Anggota Kopassus Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan Terima Sejumlah Penghargaan Atas Aksi Heroiknya


Senyuman tampak di wajah Is (31), korban kasus perampasan dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C 01.

Is hari ini mendatangi Markas Komando Pasukan Khusus (Makopassus) Cijantung, tak lain untuk bertemu sang penyelamat, Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24), dan mengucapkan terima kasih kepada anggota Kopassus itu atas pertolongan terhadapnya.

“Saya mengucapkan syukur dan terima kasih. Saya sudah lebih baik, agak trauma kalau mau berangkat naik angkot. Kalau tidak ada Bang Nicolas, saya tidak tahu lagi bagaimana,” ujar Is kepada wartawan, saat berdiri di samping Serda Nicolas, di Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012).

Ketegaran masih ada padanya, walaupun pengalaman pahit, Senin (23/7/2012) malam, masih membuatnya trauma. Berkat pertolongan Nicolas, Is terselamatkan dari niat jahat para pelaku yang mencoba memperkosanya.

Nicolas yang saat kejadian bersama tunangannya, mengejar para pelaku yang mencoba memperkosa Is. Karena merasa dikejar, pelaku kemudian mendorong Is dengan paksa keluar dari dalam angkot, di depan Gedung Mahkamah Agung, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Nicolas bersama tunangannya kemudian mengutamakan menyelamatkan korban, yang saat itu sudah terduduk di pinggir jalan, dalam keadaan menangis dan shock akibat perbuatan para pelaku.

“Yang melandasi saya menyelamatkan wanita itu juga dari tunangan saya. Saya tidak pikir risiko tentang saya, saya cuma pikirkan, dia itu harus selamat,” ujar Nicolas, Serda penembak runduk (sniper) Satuan 81 Kopassus itu.

Saat mendatangi Makopassus, Is yang ditemani ayah kandungnya, Rugio (63), dan Makmur Zakaria, Ketua RW 03 Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, turut membawa sebuah tanda terima kasih. Yakni berupa bingkai penghargaan yang diberikan langsung kepada Nicolas, yang berasal dari ketua RW.

Is juga berpesan terhadap sesamanya wanita yang menggunakan angkutan umun dalam beraktivitas agar tetap berhati-hati sehingga kejadian serupa yang dialaminya tak terulang lagi.

“Di dalam angkot jangan di belakang, duduk di depan sopir atau di belakang sopir. Usahakan naik yang penuh yang rame, tapi jangan yang cowok semua,” tutupnya.

Seperti diberitakan, seorang karyawati berinisial Is (31), warga Johar Baru, Jakarta Pusat berhasil selamat dari upaya pemerkosaan di dalam angkutan kota (angkot). Is adalah korban kasus pencurian dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C 01 jurusan Cileduk-Senen, pada Senin (23/7/2012) malam lalu.

Is kemudian diselamatkan Nicolas, seorang anggota Kopassus yang saat kejadian bersama tunangannya sedang mencari tiket untuk pulang ke Papua. Sementara itu, dari kelima pelaku, saat ini tiga orang yang sudah tertangkap. Sedangkan dua pelaku lainnya masih buron.

Sersan Dua (Serda) Nicolas Sandi Harewan (24), anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), menerima sejumlah penghargaan atas aksinya mencegah terjadinya tindak kejahatan terhadap karyawati di dalam mikrolet C-01, Senin (23/7/2012) lalu.

Hari ini, Jumat (27/7/2012), Nicolas mendapat kunjungan dari Is (korban) dan orangtuanya di Markas Komando Pasukan Khusus (Makopassus), Cijantung, Jakarta Timur. Nicolas mendapat penghargaan yang diserahkan langsung oleh korban. Is juga menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya karena telah berusaha menolong Is saat berada di dalam angkot C-01.

“Saya sangat berkesan dan ini sangat luar biasa. Saya bersyukur, mengucapkan banyak terima kasih sudah menghargai saya sebagai penolong. Menolong dia (korban) memang sudah kewajiban saya,” ujar Nicolas kepada wartawan saat mendapat kunjungan korban beserta orangtuanya di Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012).

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto juga mengundang Nicolas dan memberikan penghargaan kepadanya. Adapun dari Kopassus, Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo juga menyampaikan penghargaan kepada sang prajurit.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh ayah korban, Rugio (63), yang menemani anaknya dalam kunjungan ke Makopassus. Berkat pertolongan Nicolas, putrinya bisa selamat dari percobaan pemerkosaan. “Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongannya Bapak Nicolas karena sudah menyelamatkan anak saya,” ujar Rugio yang mengetahui kejadian itu melalui televisi.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo rencananya juga menjanjikan tiket perjalanan kepada Nicolas untuk pulang ke Jayapura, Papua. Saat ini Nicolas sedang menjalani cuti untuk kembali ke tanah kelahirannya itu.

“Saya kira kita perlu beri penghargaan kepada beliau (Nicolas). Saya sudah memberikan perintah pada Kadishub untuk beri penghargaan kepada beliau. Nanti akan kita berangkatkan ke Papua, secepatnya,” kata Fauzi Bowo kepada Kompas.com saat buka puasa bersama warga di Masjid Jami Baitussalam, Kompleks Paspampres, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (26/7/2012).

Sementara itu, ketika ditanya wartawan mengenai tanggapan keluarga di Papua, Nicolas mengatakan bahwa keluarganya telah mengetahui aksi penyelamatan yang dilakukannya. “Perasaan keluarga di Papua sangat bangga dan terharu,” kata penembak runduk (sniper) Satuan 81 antiteror Kopassus itu.

Nicolas dan tunangannya, Anita, berada tak jauh dari angkot C-01 yang ditumpangi Is pada Senin malam saat kejadian. Begitu mendengar teriakan minta tolong Is dari dalam angkot, Nicolas yang berboncengan dengan sepeda motor dengan tunangannya langsung mengejar angkot jurusan Ciledug-Kebayoran Lama itu. Tindakan Nicolas itu akhirnya membuat para pelaku kejahatan di dalam angkot tersebut menurunkan paksa Is di depan gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo menyatakan Pemkot DKI akan memberi penghargaan kepada Sersan Dua Komando Pasukan Khusus TNI-AD Satuan 81, Nicholas Sandi. Foke menganggap Nicholas patut jadi teladan dalam menjaga keamanan Ibu Kota.

“Saya kira kami perlu beri penghargaan kepada beliau,” katanya usai menghadiri buka puasa di Masjid Baitus Salam, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis, 26 Juli 2012.

Foke mengimbau warga Jakarta dan semua pihak meniru tindakan heroik Nicholas. “Saya kira ini contoh yang patut ditiru oleh banyak pihak yang bisa melaksanakan upaya seperti itu, kalau saja mereka mau,” ucap dia. Tindakan Nicholas dianggap bentuk kontribusi nyata warga dalam memelihara keamanan Jakarta.

Penghargaan buat Nicholas akan diberikan melalui Dinas Perhubungan. Foke mengisyaratkan, bentuknya adalah tiket pulang-pergi kepada Nicholas ke kampung halaman di Papua. “Saya sudah memerintahkan Dishub untuk memberi penghargaan kepada beliau. Saya dengar, beliau katanya ingin sekali kembali ke kampung halamannya. Nanti kita akan berangkatkan ke Papua secepatnya,” kata Foke.

Nicholas menggagalkan upaya perampokan dan pemerkosaan di angkutan kota C01 jurusan Ciledug-Kebayoran Lama. Malam itu, dia sedang mencari tiket pulang bersama tunangannya, Anita Lusiana. Tiba-tiba di Lapangan Banteng sebuah angkot melaju kencang mendahuluinya. Ia lalu mengejar karena merasa mendengar suara wanita minta tolong dari angkot tersebut. Ia juga curiga dengan lampu dalam angkot yang gelap.

Nicholas berhasil mengejar dan mengiringi angkot dari sisi kanan dan membentak sopir. Dia minta sopir untuk berhenti. Merasa perintahnya tak digubris, Nicholas kemudian menggedor angkot tersebut. Namun, angkot malah melaju makin kencang.

Panik aksinya tercium, pelaku lantas melempar korban keluar dari angkot di depan gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara. Nicholas dan tunangannya menolong korban. Mereka membawa korban ke Pos Polisi Gambir untuk melaporkan kejadian tersebut. Malam itu juga ketiganya diperiksa di Polres Jakarta Pusat hingga menjelang Subuh.

Senyum semringah tampak menghiasi wajah Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24). Dengan sabar, ia meladeni permintaan foto bersama para wartawan di halaman Gedung Sarwo Edi, Kopassus, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012) siang.

Maklum saja, beberapa hari terakhir, pemuda asal Papua tersebut tengah menjadi sorotan. Bukan karena joget dan nyanyian merdu ala mantan anggota Brimob Gorontalo Briptu Norman Kamaru, popularitasnya meroket setelah menyelamatkan seorang karyawati, IS (31), dari percobaan perkosaan dan perampokan di dalam angkutan umum.

Dalam semalam, kehidupannya pun mulai dipenuhi sorot kamera. Meski demikian, ia mengaku tak ada yang berubah dari dalam dirinya. Penyelamatannya tersebut hanya dianggap tugas semata.

“Tanggapan saya, ya biasa-biasa saja, saya memang dilatih seperti itu, jadi ya biasa saja,” ujarnya kepada Kompas.com sambil berjalan kembali menuju baraknya.

Sementara mengenai wajahnya yang kerap muncul di berbagai media masa cetak dan elektronik, ia enggan menyamakan dirinya dengan “pendahulunya”, Briptu Norman.

“Saya beda, saya kan istilahnya menyelamatkan orang. Jadi saya tidak ada pamor,” lanjutnya.

Di akhir obrolan, pemuda yang lulus seleksi tentara tahun 2008 dan lulus pelatihan tentara di Bogor, Jawa Barat, tanggal 20 Agustus 2009 tersebut, mengutarakan pesannya kepada kaum muda. Ia berharap kaum muda Indonesia bisa hidup rukun dan saling menjaga. “Saling membantu orang-orang yang ada dalam kesulitan,” lanjutnya sambil tersenyum.

Kembali ia mengungkapkan, peristiwa tersebut tidaklah membuat hidupnya berubah. Ia tetap menjadi prajurit yang setia bertugas berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Benar, tetap biasa saja kok. Saya kan prajurit,” yakinnya.

Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan IS, wanita yang diselamatkannya dari tangan lima penjahat. Pria yang menargetkan untuk menikah tahun 2014 ini diberikan piagam sebagai ucapan terima kasih oleh sang korban atas aksi heroiknya.

Setelah acara selesai, ia tetaplah menjadi prajurit. “Siap…siap…siap…komandan,” tegasnya saat diberikan wejangan oleh salah seorang komandannya. Jauh dari sorotan kamera para pewarta yang telah beranjak meninggalkan halaman gedung tersebut.

Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24), anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang menyelamatkan Is (31), korban kasus pencurian dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C01 jurusan Senen-Ciledug pada Senin (23/7/2012) malam, menceritakan kronologi penyelamatan yang dilakukannya.

“Pada malam itu, saya bersama tunangan sedang mencari tiket untuk pulang ke Papua. Saya sedang mengambil cuti saat ini. Kemudian tepatnya sekitar pukul 22.45, saat saya sedang mengendarai sepeda motor, ada angkot yang melewati saya dengan kecepatan tinggi, kemudian dari dalam ada suara teriakan wanita minta tolong,” ujarnya bercerita, saat ditemui Kompas.com, di Kantor Penerangan Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (25/7/2012).

Nicolas mengatakan, dengan refleks dia kemudian mengejar angkot tersebut karena instingnya merasa telah terjadi pelanggaran tindak kriminal saat itu. Kondisi di dalam angkot dikatakannya dalam keadaan gelap karena lampu bagian dalam dimatikan. Ia sempat melihat lima pelaku, dua di depan, dan tiga orang di belakang.

“Saya ikuti angkot itu, kira-kira jarak tiga meter, saya lihat nomor polisinya saya hafalkan,” ujarnya.

Sampai di depan Makostrad di Gambir, Jakarta Pusat, katanya, angkot tersebut masuk jalur busway, dan sempat terhenti karena ada sebuah taksi di depannya. “Ada taksi yang menghalangi angkot itu. Angkot berhenti saya dekati. Saya lempar pake helm, hanya tidak kena,” kata Nicolas.

Kembalilah terjadi aksi pengejaran. Tepat di depan Gedung Mahkamah Agung, di Jalan Merdeka Utara, korban telah dilempar oleh para pelaku di pinggir jalan.

“Waktu itu korban sudah di pinggir jalan, dalam keadaan terduduk, lagi nangis. Dalam keadaan shock berat, kerah bajunya sudah ke samping, tasnya juga sudah dalam keadaan acak. Saya coba tenangkan. Saya bilang ‘Mbak tidak usah takut, Mbak sudah aman sekarang’,” ungkap penembak runduk (sniper) Satuan 81 Antiteror Kopassus itu.

Pelaku saat itu sudah keburu kabur, Nicolas bersama tunangannya mengutamakan menyelamatkan korban. Saat itu, Nicolas kemudian menyetop taksi dan meminta tunangannya menemani korban. “Saya sama tunangan bawa korban ke Polsubsektor Gambir. Di sana saya diminta ke Polres Metro Jakarta Pusat untuk jadi saksi, saya dimintai keterangan dari jam 12 sampai jam 3 (Selasa dini hari)” tuturnya.

Ketika ditanya, perasaannya menyelamatkan korban, dia mengatakan hanya mengikuti instingnya. “Semua orang bisa jadi penolong. Saya sebagai anggota Kopassus sudah menjadi tugas. Kalau perasaan saya, biasa-biasa saja,” katanya.

Seperti diberitakan Kompas.com, seorang karyawati berinisial Is (31), warga Johar Baru, Jakarta Pusat, selamat dari upaya pemerkosaan di dalam angkutan kota (angkot). Dari lima pelaku, baru satu pelaku atas nama Ari Anggara telah diamankan. Sementara itu, empat pelaku lainnya saat ini masih menjadi buron.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s