong Daniel terhenti setelah mobil tersebut akhirnya meledak dengan dahsyat setelah api menyambar tangki bensin. Ledakan itu membuat Toyota Innova berselimutkan bola api dan kemudian jatuh berdebum dari ketinggian lima meter lebih. Mobil jatuh ke badan Jalan Latumenten, tepatnya di dekat mulut Jalan Semeru.

Teriakan suara warga yang panik pun pecah. Setelah mobil terjatuh beberapa warga menghubungi polisi dan pemadam kebakaran untuk menangani kasus tersebut. Setelah dipadamkan oleh sedikitnya tiga unit mobil pemadam kebakaran, polisi pun mengevakuasi jenazah Daniel yang sudah hangus dan membawanya ke RSCM.

“Hampir tidak ada barang-barang yang bisa diselamatkan, karena semuanya hangus terbakar. Satu-satunya yang ada adalah sebuah STNK atas nama PT Samanda Sejahtera, yang beralamat di Jalan TB Simatupang, no 7A, Tanjung Barat,” kata Rahmat.

Sejumlah saksi mata di lokasi kejadian membenarkan adanya peristiwa itu. “Untung mobilnya nggak langsung terjun. Kalau iya, bisa-bisa nimpa perumahan warga,” ujar Wija (40), seorang tukang ojek di sekitar lokasi.

Iman (37), saksi mata lainnya menuturkan, kala itu ia sedang berada di depan Seasons City bersama kawan-kawannya. “Tahu-tahu denger suara keras banget di fly over. Pas saya liat, ternyata ada mobil nyangkut terbakar,” katanya.

Seorang pengemudi, Daniel Hutahuruk (30) tewas terpanggang api setelah mobilnya jatuh dari jembatan layang (Flyover) Pluit menuju Tomang, Jakarta Barat, Jumat (29/6/2012) sekitar pukul 04.30 WIB.

“Korban pengemudi meninggal dunia di dalam kendaraan dengan kondisi kendaraan terbakar, kasusnya masih dalam penyelidikan petugas,” kata Kepala Satuan Lalulintas Polres Metro Jakarta Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi Sularno saat dihubungi wartawan di Jakarta, Jumat (29/6/2012).

Sularno mengatakan diduga pengemudi mengendarai mobil di luar kontrol sehingga mobil dengan plat nomor B-1262-SOJ tersebut, jatuh di Flyover. Pluit arah Tomang ke badan Jalan Latumenten arah Jaya.

Tercatat korban tinggal di Jalan Raya Rantau Indah Nomor 1/C Tanjung Barat, Jakarta Selatan, sedangkan mobilnya atas nama PT Samanda Sejahtera Jalan TB Simatupang Nomor 7/A Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

Sularno menyebutkan petugas membawa korban ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), guna menjalani visum.

Categories
Taat Hukum

Kini Memaksa Istri Menerima Nafkah Batin Dapat Dipidanakan Di Indonesia Dengan UU KDRT


Pernahkah suami Anda memaksa bercinta? Dalam UU No 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), suami bisa dijerat pidana jika memaksa istrinya bercinta. Tetapi ternyata tidak mudah menjebloskan suami yang main kasar di ranjang.

“Kalimat ‘pemaksaan hubungan seksual’ masih belum jelas dan hanya dijelaskan secara sangat global. Baik di pasal lainnya ataupun di bab penjelasan, tidak ditemukan keterangan lebih mendalam tentang kata ‘pemaksaan’,” kata hakim yustisial Mahkamah Agung (MA), Andi Akram.

Hal ini terungkap dalam disertasi Andi yang diuji di UIN Sunan Gunung Jati, Bandung seperti dilansir website MA, Jumat (29/6/2012).

Dalam pasal 8 UU tersebut menyebutkan kekerasan seksual meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. Hukumannya maksimal 12 tahun penjara atau denda maksimal Rp 12 juta.

“Akibatnya kata itu mengandung banyak pengertian yaitu kekerasan itu terjadi apakah karena istrinya enggan melakukan hubungan, kecapekan atau karena ada faktor lain. Pengertian di atas bisa jadi sangat bias,” ujar Andi dalam disertasi berjudul ‘Studi Hukum Kritis Atas Undang-Undang nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga’.

Menurut Andi, perlu disempurnakan UU tersebut. Meski belum sempurna, UU ini tetap membuka peluang suami duduk di kursi pesakitan gara-gara memaksa istri berhubungan badan.

“Berpegangan dengan ketentuan itu, seorang istri bisa saja menolak setiap ajakan suami untuk berhubungan dengan alasan macam-macam atau tidak sesuai hukum agama. Jika suami memaksa istri dan istri tak berkenan, maka seorang istri berdasarkan UU ini bisa mengajukan suaminya ke meja hijau,” terang Andi.

Disertasi Andi ini menggunakan grand theory negara hukum. Grand theory ini untuk mengkaji kedudukan dan konsekuensi dari legislasi UU No 23/2004.

Middle theory yang digunakan adalah teori perundang-undangan yang menempatkan UU 23/2004 sebagai UU yang disusun secara sistematis sesuai dengan teknik menyusun perundang-undangan yang baik. Sementara aplikasi teori adalah teori maslahah untuk mengkritisi sejauh mana UU PKDRT memiliki nilai-nilai maslahah bagi kehidupan manusia berdasarkan teori maslahah dalam hukum Islam.

Categories
Taat Hukum

Terdakwa Pembunuh Ibu dan Anak Akhirnya Divonis Bebas Karena Terbukti Terpaksa Mengaku Akibat Siksaan Polisi Di Hotel Pondok Nirwarna Jakarta Timur


Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara mengambil keputusan bersejarah. Terdakwa pembunuh ibu dan anak, setelah disiksa polisi dan 8 bulan mendekam di penjara, Kamis (28/6) siang divonis bebas. Hakim menilai, aparat salah tangkap. Bahkan, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Jatanras Polda Metro Jaya dinyatakan gugur.

Kebenaran itu berpihak kepada seorang buruh pabrik bernama Kris Bayudi, 27. Pria ini berhasil membuktikan bahwa ia tidak bersalah hingga Ketua Majelis Hakim Muzaini memvonis bebas Kris Bayudi. Sedangkan terdakwa pembunuh sesungguhnya Rahmad Awafi divonis 15 tahun penjara.

Hukuman tersebut jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Johan Eva yang menuntut terdakwa Rahmad Awafi hukuman mati dan Kris Bayudi 20 tahun penjara.

Begitu hakim mengetuk palu dan menyatakan Kris Bayudi bebas, suasana Pengadilan Negeri Jakarta Utara, heboh. Apalagi sejak awal sidang kasus pembunuhan terhadap Hertati dan anaknya ER, menyedot banyak perhatian pengunjung, karena setiap kali sidang membutuhkan waktu berjam-jam.

Putusan itu disambut isak tangis kedua orangtua Kris Bayudi dan sanak saudaranya. Mereka saling berangkulan. Air mata bahagia menetes di ruang pengadilan.

“Alhamdulillah Allah Maha Besar. Allah menunjukkan kebesarannya. Hari ini anak saya bebas murni, meskipun sempat dipenjara selama delapan bulan,” tutur Ny. Suharti, ibu Kris Bayudi.

Atas putusan bebas tersebut, Jefri Kam dan Yuliana Rosalita, pengacara terdakwa dari LBH Mawar Saron akan menggugat Kapolda Metro Jaya dan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta, karena dianggap membiarkan anak buahnya menangkap sembarang orang hingga penderitaan dialami oleh Kris Bayudi.

“Kris sudah kehilangan pekerjaan dan tidak mendapatkan gaji. Tidak hanya itu, klien saya dimasukin ke bui setelah sebelumnya mendapat siksaan dari penyidik,” ucap Jefri Kam usai sidang.

Menurut Jefri, kesalahan penyidik Jatanras Polda Metro Jaya yang menangkap Kris tidak dibuktikan dengan fakta. Bahkan saat dipersidangan terungkap bahwa Kris tidak pernah didampingi pengacara saat pemeriksaan sesuai dengan KUHP, tetapi dalam BAP dituliskan sudah didampingi.

“Akibatnya ketua majelis hakim langsung mengugurkan BAP penyidik kepolisian karena cacat hukum dan tidak sesuai fakta dimana Kris tidak pernah didampingi pengacara dan adanya kekerasan fisik terhadap terdakwa,” kata Jefri.

MENCARI KEADILAN
Suharti dan Suherman, ibu dan bapak terdakwa Kris bercerita bahwa dia hampir putus asa mencari keadilan sejak 21 Oktober 2011 hingga Juni 2012. Saat anaknya ditangkap di parkiran pabrik tempat kerjanya, dirinya tidak pernah diberitahukan oleh penyidik kepolisian dan tahunya justru dari teman kerja anaknya.

“Saya waktu itu dikabarkan anak saya ditangkap polisi Polda Metro Jaya. Selama lima hari mencari, saya di lempar sana-sini dan tak pernah menjumpai anak saya, hingga akhirnya hari keenam barulah diberitahu oleh polisi bahwa Kris Bayudi masih diperiksa penyidik,” tutur Suharti dengan mata berkaca-kaca.

Begitu bertemu dengan anaknya yang ditetapkan menjadi tersangka, Suharti menangis karena melihat kondisi anaknya saat itu babak belur habis disiksa penyidik. “Saya diceritakan Kris kalau anak saya dijemput paksa di parkiran tempat kerjanya dan dengan mata tertutup dibawa ke hotel Pondok Nirwana Jakarta Timur,” cerita Suharti. “Harusnya pemeriksaan di kantor polisi.”

Saat itu, cerita Suharti menirukan ungkapan Kris, banyak polisi menyiksa anaknya dan memaksa dengan ancaman supaya Kris mengakui saja apa yang diminta polisi. Awalnya tidak mau mengakui, tapi badan anaknya diguyur air dan diancam akan disetrum dengan kabel telanjang. Karena takut mati akhirnya Kris mengakui apa yang diinginkan penyidik.

Dalam sidang yang berlangsung selama satu jam, Muzaini membacakan putusannya, antara lain dalam fakta persidangan dijelaskan bahwa saat terjadinya pembunuhan ibu dan anaknya, Kris Bayudi sedang bekerja di pabrik. Hal ini dibuktikan dengan absen sidik jari. Selain itu ada kejanggalan di BAP kepolisian sehingga terdakwa bebas.

Categories
Kriminalitas

Muhidin Ketua Forum Betawi Rembug (FBR) Pondok Betung ArenTewas Dibunuh Setelah Ditinggal Lari Oleh Anggota Yang Lain


Juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan polisi masih menyelidiki kasus pengeroyokan anggota Forum Betawi Rembug (FBR) di Jalan Ruko Sabar Garuda Asri, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu dinihari.

“Iya, ada penyerangan, tapi polisi masih mencari tahu pelakunya,” ujar Rikwanto dalam pesan pendeknya, Rabu, 27 Juni 2012.

Petugas, lanjutnya, saat ini sedang menelusuri pelaku dan motif pengeroyokan itu. Ia menjelaskan, sekitar 50 orang tak dikenal dengan mengendarai sepeda motor mendatangi posko organisasi massa FBR sekitar pukul 00.30 WIB pada Rabu, 27 Juni 2012.

Saat itu ada sekitar sepuluh anggota FBR sedang berkumpul. “Tiba-tiba saja mereka menyerang,” ucapnya. Kontan, anggota FBR pergi dan menyelamatkan diri. Tapi ternyata seorang anggota FBR, yaitu Muhidin, melakukan perlawanan.

Lantaran tidak seimbang, Muhidin pun tewas dengan luka bacok di sekujur tubuhnya. Belakangan diketahui bahwa Muhidin merupakan Ketua FBR Gardu 287 Pondok Betung.

Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang tetap berkonsentrasi di wilayah perbatasan antara Ciledug dan Pondok Aren, Kabupaten Tangerang. “Kami konsentrasi di perbatasan dan kantong-kantong massa,” kata Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang Komisaris Besar Wahyu Widada saat dihubungi Tempo, Kamis, 28 Juni 2012.

Penjagaan ini dilakukan sejak peristiwa pengeroyokan oleh massa hingga menewaskan Muhidin, Ketua Forum Betawi Rembug. Kejadian ini berlangsung di Jalan Ruko Sabar Garuda Asri, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu dinihari, 27 Juni 2012.

Massa diperkirakan berjumlah 50 orang tak dikenal. Mereka mengendarai sepeda motor kala mendatangi posko organisasi massa itu.

Di posko, terdapat sekitar sepuluh anggota FBR sedang berkumpul. Massa tiba-tiba menyerang. Kontan, anggota FBR itu menyelamatkan diri. Muhidin bertahan dan melawan. Lantaran tak seimbang, ia tewas dengan luka bacok di sekujur tubuhnya.

Wahyu menyatakan pihaknya merazia sejumlah tempat di wilayah Kota Tangerang. Dalam razia tersebut, polisi mengamankan tiga anggota salah satu organisasi massa karena membawa golok. “Saya tidak menangkap anggota organisasi massa, tapi orang-orang yang membawa senjata tajam,” kata Wahyu.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang Komisaris Besar Wahyu Widada mengatakan telah menangkap tiga orang bersenjata tajam dalam razia di Kota Tangerang. Razia dilakukan setelah Ketua Forum Betawi Rembug, Muhidin, tewas dikeroyok massa.

“Saya tidak menangkap anggota organisasi massa, tapi orang-orang yang membawa senjata tajam,” kata Wahyu saat dihubungi Tempo, Kamis, 28 Juni 2012. Wahyu menyatakan ketiga orang tersebut berasal dari salah satu organisasi massa. Mereka ditangkap lantaran membawa golok. “Ketiganya sedang kami periksa,” kata Wahyu.

Informasi yang diterima Tempo, tiga orang anggota organisasi massa yang ditangkap itu adalah Surono, 32 tahun, warga Sudimara Jaya, Ciledug; Endi Yunus (29), warga Bakung, Kecamatan Cikande, Serang; dan Syamsudin (32), warga Cipadu Jaya, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang.

Ketiganya ditangkap saat menjaga rumah Lurah Muslim, yang disebut sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang PP Kecamatan Ciledug, di Peninggilan Selatan, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Dari tangan mereka, polisi menyita tiga bilah golok berbagai ukuran, dua ponsel, serta satu sepeda motor warna merah-hitam bernomor polisi B 6047 EDB.

Peristiwa pengeroyokan oleh massa hingga menewaskan Muhidin, Ketua Forum Betawi Rembug, berlangsung di Jalan Ruko Sabar Garuda Asri, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu dinihari, 27 Juni 2012. Massa diperkirakan berjumlah 50 orang tak dikenal. Mereka mengendarai sepeda motor kala mendatangi posko organisasi massa itu.

Di posko, terdapat sekitar sepuluh anggota FBR sedang berkumpul. Massa tiba-tiba menyerang. Kontan, anggota FBR itu menyelamatkan diri. Muhidin bertahan dan melawan. Lantaran tak seimbang, ia tewas dengan luka bacok di sekujur tubuhnya.

Categories
Berbudaya Sejarah

Bungker Kuno Zaman Belanda Beserta Instalasi Listriknya Ditemukan Di RS Kariadi Semarang


Sebuah bungker misterius yang diduga peninggalan jaman kolonial Belanda ditemukan di kawasan proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) RS Kariadi Semarang. Bungker tersebut ditemukan oleh pekerja proyek saat menggali tanah menggunakan alat berat tiga hari lalu, Sabtu (23/6/2012).

Karyawan kontraktor bagian keselamatan kerja, Mujiyono mengatakan, pihaknya menemukan pintu saat menggali bagian bawah bukit yang tadinya terdapat tempat pembuangan sampah di dekatnya.

“Untuk membuat IPAL, kami menggali dari atas ke bawah. Lalu ketika sampai di bawah kami menemukan tempat tersebut,” kata Mujiyono di RS Kariadi, Jalan Dr. Sutomo, Semarang, Selasa (26/6/2012).

“Kami menggali tanah di sekitar goa secara manual sejak Sabtu lalu,” imbuhnya.

Setelah diukur, bungker tersebut memiliki ketebalan 42 cm, lebar 2 meter, dan kedalaman 5,2 meter. Ketinggiannya diperkirakan mencapai 2 meter. Belum diketahui apakah masih ada akses ke ruang bawah tanah atau tidak karena masih terdapat timbunan tanah setebal 70 cm.

“Nanti timbunan tanah tersebut akan kami gali secara manual untuk mengetahui apa yang ada di dalam goa. Tadinya juga ada pintu besi tua yang sudah karatan setinggi 110 cm,” pungkasnya.

Mujiyono juga menjelaskan, dari material batu bata yang terlihat pada bungker, diduga sudah ada sejak jaman Belanda. Selain itu terdapat instalasi listrik model kuno di dalam yang terhubung dengan tempat lampu yang berada di atas dinding.

“Dilihat dari batu batanya yang tebal, seperti yang ada pada bangunan Lawang Sewu dan Stasiun Tawang,” tutur Mujiyono sembari mengukur ketebalan batu bata dengan tangan.

Sementara itu Humas RS Kariadi, Darwito mengatakan untuk bangunan RS sendiri sudah berdiri sejak jaman kolonial Belanda tahun 1925, namun di dalam denah RS tidak ada bungker dan hanya berupa bukit.

“Bangunan RS sudah ada sejak jaman kolonial tahun 1925. Di denah RS hanya terdapat bukit di sana,” ujar Darwito.

Categories
Perekomonian dan Bisnis

Pabrik Kopi Merk Torabika Meledak Dengan Korban Jiwa Satu Orang


Pabrik kopi merek Torabika di Jalan Raya Serang KM 12,5, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Senin (25/6/2012), sekitar pukul 08.00, meledak. Akibatnya satu orang buruh tewas di tempat, dan tiga orang luka.

Buruh yang tewas bernama Dedi Gunardi (30), dengan luka yang cukup berat di bagian kepala. Sedangkan tiga orang buruh yang luka-luka adalah Andi Riyanto (19), Nanda Irawan (20), luka dan Syahrul (19). “Saat datang ke rumah sakit ini korban sudah tidak bernyawa. Detak jantungnya saat kami periksa sudah tidak ada,” ucap Eka Rini, Humas RS Mulia Insani, Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Untuk tiga buruh yang menderita luka, dibawa ke RSU Ariya Medika, Jatiuwung, Kota Tangerang. Andi menderita luka robek di bagian kepala selebar 10 cm. “Tulang tengkoraknya sampai kelihatan. Jadi cukup parah,” ujar dr Dedi, dokter jaga UGD RSU Ariya Medika kepada Warta Kota.

Sedangkan Nanda menderita luka trauma di bagian punggung. “Tampaknya ada patah tulang. Namun untuk memastikan kami menunggu hasil rontgen dulu. Kalau Syahrul luka trauma di bagian dada,” ucap dr Dedi.

Meskipun dalam kondisi lemah, kata dr Dedi ketiga buruh Torabika itu dibawa pulang oleh pihak perusahaan. “Kami tidak tahu perawatan selanjutnya. Namun untuk Nanda, kami pesan, jika hasil rontgen positif patah tulang maka harus dioperasi,” ucapnya.

Menurut Arul, pemilik warung rokok, yang berada persis di depan pabrik Torabika yang meledak, mengatakan bahwa sekitar pukul 08.00 telah terjadi ledakan dahsyat di lantai tiga pabrik kopi itu. Lantai tersebut adalah area pengolahan creamer kopi.

“Bunyinya luar biasa keras mas. Radius 500 meter masih terdengar,” ujarnya.

Ledakan terjadi di saat para buruh shift pagi sedang memulai kerja. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan bunyi ledakan dari ruang pengolahan creamer itu. Maka dalam tempo sekejap seluruh buruh pabrik yang berjumlah ribuan orang keluar area pabrik.

“Sempat terjadi kemacetan karena para pengemudi juga kaget, karena seperti bom meledak,” tandas Arul.

Pantauan Warta Kota, lokasi pengolahan creamer kopi itu berbentuk menara setinggi 30 meter, dan terbagi beberapa lantai. Akibat ledakan keras itu, tembok pabrik jebol, dan menimbulkan lima lubang berdiameter masing-masing 3 X 3 meter.

Meskipun terjadi musibah, manajemen pabrik kopi Torabika tidak meliburkan aktivitas produksi. Buruh tetap bekerja normal. “Tidak ada informasi mas soal libur. Tetap masuk tuh,” ujar Yanti, buruh pabrik tersebut.

Sementara itu pihak kepolisian tidak melakukan penyegelan terhadap pabrik tersebut. Menurut Kasat Reskrim Polres Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga, pihaknya masih melakukan penyelidikan akibat ledakan tersebut.

“Tim masih mendalami apa penyebab ledakan itu. Jika memang karena kesalahan manajemen, bisa diambil tindakan tegas,” ucapnya.

Categories
Terorisme

Teroris Imam Samudra Danai Kelompoknya dari Mencuri Rekening Nasabah


Kelompok teroris melalui beragam cara melakukan penggalangan dana demi menyokong kegiatan teror. Dana itu didapatkan dari mulai perampokan sampai dengan hacking komputer seperti yang dilakukan RG, salah satu jaringan bom Solo. Sebenarnya, aksi kejahatan kelompok teror tersebut sudah mulai dilakukan kelompok Imam Samudra dalam menjalankan teror bom Bali 1.

“Imam Samudra pernah melakukan kegiatan membobol rekening nasabah dengan pola hacking,” kata Direktur Penindakan BNN, Brigjen Polisi Benny Mamoto, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (26/6/2012) dini hari.

Aksi kejahatan Imam dan kawan-kawan tersebut bertujuan untuk membiayai aksi terornya di Indonesia. Mereka, kata Benny, membeli kebutuhan-kebutuhan eksekusi lapangan dari hasil hacking.

“Artinya, mereka ini sudah berpikir canggih dengan memanfaatkan kemampuan IT yang dimilikinya,” terang Benny yang pernah terlibat dalam pemeriksaan tahanan-tahanan teroris di Afghanistan ini.

Perwira tinggi polisi yang pernah mewawancarai otak di balik otak Bom Bali 1 ini menjelaskan, meski kegiatan hacking yang dilakukan kelompok Imam Samudra tidak sebesar jaringan Solo, namun apa yang mereka belanjakan tersebut cukup membantu aksi teror yang sudah direncanakan.

“Setelah mendapatkan hasil dari hacking, mereka langsung belanjakan kebutuhan surveillance (pemantauan objek),” terang doktor yang juga dosen kriminologi di UI ini.

Lebih lanjut Benny mengatakan, dengan kemampuan menguasai teknologi kelompok Imam Samudra leluasa berkomunikasi dengan kelompok teror yang berada di luar negeri. Bahkan, kata Benny, saat berada di dalam penjara mereka masih bisa berkomunikasi melalui internet.

Diketahui, aksi cyber crime menjadi modus baru kelompok teroris mendanai aksinya. Seperti dilakukan RG yang ditangkap Densus 88. Ahli IT ini membobol situs forex trading dan uang ratusan juta yang diperolehnya, di antaranya untuk membiayai pelatihan teroris di Poso dan membeli senjata api.

“Yang bersangkutan memberikan dukungan Rp 667 juta untuk pelatihan paramiliter di Poso,” ungkap Kabag Penum Polri, Kombes Boy Rafli Amar, di Jakarta, Jumat (22/6).

Selain itu, RG yang ditahan sejak Mei lalu diketahui juga memberikan sokongan dana untuk pembelian senjata bagi kelompok teroris sebesar Rp 200 juta. Namun temuan ini masih diperlukan pendalaman lebih lanjut.

Categories
Kreatif

Lukisan Lukisan Di Museum Seni dr. Oei Hong Djien Di Magelang Dituding Lukisan Palsu


Nama dr. Oei Hong Djien mengguncang dunia seni Indonesia. Museum seninya di Magelang ternyata menyajikan banyak lukisan Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio, yang diduga palsu. Sejumlah kalangan penikmat seni, juga ahli waris para pelukis mengkritiknya. Laporan utama Tempo edisi 25 Juni 2012 berjudul “Lukisan Palsu Sang Maestro” mengungkap itu.

Siapa sebenarnya Oei Hong Djien? Lelaki 73 tahun itu dikenal sebagai “raksasa” seni rupa Indonesia. Koleksinya lebih dari 2.000 buah, yang jika ditaksir nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Sudah jadi rahasia umum jika ia juga dikenal sebagai “sinterklas” yang gemar mengangkat perupa muda Yogyakarta menjadi perupa sukses. Ia bahkan dijuluki The Godfather perupa kontemporer Indonesia.

Dr. Oei tampak kukuh menerima terpaan. “Setiap hari saya selalu pandang terus-menerus koleksi saya. Saya makin yakin. Bila ada yang menuntut menurunkan, harus ada bukti sangat kuat,” katanya. Oei Hong Djien lahir dari keluarga pengusaha tembakau. Meski lulus sebagai dokter dari Universitas Indonesia dan mengambil spesialisasi patologi anatomi di Katholieke Universiteit Nijmegen, Belanda, Oei memilih menjadi grader (penguji kualitas tembakau) di PT Djarum. Dia dibesarkan di Semarang, Bandung, dan Jakarta. Oei tumbuh dan akrab di rumah yang selalu penuh lukisan, terutama saat dia berdiam di rumah sepupunya di Bandung, Oei Sian Yok, kritikus seni di mingguan Star Weekly.

Oei menjadi fenomena karena ia aktif menularkan hobinya mengoleksi karya seni kepada rekan-rekan bisnisnya, para pedagang tembakau. “Semula mereka cuma datang untuk dagang. Tapi, karena sering melihat lukisan di rumah saya, mereka akhirnya tertarik juga,” kata Oei. Bahkan dia mampu menyebarkan hobinya kepada pengusaha-pengusaha papan atas, seperti Sunarjo Sampoerna, putra taipan Boedi Sampoerna. Ia menjadi salah satu kolektor panutan paling terhormat dan berpengaruh di Asia.

Oei sebetulnya hendak memberi kejutan. Di museumnya, ia memamerkan karya Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio, yang selama ini jarang diketahui publik. Oei yakin masih banyak karya para maestro Indonesia yang tersembunyi. “Seorang kolektor harus memiliki visi mencari. Justru itu sumbangannya untuk sejarah seni rupa,” katanya.

Yang jadi persoalan adalah seorang kolektor tak hanya harus mencari, tapi juga memastikan bahwa barang yang dibeli memang asli. Apalagi jika lukisan itu berniat dipamerkan ke publik, maka sang kolektor (dan kurator) dibebani tanggung jawab luar biasa. Saat membeli, Oei bertumpu pada mata dan perasaannya sendiri untuk memastikan keaslian lukisan tanpa bantuan ahli lain. Bahkan, untuk membuka museum yang tiketnya dijual seharga Rp 100 ribu per kepala kepada masyarakat umum tersebut Oei menulis sendiri buku tentang apa yang ada dalam museum barunya itu tanpa melibatkan kurator atau sumber lain.

Untuk memastikan keaslian lukisan tersebut, ia khusus bertanya kepada sahabat tepercayanya di Temanggung, pelukis Kwee In Tjiong, 74 tahun. In Tjiong adalah murid Sudjojono yang juga dikenal sebagai pedagang tembakau. “Menurut In Tjiong asli,” kata Oei. Tempo berusaha mengecek kepada Intjong, tapi dia tampak menghindar. Saat ditelepon, belum-belum ia mengatakan, “Saya tidak tahu lukisan palsu.”

DUNIA seni rupa Indonesia geger. Kolektor kawakan dr. Oei Hong Djien menjadi episentrum guncangan. Ini berawal dari niat baiknya membuka museum seni rupa di Magelang, Jawa Tengah, April lalu. Bermaksud membuat kejutan–menyajikan banyak lukisan Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio yang sebelumnya tak pernah diketahui publik–ia justru menuai badai.

Laporan utama Tempo edisi 25 Juni 2012 berjudul “Lukisan Palsu Sang Maestro” mengungkap itu. Pengamat seni dan keluarga pelukis ragu terhadap keaslian gambar-gambar itu. Mereka menduga dr. Oei menjadi “korban” sindikat lukisan palsu. Sang dokter membantah. Sebuah diskusi diselenggarakan pada akhir Mei lalu di Galeri Nasional Jakarta untuk menjernihkan masalah. Tapi kontroversi tetap merebak.

Tempo menelusuri sejarah tiap lukisan hingga ke masa silam: mewawancarai keluarga pelukis dan kolektor. Juga sejumlah saksi sejarah, antara lain tentara yang menawan Hendra Gunawan, pelukis yang akibat prahara 1965 dibui bertahun-tahun. Hasilnya: koleksi Oei Hong Djien sulit diyakini keasliannya.

Salah satu lukisan yang diragukan keasliannya adalah lukisan berjudul Wahyu, yang menggambarkan seseorang terbaring di alam surgawi. Lukisan tersebut karya Soedibio (almarhum). Angka tahunnya 1981. Saitem, sang istri, tertegun memandang lukisan yang dipajang pada pembukaan Museum Seni Rupa Oei Hong Djien (OHD) di Jalan Jenggolo 14, Magelang, awal April lalu tersebut. “Itu tak mungkin gambar Pak Dib,” dia bergumam.

Saitem ingat betul. Sepanjang 1981 suaminya sakit dan akhirnya wafat pada bulan Desember. Dia yakin saat itu suaminya sudah tak sanggup menggarap lukisan sepanjang dua meter tersebut. Sepanjang tahun itu suaminya hanya menyelesaikan lima lukisan: Semar, Dewi Sri, Gunungan, Ramayana, dan Menuju Nirwana. Semua lukisan tersebut adalah pesanan Harmonie Jaffar, kolektor fanatik karya Soedibio. “Kami mengimbau agar OHD bersedia menurunkan lukisan yang diragukan itu untuk sementara. Bila dibiarkan, ini akan menghancurkan seni rupa Indonesia,” ujar Budisetia Dharma, kolektor lukisan yang juga Presiden Komisaris PT Astra International Tbk. Budisetia termasuk mereka yang sangsi akan keaslian sejumlah koleksi di museum itu.

Ditemui Tempo di Magelang, Oei Hong Djien tampak kukuh menerima terpaan. “Setiap hari saya selalu pandang terus-menerus koleksi saya. Saya makin yakin. Bila ada yang menuntut menurunkan, harus ada bukti sangat kuat,” katanya. Dr Oei, 73 tahun, dikenal sebagai “raksasa” seni rupa Indonesia. Koleksinya lebih dari 2.000 buah, yang jika ditaksir nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Sudah jadi rahasia umum jika ia juga dikenal sebagai “sinterklas” yang gemar mengangkat perupa muda Yogyakarta menjadi perupa sukses. Ia bahkan dijuluki The Godfather perupa kontemporer Indonesia.

Tempo menelusuri sejarah tiap lukisan hingga ke masa silam: mewawancarai keluarga pelukis dan kolektor. Juga sejumlah saksi sejarah, antara lain tentara yang menawan Hendra Gunawan, pelukis yang akibat prahara 1965 dibui bertahun-tahun. Hasilnya: koleksi Oei Hong Djien sulit diyakini keasliannya.

Dunia seni rupa Indonesia terguncang ketika kolektor kawakan dr. Oei Hong Djien membuka museum seni rupa di Magelang, Jawa Tengah, April lalu. Di museum milik juragan tembakau itu ternyata banyak lukisan Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio yang menurut ahli waris sang pelukis palsu.

Laporan utama Tempo edisi 25 Juni 2012 berjudul “Lukisan Palsu Sang Maestro” mengungkap itu. Beberapa lukisan palsu itu antara lain Wahyu dan Peta Soedibio. Keduanya karya Soedibio. Juga ada lukisan berjudul Diponegoro dan Perdjuangan Belum Selesai (1967) karya Sudjojono yang diragukan keasliannya. Dari semua koleksi karya Sudjojono di Museum Oei Hong Djien, Aminudin ragu akan keaslian 12 lukisan. Juga ada beberapa karya Hendra Gunawan yang diduga palsu. Contohnya: Penjual Es Lilin (1970), Berjudi (1975), Pesta Kemenangan (1978), Perayaan 17 Agustus (1980), Penarik Gerobak (1980), Pasar Malam (1981), Perang Buleleng di Bali (1982), dan Panen Padi (1980).

Saitem mengunjungi pameran tersebut bersama Rama Chandra, putra Harmonie Jaffar. Seperti Saitem, Rama pun terkejut terutama menyaksikan seri lukisan Peta Soedibio, yang menggambarkan orang yang ditusuk, digantung, dan disiksa. Lukisan yang memperlihatkan kekejian itu bertahun 1946-1955. Rama tak pernah melihat gaya Soedibio seperti itu. Dari 200 lukisan koleksi ayahnya, lukisan Soedibio rata-rata bertema pewayangan atau alam mistik yang halus, tenang, dan esoterik. “Dari koleksi almarhum Bapak, tidak ada satu pun yang penuh kemarahan seperti itu,” ujar Rama.

Menurut Chandra, saat ia mengantarkan Ibu Saitem pulang ke Solo, sepanjang perjalanan perempuan yang kini berusia 63 tahun itu tak banyak berkata. Padahal semula Saitem merasa senang karena Hong Djien menahbiskan Soedibio sebagai maestro, yang artinya suaminya setara dengan pelukis Affandi, Sudjojono, dan Hendra Gunawan. Setelah melihat sendiri lukisan tersebut, Saitem tampak syok. “Ibu kaget karena tak bisa membayangkan suaminya melukis hal-hal yang sadistis,” kata Rama.

Ternyata bukan hanya keluarga Soedibio yang merasa ragu akan keaslian karya yang dipajang pada pameran tersebut. Keluarga pelukis Sudjojono, baik pihak istri pertama almarhum, Mia Bustam, maupun istri kedua, Rose Pandanwangi, juga ragu terhadap karya yang terpajang di museum tersebut. Tedjabayu Sudjojono, 68 tahun, putra pertama Sudjojono-Mia Bustam, mengunjungi museum seni rupa baru itu. Baru saja melangkah masuk, dari jarak beberapa meter, Tedjabayu melihat lukisan Diponegoro yang digantung di dinding sebelah kiri. Dia merasa agak ganjil jika lukisan itu disebut karya bapaknya. “Tidak mungkin Bapak gegabah membuat bayonet prajurit Diponegoro yang bentuknya seperti bayonet pada masa Perang Dunia II,” katanya.

Soal lukisan Perdjuangan Belum Selesai (1967) juga diragukan keasliannya. Menurut Watu Gunung, 64 tahun, putra ketiga Sudjojono-Mia Bustam, tak mungkin bapaknya pada 1967 menggambar orang mengacungkan celurit. Ia ingat, pada 1967, bapaknya masih mengalami trauma atas pembantaian anggota Partai Komunis Indonesia. Bapaknya pernah menjadi anggota partai itu. “Bapak gemblung kalau menggambar demikian,” katanya. Apa jawaban Oei terhadap sikap sangsi ini? “Mungkin saja Sudjojono bernostalgia.” Oei yakin lukisan itu asli karya Sudjojono. Untuk memastikan keaslian lukisan tersebut, ia khusus bertanya kepada sahabat tepercayanya di Temanggung, pelukis Kwee In Tjiong, 74 tahun. In Tjiong adalah murid Sudjojono yang juga dikenal sebagai pedagang tembakau.

“Menurut In Tjiong asli,” kata Oei. Tempo berusaha mengecek kepada Intjong, tapi dia tampak menghindar.

Kolektor kawakan dr. Oei Hong Djien membikin geger dunia seni Indonesia saat membuka museum seni rupa di Magelang, Jawa Tengah, April lalu. Banyak lukisan di sana, antara lain karya Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Soedibio yang diragukan keasliannya.

Laporan utama Tempo edisi 25 Juni 2012 berjudul “Lukisan Palsu Sang Maestro” mengungkap itu. Rose Pandanwangi, 82 tahun, yang disebut-sebut oleh katalog musem itu sebagai model telanjang lukisan Sudjono protes. Dia sangat terusik dengan pemajangan lukisan perempuan telanjang berjudul Sabda Alam di Museum Oei Hong Djien. Dalam buku katalog disebutkan itu karya suaminya, Sudjojono, dan Roselah yang menjadi model. “Saya kaget, karena itu bukan saya,” katanya. “Saya juga tak pernah melihat lukisan itu.”

Menurut Rose, sejak dia menikah dengan Sudjojono pada 1959, model lukisan telanjang Sudjojono adalah selalu dirinya. Bukan orang lain. “Sejak menikah, kami berdua punya komitmen, sayalah yang menjadi modelnya,” ujarnya.

Lahir di Makassar, 26 Juni 1930, Rose dikenal sebagai penyanyi seriosa. Sepanjang kariernya sebagai biduanita, perempuan bernama asli Rosalina Poppeck ini menyabet belasan penghargaan dari dalam dan luar negeri. Bahkan dia pernah mengalahkan penyanyi seriosa legendaris Indonesia, Norma Sanger. Nama Rose Pandanwangi diberikan Sudjojono ketika sang maestro seni rupa modern Indonesia menikahi perempuan berdarah campuran Manado-Jerman ini.

Pada Rabu siang akhir Mei lalu, Tempo melakukan wawancara khusus dengan Rose di rumahnya di Cirendeu, Tangerang Selatan. Berbaju batik dan bercelana panjang krem, Rose mengungkapkan keraguannya akan keaslian beberapa lukisan karya Sudjojono lain di Museum Oei Hong Djien. Meski usianya menginjak 82 tahun, ingatannya masih tajam.

Menurut Rose, dia kaget ketika melihat lagi lukisan Sabda Alam dari buku Lima Maestro Seni Rupa Modern Indonesia yang ditulis oleh Pak Hong Djien. Saya melihat Pak Hong Djien menulis demikian (Rose membuka buku itu, dan membacanya untuk Tempo):

“… Lukisan nude Sudjojono tidak sekedar menggambarkan ketelanjangan secara fisik namun mengandung unsur romantis dan puitis. Sabda Alam (1961) memamerkan Rose muda habis bangun pagi, dalam keadaan telanjang berdiri di belakang jendela kaca, dan membuka tirai yang transparan. Ia tertegun oleh keindahan alam luar. Di kanan terlihat sebagian tempat tidur yang masih berantakan dan di kiri ada keranjang rotan berisi pakaian….”

Rose heran, bagaimana Pak Hong Djien kok tahu cerita seperti itu. “Dari mana dia tahu cerita itu, kalau saya baru bangun tidur dalam keadaan telanjang. Dan dia bisa bercerita dengan sangat detail, bahwa saya bangun tidur, lalu membuka tirai transparan. Apa memang Pak Hong Djien ada di sana?” kata Rose

Categories
Lain Lain

Penulis Buku Berjudul Konspirasi SBY-Lapindo Ali Azhar Akbar Diduga Hilang Di Bandung


Sebelum hilang kontak, Ali Azhar Akbar, penulis buku berjudul Konspirasi SBY-Lapindo, diketahui sering mendapat kiriman pesan pendek bernada teror. “Terutama dari mereka yang mengatasnamakan masyarakat korban lumpur,” kata Direktur Indopetro Publishing, Kusairi, yang menerbitkan buku itu, Jumat, 22 Juni 2012.

Pesan pendek bernada teror itu, ujar dia, diterima Ali ketika mulai mengajukan judicial review atas Pasal 18 UU APBN-P mengenai lumpur Lapindo ke Mahkamah Konstitusi beberapa waktu lalu. “Sejak saat itu, banyak teror lewat handphone dan lain-lain,” katanya.

Soal ancaman penculikan atau penghilangan, kata Kusairi, tidak disebutkan Ali. Tapi ada salah satu pesan yang diingat Kusairi. “Anda harus bertanggung jawab terhadap korban lumpur atas tulisan-tulisan Anda. Saya tunggu di Bandung,” katanya.

Sebelumnya, saat diskusi buku tersebut di Yogyakarta, kata Kusairi, setahunya tidak ada pesan seperti itu. Diskusi pun berjalan aman dan lancar.

Sedianya, Ali Azhar Akbar berbicara di aula barat ITB dalam acara diskusi bedah buku Konspirasi SBY-Lapindo hari ini. Namun Kusairi dan keluarga Ali telah hilang kontak dengan Ali sejak Selasa petang lalu. Penulis buku berjudul Konspirasi SBY-Lapindo, Ali Azhar Akbar, diduga hilang di Bandung. Ia tak bisa hadir dalam diskusi buku tersebut di aula barat ITB hari ini. “Saya hilang kontak sejak Selasa sore lalu,” kata Direktur Indopetro Publishing, Kusairi, yang menerbitkan buku itu di Bandung, Jumat, 22 Juni 2012.

Kusairi mengatakan, penerbit dan Ali sepakat berkeliling kota untuk diskusi buku tersebut. Setelah Jakarta dan Yogyakarta, akhir pekan ini mereka berencana membuat diskusi buku di Bandung.

Kusairi masih sempat bertemu Ali pada Jumat pekan lalu saat sedang mengajukan berkas permohonan judicial review atas Pasal 18 UU APBN-P mengenai lumpur Lapindo ke Mahkamah Konstitusi. “Dari situ kita janjian akan ke Bandung,” ujarnya.

Pada Selasa siang, 19 Juni 2012, kata Kusairi, Ali masih membalas pesan pendeknya soal acara diskusi buku. “Katanya dia sudah di Bandung hari Selasa itu,” katanya. Namun, sejak Selasa sore hingga sekarang, Ali tak pernah membalas kiriman pesan pendek dan kontak ke telepon selulernya. “Kita kehilangan kontak, keluarganya juga enggak tahu. Kondisinya ini agak aneh,” katanya.

Categories
Demokrasi Kemerdekaan Korupsi Kriminalitas Pendidikan Perekomonian dan Bisnis Taat Hukum Terorisme

Indonesia Turun Peringkat Menjadi ke 63 Dalam Kategori Negara Gagal Tahun 2012


Pemerintah mengklaim bahwa negara telah membuat kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, suatu prestasi yang harus dicegah negara dari yang termasuk dalam daftar “negara gagal”.

Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Menteri Djoko Su-yanto mengatakan bahwa tahun 2012 Gagal Negara Index (FSI), yang menempatkan Indonesia di ambang menjadi negara gagal, sudah melukis gambaran yang tidak akurat negara.

“Indonesia adalah negara yang berjalan sangat baik, dari pemerintah pusat ke tingkat lokal. Kami telah mencatat 6,5 persen yang luar biasa dari pertumbuhan ekonomi dan memiliki lebih dari US $ 115 miliar pada cadangan devisa. Apa jenis indikator yang mereka gunakan untuk menentukan negara yang gagal “kata? Djoko The Jakarta Post pada hari Rabu.

Djoko mengomentari tahun 2012 FSI disusun oleh Washington berbasis nirlaba organisasi Dana untuk Perdamaian.

Studi ini menempatkan Indonesia di tempat ke-63 dari 178 negara di seluruh dunia, turun satu posisi dari posisi ke-64 tahun lalu. Pada tahun 2010, Indonesia menduduki peringkat ke-61.

Indonesia telah menunjukkan sedikit perbaikan dalam skor-nya selama dua tahun terakhir. Pada 2012, Indonesia mendapat 80,6 poin, lebih rendah dari 2011 yang 81,6 dan 2010 yang 83,1.

Skor yang tinggi menunjukkan tekanan tinggi pada keadaan, yang juga diterjemahkan ke dalam risiko yang lebih tinggi ketidakstabilan, menurut sebuah pernyataan yang dirilis pada Dana untuk website Peace fundforpeace.org.

FSI 2012 peringkat 178 negara menggunakan 12 indikator sosial, ekonomi dan politik dari tekanan pada negara, bersama dengan lebih dari 100 sub-indikator.

Ini termasuk isu-isu seperti pembangunan tidak merata, legitimasi negara, keluhan kelompok minoritas, dan hak asasi manusia.

Setiap indikator adalah nilai pada skala 1-10, berdasarkan analisis dari jutaan dokumen tersedia untuk publik, data kuantitatif lainnya, dan penilaian oleh para analis, kata organisasi.

FSI kelompok negara dengan poin lebih tinggi dari 90 sebagai “waspada”; antara 60 dan 90 sebagai “peringatan”; 30-60 “moderat”, dan di bawah 30 sebagai “berkelanjutan”.

Ada 91 negara di zona “peringatan”, termasuk Indonesia.

Pelepasan FSI tahun ini terjadi di tengah gelombang kekerasan di Papua.

Laporan-laporan mengatakan bahwa sedikitnya 18 orang tewas di Papua dan Papua Barat dalam beberapa bulan terakhir, dengan pemerintah terus menyalahkan “separatis” untuk penembakan sejumlah warga sipil di wilayah tersebut.

Negara ini juga melihat peningkatan kekerasan terhadap kelompok agama minoritas di negeri ini.

Analis politik Yudi Latief mengatakan bahwa semua indikator dapat menunjukkan fakta bahwa Indonesia memang negara yang gagal. “Kegagalan untuk menyediakan fasilitas umum yang layak, korupsi politik yang merajalela, dan tidak adanya pelayanan sosial, adalah bagian dari indikator sebuah negara gagal, “katanya.

Djoko mencela mereka yang menyalahgunakan hasil survei untuk “menyerang” pemerintah. “Lihatlah kehidupan demokrasi kita, seperti kebebasan pers. Meskipun ada kekurangan, kita seharusnya bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Jangan sinis, dan mari kita bergabung bersama-sama membantu membangun bangsa ini, “kata menteri.

Yopie Hidayat, juru bicara Wakil Presiden Boediono, berbagi pendapat Djoko itu.

“Aku, sebagai orang yang telah bekerja untuk pemerintah, berpikir bahwa kita telah melakukan yang terbaik dalam membawa negara ini menuju kondisi yang lebih baik,” katanya. Yopie kata laporan itu harus dianggap sebagai dorongan bagi semua orang untuk bekerja untuk memperbaiki bangsa. “Survei ini dilakukan oleh lembaga asing, kita tidak dapat menyangkal ini. Kami tidak berjalan bersama-sama dengan negara lain, kita bersaing dengan negara lain, “tambah Yopie.

FSI 2012, yang merupakan edisi kedelapan dari studi tahunan, peringkat Somalia sebagai nomor satu untuk tahun kelima berturut-turut, dengan alasan pelanggaran hukum meluas, pemerintah tidak efektif, terorisme, pemberontakan, kejahatan, dan serangan bajak laut dipublikasikan dengan baik terhadap kapal-kapal asing.

Finlandia tetap yang paling stabil, dengan Skandinavia tetangganya Swedia dan Denmark pembulatan keluar tiga peringkat terbaik. Semua tiga negara mendapatkan keuntungan dari indikator sosial dan ekonomi yang kuat, dipasangkan dengan ketentuan yang sangat baik dari pelayanan publik dan menghormati hak asasi manusia dan supremasi hukum.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Tjahjo Kumolo, menyayangkan posisi Indonesia yang menempati posisi 63 dari 178 negara dalam Indeks Negara Gagal 2012 atau Failed State Index 2012. Menurut dia, posisi itu sangat memprihatinkan dan harus menjadi introspeksi.
“Indonesia negara di ambang gagal,” ujar Tjahjo kepada VIVAnews, Rabu 20 Juni 2012.

Menurut Tjahjo, penururan peringkat tersebut disebabkan oleh beberapa indikasi. Antara lain karut-marutnya penyelenggara negara yang menyebabkan rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintahan. Selain itu, tingkat korupsi di Indonesia sudah tidak terkendali lagi.

Indikator lainnya adalah banyaknya megaskandal hukum yang terjadi di Indonesia. Dia menyebut kasus Bank Century, mafia perpajakan, mafia suara KPU, yang hingga kini tidak kunjung bisa diselesaikan. Oleh karena itu, Tjahjo menyarankan pemerintah segera melakukan langkah-langkah perbaikan, terutama menyangkut keadilan ekonomi dan pelembagaan demokrasi.

“Memang secara historis dan sosiologis indonesia sebagai negara bangsa memiliki kekuatan emosional kebangsaan yang kuat. Karena persolan yang paling utama di Indonesia itu adalah masalah ketidakadilan ekonomi dan proses institusionalisasi demokrasi, bukan persolan kesukubangsaan apalagi agama,” kata Tjahjo.
“Jadi kalau ini dua hal tersebut dapat diperbaiki yaitu isu ketidakadilan dan institusionalisasi demokrasi maka Indonesia akan semakin kuat.”

Pada tahun 2011, Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 81. Dikutip dari laman fundforpeace.org, tahun ini Indonesia menempati peringkat 63 dengan skor 80,6. Angka ini didapat dari perhitungan beberapa faktor, seperti ekonomi dan sosial. Selain itu, Fund for Peace juga menggunakan lebih dari 100 subindikator, termasuk isu-isu seperti pembangunan tidak merata, legitimasi negara, protes kelompok masyarakat, dan penegakan hak asasi manusia.

Dalam penjelasan indeks ini, penegakan HAM di Indonesia dinilai lemah dan cenderung memburuk dalam lima tahun terakhir. Indikator lainnya yang dinilai menurun dalam lima tahun terakhir adalah keluhan kelompok masyarakat dan tekanan demografis. Sementara di bidang layanan publik, Fund for Peace mencatat ada kemajuan di Indonesia meski tetap saja dinilai lemah dengan peringkat 75. Enam indikator di bidang politik dan militer, semua dinilai lemah.

Organisasi Fund for Peace merilis indeks terbaru mereka mengenai Failed State Index 2012 di mana Indonesia berada di posisi 63. Sementara negara nomor 1 yang dianggap gagal adalah Somalia. Dalam membuat indeks tersebut, Fund for Peace menggunakan indikator dan subindikator, salah satunya indeks persepsi korupsi.

Dalam penjelasan mereka, dari 182 negara, Indonesia berada di urutan 100 untuk urusan indeks korupsi tersebut. Indonesia hanya berbeda 82 dari negara paling korup berdasarkan indeks lembaga ini, Somalia. Negara yang dianggap paling baik adalah New Zealand.

Hal ini paralel dengan Indeks Pendayagunaan SDM di mana Indonesia berada di urutan 124. Di indeks ini, Norwegia berada di urutan terbaik, sementara Kongo berada di urutan bontot (187).

Organisasi ini mengakui perkembangan ekonomi Indonesia yang pesat dalam lima tahun terakhir. Indonesia pun mampu bertahan dalam krisis moneter yang kini melanda dunia. Selain itu, reformasi politik Indonesia pun diakui sebagai kemajuan yang pesat. Namun, di tengah prestasi tersebut, Fund for Peace memandang korupsi masih menjadi tantangan terbesar untuk dituntaskan negara berpenduduk 250 juta ini. Selain itu, Fund for Peace juga mencatat kekerasan berbau agama, dan penyakit menjadi tantangan lain.

“Pemberdayaan SDM, korupsi, lemahnya penegakan hukum, kekerasan terhadap kelompok agama minoritas menjadi hambatan yang signifikan,” demikian dikutip dari laman fundforpiece.org.

Diberitakan sebelumnya, posisi Indonesia turun ke peringkat 63 dalam Indeks Negara Gagal 2012 atau Failed State Index 2012. Indeks yang dikeluarkan organisasi Fund for Peace itu menilai peringkat ini turun dibandingkan dari tahun 2011 di mana Indonesia berada di peringkat 64 dengan skor 81.

Menanggapi indeks tersebut, juru bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat mengaku Pemerintah sudah berbuat maksimal bekerja. “Kalau ada penilaian seperti itu ya kita setuju. Bagaimanapun juga kita tidak hanya berlari melawan diri sendiri, tapi juga melawan negara-negara lain,” kata dia di Istana Wakil Presiden, Rabu 20 Juni 2012.

Di era keterbukaan, sambung Yopi, Indonesia harus terus melihat tetangga. “Kalau mereka lebih baik, kita harus lebih baik lagi,” imbuhnya. “Kami sudah maksimal, tetap saja harus dipacu lebih keras lagi sisa dua tahun ini.