Monthly Archives: June 2012

Daniel Shalom Hutauruk Tewas Setelah Mobil Innovanya Berplat B 1602 SOJ Terbakar dan Jatuh Meledak Dari Flyover Dekat Seasons City


Peristiwa memilukan menimpa seorang pengendara mobil bernama Daniel Shalom Hutauruk (31). Kontraktor proyek itu tewas terbakar di dalam kendaraannya yang meledak setelah menabrak pagar pembatas jalan layang tol dalam kota ruas Pluit-Grogol-Cawang, Jumat (29/6/2012) dini hari.

Ketika itu Daniel mengemudikan mobil Toyota Kijang Innova dari arah Pluit ke arah Grogol. Saat mobil sampai di atas Jalan Latumenten, Kelurahan Jelambar, Grogolpetamburan, Jakarta Barat, Daniel tak bisa mengendalikan mobilnya. Innova warna silver itu menabrak pagar pembatas jalan layang tol dalam kota dan tersangkut di sana.

Lalu muncul api yang membakar mobil. Api itu kemudian merembet dan menyambar tangki bensin. Mobil pun meledak lalu jatuh ke Jalan Latumenten.

Nyawa Daniel tak bisa diselamatkan. Tubuhnya terbujur kaku di jok mobil dalam keadaan hangus. Warga dan pihak aparat di lokasi kejadian pun segera mengevakuasi mobilnya, lalu membawa jenazah Daniel ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Kanit Laka Lantas Polrestro Jakarta Barat, Ajun Komisaris Rahmat Dahlizar menuturkan, Daniel yang tinggal di Jalan Raya Rantau Indah no 1C, Kelurahan Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu diduga sedang dalam keadaan ngantuk berat.

“Sebelum jatuh dari jalan layang, mobil itu sempat nyangkut di pagar pembatas jalan. Bagian mesin mobil lalu mulai mengeluarkan api, dan akhirnya menyambar tangki bensin dan meledak,” ujar Rahmat di kantornya, Jumat siang kemarin.

Mengantar ibu

Rahmat menjelaskan, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 04.30. Menurut informasi yang didapat Rahmat dari keluarga Daniel di RSCM, disebutkan bahwa sekitar pukul 04.00 Daniel mengemudikan mobil melaju dari Bandara Soekarno Hatta menuju rumahnya.

“Korban baru saja mengantar ibunya ke bandara. Diduga, sebelum mengantar ibunya korban baru selesai nonton pertandingan sepak bola,” kata Rahmat. Dini hari kemarin di televisi memang ditayangkan pertandingan antara Jerman melawan Italia di ajang Piala Eropa 2012.

Dari bandara, Daniel yang diketahui bekerja sebagai pengusaha properti dan kontraktor sejumlah proyek itu kemudian memacu Toyota Innova nomor B 1602 SOJ untuk pulang ke rumahnya. Selepas jalan tol Ir Sedyatmo, Daniel mengambil arah Grogol-Cawang.

Di jalan layang tol arah Grogol itulah, tepatnya di dekat pusat perbelanjaan Seasons City, Daniel tiba-tiba kehilangan kendali. “Diduga korban tertidur dan kakinya masih menginjak pedal gas,” kata Rahmat lagi.

Akibatnya, mobil yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi itu nyelonong dan menghajar pagar pembatas jalan tol yang menikung hingga ringsek. “Saat itu, bagian bawah mobil sempat tersangkut pagar pembatas, sehingga mobil tergantung,” tutur Rahmat.

Tak lama setelah menabrak, bagian depan mobil mulai berasap dan mengeluarkan api. Sejumlah warga yang berada di bawah jalan layang tol terperanjat bukan kepalang melihat peristiwa itu.

Panik, Daniel pun menjerit minta tolong sekeras-kerasnya. “Namun karena posisi dia ada di atas, warga yang melihat dari bawah pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menonton. Mobil lain yang melintas di tol juga tak ada yang berhenti. Korban tidak bisa keluar dari mobil karena posisinya sudah terjepit setir mobil dan jok,” kata Rahmat.

Api kian membesar dan menyelimuti mobil Daniel. Warga yang berada di bawah jalan layang segera mengevakuasi kendaraan-kendaraan mereka agar tidak ikut tertimpa mobil naas tersebut. “Sebagian besar yang ada di sana adalah sopir-sopir kendaraan umum, seperti angkot, bajaj, dan ojek,” ujar Rahmat.

Bola api

Pekikan minta tolong Daniel terhenti setelah mobil tersebut akhirnya meledak dengan dahsyat setelah api menyambar tangki bensin. Ledakan itu membuat Toyota Innova berselimutkan bola api dan kemudian jatuh berdebum dari ketinggian lima meter lebih. Mobil jatuh ke badan Jalan Latumenten, tepatnya di dekat mulut Jalan Semeru.

Teriakan suara warga yang panik pun pecah. Setelah mobil terjatuh beberapa warga menghubungi polisi dan pemadam kebakaran untuk menangani kasus tersebut. Setelah dipadamkan oleh sedikitnya tiga unit mobil pemadam kebakaran, polisi pun mengevakuasi jenazah Daniel yang sudah hangus dan membawanya ke RSCM.

“Hampir tidak ada barang-barang yang bisa diselamatkan, karena semuanya hangus terbakar. Satu-satunya yang ada adalah sebuah STNK atas nama PT Samanda Sejahtera, yang beralamat di Jalan TB Simatupang, no 7A, Tanjung Barat,” kata Rahmat.

Sejumlah saksi mata di lokasi kejadian membenarkan adanya peristiwa itu. “Untung mobilnya nggak langsung terjun. Kalau iya, bisa-bisa nimpa perumahan warga,” ujar Wija (40), seorang tukang ojek di sekitar lokasi.

Iman (37), saksi mata lainnya menuturkan, kala itu ia sedang berada di depan Seasons City bersama kawan-kawannya. “Tahu-tahu denger suara keras banget di fly over. Pas saya liat, ternyata ada mobil nyangkut terbakar,” katanya.

Seorang pengemudi, Daniel Hutahuruk (30) tewas terpanggang api setelah mobilnya jatuh dari jembatan layang (Flyover) Pluit menuju Tomang, Jakarta Barat, Jumat (29/6/2012) sekitar pukul 04.30 WIB.

“Korban pengemudi meninggal dunia di dalam kendaraan dengan kondisi kendaraan terbakar, kasusnya masih dalam penyelidikan petugas,” kata Kepala Satuan Lalulintas Polres Metro Jakarta Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi Sularno saat dihubungi wartawan di Jakarta, Jumat (29/6/2012).

Sularno mengatakan diduga pengemudi mengendarai mobil di luar kontrol sehingga mobil dengan plat nomor B-1262-SOJ tersebut, jatuh di Flyover. Pluit arah Tomang ke badan Jalan Latumenten arah Jaya.

Tercatat korban tinggal di Jalan Raya Rantau Indah Nomor 1/C Tanjung Barat, Jakarta Selatan, sedangkan mobilnya atas nama PT Samanda Sejahtera Jalan TB Simatupang Nomor 7/A Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

Sularno menyebutkan petugas membawa korban ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), guna menjalani visum.

Advertisements

Kini Memaksa Istri Menerima Nafkah Batin Dapat Dipidanakan Di Indonesia Dengan UU KDRT


Pernahkah suami Anda memaksa bercinta? Dalam UU No 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), suami bisa dijerat pidana jika memaksa istrinya bercinta. Tetapi ternyata tidak mudah menjebloskan suami yang main kasar di ranjang.

“Kalimat ‘pemaksaan hubungan seksual’ masih belum jelas dan hanya dijelaskan secara sangat global. Baik di pasal lainnya ataupun di bab penjelasan, tidak ditemukan keterangan lebih mendalam tentang kata ‘pemaksaan’,” kata hakim yustisial Mahkamah Agung (MA), Andi Akram.

Hal ini terungkap dalam disertasi Andi yang diuji di UIN Sunan Gunung Jati, Bandung seperti dilansir website MA, Jumat (29/6/2012).

Dalam pasal 8 UU tersebut menyebutkan kekerasan seksual meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. Hukumannya maksimal 12 tahun penjara atau denda maksimal Rp 12 juta.

“Akibatnya kata itu mengandung banyak pengertian yaitu kekerasan itu terjadi apakah karena istrinya enggan melakukan hubungan, kecapekan atau karena ada faktor lain. Pengertian di atas bisa jadi sangat bias,” ujar Andi dalam disertasi berjudul ‘Studi Hukum Kritis Atas Undang-Undang nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga’.

Menurut Andi, perlu disempurnakan UU tersebut. Meski belum sempurna, UU ini tetap membuka peluang suami duduk di kursi pesakitan gara-gara memaksa istri berhubungan badan.

“Berpegangan dengan ketentuan itu, seorang istri bisa saja menolak setiap ajakan suami untuk berhubungan dengan alasan macam-macam atau tidak sesuai hukum agama. Jika suami memaksa istri dan istri tak berkenan, maka seorang istri berdasarkan UU ini bisa mengajukan suaminya ke meja hijau,” terang Andi.

Disertasi Andi ini menggunakan grand theory negara hukum. Grand theory ini untuk mengkaji kedudukan dan konsekuensi dari legislasi UU No 23/2004.

Middle theory yang digunakan adalah teori perundang-undangan yang menempatkan UU 23/2004 sebagai UU yang disusun secara sistematis sesuai dengan teknik menyusun perundang-undangan yang baik. Sementara aplikasi teori adalah teori maslahah untuk mengkritisi sejauh mana UU PKDRT memiliki nilai-nilai maslahah bagi kehidupan manusia berdasarkan teori maslahah dalam hukum Islam.

Terdakwa Pembunuh Ibu dan Anak Akhirnya Divonis Bebas Karena Terbukti Terpaksa Mengaku Akibat Siksaan Polisi Di Hotel Pondok Nirwarna Jakarta Timur


Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara mengambil keputusan bersejarah. Terdakwa pembunuh ibu dan anak, setelah disiksa polisi dan 8 bulan mendekam di penjara, Kamis (28/6) siang divonis bebas. Hakim menilai, aparat salah tangkap. Bahkan, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Jatanras Polda Metro Jaya dinyatakan gugur.

Kebenaran itu berpihak kepada seorang buruh pabrik bernama Kris Bayudi, 27. Pria ini berhasil membuktikan bahwa ia tidak bersalah hingga Ketua Majelis Hakim Muzaini memvonis bebas Kris Bayudi. Sedangkan terdakwa pembunuh sesungguhnya Rahmad Awafi divonis 15 tahun penjara.

Hukuman tersebut jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Johan Eva yang menuntut terdakwa Rahmad Awafi hukuman mati dan Kris Bayudi 20 tahun penjara.

Begitu hakim mengetuk palu dan menyatakan Kris Bayudi bebas, suasana Pengadilan Negeri Jakarta Utara, heboh. Apalagi sejak awal sidang kasus pembunuhan terhadap Hertati dan anaknya ER, menyedot banyak perhatian pengunjung, karena setiap kali sidang membutuhkan waktu berjam-jam.

Putusan itu disambut isak tangis kedua orangtua Kris Bayudi dan sanak saudaranya. Mereka saling berangkulan. Air mata bahagia menetes di ruang pengadilan.

“Alhamdulillah Allah Maha Besar. Allah menunjukkan kebesarannya. Hari ini anak saya bebas murni, meskipun sempat dipenjara selama delapan bulan,” tutur Ny. Suharti, ibu Kris Bayudi.

Atas putusan bebas tersebut, Jefri Kam dan Yuliana Rosalita, pengacara terdakwa dari LBH Mawar Saron akan menggugat Kapolda Metro Jaya dan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta, karena dianggap membiarkan anak buahnya menangkap sembarang orang hingga penderitaan dialami oleh Kris Bayudi.

“Kris sudah kehilangan pekerjaan dan tidak mendapatkan gaji. Tidak hanya itu, klien saya dimasukin ke bui setelah sebelumnya mendapat siksaan dari penyidik,” ucap Jefri Kam usai sidang.

Menurut Jefri, kesalahan penyidik Jatanras Polda Metro Jaya yang menangkap Kris tidak dibuktikan dengan fakta. Bahkan saat dipersidangan terungkap bahwa Kris tidak pernah didampingi pengacara saat pemeriksaan sesuai dengan KUHP, tetapi dalam BAP dituliskan sudah didampingi.

“Akibatnya ketua majelis hakim langsung mengugurkan BAP penyidik kepolisian karena cacat hukum dan tidak sesuai fakta dimana Kris tidak pernah didampingi pengacara dan adanya kekerasan fisik terhadap terdakwa,” kata Jefri.

MENCARI KEADILAN
Suharti dan Suherman, ibu dan bapak terdakwa Kris bercerita bahwa dia hampir putus asa mencari keadilan sejak 21 Oktober 2011 hingga Juni 2012. Saat anaknya ditangkap di parkiran pabrik tempat kerjanya, dirinya tidak pernah diberitahukan oleh penyidik kepolisian dan tahunya justru dari teman kerja anaknya.

“Saya waktu itu dikabarkan anak saya ditangkap polisi Polda Metro Jaya. Selama lima hari mencari, saya di lempar sana-sini dan tak pernah menjumpai anak saya, hingga akhirnya hari keenam barulah diberitahu oleh polisi bahwa Kris Bayudi masih diperiksa penyidik,” tutur Suharti dengan mata berkaca-kaca.

Begitu bertemu dengan anaknya yang ditetapkan menjadi tersangka, Suharti menangis karena melihat kondisi anaknya saat itu babak belur habis disiksa penyidik. “Saya diceritakan Kris kalau anak saya dijemput paksa di parkiran tempat kerjanya dan dengan mata tertutup dibawa ke hotel Pondok Nirwana Jakarta Timur,” cerita Suharti. “Harusnya pemeriksaan di kantor polisi.”

Saat itu, cerita Suharti menirukan ungkapan Kris, banyak polisi menyiksa anaknya dan memaksa dengan ancaman supaya Kris mengakui saja apa yang diminta polisi. Awalnya tidak mau mengakui, tapi badan anaknya diguyur air dan diancam akan disetrum dengan kabel telanjang. Karena takut mati akhirnya Kris mengakui apa yang diinginkan penyidik.

Dalam sidang yang berlangsung selama satu jam, Muzaini membacakan putusannya, antara lain dalam fakta persidangan dijelaskan bahwa saat terjadinya pembunuhan ibu dan anaknya, Kris Bayudi sedang bekerja di pabrik. Hal ini dibuktikan dengan absen sidik jari. Selain itu ada kejanggalan di BAP kepolisian sehingga terdakwa bebas.

Muhidin Ketua Forum Betawi Rembug (FBR) Pondok Betung ArenTewas Dibunuh Setelah Ditinggal Lari Oleh Anggota Yang Lain


Juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan polisi masih menyelidiki kasus pengeroyokan anggota Forum Betawi Rembug (FBR) di Jalan Ruko Sabar Garuda Asri, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu dinihari.

“Iya, ada penyerangan, tapi polisi masih mencari tahu pelakunya,” ujar Rikwanto dalam pesan pendeknya, Rabu, 27 Juni 2012.

Petugas, lanjutnya, saat ini sedang menelusuri pelaku dan motif pengeroyokan itu. Ia menjelaskan, sekitar 50 orang tak dikenal dengan mengendarai sepeda motor mendatangi posko organisasi massa FBR sekitar pukul 00.30 WIB pada Rabu, 27 Juni 2012.

Saat itu ada sekitar sepuluh anggota FBR sedang berkumpul. “Tiba-tiba saja mereka menyerang,” ucapnya. Kontan, anggota FBR pergi dan menyelamatkan diri. Tapi ternyata seorang anggota FBR, yaitu Muhidin, melakukan perlawanan.

Lantaran tidak seimbang, Muhidin pun tewas dengan luka bacok di sekujur tubuhnya. Belakangan diketahui bahwa Muhidin merupakan Ketua FBR Gardu 287 Pondok Betung.

Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang tetap berkonsentrasi di wilayah perbatasan antara Ciledug dan Pondok Aren, Kabupaten Tangerang. “Kami konsentrasi di perbatasan dan kantong-kantong massa,” kata Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang Komisaris Besar Wahyu Widada saat dihubungi Tempo, Kamis, 28 Juni 2012.

Penjagaan ini dilakukan sejak peristiwa pengeroyokan oleh massa hingga menewaskan Muhidin, Ketua Forum Betawi Rembug. Kejadian ini berlangsung di Jalan Ruko Sabar Garuda Asri, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu dinihari, 27 Juni 2012.

Massa diperkirakan berjumlah 50 orang tak dikenal. Mereka mengendarai sepeda motor kala mendatangi posko organisasi massa itu.

Di posko, terdapat sekitar sepuluh anggota FBR sedang berkumpul. Massa tiba-tiba menyerang. Kontan, anggota FBR itu menyelamatkan diri. Muhidin bertahan dan melawan. Lantaran tak seimbang, ia tewas dengan luka bacok di sekujur tubuhnya.

Wahyu menyatakan pihaknya merazia sejumlah tempat di wilayah Kota Tangerang. Dalam razia tersebut, polisi mengamankan tiga anggota salah satu organisasi massa karena membawa golok. “Saya tidak menangkap anggota organisasi massa, tapi orang-orang yang membawa senjata tajam,” kata Wahyu.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Tangerang Komisaris Besar Wahyu Widada mengatakan telah menangkap tiga orang bersenjata tajam dalam razia di Kota Tangerang. Razia dilakukan setelah Ketua Forum Betawi Rembug, Muhidin, tewas dikeroyok massa.

“Saya tidak menangkap anggota organisasi massa, tapi orang-orang yang membawa senjata tajam,” kata Wahyu saat dihubungi Tempo, Kamis, 28 Juni 2012. Wahyu menyatakan ketiga orang tersebut berasal dari salah satu organisasi massa. Mereka ditangkap lantaran membawa golok. “Ketiganya sedang kami periksa,” kata Wahyu.

Informasi yang diterima Tempo, tiga orang anggota organisasi massa yang ditangkap itu adalah Surono, 32 tahun, warga Sudimara Jaya, Ciledug; Endi Yunus (29), warga Bakung, Kecamatan Cikande, Serang; dan Syamsudin (32), warga Cipadu Jaya, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang.

Ketiganya ditangkap saat menjaga rumah Lurah Muslim, yang disebut sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang PP Kecamatan Ciledug, di Peninggilan Selatan, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Dari tangan mereka, polisi menyita tiga bilah golok berbagai ukuran, dua ponsel, serta satu sepeda motor warna merah-hitam bernomor polisi B 6047 EDB.

Peristiwa pengeroyokan oleh massa hingga menewaskan Muhidin, Ketua Forum Betawi Rembug, berlangsung di Jalan Ruko Sabar Garuda Asri, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu dinihari, 27 Juni 2012. Massa diperkirakan berjumlah 50 orang tak dikenal. Mereka mengendarai sepeda motor kala mendatangi posko organisasi massa itu.

Di posko, terdapat sekitar sepuluh anggota FBR sedang berkumpul. Massa tiba-tiba menyerang. Kontan, anggota FBR itu menyelamatkan diri. Muhidin bertahan dan melawan. Lantaran tak seimbang, ia tewas dengan luka bacok di sekujur tubuhnya.

Bungker Kuno Zaman Belanda Beserta Instalasi Listriknya Ditemukan Di RS Kariadi Semarang


Sebuah bungker misterius yang diduga peninggalan jaman kolonial Belanda ditemukan di kawasan proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) RS Kariadi Semarang. Bungker tersebut ditemukan oleh pekerja proyek saat menggali tanah menggunakan alat berat tiga hari lalu, Sabtu (23/6/2012).

Karyawan kontraktor bagian keselamatan kerja, Mujiyono mengatakan, pihaknya menemukan pintu saat menggali bagian bawah bukit yang tadinya terdapat tempat pembuangan sampah di dekatnya.

“Untuk membuat IPAL, kami menggali dari atas ke bawah. Lalu ketika sampai di bawah kami menemukan tempat tersebut,” kata Mujiyono di RS Kariadi, Jalan Dr. Sutomo, Semarang, Selasa (26/6/2012).

“Kami menggali tanah di sekitar goa secara manual sejak Sabtu lalu,” imbuhnya.

Setelah diukur, bungker tersebut memiliki ketebalan 42 cm, lebar 2 meter, dan kedalaman 5,2 meter. Ketinggiannya diperkirakan mencapai 2 meter. Belum diketahui apakah masih ada akses ke ruang bawah tanah atau tidak karena masih terdapat timbunan tanah setebal 70 cm.

“Nanti timbunan tanah tersebut akan kami gali secara manual untuk mengetahui apa yang ada di dalam goa. Tadinya juga ada pintu besi tua yang sudah karatan setinggi 110 cm,” pungkasnya.

Mujiyono juga menjelaskan, dari material batu bata yang terlihat pada bungker, diduga sudah ada sejak jaman Belanda. Selain itu terdapat instalasi listrik model kuno di dalam yang terhubung dengan tempat lampu yang berada di atas dinding.

“Dilihat dari batu batanya yang tebal, seperti yang ada pada bangunan Lawang Sewu dan Stasiun Tawang,” tutur Mujiyono sembari mengukur ketebalan batu bata dengan tangan.

Sementara itu Humas RS Kariadi, Darwito mengatakan untuk bangunan RS sendiri sudah berdiri sejak jaman kolonial Belanda tahun 1925, namun di dalam denah RS tidak ada bungker dan hanya berupa bukit.

“Bangunan RS sudah ada sejak jaman kolonial tahun 1925. Di denah RS hanya terdapat bukit di sana,” ujar Darwito.

Pabrik Kopi Merk Torabika Meledak Dengan Korban Jiwa Satu Orang


Pabrik kopi merek Torabika di Jalan Raya Serang KM 12,5, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Senin (25/6/2012), sekitar pukul 08.00, meledak. Akibatnya satu orang buruh tewas di tempat, dan tiga orang luka.

Buruh yang tewas bernama Dedi Gunardi (30), dengan luka yang cukup berat di bagian kepala. Sedangkan tiga orang buruh yang luka-luka adalah Andi Riyanto (19), Nanda Irawan (20), luka dan Syahrul (19). “Saat datang ke rumah sakit ini korban sudah tidak bernyawa. Detak jantungnya saat kami periksa sudah tidak ada,” ucap Eka Rini, Humas RS Mulia Insani, Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Untuk tiga buruh yang menderita luka, dibawa ke RSU Ariya Medika, Jatiuwung, Kota Tangerang. Andi menderita luka robek di bagian kepala selebar 10 cm. “Tulang tengkoraknya sampai kelihatan. Jadi cukup parah,” ujar dr Dedi, dokter jaga UGD RSU Ariya Medika kepada Warta Kota.

Sedangkan Nanda menderita luka trauma di bagian punggung. “Tampaknya ada patah tulang. Namun untuk memastikan kami menunggu hasil rontgen dulu. Kalau Syahrul luka trauma di bagian dada,” ucap dr Dedi.

Meskipun dalam kondisi lemah, kata dr Dedi ketiga buruh Torabika itu dibawa pulang oleh pihak perusahaan. “Kami tidak tahu perawatan selanjutnya. Namun untuk Nanda, kami pesan, jika hasil rontgen positif patah tulang maka harus dioperasi,” ucapnya.

Menurut Arul, pemilik warung rokok, yang berada persis di depan pabrik Torabika yang meledak, mengatakan bahwa sekitar pukul 08.00 telah terjadi ledakan dahsyat di lantai tiga pabrik kopi itu. Lantai tersebut adalah area pengolahan creamer kopi.

“Bunyinya luar biasa keras mas. Radius 500 meter masih terdengar,” ujarnya.

Ledakan terjadi di saat para buruh shift pagi sedang memulai kerja. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan bunyi ledakan dari ruang pengolahan creamer itu. Maka dalam tempo sekejap seluruh buruh pabrik yang berjumlah ribuan orang keluar area pabrik.

“Sempat terjadi kemacetan karena para pengemudi juga kaget, karena seperti bom meledak,” tandas Arul.

Pantauan Warta Kota, lokasi pengolahan creamer kopi itu berbentuk menara setinggi 30 meter, dan terbagi beberapa lantai. Akibat ledakan keras itu, tembok pabrik jebol, dan menimbulkan lima lubang berdiameter masing-masing 3 X 3 meter.

Meskipun terjadi musibah, manajemen pabrik kopi Torabika tidak meliburkan aktivitas produksi. Buruh tetap bekerja normal. “Tidak ada informasi mas soal libur. Tetap masuk tuh,” ujar Yanti, buruh pabrik tersebut.

Sementara itu pihak kepolisian tidak melakukan penyegelan terhadap pabrik tersebut. Menurut Kasat Reskrim Polres Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga, pihaknya masih melakukan penyelidikan akibat ledakan tersebut.

“Tim masih mendalami apa penyebab ledakan itu. Jika memang karena kesalahan manajemen, bisa diambil tindakan tegas,” ucapnya.

Teroris Imam Samudra Danai Kelompoknya dari Mencuri Rekening Nasabah


Kelompok teroris melalui beragam cara melakukan penggalangan dana demi menyokong kegiatan teror. Dana itu didapatkan dari mulai perampokan sampai dengan hacking komputer seperti yang dilakukan RG, salah satu jaringan bom Solo. Sebenarnya, aksi kejahatan kelompok teror tersebut sudah mulai dilakukan kelompok Imam Samudra dalam menjalankan teror bom Bali 1.

“Imam Samudra pernah melakukan kegiatan membobol rekening nasabah dengan pola hacking,” kata Direktur Penindakan BNN, Brigjen Polisi Benny Mamoto, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (26/6/2012) dini hari.

Aksi kejahatan Imam dan kawan-kawan tersebut bertujuan untuk membiayai aksi terornya di Indonesia. Mereka, kata Benny, membeli kebutuhan-kebutuhan eksekusi lapangan dari hasil hacking.

“Artinya, mereka ini sudah berpikir canggih dengan memanfaatkan kemampuan IT yang dimilikinya,” terang Benny yang pernah terlibat dalam pemeriksaan tahanan-tahanan teroris di Afghanistan ini.

Perwira tinggi polisi yang pernah mewawancarai otak di balik otak Bom Bali 1 ini menjelaskan, meski kegiatan hacking yang dilakukan kelompok Imam Samudra tidak sebesar jaringan Solo, namun apa yang mereka belanjakan tersebut cukup membantu aksi teror yang sudah direncanakan.

“Setelah mendapatkan hasil dari hacking, mereka langsung belanjakan kebutuhan surveillance (pemantauan objek),” terang doktor yang juga dosen kriminologi di UI ini.

Lebih lanjut Benny mengatakan, dengan kemampuan menguasai teknologi kelompok Imam Samudra leluasa berkomunikasi dengan kelompok teror yang berada di luar negeri. Bahkan, kata Benny, saat berada di dalam penjara mereka masih bisa berkomunikasi melalui internet.

Diketahui, aksi cyber crime menjadi modus baru kelompok teroris mendanai aksinya. Seperti dilakukan RG yang ditangkap Densus 88. Ahli IT ini membobol situs forex trading dan uang ratusan juta yang diperolehnya, di antaranya untuk membiayai pelatihan teroris di Poso dan membeli senjata api.

“Yang bersangkutan memberikan dukungan Rp 667 juta untuk pelatihan paramiliter di Poso,” ungkap Kabag Penum Polri, Kombes Boy Rafli Amar, di Jakarta, Jumat (22/6).

Selain itu, RG yang ditahan sejak Mei lalu diketahui juga memberikan sokongan dana untuk pembelian senjata bagi kelompok teroris sebesar Rp 200 juta. Namun temuan ini masih diperlukan pendalaman lebih lanjut.