Monthly Archives: July 2012

Kasus Korupsi Di Korlantas Terungkap KPK Karena Barang Dibeli Dipasaran Harga 80 Juta Dijual 250 Juta


Mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Djoko Susilo disebut-sebut sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek simulator alat uji test surat izin mengemudi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Penyidik KPK sudah melakukan penggeledahan di kantor Korps Lalu Lintas Mabes Polri di Jalan M.T. Haryono Kaveling 15, Jakarta Selatan, sejak Senin sore kemarin sampai Selasa dinihari. Lihat: Kantor Korps Lalu Lintas Polri Digeledah KPK

Sumber Tempo mengatakan penggeledahan itu dilakukan karena KPK sudah memastikan kasus dugaan korupsi simulator SIM masuk tahap penyidikan. “Seorang jenderal bintang dua sudah jadi tersangka,” katanya.

Penelusuran Tempo, jenderal bintang dua yang sebelumnya disebut-sebut terlibat dalam proyek itu adalah Irjen Polisi Djoko Susilo. Saat Djoko menjabat sebagai Kepala Korps Lalu Lintas, proyek ini digelar. Sekarang Djoko menjabat sebagai Gubernur Akademi Kepolisian.

Hingga berita ini diturunkan, belum seorang pun pimpinan KPK yang bisa dimintai komentarnya. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto tidak menjawab pesan yang dikirimkan lewat BlackBerry-nya. Demikian juga Kabag Humas Polri Komisaris Besar Boy Rafly Anwar.

Sebelumnya, pengacara dari terdakwa korupsi proyek pengadaan simulator SIM Bambang S. Sukotjo meminta pihak Komisi Pemberantasan Korupsi mengecek adanya dugaan mark-up dalam proyek simulator itu. Ia berkata, biaya yang dibayarkan Direktorat Lalu Lintas untuk simulator itu terlalu besar untuk tidak disebut mark-up.

“Saya yakin sekali itu mark-up, tidak mungkin tidak. Keuntungan yang diterima Budi Susanto (pemilik PT Citra Mandiri Metalindo) terlalu besar,” ujar pengacara Bambang, Erick S. Paat.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Direktorat Lalu Lintas Mabes Polri melakukan pembelian simulator SIM sepeda motor dari PT Citra Mandiri Metalindo seharga Rp 77,79 juta per unit. Padahal, simulator SIM sepeda motor itu dibeli Budi dari PT Inovasi Teknologi Indonesia (perusahaan milik Bambang) dengan harga Rp 42,8 juta per unit.

Sementara untuk harga simulator mobil, diketahui, Budi menjual kepada Direktorat Lalu Lintas seharga Rp 256,142 juta per unit. Padahal, simulator itu dibeli Budi dari perusahaan Bambang seharga Rp 80 juta per unit.

Mengacu pada angka yang dipasang Budi per simulator, Erick mengatakan bahwa hitungannya menunjukkan Budi memperoleh keuntungan lebih dari 100 persen. Padahal, ujar Erick, prosentase keuntungan normalnya di bawah angka 100 persen.

“Saya pernah melakukan riset, untuk proyek besar seperti simulator SIM itu, pedagang biasanya hanya cari untung 10-20 persen. Kalau sampai 100 persen, jelas itu mark-up,” ujar Erick.

Mengetahui adanya mark-up tersebut, Erick meminta KPK untuk segera menanganinya. Ia juga mengatakan bahwa Budi harus diperiksa sebagai salah satu yang terlibat dalam proyek pengadaan simulator SIM tersebut.

Ketika Tempo menanyakan tanggapan Erick mengenai bantahan Mabes Polri bahwa Kepala Korps Lalu Lintas Inspektur Jenderal Djoko Susilo terlibat suap dalam kasus proyek pengadaan simulator SIM, ia mengaku bahwa hal itu sudah ia duga. Dan, menurut Erick, silakan saja polisi terus membantah pernyataan kliennya.

“Klien saya hanya mengatakan apa adanya dan itulah yang kami terima. Terserah polisi mau menerima atau tidak,” ujar Erick.

Terakhir, Erick mengatakan bahwa kasus yang tengah dijalani kliennya kali ini memang tergolong berat. Pasalnya, barang bukti yang dikumpulkan sangat minim dan sejauh ini hanya ada dua saksi untuk kasus yang menimpa kliennya. Meskipun begitu, Erick optimistis kliennya bisa menghadapinya.

“Kami bisa bergerak dari kasus mark-up dan aliran dana ke kepolisian. Pintu masuk untuk pengusutannya di situ,” kata Erick.

Sebelumnya, juru bicara Mabes Polri, Irjen Saud Usman Nasution, membantah adanya aliran dana ke pihak kepolisian. Namun temuan Tempo menunjukkan hal sebaliknya. Tempo menemukan adanya bukti transfer sejumlah uang kepada Primer Koperasi Polisi (Primkopol) dan Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum).

Hingga petang ini, sejumlah petugas Komisi Pemberantasan Korupsi masih tertahan di kompleks Korps Lalu Lintas Polri di Cawang, Jakarta Timur. Petugas KPK yang ditemui di sekitar Korlantas mengatakan masih menyiapkan sejumlah barang bukti.

“Sedang disiapkan untuk dibawa,” ujar salah seorang petugas KPK, Selasa, 31 Juli 2012.

Petugas tersebut mengatakan ia tak sendirian di kompleks Korlantas. “Masih ada yang lain di dalam,” katanya. Mereka, kata dia, masih berada di lantai satu dan dua kantor tersebut.

Siang tadi, sekitar sepuluh mobil KPK keluar dari kantor Korlantas. Dalam penggeledahan di lantai tiga kantor tersebut, petugas membawa puluhan kardus dokumen beserta dua perangkat mesin cetak.

Penggeledahan oleh petugas lembaga antirasuah itu dilakukan sejak pukul 16.00, Senin kemarin. Sudah lebih dari 24 jam petugas KPK tertahan di Korlantas.

Pagi tadi, sekitar pukul 09.30, sebenarnya penggeledahan ini sudah rampung. Ini terlihat dari beberapa petugas dengan rompi bertuliskan “KPK” sedang memasukkan barang bukti berupa belasan kardus ke dalam mobil.

Namun, kardus-kardus yang sudah tertutup rapat itu justru dibawa kembali ke ruangan yang telah digeledah, yang terletak di lantai dua, bersama sejumlah polisi.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anang Iskandar mengatakan polisi tidak mempersulit upaya tim KPK. “Kami juga sedang menyelidiki kasus yang sama. Masak satu barang bukti ditangani dua lembaga?” ujarnya.

KPK telah menetapkan mantan Kepala Korlantas Mabes Polri Inspektur Jenderal Djoko Susilo sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan alat simulator kendaraan roda dua dan roda empat. Djoko diduga terlibat dalam penggelembungan proyek itu.

Ikan Paus Terdampar Lagi Di Perairan Muara Gembong Bekasi


Seekor paus terdampar di perairan Muara Gembong, Bekasi tadi pagi. Paus tersebut diduga merupakan paus yang sama dengan paus yang beberapa hari lalu berhasil di selamatkan di perairan Karawang, Jawa Barat. “Itu paus yang sama,” Kata petugas jaga Polsek Muara Gembong, Bripda Hendra saat di hubungi detikcom, Senin (30/7/2012).

Namun, Hendra tidak memberitahu ciri-ciri apakah paus yang terdampar tersebut merupakan paus yang kemarin baru saja berhasil di selamatkan di perairan Karawang. “Saat ini paus tersebut masih di jaga oleh warga sekitar,” ujarnya.

Sebelumnya seekor bayi paus sperma terdampar selama empat hari di perairan Karawang, Jawa Barat. Butuh empat hari bagi tim evakuasi untuk melepas sang paus langka ke laut bebas.Seekor paus kembali terdampar di wilayah Perairan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat. Belum diketahui apakah paus tersebut adalah paus yang sama dengan yang terdampar di Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat kemarin.

“Info yang kita dapat pukul 18.30 WIB terdampar di Desa Beting, Muara Gembong,” ujar Kordinator Satwa liar Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Indonesia, Benvika saat dikonfirmasi detikcom, Senin (30/7/2012).

Benvika mengatakan tim JAAN sedang menuju lokasi untuk memastikan apakah itu paus yang kemarin atau bukan. Tim juga akan memastikan apakah puas tersebut kondisinya masih hidup atau mati. “Infonya banyak luka dipunggung, kalau paus yang kemarin, masyarakat banyak turun dan menaiki sehingga banyak luka. Untuk memastikan apakah paus yang kemarin itu ada luka di ekornya karena masyarakat menarik dengan tambang, akhirya terluka,” jelasnya.

Sebelumnya seekor bayi paus sperma terdampar selama empat hari di perairan Karawang, Jawa Barat. Butuh empat hari bagi tim evakuasi untuk melepas sang paus langka ke laut bebas.Paus yang terdampar di perairan Muara Gembong, Bekasi, Minggu pagi (29/7) diduga telah mati. Hal itu diketahui dari mulut paus tersebut yang mengeluarkan banyak darah.

“Menurut warga, Paus tersebut sudah meninggal. Soalnya keluar darah dari mulutnya,” kata petugas jaga polsek Muara Gembong Bripda Hendra, saat dihubungi detikcom, Senin (30/7/2012). Menurut Hendra, saat ini paus tersebut masih terdampar dan belum di lakukan evakuasi apapun sejak tadi pagi. Dikarenakan letak paus yang jauh dari pemukiman.

“Hanya sedikit warga yang mengetahuinya, Jadi masih di perairan,” ujar Hendra. Hendra membantah jika ada informasi yang menyebut paus tersebut akan di potong-potong oleh warga. “Tidak ada yang mau potong-potong,” jawabnya.Paus yang terdampar di Perairan Muara Gembong, Bekasi Jawa Barat diduga paus yang sama dengan yang beberapa hari lalu diselamatkan di perairan Karawang. Paus tersebut diduga mati karena kelelahan akibat luka pada tubuhnya.

“Pertama paus ini sakit, sehingga kondisinya lemah,” ujar Kordinator Satwa liar Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Indonesia, Benvika kepada detikcom, Senin (30/7/2012). Benvika mengatakan dalam kondisi yang sakit ini Paus tersebut kehabisan tenaga untuk berenang di laut lepas. Sehingga tubuhnya kembali terbawa oleh arus laut ke bibir pantai.

“Selain itu, paus tersebut juga tidak makan selama 4 hari saat terdampar di Karawang. Luka ditubuhnya juga cukup parah, terutama dibagian ekor yang sempat ditarik pakai tali tambang oleh warga,” tuturnya. Paus sperma ini juga diketahui masih bayi. Paus sperma yang hidup berkelompok ini jika salah satu anggota keluarganya ada yang sakit maka dia harus menyingkir atau diasingkan.

“Paus ini belum ketemu keluarganya. Biasanya kalau sakit, dia harus menyingkir dari kelompok,” paparnya.Polisi meyakinkan bahwa warga sekitar tidak akan potong-potong paus yang diduga meninggal di perairan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat. Sampai saat ini Paus tersebut masih berada di perairan dan belum di evakuasi.

“Tidak ada warga yang mau potong-potong,” kata petugas jaga Polsek Muara Gembong, Bripda Hendra saat dihubungi detikcom, Senin (30/7/2012).

Paus tersebut saat ini masih dijaga oleh warga sekitar dibantu oleh petugas polairud. Dan baru akan di evakusi besok pagi.

“Besok pagi baru akan mengevakuasi,” ujarnya.

Informasi rencana pemotongan paus oleh warga ini dikhawatirkan oleh para aktivis JAAN. Karena paus tersebut diketahui sudah mati, maka dikhawatirkan warga melakukan tindakan-tindakan yang tidak dinginkan seperti mengambil bagian tubuh paus tersebut untuk kepentingan pribadi.

Sebelumnya diberitakan warga menemukan paus terdampar di perairan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, sejak Minggu pagi 06.00 WIB. Paus tersebut diduga sama dengan paus yang diselamatkan di perarian Karawang beberapa hari lalu.

169 Personel Kopassus Lulus Kursus Komando


Sebanyak 169 personel Kopassus termasuk 4 personel dari Angkatan Bersenjata Kerajaan Kamboja (RCAF) berhasil lolos dalam pendidikan Kursus Komando Angkatan 92 di Pantai Permisan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Minggu (29/7/2012). Upacara penutupan dilakukan langsung oleh Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus Mayjen TNI Agus Sutomo.

Dalam amanatnya, Agus mengatakan, tidak semua prajurit didik berhasil menjadi Prajurit Komando. Oleh karena itu, setiap prajurit harus bisa bersyukur dan melihat tantangan ke depan.

“Prajurit Komando yang telah dilatih secara khusus maka para prajurit harus mampu menjawab tantangan tugas, seiring dengan bertambahnya tanggung jawab menghadapi kompleksitas dalam tantangan tugas,” kata Agus, Minggu (29/7/2012), seperti yang tertulis dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Ia berharap agar seluruh prajurit Kopassus di mana pun berada dan bertugas selalu berupaya untuk memberi arti dan peduli terhadap lingkungannya serta memberi solusi terhadap berbagai permasalahan.

Selain itu, prajurit Kopassus harus selalu berlatih dan berlatih untuk mencapai berprestasi demi keharuman korps baret merah.

Adapun, penutupan pendidikan ini ditandai dengan Serangan Regu Komando (Seruko) yang dilaksanakan pada waktu fajar di Pantai Permisan yang merupakan rangkaian kegiatan terakhir dari keseluruhan tahapan Pendidikan Kursus Komando. Pendidikan yang telah berlangsung selama tujuh bulan tersebut terbagi menjadi tiga tahap yakni tahap basis, tahap gunung hutan, tahap rawa laut.

Pendidikan Kursus Komando Angkatan 92 ini telah berhasil meluluskan 169 personel termasuk 4 personel dari Angkatan Bersenjata Kerajaan Kamboja (RCAF). Keluar sebagai peserta didik terbaik antara lain Perwira terbaik Letda Inf Denny Sopyan, Bintara terbaik Serda Bambang SB, dan Tamtama terbaik Prada Anas Rifai. Upacara penutupan juga dihadiri oleh Athan Kamboja, para pejabat teras Kopassus dan pejabat Muspida serta orangtua siswa.

R.A. Kosasih Legenda Bapak Komik Indonesia Wafat Pada Usia 93 Tahun


Sosok R.A. Kosasih, yang wafat dalam usia 93 tahun pada Rabu lalu, punya tempat tersendiri dalam jagat komik Nusantara. Ia pelopor sekaligus teladan bagi generasi yang lahir setelahnya. Karya-karyanya merupakan monumen yang bisa mendefinisikan identitas komik Indonesia dengan jelas.

“Almarhum merupakan komikus pertama yang meluncurkan karyanya dalam bentuk buku. Pantas jika dia didaulat sebagai Bapak Komik Indonesia,” ujar pengamat komik, Hikmat Darmawan.

Menurut Hikmat, karya-karya Kosasih punya karakter yang sangat kuat. Ia tidak hanya berhasil mengangkat tokoh-tokoh bermuatan lokal, tapi juga mampu menyampaikan nilai-nilai tradisi yang mengakar dalam masyarakat. Semua itu divisualisasi dalam panel-panel komik yang mudah dipahami.

“Dia seorang story teller yang baik. Semua karyanya selalu punya unsur lokal. Inovasi yang banyak ditinggalkan komikus sekarang,” ujarnya.

Sedikitnya ada 100 buku komik yang pernah dibuat Kosasih semasa hidupnya. Seluruh karyanya memiliki sejarah panjang yang merentang sejak 1953. Muncul dengan berbagai genre, seperti superhero, komik wayang, folklor, fiksi ilmiah, dan petualangan. Sebelum itu, pria yang lahir di Bogor pada 4 April 1919 itu mengambil posisi yang sama laiknya dengan para komikus yang lahir pada zamannya: bekerja sebagai komikus strip di koran-koran.

Pada masa-masa jayanya, sekitar 1960-1970, komik Kosasih mampu terjual puluhan ribu eksemplar per judul. Bahkan banyak di antaranya yang dicetak ulang. Buku serialnya yang pertama adalah Sri Asih, tokoh superhero wanita yang ia adopsi dari kisah Wonder Woman. Kosasih membuat serial Sri Asih sesuai dengan cerita-cerita lokal yang sedang populer saat itu. Misalnya edisi Sri Asih Vs Gerombolan, yang diilhami berita teror DI/TII yang saat itu ramai diberitakan.

Sukses dengan Sri Asih, Kosasih melanjutkannya dengan serial baru dengan tokoh bernama Siti Gahara. Perbedaan karakter antara Sri Asih dan Siti Gahara sebenarnya tidak terlalu banyak. Keduanya cantik, sakti, dan penolong kaum lemah. Bedanya, Sri Asih mengenakan kostum wayang Sunda, sedangkan Siti Gahara mengenakan celana Aladin dari kisah 1.001 Malam. Tidak lama, ia kembali mengenalkan tokoh superhero wanita yang lain lewat serial Sri Dewi.

Omzet yang diperoleh Kosasih dan sejumlah komikus lain sempat turun drastis saat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) menuding karyanya mencerminkan kebudayaan Barat. Sadar akan serangan itu, ia mencoba menandinginya dengan membuat komik-komik berdasarkan cerita klasik lokal, seperti Mundinglaya Dikusuma dan Ganesha Bangun. Ia pun mencoba menarik simpati pasar dengan melahirkan komik bergenre cerita pewayangan.

Namun idenya itu bukanlah tanpa hambatan. Pihak penerbit khawatir produk itu gagal diserap pasar lantaran wayang masih dianggap produk budaya yang sakral. Tapi penolakan itu tidak membuatnya putus asa. Ia mencoba mengomikkan Burisrawa Gandrung, sebuah kisah wayang yang dianggapnya tak berbelit-belit. Di luar dugaan, komik setebal 48 halaman itu laku keras. Maka mulailah Kosasih mengembangkan ide komik dari kisah klasik Mahabharata dan Ramayana.

Ketertarikannya dengan dunia komik berawal sejak kecil. Ia mengenang masa-masa saat masih sekolah di Inlands School, Bogor. Kala itu ia masih kelas I sekolah dasar. “Ketika masih kelas I SD, saya selalu menunggu ibu kembali dari pasar. Soalnya, bungkusan sayur-mayur belanjaan ibu biasanya potongan koran yang ada komiknya. Saya ambil bungkusan sayur itu, saya baca komik Tarzan, meski cuma sepotong-sepotong,” katanya kepada wartawan Tempo, Leila Chudori, beberapa tahun lalu.

Bungsu dari tujuh bersaudara ini merupakan pengagum berat tokoh Gatotkaca, karena tokoh superhero ini bisa terbang. Karena itu, selain memburu komik potongan, Kosasih kecil rajin menonton bioskop dan wayang golek. Setelah lulus dari Inlands School, Kosasih melanjutkan pelajaran ke Hollandsch Inlands School (HIS) Pasundan. Di sanalah ia mulai tertarik pada seni menggambar secara formal. Saking getolnya, semua bukunya nyaris beralih fungsi menjadi buku gambar.

Tak bisa dimungkiri, perjalanan hidup Kosasih punya andil yang tidak kecil dalam sejarah komik Nusantara. Ia berhasil meninggalkan jejak emas yang memperkenalkan epik cerita pewayangan dalam panel komik yang sederhana lagi menghibur. Kini, dalam tidurnya yang damai, ia patut berbahagia. Ribuan atau mungkin jutaan pembaca komiknya di seantero Indonesia akan selalu mengenangnya dengan takzim. Selamat jalan, Pak….

Bapak Komik Indonesia, RA Kosasih wafat di usia 93 tahun. Jenazah Kosasih disemayamkan di kediamannya, Jalan Cempaka Putih III Nomor 2 Rempoa, Ciputat, Jakarta Selatan.

“Tadi saya kontak dengan cucunya Adin, Bapak RA Kosasih meninggal dunia,” kata Wakil Ketum Gerindra Fadli Zon kepada detikcom, Selasa (24/7/2012).

Kosasih yang dikenal dengan karya-karyanya seperti Sri Asih, Mahabharata dan Ramayana meninggal dunia pada pukul 01.00 WIB. Berdasarkan catatan yang dilansir Wikipedia, karya Kosasih banyak berhubungan dengan kesusastraan Hindu dan sastra tradisional Indonesia, terutama dari sastra Jawa dan Sunda.

Kosasih memulai kariernya pada penerbit Melodi di Bandung. Namun karya-karyanya yang terkenal diterbitkan oleh Maranatha. Akhir-akhir ini pada dasawarsa tahun 1990-an karya-karyanya diterbitkan ulang oleh Elex Media Komputindo dan penerbit Paramita di Surabaya.

Kosasih, yang wafat dalam usia 93 tahun pada Rabu lalu. Sedikitnya ada 100 buku komik yang pernah dibuat Kosasih semasa hidupnya.

Seluruh karyanya memiliki sejarah panjang yang merentang sejak 1953. Muncul dengan berbagai genre, seperti superhero, komik wayang, folklor, fiksi ilmiah, dan petualangan. Sebelum itu, pria yang lahir di Bogor pada 4 April 1919 itu mengambil posisi yang sama laiknya para komikus yang lahir pada zamannya: bekerja sebagai komikus strip di koran-koran.

Inilah kisah perjalanan Kosasih:

1939
* Kosasih melamar pekerjaan sebagai juru gambar, membuat ilustrasi buku-buku terbitan Departemen Pertanian Bogor. Di sela kesibukannya bekerja sebagai juru gambar, ia juga bekerja sebagai pelukis komik di harian Pedoman Bandung.
* Komik serial pertamanya diluncurkan. Tokoh utamanya adalah wanita superhero: Sri Asih. Lalu berlanjut dengan serial Siti Gaharadan Sri Dewi.
* Omzet hasil penjualan komik Kosasih turun setelah Lekra menuding komik-komiknya mencerminkan budaya kebarat-baratan.
* Membanjirnya komik Cina membuat Kosasih dan rekan-rekannya melahirkan komik yang mengangkat cerita klasik lokal, seperti Mundinglaya Dikusuma dan Ganesha Bangun.

1953
Kosasih mendapat gagasan untuk menggambar komik wayang. Tapi gagasan itu ditolak penerbitnya, Melodi. Penolakan itu tidak membuatnya putus asa. Ia mencoba mengomikkan kisah wayang Burisrawa Merindukan Bulan. Dan ternyata laku keras. Reaksi pasar yang baik mendorong Kosasih mengembangkan ide-ide komik wayang, dari kisah-kisah klasik Mahabharata dan Ramayana.

1955
Karena permintaan melukis komik semakin meningkat, Kosasih memutuskan berhenti dari pekerjaannya di Departemen Pertanian. Kosasih sempat beralih ke komik superhero, seperti Kala Denda. Tapi, kostum, gerak-gerik tokoh, serta dialognya masih terpengaruh wayang.

1960-an
* Terjadi perubahan manajemen penerbit Melodi yang membuat nafkah Kosasih hanya bergantung pada royalti cetak ulang.

* Ia kembali diminta bekerja lagi di Departemen Pertanian. Tawaran itu diterima, meski hanya bertahan beberapa bulan.

* Satu-satunya kreasi baru Kosasih pada masa ini adalah serial Cempaka, Tarzan wanita versi Indonesia.

1964
Kosasih pindah ke Jakarta. Melalui penerbit UP Lokajaya, Kosasih menerbitkan serial Kala Hitam dan Setan Cebol.

1967
Serial Ramayana diterbitkan kembali. Kosasih diminta menggambar ulang serial yang pernah ia buat sebelumnya.

1968
* Kesehatan Kosasih menurun. Selama hampir setahun ia tidak menyentuh pen dan tinta cina. Karena merasa tak tenteram di Jakarta, Kosasih kembali ke Bogor.

* Di tengah masa suramnya, serial komik Mahabharata dan Ramayana diterbitkan kembali oleh penerbit Maranatha di Bandung. Namun tidak terlalu diminati pasar.

* Kosasih sempat mengubah gaya penyajian komiknya (lebih banyak teks) lewat serial Egul Mayangkara lantaran para komikus dituding menurunkan minat baca kalangan pelajar.
* Produktivitas Kosasih mulai menurun seiring membanjirnya komik impor.

Wafatnya bapak komik Indonesia, RA Kosasih, Selasa (24/07) dini hari membuat banyak orang kehilangan, termasuk komikus muda Sweta Kartika.

Sosok Raden Ahmad Kosasih sebagai legenda komik Indonesia merupakan inspirasi bagi Sweta yang telah mengenal karya Mahabharata sejak kecil.

Begitu berpengaruhnya RA Kosasih pada Sweta, ia sampai membuat seorang tokoh pahlawan berdasarkan komik RA Kosasih, Sri Asih.

“Ini bentuk penghormatan saya sebagai komikus muda dalam menghargai karya pertama Pak Kosasih,” kata komikus yang menampilkan Sri Asih dalam komik action Wanara ciptaannya.

Tahun lalu, lelaki yang belajar desain grafis di Institut Teknologi Bandung itu sempat bertemu dengan RA Kosasih untuk meminta ijin memasukkan tokoh Sri Asih dalam komiknya.

Pertemuan itu sangat membekas di hati Sweta, RA Kosasih tidak menampakkan kesombongan sama sekali.

“Sikap dan perilaku beliau sangat membumi. Padahal beliau adalah komikus Indonesia yang pertama kali menerbitkan komiknya,” lanjut komikus yang tergabung dalam Wanara Studio itu.

Di pertemuan itu, Sweta juga dibuat kagum karena RA Kosasih tetap menghargai komik-komik zaman sekarang walau gaya gambarnya jauh berbeda dengan zaman komik Indonesia pada era RA Kosasih berjaya.

“Tidak ada sedikit pun kekhawatiran di wajah Pak Kosasih tentang nasib komik Indonesia ke depan, seakan-akan beliau yakin betul bahwa generasi komikus saat ini sudah mampu untuk melanjutkan gerakannya,” kata Sweta.

Selain itu, ada lagi hal menarik dari etos kerja RA Kosasih yang begitu berkesan bagi Sweta, yaitu membuat komik tanpa rasa terpaksa.

“Beliau selalu ngomik dalam keadaan hati senang,” kenang Sweta teringat saat RA Kosasih bercerita tentang pengalamannya membuat ulang komik Mahabharata versi kedua karena manuskrip aslinya hilang.

Walau RA Kosasih telah menghembuskan nafas terakhir, Sweta berharap karyanya bisa terus menginspirasi para pembaca komik Indonesia.

“Kepergian beliau akan kami antar dengan doa dan kebanggaan karena telah dianugerahkan sosok komikus teladan yang mulia attitudenya,” pungkas Sweta.

Pengaruh RA Kosasih pada komikus Indonesia saat ini tidak hanya bisa dilihat di karya Sweta, hal itu juga terjadi pada komikus Is Yuniarto. Pencipta komik bertema wayang “Garudayana” itu mengakui karya RA Kosasih adalah inspirasi bagi komiknya.

“Bapak RA Kosasih adalah inspirator dan lokomotif utama bagi kegerakan komik Indonesia. Beliau mempelopori terbitnya komik Indonesia dalam bentuk buku cetakan, dan meletakkan dasar identitas komik Indonesia pada karya legendarisnya, Komik Wayang Ramayana dan Mahabharata,” ujar Is.

Is juga mengemukakan, RA Kosasih adalah sosok yang tidak tergantikan. Kerja keras RA Kosasih mempopulerkan komik Indonesia pada era 1950-1980an harus diteruskan oleh Is dan rekan-rekan komikus lain.

“Semoga komikus generasi saya akan terus menjaga asa dan semangat dari Bapak Komik Indonesia, RA Kosasih, dengan terus membuat komik Indonesia yang berkualitas sehingga dunia komik Indonesia akan selalu berkibar.

Tidak seperti Sweta yang pernah berjumpa dengan sang legenda atau Is yang membuat komik bertema wayang, Tony Trax, pembuat cerita di balik komik Real Masjid, memang belum pernah bertemu muka atau membuat kisah dengan genre wayang. Namun, dia tetap mengagumi karya-karya R.A Kosasih.

“Karya-karyanya sangat Indonesia. Yang lebih membanggakan, sekarang karya-karya lamanya dicetak lagi. Itu adalah hal yang bagus agar generasi sekarang tahu betapa hebatnya karya-karya beliau,” kata Tony.

Hal serupa diungkapkan Shirley (S Y S), komikus di balik “Sang Sayur”. Dia berharap dirinya bersama sesama rekan komikus Indonesia bisa meneruskan perjuangan R.A Kosasih untuk menggiatkan kembali dunia komik Indonesia.

“Beliau telah menjadi inspirasi yang amat positif bagi anak-anak bangsa dan meski beliau telah pergi, karyanya akan selalu hidup dan mewarnai hati kami semua di sepanjang masa,” katanya.

Mempopulerkan wayang

Selain jadi inspirasi bagi komikus Indonesia saat ini, karya RA Kosasih juga mempopulerkan kisah wayang bagi para komikus muda.

Seperti yang terjadi pada komikus Faza Meonk, dia mengemukakan karya RA Kosasih menjadi angin segar di dunia wayang yang awalnya hanya ada di karya sastra dan perdalangan. Kisah wayang yang dibalut dalam bentuk komik membuat Faza kecil tertarik pada kisah wayang.

“Gue yang orang visual ini jadi lebih paham cerita Mahabharata dan Ramayana lewat komik RA Kosasih. Dari situ gue jadi tertarik baca novel-novel wayang,” ungkap dia.

Bagi Faza, karya RA Kosasih meningkatkan kecintaannya pada budaya lokal.

Sementara itu, Bayou, komikus pencipta “The 9 Lives” mengemukakan minimnya pengetahuan wayang pada anak muda saat ini. Namun, dia adalah pengecualian karena saat kecil dia sudah melahap komik-komik bertema wayang karya RA Kosasih.

“Gara-gara dia gue hafal cerita wayang,” ungkap Bayou.

Perempuan itu berharap agar wafatnya RA Kosasih bisa jadi momen agar orang-orang kembali mengingat komik-komik jaman dulu.

“Semoga banyak orang yang nyari tahu tentang RA Kosasih karena anak jaman sekarang tidak semuanya tahu komikus jaman dulu,” harap Bayou.

RA Kosasih lahir pada 4 April 1919 di Bogor. Dia telah menghasilkan banyak karya besar seperti serial Sri Asih, komik bergenre superhero. RA Kosasih meninggal dunia karena serangan jantung pada usia 93 tahun hari ini pukul 01.00 WIB di rumahnya, Jalan Cempaka Putih III No 2, Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan.

Ikan Paus Yang Terdampar Di Karawang Berhasil Diselamatkan dan Dikawal Tim Gabungan Kopassus dan Marinir ke Laut Dalam


Tim gabungan yang mengevakuasi paus terdampar di Pantai Tanjungpakis, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, akhirnya berhasil melepas paus berbobot sekitar 2,5 ton itu ke laut yang lebih dalam sejarak sekitar 8 mil dari bibir pantai, Sabtu.

“Paus itu sengaja dilepas ke perairan yang lebih dalam dengan cara dikawal dan ditarik, agar tidak kembali lagi ke perairan dangkal,” kata Koordinator Jakarta Animal Aid Network (JAAN) “Iben” Benvika, kepada ANTARA News, di Karawang.

Dalam proses evakuasi itu, paus jenis “Sperm Whale” tersebut digiring ke perairan lebih dalam secara estafet. Setelah berhasil diikat dengan dibantu sebuah jaring ukuran besar, paus itu selanjutnya ditarik dengan menggunakan kapal Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) menuju perairan yang lebih dalam.

Menurut Benvika, proses penarikan paus itu sendiri berlangsung sangat lambat, karena disesuaikan dengan kondisi paus yang saat itu kondisinya cukup lelah setelah terdampar di Pantai Tanjungpakis, Kecamatan Pakisjaya, Karawang, sejak Rabu (25/7).

“Kondisi paus terlihat cukup lelah, dengan bernafas setiap 20 detik sekali. Jadi penarikan paus menuju perairan yang lebih dalam berjalan pelan,” katanya.

Dikatakannya, paus yang panjangnya sekitar 12-13 meter itu tepat sampai di perairan lebih dalam sekitar pukul 16.00 WIB, setelah sebelumnya tim gabungan Kopassus, Pasukan Katak Marinir, JAAN, Tagana, dan Sagara, mengikat paus itu sekitar pukul 13.30 WIB.

Ia mengaku proses evakuasi paus ke perairan lebih dalam itu cukup lancar dan tidak terjadi kendala berarti, berkat kerja sama tim gabungan yang sangat baik.

Proses evakuasi paus yang terdampar itu sendiri sudah dilakukan tim gabungan sejak Kamis (26/7), setelah paus itu ditemukan terdampar di perairan dangkal Pantai Tanjungpakis, Rabu (25/7).

Atas keberhasilan evakuasi itu, tim gabungan mengaku cukup gembira setelah proses evakuasi pada beberapa hari sebelumnya selalu gagal.

Paus yang sempat terdampar selama empat hari di bibir Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat akhirnya berhasil dievakuasi. Kini kondisi Paus tersebut pun pelan-pelan terus membaik.

“Kondisinya sekarang makin membaik, cara bernafasnya juga sudah mendekati normal,” ujar aktivis Koordinator Satwa Liar Jakarta Animal Aid Network (JAAN) yang berada di lokasi, Benvika, Sabtu (28/7/2012).

Benvika melihat perubahan kondisi yang menggembirakan dari Paus tersebut. Makin menjauh dari bibir pantai, kondisi fisik Paus semakin sehat.

“Soalnya dia tidak lagi terbebani dengan berat tubuhnya, kedalaman air membuat badannya semakin ringan,” jelasnya.

Saat dihubungi sekitar pukul 15.00 WIB, Benvika menjelaskan posisi Paus kini sudah berhasil dibawa 3 mil menjauh dari pinggir pantai. “Sekarang kita mau menuju 5 mil,” papar Benvika.

Meski begitu, Paus tersebut masih terus ditarik oleh kapal KPLP KN 348 milik Kemenhub. Paus yang diperkirakan berbobot 2 ton itu selanjutnya diserahterimakan ke TB Bima milik Pelindo II untuk ditarik ke laut dalam. Pasukan TNI akan terus mengawal paus itu sampai perairan dalam.

“Laporan Kapt.Nafri, Komandan Pangkalan KPLP Tanjung Priok, bahwa tepat pukul 14.45 WIB paus berhasil dievakuasi, ditarik oleh kapal KPLP KN 348,” tutur Kapuskompu Kemenhub, Bambang S Ervan.

Bambang menjelaskan proses penyelamatan melibatkan personel KPLP, Kopassus, dan unsur-unsur lain. Total ada 2 kapal KPLP dan 7 kapal rider yang ikut membantu proses evakuasi ini.

2 Bocah Tewas dan 125 Rumah Di Pekojan Tambora Hangus Karena Kebakaran


Kebakaran yang melanda 125 rumah di Kampung Janis, Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Sabtu (28/7/2012) diduga berasal dari api lilin di salah satu rumah warga.

Dugaan tersebut berasal dari beberapa warga yang mengatakan ada salah satu rumah yang kehabisan pulsa listrik, kemudian menyalakan lilin sebagai penerang.

“Slentingan warga memang ada yang mengatakan demikian, tetapi identifikasi Polri masih menduga kalau kebakaran disebabkan arus pendek listrik,” kata Lurah Pekojan Agus Yusuf kepada Kompas.com di lokasi penampungan, Sabtu malam.

Ia juga mengatakan kalau sumber bencana tersebut berawal dari rumah warganya yang bernama Rosyid. “Pusat apinya dari rumah Rosyid di RT 08 RW 07,” ucapnya lagi sambil menyebutkan kalau kebakaran di lingkungan Kampung Janis sudah terjadi dua kali selama 2012.

“Sebelumnya 5 bulan yang lalu juga kebakaran karena arus pendek, korsleting listrik pada 16 Februari lalu, tepatnya,” jelas Agus.

Diberitakan sebelumnya, terjadi kebakaran di Kampung Janis Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat pada pukul 13.15 WIB. Kebakaran tersebut menewaskan dua orang bocah, dan menghanguskan ratusan rumah wearga.

Kini petugas sudah melakukan pendinginan terhadap rumah-rumah yang terbakar, dan sebagian warga sudah tinggal di posko penampungan sementara yang tersebar di Kantor Kelurahan Pekojan, Mushola, sekolah, dan tenda di pinggir rel kereta. Ada juga yang masih terlantar di bawah jembatan layang Angke Barat.

Hingga dini hari situasi tempat kebakaran di Pekojan, Jakarta Barat, Sabtu (28/7/2012) masih mencekam karena di beberapa rumah masih terlihat api. Meski demikian, beberapa warga terlihat bergotong royong memadamkan api-api kecil sisa kebakaran tadi sore.

Menurut pantauan Kompas.com, dua rumah sempat terbakar lagi akibat percikan api, namun dapat segera dipadamkan warga. Proses pemadamannya pun relatif sulit, akibat rumah yang terbakar ditinggal oleh pemiliknya dalam keadaan terkunci.

“Udah dobrak aja pintunya, yang punya udah ninggalin rumahnya (mengungsi),” teriak seorang warga ketika sedang memadamkan api. Akibat kejadian ini beberapa rumah yang ditinggal oleh pemiliknya didobrak warga, untuk memastikan tidak adanya sisa-sisa api.

Seperti diberitakan, kebakaran hebat melanda kawasan itu menghanguskan 125 rumah di lima RT dan memakan dua korban jiwa. Api berkobar sejak pukul 13.15 dan baru bisa dipadamkan pukul 16.30.

Sudin Pemadam Kebakaran Jakarta Barat menurunkan 44 unit mobil pemadam kebakaran. Sementara, masih di Jakarta Barat, kebakaran juga terjadi di Gang Burung, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari. Sebanyak 21 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Tak ada korban jiwa dalam kebakaran di Tamansari.

– Lantaran bingung mencari perlindungan, bocah perempuan ini tewas dalam kebakaran yang menghanguskan 125 rumah di Pekojan, Tambora sore tadi. Jasad Andin Lestari (4) terjebak di dalam WC Umum saat ditemukan warga.

Menurut pengakuan Paman Andin, Amhari (32), saat api mulai berkobar dari rumah tetangga, Andin sudah berlari keluar rumah. Namun karena sang ibu memutuskan kembali masuk ke rumah untuk mengambil surat-surat penting, Andin pun memilih ikut.

“Dia udah keluar. Tapi orang kan rame banget itu. Pas ibunya mau masuk ke rumah lagi, dia ikut terus kelepas,” kata Amhari, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Sabtu (28/7/2012).

Putri bungsu pasangan Nurdin (41) dan Ani (30) ini sebenarnya sempat dititipkan sesaat sebelum ibunya kembali masuk ke rumah. Namun dalam kondisi panik, bocah ini lebih memilih mengikuti ibunya dan malah terjebak di dalam WC Umum.

“Pas kelepas itu, mungkin dia bingung. Jadi terus sembunyi di WC Umum yang ada di dekat rumahnya,” ungkap Amhari.

Setelah api mulai padam, pihak keluarga baru menyadari bahwa Andin hilang. Kemudian ada warga yang melihat anak perempuan kecil lari masuk WC Umum saat semua orang tengah menyelamatkan diri.

“Ya udah akhirnya kami cek ke WC Umum. Eh, bener ada di situ. Pertama dikira boneka ma petugas. Sekitar jam 5 tadi ditemuin,” jelas Amhari.

Hingga saat ini, Nurdin yang bekerja sebagai tukang jok sepeda belum kembali lagi ke RSCM untuk mengambil jasad putrinya. “Tadi udah ke sini nyerahin Andin. Terusannya balik lagi ke rumah,” tutur Amhari.

Rencananya, jasad Andin akan dimakamkan di Rangkas Bitung yang merupakan asal dari ibu Andin. Bocah perempuan yang belum bersekolah ini diketahui bersaudara dengan korban lain dalam kebakaran yaitu Rama (3).

“Iya dua-duanya itu keponakan saya. Tapi memang beda rumah tinggalnya. Rumah Rama ada di depan rumah Andin,” pungkasnya.

Seperti diketahui, kebakaran melanda kawasan Pekojan, Tambora sore tadi. Penyebab kebakaran diduga karena ada hubungan arus pendek. Sebanyak 44 unit mobil pemadam kebakaran diturunkan untuk memadamkan api yang menjalar cepat di pemukiman padat ini.

Anggota Kopassus Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan Terima Sejumlah Penghargaan Atas Aksi Heroiknya


Senyuman tampak di wajah Is (31), korban kasus perampasan dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C 01.

Is hari ini mendatangi Markas Komando Pasukan Khusus (Makopassus) Cijantung, tak lain untuk bertemu sang penyelamat, Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24), dan mengucapkan terima kasih kepada anggota Kopassus itu atas pertolongan terhadapnya.

“Saya mengucapkan syukur dan terima kasih. Saya sudah lebih baik, agak trauma kalau mau berangkat naik angkot. Kalau tidak ada Bang Nicolas, saya tidak tahu lagi bagaimana,” ujar Is kepada wartawan, saat berdiri di samping Serda Nicolas, di Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012).

Ketegaran masih ada padanya, walaupun pengalaman pahit, Senin (23/7/2012) malam, masih membuatnya trauma. Berkat pertolongan Nicolas, Is terselamatkan dari niat jahat para pelaku yang mencoba memperkosanya.

Nicolas yang saat kejadian bersama tunangannya, mengejar para pelaku yang mencoba memperkosa Is. Karena merasa dikejar, pelaku kemudian mendorong Is dengan paksa keluar dari dalam angkot, di depan Gedung Mahkamah Agung, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Nicolas bersama tunangannya kemudian mengutamakan menyelamatkan korban, yang saat itu sudah terduduk di pinggir jalan, dalam keadaan menangis dan shock akibat perbuatan para pelaku.

“Yang melandasi saya menyelamatkan wanita itu juga dari tunangan saya. Saya tidak pikir risiko tentang saya, saya cuma pikirkan, dia itu harus selamat,” ujar Nicolas, Serda penembak runduk (sniper) Satuan 81 Kopassus itu.

Saat mendatangi Makopassus, Is yang ditemani ayah kandungnya, Rugio (63), dan Makmur Zakaria, Ketua RW 03 Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, turut membawa sebuah tanda terima kasih. Yakni berupa bingkai penghargaan yang diberikan langsung kepada Nicolas, yang berasal dari ketua RW.

Is juga berpesan terhadap sesamanya wanita yang menggunakan angkutan umun dalam beraktivitas agar tetap berhati-hati sehingga kejadian serupa yang dialaminya tak terulang lagi.

“Di dalam angkot jangan di belakang, duduk di depan sopir atau di belakang sopir. Usahakan naik yang penuh yang rame, tapi jangan yang cowok semua,” tutupnya.

Seperti diberitakan, seorang karyawati berinisial Is (31), warga Johar Baru, Jakarta Pusat berhasil selamat dari upaya pemerkosaan di dalam angkutan kota (angkot). Is adalah korban kasus pencurian dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C 01 jurusan Cileduk-Senen, pada Senin (23/7/2012) malam lalu.

Is kemudian diselamatkan Nicolas, seorang anggota Kopassus yang saat kejadian bersama tunangannya sedang mencari tiket untuk pulang ke Papua. Sementara itu, dari kelima pelaku, saat ini tiga orang yang sudah tertangkap. Sedangkan dua pelaku lainnya masih buron.

Sersan Dua (Serda) Nicolas Sandi Harewan (24), anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), menerima sejumlah penghargaan atas aksinya mencegah terjadinya tindak kejahatan terhadap karyawati di dalam mikrolet C-01, Senin (23/7/2012) lalu.

Hari ini, Jumat (27/7/2012), Nicolas mendapat kunjungan dari Is (korban) dan orangtuanya di Markas Komando Pasukan Khusus (Makopassus), Cijantung, Jakarta Timur. Nicolas mendapat penghargaan yang diserahkan langsung oleh korban. Is juga menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya karena telah berusaha menolong Is saat berada di dalam angkot C-01.

“Saya sangat berkesan dan ini sangat luar biasa. Saya bersyukur, mengucapkan banyak terima kasih sudah menghargai saya sebagai penolong. Menolong dia (korban) memang sudah kewajiban saya,” ujar Nicolas kepada wartawan saat mendapat kunjungan korban beserta orangtuanya di Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012).

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto juga mengundang Nicolas dan memberikan penghargaan kepadanya. Adapun dari Kopassus, Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo juga menyampaikan penghargaan kepada sang prajurit.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh ayah korban, Rugio (63), yang menemani anaknya dalam kunjungan ke Makopassus. Berkat pertolongan Nicolas, putrinya bisa selamat dari percobaan pemerkosaan. “Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongannya Bapak Nicolas karena sudah menyelamatkan anak saya,” ujar Rugio yang mengetahui kejadian itu melalui televisi.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo rencananya juga menjanjikan tiket perjalanan kepada Nicolas untuk pulang ke Jayapura, Papua. Saat ini Nicolas sedang menjalani cuti untuk kembali ke tanah kelahirannya itu.

“Saya kira kita perlu beri penghargaan kepada beliau (Nicolas). Saya sudah memberikan perintah pada Kadishub untuk beri penghargaan kepada beliau. Nanti akan kita berangkatkan ke Papua, secepatnya,” kata Fauzi Bowo kepada Kompas.com saat buka puasa bersama warga di Masjid Jami Baitussalam, Kompleks Paspampres, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (26/7/2012).

Sementara itu, ketika ditanya wartawan mengenai tanggapan keluarga di Papua, Nicolas mengatakan bahwa keluarganya telah mengetahui aksi penyelamatan yang dilakukannya. “Perasaan keluarga di Papua sangat bangga dan terharu,” kata penembak runduk (sniper) Satuan 81 antiteror Kopassus itu.

Nicolas dan tunangannya, Anita, berada tak jauh dari angkot C-01 yang ditumpangi Is pada Senin malam saat kejadian. Begitu mendengar teriakan minta tolong Is dari dalam angkot, Nicolas yang berboncengan dengan sepeda motor dengan tunangannya langsung mengejar angkot jurusan Ciledug-Kebayoran Lama itu. Tindakan Nicolas itu akhirnya membuat para pelaku kejahatan di dalam angkot tersebut menurunkan paksa Is di depan gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo menyatakan Pemkot DKI akan memberi penghargaan kepada Sersan Dua Komando Pasukan Khusus TNI-AD Satuan 81, Nicholas Sandi. Foke menganggap Nicholas patut jadi teladan dalam menjaga keamanan Ibu Kota.

“Saya kira kami perlu beri penghargaan kepada beliau,” katanya usai menghadiri buka puasa di Masjid Baitus Salam, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis, 26 Juli 2012.

Foke mengimbau warga Jakarta dan semua pihak meniru tindakan heroik Nicholas. “Saya kira ini contoh yang patut ditiru oleh banyak pihak yang bisa melaksanakan upaya seperti itu, kalau saja mereka mau,” ucap dia. Tindakan Nicholas dianggap bentuk kontribusi nyata warga dalam memelihara keamanan Jakarta.

Penghargaan buat Nicholas akan diberikan melalui Dinas Perhubungan. Foke mengisyaratkan, bentuknya adalah tiket pulang-pergi kepada Nicholas ke kampung halaman di Papua. “Saya sudah memerintahkan Dishub untuk memberi penghargaan kepada beliau. Saya dengar, beliau katanya ingin sekali kembali ke kampung halamannya. Nanti kita akan berangkatkan ke Papua secepatnya,” kata Foke.

Nicholas menggagalkan upaya perampokan dan pemerkosaan di angkutan kota C01 jurusan Ciledug-Kebayoran Lama. Malam itu, dia sedang mencari tiket pulang bersama tunangannya, Anita Lusiana. Tiba-tiba di Lapangan Banteng sebuah angkot melaju kencang mendahuluinya. Ia lalu mengejar karena merasa mendengar suara wanita minta tolong dari angkot tersebut. Ia juga curiga dengan lampu dalam angkot yang gelap.

Nicholas berhasil mengejar dan mengiringi angkot dari sisi kanan dan membentak sopir. Dia minta sopir untuk berhenti. Merasa perintahnya tak digubris, Nicholas kemudian menggedor angkot tersebut. Namun, angkot malah melaju makin kencang.

Panik aksinya tercium, pelaku lantas melempar korban keluar dari angkot di depan gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara. Nicholas dan tunangannya menolong korban. Mereka membawa korban ke Pos Polisi Gambir untuk melaporkan kejadian tersebut. Malam itu juga ketiganya diperiksa di Polres Jakarta Pusat hingga menjelang Subuh.

Senyum semringah tampak menghiasi wajah Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24). Dengan sabar, ia meladeni permintaan foto bersama para wartawan di halaman Gedung Sarwo Edi, Kopassus, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012) siang.

Maklum saja, beberapa hari terakhir, pemuda asal Papua tersebut tengah menjadi sorotan. Bukan karena joget dan nyanyian merdu ala mantan anggota Brimob Gorontalo Briptu Norman Kamaru, popularitasnya meroket setelah menyelamatkan seorang karyawati, IS (31), dari percobaan perkosaan dan perampokan di dalam angkutan umum.

Dalam semalam, kehidupannya pun mulai dipenuhi sorot kamera. Meski demikian, ia mengaku tak ada yang berubah dari dalam dirinya. Penyelamatannya tersebut hanya dianggap tugas semata.

“Tanggapan saya, ya biasa-biasa saja, saya memang dilatih seperti itu, jadi ya biasa saja,” ujarnya kepada Kompas.com sambil berjalan kembali menuju baraknya.

Sementara mengenai wajahnya yang kerap muncul di berbagai media masa cetak dan elektronik, ia enggan menyamakan dirinya dengan “pendahulunya”, Briptu Norman.

“Saya beda, saya kan istilahnya menyelamatkan orang. Jadi saya tidak ada pamor,” lanjutnya.

Di akhir obrolan, pemuda yang lulus seleksi tentara tahun 2008 dan lulus pelatihan tentara di Bogor, Jawa Barat, tanggal 20 Agustus 2009 tersebut, mengutarakan pesannya kepada kaum muda. Ia berharap kaum muda Indonesia bisa hidup rukun dan saling menjaga. “Saling membantu orang-orang yang ada dalam kesulitan,” lanjutnya sambil tersenyum.

Kembali ia mengungkapkan, peristiwa tersebut tidaklah membuat hidupnya berubah. Ia tetap menjadi prajurit yang setia bertugas berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Benar, tetap biasa saja kok. Saya kan prajurit,” yakinnya.

Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan IS, wanita yang diselamatkannya dari tangan lima penjahat. Pria yang menargetkan untuk menikah tahun 2014 ini diberikan piagam sebagai ucapan terima kasih oleh sang korban atas aksi heroiknya.

Setelah acara selesai, ia tetaplah menjadi prajurit. “Siap…siap…siap…komandan,” tegasnya saat diberikan wejangan oleh salah seorang komandannya. Jauh dari sorotan kamera para pewarta yang telah beranjak meninggalkan halaman gedung tersebut.

Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24), anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang menyelamatkan Is (31), korban kasus pencurian dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C01 jurusan Senen-Ciledug pada Senin (23/7/2012) malam, menceritakan kronologi penyelamatan yang dilakukannya.

“Pada malam itu, saya bersama tunangan sedang mencari tiket untuk pulang ke Papua. Saya sedang mengambil cuti saat ini. Kemudian tepatnya sekitar pukul 22.45, saat saya sedang mengendarai sepeda motor, ada angkot yang melewati saya dengan kecepatan tinggi, kemudian dari dalam ada suara teriakan wanita minta tolong,” ujarnya bercerita, saat ditemui Kompas.com, di Kantor Penerangan Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (25/7/2012).

Nicolas mengatakan, dengan refleks dia kemudian mengejar angkot tersebut karena instingnya merasa telah terjadi pelanggaran tindak kriminal saat itu. Kondisi di dalam angkot dikatakannya dalam keadaan gelap karena lampu bagian dalam dimatikan. Ia sempat melihat lima pelaku, dua di depan, dan tiga orang di belakang.

“Saya ikuti angkot itu, kira-kira jarak tiga meter, saya lihat nomor polisinya saya hafalkan,” ujarnya.

Sampai di depan Makostrad di Gambir, Jakarta Pusat, katanya, angkot tersebut masuk jalur busway, dan sempat terhenti karena ada sebuah taksi di depannya. “Ada taksi yang menghalangi angkot itu. Angkot berhenti saya dekati. Saya lempar pake helm, hanya tidak kena,” kata Nicolas.

Kembalilah terjadi aksi pengejaran. Tepat di depan Gedung Mahkamah Agung, di Jalan Merdeka Utara, korban telah dilempar oleh para pelaku di pinggir jalan.

“Waktu itu korban sudah di pinggir jalan, dalam keadaan terduduk, lagi nangis. Dalam keadaan shock berat, kerah bajunya sudah ke samping, tasnya juga sudah dalam keadaan acak. Saya coba tenangkan. Saya bilang ‘Mbak tidak usah takut, Mbak sudah aman sekarang’,” ungkap penembak runduk (sniper) Satuan 81 Antiteror Kopassus itu.

Pelaku saat itu sudah keburu kabur, Nicolas bersama tunangannya mengutamakan menyelamatkan korban. Saat itu, Nicolas kemudian menyetop taksi dan meminta tunangannya menemani korban. “Saya sama tunangan bawa korban ke Polsubsektor Gambir. Di sana saya diminta ke Polres Metro Jakarta Pusat untuk jadi saksi, saya dimintai keterangan dari jam 12 sampai jam 3 (Selasa dini hari)” tuturnya.

Ketika ditanya, perasaannya menyelamatkan korban, dia mengatakan hanya mengikuti instingnya. “Semua orang bisa jadi penolong. Saya sebagai anggota Kopassus sudah menjadi tugas. Kalau perasaan saya, biasa-biasa saja,” katanya.

Seperti diberitakan Kompas.com, seorang karyawati berinisial Is (31), warga Johar Baru, Jakarta Pusat, selamat dari upaya pemerkosaan di dalam angkutan kota (angkot). Dari lima pelaku, baru satu pelaku atas nama Ari Anggara telah diamankan. Sementara itu, empat pelaku lainnya saat ini masih menjadi buron.