Categories
Korupsi

Tomy Hendratno Kasi KPP Sidoarjo Alumni STAN Ditangkap KPK Di Warung Padang Tebet Ketika Menerima Uang 285 Juta Dari Pengusaha


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Tomy Hendratno, Kasi pelayanan dan konsultasi di KPP Sidoarjo. Ini bukan kasus korupsi pertama yang terjadi di Ditjen Pajak. Kemenkeu harus lebih tegas melakukan pengawasan. “Menkeu perlu lebih keras dan tegas terhada bawahannya, apalagi sudah mereformasi diri,” kata Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas Kamis (7/6/2012). Menurut Busyro, operasi tangkap tangan ini menegaskan masih adanya demoralisasi di komunitas jajaran pajak. Sekaligus juga memperlihatkan para pengusaha hitam yang mencoba bermain dengan pegawai pajak.

Karena itu, diperlukan sebuah pengawasan ekstra. Jangan sampai para pegawai menjadikan suap sebagai sarana untuk menambah pundi-pundi harta panas. “Sistem pengawasan internal masih sangat lemah,” tegas Busyro. Tomy tertangkap setelah kedapatan menerima uang senilai Rp 285 juta di Warung Padang, di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Bersama seorang kerabatnya, dia diduga menerima duit dari James Gunarjo, seorang pengusaha. Hingga kini, Tomy masih diperiksa tim penyelidik KPK. Statusnya akan ditentukan setelah 24 jam dari penangkapan.

Tomy Hendratno, Kasi pelayanan dan konsultasi di KPP Sidoarjo Selatan ditangkap KPK bersama dua orang lainnya pada Rabu (7/6/2012). Tomy diketahui satu angkatan dengan Dhana Widyatmika di STAN. Berdasar informasi yang dihimpun, Tomy lahir pada tahun 1974 atau berusia 38 tahun. Dia adalah jebolan STAN pada 1996, satu angkatan dengan Dhana yang masuk pada tahun 1993 dan lulus pada tahun yang sama dengan Tomy. Tomy dan Dhana adalah kakak kelas Gayus Tambunan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Gayus masuk STAN pada 1997 dan lulus pada 2000.

Gayus dan Dhana adalah pegawai golongan tiga Dirjen Pajak yang kini ditahan dalam kasus pengemplang pajak miliaran rupiah. Direktur Humas Direktorat Jenderal Pajak, Dedi Rudaedi, tidak mengetahui mengenai tahun angkatan Tommy di STAN. Namun dia memastikan Tomy memiliki pangkat yang lebih tinggi dengan Gayus Holomoan Tambunan dan Dhana Widyatmika. “Pangkatnya akan lebih tinggi dari Gayus dan DW. Dia adalah Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi,” kata Dedi di kantor KPK, Rabu 6 Juni malam.

Menurut Dedi, tugas Tommy adalah mengawasi proses perpajakan di kantornya. Klien kantor Tommy, diperkirakan mencapai 10 ribu wajib pajak. Tommy juga yang menangani bila wajib pajak ingin berkonsultasi. Tommy tertangkap setelah kedapatan menerima uang senilai Rp 285 juta di Warung Padang, di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Bersama seorang kerabatnya, TH diduga menerima duit dari James Gunarjo, seorang pengusaha.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tiga orang pada Rabu (6/6) siang terkait pengurusan pajak. Salah satu orang yang ditangkap adalah TH, seorang Pegawai Pajak Sidoarjo. Siapa dia? Informasi yang dikumpulkan, TH kepanjangan dari Tomy Hendratno. Dia saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan dan Konsultasi KPP Sidoarjo Selatan. Menurut Direktur Pelayanan dan Humas Pajak Dedi Rudaedi, Tomy lebih tinggi pangkatnya dibandingkan Gayus Tambunan dan Dhana W, dua pegawai Ditjen Pajak yang juga terseret korupsi.

“Kalau melihat pangkat seorang kepala seksi tentu lebih tinggi dibanding Gayus dan DW,” ujar Direktur Pelayanan dan Humas Pajak, Dedi Rudaedi, di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jaksel, Rabu (6/6/2012). Tugas Tomy adalah mengawasi pekerjaan para Account Representative. Tomy bertugas sebagai tempat konsultasi para wajib pajak. “Mereka jadi tempat konsultasi,” kata Dedi. Dedi tidak bisa merinci perusahaan apa saja yang ada di kantor Pajak Sidoarjo. “Ada 10 ribu wajib pajak yang ditangani kantor tersebut,” tegas Dedi. Sebelumnya, TH bersama dua orang lainnya ditangkap KPK di sebuah restoran di Tebet, Jaksel. Bersama mereka, ditemukan sejumlah uang berkisar Rp 300 juta.

Kepala Seksi Pelayanan dan Konsultasi KPP Sidoarjo Selatan, TH, ditangkap KPK karena menerima suap dari JG. Beredar informasi, JG berasal dari perusahaan modal PT Bhakti Investama Tbk, bagian dari grup MNC. Benarkah? Seorang penegak hukum membisikkan, JG bernama asli James Gunardjo. Dia adalah pegawai Bhakti investama. “Iya perusahaan itu,” terang salah satu penegak hukum, Kamis (7/6/2012). Mengenai keterlibatan Bhakti Investama sebenarnya sudah ditanyakan kepada Juru Bicara KPK Johan Budi. Namun Johan mengaku belum mengetahui mengenai hal itu. Penyidik saat ini masih terus memeriksa TH.

“Itu masih ditelusuri, masih proses penyelidikan,” kata Johan dalam jumpa pers di Gedung KPK, Rabu (6/6) kemarin. Sementara itu, Direktur Pelayanan dan Humas Pajak, Dedi Rudaedi, sendiri mengaku tidak tahu perihal keterlibatan Bhakti Investama. “Saya nggak punya data-datanya,” terang Dedi yang ikut menemani Johan. Corporate Secretary MNC Arya Sinulingga saat dikonfirmasi membantah kabar ini. Menurut dia, tak ada karyawan Bhakti Investama bernama James Gunardjo. “100 persen bukan pegawai Bhakti Investama. Jadi tidak ada itu,” ucap Arya saat dikonfirmasi.

Tim KPK Rabu (6/6) sore menangkap tiga orang salah satunya adalah Tomy Hendratno Kepala Seksi dan Pengawasan di KPP Sidoarjo di salah satu rumah makan di bilangan Tebet Jaksel. Petugas KPK sudah mengintai sejak pagi hari.

Berikut kronologi penangkapan berdasarkan penyataan dari Jubir KPK Johan Budi dan Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak Dedi Rudaidi dalam konferensi pers di kantor KPK, Jl Rasuna Said, Jaksel, Rabu (6/6/2012).

Rabu Pagi
Tim dari KPK sudah mendapatkan informasi Tomy akan datang dari Sidoarjo Jatim guna menemui JG, seorang pengusaha yang menjadi wajib pajak, diduga untuk melakukan transaksi suap.

Rabu Siang
Tomy tiba di Jakarta bersama salah seorang kerabatnya. Nah dalam posisi ini, tim KPK awalnya mendapatkan informasi pertemuan tidak akan dilakukan di rumah makan, namun di tempat lain. Namun karena sesuatu hal, kedua belah pihak memutuskan untuk ‘bertransaksi’ di salah satu rumah makan di Tebet.

Pukul 14.00 WIB
Tim KPK yang sudah mengintai dan membuntuti sejak pagi menangkap Tomy dan seorang kerabatnya serta JG di salah satu rumah makan di Tebet. Dari sekian banyak anggota tim yang dikerahkan, empat orang petugas KPK maju untuk melakukan penangkapan, sementara yang lain menunggu di luar. Dalam penangkapan itu petugas KPK menemukan amlop coklat yang hendak diserahkan oleh JG kepada Tomy. Berdasar informasi yang beredar, amplop itu berisi Rp 285 juta.

Pukul 17.00 WIB
Setelah melakukan penangkapan, dan melakukan interogasi singkat, petugas menggiring tiga orang yang ditangkap tersebut ke kantor KPK. Ketiganya sampai saat ini masih menjalani pemeriksaan di lantai 7 KPK, tempat proses penyelidikan berlangsung.

KPK menangkap TH, JG dan seorang lagi di sebuah rumah makan di Tebet, Jakarta Selatan. Ketiga orang tersebut diduga tengah melakukan pengurusan pajak. “Dilakukan penangkapan karena kita duga ada penerimaan uang yang dilakukan TH dari JG yang diduga berkaitan dengan kepengurusan pajak,” kata juru bicara KPK, Johan Budi, di kantornya, Jl HR Rasuna Said, Jaksel, Rabu (6/6/2012). Mereka bertiga ditangkap sekitar pukul 14.00 WIB di Tebet. Sekitar pukul 17.00 WIB, ketiga orang tersebut diboyong ke KPK dan langsung menjalani pemeriksaan.

“Sampai sekarang masih menjalani pemeriksaan,” tegasnya. Ada juga uang ratusan juta yang hingga saat ini masih dihitung oleh penyidik. “Tapi sepertinya di atas Rp 200 juta,” tandas Johan.

Baca Juga: Tommy Hindratno Korban Program Whistle Blower Direktorat Jenderal Pajak Ternyata Hartanya Sedikit dan Tidak Sebanyak Gayus Yang Ditangkap Bukan Melalui Program Whistle Blower

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s