Monthly Archives: August 2012

Kelompok John Kei dan Hercules Bentrok Di Cengkareng Memperebutkan Lahan 2,1 Hektar


Kelompok John Kei dan Hercules bentrok memperebutkan pengamanan lahan sengketa di Jalan Kamal Raya, Cengkareng, Jakarta Barat. Menurut Hercules, kelompoknya diserang lebih dulu oleh kelompok John Kei. “Mereka yang menyerang ke anak-anak saya,” katanya, Rabu, 28 Agustus 2012.

Hercules mengatakan daerah lokasi rebutan lahan itu merupakan kawasan pengamanan milik kelompoknya. Selain menjaga tanah sengketa seluas 2,1 hektare tersebut, mereka juga mengamankan Ruko Seribu yang terletak di samping lokasi tanah itu. “Ini kami yang menjaga,” ujar dia.

Hercules menyebutkan, awalnya tak ada masalah antara kelompoknya dan kelompok Kei. Namun, tiba-tiba kelompok itu menyerang mereka. Hercules menduga mereka berkumpul setelah kemarin menghadiri sidang tuntutan Kei. “Kemarin kumpul banyak, mungkin diajak,” ujar dia.

Dalam bentrokan yang mulai terjadi sekitar pukul 10.00 itu, kelompok Kei mendatangi kelompok Hercules yang tengah berada di lahan kosong itu. Ratusan orang itu kemudian saling lempar batu. Mereka juga membawa senjata tajam. Akibatnya, beberapa anggota Hercules mengalami luka-luka. “Satu-dua orang terkena bacok,” kata dia.

Mengetahui adanya bentrokan, kepolisian pun menurunkan sekitar 300 orang anggota dari Polres, Polsek, Patra, Sabara, Brimob, Polda, untuk melerai mereka. Anggota kepolisian ini sempat melemparkan gas air mata dan melakukan tembakan. “Kita amankan, tembakan ke atas,” kata Kapolres Jakarta Barat Komisaris Besar Suntana.

Menurut dia, sekitar enam pelaku penyerangan tersebut kemudian diamankan oleh pihak kepolisian. Polisi juga tetap akan bersiaga mengamankan tempat kejadian tersebut. “Pemilik tanah juga akan kita panggil,” katanya.

Dari pantauan Tempo, pagar besi tanah kosong yang menjadi sengketa rusak. Beberapa bagian pagar berwarna biru itu berlubang-lubang.

Advertisements

Produsen Bakso Ayam Tiren Beromzet Rp 2 Juta Per Hari Digrebek Polisi


ebuah usaha rumahan di Bantul DIY digrebek polisi setelah ketahuan memproduksi bakso berbahan ayam tiren Rabu (29/08/2012) petang. Bisnis keluarga yang berlokasi di dusun Pungkuran desa Pleret Kecamatan Pleret ini mampu memproduksi bakso ayam tiren lebih dari 1 kuintal perhari dengan omzet mencapai 2 juta rupiah.

Penggerebakan yang dilakukan aparat Polsek Pleret itu dilakukan setelah menerima laporan warga yang curiga dengan seringnya sejumlah penjual bangkai ayam mendatangi rumah Giyoto.

“Ada warga yang curiga setiap kali ada orang datang kerumah itu membawa karung berisi bangkai ayam. Lalu kita selidiki ternyata bangkai-bangkai itu digunakan untuk membuat bakso”, kata Kapolsek Pleret AKP Herry Suryanto.

Saat dilakukan penggerebekan rumah berdinding bambu itu dalam kondisi kosong. Polisi hanya menemukan ratusan bangkai ayam dalam karung-karung besar yang sebagian besar sudah membiru, sisa-sisa tulang yang masih baru, bumbu-bumbu dan bahan pengawet yang sekaligus berfungsi untuk mengenyalkan bakso.

Setelah memasang police line, aparat Polsek Pleret yang mendapat informasi warga lalu menuju rumah yang berada sekitar 15 meter di sisi timur tempat penyimpanan bangkai. Di rumah megah yang diketahui milik Giyoto, polisi mendapati mesin penggiling daging dan puluhan karung berisi tepung kanji. Polisi juga mengamankan 4 orang yang sedang membuat dan mengemasi bakso siap jual. Ke empat orang yang masih kerabat pemilik rumah itu yakn Sutiyati (35) Sulistyo (17) Aldi (18) dan Suratinem (57). Sedangkan Giyoto dan Mujiasih istrinya tidak ada dirumah.

“Jadi dirumah bambu itu tempat untuk menguliti dan disini tempat penggilingan hingga pembuatan baksonya. Tapi karena pelaku utama masih kita buru, kita masih akan mengembangkan berdasar pelaku yang sudah kita amankan”, terang Herry.

Menurut Herry, barang bukti berupa bakso akan dikirim ke BPOM DIY. Dan jika terbukti melakukan usaha ilegal pelaku bisa dijerat pasal 204 KUHP ayat 1 dan UU Kesehatan pasal 80 dengan hukuman maksimal 15 tahun dan denda Rp 300 juta.

Sementara itu, menurut Sutiyati usaha pembuatan bakso ayam tiren ini sudah berjalan belasan tahun. Ia yang menikah dengan adik Mujiasih sekitar tahun 1996 mengaku sudah melihat pembuatan bakso ayam tiren ini saat dirinya mulai tinggal bersama suaminya.

“Saya kesini kan pas setelah nikah sekitar tahun 1996. Saat saya mulai tinggal disini, usaha ini sudah ada. Saya memang ikut membantu dan awalnya rasanya mau muntah karena kan sudah banyak yang bau”, katanya.

Wanita yang gaya bicaranya ceplas-ceplos itu bercerita jika dalam sehari lebih dari satu kuintal bangkai ayam digiling dan dibuat bakso. Bangkai-bangkai itu disetor sejumlah orang terutama peternak ayam potong disekitar desanya tapi juga ada yang dari kecamatan Sedayu Bantul dan kawasan Jalan Kaliurang kabupaten Sleman. Perkilo bangkai ayam dihargai Rp 10 ribu.

“Biasanya bakso-bakso itu diambil pedagang selepas magrib dan dijual kembali ke pasar-pasar”, imbuhnya.

Berdasar pengakuan Sutiyati bakso-bakso bangkai ayam itu dijual dalam bentuk kemasan kantong plastik berisi 10 biji. Untuk ukuran biasa dijual Rp 3000 perkemasan, sedangkan ukuran besar (seukuran bola pingpong) dihargai Rp 7000.

Cara Menjaga Kerukunan


PENYERANGAN terhadap kelompok minoritas akhir-akhir ini menunjukkan betapa problem kerukunan masih menggelayuti bangsa ini. Celakanya, kita seperti tak mau belajar dari peristiwa-peristiwa terdahulu, seperti penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah, sehingga kita tak serius menjaga kerukunan.

Kalaupun belajar, kita seperti tak kunjung pintar menjaga kerukunan. Itu sebabnya peristiwa yang mengoyak kerukunan berulang kali meletus.

Penyerangan terhadap kelompok minoritas Ahmadiyah tak hanya sekali, tetapi berulang-ulang terjadi. Penyerangan terhadap umat kristiani yang tengah beribadah pun berkali-kali terjadi.

Paling mutakhir penyerangan terhadap kelompok minoritas Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, Minggu (26/8). Penyerangan itu bukan yang pertama. Penganut Syiah itu mendapat serangan serupa pada Desember 2011.

Semestinya tragedi Sampang menjadi pelajaran bahwa kita harus serius menjaga kerukunan. Kerukunan bisa dijaga bila kita memahami bahwa keberagaman merupakan keniscayaan sosial, hukum alam, sunatullah. Segala makhluk yang ada di kolong langit ini pastilah plural, jamak, banyak, tidak tunggal. Hanya Sang Pencipta yang satu, esa, tunggal.

Manusia berasal dari berbagai ras, etnik, agama, dan kebudayaan. Hasil cipta, rasa, dan karsa manusia pun beragam. Termasuk penafsiran atas agama juga beragam. Itu sebabnya banyak sekali aliran dalam agama-agama.

Bangsa ini harus menyadari hukum alam dan sunatullah tidak bisa dilawan. Melawan sunatullah hanya menghasilkan kerusakan, kesengsaraan, dan penderitaan. Penghormatan terhadap keberagaman akan menciptakan harmoni. Itulah sebabnya para pendiri bangsa yang agamis menciptakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Sayang sekali, bangsa ini seperti melupakan, bahkan melawan, kebinekaan yang merupakan sunatullah.

Penyerangan atas nama agama terhadap kaum minoritas di Tanah Air merupakan perlawanan terhadap kebinekaan, keberagaman, hukum alam, dan sunatullah. Hasilnya pun hanyalah kerusakan, kesengsaraan, penderitaan, dendam, dan trauma berkepanjangan. Oleh karena itu, kita tidak punya pilihan lain kecuali menerima keberagaman dalam kehidupan sosial kita. Mari kita rayakan keberagaman sebagai keindahan kehidupan.

Negara tentu punya tanggung jawab besar menjaga kerukunan. Negara harus menjadikan penyerangan terhadap kelompok Syiah di Sampang sebagai pelajaran pamungkas. Negara harus menjadikan peristiwa itu sebagai momentum untuk ekstra serius menjaga kerukunan.

Kita perlu menegaskan hal itu karena, alih-alih menjaga kerukunan, negara justru acap memicu kerusuhan. Negara hadir malah untuk memicu penyerangan atas nama agama.

Label sesat dari aparatur negara menjadi alat legitimasi oleh kelompok intoleran untuk menyerang kelompok-kelompok minoritas. Ketika penyerangan atas nama agama itu terjadi, negara malah absen.

Terang benderang negara berpihak kepada satu kelompok ketika menyelesaikan problem kerukunan. Padahal, negara mesti bersikap bijak dan adil. Negara disebut telah menjaga kerukunan hanya bila ia hadir dan berdiri di atas semua golongan yang hidup di negeri ini.

PT Angkasa Pura II Berterimakasih Kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan Karena Mau Membersihkan WC Kotor Di Bandara Tanpa Minta Bantuan


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan sempat membersihkan WC terminal 2F Bandara Soekarno Hatta karena terlihat kotor. Namun, manajemen PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara ini belum tahu-menahu soal aksi Dahlan tersebut.

Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura II Trisno Heryadi mengatakan, pihaknya sedang melakukan rapat direksi, sehingga belum mendapatkan info terkait aksi bersih-bersih oleh Dahlan Iskan tersebut.

“Saya sedang rapat. Pak Dahlan membersihkan toilet? Saya cari info dulu ya, nanti saya hubungi lagi,” ungkap Trisno kepada detikFinance lewat pesan singkat, Selasa (28/8/12).

Secara terpisah, Wakil Direktur Utama Angkasa Pura II Rinaldo J. Aziz pun mengatakan hal serupa. Rinaldo mengatakan dirinya sedang memimpin rapat direksi saat ini.

“Saya masih pimpin rapat, kalau boleh Bapak sms dulu, nanti setelah meeting saya telepon balik,” ungkap Rinaldo di pesan singkatnya.

Sampai saat ini, detikFinance belum mendapatkan konfirmasi lebih lanjut dari pihak Angkasa Pura II soal WC kotor di toilet bandara Soekarno Hatta.

PT Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola Bandara Soekarno-Hatta menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan. Pihak Bandara Soetta mengaku lalai dan merasa tercambuk yang mengetahui Dahlan Iskan bersih-bersih WC Bandara.

“Jadi yang pertama kami dari AP-II mengucapkan terima kasih, tidak harus beliau sebagai pejabat tapi masyarakat pun berhak melakukan hal seperti itu. Terkait dengan hal itu kan beliau tidak menutup mata. Memang setelah arus balik ini, ada beberapa area yang terlewatkan,” kata Plt General Manager Bandara Soetta Bram Bharoto Tjiptadi kepada detikFinance, Selasa (28/8/2012).

“Ini jadi cambuk buat kita ada hal seperti itu. Ini petugas kebersihannya selalu kita awasi, ada vendornya dengan AP-II,” terang Bram kembali.

Menurutnya, para pengguna WC lainnya termasuk penumpang boleh menegur petugas kebersihan jika memang kebersihan bandara khususnya WC tidak terjaga. Hal ini dilakukan sebagai tindak kesadaran akan kebersihan.

“Tidak harus beliau (Dahlan Iskan), para pengguna lain pun boleh menegur dan berhak. Ini harus dijaga terus supaya Soetta ini jadi bandara kebanggan Indonesia,” terang Bram.

Sampang Rusuh Kembali … Polisi Turunkan 1 Kompi Brimob


Kerusuhan berlatar belakang agama di Sampang bermula dari cekcok yang terjadi antara santri pengikut Syiah dengan sekelompok orang yang tak dikenal. Mobil para santri yang hendak keluar dari Sampang itu dihadang dalam perjalanannya ke Bangil sekitar pukul 11.00 WIB. Sempat terjadi cekcok, mobil yang ditumpangi santri akhirnya memutuskan kembali ke rumah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben dan Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang.

“Kami dihadang. Mobil kami dilempari sehingga kami balik,” kata salah satu santri, Umi Hani, kepada wartawan, Minggu (26/8/2012). Sebelum balik, santri Syiah sempat terlibat cekcok dengan kelompok tersebut. Saat balik, mobil para santri terus diikuti. Kelompok tak dikenal yang dikabarkan beraliran Sunni itu semakin bertambah jumlahnya saat berada di areal rumah para pengikut Syiah. Kerusuhan itu sendiri dikabarkan bermula saat salah seorang anggota kelompok itu terkena bom bondet yang berisi gotri. Bom itu sendiri ditanam sebagai ranjau di areal rumah para pengikut Syiah.

Meledaknya bom itu membuat warga sekitar turut terprovokasi. Usai insiden itu, kerusuhan pun tak terhindarkan. Para pengikut Syiah dan warga serta kelompok tersebut yang beraliran Sunni terlibat perang terbuka. Saling berhadap-hadapan, mereka bertarung dengan pedang maupun celurit yang terhunus.

Karena kalah jumlah, pengikut Syiah kewalahan. Satu orang pengikut Syiah bernama Hamamah (50) tewas setelah usus perutnya terburai terbacok senjata tajam. Kerusuhan itu juga membawa korban 5 orang luka berat, sebagian besar dari kelompok Syiah. Para pengikut Sunni terus melakukan aksinya dengan membakar puluhan rumah milik pengikut Syiah. Menurut Sekjen Ahli Bait Indonesia, korban tewas dalam insiden itu ada dua orang. Salah satu korban bernama Tohir.

Dari informasi yang dihimpun detikcom, Tohir tewas dalam persembunyiannya di areal sungai perbatasan desa. Tohir tewas setelah mengalami banyak luka bacok di tubuhnya khususnya pada bagian punggung. Insiden kekerasan ini melahirkan kecaman dari berbagai kalangan. Imbas kasus pembakaran pondok pesantren Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, belum sepenuhnya selesai. Menteri Agama Suryadhama Ali meminta kasus tersebut diselesaikan lewat dialog.

“Perbedaan pendapat memang ada. Perbedaan pandangan tentang mazhab Syiah dan Sunni ada. Tapi hendaknya itu diselesaikan lewat dialog yang konstruktif dan penuh persaudaraan,” kata Suryadhama Ali sebelum menghadiri sidang kabinet di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2012).

Dia menambahkan, kantor wilayah Kementerian Agama setempat juga harus memfasilitasi dialog tersebut. Menag menegaskan, penyelesaian lewat tindak kekerasan harus dihindari. “Prinsip dasar kekerasan atas nama apa pun, dengan dalih apa pun, tidak dibenarkan,” tegas Ketua Umum PPP ini. Sebelumnya, ratusan warga kelompok Syiah diungsikan ke GOR Sampang pasca terjadinya aksi pembakaran mushala dan rumah milik warga beraliran Syiah, Kamis (29/12/2011).

Saat itu sebuah madrasah dan rumah warga syiah di Nangkernang Desa Karang Gayam Kecamatan Omben Kabupaten Sampang, Madura dibakar oleh sejumlah massa yang diduga berasal dari kelompok anti Syiah. Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Omben, Kabupaten Sampang, Madura, kembali bergelora. Lebih dari 10 rumah milik pengikut Syiah dibakar warga. Dalam kerusuhan itu, 1 orang tewas dan 5 orang mengalami luka-luka.

Dari informasi yang dihimpun detikcom.com, Minggu (26/8/2012), kerusuhan itu berawal dari cekcok antara pengikut Syiah dan warga yang beraliran Sunni. Cekcok itu kemudian berlanjut menjadi kekerasan dan kerusuhan. Satu orang korban tewas karena terbacok perutnya. Sementara 5 orang korban luka sudah dibawa ke Puskesmas Omben. Sebelumnya pada Kamis (29/12/2011) juga terjadi amuk massa di Dusun Nangkrenang. Penyebabnya, warga desa menuding penganut Syiah melanggar perjanjian dan kesepakatan.

P Ansor mengutuk keras penyerangan warga Syiah di Desa Nangkerenang, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, oleh kelompok intoleran dan meminta aparat keamanan menindak tegas dan adil pelakunya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) Nusron Wahid menyakini kejadian ini pasti ada unsur kesengajaan mengadu domba antar elemen bangsa, terutama keharmonisan antar ummat Islam. “Sunni-Syi’ah itu barang lama, dan sudah lama ada saling pengertian dan menghormati satu sama lain. Pasti ada pihak-pihak lain yang dengan sengaja mengadu domba dan memecah belah bangsa Indonesia,” tegasnya dalam pernyataan tertulis, Minggu (26/8/2012).

Karena itu, aparat keamanan harus menindak tegas dan adil pelakunya, tanpa pandang bulu. “Siapapun yang terlibat, mau kiai Sunni atau Syiah, kalau salah ya salah harus ditindak,”ujarnya Indonesia merupakan negara Pancasila yang mengedepankan sifat toleransi prinsip persaudaraan sesama agama (ukhuwwah Islamiyah), Persaudaraan Kebangsaaan (ukhuwwah wathaniyyah) dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah basyariyah).

“Ini sama-sama Islam, sama-sama Indonesia dan sama-sama manusia, kok saling bertikai. Apalagi di bulan syawwal. Terus apa manfaat puasa dan Idul Fitri yang sedang dilaksanakan ini,” tegasnya. Sebagai organisasai kepemudaan berbasis keagamaan yang mengusung ahlussunnah wal jamaah (Sunni), GP Ansor akan mengajak kelompok Syiah untuk hidup berdampingan dan saling menghargai satu sama lain. “Jangankan dengan orang Syi’ah yang sama-sama muslim dan tauhidnya sama, dengan non muslim pun kita harus saling berdampingan dan bersama-sama,” tegasnya.

Karena itu, Ansor meminta kepolisian sebagai aparat keamanan untuk memberikan perlindungan terhadap warga negara. “Kami kalau diminta bantuan siap membantu. Tapi ujungnya harus polisi. Sebab ini tugas negara,”tegasnya. Kerusuhan kembali pecah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Omben, Kabupaten Sampang Madura. Untuk mencegah kerusuhan yang dipicu perbedaan paham agama ini semakin meluas, satu kompi Brimob dan 120 anggota Dalmas Polres Sampang – Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polres Pamekasan dan Bangkalan diturunkan.

“Pasukan dan Kapolres Sampang dan korps masih di lapangan untuk melakukan upaya pencegahan agar kerusuhan tidak meluas,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Brigjen Anang Iskandar kepada detikcom, Minggu (26/8/2012). Anang juga mengatakan terdapat satu orang meninggal dalam kerusuhan tersebut. Sementara itu 5 rumah warga Syiah yang dibakar oleh massa.

“Pada saat sekarang sudah berkembang terjadinya pembakaran rumah warga Syiah. Lima rumah warga terbakar, satu orang meninggal dunia atas nama Mad Hasyim, 50 tahun, warga Karang Bayang, Sampang. Untuk korban lain, data menyusul,” lanjutnya. Sementara itu menurut Sekjen Ahlul Bait Indonesia, Ahmad Hidayat, 2 orang warga Syiah meninggal akibat luka bacok dalam kerusuhan ini. Mereka adalah Hamama dan Tohir. Ahmad mengatakan bahwa kerusuhan ini diawali dengan aksi pencegatan 20 orang santri dari Pekalongan yang ingin kembali ke pesantren oleh massa.

“Awalnya tadi pagi sekitar pukul 09.00 WIB, 20 orang santri yang berasal dari Pekalongan akan menuju pesantrennya. Tapi dicegat oleh puluhan massa yang melarang mereka masuk sambil mengancam akan membakar biu. Lalu sekitar pukul 12-an, mulai terjadi pembakaran rumah warga Syiah,” ujar Ahmad kepada detikcom. Sebelumnya pada Kamis (29/12/2011) juga terjadi amuk massa di dusun tersebut. Penyebabnya, warga desa menuding penganut Syiah melanggar perjanjian dan kesepakatan.

Indonesia Kerjasama Dengan China Untuk Membuat Rudal Misil Peluru Kendali


Rencana untuk memproduksi bersama misil (peluru kendali) itu pertama muncul bulan Juli, pembicaraan yang kemudian dilanjutkan ketika Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi berkunjung ke Jakarta minggu lalu.

Kementerian Pertahanan Indonesia menegaskan bahwa perjanjian untuk produksi rudal itu akan ditandatangani Indonesia dan Tiongkok bulan Maret 2013. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Michael Tene mengatakan, kerjasama itu merupakan bagian dari tujuan yang lebih luas untuk meningkatkan kemampuan militer Indonesia.

“Kami membangun hubungan dekat dengan semua negara sahabat untuk mengembangkan kemampuan pertahanan kami, bukan hanya melalui perbekalan, tetapi juga investasi dan produksi bersama untuk meningkatkan kemampuan kami mengembangkan industri pertahanan dan tentu saja dengan Tiongkok juga, kami punya banyak kerjasama untuk mengembangkan industri di bidang itu,” papar Tene.

Rencana produksi misil bersama itu dikemukakan selagi ketegangan memuncak di Laut Cina Selatan.
Menteri-menteri ASEAN bulan lalu gagal menyepakati tata perilaku multilateral untuk menyelesaikan klaim-klaim teritorial yang tumpang tindih.

Para analis politik mengatakan kegagalan itu mengakibatkan tata perilaku multilateral itu lebih memperkuat posisi Tiongkok untuk mendominasi sengketa bilateral dengan negara-negara yang lebih kecil di kawasan itu. Namun, Kementerian Pertahanan Indonesia menyangkal bahwa rencana untuk memproduksi misil laut berjangkauan 120 kilometer dengan bantuan Tiongkok adalah mengenai pembangunan aliansi yang lebih kuat terkait sengketa maritim itu.

Analis pertahanan Universitas Indonesia Yohannes Sulaiman mengatakan, Indonesia hanya berusaha mendesakkan tawaran terbaiknya yang bisa diperoleh dan tetap tergantung pada Amerika untuk piranti keras militernya.

“Jika hal yang tidak diinginkan terjadi di Papua, Amerika akan melakukan embargo militer dan kita akan kekurangan pasokan. Itulah sebabnya militer berusaha memperluas hubungannya, khususnya dengan Tiongkok, sebagai pemasok lain senjata,” ujar Sulaiman.

Amerika memberlakukan embargo militer enam tahun terhadap Indonesia tahun 1999 terkait isu HAM di Timor Timur.
Sulaiman mengatakan banyak perwira militer dan jenderal Indonesia menyampaikan keprihatianan bahwa tuduhan pelanggaran HAM di Papua Barat yang kaya mineral bisa memicu embarago lainnya.

Pada saat bersamaan, katanya, Indonesia hampir tidak punya strategi besar mengenai bagaimana menanggapi kekuatan regional saat ini yang dimainkan Amerika dan Tiongkok.

Sementara Indonesia mengembangkan hubungan dengan semua pihak yang terkait sengketa Laut Cina Selatan, Amerika minggu ini memperingatkan bahwa ada upaya untuk memecah belah dan menguasai Laut Cina Selatan, dan mengulangi dukungannya atas tata perilaku multilateral di jalur perdagangan global itu.

150 Rumah Habis Terbakar Di Jalan Gotong Royong RT 01 RW 02 Pondok Bambu Duren Sawit


Kebakaran hebat melanda sebuah kompleks pembuatan mebel dan rumah warga di RT 01 RW 02, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (21/8/2012). Belum diketahui penyebab musibah tersebut, tetapi puluhan bangunan tampak habis dilalap si jago merah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, api mulai berkobar sekitar pukul 12.30 WIB. Dengan cepat api melahap bangunan yang sebagian besar berbahan kayu. Baik pemilik maupun warga penghuni rumah pun langsung berhamburan keluar sambil menyelamatkan barang-barang berharga masing-masing. Meski demikian, belum dapat dipastikan dari mana asal api.

Hingga pukul 13.35 WIB, api pun masih berkobar hebat. Puluhan mobil pemadam kebakaran dibantu warga sekitar tampak berusaha memadamkan api yang masih berkobar. Sebanyak 150 bangunan yang terletak di Jalan Gotong Royong, RT 02 RW 02, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, ludes dilalap api, Selasa siang. Selain karena berbahan dasar kayu, api cepat merembet dan membesar karena kebanyakan bangunan ditinggal mudik oleh pemiliknya ke kampung halaman. “Orang-orang pada pulang kampung, cuma beberapa orang yang enggak. Ada kali sepuluh keluarga yang nggak pulang, mangkanya api cepat ngerembet,” ujar Sam Nuryanto (20) kepada Kompas.com di tenda pengungsian, Selasa (21/8/2012) malam.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai salah satu bengkel mebel itu menambahkan, pemukiman padat penduduk tersebut mulai sepi ditinggal mudik satu minggu sebelum Lebaran. Meski demikian, menurutnya, masih ada beberapa orang yang berjaga di beberapa bengkel mebel. “Mereka pulang kampung. Ada yang pulang seminggu, ada yang tiga hari, ada juga yang pas malam takbiran. Sebagian sudah dikabarin, tapi ada yang belum,” lanjutnya. Sekitar 140 Kepala Keluarga (KK), penghuni pemukiman padat penduduk tersebut, hampir sebagian besar menggantungkan hidup sebagai pegawai mebel. Sisanya, ada yang menjadi pengumpul barang-barang bekas, pedagang, buruh cuci dan pengusaha konveksi.

Kini, setelah seluruh tempat tinggal warga habis dilalap api, korban yang berada di lokasi saat kejadian, tinggal di dua tenda pengungsian. Dengan beralaskan terpal, pengungsi tampak terbatas melakukan aktivitas. Para pengungsi menunggu bantuan yang telah terkumpul di posko logistik. Bantuan itu sendiri selanjutnya akan disalurkan pada tiap korban. Berdasarkan catatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, 150 bangunan tersebut berdiri di lahan seluas 9000 meter persegi. Lokasi kebakaran itu sendiri berada menjorok ke dalam, sejauh 100 meter dari Jl. Pahlawan Revolusi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Musibah itu diperkirakan menelan rugi hingga milyaran rupiah.

Pemadam Kebakaran Jakarta Timur masih melakukan upaya pendinginan di lokasi kebakaran yang melanda ratusan bangunan pembuatan mebel dan kontrakan di RT 01 RW 02, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (21/8/2012) sore ini.

Sejauh ini, amukan si jago merah sudah bisa diredakan meskipun di beberapa lokasi masih terlihat bara api kecil yang menyala. Asap pun masih terlihat keluar dari puing-puing sisa bangunan yang terbakar. Beberapa warga terlihat di lokasi peristiwa naas itu. Kasi Operasi Damkar Jakarta Timur Idris DN yang ditemui di lokasi terjadinya kebakaran mengatakan, upaya pendinginan masih terus diupayakan oleh anggotanya. “Iya ini masih pendinginan. Kita masih jaga di sini,” kata Idris, Selasa (21/8/2012) sore.

Menurut dia, ketika terjadi kebakaran hebat tersebut, akses masuk di lokasi sempat menyulitkan pihaknya dalam upaya memadamkan api. Belum lagi, material bangunan yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar. “Kesulitannya karena api sudah besar, lalu masuknya juga sulit. Laporannya juga terlambat. Di sini, kan, banyak home industry. Ada usaha mebel yang banyak kayu. Belum di sini juga ada tangki bahan bakar dari generator,” papar Idris.

Ada total 35 mobil Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) yang dikerahkan. Dikatakannya, 150 bangunan ludes dalam peristiwa tersebut, yang kebanyakan home industry, dan tengah kosong ditinggal pulang mudik ke daerah oleh pemiliknya. Pantauan Kompas.com di lokasi pada pukul 18.20 WIB, masih ada bara api dan titik-titik api kecil. Banyak warga yang bukan dari lokasi tersebut masuk untuk sekadar melihat lokasi kebakaran tersebut. Sementara itu, di Jalan Pahlawan Revolusi, yang dekat dengan lokasi kebakaran, masih terlihat puluhan mobil DPK parkir. Sampai berita ini diturunkan, upaya pendinginan masih berlangsung.

Pasca musibah kebakaran yang melanda 150 bangunan di RT 02 RW 02, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, warga berinisiatif membuka posko bantuan. Berbagai jenis kebutuhan, mulai dari nasi bungkus hingga peralatan kebersihan, mulai berdatangan ke posko tersebut. Ahmad Sahil Hakim, Sekretaris RW 02, mengatakan, sejak peristiwa kebakaran, jumlah bantuan terus bertambah. Bantuan itu dikirim oleh warga RT dan RW sekitar, instansi pemerintah ataupun swasta. Sementara ini, pihak RW akan mengumpulkan bantuan tersebut untuk disalurkan langsung kepada korban. “Karena jumlah bantuan semakin banyak, untuk sementara kami tampung di sini dulu sebelum dibagikan. Karena korban masih terpencar, mengungsi ke tetangga atau keluarga,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (21/8/2012) malam.

Hingga pukul 19.10 WIB, pihaknya telah menerima sejumlah bantuan, yaitu 50 dus mi instan, 40 paket kebersihan (sabun mandi, sampo, pasta gigi, pembalut wanita, dan ember) dari PMI, 25 dus air mineral, empat karung beras, paket selimut (belum terhitung), 8 matras, 30 kantong plastik pakaian layak pakai dan uang Rp 650.000. Hingga berita ini diturunkan, bantuan terus berdatangan. “Kami masih menerima bantuan, meski belum diketahui apa yang menjadi kebutuhan korban. Karena korban masih mencari-mencari tempat tinggalnya,” lanjutnya.

Sebanyak 150 bangunan yang terdiri dari bengkel pembuatan mebel dan kontrakan warga ludes dilalap si jago merah, Selasa siang. Api yang berasal dari hubungan pendek arus listrik di salah satu rumah warga pun merembet menghanguskan bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 9.000 meter persegi itu. Kerugian pun mencapai miliaran rupiah. Si jago merah melahap 150 bangunan di Jl Gotong Royong, RT 02 RW 02, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Akibat musibah tersebut, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Pemprov DKI Jakarta memperkirakan total kerugian mencapai miliaran rupiah.

“Kerugian cukup besar, diperkirakan miliaran rupiah. Karena itu isinya bengkel mebel, kayu jati, dan lainnya yang harganya mahal,” ujar Paimin Napitupulu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, Selasa (21/8/2012) siang di lokasi kebakaran.

Berdasarkan catatan Paimin, lahan seluas 9.000 meter persegi tersebut diisi oleh sekitar 150 bangunan dengan 140 kepala keluarga. Bangunan tersebut difungsikan sebagian untuk kontrakan, sebagian lagi sebagai bengkel pembuatan mebel, seperti kursi dan meja dengan bahan dasar kayu. Tak hanya itu, di beberapa bagian lahan juga diisi beberapa pabrik konveksi. Menurut Amah (25), warga yang tinggal berjarak 10 meter dari titik api mengatakan, bengkel-bengkel pembuatan mebel tersebut bukan milik satu orang, melainkan banyak orang. Bahkan, ada satu bengkel yang dikelola oleh dua orang.

“Ada juga tukang bakso, pemulung, memang banyak yang tinggal di sana,” ujarnya. Paimin memastikan, api berasal dari hubungan pendek arus listrik di lantai dua rumah milik seorang warga di RT 02. Pemilik rumah diketahui tengah mudik ke kampung halaman dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong.

Percikan api tersebut jatuh ke sebuah wadah berisi cairan kimia yang mudah terbakar (tiner) dan serbuk kayu yang berserakan. Seorang anak kecil sempat melihat kobaran api tersebut. Ia kemudian memberitahukan orang-orang di sekitarnya. Sayang, belum sempat berbuat banyak, api langsung membesar dan merembet ke bangunan di sekitarnya yang seluruhnya semipermanen.

Sebanyak 35 mobil pemadam kebakaran dari seluruh wilayah di Jakarta pun dikerahkan untuk memadamkan api. Api diketahui berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.00 WIB. Baik korban maupun warga sekitar yang takut rumahnya menjadi sasaran api tampak berada di sekitar lokasi sambil meratapi puing-puing sisa kebakaran.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Paimin Napitupulu memastikan bahwa kebakaran ratusan rumah di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Selasa (21/8/2012) siang, disebabkan hubungan pendek arus listrik. Api berasal dari sebuah rumah di RT 02 RW 02, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang dalam keadaan kosong.

“Kita dapat laporan pukul 12.15 WIB. Setelah kita himpun, penyebabnya akibat korsleting di sebuah rumah di RT 02. Percikan api itu jatuh mengenai tiner dan serbuk kayu,” ujarnya di lokasi kejadian, Selasa.

Hal tersebut sesuai dengan keterangan salah seorang warga bernama Awah (25). Wanita yang memiliki rumah sekitar 10 meter dari awal api berkobar tersebut mengatakan, sang pemilik rumah diketahui tengah mudik ke kampung halaman sehingga rumah ditinggal dalam keadaan kosong. “Ditinggal sama yang mudik, saya lupa nama pemilik rumahnya siapa. Api dari lantai dua bangunan, bangunannya memang tingkat dan atasnya memang terbuat dari kayu,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, lahan seluas 9.000 meter persegi di lokasi kejadian itu terdiri dari sekitar 150 bangunan. Bangunan tersebut sebagian difungsikan untuk kontrakan, sebagian lain untuk bengkel mebel, seperti kursi dan meja dengan bahan dasar kayu.

Lokasi kebakaran itu menjorok ke dalam gang, kira-kira 100 meter dari Jalan Pahlawan Revolusi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Hingga pukul 16.02 WIB, api sudah mulai dijinakkan. Sebanyak 35 mobil pemadam kebakaran dari lima wilayah di DKI Jakarta diterjunkan untuk memadamkan api. Kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Api yang melalap ratusan bangunan pembuat mebel dan kontrakan di RT 02 RW 02, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (21/8/2012) siang, masih berkobar hebat. Api melalap bangunan pembuatan mebel berbahan kayu dan ratusan kontrakan yang berdiri di tanah seluas 800 meter persegi.

Sementara tempat yang diduga menjadi asal api yang berkobar sekitar pukul 12.30 WIB itu kini tinggal tersisa puing-puing. Berdasarkan pantauan di lokasi, tempat yang terbakar masuk ke dalam sejauh 100 meter dari Jalan Pahlawan Revolusi, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Beberapa petugas pemadam kebakaran tampak memadamkan titik api yang masih tersisa. Sementara api tampak merembet ke bangunan di sekitarnya. Puluhan warga dan petugas pemadam kebakaran pun berusaha memadamkan api dengan air seadanya. Mereka tentu khawatir api akan merembet ke permukiman warga lainnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kobaran api.

Warga yang memiliki rumah tak jauh dari kobaran api pun langsung berkemas dan menyiapkan barang-barang berharga mereka. Hingga pukul 14.15 WIB, belum diketahui penyebab pasti kebakaran tersebut, begitu juga jumlah kerugian yang disebabkan. Warga yang rumahnya habis dilalap si jago merah pun tampak mengungsi di pinggir jalan. Sementara warga lainnya menjadikan musibah tersebut sebagai tontonan.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta telah mengerahkan setidaknya 27 armada ke lokasi kebakaran di Rukun Warga (RW) W 2 Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (21/8/2012).

Kebakaran diketahui pukul 12.15 WIB, hingga kini belum bisa diatasi meski sudah 27 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi. Sumber api hingga kini juga belum bisa dipastikan, apakah dari rumah atau bangunan berupa gudang meubel, thinner, atau bengkel.

Hingga saat ini, sudah sekitar 100 bangunan ludes dilalap si jago merah, yang Apalagi di kawasa furnitur belum bisa dipastikan. Hingga kini, kebakaran yang meludeskan setidaknya 100 bangunan di kawasan pusat meubel di Jakarta Timur itu, belum bisa dikendalikan.